Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Beberapa larutan memiliki kemampuan menghantarkan arus listrik. Larutan ada yang dapat
menghantarkan arus listrik dan ada yang tidak dapat. Contoh beberapa larutan yang dikenal
adalah larutan air garam, larutan air gula, larutan air jeruk, dan lain-lain.

Dari sinilah saya ingin melakukan penelitian terhadap beberapa larutan tersebut dan untuk
mengetahui kemampuan menghantarkan arus listrik. Dan larutan yang akan diuji cobakan kali ini
adalah larutan air gula, larutan air garam, larutan air jeruk, larutan air sumur, larutan air
comberan, larutan air cuka, larutan NaOH, larutan HCl, dan larutan akuades.

TUJUAN

Tujuan yang akan dibahas yakni:

1. Menguji kemampuan daya hantar listrik pada beberapa larutan.


2. Menguji kemampuan terang redupnya kemampuan menyala.
3. Menguji kemampuan ada tidaknya gelembung pada tiap larutan.
4. Mengetahui larutan apa saja yang mempunyai kemampuan menyala.

LARUTAN ELEKTROLIT DAN LARUTAN NON ELEKTROLIT

LANDASAN TEORI

Landasan teori dari larutan elektrolit dan larutan non elektrolit adalah Svante August Arrhenius.
Ia adalah anak dari ayah Svante Gustaf Arrhenius yang bekerja penyurvei tanah yang bekerja
pada Universitas Uppsala dan mengelola perkebunannya di Vik, tempat Svante dilahirkan, dan
ibu Carolina Christina Thunberg. Ia lahir di Swedia tanggal 19 Februari 1859 dan meninggal di
kota Stockholm tanggal 2 Oktober 1927. Ia adalah salah satu ahli kimia fisik asal Swedia yang
terkenal dengan teori Elektrolitnya dan mendapat hadiah Nobel pada tahun 1903. Arrhenhius
mulai belajar membaca saat berusia 3 tahun dan tertarik dengan Matematika ketika ia mengamati
ayahnya bekerja. Arrhenius menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi, ia belajar
Matematika, Fisika, dan Kimia. Pada tahun 1911, Arrhenius menerima medali Williard Gibbs
pertama kali di Amerika Serikat berkat penelitiannya yang berjudul teori Larutan.

Menurut teorinya, “larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikel-partikel bermuatan
listrik positif dan negatif yang disebut ion (ion positif dan ion negatif). Jumlah muatan ion positif
akan sama dengan jumlah muatan ion negatif”, sehingga muatan ion-ion dalam larutan netral.
Ion-ion inilah yang bertugas menghantarkan arus listrik.

PENELITIAN

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan antara lain:

1. Gelas kimia 100 mL (2 buah)


2. Bohlam 5 W (2 buah)
3. Baterai besar (1 buah)
4. Elektroda karbon (2 buah)
5. Kabel merah putih (1 buah)
6. Air sumur (50 mL)
7. Akuades (50 mL)
8. Air comberan (50 mL)
9. Air gula (C12H22O11) (50 mL)
10. Air garam (NaCl) (50 mL)
11. Air jeruk (50 mL)
12. Air cuka (50 mL)
13. Larutan HCl (50 mL)
14. Larutan NaOH (50 mL)
15. Tissue

Cara Kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


2. Susunlah alat penguji elektrolit seperti gambar di samping.
3. Masukkan 50 mL air sumur ke dalam gelas kimia dan ujilah daya hantarnya. Catatlah jika
lampu menyala atau timbul gelembung pada elektrode karbon.
4. Bersihkan elektrode karbon dengan akuades dan keringkan dengan tissue.
5. Ulangi cara kerja ke 3 dan 4 dengan larutan lain yang terse-dia

Hasil Pengamatan

TABEL HASIL PENGAMATAN


KEADAAN SIFAT
NO JENIS LARUTAN
LAMPU GELEMBUNG LARUTAN
1 Garam (NaCl) √ (Terang) √ Elektrolit
2 Gula (C12H22O11) - - Nonelektrolit
3 Air comberan - √ Elektrolit
4 Air sumur - √ Elektrolit
5 Air jeruk - √ Elektrolit
6 HCl √ (Terang) √ Elektrolit
7 NaOH √ (Terang) √ Elektrolit
8 Cuka - √ Elektrolit
9 Aquades - - Nonelektrolit
Pertanyaan dan Jawaban:

Pertanyaan:

1. Apakah yang menyebabkan bohlam menyala dan tidak menyala?


2. Mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik?
3. Apakan kesimpulan Anda dari percobaan di atas?

Jawaban:

1. Yang menyebabkan bohlam menyala dan tidak menyala karena adanya kemampuan
terionisasinya dalam larutan, sehingga, beberapa larutan yang memiliki kemampuan
terionisasi akan menimbulkan gelembung, bahkan bohlam dapat menyala.
2. Karena senyawa yang dilarutkan akan terionisasi sehingga menjadi ion positif (kation)
dan negatif (anion) yang bergerak bebas. Selanjutnya kation akan menuju elektroda
negatif (katoda) dan anion akan menuju elektroda positif (anoda) sehingga terjadi aliran
elektron yang menghantarkan listrik.
3. Dari percobaan diatas, dapat disimpulkan bahwa beberapa larutan yang telah diujikan
ternyata ada yang memiliki kemampuan menyalakan bohlam atau hanya gelembung dan
selanjutnya disebut larutan elektrolit. Sedangkan larutan yang tidak memiliki kemampuan
menyalakan bohlam atau gelembung dan selanjutnya disebut larutan non elektrolit.

PEMBAHASAN

Zat terlarut dan pelarut bercampur secara homogen membentuk larutan. Larutan elektrolit
memiliki sifat dapat menghantarkan arus listrik. Sifat hantar listrik dapat diuji menggunakan
seperangkat alat penguji elektrolit yang terdiri atas lampu, kabel, dan elektroda yang dicelupkan
dalam larutan yang diuji. Elektrolit kuat mampu menghantarkan arus listrik secara sempurna dan
bergelembung sehingga lampu menyala terang, sedangkan larutan elektrolit lemah hanya dapat
menyalakan lampu yang redup dan bergelembung. Larutan yang tidak mampu menghantarkan
arus listrik dinamakan larutan nonelektrolit.

Daya hantar listrik larutan dipengaruhi oleh ion-ion dari senyawa yang terbentuk jika dilarutkan
dalam air. Peristiwa tersebut dinamakan ionisasi. Larutan elektrolit kuat terjadi karena zat
terlarut mampu terionisasi sempurna dalam air, sedangkan larutan elektrolit lemah terjadi karena
zat terlarut hanya sedikit terionisasi. Derajat ionisasi digunakan untuk mengetahui kuat atau
lemahnya suatu larutan elektrolit. Larutan dari senyawa ionic merupakan elektrolit kuat. Larutan
dari senyawa kovalen polar termasuk elektrolit, tetapi larutan dari senyawa kovalen nonpolar
termasuk nonelektrolit.

Dari percobaan diatas, dapat dibahas, dari sembilan larutan diatas, hanya dua larutan saja yang
tidak berelektrolit seperti larutan gula dan larutan akuades. Itu dikarenakan tidak memiliki
kemampuan terionisasi. Sedangkan larutan-larutan lainnya memiliki kemampuan terionisasi
seperti larutan garam, larutan jeruk, larutan air comberan, larutan air sumur, larutan air cuka,
larutan HCl, larutan NaOH. Namun, dari beberapa larutan tersebut, diantaranya ada yang
mempunyai elektrolit yang kuat, yaitu larutan garam atau NaCl, larutan HCl, dan larutan NaOH.

Larutan dapat menghantarkan arus listrik itu dikarenakan bahwa senyawa yang dilarutkan akan
terionisasi sehingga menjadi ion positif (kation) dan negatif (anion) yang bergerak bebas.
Selanjutnya kation akan menuju elektroda negatif (katoda) dan anion akan menuju elektroda
positif (anoda) sehingga terjadi aliran elektron yang menghantarkan listrik.

Dari atas, saya dapat membedakan yang mana saja elektrolit mana yang kuat, elektrolit yang
lemah, dan yang tidak berelektrolit atau nonelektrolit.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, dari banyak sekian larutan yang diteliti dan diamati,
ternyata ada larutan-larutan yang memiliki elektrolit yang kuat, elektrolit yang lemah, dan
larutan yang tidak berelektrolit atau nonelektrolit. Fenomena terjadinya itu diakibatkan adanya
kemampuan berionisasi pada setiap larutan yang menyebabkan ada tidaknya suatu aktivitas
kelistrikan pada suatu larutan

DAFTAR PUSTAKA

Susilowati, Endang. 2009. Theory and Application of Chemistry for Grade X of Senior High
School and Islamic Senior High School. Solo: Bilingual/PT. Tiga Serang-kai Pustaka Mandiri.
Dalam ilmu kimia, stoikiometri (kadang disebut stoikiometri reaksi untuk membedakannya
dari stoikiometri komposisi) adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif
dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia). Kata ini berasal dari bahasa
Yunani stoikheion (elemen) dan metriā (ukuran).

Stoikiometri didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu hukum kekekalan massa, hukum
perbandingan tetap, dan hukum perbandingan berganda.Contoh:

000000000000000000000000000000000000000

Stoikiometri gas adalah suatu bentuk khusus, di mana reaktan dan produknya seluruhnya berupa
gas. Dalam kasus ini, koefisien zat (yang menyatakan perbandingan mol dalam stoikiometri
reaksi) juga sekaligus menyatakan perbandingan volume antara zat-zat yang terlibat.

Daftar isi

 1 Tahap Awal Stoikiometri


 2 Massa Atom Relatif
 3 Kuantitas Materi dan Mol
 4 Satuan massa atom (sma)
 5 Pranala luar

Tahap Awal Stoikiometri

Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi kimia, tidak
mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan, teknik dan alat percobaan
tidak menghasilkan hasil yang benar.

Salah satu contoh melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena
pembakaran dengan istilah “zat dapat terbakar”. Menurut para flogitonis, pembakaran adalah
pelepasan zat dapat terbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian disebut ”flogiston”.
Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebagai pelepasan flogiston dari zat
terbakar. Perubahan massa kayu bila terbakar cocok dengan baik dengan teori ini. Namun,
perubahan massa logam ketika dikalsinasi tidak cocok dengan teori ini. Walaupun demikian
flogistonis menerima bahwa kedua proses tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa
logam terkalsinasi adalah merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini
dengan menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif.
Filsuf dari Flanders Jan Baptista van Helmont (1579-1644) melakukan percobaan “willow” yang
terkenal. Ia menumbuhkan bibit willow setelah mengukur massa pot bunga dan tanahnya. Karena
tidak ada perubahan massa pot bunga dan tanah saat benihnya tumbuh, ia menganggap bahwa
massa yang didapatkan hanya karena air yang masuk ke bijih. Ia menyimpulkan bahwa “akar
semua materi adalah air”. Berdasarkan pandangan saat ini, hipotesis dan percobaannya jauh dari
sempurna, tetapi teorinya adalah contoh yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang sedang
tumbuh. Helmont mengenali pentingnya stoikiometri, dan jelas mendahului zamannya.

Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-1807) menemukan konsep
ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti reaksi
asam/basa, yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi netralisasi. Ekuivalen
Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi
dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam
dan sejumlah basa untuk mentralkannya. Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat
penting untuk menghasilkan sabun dan serbuk mesiu yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini
sangat penting secara praktis.

Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum kekekalan massa, dan memberikan dasar
konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang
menangani aspek kuantitatif reaksi kimia menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum
fundamental kimia, dari hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap sampai hukum
reaksi gas semua didasarkan stoikiometri. Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori
atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan teori atom. Namun, menarik untuk dicatat bahwa,
konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan.

Massa Atom Relatif

Dalton mengenali bahwa penting untuk menentukan massa setiap atom karena massanya
bervariasi untuk setiap jenis atom. Atom sangat kecil sehingga tidak mungkin menentukan massa
satu atom. Maka ia memfokuskan pada nilai relatif massa dan membuat tabel massa atom
(gambar 1.3) untuk pertamakalinya dalam sejarah manusia. Dalam tabelnya, massa unsur
teringan, hidrogen ditetapkannya satu sebagai standar (H = 1). Massa atom adalah nilai relatif,
artinya suatu rasio tanpa dimensi. Walaupun beberapa massa atomnya berbeda dengan nilai
modern, sebagian besar nilai-nilai yang diusulkannya dalam rentang kecocokan dengan nilai saat
ini. Hal ini menunjukkan bahwa ide dan percobaannya benar.

Kemudian kimiawan Swedia Jons Jacob Baron Berzelius (1779-1848) menentukan massa atom
dengan oksigen sebagai standar (O = 100). Karena Berzelius mendapatkan nilai ini berdasarkan
analisis oksida, ia mempunyai alasan yang jelas untuk memilih oksigen sebagai standar. Namun,
standar hidrogen jelas lebih unggul dalam hal kesederhanaannya. Kini, setelah banyak diskusi
dan modifikasi, standar karbon digunakan. Dalam metode ini, massa karbon 12C dengan 6
proton dan 6 neutron didefinisikan sebagai 12,0000. Massa atom dari suatu atom adalah massa
relatif pada standar ini. Walaupun karbon telah dinyatakan sebagai standar, sebenarnya cara ini
dapat dianggap sebagai standar hidrogen yang dimodifikasi.

Soal Latihan 1.1 Perubahan massa atom disebabkan perubahan standar. Hitung massa atom
hidrogen dan karbon menurut standar Berzelius (O = 100). Jawablah dengan menggunakan satu
tempat desimal.

Jawab.

Massa atom hidrogen = 1 x (100/16) = 6,25 (6,3), massa atom karbon = 12 x (100/16)=75,0

Massa atom hampir semua unsur sangat dekat dengan bilangan bulat, yakni kelipatan bulat
massa atom hidrogen. Hal ini merupakan kosekuensi alami fakta bahwa massa atom hidrogen
sama dengan massa proton, yang selanjutnya hampir sama dengan massa neutron, dan massa
elektron sangat kecil hingga dapat diabaikan. Namun, sebagian besar unsur yang ada secara
alami adalah campuran beberapa isotop, dan massa atom bergantung pada distribusi isotop.
Misalnya, massa atom hidrogen dan oksigen adalah 1,00704 dan 15,9994. Massa atom oksigen
sangat dekat dengan nilai 16 agak sedikit lebih kecil.

Contoh Soal 1.2 Perhitungan massa atom. Hitung massa atom magnesium dengan menggunakan
distribsui isotop berikut: 24Mg: 78,70%; 25Mg: 10,13%, 26Mg: 11,17%.

Jawab:

0,7870 x 24 + 0,1013 x 25 +0,1117 x 26 = 18,89+2,533+2,904 = 24,327(amu; lihat bab 1.3(e))

Massa atom Mg = 18,89 + 2,533 + 2,904 =24.327 (amu).

Perbedaan kecil dari massa atom yang ditemukan di tabel periodik (24.305) hasil dari perbedaan
cara dalam membulatkan angkanya.

hitunglah massa dari gas metana 1,23 liter diukur pada suhu 25c dan tekanan 1 atm

Kuantitas Materi dan Mol

Metode kuantitatif yang paling cocok untuk mengungkapkan jumlah materi adalah jumlah
partikel seperti atom, molekul yang menyusun materi yang sedang dibahas. Namun, untuk
menghitung partikel atom atau molekul yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat sangat sukar.
Alih-alih menghitung jumlah partikel secara langsung jumlah partikel, kita dapat menggunakan
massa sejumlah tertentu partikel. Kemudian, bagaimana sejumlah tertentu bilangan dipilih?
Untuk

menyingkat cerita, jumlah partikel dalam 22,4 L gas pada STP (0℃, 1atm) dipilih sebagai jumlah
standar. Bilangan ini disebut dengan bilangan Avogadro. Nama bilangan Loschmidt juga
diusulkan untuk menghormati kimiawan Austria Joseph Loschmidt (1821-1895) yang pertama
kali dengan percobaan (1865).

Sejak 1962, menurut SI (Systeme Internationale) diputuskan bahwam dalam dunia kimia, mol
digunakan sebagai satuan jumlah materi. Bilangan Avogadro didefinisikan jumlah atom karbon
dalam 12 g 126C dan dinamakan ulang konstanta Avogadro.

Ada beberapa definisi “mol”:

(i) Jumlah materi yang mengandung sejumlah partikel yang terkandung dalam 12 g 12C. (ii) satu
mol materi yang mengandung sejumlah konstanta Avogadro partikel.

(iii) Sejumlah materi yang mengandung 6,02 x 1023 partikel dalam satu mol.

Satuan massa atom (sma)

Karena standar massa atom dalam sistem Dalton adalah massa hidrogen, standar massa dalam SI
tepat 1/12 massa 12C. Nilai ini disebut dengan satuan massa atom (sma) dan sama dengan
1,6605402 x 10–27 kg dan D (Dalton) digunakan sebagai simbolnya. Massa atom didefinisikan
sebagai rasio rata-rata sma unsur dengan distribusi isotop alaminya dengan 1/12 sma 12C.