Anda di halaman 1dari 13

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

DISCATARIS ( Dispenser Cangkir Putar Praktis )

“Sebagai Solusi Untuk Memenuhi Variasi Intake Cairan Pada Pasien Penderita
Stroke”

BIDANG KEGIATAN

PKM KARYA CIPTA

Diusulkan oleh:

Ricky Petra Felendra Tulak (21050112130077/2012)

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2015
HALAMAN PENGESAHAN PKM-GAGASAN TERTULIS

1. Judul Kegiatan : DISCATARIS ( Dispenser Cangkir

Putar Praktis ) “ Sebagai Solusi


Untuk Memenuhi Variasi Intake
Cairan Pada Padien Penderita Stroke

2. Bidang Kegiatan : PKM-KC


3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Ricky Petra Falendra T.
b. NIM : 21050112130077
c. Program Studi : Teknik Mesin
d. Perguruan Tinggi : Universitas Diponegoro
e. Alamat Rumah dan No. HP : Perum. serasi No 176 Ambarawa
f. Alamat email : rickypetra27@gmail.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 1 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar :
b. NIP :
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP :

Semarang, 18 Maret 2015


Menyetujui
Ketua Program Studi Ketua Pelaksana Kegiatan

( ) ( RICKY PETRA F. T. )
NIP. NIM. 21050112130077

Pembantu Rektor III Undip Dosen Pendamping

( Drs. Warsito, SU ) ( )
NIP. 195402021981031014 NIDN.
ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

DAFTAR ISI iii

RINGKASAN 1

BAB 1 PENDAHULUAN 2-3

A. Latar Belakang 2
B. Tujuan 3
C. Manfaat 3

BAB II GAGASAN 4-8

A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan 4


B. Solusi yang Pernah Ditawarkan 5
C. Solusi Pencetus Gagasan 5-6
D. Pihak-pihak Kerjasama 7
E. Langkah-langkah Strategi 7-8

BAB III KESIMPULAN 9

DAFTAR PUSTAKA 10

LAMPIRAN 11-19

A. Lampiran 1 Biodata Ketua ……………………………………………11

iii
RINGKASAN

Tujuan jangka panjang pembuatan alat bantu ini adalah agar pasien stroke
tetap bisa untuk melakukan aktivitas / mobilitas ringan dalam kehidupan sehari-
haridan meminimalkan untuk menggunakan bantuan dari orang lain. Ketika pasien
dapat melakukan aktifitas fisik ringan yang dapat menunjang kehidupan pasien
maka kualitas hidup pasien stroke sedikit optimal dan pasien mendapatkan manfaat
yang diperoleh dari alat ini. Apabila pasien tidak bisa melakukan kegiatan seperti
orang biasa maka pasien akan terus bergantung pada keluarga, meskipun dengan
hal yang mudah sekalipun.
Tujuan lainnya adalah agar pasien terlatih untuk bisa melakukan
kegiatannya secara mandiri seperti membuat kopi, teh, susu, dan minuman lainnya.
Alat pengaduk otomatis yang dilengkapi dengan dispenser sebagai supplay air yang
bekerja secara otomatis dengan sensor yang terpasang pada masing-masing kran
saluran air kemudian alat pengaduknya menempel padadispenser tersebut.
Alat ini berbentuk 3 tabung dan satu kubus yang terdiri dari 1 tabung besar
sebagai media penyimpanan air, kemudian 1 tabung digunakan sebagai tempat
pengaduk, 1 lagi sebagai wadah untuk membuat minuman, dan 1 kubus yang
berfungsi sebagai tempat mesin dispenser dan sensor otomatis. Pada bagian luar
kubus terdapat tombol On dan off. Diharapkan pada pasien stroke dapat memenuhi
kebutuhan intake cairan sebanyak 1500cc perhari pada pasien dewasa dapat
terpenuhi dengan berbagai variasi intake cairan yang di inginkan.

1
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stroke merupakan penyakit terbanyak ketiga setelah penyakit jantung dan


kanker, serta merupakan penyakit penyebab kecacatan tertinggi didunia. Pada
saat ini masyarakat banyak terserang penyakit stroke yang dapat menyebabkan
kelainan neurologis seperti berkurangnya kemampuan motorik bagian tubuh dan
otot, kognitif, visual, dan koordinasi yang secara signifikan. Namun sebagian dari
penderita stroke tidak berakhir dengan kematian. Tetapi penderita sroke yang
masih bertahan tidak dapat sembuh secara total akibatnya penderita stroke
bergantung pada orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-
hari (activities of daily living) seperti makan dan minum, mandi, berpakaian, dan
sebagainya. Jika kemandirian atau mobilitas fi6sik penderita stroke dapat
berkurang atau bahkan hilang, hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup
(quality of life) pasien. Di Amerika Serikat, stroke menduduki peringkat ketiga
sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker. Di Indonesia
sendiri, stroke sendiri merupakan penyebab utama kematian denga prevalensi
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 adalah 8 kasus per
1000 jiwa (Sedyaningsih, 2011).

Menurut statistik dalam satu tahun penyakit stroke dapat terjadi 0,2% dari
jumlah penduduk dan lebih dari 1% terjadi pada lansia. Di Negara berkembang
lebih dari 30% penyakit stroke berakibat fatal sehingga penyakit stroke menjadi
penyebab kematian ketiga setelah jantung koroner dan kanker (Cahyono
SpPD.dr.J.B.Suharjo.B., 2008).

Apabila individu mengalami kelumpuhan dan terkena serangan stroke


yang kedua maka individu tersebut akan mengalami hambatan mobilitas fisik
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Rehabilitasi dapat dijadikan sebagai salah
satu jalan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita stroke. Pada dasarnya,
rehabilitasi merupakan suatu upaya untuk mengembalikan seseorang ke
kondisinya semula atau ke kondisi yang lebih baik daripada kondisinya sekarang.
Melalui upaya rehabilitasi, diharapkan kemampuan motorik, kognitif, visual dan
koordinasi para penderita stroke dapat pulih sehingga tingkat kemandirian mereka
pun secara berangsur meningkat. Dengan demikian, seiring dengan meningkatnya
kemampuan dan tingkat kemandirian mereka, kualitas hidup penderita stroke
akan meningkat pula. Namun hingga saat ini, belum ada terapi medikamentosa
atau rehabilitasi yang pasti efektif untuk memulihkan stroke (Ginsberg, 2007).
Oleh karena itu dirancang sebuah gagasan alat yang dapat membantu penderita
penyakit stroke dalam memenuhi aktivitas sehari-hari. Maka dari itu di buatlah
2
berupa alat yang dapat digunakan untuk membantu pasien stroke
mengoptimalkan kemampuan motoriknya. Alat tersebut kami beri nama “
DISCATERIS ” yaitu Dispenser Cangkir Puter Praktis yang dapat membantu
penderita stroke atau masyarakat yang mengalami gangguan mobilitas fisik dalam
memenuhi kebutuhan hidup dasarnya. Dengan dibuat nya alat ini pasien dapat
membuat jenis minuman dengan praktis. Alat ini memiliki keunggulan karena
dalam alat ini menggunakan sensor otomatis untuk mengeluarkan air dari dalam
dispenser dan dapat mengaduk secara praktis. Selain itu alat ini dapat mendukung
utuk penderita stroke yang di tinggal oleh anggota keluarganya untuk bekerja
dalam kurun waktu 10 jam di rumah yang tetap ingin menikmati variasi minuman
tanpa bantuan dari orang lain.

B. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari gagasan tertulis ini yaitu untuk menciptakan
alat inovasi baru yang praktis dan otomatis yang memiliki keunggulan untuk
mengoptimalkan kebutuhan dasar pasien dengan diagnosa hambatan mobilitas
fisik akibat stroke. Disamping itu juga untuk meminimalkan ketergantungan
pasien terhadap keluarga atau oranglain sehingga pasien dapat dengan mudah
memenuhi kebutuhan intake cairan yang dibutuhkan tubuh dalam satu hari yakni
1500cc atau setara dengan 8 gelas air.

C. Manfaat

Manfaat yang ingin diberikan adalah dapat membantu pasien dalam


memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari sehingga tidak ketergantungan dengan
keluarga atau orang lain sehingga pasien tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup
dasar.

3
BAB II

GAGASAN

A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan

Kondisi dari beberapa rumah sakit terkait dengan penanganan pasien yang
mengalami hambatan imobilitas fisikyang disebabkan oleh stroke kepada pasien
masih kurang. Pada penelitian yang dilakukan di rumah sakit menjelaskan bahwa
pasien masih membutuhkan bantuan keluarga ataupun perawat untuk
melakukan beberapa aktifitas yang dirasasulit untuk pasien lakukan secara pribadi
seperti membuat minuman untuk dirinya sendiri. Perilaku ini disadari oleh
petugas kesehatan, namun tetap diabaikan sehingga telah menjadi suatu
kebiasaan kepada pasien untuk selalu didampingi oleh keluarga dalam melakukan
aktivitas perawatan diri pasien, sehingga pasien mengalami ketergantungan .

Mobilitas fisik yang terjadi karena adanya keterbatasan pada pergerakan


fisik tubuh yang diakibatkan oleh stroke yang terjadi pada satu atau lebih
ekstermitas secara mandiri dan terarah, meliputi tingkat 0: mandiri total, tingkat
1 : memerlukan penggunaan peralatan atau alat bantu, tingkat 3 : memerlukan
bantuan orang lain dan peralatan atau alat bantu, tingkat 4: ketergantungan tidak
berpartisipasi dalam aktivitas, yang ditandai dengan pergerakan gemetar,
keterbatasan kemampuan untuk melakukan ketrampilan motoric halus,
keterbatasan pergerakan sendi, , tremor akibat pergerakan, dan pergerakan tidak
terkoordinasi. (NANDA, 2011).

Imobilisasi merupakan suatu kondisi yang relatif. Maksudnya, individu


tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami
penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya. Komplikasi terbsebut tidak hanya
membatasi pasien untuk melakukan aktivitas Daily Life, namun ju6ga
meningkatkan ketergantungan pasien pada keluarga dan memiliki dampak negatif
pada mobilitiss fisik pasien sendiri.

Kemandirian pada pasien mobilitas fisik dengan adanya ketergantungan


terhadap orang lain , berharap pasien dapat melakukan kemandirian tanpa
pengawasan, pengarahan, atau bantuan pribadi yang masih aktif sehingga pasien
mampu mengurus atau mengatasi kemandirian dalam hal melakukan aktivitas
kebutuhan minum sendiri tanpa bergantung dengan orang lain. Karena hal – hal
tersebut masih sangat kurang dilakukan pada pasien yang mengalami hambatan
mobilitas.

B. Solusi yang pernah Ditawarkan

4
Solusi yang pernah ditawarkan yang ada di rumah sakit pada umumnya
hanyalah berupa minuman siap saji yang telah disiapkan oleh petugas rumah sakit
yang mana sudah tersedia dan penyajiannya juga sangat praktis, di beberapa
tempat lainnya juga ada yang ditawarkan adalah berbentuk termos atau sebuah
wadah yang dapat menyimpan berbagai jenis minuman, mulai dari sirup dingin ,
jus buah, susu atau kopi sekalipun.

Pemberian cairan intravena (infus) yaitu memasukan cairan atau obat


langsung kedalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu dengan
menggunakan infus set (Potter,2005). Tindakan infus diberikan pada kliendengan
dehidrasi, sebelum transfusidarah, pra dan pasca bedah sesuaiprogram
pengobatan, serta klien yangsistem pencernaannya terganggu. Saat dirumah
pasien hanya mengandalkan anggota keluarga nya untuk membantunya dalam
memenuhi kebutuhan intake cairan tubuh. Sedangkan jika pasien ingin minum
variasi lain pasien harus menunggu anggota keluarganya datang membantu.

C. Solusi Pencetus Gagasan

Stroke didefinisikan sebagai gangguan peredaran darah otak yang terjadi


secara mendadak dengan tanda klinis gangguan neurologis fokal atau terkadang
global, berlangsung lebih dari 24 jam serta dapat menimbulkan kematian.
Kejadian Stroke dapat berulang yang dipicu oleh beberapa faktor resiko yang
dimiliki oleh penderita, maka semakin tinggi juga kejadian stroke berulang
(Bonita, 1998). Meskipun sebagian orang berhasil dari serang stroke dan tidak
meninggal dunia, tidak semua pasien sembuh dengan normal. Sekitar 12,6 juta
penduduk per tahun mengalami kecacatan moderat sampai parah akibat dari
stroke (American World Stroke Organization). Menurut Ducan dalam buku nya
tahun 1992 menyebutkan bahwa 30-60% pasien penderita stroke mengalami
ketergantungan dalam menjalankan aktivitas hariannya, seperti minum teh atau
sekedar membuat susu yang membutuhkan bantuan orang lain.

Pada penderita stroke yang mengalami ketergantungan dapat di minimalkan


untuk menggunakan bantuan orang lain. Maka dari itu untuk mengurangi
ketergantungan pasien untuk melakukan aktivitas ringan yang dapat dilakukan
sehari-hari dibutuhkan alat yang dapat membantu kegiatan ringan, yang biasanya
bisa dilakukannya sendiri, dan aktivitas tersebut dapat mengoptimalkan
kemampuan pasien untuk melakukannya sendiri pasien. Melihat hal tersebut
diperlukan alat yang mempermudah aktivitas nya tanpa bergantung pada orang
lain. Dengan alat yang didesain secara sederhana ini diharapkan penderita stroke
yang tidak mampu menggerakkan jari tangan nya untuk memenuhi intake cairab
yang dibutuhkan perhari diharapkan dapat terbantu dengan dibuatnya alat ini.
5
Alat yang digunakan dapat berperan sebagai pengganti sendok dan gallon air .
Dengan begitu para penderita stroke dapat meminimal kan untuk bergantung
dengan orang lain.

Jika hal ini dikaitkan dengan tingkat kemandirian orang secara normal maka
hal ini dapat memberikan motivasi kepada pasien penderita stroke untuk
meningkatkan self dicipline pada pasien penderita stroke, karena 30-60%
penderita stroke mengandalkan orang lain untuk memenuhi atau membantu
secara penuh kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari sebelum terserang stroke.
Selain penderita stroke alat ini juga dapat membantu pasien dengan penyakit
yang berhubungan dengan tidak dapat digunakannya jari tangan secara optimal.
Perilaku ketergantungan pasien stroke dan syndrome arpal tunnel dengan orang
lain ini dapat membuat kepercayaan diri seorang pasien stroke menurun. Maka
dari itu hal tersebut dapat di minimal kan dengan dibuatnya alat pengaduk
sederhana yang dapat membantu aktivitas mudah. Alat ini dinamakan
“DISCATARIS ( DISPENSER CANGKIR PUTER PRAKTIS ) yang memiliki
keunggulan, alat ini berbentuk cangkir tabung yang terdiri dari dua bagian
cangkir, cangkir pertana yang berada di bagian atas terdapat mesin dan batrei
yang berfungsi sebagai alat untuk menggerakan pengaduknya, kemudian cangkir
kedua berfungsi sebagai wadah atau tempat minumannya. Cangkir ini
disambungkan dengan gallon air yang berisi air minum yang dapat prinsip
kerjanya hampir sama dengan dispenser, alat ini diletakkan di dekat
pasienkemudian disalurkan melalui pipa. Kemudian pipa yang terhubung antara
gallon air ini di berikan sensor, sensor ini akan bekerja jika diletakkan gelas
dibawahnya maka secara otomatis air akan mengalir memenuhi gelas tersebut.
Alat ini dapat berfungsi jika disambungkan dengan instalasi listrik, jika akan
digunakan pasien hanya memencet tombol on di bagian dispenser dan jika pasien
ingin mengaduk secara otomatis pasien cukup memindahkan gelasnya dibagian
bawah alat pengaduk kemudian menekan tombol on di bagian alat pengaduknya.
Alat ini bergerak dengan menggunakan batu baterai yang dapat di isi ulang. Cara
menggunakan alat ini sangat mudah misalnya ingin membuat teh hanya cukup
menekan tombol on pada dispenser tunggu hingga air memanas, kemudian
letakkan gelas dibawah keran sensor khusus air panas kemudian masukkan gula
dan tekan tombol On yang berada disamping pada cangkir, gula yang di larutkan
hanya dalam waktu 3 detik sudah larut kemudian masukkan teh celupnya.
Diberikannya alat praktis ini diharapkan pasien dengan gangguan pada jari dan
tangan dapat meminimalkan melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain.

D. Pihak – Pihak Kerjasama

1. Direktur Rumah Sakit


6
Untuk menerapkan solusi dibutuhkan pihak – pihak untuk bekerja sama
seperti Direktur rumah sakit untuk mendapatkan perijinan, untuk
mengaplikasikan solusi alat ini di Rumah Sakit terkait.

2. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Alat ini perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut secara legal dan terperinci
oleh para ahli dibidang ini. Penelitian ini berfungsi untuk memastikan
kelayakan dan metode penggunaan alat tersebut, selain itu juga untuk menguji
keamanan untuk pasien.

3. Rumah Sakit

Di rumah sait diharapkan dapat terpasang alat ini yang diletakan di dekat pasien
yang berfungsi membantu pasien bedrest utnuk mendapatkan indeks cairan
yang memadahi.

4. Keluarga Pasien

Dengan bekerja sama dengan keluarga, diharapkan pasien dapat meminimalkan


untuk meminta bantuan kepada orang lain. Dengan memasang alat tersebut di
dekat pasien untuk memudahkan pasien mendapatkan intake cairan yang cukup
sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

5. CSR ( Corporate Social Responbility)

Dengan bekerja sama dengan CSR di harapkan dapat meningkatkan kualitas


hidup seorang penderita stroke disekitar perusahaan CSR tersebut.

E. Langkah – langkah strategis

1. Penelitian pembuatan alat dan metode penggunaan alat tersebut harus


dilakukan pengujian oleh Fakultas teknik Universitas diponegoro tentang
kelayakan dan metode penggunaan alat ini.

2. Sosialisasi dilakukan di rumah sakit. Sosialisasi ini dilakukan pada rumah sakit
wilayah kota Semarang tentang bagaimana cara mempermudah pasien dengan
gangguan imobilitas fisik yang diakibatkan oleh stroke dengan cara memasang
instalasi alat disamping tempat tidur klien.

3. Pengadaan Pada Alat Sarana dan Prasarana

7
Ketersediaan alat ini penting untuk mengobtimalkan mobilitas fisik pasien dan
meminimalkan pasien untuk meminta bantuan kepada keluarga atau perawat.
Alat ini dilengkapi dengan sensor yang dapat mengeluarkan air panas atau air
dingin kemudian disamping sensor tersebut terdapat alat yang dapat
digunakan untuk mengaduk. Alat ini sangat mudah dioperasikan karena
menggunakan saklar dengan tombol ON / OFF .

4. Pengaplikasian

Setelah alat ini dipasang perlu dilakukanya pengamatan pada saat


pengaplikasian hal tersebut. Pemantauan tersebut pada meliputi sejauh mana
keefektifan alat ini untuk membantu pasien dengan imobilitas fisik yang
diakibatkan oleh stroke.

5. Evaluasi

Jika pada saat evaluasi masih ditemuakan ketidakefektifan penggunaan alat ini
dapat dilakukan suatu langkah inovasi untuk mengobtimalkan tujuan pada
pembuatan alat ini. Inovasi yang dilakukan sebagai solusi.

BAB III

8
KESIMPULAN

Stroke merupakan penyakit yang sangat mematikan nomer 3 di dunia.


Stroke didefinisikan sebagai gangguan peredaran darah otak yang terjadi secara
mendadak dengan tanda klinis gangguan neurologis fokal atau terkadang global,
berlangsung lebih dari 24 jam serta dapat menimbulkan kematian , pahit , tawar.
Namun terlalu banyak mengkonsumi beberapa jenis air itu dapat menyebabkan
timbulnya penyakit-penyakit yang berbahaya salah satu contohnya adalah stroke.
Seseorang yang sedang sakit atau mengalami hambatan mobilitas seperti tidak bisa
mengaduk minuman dan memegang cangkir dengan baik karena stoke bukan
menjadi sebuah alasan untuk tidak bisa melakukan apapun, seorang pasien juga
menginginkan untuk bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan tidak merepotkan
keluarga ataupun orang lain. Sehingga dibutuhkan alat untuk membantu pasien
untuk mengatasi keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan cairan yang di
butuhkannya. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah DISCATARIS (
Dispenser Cangkir Putar Praktis ) “ Sebagai Solusi Untuk Memenuhi Variasi Intake
Cairan Pada Pasien Penderita Stroke “, alat ini dapat membantu pasien untuk
melakukn aktivitas/mobilitas dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah dan
efisien, serta pasien dapat terlatih untuk bisa melakukan kegiatannya secara mandiri
seperti membuat kopi,teh,susu dan minuman lainnya. Dengan menggukan alat ini
dapat diharapkan pasien akan lebih mudah untuk menjalani aktivitas kesehariannya,
sehingga pasien dapat mengoptimalkan kemampuan motoriknya dan
meminimalkan untuk meminta bantuan kepada keluarga ataupun orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
9
Sedyaningsih, E.R., 2011. Stroke penyebab utama kematian di Indonesia.

Cahyono SpPD.dr.J.B.Suharjo.B., 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern.


Yogyakarta : Kanisius.

Ginsberg, Lionel., 2007. Neurologi. Jakarta: Erlangga Medical Series.

Sambutan Menkes pada Peringatan Hari Stroke Sedunia

Bonita R. (1998) Epidemiology of stroke. Lancet. 339 (1): 342-7

10