Anda di halaman 1dari 29

PONDASI DANGKAL

MATERI :

Tegangan Dalam Tanah


Tegangan Geostatik Vertikal
Tegangan Akibat Beban Luar
Perkiraan Perhitungan Penurunan
Penurunan Pada Tanah Kohesif
Penurunan Pada Tanah Non Kohesif
Daya Dukung Tanah
Daya Dukung Beban Simetris
Daya Dukung Beban Eksentris
Perhitungan Pondasi Dangkal
Dimensi
Gaya-gaya Dalam Pada Pondasi Dangkal

TEGANGAN GEOSTATIK VERTIKAL

* Pada Tanah Kering

Tanah kering, tanah yang tidak berada pada suatu daerah dibawah muka air

tanah. Tentu saja tanah ini masih mengandung sedikit air, tetapi jumlah

kelembaban ini kecil pengaruhnya/ tidak mempunyai efek terhadap sifat

mekanis dari tanah.

Tegangan Geostatik Vertikal pada segala kedalaman dapat diperhitungkan

hanya dengan mempertimbangkan berat tanah diatas kedalaman itu.

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 1/29


Jika berat satuan tanah konstan sepanjang kedalaman, maka :

v  m  Z
 v : Tegangan Geostatik Vertikal [kN/m2]
 m : Berat Satuan Tanah [kN/m3]
Z : Kedalaman [m]

Jika tanah berlapis-lapis dan berat satuan tanah berbeda-beda untuk setiap

lapisannya, tegangan geostatik vertikal dihitung sebagai berikut :

 v    m  Z

Z : Tebal lapisan tanah [m]

Contoh Soal

Diketahui :
 0.00

 m = 16 kN/m3
 2.00

 m = 17 kN/m3
 6.00

 m = 19 kN/m3

Ditanyakan : Berapa Tegangan Geostatik Vertikal Pada Kedalaman 7 m

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 2/29


Penyelesaian :

Kedalaman 0–2m  v  16  2  32 kN/m2


2–6m  v  17  4  68 kN/m2
6–7m  v  19  1  19 kN/m2
 v  119 kN/m2

* Pada Tanah Berair

Tegangan Geostatik Vertikal TOTAL, untuk didaerah tanah berair, kita harus

menggantikan  m dengan  sat sehingga rumus diatas menjadi :

 v   sat  Z

 sat : Berat Satuan Tanah Jenuh [kN/m3]

Tegangan Geostatik Vertikal EFEKTIF, sama dengan Tegangan Geostatik

Vertikal Total dikurangi dengan Tekanan Air Pori, maka :

U   w  Zw

 'v   v  U

U : Tekanan Air Pori [kN/m2]


 'v : Tegangan Geostatik Vertikal Efektif [kN/m2]
 w : Berat Satuan Air Tanah 9.807 kN/m3
Z w : Tebal Lapisan Air Tanah [m]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 3/29


Contoh Soal

Diketahui :
 0.00

 m  18kN / m3 Z1a
 s1  27kN / m3
MAT  2.00
n  0.4 Lapisan 1
Z1b

 4.00

 sat2  21kN / m3 Z 2
Lapisan 2  6.00
 s 2  27kN / m 3

Ditanyakan : Berapa Tegangan Geostatik Vertikal TOTAL dan EFEKTIF pada

kedalaman 6 m ?

Penyelesaian :

Tegangan Geostatik Vertikal TOTAL

 sat1  1  n   s1  n   w
 1  0.4  27  0.4  9.807
 20.12kN / m3

Kedalaman 0 - 2  v   m  Z1a  18  2  36 kN / m 2
2 - 4  v   sat1  Z1b  20.12  2  40.24 kN / m 2
4-6  v   sat2  Z 2  21  2  42 kN / m 2
 v  118.24 kN / m 2

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 4/29


Tegangan Geostatik Vertikal EFEKTIF

U 6    w  Z w  9.807  6  2  39.23kN / m2
 'v   v6   U 6   118.24  39.23  79.012kN / m2

Catatan : Sebagai kontrol kita dapat menghitung Tegangan Geostatik Vertikal


EFEKTIF dengan menggunakan Berat Satuan Gaya Apung yaitu :  sub

Lapisan 1  sub1   sat1   w  20.12  9.807  10.313kN / m3


Lapisan 2  sub2   sat2   w  21.00  9.807  11.193kN / m3

Dengan demikian Tegangan Geostatik Vertikal EFEKTIF  'v adalah :


Kedalaman 0 - 2  'v   m  Z1a  18  2  36 kN / m 2
2 - 4  'v   sub1  Z1b  10.313  2  20.626 kN / m 2
4 - 6  'v   sub2  Z 2  11.193  2  22.386 kN / m 2
 'v  79.012 kN / m 2

TEGANGAN VERTIKAL AKIBAT BEBAN LUAR

Jika beban vertikal sebesar 10 kN bekerja pada sebuah kolom yang luas

penanpangnya 1 m2 dan kolom berdiri langsung pada permukaan tanah, maka

tegangan kontak  0 yang disebabkan oleh kolom ke tanah akan sama rata

yaitu 10 kN / m2 (dengan mengabaikan berat sendiri kolom)

Perhitungan Tegangan Vertikal Akibat Beban Luar ada 2 analisa

1. Analisa Sederhana

Cara paling sederhana untuk menghitung penyebaran tegangan pada suatu

kedalaman didalam tanah akibat pembebanan dengan mengasumsikan bahwa

penyebaran tegangan perbandingannya 2 : 1

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 5/29


Cara ini merupakan suatu perhitungan yang didasarkan atas anggapan bahwa

luas bidang kontak akan bertambah secara sistematis terhadap kedalaman

P
0 
///\\=/\\//// \\\=///\\//=\\ BL

L L+Z

P
z 
B
B  Z   L  Z 
B+Z

Luas kolom pada kedalaman Z, masing-masing lebar B dan panjang L ditambah

Z Z
dengan sebelah kiri dan sebelah kanan sehingga :
2 2

A   12 Z  B  12 Z    12 Z  L  12 Z   B  Z   L  Z 

Contoh Soal
Diketahui :
Suatu timbunan tanah setinggi 2m.  m  20.4kN / m3 dipadatkan diatas suatu
daerah. Diatas tanah timbunan tadi pada kedalaman 1 m diletakan sebuah
pondasi setempat berukuran 3 x 4 m2 yang memikul beban 1400 kN.  m tanah
asli diketahui 16.8 kN/m3
Ditanyakan :
a. Hitung dan gambarkan grafik Tegangan Geostatik Vertikal versus
kedalaman, sebelum penimbunan dilaksanakan ?
b. Hitung dan gambarkan grafik penambahan Tegangan Geostatik
Vertikal versus kedalaman, setelah penimbunan dilaksanakan ?
c. Hitung dan gambarkan grafik penambahan Tegangan Vertikal Akibat
Beban luar versus kedalaman, setelah pondasi diletakan ?

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 6/29


Penyelesaian :
P = 1400 kN
+ 2.00
///\\=//\=/// //\\\=//\/
Tanah timbunan + 1.00
//\=///\\
 m  20.4 kN /m 3
3 x 4 m2
 0.00
////=\\\=///\=//=\\\///=\\///\=\\=////
Tanah asli  V [kN / m2]
V   m  Z
 m  16.8 kN /m 3
50.4

a.  V   m  Z 33.6

16.8
Z 1.00 2.00 3.00
V 16.8 33.6 50.4
Z [m]
1.00 2.00 3.00

b.  V  20.4  2   m  Z  V [kN / m2]


 V  40.8   m  Z
 V  40.8   m  Z
Z 1.00 2.00 3.00
V 57.6 74.4 91.2 91.2
V   m  Z
74.4
 V [kN / m2]
57.6

40.8

Z [m]
1.00 2.00 3.00

40.8

Z [m]
1.00 2.00 3.00

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 7/29


P 1400 1400
c.  ZP   
B  Z   L  Z  3  1  Z   4  1  Z  4  Z   5  Z 

Z 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00
 ZP 70.0 46.7 33.3 25.0 19.4 15.6 12.7 10.6 9.00 7.70

 ZP [kN / m2]

70.0
60.0
50.0

40.0
30.0
20.0
10.0
Z [m]
1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00

Soal Latihan
Diketahui :
Suatu timbunan tanah setinggi 2m.  m  20.4kN / m3 dipadatkan diatas suatu
daerah. Diatas tanah timbunan tadi pada kedalaman 1 m diletakan sebuah
pondasi setempat berukuran 3 x 4 m2 yang memikul beban 1400 kN.  m tanah
asli diketahui 16.8 kN/m3 . Muka air tanah pada permukaan tanah asli.  sat
tanah asli 22.5 kN/m3 .  w = 9.807 kN/m3
Ditanyakan :
a. Hitung dan gambarkan grafik Tegangan Geostatik Vertikal TOTAL
versus kedalaman, sebelum penimbunan dilaksanakan ?
b. Hitung dan gambarkan grafik Tegangan Geostatik Vertikal EFEKTIF
versus kedalaman, sebelum penimbunan dilaksanakan ?
c. Hitung dan gambarkan grafik penambahan Tegangan Geostatik Vertikal
TOTAL versus kedalaman, setelah penimbunan dilaksanakan ?

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 8/29


d. Hitung dan gambarkan grafik penambahan Tegangan Geostatik Vertikal
EFEKTIF versus kedalaman, setelah penimbunan dilaksanakan ?

2. Analisa Elastis (Metode Baussineq)

Beban Titik

P 3P  Z 3
Z 
2  R 5
X

r R2  Z 2  r 2
Y
R  (Z 2  r 2 )
1
R 2

σz 3P  Z 3
Z  5

Z 2  ( Z 2  r 2 ) 2

Beban Merata

B L
X L M  dan N 
Z Z

Y Z V  M 2  N 2 1
σz
W  M  N 
2

Apabila W > V tanda arctan akan negatif, oleh karena itu harus ditambah

dengan П. Parameter M dan N dapat saling tukar. Rumus – rumus ini berlaku

untuk beban merata pada kedalaman Z diujung bidang beban merata tersebut

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 9/29


0 
 2MN V  V  1   2MN V 
Z      arctan  untuk nilai V > W
4  
 V W  V   V W 

0 
 2MN V  V  1  2MN V  
Z      arctan   
 untuk nilai V < W
4  
 V W  V   V W  

Contoh Soal
9 3
Diketahui : σo = 100 kN / m2
C D E O
3
J Hitung σz pada kedalaman 6 m
8 G
H
dibawah titik A.

A I 7
B
F
L K

7 5

Penyelesaian :

Z = 6 m dan σo = 100 kN / m2

Bidang B L M N V W σz
ABCD 7 8 1.167 1.333 4.139 2.420 19.924
AIKL 2 5 0.333 0.833 1.806 0.077 8.147
ADEF 2 8 0.333 1.333 2.889 0.198 9.314
AGHI 5 5 0.833 0.833 2.389 0.482 15.161
AGJF 2 5 0.333 0.833 1.806 0.077 -8.147
Σσz 44.400

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 10/29


Soal Latihan
9 3
Diketahui : σo = 120 kN / m2
C D E O
3
J Hitung σz pada kedalaman 8 m
G
8
N H
dibawah titik O dan C

A I 7
B
F
M L K

7 5

Penyelesaian :

Dibawah Titik O. Z = 8 m dan σo = 120 kN / m2

Bidang B L M N V W σz
OIBC No.1 No.5 No.9 No.13 No.17 No.21 No.25
-OHJE No.2 No.6 No.10 No.14 No.18 No.22 No.26
OKLD No.3 No.7 No.11 No.15 No.19 No.23 No.27
-OIAD No.4 No.8 No.12 No.16 No.20 No.24 No.28
Σσz No.29

Dibawah Titik C. Z = 8 m dan σo = 120 kN / m2

Bidang B L M N V W σz
COKM No.1 No.6 No.11 No.16 No.21 No.26 No.31
-CDLM No.2 No.7 No.12 No.17 No.22 No.27 No.32
CDAB No.3 No.8 No.13 No.18 No.23 No.28 No.33
-COHN No.4 No.9 No.14 No.19 No.24 No.29 No.34
CEJN No.5 No.10 No.15 No.20 No.25 No.30 No.35
Σσz No.36

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 11/29


PERHITUNGAN PERKIRAAN PENURUNAN

Penurunan terdiri dari :

1. Penurunan Segera (pi), penurunan yang terjadi segera setelah adanya


pembebanan, yang tergantung pada modulus elastisitas tanah E
2. Penurunan Konsolidasi (pc), penurunan yang terjadi akibat keluarnya
air pori
3. Penurunan Kedua Kompressi (ps), penurunan terjadi akibat hancurnya
butir – butir tanah

Pada tanah kohesif, penurunan yang dominan adalah penurunan konsolidasi

Pada tanah non-kohesif, biasa terjadi penurunan segera dan penurunan

konsolidasi. Pada tanah non-kohesif penurunan yang dominan adalah

penurunan segera

Penurunan kedua kompressi sangat dominan terjadi pada tanah organik

Penurunan dapat dibagi atas :


Penurunan Merata
Penurunan Tidak Merata
Penurunan Lendutan

Penurunan Lendutan
Penurunan Merata Penurunan Tidak Merata

Δp
Δp Δ p min
Δ p maks

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 12/29


PERHITUNGAN PERKIRAAN PENURUNAN TANAH KOHESIF

Untuk tanah Kohesif, perhitungan perkiraan penurunan dapat dibagi menjadi :

* Penurunan Segera

o  B
pi   o  1 
E
 o  Faktor kondisi kedalaman penanaman pondasi, tergantung pada L/B dan
Df/B (lihat grafik 5.10 B)

1  Faktor bentuk pondasi, tergantung pada H/B dan L/B (lihat grafik 5.10 A)

Df = Kedalaman penanaman pondasi [m]


H = Tebal lapisan dari alas / dasar pondasi [m]
E = Modulus elastisitas tanah [kN / m2]

Contoh Soal

Diketahui :
 0 .00
///=\\///=\\=///  o  85 kN/m2 //\\=///\\=///\\
-2.00 ||||||||||||||||||||
///\\=///\\=///\\
5 x 5 m2 Lapisan 1

-7.00 E = 25 MN / m2

Lapisan 2

-11.00 E = 40 MN / m2

Hitung Perkiraan Penurunan Segera dari pondasi tersebut

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 13/29


Penyelesaian :

Lapisan 1
L/B = 5/5 = 1
Df/B = 2/5 = 0.4 dari grafik 5.10 B didapat  o  0.88
H/B = (7-2)/5 = 1
L/B = 5/5 = 1 dari grafik 5.10 A didapat 1  0.44
85  5
Jadi pi1  0.88  0.44   0.0066 m ~ 6.6 mm
25000

Lapisan 2
 o  0.88 sama dengan Lapisan 1 karena Df sama
L/B = 5/5 = 1
H/B = 9/5 = 1.8 dari grafik 5.10 A didapat  '1  0.55
L/B = 5/5 = 1
H/B = 5/5 = 1 dari grafik 5.10 A didapat  ''1  0.44

Pada lapisan 2 ini Faktor bentuk pondasi 1   '1   ''1  0.55  0.44  0.11

85  5
Jadi pi 2  0.88  0.11   0.00102 m ~ 1.02 mm
40000

Maka pi total = 6.6 + 1.02 = 7.62 mm

* Penurunan Konsolidasi

e
pC    M X  H   Z   U  (1  U )  G MX 
V
Dimana : pc  Penurunan Konsolidasi [mm]
  Faktor Konsolidasi
U  Parameter Tekanan Air Pori [kN/m2]
G  Faktor yang tergantung dari kedalaman penanaman dan
bentuk pondasi
M X  Koefisien Desak [m2/kN]
e  Void Ratio
 V  Tegangan Geostatik Vertikal [kN/m2]
H  Tebal Lapisan yang diperkirakan, maksimum 4B (bukan dari
alas/dasar pondasi) [m]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 14/29


 Z  Tegangan Vertikal Akibat Beban Luar [kN/m2]
Z  Kedalaman dimana Tegangan Vertikal diperhitungkan dari
alas/dasar pondasi (biasanya Tegangan Vertikal diambil
ditengah lapisan yang diperkirakan)
Nilai G
H/B G persegi H/B G persegi
0.00 1.00 2.00 0.26
0.25 0.74 4.00 0.20
0.50 0.54 10.0 0.14
1.00 0.37

Contoh Soal
 0 .00
////\\=//\\\=//\  o  127.3 kN/m2 //\\\=//\\\=//\\=/
-4.00 |||||||||||||||||||
///\\=//\\\=//\  m  20 kN/m3
Lapisan 1
E = 10 MN/m2 6 x 14 m2 M X  0.1 m2/MN
-24.00   1 Pr=0.5
 m  21 kN/m3
Lapisan 2
M X  0.03 m2/MN
E = 30 MN/m2
-44.00   1 Pr=0.5

Hitung Perkiraan Penurunan Segera, Konsolidasi dan Total pondasi tersebut !


Penyelesaian :

Penurunan Segera
Lapisan 1
L/B = 14/6 = 2.333
Df/B = 4/6 = 0.667 dari grafik 5.10 B didapat  o  0.87
H/B = (24-4)/6 = 3.333
L/B = 14/6 = 2.333 dari grafik 5.10 A didapat 1  0.84
127.3  6
Jadi pi1  0.87  0.84   0.05582 m ~ 55.82 mm
10000
Lapisan 2
 o  0.87 sama dengan Lapisan 1 karena Df sama
L/B = 14/6 = 2.333
H/B = 40/6 = 6.667 dari grafik 5.10 A didapat  '1  0.95

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 15/29


L/B = 14/6 = 2.333
H/B = (24-4)/6 = 3.333 dari grafik 5.10 A didapat  ''1  0.84

Pada lapisan 2 ini Faktor bentuk pondasi 1   '1   ''1  0.95  0.84  0.11

127.3  6
Jadi pi 2  0.87  0.11   0.002437 m ~ 2.437 mm
30000

Maka pi total = 55.82 + 2.437 = 58.257 mm

Penurunan Konsolidasi
Lapisan 1
H = 24 – 4 = 20 m < 4B = 4 x 6 = 24 m
Z = 10 m (ditengah lapisan 1 antara kedalaman -4.00 s/d 24.00)
 1.4 V  0.62  1.42  1  3.32 W  0.6  1.4  0.706
6 14
M  0.6 N 
2

10 10
127.3   2  0.6  1.4 3.32  3.32  1  
 2  0.6  1.4 3.32  
Z      arctan  

4   3.32  0.706  3.32   3.32  0.706   
2
 Z  18.775 kN/m

Karena tidak ditanyakan titik penurunan dimana, maka diasumsikan titik


penurunan dihitung pada sudut-sudut persegi panjang pondasi

pC1  1  0.1  103  20  22.926  0.03755 m ~ 37.55 mm

Lapisan 2
H = 44 – 24 = 20 m < 4B = 4 x 6 = 24 m
Z = (24-4) + ½ (44-24) = 30 m (ditengah lapisan 2 antara kedalaman -24.00 s/d 44.00)
 0.2 V  0.4672  0.22  1  1.258 W  0.467  0.2  0.009
14 6
M  0.467 N 
2

30 30
127.3   2  0.467  0.2 1.258  1.258  1   2  0.467  0.2 1.258  
Z      arctan  
4  1.258  0.009 1.258  0.009 
  1.258   
2
 Z  4.688 kN/m

pC 2  1  0.03  103  20  4.688  0.0028128 m ~ 2.813 mm

Maka pC total = pC1  pC 2  37.55  2.813  40.363 mm

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 16/29


Perkiraan Penurunan Total = 58.257 + 40.363 = 98.62 mm

Soal Latihan

 0 .00
////\\=//\\\=//\  o  180 kN/m2 //\\\=//\\\=//\\=/
-5.00 |||||||||||||||||||
///\\=//\\\=//\  m  19 kN/m3
Lapisan 1
E = 12 MN/m2 6 x 16 m2 M X  0.15 m2/MN
-35.00  1
 m  18 kN/m3
Lapisan 2
M X  0.04 m2/MN
E = 40 MN/m2
-45.00  1

Hitung Perkiraan Penurunan Segera dengan menggunakan Grafik, penurunan


Konsolidasi dan penurunan Total pondasi tersebut !

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 17/29


PERHITUNGAN PERKIRAAN PENURUNAN TANAH NON-KOHESIF

Metode Schmertmann
Berdasarkan kenyataan bahwa regangan yang terbesar dibawah suatu pondasi
pada tanah Non-Kohesif terjadi pada kedalaman ± B/2 dan dapat
diperkirakan/ diasumsikan bahwa tegangan vertikal akibat beban luar tidak
diteruskan setelah kedalaman 2B dibawah suatu pondasi.

i n
H i  Izi
pi  C1  C2   o   [m]  o   o   'v Df [kN/m2]
i 1 Ei

 'v Df  t 
C1  1  0.5   0.5 C2  1  0.2  log  Ei  2  qCi [kN/m2]
 o  0.1 

C1 : Faktor koreksi kedalaman penanaman pondasi


C2 : Faktor koreksi susut akibat waktu
D f : Kedalaman penanaman pondai [m]
 'vDf : Tegangan geostatik vertikal efektif pada kedalaman Df [kN/m2]
Izi : Faktor pengaruh regangan pada lapisan ke i
Ei : Modulus elastisitas tanah lapisan ke i [kN/m2]
t : Waktu dalam tahun
qCi : Nilai konus pada lapisan ke i [kN/m2]
Z i : Kedalaman titik yang ditinjau pada tengah lapisan ke i dari alas pondasi [m]
H i : Tebal Lapisan yang diperkirakan ke i [m]

Grafik Schmertmann

B/2
Zi

3B/2

2B
0 0.2 0.4 0.6
Izi

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 18/29


Contoh Soal
 0 .00
 o  180 kN/m2
 m  18 kN/m 3
||||||||||||||||||||
 2 .00 MAT
///\\=//\\=///\\
 sat  20 kN/m3 Hitung :
B = 2.8 m -Penurunan ½ tahun
L = 4.2 m -Penurunan 5 tahun
Diketahui Grafik Sondir
0 3000 6000 9000 Nilai Konus qc [kN/m2] X  XA XB  XA
G1  
Y  YA YB  YA
A(0;0)
2.0 0.0
Z1 = 0.7 m
H1 =1.4 m B(0.6;1.4) Z2 = 1.95 m
3.4 1.4 (B/2)
4.0 H2 =1.1 m Z3 = 4.05 m
4.5
2.8 (B)
6.0 H3 = 3.1 m
4.2 (3B/2)

7.6 5.6 (2B)


8.0 0.0 0.2 0.4 0.6
C(0;5.6) Izi
X  X B XC  X B
G2  
Kedalaman D [m] Y  YB YC  YB
X  0 0.6  0
G1   G1  1.4 X  0.6Y  0
Y  0 1.4  0
X  0.6 0.0  0.6
G2   G2  4.2 X  0.6Y  3.36  0
Y  1.4 5.6  1.4

Hi qci Ei Zi Hi Izi/ Ei
Lap 2 2 Izi
[m] [kN/m ] [kN/m ] [m] [m2/kN]
1 1.40 3000 6000 0.70 0.30 7.00E-5
2 1.10 3000 6000 1.95 0.52 9.56E-5
3 3.10 6000 12000 4.05 0.22 5.72E-5
in
H i  Izi
i 0 Ei
22.28E-5

18  2
 o  180  18  2  144 kN/m2  0.875  0.5  C1  0.875
C1  1  0.5 
144
 0.5   5 
C2  1  0.2  log   1.14  12 tahun C2  1  0.2  log   1.34  5 tahun
 0.1   0.1 
pi  0.875  1.14  144  22.28E  5  0.032002 m  32.002 mm  ½ tahun
pi  0.875  1.34  144  22.28E  5  0.037618 m  37.618 mm  5 tahun

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 19/29


Soal Latihan :
Sama dengan Contoh Soal, hanya ubah ukuran B = 3.2 m dan muka Air tanah
pada permukaan tanah asli.  o  157.5 kN/m2

 0 .00 MAT
 o  157.5 kN/m2
 m  18 kN/m 3
||||||||||||||||||||
 2 .00
///\\=//\\=///\\
 sat  20 kN/m3 Hitung :
B = 3.2 m -Penurunan ½ tahun
 w  9.807 kN/m3 L = 4.2 m -Penurunan 5 tahun

Diketahui Grafik Sondir


0 3000 6000 9000

Grafik Schermann dimulai dari alas Pondasi


A
2.0
0.0
B
B/2 Zi
4.5
B

3B/2

2B
8.0 0.0 0.2 0.4 0.6
C Izi

Kedalaman D [m]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 20/29


DAYA DUKUNG TANAH
Kemampuan tanah untuk menyokong atau menahan suatu pondasi dari
kelongsoran geser

Daya Dukung Tanah Maksimum (qult)


Batas yang paling besar dari daya dukung tanah berhubungan dengan
pembebanan setiap unit daerah yang tepat akan menyebabkan kelongsoran
geser dalam tanah yang menyokong tersebut

Daya Dukung Tanah Yang Diizinkan (qa)


Beban setiap unit daerah dimana tanahnya masih dapat menyokong tanpa
adanya gerakan yang membahayakan
qult
qa  dimana qa : Daya dukung tanah yang diizinkan [kN/m2]
FK
qult : Daya dukung tanah maksimum [kN/m2]
FK : Faktor keamanan ( 2.5 s/d 3.0 )

Daya Dukung Tanah Maksimum Menurut Terzaqhi

Pondasi Telapak Menerus dengan lebar B


qult  C  Nc  q  Nq  0.5  B  N

Pondasi Telapak Lingkaran dengan jari-jari R


qult  1.3  C  Nc  q  Nq  0.6  R  N

Pondasi Telapak Bujur Sangkar dengan sisi B


qult  1.3  C  Nc  q  Nq  0.4  B  N

Pondasi Telapak Persegi Panjang dengan lebar B dan panjang L


B B
qult  (1  0.3  )  C  Nc  q  Nq  0.5  (1  0.2  )  B  N
L L

C : Kohesi tanah [kN/m2]


Nc, Nq, dan Nγ : Faktor Daya Dukung Tanah Terzaqhi
q    Df [kN/m2] Df : Kedalaman penanaman pondasi [m]
B    B [kN/m2] B : Lebar pondasi [m]
R    R [kN/m2] R : Jari-jari pondasi [m]
Catatan : Persamaan diatas dapat digunakan untuk tanah kohesif dan
tanah Non-Kohesif, perhitungan harus dibedakan antara
kelongsoran geser UMUM atau kelongsoran geser LOKAL

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 21/29


Kelongsoran Gesar UMUM Kelongsoran Geser LOKAL
Pasir padat, Lempung kenyal Pasir Lepas, Lempung lunak
Sudut geser dalam   36o Sudut geser dalam   28o
Nilai SPT N ≥ 30 Nilai SPT N ≤ 5
Density Index Id > 70 Density Index Id < 20
Kohesi tanah C ≥ 50 kN/m2 Kohesi tanah C < 50 kN/m2
C : Kohesi tanah yang diketahui C '  23  C
 : Sudut geser dalam yang diketahui  '  arctan( 23  tan )
  tan   '
Nq  e  tan (45  )
2
Nq '  e tan   tan 2 (45 
'
)
2 2
Nc  ( Nq  1)  ctg Nc'  ( Nq'  1)  ctg  '
N  2  ( Nq  1)  tan N '  2  ( Nq'  1)  tan  '
P P

Catatan :
Nilai φ, C dan γB atau γR diambil dari data tanah dibawah alas pondasi
sedalam B
Nilai q diambil dari nilai terkecil dari sebelah kiri atau sebelah kanan
sedalam Df
Nilai C adalah petunjuk yang dominan dalam mementukan jenis kelongsoran
geser UMUM atau LOKAL

Efek Muka Air Tanah terhadap Daya Dukung Tanah


MAT

Kondisi 1 : q   sub  Df dan B   sub  B BxL


Df

Kondisi 2 : q   m  X   sub  ( Df  X ) dan B   sub  B X MAT


Df

BxL

Kondisi 3 : q   m  Df dan B   sub  B MAT Df

BxL

q   m  Df B   m  Y   sub  ( B  Y )
Df
Kondisi 4 : dan BxL Y
MAT B

q   m  Df B   m  B
Df
Kondisi 5 : dan BxL
B

MAT

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 22/29


BEBAN MIRING

Jika pada suatu pondasi telapak bekerja suatu beban miring, beban tersebut
harus diubah menjadi komponen Vertikal dan Horizontal. Komponen Vertikal
digunakan untuk analisa Daya Dukung tanah seperti yang terdahulu.
Setelah Daya Dukung tanah tersebut dihitung dengan prosedur yang normal,
hitungan tersebut harus dikoreksi/ dibetulkan dengan suatu faktor reduksi
Ri. Kestabilan dari telapak dengan adanya komponen Horizontal dari Beban
Miring harus diperiksa dengan menghitung Faktor Keamanan terhadap geser.

Pondasi Horizontal Pondasi Miring


Ph
Ph
P

P
Df Pv

Pv α
Df
BxL
BxL α

Pv P
 qa  Ri  qa  Ri
B L B L

Pv : Komponen Vertikal [kN]


Pv = P cos α [kN]
Ph : Komponen Horizontal [kN]
Ph = Psin α [kN]
Ri : Faktor Reduksi
qa : Daya Dukung Tanah yang dizinkan [kN/m2]

Pondasi Horizontal Non Kohesif   23o : Ri =  0.026    1


  23o : Ri = 1.186  e0.047

Pondasi Horizontal Kohesi   38o : Ri =  0.01579    1


  38o : Ri = 1.431 e0.023

Pondasi Miring Non Kohesif   38o : Ri = 0.01579    1


  38o : Ri = 10.0888  e0.0215

Pondasi Miring Kohesif   60o : Ri =  0.006    1

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 23/29


BEBAN EKSENTRIS

Pondasi telapak dengan beban eksentris dapat dianalisa dengan dua cara :
- Konsep Lebar Manfaat
- Penggunaan Faktor Pengurangan

Konsep Lebar Manfaat


Mengasumsikan bahwa beban eksentris yang bekerja pada daerah yang
ditunjukan oleh arsiran merupakan daerah simetris terhadap beban tersebut
dan dipakai untuk menentukan Daya Dukung tanah
Konsep ini dianjurkan hanya untuk tanah Kohesif
P P

Mx My
Mx = P x ey My = P x ex

ey
ex

Mx My
ey  ex 
Y P X P

B'  B  2ey L'  L  2ex


L’
B’ L
B

Penggunaan Faktor Pengurangan


Daya Dukung tanah dihitung dengan prosedur yang normal dengan
mengasumsikan bahwa beban bekerja pada titik berat dari telapak pondasi,
kemudian nilai Daya Dukung yang didapat harus dikoreksi untuk
keeksentrisitasannya. Nilai Faktor Pengurangan adalah sebagai berikut :

ey ex
Rex  1  2  Rey  1  2  untuk tanah Kohesif
B L

1
e 
1
e 
2 2

Rex  1   y  Rey  1   x  untuk tanah Non Kohesif


B L

qa'  qa  Rex  Rey [kN/m2]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 24/29


DAYA DUKUNG TANAH DATA SPT

Terzaqhi dan Peck membuat suatu hubungan antara nilai SPT dengan Daya
Dukung tanah yang diizinkan (qa), yang mengakibatkan amblas yang tidak
lebih dari 25 mm, untuk pondasi dengan berbagai lebar.
Karena dianggap terlalu konservatif, maka oleh Mayerhoft dinaikan kira kira
50% pertambahan nilai qa yang didapat.

N'
qa   kd untuk B  1.2 m
0.05

N '  B  0.3 
2

qa    untuk B  1.2 m
0.08  B 

Df
kd  1  0.33   1.33
B

qa : Daya Dukung tanah yang diizinkan untuk amblas ≤ 25 mm [kN/m2]


D f : Kedalaman penanaman pondasi [m]
N ' : Nilai SPT rata-rata pada kedalaman ½ D f diatas alas/dasar pondasi dan
2B dibawah alas/dasar pondasi [kali]

4N
N'  untuk  'v  75 kN/m2
1  0.04   'v

4N
N'  untuk  'v  75 kN/m2
3.25  0.01   'v

N ' : Nilai SPT yang telah dikoreksi untuk pengaruh tekanan yang berlebihan
(Over Burden pressure) [kali]
N : Nilai SPT dari data tanah [kali]
 'v : Tegangan geostatik vertikal efektif [kN/m2]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 25/29


Catatan :

Rumus diatas dapat digunakan untuk pondasi yang tidak dipengaruhi oleh
MAT atau MAT dalam sekali
Apabila batas permukaan air tanah berada pada kedalaman dibawah
alas/dasar pondasi dengan jarak kurang dari ½B, maka nilai qa yang didapat
qa 
harus dikoreksi qa '  , dimana K  'v
K v

Tegangan geostatik vertikal dihitung pada kedalaman ½B dibawah alas/dasar


pondasi

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 26/29


PONDASI DANGKAL

Berdasarkan Daya Dukung tanah yang diizinkan Luas telapak pondasi dapat
dihitung dengan rumus :

P qult
A qa 
qa FK

dimana A : Luas telapak pondasi [m2]


P : Beban luar [kN]
qa : Daya Dukung tanah yang diizinkan [kN/m2]
qult : Daya Dukung tanah maksimum [kN/m2]
FK : Faktor Keamanan

Tegangan Kontak
Tegangan Kontak yang bekerja diantara alas/dasar pondasi dengan tanah
dibawahnya akibat beban luar adalah sebagai berikut :
Untuk Arah X :
P My x P  6e  P My
qk   atau qk  1  x  atau qk  
A Iy A L  A Wy
Untuk Arah Y :
P M y P  6e y  P M
qk   x atau qk  1   atau qk   x
A Ix A B  A Wx
qk: Tegangan Kontak [kN/m2]
P : Beban luar vertikal [kN]
A = B x L : Luas telapak pondasi [m2]
Mx : Momen total memutar sumbu X [kNm]
My : Momen total memutar sumbu Y [kNm]
ex : Eksentrisitas terhadap sumbu Y [m]
ey : Eksentrisitas terhadap sumbu X [m]
1 1
Ix =  L  B 3 [m4] Wx =  L  B 2 [m3]
12 6
1 1
Iy =  B  L3 [m4] Wy =  B  L2 [m3]
12 6
X : Jarak dari sumbu Y ke titik ditempat tegangan kontak diperlukan (titik A)
= L/2 [m]
Y : Jarak dari sumbu X ke titik ditempat tegangan kontak diperlukan (titik A)
= B/2 [m]

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 27/29


Y
L qky

ex Mx B’/3
B/2
X ey B’ P

B y

A
x

My

L/2
L’

qkx

P
L’/3

Rumus Tegangan Kontak diatas hanya berlaku selama rumus tersebut


memberikan nilai yang positif atau nilai eksentrisitas :
ex  16 L dan ey  16 B

Untuk eksentrisitas ex  16 L dan ey  16 B atau nilai Tegangan Kontak negatif,


maka Tegangan Kontak tersebut dapat dihitung dengan rumus :

Untuk arah X
L' L L 
  ex  L'  3    ex 
3 2 2 
2P
P = Luas diagram Tegangan Kontak P  12  qk x  L'  B  qk x 
L 
3 B   ex 
2 

Untuk arah Y
B' B B 
  ey  B '  3    ey 
3 2 2 
2P
P = Luas diagram Tegangan Kontak P  12  qk y  B'  L  qk y 
B 
3L  ey 
2 

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 28/29


Catatan :
Karena dapat diasumsikan bahwa tanah timbunan dan pondasi merupakan satu
kesatuan dengan tanah, maka untuk selanjutnya dalam perencanaan pondasi
dangkal berat akibat tanah timbunan dan berat pondasi dapat diabaikan
P

t/2
b
t/2

l
t/2 t/2

Menentukan tebal telapak pondasi T [m]


Berdasarkan tegangan geser beton yang diizinkan  bpm [kN/m2]:
P
 bp    bpm untuk kolom persegi panjang dengan panjang l dan
2(l  b  2t )t
lebar b

P
 bp    bpm untuk kolom bulat dengan diameter d
(d  t )t

Eddy Edwin Pondasi Dangkal 29/29