Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP KEBUTUHAN ISTIRAHAT & TIDUR

1. Konsep kebutuhan istirahat dan tidur

a) Definisi / deskripsi kebutuhan istirahat dan tidur


Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus
dipenuhi oleh semua orang. Istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks,
tanpa tekanan emosiona, dan bebas dari perasaan gelisah (Narrow 1967 :
1645). Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi
dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun (buku ajar kebutuhan
manusia 2007 : 255).
b) Fisiologi tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak,
yaitu Reticular Actvating system (RAS) dan Bulbar Syncrhronizing Region
(BSR). RAS dibagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus
yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran; memberi
stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensasi raba; serta emosi dan
proses berpikir. Pada saat sadar, RAS melepaskan katekolamin, sedangkan
pada saat tidur terjadi pelepasan serum seotonin dari BSR ( Tarwoto,
Wartonah, 2003).
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda.
Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkardian yang
melengkapi siklus selama 24 jam. Dalam hal ini fluktuasi denyut jantung,
tekanan darah, temperatur tubuh, sekresi hormon, metabolisme dan
penampilan serta perasaan individu tergantung pada ritme sirkadiannya.
Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks.
Pada dasarnya ada dua macam tidur yaitu tidur REM (Rapid eye
movement = gerakan mata cepat) Berarti Tidur REM biasanya terjadi
setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30 menit, sebagian besar mimpi
terjadi pada tahap ini. Selama tidur REM, otak cenderung aktif dan
metabolismenya meningkat hingga 20%. Dan tidur NREM (Non Rapid Eye
Movement) = gerakan mata tidak cepat. Merupakan tidur yang nyaman,
pada tidur NREM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologis tubuh. Di
samping itu, semua proses metabolik termasuk TTV, metabolisme dan
kerja otot melambat. Tidur NREM terbagi 4 tahap (I-IV). Tahap I-II di
sebut sebagai tidur ringan (light sleep) dan tahap III-IV disebut sebagai
tidur dalam (deep sleep atau delta sleep).
c) Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi system
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur, di
antraranya adalah penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress
emosional, stimulan dan alkohol, diet, merokok, medikasi, dan motivasi.
d) Macam-macam gangguan yang mungkin terjadi pada system
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik
secara kualitas maupun secara kuantitas. Penyebabnya bisa karena
gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau
gelisah. Ada tiga jenis insomnia :
 Insomnia inisial
 Insomnia intermiten
 Insomnia terminal

Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau


muncul saat seseorang tidur.

Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia yaitu tidur yang


berlebihan terutama pada siang hari.

Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang


mujncul secara tiba-tiba pada siang hari.

Apnea saat tidur adalah kondisi terhentinya nafas secara periodik


pada saat tidur.

Kebutuhan tidur menurut perkembangan

Tingkat perkembangan Pola tidur normal

Bayi dengan berat badan lahir - Biasa tidur 14-18


rendah (BBLR) jam/hari,pernapasan teratur, mudah
berespon terhadap stimulus, minggu
pertama kelahiran: 50% dari siklus
tidur adalah tidur REM; siklus tidur
berlangsung selama 45-50 menit.
Bayi - Biasanya tidur 12-14 jam/hari.
Pada usia 1 bulan – 1 tahun. 20% -
30% dari siklus tidur adalah tidur
REM; bayi akan mungkin akan tidur
sepanjang malam.
Usia 1 – 3 tahun - Biasanya tidur 10-12
jam/hari. Sekitar 25% dari siklus tidur
adalah tidur REM; anak tidur pada
siang dan sepanjang malam.
Pra-sekolah (3-6 tahun)
- Tidur sekitar 11 jam/hari;
20% dari siklus tidur adalah tidur
REM.
Usia sekolah - Tidur sekitar 10 jam/hari pada
malam hari; 18,5% dari siklus tidur
adalah tidur REM.
Akil balik - Tidur sekitar 7-8 jam/hari;
20% dari siklus tidur adalah tidur
Dewasa muda REM.
- Tidur sekitar 7-8 jam/hari;
20%-25% dari siklus tidur adalah
Dewasa menengah tidur REM.
- Tidur sekitar 7-8 jam/hari;
20% dari siklus tidur adalah tidur
REM. Individu mungkin mengalami
Dewasa tua (>60 tahun) insomnia dan sulit untuk tidur.
- Tidur sekitar 6 jam/hari; 20%-
25% tidur REM. Individu dapat
mengalami insomnia dan sering
terjaga sewaktu tidur. Tahap IV
NREM menurun, bahkan terkadang
tidak ada.

2. Rencana Asuhan Keparawatan klien dengan gangguan kebutuhan istirahat dan tidur

a) Pengkajian
1) Riwayat keperawatan
 Keluhan utama
Klien mengeluh istirahat merasa tidak puas, klien juga mengatakan tiga
kali atau lebih bangun di malam hari.
 Riwayat kesehatan sekarang
Klien sering merasa gelisah, terlihat cemas, terlihat lelah dan sering
menguap.
 Riwayat kesehatan masa lalu
Menurut klien sebelumnya belum pernah seperti ini.
2) Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum
- Kesadaran : composmentis
- Penampilan : lemah dan kusut
- TTV : TD ; 110/70 mmHg, S ; 37oC, N ; 80 x/menit,
RR ; 23x/menit
- BB : 65 Kg
- TB : 179 Cm
 Kulit
Warna kulit sawo matang, kulit hangat & lembab,
 Kepala dan leher
Bentuk simetris,tidak terdapat massa, tidak terdapat benjolan, tidak ada
acne, dan trakea berada digaris tengah, sisus tiroid dapat dipalpasi.
 Mata
Konjungtiva kemerahan, kelopak mata bengkak,adanya lingkar hitam
disekitar mata, sclera putih dan tidak petosis.
 Telinga
Bentuk simetris, tidak ada lesi, tidak ada massa, test dengan garputala
normal dan tidak terdapat nyeri.
 Hidung
Bentuk simetris, tidak ada mobolitas sputum.
 Mulut
Tidak ada caries gigi, mukosa mulut merah muda keadaan gigi baik.
 Thorax dan paru
Thorax simetris dengan ekspansi paru resonan, bunyi nafas vesikuler,
tidak ada rales, mengi, dan ronchi.
 Abdomen
Tidak ada lesi, bentuk simetris, auskultasi ada desiran/bruit, perkusi 4
kuadran normal, palpasi tidak ada nyeri pada semua kuadran
 Ektremitas
Tidak ada edema, tidak ada varises, tidak ada nyeri tekan.
 Genital
Adanya rambut pubis, tidak terdapat lesi.
3) Pemeriksaan penunjang
Tidur dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang
disebut polisomnigrafi. Alat ini dapat merekam elektroensefalogram
(EEG), elektromiogram (EMG), dan elektro-okulogram (EOG) sekaligus.
Dengan alat ini, kita dapat mengkaji aktivitas klien selama tidur.

b) Diagnosa keperawatan yang muncul


Diagnosa 1 : Gangguan Pola Tidur
1) Definisi
Keterbatasan waktu tidur (secara alami terus menerus, dalam periode
kesadaran relatif) meliputi jumlah dan kualitas.
2) Batasan karakteristik
 Terbangun dalam waktu lama
 Insomnia dalam waktu lama
 Kerusakan pola normal karena diri sendiri
 Onset memulai tidur >30 menit
 Insomnia pagi hari
 Terbangun lebih awal atau terlambat bangun
 Mengeluh untuk mulai tidur
 Mengeluhkan istirahat merasa tidak puas
 Peningkatan proporsi tidur tahap 1
 Jumlah tidur kurang dari kebutuhan sesuai umur
 Tisur tidak puas
 Tiga kali atau lebih bangun dimalm hari
 Penurunan proporsi tidur tahap 3 dan 4 (hiporesponsif, tidur berlebih)
 Penurunan proporsi tidur REM (REM yang kembali, hiperaktif, emosi
labil, agitasi, imfulsif, gambaran polisomnografi atipikal)
 Penurunan kemampuan fungsi
3) Faktor yang berhubungan
 Depresi
 Nyeri
 Aktivitas siang hari yang tidak adekuat
 Perubahan lingkungan
 Perubahan ritme sirkadian
 Takut
 cemas

Diagnosa 2 : Kurang tidur/deprivasi


1) Definisi
Periode waktu yang lama tidak tidur (secara alami terus-menerus,
dalam periode kesadaran relative)
2) Batasan karakteristik
 Mengantuk sepanjang hari
 Penurunan kempuan fungsi
 Malaise
 Lelah
 Letargi
 Gelisah
 Irtabilitas
 Sensitivitas cemas tinggi
 Tidak bergairah
 Apatis
 Reaksi lambat
 Tidak dapat berkonsentrasi
 Gangguan perseptual (gangguan sensasi tubuh, delusi, perasaan
mengambang)
 Halusinasi
 Kebingungan akut
 Paranoia transient
 Agitasi atau sikap menyerang
 Cemas
 Nystagmus cepat, menengah
 Tremor tangan
3) Faktor yang berhubungan
 Ketidaknyamanan fisik yang lama
 Ketidaknyamanan psikologis yang lama
 Tidur sehat tidak adekuat
 Penggunaan farmakologi atau anti soporifics dietary
 Penuaan
 Asincronis sirkadian berlebih
 Akitivitas sepanjang hari tidak adekuat
 Stimulus lingkungan terus menerus
 Lingkungan tidur tidak nyaman atau tidak familiar secara terus meneru
 Tidak tidur mempengaruhi peran pengasuhan
 Apnea tidur
 Periodic ekstremitas (sindroma restless leg, mioklonus nocturnal)
 Sindroma sundowner
 Narkolepsi
 Hipersomnolen system saraf pusat idiopatik
 Tidur berjalan
 Terror diwaktu tidur
 Enuresis pada waktu tidur (ngompol)
 Mimpi buruk
 Paralysis tidur familial
 Nyeri ereksi
 Demnsia

c) Perencanaan
Diagnosa 1 : Gangguan pola tidur
1) Tujuan dan kriteria hasil
Individu akan melaporkan keseimbangan yang optimal antara istirahat
dan aktivitas. Dengan indicator :
 Menjelaskan factor yang mencegah atau menghambat tidur.
 Mengidentifikasi teknik untuk memudahakan tidur.
2) Intervensi keperawatan dan rasional
 Identifikasi factor yang menyebabkan.
R/ untuk mengetahui keadaan dari kondisi klien.
 Kaji rutinitas tidur yang biasa dilakukan klien, ritual (membaca, dll)
dan patuhi semaksimal mungkin.
R/ ritual/kebiasaan tidur yang biasa dilakukan dapat meningkatkan
relaksasi dan membantu tidur.
 Anjurkan atau berikan perawatan pada petang hari (mis, hygiene
personal, dan baju tidur yang bersih)
R/ tidur akan sulit dilakukan apabila badan atau kondisi klien tidak
bersih.
 Pastikan klien tidur tanpa gangguan selama sedikitnya 4 atu 5 periode,
masing-masing 90 menit setiap 24 jam.
R/ agar merasa segar, individu biasanya harus menyelesaikan
keseluruhan siklus tidur (70-100 menit) sebanyak 4 atau 5 kali
semalam
 Kolaborasi berikan obat hipnotik dan jelaskan tidak boleh digunakan
untuk waktu yang lama.
R/ keefektifan obat-obat sedatife dan hipotonik mulai berkurang
setelah satu minggu penggunaan. Kondisi ini menuntut pemberian
dosis yang tinggi dan bersiko menyebabkan ketergantungan.

Diagnosa 2 : Kurang tidur/deprivasi


3) Tujuan dan kriteria hasil
Menunjukan tidur dengan indicator sebagai berikut:
 Perasaan segar setelah tidur.
 Tidak ada gangguan pada pola, kualitas, dan rutinitas.
 Tidak ada gangguan pada jumlah jam tidur.
 Bangun pada waktu yang sesuai.
4) Intervensi keperawatan dan rasional
 Kaji adanya deprivasi tidur. Seperti gelisah
R/ : untuk menetukan intervensi selanjutnya.
 Ajarkan klien tentang fakto-faktor yang mempengaruhi tidur
(misalnya, stress, kebisingan, suhu ruangan yang terlalu panas atau
terlalu dingin).
R/ : agar klien mengerti bahwa tidur akan sulit di lakukan tanpa
relaksasi.
 Rujuk ke dokter yang berhubungan dengan dengan kebutuhan untuk
meninjau kembali program pengobatan jika berhubungan dengan
masalah tidur.
R/ : keefektifan obat-obat sedatife dan hipotonik mulai berkurang
setelah satu minggu penggunaan.
Dafatar pustaka

Priharjo, Robert. (1992). Pemenuhan Aktivitas Istirahat Pasien. Yogyakarta: EGC

Nanda. (2005). Nursing Diagnoses: Definition and Classification

Mubarak, Wahit, Chayatin Nurul (2005) Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta :
EGC

Wilkinson, Judiyh, M. (2002) Buku Saku diagnose Keperawatan. Jakarta : EGC