Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

ILMU KESEHATAN JIWA


SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

Disusun oleh :
Selvi Alfrida Keenandyta Pasha
(1102013266)

Pembimbing :
dr. Henny Riana, Sp.KJ
dr. Esther Sinsuw, Sp.KJ
dr. Hening Madonna, Sp.KJ
AKBP dr. karjana, Sp.KJ
dr. Witri Antariksa, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 6 AGUSTUS - 8 SEPTEMBER 2018
KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. N
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir : Lombok, 15 Oktober 1989
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SMP
Status Pernikahan : Menikah
Pekerjaan : TKW
Alamat : Jl. Kelapa Dua Wetan Rt004/08, Ciracas
Jakarta Timur.
Tanggal Masuk RS : 20 Juli 2018
Tanggal Pemeriksaan : 13 Agustus 2018
Ruang Perawatan : Bangsal Dahlia RS Bhayangkara Tk. I R.
Said Sukanto

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Autoanamnesis : Pada tanggal 13 Agustus 2018 di bangsal
Dahlia RS. Bhayangkara Tk. I R. Said
Sukanto

1
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke Rumah Sakit karena sering mengamuk, bingung dan
gelisah.
B. Keluhan Tambahan
Bicara melantur dan meracau.

C. Riwayat Gangguan Sekarang


Pada tanggal 20 Juli 2018 saat malam hari Ny. N diantar oleh
petugas BNP TKI datang ke IGD RS. Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
dengan keluhan sering mengamuk, bingung dan gelisah, bicara melantur
serta meracau.
Di Ruang perawatan Dahlia pasien masih tampak terlihat bingung
dan gelisah, bingung saat diajak bicara, serta bicara kacau. Pasien
merupakan seorang TKW (Tenaga kerja wanita) di Arab Saudi.
Pasien merupakan seorang TKW yang telah bekerja di Arab Saudi
selama 2,5 tahun sejak pertengahan tahun 2016. Pasien mengaku selama
disana sering mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikan
laki-lakinya. Semenjak itu pasien lebih gampang mengamuk, dan ketika
diwawancarai di bangsal Dahlia didapati adanya waham berupa, pasien
percaya bahwa dirinya telah meninggal dan telah dimakamkan di Arab
Saudi, lalu pasien juga meyakini bahwa anak perempuannya telah menikah
dengan Shahru Khan dan didapati juga adanya halusinasi visual berupa
pasien seperti melihat seorang bayi di dalam ruang perawatan Dahlia.

D. Riwayat Gangguan Dahulu


1. Gangguan Psikiatrik
Menurut alloanamnesis yang dilakukan kepada adik pasien, adik
pasien mengaku bahwa sebelumnya pada tahun 2013 pasien pernah
mengalami hal yang serupa dan dirawat di RS Bhayangkara Lombok.

2
Pada saat itu pasien dibawa ke Rumah Sakit karena sering mengamuk
dan bicara kacau di rumah, sepeninggal suami pertamanya.
2. Gangguan Medik
Tidak terdapat riwayat penyakit yang berarti terhadap gangguan
psikiatri pasien. Riwayat trauma kepala dan kejang disangkal.

3. Gangguan Zat Psikoaktif dan Alkohol


Pasien tidak memiliki riwayat konsumsi rokok alkohol dan zat
psikoaktif sebelumnya.

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1. Riwayat Perkembangan Kepribadian
a. Masa prenatal dan perinatal
Pasien lahir di Lombok pada tanggal 15 Oktober 1989, pasien lahir
normal di rumah, dan lahir dalam keadaan cukup bulan (9 bulan).
b. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orangtuanya. Selama masa ini, proses
perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan anak sebayanya.
c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien mulai bisa berjalan pada usia 2 tahun dan mulai bisa
berbicara lancar. Pasien masuk Sekolah Dasar SD pada usia 6 tahun,
dan tidak ada masalah yang berarti dalam proses belajarnya.
d. Masa kanak akhir dan remaja (12-18)
Pasien tumbuh dan kembang seperti anak lainnya. Pasien berteman
dengan laki-laki dan perempuan. Pasien mengaku tidak pernah
melakukan kegiatan anti sosial seperti berkelahi, mencuri dan
sebagainya. Pasien menyelesaikan sekolah sampai pada jenjang
SMP. 1 tahun setelah lulus pasien menikah dengan Suami
pertamanya.
e. Masa dewasa (>18 tahun)

3
pada masa dewasa muda pasien sudah berumah tangga dan telah
memiliki seorang anak perempuan. Pasien bekerja sebagai ibu
rumah tangga pada umumnya.

2. Riwayat Pendidikan
 SD : Pasien menyelesaikan pendidikan SD tanpa pernah
tinggal kelas
 SMP : Pasien menyelesaikan pendidikan SMP tanpa
pernah tinggal kelas
3. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita pada tahun 2016-2018.
4. Kehidupan Beragama
Pasien menganut agama Islam
5. Kehidupan Sosial dan Perkawinan
Pasien sudah pernah menikah sebanyak 2 kali, dan telah memiliki anak
sebanyak 2 orang yang berjenis kelamin perempuan.
6. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak
pernah terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hukum.
F. RIWAYAT KELUARGA
Pasien adalah anak pertama dari tiga bersaudara.. Ayah kandung
pasien sudah meninggal karena sakit. Pasien telah menikah dua kali, pada
pernikahan pertama pasien mempunyai satu anak perempuan, lalu pada
pernikahan kedua pasien juga memiliki satu anak perempuan, suami pada
pernikahan pertama telah meninggal. Adik perempuan yang pertama telah
menikah dan memiliki dua orang anak, sedangkan adik laki-laki kedua
belum menikah.
Pasien hidup bersama suaminya yang kedua, pasien hidup dengan
rukun. Dari alloanamnesis, tidak terdapat keluarga yang mengalami
gangguan jiwa.

4
: Pasien perempuan : laki-laki

: laki-laki meninggal : perempuan

G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien tidak mengerti mengenai penyakitnya.
H. Impian, Fantasi, dan Cita-Cita Pasien
Pasien hanya ingin pulang ke rumahnya yang berada di Lombok untuk
kembali berkempul bersama keluarganya.
III. STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien perempuan berumur 29 tahun dengan penampakan fisik sesuai
dengan usianya. Kulit berwarna kuning langsat dan berambut pendek dan
lurus. Pada saat wawancara, pasien terlihat perawatan diri masih baik serta
berpakaian rapi.
2. Kesadaran

5
Kesadaran : Composmentis
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
a. Sebelum wawancara : Pasien tampak tenang, terlihat sedang
berkumpul bersama pasien yang lainnya diruangan.
b. Selama wawancara : Pasien tampak tenang tetapi terlihat bingung
dan bicara kacau saat ditanya namun masih dapat menjawab pertanyaan
secara spontan dan jawaban yang diberikan sesuai dengan pertanyaan
walaupun jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan realita.
c. Sesudah wawancara : Pasien tampak tenang dan kembali kedalam
ruangan.
4. Sikap terhadap pemeriksa
Selama wawancara pasien menunjukkan sikap kooperatif dalam menjawab
pertanyaan pemeriksa dan terlihat cukup nyaman.
5. Pembicaraan
Pasien dapat berbicara menceritakan kehidupan pasien secara spontan,
lancar dan artikulasi jelas.
B. MOOD DAN AFEK
Mood : Hipertimia (saat pemeriksaan)
Afek : sempit (saat pemeriksaan)
C. GANGGUAN PERSEPSI
o Halusinasi : terdapat halusinasi visual karena pasien pernah
mengaku melihat bayi.
o Ilusi : Tidak ada
o Depersonalisasi : Tidak ada
o Derealisasi : Tidak ada
D. SENSORIUM DAN KOGNITIF (FUNGSI INTELEKTUAL)
1. Taraf pendidikan : SMP
2. Pengetahuan umum : Baik
3. Kecerdasan : Cukup baik
4. Konsentrasi : Cukup baik
5. Orientasi :

6
 Waktu : Baik (pasien dapat menyebutkan pemeriksaan pada
pagi hari)
 Tempat : Pasien tidak mengetahui dirinya sedang berada di
RS POLRI.
 Orang : Baik (pasien mengenal dirinya dan orang
sekitarnya)
6. Daya ingat :
 Jangka panjang : Baik (Pasien dapat mengingat tanggal lahir)
 Jangka pendek : Baik (Pasien dapat menyebut menu makan
pagi pasien)
 Segera : Baik (Pasien dapat menyebutkan 3 hal yang
disebutkan oleh pemeriksa).
7. Pikiran abstraktif
Baik (Pasien dapat membedakan buah apel dan pir)
8. Visuospasial
Baik (Pasien dapat menggambarkan bentuk yang diminta oleh
pemeriksa)
9. Kemampuan menolong diri
Baik (Pasien tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk makan,
mandi dan berganti pakaian)
E. PROSES PIKIR
Arus pikir
Kontinuitas : Asosiasi Longgar
Hendaya bahasa : Tidak ada
Isi pikir
o Preokupasi : Tidak ada
o Miskin isi pikir : Tidak
o Waham : Dari autoanamnesis, terdapat waham .
• Waham bizzare (Pasien mengaku bahwa dirinya telah meninggal
dunia dan telah dimakamkan di Arab Saudi).

7
• Waham bizzare (pasien percaya anak perempuannya telah menikah
dengan Shahrukhan)
o Obsesi : Tidak ada
o Kompulsi : Tidak ada
o Fobia : Tidak ada
F. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, selama wawancara pasien dapat bersikap tenang dan tidak
menunjukkan gejala yang agresif.

B. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial : Baik (Pasien dapat membedakan perbuatan baik dan
buruk)
2. Uji daya nilai : Baik (Bila berjalan menuju suatu tempat ia memilih
rute paling cepat)
3. RTA : Terganggu

H. TILIKAN
Derajat 1 (Pasien menyangkal sepenuhnya terhadap penyakitnya).

I. RELIABILITAS (TARIF DAPAT DIPERCAYA)


Pemeriksa memperoleh kesan bahwa keseluruhan jawaban pasien kurang
dapat dipercaya.
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Internus
a) Keadaaan Umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 100/70 mmHg
RR : 21 x/menit
HR : 88 x/menit
Suhu : 36,2 ˚C
d) Sistem Kardiovaskular : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

8
e) Sistem Respiratorius : Vesikuler +/+, Rhonki-/-, Wheezing-/-
f) Sistem Gastrointestinal : Tidak diperiksa
g) Ekstremitas : Edema (-), sianosis (-), akral hangat.
h) Sistem Urogenital : Tidak diperiksa

B. Status Neurologik
Tidak dilakukan pemeriksaan neurologis
C. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. Pasien mulai mengalami perubahan perilaku berupa sering mengamuk, bicara
kacau, setelah sering diperlakukan tidak baik oleh majikannya.
2. Pasien mengaku bahwa dirinya telah meninggal dunia di Arab Saudi dan telah
di makamkan di sana.
3. Pasien percaya bahwa anak perempuannya telah menikah dengan
Shahrukhan.
4. Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien pernah di rawat di Rumah
Sakit di Lombok pada tahun 2013 dengan keluhan sering mengamuk, setelah
suami pertamannya meninggal dunia.
5. Kontinuitas dari arus pikir Asosiasi Longgar.
6. RTA terganggu.
7. Tilikan pasien derajat 1 (Pasien menyangkal sepenuhnya terhadap
penyakitnya) sehingga pasien tidak patuh minum obat.

FORMULA DIAGNOSTIK
1. Setelah wawancara, pasien ditemukan adanya sindroma atau perilaku dan
psikologi yang bermakna secara klinis dan menimbulkan penderitaan (distress) dan
ketidakmampuan/ hendaya (disability/impairment) dalam fungsi serta aktivitasnya
sehari-hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan
jiwa yang sesuai dengan definisi yang tercantum dalam PPDGJ III.

9
2. Pasien ini tidak termasuk gangguan mental organik karena pasien pada saat di
periksa dalam keadaan sadar, tidak ada kelainan secara medis atau fisik yang
bermakna. (F0)
3. Pasien ini tidak termasuk dalam gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat psikotropika karena pasien tidak mengkonsumsi alkohol dan zat
psikotropika. (F1)
4. Pasien ini termasuk gangguan skizoafektif tipe manik karena didapatkan adanya
halusinasi visual dan waham bizzare yang menonjol. (F25.0)
5. Pasien ini mengalami riwayat gangguan depresif (F32).
Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan dengan penemuan bermakna dengan
urutan untuk evaluasi multiaksial, seperti berikut:
 Aksis I : Gangguan Klinis dan Gangguan Lain yang Menjadi Fokus
Perhatian Klinis
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah memiliki riwayat
trauma kepala maupun kejang. Pasien juga tidak pernah menggunakan zat
psikoaktif. Sehingga gangguan mental dan perilaku akibat gangguan mental
organik dan penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami gejala Skizofrenia
dengan halusinasi auditorik, visual dan terdapat waham paranoid yang menonjol.
Dari hal tersebut, kriteria diagnostik menurut PPDGJ III pada ikhtisar penemuan
bermakna pasien digolongkan dalam F25.0 Skizoafektif tipe manik.
 Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental
Z 03.2 Tidak ada diagnosis aksis II
 Aksis III : Kondisi Medis Umum
Tidak ada diagnosis aksis III
 Aksis IV : Problem Psikososial dan Lingkungan
Masalah pekerjaan diduga menjadi pencetus gangguan yang terjadi pada
pasien.
 Aksis V : Penilaian Fungsi Secara Global
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assement of
Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan GAF 70-61, beberapa gejala

10
ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik (pada
saat pemeriksaan).

Evaluasi multiaksial
Aksis I : F25.0 Skizofrenia Paranoid.
Aksis II : Z 03.2 Tidak ada diagnosis aksis II
Aksis III : Tidak ada diagnosis aksis III
Aksis IV : Tidak ditemukan masalah dengan primary support group
(dukungan keluarga) maupun lingkungan pasien.
Aksis V : GAF 70-61 (gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan)
DIAGNOSIS
- Diagnosis kerja: F25.0 Skizoafektif tipe manik.
- Diagnosis banding: F20.0 Skizofrenia Paranoid

PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam
RENCANA TERAPI
 Psikofarmaka (medikamentosa)
- Olanzapine 1x10 mg/hari atau Aripiprazole 1x10 mg/hari . Dikarenakan APG-
2 emiliki efek samping ekstrapiramidal yang lebih minimal dibanding APG-1.
- Injeksi Iodomer (haloperidol) 5 mg IM hanya diberikan saat gejala akut berupa
sindrom psikosis (agitasi psikomotor, gelisah, agresif dll).
 Psikoedukasi
a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dialami pasien.
b. Mengingatkan pasien perlu minum obat sesuai aturan dan datang kontrol ke
poli kejiwaan.
c. Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa dukungan keluarga akan
membantu keadaan pasien.
 Psikoterapi Suportif

11
a. Ventilasi : Pasien diberikan kesempatan untuk menceritakan masalahnya.
b. Sugesti : Menanamkan kepada pasien bahwa gejala-gejala gangguannya
akan hilang atau dapat dikendalikan.
c. Reassurance : Memberitahukan kepada pasien bahwa minum obat sangat
penting untuk menghilangkan gejala.

12
PEMBAHASAN
Skizoafektif tipe Manik

2.1 Definisi
Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun
gangguan afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang
jelas dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang
menonjol. Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.1
Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang
persisten, seperti halusinasi atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah
suasana (mood disorder) seperti depresi, manik, atau episode campuran.3

2.2 Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1
persen, kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka tersebut
adalah angka perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan
skizoafektif sering kali digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Prevalensi
gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita;
khususnya wanita yang menikah; usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut
daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. Laki-laki dengan
gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki
pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata.2
Statistik umum gangguan ini yaitu kira-kira 0,2% di Amerika Serikat dari
populasi umum dan sampai sebanyak 9% orang dirawat di rumah sakit karena
gangguan ini. Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada
gangguan bipolar. Prevalensi pada pria lebih rendah daripada wanita. Onset umur
pada wanita lebih besar daripada pria, pada usia tua gangguan skizoafektif tipe

13
depresif lebih sering sedangkan untuk usia muda lebih sering gangguan skizoafektif
tipe bipolar. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan
perilaku antisosial.3

2.3 Etiologi
Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu
banyak dari waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan
skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori
etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan
lingkungan.
Beberapa data menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif mungkin berhubungan secara genetik. Ada peningkatan resiko terjadinya
gangguan skizofrenia diantara keluarga dengan gangguan skizoafektif.4
Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model
konseptual telah diajukan.
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood.
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari
skizofrenia dan gangguan mood.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang
berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan
mood.
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama.
Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif
sebagai suatu kelompok heterogen.

2.4 Tanda dan Gejala


Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit
yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila

14
gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan
disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe
depresif, gejala depresif yang menonjol.2
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi,
perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala
gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.2
Suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan manik yang
sama-sama menonjol dalam satu episode penyakit yang sama. Gejala-gejala afektif
diantaranya yaitu elasi dan ideide kebesaran, tetapi kadang-kadang kegelisahan atau
iritabilitas disertai oleh perilaku agresif serta ide-ide kejaran. Terdapat peningkatan
enersi, aktivitas yang berlebihan, konsentrasi yang terganggu, dan hilangnya
hambatan norma sosial. Waham kebesaran, waham kejaran mungkin ada. Gejala
skizofrenia juga harus ada, antara lain merasa pikirannya disiarkan atau diganggu,
ada kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha mengendalikannya, mendengar
suara-suara yang beraneka beragam atau menyatakan ide-ide yang bizarre. Onset
biasanya akut, perilaku sangat terganggu, namun penyembuhan secara sempurna
dalam beberapa minggu.4
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan
jiwa (PPDGJ-III):5 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing
dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan “thought
broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau “delusion of passivitiy” = waham tentang
dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke

15
pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus). “delusional perception” =
pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein
di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis
suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain).
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-
valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu
minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme.
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal

16
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan
diri secara sosial.

2.5 Diagnosis
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif
adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang
bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama.
Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif
berulang, baik yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya.6
Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik
skizofrenia maupun gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik
untuk gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam
kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain.
Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah
bahwa pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau
episode manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk
fase aktif dari skizofrenia. Disamping itu, pasien harus memiliki waham atau
halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood
yang menonjol. Gejala gangguan mood juga harus ditemukan untuk sebagian besar
periode psikotik aktif dan residual. Pada intinya, kriteria dituliskan untuk
membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)


Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif
A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.

17
Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran
dengan
gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.
B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama
sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian
bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manik
suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Ed. 4.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien


menderita gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe
depresif. Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang
ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat.
Selain itu, pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif.7
Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah
karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-
kondisi lain dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau
membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-
gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan
waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam F20-
F29. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada
gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis gangguan
skizoafektif.

18
Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-
III
 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif
adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama
menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa
hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan
bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi
kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan
gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-
skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang,
baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari
keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau
depresif (F30-F33)

Gangguan skizoafektif yaitu gejala skizofrenia dan gangguan afektif sama-


sama menonjol atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, tetapi dalam satu
episode penyakit (tidak memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia maupun gangguan
afektif). Pedoman diagnosis gangguan skizoafektif tipe manic berdasarkan PPDGJ-
III yaitu 1). Kategori ini digunakan baik untuk episode skizofrenia tipe manik yang
tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode
skizoafektif tipe manik. 2). Afek harus meningkat secara menonjol atau ada
peningkatan afek yang tidak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau
kegelisahan yang memuncak. 3). Dalam episode yang sama harus jelas ada
sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizorenia yang khas. Pemeriksaan
status psikiatri pada pasien ditemukan didapatkan penampilan wajar, roman muka

19
tampak gembira, kontak verbal dan visual cukup, mood euforia, afek inappropriate,
bentuk pikir logis realis, arus pikir koheren, isi piker waham kebesaran dan curiga
ada , pada dorongan instingtual didapatkan ada
riwayat insomnia dan raptus. Dari gejala di atas, pasien memenuhi kriteria
skizoprenia yaitu adanya waham kebesaran dan curiga, afek yang inappropiate
sehingga dapat digolongkan skizoprenia. Disamping itu, juga tampak adanya gejala
gangguan mood yaitu muka tampak gembira, mood euforia, berpakaian yang aneh
sehingga berdasarkan PPDGJ-III tampak adanya gejala skizofrenia bersamaan
dengan gangguan mood sehingga didiagnosis sebagai “Skizoafektif Tipe Manik”
(F25.0).5

2.6 Diagnosis Banding


Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan
gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan
skizoafektif. Pasien yang diobati dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan
phencyclidine (PCP), dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara
khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang
bersama-sama. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan
yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Di dalam
praktik klinis, psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala
gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. Dengan demikian, klinisi boleh
menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah
terkendali.1

2.7 Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai
prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis
pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan
skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan
gangguan depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan
gangguan bipolar, dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan

20
skizofrenia. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang
mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan
yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan, dan juga perjalanan gangguan itu sendiri.
2

Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe bipolar,


mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan
bipolar I dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang perlahan-
lahan; tidak ada faktor pencetus; menonjolnya gejala pskotik, khususnya gejala
defisit atau gejala negatif; onset yang awal; perjalanan yang tidak mengalami
remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. Lawan dari masing-masing
karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. Adanya atau tidak
adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan
perjalanan penyakit.
Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan
jenis kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa data menyatakan
bahwa perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan
skizoafektif daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh diri di
antara pasien dengan gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen.

2.8 Terapi
a. Psikofarmaka
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan
di rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang mendasari
farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan
dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik
digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. Jika protokol
thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan,
medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. Pasien dengan gangguan skizoafektif,
tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan lithium, carbamazepine (Tegretol),
valproate (Depakene), atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja
tidak efektif. Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan

21
percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka
diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan.7
Farmakoterapi untuk mengatasi gejala skizoafektif tipe manik yaitu
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Pada kasus ini, pasien diberikan
carbamazepin dan stelazine. Carbamazepine adalah obat antikejang yang digunakan
sebagai stabilizer mood. Cara kerja mood stabilezer yaitu membantu menstabilkan
kimia otak tertentu yang disebut neurotransmitters yang mengendalikan
temperamen emosional dan perilaku dan menyeimbangkan kimia otak tersebut
sehingga dapat mengurangi gejala gangguan kepribadian borderline. Efek samping
carbamazepine dapat menyebabkan mulut kering dan tenggorokan, sembelit,
kegoyangan, mengantuk, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah.
Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan inhibitor monoamine oxidase
( MAOIs ). Hindari minum alkohol saat mengambil carbamazepine. Hal ini dapat
meningkatkan beberapa efek samping carbamazepine yaitu dapat meningkatkan
risiko untuk kejang.8
Stelazine memiliki efek antiadrenergik sentral, antidopaminergik, dan efek
antikolinergik minimal. Hal ini diyakini stelazine dapat bekerja dengan
memblokade reseptor dopamin D1 dan D2 di jalur mesokortical dan mesolimbik,
menghilangkan atau meminimalkan gejala skizofrenia seperti halusinasi, delusi,
dan berpikir dan berbicara yang tidak terarah. Stelazine menimbulkan efek samping
ekstrapiramidal seperti akatisia, distonia, dan parkinsonisme selain itu dapat
menimbulkan efek samping antikolinergik seperti merah mata dan xerostomia
(mulut kering). Stelazine dapat menurunkan ambang kejang sehingga harus berhati-
hati penggunaan stelazine pada orang yang mempunyai riwayat kejang.8
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon terbaik untuk
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan
skizoafektif dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood
stabilizer cenderung bekerja dengan baik.3
b. Psikoterapi

22
Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan.
Menurut penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk kesembuhan
pasien, tetapi juga harus diiringi oleh lingkungan keluarga yang mendukung dan
sikap pasien terhadap penyakit yang diderita.
Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-
edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa
menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.3

23
KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala


skizofrenia dan gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol.
Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan
para wanita; khususnya wanita yang menikah; usia onset untuk wanita adalah lebih
lanjut daripada usia, untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. Teori etiologi
mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan lingkungan. Tanda
dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala
skizofrenia, episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis gangguan
skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan
gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam
beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama. Sebagian diantara
pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang
tipe manik, depresif atau campuran keduanya. Untuk orang gangguan skizoafektif
dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer
cenderung bekerja dengan baik. Karena pengobatan yang konsisten penting untuk
hasil terbaik, psiko-edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat
long acting bisa menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan
skizoafektif. Semakin menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka
pronosisnya buruk, dan sebaliknya semakin persisten gejala-gejala gangguan
afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis, W.S. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga


University Presss.
2. Kaplan, H.I, Sadock, B.J, Grebb J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh.
Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher.
3. Melissa Conrad Stöppler. 2013. Schizoaffective disorder.
http://www.medicinenet.com. Diakses: 10 Oktober 2015
4. Jibson MD. 2011. Schizophrenia: Clinical presentation, epidemiology, and
pathophysiology. http://www.uptodate.com. Diakses: 10 Oktober 2015
5. Rusdi Maslim. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
6. Ken Duckworth, M.D., and Jacob L. Freedman, M.D. 2012. Schizoaffective disorder.
diakses: 10 Oktober 2023
7. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental
disorders (DSM IV TM). American Psychological Association (APA): Washington
DC. 1996.
8. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri

25
26