Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sambungan merupakan bagian yang banyak di jumpai pada kontruksi, sederhana atau
tidaknya kontruksi tersebut. Pada jenis kontruksi, sambungan merupakan bagian yang penting
pada perencanaan kontruksi sambungan. Dimana sambungan berfungsi untuk
menghubungkan beberapa batang menjadi sebuah rangka batang. Sambungan tersebut akan
mendukung gaya-gaya yang akan di pikul oleh batang yang satu dengan yang lain, sehingga
seluruh rangka batang akan memikul perlakuan gaya sesuai dengan perilaku batang masing-
masing.

Kegagalan dari suatu kontruksi sambungan tergantung pada perilaku sambungan dalam
menyalurkan gaya yang bekerja dari suatu batang ke batang lainnya yang cukup kompleks.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa jenis sambungan terdapat beberapa jenis-jenis alat
sambungan. Seperti : baut, las, dan paku keling.

Sambungan paku keling mempunyai sambungan yang banyak di gunakan pada beberapa
jenis kontruksi salah satunya pada rangkaian jembatan. Jembatan ini berfungsi untuk
menahan beban kendaraan dengan kapasitas beban 50 Ton. Untuk menjaga keamanan
sambungan, maka paku keling di tuntut harus bisa menahan beban tersebut. Sehingga perlu di
rancang spesifikasi dan kekuatan dari bahan paku keling tersebut. Seperti diameter paku
keling, panjang paku keling dan kekuatan paku keling sehingga dapat benar-benar berfungsi
menahan rangkaian kontruksi jembatan tersebut.

1
2

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana spesifikasi ukuran paku keling yang aman untuk jembatan ?


2. Bagaimana tegangan geser yang terjadi pada paku keling untuk jembatan ?

1.3 Tujuan Perencanaan

Adapun tujuan perencanaannya adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui spesifikasi dan ukuran paku keling yang akan digunakan.
2. Untuk mengetahui tegangan geser pada paku keling yang akan digunakan.

1.4 Batasan Masalah

Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih maksimal, maka untuk itu penulis
membatasi dan menekankan pada hal-hal sebagai berikut :

1. Perencanaan paku keling untuk jembatan dengan kapasitas beban 50 Ton.


2. Jenis sambungan paku keling dengan kampuh bilas ganda di keling tunggal.
3. Menganalisa salah satu bagian sambungan untuk jembatan.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Jembatan

Jembatan adalah suatu struktur kontruksi yang memungkinkan route transfortasi melalui
sungai, danau, sungai, jalan raya, jalan kereta api dan lain-lain. Jembatan adalah suatu
struktur konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus
oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur sungai saluran irigasi dan
pembuang.

Jalan ini yang melintang yang tidak sebidang dan lain-lain.Sejarah jembatan sudah cukup tua
bersamaan dengan terjadinya hubungan komunikasi / transportasi antara sesama manusia dan
antara manusia dengan alam lingkungannya. Macam dan bentuk serta bahan yang digunakan
mengalami perubahan sesuai dengan kemajuan jaman dan teknologi, mulai dari yang
sederhana sekali sampai pada konstruksi yang mutakhir.

2.2 Fungsi Jembatan

Jembatan adalah suatu kontruksi bangunan penyambungan pada persilangan antara jalan dan
penghalang yang di bangun sesuai dengan situasi dan kondisi setempat serta berada pada
posisi lebih rendah. Bangunan penyambungan tersebut dibuat untuk melintasi rintangan
berupa sungai,saluran irigasi,jurang,tepi pangkalan,laut,danau,lembah, serta raya yang
melintang tidak sebidang

Banguan yang melintasi dua bagian jalan yang terputus oleh penghalang ini bertujuan supaya
pejalan kaki atau pengendara kendaran dapat melintasinya. Dengan mudah. Di sisi lain.
Bangunan jembatan ini akan menimbulkan dampak serta manfaat bagi masyarakat setempat

1.Fungsi jembatan dari segi ekonomi

Pergerakan ekonomi yang mengikutsertakan andil pemerintah didalamnya


pastinya harus teroganisisr dengan benar. Semisal pada perdagangan domestik
bahkan internasional, adanya jembatan ini akan mampu memperlancar kegiatan
perdagangan ini. Negara Indonesia yang memang memiliki beberapa negara tetangga
pastinya hanya melewati jalur sederhana seperti jembatan akan sangat mudah.
Manfaat perdagangan internasional ini selain sebagai perkembangan bagi ekonomi
juga dapat menjadi nilai plus untuk interaksi secara luas. Jembatan merupakan
bangunan yang menyerupai jalan penghubung antara satu tempat ke tempat lain
dimana pembuatannya bertujuan untuk mempermudah akses masyarakat.

2.Fungsi jembatan bagi sosial dan budaya

Pembangunan jembatan yang melintasi dua tempat bahkan yang terpisah oleh
penghalang dapat memicu reaksi sosial dan budaya bagi masyarakat didaerah

3
4

tersebut. Salah satu contoh yang sederhana adalah bepergian ke beberapa


wilayah dalam satu pulau atau bahkan berbeda pulau. Hal ini menyangkut interaksi
sosial yang dapat memberikan dampak positif bagi setiap indivisu, seperti pulang
kampung. Pulang kampung merupakan tradisi setiap tahun pada saat hari raya idul
fitri, terlebih bagi warga desa yang merautau ke kota besar. Manfaat pulang
kampung ini menjadi menggunakan berbagai sarana transportasi mulai dari jalur
darat, laut hingga udara. Terlebih bagi jalur darat tentunya jembatan ini akan sangat
diperlukan di beberapa daerah.

3.Fungsi jembatan dari segi giografis dan kependudukan

Jembatan adalah sebagai kontruksi bangunan yang dapat mempermudah akses


perjalan yang biasaya hanya bisa di tempuh lewat laut ataupun udara. Dengan di
bangun tentuya dua tempat tadi yah terpisah dapat di hubungankan melalui jalur
darat. Penggunan jembatan akan lebih dipetingkan untuk mendistribusikan beberapa
hasil bumi yang telah di olah dari beberapa wilayah indonesia.khususya daerah-
daerah terpencil.

2.3 Klasifikasi jembatan


jembatan secara umum adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua
bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam, alur
sungai, danau, saluran irigasi, kali, jalan kereta api, jalan raya yang melintang tidak sebidang
dan lain-lain.
Jenis jembatan berdasarkan fungsi, lokasi, bahan konstruksi dan tipe struktur sekarang ini
telah mengalami perkembangan pesat sesuai dengan kemajuan jaman dan teknologi, mulai
dari yang sederhana sampai pada konstruksi yang mutakhir.

1. Tipe jembatan kerangka (Truss bridge


Jika disusun dalam bentuk kekisi, contohnya segitiga, supaya setiap alang
hanya menampung sebagian berat struktur itu, maka ia dinamakan jembatan
kerangka. Jika dibandingkan dengan jembatan alang, jembatan kerangka adalah
lebih hemat dalam penggunaan bahan. Kerangka bisa menahan beban yang lebih
berat untuk jarak yang lebih jauh menggunakan elemen yang lebih pendek
daripada jambatan alang. Ada berbagai jenis cara untuk membuat kerangka ini,
namun begitu, semuanya menggunakan prinsip penggiliran elemen tegangan dan
tekanan. Sekiranya satu-satu elemen itu telah diketahui - melalui analisis
kejuruteraan - hanya akan mengalami ketegangan tanpa tekanan atau kenduran,
maka ia bisa dibuat dari batang keluli yang lebih langsing. Bagian atas kerangka
selalunya mengalami tekanan, manakala bagian bawahnya mengalami tegangan.
Jembatan ini selalu dibuat dengan menggunakan dua kerangka yang
dihubungkan dengan elemen-elemen penjuru yang mendatar untuk membentuk
sebuah struktur berbentuk kotak. Jalan yang akan dilalui boleh terjadi daripada
sebagian elemen-elemen atas atau bawah, atau juga boleh digantung di tengah-
tengah. Jika jambatan itu harus menyeberangi jurang yang sangat dalam, kerangka
5

itu boleh diimbangi. Ini selalunya terjadi jika tebing yang betul-betul bertentangan
membuatkan kerja-kerja pembuatan lebih sukar.Jambatan kerangka boleh dibuat
dari hampir semua bahan yang keras dan kuat, termasuk batang kayu, keluli
ataupun konkrit diperkuat. Konsep kerangka ini juga digunakan dalam jembatan-
jembatan yang lain ataupun komponen-komponen jembatan seperti struktur
geladak jambatan gantung.

Gambar 2.1 Gambar jembatan kerangka


Sumber.http://www.tenikcivil.com

1. Tipe Jembatan gantung (Suspension bridge)


Jembatan gantung adalah satu lagi jenis jembatan yang pertama, dan masih
lagi dibuat menggunakan bahan asli, seperti tali jerami di setengah daerah di
Amerika Selatan. Sudah semestinya jembatan ini diperbarui secara berkala kerana
bahan ini tidak tahan lama, dan di sana, bahan-bahan ini dibuat oleh keluarga-
keluarga sebagai sumbangan masyarakat. Sejenis variasi yang lebih kekal, sesuai
untuk pejalan kaki dan kadang kala penunggang kuda boleh dibuat daripada tali
biasa. Puak Inca di Peru juga pernah menggunakan jembatan ini pada abad ke-16
untuk jarak sejauh 60 meter. Bagi jembatan ini, laluan jalan akan mengikut
lengkungan menurun dan menaik kabel yang membawa beban. Tali tambahan
juga diletakkan pada paras yang lebih tinggi sebagai tempat berpegang. Untuk
berjalan di jembatan seperti ini, dengan cara berjalan seperti meluncur, karena
cara berjalan yang biasa akan menghasilkan gelombang bergerak yang akan
menyebabkan jembatan dan pejalan kaki bergoyang atas-ke-bawah atau kiri-ke-
kanan.
Jembatan gantung modern yang mampu membawa kendaraan menggunakan
dua menara menggantikan pokok. Kabel yang merentangi jembatan ini perlu
ditambat dengan kuat di kedua belah ujung jembatan, karena sebagian besar beban
6

di atas jembatan akan dipikul oleh tegangan di dalam kabel utama ini. Sebagai
jalannya dihubungkan ke kabel utama dengan menggunakan jaringan kabel-kabel
lain yang digantung menegak. Jembatan seperti ini hanya cocok digunakan untuk
jarak yang jauh, atau tidak memungkinkan didirikan tiang penahan karena arus
deras dan berbahaya. Jembatan seperti ini juga selalu menjadi suatu pemandangan
yang bagus. jembatan ini tidak sesuai untuk digunakan oleh kereta api karena akan
melentur disebabkan oleh beban kereta.

Gambar 2.2 Gambar jembatan gantung

Sumber.http://www.civilperpus.com

2.4 Komponen jembatan


1. Lantai kendaraan
Jembatan ini berfungsi untuk lalu lintas kereta api. Sehingga lantai
kendaraannya berupa rel kereta api yang terbuat dari baja dan bantalan rel yang
terbuat dari kayu.
2. Balok memanjang
Balok memanjang berfungsi untuk menyalurkan beban-beban lantai kendaraan
(beban mati dan beban hidup) ke balok melintang. Pada jembatan ini, bantalanrelnya
diikatkan/diletakkanlangsung pada balok memanjangnya. Jembatan ini memiliki dua
gelagar memanjang yang terbuat dari profil wf 300 x 130 mm.
3. Balok melintang
Balok melintang memikul beban-beban melalui gelagar memanjang dan
menyalurkannya kerangka batang. Pada jembatan ini, gelagar melintang tersebut
terbuat dari plate girder, yakni susunan plat sedemikian rupa sehingga membentuk
profil baru (pada umumnya berbentuk i).gelagar melintang tersebut diletakkan segaris
dengan batang vertikal rangka batang induk.
7

4. Ikatan angin
Ikatan angin berfungsi untuk menyalurkan gaya angin kepada perletakan.
Beban angin tersebut bekerja di titik-titik simpul. Berhubung jembatan ini adalah
jembatan rangka terbuka, maka semua beban angin tersebut disalurkan ke titik-titik
simpul bagian bawah. Jembatan ini memiliki ikatan angin yang terbuat dari profil siku
165 x 165 mm dan dibuat berbentuk belah ketupat.
5. Ikatan tumbuk
Ikatan tumbuk berfungsi sebagai pengaku untuk mengurangi lenturan pada
gelagar memanjang akibat gaya horisontal yang diakibatkan oleh roda kereta api.
Ikatan tumbuk pada jembatan ini terbuat dari baja siku 78 x 78 mm yang diletakkan
diantara gelagar memanjang membentuk ikatan silang.
6. Rangka batang induk
a) Rangka diagonal
Rangka batang diagonal pada jembatan ini terbuat dari baja double canal 100
x 85 mm. Masing-masing baja canal tersebut disambung dengan menggunakan
plat dan paku keling di 4 titik dalam satu bentang. Plat dan paku keling tersebut
berfungsi agar beban aksial yang bekerja pada batang tersebut terbagi dua merata
ke masing-masing baja canal.

b) Rangka vertikal

Rangka vertikal pada jembatan ini terbuat dari baja WF 190 x 190 mm dengan
penebalan pada bagian badan profil dengan menggunakan plat.

c) Rangka tepi atas

Rangka tepi atas pada jembatan ini terbuat dari baja double canal 270 x 90 mm.
Pada saat jembatan tersebut menerima beban kereta api, batang tepi atas
menerima gaya aksial tekan. Gaya aksial tekan tersebut paling besar terletak pada
tengah bentang jembatan.Sehingga pada rangka tepi atas bagian tengah bentang
dibuat penebalan profil.

d) Rangka tepi bawah

Rangka tepi bawah dari jembatan ini terbuat dari baja double canal 100 x 85 mm.
Karenarangka tepi bawah menerima gaya tarik saja, sehingga tidak dibutuhkan
penebalan profil sama seperti rangka tepi atas.

7. Pengaku/stiffner

Pada jembatan rangka terbuka tidak memiliki ikatan angin atas. Portal akhir
dari jembatan rangka terbuka dibentuk oleh batang tepi rangka batang induk dengan
balok melintang. Dengan demikian, hubungan antara rangka vertikal dengan balok
8

melintang harus dibuat sekaku mungkin.Untuk itu dibuat pengaku/stiffner untuk


menjaga kekakuan melintang dari jembatan tersebut.Pengaku pada jembatan ini
tersusun dari plat dan profil baja double siku 85 x 95 mm.

8. Sambungan

Sambungan berfungsi sebagai penyaluran beban dari batang yang satu ke


batang yang lain.Secara umum, jembatan ini menggunakan plat dan paku keling
sebagai sambungannya.Penggunaan plat sebagai sambungan dapat mengakibatkan
sobek pada plat (akibat gaya tarik) dantekuk (akibat gaya tekan), sedangkan paku
keling atau baut dapat mengakibatkan putus pada baut.

a) Sambungan ikatan angin dan ikatan tumbuk

Sambungan ikatan angin terdiri dari plat dan paku keling. Sedangkan sambungan
ikatan tumbuk terditi dari baja siku dan paku keling.

b) Sambungan balok memanjang-balok melintang

Terdiri dari baja siku dan paku keling dimana sisi yang satu dari baja siku
disambung pada sisi badan profil balok memanjang dan sisi yang lain dari baja
siku tersebut disambung ke sisi badan profil balok melintang.

c) Sambungan balok melintang-rangka batang utama

Menggunakan baja siku dan paku keling dimana sisi yang satu dari baja siku
disambung ke badan dari balok melintang dan sisi yang lain disambung ke batang
vertikal dari rangka batang utama.

d) Sambungan rangka vertikal-rangka tepi bawah

Sambungan ini menggunakan profil double siku dan paku keling dimana profil
doublu siku tersebut diletakkan di luar dari profil rangka tepi bawah (double
canal) dan kemudian disambung dengan paku keling sampai ke rangka vertikal.

e) Sambungan titik simpul atas

Pada sambungan titik simpul atas, batang-batang yang disambung adalah batang
diagonal, batang vertikal, dan batang tepi atas. Secara keseluruhan batang-batang
tersebut disambung dengan menggunakan plat dan paku keling. Namun pada
batang diagonal dan batang tepi atas (menggunakan profil double canal)
menggunakan profil baja siku dan paku keling juga sebagai sambungan ke plat
simpul. Profil baja siku tersebut digunakan untuk menyalurkan yang berada pada
flens dari batang diagonal tersebut.

9. Perletakan

Perletakan berfungsi untuk menyalurkan beban jembatan keseluruhan ke


pilar atau kepala jembatan. Perletakan yang ada harus sesuai antara perencanaan
9

dengan kenyataan di lapangan. Apabila pelaksanaan perletakan tidak sesuai dengan


perencanaan maka pada rangka utama akan timbul gaya-gaya ekstra yang cukup
besar. Gaya-gaya ekstra tersebut mengakibatkan penambahan atau pengurangan
gaya-gaya batang. Bahkan mungkin saya batang tarik berubah menjadi batang tekan
atau sebaliknya.

2.5 Pengertian Sambungan

Sambungan yaitu pertemuan antara batang yang satu dengan yang lainnya pada titik
tertentu. Dengan menggunakan plat baja alat yang biasa di gunakan sebagai penyambung
antara lain ialah sambungan dengan menggunakan metode las, baut, dan paku keling.

2.6 Fungsi dan Tujuan Sambungan

Suatu kontruksi baja tersusun atas batang-batang baja yang di gabung membentuk
satu kesatuan bentuk kontruksi dengan menggunakan bebagai macam teknik sambungan.
Adapun fungsi serta tujuan dari sambungan antara lain :

1. Untuk menghubungkan beberapa batang baja membentuk suatu rangkaian sesuai


kebutuhan.
2. Untuk mendapatkan ukuran baja sesuai dengan kebutuhan panjang,tinggi,lebar,dsb
Untuk memudahkan dalam penyetelan dalam kontruksi baja.

2.7 Jenis-Jenis Sambungan

Ada 2 jenis sambungan yang di kenal secara umum :

1. Sambungan tidak tetap ( Semi permanent )


Merupakan sambungan yang bersifat sementara, sehingga masih dapat di
bongkar pasang selagi masih dalam kondisi normal.
Contohnya : sambungan mur-baut/ ulir ( screwed joint ) dan sambungan pasak
( keys joint ).
2. Sambungan tetap ( Permanent joint )
Merupakan sambungan yang bersifat tetap, sehingga tidak dapat di lepas
selamanya, kecuali dengan merusak terlebih dahulu.
Contohnya : sambungan paku keling ( rivet joint ) dan sambungan las ( welded joint ).
A. Jenis-jenis sambungan tidak tetap ( semi permanent ) dan tetap( permanent joint ) :
1. Sambungan Baut
Baut adalah alat penyambung dengan batang bulat dan berulir salah satu
ujungnya di bentuk kepala baut ( umumnya kepala segi enam ) dan ujung lainnya di
pasang mur/pengunci. Dalam pemakaian di lapangan, baut dapat di gunakan untuk
membuat kontruksi sambungan tetap, sambungan gerak, maupun sambungan
sementara yang dapat di bongkar/dilepas kembali. Bentuk uliran batang baut untuk
baja bangunan pada umumnya ulir seri tiga ( ulir tajam ) sesuai fungsinya yaitu sebagai
10

baut pengikat. Sedangkan bentuk ulir segi empat ( ulir tumpul ) umumnya untuk baut-
baut penggerak tenaga misalnya dongkrak atau alat-alat permesinan yang lain.

Gambar 2.3 Gambar Baut Dan Mur


Sumber.http:www.macamjenisbaut,Mur.com

2. Sambungan Las
Pengelasan adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau
tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kuat.

Gambar 2.4 Gambar Sambungan Las


Sumber.http://www.tipeteknikpengelasan.com
11

3. Sambungan Paku Keling


Paku keling ( rivet ) adalah salah satu alat penyambung atau profil baja, selain
sambungan baut dan las. Paku keling terdiri dari sebuah baja yang pendek yang mudah
ditempa dan berbentuk mangkuk setengah bulatan. Pada saat paku dalam keadaan
plastis, paku keling di pukul dengan palu cekung yang khusus untuk pengelingan,
sehingga akan terbentuk sebuah kepala lagi pada sisi lainnya dan akan menutup lagi
pada sisi lain tersebut.

Bagian paku keling adalah :

1. Kepala
2. Badan
3. Ekor
4. Kepala lepas

Gambar 2.5 Gambar Paku Keling


Sumber.http://www.macam”pakukeling.com
2.8 Paku Keling

Fungsi paku pada sambungan paku keling adalah untuk membuat hubungan yang kuat
dan rapat. Kekuatan di perlukan untuk menjaga agar sambungan tidak rusak. Sedangkan
kerapatan di perlukan selain untuk kekuatan juga untuk menjaga agar tidak terjadi kebocoran
seperti pada boiler atau lambung kapal.

2.9 Bahan Paku Keling

Bahan paku keling yang biasa di gunakan antara lain adalah baja, brass, alumunium,
dan juga tembaga. Bahan baku keling juga di definisikan tergantung dari jenis bahan yang
akan di terima oleh yang akan di sambung/beban yang akan di terima oleh sambungan paku
keling tersebut.

Bahan Paku Keling adalah :

1. Baja
2. Alumunium
3. Tembaga
12

Semua bahan itu tergantung dari jenis sambungan/ beban yang diterima oleh sambungan
a. Penggunaan umum bidang mesin : ductile ( low carbor ), steel, wrought iron.
b. Penggunaan khusus : weight, corrosion, or material constraints apply : copper
(+alloys) aluminium (+alloys), monel, dll.
2.10 Keadaan Paku Keling

Jenis sambungan dengan menggunakan paku keling, merupakan sambungan


tetap/permanen karena sambungaan ini bila akan di buka harus merusak dahulu paku keling
tersebut dan tidak bisa di pasang atau di gunakan lagi, kecuali dengan mengganti paku keling
tersebut dengan yang baru.

2.11 Manfaat Paku Keling

Penggunaan paku keling juga ada beberapa manfaat, di antaranya ialah Sambungan
paku keling lebih sederhana dan tidak membutuhkan biaya besar dalam pembuatannya.

Pemeriksaannya lebih mudah. Sambungan paku keling dapat di buka dengan


memotong kepala kepala dari paku keling tersebut.

2.12 Metode Pengelingan

Metode pengelingan ( penyambungan paku keling ) yang di lakukan pada umumnya


tergantung dari jenis pemakain yakni :

1. Pemakaian ringan
2. Pemakaian sedang
Pemakaian sedang di tujukan untuk mendapatkan kekuatan sambungan.
Setelah pasangan pelat di lobangi dan paku keling di pasangkan pada lobang,
ekor paku di panaskan di bawah suhu kritis dan di tekan dengan pukulan palu
tangan pada cetakan ekor. Sehingga ekor tercetak seperti bentuk kepala.
3. Pemakaian berat
Pemakaian berrat dan kedap air, di tujukan untuk mendapatkan kekuatan dan
kerapatan sambungan. Lobang kedudukan paku keling di buat lebih besar 1,5 mm
dari ukuran diameter paku, agar saat ekor paku di tekan oleh mesin pencetak
kepala, bahan logam paku yang mulai luluh karena sebelumnya di panaskan
sampai membara pada suhu kritis ( 600-800 oC ), mengisi ruang antara tersebut.
Logam luluh yang tertekan tentu saja akan mengisi sampai ke celah-celah terkecil
uang terdapat di antara kedua plat. Sehingga akhirnya di peroleh sambungan yang
kedap fluida.

2.13 Pemakaian Paku Keling

Dalam pemakaian paku keling dapat di pakai untuk :

1. Sambungan kuat pada kontruksi baja.


13

Contoh : bangunan, jembatan, dan crane.

2. Sambungan rapat, pada tabung dan tangki.


Contoh : cerobong, pipa-pipa bertekanan.

3. Sambungan pengikat, untuk penutup chasis.


Contoh : pada pesawat terbang.

4. Sambungan kuat dan rapat, pada kontruksi boiler.


Contoh : bolier, tangki serta pipa bertekanan tinggi.

2.14 Jenis Paku Keling Kampuh Bilah Ganda Di Keling Tunggal

Kampuh Bilah Ganda di Keling Tunggal


Pemasangan paku keling pada kampuh bilah ganda di keling tunggal yaitu
pemasangan paku pada plat baja dengan plat terdiri dari 3 lempengan plat baja yang di
pasang dan di keling tunggal dengan pemasangan paku berderet atau sejajar dan
pemakaian paku keling pada kampuh bilah ganda di keling tunggal di pasang sesuai
dengan kebutuhan serta sesuai dengan beban dan ukuran tertentu.

Gambar 2.8 Kampuh Bilah Ganda di Keling Tunggal


Sumber.http://www.sambungan-paku-keling-riveted-joints.com

2.15 Jenis-Jenis Kerusakan

Kerusakan yang biasanya terjadi pada paku keling adalah :


1. Tearing of the plate at ende : robek pada bagian pinggir dari plat yang dapat terjadi
jika margin ( m ) kurang dari 1,5 d,dengan d ialah diameter paku keling.

Gambar 2.10 Tearing of the plate at ende


Sumber: (Sularso, 1983)
14

2. Tearing of the plate a croos a row of rivets : robek pada bagian sumbu lubang paku
keling dan bersilangan dengan garis gaya.

Gambar 2.11 Tearing of the plate a cross a row of rivets


Sumber: (Sularso, 1983)

3. Shearing of the rivets : kerusakan sambungan paku keling karena geser.

Gambar 2.12 Shearing of the rivets


Sumber: (Sularso, 1983)

2.16 Bentuk Paku Keling

Bentuk paku keling menurut bentuknya di bagi 3 kelompok :


1. Paku keling dengan kepala bulat untuk pemakaian khusus, misalnya ketel uap
–DIN1232
2. Paku keling dengan kepala bukat untuk kontruksi bias, misalnya
penyambungan baja profil dari bangunan –DIN1243
3. Paku keling dengan kepala di benamkan untuk mendapatkan hasil pekerjaan
rata, misalnya pemasangan plat pesawat terbang – DIN302.
2.17 Cara Pemasangan Paku Keling

Gambar 2.13 Cara pemasangan paku keling


Sumber.http://www.operator-it.blogspot.com
15

Keterangan :
1. Plat yang akan disambung dibuat lubang, sesuai diameter paku keling yang akan
digunakan. Biasanya diameter lubang dibuat 1,5 mm lebih besar dari diameter paku
keling.
2. Paku keling di masukkan ke dalam lubang plat yang akan disambung.
3. Bagian kepala lepas di masukkan ke dalam lubang plat yang akan di sambung.
4. Dengan menggunakan alat atau mesin penekan ( palu ) tekan bagian kepala lepas
masuk ke bagian ekor paku keling dengan suaian paksa.
5. Setelah rapat/ kuat, bagian ekor sisa kemudian di potong dan di rapikan/ ratakan.
6. Mesin/ alat pemasang paku keling dapat di gerakkan dengan udara, hidrolik atau
tekanan uap tergantung jenis dan besar paku keling yang akan di pasang.
2.18 Keuntungan dan Kelemahan

1. Keuntungan
Sambungan paku keling ini di bandingkan dengan sambungan las mempunyai
keuntungan yaitu :
a) Bahwa tidak ada perubahan struktur dari logam di sambung. Oleh karena itu
banyak di pakai pada pembebanan-pembebanan dinamis.
b) Sambungan keling lebih sederhana dan murah untuk di buat.
c) Pemeriksaanya lebih mudah.
d) Saambungan keling dapat di buka dengan memotong kepala dari paku keling
tersebut.

2. Kelamahan
a) Hanya satu kelemahan bahwa ada pekerjaan mula berupa pengaboran lubang
paku kelingnya di samping kemungkinann terjadi karat di sekeliling lubang tadi
selama paku keling di pasang. Adapun pemasangan paku keling bisa di lakukan
dengan tenaga manusia, tenaga mesin dan bisa dengan peledak ( dinamit )
khususnya untuk jenis-jenis yang besar.
b) Paku keling dalam ukuran yang kecil dapat di gunakan untuk menyambung dua
komponen yang tidak membutuhkan kekuatan yang besar, misalnyanperalatan
rumah tangga, furnitur, alat-alat elektronik, dll.
2.19 Berdasarkan Susunan Paku

1. Sambungan Rantai
2. Sambungan Zig-Zag
16

Gambar 2.14 Tipe Sambungan Keling Berdasarkan Susunan Paku


Sumber: (Sularso, 1983)

Pemakaian paku keling ini di gunakan untuk :


1. Sambungan kuat dan rapat, pada kontruksi boiler ( boiler, tangki dan pipa-pipa
tekanan tinggi ).
2. Sambungan kuat, pada kontruksi baja ( bangunan, jembatan dan crane ).
3. Sambungan rapat, pada tabung dan tangki ( tabung pendek, cerobong, pipa-pipa
tekanan ).
4. Sambungan pengikat, untuk penutup chasis ( pesawat terrbang ).
2.20 Perhitungan Paku Keling
1. Diameter Paku Keling
4 .F
d =√π .τ ( Umar Sukrisno 1981 )
d

Ket :

d = Diameter paku keling (mm)

F = Beban (N)

τd = Tegangan geser yang diijinkan (kg/cm²)

2. Luas Penampang Paku Keling

π
A = 4 . (d2 ) ( Gustaf Nieman 1982 )

Ket :

A = Luas penampang (mm²)

d = Diameter paku keling (mm)


17

3. Tegangan Geser yang di Izinkan


σb
τgi = 𝑆𝑓1.𝑆𝑓2 ( Gustaf Niemann 1982 )

Ket :

σb = Tegangan tarik (N/mm2)

𝑆𝑓2 = Angka keamaman

𝑆𝑓1 = Faktor keamanan bahan

τgi = Tegangan geser izin

4. Tegangan Geser yang Terjadi Pada Paku Keling


F N
τg = (mm2 ) ( Sularso 1970 )
A

Ket :

τg = Ttegangan geser (N)

F = Beban (N)

A = Luas penampang ( mm )

5. Tebal Plat
F
δ = n .d .σs ( Umar Sukrisno 1981 )

Ket :

δ = Tebal plat (mm)

F = Beban (N)

d = Diameter paku keling (mm)

𝜎s = Tegangan tarik (N/mm2)

n = Jumlah paku keling

6. Lebar Plat
F
b = δ .τ + d ( Umar Surisno 1981 )
t

Ket :

b = Lebar plat (mm) d = diameter ( mm )


18

δ = Tebal plat (mm)

F = Beban (N)

τt = Tegangan tarik (kg/cm)

7. Jarak Antar Paku


p= 3.d+δ ( Umar Sukrisno 1981 )

Ket :

p = Pitch keling

δ = Tebal plat ( mm )

d = Diameter dari lubang keling ( mm )

8. Panjang Paku Keling


𝑙 = 1,5.d

𝐿 = 𝛿+𝛿+𝛿+𝑙 ( Umar Sukrisno 1981 )

Ket :

I = Panjang paku yang keluar ( mm )

d = Diameter dari lubang keling (mm)

𝛿 = Tebal plat (mm )

L = Panjang paku keseluruhan ( mm )


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Data Spesifikasi yang Akan di Rencanakan


Jenis perencanaan : sambungan paku keling pada jembatan.
Beban yang direncanakan 40 Ton = 40000 kg => 40 kg x 9,8 m/s2 = 392.000 N
Jenis kampuh : kampuh keling bilah ganda di keling ganda.
Jenis Paku : DIN 1073 ( Keling Bulat Mendatar )

3.2 Metode Penelitian


1. Analisis masalah
2. Kajian pustaka
3. Study lapangan
4. Penghitungan
5. Pembahasan

Gambar 3.1 riveter machine


Sumber.http://www.4thscience.blogspot.com

3.3 Alat dan Bahan

3.3.1 Alat
1. riveter machine

Hand riventer ini digunakan untuk mengepreskan paku keling yang


akan digunakan untuk menyambungkan kontruksi besi satu dengan yang
lainnya.

19
20

3.3.2 Bahan
a. Paku Keling

Gambar 3.2 Paku keling


Sumber.http://wwwbungdanu.blogspot.com

Paku keling akan digunakan untuk menyambungakn kontruksi besi


satu dengan besi yang lainnya pada jembatan yang akan direncanakan.

b. Kontruksi Besi Baja

Gambar 3.3 Kontruksi Besi Baja


Sumber.http://wwwadipurokontruksibaja.com

Kontruksi besi baja yang akan digunakan untuk membuat jembatan,


besi baja yang digunakan berbentuk H agar kuat menerima beban yang besar.
3.4.1.1.1 Gambar Sambungan Pada Jembatan

Gambar 3.4 Sambungan Paku Keling Pada Jembatan


http://wwwadipurokontruksibaja.com
21

3.5 Diagram alir

Mulai

Identifikasi masalah

Kajian pustaka

Survay lapangan Tidak

Perhitungan

Hasil

ya

Kesimpulan

Selesai
BAB IV

ANALISA DAN PERHITUNGAN

4.1 Data yang di Rencanakan

Beban 40 Ton = 40000 kg => 40000 kg . 9,8 m/s2 = 392000 N

Bahan menggunakan baja ST 37

4.2 Perhitungan

beban yang diterima setiap paku keling

F 392000 N
= = 2613,3 N
n 150

Keterangan; F = beban/gaya
n = jumlah paku keling
4.2.1 Diameter Paku Keling

Keterangan; d = diameter paku keling τgi = tegangan geser izin

F = beban/gaya

π = 3,14

4 .F
d=√
π .τgi

4 .2613,3 N
d=√
3,14 .30,24 N/mm²

10453,2 N
d=√
94,95 N/mm²

d = √110,9mm²

d = 10,53 mm = 12 mm

Diameter paku keling diambil nilai sebesar 12 mm.

22
23

4.2.2 Luas Penampang Paku Keling

keterangan; A = luas penampang(mm)


π = 3,14
d = diameter paku keling
π
A= .d
4

3,14
A= . (12 mm)2 , ,,
4

3,14
A= .144 mm²
4
452,16 mm²
A=
4
A = 113,04 mm²

Jadi luas penampang paku keling di dapat nilai sebesar 113,04 mm2

4.2.3 Tegangan Geser Izin

Keterangan; τgi = tegangan gesar izin Sf1 = faktor keamanan bahan

σb = tegangan tarik(Nm²) Sf2 = angka keamanan


g = grafitasi

σb .g
τgi =
Sf1 .Sf2
kg
37 ⁄
mm². 9,81 m/s²
=
6,0 .2,0

362,97 N⁄
mm²
= 12

= 30,24 N/mm2

Jadi nilai tegangan geser izin yaitu 30,24 N/mm.


24

4.2.4 Tegangan Geser Yang Terjadi Pada Paku Keling

Keterangan; τg = tegangan geser

F = beban/gaya

A = luas penampang

n = jumlah paku keling

F
τg =
A .n
2613,3 N
=
113,04 mm². 150

= 15,41 N/mm2

Jadi tegangan geser yang terjadi sebesar 15,41 N/mm2

4.2.5 Ketebalan Plat

Keterangan; δ = ketebalan plat (mm) τgi = tegangan geser izin

F = gaya/beban σgi = milimeter kuadrat

n = jumlah paku keling

d = diameter paku keling

F n . d . σgi
δ= =
n . d . τgi F

150 .12mm .30,24 N/mm²


=
2613,3 N
54432 N/mm²
=
2613,3 N

= 20,82 mm

Jadi ketebalan plat yang digunakan sebesar 20,82 mm


25

4.2.6 Lebar Plat

Keterangan; b = lebar plat σt = tegangan tarik

F = beban/gaya d = diameter paku keling

δ = ketebalan plat(mm)

F
b= + d
δ . σt

2613,3 N
b= + 1,2 cm
2,082 cm .30,24 kg/cm²

2613,3 N
b= + 1,2 cm
62,95kg/cm²

b = 42,71 cm => 427,1 mm

Jadi lebar plat yang digunakan sebesar 427,1 mm

4.2.7 Jarak Antar Paku

Keterangan; p = pits keling

π = 3,14

𝛿 = ketebalan plat

p= π+𝛿
= 3,14 + 20,82
= 23,96 mm
Jadi jarak antar paku ialah 23,96 mm

4.2.8 Panjang Paku Keling

Keteragan; I = panjang paku keling

L= panjang paku keseluruhan(mm)

δ = ketebalan plats
26

I = 1,5.d

= 1,5.12 mm

= 18 mm

Panjang paku keling seluruhnya :

L=𝛿+𝛿+𝛿+𝐼

= 20,82 mm+ 20,82 mm+ 20,82 mm+ 18 mm

= 80,46 mm

Jadi panjang paku keling yang digunakan yaitu 80,46 mm.

4.3 Pembahasan

Dari perhitungan di atas di dapat bahwa :

1. Diameter paku keling di dapat nilai dari hasil perhitungan yaitu sebesar 48 mm. Serta
jumlah paku keling yang di gunakan pada tiap satu baris pada sambungan yaitu 10 buah
paku. Serta dari perhitungan di atas di dapat pula:
a. Luas penampang paku keling yaitu sebesar 113,04 mm².
b. Lebar pelat di dapat nilai sebesar 427,1 mm
c. Ketebalan plat di dapat nilai sebesar 20,82 mm.
d. Panjang paku keling 80,46 mm
2. Gaya yang di dapat pada paku keling seperti yang telah di hitung di atas yaitu:
a. Tegangan geser izin di dapat nilai sebesar 30,24 N/mm2
b. Tegangan geser yang terjadi di dapat nilai sebesar 15,41 N/mm2

Ketentuannya 𝜏𝑔𝑖 ≥ 𝜏𝑔 , dan setelah di lakukan perhitungan di atas di dapat nilai


30,24 N/mm2 15,41 N/mm², maka dengan demikian paku keling aman untuk di
gunakan.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari perhitungan dan perancangan sambungan paku keling pada kontruksi jembatan
dalam bab-bab di atas maka penyusun dapat menarik kesimpulan untuk sambungan paku
keling pada jembatan yang aman yaitu :

1. Tegangan geser izin tidak boleh lebih besar dari tegangan geser yang terjadi
a. Tegangan geser izin di dapat nilai sebesar 30,24 N/mm2
b. Tegangan geser yang terjadi di dapat nilai sebesar 15,41 N/mm2

Setelah di lakukan perhitungan di atas di dapat nilai 30,24 N/mm2 ≥ 15,41 N/mm2,
maka dengan demikian paku keling aman untuk di gunakan dengan beban yang di
gunakan ST 37.

2. Serta spesifikasi paku keling pada kontruksi jembatan dengan diameter yang sudah di
tentukan 42 mm2 di dapat nilai sebesar :
a. Luas penampang paku keling yaitu sebesar 113,04 mm².
b. Lebar plat di dapat nilai sebesar 42,71 cm.
c. Ketebalan plat di dapat nilai sebesar 20,82 mm.
d. Jarak antar paku di peroleh 23,96 mm.
e. Panjang paku keling yang di butuhkan yaitu 80,46 mm.
f. Jumlah paku di peroleh 150 buah setiap satu baris.
Dengan demikian pada perencanaan sambungan pada jembatan dengan beban 40 Ton
dapat di laksanakan karena sudah memenuhi persyaratan aman.

27
28

5.2 Saran

Penulis menyadari akan keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang penulis miliki,
maka penulis dapat memberikan saran kepada pembaca dalam hal perencanaan ini. Dan
berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut :

Dalam perancanaan suatu bahan, mesin ataupun kontruksi, kita harus memperhatikan
toleransi yang akan di rencanakan dan tidak boleh kurang atau bahkan melebihi batas
toleransi yang sudah di tentukan.

Bahan plat baja yang baik adalah yang mampu menerima tekanan tinggi dan umur
pemakaian dengan jangka waktu jangka panjang. Dan selalu memperhatikan tingkat
keamanan agar tidak membahayakan pengguna.
29

DAFTAR PUSTAKA

www.indarluhsepdyanuri.blogspot.com

https://id.wikipedia.org/wiki/Paku_keling

https://pakukeling.wordpress.com/

http://ypnyobinyobi.blogspot.co.id/2015/05/makalah-elemen-mesin-sambungan-
keling.html

http://teknikmesin14.blogspot.co.id/2011/04/paku-keling.html

http://susanptp.blogspot.co.id/2014/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

Sumber : (Madyoidesaksomo.blogspot.com/2014/05/sambungan-paku-keling-

rivetedjoints.html?m=1)

https://www.google.com/search?q=paku+keling)=lnms&tbm=isch&sa)

https://www.google.com/search?q=hammer&source=lnms&tbm)

Sularso., MSME”Dasar prencanaan dan pemeliharaan mesin”, Jakarta. Pradnya


pramita.1970

Sukrisno umar,“ bagian-bagian mesin dan perencanaan”,. Jakarta. Erangga. 1981