Anda di halaman 1dari 11

2 Minutes

Alberta Angela

Mungkin kamu memang tak pernah tahu, aku hidup dalam topeng yang
kauciptakan. Mungkin kamu tak tahu saat aku tersenyum di depanmu, saat itulah aku ingin
menangis dan merengkuhmu. Ya, tapi kamu tak tahu, dan tak perlu tahu ... Karena memang
topeng itulah yang ingin kau lihat dariku.

“ Just like this, just like this...

I look at you from up close

But why, why are we only just friends ?

No matter how strong my feelings are

I can't convey it to you

You don't understand

I'm so in love with you ”

****

Aku menutup buku kecil berwarna biru muda, beranjak dari atas tempat tidurku
dan memasukkannya buku biru muda itu di laci meja belajar dan menutupinya dengan
tumpukan buku – buku tebal. Aku menghela nafas panjang. Hari ini dadaku terasa sesak.
Sangat sesak.

Kupaksakan tanganku untuk mendorong jendela kayu yang hanya terletak


beberapa meter saja dari meja belajarku. Gemerisik gesekan air hujan masih terdengar beradu
tak kalah keras dengan lagu Menyesal yang dibawakan Ressa Herlambang. Suara jernih yang
keluar dari celah – celah garis handphone putihku masih terus menggema. Lagi – lagi rasanya
tak mampu kulukiskan. Sesak ... Tapi bukan sesak biasa, melainkan sebuah sesak kecil yang
terpompa di sudut ruang kamar seorang gadis remaja yang... di mana sesak itu berlari,
melompat .. membaur dengan nyanyian hujan, dan kembali lagi dengan sapuan angin dingin.
Kembali menguasai ruang kamar dan juga ruang hati.

bila cinta tak lagi untukku


bila hati tak lagi padaku
mengapa harus dia yang merebut dirimu

Ah, lagu itu masih terus berputar.. bersuara ... menggantikan tiap ucapan yang
ingin kuadukan. Aku cukup terdiam, dan lagu itu yang akan berbicara untukku.

Ku amati gambar pantulan di kaca jendela yang memburam. Seorang gadis


berkepang, dengan kacamata minus tebal hitam kotak bertengger di tulang hidungnya. Tak ada
yang menarik ! Sungguh, tak ada yang menarik sedikitpun dari sosok yang terlihat di buramnya
kaca sana.

Aku tak tahu, mengapa tiba – tiba saja mataku terasa panas. Aneh sekali ...
Padahal sekelilingku dingin. Ya, dingin .. Tapi kenapa ? Kenapa air mataku masih saja meleleh,
mencair tanpa bisa kuhentikan.

“ Gadis bodoh !! ” teriakku pada pantulan itu. Bayangan wajah di sana tak
menjawab, tapi justru ikut melelehkan air matanya seperti aku.

“ Hei ! Untuk apa kau menangis ? ” teriakku lagi. Tapi bayangan menyebalkan itu
tetap tak menjawab dan malah terus menjiplak ekspresi wajahku.

“ Harusnya kau sadar sejak awal ! Mana mungkin dia menyukai orang sepertimu
!!!! Bodoooooh !! Seorang gadis biasa yang terlalu banyak berharap ! apa yang kau harapkan
dari 2 menit ?! 2 menit !! HANYA 2 MENIT !!! 2 menit = 120 detik.. ” Aku berusaha menahan
emosiku yang kian meluap, dan lagu Menyesal itu masih bersenandung di atas bed cover merah
jambu kesayanganku. Hahaha, lagu itu sepertinya sedang asyik memojokkan karakter ‘aku’.
Aku mendesah lagi. Kupandang sayu bayangan buram di sana.
“ Hei, coba pikir ! Apa istimewanya ?! Bukalah matamu ! 2 menit hanyalah
waktu biasa yang akan dengan mudah terlindas oleh waktu – waktu lain yang lebih besar, dan
akhirnya hilang tak membekas. ” Aku tersenyum kecut. Bayangan di sana juga.

“ Dila, kenapa kamu nggak pernah berpikir .. 2 menit yang begitu berharga
untukmu, hanyalah kumpulan detik – detik hambar yang tak ada bedanya dengan sampah
memori di rongga otaknya. ”

Aku menengadahkan tangan, menggenggam tiap butir hujan yang masih bisa
kusentuh. Dingin. Terhempas. Sakit. Andai saja hembusan angin kencang ini bisa mengikis
sedikit saja beban dalam sosokku. Ya andai saja. Sebuah ‘andai’ dari seorang gadis bodoh yang
jelas – jelas tak mungkin terjadi.

****

“ Bu, es krim vanila nya dua ya .. pake cone. ”

“ Iya mbak, sebentar ya, ini masih ada 3 antrian lagi. ”

Seorang ibu paruh baya terlihat sibuk mengeruk es – es dalam freezer berwarna
putih tulang yang sudah terlihat agak kusam. Suasana kantin masih tetap sama tiap harinya.
Selalu ramai. Suara orang bersahut – sahutan bercampur menjadi satu dan lebih tepatnya
terdengar seperti ocehan lebah - lebah dari jarak jauh. Seperti mendengung, tak ada yang bisa
tertangkap jelas. Aku menggerak – gerakkan kaki dan tanganku yang terasa mulai gerah.
Kulirik di meja seberang, Neva ~ temanku masih sibuk dengan handpone nya, sepertinya dia
mulai lupa dengan es krim pesanannya. Aku melirik jam tanganku 13.09

“ Nyasar dek ? ”

Ah, suara itu .. Suara yang sangat kukenali.

“ Hahaha, iya kak ” sahutku tanpa menoleh.

“ Oh ya, tadi ada titipan salam buat kamu lo ”

Kali ini aku menoleh ke arahnya.

“ Dari siapa ? ”
“ Temen kakak. ”

“ Iya kalau itu aku tahu, maksudku siapa ? ” aku mulai menggerutu sebal.

“ Rahasia ... ” lelaki itu menyegir lebar.

“ Yah, kalo rahasia sih, mending gak usah disampaiin. ”

“ Ih ngambek, wkwkwk. ”

“ Biariiiiin !! ”

“ Hahaha, ntar kalo kamu tau orangnya, terus naksir gimana ? ”

“ Emang kenapa kalo ntar aku naksir. Enggak boleh ? ”

Hening ...

“ Gak boleh. Kamu bolehnya sama kakak aja.. ” suaranya terdengar datar dan ..
serius.

Deg ! Kutatap lurus matanya.

“ Hahaha, gak usah melotot gitu .. Bercanda aja kok ” ujar sosok itu sambil
mengacak rambutku pelan.

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. 13:11. Dan tampaknya
Bu Sumi, penjual es itu mengerti ketidaksabaranku.

“ Mbak, ini es krim nya. ”

“ Oh ya, makasih Bu. ” Aku segera merogoh kantongku, mengeluarkan uang 6000
dan meletakkannya di atas freezer.

“ Belinya kok 2, rakus amat. ” ledek sosok jangkung itu.

“ Satunya titipan temen. ”

“ Oh. ”

“ Aku duluan ya kak, uda ditunggu. ” segera kulangkahkan kakiku mendekati meja
Neva.
Aku menyodorkan es krim vanilla pada Neva dan mengambil posisi duduk
disampingnya.

“ Es krim di sekolah ini lumayan enak juga ya. ” komen Neva.

Aku hanya mengangguk tak bersemangat. Es krim vanilla yang kuletakkan di meja
masih belum kusentuh, benar – benar tak ada niat untuk memakannya. Pikiranku masih
melayang – layang tepat di percakapanku tadi dengan Kak Raven. Andaikan saja Kak Raven
tidak menambahkan kata ‘bercanda’..

Aku memukul mukul kepalaku. Bodoh ... Mana mungkin ! Aku dan Kak Raven
memang dekat. Tapi aku tahu Kak Raven tak menganggapku lebih dari sebatas adiknya. ‘
ADIK ’ ?? Kata itu benar – benar sukses membuatku sesak. Kenapa harus hanya sebagai
adiknya ?

Aku memukul kepalaku lagi. ‘harusnya aku bersyukur, setidaknya aku lebih dekat
dengannya, tidak lagi sebagai teman. Statusku lebih tinggi dari teman ataupun sahabat.
Sebagai adik..’ Kata konotasi yang seolah aku dan dia saudara. Saudara ??? Sungguh, aku tak
pernah berharap kami adalah saudara.

“ Dila .. Dila ... !! ”

Aku menoleh dengan malas.

“ Kamu sakit ? ” suara Neva terdengar sedikit khawatir.

Aku menggeleng, “ I’m okay. ”

“ Es kamu ... ”

Aku memperhatikan es vanilla yang masih kuletakkan di meja kantin. Meleleh.

“ Tiba – tiba aku males banget makan es. Buat kamu aja. ” sahutku asal.

Aku menatap lurus di depanku.

Deg ! Lagi lagi aku tersentak. Kak Raven ! Dia duduk bersama sekumpulan
teman – temannya di meja yang bersebrangan dengan ku. Meski dalam jarak radius 2 meter,
aku masih bisa melihat jelas detil wajahnya. Wajahnya yang manis, pointed nose, rambutnya
yang sedikit acak – acakan tapi tetap keren, dan senyumnya yang selalu membuatku tak bisa
berhenti mengaguminya.

Dan dia tersenyum . TERSENYUM ! Aku tak tahu seperti apa eskpresiku saat itu.
Yang pasti aku senang.

“ Dilaaaaa ! ”

“ Eh, iya .. apa ? ”

“ Kamu ini kenapa sih ? Kok aneh ..”

Neva ... Ya, Neva.. Sahabatku sejak SD, yang baru saja pindah ke SMA ini. Ada
Neva di sini.. Kenapa aku baru sadar kalau sedari tadi, semua mata memang mengarah pada
sahabatku, Neva. Kenapa aku baru sadar kalau di sampingku ada temanku yang begitu manis
dan cantik. Aku langsung bertanya – tanya, yang kamu pandang itu aku atau dia ?

“ Tuh kan diem lagi. ”

“ Sori, aku lagi gak enak badan. Aku ke toilet dulu ya. ”

Aku segera beranjak dari tempat itu. Tempat yang membuatku perasaanku
bercampur aduk. ‘Entah mengapa aku begitu takut. Takut kalau kamu tertarik pada dia dan
berusaha mengenalnya lebih jauh.’

Drrt ... Wake me up.. Wake me up inside .. I can’t wake up .. Wake me up inside ..
Save me .. call my name and save me from the dark .. Drttt ..

Kuusap mataku pelan. Sembab. Kuraih handphone di atas meja dan mematikan
alarmnya.

Kutarik nafas panjang. “ 2 minutes .. Mimpi itu lagi ... ”

****

Aku masih sibuk dengan tumpukan buku – buku tebal yang harus kukerjakan.
Minggu ini tugasku memang menggunung. Aku menutup buku Biologi. Kurasa tak ada
salahnya beralih ke laptop sejenak.
Kubuka facebook ku dan mulai meniti notification, membalas komentar – komentar
dari temanku sampai aku merasa bosan.

Aditya Raven : Belum tidur dek ?

Hah chat dari Kak Raven ?

Dila_Rhea : Belum, masih ngerja’in pe –er. ”

Sudah seminggu sejak kejadian 2 minutes itu. Sudah seminggu pula kepindahan
Neva di sekolah yang sama denganku. Tiba – tiba saja muncul rasa penasaranku. Aku ingin
tahu bagaimana pendapat Kak Raven tentang sahabatku itu.

Segera jemariku mengetik “ Kak, masih inget sama temenku, Neva k.. ”

Belum selesai aku mengetik, chat baru sudah terpampang di monitorku.

Aditya Raven : Eh, btw gimana kabar temenmu, si Neva ?

Aku menghela nafas panjang. Ku delete kalimatku tadi, dan kuganti “ Kemarin
agak flu.” lalu kutekan tombol Enter.

Aditya Raven : Oh, iya sih, skarang lagi musimnya flu.

Dila_Rhea : Iya, makanya doa’in Neva cepet sembuh

Aditya Raven : Of course  Eh dek, kakak boleh minta nomer hp nya Neva ?

Ku tatap kotak kecil di sudut monitor yang penuh dengan chat antara aku dan Kak
Raven. Kalimat terakhir yang kubaca cukup membuatku kembali terhempas. Ternyata benar,
yang dilihat Kak Raven memang Neva, bukan aku. Mataku kembali memanas. Dengan sisa –
sisa pandangan yang agak buram, aku segera mengetik lagi.

Dila_Rhea : Boleh kok , 089 735 051 12 itu nomernya. Coba cek aja. Btw aku off
dulu ya kak, mau nerusin PR yang masih menggunung -_- Bye 

Langsung kucabut modem yang masih tertancap di USB laptop acer ku dan ku
tekan tombol power nya beberapa detik. Mati. Ya, aku mematikan laptopku dengan paksa.

Air mataku tumpah lagi. Entah sudah berapa kali aku membuang air mataku sia –
sia. Dan aku juga tak tahu apakah aku patut menyebutnya sia – sia ?
Pikiranku melayang pada Neva. Kenapa harus Neva ? Kenapa selalu Neva yang
dilihat orang ? Kenapa harus Neva yang mencuri kebahagiaanku ? Kenapa harus sahabat
kecilku itu ?

Pikiranku kalut. Sejak kecil, Neva memang sudah cantik. Banyak orang yang
melihatnya, lalu menginginkannya. Memang, kalau kami bersebelahan, akan banyak yang
berkomentar. ‘Beda banget ya ..’ Tapi segera kutepis kenangan buruk itu. Bagiku Neva adalah
sahabat yang baik, dia selalu membelaku jika ada orang yang membanding – bandingkan aku
dengannya. Tapi tetap saja, kenapa saat ini aku merasa sangat membencinya. Aku benci Neva !
Aku benci orang yang seharusnya tak aku benci . Dan suara setan – setan kecil menggema
dengan merdu, membujuk untuk menambahkan sehasta lagi rasa benci di sana. Dan tampaknya
setan – setan itu berhasil.

****

Hari – hari di sekolah masih berlalu seperti biasa, dan terlihat normal. Hubunganku
dengan Neva juga terlihat masih akrab – akrab saja. Hahaha, tak terasa sudah dua minggu aku
begini, sepertinya aku sudah benar – benar telah menjadi sahabat yang bermuka dua. Meskipun
aku tahu betapa baiknya Neva, tapi tetap saja, rasa takut kehilangan itu tetap ada. Hal itulah
yang membuatku berubah memiliki 2 sisi. Di satu sisi aku menyayangi Neva sebagai
sahabatku, di sisi lain aku juga menyimpan seonggok benci untuknya.

****

I have died everyday waiting for you .. Darling don’t be afraid I have loved you..
For a thousand years .. I love you for a thousand more ...

Ku raih handphone . Neva is calling .. Ku tekan accept.

“ Ada apa Nev ? ”

“ Dila, ntar sore jam 4 ke Memosa Park yuk. ”

“ Memosa Park ?”
“ Iya, amusement park yang ada cafe nya, di jalan Kenanga deket kantor pos. Tau
kan .. ”

“ Iya, tau .. emang mau ngapain ke sana ? ”

“ Kak Raven ngajak ke sana. Sekalian ngajak kamu, tapi aku yang disuruh
ngabarin, soalnya pulsa Kak Raven abis. ”

“ Oh .. ”

“ Dateng ya .. please .. ”

“ Iya ntar aku dateng.”

“ Oke, Thanks ”

Kak Raven .... sekarang, orang pertama yang kakak anggap bukan aku lagi.
Mungkin saat ini aku ada di posisi jauh di bawah Neva. Setidaknya seperti itu kan kak ?
Kusimpan rasa sesak itu serapi mungkin, dan segera bersiap untuk ke Memosa Park.
Kuputuskan untuk tidak mengepang rambutku, untuk kali ini saja aku mengganti kacamata ku
dengan contact lens, dan kali ini saja aku mengenakan dress. Kali ini saja.. Aku ingin tampil
berbeda di mata Kak Raven. Ya, hanya kali ini saja ...

****

Aku masih berdiri mematung di depan Memosa Park. Taman hiburan yang luas
dengan aneka permainan di dalamnya.

“ Dila !!! ” Kak Raven melambai. Aku langsung mengenalinya. Sosok tinggi
dengan kemeja bermotif kotak – kotak ungu dan celana jeans hitam. Rambutnya masih acak –
acakan. Tapi lebih rapi dari biasanya.

Kupercepat langkahku menghampiri Kak Raven.

“ Neva belum datang ? ” tanyaku pelan.

Kak Raven menarik tanganku dan langsung berceloteh tentang macam – macam
permainan di sana, dan menawari untuk mencoba permainan itu satu persatu. Aku menghela
nafas pendek. Apa dia tak mendengar pertanyaanku. Ah, sepertinya dia memang tidak
mendengar. Aku ingin mengulang pertanyaanku, tapi langsung kuurungkan. Kapan lagi aku
memiliki waktu seperti ini dengan Kak Raven sejak ada Neva ? Sekali lagi kuhela nafas
pendek. Kuputuskan untuk menghabiskan saat – saat ini tanpa mengingat Neva. Aku jahat ?
Mungkin.

“ Huft .. seru ya ! ” ucap Kak Raven di tengah ramainya kerumunan.

“ Iya ! ” jawabku setengah berteriak. Hari itu aku benar – benar menikmati tiap
waktu dengan Kak Raven.

“ Ke cafe sana yuk. ”

Aku hanya mengangguk.

“ Eh kamu manis lo kalau pake dress. ” kata Kak Raven sesampainya di cafe.

Aku tersenyum kecil, “ Tapi kalau Neva yang pake, pasti lebih dari aku kok. ”

“ Tapi cuma kamu adik kakak yang .... ”

“ Aku ke toilet dulu ya kak. ” selaku sebelum Kak Raven menyelesaikan


kalimatnya. Aku segera berlari kecil meuju toilet. Toilet di sana masih sepi. Ku ambil tissue
gulung yang terletak di dekat wastafel.

Biarkanlah kurasakan
hangatnya sentuhan kasihmu
bawa daku penuhiku
berilah diriku
kasih putih di hatiku...

Lagu Kasih Putih mengalun sendu dari speaker cafe. Melodinya menenangkan, tapi
kenyataan, alunan lagu itu justru membuat air mataku makin tak terbendung.

“ Hahaha, ternyata memang cuma ‘adik’ ya.”

Aku menghapus air mataku yang mengalir perlahan.

Aku mendesah lirih, “ Kalau saja kakak melihatku bukan sebagai adik... ”
“ Dila , maaf ..”

Aku tersentak. Kak Raven ? dia di sini ?

“ Aku tak pernah memandangmu sebagai adik lagi, since the first of 2 minutes ... ”

****