Anda di halaman 1dari 17

PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI

KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN


KEJURUAN

UJIAN TENGAH SEMESTER

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


Pengembangan dan Implementasi Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
(KJ603)
Dosen : Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M.Pd.

oleh
Awindha Eko Lusiana
NIM 1502834

PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
1. Jelaskan karakterisktik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK)!
Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik yang berbeda dengan satuan
pendidikan lainnya. Perbedaan tersebut dapat dikaji dari tujuan pendidikan
kejuruan, peserta didik dan substansi pendidikan kejuruan.
a. Tujuan Pendidikan Kejuruan
Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan peserta didik untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program
kejuruannya. Tujuan pendidikan kejuruan mengandung makna bahwa
pendidikan kejuruan di samping menyiapkan tenaga kerja yang profesional juga
mempersiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi sesuai dengan program kejuruan atau bidang keahlian.
b. Peserta didik
Peserta didik pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih dikhususkan
bagi anak yang berkeinginan mempunyai kemampuan vokatif. Harapan peserta
didik setelah lulus dapat langsung bekerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi
dengan mengambil bidang profesional atau bidang akademik. Usia peserta didik
secara umum pada rentang 15/16 – 18/19 tahun, atau peserta didik berada pada
masa remaja.
Merancang pembelajaran bagi anak yang berusia remaja ini sebaiknya
memperhatikan tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan para
remaja. Beberapa tugas perkembangan remaja yang disarankan oleh
Sukmadinata (2001), yaitu:
1) Mampu menjalin hubungan yang lebih matang dengan sebaya dan jenis
kelamin lain;
2) Mampu melakukan peran-peran sosial sebagai laki-laki dan wanita;
3) Memiliki perasaan mampu berdiri sendiri dalam bidang ekonomi;
4) Mampu memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan;
5) Belajar mempersiapkan diri untuk perkawinan dan hidup berkeluarga;
6) Mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual untuk
hidup bermasyarakat;

1
7) Memiliki perilaku sosial seperti yang diharapkan masyarakat;
8) Memiliki seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi perbuatannya.
c. Substansi pendidikan kejuruan
Substansi dari pendidikan kejuruan harus menampilkan karakteristik
pendidikan kejuruan, yaitu:
1) Orientasi (Orientation)
Kurikulum pendidikan kejuruan telah berorientasi pada proses dan hasil
atau lulusan. Keberhasilan utama kurikulum pendidikan kejuruan tidak
hanya diukur dengan keberhasilan pendidikan peserta didik di sekolah saja,
tetapi juga dengan hasil prestasi kerja dalam dunia kerja. Finch dan
Crunkilton (1984: 12) mengemukakan bahwa: “Kurikulum pendidikan
kejuruan berorientasi terhadap proses (pengalaman dan aktivitas dalam
lingkungan sekolah) dan hasil (pengaruh pengalaman dan aktivitas tersebut
pada peserta didik).”
2) Dasar kebenaran/Justifikasi (Justification)
Pengembangan program pendidikan kejuruan perlu adanya alasan atau
justifikasi yang jelas. Justifikasi untuk program pendidikan kejuruan adalah
adanya kebutuhan nyata tenaga kerja di lapangan kerja atau di DU/DI. Dasar
kebenaran/justifikasi pendidikan kejuruan menurut Finch dan Crunkilton
(1984 : 12) yaitu meluas hingga lingkungan sekolah dan masyarakat. Ketika
kurikulum berorientasi pada peserta didik maka dukungan bagi kurikulum
tersebut berasal dari peluang kerja yang tersedia bagi para lulusan.
3) Fokus (Focus)
Fokus kurikulum dalam pendidikan kejuruan tidak terlepas pada
pengembangan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu, tetapi harus
secara simultan mempersiapkan peserta didik yang produktif. Finch dan
Crunkilton (1984: 13) mengemukakan bahwa: “Kurikulum pendidikan
kejuruan berhubungan langsung dengan membantu siswa untuk
mengembangkan suatu tingkat pengetahuan, keahlian, sikap dan nilai yang
luas.”

2
Seluruh kemampuan dapat dikuasai oleh peserta didik melalui
pengalaman belajar yang diberikan, yaitu berupa rangsangan yang
diaplikasikan baik pada situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar
mengajar di sekolah maupun situasi kerja yang sebenarnya pada DU/DI
(pembelajaran di dunia kerja). Dari hasil belajar atau kemampuan yang telah
dikuasai diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan diri
peserta didik sehingga mereka mampu bekerja sesuai dengan tuntutan
DU/DI.
4) Standar keberhasilan di sekolah (In-school success standards)
Kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan
kejuruan diukur dari keberhasilan peserta didik di sekolah, mengenai
beberapa aspek yang akan dimasukinya. Penilaian keberhasilan pada peserta
didik di sekolah harus pada penilaian sebenarnya atau kemampuan
melakukan suatu pekerjaan. Dengan kata lain bahwa dalam standar
keberhasilan sekolah harus berhubungan erat dengan keberhasilan yang
diharapkan dalam pekerjaan, dengan kriteria yang digunakan oleh guru
dengan mengacu pada standar atau prosedur kerja yang telah ditentukan
oleh DU/DI
5) Standar keberhasilan di luar sekolah (Out-of school success standards)
Penentu keberhasilan tidak terbatas pada apa yang terjadi di lingkungan
sekolah. Standar keberhasilan di luar sekolah berkaitan dengan pekerjaan
atau kemampuan kerja yang biasanya dilakukan oleh dunia usaha atau dunia
industri. Menurut Starr (dalam Namri 2012) bahwa: “Walaupun standar
keberhasilan beragam antar sekolah dan antar Negara, tetapi keberhasilan
tersebut seringkali mengambil bentuk kepuasan pegawai dengan keahlian
lulusan, suatu persentase tinggi lulusan yang mendapatkan pekerjaan di
bidang persiapan atau dalam bidang yang berhubungan, kepuasan kerja
lulusan, kemajuan yang dialami lulusan.”
Standar kelulusan di luar sekolah (out-of school success standards)
dilakukan oleh DU/DI yang mengacu pada standar kompetensi sesuai
bidang keahlian atau produk yang dihasilkan oleh masing-masing industri.

3
6) Hubungan kerja sama dengan masyarakat (School-community
relationships)
Suatu usaha pendidikan harus berhubungan dengan masyarakat,
demikian pula dengan pendidikan kejuruan memiliki tanggung jawab
didalam mempertahankan hubungan yang kuat dengan berbagai bidang
keahlian yang berkembang dimasyarakat. Pengertian msyarakat yang
dimakasud adalah DU/DI. Penyelenggaraan pendidikan kejuruan harus
relevan dengan tuntutan kerja pada DU/DI, maka masalah hubungan antara
lembaga pendidikan dengan DU/DI merupakan suatu ciri karakteristik yang
penting bagi pendidikan kejuruan.
Perwujudan hubungan timbal balik berupa kesediaan DU/DI untuk
menampung peserta didik agar mendapat kesempatan pengalaman belajar
di lapangan kerja atau industri, ini merupakan bentuk kerjasama yang saling
menguntungkan.
7) Keterlibatan pemerintah pusat (Federal involvement)
Keterlibatan pemerintah pusat ini berkaitan dengan dana pendidikan
yang akan dialokasikan, karena hal ini akan mempengaruhi kurikulum.
Misalnya ketentuan jam pengajaran kejuruan tertentu dan jenis
perlengkapan tertentu yang digunakan di bengkel atau laboratorium dapat
membantu perkembangan suatu tingkat kualitas yang lebih tinggi.
8) Kepekaan (Responsivenenss)
Komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja,
pendidikan kejuruan harus mempunyai ciri berupa kepekaan terhadap
perkembangan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya.
Perkembangan ilmu dan teknologi, inovasi dan penemuan-penemuan baru
dibidang produksi dan jasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan
pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan harus bersifat responsif proaktif
terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, dengan upaya lebih
menekankan kepada sifat adaptabilitas dan fleksibilitas untuk menghadapi
prospek karir peserta didik dalam jangka panjang.

4
9) Logistik
Kurikulum pendidikan kejuruan dalam implementasi kegiatan
pembelajaran perlu didukung oleh fasilitas beajar yang memadai karena
untuk mewujudkan situasi belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia
kerja secara realistis dan edukatif diperlukan banyak perlengkapan, sarana
dan perbekalan logistik. Bengkel kerja dan laboratorium adalah
kelengkapan utama dalam sekolah kejuruan yang harus ada sebagai fasilitas
bagi peserta didik di dalam mengembangkan kemampuan kerja sesuai
dengan tuntutan dunia usaha dan industri.
10) Pengeluaran (Expense)
Pengeluaran rutin sebagai biaya pendidikan pada pendidikan kejuruan
yang menunjang kegiatan pembelajaran mencakup biaya listrik, air,
pemeliharaan dan penggantian peralatan, biaya transportasi ke
lokasi/industri (tempat praktek kerja/magang) yang jauh dari sekolah.
Peralatan harus diperbaharui secara periodik dan pembelian bahan habis
sebagai bahan praktikum yang digunakan secara rutin sesuai dengan
program keahlian yang dikembangkan pada SMK masing-masing.

2. Pendidikan teknologi dan kejuruan menyiapkan tenaga kerja profesional


menengah. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tenaga profesional?
Profesional menurut Sururi (2002) adalah: ”Profesional menunjukan pada dua
hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi; misalnya, “dia seorang
profesional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang
sesuai dengan profesinya. Dalam pengertian kedua ini, istilah profesional
dikontraskan dengan non-profesional atau amatiran.”
Karakteristik yang seharusnya ada atau di miliki oleh suatu profesi menurut
Sanusi (1991:20) terdapat ciri utama suatu profesi sebagai berikut:
a. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang memiliki fungsi dan signifikansi
sosial yang krusial;
b. Mempunyai keterampilan/keahlian untuk mewujudkan fungsi profesi;

5
c. Pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang menuntut
pemecahan dengan menggunakan teori dan metode ilmiah;
d. Batang tubuh ilmu suatu profesi didasarkan kepada suatu disiplin ilmu yang
jelas, sistematis dan eksplisit (a systematic body of knowledge) dan bukan
hanya common sense;
e. Upaya mempelajari dan menguasai batang tubuh ilmu dan
keterampilan/keahlian membutuhkan masa latihan yang lama (bertahun-
tahun) Hal ini dilakukan pada tingkat perguruan tinggi;
f. Proses pendidikan merupakan wahana untuk sosialisasi nilai-nilai
profesional dikalangan para siswa/mahasiswa;
g. Dalam memberikan pelayanan kepada klien, seorang profesional berpegang
teguh kepada kode etik yang pelaksanaannya dikontrol oleh organisasi
profesi. Setiap pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan sangsi;
h. Anggota suatu profesi mempunyai kebebasan untuk menetapkan
judgementnya sendiri dalam menghadapi atau memecahkan sesuatu dalam
lingkup kerjanya;
i. Komitmen pada suatau profesi adalah melayani klien dan masyarakat
dengan sebaik-baiknya. Tanggungjawab profesional harus diabdikan
kepada mereka;
j. Seorang profesional mempunyai prestise yang tinggi dimata masyarakat,
dan karenanya mendapatkan imbalan yang layak.

3. Ada empat model kurikulum yakni: Kurikulum subject Academic,


Humanistik, Rekonstruksi sosial dan Teknologi. Jelaskan dari masing-
masing model kurikulum itu, dan model yang mana yang tepat untuk
mengembangkan kurikulum PTK? Beri alasan yang jelas!
Ada empat model kurikulum yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2005: 84)
yaitu:
a. Kurikulum Subyek Akademis
Kurikulum subyek akademis bersumber dari pendidikan klasik yang
berorientasi pada masa lalu. Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu

6
sesuai dengan bidang disiplinnya. Model kurikulum ini adalah model yang
tertua sejak sekolah yang pertama berdiri sampai sekarang walaupun telah
berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak biasa melepaskan tipe ini.
Kurikulum ini sangat praktis, mudah disusun dan mudah digabungkan dengan
tipe lain.
b. Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan
humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu
John Dewey (progressive education) dan J.J Rousseau (romantic education).
Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari
asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam
pendidikan. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, kemampuan,
dan kekuatan untuk berkembang.
Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan
suatu upaya untuk menciptakan suasana yang permisif, rilek dan akrab. Berkat
situasi tersebut anak dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
c. Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan yang lainnya. Kurikilum ini
lebih memusatkan pada problema-problema yang dihadapinya dalam
masyarakat. Kurikulum ini bersumber dari aliran pendidikan interaksional.
Pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi dan
kerjasama. Kerjasama interaksi tidak hanya terjadi pada siswa maupun dengan
guru, tetapi juga antara siswa dengan siswi, antara siswa dengan lingkungan
sekitarnya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui kerjasama ini
diharapkan siswa mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi
dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
d. Kurikulum Teknologi
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang
pendidikan berkembang juga teknologi pendidikan. Aliran ini ada
persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum
tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi

7
pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang lebih besar diuraikan
menjadi kompetensi yang lebih sempit dan ahirnya menjadi prilaku-prilaku
yang dapat diamati atau diukur.
Model desain pengembangan kurikulum pada PTK menurut Gay (dalam
Wahyudin 2014) adalah
a. Academic Model
Academic model/theoretical model yaitu model akademik memanfaatkan
logika ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. Kurikulum
dikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yang sesuai dengan disiplin
ilmu untuk membentuk isi kurikulum. Model ini cocok untuk para calon-calon
profesional dalam suatu bidang tertentu.
b. Experiential Model
Experiential model yaitu model kurikulum yang berorientasi pada learned
centered and activity-oriented dan process oriented. Model ini cocok untuk
pengembangan individu peserta didik dengan penekankan pada latar belakang
siswa dan orientasi lapangan kerja.
c. Pragmatic Model
Pragmatic model memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan
dengan konteks lokal/daerah. Kondisi sosio-politik mendominasi kegiatan
perencanaan kurikulum di mana proses perencanaan kurikulum harus
disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar school setting. Model ini
cocok dan relevan untuk diterapkan dalam konteks pelatihan bisnis atau
industri, termasuk di dalamnya pendidikan kejuruan yang berbasis
kewilayahan.
d. Technical Model
Dalam technical model pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem.
Sistem dapat dipahami teridiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan.
Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen
yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan,
perumusan tujuan yang spesifik, pemilihan materi, metode dan penetapan
evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Model

8
ini cocok diterapkan untuk proses belajar-mengajar dalam pendidikan teknologi
dan kejuruan di Indonesia dengan memadukan pada kurikulum berbasis
kompetensi.
Semua model kurikulum mempunyai ciri khas masing-masing dan dalam
sebuah kurikulum tidak ada yang dibentuk oleh satu model tetapi saling melengkapi
yang berbeda adalah model yang lebih dominan. Tidak ada model yang terbaik dan
sesuai untuk semua zaman. Setiap model itu baik dan sesuai untuk kondisi zaman
tertentu. Pengembang kurikulum dapat memilih salah nsatu model yang dianggap
sesuai atau mengkombinasikan beberapa model untuk menyusunsuatu model baru.

4. Jelaskan faktor-faktor apa saja yang harus dipertimbangkan dalam


menentukan isi kurikulum PTK!
Untuk mengembangkan materi kurikulum yang berkualitas tergantung pada
beberapa faktor. Faktor-faktor ini mempunyai dampak yang besar untuk
menentukan kualitas materi kurikulum. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan
dalam menentukan isi kurikulum menurut Finch dan Grunkilton (1984) adalah:
a. Waktu yang Dibutuhkan dan Waktu yang Tersedia
Salah satu faktor yang paling penting untuk mengembangkan materi
kurikulum adalah waktu yang tersedia dengan waktu yang dibutuhkan.
Mengembangkan materi kurikulum yang berkualitas akan membutuhkan waktu
yang cukup lama. Ketika waktu yang tersedia sedikit yang harus diperhatikan
tidak hanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan materi kurikulum
tetapi juga harus dipikirkan waktu untuk uji coba, revisi, mencetak dan
menyelesaikan secara keseluruhan.
b. Keahlian yang Tersedia
Apabila dalam tim pengembang materi kurikulum tidak terdapat orang-
orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan
materi kurikulum, maka harus mencari bantuan dari luar. Ahli yang diperlukan
dalam mengembangkan kurikulum seperti teknik informatika, editing, media
dan penerbit.

9
c. Biaya yang Tersedia
Jika jumlah uang yang tersedia cukup kualitas dalam pengembangan materi
kurikulum akan mendapat dampak yang baik.
d. Membuat Keputusan Mengenai Pengembangan Kurikulum
Sebagai pendidik, untuk memulai mengembangkan kurikulum, ada
beberapa keputusan penting yang harus dibuat, yaitu:
 Materi apa yang sebaiknya dikembangkan? Mengapa?
 Siapa yang sebaiknya mengembangkan materi?
 Kapan sebaiknya materi dikembangkan?
 Di mana sebaiknya materi dikembangkan?
e. Target Populasi
Target populasi merupakan pengguna materi kurikulum yang sedang
dikembangkan. Ada dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan
target populasi pada proses pengembangan, yaitu:
 Tingkat kelas, siapa yang akan menggunakan materi kurikulum. Selain
itu, menentukan tingkat kelas juga membantu ahli teknik informatika
dalam membuat cover materi kurikulum;
 Menentukan apakah materi kurikulum untuk tingkat lokal, regional atau
nasional.
f. Peyebaran
Penyebaran merupakan proses distribusi produk materi kurikulum kepada
pihak yang membutuhkan. Sebuah skema rencana penyebaran dapat membantu
memastikan materi kurikulum digunakan.
g. Dukungan yang Diperlukan
Contoh dukungan tambahan untuk membantu upaya persiapan adalah
fasilitas fisik. Contoh dukungan tambahan adalah proyektor, layar, mesin
thermofax dan peralatan lainnya.
Selain itu, dukungan moral juga dibutuhkan dalam proyek ini untuk
mengembangkan materi kurikulum pendidikan kejuruan yang berkualitas.
Dalam mengembangkan materi kurikulum dibutuhkan dukungan dari
administrator kejuruan dan pengawas kejuruan.

10
h. Alternatif Pengembangan
Ada dua pendekatan untuk alternatif pengembangan yaitu:
 Pengembangan oleh satu orang yaitu pendekatan pengembangan
dilakukan oleh satu orang. Input data dapat diperoleh dari orang lain
seperti atasan, kolega dan para ahli. Sedangkan uji coba, revisi dan
penyelesaian keseluruhan dikerjakan oleh satu orang.
 Pengembangan oleh tim yaitu semua proses pengembangan materi
kurikulum dari input data sampai peneyelesaian keseluruhan dilakukan
oleh tim.

5. Apa saja yang menjadi karakteristik dari kurikulum PTK?


Tabel 1 Karakteristik Pendidikan Kejuruan

Sumber: Pardjono, dkk (2003)

Menurut Wagiran (2007: 8) secara eklektik keempat aliran filsafat (realisme,


idealisme, pragmatisme dan rekonstruksio) dapat diterapkan pada pendidikan
kejuruan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Prinsip-prinsip
pendidikan kejuruan yang kiranya layak saat ini meliputi: kurikulum yang realis
(mengacu pada kompetensi) dan idealis (humanistik), diikuti dengan proses
pembelajaran pragmatis (problem based learning) dan rekonstruksionisme.
Selain itu dari uraian mengenai karakteristik pendidikan kejuruan dari Finch
dan Crunkilton dapat dijadikan acuan di dalam pengembangan kurikulum

11
pendidikan kejuruan di Indonesia. Kurikulum pendidikan kejuruan yang
dikembangkan di Indoneisa sebaiknya mengacu pada karakteristik sebagai berikut:
a. Pendidikan kejuruan diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik
memasuki lapangan kerja;
b. Pendidikan kejuruan didasarkan atas kebutuhan dunia kerja;
c. Fokus isi pendidikan kejuruan ditekankan pada penguasaan pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja;
d. Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan peserta didik harus pada
“hands-on” atau performance dalam dunia kerja;
e. Hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci keberhasilan
pendidikan kejuruan;
f. Pendidikan kejuruan yang baik adalah responsif dan antisipatif terhadap
kemajuan teknologi;
g. Pendidikan kejuruan lebih ditekankan pada “learning by doing”;
h. Pendidikan kejuruan memerlukan fasilitas yang mutakhir untuk praktek
sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.

6. Jelaskan prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum PTK!


Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum PTK menurut Wagiran (2007:
9) yaitu:
a. Desain kurikulum haruslah peka dengan kondisi ke depan
Tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak lagi
berjalan secara linier membutuhkan seseorang yang tidak hanya mengandalkan
kemampuan teknis dalam suatu bidang, namun diperlukan pengembangan
aspek lain secara terpadu seperti daya adaptasi, etika, moral, kemampuan
information technology, komputer dan sebagainya. Oleh karena itu sudah
saatnya kurikulum lebih diarahkan pada upaya pengembangan potensi siswa
secara menyeluruih dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Konsep-
konsep kecerdasan ganda, multiple inteligent, life skill dan brad based perlu
diterapkan sesuai konteks masing-masing.

12
b. Perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional
Sistem pendidikan yang membekali peserta didik dengan kecakapan hidup,
kompetensi dan kemampuan mengembangkan diri sesuai dengan lingkungan
dan tuntutan hidupnya. Pendidikan sudah saatnya diletakkan pada empat pilar
belajar yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan
(learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together)
dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
c. Pendidikan adalah proses hominisasi dan humanisasi
Pendidikan adalah proses hominisasi dan humanisasi yaitu proses
memanusiakan manusia muda menjadi pribadi yang utuh. Manusia yang utuh atau
sempurna adalah apabila dapat mengembangkan unsur rasionalitas, kesadaran, akal
budinya (pengetahuan), mengembangkan segi spiritualitas, moralitas, sosialitas,
keselarasan dengan alam serta rasa dan emosinya. Bila manusia yang kita inginkan
adalah manusia yang utuh dalam semua segi kemanusiaannya maka jelas bahwa
pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik/manusia muda menjadi
manusia haruslah menyangkut semua unsur kehidupan manusia seperti
spiritualitas, moralitas, sosialitas, rasa, rasionalitas.

7. Dalam mengimplementasikan kurikulum PTK pendidikan berbasis


kompetensi (PBK) bagian yang tidak bisa dikesampingkan, jelaskan
mengapa dan apa yang dimaksud dengan PBK?
Dua pertimbangan perlunya menerapkan Pendidikan Berbasis Kompetensi
(PBK) menurut Mardapi (dalam Rahdiyanta, 2003: 1) adalah:
a. Persaingan yang terjadi di era global terletak pada kemampuan SDM hasil
lembaga pendidikan;
b. Standar kompetensi yang jelas akan memudahkan lembaga pendidikan
dalam mengembangkan sistem penilaiannya.
Berdasarkan dua pertimbangan tersebut, sesungguhnya penerapan PBK bukan
semata-mata sebagai upaya perbaikan terhadap kurikulum sebelumnya, akan tetapi
lebih disebabkan oleh situasi dan kebutuhan masyarakat yang menuntut tersedianya
sumber daya manusia yang unggul dan kompeten.

13
PBK menurut Saylor (1981) adalah kompetensi yang mempunyai karakteristik
spesifik: “…a design based on specific competencies is characterized by specific,
sequential, and demonstrable learning of the task, activities, or skill which
constitute the acts to be learned and performed by student.” Pusat kurikulum
Balitbang Depdiknas (2002: 3), mendefinisikan bahwa PBK merupakan perangkat
rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai
siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya
pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi
pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui
serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat
diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya. Penerapan PBK berorientasi pada
pembelajaran tuntas (mastery learning).
PBK memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata
pelajaran. Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengetahuan,
keterampilari, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam
mempelajari suatu matapelajaran. Cakupan standar kompetensi standar isi (content
standard) dan standar penampilan (performance standard). Kompetensi dasar,
merupakan jabaran dari standar kompetensi yaitu pengetahuan, keterampilan dan
sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-
masing standar kompetensi.
Materi pokok atau materi pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang
dapat berupa bidang ajar, isi, proses, keterampilam, serta konteks keilmuan suatu
mata pelajaran. Sedangkan indikator pencapaian dimaksudkan adalah kemampuan-
kemampuan yang lebih spesifik yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai
ketuntasan belajar.
PBK menekankan pada mengeksplorasi kemampuan/potensi peserta didik
secara optimal, mengkonstruk apa yang dipelajari dan mengupayakan penerapan
dalam kehidupan sehari-hari. PBK berupaya mengkondisikan setiap peserta didik
agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan
dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sehingga proses penyampaiannya harus
bersifat kontekstual dengan mempertimbangkan faktor kemampuan, lingkungan,

14
sumber daya, norma, integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja, dengan kata
lain PBK berorientasi pada pendekatan konstruktivisme

DAFTAR PUSTAKA

Calhoun, C.C. dan Finch, A.V. (1982). Vocational Education: Concept and
Operations. Belmount California: Wads Worth Publishing Company.

Depdiknas. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Finch, C. R. and Grunkilton, J.R. (1984). Curriculum Development in Vocational


and Technical Education. Boston-London-Sydney-Toronto : Allyn and Bacon,
Inc.

Kamri, N. (2012). Prinsip, Karakteristik dan Asumsi Pendidikan Teknik Kejuruan.


[Online]. Diakses dari http://nrkamri/p/prinsip-karakteristik-dan-asumsi.html.

Pardjono, dkk. (2003). Pendidikan Kejuruan dengan Kurikulum Berbasis


Kompetensi Berorientasi Kecakapan Hidup. Makalah Disampaikan pada
Lokakarya Pembelajaran dengan KBK Berorientasi Kecakapan Hidup Tanggal
29-30 April 2003. Yogyakarta: FT-UNY.

Rahdiyanta, D. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK): Pengertian dan


Konsep KBK. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional Implementasi
KBK Tanggal 11-12 Agustus 2003. Yogyakarta: FT-UNY.

Sanusi, A. dkk. (1991). Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional


Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung.

Saylor, J.G. dkk. (1981). Curriculum Development dan Design. Sidney: Allen &
Unwin.

Sukmadinata, N. S. (2010). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT.


Remaja Rosda Karya.

15
Sukmadinata, N. S. (2005). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Sururi. (2002). Pengembangan Visi Sekolah: Meningkatkan Profesionalisasi Guru


dan Kepala Sekolah. Makalah Disampaikan pada Kegiatan P2M Tanggal 19
Oktober 2002. Yogyakarta: FT-UNY.

Wagiran. (2007). Telisik Aliran Filsafat Pendidikan: Implikasinya dalam


Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Kejuruan. Makalah Disampaikan
pada Seminar Nasional Telisik Hambatan Pelaksanaan SMK dan Solusinya
Tanggal 27 Januari 2007. Semarang: UNNES.

Wahyudin, D. (2014). Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

16