Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA

BENDUNG DASAR

Kelompok II :

1 Muhammad Panatagama Syahid 1172004005


2 Alya Shinta Pramitasari 1172004004
3 Siti Aisyah Truida R. Sjamsoeddin 1172004007
4 Nabilla Nurdiyanti 1172004045

PJ Kelompok : Siti Aisyah Truida R. Sjamsoeddin


Asistensi Modul : Anisa Wulandari
Tanggal Praktikum : Ahad, 29 April 2018
Tanggal Disetujui :
Nilai Laporan :
Paraf Asisten :

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI DAN SUNGAI


JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2018
H.10. BENDUNG DASAR.

A. Tujuan
1. Menentukan koefisien kontraksi dari pengukur debit berbentuk segi empat.
2. Menentukan koefisien kontraksi dari pengukur debit berbentuk segi tiga.

B. Teori.

Pada ponton diterapkan hukum Archimedes dan prinsip kestabilan benda


terapung. Pada ponton terdapat dua gaya yang bekerja yaitu gaya berat ponton dan gaya
apung fluida yang bekerja pada ponton.

Sebuah ponton berbentuk kotak terapung dalam keadaan seimbang. Berat


benda terapung bekerja vertikal ke bawah melalui titik berat dan diimbangi oleh suatu
gaya apung yang memiliki besar yang sama dan bekerja berlawanan arah.

Untuk memeriksa sistem kestabilan benda ini dimisalkan terjadi sebuah


perpindahan sudut yang kecil sebesar dθ terhadap kesetimbangan awal seperti pada
gambar 4.3. Titik berat zat cair berubah dari kedudukan B menjadi B1. Garis vertikal
gaya apung ditunjukkan pada gambar dan memotong perpanjangan garis BG di titik M
(Metasentris).

Gambar 4.3 juga menunjukkan bagaimana ketinggian metasentris GM dapat


ditentukan secara eksperimental dengan menggunakan beban horizontal (jockey
weight) untuk memindahkan titik berat dari G ke arah samping.
M
ds x

G1 G
ds F
L A1
C F1
A
B B1

dx

D G
Tampak Atas Tampak Depan
B

Tampak Depan

Gambar 4.3 Skema Benda Terapung

Bila perpindahan ini menghasilkan suatu posisi keseimbangan baru pada suatu
sudut guling sebesar dθ, maka pada gambar 4.3 G1 adalah posisi titik berat total yang
baru.

(4.1)

Ketinggian metasentris GM dapat ditentukan dengan mengukur (dx1/dθ) untuk


harga ω dan W yang diketahui. BM dapat dihitung dari pengukuran dimensi ponton dan
volume zat cair yang dipindahkan. Berdasarkan gambar 4.3, dapat diketahui bahwa
momen terhadap B akibat pergeseran pusat apung ke B1 dihasilkan oleh penambahan
gaya apung (digambarkan olehsegitiga AA1C) pada salah satu sisi garis sumbu dan
pengurangan gaya apung (digambarkan oleh FF1C) pada sisi yang lain.

Elemen yang berarsir pada gambar 4.3 memiliki luas sebesar ds pada tampak
atasnya dan tinggi sebesar x.dθ pada potongan vertikalnya sehingga volume elemen
adalah x.dθ.ds.w (w adalah berat jenis zat cair), ini adalah penambahan gaya apung
akibat elemen.
Momen dari elemen gaya apung terhadap B adalah w.x2.ds.dθ sehingga momen
pengembali (restoring momen) total terhadap B adalah w.dθ ∫x2.ds dimana integral
meliputi seluruh luasan s dari ponton yang terdapat pada permukaan air.

𝐼 = ∫ x2. ds (4.2)

Yaitu momen kedua dari luas s terhadap sumbu X-X. (Cari I terhadap Y-Y!)

Restoring momen total terhadap B dapat juga dicari sehingga diperoleh persamaan :

𝑤. 𝑉. 𝐵𝐵1 = 𝑤. 𝑑𝜃 ∫ 𝑥2. 𝑑𝑠 (4.3)

𝐵𝑀 = 1⁄𝑉𝑡𝑒𝑟𝑐𝑒𝑙𝑢𝑝 (4.4)

Untuk ponton berbentuk persegi panjang, B terletak pada suatu kedalaman di


bawah permukaan air, yaitu sama dengan setengah kedalaman total tercelupnya ponton
dalam zat cair tersebut, sementara I dinyatakan dalam hubungan dimensi ponton
sebagai berikut :

(4.5)

1. Lubang segi empat


2
𝑄 = 𝐶𝑑 ( ) 𝐵 √2𝑔√𝐻 3
3
Dimana :
Q = Debit aliran yang melimpas diatas dasar lubang.
Cd = Koefisien kontraksi.
B = Lebar lubang.
H = Head diatas dasar lubang
g = 9,81 m/det2
2. Lubang segitiga

8 𝜃
𝑄 = 𝐶𝑑 ( ) √2𝑔tan ( ) √𝐻 5
15 2

Dimana :
Q = debit aliran yang melimpas diatas dasar lubang

Cd = koefisien kontraksi

ϴ = sudut bukaan segitiga

H = head diatas dasar lubang.

C. Alat-alat.
1. Meja hidrolika
2. Dinding peredam
3. Alat duga dengan perlengkapan yang berbentuk jarum atau pancing
4. Bendung dasar
5. Stop watch

D. Cara kerja.
1. Menyiapkan meja hidrolika, menyiapkan alat-alat bendung dasar, menggunakan
lubang segi empat terlebih dahulu.
2. Mengatur alat-alat peraga seperti gamabar H.10. sebaiknya alat duga ditempatkan
ditengah antara bendung dasar dan dinding peredam.
3. Mengalirkan air kedalam saluran hingga melimpas melalui bendung dasar.
4. Menutup katup pengatur aliran dan diamkan sampai air diata lubang bukaan tepat
berhenti melimpas.
5. Memuka sekrup halus A lalu set 0 jarum atau pancing pada alat duga dengan
kondisi langkah 4 diatas.
6. Membuka sekrup halus C untuk menaikkan jarum atau pancing setinggi 5mm
(Head= 5 mm).
7. Mengalirkan kembali aliran, mengatur besar kecilnya debit aliran untuk
mendapatkan harga Head (H) yang telah dinaikkan (langkah 6), hal ini dapat
dilakukan dengan melihat ujung jarum atau pancing pada alat duga tepat pada
permukaan air.
8. Mencatat volume yang melimpas dalam waktu tertentu untuk mendapatkan debit
alirannya.
9. Mengulangi langkah (6-8) untuk setiap kenaikan Head kira-kira 5 mm. Hal ini
dilakukan sampai Head-nya tidak memungkinkan untuk dinaikkan lagi.
10. Mengulangi langkah (1-9) untuk lubang segitiga.
Spesifikasi alat :
a. Lebar lubang segi empat (B) = 3 cm
b. Sudut bukaan segi tiga (ϴ) = 900

E. Pengolahan data
1. Bukaan segiempat.

DATA PRAKTIKUM
V
No H (mm) duration (S) Q (l/s)
(l)
1 15 1 8,04 0,124378109
2 20 1 7 0,142857143
3 25 1 4,92 0,203252033
4 30 1 4,55 0,21978022

TABULASI DATA
H Q
NO (m)/X (m^3/s) Q^2/3 (Y) XY X^2
1 0,015 0,000124 0,004537811 6,80672E-05 0,000225
2 0,02 0,000143 0,00493107 9,86214E-05 0,0004
3 0,025 0,000203 0,006092856 0,000152321 0,000625
4 0,03 0,00022 0,006385474 0,000191564 0,0009
∑ 0,09 0,021947211 0,000510574 0,00215

∑𝑥𝑦 0.000510574
𝑏 = ∑𝑥^2 = = 0,2374
0.00215

3 3
3𝑏 2 3.0,2734
2
𝐶𝑑 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚 = 2𝐵√2𝑔 = 2 .0,03 = 1,6145
√2.9,8
0,000124+0,000143+0,000203+0,00022
Q Teori = Rata-rata Q = = 0,0001725
4
0,015+0,02+0,025+0,03
H Terori = Rata-rata H = 4
= 0,0225
3.𝑄𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 3.0,0001725
Cd Teori = = = 0,0865
2𝐵 √2𝑔√𝐻^2 2. 0.03 √2 (9,8)√0.0225^2

𝐶𝑑 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖−𝐶𝑑 𝑃𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
Kesalahan relatif = | | (100%)
𝐶𝑑 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
0.0865−(1.6145)
=| | (100%)
0.0865

= 1.76 %

GRAFIK PERBANDINGAN KETINGGIAN MUKA AIR


TERHADAP DEBIT
0.007
0.006 y = 0.1341x + 0.0025
R² = 0.9427
0.005
Q^2/3

0.004
0.003 Q^2/3 (Y)
0.002 Linear (Q^2/3 (Y))
0.001
0
0 0.01 0.02 0.03 0.04
H
2. Bukaan Segitiga

DATA PRAKTIKUM
No H (mm) Volume (l) Duration (s) Discharge (l/s)
1 15 1 19,13 0,052273915
2 20 1 8,52 0,117370892
3 25 1 10,75 0,093023256
30 1 6,34 0,157728707

TABULASI DATA
H
NO (m)/X Q (m^3/s) Q^2/3 (Y) XY X^2
1 0,015 5,22739E-05 0,002697559 4,04634E-05 0,000225
2 0,02 0,000117371 0,004382644 8,76529E-05 0,0004
3 0,025 9,30233E-05 0,003812018 9,53004E-05 0,000625
4 0,03 0,000157729 0,005232948 0,000156988 0,0009
0,09 0,01612517 0,000380405 0,00215

∑𝑥𝑦 0.000380405
𝑏 = ∑𝑥^2 = = 0,176932
0.00215

5 5
5𝑏 2 5.0,176932
2
𝐶𝑑 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚 = 𝜃 = 18 .tan 45° = 0,00082
18 tan √2.𝑔 √2.9,8
2

5,22739+0,000117371+9,30233+0,000157729
Q Teori = Rata-rata Q = = 3,632498
4
0,015+0,02+0,025+0,03
H Terori = Rata-rata H = = 0,0225
4

3.𝑄𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 3.0,0001725
Cd Teori = = = 0,57724
2𝐵 √2𝑔√𝐻^3 2. 0.03 √2 (9,8)√0.0225^3

𝐶𝑑 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖−𝐶𝑑 𝑃𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
Kesalahan relatif = | | (100%)
𝐶𝑑 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚
0.57724−0,00082
=| | (100%)
0.57724

= 0.99 %
GRAFIK PERBANDINGAN KETINGGIAN MUKA AIR
TERHADAP DEBIT
0.006
y = 0.1407x + 0.0009
0.005
R² = 0.7291
0.004
Q^2/3

0.003
Q^2/3 (Y)
0.002
Linear (Q^2/3 (Y))
0.001

0
0 0.01 0.02 0.03 0.04
H (mm)

F. Analisa
1. Analisa percobaan

Praktikum bendung dasar ini dilakukan di Laboratorium Hidrolika,


Hidrologi, Sungai Universitas Indonesia.
Tinggi mata pancing yang ditentukan dari titik nol yaitu 15 mm, 20
mm, 25 mm, dan 30 mm. Pengukuran debit air dihitung dengan volume konstan
sebesar 1 L. Dari praktikum ini didapat kecepatan air mengalir serta debit air,
data tersebut digunakan untuk mencari koefisien kontraksi air pada lubang
bukaan. Setelah percobaan pada lubang bukaan berbentuk segiempat, praktikan
mengganti lubang bukaan dengan yang berbentuk segitiga lalu mengulangi
percobaan yang sudah dilakukan terhadap lubang bukaan segiempat.
.
2. Analisa hasil
Dari hasil pengolahan data yang dilakukan pada lubang bukaan
segiempat dapat diketahui bahwa nilai dari Cd praktikum sebesar 1,6145 dan
nilai Cd teorinya sebesar 0.0865. Kesalahan relatif nilai Cd ini adalah 1.76%.
Sementara itu pada lubang bukaan segitiga dengan ∅ = 90o Nilai Cd
praktikumnya 0.00082 dan nilai Cd teori sebesar 0.57724 dengan nilai
kesalahan relatif 0.99%. Tentu saja nilai kesalahan relatif ini sangat besar
dikarenakan kesalahan yang dilakukan praktikan. Seharusnya nilai debit dan
nilai Cd pada lubang bukaan segiempat lebih besar daripada lubang bukaan
segitiga dikarenakan aliran air yang melalui lubang bukaan segiempat dapat
mengalir lebih banyak.

3. Analisa grafik

GRAFIK PERBANDINGAN KETINGGIAN MUKA AIR


TERHADAP DEBIT
0.007
0.006 y = 0.1341x + 0.0025
R² = 0.9427
0.005
Q^2/3

0.004
0.003 Q^2/3 (Y)
0.002 Linear (Q^2/3 (Y))
0.001
0
0 0.01 0.02 0.03 0.04
H

(Bukaan segitiga.)

GRAFIK PERBANDINGAN KETINGGIAN MUKA AIR


TERHADAP DEBIT
0.006
y = 0.1407x + 0.0009
0.005
R² = 0.7291
0.004
Q^2/3

0.003
Q^2/3 (Y)
0.002
Linear (Q^2/3 (Y))
0.001

0
0 0.01 0.02 0.03 0.04
H (mm)

(Bukaan segiempat.)

Terdapat dua grafik yang dihasilkan dari percobaan ini. Terdapat tabel
perbandingan ketinggian muka air terhdap debit dari dua model bukaan.
Segiempat dan segitiga. Grafik dengan bukaan segiempat menghasilkan nilai
regresi sebesar 0,9427. Dari nilai itu dapat disimpulkan bahwa keakuratan data
mendekati akurat.
Sedangkan untuk nilai regresi pada grafik yang kedua. Didapatkan nilai
regresi sebesar 0,7291. Dari hasil ini, kualitas keakuratan data antara bukaan
segiempat dan segitiga, bukaan segiempat lebih akurat. Dari hal ini dapat ditarik
benang merah bahwa ada faktor kesalahan yang terlibat ketika praktikan
melakukan praktikum

G. Kesimpulan.

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa seharusnya debit
aliran air yang mengalir melalui lubang bukaan segiempat lebih besar daripada lubang
bukaan segitiga, selain itu nilai Cd lubang bukaan segiempat juga seharusnya lebih
besar daripada lubang bukaan segitiga. Pada laporan terdapat hasil-hasil data yang tidak
tepat dikarenakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama praktikum

H. Daftar pustaka
1.Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. 1975. Fluid Mechanics. Tokyo:
McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.
2. Lab. Hidrolika, Hidrologi, & Sungai.Pedoman Praktikum Mekanika Fluida dan
Hidrolika. Jakarta; Universitas Indonesia.
I. Lampiran