Anda di halaman 1dari 180

RS. TK.

IV PEMERIKSAAN GLUKOSA
DR. BRATANATA JAMBI
No. Dokumen : No.Revisi : Halaman :
B / Protap / /2014 01 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


SPO Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
(STANDAR PROSEDUR Bratanata Jambi
OPERASIONAL)

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm NRP11000010390473
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar glukosa dalam serum

Tujuan Untuk mengetahui kadar glukosa dalam serum

Pengukuran kadar glukosa dengan menggunakan metode GOD-


Kebijakan PAP pada suhu 37°c diukur dengan alat Humalyzer 3000 pada
panjang gelombang 546 nm

Prosedur kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Tansferpipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen glukosa
b. Standar glukosa
4. Cara kerja :
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya
dibutuhkan 1 kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Standar - 10 µl -
Sampel - - 10 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur , lalu inkubasi selama 10 menit pada suhu
37°c, baca absorban standar dan sampel terhadap
blanko reagen
5. Cara perhitungan :
Kadar glukosa : 100 x ∆Abs Sampel (mg∕dl)
∆Abs Standar
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN GLUKOSA

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman :


B / Protap / / 2014 01 2/2

Tanggal terbit:
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil :


Nilai normal : 75 – 115 mg/dL
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika kadar glukosa > 700 mg∕dl, encerkan
sampel 1+1 dengan aquabidest, pembacaan hasil dikalikan
2
b. Sampel ikterik tidak dapat digunakan kan pada test ini
c. Kadar trigliserida > 2500 mg∕dl, hemoglobin > 500 mg∕dl
dan ascorbic acid > 20 mg∕dl yang terkandung dalam
sampel tidak dapat digunakan untuk test ini
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan glukosa diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Inap
3. Rawat Jalan
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CHOLESTROL

No. Dokumen : No. Revisi Halaman :


B / Protap / /2014 01 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


SPO Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
(STANDAR PROSEDUR Bratanata Jambi
OPERASIONAL)

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm Nrp 11000010390473
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar cholesterol dalam
serum

Tujuan Untuk mengetahui kadar cholesterol dalam serum

Kebijakan Pemeriksaan cholesterol dengan menggunakan metode CHOD-


PAP pada suhu 37°c diukur dengan alat Humalyzer 3000 pada
panjang gelombang 546 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
1. Humalyzer 3000
2. Transferpipet 1000 µl, 10 µl
3. Tabung serologi dan rak tabung
4. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia:
a. Reagen cholesterol
b. Standar cholesterol
4. Cara kerja:
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya dibutuhkan
1 kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Standar - 10 µl -
Sampel - - 10 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, lalu inkubasi selama 10 menit pada
suhu 37°c, baca absorban standar dan sampel
terhadap blanko reagen

5. Cara perhitungan :
Kadar cholesterol = 200 × ∆Abs Sampel (mg∕dl)
∆Abs Standar
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CHOLESTEROL

No. Dokumen : No. Revisi Halaman :


B / Protap / /2014 00 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur Kerja 6. Evaluasi hasil :


a. Nilai normal = < 200 mg∕dl
b. Dicurigai = > 220 mg∕dl
c. Tinggi = > 260 mg∕dl
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika kadar cholesterol > 750 mg∕dl, encerkan
serum1+2 dengan NacL ( 0,9%)
b. Test ini tidak dipengaruhi oleh kadar bilirubin > 5 mg∕dl
dan kadar Hb > 2 g∕dl
c. Reagen cholesterol mengandung sodium azide (0,25%)
sebagai pengawet, hindari kontak langsung dengan kulit
dan selaput membran, jangan sampai tertelan
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
cholesterol diserahkan ke petugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Inap
3. Rawat Jalan
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TRIGLISERIDA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / / 2014 01 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan,


Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
PROSEDUR Bratanata Jambi
TETAP

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm Nrp 11000010390473
Pengertian Pengertian kimia darah terhadap kadar trigliserida dalam serum
Tujuan Untuk mengetahui kadar trigliserida dalam serum

Kebijakan Pengukuran terhadap kadar trigliserida dengan metode GPO-


PAP (glycerol phospatase oxisadase) pada suhu 37°c, diukur
dengan alat Humalyzer 3000 pada panjang gelombang 546 nm

Prosedur kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen trigliserida
b. Standar trigliserida
4. Cara kerja:
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya dibutuhkan
1kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Standar - 10 µl -
Sampel - - 10 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, lalu inkubasi selama 10 menit pada
suhu 37°c, baca absorban standar dan sampel
terhadap blanko reagen

5. Cara perhitungan :
Kadar trigliserida = 200 x ∆Abs Sampel (mg∕dl)
∆Abs Standar
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TRIGLISERIDA

No. Dokumen : No. Revisi Halaman :


B / Protap / / 2014 01 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil :


a. Nilai normal : <150 mg∕dl
b. Dicurigai : >150 mg∕dl
c. Tinggi : >200 mg∕dl
7. Hal –hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : jika trigliserida > 1000 mg∕dl, encerkan 1+4
dengan NacL ( 0,9%), pembacaan hasil dikalikan 5
b. Kadar Hb >15 mg∕dl dan bilirubin > 40 mg∕dl dan obat-
obatan akan mempengaruhi hasil
c. Reagen trigliserida mengandung sodium azide (0,05%)
sebagai pengawet, jangan sampai tertelan, hindari kontak
langsung dengan kulit dan selaput membran
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaantrigliserida diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia klinik
dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ASAM URAT
No. Dokumen : No. Revisi 01 Halaman :
B / Protap / / 2014 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
SPO Bratanata Jambi
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)
dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS
Mayor Ckm Nrp 11000010390473

Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar asam urat dalam serum

Tujuan Untuk mengetahu kadar asam urat dalam serum

Pengukuran kadar asam urat dengan metode PAP Oxisadase atau


Kebijakan peroxidase pada suhu 37°c, diukur dengan alat ukur Humalyzer
3000 pada panjang gelombang 546 nm

Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 20 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Regaensia :
a. Reagen asam urat
b. Standar asam urat
4. Cara kerja :
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya dibutuhkan
1 kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Standar - 20 µl -
Sampel - - 20 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, lalu inkubasi selama 10 menit pada
suhu 37°c baca absorban standar dan sampel
terhadap blanko reagen
5. Cara Perhitungan :
Kadar asam urat = 8 × ∆ Abs Sampel (mg∕dl)
∆ Abs Standar
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ASAM URAT

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman :


B / Protap / /2014 00 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja 6. Evaluasi Hasil


Nilai normal :
a. Laki-laki : 3, 4 – 7 mg∕dl
b. Perempuan : 2, 4 – 5, 7 mg∕dl
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Jika kadar asam urat > 20 mg∕dl sampel diencerkan 1+1
dengan NacL (0, 9%) pembacaan hasil dikalikan 2
b. Reagen standar mengandung sodium azide (0, 095%)
sebagai pengawet, hindari kontak langsung dengan kulit
dan selaput membran, jangan sampai tertelan
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan asam urat diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN UREUM
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / / 2014 01 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
SPO Bratanata Jambi
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)
dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS
Mayor Ckm Nrp 11000010390473
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar ureum dalam serum
Tujuan Mengetahui kadar ureum dalam serum
Kebijakan Mengetahui kadar ureum dalam serum dengan metode
modifikasi
Berthelot pada suhu 37°c, diukur dengan alat Humalyzer 3000
pada panjang gelombang 578 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transfer pipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip biru dan tip kuning
3. Reagensia :
a. Reagen urea 1/ RGT 1
b. Reagen urea 2/ RGT 2
c. Standar urea
d. Enzym
4. Cara kerja :
a. 1 botol enzym dimasukan kedalam reagen urea 1/RGT 1,
campur hingga homogen, stabil 2 – 8° sampai 6 minggu
b. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya dibutuhkan
1 kali perseri
c.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Blanko - - -
Standar 10 µl
Sampel - - 10 µl
Reagen urea 1 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, biarkan selama 5 menit
Reagen urea 2 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, lalu inkubasi selama 10 menit pada
suhu 37°c, baca absorban standar dan sampel
terhadap blanko reagen
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN UREUM

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / /2014 01 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja 5. Cara perhitungan :


a. Kadar ureum = 80 x ∆Abs Sampel (mg∕dl)
∆Abs Standar
b. Konversi faktor untuk BUN dan UREA
c. Kadar BUN = 0, 466 × kadar UREA
d. Kadar UREA = 2, 14 × kadar BUN
6. Evaluasi hasil :
Nilai normal = 10 – 50 mg∕dl
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika kadar ureum > 400 mg/dl, sampel
diencerkan 1+2 dengan aquabidest, pembacaan hasil
dikalikan 2
b. Reagen standar mengandung sodium azide (0,095%)
sebagai pengawet, jangan sampai tertelan, hindari kontak
langsung dengan kulit dan selaput membran
c. Reagen ureum 2/ RGT 2 mengandung sodium hypochlorite
dalam larutan alkali, dapat mengiritasi mata, kulit, selaput
membran bila kontak langsung dengan, siram dengan air
dan konsultasi ke dokter
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan ureum diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ALBUMIN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / / 2014 01 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
SPO Bratanata Jambi
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm Nrp 11000010390473
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar albumin dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar albumin dalam serum

Kebijakan Pemeriksaan kadar albumin dengan metode BCG (Bromocresol


green) pada suhu 37°c, diukur dengan alat Humalyzer 3000 pada
panjang gelombang 546 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen albumin
b. Standar albumin
4. Cara kerja :
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya dibutuhkan
1 kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampel
tabung
Standar - 10 µl -
Sampel - - 10 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
Campur, lalu inkubasi selama 5 menit pada
suhu 37°c baca absorban standar dan sampel
terhadap blanko reagen

5. Cara perhitungan :
Kadar albumin = 4 × ∆ Abs Sampel ( mg/dL)
∆ Abs Standar
RS. TK. IV PEMERIKSAAN ALBUMIN
DR. BRATANATA JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / /2014 01 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil :


Nilai normal : 3, 8 – 5, 1 g/dl
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika hasil test > 7 g/dl, encerkan sampel 1+1
dengan
NacL (0,9%) pembacaan hasil dikalikan 2
b. Test ini tidak dipengaruhi oleh kadar bilirubin 20 mg/dl,
tiap 100
mg/dl Hb akan menaikkan 0,1 g/dl albumin sehingga
hemolisis
harus dihindari
c. Hemolisis dan lipemia dapat mengganggu test ini
d. Larutan standar harus mengandung sodium azide
(0,095%,),
jangan sampai tertelan, hindari kontak langsung dengan
mata
dan membran mukosa
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan albumin diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL / DIRECT

No. Dokumen : No. Revisi Halaman :


B / Protap / / 2014 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


SPO Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
(STANDAR PROSEDUR Bratanata Jambi
OPERASIONAL)

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm Nrp 11000010390473
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar bilirubin dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar bilirubin dalam serum

Kebijakan Pemeriksaan kadar bilirubin total dengan metode Jendrasik atau


Grof pada suhu 37 °c diukur dengan alat Humalyzer 3000
dengan panjang gelombang 546 nm

Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 100 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen bilirubin total / TBR
b. Reagen t.nitrit reagen / TNR
c. Reagen bilirubin direct /DBR
d. Reagen D.nitrit reagen / DNR
4. Cara kerja :
a. Pengukuran terhadap blanko sampel
b. Total bilirubin
Pipet kedalam Blanko Sampel
tabung Sampel
TBR 1000 µl 1000 µl
TNR - 40 µl

Campur, inkubasi selama 5 menit pada suhu


37°c

Sampel 100 µl 100 µl,


campur , lalu inkubasi pada suhu kamar selama
10 menit, baca absorban sampel terhadap
blanko sampel
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL /DIRECT

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / /2014 01 2/2

Tanggal terbit :
SPO
(STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL)

Prosedur kerja c. Direct bilirubin


Pipet kedalam Blanko Sampel
tabung sampel
DBR 1000 µl 1000 µl
DNR - 40 µl
Campur, lalu inkubasi pada suhu 37°c selama 2
menit
Sampel 100 µl 100 µl
Campur, lalu inkubasi pada suhu kamar selama 5
menit baca absorban sampel terhadap blanko sampel
5.Cara perhitungan
Kadar bilirubin total / direct = ∆A 546 ×13, 0 (mg/dl)
6. Evaluasi hasil
Nilai normal total bilirubin
a. Bayi baru lahir : 5 mg/dl
b. > 5 hari : 12 mg/dl
c. >1 hari : 1,5 mg/dl
d. Dewasa : 1,1 mg/dl
Nilai normal direct bilirubin
Dewasa : 0,25 mg/dl
7. Hal-hal yang perlu diperlukan :
a. Jika kadar bilirubin lebih dari 25 mg/dl, encerkan sampel
1+4 dengan Nacl (0,9 %) pembacaan hasil dikalikan 5
b. Perlu diperhatikan reagen blirubin dengan reagen nitrit
harus benar-benar tercampur sebelum penambahan sampel
c. Hemolisa akan menurunkan kadar bilirubin
d. Kadar bilirubin akan menurun apabila sampel terpapar oleh
sinar
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan bilirubin diserahkan ke petugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN LDH

No. Dokumen : No. Revisi Halaman :


B / Protap / 106 / I / 2011 : ½
00
Tanggal terbit : Ditetapkan
05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim LDH dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar LDH dalam serum

Pengukuran terhadap kadar LDH dengan metode modifikasi


Kebijakan sesuai dengan rekomendasi SCE ( Scardinauian committee on
enzymes ) pada suhu 37°c dengan faktor 20000 diukur dengan
alat Humalyzer 3000 pada panjang gelombang 340 nm
1. Bahan : Serum
Prosedur kerja 2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transpipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen buffer
b. Reagen substrat
4. Cara kerja :
a. Reagen kerja : Pipet 2 ml larutan substrat masukkan
kedalam 1 botol reagen buffer, tahan selama 3 minggu
pada suhu 2-8 °c dan terlindung dari cahaya
b.
Pipet kedalam 37°c
tabung
Sampel 10 µl
Reagen 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1 menit dan
pada saat yang sama jalankan stopwatch,
baca absorban setelah 1,2,3 menit

5. Cara perhitungan :
Kadar LDH = ∆A/menit × 20000 (u/L)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN LDH
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 106 / I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil :
Nilai normal : 225 – 450 u/L
7. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Linearitas : Jika absorban sampel permenit 0, 150 , encerkan
0,1 ml dengan NacL (0,9%) pembacaan hasil dikalikan 10
b. Larutan buffer dan substrat mengandung natrium acide
(0,095%) jangan sampai tertelan, hindari kontak langsung
dengan kulit dan selaput membran
8. 8. Hasil ;
Print out hasil dan formulir permintaan pemeriksaan LDH
diserahkan kepetugas pengetikan dan hasil dan diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH (LED)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 132 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksan darah terhadap kecepatan mengendapnya eritrosit
dalam waktu 1 jam

Tujuan Mengetahui adanya peradangan dan keganasan

Kebijakan Penilaian laju endap darah (LED) dengan metode Westergren,


menggunakan Natrium citrat 3,8% hasil dibaca setelah 1 jam

Prosedur kerja 1. Bahan : Darah EDTA


2. Alat :
a. Pipet westergren dan rak westergren
b. Karet penghisap
3. Reagensia :
Natrium citrat 3,8%
4. Cara kerja
a. Masukan 1,6 ml darah kedalam tabung yang berisi 0,4 ml
Natrium citrat 3,8%, campur dengan baik, jangan dikocok
b. Hisaplah darah tersebut dengan pipet westergren sampai
tanda 0 dengan menggunakan karet penghisap
c. Letakan pipet westergren pada posisi berdiri vertikal pada
rak westergren
d. Dibiarkan selama 1 jam
5. Cara perhitungan :
Dilihat mm tebalnya lapisan plasma diatas eritrosit yang telah
mengendap dan nyatakanlah nilai laju endap darah (LED)
dalam mm/jam
6. Evaluasi hasil :
Nilai normal :
a. Laki-laki : < 10 mm/jam
b. Perempuan : < 15 mm/jam
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH (LED)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 132 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur Kerja 7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Posisi pipet westergren harus dalam posisi tegak lurus,
selisih
kecil dari garis vertikal sudah dapat berpengaruh banyak
terhadap hasil laju endap darah
b. Sewaktu darah dipipet kedalam pipet westergren jagalah
jangan sampai terjadi gelembung udara atau busa
8. Hasil :
Nilai yang didapat diserahkan kepada petugas pengetikan
hasil diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan laju
endap darah

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH (CT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 127 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap lamanya waktu yang diperlukan
darah untuk membeku

Tujuan Mengetahui ukuran aktivitas faktor – faktor koagulasi darah,


tserutama faktor- faktor yang membentuk tromboplastin

Kebijakan Pemeriksan masa pembekuan darah dilakukan untuk mengetahui


lamanya pembekuan yang terjadi dari luka yang dibuat dengan
tusukan lancet pada ujung jari .

Prosedur kerja 1. Bahan : Darah


2. Alat :
a. Autoklick atau lancet
b. Stopwach
c. Kertas saring
2. Reagen
Alkohol 70%
3. Cara kerja
Metode objek glass
a. Bersihkan ujung jari (jari manis atau tegak) dengan alkohol
70%, biarkan kering
b. Buatlah tusukan pada ujung jari manis, hapus tetesan
pertama, tetesan berikutnya diteteskan pada objek glass
c. Jalankan stopwatch pada saat darah keluar dari tusukan
d. Tiap 30 detik, lihat adanya bekuan dengan cara mengkait
darah dengan jarum
e. Waktu pembekuan terbentuk pada saat terbentuk benang
fibrin, catat waktunya
4. Evaluasi hasil
Nilai normal : 2 – 6 menit
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan
Tetesan darah pertama harus dihapus, kemungkinan tercampur
dengan alkohol yang belum kering, sehingga menghasilkan
waktu pembekuan yang salah.
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH (CT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 127 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur tetap 6. Hasil


Hasil dari waktu masa pembekuan dan formulir permintaan
pemeriksaan diserahkan kepetugas pengetikan hasil,dan
diarsipkan ke dalam buku pemeriksaan masa pembekuan dan
file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MASA PERDARAHAN (BT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 128 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap lamanya perdarahan yang terjadi
pada luka kulit yang dibuat dengan persyaratan tertentu

Tujuan Mengetahui lamanya perdarahan yang terjadi dari luka yang


dibuat dengan tusukan lancet pada cuping telinga

Kebijakan Pemeriksaan masa perdarahan dengan metode duke untuk


menguji faktor vaskuler dan trombosit dalam mekanisme
perdarahan

Prosedur kerja 1. Bahan : Darah


2. Alat :
a. Autoklick atau lancet
b. Tissue
c. Stopwatch
d. Kapas
3. Reagensia :
Alkohol 70%
4. Cara kerja
Cara Duke
a. Bersihkan anak daun telinga dengan alkohol 70% dan
biarkan kering lagi
b. Tusukan pinggir anak daun telinga dengan autokilick atau
lancet sedalam 2 mm
c. Jika terlihat darah mulai keluar, jalankan stopwatch
d. Usaplah tetes darah yang keluar setiap 30 detik dengan
memakai tissue, jagalah jangan sampai menekan kulit pada
waktu menghisap darah
e. Hentikan stopwatch pada waktu darah tidak dapat dihisap
lagi dan catatlah waktunya
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MASA PERDARAHAN (BT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 128 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit : Ditetapkan,


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit TK. IV dr.
PROSEDUR Bratanata Jambi
TETAP

dr. Nirwan Arief, Sp.M, MARS


Mayor Ckm Nrp
11000010390473
Prosedur kerja 5. Cara perhitungan
Waktu dicatat pada saat stopwatch dihentikan ketika darah
tidak dapat dihisap lagi
6. Evaluasi hasil
Nilai normal
Cara Duke : 1 – 3 menit
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Bila masa perdarahan lebih dari 10 menit , hentikan
pemeriksan,
karena telah membuktikan adanya kelainan mekanisme
hemostasis
b. Tusukan harus cukup dalam sehingga bercak darah pada
tissue
berdiameter 5 mm atau lebih
c. Jangan lakukan pemeriksaan jika diameter bercak darah
kurang
dari 5 mm dan jika masa perdarahan kurang dari 1 menit,
kedua
hal tersebut dikarenakan penusukan kurang dalam
8. Hasil
Hasil dari waktu masa perdarahan diserahkan kepada petugas
pengetikan hasil dan diarsipkan ke dalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV PEMERIKSAAN WIDAL
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman:


B / Protap / 138 / I / 00 ½
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap Salmonella SP dalam serum

Untuk mengetahui adanya penyakit yang disebabkan oleh


Tujuan bakteri Salmonella typhi O, H, serta Salmonella paratyphi AO
dan AH.
Pemeriksaan widal dilakukan dengan menggunakan prinsip
Kebijakan
antigen dalam darah yang mengandung bakteri Salmonella
typhi O, H dan paratyphi AO dan AH, ditambah dengan
antibodi dalam reagen.
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Plate widal
b. Tabung dan rak tabung
c. Batang pengaduk
d. Transferpipet 30 µl, 10 µl
e. Rotator
3. Reagensia :
d. Antigen Salmonella typhi A
e. Antigen Salmonella typhi O
f. Antigen Salmonella paratyphi AH
g. Antigen Salmonella paratyphi AO
4. Cara kerja :
a.
Pipet pada plate
Antigen S.typhi.A 30 µl
Antigen S.typhi.O 30 µl
Antigen S.paratyphi. 30 µl
AH
Antigen S.paratyphi. 30 µl
AO
Tambahkan serum sebanyak 10 µl
pada masing – masing antigen
b. Campur, lalu homogenkan dengan rotator selama 2
menit
dengan kecepatan 80 r.p.m, kemudian lihat adanya
aglutinasi
c. Jika terbentuk aglutinasi, lanjutkan dengan pemeriksaan
titer

RS. TK. IV
PEMERIKSAAN WIDAL
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 138 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja b. Pemeriksaan titer

Titer S.typhi. S.typhi. S.para S.para


H AH typhi.A typhi.A
H H
1/160 Antigen 30 µl 30 µl 30 µl 30 µl
Serum 5 µl 5 µl 5 µl 5 µl
1/320 Antigen I tetes I tetes I tetes I tetes
Serum 5 µl 5 µl 5 µl 5 µl
c. Baca hasil pemeriksaan titer dengan melihat adanya
aglutinasi,
jika masih terdapat aglutinasi, lakukan titer berikutnya
d. Laporkan titer pemeriksaan widal pada aglutinasi terakhir.
5. Evaluasi hasil :
a. (+) Positif = Terbentuk aglutinasi
b. (-) Negatif = Tidak terbentuk aglutinasi
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Sebelum dilakukan pemeriksaan, reagen antigen disuhu
kamarkan terlebih dahulu.
b. Jika pada hasil pemeriksaan terbentuk aglutinasi yang
tebal,
lanjutkanpada titer berikutnya.
7. Hasil :
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
widal diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
ke dalam buku laporan pemeriksaan widal dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH DAN RHESUS


DR. BRATANATA JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
B / Protap / 134 / I / 00 ½
2011
Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010

PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Proses pemeriksaan golongan darah dengan metode slide

Tujuan Megetahui golongan darah dan rhesus seseorang


Pemeriksaan golongan darah dengan menggunakan prinsip
Kebijakan antigen dalam darah ditambah dengan antibody dalam reagen
akan terbentuk aglutinasi.
Prosedur Kerja 1. Bahan : Darah
2. Alat :
a. Objek glass
b. Kartu golongan darah
3. Reagensia :
a. Antigen A
b. Antigen B
c. Antigen AB
d. Antigen RH
4. Cara kerja :
a. Teteskan masing-masing 1 tetes reagen antigen A, B, AB
dan RH (Rhesus) pada kartu golongan darah sesuai
dengan jenis kolom antigen
b. Tambahkan masing-masing 1 tetes darah pada kartu
golongan darah.
c. Campur dengan merata dengan menggunakan sisi objek
glass.
d. Lihat adanya aglutinasi.
5. Evaluasi hasil :
a. Golongan darah A : Terbentuk aglutinasi dengan
penambahan
antigen A dan antigen AB.

b. Golongan darah B : Terbentuk aglutinasi dengan


penambahan
antigen B dan antigen AB.

c. Golongan darah AB : Terbentuk aglutinasi dengan


penambahan antigen A, antigen
B dan
antigen AB.
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH DAN RHESUS

No. Dokumen No. Revisi : Halaman


B / Protap / 134 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja d. Golongan darah O : Tidak terbentuk aglutinasi baik


penambahan antigen A, antgen B
dan
antigen AB.
e. Rhesus positif (+) : Terbentuk aglutinasi dengan
penambahan antigen RH

f. Rhesus negatif (-) : Tidak terbentuk aglutinasi dengan


penembahan antigen RH

6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Hasil pemeriksaan golongan darah sebaiknya diperiksa
setelah
2 menit.
b. Pakailah antigen AB, tindakan ini berguna untuk
mempertegas golongan darah grup A / B yang lemah.
c. Objek glass yang dipakai untuk memeriksa golongan
darah
harus bersih, tidak boleh ada sisa-sisa darah sedikitpun
karena
dapat menyebabkan aglutinasi palsu
d. Jika meragukan, lihat dengan mikroskop pembesaran 10x
7. Hasil :
Hasil pemeriksaan golongan darah diserahkan kepetugas
pengetikan hasil dan diarsipkan ke dalam buku laporan
pemeriksaan darah lengkap dan file komputer.

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV PEMBUATAN SEDIAAN APUS DARAH TEPI
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 129 / I / ½
00
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pembuatan sediaan yang dibuat dari setetes darah perifer pada
Pengertian kaca objek dan digeser denga kaca penggeser sehingga
menjadi lapisan darah yang tipis.

Untuk melihat morfologi sel-sel darah, menghitung


Tujuan
persentase jenis-jenis lekosit
Pembuatan sediaan dilakukan dengan cara menyentuh setetes
Kebijakan
darah kecil (garis tengah tidak melebihi 2 mm) pada kaca
objek tanpa menyentuh kulit, kemudian digeser dengan kaca
penggeser degan sudut kemiringan 30 - 45 sehingga tetesan
darah menjadi lapisan darah yang tipis.
1. Bahan : Darah EDTA
Prosedur Kerja
2. Alat :
a. Kaca objek
b. Rak pewarna
3. Reagensia :
a. Methanol
b. Larutan Giemsa
c. Buffer PH 7,2
d. Aquadest
4. Cara kerja :
a. Buat sediaan apus darah, biarkan kering diudara.
b. Fixaxi dengan cara mencelupkan sediaan apus kedalam
methanol beberapa saat.
c. Diamkan sampai kering (tidak dipanaskan atau dijemur).
d. Buat campuran giemsa dengan buffer phosfat PH 7,2
dengan perbandingan 1 tetes giemsa untuk 1 ml larutan
buffer phosfat
PH 7,2, tuang sediaan apus dengan campuran giemsa
dan buffer phosfat , diamkan selama 15 menit.
e. Bilas dengan air sampai bersih.
5. Evaluasi hasil :
Sediaan apus darah yang baik, panjangnya ½ sampai 2/3
panjang kaca dan tidak boleh berlubang.

RS. TK. IV
PEMBUATAN SEDIAAN APUS DARAH TEPI
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 129 / I / 2011 2/2
00

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Kaca yang dipakai harus kering, bebas dari debu dan
bebas
lemak, serta kaca untuk menggeserkan darah sisi
pendeknya
rata sekali
b. Sediaan apus hendaknya cepat mengering, jika lambat
mengering akan mengalami perubahan morfologi
eritrosit
a. Jangan menggunakan darah oxalat untuk sediaan apus,
karena morfologi lekosit akan sangat berubah, pakailah
darah kapiler,darah vena bercampur heparin atau EDTA.
b. Patokan umum untuk pengenceran serta lamanya
pemulasan.
i. Pengenceran 1:20 (1 ml giemsa + 20 tetes buffer)
diputar
selama 20 menit.
ii. Pengenceran 1:30 (1 ml giemsa + 30 tetes buffer)
diputar
selama 30 menit.
c. Larutan kerja yang baik harus dibuat setiap hari.
d. Kriteria sediaan darah berkualitas baik yaitu :
i. Jika dilihat dibawah mikroskop mempunyai latar
belakang
jernih.
ii. Setiap lapangan pandang mikroskop terdapat 10-20
sel
lekosit, dimana inti lekosit berwarna ungu dan
sitoplasmanya biru.
iii. Warna-warna merah, ungu, biru dan hitam harus
terlihat
kontras sehingga mudah dibedakan.
7. Hasil :
Sediaan apus darah yang baik, panjangnya 1/2 sampai 2/3
panjang kaca dan tidak boleh berlubang.

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV PEMERIKSAAN HITUNG JENIS LEKOSIT


DR. BRATANATA JAMBI (DIFF COUNT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 131 / I / 00 ½
2011
Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengetian Pemeriksaan hapusan darah dengan menghitung jenis-jenis
sel lekosit hingga tercapai 100 sel lekosit.

Tujuan Menghitung persentasi jenis-jenis sel lekosit.

Kebijakan Dilakukan paling lambat 6 jam setelah pengambilan darah.


1. Bahan : Darah EDTA
Prosedur Keja
2. Alat :
a. Mikroskop
b. Kaca objek
c. Diff counter
3. Reagensia :
Minyak Immersi
4. Cara kerja :
a. Teteskan 1 tetes minyak immersi pada bagian apusan
yang cukup tipis dan eritrosit tidak menggumpal.
b. Baca lekosit dengan menghitung mulai dari pinggir atas
sediaan, pindah ke bawah dengan pembesaran 10 x100.
c. Geser kekanan, kemudian kepinggir atas lagi.
d. Geser kekanan lagi kemudian kepinggir bawah, ini
dilakukan terus menerus hingga tercapai sel lekosit
dengan urutan basofil, eosinofil, neutrofil batang,
segmen, limposit dan
monosit.
5. Evaluasi hasil :
a. Basofil 0 – 1%
b. Eosinofil 1 – 3%
c. Batang 2 – 6%
d. Segmen 50 – 70%
e. Limfosit 20 – 40%
f. Monosit 2 – 8%
RS. TK. IV PEMERIKSAAN HITUNG JENIS LEKOSIT
DR. BRATANATA JAMBI (DIFF COUNT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 131 / I / 2011 2/2
00

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


a. Jangan menggunakan darah oxalat untuk sediaan apus
karena
akan mempengaruhi morfologi sel lekosit, pakailah
darah
kapiler, darah vena bercampur heparin atau EDTA
b. Kriteria sediaan darah berkualitas baik yaitu, jika dilihat
dibawah mikroskop mempunyai latar belakang jernih.
c. Setiap lapangan pandang mikroskop terdapat 10-20 sel
lekosit, dimana inti lekosit berwarna ungu dan
sitoplasmanya biru
d. Warna-warna merah, ungu, biru dan hitam harus terlihat
kontras sehingga mudah dibedakan.
7. Hasil :
Hasil pemeriksaan hitung jenis sel lekosit dan formulir
permintaan pemeriksaan diff count diserahkan kepetugas
pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam buku pemeriksaan
darah lengkap

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN α - GT

No. Dokumen No. Revisi : Halaman


B / Protap / 101 / I / 00 ½
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim α – GT dalam
Pengertian
serum

Tujuan Mengetahui kadar α – GT dalam serum


Pengukuran kadar α – GT dengan metode kinetik
Kebijakan
Colorimetrik IFCC pada suhu 37 . Diukur pada alat
Humalyzer 3000 dengan faktor 1309 dengan panjang
gelombang 405 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transpipet 1000 µl , 100 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Larutan buffer
b. Larutan substrat
4. Cara kerja :
a. Reagen kerja : Pipet 2 ml larutan substart masukkan
kedalam 1 botol larutan buffer, simpan pada suhu 1 – 8
, tahan sampai 4 minggu
b.
Pipet kedalam 37
tabung
Sampel 100 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1 menit dan
pada saat yang sama, jalankan stopwatch,
baca absorban setelah 1, 2, 3 menit

5. Cara perhitungan
Kadar α – GT = ∆A / menit x 1309 (U/L)

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN α – GT

No. Dokumen No. Revisi : Halaman


B / Protap / 101/ I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil
Nilai normal :
Temperatur 37
Laki – laki 11 – 61
Perempuan 9- 39
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika absorban sampel permenit lebih dari
0,200
encerkan sampel 0,1 ml + 0,5 ml (NacL 0,9%),
pembacaan
hasil dikalikan 6
b. Larutan buffer dan substrat mengandung sodium azide
(0,095%) jangan sampai tertelan, hindarkan kontak
langsung
dengan kulit dan selaput membran
c. Percampuran reagen kerja harus disesuaikan dengan
nomor
kemasan (REF)
8. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan α - GT diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
kimia klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ALKALI PHOSPATASE

No. Dokumen : No. Revisi: Halaman


B / Protap / 100 / I / 2011 00 ½
Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar alkali pospatase
Pengertian
dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar alkali pospatase dalam serum


Pengukuran kadar alkali pospatase dengan metode optimizeel
Kebijakan
standar rekomendasi German clinical chemistry association /
DGKC diukur pada alat Humalyzer 3000 pada panjang
gelombang 405 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transpipet 1000 µl, 20 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Larutan buffer
b. Larutan substrat
4. Cara kerja :
a. Reagen kerja : Pipet 2 ml larutan substrat masukkan
kedalam
1 botol larutan buffer, simpan pada suhu 2 - 8 , tahan
sampai 4 minggu
b.
Pipet kedalam 37
tabung
Sampel 20 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1 menit dan
pada saat yang sama jalankan stopwatch,
baca absorban setelah 1, 2, 3 menit

5. Cara perhitungan :
Kadar ALP = ∆Abs / menit x 2757 (U/L)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ALKALI PHOSPATASE

No. Dokumen No. Revisi Halaman


B / Protap / 100 / I / : 2/2
2011 00

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil


Nilai normal :
Temperatur 37
Perempuan 64 – 306
Laki-laki 80 – 306
< 15 th < 644
< 17 th < 483
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Lineritas : Jika absorban sampel permenit lebih dari
0,250 encerkan sampel 0,1 ml + 0,5 ml (NacL 0,9%).
pembacaan hasil dikalikan 6
b. Larutan buffer dal larutan substrat mengandung sodium
azide
(0,095%) sebagai pengawet jangan sampai tertelan,
hindari
kontak langsung dengan selaput membran
c. Percampuran reagen kerja harus disesuaikan dengan
nomor kemasan (REF)
8. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan alkali phospatase diserahkan kepetugas
pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan
pemeriksaan kimia klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SGPT

No. Dokumen No. Halaman


B / Protap / 99/ I / Revisi: ½
2011 00

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim SGPT dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar SGPT dalam serum


Pengukuran kadar SGPT dengan metode enzimatik kinetik
Kebijakan
sesuai dengan rekomendasi IFCC suhu 37 diukur dengan
alat Humalyzer 3000 pada faktor 1745 dengan panjang
gelombang
340 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 100 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Larutan buffer
b. Larutan substrat
4. Cara kerja
a. Reagen kerja : Pipet 2 ml larutan substratmasukkan
kedalam
1 botol buffer, simpan pada suhu 2 - 8 , tahan sampai
4 minggu
b.
Pipet kedalam 37
tabung
Sampel 100 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1 menit,
dan pada saat yang sama, jalankan
stopwatch, baca absorban setelah 1, 2, 3
menit

5. Cara perhitungan
Kadar SGPT = ∆A / menit x 1745 (U/L)

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SGPT

No. Dokumen : No. Revisi Halaman


B / Protap / 99/ I / : 2/2
2011 00

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil


Nilai normal :
a. Laki-laki : < 42 U/L
b. Perempuan : < 34 U/L
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Jika kadar SGPT > 350 U/L, encerkan sampel 0,1 ml
dengan
0,9 ml NacL (0,9%) pembacaan hasil dikalikan10
b. Larutan substrat dan larutan buffer mengandung sodium
azide
(0,095%) jangan sampai tertelan. hindarkan kontak
langsung
dengan kulit dan selaput membran
c. Percampuran reagen kerja harus disesuaikan dengan
nomor
kemasan (REF)
8. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan SGPT diserahkan kepetugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SGOT

No. Dokumen No. Revisi Halaman


B / Protap / 98/ I / : ½
2011 00
Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim SGOT dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar SGOT dalam serum


Pengukuran kadar SGOT dengan metode enzimatik kinetik
Kebijakan
sesuai dengan rekomendasi IFCC suhu 37 diukur pada
Humalyzer 3000 dengan faktor 1745 dengan panjang
gelombang 340 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 100 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Larutan buffer
b. Larutan substrat
4. Cara kerja
a. Reagen kerja : Pipet 2 ml larutan substrat dan masukkan
kedalam 1 botol larutan buffer simpan pada suhu 2 - 8
,
tahan sampai 4 minggu
b.
Pipet kedalam 37
tabung
Sampel 100 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1 menit
dan pada saat yang sama jalankan
stopwatch. Baca absorban setelah 1, 2, 3
menit

5. Cara perhitungan
Kadar SGOT = ∆A / menit x 1745 (U/L)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SGOT

No. Dokumen : No. Halaman


B / Protap / 98/ I / Revisi: 2/2
2011 00

Tanggal terbit
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil


Nilai normal :
a. Laki-laki : < 37 U/L
b. Perempuan : < 31 U/L
7. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika kadar SGOT > 350 U/L, encerkan
sampel
0,1 ml + 0,9 ml NacL (0,9%). Pembacaan hasil
dikalikan 10
b. Larutan buffer dan substrat mengandung Sodium azide
(0,095%) sebagai pengawet jangan sampai tertelan,
hindari
kontak langsung dengan kulit dan selaput membran
c. Percampuran reagen kerja harus disesuaikan dengan
nomor kemasan (REF)
8. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan SGOT diserahkan kepetugas pengetikan hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CREATININ

No. Dokumen No. Halaman


B / Protap / 96/ I / Revisi: ½
2011 00

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. Na, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar creatinin dalam
Pengertian
serum

Tujuan Mengetahui kadar creatinin dalam serum


Pemeriksaan creatinin dengan metode alkaline picrate pada
Kebijakan
suhu 37 , diukur pada alat Humalyzer 3000 dengan panjang
gelombang 492 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transfer pipet 1000 µ, 500 µl, 100 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen PIC
b. Reagen NaOH
c. Standar creatinin
d. Aquadest
4. Cara kerja
a. Reagen kerja A : campurkan 1 ml reagen NaOH dengan 4
ml aquadest
b. Reagen kerja B : campurkan reagen kerja A dengan
reagen PIC sama banyak sesuai dengan kebutuhan,
stabil selama4 bulan pada suhu 25
c.
Pipet kedalam Standar Sampel
tabung
Standar 100 µl -
Sampel - 100 µl
Reagen kerja B 1000 µl 1000 µl
Campur, ukur pada alat Humalyzer
3000(blanko standar sampel dilakukan satu per
satu) baca absorban setelah 30 detik (A1) dan
setelah 90 detik (A2)

5. Cara perhitungan
Kadar creatinin = 2,0 x ∆ Abs Sampel (mg/dl)
∆ Abs Standar

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CREATININ

No. Dokumen : No. Revisi Halaman


B / Protap / 96/ I / : 2/2
2011 00

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil


Nilai normal :
a. Laki-laki : 0,6 – 1,1 mg/dl
b. Perempuan : 0,5 – 0,9 mg/dl
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Linearitas : Jika kadar creatinin 710 mg/dl, encerkan
sampel
1+5 dengan NacL (0,9%), pembacaan hasil dikalikan 6
8. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan creatinin diserahkan kepetugas pengetikan
hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan kimia
klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV PEMERIKSAAN VIRUS HEPATITIS C (HCV)
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 145 / I / 2011 00 ½

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan darah terhadap virus hepatitis C
Pengertian

Mengetahui adanya virus hepatitis C dalam serum


Tujuan

Pemeriksaan virus hepatitis C (HCV) strip test adalah


Kebijakan
pemeriksaan kualitatif dengan kromatografi immunoassay untuk
mendeteksi adanya virus hepatitis C dalam serum atau plasma
dan diketahui dengan terbentuknya 2 garis pada strip test
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Tabung dan rak tabung
b. Timer
3. Reagen :
HCV Acon strip test
4. Cara kerja :
a. HCV strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan pada
suhu kamar selama 15 menit sebelum digunakan
b. Celupkan HCV strip test kedalam sampel serum ± 10 – 5
detik
dan jangan melewati garis maksimum dari strip test
c. Letakan HCV strip test pada tempat yang mendatar,
jalankan timer
d. Baca hasil pada waktu 10 menit dan jangan membaca hasil
setelah 20 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada
tes (T)
b. (-) Negatif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
c. Invalid : Terbentuk garis hanya pada tes (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada
test (T)

RS. TK. IV PEMERIKSAAN VIRUS HEPATITIS C (HCV)


DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 145 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. 6. Hal-hal yang perlu diperhatikan


a. Jangan digunakan jika HCV strip test telah kadaluarsa
b. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
c. Pisahkan segera serum dari darah untuk mencegah
terjadinya
hemolisis
d. Segera lakukan pemeriksaan jika serum sudah terkumpul,
jika
terjadi penundaan pemeriksaan, simpanlah serum pada
suhu
2 - 8 tahan selama 3 hari atau simpanlah pada suhu -20

untuk waktu yang lama


7. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
HCV diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan serologi dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TOTAL PROTEIN

No. Dokumen No. Revisi : Halaman


B / Protap / 103 / I / 2011 00 ½

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar protein total dalam


Pengertian
serum

Tujuan Mengetahui kadar protein dalam serum


Pemeriksaan kadar protein total dengan metode Biuret diukur
Kebijakan
pada alat Humalyzer 3000 dengan panjang gelombang 546 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 20 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen total ,protein
b. Standar total ,protein
4. Cara kerja :
a. Pengukuran terhadap blanko dan standar hanya
dibutuhkan 1kali perseri
b.
Pipet kedalam Blanko Standar Sampe
tabung l
Standar - 20 µl -
Sampel - - 20 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000
µl
Campur, lalu inkubasi selama 10 menit pada
suhu 37 , baca absorban standard an sampel
terhadap blanko reagen

5. Cara perhitungan :
Kadar total protein = 8 x ∆ Abs Sampel (g/dL)
∆ Abs Standar

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TOTAL PROTEIN
No. Dokumen No. Revisi : Halaman
B / Protap / 103 / I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil :


Nilai normal :
a. Bayi baru lahir : 4,6 – 7,0 g/dl
b. Anak (3 th) – dewasa : 6,6 – 8,7 g/dl
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Linearitas : Jika kadar total protein > 12 encerkan
sampel
1 + 1 dengan NacL (0,9%), pembacaan hasil dikalikan 2
b. Larutan standar mengandung sodium azide (0,095%)
sebagai
pengawet, hindari kontak langsung dengan kulit dan
selaput
membran, jangan sampai tertelan
c. Reagen warna mengandung NaOH yang iritan, bila
kontak
dengan kulit dan selaput membran, cuci dengan air
8. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan total protein diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
kimia klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
PEMERIKSAAN ANTIBODI HEPATITIS B (HBsAb)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 143 / I / 00 1/2
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan darah terhadap antibody virus hepatitis B dalam
Pengertian serum

Mengetahui adanya antibody virus hepatitis B dalam serum


Tujuan

Antibody virus hepatitis B (HbsAb) strip test adalah


Kebijakan
pemeriksaan kualitatif dengan kromatografi immunoassay
untuk mendeteksi adanya antibody virus hepatitis B dalam
serum atau plasma, dan diketahui dengan terbentuknya 2 garis
pada strip test
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Tabung dan rak tabung
b. Timer
3. Reagensia :
HbsAb Acon strip test
4. Cara kerja :
a. HBsAb strip test terlebih dahulu dikeluarkan dari tempat
penyimpanan selama 15 menit pada suhu kamar
b. Celupkan HBsAb strip test kedalam sampel serum ± 10-15
detik dan jangan melewati garis maksimum dari strip test
c. Letakkan HBsAb strip test pada tempat yang mendatar,
jalankan timer,
d. Baca hasil pada waktu 15 menit dan jangan membaca
hasil setelah 20 menit
5. Evaluasi hasil :
a. (+) Positif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada
test (T)
b. (-) Negatif :Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
c. Invalid :Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada
test (T)

RS. TK. IV PEMERIKSAAN ANTIBODI HEPATITIS B (HBsAb)


DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 143 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


a. Jangan digunakan jika HBsAb strip test telah kadaluarsa
b. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
c. Pisahkan segera serum dari darah untuk mencegah
terjadinya
hemolisis
d. Segara lakukan pemeriksaan jika serum sudah terkumpul,
jika
terjadi penundaan pemeriksaan, simpanlah serum pada
suhu
2- 8 , tahan selam 3 hari, atau simpanlah pada suhu -
20
untuk waktu yang lama
e. HBsAb strip test tidak dapat mendeteksi antibodi
hepatitis B
jika kadar didalam serum < 10 miu/mL
7. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
antibody hepatitis B diserahkan kepetugas pengetikan hasil
dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan hepatitis
dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
PEMERIKSAAN ANTIGEN HEPATITIS B (HBsAg)
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 142 / I / 2011 00 1/2
Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan darah terhadap virus hepatitis B dalam serum
Pengertian

Mengetahui adanya virus hepatitis B dalam serum


Tujuan

Virus hepatitis B (HBsAg) strip test adalah pemeriksaan


Kebijakan
kualitatif dengan kromatografi immunoassay unutuk
mendeteksi adanya antigen virus hepatitis B dalam serum atau
plasma, dan diketahui dengan terbentuknya 2 garis pada strip
test
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Tabung dan rak tabung
b. Timer
3. Reagensia :
HBsAg Acon strip test
4. Cara kerja :
a. HBsAg strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan
selama 15 menit pada suhu kamar
b. Celupkan HBsAg strip test kedalam sampel serum ± 10-15
detik dan jangan melewati garis maksimum dari strip test
c. Letakkan HBsAg strip test pada tempat mendatar,
jalankan timer
d. Baca hasil pada waktu 15 menit dan jangan membaca
hasil setelah 30 menit
5. Evaluasi hasil :
a. (+) Positif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada
test (T)
b. (-) Negatif :Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
c. Invalid :Terbentuk garis hanya pada test (T) atau
tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada
test (T)

9.
RS. TK. IV PEMERIKSAAN ANTIGEN HEPATITIS B (HBsAg)
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 142 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Jangan digunakan jika HbsAg strip test telah kadaluarsa
b. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
c. Pisahkan segera serum dari darah untuk mencegah
terjadinya hemolisis
d. Segara lakukan pemeriksaan jika serum sudah
terkumpul, jika terjadi penundaan pemeriksaan,
simpanlah serum pada suhu
2- 8 , tahan selam 3 hari, atau simpanlah pada suhu -
20
untuk waktu yang lama
e. HBsAg strip test tidak dapat mendeteksi virus hepatitis
B jika kadar didalam serum < 1 ng/mL
7. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
HBsAg diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan hepatitis dan
file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV PEMERIKSAAN KEHAMILAN
DR. BRATANATA JAMBI (hCG STRIP TEST)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 157 / I / 00 1/1
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan urine terhadap hormon chorionic gonadotropin
Pengertian
dalam urine

Mengetahui adanya hormon chorionic gonadotropin dalam


Tujuan
urine
hCG strip urine dengan metode kromatografi immunoassay
Kebijakan
untuk mendeteksi hormon chorionic gonadotropin secara
kualitatif secara dini. dan hasil diketahui dengan terbentuk 2
garis pada strip test
Prosedur Kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
Wadah penampung urine
3. Reagensia :
hCG Acon strip test
4. Cara kerja
a. Urine ditampung pada wadahnya
b. Celupkan hCG strip test kedalam urine selama ± 10 – 15
detik dan jangan melewati garis maksimum
c. Letakkan hCG strip test pada tempat yang mendatar
d. Baca hasilnya dalam waktu 3 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
b. (-) Negatif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
c. Invalid :Terbentuk garis hanya pada test (T) atau
tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada
test (T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Jangan gunakan hCG strip test urine jika telah kadalurasa
b. Kemasan hCG strip test urine jangan dibuka sebelum
digunakan
c. Wadah penampung urine harus kering dan bersih
sebaiknya gunakan urine pagi
7. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
test kehamilan diserahkan ke petugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan urinalisa dan
file komputer
1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DHF

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 148 / I / 2011 00 1/2

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pemeriksaan darah terhadap adanya antibodi igG dan igM dari
Pengertian
virus dengue dalam serum

Untuk mengetahui adanya antibodi igG dan igM dari virus


Tujuan
Dengue dalam serum
Pemeriksaan antibodi igG dan igM dari virus Dengue
Kebijakan
berdasarkan fase immunokromatografi assay secara kualitatif
dan mendeteksi perbedaan pada antibodi virus dengue yang
terdapat dalam serum atau plasma seseorang
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Transferpipet 5 µl
b. Tabung dan rak tabung
c. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Test device SD Dengue IgG dan IgM
b. Assay diluent
4. Cara kerja
a. Pipet 5 µl serum masukkan kedalam tempat sampel yang
bertanda “S”
b. Tambahkan 3 – 4 tetes assay diluent kedalam sumur assay
diluent yang berbentuk bulat
c. Baca hasil dalam waktu 15 – 20 menit
5. Evaluasi hasil
a. (-) Negatif : Terbentuk 1 garis pink pada kontrol (C)
yang
terdapat dalam kolom sebelah kanan
b. (+) IgM : Terbentuk 2 garis pink pada C dan M
dalam
kolom hasil dan tetap (+) walaupun garis
M
lemah
c. (+) IgG : Terbentuk 2 garis pink pada C dan G
dalam
kolom hasil, dan tetap (+) walaupun garis
G lemah
d. (+) IgG, IgM : Terbentuk 3 garis pink pada C, M dan G
dalam kolom hasil
e. Invalid : Tidak terbentuk garis pada C, M dan G
atau
hanya terbentuk 1 garis pada M atau G

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DHF
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
B / Protap / 148 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan


a. Pembungkus kaset jangan dibuka sebelum dilakukan
pemeriksaan
b. Assay diluent mengandung Sodium azide sebagai
pengawet yang bersifat racun. hindari kontak langsung
dengan kulit
c. Jangan gunakan kaset untuk pemeriksaan berikutnya
jika serum atau plasma tidak segera diperiksa simpanlah
pada
suhu 2 - 8
d. Serum atau plasma yang mengandung endapan dapat
mengganggu pemeriksaan, gunakan serum yang jernih
e. Jangan membaca hasil pemeriksaan lebih dari 20 menit
7. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
DHF diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan DHF dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
PEMERIKSAAN MYCOTEX TB
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 147 / I / 2011 00 1/2

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Pemeriksaan darah terhadap adanya antibodi IgG dan IgM


Pengertian
tuberkulosis dalam serum atau plasma

Untuk mengetahui adanya antibodi IgG dan IgM tuberkulosis


Tujuan
dalam serum
Pemeriksaan antibodi IgG dan IgM tuberkulosis menggunakan
Kebijakan
metode kromatografi immunoassay secara kualitatif untuk
mengetahui adanya antibodi IgG dan IgM terhadap
tuberkulosis
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Tranferpipet 10 µl
b.Tabung dan rak tabung
c. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Test device TB IgG , IgM
b. Assay diluent
4. Cara kerja
a. Keluarkan test device dari pembungkus, letakkan
ditempat yang dan kering
b. Tambahkan 10 µl serum atau plasma kedalam test device
c. Tambahkan 4 tetes (90 – 120 µl) assay diluent kedalam
test device
d. Pada saat pemeriksaan berjalan, akan terlihat warna ungu
bergerak melewati kolom hasil yang berada ditengah
e. Baca hasil dalam waktu 15 menit setelah sampel
teraplikasi
5. Evaluasi hasil
a. (-) Negatif : Hanya terbentuk 1 garis pada kontrol (C)
b. (+) IgM : Terbentuk 2 garis berwarna ( M dan C)
c. (+) IgG : Terbentuk 2 garis berwarna ( G dan C)
d. (+) IgG, IgM : Terbentuk 3 garis berwarna ( M, G,dan
C)
e. Invalid : Tidak terbentuk garis pada kontrol (C)
atau
hanya terbentuk 1 garis pada G atau M

RS. TK. IV
PEMERIKSAAN MYCOTEX TB
DR. BRATANATA JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 147 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Prosedur kerja 6. Hal – hal yang diperhatikan
a. Simpan kit pemeriksaan pada suhu kamar (1 - 30 ), dan
hindari dari cahaya langsung
b. Jangan gunakan kit pemeriksaan yang telah kadaluarsa
c. Jangan gunakan kit pemeriksaan jika segel rusak
d. Setelah darah disentrifuge, serum dipisahkan ketabung
baru, jika tidak segera dilakukan pemeriksaan, simpanlah
serum pada suhu 2 - 8
e. Sampel yang memiliki endapan tidak dapat digunakan,
karena dapat mengganggu pemeriksaan
f. Hindari sampel yang hemolitik, lipemik atau
terkontaminasi dengan bakteri
7. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
mycotex TB diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan Myc.TB dan
file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN URINALISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 158 / I / 2011 00 1/2

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Proses pemeriksaan urine untuk melihat keadaan patologis


Pengertian
dan non patologis

Tujuan Untuk mengetahui keadaan ginjal dan saluran urine


Pemeriksaan urinalisa dilakukan secara makroskopis dengan
Kebijakan
metode carik celup dan secara mikroskopis
Prosedur Kerja 1. Bahan : Urine sewaktu
2. Alat :
a. Tabung dan rak tabung
b. Objek glass dan deck glass
c. Mikroskop
d. Sentrifuge
e. Pipet tetes
3. Reagensia :
Urinalisa Nova Strip test 10 parameter
4. Cara kerja :
A. Makroskopis
1. Masukkan urine kedalam tabung reaksi sebanyak 3/4
tabung
2. Miringkan tabung dengan sudut 60º
3. Lihat warna dan kejernihan urine pada cahaya terang
dengan latar belakang putih
4. Campur urine kemudian celupkan strip test urine
kedalam wadah penampung urine dan segara pindahkan
5. Pegang strip test urine dalam posisi horizontal
6. Bacalah hasil strip test urine dalam waktu 60 detik
dengan cara membandingkan warna yang terdapat pada
label botol
B. Mikroskopis
1. Campur urine perlahan-lahan, masukkan kedalam
tabung sentrifuge sampai ¾ penuh
2. Putar selam 5 menit pada kecepatan 1500 - 2000 r.p.m
3. Buanglah filtrat (supernatan) diatasnya sampai tersisa
kira-kira 0,5 ml
4. Aduklah untuk meresuspensikan sedimen
5. Dengan pipet tetes, letakkan 1 tetes sedimen diatas objek
glass dan tutup dengan deck glass
6. Periksalah dibawah mikroskop dengan pembesaran kecil
(10x10) dan pembesaran (10x40)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN URINALISA

No. Dokumen No. Revisi : Halaman


B / Protap / 158 / I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 5. Evaluasi hasil


a. Jumlah lekosit dan eritrosit dilaporkan rata-rata per LPB
(lapangan pandang besar)
b. Jumlah silinder dilaporkan rata-rata per LPK (lapangan
pandang kecil)
c. Unsur lain seperti epithel atau kristal cukup dilaporkan
dengan tanda +1 (ada) , +2 (banyak), +3 (banyak sekali)
6. Nilai normal :
a. Lekosit : 0 – 5 sel/LPB
b. Eritrosit : 0 – 1 sel/LPB
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan
d. Campurlah urine sebelum diperiksa
e. Tutup rapat botol strip test urine sebelum dan sesudah
menggunakan strip test
c. Jangan menyentuh area strip test
d. Jangan gunakan strip test jika sudah berwarna gelap, hal
tersebut karena telah teroksidasi oleh udara
e. Jika urine tidak langsung diperiksa, simpanlah urine
pada
suhu 2 - 8 dan letakkan pada suhu kamar sebelum
digunakan
f. Sangat penting menggunakan urine segar untuk
pemeriksaan
bilirubin dan urobilinogen karna sangat berpengaruh
terhadap
suhu ruangan dan cahaya
g. Urine yang mengandung bakteri berpengaruh terhadap
perubahan PH urine menjadi alkali, dapat menyebabkan
positif palsu terhadap protein pada strip
h. Gunakanlah wadah penampung urine yang bersih dan
kering,
karena urine yang terkontaminasi dengan pembersih
mengandung chlorhacidine sebagai dapat berpengaruh
terhadap protein
8. Hasil
Hasil pemeriksaan serta formulir permintaan pemeriksaan
urinalisa diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
dalam buku laporan pemeriksaan urinalisa dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SPERMATOZOA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 165 / I / 2011 00 1/4

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Proses analisa dalam mengetahui fertilitas dan infertilitas


Pengertian
spermatozoa

Tujuan Untuk mengetahui fertilitas dan infertilitas spermatozoa


Pemeriksaan sperma dilakukan dengan 2 cara yaitu secara
Kebijakan
makroskopis dan mikroskopis
1. 1. Bahan : Sperma
Prosedur Kerja 2. Alat :
a. Wadah sperma
b. Gelas ukur
c. Objek glass dan deck glass
d. Pipet tetes
e. Mikroskop
f. Gelas ukur
g. Kamar hitung
h. Tranferpipet 1000 µl, 50 µl
i. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Larutan Eosin 5%
b. Minyak Immersi
c. Kertas PH
d. Giemsa
e. Aquadest
4. Cara kerja :
A. Makroskopis
1. Liquefaction
Sperma yang baru saja dikeluarkan selalu menunjukkan
adanya gumpalan, tunggu sekitar 15 – 20 menit agar
sperma
mencair semua
2. Volume sperma
Masukkan semua sperma kedalam gelas ukur, ukur
volume
sperma
3. PH
Ukur PH sperma dengan kertas lakmus
4. Bau
Kibas-kibas tangan dekat sperma untuk mengetahui bau
dari
sperma
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SPERMATOZOA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 165 / I / 2011 00 2/4

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 5. Viskositas


Sperma diambil dengan pipet tetes lalu sperma
diteteskan, lalu
ukur panjangnya cairan sperma yang jatuh
6. Warna
Amatilah warna dari cairan sperma
B. Mikroskopis
1. Motilitas spermatozoa
a. Aduk cairan sperma dengan baik, lalu teteskan 1 tetes
cairan sperma diatas objek glass dan tutup dengan
deck glass
b. Hitunglah spermatozoa motil dan non motil dalam 4
lapangan pandang atau paling sedikit 100 spermatozoa
terpisah dengan lensa objektif 45x
i. Aktif : Gerakan kedepan, tidak hanya ekor saja
ii. Pasif : Hanya gerakan ekor saja
1 Mati : Tidak ada gerakan sama sekali
2. Viabilitas spermatozoa (pengecatan supravital)
a. 0,1 ml sperma dicampur dengan 1 ml eosin 0,5%
tunggu
1 – 2 menit, kemudian teteskan pada objek glass lalu
buat
apusan
b. Keringkan sediaan apusan sperma diudara dan lihat
dibawah mikroskop dengan lensa objektif 100x,
menggunakan minyak imersi
c. Spermatozoa hidup berwarna agak kebiruan ,
spermatozoa yang mati berwarna kuning terang
3. Jumlah spermatozoa
a. Masukkan 950 µl larutan pengencer kedalam tabung
b. Tambahkan 50 µl sperma kedalamnya, dan campur
dengan baik
c. Isi kamar hitung dengan pipet tetes
d. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 45x
pada
2 bidang (1mm2/L1)
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SPERMATOZOA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 165 / I / 00 3/4
2011

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 4. Morfologi spermatozoa


a. Teteskan 1 tetes cairan sperma diatas objek glass, lalu
buat apusan dan keringkan diudara, fixaxi dengan
methanol, lalu keringkan
b. Warnai dengan larutan giemsa dengan pengenceran 3
tetes giemsa pekat dan 1ml aquadest, selama 15 menit,
bilas dengan aquadest lalu keringkan
c. Tentukan morfologi spermatozoa dengan mikroskop
dengan
lensa objektif 150x, dalam 100 spermatozoa
5. Cara perhitungan :
a. Motilitas spermatozoa
i. Aktif = Spermatozoa yang aktif x 100%
Jumlah spermatozoa
ii. Pasif = Spermatozoa yang kurang aktif x
100%
Jumlah spermatozoa
iii. Mati = Spermatozoa yang mati x 100%
Jumlah spermatozoa
b. Viabilitas spermatozoa
i. Hidup = jumlah spermatozoa yang hidup x 100%
Jumlah spermatozoa
ii. Mati = jumlah spermatozoa yang mati x 100%
Jumlah spermatozoa
c. Jumlah spermatozoa
Jumlah spermatozoa x 200.000
. d. Morfologi spermatozoa
Dilihat 100 spermatozoa, morfologi dihitung dalam %
i. Spermatozoa normal
ii. Spermatozoa abnormal
iii. Abnormal kepala
iv. Abnormal leher
v. Abnormal ekor
6. Evaluasi hasil
Nilai normal dari :
a. Volume spermatozoa : 2-5 ml
b. PH sperma : 7,2 – 8
c. Warna : Putih keabu-abuan
d. Bau : khas seperti chlor
e. Viskositas/ Panjang cairan sperma : 3 – 5 cm

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SPERMATOZOA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 165 / I / 2011 00 4/4

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Prosedur kerja f. Motilitas spermatozoa
i. Spermatozoa aktif = > 50 %
ii. Spermatozoa pasif = < 30 %
iii. Spermatozoa mati = < 20 %
g. Viabilitas spermatozoa
i. Spermatozoa hidup = > 80 %
ii. Spermatozoa mati = < 20 %
h. Jumlah spermatozoa : 60– 120 juta/mL
i. Morfologi spermatozoa
ii. Spermatozoa normal = > 80%
iii Spermatozoa abnormal = < 20%
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Pengukuran motilitas spermatozoa sebaiknya dilakukan
pada
suhu 37 karena motilitas spermatozoa sangat
tergantung
dengan suhu
b. Ada kemungkinan spermatozoa yang tidak bergerak,
tetapi
tidak mati. Spermatozoa ini mungkin dapat bergerak
dalam
alat kelamin wanita, maka perlu dilakukan viabilitas
spermatozoa
c. Sebelum menjalani pemeriksaan, pasien diminta tidak
mengadakan hubungan sexual selama 3 – 5 hari
d. Pengeluaran ejakulasi sebaiknya dilakukan pagi hari
e. Wadah penampung sperma harus rapat dan dapat ditutup
dengan baik
f. Pemakaian kondom untuk menampung mani tidak
diperbolehkan, karena zat-zat pada permukaan perut
dapat
melemahkan atau membunuh spermatozoa walaupun
kondom
sudah dicuci atau dikeringkan
g. Pada saat sperma dikeluarkan kental sekali, biarkan
selama
10 – 20 menit. Jika lewat dari 20 menit belum mencair,
itu
merupakan keadaan abnormal yang perlu dilaporkan
h. Bila PH sperma < 6,0 dan > 8,0 menjadi alasan untuk
meragukan kebersihan penampungan sperma
8. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
spermatozoa diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
spermatozoa dan file komputer
1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN FAECES

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 167 / I / 00 1/2
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Proses pemeriksan untuk mengetahui adanya kelainan dalam
Pengertian
feaces

Untuk mengetahui adanya unsur-unsur yang berhubungan


Tujuan dengan penyakit gastroitestinal dan untuk mngetahui adanya
sel-sel darah, telur cacing serta amoeba
Pemeriksaan feaces dilakukan secara makroskopis dan
Kebijakan
mikroskopis, dimana mikroskopis menggunakan larutan
pengencer eosin 1 – 2%
Prosedur Kerja 1. Bahan : Faeces
2. Alat :
a. Objeck glass
b. Deck glass
c. Pipet tetes
d. Lidi
e. Mikroskop
3. Reagensia :
Larutan Eosin 1 – 2%
4. Cara kerja :
A. Makroskopis
1. Warna
Perhatikan feaces, catatlah warna yang ada pada
feaces
2. Bau
Perhatikan bau pada feaces, apakah normal atau
busuk
3. Konsistensi
Perhatikan konsistensi pada feaces, apakah padat,
lunak atau cair
4. Lendir
Perhatikan ada atau tidaknya lendir pada feaces
5. Darah
Perhatikan ada atau tidaknya darah pada feaces
B. Mikroskopis
1. Siapkan objeck glass yang bersih dan kering
2. Teteskan 1 tetes larutan eosin 1 – 2% pada objeck
glass

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN FEACES

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 167 / I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP
Prosedur kerja 3. Dengan menggunakan lidi, ambil sedikit feaces,
campurkan
dengan larutan eosin 1 – 2% pada objeck glass tadi
sampai
homogen, lalu tutup dengan deck glass
4. Periksa dengan mikroskop dengan pembesaran 10x
dilanjutkan dengan pembesaran 40x
5. Periksa dan catatlah ada atau tidaknya lekosit, eritrosit,
amoeba, telur cacing dan sel-sel ragi
5. Evaluasi hasil :
a. Darah dan lendir yang diperiksa secara makroskopis
cukup
diberi tanda (-) negatif dan (+) ada
b. Sel lekosit dan eritrosit dilaporkan per LPB
c. Unsur – unsur lain yang diperiksa secara mikroskopis,
cukup
diberi tanda (-) negatif, (+) Ada, (++) banyak dan (+++)
banyak sekali
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Feaces hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau
dibiarkan kemungkinan unsur-unsur dalam tinja menjadi
rusak
b. Pilihlah selalu bagian dari tinja yang memberi
kemungkinan adanya kelainan-kelainan seperti bagian
yang bercampur darah atau lendir
7. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan feaces
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan faeces dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DARAH SAMAR PADA FAECES

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 168 / I / 00 1/2
2011

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumah sakit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Suatu metode pemeriksaan faeces untuk mengetahui adanya
Pengertian
darah dalam faeces

Untuk mengetahui pendarahan yang disebabkan oleh penyakit


Tujuan
gastointestinal
Hemoglobin yang terdapat pada faeces akan bereaksi dengan
Kebijakan
guaiac melalui reaksi pseudoperoxidase dengan menghasilkan
bentuk chromogen yang berwarna biru yang dapat terlihat
jelas dalam waktu 30 detik
Prosedur Kerja 1. Bahan : Faeces
2. Alat :
a. Spatula
b. Test card
3. Reagensia :
a. ACT HEXAGON OBScreen
b. DEV HEXAGON OBScreen
4. Cara kerja
a. Bukalah tempat test, tulis nama dan tanggal dibagian
bawah
test
b. Buka tempat test dari bagian depan dan bukalah
lembaran
pelindung
c. Dengan menggunakan spatula, ambil faeces. letakkan
pada
jendela A
d. Dengan menggunakan spatula yang lain, ambil faeces
pada
bagian yang berbeda, letakkan pada jendela B
e. Rekatkan kembali test dengan menekan perekat yang
terdapat
pada penutup
f. Tambahkan 1 tetes ACT pada faeces, dan biarkan
meresap
g. Tambahkan 1 tetes DEV pada faeces, dan biarkan
meresap
5. Evaluasi hasil :
a. (+) Positif : Terbentuk warna biru pada bagian faeces
b. (-) Negatif : Terbentuk warna coklat pada bagian
faeces

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DARAH SAMAR PADA FAECES

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 168 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Simpanlah test kit pada tempat yang terlindung dari
cahaya langsung
b. Reagen DEV bersifat mudah terbakar dan menguap,
maka botol reagen harus tertutup rapat
c. Ascorbic acid dan makanan yang kaya akan vitamin C
harus dihindari 3 hari sebelum melakukan pemeriksaan
karena vitamin C dapat menyebabkan negatif palsu
7. Hasil :
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
benzidine test diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan benzidine
tes dan file komputer
1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HbA1C

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 169 / I / 00 1/2
2011

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah sakit
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kadar glycohaemoglobin dalam darah

Untuk mengetahui kadar glukosa yang terkait pada eritrosit


Tujuan
sehingga dapat ditetapkan lama waktu kontrol pasien diabetes
Pemeriksaan glycohaemoglobin dengan menggunakan darah
Kebijakan
segar atau darah dengan pengawet EDTA dimana
penggabungan boronic acid menjadi cis-diol menghasilkan
glyeated haemoglobin

Prosedur Kerja 1. Bahan : Darah EDTA


2. Alat :
a. Nycocard Reader II
b. Transferpipet 25 µl, 5 µl
c. Tip kuning
d. Timer
3. Reagensia :
a. HbAIc reagen / R1
b. Test device / TD
c. Washing solution / R2
4. Cara kerja :
a. Masukkan 5 µl sampel kedalam R1, kocok dengan baik,
inkubasi minimum 2 menit dan maksimum 3 menit,
gunakan
timer
b. Kocok larutan sampel kembali, ambil 25 µl larutan sampel
masukkan kedalam test device, biarkan meresap
sempurna,
tunggu ± 15 – 20 detik
c. Tambahkan 25 µl R2 atau washing solution, biarkan
meresap
sempurna, tunggu ± 10 detik
d. Baca hasil dengan menggunakan Nycocard Reader II
dalam waktu < 5 menit
5. Evaluasi hasil :
Nilai normal : 4,5 – 6,3 %
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Kalibrasi alat sebelum digunakan
b. Simpanlah reagen ditempat gelap pada suhu 2 - 8 dan
suhukamarkan sebelum digunakan
c. Jangan menyentuh membran yang terdapat ditengah
sumur
dengan pipet

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HbA1C

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 169 / I / 2011 00 2/2
Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja d. Bersihkan kelebihan sampel diluar tip


e. Hindari gelembung udara ketika memasukkan larutan
sampel
maupun washing solution kebagian tengah sumur
7. Hasil :
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
HbA1C test diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan HbAIC dan
file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CK-MB

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 108 / I / 00 1/2
2011

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TRETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim CK-MB dalam
serum
Tujuan Mengetahui kadar CK-MB dalam serum

Kebijakan Pengukuran kadar Ck-MB dengan metode Immunoinhibiton


pada suhu 37°c,dengan faktor 8254 diukur dengan Humalyzer
3000 pada panjang gelombang 340 nm
Prosedur 1. 1. Bahan : Serum
Kerja 2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000µl, 20µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen buffer
b. Reagen enzim
4. Cara kerja
a. Reagen kerja : Campurkan 3 ml reagen buffer kedalam 1
botol enzim, tahan selama 5 hari pada suhu 2 - 8°c
b.
Pipet kedalam 37°c
tabung
Sampel 100 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 10 menit
dan pada saat yang sama jalankan
stopwatch baca absorban setelah 1,2,3
menit

5. Cara perhitungan
Kadar CK-MB = ∆A/menit × 8254 (u/L)
6. Evaluasi hasil
Nilai normal : < 25 u/L
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CK-MB

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 108 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Linearitas : Jika kadar >2000 u/L, encerkan sampel
b. Larutan buffer dan larutan enzim mengandung sodium
acide
(0,095%) sebagai pengawet, hindari kontak langsung
dengan
kulit dan selaput dan membran
8. Hasil
Print out hasil dan formulir permintaan pemeriksaan CK-MB
diserahkan kepada petugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku laporan peeriksaan kimia klinik dan file
komputer

1. Petugas laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 107 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim CK dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar CK dalam serum

Kebijakan Pengukuran terhadap kadar CK dengan metode optimal standar


sesuia dengan rekomendasi dan DGKC (Deutsehe gessel schoft
for klinishe chorine) pada suhu 37°c, dengan faktor 8095diukur
dengan alat Humalyzer 3000 dengan panjang gelombang 340 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan :Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000µl, 20µl
c. Tabung seroligi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen buffer
b. Reagen enzim
4. Cara kerja
a. Reagen kerja : Campurkan 3ml reagen buffer kedalam 1
botol
enzim, tahan sampai 10 hari pada suhu 2-8°c dan 32 jam
pada
suhu 15-25°c
b.
Pipet kedalam 37°c
tabung
Sampel 20 µl
Reagen kerja 1000 µl
Campurkan, baca absorban setelah 1 menit
dan pada saat yang sama jalankan
stopwatch, baca absorban setelah 1,2,3
menit

5. Cara perhitungan
Kadar CK = ∆A/menit × 8095 (u/L)

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN CK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 107 / I / 00 2/2
2011

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 6. Evaluasi hasil
Nilai normal
a. Laki-laki : 24-190 u/L
b. Perempuan : 24-170 u/L
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Linearitas :Jika absorban sampel permenit 0,250,encerkan
sampel 0,1ml dengan 1ml NacL (0,9%), pembacaan hasil
dikalikan 11
b. Larutan buffer dan substrat mengandung Sodium acide
(0,095%) sebagai pengawet, hindari kontak langsung dengan
kulit dan selaput membran jangan sampai tertelan
c . Hindari hemolisis,karena kadar Hb >200 mg/dl akan
mempengaruhi hasil
8. Hasil
Print out hasil dan formulir permintaan pemeriksaan CK
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam
buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN AMYLASE

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 105 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap enzim amylase dalam serum

Tujuan Mengetahui kadar amylase dalam serum

Pengukuran kadar amylase dengan metode colomimetric sesuai


Kebijakan dengan rekomendasi dari IFCC pada suhu 37°c, dengan faktor
24820 diukur dengan alat Humalyzer 3000 dengan panjang
gelombang 405 nm
Prosedur Kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000 µl, 10 µl
c. Tabung serologi dan rak tabung
d. Tip kuning dan tip biru
3. Reagensia :
Reagen amylase
4. Cara kerja
A
Pipet kedalam 37°c
tabung
Sampel 10 µl
Reagen 1000 µl
Campur, baca absorban setelah 1
menit pada saat yang sama jalankan
stopwatch, baca absorban setelah 1,2,3
menit

5. 5. Cara perhitungan
Kadar amylase = ∆A/menit × 24820 (u/L)
6. Evaluasi hasil
Nilai normal : 220 u/L
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN AMYLASE

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 105 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan


a. Linearitas : Jika absorban sampel permenit 0,300 encerkan
0,1 ml sampel dengan 0,5 ml NacL (0,9%) pembacaan hasil
dikalikan 6
b. Larutan amylase mengandung Sodium acide (0,095%)
sebagai pengawet, hindari kontak langsung dengan kulit dan
selaput membran, jangan sampai tertelan
c. Hindari kontaminasi dengan air liur dan kulit dengan jalan
jangan mempipet dengan mulut dan hindari dengan kontak
reagen dengan pipet dengan kulit karena akan
mempengaruhi hasil
8. Hasil
Print out hasil dan formulir permintaan pemeriksaan amylase
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam
buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HDL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 94 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu .N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan kimia darah terhadap kadar lipoprotein yang banyak
berkaitan HDL
Tujuan Mengetahui kadar HDL dalam serum

Dengan asam fosfor fungstat dan magnesium chloride if, VLDL,


LDL akan mengendap setelah di centrifuge, cairan supernatan
Kebijakan mengandung fraksi HDL dan diperiksa sebagai HDL cholesterol
secara enzymatic dengan reagen cholesterol dengan metode
GHOD,PAP 37°c diukur dengan alat Humalyzer 3000 pada
panjang gelombang 546 nm
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. 2. Alat :
a. Humalyzer 3000
b. Transferpipet 1000µl
c. Centrifuge
d. Tabung serologi dan rak tabung
e. Tip biru dan tip kuning
3. Reagensia :
a. Reagen HDL cholesterol
b. Standar cholesterol
c. Reagen cholesterol
d. Aquadest
4. Cara kerja
a. Reagen prespitat/ PRECb : Campur reagen HDL cholesterol
4+1
dengan aquabisdest
b.
Pipet kedalam Mikro
tabung
Sampel 200 µl
Reagen Prespitat 500 µl
Campur, inkubasi selama 10 menit pada
suhu centrifuge selama 10 menit dengan
kecepatan 4000 r.p.m

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HDL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 94/ I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja
Pipet kedalam Blanko Sampel Standar
tabung
Aquadest 100 µl - -
Standar - 100 µl -
HDL supranatan - - 100 µl
Reagen 1000 µl 1000 µl 1000 µl
cholesterol
Inkubasi selama 5 menit pada suhu 37°c, ukur
absorban sampel dan standar terhadap blanko pada
panjang gelombang 546 nm
5. Cara perhitungan
a. Konsentrasi HDL dengan standar
Kadar HDL = 150 × ∆Abs Sampel (mg/dl)
∆Abs Standar
b. Konsentrasi LDL cholesterol
Kadar LDL= Total cholesterol – HDL – Trigliserida
(mg/dl)
5
6. Evaluasi hasil
Laki-laki (mg/dl) Wanita
(mg/dl)
Prognosa kadar > 55 > 65
Resiko standar 35 – 55 45 – 65
Indikator < 35 < 45
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Jika supranatan tidak jernih (kadar trigliserida tinggi)
encerkan sampel sebelum prepitat 1:1 dengan 0,9%
salin, pembacaan hasil dikalikan 2
b. kadar Hb lebih tinggi dari 100 mg/dl dan kadar bilirubin
lebih tinggi dari 10 mg/dl menganggu test
8. Hasil
Print out hasil dan formulir permintaan pemeriksaan HDL
diberikan kepada petugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam
buku laporan pemeriksaan kimia klinik dan file komputer

Unit Terkait 1. Petugas Laboratorium


2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ACTIVATED PARTIAL
JAMBI THROMBOPLASTIN
TIME (ApTT)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 136 / I / 2011 00 1/2
Tanggal terbit : Ditetapkan
05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Proses pemeriksaan faktor – faktor pembekuan

Tujuan Untuk mengetahui aktifitas faktor – faktor pembekuan jalur


intrinsik dan jalur bersama (prekalikrein, HMWK, F-XI, F-XII,
F-VIII, F-X, F-V, F-II dan fibrinogen ) atau adanya inhibitor
terhadap faktor – faktor pembekuan tersebut.
Kebijakan Aktifator terhadap faktor kontak ( misalnya kaolin, allagic acid
atau silica ) dan preparat posfolipid standar sebagai pengganti
posfolipid, trombosit ditambahkan kedalam plasma sitrat,
kemudian ditambahkan pula ion kalsium berlebih, diukur
lamanya waktu yang diperlukan untuk terjadinya pembekuan
fibrin. Trombostil 1 memberikan tempat permulaan untuk
pengaktifan faktor XII dengan kontak secara optimal.
Prosedur kerja 1. Bahan : Plasma
2. Alat :
a. Sysmex ca- 50
b. Transferpipet 50µl
c. Reaction tube
d. Sampel cup
e. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Patrhomtin SL / Actin FS / FSL
b. Plasma kontrol
c. Cacl 2
4. Cara kerja
A. Plasma kontrol
1. Masukkan 50µl plasma kontrol kedalam reaction tube,
masukkan
kedalam well
2. Tekan start ( alat akan menghitung mundur 60 detik )
3. Masukkan 50 µl reagen ApTT (alat akan menghitung
mundur 180 detik)
4. Masukkan 50 µl larutan Cacl 2, alat secara otomatis akan
bekerja
5. Hasil didapat dalam bentuk print out
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ACTIVATED PARTIAL
JAMBI THROMBOPLASTIN TIME( ApTT )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 136 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel


1. Masukkan 50µl sampel kedalam reaction tube, masukkan
kedalam well
2. Tekan start ( alat akan menghitung mundur 60 detik )
3. Masukkan 50 µl reagen ApTT(alat akan menghitung mundur
180
detik)
4. Masukkan 50 µl larutan Cacl 2, alat secara otomatis akan
bekerja
5. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil
Nilai normal : 25,5 – 42,1 detik
6. Hal hal yang perlu diperhatikan
a. Suhu dan waktu penyimpanan reagen harus diperhatikan
karena
dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
b. Hindari kontaminasi reagen
c. Sampel yang keruh atau lipemik tidak dapat dipakai untuk
pemeriksaan ini, karena akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan
d.Temperatur pada inkubator atau detektor harus benar – benar
diperhatikan karena dapat menyebabkan kerusakan pada
inkubator
e. Pada saat pemipetan, hindari terjadinya gelembung udara
f. Stabilitas reagen :
i. Pathromtin SL, 2 °c - 25 °c = 14 Hari
ii. Actin FS / FSL, 15°c – 25 °c = 7 Hari
iii. On board = 24 jam
7. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan ApTT, diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam
buku laporan pemeriksaan koagulasi dan file komputer
1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN FIBRINOGEN ( Fbg )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 137 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Proses pemeriksaan aktifitas faktor – faktor pembekuan

Tujuan Untuk mengetahui aktifitas faktor – faktor pembekuan jalur


intrinsik dan jalur bersama (prekalikrein, HMWK, F-XI, F-XII,
F-VIII, F-X, F-V, F-II dan fibrinogen ) atau adanya inhibitor
terhadap faktor – faktor pembekuan tersebut.
Kebijakan Fibrinogen bila dipanaskan sampai 56 °c akan mengendap,
sedangkan faktor – faktor lain dalam plasma tidak mengendap.
Prosedur kerja 1. Bahan : Plasma
2. Alat :
a. Sysmex ca- 50
b. Transferpipet 1000 µl, 500 µl, 50µl, 10 µl
c. Reaction tube
d. Sampel cup
e. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Thrombin
b. Plasma kontrol
c. Aquabidest
d. Owren Veronol Buffer ( OVB )
4. Cara kerja
o Plasma kontrol
1. Preparasi reagen : Tambahkan I ml aquabidest kedalam 1
vial reagen, diamkan sampai larut, goyangkan sedikit agar
tercampur rata, lalu reagen siap digunakan.
2. Masukkan 50µl plasma kontrol dan 450 µl OVB (1:10)
kedalam
sampel cup.
3. Ambil 100 µl, masukkan kedalam reaction tube, dan
masukkan kedalam well
4. Tekan start ( alat akan menghitung mundur 180 detik )
5. Masukkan 50 µl reagen thrombin , alat secara otomatis akan
bekerja
6. Hasil didapat dalam bentuk print out

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN FIBRINOGEN ( Fbg )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 137 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja B.Pemeriksaan sampel
1. Masukkan 50µl sampel dan 450 µl OVB (1:10) kedalam
sampel
cup.
2. Ambil 100 µl, masukkan kedalam reaction tube, dan
masukkan kedalam well
3. Tekan start ( alat akan menghitung mundur 180 detik )
4. Masukkan 50 µl reagen thrombin , alat secara otomatis akan
bekerja
5. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil
Nilai normal : 180 – 350 mg/dL
6. Hal hal yang perlu diperhatikan
a. Suhu dan waktu penyimpanan reagen harus diperhatikan
karena
dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
b. Hindari kontaminasi reagen
c. Sampel yang keruh atau lipemik tidak dapat dipakai untuk
pemeriksaan ini, karena akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan
d. Temperatur pada inkubator atau detektor harus benar – benar
diperhatikan karena dapat menyebabkan kerusakan pada
inkubator
e. Pada saat pemipetan, hindari terjadinya gelembung udara
f. Stabilitas reagen :
i. 2 °c - 8 °c = 5 Hari
ii. 15°c – 25 °c = 7 Hari
iii. On board = 24 jam
7. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaanfibrinogen (Fbg), diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
koagulasi dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN RHEUMATOID FAKTOR ( RF )
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 141/ I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap rheumatoid faktor dalam serum

Tujuan Untuk mengetahui adanya rheumatoid faktor dalam serum

Kebijakan Reaksi aglutinasi terjadi antara rheumatoid faktor (RF) pada


serum seseorang atau serum kontrol dan immunoglobulin G (IgG
) yang telah dilapisi dengan partikel – partikel polystyrene latex

Prosedur kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Silde
b Tabung serologi dan rak tabung
c. Transferpipet 100 µl, 40 µl
d. Batang pengaduk
e. Rotator
f. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Latex RF
b. Serum kontrol positif
c. Serum kontrol negatif
4. Cara kerja
A. Kualitatif
1.

Pipet / teteskan pada slide


Sampel 40 µl
Serum kontrol positif 1Tetes
Serum kontrol negatif 1Tetes
Tambahkan RF latex pada serum dan semua kontrol
masing - masing 1 tetes
Campur dengan batang pengaduk, homogenkan
dengan rotator selama 2 menit dengan kecepata 100
r.p.m, Baca hasil setelah 2 menit dibawah cahaya
terang
2. Terbentuknya aglutinasi pada serum yang tidak diencerkan
mengandung kadar RF > 20 Iu/mL. lanjutkan dengan
pengenceran
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN RHEUMATOID FAKTOR ( RF )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 141 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja B. Semi kuantitatif
1. Encerkan sampel dengan Glycine- Naci Buffer
Pengenceran RF ( Iu/ml dalam
sampel yang tidak
diencerkan )
1 + 0 (1:1) 20
1 + 1 (1:2) 24
1 + 3 (1:4 ) 48
1 + 7 (1:8) 96
1 + 15 (1:16) 192
1 + 31 ( 384
1:32)
2. Setiap pengenceran, lakukan pemeriksaan kualitatif.
3. Baca hasil pengenceran dengan melihat adanya aglutinasi pada
pengenceran terakhir dan dikalikan dengan faktor 12 untuk
mengetahui kadar RF dalam Iu/mL
5. Cara perhitungan
a. Pengenceran 1:1 : 1x12 = 12Iu/mL
b. Pengenceran 1:2 : 2 x12 = 24 Iu/mL
c. Pengenceran 1:4 : 4 x12 = 48 Iu/mL
d. Pengenceran 1:8 : 8 x12 = 96 Iu/mL
e. Pengenceran 1:16 :16 x12 = 192 Iu/mL
f. Pengenceran 1:32 :32 x12 = 384 Iu/mL
6. Evaluasi hasil
a. (+) Positif = Terbentuk aglutinasi
b. (-) Negatif = Tidak terbentuk aglutinasi
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Sebelum digunakan , campur RF latex perlahan agar latex
homogen
b. Serum yang lipemik tidak dapat digunakan karena
mengganggu
hasil pemeriksaan
c, Waktu pemeriksaan lebih dari 2 menit dapat memberikan hasil
positif palsu
d. Sewaktu reagen diteteskan, pegang dalam posisi tegak lurus
e Semua reagen mengandung sodium azide, jangan sampai
tertelan,
hindari kontak langsung dengan kulit dan selaput membran
8. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir pemeriksaan diserahkan
kepetugas
pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam buku serologi dan file
computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ANTI STREPTOLYSIN O ( ASTO )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 139 / I / 2011 00 ½
Tanggal terbit : Ditetapkan
05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibodi anti streptolisin o dalam
serum

Tujuan Untuk mengetahui adanya antibodi anti streptolysin o dalam


serum
Kebijakan Partikel polystyrene yang telah dilapisi dengan antigen
streptolysin o akan bereaksi secara immunologi terhadap anti
streptolysin O (ASO) pada serum seseorang atau pada serum
kontrol.
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Silde
b. Tabung serologi dan rak tabung
c. Transferpipet 100 µl, 40 µl
d. Batang pengaduk
e. Rotator
f. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Latex ASO
b. Serum kontrol positif
c. Serum kontrol negativ
4. Cara kerja
A. Kualitatif
1.

Pipet / teteskan pada slide


Sampel 40 µl
Serum kontrol positif 1Tetes
Serum kontrol negatif 1Tetes
Tambahkan ASO latex pada serum dan semua kontrol
masing masing1 tetes
Campur dengan batang pengaduk, homogenkan dengan
rotator selama 2 menit dengan kecepata 100 r.p.m, baca
hasil setelah 2 menit dibawah cahaya terang
2.Terbentuknya aglutinasi pada serum yang tidak diencerkan
mengandung kadar ASTO >200 Iu/Ml, lanjutkan dengan
pengenceran

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTI STREPTOLYSIN O ( ASTO )
JAMBI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 139 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B.Semi kuantitatif


1. Encerkan sampel dengan Glycine- Naci Buffer
Pengenceran ASO ( Iu/ml dalam
sampel yang tidak
diencerkan )
1 + 0 (1 :1) 200
1 + 1 ( 1:2 400
) 600
1 + 2 ( 1:3 800
) 1000
1 + 3 ( 1:4
)
1 + 4 ( 1:5
)
2. Setiap pengenceran, lakukan pemeriksaan kualitatif.
3. Baca hasil pengenceran dengan melihat adanya aglutinasi
pada
pengenceran terakhir dan dikalikan dengan faktor 200
untuk
mengetahui kadar ASO dalam Iu/mL
5. Cara perhitungan
a. Pengenceran 1: 1 : 1x 200 = 200 Iu/mL
b. Pengenceran 1:2 : 2 x 200 = 400 Iu/mL
c. Pengenceran 1:3 : 3 x 200 = 600 Iu/mL
d. Pengenceran 1:4 : 4 x 200 = 800 Iu/mL
e. Pengenceran 1:5 : 5 x 200 = 1000 Iu/mL
6. Evaluasi hasil
a. (+) Positif = Terbentuk aglutinasi
b. (-) Negatif = Tidak terbentuk aglutinasi
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Sebelum digunakan , campur ASO latex perlahan agar
latex
homogen
b. Serum yang lipemik tidak dapat digunakan karena dapat
mengganggu pemeriksaan
c. Waktu pemeriksaan lebih dari 2 menit dapat memberikan
hasil
positif
d. Sewaktu reagen diteteskan, pegang dalam posisi tegak
lurus
e. Semua reagen mengandung sodium azide, jangan sampai
tertelan, hindari kontak langsung dengan kulit dan selaput
membran
8. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku pemeriksaan serologi dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SEKRET URETHTRA DAN
SEKRET VAGINA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 166 / I / 2011 00 ½
Tanggal terbit : Ditetapkan
05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan sekret yang berasal dari urethtra atau vagina untuk
melihat adanya jamur, parasit, atau bakteri.

Tujuan Untuk mengetahui adanya jamur, parasit, atau bakteri yang


berasal dari sekret urethra atau vagina

Kebijakan Jamur, parasit atau bakteri yang berasal dari sekret atau pulasan
urethtra atau vagina diwarnai dengan menggunakan pewarnaan
Gram
Prosedur kerja 1. Bahan : Sekret urethra atau sekret vagina
2. Alat :
a. Lidi kapas steril
b. Objek glass
c. Bunsen
d. Timer
e. Rak pewarna
f. Pipet tetes
3. Reagensia :
a. Larutan gention violet (Gram A)
b. Larutan lugol (Gram B)
c. Alkohol 96 % (Gram C)
d. Larutan fuchsin (Gram D)
4. Cara kerja
a. Persiapkan alat yang akan dibutuhkan, objek glass harus
bebas
lemak dan diberi etiket
b. Sekret dibuat sediaan langsung diatas objek glass yang telah
diberi
etiket pasien, kemudian keringkan di udara.
c. Sediaan yang telah kering difixaxi dengan api bunsen
d. Sediaan diletakkan diatas rak pewarna, lalu tetesi dengan
larutan
gention violet (Gram A), biarkan selama 5 menit
e Bilas dengan air, lalu tetesi dengan larutan lugol (Gram B),
biarkan
selama1 menit
f. Bilas dengan air, lalu tetesi dengan akohol 96 % (Gram C)
sampai
tidak terlihat warna lagi

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SEKRET URETHTRA DAN
SEKRET VAGINA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 166 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja g.Bilas dengan air, lalu tetesi dengan larutan Fuchsin (Gram
D),
biarkan selama 1 menit
h Bilas dengan air lalu keringkan diudara
i. Periksa dengan menggunakan mikroskop mikroskop
pembesaran
100X
j. Periksa adanya jamur, parasit atau bakteri
5. Evaluasi hasil
a. Bakteri Gram (+) : Bentuk coccus , berwarna violet
b. Bakteri Gram (-) : Bentuk coccus, berwarna merah
6. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Sediaan sebelum difixaxi harus dikeringkan terlebih dahulu
b. Gunakan obje glass yang bersih dan bebas lemak
c. Keringkan sediaan pada tempat yang bebas debu
d. Dalam proses pewarnaan, larutan pewarna harus ditetesi
merata
sehingga mendapatkan hasil pewarnaan yang baik
7. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan secret
urethtra atau sekret vagina diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan
diarsipkan kedalam file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN C-REAKTIV PROTEIN ( CRP )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 140 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap c-reaktiv protein (CRP) dalam
serum

Tujuan Untuk mengetahui adanya c-reaktiv protein (CRP) dalam serum

Kebijakan Pemeriksaan ini berdasarkan reaksi immunologi antara CRP


manusia dari serum pasien
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Silde
b. Tabung serologi dan rak tabung
c. Transferpipet 100 µl, 40 µl
d. Batang pengaduk
e. Rotator
f. Tip kuning
3. Reagensia :
a. Latex CRP
b. Serum kontrol positif
c. Serum kontrol negatif
4. Cara kerja
A. Kualitatif
1.

Pipet / teteskan pada slide


Sampel 40 µl
Serum kontrol positif 1Tetes
Serum kontrol negatif 1Tetes
Tambahkan CRP latex pada serum dan semua kontrol
masing
Masing 1 tetes
Campur dengan batang pengaduk, homogenkan dengan
rotator selama 2 menit dengan kecepata 100 r.p.m baca
hasil setelah 2 menit dibawah cahaya terang
2. Terbentuknya aglutinasi pada serum yang tidak diencerkan
mengandung kadar CRP > 6 mg/L. lanjutkan dengan
pengenceran
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN C-REAKTIV PROTEIN ( CRP )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 140 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B.Semi kuantitatif


1. Encerkan sampel dengan Glycine- Naci Buffer
Pengenceran CRP (mg/L dalam sampel
yang tidak diencerkan )
1 + 0 (1:1) 6
1 + 1 (1:2) 12
1 + 2 (1:4 ) 24
1 + 3 (1:8 ) 48
1 + 4 (1: 96
16) 192
1 + 4 (1:
32)
2. Setiap pengenceran, lakukan pemeriksaan kualitatif.
3. Baca hasil pengenceran dengan melihat adanya aglutinasi
pada
pengenceran terakhir dan dikalikan dengan faktor 6 untuk
mengetahui kadar CRP dalam mg/L
5. Cara perhitungan
a. Pengenceran 1:1 : 1 x 6 = 6 mg/L
b. Pengenceran 1:2 : 2 x 6 = 12 mg/L
c. Pengenceran 1:4 : 4 x 6 = 24 mg/L
d. Pengenceran 1:8 : 8 x 6 = 48 mg/L
e. Pengenceran 1:16 : 16 x 6 = 96 mg/L
f. Pengenceran 1:32 : 32 x 6 = 192 mg/L
6. Evaluasi hasil
a. (+) Positif = Terbentuk aglutinasi
b. (-) Negatif = Tidak terbentuk aglutinasi
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Sebelum digunakan ,campur CRP latex perlahan agar latex
homogen
b. Serum yang lipemik tidak dapat digunakan karena dapat
mengganggu pemeriksaan
c. Waktu pemeriksaan lebih dari 2 menit dapat memberikan
hasil
positif palsu
d. Sewaktu reagen diteteskan, pegang dalam posisi tegak lurus
e. Semua reagen mengandung sodium azide, jangan sampai
tertelan,
hindari kontak langsung dengan kulit dan selaput membran
8. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir pemeriksaan diserahkan
kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam buku
pemeriksaan serologi dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MALARIA ( DDR )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 133 / I / 2011 00 ½
Tanggal terbit : Ditetapkan
05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap parasit malaria dalam darah
Tujuan Mengetahui adanya parasit malaria dalam darah

Kebijakan Identifikasi parasut malaria dibuat dari sediaan darah tebal dan
diwarnai dengan pewarnaan giemsa

Prosedur kerja 1. Bahan : Darah perifer


2. Alat :
a. mikroskop
b. Lancet
c. Objek glass
d. Kapas
e. Timer
f. Pipet tetes
g. Rak pewarna
3. Reagensia :
a. Alkohol 70%
b. Minyak imersi
c. Larutan Giemsa
d. Larutan Buffer PH 7,2
4.Cara kerja
a. Encerkan 1 ml larutan giemsa dengan 14 ml larutan buffer
PH 7,2
b. Bersihkan ujung jari yang akan ditusuk dengan kapas
alkohol,
biarkan kering
c. Tusuk dengan lancet , hapus tetes darah pertama yang keluar
dengan kapas kering
d. Tekan ujung jari sampai tetes darah berikutnya keluar,
letakkan
2– 3 tetes darah diatas objek glass
e. Dengan objek glass lain putarlah 2 – 3 tetes darah hingga
membentuk bulatan dengan diameter ± 1cm
f. Buat etiket pada sudut kaca sediaan (nama, tanggal, bulan,
tahun)
keringkan diudara,
g. Sediaan diwarnai dengan larutan Giemsa siap pakai, biarkan
selama 15 menit
h. Bilas dengan air, keringkan diudara, lalu periksa dibawah
mikroskop dengan pembesaran 10x100
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN MALARIA (DDR)
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 133 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 5. Cara perhitungan


Parasit malaria dihitung dalam 100 lapangan pandang dengan
pembesaran 10x100
6. Evaluasi hasil
a. Negatif (-) : Tidak ditemukan parasit malaria dalam 100
lapangan
pandang
b. Positif (+) : Ditemukan parasit malaria dalam 100 lapangan
pandang
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Pada waktu menusuk ujung jari tangan harus cukup dalam
agar
darah dapat mengalir dengan bebas tanpa dipijit, karena
pijitan
dapat mengurangi jumlah parasit malaria
b. Larutan kerjas yang baik harus dibuat setiap hari
c. Bila pengenceran 1:20 (I ml giemsa + 20 tetes buffer),
dipulas
selama 20 menit, bila pengenceran 1:30 (1 ml giemsa + 30
tetes
buffer), dipulas selama 30 menit
d. Hasil pemulasan giemsa yang baik yaitu :
i. Eritrosit berwarna merah muda
ii. Inti sel darah putih berwarna lembayung dengan
sitoplasma
lembayung tua
iii.Granula eosinofil berwarna merah lembayung terang
iv.Granula netrofil berwanra merah muda lembayung tua
8. Hasil
Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
diserahkan
kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SYPHILIS ( TPHA )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 146 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibody (IgG dan IgM) Treponema
Pallidum (TP) dalam serum
Tujuan Mengetahui adanya antibody (IgG dan IgM) Treponema
Pallidum dalam darah
Kebijakan Syphilis rapid test adalah pemeriksan secara kualitatif dengan
metode immunoassay untuk mendeteksi adanya antibody (IgG
dan IgM) Treponema Pallidum dalam darah dan diketahui
dengan terbentuknya 2 garis pada strip test
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Tabung dan rak tabung
b. Timer
3. Reagensia :
TPHA ACON strip test
4. Cara kerja
a. TPHA strip test terlebih dahuludikeluarkan dari tempat
penyimpanan dan disuhukamarkan selama 15 menit,
letakkan
ditempat mendatar
b. Pegang pipet tetes dengan posisi tegak lurus, teteskan 2 tetes
serum
diatas strip test dan tambahkan 2 tetes buffer, lalu jalankan
timer
c. Baca hasil pada waktu 10 menit, dan jangan membaca hasil
setelah
30 menit.
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif :Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada
test (T)
b. (-) Negatif :Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
c. Invalid :Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. TPHA strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
c. Pisahkan segera serum dari darah untuk mencegah terjadinya
hemolisa
d. Segera lakukan pemeriksaan jika serum sudah
terkumpul, jika
terjadi penundaan pemeriksaan, simpanlah serum pada suhu
2 °-8°
selama 3 hari atau simpanlah pada suhu -20° c untuk waktu
yang
lama.

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN SYPHILIS (TPHA)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 146 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan TPHA
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam
buku
pemeriksaan serologi dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN AMPHETAMINE (AMP)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 159 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 3297
Pengertian Pemeriksaan urine terhadap amphetamine
Tujuan Mengetahui adanya amphetamine dalam urine

Kebijakan Amphetamine (AMP) strip test adalah pemeriksan secara


kromatografi immunoassay dimana amphetamine dalam urine
akan terdeteksi pada antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
AMP ACON strip test
4. Cara kerja
a. TPHA strip test terlebih dahulu dikeluarkan dari tempat
penyimpanan dan disuhukamarkan selama 15 menit
b. Celupkan AMP strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c. Letakkan AMP strip testpada tempat yang mendatar,
jalankan
timer selama 5 menit, kemudian baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c. Invalid : Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. AMP strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari
atau pada suhu -20° c untuk waktu yang lama

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN AMPHETAMINE (AMP)
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 159 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
amphetamine (AMP) diserahkan kepetugas pengetikan hasil
dan
diarsipkan kedalam buku pemeriksaan narkoba dan file
computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MORPHINE (MOR)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 160/ I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan urine terhadap morphine

Tujuan Mengetahui adanya morphine dalam urine

Kebijakan Morphine (MOR) strip test adalah pemeriksan secara


kromatografi immunoassay dimana morphine dalam urine akan
terdeteksi pada antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
MOR ACON strip test
4.Cara kerja
a. MOR strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan
disuhukamarkan selama 15 menit
b. Celupkan MOR strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c Letakkan MOR strip testpada tempat yang mendatar, jalankan
timer
selama 5 menit, kemudian baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c. Invalid : Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. MOR strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari
atau pada suhu -20° c untuk waktu yang lama

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MORPHINE (MOR)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 160 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
morphine
(MOR) diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam
buku pemeriksaan narkoba dan file computer
1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN MARIJUANA (THC)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 161 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Pemeriksaan urine terhadap marijuana

Tujuan Mengetahui adanya marijuana dalam urine

Kebijakan Marijuana (THC) strip test adalah pemeriksan secara


kromatografi immunoassay dimana morphine dalam urine akan
terdeteksi pada antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
THC ACON strip test
4. Cara kerja
a. THC strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan
disuhukamarkan selama 15 menit
b Celupkan THC strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c Letakkan THC strip testpada tempat yang mendatar, jalankan
timer
selama 5 menit, kemudian baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c. Invalid : Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. THC strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari atau
pada suhu -20° c untuk waktu yang lama
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN MARIJUANA (THC)
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 161 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
marijuana
(THC) diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam
buku pemeriksaan narkoba dan file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN COCAINE (COC)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 162 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan urine terhadap cocaine

Tujuan Mengetahui adanya cocaine dalam urine

Kebijakan Cocaine (COC) strip test adalah pemeriksan secara kromatografi


immunoassay dimana cocaine dalam urine akan terdeteksi pada
antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
COC ACON strip test
4. Cara kerja
a. COC strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan
disuhukamarkan selama 15 menit
b. Celupkan COC strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c .Letakkan COC strip test pada tempat yang mendatar, jalankan
timer selama 5 menit, kemudian baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c.Invalid : Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. COC strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari
atau pada suhu -20° c untuk waktu yang lama

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN COCAINE (COC)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 162 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
cocaine
(COC) diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam buku pemeriksaan narkoba dan file computer
1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN BENZODIAZEPINE (BZO)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 163 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Pemeriksaan urine terhadap benzodiazepine

Tujuan Mengetahui adanya benzodiazepine dalam urine

Kebijakan Benzodiazepine (BZO) strip test adalah pemeriksan secara


kromatografi immunoassay dimana benzodiazepine dalam urine
akan terdeteksi pada antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
BZO ACON strip test
4. Cara kerja
a. BZO strip dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan
disuhukamarkan selama 15 menit
b. Celupkan BZO strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c Letakkan BZO strip test, jalankan timer selama 5 menit,
kemudian baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c. Invalid :Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. BZO strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari
atau pada suhu -20° c untuk waktu yang lama
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN BENZODIAZEPINE (BZO)
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 163 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
benzodiazepine (BZO) diserahkan kepetugas pengetikan hasil
dan
diarsipkan kedalam buku pemeriksaan narkoba dan file
computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN BARBITURATE (BAR)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 164 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan urine terhadap barbiturate

Tujuan Mengetahui adanya barbiturate dalam urine

Kebijakan Barbiturate (BAR) strip test adalah pemeriksan secara


kromatografi immunoassay dimana barbiturate dalam urine akan
terdeteksi pada antibody
Prosedur kerja 1. Bahan : Urine
2. Alat :
a. Wadah penampung urine
b. Timer
3. Reagensia :
BAR ACON strip test
4. Cara kerja
a. BAR strip test dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan
disuhukamarkan selama 15 menit
b. Celupkan BAR strip test kedalam urine dengan sikap tegak
lurus
selama 15 detik, jangan melewati garis maximum dari strip
test
c . Letakkan BAR strip test, jalankan timer selama 5 menit,
kemudian
baca hasilnya
d. Jangan membaca hasil setelah 10 menit
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 1 garis yaitu pada kontrol (C)
b. (-) Negatif : Terbentuk 2 garis yaitu pada kontrol (C) dan
pada test (T)
c. Invalid : Terbentuk garis hanya pada test (T) atau tidak
terbentuk garis pada kontrol (C) dan pada test
(T)
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. BAR strip test jangan digunakan apabila telah kadaluarsa
b. Wadah penampung urin harus bersih dan kering
c. Spesimen urin dapat disimpan pada suhu 2 °-8° c selama 2
hari atau
pada suhu -20° c untuk waktu yang lama

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN BARBITURATE (BAR)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 164 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
barbiturate
(BAR) diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
kedalam
buku pemeriksaan narkoba dan file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS
(HIV)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 144 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibody human immunodeficiency
virus (HIV) dalam serum
Tujuan Mengetahui adanya antibody human immunodeficiency virus
(HIV) dalam serum
Kebijakan HIV strip test adalah pemeriksaan dengan immunokromatografi
secara kualitatif untuk mendeteksi adanya antibody HIV

Prosedur kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Tabung reaksi dan rak tabung
b. Transferpipet 50 µl
c. Timer
3. Reagen
HIV- ½ Determine strip test
4. Cara kerja
a. Buka lempeng penutup strip test
b. Pipet 50 µl serum, letakkan pada bidang sampel (ditandai
dengan
simbol panah)
c. Jalankan timer selama 15 menit, kemudian baca hasilnya
5. Evaluasi hasil
a. (+) Positif : Terbentuk 2 garis merah pada kolom kontrol
(ditandai
dengan tulisan control) dan bidang pasien
(ditandai
dengan tulisan patient)
b. (-) Negatif : Terbentuk 1 garis merah yaitu pada kolom
kontrol
(ditandai dengan tulisan control)
c. Invalid : Terbentuk 1 garis merah garis hanya pada
kolom
pasien atau tidak terbentuk garis pada bidang
control
dan pasien
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan
a. Jangan gunakan HIV strip test yang telah kadaluarsa
b. Gunakan alat pelindung diri pada saat mengerjakan sampel
c. Jangan emnggunakan serum yang hemolisa
d. Pisahkan segera serum dari darah untuk mencegah terjadinya
hemolisa

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS
(HIV)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 144 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil


Hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan HIV
diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam
buku
pemeriksaan serologi dan file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP
DENGAN ABX MICROS 60
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 172 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

PROSEDUR
TETAP
dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap jumlah sel – sel darah
Tujuan Mengetahui jumlah sel – sel darah

Kebijakan Prinsip pemeriksaan didasarkan pada variasi impedarsi yang


dihasilkan karena lewatnya sel – sel darah melalui suatu mikro
spektrum.
Prosedur kerja 1. Bahan : Darah EDTA
2. Alat :
a. ABX micros 60
b. Tabung vacum
3. Reagensia :
a. ABX Miniclean
b. ABX Minilyse
c. ABX Diluent
4. Cara kerja :
a. Homogenkan sampel secara perlahan
b. Masukkan ID pasien yang akan diperiksa
c. Buka penutup dari tabung sampel dan masukkan jarum
sampel
kedalam tabung sampel, kemudian tekan tombol START
atau
sampling bar
d.Tunggu hasil pemeriksaan selama 60 detik
e. Hasil keluar dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil
Nilai normal :
a. WBC (4,0 – 10,0 /mm3)
b. RBC (4,00 – 6,5/mm3)
c. HGB (11,5 – 18,0/mm3)
d. HCT (35,0 – 50,0/mm3)
e. PLT (200 – 500/mm3)
f. PCT (100 – 500/mm3)
g. MCV (76 – 97/mm3)
h. MCH (26,5 – 33,5/mm3)
i. MCHC (31,5 – 35,9/mm3)
j. RDW (10,0 – 15,0/mm3)
k. MPV (6,5 – 11,0/mm3)
l. PDW (10,0 – 17,0/mm3)

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP
JAMBI DENGAN ABX MICROS 60
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 172 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Pengecekan minotrol harus dilakukan setiap pagi
b. Concentrat cleaning dilakukan setiap seminggu sekali
sebagai
prosedur maintenance mingguan atau apabila strat up failed
c. Jika hasil minotrol diluar target, lakukan prosedur
concentratedan
ulangi kembali dengan ABX minotrol yang sama
d. Jika hasil tetap tidak masuk, ganti dengan ABX minotrol
yang baru, dan jika tetap tidak masuk, lakukan kalibrasi
atau hubungi teknisi alat.
e. Jika ada hasil yang meragukan, lakukan proses concentrate
cleaning dan cek ulang alat dengan memakai kontrol.
8. 7. Hasil
9. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
10. diserahkan ke petugas pengetiksan hasil dan diarsipkan
kedalam
11. buku laporan pemeriksaan darah lengkap dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP
DENGAN SYSMEX KX - 21
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 173 / I / 2011 00 ½

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap jumlah sel – sel darah
Tujuan Mengetahui jumlah sel – sel darah

Kebijakan Prinsip pemeriksaan didasarkan pada variasi impedarsi yang


dihasilkan karena lewatnya sel – sel darah melalui suatu mikro
spektrum.
Prosedur kerja 1. Bahan : Darah EDTA
2. Alat :
a. Sysmex KX-21
b. Tabung vacuum
c. Multifunctional mixer
3. Reagensia :
a. Stromatolyzer
b. Cell pack/ Diluent
c. Cell clean
4. Cara kerja :
a. Perhatikan instrument KX-21 dalam keadaan ready
b. Masukkan data pasien dengan menekan tombol SAMPLE
NO,
isikan nomor identitas pasien yang diinginkan, kemudina
tekan
tombol ENTER
c. Homogenkan darah pasien yang akan diperiksadengan baik
sebelum meletakkannya dibawah aspiration untuk dihisap
d. Letakkan darah pasien dibawah aspiration probe, kemudian
tekan
tombol START (warna hijau)
e. Tarik sampel dari bawah aspiration probe setelah terdengan
bunyi
beep 2 kali
5. Evaluasi hasil
Nilai normal :
a. Lekosit ( 4 -11 10^9/L)
b. Hemoglobin (11-16 g/dl)
c. Eritrosit (3,5,-5,5 10^12/L)
d. Hematokrit (36-50 %)
e. Trombosit (150-450 10^9/L)
f. MCV (80-100 FL)
g. MCH (26-34 pg)
h. MCHC (26-34 g/dl)
i. MPV (9-13 FL)
j. PDW (9-17 FL)
k. RDW-CV (11-16 FL)

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP
JAMBI DENGAN SYSMEX KX – 21
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 173 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Periksalah ketersediaaan reagen
b. Periksalah selang – selang kabel power, pastikan tidak ada
selang
yang terjepit dan kabel power menempel tepat pada stop
kontak
c. Periksalah trap chamber, kosongkan bila ada cairan
didalamnya
d. Periksalah tempat pembuangan limbah, kosongkan bila perlu
e. Homogenisasikan sampel darah yang akan diperiksa dengan
baik
f. Pastiksa ujung probe menyentuh dasar botol sampel darah
agar tidak
menghisap udara
7. Hasil
12. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
13. darah lengkap dengan alat sysmex lengkap diserahkan ke
petugas
14. pengetikan hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan
pemeriksaan
15. darah lengkap dan file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ELEKTROLIT ( Na, K, CL)

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 174 / I / 2011 00 1/1

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap kadar elektrolit (Na, K,CL) dalam
serum
Tujuan Mengetahui kadar elektrolit (Na, K,CL) dalam serum

Kebijakan Sampel diukur dengan menggunakan sistem ion selektif elektroda


(ISE), dimana sampel dicampur dengan reagen standar A dan
standar B dalam septum, kemudian dialirkan ke masing – masing
elektroda dan sampel akan diukur pada elektroda tersebut
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humalyte
b. Cup sampel
c. Transferpipet 500 µL
d. Tip biru
3. Reagensia :
a. Standar A
b. Standar B
c. Waste
d. Reff
4. Cara kerja :
a. Masukkan serum kedalam cup sampel
b.Tekan tombol ANALYZER, kemudian masukkan identitas
pasien
c. Setelah Probe turun, masukkan sampel, kemudiantekan
tombol
ANALYZER
d.Tunggu selama I menit, hasil akan didapat dalam bentuk
print out
5. Evaluasi hasil
Nilai normal :
a. Natrium (Na) : 135 – 155 mmol/L
b. Kalium (K) : 3,6 – 5,5 mmol/L
c. Chlorida (Cl) : 95 – 108 mmol/L
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Sampel pemeriksaan harus dihindari dari hemolisis
b. Alat secara otomatis akan melakukan kalibrasi setiap 4 jam
7. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
elektrolit diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
kedalam buku laporan pemeriksaan kimia darah dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ANTIGEN HEPATITIS B ( HbsAg )
ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 149 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
PROSEDUR
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antigen hepatitis B dalam serum
Tujuan Untuk mendeteksi antigen hepatitis B dalam serum
Kebijakan Tes HbsAg berdasarkan pemeriksaan sandwich langsung meliputi
microwell yang dilabel dengan monoclonal antibodi (mab, tikus)
terhadap HBsAg
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Cup sampel
e. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
j. Timer
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Kontrol positif
e. Kontrol negatif
f. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+20 dengan aquadest
steril,misalnya
5 ml larutan pencuci + 100 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTIGEN HEPATITIS B ( HbsAg ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 149 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 2. Pemeriksaan sampel
1. Pipet masing masing 50 µl kontrol negatif kedalam baris
B1/C1/D1
2. Pipet masing – masing 50 µl kontrol positif kedalam baris
E1/F1
3. Pipet 50 µl sampel kedalam sumur baris berikutnya
4.Tambahkan masing – masing 50 µl enzym konjugat
kedalam
tiap – tiap sumur kecuali A1, campur perlahan dengan alat
Humareader selama 20 detik
5. Tutup strips dengan parafilm atau foil
6. Inkubasi selama 80 menit pada suhu 37 °C
7. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 5 kali
8. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
9. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
semua sumur termasuk A1, campur dan inkubasi selama
30 menit pada suhu kamar, lindungi dari sinar kuat
10. Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
semua sumur, campur hati – hati
11. Ukur absorbans dengan alat Humareader
12. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Cara perhitungan :
COV = MNC + 0.025
6. Evaluasi hasil :
a. Negatif : < 0.90
b. Positif : > 1.10
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor lot
yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTIGEN HEPATITIS B ( HbsAg ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 149 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja e. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang
sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
f. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
g. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
h. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
8. Hasil :
16. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
17. HbsAg ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
18. kedalam file computer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS B ( HbsAb ) ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 150 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibodi hepatitis B dalam serum
Tujuan Untuk mendeteksi antibodi hepatitis B dalam serum

Kebijakan Tes anti HbsAb adalah solid phase immunoassay sistem yang
menggunakan metode sandwich untuk mendeteksi anti HbsAb
dalam serum.Sampel dan peroksidase conjugated HbsAg
(manusia) ditambahkan pada microwell yang dilabel dengan
purifed HbsAg (manusia)
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
Unit terkait b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Kontrol positif
e. Kontrol negatif
f. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+20 dengan aquadest steril,
misalnya
5 ml larutan pencuci + 100 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS B ( HbsAb ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 150 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 3. Pengenceran reagen kontrol positif


Pipet 100 µl larutan kontrol positif (Cal.D), encerkan dengan
100 µl aquadest (Cal.C), pipet kembali 100 µl Cal.C
encerkan
dengan 100 µl aquadest (Cal B), pipet kembali 100 µl Cal B
encerkan dengan 100 µl aquadest (Cal A)
B. Pemeriksaan sampel
1. Pipet masing – masing 50 µl larutan Cal.A,B,C,D ke
dalam
baris B,C,D,E kecuali sumur A
2. Pipet 50 µl sampel kedalam sumur baris berikutnya
3.Tambahkan masing – masing 50 µl enzym konjugat
kedalam
tiap – tiap sumur kecuali A1, campur perlahan dengan alat
Humareader selama 20 detik
4.Tutup strips dengan parafilm atau foil
5. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 37 °C
6. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 5 kali
4. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
5.Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
semua
sumur termasuk A1, campur dan inkubasi selama 30 menit
pada
suhu kamar, lindungi dari sinar kuat
9.Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
semua sumur, campur hati – hati
10.Ukur absorbans dengan alat Humareader
11.Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Cara perhitungan :
COV = MNC + 0.025
6. Evaluasi hasil :
a. Negatif : < 0,2
b. Positif : > 0,5

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS B ( HbsAb ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 150 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor lot
yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
i. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
j. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
k. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
l. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
8. Hasil :
19. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan pemeriksaan
20. anti HbsAb ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
21. diarsipkan kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS C ( HBc ) ELISA
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 151 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibodi hepatitis C dalam serum
Tujuan Untuk mendeteksi antibodi hepatitis C dalam serum

Kebijakan Anti HBc test berdasarkan prinsip persaingan ikatan antara anti
HBc pada specimen dan anti HBc-peroxidase konjugat
(manusia)dalam jumlah ikatan tertentu pada sumur yang dilabel
HBcAg. Jadi jumlah anti HBc-peroxidase konjugat yang
terikatpada sumur berbanding terbalikdengan konsentrasi anti
HBc dalam specimen.
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Kontrol positif
e. Kontrol negatif
f. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+20 dengan aquadest steril,
misalnya
5 ml larutan pencuci + 100 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS C ( HBc ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 151 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel


1. Pipet masing masing 50 µl kontrol negatif kedalam baris
B1/C1/D1
2. Pipet 50 µl sampel kedalam sumur baris berikutnya
3. Tambahkan masing – masing 50 µl enzym konjugat
kedalam
tiap – tiap sumur kecuali A1, campur perlahan dengan alat
Humareader selama 25 detik
4. Tutup strips dengan parafilm atau foil
5. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 37 °C
6. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 6 kali
7. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
8. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
semua sumur termasuk A1, campur dan inkubasi selama
30
menit pada suhu kamar, lindungi dari sinar kuat
9.Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
semua sumur, campur hati – hati
10.Ukur absorbans dengan alat Humareader
11.Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Cara perhitungan :
COV = 0,4 x MNC + 0.6 x MPC
6. Evaluasi hasil :
a. Negatif : > 1.10
b. Positif : < 0.90
7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor
lot yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
e. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN ANTI HEPATITIS C ( HBc ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : Revisi : Halaman :
B / Protap / 151 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja f. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
g. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
h. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
8. Hasil :
22. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
23. Anti HBc ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
24. diarsipkan kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY ( HIV )
ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 156 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antibodi HIV-1 dan HIV-2 serum

Tujuan Untuk mendeteksi antibodi HIV-1 dan HIV-2 serum

Kebijakan Sumur mikrotiter telah dilabel dengan sintesa peptida (pept) dan
antigen recombinant (rAg) yang mewakili daerah
immunodominant dari kedua HIV 1 dan 2.

Prosedur kerja 1. Bahan : Serum


2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
j. Timer
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Kontrol positif anti HIV-1
c. Kontrol positif anti HIV-2
d. Kontrol negatif
e. Konjugat diluent
f. Reagen TMB substrat A
g. Reagen TMB substrat B
h. Larutan pencuci
i. Larutan penyetop
j. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Diluted konjugat
Pipet I ml konjugat diluent dan 10 µl konjugat enzym,
campur
dengan baik

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY ( HIV )
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 156 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 2. Larutan TMB


Mengabungkan volume yang sama reagen reagen TMB
substar A dan reagen substrat B sesuai dengan kebutuhan
3. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+20 dengan aquadest steril,
misalnya 500 µl larutan pencuci dengan 10 ml aquadest
steril
B. Pemeriksaan sampel
1. Pipet masing masing 100 µl kontrol negatif kedalam baris
B1
2. Pipet masing – masing 100 µl kontrol positif kedalam
baris
C1/D1
3. Pipet masing – masing 100 µl sampel ke sumur berikutnya
4. Tutup strips dengan parafilm atau foil
5. Inkubasi selama 30 menit pada suhu 37 °C
6. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 10 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 6 kali
7. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
8. Pipet masing – masing 100 µl larutan diluted konjugated
kedalam semua sumur kecuali A1, campur dan inkubasi
selama
20 menit pada pada suhu 37°C
9. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 10 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 6 kali
10. Pipet masing – masing 100 µl larutan TMB kesemua sumur
termasuk blanko (A1), inkubasi selama 10 menit pada suhu
kamar ditempat yang terlindung dari cahaya
11. Pipet masing – masing 100 µl larutan stopkesemua sumur
12. Ukur absorban dengan alat Humareader
13. Hasil didapat dalam bentuk print out.
5. Cara perhitungan :
COV : NCx + 0.10
6. Evaluasi hasil
a. Negatif : < COV
b. Positif : > COV

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY ( HIV )
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 156 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada
saat mengerjakan sampel.
9. Larutan TMB mengandung dimethyl sulfoxide yang dapat
mengiritasi kulit dan selaput membran
10. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor
lot yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
11. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
12. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
13. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
14. Larutan kerja TMB yang telah dicampur jangan digunakan
jika
lebih dari 10 menit
8. Hasil :
25. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
26. anti HIV diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan diarsipkan
27. kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN PROTHROMBIN TIME ( PT )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 135 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit

dr. Bima Wisnu. SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Proses pemeriksaan faktor – faktor pembekuan

Tujuan Untuk menentukan faktor – faktor pembekuan jalur ekstrinsik


dan jalur bersama ( Prothrombin, F –V, F- VII dan F – X ) dan
juga relatif sensitif dengan adanya heparin dalam darah serta
keadaan hipo fibrigenemit
Kebijakan Tromboplastin jaringan ( faktor ekstrinsik dan ion kalsium )
ditambahkan kedalam plasma sitrat, kemudian diukur lamanya
waktu yang diperlukan untuk terjadinya pembekuan fibrin
Prosedur kerja 1. Bahan : Plasma
2. Alat :
a. Sysmex ca- 50
b. Transferpipet 1000 µl, 100 µl, 50µl
c. Reaction tube
d. Sampel cup
e. Tip kuning
3. Reagensia :
1. a. Thromborel S
b. Aquabidest
c. Plasma kontrol.
4. Cara kerja
A. Plasma kontrol
1. Preparasi reagen : Tambahkan 4 ml aquabidest kedalam I
vial
reagen thromborel S, bila sudah tercampur rata, tuang
kedalam
sampel cup, masukkan kedalam inkubator suhu 37°c,
selama 30
menit, lalu siap digunakan
2. Masukkan 50µl plasma kontrol kedalam reaction tube,
masukkan ke dalam well
3. Tekan start ( alat akan menghitung mundur 180 detik )
4. Masukkan 100 µl reagen Thromborel S, alat secara
otomatis
akan bekerja
5. Hasil didapat dalam bentuk print out
B. Pemeriksaan sampel
1. Masukkan 50µl sampel kedalam reaction tube, masukkan
kedalam well
2.Tekan start ( alat akan menghitung mundur 180 detik )
3. Masukkan 100 µl reagen Thromborel S, alat secara
otomatis
akan bekerja
4. Hasil didapat dalam bentuk print out

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN PROTHROMBIN TIME ( PT )

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 135 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 5. Evaluasi hasil


Nilai normal : 9,7 – 13,1 detik
6. Hal hal yang perlu diperhatikan
a. Suhu dan waktu penyimpanan reagen harus diperhatikan
karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
b. Hindari kontaminasi reagen
c. Sampel yang keruh atau lipemik tidak dapat dipakai
untuk pemeriksaan ini, karena akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan
d. Temperatur pada inkubator atau detektor harus benar –
benar
diperhatikan karena dapat menyebabkan kerusakan pada
inkubator
e. Pada saat pemipetan, hindari terjadinya gelembung udara
f. Stabilitas reagen:
i. Suhu 37 °c = 8 jam
ii. Suhu 15°c – 25 °c = 2 hari
iii. Suhu 2°c – 8 °c = 5 hari
iv. On board = 24 jam
7. Hasil
Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan PT, diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam buku pemeriksaan koagulasi dan file
komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN PROSTAT SPESIFIC ANTIGEN ( PSA )
ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 155/ I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, Sp. THT,


MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap antigen prostate spesific total secara
kuantitatif dalam serum
Tujuan Untuk mendeteksi dalam serum antigen prostate spesific total
secara kuantitatif dalam serum
Kebijakan PSA ELISA berdasarkan pada tehnik clasiccal sanwich ELISA
menggunakan ikatan tinggi sistem Biotin – streptavidinyang telah
dilabel pada permukaansumur mikrotiter
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl, 20 µl, 10 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat antibodi enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Larutan pencuci
e. Larutan penyetop
f. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2.Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+20 dengan aquadest steril,
misalnya
5 ml larutan pencuci + 100 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN PROSTAT SPESIFIC ANTIGEN (PSA)
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 155 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel


1. Pipet 25 µl sampel kedalam sumur A1
2. Tambahkan 100 µl larutan CON, campur dengan alat
Humareader selama 25 detik, dan tutup dengan strip
perekat
3. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 30 °C
4. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi pencucian
ini
sebanyak 3 kali
5. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan) pada kertas tissue
6. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
sumur, campur dan inkubasi selama 15 menit
menit pada suhu kamar, lindungi dari sinar kuat
7. Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
sumur, campur hati – hati
8 .Ukur absorbans dengan alat Humareader
9. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
Nilai normal : < 4 ng/ml
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada
saat mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
a. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor
lot yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
b. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
c. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
d. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
e. Spesimen dengan konsentrasi PSA diatas 100 ng/ml harus
diencerkan 1 + 9 eengan serum normal ( PSA 0 ng/ml) dan
diukur
ulang, hasil dikalikan dengan 10

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN PROSTAT SPESIFIC ANTIGEN (PSA)
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 155 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja 7. Hasil :
28. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
29. PSA ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
30. kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TOTAL TRIIODOTHYRONINE ( T3 )
ELISA
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 152 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap kadar total triiodothyronine (T3)
dalam serum secara kuantitatif
Tujuan Untuk mendeteksi kadar total triiodothyronine (T3) dalam serum
secara kuantitatif
Kebijakan T3 ELISA berdasarkan prinsip perbandingan ikatan antara T3
dalam pemeriksaan specimen dan konjugat T3 peroxidase pada
jumlah ikatan tertentu pada sumur yang dilabel dengan anti T3
(domba).
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+5 dengan aquadest steril,
misalnya
500 µl larutan pencuci + 25 ml aquadest
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN TOTAL TRIIODOTHYRONINE ( T3 )
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 152 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel


1. Pipet 50 µl sampel kedalam sumur A1
2. Tambahkan 100 µl larutan CON, campur dengan alat
Humareader selama 25 detik
3. Tutup strips perekat atau dengan parafilm
4. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 20 -25 °C, lindungi
dari
sinar kuat
5. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 2 kali
6. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
7. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
sumur, campur dan inkubasi selama 15 menit, lindungi
dari
sinar kuat
8.Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
sumur, campur hati – hati
9. Ukur absorbans dengan alat Humareader
10. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
a. Negatif : < 0.6
b. Positif : > 2.0
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor
lot yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
e. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
f. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
g. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
h. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan pembacaan
absorban

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN TOTAL TRIIODOTHYRONINE ( T3 )
JAMBI ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 152 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil :


31. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
32. T3 ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
33. kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN TOTAL THYROXINE ( T4 ) ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 153 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap kadar total Thyroxine (T4) dalam
serum secara kuantitatif
Tujuan Untuk mendeteksi kadar total Thyroxine (T4) dalam serum
secara kuantitatif
Kebijakan T4 ELISA berdasarkan prinsip perbandingan ikatan antara T4
dalam pemeriksaan specimen dan konjugat T4 peroxidase pada
jumlah ikatan tertentu pada sumur yang dilabel dengan anti T4
(domba).
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl, 25 µl,
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur)
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+5 dengan aquadest steril,
misalnya
500 µl larutan pencuci + 25 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN TOTAL THYROXINE (T4) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 153 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel
1. Pipet 25 µl sampel kedalam sumur A1
2. Tambahkan 100 µl larutan CON, campur dengan alat
Humareader selama 25 detik
3. Tutup strips perekat atau dengan parafilm
4. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 20 -25 °C, lindungi
dari
sinar kuat
5. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 2 kali
6. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
7. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
sumur, campur dan inkubasi selama 15 menit, lindungi
dari
sinar kuat
8.Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
sumur, campur hati – hati
9. Ukur absorbans dengan alat Humareader
10. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
a. Negatif : < 4.4
b. Positif : > 11.6
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor lot
yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
e. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
f. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
g. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
h. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN TOTAL THYROXINE (T4) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 153 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja
7. Hasil :
34. Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
35. T4 ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan
36. kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN THYROTROPIN ( TSH ) ELISA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 154 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan darah terhadap kadar Thyrotropin (TSH) dalam
serum secara kuantitatif
Tujuan Untuk mendeteksi kadar Thyrotropin (TSH) dalam serum secara
kuantitatif
Kebijakan TSH ELISA berdasarkan teknik classic sandwich ELISA.
Sebagai pemeriksaan generasi kedua, dibuat berdasarkan ikatan
tinggi pada sistem Bioton-Streptavidin.
Prosedur kerja 1. Bahan : Serum
2. Alat :
a. Humareader
b. Inkubator
c. Tabung dan rak tabung
d. Transferpipet 1000 µL, 500 µl, 100 µl, 50 µl
e. Cup sampel
f. Tip biru dan tip kuning
g. Beaker glass
h. Strip mikrotiter
i. Strip perekat
3. Reagensia :
a. Konjugat enzym
b. Reagen substrat A
c. Reagen substrat B
d. Larutan pencuci
g. Larutan penyetop
h. Aquabidest
4. Cara kerja :
A. Persiapan larutan kerja
1. Larutan kerja TMB
Menggabungkan volume yang sama dari substrat A dan
substrat B sejumlah yang dibutuhkan (100 µl per sumur
2. Larutan kerja pencuci
Encerkan larutan pencuci 1+5 dengan aquadest steril,
misalnya
500 µl larutan pencuci + 25 ml aquadest

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN THYROTROPIN ( TSH ) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 154 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Prosedur kerja B. Pemeriksaan sampel
1. Pipet 50 µl sampel kedalam sumur A1
2. Tambahkan 100 µl larutan CON, campur dengan alat
Humareader selama 25 detik
3. Tutup strips perekat atau dengan parafilm
4. Inkubasi selama 60 menit pada suhu 20 -25 °C, lindungi
dari
sinar kuat
5. Isap isi sumur , kemudian isikan larutan kerja pencuci
kedalam
tiap sumur selama 30 detik, dan isap kembali , ulangi
pencucian
ini sebanyak 2 kali
6. Pindahkan cairan sisa dengan cara membalikkan bagian
atas
plate kebawah (ditepuk – tepukkan)pada kertas tissue
7. Pipet masing – masing 100 µl larutan kerja TMB kedalam
sumur, campur dan inkubasi selama 15 menit, lindungi
dari
sinar kuat
8.Tambahkan masing – masing 100 µl larutan penyetop
kedalam
sumur, campur hati – hati
9. Ukur absorbans dengan alat Humareader
10. Hasil didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
a. Negatif : < 0.3
b. Positif : > 6.2
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Jangan menggunakan reagen setelah tanggal kadaluarsa
b. Jangan sampai tertelan reagen, pakailah alat pelindung diri
pada saat
mengerjakan sampel.
c. Larutan penyetop mengandung asam sulfat yang dapat
mengiritasi
mata dan kulit
d. Jangan mencampur atau menggunakan komponen dengan
nomor lot
yang berbeda dan jangan menukar tutup botol
e. Simpan reagen pada suhu 2 – 8 °C, untuk reagen yang sudah
diencerkan, simpan pada suhu kamar.
f. Jangan menyentuh bibir bagian atas atau dasar sumur dengan
jari
g. Hindari sinar yang kuat selama pembentukan warna
h. Hilangakan gelembung udara sebelum inkubasi dan
pembacaan
absorban
RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN THYROTROPIN (TSH) ELISA
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 154 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil :


Print out hasil pemeriksaan dan formulir permintaan
pemeriksaan
TSH ELISA diserahkan kepetugas pengetikan hasil dan
diarsipkan kedalam file komputer

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN APUSAN DARAH TEPI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 130 / I / 2011 00 1/2

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974
Pengertian Pemeriksaan apusan darah terhadap morfologi sel – sel darah
Tujuan Untuk mengetahui adanya morfologi dari sel – sel darah

Kebijakan Sediaan dibuat dari setetes darah perifer pada objek glass,
kemudian digeser dengan kaca penggeser dengan sudut
kemiringan 45 °, sehingga tetesan darah menjadi lapisan darah
yang tipis.
Prosedur kerja 1. Bahan : Darah perifer
2. Alat :
a. Mikroskop
b. Objek glass
3. Reagensia :
Imersi oil
4. Cara kerja :
a. Apusan diperiksa pada bagian yang cukup tipis dan eritrosit
tidak
menggumpal
b. Bacalah keadaan trombosit, normal atau ada kelainan
Normal trombosit 300 – 800 / 100 lapangan pandang, cukup
bila pada pinggir dan ujung ada gumpalan trombosit
c. Bacalah keadaan eritrosit, normal atau ada kelainan
i. Size (ukuran)
Anisositosis, variasi dalam besarnya eritrosit
ii. Shape (Bentuk)
Poikilositosis, variasai dalam bentuk eritrosit
iii. Staining (warna)
Polikromasi yaitu terdapat eritrosit polikrom yaitu lebih
biru
yang menunjukkan adanya retikulosit
iv. Titik basofil yaitu titik biru dalam eritrosit yang
menunjukkan
meningkatnya retikulosit dan intoksikasi timbal
v. Sferosis
Bentuk lebih kecil, lebih padata daripada eritrosit
normal
vi. Sel target
Eritrosit lebih besar dari normal, ditengahnya ada bercak
yang
lebih tua warnanya, terdapat pada talasemia, Hb
patologis C,
E, G dan lain – lain
d. Bacalah keadaan lekosit, normal atau ada kelainan, bila
ditemukan adanya eritrosit berinti, laporkan sebagai lekosit

RS. TK. IV
DR. BRATANATA PEMERIKSAAN APUSAN DARAH TEPI
JAMBI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 130 / I / 2011 00 2/2

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 5. Hal – hal yang perlu diperhatikan


a. Jangan menggunakan darah oxalat untuk sediaan apus, karena
akan
mempengaruhi morfologi sel lekosit, pakailah darah kapiler,
darah vena bercampur heparin atau EDTA
a. Kriteria sediaan darah yang berkualitas baik yaitu jika dilihat
dibawah mikroskop mempunyai latar belakang jernih
b. Warna – wana merah, ungu, biru dan hitam harus terlihat
kontras
sehingga mudah dibedakan
6. Hasil
Hasil pemeriksaan apusan darah tepi dan formulir permintaan
pemeriksaan apusan darah tepi diserahkan kepetugas pengetikan
hasil
dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan apusan darah
tepi

1. Petugas Laboratorium
Unit Terkait 2. Rawat Jalan
3. Rawat Inap
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI CARA PEMBERIAN HASIL PEMERIKSAAN
LABORATORIUM PASIEN RAWAT JALAN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 175 / I / 2011 00 1/1

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Suatu ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan pemberian


hasil pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat jalan

Tujuan Sebagai acuan dalam menertibkan pelaksanaan pemberian hasil


pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat jalan

Kebijakan Dilakukan oleh petugas administrasi laboratorium


Prosedur kerja 1. Hasil pemeriksaan laboratorium diberikan kepada petugas
administrasi laboratorium dan disesuaikan kembali dengan
blanko
permintaan pemeriksaan dari dokter pengirim
2. Petugas administrasi menyerahkan hasil pemeriksaan
laboratorium
kepada pasien sambil meminta pasien menunjukkkan bukti
kuwitansi pembayaran dan menandatangani buku pengambilan
hasil
pemeriksaan pasien rawat jalan
3. Untuk pasien rawat jalan yang berasal dari perusahaan, hasil
diserahkan oleh petugas administrasi sambil meminta kepada
pasien
untuk menyebutkan nama pasien serta asal perusahaan dan
menandatangani buku pengambilan hasil pasien rawat jalan.

Unit terkait 1. Petugas administrasi Laboratorium


2. Rawat jalan

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI CARA PEMBERIAN HASIL PEMERIKSAAN
LABORATORIUM PASIEN RAWAT INAP

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 176 / I / 2011 00 1/1

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Suatu ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan pemberian


hasil pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat inap
Tujuan Sebagai acuan dalam menertibkan pelaksanaan pemberian hasil
pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat inap

Kebijakan Dilakukan oleh petugas laboratorium

Prosedur kerja 1. Hasil pemeriksaan laboratorium disesuaikan kembali dengan


blanko
dan buku permintaan pemeriksaan oleh petugas laboratorium
yang
bertanggung jawab terhadap pengambilan sampel darah pada
ruangan tersebut
2. Hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan secara tertulis
dan
diserahkan kepada perawat dari ruangan perawatan masing –
masing
serta menandatangani buku pengambilan hasil pemeriksaan
laboratorium pasien rawat inap
3. Tidak diizinkan menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium
melalui telepon, handphone, atau aiphone kepada ruangan
perawatan atau dokter pengirim

Unit terkait 1. Petugas Laboratorium


2. Petugas ruangan perawatan
3. Petugas instalasi gawat darurat ( IGD)

RS. TK. IV PEMERIKSAAN KIMIA DARAH


DR. BRATANATA JAMBI DENGAN BECKMAN COULTER CX 5 PRO

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 171 / I / 2011 00 1/3

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR
Kepala Rumkit
TETAP 05 Januari 2010
Dr. Bima Wisnu N, SpTHT, MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, elektrolit,
Pengertian
dan enzym jantung
Untuk pemeriksaan kimia darah, elektrolit dan enzim jantung
Tujuan
Pemeriksaan kimia darah yang terdiri dari 16 jenis pemeriksaan
Kebijakan
dan enzyme jantung terdiri dari 3 jenis pemeriksaan dengan alat
Beckman Coulter CX-5 PRO menggunakan prinsip photometer
automatic system, sedangkan elektrolit menggunakan prinsip
ISE electrolit system
1. Bahan : Serum
Prosedur Kerja
2. Alat :
a. Beckman Coulter CX-5 PRO
b. Sektor dan cup sampel
c. Tabung dan rak tabung
d. Transerpipet 500 µl
e. Tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen kimia darah (16 jenis)
b. Reagen enzyme jantung (3 jenis)
c. Wash concentrate II
d. Probe rinse
e. ISE Elektrolit buffer
f. Elektrolit reference
4. Cara kerja :
a. Tekan tombol F1 (sampel program) sebanyak 2 kali
b. Isi sampel ID, dan pilih jenis pemeriksaan dengan menekan
tombol select
c. Tekan tombol F1 (dibagian demographics)
d. Masukkan data pasien ID, misal: umur, jenis kelamin,
lokasi, dokter pengirim, untuk draw date dan draw time
tekan tombol C
e. Tekan tombol prev screen sebanyak 2 kali untuk kembali
ke
menu awal

RS. TK. IV PEMERIKSAAN KIMIA DARAH


DR. BRATANATA JAMBI DENGAN BECKMAN COULTER CX 5 PRO

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 171 / I / 2011 00 2/3
Tanggal terbit :
PROSEDUR 05 Januari 2010
TETAP

Prosedur kerja f. Ambil serum sebanyak 400 µl, masukkan kedalam cup
sampel yang telah diletakkan pada sector
g. Tekan tombol F1, kemudian tekan tombol F6 (assign sec/
cup)
h. Isi sampel ID pada monitor sesuai dengan nomor sector
dan cup sampel yang dipakai
i. Tekan tombol Prev screen sebanyak 2 kali untuk kembali
ke
menu awal
j. Letakkan sector pada load, kemudian tekan tombol START
k. Hasil pemeriksaan didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
Nilai normal kimia darah :
a. Cholesterol : 201 – 239 mg/dL
b. Asam urat : 2,6 – 7,2 mg/dL
c. Creatinin : 0,5 – 1,1 mg/dL
d. TP : 6,5 – 8,1 mg/dl
e. ALB : 3,5 – 5,4 mg/dl
f. TBIL : 0,3 – 1,1 mg/dl
g. DBIL : 0,1 – 0,4 mg/dl
h. CA : 8,5 – 10,5 mg/dL
i. Trigliserida : 40 – 200 mg/dL
j. Ureum : 10 – 50 mg/dL
k. AST : 15 – 37 mg/dL
l. ALT : 8 – 35 mg/ dL
m. ALP : 60 – 170 mg/dl
n. GGT : 4 – 28 mg/dl
o. Glukosa : 70 – 105 mg/dL
Nilai normal elektrolit :
a. Natrium : 135 – 155 mmol/ L
b. Kalium : 3,6 – 5,5 mmol/L
c. Chlorida : 95 – 108 mmol/L
Nilai normal enzim jantung
a. CK-NAC : 15 – 125 U/L
b. CK-MB : < 25 U/L
c. LDH : 160 – 320 U/L

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN KIMIA DARAH
DENGAN BECKMAN COULTER CX 5 PRO
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman
B / Protap / 171 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :


a. Reagensia yang akan digunakan terlebih dahulu
disuhukamarkan sebelum dipakai
b. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
c. Hindari terjadinya gelembung udara sewaktu memasukkan
serum kedalam cup
d. Jika hasil pemeriksaan pada print out terdapat komentar
IN RATE HIGH atau SUB DEL, encerkan 100 µl sampel
dengan 900 µl NaCL 0,9 %, hasil dikalikan 10.
7. Hasil :
Print out hasil pemeriksaan diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
kimia darah dan file komputer

1. Petugas laboratorium
Unit terkait 2. Rawat inap
3. Rawat jalan

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI CARA PEMBAYARAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM PASIEN RAWAT INAP
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
B / Protap / 177 / I / 2011 00 1/1

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Suatu ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan pembayaran


pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat inap

Tujuan Sebagai acuan dalam menertibkan pelaksanaan pembayaran


pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat inap

Kebijakan Dilakukan oleh petugas ruang perawatan

Prosedur kerja 1. Pada lembaran hasil pemeriksaan laboratorium untuk setiap


ruangan perawatan dicantumkan harga pemeriksaan
laboratorium
2. Pasien yang akan lepas perawatan dilakukan perincian total
semua
harga pemeriksaan laboratorium selama perawatan oleh
petugas
ruang perawatan
3. Pasien diberi rincian total harga pemeriksaan laboratorium
selama perawatan oleh petugas ruang perawatan dan
diarahkan menuju ke loket pembayaran dan kembali ke ruang
perawatan setelah melakukan pembayaran
4. Pasien kembali ke ruang perawatan dengan membawa
kuwitansi
pembayaran dan diserahkan ke petugas ruang perawatan

Unit terkait 1. Petugas laboratorium


2. Petugas ruang perawatan
3. Petugas loket pembayaran
RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI CARA PEMBAYARAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM PASIEN RAWAT JALAN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


B / Protap / 178 / I / 2011 00 1/1

Tanggal terbit : Ditetapkan


PROSEDUR 05 Januari 2010 Kepala Rumah Sakit
TETAP

dr. Bima Wisnu. N, SpTHT, MKES


Mayor Ckm NRP 32974

Pengertian Suatu ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan pembayaran


pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat jalan

Tujuan Sebagai acuan dalam menertibkan pelaksanaan pembayaran


pemeriksaan laboratorium bagi pasien rawat jalan

Kebijakan Dilakukan oleh administrasi laboratorium

Prosedur kerja 1. Pasien dari instalasi gawat darurat, poliklinik atau rujukan
laboratorium luar datang ke laboratorium membawa pengantar
pemeriksaan dan diterima oleh petugas administrasi
laboratorium
2. Jika pemeriksaan pasien dari IGD yang bersifat cyto
dikarenakan suatu keadaan, pengambilan sampel darah
dilakukan di IGD oleh petugas laboratorium
3. Jumlah biaya disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang
tertera
pada pengantar pemeriksaan
4. Pasien diberi rincian biaya pemeriksaan laboratorium oleh
petugas
administrasi laboratorium dan diarahkan menuju loket
pembayaran
dan kembali ke laboratorioum setelah melakukan pembayaran
5. Pasien kembali ke laboratorium dengan membawa kuwitansi
pembayaran dan diserahkan ke petugas administrasi
laboratorium
Unit terkait 1. Petugas administrasi laboratorium
2. Petugas instalasi gawat darurat
3. Petugas loket pembayaran

RS. TK. IV PEMERIKSAAN KIMIA DARAH


DR. BRATANATA JAMBI DENGAN ABX PENTRA 400

No. Dokumen : Revisi : Halaman


B / Protap / 170 / I / 2011 00 1/3

Ditetapkan
Tanggal terbit :
Kepala Rumkit
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP
Dr. Bima Wisnu N, SpTHT,
MKES
Mayor Ckm NRP 32974
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan kimia darah
Pengertian
Untuk pemeriksaan kimia darah
Tujuan
Pemeriksaan kimia darah yang terdiri dari 13 jenis pemeriksaan
Kebijakan
dan enzyme jantung terdiri dari 3 jenis pemeriksaan dengan alat
ABX PENTRA 400 menggunakan prinsip photometer automatic
system.
1. Bahan : Serum
Prosedur Kerja
2. Alat :
a. ABX PENTRA 400
b. Kuvet dan rak sampel
c. Tabung dan rak tabung
d. Transerpipet 500 µl
e. Tip biru
3. Reagensia :
a. Reagen kimia darah (13 jenis)
b. Aquabidest
c. Probe rinse
4. Cara kerja :
a. Dari menu utama, pilih worklist
b. Pilih patient pada menu worklist kemudian pilih Add New
untuk menambahkan pemeriksaan
c. Isi data pasien pada bagian patient demographic, kemudian
isi pula sampel characteristic
d. Tentukan jenis parameter yang akan diperiksa, lalu pilih
OK untuk validasi pemeriksaan yang diminta
e. Ambil serum sebanyak 400 µl, masukkan kedalam kuvet
sampel dan letakkan pada rak sampel sesuai dengan nomor
pada sampel characteristic
f. Untuk meletakkan sampel pada saat alat sedang bekerja
dapat dilakukan apabila lampu pada sampel tray sudah
berwarna hijau

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN KIMIA DARAH
DENGAN ABX PENTRA 400

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 170 / I / 2011 00 2/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja g. Jika ingin meletakkan sampel pada saat lampu masih
berwarna merah, dapat dilakukan dengan menekan pause
h. Pilih RUN untuk memulai pemeriksaan
I. Hasil pemeriksaan didapat dalam bentuk print out
5. Evaluasi hasil :
Nilai normal kimia darah :
a. Cholesterol : 201 – 239 mg/dL
b. Asam urat : 2,6 – 7,2 mg/dL
c. Creatinin : 0,5 – 1,1 mg/dL
d. TP : 6,5 – 8,1 mg/dl
e. ALB : 3,5 – 5,4 mg/dl
f. TBIL : 0,3 – 1,1 mg/dl
g. DBIL : 0,1 – 0,4 mg/dl
h. CA : 8,5 – 10,5 mg/dL
i. Trigliserida : 40 – 200 mg/dL
j. Ureum : 10 – 50 mg/dL
k. AST : 15 – 37 mg/dL
l. ALT : 8 – 35 mg/ dL
m. ALP : 60 – 170 mg/dl
n. GGT : 4 – 28 mg/dl
o. Glukosa : 70 – 105 mg/dL
6. Hal – hal yang perlu diperhatikan :
a. Periksa kondisi air aquabidest pada reservoir bottle,
tambahkan air jika kurang
b. Kosongkan waste container jika sudah penuh
c. Tambahkan kuvet baru jika kurang
d. Kosongkan tempat kuvet bekas
e. Reagensia yang akan digunakan terlebih dahulu
disuhukamarkan sebelum dipakai
f. Jangan menggunakan serum yang hemolisa
g. Hindari terjadinya gelembung udara sewaktu memasukkan
serum kedalam kuvet
h. Jika hasil pemeriksaan terlalu tinggi, lakukan pengencerkan
100 µl sampel dengan 900 µl NaCL 0,9 %, hasil
dikalikan 10.

RS. TK. IV
DR. BRATANATA JAMBI PEMERIKSAAN KIMIA DARAH
DENGAN ABX PENTRA 400

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


B / Protap / 170 / I / 2011 00 3/3

Tanggal terbit :
05 Januari 2010
PROSEDUR
TETAP

Prosedur kerja 7. Hasil :


Print out hasil pemeriksaan diserahkan kepetugas pengetikan
hasil dan diarsipkan kedalam buku laporan pemeriksaan
kimia darah dan file komputer
1. Petugas laboratorium
Unit terkait
2. Rawat inap
3. Rawat jalan