Anda di halaman 1dari 20

NASKAH UJIAN PSIKIATRI

KETERGANTUNGAN BENZODIAZEPIN DALAM TERAPI

Pembimbing:
dr. Mardi Susanto, Sp.KJ (K)
dr. Tribowo T Ginting, Sp.KJ (K)

Disusun oleh:
Siska Sulistiyowati
1620221168

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
PERIODE 02 JULI-04 AGUSTUS 2018

1
STATUS PERNYATAAN

Tesis ini diajukan oleh :


Nama : Siska Sulistiyowati
NIM : 1620221168
Program Studi : S1 Fakultas Kedokteran
Tahun Akademik : Juli 2018

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan


naskah ujian saya yang berjudul :

KETERGANTUNGAN BENZODIAZEPIN DALAM TERAPI

Apabila suatu saat terbukti saya melakukan plagiat, maka saya akan menerima
sanksi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, Juli 2018

Siska Sulistiyowati

2
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Usia : 38 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Status : Menikah
Pekerjaan : Pegawai maintenance bengkel

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada hari Kamis tanggal 26 Juli
2018 pukul 11.00 WIB di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta.
a. Keluhan Utama
Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta untuk
kontrol dan meminta obatnya yang sudah habis.
b. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta
untuk kontrol dan meminta obatnya yang sudah habis. Pasien merasakan
cocok dengan obat dengan obat yang diberikan oleh dokter.
Sejak tahun 1998, pasien mengkonsumsi obat Alganax
(Alprazolam). Awalnya pasien mengkonsumsi obat Alganax untuk
mengatasi keluhan sulit tidur. Tahun 1998 pasien sulit tidur dan dibawa
pamannya ke dokter untuk mengatasi sulit tidurnya, lalu pasien diberi
obat Alganax 0,5 mg per hari dari dokter sehingga pasien dapat
mengatasi sulit tidurnya. Dalam kurun waktu 10 tahun, pasien
menaikkan dosis obatnya tersebut dengan sendirinya dengan membeli
sendiri hingga mencapai 10 butir. Saat itu pasien merasa khawatir
dengan kondisinya dan memutuskan berobat untuk mengatasi
ketergantungannya.

3
Sejak 7 tahun lalu, pasien sudah berobat dan disarankan untuk
dirawat tetapi pasien menolak karena jika dirawat pasien tidak dapat
menafkahi anak dan istrinya namun saat ini dosis obatnya dapat
diturunkan hingga 2 mg per hari. Awalnya pasien berobat di Rumah
Sakit Islam namun karena kontakan rumah pasien pindah, maka pasien
pindah ke RSUP Persahabatan karena lebih dekat dengan rumahnya.
Pasien masih mengkonsumsi obat alprazolam hingga saat ini dengan
dosis 2 mg per hari, pasien pernah diturunkan dosisnya oleh dokter tetapi
pasien merasa mengganggu aktivitasnya hingga tidak dapat bekerja.
Pasien juga pernah mencoba tidak meminum obatnya namun pasien
merasa sulit tidur, gemetar, hilang konsentrasi, pusing, merasa
ketakutan, emosi tidak terkendali dan meledak serta tidak dapat bekerja.
Lalu pasien meminum alprazolam kembali agar keluhannya hilang dan
dapat beraktivitas kembali dan dapat bekerja kembali. Pasien juga
mengalihkan tenaga nya dengan bekerja agar terasa lelah dan malamnya
dapat tidur tanpa peningkatan dosis alprazolam. Menurut pasien, karena
kondisinya yang bergantung obat alprazolam membuat hubungan pasien
dengan mertua nya kurang baik.
Pasien datang berpenampilan sopan, bersih dan rapih sesuai
dengan usia pasien, tidak mencolok tau berlebihan. Pasien mengenakan
kemeja berwarna abu-abu dan celana panjang hitam. Pasien memiliki
kulit sawo matang dan postur tubuh yang normal.
Kemudian dilakukan pemeriksaan fungsi otak (kognitif), pasien
ditanya mengenai pertanyaan matematika dasar, yaitu 100-5, pasien
mampu menjawab 95, kemudian 90-7 pasien mampu menjawab 83.
Pertanyaan tersebut dijawab dengan tepat oleh pasien, hal ini
menunjukkan fungsi kognitif pasien baik. Pasien kemudian ditanya
mengenai pengetahuan umum yaitu “siapakah presiden Indonesia saat
ini?” dan pasien menjawab “Bapak Jokowi”, lalu pasien ditanya lagi
“siapa presiden Indonesia yang pertama?”, pasien menjawab “Bapak
Soekarno”. Pasien dapat menjawab dengan cepat dan tepat, hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan umum pasien dinilai baik.

4
Menurut pengakuan pasien, pasien dilahirkan secara normal, cukup
bulan dan tidak ada penyulit saat persalinan. Tumbuh kembang diakui
cukup baik sesuai umur. Pasien menempuh jenjang pendidikan SD,
SMP, dan SMA. Selama mengeyam pendidikan pasien mengaku tidak
pernah tinggal kelas ataupun dikeluarkan dari sekolahnya. Pasien juga
memiliki banyak teman semasa sekolahnya dan dapat bersosialisasi
dengan baik. Hal ini menunjukkan pasien tidak mengalami gangguuan
retardasi mental dan gangguan kepribadian.
Pasien ditanya mengenai sekolah SD nya dimana dan pasien
menjawab di Bunger Angsana, ditanya pula SMP nya dimana dan pasien
menjawab di SMPN 269 lalu ditanya SMA nya dimana, dan pasien
menjawab di SMA Muhammadiyah dan Kuliah di YAI Salemba namun
tidak selesai. Ini menunjukkan daya ingat jangka panjang pasien baik.
Pasien ditanya lagi “saat kemarin libur lebaran pasien liburan kemana?”,
pasien menjawab “pergi kerumah mertuanya”. Ini menunjukkan daya
ingat jangka menengah pasien baik. Pasien ditanya “ke rumah sakit naik
apa?”, pasien menjawab “naik angkot”. Ini menunjukkan daya ingat
jangka pendek pasien baik.
Pasien ditantang untuk mengulang menyebutkan tiga barang (meja,
pulpen, kertas) yang sebelumnya telah disebutkan pemeriksa. Kemudian
pemeriksa mengalihkan pembicaraan, setelahnya barulah pasien diminta
untuk menyebutkan ketiga barang tersebut. Pasien hanya dapat
menyebutkan kembali tiga benda tersebut. Ini menunjukkan memori
segera pasien baik atau tidak ada gangguan. Untuk menilai abstrak
pasien ditanya mengenai peribahasa “panjang tangan”, dan pasien
menjawab “suka mencuri”. Pasien mampu menjawab dengan tepat dan
menunjukkan daya abstrak pasien baik. Pasien diberi soal cerita untuk
menguji fungsi daya nilai, yaitu jika ada seorang anak ingin menyebrang
jalan dan pasien juga ingin menyebrang jalan, apa yang akan dlakukan
pasien. Pasien menjawab bahwa akan membantu anak tersebut untuk
menyebrang jalan. Ini menunjukkan fungsi daya nilai pasien baik.

5
Pasien diberi pertanyaan mengenai orientasi, pasien mengetahui
bahwa dirinya saat ini ada di Rumah Sakit, sedang melakukan konsultasi
, dan pada siang hari. Hal ini menunjukkan orientasi waktu, tempat
orang atau situasi pasien baik dan tidak terdapat gangguan.
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan seperti
yang telah disebutkan diatas, pasien dapat menjawab cepat dan tepat.
Hal ini menunjukkan bahwa pada pasien ini fungsi kognitif, pengetahuan
umum, daya ingat jangka pendek, daya ingat jangka menengah, daya
ingat jangka panjang, memori segera, orientasi, uji abstraksi dan uji daya
nilai pasien baik dan tidak terdapat gangguan, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien ini tidak terdapat adanya gangguan fungsi
otak ataupun adanya gangguan mental organik.
Pasien mengatakan bahwa dirinya pernah mengonsumsi narkoba
jenis heroin dan minum minuman beralkohol namun sudah berhenti
sejak tahun 1996 hingga saat ini. Pasien mengaku merokok hingga saat
ini. Pasien ketergantungan benzodiazepine untuk mengatasi sulit
tidurnya hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa pasien memiliki
gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif atau alkohol.
Pasien menceritakan bahwa pasien memiliki hipertensi namun
pasien tidak rutin minum obat dan hanya meminum madu hitam. Situasi
Sosial Sekarang, pasien sudah menikah dan tinggal dirumah kontrakan
bersama istri dan anaknya. Anak pasien masih berumur 5 tahun dan
ingin masuk Taman Kanak-Kanak. Hubungan pasien dengan istri, anak
dan orangtua nya baik, namun hubungan pasien dengan mertuanya tidak
baik. Hubungan pasien dengan tetangga dan orang-orang
dilingkungannya juga baik. Hubungan pasien dengan rekan kerjanya
juga baik, Pendapatan pasien didapatkan dari bekerja sebagai pegawai
maintenance di bengkel untuk memenuhi kebutuhan hidup pasien dan
keluarga, dan pasien merasa kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya dan untuk keluarganya. Untuk biaya pengobatan, pasien
membayar tunai karena pasien belum mengurus BPJS nya lagi. Kesan
ekonomi dinilai kurang cukup.

6
Pasien menyadari penuh tentang situasi yang tejadi pada dirinya,
serta penyebab timbulnya keluhan tersebut, disertai motivasi untuk
mencapai perbaikan dengan cara berobat ke dokter dan mengikuti
saran/anjuran dokter. Pasien memiliki 3 keinginan, yaitu ingin
membahagiakan orangtuanya, ingin membahagiakan anak dan istrinya
serta ingin mendapatkan rezeki yang berlimpah

c. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Sebelumnya pasien tidak pernah memiliki keluhan sepert ini.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien memiliki riwayat gangguan medis lain, yaitu hipertensi.
3. Riwayat Penggunaan NAPZA dan Alkohol
Pasien pernah menkonsumsi heroin dan alkohol namun sudah
berhenti sejak tahun 1996, dan pasien merokok hingga saat ini.

d. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal
Pasien dilahirkan secara normal, cukup bulan dan tidak terdapat
penyulit saat proses persalinan.
2. Riwayat Masa Anak-Anak
Tumbuh kembang pasien baik, tidak terdapat masalah dalam
pertumbuhan maupun perkembangan pasien.
3. Riwayat Masa Remaja
Pasien dapat bersosialisasi dengan baik, mudah menyesuaikan diri
dengan teman-teman di sekolah dan lingkungannya serta dapat
mengikuti pelajaran dengan baik.
4. Riwayat Pendidikan
Pendidikan teakhir pasien adalah SMA. Selama mengenyam bangku
pendidikan, pasien tidak pernah tinggal kelas maupun dikeluarkan
dari sekolah.

7
5. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai pegawai maintenance di bengkel.
6. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan.
7. Hubungan Dengan Keluarga
Hubungan pasien dengan istri, anak dan keluarga baik, namun
hubungan dengan mertua tidak baik. Pasien tinggal bersama anak
dan istrinya.
8. Aktivitas Sosial
Pasien dapat bersosialisasi dengan baik dan mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekitar.
9. Riwayat Penyakit Serupa dalam Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada keluaga yang memiliki keluhan serupa
ataupun adanya gangguan kejiwaan seperti pasien.
10. Situasi Sosial Sekarang
Pasien sudah menikah dan tinggal dirumah kontrakan bersama istri
dan anaknya. Anak pasien masih berumur 5 tahun dan ingin masuk
Taman Kanak-Kanak. Hubungan pasien dengan istri, anak dan
orangtua nya baik, namun hubungan pasien dengan mertuanya tidak
baik. Hubungan pasien dengan tetangga dan orang-orang
dilingkungannya juga baik. Hubungan pasien dengan rekan kerjanya
juga baik, Pendapatan pasien didapatkan dari bekerja sebagai
pegawai maintenance di bengkel untuk memenuhi kebutuhan hidup
pasien dan keluarga, dan pasien merasa kurang cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk keluarganya. Untuk biaya
pengobatan, pasien membayar tunai karena pasien belum mengurus
BPJS nya lagi. Kesan ekonomi dinilai kurang cukup.
11. Persepsi Pasien Tentang Dirinya dan Kehidupannya
Keinginan pasien saat ini, yaitu :
 Ingin membahagiakan orangtuanya
 Ingin membahagiakan anak dan istrinya
 Ingin mendapatkan rezeki yang berlimpah

8
III. STATUS MENTAL
a. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Laki-laki 38 tahun. Berpenampilan sopan, bersih dan rapih, sesuai
dengan usinya, tidak terlihat mencolok atau berlebihan. Pasien
mengenakan kemeja dan celana panjang. Pasien memiliki kulit
berwarna sawo matang dan postur tubuh tampak normal.
i. Kesadaran : composmentis
ii. Kontak psikis : kontak psikis baik, komunikasi baik dan
kooperatif
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
i. Cara berpakaian :
baik, cukup rapih, sopan & tidak merokok
ii. Cara berjalan :
dapat berjalan sendiri dengan baik tanpa bantuan
iii. Aktivitas psikomotor :
kooperatif, tenang, kontak mata baik, dapat menjawab
pertanyaan dengan baik dan tidak terdapat gerakan-gerakan
involunteer.
3. Pembicaraan
i. Kuantitas :
Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh
dokter dan mengungkapkan isi hati dan keluhan yang
dirasakannya.
ii. Kualitas :
Baik, bicara dinilai spontan, artikulasi jelas, volume cukup,
isi pembicaraan dapat dimengerti.
4. Sikap terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif dan mau menjawab pertanyaan yang diajukan
dengan baik.

9
b. Keadaan Afektif
1. Mood : Biasa
2. Afek : Luas
3. Keserasian : Mood dan afek serasi
4. Empati : pemeriksa dapat merasakan apa yang dirasakan pasien
c. Fungsi Intelektual dan Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pendidikan terakhir pasien SMA, pengetahuan umum serta
kemampuan berhitung pasien diniai baik.
2. Daya konsentrasi
Daya konsentrasi pasien baik. Pasien secara kooperatif dapat
mengikuti proses Tanya jawab dari awal hingga akhir. Pasien dapat
menjawab pertanyaan mengenai hitungan matematik dasar,
pengetahuan umum terkait presiden Indonesia. Pasien dapat
mengulang menyebutkan 3 nama barang yang disebutkan (meja,
pupen, kertas) yang sebelumnya telah disebutkan pemeriksa.
3. Orientasi
i. Waktu
Baik, pasien dapat mengetahui waktu pemeriksaan, yaitu
siang hari.
ii. Tempat
Baik, pasien dapat mengetahui tempat pemeriksaan yaitu,
sedang berada di Poli Psikiatri RSUP Persahabatan.
iii. Orang
Baik, pasien dapat mengetahui sedang berbicara dengan
siapa, yaitu dengan dokter.
iv. Situasi
Baik, pasien dapat mengetahui sedang melakukan apa, yaitu
menyadari bahwa dirinya sedang berkonsultasi dengan
dokter.

10
4. Daya ingat
i. Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien dapat mengingat tentang masa kecilnya dan hal
terkait dengan jenjang pendidikannya.
ii. Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat datang kerumah sakit sendiri
dengan menggunakan angkot.
iii. Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat saat liburan pasien pergi atau
tidak. Pasien pergi ke rumah mertuanya.
iv. Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengulang menyebutkan 3 benda ( meja,
pulpen, kertas) yang sebelumnya telah disebutkan oleh
pemeriksa.
5. Pikiran abstraksi
Baik, pasien dapat mengerti dan menyebutkan arti peribahasa
“panjang tangan”, pasien menjawabnya dengan benar yaitu “suka
mencuri”.
6. Kemampuan menolong diri sendiri
Baik, pasien mampu mengurus dirinya sendiri, tanpa bantuan orang
lain.
d. Gangguan Persepsi
1. Haluinasi
i. Halusinasi audiotorik : tidak ada
ii. Halusinasi visual : tidak ada
iii. Halusinasi olfaktorik : tidak ada
iv. Halusinasi taktil : tidak ada
v. Halusinasi gustatorik : tidak ada
2. Depersonalisasi dan Derealisasi
i. Depersonalisasi : tidak ada
ii. Derealisasi : tidak ada

11
e. Proses Pikir
1. Arus pikir
i. Produktivitas
Baik, pasien dapat menjawab spontan
ii. Kontuinitas
Baik, pasien dapat menjawab semua pertanyaan
2. Isi pikiran
i. Preokupasi : tidak ada
ii. Gangguan pikiran :
 Delusion of grandiosity : tidak ada
 Delusion of reference : tidak ada
 Delusion of control : tidak ada
 Thought of withdrawal : tidak ada
 Thought of broadcasting : tidak ada
f. Pengendalian impuls
Pasien dapat mengendalikan emosi dan impuls dengan baik. Pasien
kooperatif saat proses tanya jawab yang dilakukan dan tidak terdapat
gerakan involunteer.
g. Daya Nilai
1. Norma sosial
Baik, pasien dapat bersosialisasi dengan baik dan mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
2. Uji daya nilai
Baik, ketika diberikan pertanyaan untuk menguji daya nilai pasien
yaitu , “apa yang anda lakukan jika melihat anak kecil ingin
menyebrang jalan”. Pasien menjawab “akan menolong anak kecil
tersebut untuk menyebrang jalan”. Hal ini menunjukkan bahwa uji
daya nilai pasien baik.
3. Penilaian realita
Pada pasien ini tidak terdapat gangguan dalam menilai realita.

12
h. Persepsi Pemeriksaan terdadap Diri dan Kehidupan Pasien
Pasien menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan, berupa
ketergnatungan alprazolam. Pasien menyadari bahwa dirinya
membutuhkan obat untuk memperbaiki kondisi kesehatannya sehingga
pasien rutin datang untuk kontrol
i. Tilikan
Tilikan derajat 6, yaitu pasien menyadari penuh tentang situasi yang
tejadi pada dirinya, serta penyebab timbulnya keluhan tersebut, disertai
motivasi untuk mencapai perbaikan dengan cara berobat ke dokter dan
mengikuti saran/anjuran dokter.
j. Taraf dapat Dipercaya
Pemeriksa memperoleh kesan secara menyeluruh , bahwa jawaban
pasien dapat dipercaya karena konsistensi jawaban dari pertanyaan-
pertanyaan yang diberikan oleh dokter pemeriksa dari awal hingga akhir
proses tanya jawab.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status generalis
1. Keaadaan umum : baik, tampak sakit ringan
2. Kesadaran : composmentis
3. Tanda vital
i. TD : 130/90 mmHg
ii. Nadi : 80 x/menit
iii. RR : 20 x/menit
4. Sistem kardiovaskular : hipertensi
5. Sistem respirasi : tidak ada kelainan
6. Sistem musculoskeletal : tidak ada kelainan
7. Sistem gastrointestinal : tidak ada kelainan
8. Sistem urogenital : tidak ada kelainan
9. Gangguan khusus : tidak ada keluhan

13
b. Status neurologis
1. Saraf kranial : tidak ada kelainan
2. Saraf motoric : tidak ada kelainan
3. Sensibilitas : tidak ada kelainan
4. Saraf vegetative : tidak ada kelainan
5. Fungsi luhur : tidak ada kelainan
6. Gangguan khusus : tidak ada kelainan

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


a. Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta untuk
kontrol dan meminta obatnya yang sudah habis. Pasien merasakan cocok
dengan obat yang diberikan oleh dokter.
b. Awalnya pasien mengkonsumsi obat Alganax (alprazolam) tahun 1998
untuk mengatasi keluhan sulit tidur dari dokter. Lalu pasien menaikkan
dosis dengan sendiri dan mendapatkan obat yang dibeli sendiri hingga
minum 10 butir per hari.
c. Pada 7 tahun yang lalu pasien sudah berobat karena ketergantungan obat
alprazolam tersebut, dosis saat ini yang dikonsumsi pasien 2 mg per dan
pasien belum bisa lepas dari obat tersebut. Sejak tahun 1998 hingga saat
ini pasien masih mengkonsumsi obat tersebut.
d. Menurut pasien jika pasien tidak meminum obat tersebut pasien merasa
hilang konsentrasi, gelisah, gemetar, sulit tidur, emosi tidak terkendali
dan meledak, aktivitas terganggu serta tidak dapat bekerja. Setelah
obatnya diminum lagi pasien akan kembali normal lagi dan dapat
melakukan aktivitas seperti biasa.
e. Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, fungsi kognitif,
pengetahuan umum, daya ingat dan orientasinya.
f. Pasien pernah mengonsumsi narkoba atau minum minuman beralkohol
naun sudah berhenti sejak tahun 1996. Pasien mengaku merokok.
g. Pasien ketergantungan benzodiazepine untuk mengatasi sulit tidurnya
hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa pasien memiliki gangguan

14
mental dan perilaku akibat zat psikoaktif atau alcohol jenis sedative dan
hipnotika.
h. Pasien memiliki hipertensi.
i. Pasien dilahirkan secara normal, cukup usia kehamilan, tidak terdapat
penyulit dan tidak ada gangguan tumbuh kembang, dan sampai saat ini
pasien dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya
j. Pasien menempuh pendidikan hingga SMA, tidak pernah tinggal kelas
maupun dikeluarkan dari sekolah.
k. Pasien sudah menikah, memiliki 1 anak dan tinggal dirumah kontrakan
bersama istri dan anaknya.
l. Pasien bekerja sebagai pegawai maintenance di bengkel. Hubungan
pasien dengan anak, istri dan keluarga baik, namun hubungan pasien
dengan mertua tidak baik. Hubungan pasien dengan tetangga dan orang-
orang dilingkungannya juga baik. Hubungan pasien dengan rekan
kerjanya juga baik,
m. Pendapatan pasien didapatkan dari bekerja sebagai pegawai maintenance
di bengkel untuk memenuhi kebutuhan hidup pasien dan keluarga, dan
pasien merasa kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
untuk keluarganya.
n. Untuk biaya pengobatan, pasien membayar tunai karena pasien belum
mengurus BPJS nya lagi. Kesan ekonomi dinilai kurang cukup.
o. Pasien menyadari penuh tentang situasi yang tejadi pada dirinya, serta
penyebab timbulnya keluhan tersebut, disertai motivasi untuk mencapai
perbaikan dengan cara berobat ke dokter dan mengikuti saran/anjuran
dokter.
p. Pasien ini memiliki gejala ringan dan disabilitas ringan.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan hasi anamnesis dan pemeriksaan yang teah dilakukan pada
pasien ini, terdapat gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan

15
bermakna sehingga menimbulkan penderitaan (distress dan yang berkaitan
dengan terganggunya fungsi (disfungsi). Berdasarkan hasil tersebut, maka
pasien dikatakan menderita Gangguan Jiwa.
1. Diagnosis aksis I
 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaa fisik yang telah dilakukan
tidak terdapat penyakit yang menyebabkan disfungsi otak. Hal ini
dapat dinilai dari tingkat kesadaran, fungsi kognitif, daya ingat dan
daya konsentrasi serta orientasi pasien yang masih baik, sehingga
pasien ini bukan penderita Gangguan Mental Organik (F.0).
 Dari anamnesis didapatkan riwayat penggunaan NAPZA dan alcohol
namun sudah berhenti sejak tahun 1996, pasien juga merokok. Pasien
memiliki ketergantungan pada obat benzodiazepine selama lebih dari
satu tahun ditandai dengan adanya keinginan yang kuat untuk
menggunakan obat benzodiazepine, ketika obatnya diputus timbul
gejala withdrawal, ada usaha berhenti namun relaps dan kesulitan
dalam mengendalikan perilaku menggunakannya. Maka dapat
disimpulkan bahwa pasien ini penderita Gangguan Mental dan
Perilaku Akibat Penggunaan Sedative Atau Hipnotika (F.13).
Namun pada pasien, saat ini dalam pengawasan klinis dengan terapi
pemeliharaan (ketergantungan terkendali). Maka dapat disimpulkan
bahwa pasien ini penderita Sindrom Ketergantungan Kini Dalam
Pengawasan Klinis dengan Terapi Pemeliharaan
(Ketergantungan Terkendali) (F.13.22).
2. Diagnosis aksis II
Pada masa kanak-kanak hingga dewasa pasien tumbuh dengan baik,
dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Pada pasien tidak
ditemukan adanya perilaku tidak feksibel maupun maladaptive, sehingga
pasien tidak menderita gangguan kepribadian. Pendidikan terakhir
pasien adalah SMA, tidak pernah tinggal kelas, fungsi kognitif masih
baik, pengetahuan umum pasien baik, maka pasien tidak terdapat
gangguan retardasi mental. Karena tidak terdapat gangguan

16
kepribadian dan tidak terdapat gangguan retradasi mental, maka
diagnosis aksis II adalah tidak ada diagnosis.
3. Diagnosis aksis III
Pada anamnesis, pasien menyebutkan memiliki hipertensi.
4. Diagnosis aksis IV
Pasien sudah menikah dan tinggal dirumah kontrakan bersama istri
dan anaknya. Anak pasien masih berumur 5 tahun dan ingin masuk
Taman Kanak-Kanak. Hubungan pasien dengan istri, anak dan orangtua
nya baik, namun hubungan pasien dengan mertuanya tidak baik.
Hubungan pasien dengan tetangga dan orang-orang dilingkungannya
juga baik. Hubungan pasien dengan rekan kerjanya juga baik,
Pendapatan pasien didapatkan dari bekerja sebagai pegawai maintenance
di bengkel untuk memenuhi kebutuhan hidup pasien dan keluarga, dan
pasien merasa kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
untuk keluarganya. Untuk biaya pengobatan, pasien membayar tunai
karena pasien belum mengurus BPJS nya lagi. Kesan ekonomi dinilai
kurang cukup.. Maka diagnosis aksis IV adalah masalah finansial,
hubungan kurang baik dengan mertua, belum memiliki rumah dan
belum mengurus BPJSnya.
5. Diagnosis aksis V
Pasien ini memiiki gejala ringan dan menetap, serta terdapat memiliki
disabilitas dalam fungsi. Maka pada aksis V didapatkan GAF scale 80-
71.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL


a. Aksis I : Sindrom Ketergantungan Kini Dalam Pengawasan Klinis
dengan Terapi Pemeliharaan (Ketergantungan Terkendali) (F.13.22).
b. Aksis II : Tidak ada dignosis
c. Aksis III : Hipertensi
d. Aksis IV : masalah finansial, hubungan kurang baik dengan mertua,
belum memiliki rumah dan belum mengurus BPJSnya
e. Aksis V : GAF scale 80-71

17
VIII. DAFTAR PROBLEM
a. Organobiologik : Hipertensi
b. Psikologi : Ketergantungan benzodiazepine terkendali
c. Sosial ekonomi : masalah finansial, hubungan kurang baik dengan
mertua, belum memiliki rumah dan belum mengurus BPJSnya

IX. PROGNOSIS
a. Prognosis ke arah baik
 Pasien tidak memiliki genetik terhadap gangguan kejiwaan.
 Pasien rutin kontrol ke poliklinik Psikiatri
 Pasien minum obat yang diberikan oleh dokter secara teratur
 Istri pasien mendukung untuk kesembuhan pasien
b. Prognosis ke arah buruk
 Gejala timbul saat tidak minum obat
 Pasien memiliki hipertensi
 Hubungan pasien dengan mertuanya tidak baik
 Kondisi ekonomi yang kurang cukup

Berdasarkan data-data diatas, dapat disimpulkan prognosis


 Ad vitam : Ad bonam
 Ad functionam : Ad bonam
 Ad sanationam : Dubia

X. TERAPI
a. Psikofarmaka
 Alprazolam 2 x 1 mg
b. Psikoterapi
 Edukasi mengenai kondisi kesehatan jiwanya, minum obat rutin
dan kontrol rutin serta menurunkan dosis obat secara bertahap.
 Memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Esa

18
 Selalu berpikiran positif dan selalu bersyukur atas prestasi yang
dapat diraihnya.
 Meminta pasien untuk melakukan terapi relaksasi.
 Memberikan semangat dan motivasi kepada pasien dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari
 Meminta pasien melakukan aktivitas yang digemari pasien
 Sleep hygiene
 Olahraga teratur dan menjaga pola makan
 Jangan bergaul dengan sesama pengguna “Stop network”

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira, Sylvvia D, dkk 2015, Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FK UI,
Jakarta.
2. Maslim, Rusdi, 2013, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Cetakan
Kedua, PT. Nuh Jaya, Jakarta
3. Maslim, Rusdi, 2007, Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, Edisi Ketiga,
PT. Nuh Jaya, Jakarta.

20