Anda di halaman 1dari 48

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA HALUSINASI DENGAR DI UPTD PUSKESMAS KARANGKANCANA KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2018

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Diajukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Pendidikan D III Keperawatan Pada Program Studi Keperawatan Tasikmalaya

D III Keperawatan Pada Program Studi Keperawatan Tasikmalaya Oleh : WAHYU HIDAYAT NIM. P2.06.20.3.17.073 KEMENTERIAN

Oleh :

WAHYU HIDAYAT NIM. P2.06.20.3.17.073

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA PROGRAM STUDI KEPERAWATAN TASIKMALAYA

2018

LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL : ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA HALUSINASI DENGAR DI UPTD PUSKESMAS KARANGKANCANA KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2018

PENYUSUN

:

WAHYU HIDAYAT

NIM.

: P2.06.20.3.17.073

Proposal Tugas Akhir ini telah diperiksa dan disetujui Oleh Pembimbing untuk diujikan

NIP.

Tasikmalaya,

Pembimbing I

i

NIP.

Pembimbing II

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

4

C. Tujuan

4

1. Umum

4

2. Khusus

5

D. Manfaat Tugas Akhir

5

1. Bagi Klien

5

2. Bagi penulis

5

3. Bagi institusi

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

7

A. Konsep Dasar Halusinasi

7

1. Definis Halusinasi dengar

7

2. Faktor Penyebab Halusinasi

8

3. Jenis-jenis Halusinasi

9

4. Tahap Halusinasi

10

5. Rentang Respon

12

6. Manifestasi Klinik

14

7. Mekanisme Koping

15

B. Konsep Asuhan Keperawatan Halusinasi

16

1. Pengkajian

16

2. Diagnosa keperawatan

22

3. Intervensi keperawatan

22

4. Implementasi keperawatan

32

5. Evaluasi keperawatan

33

iii

BAB III METODOLOGI TUGAS AKHIR

34

A. Desain Penelitian

34

B. Subjek Penelitian

34

C. Lokasi dan Waktu

35

D. Prosedur Tugas Akhir

35

E. Teknik Pengumpulan data

35

F. Instrumen Tugas Akhir

36

G. Analisa Data

36

DAFTAR PUSTAKA

38

LAMPIRAN

1

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1: Jenis Halusinasi

10

Tabel 2.2: Intervensi Keperawatan

27

v

DAFTAR GAMBAR

Bagan 2.1: Rentang Respon

12

Bagan 2.2 : Skema Halusinasi

21

Bagan 2.3: Pohon Masalah Halusinasi

22

vi

DAFTAR LAMPIRAN

A. Latar Belakang

1. BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan kejiwaan merupakan masalah klinis dan sosial yang harus diatasi karena

sangat meresahkan masyarakat baik dalam bentuk dampak penyimpangan prilaku maupun

semakin tinginya jumlah penderitahan gangguan jiwa. Gangguan atau masalah kesehatan jiwa

yang berupa proses pikir maupun ganguan sensori persepsi yang sering adalah halusinasi.

Halusinasi merupakan persepsi tanpa adanya rangsangan apapun panca indera seseorang yag

terjadi pada keadaan sadar. Halusinasi satu gejala skizofrenia. Skizofrenia merupakan

kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (Erlinafsiah,

2010).

Gangguan jiwa merupakan gangguan dalam berpikir (cognitive), kemauan (volition),

emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep, 2007). Menurut Malim (2002) Gangguan

jiwa merupakan deskripsi sindrom dengan variasi penyebab. Umumnya ditandai adanya

penyimpangan yang fundamental, karakteristik dari pikiran dan persepsi, adanya afek yang

tidak wajar atau tumpul (Yusuf, dkk, 2015).

World Health Organization (2016) memperkirakan sekitar 35 juta orang terkena depresi,

60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di

Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman

penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada

penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Data

Riskesdas (2013), memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan

1

dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14

juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa

berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000

penduduk dan prevalensi gangguan jiwa di provinsi Jawa Barat sebesar 1.9 per 1000

penduduk dan angka ini lebih tinggi dari angka nasional.

Pelayanan gangguan jiwa merupakan pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan

kejiwaan yang meliputi gangguan pada perasaan, proses pikir dan prilaku yang menimbulkan

penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. Cakupan

pelayanan kesehatan jiwa Kabupaten Kuningan di puskesmas Tahun 2017 tercatat 40.168

kunjungan pasen dengan gangguan jiwa. Berdasarkan catatan pemegang program kesehatan

jiwa Puskesmas Karangkancana, selama tahun 2018 sebanyak 32 orang, dengan rincian 11

orang dengan skhizopren, 17 orang dengan depresi berat, 1 orang dengan psikosis, 2 orang

dengan psikosomatis dan 1 orang dengan halusinasi. Puskesmas merupakan pelayanan

pertama atau pelayanan primer pada masyarakat untuk meningkatkan angka klien dengan

skizofrenia (Profil Kesehatan Kabupaten Kuningan, 2017).

Individu yang tidak dapat menghadapi setresor yang ada pada diri sendiri maupun pada

lingkungan sekitarnya dan tidak mampu mengendalikan diri termasuk dalam individu yang

mengalami gangguan jiwa (Nasir dan Muhith, 2011). Beberapa jenis gangguan jiwa yang

sering kita temukan di masyarakat salah satunya adalah skizofrenia. (Nasir dan Muhith, 2011).

Halusinasi merupakan salah satu tanda gejala dari skizofrenia positif. Ada 5 jenis

halusinasi yang terjadi pada pasien skizofrenia yaitu: halusinasi pendengaran, halusinasi

perabaan, halusinasi pengecapan, halusinasi penciuman, halusinasi penglihatan (Dermawan

& Rusdi, 2013). Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan

2

rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar) (Kusumawati &Hartono,

2012). Menurut penelitian yang dilakukan yaitu 50% sampai 70% pasien skizofrenia

mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran (Brunelin et al. 2012).

Halusinasi pendengaran biasanya auskustik dan suara auditif seperti mendengar bisikan

manusia, hewan, ataupun kejadian alamiah dan suara musik (Maramis, 2009).

Akibat dari halusinasi yang tidak ditangani juga dapat muncul hal hal yang tidak

diinginkan seperti halusinasi yang menyuruh pasien untuk melakukan sesuatu, seperti

membunuh dirinya sendiri, melukai orang lain, atau bergabung dengan seseorang di

kehidupan sesudah mati. Suara dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara orang

berbicara. Ketika berhubungan dengan orang lain, reaksi emosional mereka cenderung tidak

stabil, intens dan di anggap tidak dapat di perkirakan. Melibatkan hubugan intim dapat

memicu respon emosional yang ekstrim, misal ansietas, panik, takut, atau teror (Videbeck,

2008).

Tindakan keperawatan menggunakan standar praktek asuhan

keperawatan klinis

kesehatan jiwa yaitu asuhan keperawatan jiwa (Stuart, 2007). Peran perawat jiwa dalam

menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan memerlukan suatu perangkat

instruksi

atau

langkah

lagkah

kegiatan

yang

dibakukan.

Hal

ini

bertujuan

agar

penyelenggaraan pelayanan keperawatan memenuhi standar pelayanan. Salah satu jenis

Standar Oprasional Pelaksanaan (SOP) yang digunkan adalah (SOP)

tentang Strategi

Pelaksanaan (SP) tindakan keperawatan pada pasien. SP tindakan keperawatan merupakan

standar model pendekatan asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan jiwa yang salah

satunya adalah pasien yang mengalami masalah utama halusinasi (Fitria, 2009)

3

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Elyani (2011) di Rumah Sakit

Jiwa Surakarta, menunjukan adanya perubahan yang signifikan antara frekuensi halusinasi

sebelum diberikan terapi individu dengan pendekatan strategi pelaksanaan dengan sesudah

diberikan terapi. Didapatkan nilai p = 0,00 (p<0,05) Ho ditolak. Dari hasil penelitian yang

sudah dilakukan bahwa nilai rata-rata frekuensi halusinasi sebelum diberikan terapi individu

dengan

pendekatan

strategi

pelaksanaan

yaitu

sebesar

5,15.

Nilai

rata-rata

frekuensi

halusinasi setelah diberikan terapi individu dengan pendekatan strategi pelaksanaan yaitu

sebesar 2,46. Adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum diberikan terapi dan sesudah

dibrikan terapi. Dengan demikian perawat diharapkan dapat menerapkan terapi individu

dengan strategi pelaksanaan sesuai dengan standar asuhan keperwatan (SAK) yang telah

ditetapkan. Bagi keluarga diharapkan juga memberi dukungan secara positif kepada pasien

dan pasien dapat mengaplikasikan strategi pelaksanaan secara mandiri.

Berdasarkan

latar

belakang

tersebut,

penulis

tertarik

untuk

melakukan

asuhan

keperawatan pada klien halusinasi pendengaran dengan menggunakan strategi pelaksanaan

tindakan keperawatan yang diharapkan dapat mengurangi dan mengontrol halusinasi.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah

gambaran

asuhan

keperawatan

klien

dengan

skizofrenia

mgngontrol halusinasi pendengaran secara mandiri ?

C. Tujuan

1.

Umum

dalam

Menggambarkan asuhan keperawatan menggunakan strategi pelaksanaan tindakan

keperawatan dalam mengurangi dan mengontrol halusinasi.

4

2.

Khusus

a. Menggambarkan hasil pengkajian asuhan keperawatan pada klien dengan masalah

utama halusinasi pendengaran di wilayah Puskesmas Karangkancana

b. Menggambarkan hasil analisa dan diagnosa asuhan keperawatan klien dengan

masalah utama halusinasi pendengaran di wilayah Puskesmas Karangkancana

c. Menggambarkan perencanaan keperawatan klien dengan masalah utama halusinasi

pendengaran di wilayah Puskesmas Karangkancana

d. Menggambarkan tindakan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah utama

halusinasi pendengaran di wilayah Puskesmas Karangkancana

e. Menggambarkan evaluasi keperawatan klien dengan masalah utama halusinasi

pendengaran di wilayah Puskesmas Karangkancana.

D. Manfaat Tugas Akhir

1. Bagi Klien

Dapat memberikan informasi tentang asuhan keperawatan klien dengan masalah utama

halusinasi pendengaran

2. Bagi penulis

a. Menerapkan

pendengaran

asuhan

keperawatan

klien

dengan

masalah

utama

halusinasi

b. Menambah pengetahuan, wawasan serta pengalaman penulis dalam penanganan

kasus gangguan jiwa.

c. Meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa.

5

3.

Bagi institusi

a. Mengevaluasi sejauh mana mahasiswa dalam menguasai asuhan keperawatan pada

klien dengan gangguan jiwa.

b. Tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar.

6

A. Konsep Dasar Halusinasi

1. Definis Halusinasi dengar

2. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata,

artinya klien mengetripestasikan sesuatu yang tidak nyata tanpa stimulus/rangsangan dari

luar. Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan

internal (pikiran) dan rangsanga eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau

pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh

klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang bebicara (Dalami, 2010).

Halusinasi dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai

adanya rangsangan dari luar. Menurut Direja (2011), halusinasi merupakan hilangnya

kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan

eksternal (dunia luar). Sedangkan halusinasi menurut Keliat dan Akemat, adalah suatu

gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi;

merasakan sensasi palsu berupa penglihatan, pengecapan, perabaan penghiduan, atau

pendengaran.

Halusinasi pendengaran adalah bentuk yang paling sering terjadi pada gangguan

persepsi dengan klien gangguan jiwa (skizofernia) bentuk halusinasi ini berupa suarasuara

ribut dan dengung, tapi paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam kalimat yang

mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respon tertentu:berbicara-

7

bicara sendiri atau respon lain yang membahayakan membuat klien bertengkar dan

mencederai orang lain dan diri sendiri (Erlinafsiah, 2010).

2. Faktor Penyebab Halusinasi

Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami halusinasi menurut (Dalami dkk

2009,; Fitri 2009; Yosep & Sutini 2014) adalah sebagai berikut :

a. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor yang melatarbelakangi seseorang mengalami

gangguan jiwa. Faktor predisposisi dapat meliputi:

1)

Faktor Perkembangan

Individu yang mengalami tugas perkembangan dan hubungan antar personal

terganggu, maka individu akan mangalami stress dan kecemasan.

 

2)

Faktor Sosiokultural

Seseorang yang merasa tidak diterima dan disingkirkan oleh masyarakat,

maka akan kesepian, dan tidak percaya pada lingkungan.

 

3)

Faktor Biokimia

Seseorang yang mengalami stress dan kecemasan yang berlebihan yang

akan menimbulkan zat yang bersifat halusiogenik yang dihasilkan oleh tubuh

seperti

Buffofenon

dan

Dimetytranferase

(DMP),

dan

mengakibatkan

teraktivasinya

neurotransmitter

otak.

Misalnya

terjadi

ketidakseimbangan

acetylcholin dan dopamin.

 

4)

Faktor Psikologis

Seseorang yang lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata

menuju alam khayal.

8

5)

Faktor Genetik dan Pola Asuh

Pola asuh keluarga yang mempunyai riwayat penyakit skizofrenia sangat

berpengaruh pada penyakit ini.

b. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi adalah faktor yang mencetuskan terjadinya gangguan jiwa

pada seseorang untuk kali pertama. Faktor presipitasi meliputi :

1)

Perilaku

Perilaku seseorang yang curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah,

dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil

keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.

2)

Stress lingkungan

Lingkungan yang penuh kritik, membuat seseorang stress dan cemas yang

mengakibatkan seseorang tersebut berhalusinasi.

3)

Biologi

Seseorang yang mangalami gangguan dalam putaran umpan balik otak yang

mengatur proses informasi pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang

mengakibatkan ketidakmampuan untuk selektif menghadapi rangsangan.

3. Jenis-jenis Halusinasi

Tabel berikut ini memuat jenis halusinasi, dan objektif dan subjektif yang bias di

dapatkan bardasarkan pengkajian yaitu:

9

Tabel 2.1: Jenis Halusinasi

Tabel 2.1: Jenis Halusinasi 4. Tahap Halusinasi Tahap - tahap halusinasi, karakteristik dan perilaku yang ditampilkan

4. Tahap Halusinasi

Tahap - tahap halusinasi, karakteristik dan perilaku yang ditampilkan oleh klien yang

mengalami halusinasi menurut (Dalami dkk 2009; Fitria 2009) adalah sebagai berikut :

a. Tahap I

Tahap ini, halusinasi memberi rasa nyaman, tingkat ansietas sedang secara

umum halusinasi merupakan suatu kesenangan.

1)

Karakteristik (non verbal)

o

Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan

o

Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas

o

Pikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontrol kesadaran.

2)

Perilaku klien

o Tersenyum atau tertawa sendiri

10

o

Menggerakan bibir tanpa suara

o

Pergerakan mata yang cepat

o

Respon verbal yang lambat

o

Diam dan berkonsentrasi

b. Tahap II

Tahap ini, biasanya klien bersikap menyalahkan, tingkat kecemasan berat dan

secara umum halusinasi menyebabkan rasa antipati

1)

Karakteristik (non verbal)

o

Pengalaman sensori menakutkan

o

Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut

o

Mulai merasa kehilangan control

o

Menarik diri dari orang lain

2)

Perilaku klien

o

Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah

o

Perhatian dengan lingkungan berkurang

o

Konsentrasi terhadap lingkungan sensorinya menurun

o

Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas

c. Tahap III

Tahap ini, klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat

kecemasan berat, pengalaman sensori (halusinasi) tidak dapat ditolak lagi.

1)

Karakteristik (non verbal)

o

Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya (halusinasi)

o

Isi halusinasi menjadi atraktik

11

o Kesepian bila pengalaman sensorinya berakhir

2)

Perilaku klien

o

Sulit berhubungan dengan orang lain, menuruti perintah halusinasi

o

Perhatian dengan lingkungan kurang atau hanya beberapa detik

o

Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata, tampak tremor dan berkeringat.

d. Tahap IV

Tahap ini, klien sudah dikuasi oleh halusinasi, biasanya klien tampak panik.

1)

Karakteristik (non verbal)

 

o

Pengalaman sensori menjadi mengancam

o

Halusinasi dapat menjadi beberapa jam atau beberapa hari

2)

Perilaku klien

o

Perilaku panik

o

Potensial untuk bunuh diri atau membunuh

o

Tindak kekerasan agitasi/katatonik

o

Tidak mampu merespon terhadap lingkungan.

5.

Rentang Respon Respon Adaptif

Tidak mampu merespon terhadap lingkungan. 5. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Bagan 2.1: Rentang Respon

Respon Maladaptif

Tidak mampu merespon terhadap lingkungan. 5. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Bagan 2.1: Rentang Respon
Tidak mampu merespon terhadap lingkungan. 5. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Bagan 2.1: Rentang Respon

Bagan 2.1: Rentang Respon

12

Keterangan gambar :

a. Respon adaptif

Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh normanorma sosial budaya yang

berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu

masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif :

1. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan

2. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan

3. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman

ahli

4. Perilaku cocok adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran

5. Hubungan sosial harmonis adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan

lingkungan.

b. Respon psikososial meliputi :

1. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan

2. Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerpan yang benar-

benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera

3. Emosi berlebihan atau berkurang

4. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran

5. Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain.

c. Respon maladaptif

Respon

maladaptif

adalah

respon

individu

dalam

menyelesaikan

masalah

yang

menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif

ini meliputi :

13

1.

Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak

diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial

2. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak

realita atau tidak ada

3. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati

4. Perilaku tidak terorganisasi merupakan suatu perilaku yang tidak teratur

5. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima

sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu

kecelakan yang negatif

mengancam (Stuart dan Sundeen 1998, dalam Dalami dkk 2009).

6. Manifestasi Klinik

Perilaku yang dapat teramati menurut Dalami dkk (2009) adalah sebagai berikut:

d. Halusinasi Penglihatan

1. Melirikkan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang

dibicarakan

2. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak

berbicara atau pada benda

3. Telihat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak

4. Menggerak-gerakan mulut seperti sedang bicara atau sedang menjawab suara.

e. Halusinasi Pendengaran

1. Tiba-tiba tampak tanggap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain, benda mati atau

stimulus yang tidak tampak

2. Tiba-tiba berlari keruangan lain.

f. Halusinasi Penciuman

14

1.

Hidung yang dikerutkan seperti, mencium bau yang tidak enak

2. Mencium bau tubuh

3. Mencium bau udara ketika sedang berjalan ke arah orang lain

4. Merespon terhadap bau dengan panik seperti mencium bau api atau darah

5. Melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang memadamkan

api.

g. Halusinasi Pengecapan

1. Meludakan makanan atau minuman

2. Menolak untuk makan, minum atau minum obat

3. Tiba-tiba meninggalkan meja makan

7. Mekanisme Koping

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang

menakutkan berhubungan dengan respon neurobiology termasuk :

1. Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti

pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi

dan upaya untuk menanggulangi ansietas.

2. Proyeksi, keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada orang lain

karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya untuk menjelaskan

keracunan persepsi)

3. Menarik diri, reaksi yang ditampilan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis,

reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber stressor, sedangkan reaksi

psikologis diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan (Dalami dkk

2014).

15

B. Konsep Asuhan Keperawatan Halusinasi

1.

Pengkajian

Pengkajian adalah proses untuk tahap awal dan dasar utama dari proes keperawatan

terdiri drai pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang

dikumpulkan melalui data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokkan data

pengkajian kesehatan jiwa, dapat berupa faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor,

sumber koping, dan kemampuan yang dimiliki (Afnuhazi, 2015) :

a. Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelmain, tanggal pengkajian, tanggal dirawat,

nomor rekam medis.

b. Faktor predisposisi

1. Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa dan kurang berhasil dalam

pengobatan

2. Pernah mengalami aniaya fisik, penolakan dan kekerasan dalam keluarga

3. Klien dengan gangguan orientasi besifat herediter

4. Pernah mengalami trauma masa lalu yang sangat menganggu

c. Faktor Presipitasi

Stresor presipitasi pada klien dengan halusinasi ditemukan adanya riwayat

penyakit infeksi, penyakt kronis atau kelaina stuktur otak, kekerasan dalam keluarga,

atau adanya kegagalan kegagalan dalam hidup, kemiskinan, adanya aturan atau

tuntutan dalam keluarga atau masyarakat yang sering tidak sesuai dengan klien serta

konflik antar masyarakat.

16

d.

Fisik

Tidak mengalami keluhan fisik.

e. Psikososial

1)

Genogram

Pada genogram biasanya terlihat ada anggota keluarga yang mengalami

kelainan jiwa, pola komunikasi klien terganggu begitupun dengan pengambilan

keputusan dan pola asuh.

2)

Konsep diri

Gambaran diri klien biasanya mengeluh dengan keadaan tubuhnya, ada

bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai, identifikasi diri : klien biasanya

mampu menilai identitasnya, peran diri klien menyadari peran sebelum sakit, saat

dirawat peran klien terganggu, ideal diri tidak menilai diri, harga diri klien

memilki harga diri yang rendah sehubungan dengan sakitnya.

3)

Hubungan sosial : klien kurang dihargai di lingkungan dan keluarga.

4)

Spiritual

Nilai dan keyakinan biasanya klien dengan sakit jiwa dipandang tidak

sesuai dengan agama dan budaya, kegiatan ibadah klien biasanya menjalankan

ibadah di rumah sebelumnya, saat sakit ibadah terganggu atau sangat berlebihan.

f. Mental

1)

Penampilan

Biasanya penampilan diri yang tidak rapi, tidak serasi atau cocok dan

berubah dari biasanya

17

2)

Pembicaraan Tidak terorganisir dan bentuk yang maladaptif seperti kehilangan,

tidak logis, berbelit-belit

3)

Aktifitas motorik

Meningkat atau menurun, impulsif, kataton dan beberapa gerakan yang

abnormal.

4)

Alam perasaan

Berupa suasana emosi yang memanjang akibat dari faktorcpresipitasi

misalnya sedih dan putus asa disertai apatis.

5)

Afek : afek sering tumpul, datar, tidak sesuai dan ambivalen.

6)

Interaksi selama wawancara

Selama berinteraksi dapat dideteksi sikap klien yang tampak komat-kamit,

tertawa sendiri, tidak terkait dengan pembicaraan.

7)

Persepsi

Halusinasi apa yang terjadi dengan klien. Data yang terkait tentang

halusinasi lainnya yaitu berbicara sendiri dan tertawa sendiri, menarik diri dan

menghindar dari orang lain, tidak dapat membedakan nyata atau tidak nyata, tidak

dapat memusatkan perhatian, curiga, bermusuhan, merusak, takut, ekspresi muka

tegang, dan mudah tersinggung.

8)

Proses pikir

Biasanya klien tidak mampu mengorganisir dan menyusun pembicaraan

logis dan koheren, tidak berhubungan, berbelit. Ketidakmampuan klien ini sering

membuat lingkungan takut dan merasa aneh terhadap klien.

18

9)

Isi pikir

Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan

latar

belakang budaya klien. Ketidakmampuan memproses stimulus internal dan

eksternal melalui proses informasi dapat menimbulkan waham.

10) Tingkat kesadaran

Biasanya klien akan mengalami disorientasi terhadap orang, tempat dan

waktu.

11) Memori

Terjadi gangguan daya ingat jangka panjang maupun jangka pendek, mudah

lupa, klien kurang mampu menjalankan peraturan yang telah disepakati, tidak

mudah tertarik. Klien berulang kali menanyakan waktu, menanyakan apakah

tugasnya sudah dikerjakan dengan baik, permisi untuk satu hal.

12) Tingkat konsentrasi dan berhitung

Kemampuan mengorganisir dan konsentrasi terhadap realitas eksternal,

sukar menyelesaikan tugas, sukar berkonsentrasi pada kegiatan atau pekerjaan

dan mudah mengalihkan perhatian, mengalami masalah dalam memberikan

perhatian.

13) Kemampuan penilaian

Klien mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan, menilai,

dan mengevaluasi diri sendiri dan juga tidak mampu melaksanakan keputusan

yang telah disepakati. Sering tidak merasa yang dipikirkan dan diucapkan adalah

salah.

19

14) Daya tilik diri

Klien mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan. Menilai

dan mengevaluasi diri sendiri, penilaian terhadap lingkungan dan stimulus,

membuat rencana termasuk memutuskan, melaksanakan keputusan yang telah

disepakati. Klien yang sama seklai tidak dapat mengambil keputusan merasa

kehidupan sangat sulit, situasi ini sering mempengaruhi motivasi dan insiatif

klien

g. Aspek medis

1. Diagnosa medis : Skizofrenia

2. Terapi yang diberikan

Obat yang diberikan pada klien dengan halusinasi biasanya diberikan antipsikotik

seperti haloperidol (HLP), chlorpromazine (CPZ), Triflnu perazin (TFZ), dan anti

parkinson trihenski phenidol (THP), triplofrazine arkine.

20

h. Skema Maslah Halusinasi

h. Skema Maslah Halusinasi Sumber : Yusuf, dkk, 2015 Bagan 2.2 : Skema Halusinasi 21

Sumber : Yusuf, dkk, 2015

Bagan 2.2 : Skema Halusinasi

21

i.

Pohon Masalah

Pohon masalah pada masalah halusinasi dapat diuraikan sebagai berikut

(Prabowo, 2014).

halusinasi dapat diuraikan sebagai berikut (Prabowo, 2014). Bagan 2.3: Pohon Masalah Halusinasi 2. Diagnosa keperawatan

Bagan 2.3: Pohon Masalah Halusinasi

2. Diagnosa keperawatan

Masalah keperawatan yang terdapat pada klien dengan gangguan persepsi sensori

halusinasi adalah sebagai berikut (Dalami, dkk, 2014) :

a. Resiko perilaku kekerasan

b. Gangguan persepsi sensori halusinasi

c. Isolasi sosial

3. Intervensi keperawatan

a. Tindakan keperawatan untuk klien halusinasi

Tujuan tindakan untuk klien meliputi (Dermawan & Rusdi, 2013) :

1)

Klien mengenali halusinasi yang dialaminya

2)

Klien dapat mengontrol halusinasinya

3)

Klien mengikuti progam pengobatan secara optimal

22

Menurut Keliat (2007) tindakan keperawatan yang dilakukan :

1)

Membantu klien mengenali halusinasi

 

Membantu klien mengenali halusinasi dapat melakukan dengan cara

berdiskusi dengan klien tentang isi halusinasi (apa yang di dengar atau dilihat),

waktu

terjadi

halusinasi,

frekuensi

terjadinya

halusinasi,

situasi

yang

menyebabkan halusinasi muncul dan respon klien saat halusiansi muncul

2)

Melatih klien mengontrol halusinasi

 

(1)

Strategi Pelaksanaan 1 : Menghardik halusinasi

Upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak

halusinasi yang muncul. Klien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap

halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya, ini dapat

dilakukan klien dan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti

halusinasi yang muncul, mungkin halusinasi tetap ada namun dengan

kemampuan ini klien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam

halusinasinya.

Tahapan tindakan meliputi : menjelaskan cara meghardik halusinasi,

memperagakan cara menghardik, meminta klien memperagakan ulang,

memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku klien.

(2)

Strategi Pelaksanaan 2 : menggunakan obat secara teratur

Mampu

mengontrol

halusinasi

klien

juga

harus

dilatih

untuk

menggunakan obat secara teratur sesuai dengan progam. Klien gangguan

jiwa yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat sehingga

akibatnya klien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka

23

untuk

itu

klien

perlu

berkelanjutan.

dilatih

menggunakan

obat

sesuai

progam

dan

(3)

Strategi Pelaksanaan 3: bercakap-cakap dengan orang lain

Mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan

orang lain. Ketika klien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi

distraksi fokus perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan

yang dilakukan dengan orang lain tersebut, sehingga salah satu cara yang

efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan

orang lain.

(4)

Strategi Pelaksanaan 4 : melakukan aktivitas yang terjadwal

Mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan

diri dengan aktivitas yang teratur. Beraktivitas secara terjadwal klien tidak

akan mengalami banyak waktu luang sendiri yangs eringkali mencetuskan

halusinasi. Untuk itu klien yang mengalmai halusinasi bisa dibantu untuk

mengatasi halusinasi dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun

pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu.

b. Tindakan keperawatan untuk keluarga klien halusinasi

Menurut Pusdiklatnakes (2012) tindakan keperawatan tidak hanya ditujukan

untuk klien tetapi juga diberikan kepada keluarga, sehingga keluarga mampu

mengarahkan klien dalam mengontrol halusinasi. Tujuan : keluarga mampu :

1)

Merawat masalah halusinasi dan masalah yang dirasakan dalam merawat klien

2)

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi

3)

Merawat klien halusinasi

24

4)

Menciptakan suasana keluarga dan lingkungan untuk mengontrol halusinasi

5)

Mengenal tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan rujukan segera ke

fasilitas kesehatan

6)

Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk follow up klien secara

teratur.

Tindakan keperawatan :

1)

Strategi Pelaksanaan 1 keluarga : mengenal masalah dalam merawat klien

halusinasi dan melatih mengontrol halusinasi klien dengan menghardik

 

Tahapan sebagai berikut :

 

(1)

Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat klien

 

(2)

Jelaskan

pengertian,

tanda

dan

gejala,

proses

terjadinya

halusinasi

 

(gunakan booklet)

 
 

(3)

Jelaskan cara mengontrol halusinasi dengan melatih cara menghardik

(4)

Anjurkan membantu klien sesuai jadwal dan beri pujian

 

2)

Strategi Pelaksanaan 2 keluarga : melatih keluarga merawat klien halusinasi

dengan enam benar minum obat

Tahapan tindakan sebagai berikut :

(1)

Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala halusinasi klien,

merawat klien dalam mengontrol halusinasi dengan menghardik

(2)

Berikan pujian

(3)

Jelaskan 6 benar cara memberikan obat

(4)

Latih cara memberikan/membimbing minum obat

(5)

Anjurkan membantu klien sesuai jadwal

25

3)

Strategi Pelaksanaan 3 keluarga : melatih keluarga merawat klien halusinasi

dengan bercakap-cakap dan melakukan kegiatan

Tahapan tindakan sebagai berikut :

(1)

Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi halusinasi klien dan

merawat/melatih klien menghardik, dan memberikan obat

(2)

Berikan pujian atas upaya yang telah dilakukan keluarga

(3)

Jelaskan cara bercakap-cakap dan melakukan kegiatan untuk mengontrol

halusinasi

(4)

Latih dan sediakan waktu bercakap-cakap dengan klien terutama saat

halusinasi

(5)

Anjurkan membantu klien sesuai jadwal dan memberikan pujian

4)

Strategi Pelaksanaan 4 keluarga : melatih keluarga memanfaatkan fasilitas

kesehatan untuk follow up klien halusinasi

Tahapan tindakan sebagai berikut :

(1)

Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala halusinasi pasien,

merawat/melatih pasien mengahrdik, memberikan obat, bercakap-cakap

(2)

Berikan pujian atas upaya yang telah dilakukan keluraga

(3)

Jelaskan follow up ke pelayanan kesehatan, tanda kekambuhan, rujukan

(4)

Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian.

26

Tabel 2.2: Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa

NOC

NIC

Keperawatan

1

Resiko

perilaku

1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan control diri terhadap impuls dapat

1. Manajemen perilaku:

kekerasan

menyakiti diri sendiri

terhadap

diri

a. Tentukan motif atau alasan tingkah laku

sendiri

dilakukan dengan kriteria hasil :

a. Secara konsisten menunjukkan mengidentifikasi perilaku impulsive yang berbahaya

b. Kembangkan harapan tingkah laku yang tepat dan konsekuensinya, berikan pasien tingkat fungsi kognitif dan kapasitas untuk mengontrol diri

b. Secara konsisten menunjukkan mengidentifikasi perasaan yang mengarah pada tindakan impulsif

c. Secara konsisten menunjukkan

c. Pindahkan barang yang berbahaya dari

mengidentifikasi konsekuensi dari tindakan impulsif

d. Secara konsisten menunjukkan menghindari lingkungan yang berisiko tinggi

e. Secara konsisten menunjukkan mengontrol impulsif

lingkungan dari lingkungan sekitar pasien

d. Instrusikan pasien untuk melakukan strategi koping (mislnya latihan asertif, impuls kontrol

f. Secara konsisten menunjukkan mempertahankan kontrol diri tanpa pengawasan

training, relaksasi otot progresif) dengan cara yang tepat

2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan control diri terhadap distorsi pemikiran dapat dilakukan dengan kriteria hasil :

a. Secara konsisten menunjukkan mengenali halusinasi atau delusi yang sedang terjadi

b. Secara konsisten menunjukkan menahan diri dari mengikuti halusinasi atau delusi

e. Antisipasi situasi pemicu yang mungkin membuat pasien menyakiti diri

f. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi atau perasaan yang mungkin memicu perilaku menyakiti diri

g. Lakukan kontrak dengan pasien untuk tidak menyakiti diri, dengan cara yang tepat

c. Secara konsisten menunjukkan menahan diri dari bereaksi terhadap halusinasi atau delusi

h. Ajarkan dan kuatkan pasien untuk melakukan tingkah laku koping yang efektif dan untuk mengekspresikan

perasaan dnegan cara yang tepat

d. Secara konsisten menunjukkan monitor frekuensi halusinasi atau delusi

i. Monitor pasien untuk adanya impuls menyakiti diri jika mungkin memburuk menjadi pikiran atau sikap bunuh diri

27

     

2. Manajemen Halusinasi

a.

Bangun hubungan interpersonal dan saling percaya dengan klien

b.

Monitor dan atur tingkat aktivitas dan stimulasi lingkungan

c.

Pertahankan lingkungan yang aman mengalihkan perhatian dari halusinasi

3. Manajemen lingkungan :

pencegahan kekerasan

a.

Singkirkan senjata potensial dari lingkungan (misalnya, objek yang tajam yang mirip tali seperti senar gitar)

b.

Periksa lingkungan secara rutin untuk memastikan bebas dari bahan berbahaya

c.

Monitor pasien selama penggunaan barang yang bias digunakan menjadi senjata (misalnya pisau cukur)

d.

Tempatkan pasien di ruangan yang mudah diamati sehingga mudah dilakukan observasi sesuai kebutuhan

e.

Gunakan alat makan dari plastik dan kertas

f.

Lakukan pengawasan terusmenerus terhadap semua area yang bias diakses pasien untuk menjaga keamanan pasien dan pemberian intervensi terapeutik jika diperlukan

2

Resiko

perilaku

1.Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan menahan diri dari kemarahan dapat

1. Bantuan control marah

kekerasan

a. Bangun rasa percaya dan hubungan yang dekat dan harmonis dengan pasien

terhadap

orang

lain

dilakukan dengan kriteria hasil :

a. Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi kapan (merasa) marah

b. Gunakan pendekatan yang tenang dan

 

menyakinkan

b. Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi tanda-tanda marah

c. Tentukan harapan mengenai tingkah laku

28

c. Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi situasi yang dapat memicu amarah

 

yang tepat dalam mengekspresikan perasaan marah, tentukan fungsi kognitif dan fisik pasien

d. Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi alasan marah

e. Dilakukan secara konsisten bertanggung jawab terhadap perilaku diri

d. Monitor potensi agresi yang diekspresikan dengan cara tidak tepat dan lakukan intervensi sebelum (agresi ini) diekspresikan

f. Dilakukan secara konsisten mencurahkan perasaan negative dengan cara yang tidak mengancam

g. Dilakukan secara konsisten menggunakan aktivitas fisik untuk mengurangi rasa marah yang tertahan

e. Cegah menyakiti secara fisik jika marah diarahkan pada diri sendiri atau orang lain

h. Dilakukan secara konsisten membagi perasaan marah dengan orang lain secara baik

i. Dilakukan secara konsisten menggunakan strategi untuk mengendalikan amarah

2.Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan menahan diri dari agresifitas dapat dilakukan dengan kriteria hasil :

f. Berikan pendidikan mengenai metode untuk mengorganisir pengalaman emosi yang sangat kuat

g. Sediakan umpan balik pada perilaku (pasien) untuk membantu pasien mengidentifikasi kemarahannya

h. Bantu

pasien

a.

Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi tanggung jwab untuk mempertahankan kendali diri

 

mengidentifikasi sumber dari kemarahan

i. Identifikasi konsekuensi

b.

Dilakukan secara konsisten mengidentifikasi saat merasa agresif

dari ekspresi kemarahan yang tidak tepat

j. Bantu pasien terkait dengan strategi perencanaan untuk mencegah ekspresi kemarahan yang tidak tepat

c.

Dilakukan secara konsisten menunjukkan perasaan negative dengan cara yang tidak merusak

d.

Dilakukan secara konsisten menahan diri dari memaki/berteriak

e.

Dilakukan secara konsisten

k. Berikan model peran bias

yang

 

f.

menahan diri dari menyerang orang lain

Dilakukan secara konsisten menahan diri dari membahyakan orang lain

mengekspresikan marah dengan cara yang tepat

l. Dukung pasien untuk mengimplementasikan strategi mengontrol kemarahan dengan menggunakan ekspresi kemarahan yang tepat

g.

Dilakukan secara konsisten menahan diri dari menghancurkan barang-barang

h.

Dilakukan secara konsisten mengendalikan rangsangan

Dilakukan secara konsisten menggunakan teknik untuk mengendalikan amarah

i.

m. Sediakan penguatan untuk ekspresi kemarahan yang tepat

2.

Manajemen perilaku

 

29

       

a.

Berikan pasien tanggung jawab terhadap perilakunya (sendiri)

b.

Komunikasi harapan bahwa pasien dapat tetap mengontrol (perilakunya)

c.

Komunikasikan dengan keluarga dalam rangka mendapatkan (informasi) mengenai kondisi kognisi dasar klien

d.

Tingkatkan aktivitas fisik dengan cara yang tepat

e.

Gunakan suara bicara yang lembut dan rendah

f.

Jangan memojokkan pasien

g.

Turunkan (motivasi) perilaku pasif agresif

h.

Acuhkan perilaku yang tidak tepat

i.

Berikan penghargaan apabila pasien dapat mengontrol diri

3

Isolasi sosial

1. Setelah dilakukan tindakan

1.

Peningkatan sosialisasi

keperawatan

diharapkan

a. Anjurkan peningkatan keterlibatan dalam hubungan yang sudah mapan

keparahan

kesepian

dapat

dilakukan dengan kriteria hasil :

a. ada

Tidak

rasa

perasaan

terisolasi

b. Tingkatkan hubungan dengan orang-orang yang memiliki minat dan tujuan yang sama

c. Anjurkan kegiatan sosial dan masyarakat

b. secara social

c. Tidak ada kesulitan dalam membuat kontak dengan orang lain

d. Tidak ada rasa keputusasaan

e. Tidak ada rasa kehilangan harapan

d. Anjurkan partisipasi dalam kelompok dan/atau kegiatankegiatan meminiscence individu

e. Bantu meningkatkan kesadaran pasien mengenai kekuatan dan keterbatasan keterbatasan

2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keterlibatan social dapat

dilakukan dengan kriteria hasil :

a. Secara konsisten menunjukkan

berinteraksi dengan teman dekat

 

b. Secara konsisten menunjukkan berinteraksi dengan tetangga

c. Secara konsisten menunjukkan berinteraksi dengan keluarga

dalam berkomunikasi dengan orang lain

f. Anjurkan pasien untuk mengubah lingkungan seperti pergi ke luar untuk jalan-jalan

30

d. Secara konsisten menunjukkan

 

berpatisipasi dalam aktivitas waktu luang dengan orang lain

2. Peningkatan keterlibatan keluarga

a. Bangun hubungan pribadi dengan pasien dan anggota keluarga yang akan terlibat dalam perawatan

b. Identifikasi kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien

3. Terapi aktivitas

a. Kembangkan kemampuan klien dalam berpatisipasi melalui aktivitas spesifik

b. Bantu klien utuk mengeksplorasi tujuan personal dari aktivitas- aktivitas yang biasa dilakukan (misalnya, bekerja dan aktivitas- aktivitas yang disukai)

c. Bantu klien memilih aktivitas dan pencapaian tujuan melalui aktivitas yang konsisten dengan kemampuan fisik, fisiologis dan social

d. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan

e. Bantu klien untuk menjadwalkan waktu waktu spesfik terkait dengan aktivitas harian

f. Instrusikan klien dan keluarga untuk melaksanakan aktivitas yang diinginkan maupun yang (telah) diresepkan

g. Bantu dengan aktivitas fisik secara teratur (misalnya berpindah, berputar dan kebersihan diri) sesuai dengan kebutuhan

h. Berikan pujian positif karena kesediannya

31

 

untuk terlibat dalam kelompok

i.

Berikan kesempatan keluarga untuk terlibat dalam aktivitas, dengan cara yang tepat

j.

Bantu klien untuk meningkatkan motivasi dri dan penguatan

k.

Monitor respon emosi, fisik, social dan spiritual terhadap aktivitas

l.

Bantu klien dan keluarga memantau perkembangan terhadap pencapaian tujuan (yang diharapkan)

Sumber : Nursing Intervention Classification (NIC). 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). 2016. NANDA. 2016.

4. Implementasi keperawatan

Implementasi

adalah

pelaksanaan

keperawatan

oleh

klien.

Hal

yang

harus

diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah tindakan keperawatan yang akan

dilakukan implementasi pada klien dengan halusinasi dilakukan secara interaksi dalam

melaksanakan tindakan keperawatan, perawat harus lebih dulu melakukan (Afnuhazi,

2015):

a. Bina hubungan saling percaya

b. Identifikasi waktu, frekuensi, situasi, respon klien terhadap halusinasi

c. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

d. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat

e. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap

f. Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara melaksanakan kegiatan terjadwal

Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata

sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana. Sebelum melaksanakan tindakan

32

keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat

apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya

(here and now).

Perawat juga menilai diri sendiri, apakah kemampuan interpersonal,

intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan (Dalami, dkk, 2014).

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan

keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan sesuai dengan tindakan keperawatan yang

telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu evaluasi proses dan evaluasi formatif,

dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan evaluasi hasil atau sumatif dilakukan

dengan membandingkan respon klien pada tujuan yang telah ditentukan (Afnuhazi,

2015).

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola

pikir, dimana masing-masing huruf tersebut akan diuraikan sebagai berikut (Dalami, dkk,

2014) :

S

: Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

O

: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

A

: Analisa ulang terhadap data subjektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih

tetap atau muncul masalah baru atau ada yang kontradiksi dengan masalah yang ada

P

: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.

33

3. BAB III

METODOLOGI TUGAS AKHIR

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu rencana, struktur dan strategi yang dipilih oleh peneliti

dalam upaya menjawab masalah penelitian. Desain penelitian yang yang dipilih harus dapat

menjawab tujuan penelitian, meminimalkan kesalahan dengan memaksimalkan reliabilitas

(kepercayaan) dan validitas (kesahihan) hasil penelitian (Mardalis, 2010).

Dalam penelitian ini design penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian

deskriptif yang berbentuk studi kasus. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang

berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan

yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang

terjadi, atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung (Budiman, 2013).

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara

sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara

fenomena yang diselidiki, dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan menggambarkan

penerapan asuhan keperawatan pada klien halusinasi pendengaran di UPTD Puskesmas

KarangkancanaKabupaten Kuningan pada Tahun 2018.

B. Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah klien dengan gangguan jiwa halusinasi pendengaran

di UPTD Puskesmas Karangkancana Kabupaten Kuningan

34

C.

Lokasi dan Waktu

Lokasi Penelitian

Waktu Penelitian

D. Prosedur Tugas Akhir

: UPTD Puskesmas Karangkancana

: Juni 2018

Tugas Akhir diawali dengan penyusunan usulan Tugas Akhir dengan menggunakan

metode laporan kasus. Setelah disetujui oleh penguji proposal maka Tugas Akhir dilanjutkan

dengan kegiatanlaporan kasus. Data Tugas Akhir berupa hasil pengukuran, observasi,

wawancara terhadap kasus yang dijadikan subyek Tugas Akhir.

E. Teknik Pengumpulan data

Cara

pengumpulan

data

antara

lain

dokumentasi (Supardi, 2013).

adalah

wawancara,

observasi,

pengukuran,

1. Wawancara adalah cara pengumpulan data penelitian melalui pertanyaan yang diajukan

secara lisan kepada responden untuk menjawabnya. Wawancara bisa dilakukan secara

tatap muka antara peneliti dengan responden atau cara lain, misalnya telepon (Supardi,

2013).

2. Observasi adalah cara pengumpulan data penelitian melalui pengamatan terhadap suatu

objek atau proses, baik secara visual maupun alat. Kelebihan observasi adalah mudah,

murah dan langsung. Kekurangan observasi adalah memerlukan pedoman pengamatan

(Supardi, 2013).

3. Pengukuran

adalah

cara

pengumpulan

data

penelitian

dengan

mengukur

objek

menggunakan alat ukur tertentu, misalnya berat badan dengan timbangan badan, tensi

darah degan tensimeter, dan sebagainya (Supardi, 2013).

35

4.

Dokumentasi adalah cara pengumpulan data penelitian dengan menyalin data tersedia ke

dalam form isian yang telah disusun Dokumentasi dapat berupa rekam medik hasil rumah

sakit, kartu stasus pasien (Supardi, 2013).

F. Instrumen Tugas Akhir

Instrumen

yang

dibutuhkan

dalam

penelitian

ini

format

asuhan

keperawatan

(pengkajian, diangnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan,

evaluasi), dan format skrinning pengambilan sampel untuk klien halusinasi

1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas klien, factor predisposisi, fisik,

psikososial, status mental, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan,

pengetahuan, aspek medik, analisa data, daftar masalah, pohon masalah, diagnosa

keperawatan.

2. Format diagnosa keperawatan terdiri dari: diagnosa keperawatan, tanggal munculnya

masalah, tanggal teratasi masalah dan tanda tangan.

3. Format rencana tindakan keperawatan terdiri dari: diagnosa keperawatan,

rencana

tindakan yang terdiri dari tujuan, kriteria evaluasi dan intervensi.

4. Format implementasi dan evaluasi keperawatan terdiri dari: hari, tanggal, jam, diagnosa

keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan.

G. Analisa Data

Analisa

data

dalam

penelitian

ini

meliputi

pengkajian

keperawatan,

diagnosa,

intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dijelaskan secara deskriptif. Dari data yang

dikumpulkan dan didokumentasikan dalam format pengkajian kesehatan jiwa, maka perawat

melakukan analisa data berupa data objektif dan data subjektif, lalu merumuskan diagnosa

keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Setelah itu membuat intervensi

36

keperawatan berdasarkan prinsip strategi pelaksanaan, kemudian melakukan implementasi

dan melakukan evaluasi keperawatan (Yusuf, dkk, 2015).

37

4. DAFTAR PUSTAKA

Afnuhazi, R. (2015). Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Gosyen Publishing

Burnelin, J., Mondimo, M., Gassab, L., Haesebaert, F., Gaha, L., Chagny, M. F. S., …Poulet, E. (2012). Examining Transcranil Direc-Current Stimulation (tD C S) asa Treatment for Hallucinations in Schzophrenia. (Am J Psychiartry, 719-724)

Dalami, E. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : Trans Info Media.

Depkes. 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional u2013, badan peneliti & pegembangan Depkes RI. Jakarta

Dermawan, Deden dan Rusdi. 2013. Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing

Dinkes Jawa Barat . (2016). Profil Kesehatan Jawa Barat. Dinkes Jawa Barat

Direja, Ade Herman Surya. (2011). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Ed. 1. Nuha Medika:

Yogyakarta.

Elyani. (2011). Penelitian yang terkait dengan pengaruh terapi individu halusinasi. Fitria Nita, 2009, Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Maramis, Willy F. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Nasir A dan Muhith A. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Stuart, Gall W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC.

Videbeck, Sheila. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Hal 3. EGC : Jakarta

Yosep Iyus dan Sutini Titin, 2014, Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advance Mental Health nursing, PT Refika Aditama, Bandung.

38

Yosep, I.FDG. (2007). Keperawatan jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Yusuf, AH, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

39

5.

LAMPIRAN

LEMBAR KONSUL

NAMA

: WAHYU HIDAYAT

NIM

: P2.06.20.3.17.073

PEMBIMBING

:

WAKTU/

TANGGAL

MATERI

KONSUL

SARAN

PEMBIMBING

TTD

PEMBIMBING

NO