Anda di halaman 1dari 32

IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN

TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

CHAPTER REPORT

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


Pengembangan dan Implementasi Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
(KJ603)
Dosen : Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M.Pd.

oleh
Awindha Eko Lusiana
NIM 1502834

PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan limpahan rahmat dan hidayah berupa kesehatan dan kemudahan
sehingga Penulis dapat menyelesaikan Chapter Report yang berjudul
“Implementasi Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan”. Tugas ini dibuat
sebagai salah satu tugas dari mata kuliah: Pengembangan dan Implementasi
Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (KJ603) pada program studi
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan di Sekolah Pascasarjana UPI.
Penulis menyadari bahwa chapter report ini masih jauh dari kesempurnaan
baik dari segi penyuntingan tata bahasa ataupun isi. Hal tersebut dikarenakan
keterbatasan Penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat Penulis
harapkan dalam upaya meningkatkan kualitas dan pemahaman untuk tugas-tugas
selanjutnya.
Pada kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
khususnya kepada Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M.Pd. sebagai dosen pengampu
yang telah membimbing serta memotivasi sehingga chapter report ini terwujud.
Akhir kata, Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat khusus bagi Penulis
maupun bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Aamiin.

Bandung, Maret 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................. i


Daftar Isi....................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ........................................................................................ 1
Bab II Implementasi Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan ........... 3
A.Identifikasi dan Pemilihan Pokok-pokok Materi ........................................ 3
B.Pengembangan Pokok-pokok Materi ......................................................... 6
C.Pendidikan Berbasis Kompetensi............................................................... 10
D.Evaluasi Kurikulum .................................................................................. 14
Bab III Implementasi Kurikulum Kompetensi Keahlian Teknik Gambar Bangunan
di SMK Negeri 4 Tangerang ......................................................................... 15
A. Identifikasi dan Pemilihan Pokok-pokok Materi Mata Diklat Menggambar
dengan Auto CAD ........................................................................................ 15
B.Pengembangan KTSP 2004 ....................................................................... 17
C.Kompetensi Dasar Teknik Gambar Bangunan ........................................... 22
D.Evaluasi Kurikulum .................................................................................. 25
Bab IV Kesimpulan dan Saran ...................................................................... 27
A.Kesimpulan ............................................................................................... 27
B.Saran ......................................................................................................... 27
Daftar Pustaka .............................................................................................. 29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Penulisan chapter report ini merupakan tugas mata kuliah Pengembangan dan
Implementasi Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan pada Program Studi
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan SPs UPI. Mata kuliah ini diampu oleh Prof.
Dr. H. As’ari Djohar, M.Pd.
Penulis mendapat kesempatan untuk membuat chapter report dari Section 4.
Bagian keempat terdiri dari empat chapter yaitu Chapter 9-12, masing-masing
chapter mempunyai judul Identifying and Selecting Curriculum Materials,
Developing Curriculum Materials, Competenscy-based Education dan Evaluating
the Curriculum. Bagian keempat dari buku yang berjudul Curriculum
Development in Vocational and Technical Education: Planning, Content and
Implementation ditulis oleh Curtis R. Finch dan John R. Crunkilton. Buku ini
diterbitkan oleh Allyn an Bacon, Inc. Buku ini mempunyai 338 halaman.
Bab empat mempunyai fokus pembahasan sebagai berikut:
1. Identifikasi dan pemilihan pokok-pokok materi;
2. Pengembangan pokok-pokok materi;
3. Kompetensi dasar Pendidikan Teknologi dan Kejuruan;
4. Evaluasi kurikulum
Implementasi kurikulum merupakan tanggung jawab sekolah, yaitu kepala
sekolah, guru dan masyarakat. Guru sebagai ujung tombak di lapangan harus
mempersiapkan aktivitas pembelajaran yang didukung oleh pimpinan dengan
segala fasilitas dan kondisi yang diperlukan agar pembelajaran dapat berjalan
secara efektif dan efisien. Kreativitas guru yang didukung oleh pimpinan serta
sarana dan prasarana yang diperlukan akan membuat pembelajaran yang mencapai
tujuan yang diharapkan. Dalam implementasi kurikulum sangat diharapkan para
peserta didik akan mendapat pengalaman belajar yang optimal sehingga para
peserta didik pada sekolah teknologi dan kejuruan akan dapat mempunyai bekal
dan pengalaman untuk terjun di DU/DI. Setelah lulus peserta didik tidak lagi

1
canggung untuk bekerja karena peserta didik diharapkan telah mempunyai
gambaran yang lengkap bagaimana situasi dan kondisi di lapangan kerja.
Pembelajaran vokasional bagi peserta didik perlu ditanamkan apa makna
dibalik belajar keterampilan tersebut. Peserta didik harus dapat menghayati lebih
jauh tentang manfaat yang dapat diambil dan dirasakan setelah peserta didik lulus
kelak. Bagi peserta didik yang belajar vokasional di sekolah umum pun perlu
ditanamkan oleh guru tentang makna dan kemanfatannya, paling tidak bahwa
dengan belajar vokasional dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga,
misalnya yang belajar elektro dapat memperbaiki seterika yang rusak atau alat-
alat listrik yang lainnya, atau yang belajar pembuatan busana akan dapat membuat
busana sendiri atau paling tidak memilih busana yang serasi bagi dirinya.

2
BAB II
IMPLEMENTASI KURIKULUM
PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

A. Identifikasi dan Pemilihan Pokok-Pokok Materi


1. Pendahuluan
Kurikulum merupakan salah satu faktor yang digunakan dalam pendidikan
agar kegiatan belajar mengajar berjalan efektif. Di dalam kurikulum terdapat
materi kurikulum atau yang sering disebut dengan bahan ajar. Materi
kurikulum merupakan peran kunci dalam membentuk, menerapkan dan
mengevaluasi kurikulum pendidikan kejuruan.
2. Materi Kurikulum
a. Definisi Materi Kurikulum
Materi kurikulum jika diterapkan dengan benar akan membantu guru
dalam merubah perilaku peserta didik kea rah yang lebih baik. Kesuksesan
belajar peserta didik tidak hanya ditentukan oleh guru tetapi bahan ajar itu
sendiri.
b. Jenis Materi Kurikulum
Secara umum, materi kurikulum dibagi menjadi tiga kategori.
Penggunaan ketiga kategori materi kurikulum dapat dipisahkan satu sama
lain atau dikombinasi. Penggunaannya tergantung dari situasi dan kondisi
kegiatan belajar mengajar. Ketiga kategori materi kurikulum ini
diantaranya materi yang dicetak, audiovisual dan manipulasi.
3. Hal-hal yang dibutuhkan dalam Materi Kurikulum
Dalam merencanakan kurikulum guru harus memanfaatkan semua potensi
dengan bijaksana. Guru harus inovatif dalam melengkapi materi kurikulum
agar dalam mengajar guru dapat profesional. Ini tidak dapat diartikan bahwa
bahan ajar merupakan satu-satunya faktor yang dapat membuat proses belajar
mengajar efektif. Intinya adalah bahwa materi kurikulum dapat membuat
kegiatan belajar mengajar lebih efektif untuk guru dan untuk pelajar.

3
4. Memilih Materi Kurikulum
Faktor yang harus diperhatikan pengembang kurikulum dalam memilih
materi kurikulum adalah:
a. Deskripsi Umum Materi
Langkah pertama dalam memilih materi adalah mendapatkan
pemahaman secara keseluruhan tentang bahan ajar. Bagian I dalam Format
Penilaian Bahan Ajar terdiri dari panduan untuk proses memilih materi.
Bagian I memungkinkan pengembang kurikulum untuk mengembangkan
pemahaman secara keseluruhan seperti judul, nama penulis, nama
penerbit, tahun terbit, tempat penerbit dan biaya yang dibutuhkan.
b. Tingkat Bahan Bacaan
Bagian II dalam Format Penilaian Bahan Ajar adalah menentukan
tingkat bahan bacaan. Sebagai contoh, jika bahan ajar untuk kelas 12
diberikan kepada kelas 11, peserta didik kelas 11 akan kesulitan dalam
memahami bacaan tersebut sehingga materi yang akan disampaikan sulit
dipahami.
c. Bias
Foto-foto dan kalimat yang terdapat dalam materi yang mengandung
bias dapat mempengaruhi sikap peserta didik. Pengembang kurikulum
harus memperhatikan apakah di dalam materi terdapat foto dan kalimat
yang mengandung bias. Bagian III dalam Format Penilaian Bahan Ajar
merupakan analisis foto dan kalimat agar tidak mengandung bias.
d. Ketepatan
Bagian IV dalam Format Penilaian Bahan Ajar merupakan evaluasi
ketepatan materi kurikulum. Ada tiga pertimbangan yang harus dinilai
dalam format ini yaitu: ketepatan, kekinian dan apakah materi jelas dan
lengkap. Setiap pertimbangan dinilai dari nilai terendah yaitu satu sampai
nilai tertinggi yaitu lima.
e. Kelayakan
Bagian V dalam Format Penilaian Bahan Ajar merupakan evaluasi
kelayakan. Yang menjadi perhatian adalah relevansi materi yang telah

4
dikembangka. Setiap indikator kelayakan dinilai dari nilai terendah yaitu
satu sampai nilai tertinggi yaitu lima.
f. Kelancaran Verbal dan Visual
Bagian VI dalam Format Penilaian Bahan Ajar merupakan evaluasi
kelancaran verbal dan visual. Yang menjadi perhatian adalah materi yang
telah dikembangkan apakah sederhana dan menarik. Setiap indikator
kelayakan dinilai dari nilai terendah yaitu satu sampai nilai tertinggi yaitu
lima.
g. Kegunaan dan Fleksibilitas
Bagian VII dalam Format Penilaian Bahan Ajar adalah kegunaan dan
fleksibilitas. Ada tiga pertimbangan yang harus dinilai dalam format ini
yaitu: menggunakan bahan belajar dari berbagai kebutuhan, menggunakan
bahan belajar dari berbagai lingkungan belajar dan hubungan biaya untuk
tingkat kegunaan. Setiap pertimbangan dinilai dari nilai terendah yaitu satu
sampai nilai tertinggi yaitu lima
5. Materi Kurikulum Untuk Peserta Berkebutuhan Khusus
Proses dalam mengidentifikasi dan memilih materi kurikulum untuk
peserta didik berkebutuhan khusus tidak berbeda. Materi kurikulum untuk
peserta didik berkebutuhan khusus dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan
dan dilengkapi dengan karakter belajar peserta didik yang unik. Guru kejuruan
harus menilai setiap potensi kejuruan dan pada peserta didik dipilihkan materi
kurikulum yang sesuai dengan karakternya yang unik.
6. Sumber Materi Kurikulum
Sumber-sumber yang dapat digunakan untuk bahan ajar adalah penerbit
komersil, jurnal, majalah, pusat kurikulum, kantor percetakan pemerintah,
pelayanan militer, perusahaan dan lainnya (katalog, grafik, hewan, tumbuhan.
7. Rencana Untuk Materi Kurikulum
a. Perencanaan Jangka Pendek
Perencanaan jangka pendek untuk materi kurikulum yaitu menentukan
bahan ajar mana yang penting yang dapat digunakan kembali untuk tahun
depan. Sebagai contoh alat bantu berupa video dapat digunakan untuk

5
tahun depan sedangkan modul dan buku latihan tidak dapat digunakan
kembali.
b. Perencanaan Jangka Panjang
Bahan yang membutuhkan biaya yang tinggi atau peralatan khusus
termasuk dalam perencanaan jangka panjang.

B. Pengembangan Pokok-Pokok Materi


1. Pendahuluan
Materi kurikulum kejuruan yang telah tersedia saat ini dihadapkan dengan
materi baru sehingga kurikulum perlu dikembangkan. Kebutuhan ini semakin
jelas jika materi yang diperlukan untuk situasi saat ini tidak tersedia di materi
sebelumnya. Chapter 10 membahas tentang faktor-faktor yang berpengaruh
langsung terhadap pengembangan materi kurikulum (bahan ajar). Selama
proses pengembangan materi kurikulum harus memperhatikan beberapa faktor
seperti waktu, biaya dan alternatif pengembangan.
2. Menentukan Kebutuhan Materi Kurikulum
Kebutuhan kurikulum harus ditentukan dalam kaitannya dengan konten.
Setelah konten ditetapkan rencana harus dibuat untuk mengamankan materi
kurikulum yang sesuai dengan tujuan instruksional.
3. Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengembangan Materi
Kurikulum
Untuk mengembangkan materi kurikulum yang berkualitas tergantung
pada beberapa faktor. Faktor-faktor ini mempunyai dampak yang besar untuk
menentukan kualitas materi kurikulum.
a. Waktu yang Dibutuhkan dan Waktu yang Tersedia
Salah satu faktor yang paling penting untuk mengembangkan materi
kurikulum adalah waktu yang tersedia dengan waktu yang dibutuhkan.
Mengembangkan materi kurikulum yang berkualitas akan membutuhkan
waktu yang cukup lama. Ketika waktu yang tersedia sedikit yang harus
diperhatikan tidak hanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan

6
materi kurikulum tetapi juga harus dipikirkan waktu untuk uji coba, revisi,
mencetak dan menyelesaikan secara keseluruhan.
b. Keahlian yang Tersedia
Apabila dalam tim pengembang materi kurikulum tidak terdapat
orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam
mengembangkan materi kurikulum, maka harus mencari bantuan dari luar.
Ahli yang diperlukan dalam mengembangkan kurikulum seperti teknik
informatika, editing, media dan penerbit.
c. Biaya yang Tersedia
Jika jumlah uang yang tersedia cukup kualitas dalam pengembangan
materi kurikulum akan mendapat dampak yang baik.
d. Membuat Keputusan Mengenai Pengembangan Kurikulum
Sebagai pendidik, untuk memulai mengembangkan kurikulum, ada
beberapa keputusan penting yang harus dibuat, yaitu:
 Materi apa yang sebaiknya dikembangkan? Mengapa?
 Siapa yang sebaiknya mengembangkan materi?
 Kapan sebaiknya materi dikembangkan?
 Di mana sebaiknya materi dikembangkan?
e. Target Populasi
Target populasi merupakan pengguna materi kurikulum yang sedang
dikembangkan. Ada dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan target populasi pada proses pengembangan, yaitu:
 Tingkat kelas, siapa yang akan menggunakan materi kurikulum. Selain
itu, menentukan tingkat kelas juga membantu ahli teknik informatika
dalam membuat cover materi kurikulum;
 Menentukan apakah materi kurikulum untuk tingkat lokal, regional
atau nasional.
f. Peyebaran
Penyebaran merupakan proses distribusi produk materi kurikulum
kepada pihak yang membutuhkan. Sebuah skema rencana penyebaran
dapat membantu memastikan materi kurikulum digunakan.

7
g. Dukungan yang Diperlukan
Contoh dukungan tambahan untuk membantu upaya persiapan adalah
fasilitas fisik. Contoh dukungan tambahan adalah proyektor, layar, mesin
thermofax dan peralatan lainnya.
Selain itu, dukungan moral juga dibutuhkan dalam proyek ini untuk
mengembangkan materi kurikulum pendidikan kejuruan yang berkualitas.
Dalam mengembangkan materi kurikulum dibutuhkan dukungan dari
administrator kejuruan dan pengawas kejuruan.
h. Alternatif Pengembangan
Ada dua pendekatan untuk alternatif pengembangan yaitu:
 Pengembangan oleh satu orang yaitu pendekatan pengembangan
dilakukan oleh satu orang. Input data dapat diperoleh dari orang lain
seperti atasan, kolega dan para ahli. Sedangkan uji coba, revisi dan
penyelesaian keseluruhan dikerjakan oleh satu orang.
 Pengembangan oleh tim yaitu semua proses pengembangan materi
kurikulum dari input data sampai peneyelesaian keseluruhan dilakukan
oleh tim.
4. Proses Pengembangan Materi Kurikulum
Pngembangan materi kurikulum harus mengikuti proses yang sistematis
dan logis dari awal sampai akhir. Tahapan pengembangan kurikulum yaitu:
a. Menyusun rencana pengembangan awal;
b. Menyelidiki isi kurikulum yang sudah ditentukan;
c. Mengidentifikasi tujuan materi kurikulum;
d. Mengidentifikasi materi kurikulum secara rinci;
e. Mengidentifikasi literatur untuk menentukan materi apa yang tersedia;
f. Mengidentifikasi materi kurikulum yang kurang;
g. Menetapkan prioritas untuk bahan yang dibutuhkan;
h. Menyelesaikan rencana pengembangan;
i. Melakukan tinjauan pustaka yang lebih intensif;
j. Mendapatkan referensi dan sumber daya yang relevan;
k. Menyiapkan draft pertama dari materi kurikulum;

8
l. Memperbaiki draft pertama dari materi kurikulum;
m. Menyiapkan draft kedua dari materi kurikulum;
n. Memperbaiki draft kedua dari materi kurikulum;
o. Menyiapkan draft ketiga dari materi kurikulum;
p. Memperbaiki draft ketiga dari materi kurikulum;
q. Memperbanyak materi kurikulum.
5. Pelaksana Proses Pengembang Kurikulum
a. Penanggung jawab adalah orang yang bertanggung jawab atas
pelaksanaan proyek pengembangan kurikulum;
b. Pengawas adalah orang yang mengawasi jalannya proyek
pengembangan kurikulum. Selain mengawasi, pengawas dapat juga
memberikan masukan atau kritikan terhadap pelaksanaan proyek
pengembangan kurikulum.
6. Menyebarluaskan Materi Kurikulum
Ketika menyebarluaskan materi kurikulum, ada beberapa faktor penting
untuk memastikan bahwa materi kurikulum yang disebarkan dapat digunakan
secara efektif dan efisien. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Potensi Pengguna
Pertimbangan utama dalam pengembanagan materi kurikulum adalah
potensi pengguna. Potensi pengguna yang dimaksud adalah guru kejuruan
dan peserta didik dibidang kejuruan.
b. Pertimbangan Geografis
Pertimbangan geografis menentukan tingkat kesulitan untuk
mengakses wilayah pendidikan kejuruan. Jika materi dikembangkan
ditingkat lokal, sekolah di wilayah lokal tidak akan mengalami kesulitan
dalam penyebaran materi kurikulum.
c. Peyebaran dalam Kaitannya dengan Biaya
Salah satu keputusan yang harus dibuat sebelum sosialisasi dilakukan
adalah biaya dalam proses distribusi materi kurikulum. Pengembang harus
membuat rincian biaya yang dibutuhkan dan membandingkan dengan
biaya yang disediakan.

9
d. Adopsi Materi Kurikulum
Tahap dalam mengadopsi materi kurikulum adalah:
 Pendidik harus mempelajari materi kurikulum;
 Pendidik mengembangkan rasa ingin tahunya tentang materi
kurikulum dan berusaha mencari informasi lainnya terkait materi
kurikulum;
 Pendidik menilai potensi bahan untuk situasi tertentu;
 Materi kurikulum diuji coba oleh pendidik untuk menentukan nilai
kebenarannya;
 Jika materi kurikulum sudah benar, pendidik dapat mengadopsi materi
kurikulum.
e. Memperbaharui Materi Kurikulum
Materi kurikulum yang sudah dikembangkan harus dikembangkan lagi
oleh pengembang materi kurikulum. Ini sangatlah penting karena materi
kurikulum tahun ini belum tentu tepat digunakan untuk tahun depan.
Sehingga materi kurikulum yang sudah ada harus terus diperbaharui
seiring dengan perkembangan zaman.

C. Pendidikan Berbasis Kompetensi


1. Pendahuluan
Salah satu pendekatan untuk mendukung pendidikan kejuruan adalah
pendidikan berbasis kompetensi atau Competency-based Education yang
disingkat dengan CBE. CBE sangatlah efektif sebagai alternatif digunakan
dalam pendidikan kejuruan. CBE telah digunakan selama dekade terakhir.
2. Alasan Menggunakan Pendidikan Berbasis Kompetensi
a. Asumsi yang mendasari menggunakan CBE
Asumsi yang mendasari menggunakan CBE adalah adanya beberapa
aspek CBE yang membedakannya dari pendekatan tradisional, yaitu:
 Kompetensi. Inti dari CBE adalah kompetensi. CBE mempunyai
kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan
pendekatan tradisional yang menunjukan pengetahuan. Secara spesifik,

10
kompetensi pendidikan kejuruan adalah tugas, keterampilan, sikap,
norma dan apresiasi yang dianggap penting untuk keberhasilan dalam
hidup dan mencari nafkah.
 Kriteria. Penilaian kompetensi peserta didik tidak hanya untuk
panggilan kerja. Guru kejuruan harus menilai kriteria yang spesifik
disetiap kompetensi.
b. Tujuan Instruksional dari CBE
Elemen yang sering ditemukan dalam program CBE adalah
individualisasi, instruksi teknologi dan sistematis.
3. Materi CBE
Keberhasilan CBE berkaitan erat dengan pengembangan dan penggunaan
materi kurikulum yang relevan. Beberapa pertanyaan spesifikasi tentang CBE
yaitu:
a. Apakah kompetensi dinyatakan dalam materi?
b. Apakah kompetensi dinyatakan terverifikasi oleh V-TECS atau
beberapa penelitian sejenis?
c. Apakah tujuan materi kurikulum dinyatakan berkontribusi dengan
kompetensi?
d. Jika materi digunakan oleh guru, apakah kompetensi membantu guru
dalam kegiatan belajar dan mengajar?
e. Jika materi digunakan oleh peserta didik, apakah kompetensi
membantu peserta didik belajar dengan efektif?
4. Modul Pembelajaran
a. Karakteristik Modul Pembelajaran
Adapun karakteristik atau ciri-ciri modul pembelajaran adalah:
 Self instructional, peserta didik mampu membelajarkan diri sendiri dan
tidak tergantung pada pihak lain;
 Self contained, seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi
yang dipelajari terdapat di dalam satu modul utuh;
 Stand alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media
lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain;

11
 Adaptif, modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi;
 User friendly, modul hendaknya juga memenuhi kaidah akrab
bersahabat/akrab dengan penggunanya;
 Konsistensi, konsisten dalam penggunaan font, spasi dan tata letak.
b. Keuntungan Modul Pembelajaran
 Meningkatkan motivasi peserta didik, karena setiap kali mengerjakan
tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan
kemampuan;
 Setelah dilakukan evaluasi, guru dan peserta didik mengetahui benar,
pada modul yang mana peserta didik telah berhasil dan pada bagian
modul yang mana mereka belum berhasil;
 Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester;
 Pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun
menurut jenjang akademik.
c. Keterbatasan Modul Pembelajaran
 Biaya pengembangan bahan tinggi dan waktu yang dibutuhkan lama;
 Menentukan disiplin belajar yang tinggi yang mungkin kurang dimiliki
oleh peserta didik pada umumnya dan peserta didik yang belum
matang pada khususnya;
 Membutuhkan ketekunan yang lebih tinggi dari fasilitator untuk terus
menerus mamantau proses belajar peserta didik, memberi motivasi dan
konsultasi secara individu setiap waktu peserta didik membutuhkan.
d. Format Modul Pembelajaran
 Pendahuluan. Bagian ini berisi deskripsi umum, seperti materi yang
disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai
setelah belajar; termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk
mempelajari modul tersebut;

12
 Tujuan Pembelajaran. Bagian ini berisi tujuan-tujuan pembelajaran
khusus yang harus dicapai oleh setiap peserta didik setelah
mempelajari modul;
 Tes Awal. Tes ini berguna untuk menetapkan posisi peserta didik dan
mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan dari mana ia
harus memulai belajar serta apakah perlu untuk mempelajari modul
tersebut atau tidak;
 Pengalaman Belajar. Bagian ini merupakan rincian materi
pembelajaran untuk setiap tujuan pembelajaran khusus yang berisi
sejumlah materi, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi
peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya;
 Sumber Belajar. Pada bagian ini disajikan tentang sumber-sumber
belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
Penetapan sumber belajar ini perlu dilakukan dengan baik oleh
pengembang modul, sehingga peserta didik tidak kesulitan
memperolehnya;
 Tes Akhir. Tes akhir ini instrumennya sama dengan isi tes awal, hanya
lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul.
e. Komponen Dasar Modul Pembelajaran
Komponen dasar yang terdapat dalam modul pembelajaran adalah:
lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar
soal, lembar jawaban dan kunci jawaban.
5. Implementasi CBE
Bagaimana tentang pelaksanaan CBE di lingkungan pendidikan kejuruan?
Sebenarnya tidak ada jawaban standar untuk pertanyaan itu. Masing-masing
negara, wilayah dan lokal mempunyai kepedulian sendiri tentang inovasi
pendidikan. Ada beberapa elemen dasar dalam menerapkan CBE, yaitu:
a. Mengidentifikasi dominan pekerjaan;
b. Mengidentifikasi sumber daya yang tersedia;
c. Mengidentifikasi kompetensi;
d. Memverifikasi kompetensi;

13
e. Mengidentifikasi standar kompetensi;
f. Mengembangkan langkah-langkah objektif dan mencari referensi
kriteria;
g. Mengembangkan dukungan materi pembelajaran;
h. Mengembangkan rencana aktivitas;
i. Menginisiasi program.

D. Evaluasi Kurikulum
Suatu kurikulum yang sudah direncanakan dan dibuat berdasarkan kebutuhan
lapangan serta peserta didik memerlukan evaluasi setelah kurikulum itu
diimplementasikan. Evaluasi kurikulum dilakukan karena diperlukan untuk
mendapatkan data tentang kemampuan peserta didik, penampilan para staf
pengajar dan keefektifan dalam pendekatan atau metodologi yang dipergunakan
dalam pembelajaran dan pelaksana pendidikan yang lainnya seperti kepala
sekolah.
Hasil evaluasi kurikulum ini dapat dipergunakan oleh para pemegang
kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan
menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan
model kurikulum yang digunakan. Evaluasi kurikulum yang dilakukan secara
berkelanjutan dan terarah dapat berpengaruh besar pada peningkatan kualitas
proses implementasi kurikulum dan selanjutnya pada kualitas hasil pembelajaran
dan kualitas lulusan.
Pada evaluasi kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan pun harus
dilakukan secara sistematis, tidak hanya sekedar bicara (lip service). Di dalam
perencanaan evaluasi kurikulum perlu jelas tujuannya. Tujuan dari evaluasi
kurikulum adalah:
1. Lingkup materi apa yang akan dievaluasi;
2. Kualitas personal pelaksana;
3. Kemampuan para peserta didik;
4. Tingkat ketercapaian tujuan yang telah diimplementasikan;
5. Peralatan yang dipergunakan dalam mengimplementasikan kurikulum.

14
BAB III
IMPLEMENTASI KURIKULUM KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK GAMBAR BANGUNAN DI SMK NEGERI 4 TANGERANG

A. Identifikasi dan Pemilihan Pokok-pokok Materi Mata Diklat


Menggambar dengan Auto CAD
Masalah mengidentifikasi dan memilih pokok-pokok materi adalah masalah
yang mudah, karena semuanya telah tersedia dalam kurikulum. Akan tetapi yang
menjadi masalah setelah mengidentifikasi dan memilih pokok-pokok materi,
bagaimana guru sebagai pelaksana di lapangan dapat merancang dan
mengimplementasikan kurikulum sehingga peserta didik dapat belajar dan
mencapai tujuan kurikulum tersebut.
Pokok-pokok materi yang telah disiapkan oleh seorang guru belum berarti
apa-apa, kalau belum ada tujuan yang dirumuskan yang harus dicapai oleh peserta
didik. Untuk pencapai tujuan atau kompetensi harus dimiliki para peserta didik,
maka guru perlu memilih metode, media, dan alat evaluasi. Metode yang dipilih
hendaknya yang dapat mendorong, memotivasi peserta didik untuk dapat
melakukan kegiatan yang efektif yang sesuai dengan tingkat atau tugas-tugas
perkembangan peserta didik. Kegiatan membelajarkan berarti tidak terlepas dari
kegiatan belajar peserta didik.
Sebagai contoh pada kurikulum SMK Negeri 4 Tangerang yang menerapkan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2004 atau yang disingkat dengan KTSP
2004. Pada KTSP 2004 di dalamnya sudah tercantum antara lain kompetensi
dasar, pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan. Dari pokok-pokok
bahasan dan sub pokok bahasan ini perlu merancang strategi pembelajaran yang
antara lain dapat mengembangkan ke materi pembelajaran yang lengkap yang
dapat memberi pengalaman pada peserta didik untuk memiliki kompetensi
tertentu. Biasanya setiap guru sudah mempunyai tugas untuk mengembangkan
mata pelajaran atau mata diklat masing-masing dalam sebuah proses
pembelajaran.

15
Kepentingan dalam mengidentifikasi dan memilih pokok bahasan dan sub
pokok bahasan adalah bagaimana pokok bahasan dan sub pokok bahasan tersebut
menjadi suatu aktivitas belajar para peserta didik disiapkan oleh para guru. Pada
proses pembelajaran para peserta didik harus mendapat pengalaman belajar yang
maksimal, sehingga mereka akhirnya akan mendapat kompetensi yang diharapkan
setelah mengikuti pembelajaran per mata pelajaran/per mata diklat. Secara
berakumulasi para peserta didik di sekolah kejuruan diharapkan dengan pokok
bahasan dan sub pokok bahasan yang diimplementasikan pada kegiatan
pembelajaran tersebut akan siap menghadapi lapangan kerja.
Di SMK Negeri 4 Tangerang terdapat 11 kompetensi keahlian. Salah satu
kompetensi keahlian yang akan dibahas pada bab ini adalah Teknik Gambar
Bangunan (TGB). TGB merupakan bidang studi keahlian teknologi dan rekaya.
Sebagai contoh tujuan pembelajaran pada mata diklat Menggambar Auto CAD
yang tercantum dalam KTSP 2004 adalah:
1. Menyiapkan penggambaran 2D;
2. Membuat model 2D;
3. Mengedit model 2D;
4. Membuat hasil dari model 2D;
Dari tujuan pembelajaran tersebut kita akan melihat ruang lingkup materi yang
akan terdiri dari isi pokok pembelajaran mata diklat Menggambar Auto CAD yang
terdiri dari:
1. Sistem pemodelan 2D;
2. Perbedaan prinsip dari masing-masing model;
3. Penggambaran dengan CAD 2D;
4. Penggunaan pandangan standar 2D dan sistem proyeksinya;
5. Penggambaran gambar latihan sesuai tuntutan kerja;
6. Penggunaan perintah khusus 2D;
7. Perubahan model yang telah disediakan sesuai tuntutan kerja;
8. Penyimpanan file dalam format standar;
9. Pembuatan gambar kerja dari model 2D sesuai tuntutan kerja;
10. Pencetakan gambar kerja.

16
Setelah pokok-pokok bahasan diketahui, maka dapat dirinci menjadi sub
pokok bahasan yang akan dirancang menjadi beberapa aktivitas proses
pembelajaran yang akan diikuti oleh para peserta didik. Dalam merancang proses
pembelajaran tidak terlepas dari pokok dan sub pokok bahasan yang perlu
dikembangkan oleh seorang guru menjadi materi yang perlu dikuasai peserta
didik.
Berbicara peserta didik, maka guru perlu menguasai teori belajar dan
perkembangan anak, agar materi yang disiapkan untuk kegiatan belajar
merupakan materi yang sesuai untuk para peserta didik. Kegiatan pembelajaran
yang disiapkan sesuai dengan kesiapan belajar peserta didik, bahkan dapat
memotivasi peserta didik membangkitkan penguasaan untuk memiliki kompetensi
yang harus dikuasainya.

B. Pengembangan KTSP 2004


Kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan
pendidikan, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan
peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan
kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, penjelasan ini sesuai
dengan pasal 17 ayat 1 dan 2, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional
yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.(PP 19/2005
Bab I Pasal 1 butir 15). Berdasarkan aturan tersebut, maka:
1. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan SMK Negeri 4 Tangerang dan
komite sekolah;
2. Kurikulum SMK Negeri 4 Tangerang dimaksudkan untuk memungkinkan
adanya penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang
ada;
3. SMK Negeri 4 Tangerang perlu mencermati dan memperhatikan berbagai
kepentingan dalam kerangka pengembangan kurikulum yang relevan bagi
permasalahan saat ini dan masa datang;

17
4. Kurikulum SMK Negeri 4 Tangerang harus bersifat baku tetapi tetap
fleksibel, karena itu secara periodik harus tetap divalidasi sesuai kebutuhan
pada jamannya..
Adapun tujuan pengembangan kurikulum SMK Negeri 4 Tangerang berpola
pada:
1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar
nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (UU
Nomor 20 Tahun 2003 Bab X Pasal 36 (1);
2. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan berpedoman pada
panduan yang disusun oleh BSNP. (PP Nomor 19 Pasal 16);
3. Materi pembelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi
Kejuruan disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi keahlian untuk
memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja.;
4. Permen Diknas No.22 Implikasi dari struktur kurikulum SMK butir 2;
5. Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab IX Pasal 35 (1) dan (2).
Sedangkan prinsip pengembangan Kurikulum SMK Negeri 4 Tangerang
berdasarkan pola pemikiran sebagai berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, serta kepentingan
peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta
didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Peserta didik
memiliki posisi sentral, berarti segala kegiatan pembelajaran berpusat pada
peserta didik.
2. Beragam dan terpadu

18
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik
peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta
menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku,
budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum
meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu,
semangat dan isi kurikulum harus memberikan kegiatan pembelajaran
peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku
kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan,
dunia usaha/industri dan dunia kerja. Oleh karena itu, upaya
pengembangan kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik
dan kecakapan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang
kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan
secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.

19
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan
kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan
memberdayakan sejalan dengan motto Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pokok-pokok materi yang sudah ada akan dirinci dan dikembangkan menjadi
sub-sub pokok bahasan. Pokok-pokok dan sub pokok bahasan akan dikembangkan
sesuai kompetensi yang harus dicapai atau dimiliki peserta didik. Pengembangan
pokok-pokok materi menjadi sub pokok materi harus disesuaikan dengan waktu
yang tersedia pada kurikulum tersebut, dan tugas-tugas perkembangan sesuai
usianya. Pengembangan pokok-pokok materi menjadi sub-sub pokok materi
dalam lingkup pendidikan vokasional akan membutuhkan sarana dan prasarana
yang diharapkan memadai, agar kompetensi yang diharapkan dapat terkuasai para
peserta didik.
Dalam pengembangan pokok-pokok materi perlu disesuaikan dengan tujuan
yang harus dicapai yang perlu dikuasai peserta didik. Telah dikemukakan di muka
bahwa dalam pendidikan kejuruan tidak berarti hanya belajar keterampilan yang
bersifat fisik, tetapi termasuk keterampilan sosial dan emosional (aspek afektif),
dan ditunjang dengan penguasaan dalam aspek kognitif dan afektif yang lainnya.
Aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang perlu dikuasai para peserta didik
akan terkait dalam menentukan pengembangan pokok-pokok materi.
Tujuan SMK harus menjadi acuan ketika melakukan pengembangan pokok-
pokok materi untuk sekolah kejuruan, seperti tercantum dalam kurikulum SMK
2004 Bagian I (2004 : 7) yaitu:
1. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja
mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha atau dunia
industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi
dalam program keahlian yang dipilihnya;
2. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih
dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan

20
mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang
diminatinya;
3. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri
maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
4. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai
dengan program keahlian yang dipilih.
Mengacu pada tujuan SMK, maka dengan pengembangan pokok-pokok
bahasan dapat mengembangkan materi untuk mempersiapkan lulusan yang
berkualitas, memiliki daya saing untuk orientasi kerja di dunia industri atau dunia
usaha yang relevan dengan bidang keahliannya. Pokok-pokok bahasan yang
dikembangkan harus mendukung untuk pencapaian tujuan SMK sesuai bidang
keahlian masing-masing. Pada setiap pokok-pokok bahasan akan dirumuskan
tujuan atau kompetensi yang lebih khusus. Pokok-pokok bahasan yang
dikembangkan akan terurai menjadi materi yang relevan dengan yang dibutuhkan
untuk pembelajaran peserta didik. Guru harus dapat mengembangkan pokok-
pokok bahasan tersebut dengan mencari buku-buku sumber yang tersedia dan
buku-buku sumber lain yang relevan yang mendukung pengembangan materi
dalam mencapai tujuan atau kompetensi yang perlu dikuasai peserta didik.
Adapun pengembangan pokok-pokok materi mata diklat Menggambar Auto
CAD adalah:
1. Membedakan dan mengidentifikasi sistem pemodelan 2D;
2. Membedakan jenis-jenis model 2D dari contoh yang disediakan;
3. Mengidentifikasi tentang cara menggambar dengan CAD 2D;
4. Menjalankan aplikasi CAD yang ditentukan;
5. Menggambar point pada ruang 2D dengan memasukan koordinat-
koordinatnya sesuai instruksi kerja;
6. Menggunakan pandangan standar 2D dan sistem proyeksinya;
7. Menggambar latihan sesuai tuntutan kerja;
8. Menggunakan perintah pembuatan rangka dengan perintah khusus 2D (2D
polyline);

21
9. Membuat model dengan perintah khusus 2D;
10. Memodifikasi model / obyek yang telah disediakan sesuai tuntutan kerja;
11. Menyimpan file dalam format standar;
12. Menyimpan file dengan nama file dan folder sesuai tuntutan kerja;
13. Mengidentifikasi entiti 2D untuk mendapat data volume, massa dan pusat
massa;
14. Export / import file dalam berbagai format;
15. Membuat gambar kerja dari model 2D;
16. Membuat gambar kerja dari model 2D sesuai tuntutan kerja;
17. Mencetak gambar kerja 2D;
18. Menganalisis entiti 2D untuk mendapat data volume, massa dan pusat
massa.

C. Kompetensi Dasar Teknik Gambar Bangunan


Kurikulum SMK menggunakan pendekatan kurikulum berbasis kompetensi.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan atau
kecakapan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya
sehingga dapat memuaskan penampilan, khususnya tampilan kognitif, afektif dan
Psikomotor.
Memahami pengertian kompetensi tersebut bahwa orang yang memiliki
kompetensi menguasai standar baku yang dipersyaratkan dalam suatu kemampuan
tertentu, seperti penampilan kerja di industri busana, atau industri alat elektronik,
industri pengawetan makanan, dan industri-industri lainnya. Kompetensi dalam
lingkup pendidikan menengah kejuruan tercantum dalam kurikulum SMK 2004
Bagian I (2004 : 16) sebagai berikut:
1. Kurikulum berbasis kompetensi diartikan sebagai rancangan pendidikan
dan pelatihan yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi yang
berlaku di tempat kerja;
2. Substansi kompetensi memuat pernyataan pengetahuan (knowledge),
keterampilan (skill) dan sikap (attitude);

22
3. Isi atau materi yang dirancang dengan pendekatan berbasis kompetensi
diorganisasi dengan sistem modular (satuan utuh), ditata secara sekuensial
dan sistemik;
4. Ada korelasi langsung antara penjenjangan jabatan pekerjaan di dunia
kerja dengan pentahapan pencapaian kompetensi di SMK.
Dari uraian tentang kurikulum berbasis kompetensi yang perlu diperhatikan di
sini yaitu bahwa standar kompetensi yang akan dicapai harus sesuai dengan apa
yang berlaku di tempat kerja. Juga perlu ditekankan bahwa substansi kompetensi
harus memuat pernyatan kognitif, afektif, dan psikomotor, dan dalam pentahapan
kompetensi tersebut sesuai dengan penjenjangan jabatan pekerjaan yang ada di
dunia kerja.
Contoh pada tujuan SMK Negeri 4 Tangerang kompetensi keahlian TGB,
mempunyai standar kompetensi yaitu peserta didik dibekali dengan keterampilan,
pengetahuan dan sikap agar kompeten:
1. Mengatur tata letak gambar manual;
2. Menggambar dengan perangkat lunak;
3. Membuat gambar rencana kolom beton bertulang;
4. Membuat gambar rencana balok beton bertulang;
5. Menggambar konstruksi lantai dan dinding bangunan;
6. Menggambar rencana dinding penahan tanah;
7. Menggambar konstruksi kusen, pintu dan jendela;
8. Mengatur rencana plat lantai;
9. Menggambar konstruksi tangga;
10. Menggambar konstruksi langit-langit
11. Menggambar konstruksi atap;
12. Menggambar utilitas gedung;
13. Menggambar lay out dekorasi interior dan eksterior;
14. Menggambar dekorasi interior rumah tinggal, perkantoran dan ruang
publik;
15. Menerapkan desain interior bangunan;
16. Menentukan unsur penunjang desain interior;

23
17. Menerapkan desain eksterior bangunan;
18. Menerapkan material finishing bangunan;
19. Merancang partisi ruang;
20. Menggambar Auto CAD.
Untuk mata diklat Menggambar Auto CAD ada beberapa indikator yang harus
dicapai oleh peserta didik yaitu sebagai berikut:
1. Peserta didik dapat memahami dengan benar operasi dasar 2D sesuai
persyaratan kerja;
2. Peserta didik dapat menampilkan dengan benar pandangan-pandangan
sesuai dengan persyaratan kerja;
3. Peserta didik dapat mengatur dengan benar ruang gambar kerja sesuai
persyaratan kerja;
4. Peserta didik dapat menggambar dengan benar model 2D sesuai dengan
standar;
5. Peserta didik dapat memodifikasi penggambaran model 2D seperti tuntutan
kerja;
6. Peserta didik dapat menyimpan dengan benar File dalam berbagai format
untuk penggunaan kembali sesuai prosedur operasi standar;
7. Peserta didik dapat mengeluarkan dengan benar data sifat fisik benda 2D
sesuai persyaratan kerja termasuk volume, massa dan pusat massa.
Menyimak tujuan dari kompetensi yang harus dicapai peserta didik, maka para
peserta didik perlu mengikuti atau wajib menempuh sejumlah program mata diklat
agar dapat menguasai sejumlah kompetensi tersebut. Program mata diklat tersebut
telah tercantum dalam struktur kurikulum SMK pariwisata sesuai program yang
dipilihnya, yang dalam kaitan kutipan di atas yaitu program keahlian tata busana.
Pelaksanaan pembelajarannya pada setiap program keahlian tersebut terdiri atas
teori dan praktik, sehingga peserta didik diharapkan akan menguasai kompetensi
yang telah dirumuskan tadi, yang selayaknya akan menyangkut aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor.

24
D. Evaluasi Kurikulum
Evaluasi pada dasarnya adalah pengukuran perilaku peserta didik untuk
mengungkapkan perbedaan individual maupun kelompok. Diadakannya evaluasi
di dalam proses pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:
perbaikan program, pertanggungjawaban kepada berbagai pihak dan penentuan
tindak lanjut hasil pengembangan. Setelah memahami tujuan pentingnya evaluasi
kurikulum, pelaksana kurikulum harus memahami pula tentang konsep/model
evaluasi. Taba (1962: 330) mengemukakan bahwa:
Objective, it scope, the quality of personel in charger of it, the capacities of the
students, the relative importance of various subject, the degree to which
objectives are implemented, the equipment and materials and so on.
Menyimak yang dikemukakan Taba, maka evaluasi kurikulum tersebut sangat
luas, karena mencakup seluruh komponen dan kegiatan yang tercakup dalam
lingkup pendidikan suatu program studi, jurusan, atau lembaga pendidikan
tertentu, misalnya Sekolah Menengah Kejuruan atau bidang lain yang
menyangkut kejurusan. Evaluasi kurikulum pun dapat juga dibatasi, tentu
tergantung dari kebutuhan melakukan evaluasi tersebut.
Berdasarkan hasil observasi dengan wakil kepala SMK Negeri 4 Tangerang
bidang kurikulum, bahwa hasil evaluasi digunakan terutama untuk keperluan
seleksi peserta didik, bimbingan pendidikan dan perbandingan efektivitas antara
dua atau lebih program/metode pendidikan. Objek evaluasi dititikberatkan pada
hasil belajar terutama dalam aspek kognitif dan khususnya yang dapat diukur
dengan alat evaluasi yang objektif yang dapat dibakukan. Jenis data yang
dikumpulkan dalam evaluasi adalah data objektif khususnya skor hasil tugas dan
tes.
Dalam kegiatan evaluasi, ditempuh pendekatan/cara-cara sebagai berikut:
1. Menempatkan “kedudukan” setiap peserta didik dalam kelompoknya
melaui pengembangan norma kelompok dalam evaluasi hasil belajar;
2. Membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok yang
menggunakan program/metode pengajaran yang berbeda-beda melalui
analisis secara kuantitatif;

25
3. Teknik evaluasi yang digunakan terutama tes yang disusun dalam bentuk
objektif yang terus dikembangkan untuk menghasilkan alat evaluasi yang
valid dan reliabel.
Pada mata diklat Menggambar Auto CAD penilaian yang dilakukan adalah
melalui penugasan yang dibagi menjadi 12 tugas sebagai nilai praktik. Peserta
didik hanya diperbolehkan mengerjakan tugas di dalam laboratorium
komputer. Hal ini dilakukan untuk mencegah peserta didik menggandakan
tugas temannya. Setelah satu kompetensi dasar selesai dipelajari maka akan
diadakan ulangan yang berupa teori.

26
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Di SMK Negeri 4 Tangerang terdapat 11 kompetensi keahlian. Salah satu
kompetensi keahliannya adalah Teknik Gambar Bangunan (TGB). Sebagai contoh
tujuan pembelajaran pada mata diklat Menggambar Auto CAD. Adapun langkah-
langkah dalam implementasi kurikulum adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran mata diklat Menggambar Auto
CAD yang telah tercantum dalam KTSP 2004;
2. Membuat ruang lingkup materi yang terdiri dari isi pokok-pokok materi
mata diklat Menggambar Auto CAD;
3. Mengembangkan pokok-pokok materi menjadi sub pokok materi mata
diklat Menggambar Auto CAD;
4. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
Dalam mengimplementasi kurikulum perlu diperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan pengembangan kurikulum seperti waktu, tenaga ahli,
biaya, dukungan yang dibutuhkan dan target penggunanya.

B. Saran
Berdasarkan kajian teori dan pembahasan pada bab sebelumnya, ada beberapa
saran bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum maupun
pelaksana kurikulum.
1. Bagi Guru
a. Sebaiknya guru lebih cermat dan teliti dalam perencanaan waktu
pembelajaran, agar semua materi dapat dipelajari dengan maksimal.
Karena sering kali guru terkendala oleh waktu liburan, kegiatan
sekolah dan kegiatan-kegiatan yang tidak terduga, sehingga
pembelajaran terganggu;

27
b. Sebaiknya dalam penerapan kurikulum dalam pembelajaran guru lebih
kreatif menggunakan metode pembelajaran yang digunakan, sehingga
peserta didik tidak jenuh dalam mengikuti pembelajaran.
2. Bagi SMK Negeri 4 Tangerang
a. Sekolah hendaknya mengikutsertakan pihak luar sekolah dalam
perencanaan kurikulum baik itu perguruan tinggi, dinas pendidikan
dan masyarakat. Pihak-pihak itu tidak hanya diikutsertakan dalam uji
publik saja;
b. Sekolah sebaiknya mengatur jadwal kegiatan sekolah dengan baik,
agar kegiatan pembelajaran tidak terganggu oleh aktivitas-aktivitas di
luar kegiatan pembelajaran. Baik itu kegiatan guru maupun kegiatan
peserta didik.

28
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2004). Kurikulum dan GBPP SMK


Tahun 2004. Jakarta : Dirjendikdasmen.
Finch, C. R. and Grunkilton, J.R. (1984). Curriculum Development in Vocational
and Technical Education. Boston-London-Sydney-Toronto : Allyn and Bacon,
Inc.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
Taba, H. (1962). Curriculum Development : Theory and Practices. New York :
Harcourt, Brace and World, Inc.

29