Anda di halaman 1dari 6

BAB I

RINGKASAN PROYEK

A. Data Fisik
Nama proyek : Perencanaan Rumah Sakit Gigi & Mulut dengan
pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Kendari
Lokasi : Jl. Kapten Pierre Tendean, Kec. Baruga
Luas : 2,2 ha

B. Pengertian Judul Proyek


Pengertian judul berdasarkan kata-kata yang membentuknya adalah :
Perencanaan : - Proses, pembuatan, cara merencanakan (merancangkan).
(Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, 1994).
- Sebuah proses untuk menetapkan tindakan yang tepat di
masa depan melalui tahap-tahap yang sistematik .
(Paul Davidov, 1982)
Rumah : Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) adalah sarana
Sakit Gigi & pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
Mulut kesehatan gigi dan mulut perorangan untuk pelayanan
pengobatan dan pemulihan tanpa mengabaikan pelayanan
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang
dilaksanakan melalui pelayanan rawat jalan, gawat darurat
dan pelayanan tindakan medik (PMK RI No. 1173 tahun
2004).
Arsitektur : Arsitektur yang dirancang untuk manusia yang
Perilaku menggunakan bangunan tersebut dengan memperhatikan
perilaku-perilaku manusianya. (Arsitektur dan Perilaku
Manusia, Joyce Marcella Laurens, 2004)

1
Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian Perencanaan Rumah Sakit Gigi
dan Mulut (RSGM) dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Kendari
adalah Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) yang dirancang dengan
memperhatikan perilaku-perilaku manusianya.
Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) dengan Pendekatan Arsitektur
Perilaku di Kota Kendari mengacu pada kenyamanan psikologis yang
menciptakan suasana yang tenang, nyaman dan dapat mengurangi rasa cemas,
takut, dan menunggu yang lama. Warna digunakan untuk memberi sentuhan
berbeda, sirkulasi ruang ditata seefektif mungkin untuk memudahkan pengguna.
Selain itu penggunaan furniture dan adanya vertical garden area lobby membuat
Rumah Sakit Gigi dan Mulut lebih nyaman bagi pengguna bangunan.

C. Latar Belakang
Sejak dahulu masalah kesehatan sangatlah penting. Manusia bersedia
melakukan apapun untuk menjaga agar kesehatannya terjaga, termasuk dengan
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sehat adalah keadaan sejahtera, baik dari
segi badan, mental spiritual (dirinya sendiri) maupun segi sosial budaya
(lingkungannya). Sehat merupakan kehendak semua pihak, tidak hanya oleh
perorangan, tetapi oleh keluarga, kelompok dan masyarakat. Keadaan sehat
membutuhkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah menyelenggarakan
pelayanan kesehatan (Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, 1996).
Telah jelas bahwa semakin maju budaya sebuah masyarakat akan diiringi
dengan bertambahnya tuntutan-tuntutan hidup. Salah satunya dari tuntutan
tersebut adalah tuntutan kesehatan. Khususnya kesehatan gigi dan mulut
merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan pada
umumnya. (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Situasi
Kesehatan Gigi dan Mulut, 2014).
Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia memerlukan perhatian
serius dari tenaga kesehatan, seperti dokter gigi dan perawat gigi sebab kondisi
penyakit gigi dan mulut diderita oleh 90% penduduk Indonesia (Depkes RI, 2008).
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 menunjukkan bahwa

2
prevalensi karies gigi sebesar 90,05 % (Depkes, 2004). Data dari Laporan Riset
Kesehatan Dasar tahun 2007, melaporkan bahwa 72 % penduduk Indonesia
mempunyai pengalaman karies dan 46,5 % diantaranya merupakan karies aktif
yang belum dirawat dan pada umumnya diderita anak-anak (Depkes, 2007).
Kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia baru saja dilaksanakan dan
laporannya dirilis pada tahun 2013 yang lalu. Hasil survei pemeriksaan kesehatan
dasar (rikesdas) tersebut diperoleh data bahwa angka prevalensi nasional masalah
gigi dan mulut adalah 25,9 persen, dan bahkan sebanyak 14 provinsi mempunyai
prevalensi masalah gigi dan mulut diatas angka nasional tersebut (Riset Kesehatan
Dasar, 2013). Dari masalah tersebut lebih dari 75% nya adalah berupa karies dan
penyakit periodontal. Lebih jauh ke belakang lagi, penyakit gigi dan mulut ini
pada tahun 2009 menurut data dari Ditjen Yanmed Depkes RI tahun 2010 yang
lalu, posisinya menduduki peringkat ke-8 dari sepuluh besar penyakit rawat jalan
dengan jumlah kasus untuk laki-laki sebanyak 54.004 kasus, perempuan 68.463
kasus, total 122.467 kasus dengan jumlah kunjungan 234.083 (Ditjen Yanmed
Kemkes RI, 2010). Presentase penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut
menurut Riskesdas Tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%.
(Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Dari data tersebut dapat diasumsikan bahwa permasalahan kesehatan gigi
dan mulut yang berkembang di tengah masyarakat tidak kunjung teratasi. Satu
dari empat orang secara nasional pasti mempunyai masalah dengan giginya,
bahkan hampir separuh wilayah di Indonesia yang angka prevalensinya melebihi
angka nasional tersebut.
Kota Kendari sebagai salah satu kota di Sulawesi Tenggara, Menurut
Dinas Kesehatan Kota Kendari, kondisi kesehatan gigi dan mulut berada pada
urutan 12 hingga 15 dari 20 Besar penyakit di Kota Kendari (Kota Kendari dalam
Angka, 2014). Menurut data dari RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara
2010-2014 tentang jenis pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang terbanyak
masih dilihat pada kegiatan pengobatan pulpa, yang diikuti pelayanan tumpatan
gigi tetap, pencabutan tumpatan gigi tetap, pencabutan gigi tetap dan bedah mulut.
Dimana pada Tahun 2011 berjumlah 9.854 kasus, Tahun 2012 berjumlah 9.405,

3
Tahun 2013 berjumlah 5.179 kasus dan Tahun 2014 berjumlah 5.195 (RSU
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara, 2015).
Dari data Badan Pusat Statistik, 2013 Fasilitas kesehatan Kota Kendari
dari tahun 2012, kota kendari memiliki Rumah sakit 13 unit, puskesmas 15 unit,
puskesmas pembantu 17 buah, puskesmas plus 5 buah (Dinas Kesehatan Kota
Kendari, 2012). Selama ini, pelayanan kesehatan gigi dan mulut di kota kendari
masih dilakukan di puskesmas-puskesmas, Poliklinik gigi di Rumah Sakit serta
Dokter prakter di kediamannya masing-masing, tentunya fasilitas dan ruang yang
terbatas.
Arsitektur rumah sakit diharapkan mampu mengubah image masyarakat
tentang rumah sakit. Dimulai dari penggunaan warna dan cahaya yang suram yang
semestinya digantikan dengan pemanfaatan warna dan cahaya yang lebih cerah
(meski tetap bersifat kalem/tenang). Meningkat pada penataan eksterior dan
interior yang semata-mata menekankan pada fungsi, dan selayaknya mulai diolah
menjadi fungsi dan fiksi (atau bahkan fungsi dan puisi). Lebih lanjut dapat
ditingkatkan pada citra keseluruhan rumah sakit yang harus berubah dari
“penjara” ke “resort” : pasien bukanlah pesakitan melainkan customer yang
terhormat, sementara pemberi layanan kesehatan bukanlah sipir melainkan
“customer partner” menuju sehat. (Arsitektur Rumah Sakit, 2010).
Permasalahan bagi pasien gigi dan mulut adalah rasa sakit, rasa takut dan
waktu menunggu yang lama. Pasien dengan jenis kelamin perempuan memiliki
perbedaan sedikit lebih banyak mengalami cemas dibandingkan dengan pasien
dengan jenis kelamin laki-laki. Tingkat kecemasan yang dialami pasien
berbanding terbalik dengan usia pasien. Pasien usia 18-40 tahun lebih merasakan
cemas dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Penyediaan fasilitas yang
memadai agar membuat pasien merasa nyaman sehingga dapat mengurangi
kecemasan pasien (Harfika Boky, Ni Wayan Mariati, dan Jimmy Maryono, 2013).
Untuk mendukung kondisi psikologis pasien perlu diciptakan yang
menyehatkan, nyaman, dalam arti secara psikologis memberikan dukungan positif
bagi proses penyembuhan. Desain interior dalam rumah sakit merupakan
lingkungan binaan yang keberadaannya berhubungan langsung dengan pasien.

4
Melalui elemen-elemen desain seperti warna, dapat diciptakan suasana ruang yang
dapat mendukung proses penyembuhan. (Sriti Mayang Sari, 2003)
Faktor psikologis dapat membantu pemulihan kesehatan penderita yang
sedang dalam masa perawatan di rumah sakit. Faktor tersebut dapat dibentuk
melalui suasana ruang pada fisik bangunan rumah sakit yang bersangkutan.
Kehadiran sebuah suasana tertentu diharapkan dapat mereduksi faktor stress atau
tekanan mental yang dialami oleh penderita yang sedang menjalani proses
pemulihan kesehatan. Suasana tertentu dalam lingkungan fisik rumah sakit dapat
menambah faktor stress penderita, sehingga dapat menghambat atau
menggagalkan proses pemulihan kesehatannya. (Kaplan dkk, 1993).
Untuk sebuah Rumah Sakit Gigi dan Mulut, yang tidak fokus pada
perawatan jangka waktu yang lama (rawat inap) melainkan perawatan pasien
dalam waktu singkat namun berulang kali atau rutin. Maka penerapan yang tepat
adalah dengan memberi kenyamanan psikologis bagi pasien secara psikis yang
diarahkan kepada karater ruang Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang akrab,
memberikan desain ruang yang secara psikis membuat pasien tidak merasa berada
di rumah sakit, sehingga orang tidak takut untuk datang kembali ke rumah sakit.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka, Perencanaan Rumah Sakit Gigi
dan Mulut (RSGM) dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Kendari
mengacu pada kenyamanan psikologis yang menciptakan suasana yang tenang,
nyaman dan dapat mengurangi rasa cemas, takut, dan menunggu yang lama.
Warna digunakan, sirkulasi ruang ditata seefektif mungkin untuk memudahkan
pengguna. Selain itu penggunaan bahan, furniture dan vertical garden area lobby
membuat Rumah Sakit Gigi dan Mulut lebih nyaman bagi pengguna bangunan.

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari permasalah di atas dalam perencanaan rumah sakit
gigi dan mulut di kota kendari adalah :
1. Bagaimana memilih site/tapak bangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di
Kota Kendari ?

5
2. Bagaimana merencanakan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dengan tatanan ruang
yang mampu memberikan kenyamanan psikologis bagi pasien melalui
pendekatan arsitektur perilaku di Kota Kendari?

E. Tujuan dan Sasaran Perencanaan


1. Tujuan Perencanaan
a. Memilih site/tapak bangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Kota Kendari.
b. Merencanakan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dengan tatanan ruang yang
mampu memberikan kenyamanan psikologis bagi pasien melalui pendekatan
arsitektur perilaku di Kota Kendari.
2. Sasaran Perencanaan
Sasaran pembahasan adalah untuk mewujudkan suatu landasan konseptual
perencanaan rumah sakit gigi dan mulut meliputi site/tapak, organisasi ruang, pola
hubungan ruang, sirkulasi, dan tatanan ruang dalam dan bentuk bangunan.

F. Ruang Lingkup Perencanaan


1. Ruang Lingkup Substansial
Perencanaan ditekankan pada desain interior yang dapat memberikan
kenyamanan psikologis bagi pengguna bangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut
dengan pendekatan arsitektur perilaku di Kota Kendari.
2. Ruang lingkup spasial
Lokasi perencanaan dan perancangan Bangunan Rumah Sakit Gigi & Mulut
dengan pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Kendari sesuai dengan Rencana
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kendari Tahun 2010-2030.