Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

HIPOSPADIA

1. PENDAHULUAN
Dengan insidensi sekitar 1:300, hipospadia menjadi anomaly genital
tersering yang dijumpai pada bayi laki-laki. Hipospadia sendiri didefinisikan
sebagai sebuah anomali (hipo atau displasia) yang melibatkan aspek ventral dari
penis, yaitu kegagalan perkembangan uretra spongiosa dan preputium ventral
bersamaan dengan berhentinya koreksi embriologis normal dari kurvatura penis
(Djakovic et al. 2008; Baskin & Ebbers 2006). .
Malformasi ini khususnya mengenai bagian ventral meatus uretra eksterna
disertai abnormalitas kurvatura ventral penis (chordee) dan atau distribusi
abnormal dari kulit. Luasnya malformasi bervariasi. Meatusnya dapat terletak di
dekat ujung glans penis, granular, coronal, subcoronal, disepanjang batang penis,
penoscrotal, scrotal dan perineal. Bentuk dan luas dari malformasi meatus uretra
bervariasi dan pada beberapa kasus benciptakan jarak yang besar sehingga
menyerupai mulut ikan. Kejadian stenosis malah jarang ditemukan (Djakovic et
al. 2008; Baskin & Ebbers 2006).
Secara umum, bentuk hipospadia yang berat biasanya diikuti dengan
abnormalitas kurvatura penis atau chordee. Hal ini terjadi karena perbedaan
panjang antara aspek ventral dan aspek dorsal dari penis (disproporsi corpora
cavernosa penis). Hipospadia proksimal biasanya mengalami transposisi
penoscrotal dan atau scrotum bifida. Abnormalitas lebih lanjut berhubungan
dnegan preputium. Umumnya, pada bagian dorsal glans penis ada kelebihan kulit
dengan sedikit pelipatan kulit di aspek ventral, pada sebagian kasus, frenulum
seluruhnya menghilang dan jika preputium ada prosedur sirkumsisi dihindari
(Djakovic et al. 2008).
Penis yang mengalami hipospadia secara anatomis hampir sama dengan
penis normal, setidaknya menyangkut sepanjang aspek dorsalnya. Bagaimanapun,
aspek ventralnya tetappatologis: perkembangan preputiunya tidak lengkap,
pembentukan planum uretra kenjadi uretra tidak sempurna dan kekurangan corpus
spongiosum. Secara histologist, lempeng uretra tersusun dari jaringan

1|Page
tervaskularisasi dengan endotel sinus yang besar mengelilingi spongiosum uretra.
Fibrosis dan sikatrik jarang ada. Karakteristik ini membuat lempeng uretra ideal
untuk dilakukan uretroplasti. Perkembangan lempeng uretrasecara genetis
dipengaruhi oleh diferensiasi sel, aktivitas hormonal dan enzimatis serta
transformasi jaringan (Baskin & Ebbers 2006).
Sebelum minggu ke 7 gestasi, struktur genitalia tidka berbeda. Setelahnya,
adanya diferensiasi jaringan termasuk juga elongasi phallus, pemberntukan uretra
dan perputium adalah dpengaruhi oleh ada tidaknya androgen dan sinyal dari gen
SRY (sex region-Y). Studi terbaru mendukung teori diferensiasi endodermal.
Berdasarkan teori ini, keseluruhan uretra adalah berasal dari sinus urogenital.
Perkembangan berkelanjutan dari lempeng uretra menhadi tuberkulum genitalis
akan diikuti fusi (penyatuan) sentral dari plika uretra. Perkembangan preputium
tidak hanya terjadi secara kebetulan karena fusi lempeng uretra namun malah
bergantung padanya. Pada kasus dimana penyatuan lempeng uretra terganggu,
preputium pada aspek ventral penis akan tetap tidak berkembang. Adanya
perubahan pada metabolism androgen misalnya defisiensi 5α-Reductase, defek
pada reseptor androgen atau adanya defek genetic dapat menjadi faktor etiologis
dari hipospadia yang ditemukan pada <5% pasien (Djakovic et al. 2008).
Hipospadia juga ditemukan sebagai bagian dari sindrom yang berbeda.
Insidensi hipospadia meningkat diseluruh dunia kemungkinan disebabkan karena
meningkatnya polusi lingkungan. Dalam konteks ini doketahui bahwa manusia
mengkonsumsi substansi tertensu yang berhubungan dengan estrogen misalnya
pada beberapa insektisida dan obat-obatan herbal. Peningkatan kadar estrogen
akan menyebabkan perubahan perkembangan penis. Etiologi dari hipospadia
secara umum kini masih tidak diketahui (Djakovic et al. 2008).
2. ANATOMI DAN EMBRIOLOGI
Anatomi dari penis dengan hipospadia adalah hampir sama dengan penis
normal kecuali bahwa pada aspek ventralnya mengalami kegagalan
perkembangan uretra spongiosum. Analisis histologis menunjukkan bahwa
lempeng uretra pada pasien hipospadia adalah tervaskularisasi dengan baik
dengan sinusoid pada uretra spongiosa yang gagal berkembang, tanpa adanya
jaringan luka. Saraf baik pada penis normal maupun pada yang hipospadia juga

2|Page
hampir sama. Nervus dorsalis berasal dari nervus pudendus dan berlanjut menjadi
2 bagian, menuju superior dan agak ke lateral uretra. Karena 2 corpus cruris akan
menyatu menjadi corpus cavernosa, nervus berpisah dan menyebar di sekitar
corpus cavernosa sampai dengan perbatasan dengan uretra spongiosa. Posisi jam
12 pada penis dengan hipospadia adalah masih mempertahankan struktur neuronal
sama seperti penis normal. Pada bagian hilum penis dimana corpus mulai
memisah, saraf untuk cavernosa yang berasal dari plexus pelvicus akan
mengirimkan neuronal nitric oxide synthase (nNOS)–serabut positif untuk
bergabung dengan nervus dorsalis penis. Hampir sama dengan nNOS yang
bersifat negative yang terletak ventral, nervus pernealis yang berasal dari nervus
pudendus akan menjadi reaktif pada perbatasan cavernosa-spongiosa (Djakovic et
al. 2008; Baskin & Ebbers 2006; Morgan et al. 2003).
Pembentukan genitalia eksterna merupakan proses perkembangan yang
kompleks yang melibatkan pemrograman genetic, diferensiasi sel, sinyal
hormonal, aktivitas enzimatis dan remodeling jaringan. Sebelum minggu ke 7
gestasi terbentuk tuberkulum genitalia maskulina dan feminine yang tidak
berbeda. Gene dari sonic hedgehog, bone morphogenetic protein, fibroblast
growth factor, dan dari famili Hox diperlukan dalam periode kritis untuk
diferensiasi genital non androgenic. Antara minggu ke 7 dan ke 8 gestasi, gonad
pria di bawah pengaruh produk gen SRY akan menghasilkan testosterone. Salah
satu tanda maskulinisasi adalah peningkatan jarak antara anus dan struktur genital
yang diikuti oleh elongasi phallus, pembentukan uretra dari sulcus uretra dan
perkembangan preputium. Uretra (penile urethrae) terbentuk sebagai hasil fusi
tepi medial endoderma plika uretralis. Sebelum minggu ke 16 gestasi, glandula
uretralis muncul. Bukti saat ini , mendukung konsep diferensiasi endodermal yang
menyatakan bahwa epithelium keseluruhan uretra berasal dari sinus urogenital.
Seluruh uretra maskulina, termasuk glandular uretra adalah terbentuk dari
pertumbuhan bagian dorsal dari lempeng uretra ke dalam tuberkulum genital
kemudian diikuti fusi atau penyatuan dari plika uretralis (Morgan et al. 2003).
Struktur yang nantinya akan menjadi preputium terbentuk pada waktu
yang sama dengan uretra dan tergantung pada perkembangan uretra normal. Pada
sekitar umur 8 minggu gestasi muncul plika preputium yang sangat rendah pada

3|Page
kedua sisi batang penis yang kemudian bertemu di dorsal untuk membentuk suatu
struktur peninggian yang datar pada batas proksimal corona glandis. Peninggian
ini tidak seluruhnya menyelubungi glans karena di bagian ventrum terblok oleh
perkembangan uretra. Jika plika genitalis gagal berfusi maka jaringan preputium
tidak akan terbentuk di bagian ventral sebagai konsekuensinya jaringan preputium
tidka ada di ventrum dan akan berlebihan di dorsal seperti pada hipospadia
(Baskin & Ebbers 2006; Arap & Mitre 2000; Ahmeti et al. 2009).
3. ETIOLOGI
Satu penjelasan yang masuk akal sebagai penyebab meningkatnya
insidensi hipospadia di seluruh dunia adalah adanya kontaminasi lingkungan.
Banyak substansi yang mengganggu sistem endokrin ditemukan di air dalam
jumlah sedikit kemudian terakumulasi pada organism sebagai bagian rantai
makanan. Untuk alasan ini, predator pada mata rantai tertinggi (ikan besar,
burung, mamalia laut dan manusia) terakumulasi dan menyimpan kandungan
kontaminan dalam kadar yang tinggi pada jaringan adiposenya. Pada jaman
dahulu, faktor lingkungan disingkirkan sebagai penyebab hipospadia. Sebagai
contoh, terjadinya hipospadia pada keluarga derajat pertama dipercaya
dipengaruhi oleh komponen genetik dan herediter. Peningkatan insidensi dalam
30 tahun ini pada kejadian abnormalitas traktus reproduksi laki-laki terjadi dengan
peningkatan produksi dan penggunaan materi sintetis kimia yang berperan penting
sebagai etilogi pada masalah ini (hipospadia, undesensus testis dan penurunan
jumlah sperma) (Baskin & Ebbers 2006; Djakovic et al. 2008).
Manusia juga terpapar secara in utero terhadap diethylstilbestrol (DES)
sehingga mengalami berbagai masalah saluran reproduksi, misalnya abnormalitas
uretra dan masalah urinasi adalah lebih tinggi pada anak yang terpapar DES. Efek
dari DES kemungkinan bukan merupakan hasil dari kerusakan genetis namun
lebih kepada hasil interupsi ekspresi genetik oleh komponen xenobiotik in utero.
Data eksperimental pada binatang mendukung hipotesis bahwa paparan maternal
terhadap disruptor endokrin (senyawa estrogenic) menyebabkan hipospadia pada
fetus. Activating transcription factor 3 diketahui meningkat pada pasien dengan
hipospadia dan secara umum diketahui diregulasi oleh senyawa estrogenic (Arap
& Mitre 2000; Ahmeti et al. 2009; Morgan et al. 2003).

4|Page
4. KLASIFIKASI
Klasifikasi anatomis
dari hipospadia melihat pada
letak meatus tanpa
memperhitungkan kurvatura
penis. Klasifikasi saat ini
mengindikasikan letak meatus
uretra (sebelum dan sesuada koreksi chordee), preputium (inkomplit atau
komplit), glans (terbelah, incomplete cleft atau datar), lebarnya lempeng uretra
dan derajat rotasi penis jika ada serta adanya transposisi skrotum (Hadidi 2006;
Baskin & Ebbers 2006).
Keterangan gambar (panah
menunjukkan meatus uretra eksterna):
A> Glandular meatus
B> Meatus di subcorona
C> Hipospadia midshaft
D> Hipospadia penoscrotal
E> Hipospadia scrotal
F> Hipospadia perineal
5. TERAPI
Terapi satu-satunya untuk kondisi hipospadia adalah dengan pembedahan
defek anatomis. Faktanya ada lebih dari 300 operais berbeda yang telah
disebutkan di literature. Keberhasilan dari pembedahan diperoleh pada sebagian
besar pasien, namun ada juga yang mendapatkan hasil keluaran yang kurang baik
meninggalkan bekas luka operatif dengan bentuk genitalia abnormal disertai
kesulutan dalam berkemih serta hasil kosmetk yang kurang bagus. Pasien dengan
hipospadia juga akan mengalami masalah seksualitas. Tujuan dari terapi bedah
adalah untuk merekonstruksi penis yang lurus dengan meatus kecil pada ventrum
aspek ujung glans sehingga pancarannya mengarah lurus dan coitus bisa
berlangsung normal (Baskin & Ebbers 2006; Djakovic et al. 2008).
Waktu yang tepat untuk dilakukan pembedahan adalah pada usia 6 bulan
pada bayi yang sehat. Dengan dokter anestesi pediatric, blok saraf kaudal dan soft

5|Page
diversion catheter standar pembedahan yang aman dapat dicapai. Pada kasus yang
parah, kadang diperlukan 2 tahap operasi. Tahap kedua dapat dilakukan ketika
proses penyembuhan luka sudah selesai, 6 bulan dari operasi pertama kira-kira
sekitar umu 1 tahunan. Pembedahan seawal mungkin akan menghindarkan
kecemasan pada periode anak dan berfungsi pada pelatihan berkemih selanjutnya.

Keterangan: waktu yang tepat untuk


melakukan pembedahan dengan
mempertimbangkan aspek emosional,
identitas seksual dan kognitif (Hadidi
2006).

Pembedahan
Kunci dari teknik pembedahannya dilihat dari kualitas kulit dan
spongiosum dari meatus uretra yang abnormal. Sebagai contoh, hipospadia
glandular atau distal dapat saja mempunyai kualitas uretra spongiosum dan kulit
yang buruk dan rekonstruksi akan membutuhkan pemotongan uretra yang sehat
atau dengan kata lain mengubah hipospadia dari distal ke proksimal. Sebagai
alternatif, uretra dapat mempunyai glans yang normal dengan meatus yang
normal juga namun ada abnormalitas pada sepanjang batang penis yang
perkembangan spongiosumnya kurang baik, suatu keadaan yang disebut chordee
tanpa hipospadia. Kondisi ini akan membutuhkan uretroplasti penis dengan flap
atau teknik tubularisasi. Konfigurasi dari glans juga penting diperhatikan selama
pembedahan. Adanya sulcus granular yang dalam adalah cocok untuk dilakukan
tubularisasi primer sedangkan glans yang lebih mendatar membutuhkan flap atau
insisi (Baskin & Ebbers 2006; Djakovic et al. 2008; Ahmeti et al. 2009).
Ada beberapa tahap yang disarankan dilakukan agar proses pembedahan
berhasil:
1> Orthoplasti (pelurusan penis)
2> Uretroplasti
3> Meatoplasti dan glanuloplasti

6|Page
4> Scrotoplasti
5> Penutupan kulit
Beberapa teknis yang perlu diperhatikan pada operasi hipospadia
1> Preservasi lempeng uretra
2> Insisi lempeng uretra
3> Dorsal midline plication
4> Deepitelialisasi uretroplasti
5> Alternatif 2 tahap operasi
Hipospadia anterior
Terapi untuk hipospadia anterior adalah tergantung dari kebiasaan cultural
dari keluarga anak. Banyak pasien dengan hipospadia anterior tidak memiliki
defek fungsional dari kurvatura penis dan masih bisa berkemih dengan satu
pancaran air kencing. Maka dari itu tujuan dari perbaikan meatus ke posisi
normalnya didalamglans adalah penting secara kosmetik. Hasil operasinya harus
mendekati sempurna. Standar yang sekarang ini menuntut tanpa dipasang stent
uretra. Teknik yang dipilih adalah bergantung pada anatomi penisnya. Prosedur
yang telah diterima saat ini misalnya meatal advancement glansplasty (MAGPI),
glans approximation procedure (GAP), prosedur Mathieu atau flip-flap, dan
modifikasi Snodgrass atau tubularized incised plate urethroplasty.
Teknik prosedur GAP dapat diterapkan pada sejumlah kecil pasien dengan
hipospadia anterior dengan sulcus grandular yang dalam dan lebar. Pasien ini
tidak memilikipenghubungan jaringan glandular yang akan membelokkan air
kencing. Pada prosedur GAP ini mulut uretra akan ditubularisasi secara primer
kemudian diikuti glansplasti (Baskin & Ebbers 2006).

Tubularisasi primer dan modifikasi Snodgrass


Tubularisasi primer disebut juga sebagai prosedur Thiersch-Duplay yang
dapat diterapkan pada pasien dengan sulcus glandular yang dalam disertai
lempeng uretra yang lebar baik pada batang penis bagian distal maupun
proksimal. Jika sulcus uretra tidak cukup lebar untukdilakukan tubularisasi in situ,
maka pendeketan lain yang bisa dilakukan adalah dengan prosedur Mathieu atau
vascularized pedicle flap. Kini, konsep insisi dari lempeng uretra diikuti dengan

7|Page
tubularisasi dan proses penyembuhan sekunder yang diperkenalkan oleh
Snodgrass membuat revolusi pada teknik bedah pada hipospadia. Hasil jangka
pendeknya baik. Salah satu aspek yang terlihat adalah penampakan meatus yang
sempit (slit-like) yang dibuat dengan insisi medial di dorsal. Saat ini teknik ini
diterapkan pada hipospadia dengan bentuk yang lebbih posterior. Secara teori
telah dipikirkan juga kemungkinan kejadian stenosis meatus akibat fibrosis yang
terjaid pada pasien dengan striktur uretra dimana disana dilakukan direct vision
internal urethrotomy, yang mana akan menyebabkan striktur rekuren.
Bagaimanapun, laporan berkaitan dengan stenosis meatus adalah jarang
ditemukan. Pada hipospadia, jaringan asli dngan suplai darah yang bagus dengan
sinus vaskular yang besar tampaknya berespon terhadap insisi primer dan
penyembuhan sekunder tanpa meninggalkan fibrosis. Uretroplasti dengan
tubularisasi juga dapat dilakukan pada pasien tanpa gangguan kurvatura penis
untuk preservasi kulitnya (Baskin & Ebbers 2006; Arap & Mitre 2000; Ahmeti et
al. 2009; Djakovic et al. 2008).

Hipospadia posterior
Duckett telah mempopulerkan konsep preservasi lempeng uretra yang
mana sekarang menjadi standar praktek pembedahan hipospadia bahkan yang
parah sekalipun. Lempeng uretra bertindak sebagai dinding uretra dorsal dan
vascular onlay flap dari jaringan preputium bagian dalam bertindak sebagai uretra
ventralnya. Reseksi berulang pada lempeng uretra dengan proses ereksi buatan
menunjukkan tidak ada perubahan pada kurvatura penis. Pengalaman
membuktikan bahwa lempeng uretra itu fleksibel dan lembut serta prosedur yang
dapat menyokong penis dengan kuat disertai dengan preservasi lempeng uretra
akan menurunkan angka komplikasi, seperti misalnya fistula dan stenosis pada
anastomosis bagian proksimal. Studi anatomis menunjukkan bahwa ada jaringan
pembuluh darah yang banyak yang menyuplai lempeng uretra pada penis yang
hipospadia dan bahwa meninggikan lempeng uretra akan berlawanan dengan
tujuan preservasi dengan merusak suplai pembuluh darah (Djakovic et al. 2008).
Dahulu hipospadia posterior ditangangi dnegan pendekatan reseksi
komplit dari uretra yang abnormal dan semua jaringannya sampai pada corpora

8|Page
cavernosa yang normal. Uretranya digantikan oleh tubularized vascular preputial
flap, dari bagian dalam preputium maupun bagian luar. Sekarang ini, kebanyakan
hipospadia posterior, termasuk hipospadia perineal, lempeng uretra dipreservasi
dan digunakan flap dengan vaskularisasi diletakkan secara onlay atau secara
modifikasi Snodgrass dengan tubularisasi. Pada kasus yang jarang dimana
lempeng uretra butuh direseksi, maka teknik operasi 2 tahap dapat dilakukan
(Djakovic et al. 2008).

Onlay island flap


Suplai pembuluh darah ke jaringan preputium hipospadia adalah dapat
dengan mudah dicari. Banyaknya jaringan preputium subkutan pada dorsum penis
telah tervaskularisasi secara longitudinal. Jaringan ini dapat didiseksi dari kulit
penis membentuk sebuah island flap dari lapisan dalam preputium. Untuk proses
yang lebih pendek vascularized onlay island flap dapat dibuat dari satu setengah
preputium kemudian ditinggalkan setengahnya untuk penutupan kulit sekunder.
Sebagai alternatifnya, sebuah long horseshoe shaped flap (flap panjang berbentuk
tapal kuda) didisain untuk menjembatani defek uretra yang berlebihan. Onlay flap
juga bisa digunakan sekunder untuk penutupan garis jahitan yang terlihat. Sebuah
teknik midline buttonhole dapat digunakan untuk menghindari torsi penis. Flap
kemudian akan mengalami deepitelialisasi dan dijahit pada uretroplasti untuk
mencegah terbentuknya fistula (Djakovic et al. 2008; Baskin & Ebbers 2006).
Untuk hipospadia posterior, pada semua kasus dilakukan pendekatan
dengan mempertahankan lempeng uretra tetap utuh. Hal ini dapat dilakukan pada
pasien dengan maupun tanpa kurvatura penis yang abnormal. Teknik ini juga dpat
diterapkan pada hipospadia di batang penis maupun scrotum dan perineal.
Lempeng uretra yang utuh akan menghindarkan dari komplikasi striktura
proksimal dan suplai darah yang bagus akan menurunkan angka kejadian fistula
sebanyak 5-10% pada semua kasus ketika digunakan onlay flap. Hasil jangka
panjang dari digunakannya onlay flap adalah daya tahannya sangat lama serta
teknik ini dapat juga dipakai pada reparasi chordee tanpa hipospadia. Pada situasi
ini, uretranya tipis dan membutuhkan tambahan (Djakovic et al. 2008; Baskin &
Ebbers 2006).

9|Page
Tekniknya menggunakan transverse tubularized island flap yang
sebelumnya dipakai sebelum adanya konsep preservasi lempeng uretra. Hal ini
masih saja berhasil diterapkan pada kasus yang berat ketika lempeng uretra harus
direseksi walaupun masalah jangka panjang berkaitan dengan divertikulum akan
membutuhkan reoperasi lagi. Sekarang, pendekatan 2 tahap lebih sering
digunakan (Arap & Mitre 2000).

Perbaikan (operasi) hipospadia 2 tahap


Pendekatan alternatif untuk perbaikan kondisi hipospadia adalah dengan
mentransfer bagain dorsal preputium ke ventrum setelah mengkoreksi kurvatura
penis. Pada kasus yang berat, maka lempeng uretra perlu direseksi untuk
mengkoreksi chordee. Sebagai alternatifnyapreputium dapat dilekatkan ke
transposisi penoscrotal, membuat diseksi flap untuk menjembatani defek uretra
yang panjang. Menggunakan donor kulit dapat dilakukan namun melakukan
uretroplasti di atas kulit donor yang mulai mengalami penyembuhan adalah tidak
direkomendasikan. Penggunaan Byars flap dapat dirotasi dari dorsum dipasang ke
ventral sebagai penutup (cover) dalam uretroplasti. Tahap kedua operasi
dilakukan setidaknya 6 bulan setelah operasi pertama. Untuk memfasilitasi
uretroplasti di dalam glans penis maka selama tahap pertama kulit bagian
dorsalnya dilipat ke dalam sayap glans-nya. Penutupan sekunder bagian
subkutan dari uretra yang direkonstruksi dilakukan untuk mencegah fistula
(Baskin & Ebbers 2006; Djakovic et al. 2008).

Perbaikan 2 tahap operasi ‘Bracka buccal’


Untuk pasien yang sebelumnya menjalani pembedahan atau mereka yang
dengan hipospadia berat, Bracka memperkenalkan metode buccal free-graft 2-
stage repair. Pada tahap pertama, penis diluruskan dan uretra yang fibrosis
disingkirkan. Mukosa buccal diambil dari pipi maupun dari bibir dan idjadikan
donor jaringannya. Selama tahap pertama jaringan di kanan dan kiri glans
dimobilisasi untuk persiapan pembentukan glans seperti kerucut dan meatus yang
sempit pada tahap operasi kedua. Graft jaringan dilapisi kapas berlebih untuk
mencegah hematoma karena mengambilnya dari mukosa buccal. Jaringan donor

10 | P a g e
ini kemudian diamankan dalam sebuah bantalan panjang. Uretroplasti tahap kedua
kemudian dilakuikan setidaknya berjarak 6 bulan dari operasi pertama. Pada tahap
yang kedua ini kelebihan dari mukosa buccal akan menutupi glans dan
membentuk penutup 2 lapis. Mukosa buccal digulung ke arah uretra yang baru
dan jaringan subkutannya digunakan untuk penutupan sekunder (Baskin & Ebbers
2006; Djakovic et al. 2008).

Kurvatura penis (chordee)


Koreksi kurvatura penis uga terlibat dalam konsep penerapan preservasi
lempeng uretra. Ereksi buatan telah diperkenalkan pada tahun 1974 oleh Gittes
dan McLaughlin yang memberikan mekanisme untuk memeriksa kembali
kurvatura penis dan keberhasilan koreksi pada waktu pembedahan. Kaplan dan
Lamm mencoba mengajukan sebuah kasus dan meyakinkan bahwa chordee dapat
saja merupakan terhambatnya perkembangan embriologis normal yang analog
dengan kejadian kegagalan penurunan testis. Tidak heran bahwa kondisi fibrosis
tidak ditemukan pada kebanyakan kasus kurvatura ventral penis. Kira-kira 5%
pasien akan membutuhkan prosedur pelurusan penis setelah melepaskan kulit
chordee dengan diseksi agresif ke perbatasan penis scrotum. Berdasarkan pada
studi anatomis dari penis fetus manusia, pendekatan yang lebih sederhana adalah
dengan menempatkan jahitan dorsal midline plication pada area yang bebas
persarafan pada arah jam 12. Posisi midline dorsal plication akan menghindarkan
kebutuhan untuk mobilisasi dari berkas neurovascular. Midline placation dapat
diterapkan pada kurvatura penis derajat ringan sampai sedang. Jika lebih dari 2
baris jahitan atau lebih dari 4 baris jahitan permanen dibutuhkan maka pendekatan
alternatifnya seperti misalnya reseksi komplit dari lempeng uretra dan penggunaan
graft kulit dapat dipertimbangkan (Baskin & Ebbers 2006; Djakovic et al. 2008;
Ahmeti et al. 2009; Arap & Mitre 2000).
Selama periode ereksi buatan, jika chordee tidak bisa dikoreksi dengan jari
anda maka metode dengan midline dorsal plication adalah tidak disarankan.
Kemiringan glans juga bisa dihilangkan dengan penjahitan permanen pada
dorsumnya namun harus tetap diperhatikan untuk menghindari struktur
neurovascular pensuplai glans penis.

11 | P a g e
6. KOMPLIKASI DAN HASIL KELUARAN
Komplikasi umum dari pembedahan hipospadia adalah pembentukan
fistula, striktur uretra, meatus proksimal, kurvatura residual dan abnormalitas
kosmetik. Komplikasi ini dapat dihindari dengan mengikuti 5 tahap perbaikan
hipospadia. Namun demikian, jika komplikasi muncul mereka bisa dikoreksi
dengan prinsip dasar penyembuhan jaringan. Sebagai contoh, fistula
uretrokutaneus dapat ditutup dengan lapisan multiple setelah diperiksa faktor
etiologi dasarnya seperti stenosis uretra. Fistula di margo corona seharusnya
dikoreksi dengan glansplasti dan uretroplasti karena untuk mendapatkan jaringan
penutup subkutan pada lokasi ini adalah sulit. Stenosis uretra adalah masalah
yang lebih sulit dan membutuhkan uretroplasti dan pada tahap yang lebih parah
dilakukan 2 pendekatan alternatif yaitu menyingkirkan uretra yang rusak (Baskin
& Ebbers 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Ahmeti, H., Kolgeci, S. & Arifi, H.L.J.¹., 2009. Dilemmas Surgical, Clinical Of
Treatment Hypospadias, Scrotal Perineal. Bosnian journal of basic medical
science, 9(3), pp.229-234.

Arap, S. & Mitre, A.I., 2000. Penoscrotal Hypospadia. Pediatric urology, 26(3),
pp.304-314.

Baskin, L.S. & Ebbers, M.B., 2006. Hypospadias : anatomy , etiology , and
technique. Journal of pediatric surgery, 41, pp.463 - 472.

Djakovic, N. et al., 2008. Hypospadia. Advances in Urology, 2008, pp.1-7.

Hadidi, A.T., 2006. Hypospadias Surgery. International workshop on hypospadias


surgery, pp.1-19.

Morgan, E.A. et al., 2003. Loss of Bmp7 and Fgf8 signaling in Hoxa13-mutant
mice causes hypospadia. Culture, pp.3095-3109.

12 | P a g e