Anda di halaman 1dari 19

Konsep Dasar Asesmen

1. Hakikat Asesmen
Mendengar kata asesmen? Apa yang ada dalam pikiran Anda? Apa
kaitannya asesmen dengan pengukuran, evaluasi maupun tes?. Sebelum
kita lebih jauh membahas tentang asesmen, marilah kita bedakan
pengertian masing-masing istilah ”pengkuran”, “evaluasi”, “tes”, dan
“asesmen”, Pengukuran (Measurement) menurut Stevens dalam Cadha
(2009: 4) didefinisikan sebagai proses pemberian /penempatan/ assigment
angka untuk suatu objek atau peristiwa tertentu. Secara tradisional,
pengukuran berhubungan dengan unit kuantitatif, seperti yang terkait
dengan panjang (misalnya, meter, inci), waktu (misalnya, detik, menit),
massa (misalnya, kilogram, pound), dan suhu (misalnya, Kelvin,
Fahrenheit). Pengukuran dalam ilmu sosial berkaitan dengan penyediaan
data yang memenuhi beberapa kriteria, dan dengan demikian tes diberikan
untuk menilai sejauh mana kriteria terpenuhi.
Menurut Fink (1995:4) Evaluasi merupakan suatu penyelidikan/
investigasi karakteristik dan manfaat suatu program. Tujuannya adalah
untuk memberikan informasi tentang efektivitas progam sehingga dapat
mengoptimalkan hasil, efisiensi, dan kualitas. Hal ini mengandung arti
bahwa evaluasi dilakukan untuk melihat keterlaksanaan dan ketercapain
kegiatan/layanan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil
keputusan. Sebagai contoh Anda ingin mengetahui ketercapaian progam
BK yang sudah Anda laksanakan, maka Anda dapat melakukan kegiatan
evaluasi. Dengan demikian kegiatan dalam evaluasi meliputi pengukuran
dan asesmen.
Hays (2013: 5) merumuskan tes sebagai proses sistematis dan sering
distandarisasi untuk pengambilan sampel dan menggambarkan suatu minat
perilaku individu atau kelompok. Sejalan Hays, Furqon & Sunarya (2011:
203) merumuskan tes sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab,
atau pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas
yang harus dilakukan oleh orang yang di tes dengan tujuan untuk

1
mengukur suatu aspek perilaku atau memperoleh informasi tentang atribut
dari orang yang di tes. Tes hanyalah sebagai salah satu teknik dalam
asesmen. Pembahasan tentang tes lebih lanjut akan Anda pelajari di modul
2.
Menurut Hays (2013: 4) “Asesmen is an umbrella term for the
evaluation methods counselors use to better understand characteristics of
people, places, and things”. Dari rumusan Hays dapat kita fahami bahwa
asesmen adalah istilah umum metode evaluasi yang digunakan konselor
untuk lebih memahami karakteristik orang, tempat, dan hal-hal (objek).
sejalan dengan Hays, menurut Aiken ( 1997: 454) “Human asesmen is
appraising the presence or magnitude of one or more personal
characteristics. Assessing human behavior and mental processes includes
such procedures as observations, interviews, rating scale, checklist,
inventories, projectives techniques, and tests”. Berdasarkan pengertian
Aiken di atas dapat difahami bahwa asesmen individu adalah suatu cara
untuk memahami, menilai, atau menaksir karakteristik, potensi, dan atau
masalah-masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelompok
individu. Cara-cara yang digunakan itu mencakup observasi, interview,
skala psikologis, daftar cek, inventory, tes proyeksi, dan beberapa macam
tes.
Sejalan dengan pernytaan Aiken, Anastasi, (2006: 3) menyatakan
bahwa instrumen tes maupun non tes bisa berfungsi saling melengkapi
artinya kepada individu setelah dilakukan wawancara atau observasi
kemudian dilanjutkan dengan pemberian tes, atau sebaliknya setelah
dilakukan tes kemudian dilakukan wawancara atau observasi.
Simpulan pengertian asesmen bila dikaitkan dengan bimbingan dan
konseling adalah suatu cara yang dilakukan oleh konselor untuk
memahami, menilai karakteristik, potensi, atau masalah masalah yang ada
pada individu atau sekelompok individu dengan menggunakan teknik tes
maupun non tes.

2
2. Tujuan Asesmen
Tujuan asesmen yang akan dibahas dalam bab ini adalah tujuan
asesmen secara umum dan tujuan asesmen dalam model pemecahan
masalah. Menurut Aiken (1997: 11), tujuan utama asesmen baik tes
maupun non tes adalah untuk menilai tingkah laku, kecakapan mental, dan
karakteristik kepribadian seseorang dalam rangka membantu mereka
dalam membuat keputusan, peramalan, dan keputusan tentang seseorang.
Sejalan dengan Aiken Anastasi (2006: 3) menunjukkan bahwa secara
tradisional, pengukuran psikologis bertujuan untuk mengukur perbedaan-
perbedaan antara individu atau perbedaan reaksi individu yang sama
terhadap berbagai situasi yang berbeda. Diakui bahwa pendorong utama
munculnya pengkuruan psikologi adalah kebutuhan akan penilaian dari
dunia pendidikan
Selain itu asesmen memberikan manfaat dalam konseling karena
dapat memberikan informasi bagi konselor maupun konseli sehingga
konselor dapat memahami, memberikan tanggapan, membuat perencanaan
serta melakukan evaluasi yang tepat.
Menurut Aiken (2008: 13) Tujuan asesmen teknik tes psikologis
secara khusus adalah:
a. Untuk menyaring pelamar pekerjaan, pendidikan, dan atau program
pelatihan.
b. Untuk pengklasifikasian dan penempatan seseorang dalam pendidikan
dan pekerjaan.
c. Untuk pemberian bantuan dan pengarahan bagi individu dalam
pemilihan pendiikan, pekerjaan, konseling perorangan.
d. Untuk memilih karyawan mana yang perlu dihentikan (di-PHK),
dipertahankan, atau dipromosikan melalui program pendidikan atau
pelatihan atau tugas khusus.
e. Untuk meramalkan dan menentukan perlakuan (tritmen) psikis, fisik,
klinis, dan rumah sakit.

3
f. Mengevaluasi perubahan kognitif, interpersonal (dalam diri) dan
interpersonal dalam kaitannya dengan progam pendidikan,
psikoterapetik, dan progam intervensi perilaku lainnya.
Tujuan melakukan asesmen sebagai dasar bagi konselor dalam
membuat progam BK di sekolah. Dengan melakukan asesmen konselor
mendapatkan data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang
kondisi konseli seperti profil, permasalahan yang dihadapi konseli, potensi
yang dimiliki, kebutuhan dan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh
konseli. Bagi konseli, hasil asesmen dapat digunakan untuk memahami
diri sendiri dengan lebih baik dan merencanakan masa depan mereka
sendiri. Asesmen juga membantu konseli memperjelas tujuan hidup,
memperoleh kejelasan sudut pandang, dan memperoleh dukungan yang
ilmiah dan terpercaya bagi diskripsi diri.
Asesmen juga bertujuan untuk mendukung penelitian tentang
perubahan tingkah laku dan mengevaluasi efektifitas suatu program atau
teknik yang baru. Hal yang paling penting bahwa kemampuan melakukan
asesmen adalah salah satu dari tujuh kompetensi yang harus dimilik oleh
konselor profesional untuk kepentingan melakukan diagnosis dan
pertimbangan dalam memberikan treatmen.
Menurut Santoadi (2010: 117-121) Tujuan asesmen dalam model
pemecahan masalah memiliki tahapan yaitu orientasi masalah, identifikasi
masalah, mencari altenatif pemecahan masalah, pengambilan keputusan,
dan verifikasi. Adapun lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
a. Orientasi Masalah;
Langkah pertama ini menuntut konseli mengenali dan menerima
masalah. Jika konseli menolak mengakui bahwa ia sedang mengalami
masalah, maka masalahnya tidak dapat ditangani dengan tepat.
Hampir semua prosedur asesmen dapat dipake untuk meningkatkan
kepekaan terhadap persoalan yang potensial. Instrumen yang dapat
meningkatkan kesadaran diri dan eksplorasi diri dapat menstimulasi
konseli untuk mengatasi gangguan-gangguan perkembangan sebelum
hal tersebut benar-benar terjadi. Survey atas kelompok atau kelas

4
dapat membantu konselor mengidentifikasi masalah-masalah umum
yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun program bimbingan dan
konseling disekolah.
b. Identifikasi Masalah;
Konselor dan konseli mengidentifikasi masalah sedetil mungkin
prosedur asesmen dapat memperjelas jenis dan sumber masalah
konseli. Misalnya screening inventory atau problem checklist dapat
dipakai untuk mengetahui jenis masalah dan kadar berat ringannya
masalah. Catatan harian atau logebook dapat dipakai untuk
mengidentifikasi situasi seputar permasalahan yang muncul. Inventori
kepribadian dapat membantu konselor dan konseli memahami
dinamika kepribadian dalam situasi tertentu intformasi yang didapat
selama proses identifikasi masalah dapat dipakai untuk merumuskan
tujuan konseling yang lebih spesifik.
c. Mencari Alternatif Pemecahan Masalah;
Prosedur asesmen membuat konselor dan konseli mampu
mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah. Misalnya inventori
minat dapat menunjukan alternatif pillihan karir. Wawancara dapat
dipakai untuk menentukan cara mana yang efektif dimasa lampau
ketika konseli menghadapi masalah yang serupa dengan masalah yang
pernah terjadi dimasa lampau.
d. Pengambilan Keputusan;
Konselor menggunakan asesmen untuk membantu konseli
mempertimbangkan daya tarik alternatif dan derajat kemungkinan
tercapainya hasil dari setiap alternatif. Daya tarik berbagai alternatif
dapat diketahui melalui klarifikasi nilai. Konselor juga menggunakan
data asesmen untuk membantu menentukan tindakan yang tepat untuk
memecahkan masalah konseli. Misalnya skor tes prestasi dapat
dipakai untuk membimbing siswa memilih bidang belajar.
e. Verifikasi;
Prosedur asesmen digunakan untuk penskalaan pencapai tujuan tehnik
monitor mandiri, survey kepuasan konseli dan penggunaan kuisioner

5
hasil. Selain berfungsi sebagai penuntun dalam proses konseling
verifikasi juga menyediakan perangkat untuk mengetahui akuntabilitas
layanan konseling.
3. Prinsip Dasar Melakukan Asesmen
Gibson (2011: 384-386) menunjukan pedoman dan prinsip-prinsip
dasar dalam melakukan asesmen adalah sebagai berikut:
a. Setiap manusia itu unik dan setiap keunikan ini memiliki nilai.
Konselor seharusnya menghargai keunikan masing-masing individu.
Dengan demikian konselor diharapkan bids memfasilitasi
perkembangan sesuai keunikan masing-masing.
b. Keberagaman ada dalam setiap individu. Setiap manusia itu unik.
Prinsip ini menekankan bahwa asesmen individu mencoba
mengidentifikasi (bakat, keterampilan, ketertarikan seseorang dan pada
saat yang sama) dan sekaligus mencegah penyeragaman dari satu atau
bermacam-macam karakteristik seseorang.
c. Human asessment menuntut adanya partisipasi langsung seseorang di
dalam penilaian terhadap pribadi mereka. Agar penilaian menjadi
akurat dan bermakna, konseli harus dilibatkan secara langsung dan
dengan sukarela. Bentuk keterlibatan konseli itu bisa beruap masukan
dari konseli kepda konselor, timbalbalik, klarifikasi, dan interpretasi
serta evaluasi dari konseli sehingga konseli memperoleh pemahaman
yang lebih baik tentang dirinya.
d. Human assesment yang akurat dibatasi oleh personel dan
instrumen.Penggunaan teknik asesmen secara efektif bergantung pada
pengakuan akan batasan instrumen dan personil selain juga penerimaan
akan potensi mereka. Batasan itu mulai dari pengetahuan, keterampilan
dan teknik yang digunakan. Konselor tidak boleh menggunakan teknik
asesmen, termasuk yang terstandar jika belum terlatih dan tidak
memiliki lisensi sebagai tester untuk teknis tes. Disamping elemen
personil, adapula keterbatasan instrumen tes maupun non tes. Oleh
karena itu, penggunaan instrumen tes maupun non tes perlu
dipertimbangkan sebelumnya.

6
e. Tujuan human assesment adalah identifikasi potensi yang unik dari
masing-masing orang. Dengan memahami potensi konseli, konselor
diharapkan bisa melakukan intervensi secara tepat dalam membantu
pengembangan potensi individu yang dibimbing. Oleh karena itu,
konselor perlu mempertimbangkan dan berpedoman pada hasil
asesmen.
f. Dalam melakukan human assesment hendaknya mengikuti pedoman
profesional yang sudah dibuat dan disepakati oleh organisasi
profesional. Pedoman ini dimaksudkan untuk melindungi konseli dari
pemahaman yang tidak tepat dan menghasilkan simpulan yang tidak
tepat pula.
Selain prinsip diatas, konselor juga harus memperhatikan beberapa
prinsip menurut Santoadi (2010: 123) yaitu:
a. Bermanfaat, artinya asesmen harus bertujuan mensejahterakan konseli
bukan sekedar kepentingan administratif kelembagaan misalnya
akreditasi atau pihak luar.
b. Konselor mempertimbangkan reliabiltas, validitas, dan utilitas dari
sebuah metode asesmen yang digunakan terutama asesmen teknit tes.
c. Digunakan beberapa metode asesmen secara berkelanjutan
d. Penggalian data lebih dari sekali sehingga mendapatkan data yang utuh
mengenai konseli yang dilayani.
e. Dipertimbangkan kemungkinan adanya persoalaan ganda, seperti
depresi yang muncul bersamaan dengan pemakaian obat terlarang,
kecemasan, atau persoalan-persoalan fisik.
f. Dilakukan asesmen atas situasi konseli selain atas diri konseli. Asesmen
yang bermutu dapat menunjukan bahwa akar masalah bukan hanya
individu tetapi juga berasal dari lingkungan.
g. Jika memungkinkan konselor dapat menggabungkan asesmen yang
berbeda-beda yang dipakai untuk menggabungkan data yang dianggap
lebih baik dari pada menggabungkan data subjektif-klinis. Data yang
diperoleh dengan metode asesmen yang sistematik-terukur secara
kuantitatif harus digabung dengan data yang diukur secara kualitatuf

7
sehingga asesmen benar-benar menggambarkan keadaan individu
maupun kelompik secara utuh.
h. Konselor memperlakukukan semua asesmen secara tentatif. Ketika data
tambahan tersedia konselor harus dapat dan mau merevisi asesmen
yang dilakukannya.
i. Konselor mempertimbangkan pengaruh faktor individual seperti usia,
jender dan jenis kelamin, tingkat kependidikan, etnis pada hasil tesis
berikutnya.
j. Konselor mengidentifikasi, menginterpretasikan dan menggabungkan
data kultural sebagai bagian dari proses asesmen.
k. Konselor harus berkonsultasi dengan profesional lain berkaitan dengan
prosedur asesmen dan hasil asesmen jika ia memiliki kekurangan dan
profesionalitas.
l. Konselor harus memakai hasil asesmen untuk memberi umpan balik
kepada konseli sebagai bagian dari proses terapi. Asesmen seharusnya
memasukan evaluasi atas kekuatan dan kelemahan konseli. Salah satu
tanggungjawab konselor adalah memberikan informasi yang benar
tentang diri konseli kepada pihak lain yang relevan dengan tujuan
mengatasi masalah, mengembangkan konseli, mencegah timbulnya
masalah dan menjaga perkembangan yang sudah berjalan tetap optimal.
m. Keamanan dan kerahasiaan data harus dijamin oleh konselor.

8
4. Kedudukan Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling

Sumber https://www.slideshare.net/komisariatimmbpp/13

Gambar 1.1 : Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling


Berdasarkan pada gambar kerangka kerja utuh bimbingan dan
konseling, asesmen di atas, kedudukan asesmen dijadikan sebagai dasar
dalam perancangan progam bimbingan yang sesuai kebutuhan. Kegiatan
asesmen dalam layanan bimbingan dan konseling (Depdiknas, 2007: 220)
meliputi dua area yaitu:
a. Asesmen lingkungan yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi
harapan sekolah/madrasah dan masyarakat (orang tua peserta didik),
sarana dan prasarana pendukung progam bimbingan, kondisi dan
kualifikasi konselor, dan kebijakan pimpinan sekolah/Madrasah
b. Asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut
karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan
keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan
belajar, minat-minat (pekerjaan, jurusan, olah raga, seni, dan
keagamaan), masalah-masalah yang dialami dan kepribadian; atau
tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan
pelayanan bimbingan dan konseling.

9
Data hasil asesmen yang memadai dapat menjadi dasar melakukan
tindakan edukatif yang tepat sehingga progam yang dibuat akan berjalan
sesuai dengan yang ditetapkan. Tanpa asesmen yang berkualitas tidak akan
ada progam bimbingan dan konseling yang komprehensif, berkualitas, dan
mampu mencapai tujuan layanan yang tuntas, baik dalam fungsi kuratif,
apalagi fungsi pengembangan dan pencegahan. Jadi asesmen mutlak
dilakukan dalam bimbingan dan konseling.
Menurut Santoadi (2010: 115) kegiatan asesmen terdiri dari beberapa
aktivitas sebagai berikut:
a. Penghimpunan atau menggali data dengan metode dan alat tertentu
untuk mengungkapkan gejala-gejala yang tampak di permukaan, baik
gejala positif atau gejala negatif.
b. Analisis data dan penafsiran. Konselor melalui analisis berusaha
menjawab pertanyaan mengapa gejala itu muncul, darimana sumbernya,
siapa saja yang terlibat, sehingga konselor dapat memetakan gejala
masalah dan penyebabnya.
c. Menyimpan data. Data yang digali dan dianalisis perlu
diadministrasikan dan disimpan di tempat yang dapat dijangkau serta
sekaligus dijaga kerahasiaanya.
d. Memakai data sebagai dasar melakukan intervensi bimbingan dan
konseling.
5. Ilmu-ilmu Pendukung dan Implikasinya bagi Pemahaman Individu
a. Ilmu-Ilmu Pendukung Pemahaman Individu
Manusia merupakan makhluk yang sangat kompleks, unik, dan
terkadang misterius. Manusia tidak bisa difahami hanya dengan satu sisi
saja tetapi perlu dilihat dari berbagai sisi, agar bisa diketahui apa yang
sebenarnya tersembunyi dibalik perilakunya yang tampak. Dengan
demikian kita tidak akan salah dalam menafsirkan perilaku individu,
lantaran menggunakan kaca pandang yang cocok untuk membaca tingkah
laku tersebut. Gibson R.I dan Mitchell (1995: 255-259) menunjukkan
beberapa ilmu yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pemahaman
terhadap perilaku individu, ilmu-ilmu itu adalah sosiologi, antropologi,

10
ekonomi, psikologi. Penulis sendiri memandang bahwa agama yang dianut
seseorang juga memberi bentuk pada pribadi dan tingkah lakunya. Adapun
masing-masing ilmu penjelasan singkat adalah sebagai berikut:

1) Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan sosial dan tingkah laku
yang berfokus pada studi individu dan kelompok dalam masyarakat dan
bagaimana mereka berperilaku dan berinterkasi dengan yang lainnya.
Ilmu sosiologi memberikan kontribusi dalam memahami jaringan sosial
dan pengaruh mereka terhadap individu, peran individu, dan hubungan
dalam jaringan mereka sendiri. Sosiologi juga membantu dalam
memahami perilaku yang menyimpang dari norma masyarkat.
Gibson R.L (1995: 255) menyatakan bahwa studi dalam wilayah
ini bisa membantu para konselor mengenali pengaruh kontrol sosial
atau pengendalian terhadap perilaku konseli, peserta didik ataupun yang
lainya. Dengan sosiologi, para konselor akan menemukan bahwa
pemahaman sosial memberikan kontribusi terhadap pemahaman
kelompok dan struktur yang ada dalam masyarakat dimana mereka
menjadi bagiannya. Para ahli sosiologi membantu konselor memahami
status dan implikasinya melalui studi stratifikasi sosial dan secara
umum urutan posisi sosial dalam masyarakat.
Ahli sosiologi, sebagaimana ahli psikologi, juga berkaitan dengan
studi pengembangan konsep diri seseorang. Studi sosiologi berfokus
pada pengembangan konsep diri melalui proses sosialisasi dengan
pengaruhnya bagi yang lain. Hal ini penting sekali bagi para konselor
untuk mengenali pengaruh dari pentingnya orang lain dan referensi
kelompok pada pengembangan konsep diri. Siapapun mereka yang
memutuskan, diharapkan atau tidak, sangat penting bagi pengembangan
konsep diri seseorang, dan kelompok apapun yang digunakan seseorang
untuk berkembang dan menguji kelakuan, keyakinan dan lainnya.
Dalam memahami individu seorang konselor perlu memahami
pula dari keluarga apa konseli dilahirkan, ditengah-tengah masyarakat
macam apa konseli dibesarkan, dengan siapa konseli bergaul, nilai-nilai

11
sosial apa yang selama ini konseli anut. Dengan pemahaman ini
diharapkan konselor tidak terlalu cepat menilai perilaku individu itu
normal atau tidak normal, dan bisa memberikan layanan yang lebih
sesuai dengan karakteristik lingkungan sosial yang membentuknya.

2) Antropologi
Antropologi merupakan studi budaya sebuah masyarakat dan
karakteristik perilaku sosialnya. Dalam studi ini, antropologi
mengidentifikasi tradisi, norma, bentuk-bentuk pembelajaran, gaya
meniru dan perilaku lain dalam bentuk perspektif sekarang maupun masa
lampau. Budaya membekali manusia dengan nilai, pedoman, aturan,
berperilaku dalam masayarakat.
Diantara pemahaman yang bisa disajikan oleh antropologi kepada
para konselor adalah mengenali (a) budaya yang berbeda memilki konsep
yang sama dan berbeda, (b) pentingnya latar belakang etnis dan budaya
dari konseli, (c) pentingnya latar belakang etnis dan budaya dari
konselor, dan (d) pentingnya kelompok-kelompok budaya dalam
masyarakat atau konteks budaya yang lebih besar.
Budaya membekali manusia dengan nilai-nilai awal, pedoman dan
aturan perilaku dan adanya harapan akan masa yang akan datang.
Sebagai catatan tambahan, konsep diri merupakan pusat pembelajaran
kepribadian dan tingkah laku melalui ahli psikologi dan sosiologi, dan
studi antropologi memberikan sumbangan terhadap pemahaman diri
sebagai sesuatu yang secara natural sudah ada dan jelas.
Dilihat dari segi pendukungnys, budaya bisa dibedakn menjadi dua,
yaitu (1) budaya pribadi yang menunjuk pada dunia pribadi seseorang
yang unik, atau pola pola perilaku yang bersifat sangat pribadi, yang oleh
Carl Rogers disebut “ the self”. (2) budaya kelompok merujuk pada nilai-
nilai atau cara hidup yang didukung oleh kelompok (peradapan, bangsa,
ras, etnik, agama, sekte, pemakai bahasa, partai dan sebagainya).
Gibson (1995: 258) mencatat sebuah peningkatan yang bagus dalam
bidang konseling terhadap pengaruh kejadian-kejadian budaya dan
lingkungan. Dalam hal ini, Blocher dan Biggs (dalam Anwar, 2012: 39)

12
menggambarkan pergerakan di balik komunitas tradisional dengan
pendekatan kesehatan mental seseorang yang mempelajari hubungan
antara manusia dan lingkungan.

3) Ekonomi
Ekonomi adalah ilmu pengetahuan sosial lain yang berhubungan
dengan perilaku individu dan hubungan manusia. Para ahli ekonomi,
sebagaimana para ahli sosiologi, sangat berhubungan dengan posisi
ekonomi seseorang, status sosial ekonomi manusia dalam masyarakat,
pencapaian ekonomi berinteraksi dengan faktor lain yang berkaitan
dengan budaya untuk menentukan “ status”. Status sosial ekonomi ini
bermanfaat dalam penentuan feeling konseli, perilaku, gaya hidup dan
masih banyak lagi. C.Gilbert Wren (dalam Anwar, 2012: 40) mencatat
pentingnya pembelajaran ekonomi bagi konselor ketika dia mengatakan
bahwa “ konselor sekolah tidak boleh dari lulusan Konselor psikologi
dan ekonomi yang masih kelas kedua”. Bagi konselor, memahami
pengaruh sistem dan teori ekonomi sangat bermanfaat bagi pilihan karir.

4) Psikologi
Konselor selama proses pendidikannya telah mempelajari
bermacam-macam disiplin ilmu, seyogyanya mereka memahami bahwa
psikologi merupakan salah satu yang paling dekat hubungannya dengan
profesi konseling. Psikologi umum memberikan modal bagi konselor
untuk membaca dan mengenali aspek-aspek psikis individu seperti
pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, berfikir, motivasi, perasaan,
sikap, minat dan lain sebagainya. Dengan pemahaman terhadap aspek-
aspek psikis tersebut memungkinkan seseorang yang sedang berupaya
memahami individu menjadi lebih jelas aspek mana sebenarnya yang
hendak dipelajari. Dengan psikologi perkembangan memungkinkan
seseorang konselor memahami mengapa dan bagaimana manusia tumbuh
dan berkembang dalam kehidupan mereka, memahami karakteristik
individu pada usia tertentu dan sekaligus memperlakukannya dengan
bijak.

13
Dengan psikologi kepribadian memungkinkan seseorang konselor
mengenali tipe-tipe kepribadian yang menonjol pada seseorang dan
memperlakukannya secara tepat. Psikologi belajar memberi wawasan bagi
konselor bagaimana proses belajar terjadi. Sehingga para pendidik bisa
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran secara tepat. Psikologi
sosial memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para
konselor dengan proses sosialisasi dan pengaruh sosial, tingkah laku,
peran, dinamika kelompok dan hubungan interpersonal. Psikologi klinis
telah memberikan sumbangan berharga dalam menyusun tes yang bisa
membedakan seseorang tergolong normal atau tidak normal, sehingga
memudahkan bagi perawatan lebih lanjut.

5) Agama
Agama timbul pada masyarakat manusia sejak jaman pra-sejarah. Hal
ini berarti agama telah memberi bentuk dan warna kehidupan manusia
sejak manusia itu ada. Agama memberi bentuk pada pikiran, perasaan,
sikap, keinginan, kebutuhan dan kepuasan bagi pemeluknya lantaran
keimanan dan ketaatannya kepada ajaran agama yan diimaninya. Agama
membimbing manusia mengembangkan interpretasi intelektual yang
membantu manusia mendapatkan makna dari pengalam hidupnya. Agama
juga membantu manusia memecahkan persoalan-persoalan yang tidak
terjawab oleh manusia sendiri, seperti persoalan mati, nasib baik dan
buruk.
Akan tetapi, tidak semua orang yang beragam tumbuh dan berkembang
menjadi orang yang memiliki kepribadian sejalan dengan ajaran
agamanya. Pada penganut agama manapun dijumpai orang-orang yang
amat taat, kurang taat, dan tidak taat pada ajaran agamanya. Tingkat
ketaatan itu akan mempengaruhi kuat lemahnya pengaruh agama terhadap
kepribadian dan perilaku seseorang. Sejalan dengan uaraian di atas,
Gerhard Lenski (dalam Djamari, 1993: 7) dari hasil studinya
menyimpulkan bahwa:
a) Agama merupakan variabel terpenting dalam memprediksi sosial
manusia

14
b) Agama menjadi determinan penting dalam perspektif dan nilai
sosial
c) Kelompok sosioreligiusitas lebih penting pengaruhnya terhadap
sikap sosial daripada kelas sosial
d) Pada beberapa kasus, agama berfungsi sebagai penyebab dan kasus
lain sebagi efek.
e) Perilaku sosial berkorelasi dengan orientasi teologis (apakah
teologis fondamental, konservatif, atau liberal) atau dengan tingkat
ketaatan.
f) Beberapa dimensi religiusitas ditemukan signifikan berkorelasi
dengan perbedaan ras dan sikap anti semit, sikap terhadap
perceraian dan pengendalian kelahiran dan sebagainya.
g) Agama berkorelasi dengan nilai dan sikap sosial yang lebih luas,
tetapi kadang-kadang sangat kompleks.
Akhirnya disarankan bagi siapa saja yang hendak memahami individu
hendaknya ia memahami agama yang dianutnya, siapa yang hendak
mempelajari masyarakat, ia harus juga mempelajari agama yang dianut
masyarakat itu.
b. Implikasi bagi Pemahaman Individu
Menurut Anwar (2012: 44-45) Implikasi ilmu-ilmu pendukung
pemahaman individu bagi konselor adalah sebagai berikut:
 Konselor menunjukkan kesadaran yang lebih besar terhadap beragam
budaya konseli
 Konselor memiliki pemahaman terhadap struktur sosial dari
komunitas konseli.
 Konselor harus mengenali bahwa perilaku berfungsi sebagai
interakasi individu dengan lingkungannya
 Konselor diharapkan mengenali hubungan potensial antara
karakteristik sosio ekonomi konseli dan perilaku mereka dalam
kehidupan sehari-hari baik disekolah maupun diluar sekolah.

15
 Konselor diharapkan mempunyai pemahaman yang lebih terhadap
beragam pengaruh sosial pada perilaku pertumbuhan, dan
perkembangan individu berdasarkan pendekatan interdisiplin.
 Konselor diharapkan memahami agama yang dianut konseli agar,
mampu membaca dengan benar makna tingkah laku konseli dan
memberikan pelayanan secara tepat.
6. Kode Etik Penggunaan Asemen dalam Bimbingan dan Konseling
Konselor bila akan menggunakan asesmen perlu memperhatikan dan
menaati kode etik yang telah ditetapkan. Kode etik merupakan ketentuan
atau aturan atau tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas
dan aktivitas suatu profesi dan harus diatati. Kode etik dalam sebuah
profesi diperlukan untuk tetap menjaga standar mutu dan status profesi
dalam batas-batas yang jelas dengan profesi lain,sehingga terhindar dari
penyimpanganya. Mengenai etika penggunaan asesmen dalam bimbingan
dan konseling, ABKIN memiliki kode etik mengenai testing (Munandir,
2007: 1-2). Adapun poin-poinya adalah sebagai berkut:
a. Suatu jenis tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwewenang
menggunakan dan menafsirkan hasilnya. Konselor harus selalu
memeriksa dirinya apakah ia mempunyai kewenangan yang dimaksud.
b. Testing diperlukan bila dibutuhkan data tentang sifat atau ciri
kepribadian yang menuntut adanya perbandingan dengan sampel yang
lebih luas, misalnya taraf inteligensi, minat, bakat khusus, kecende-
rungan dalam pribadi seseorang.
c. Data yang diperoleh dari hasil testing itu harus diintegrasikan dengan
informasi lain yang telah diperoleh dari konseli sendiri atau dari
sumber lain.
d. Data hasil testing harus diperlakukan sama seperti data dan informasi
lain tentang konseli.
e. Konselor harus memberikan orientasi yang tepat kepada konseli
mengenai alasan digunakannya tes dan apa hubungannya dengan
masalahnya. Hasilnya harus disampaikan kepada konseli dengan
disertai penjelasan ten-tang arti dan kegunaannya.

16
f. Hasil testing harus diberitakan kepada pihak lain sejauh pihak lain
yang diberi tahu itu ada hubungannya dengan konseli dan tidak
merugikan konseli.
g. Pemberian suatu jenis tes harus mengikuti pedoman atau petunjuk yang
berlaku bagi tes yang bersangkutan.
Senada dengan kode etik testing di atas, (Furqon & Sunarya, 2013: 231)
mengatakan bahwa beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor
saat melakukan asesmen, terutama bila asesmen itu telah dibakukan.
Beberapa hal itu adalah :
a. Orang yang berhak menggunakan instrumen asesmen adalah
seseorang yang terlatih dan memiliki kualifiaksi tertentu yang sudah
ditetapkan oleh organisasi profesi.
b. Pelaksanaan pemberian asesmen harus memperhatikan kondisi
konseli. Tester harus memperhatikan jumlah konseli, kapasitas
ruangan dan lain-lain.
c. Kapan instrumen di berikan. Ini berkaitan dengan waktu pelaksanaan
dan tujuan pengetesan.
d. Cara mengkomunikasikan hasil. Hasil asesmen harus diberitahukan
kepada konseli. Artinya konseli harus tahu atau memahami hasil
asesmen.
e. Kerahasiaan hasil. Data hasil asesmen akan menyangkut diri
seseorang karena itu sampai batas-batas tertentu harus dirahasiakan
oleh konselor( sepanjang menyangkut pribadi). Tetapi manakala
seseorang berhadapan dengan hukum, dan pihak tertentu memerlukan
data tersebut, maka menjadi kewajiban konselor untuk
memberikannya.
f. Sikap dalam memperlakukan hasil. Hasil asesmen bukanlah segalanya
tentang peserta didik. Karena selain setiap instrumen asesmen
memiliki keterbatasan, setiap instrumen juga memiliki kekhususan
penggunaan. Dengan demikian, guru pembimbing jangan terlalu
terpaku pada hasil rekomendasi suatu asesmen.

17
A. Rangkuman
Selamat, Anda telah menyelesaikan modul tentang konsep dasar asesmen.
Hal-hal penting yang telah Anda pelajari dapat dirangkum sebagai berikut:
a. Pemahaman individu adalah suatu cara untuk memahami, menilai, atau
menaksir karakteristik, potensi, dan atau masalah-masalah (gangguan)
yang ada pada individu atau sekelompok individu.Cara-cara yang
digunakan itu meliputi tes psikologis, tes proyeksi,inventory, observasi,
wawancara, skala psikologis, daftar cek, serta asesmen non tes lainnya
yang relevan.
b. Ada beberapa manfaat pengetahuan dan keterampilan melakukan asesmen,
yaitu (a) untuk pengklasifikasian dan penempatan seseorang dalam
pendidikan dan pekerjaan, (b) untuk menyaring pelamar pekerjaan,
pendidikan, dan atau program pelatihan, (c) untuk pemberian bantuan dan
pengarahan bagi individu dalam pemilihan penddiikan, pekerjaan,
konseling perorangan, (d).untuk memilih karyawan mana yang perlu
dihentikan, dipertahankan, atau dipromosikan melalui program pendidikan
atau pelatihan atau tugas khusus, (e) untuk meramalkan dan menentukan
perlakuan (tritmen) psikis, fisik, klinis, dan rumah sakit , (f) untuk
mengevluasi perubahan kognitif, intrapersonal, dan interpersonal sebagai
hasil dari pendidikan, terapi psikologis dan berbagai program intervensi
tingkah laku. (g) untuk mendukung penelitian tentang perubahan tingkah
laku dan meng-evaluasi efektifitas suatu program atau teknik yang baru.
c. Dalam melakukan asesmen, konselor harus memperhatikan prinsip prinsip
asesmen sehingga memperoleh data yang sesuai dengan karakteristik
konseli yang dilayani.
d. Ilmu ilmu pendukung pemahaman individu diantaranya: sosiologi,
antropologi, ekonomi, psikologi, dan agama.
e. Assesmen dijadikan dasar dalam membuat progam pelayanan BK.
Asesmen yang dilakukan ada dua area yaitu asesmen kepada konseli dan
asesmen kepada lingkungan.
f. Konselor harus memperhatikan kode etik baik dalam menggunakan atau
memanfaatkan hasil asesmen

18
DAFTAR PUSTAKA

Aiken, L.R. 1997. Psychological Testing and Asesmen. (8 th edition).Tokyo:


Allyn and Bacon

Anastasi, A & Urbina, S. 2006. Tes Psikologi ( Alih Bahasa : PT Indeks


kelompok Gramedia). Jakarta: PT Indeks

Chadha, N.K. 2009. Applied Psychometry. New Delhi: SAGE Publications India
Pvt Ltd
Fink, Arlene. 1995. Evaluation For Education Psychology. California: Sage
Publication, Inc
Furqon & Sunarya, Y. 2011. Perkembangan Instrumen Asesmen Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: Rajawali Pers.
Hays, Danica G. (2013). Asesmen in Counseling. A Guide to the Use of
Psychological Asesmen Procedures. American Counseling Association

Sutoyo, A. 2012. Pemahaman Individu (observasi, chekclist, inteview, kuesioner


dan sosiometri). Yogyakarta: Pusataka Pelajar

Munandir. 2007. Kode Etik Testing. Makalah disampaikan dalam


PelatihanSertifikasi Tes BagiKonselorPendidikanAngkatan X.

Gibson , R.L. & Mitchell.M.H. 1995. Pengantar Bimbingan dan Konseling (Alih
Bahasa: Pustaka Pelajat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Derektorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan


Departemen Pendidikan Nasional, Rambu-rambu Penyelenggaraan
Bimbingan dan Konseling Dalam Jalau Pendidikan Formal, Jakarta:
Depdiknas, 2007

19