Anda di halaman 1dari 18

RINGKASAN

Waduk Lahor merupakan waduk yang berfungsi sebagai tempat budidaya perikanan,
suplai air ke waduk Sutami, pariwisata, pencegah banjir, dan suplai air irigasi. Dari kegiatan
bididaya perikanan dengan sistem KJA (Karamba Jaring Apung) dan sistem brajang dapat
menurunkan kualitas air waduk lahor dari sisa pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan dan
dari limbah hasil metabolisme ikan. Selain itu, berdasarkan data dari BPDAS Brantas
tatagunalahan pada DTA Waduk Lahor ± 70% didominasi oleh kegiatan pertanian pada
tahun 2017. Kegiatan pertanian pada DTA waduk Lahor akan menyumbang beban
pencemaran ke waduk Lahor dari limpasan pupuk yang melimpas ke sungai dan akan
menumpuk di waduk. Dari kegiatan budidaya perikanan di waduk Lahor dan aktivitas
masyarakat pada DTA waduk Lahor akan menyumbang beban masukan berupa bahan
organik dan organik ke dalam perairan waduk Lahor sehingga akan mempengaruhi kualitas
air waduk Lahor. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi
serta merumuskan upaya konservatif pengelolaan waduk Lahor.
Data yang digunakan dalam analisa kualitas air waduk Lahor adalah data sekunder
berupa parameter kualitas air seperti total P, NO3-N, NO2-N, NH3-N, BOD, DO, TSS, pH,
klorofil-a, data hidrologi berupa debit outflow dan data hujan, serta data morfologi berupa
kapasitas tampungan waduk dan luas perairan waduk Lahor, dimana data-data tersebit
diperoleh dari PJT I dan Dinas PU&SDA Kab. Malang. Sedangkan untuk data primer
kualitas air berupa data kelimpahan dan jenis fitoplankton yang diperoleh dengan
pengambilan sampel air waduk Lahor dan di uji di laboratorium Hidrobiologi FPIK
Universitas Brawijaya.
Berdasarkan hasil analisa kualitas air untuk mutu air waduk Lahor cenderung tidak
memenuhi baku mutu air kelas II berdasarkan PP No. 82 Th. 2001. Parameter yang tidak
memenuhi baku mutu air kelas II adalah NO2-N, NH3-N, BOD, dan DO. Sedangkan,
berdasarkan analisa status trofik yang mengacu pada PerMenNeg LH No. 28 Th. 2009
didapatkan hasil bahwa status trofik pada waduk Lahor yaitu Eutrof menuju ke Hipereutrof
yang berarti waduk lahor tercemar tinggi dan menuju sangat tinggi. Hal itu dibuktikan oleh
kelimpahan fitoplankton yang terjadi pada waduk Lahor rata-rata sebesar 73.827 sel/liter
yang didominasi oleh alga hijau biru jenis microsystis yang dapat merusak perairan waduk
jika jumlahnya melebihi batas. Daya tampung beban pencemaran waduk Lahor pada tahun
2017 sebesar 378.655 kg.P/ musim basah dan 298.346 kg.P/musim kering dengan kondisi
waduk Eutrof. Dengan kondisi waduk Lahor yang tercemar tinggi dan kecenderungan
mengalami blooming algae perlu dirumuskan upaya konservatif pengelolaan waduk Lahor
seperti pengaturan pola operasi waduk, penerapan sistem TLBA pada budidaya perikanan,
dan introduksi zooplankton jenis rotifera, dan penerapan desain karamba jaring apung
bertingkat terintegrasi untuk mereduksi alga pada perairairan waduk Lahor.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Beberapa waduk di Indonesia saat ini telah berstatus tercemar. Waduk Ir. H. Djuanda
berdasarkan penelitian oleh Caesar tahun 2015 memiliki status trofik hipereutrof yang berarti
tercemar sangat tinggi. Waduk Selorejo berdasarkan penelitian dari Ayu Pratama P tahun
2015 memiliki status trofik Hipereutrof. Waduk Sutami berstatus Hipereutrof pada tahun
2011 (Gilang, 2011) dan beberapa waduk lainnya di Indonesia telah mengalami pencemaran.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian mengenai kualitas air pada waduk untuk menjaga
kelestarian waduk. Salah satu waduk yang perlu diteliti adalah waduk Lahor, karena selain
berpotensi terjadinya pencemaran pada waduk Lahor jarang diadakan penelitian mengenai
kualitas air selain dari pihak pengelola waduk.
Waduk Lahor dialiri oleh tiga buah sungai yaitu sungai Lahor, sungai Leso dan sungai
Dewi. Dengan adanya ketiga buah sungai yang mengaliri waduk Lahor, maka akan menjadi
salah satu media bagi masuknya bahan organik dan anorganik yang berasal dari berbagai
aktivitas di sekitar waduk dan sungai-sungai tersebut. Ditambah lagi dengan aktifitas yang
berada pada waduk Lahor sendiri seperti budidaya perikanan dengan menggunakan karamba
jaring apung (KJA), dan kegiatan pariwisata akan menambah beban pencemar pada waduk
Lahor. Beban masukan ini akan memacu proses pengkayaan unsur hara (eutrofikasi).
Eutrofikasi dapat memicu pertumbuhan berlebihan jenis fitoplankton tertentu atau yang
biasa dikenal dengan blooming algae. Bila sampai terjadi blooming, akan merugikan
organisme lain misalnya mematikan ikan dan hewan-hewan air lainnya karena kekurangan
oksigen.

a Kualitas b c
Bahan Organik Blooming
perairan Eutrofikasi
dan Anorganik Algae
waduk
d

Gambar 1.1 Bagan Identifikasi Masalah Penelitian

Pada gambar 1.1 merupakan identifikasi masalah mengenai kualitas air yang akan di teliti
dimana penjelasannya sebagai berikut :
a = Adanya masukan berupa bahan organik dan anorganik ke dalam perairan
akan mempengaruhi kualitas fisika, kimia, biologi perairan
b = kualitas fisika, kimia, biologi perairan akan mempengaruhi eutrofikasi yang terjadi
pada perairan waduk
c = proses eutrofikasi akan menyebabkan blooming algae pada perairan waduk dan
algae bloom dapat menyebabkan proses sedimentasi berjalan lebih cepat sehingga
menyebabkan berkurangnya usia guna waduk, air waduk menjadi berwarna hijau
pekat kemudian berubah menjadi coklat, ikan mati, timbul bau busuk, serta mesin
mesin PLTA makin cepat terkorosi.
d = terjadinya alage bloom menjadi cerminan adanya masukan bahan organik dan
anorganik kedalam perairan.
Oleh karena itu, untuk menjaga agar kelestarian perairan waduk terutama waduk Lahor
tetap berlangsung dan bermanfaat untuk kepentingan manusia maka dirasa perlu untuk
mengkaji kondisi kualitas air waduk Lahor dari segi status mutu air, status trofik,
fitoplankton, dan daya tampung beban pencemran waduk serta merumuskan upaya
konservatif pengelolaan waduk Lahor yang dapat dijadikan pertimbangan oleh pihak
pengelola waduk Lahor yaitu PJT 1 Malang sebagai upaya perbaikan kualitas air pada waduk
yang mengalami pencemaran. Upaya peningkatan kualitas air waduk yang kami rumuskan
berdasarkan pada kondisi kualitas air saat ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana kondisi kualitas air waduk Lahor jika ditinjau dari segi status mutu air,
status trofik, fitoplankton, dan daya tampung beban pencemaran?
2. Bagaimana Upaya konservatif pengelolaan waduk yang mampu meningkatkan
kualitas air waduk Lahor?

1.3 Tujuan
2. Mengetahui kondisi kualitas air waduk Lahor ditinjau dari segi status mutu air,
status trofik, keberdaan fitoplankton, dan daya tampung beban pencemaran air
waduk Lahor.
3. Mengetahui upaya konservatif pengelolaan waduk Lahor untuk meningkatkan
kualitas air waduk.
1.4 Manfaat
1. Sebagai suatu bentuk kontribusi mahasiswa dalam memajukan dunia ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
2. Dapat dijadikan refrensi sebagai pihak pengelola danau atau waduk untuk upaya
peningkatan kualitas air waduk dan monitoring kualitas perairan waduk.
1.5 Luaran yang diharapkan
1. Mengatasi permasalahan kualitas air yang terjadi
2. Upaya yang dirumuskan dapat diaplikasikan pada waduk Lahor
3. Menciptakan artikel ilmiah dan jasa yang dipatenkan
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Status Trofik


Status trofik menunjukan adanya beban limbah unsur hara yang masuk air waduk
(PerMenLH No. 28 Th. 2009).

Tabel 2.1 Kriteria Status Trofik Danau atau Waduk


Status Trofik Kadar rata-rata Kadar rata-rata Kadar rata-rata Kecerahan rata-
total N (mg/l) total P (mg/l) klorofil-a rata (m)
(mg/l)
Oligotrof ≤ 650 < 10 < 2.0 ≥ 10
Mesotrof ≤ 750 < 30 < 5.0 ≥4
Eutrof ≤ 1900 < 100 < 15 ≥ 2,5
Hipereutrof ≤ 1900 ≥ 100 ≥ 200 < 2,5
Sumber: PerMenLH No. 28 Th. 2009

2.2 Metode Penentuan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Waduk


Ž = 100 x V /A ……………………………………………………… (1)
ρ = Qo / V …………………………………………………………… (2)
Dengan : Ž = kedalaman rata – rata danau dan atau waduk (m)
V = Volume air danau dan atau waduk (juta m3)
A = Luas perairan danau dan atau waduk (Ha)
2.3 Alokasi beban pencemaran parameter Pa
[Pa]STD = [Pa]I + [Pa]DAS + [Pa]d …………………………………………. (3)
[Pa]d = [Pa]STD - [Pa]I - [Pa]DAS ………………………………...………. (4)
Dengan : [Pa]STD = Syarat kadar parameter Pa maksimal sesuai Baku Mutu
Air atau Kelas Air (mg /m3)
[Pa]I = kadar parameter Pa hasil pemantauan danau dan atau
waduk (mg /m3)
[Pa]DAS = jumlah alokasi beban Pa dari daerah aliran sungai
(DAS) atau daerah tangkapan air (DTA) (mg /m3)
[Pa]d = alokasi beban Pa limbah kegiatan pada perairan waduk
(mg /m3)
2.4 Daya Tampung Beban Pencemaran Air Parameter Pa Pada Air Waduk
L = Δ [Pa]d Ž ρ / (1-R)……………………………………………… (5)
R = 1 / (1 +0,747 ρ0,507 ) …………………………………………….. (6)
La = L x A /100 …………………………………………………....…. (7)
= Δ [Pa]d A Ž ρ / 100 (1-R)
Dengan : L = daya tamping limbah Pa per satuan luas danau dan atau waduk
(mg Pa/m2 . tahun)
La = jumlah daya tamping limbah Pa pada perairan danau dan atau
waduk (kg Pa/tahun)
R = jumlah total Pa yang tinggal Bersama sedimen
2.5 Uji Homogenitas Data (Analisa Variansi)
Rumus umum perhitungan analisa statistik berupa uji variansi data adalah :
𝑘
(𝑛−𝑘).∑𝑖=1 𝑛𝑖 (𝑥𝑖−𝑥)2
𝐹= 𝑛𝑖 ……...…………………………………........ (8)
(𝑘−1).∑𝑗=1 (𝑥𝑖𝑗−𝑥𝑖)2
Dengan:
𝑥𝑖 = harga rerata untuk kelas i
𝑥 = harga rerata keselurhan data
𝑥𝑖𝑗 = pengamatan untuk kelas I pada tahun j
𝑛𝑖 = banyaknya pengamatan untuk kelas i
𝑛 = banyaknya pengamatan keseluruhan
𝑘 = banyaknya kelas

2.6 Status Mutu Air


Baku mutu air, yaitu batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain
yang ada unsur pencemar yang dapat ditenggang dalam sumber air tertentu, sesuai dengan
peruntukannya (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1990).
Tabel 2.2 Baku Mutu Parameter Kualitas Air
Kelas
Parameter
Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
NH3-N Mg/L 0,5 - - -
NO3-N Mg/L 10 10 20 20
NO2-N Mg/L 0,06 0,06 0,06 -
Total-P Mg/L 0,2 0,2 1 5
BOD Mg/L 2 3 6 12
DO Mg/L 6 4 3 0
PH 6-9 6-9 6-9 6-9
TSS Mg/L 50 50 50 50
Sumber : PP Nomor 82 Tahun 2001
2.7 Kelimpahan Fitoplankton
Untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton digunakan analisis kuantitatif dengan
menggunakan metode modifikasi Lackey Drop (Herawati, 1989 dalam Apridayanti, 2008)
dengan rumus sebagai berikut:
𝑇𝑥𝑉
𝑁 = 𝑥 𝑛 ..................................................................................... (9)
𝐿𝑥𝑣𝑥𝑝𝑥𝑊

Keterangan :
T = Luas cover glass (mm2)
V = Volum konsentrat plankton dalam botol tampung
L = Luas bidang pandang dalam mikroskop (mm2)
v = volum konsentrat plankton dibawah cover glass
N = Kelimpahan fitoplankton (sel / liter)
n = jumlah plankton dalam bidang pandang
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Lokasi pada penelitian ini yaitu waduk Lahor yang terletak di Kecamatan
Sumberpucung Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tampungan
Waduk Lahor

Gambar 3.1 Peta Lokasi Waduk Lahor


Sumber: Google Earth, 2017

3.2 Spesifikasi Data Penelitian


Tabel 3.1 Spesifikasi Data Penelitian
No. Spesifikasi Data Sumber Data Fungsi Data
1. Data Parameter Kualitas Air PJT 1 Malang a. Menentukan status mutu air
(Bulan Januari – Desember waduk
2017) : b. Menentukan tingkat eutrofikasi
Amonia (NH3-N), Nitrit perairan waduk Lahor (Status
(NO2-N), Nitrat (NO3-N) Trofik)
Total-P Klorofil-a c. Menghitung daya tampung
Kecerahan BOD DO TSS beban pencemaran air Waduk
pH

2. Titik Pengambilan sampel PJT 1 Malang a. Analisa kondisi kualitas air


kualitas air di Waduk Lahor waduk Lahor
b. Dasaran titik pengambilan
sampel fitoplankton di
lapangan
3. Titik Pengambilan sampel a. Titik pengambilan sampel di
air untuk parameter lapangan
fitolankton
No. Spesifikasi Data Sumber Data Fungsi Data
4. Kelimpahan dan jenis Pengambilan a. Penentuan upaya konservatif
fitoplankton yang terjadi di sampel di peningkatan kualitas air waduk
waduk Lahor lapangan Lahor

5. Data Hidrologi waduk Lahor PJT 1 Malang a. Perhitungan daya tampung


 Debit keluar (Outflow) Dinas PU & beban pencemaran air waduk
 Hujan bulanan SDA b. Penentuan bulan basah dan
Kabupaten bulan kering
Malang
6. Data Morfologi waduk PJT 1 Malang a. Perhitungan daya tampung
Lahor beban pencemaran air
 Luas permukaan waduk
(A)
 Volume tampungan
waduk (V)
Sumber : Analisa, 2017
3.3 Tahapan Pengumpulan Data Primer
Tabel 3.2 Alat yang Digunakan Dalam Penelitian
No. Alat Sumber Alat Fungsi Alat Gambar
1. GPS Laboratorium mengetahui
Hidrologi koordinat lokasi titik
Teknik pengambilan sampel
Pengairan
2. Kantong Toko membungkus air
Plastik yang bertujuan
Hitam untuk menghalangi
sinar matahari yang
dapat mematikan
klorofil-a pada
fitoplankton.
3. Botol film Toko menyimpan air yang
sudah di ambil dari
lapangan hingga
sampai ke
laboratorium
4. Ember Toko alat untuk pengambil
berukuran 5 sampel air waduk
L Lahor
5. Jala Laboratorium alat untuk pengambil
plankton 25 Eksplorasi sampel fitoplankton
µm Sumberdaya
Perikanan dan
Kelautan
FPIK UB
6. Pipet Toko Media tetes lugol ke
sampel air
7. Lugol 1 % Toko Bahan pengawetan
sampel air

8. Ice Box Laboratorium Media pengawet


Eksplorasi sampel air
Sumberdaya
Perairan dan
Perikanan
FPIK UB
10. Life Jacket Laboratorium Pengaman
Eksplorasi keselamatan saat
Sumberdaya pengambilan sampel
Perairan dan di lapangan
Kelautan
FPIK UB
Sumber: Analisa, 2017

3.3 Perhitungan dan Analisa Data Penelitian


1. Mengklasifikasikan data hujan yang diperoleh dari Dinas PU & SDA Kab. Malang
berdasarkan musim basah dan musim kering yang mengacu pada klasifikasi musim oleh
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).
2. Menguji data kualitas air yang diperoleh dengan uji statistik berupa uji F
3. Membandingkan data kualitas air yang diperoleh dengan baku mutu air kelas II PP RI
No. 82 Tahun 2001 dan KepMenKep dan Lingkungan Hidup No. 02 Th. 1998.
4. Menganalisa hasil dari perbandingan parameter kualitas air dengan baku mutu mutu air
5. Menganalisa klasifikasi status trofik Waduk Lahor berdasarkan kriteria status trofik
waduk pada PerMenNeg LH No. 28 Tahun 2009.
6. Menentukan klasifikasi status trofik waduk Lahor.
7. Menganalisa jenis dan kelimpahan fitoplankton.
8. Menghitung daya tampung beban pencemar air pada Waduk Lahor.
9. Menentukan Upaya Konservatif Pengelolaan Kualitas Air Waduk
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Kondisi Kualitas Air aduk Lahor Dari Segi Mutu Air

Tabel 4. 1 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Dengan Baku Mutu Air Kelas II Berbagai
Kedalaman dan Musim
Total P NO3-N NO2-N NH3-N
Kedalaman
No. Musim Lokasi M TM M TM M TM M TM
(m)
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
0.3 100 0 100 0 71 29 14 86
Basah
1 Tengah 5 100 0 100 0 43 57 29 71
2017
10 100 0 100 0 57 43 43 57
0.3 100 0 100 0 80 20 0 100
Kering
2 Tengah 5 100 0 100 0 100 0 0 100
2017
10 100 0 100 0 80 20 0 100
Lanjutan Tabel 4. 1 Rekapitulasi Hasil Pengukuran Dengan Baku Mutu Air Kelas II
Berbagai Kedalaman dan Musim
BOD DO TSS PH
Kedalaman
No. Musim Lokasi M TM M TM M TM M TM
(m)
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
0.3 0 100 29 71 0 100 29 71
Basah
1 Tengah 5 0 100 29 71 0 100 29 71
2017
10 0 100 57 43 0 100 57 43
0.3 0 100 20 80 0 100 20 80
Kering
2 Tengah 5 0 100 60 40 0 100 60 40
2017
10 0 100 60 40 0 100 60 40
Sumber: Hasil Perhitungan, 2018
Keterangan :
M = Memenuhi
TM = Tidak Memenuhi
Kondisi waduk Lahor pada tahun 2017 jika ditinjau dari segi status mutu air yaitu ada
beberapa parameter kualitas air yang berpotensi menyebabkan terjadinya pencemaran air
waduk pada musim basah dan musim kering, karena kadarnya dalam perairan waduk Lahor
melebihi baku mutu air kelas II berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 dan Keputusan Mentri
Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02 Tahun 1998. Parameter kualitas air yang
berpotensi menyebabkan terjadinya pencemran air yaitu NO2-N, NH3-N, BOD, dan DO.
Untuk kadar NO2-N pada musim basah dan musim kering serta kedalaman 0,3; 5, dan 10 m
0 – 57 % tidak memenuhi baku mutu air. Untuk NH3-N 57 – 100% tidak memenuhi baku
mutu air. Untuk BOD 100 % pada musim basah dan musim kering serta kedalaman 0,3, 5,
da 10 m tidak memenuhi baku mutu air. Sedangkan untuk DO, 40 – 71 % tidak memenuhi
baku mutu air yang telah ditetapkan. Untuk parameter lainnya seperti total P, NO3-N, TSS,
dan pH nilainya tidak melebihi baku mutu jadi tidak berpotensi menyebabkan terjadinya
pencemaran air.

4.2 Analisa Kondisi Kualitas Air Waduk Lahor Dari Segi Status Trofik

Tabel 4. 2
Rekapitulasi Status Trofik Pada Berbagai Musim dan Kedalaman Waduk Lahor 2017
Total P Total N
Kedalaman
No. Musim Lokasi Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof
(m)
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
0.3 0 28.57 42.86 28.57 14 0 71 14
Basah
1 Tengah 5 0 42.86 42.86 14.29 0 0 57 43
2017
10 0 0.00 85.71 14.29 0 14 14 71
0.3 20 40 40 0 40 0 40 20
Kering
2 Tengah 5 0 60 40 0 40 0 20 40
2017
10 0 40 60 0 20 20 20 40

Lanjutan Tabel 4. 2
Rekapitulasi Status Trofik Pada Berbagai Musim dan Kedalaman Waduk Lahor 2017
Total P Total N
Kedalaman
No. Musim Lokasi Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof Oligotrof Mesotrof Eutrof Hipereutrof
(m)
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
0.3 0 28.57 42.86 28.57 14 0 71 14
Basah
1 Tengah 5 0 42.86 42.86 14.29 0 0 57 43
2017
10 0 0.00 85.71 14.29 0 14 14 71
0.3 20 40 40 0 40 0 40 20
Kering
2 Tengah 5 0 60 40 0 40 0 20 40
2017
10 0 40 60 0 20 20 20 40
Sumber: Hasil Perhitungan, 2018
Kondisi waduk Lahor jika ditinjau dari segi statu trofik berstatus Eutrof menuju ke
hipereutrof. Kondisi tersebut mencerminkan waduk Lahor mengalami eutrofikasi tinggi
yang berarti air waduk mengandung unsur hara dengan kadar tinggi, status ini menunjukan
air telah tercemar. Kadar total-P 40 – 86 % berstatus Eutrof pada musim basah dan musim
kering. Kadar total N 20 – 71 % berstatus Eutrof. Kadar klorofil-a 20 – 71 % bersatus
hipereutrof. Untuk kecerahan 100% berstatus hipereutrof. . Kondisi waduk Lahor yang yang
tercemar akan mengganggu kehidupan budidaya perikanan karena rata-rata kedalaman KJA
pada waduk Lahor 4-10 m.

4.3 Analisa Kondisi Kualitas Air Waduk Lahor Dari Segi Keberadaan Fitoplankton
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Kelimpahan Fitoplankton Pada Stasiun I Waduk Lahor
Kelimpahan Kelimpahan Prosentase kelimpahan
No. Genus
(sel/L) (sel/ml) %
1. Anabaena 987755 988 5,1
2. Microsystis 12257143 12257 63,24
3. Pinnularia 493878 494 2,55
Kelimpahan Kelimpahan Prosentase kelimpahan
No. Genus
(sel/L) (sel/ml) %
4. Chlorella 1092517 1092 5,64
5. Staurastrum 29932 30 0,15
6. Closterium 14966 15 0,08
7. Merismopedia 2828571 2829 14,59
8. Mesotaenium 1152381 1152 5,95
9. Gloeocystis 463945 464 2,39
10. Nitzschia 14966 15 0,08
11. Ankistrodesmus 14966 15 0,08
12. Neidium 14966 15 0,08
13. Scenedesmus 14966 15 0,08
Jumlah 19380952 19381 100
Rata-rata 1490842 1491 -
Sumber: Hasil Analisa, 2018
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Kelimpahan Fitoplankton Pada Stasiun I Waduk Lahor
Prosentase
Kelimpahan Kelimpahan
No. Genus kelimpahan
(sel/L) (sel/ml)
(%)
1. Microsystis 51363265 51363 94,34
2. Anabaena 987755 988 1,81
3. Chlorella 419047 419 0,77
4. Pinnularia 224490 224 0,41
5. Merismopedia 1242177 1242 2,28
6. Closterium 14966 15 0,03
7. Mesotaenium 164626 165 0,30
8. Scenedesmus 14966 15 0,03
9. Staurastrum 14966 15 0,03
Jumlah 54446259 54446 100
Rata-rata 6049584 6050
Sumber: Hasil Analisa, 2018
Kondisi waduk Lahor jika ditinjau dari segi fitoplankton, maka waduk Lahor dalam
kondisi blooming algae, karena selain kondisi perairan waduk yang berwarna hijau pekat
berdasarkan hasil penelitian terdapat 1 jenis fitoplankton yang mendominasi perairan waduk
yaitu fitoplankton jenis Microsystis. 63,24% fitoplankton jenis microsystis mendominasi
pada satasiun I sedangkan pada stasiun II 94,34% fitoplankton jenis Microsystis
mendominasi daripada jenis lainnya. Ketika suatu waduk didominasi oleh 1 jenis
fitoplankton maka kondisi tersebut menunjukan adanya blooming algae pada perairan.
Kemudian di cek status trofiknya dengan parameter fitoplankton dihasilkan status Eutrof
pada waduk Lahor.
4.4 Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Waduk Lahor
Musim basah 2017
DTBPA Hipereutrof = 1.461.696 Kg. P/ musim basah = 138.494 mg/m3
DTBPA Eutrof = 378.655 Kg. P/ musim basah = 37.073 mg/m3
DTBPA Mesotrof = 379.608 Kg. P/ musim basah = 35.967 mg/m3

Musim kering 2017


DTBPA Hipereutrof = 693.332 Kg. P/ musim kering = 149.753 mg/m3
DTBPA Eutrof = 298.346 Kg. P/ musim kering = 64.440 mg/m3
DTBPA Mesotrof = 21.856 Kg. P/ musim kering = 4.721 mg/m3

4.5 Upaya Konservatif Peningkatan Kualitas Air Waduk Lahor


4.5.1 Pengaturan Pola Operasi Waduk
Pengaturan kondisi hidrodinamik dapat mengurangi masalah eutrofikasi waduk
terutama pada musim kering. Pada musim kering, pergerakan atau arus air cenderung lambat
serta kondisi lingkungan waduk juga sangat mendukung untuk pertumbuhan alga misalnya
suhu yang hangat dan angin yang rendah, kondisi tersebut menyediakan lingkungan yang
sesuai untuk pertumbuhan alga. Operasi waduk akan membantu untuk peningkatan kualitas
air karena akan meningkat pertukaran air antara arus utama dari waduk ke outlet waduk
dengan demikian alga akan berpindah ke perairan dalam sehingga alga tidak bisa melakukan
fotosintesis karena tidak ada cahaya pada perairan dalam. Adanya pergerakan yang
menimbulkan arus yang tinggi dari waduk ke outlet akan mengakibatkan pengenceran yang
lebih tinggi.
Perumusan aturan operasi waduk didasarkan pada simulasi skenario. Pergerakan air dan
produktivitas primer dari alga disimulasikan dan dianalisis dibawah skenario yang berbeda
dari fluktuasi debit air setiap hari sebagai operasi jangka pendek. Klorofil-a digunakan
sebagai indikator untuk produktivitas primer dan alga. Pengaturan debit air setiap hari
direncanakan sesuai dengan inflow harian dan regulasi beban puncak. Skenario
pembagiannya yaitu dalam 1 hari dabagi mejadi 4 periode utama dan 4 periode transisi
dengan total 48 interval waktu (masing-masing menjadi 0,5 jam), termasuk periode debit
rendah yaitu pukul (0: 00 – 6:00), pagi periode beban puncak (8:00 – 11:00), periode beban
menengah (12:00 – 17:00), dan periode beban puncak malam (19:00 – 22.00) dan disela-sela
pembagian tersebut merupakan periode transisi.
Untuk operasi jangka menengah, pengaturan selama dua minggu untuk kenaikan muka
air waduk dapat dilakukan. Dalam penelitian ini, model kulitas hidrodinamik dan air untuk
arus utama waduk dan outlet dikalibrasi menggunakan software CE-QUAL W2 untuk
melihat pengaruh operasi waduk pada alga (Jijian L dkk, 2014).

4.5.3 Penerapan TLBA (Trophic Level Based Aquaqulture)


Penerapan TLBA (Trophic Level Based Aquaculture) merupakan upaya yang bertujuan
untuk mengantisipasi terjadinya proses eutrofikasi perairan akibat penumpukan sisa pakan
ikan di dasar perairan (Apridayanti, 2008).
Dalam system budidaya trophic level, gambaran hasil produksi ikan akan berbentuk
menyerupai piramida. Jumlah ikan pemakan plankton, perifiton dan detritus (trophic level
rendah) jauh lebih besar daripada jumlah ikan karnivora (trophic level tinggi). Dalam
budidaya berbasis trophic level, yang terpenting adalah pemanfaatan energi yang berasal
dari sisa metabolism ikan. Pada prinsipnya semua nutrient limbah budidaya ikan yang
jumlahnya lebih banyak daripada nutrient yang diretensi menjadi daging ikan, dimanfaatkan
untuk budidaya ikan kembali. Bentuk pemanfaatannya dengan cara menanam benih ikan
pemakan plankton, perifiton, dan detritus. Tiga sumber pakan alami ini banyak dihasilkan
dari sisa metabolism ikan pemakan pallet (Enang, 2006).
Menurut Enang (2006), budidaya berbasis trophic level sangat baik diterapkan di
perairan waduk, karena besarnya potensi pakan alami yang dihasilkan dari sisa metabolisme
ikan-ikan pemakan pallet yang dipelihara di KJA. Komposisi produksi ikan ber-trophic level
rendah disbanding komoditas utama ikan pemakan pellet yaitu 60% ikan waste basis dan
40% ikan pellet basis.
TLBA (Trophic Level Based Aquaculture), diterapkan dengan sistem budidaya yang
menempatkan komoditas utama dan benilai ekonomis tinggi (trophic level tinggi) pada KJA
dan hamparan di luarnya berisi komoditas trophic level rendah. Menurut Dirjen Perikanan
Budidaya, jenis ikan yang disarankan untuk dibudidaya di dalam KJA dengan kategori
trophic level tinggi yaitu ikan nila, ikan bawal, dan ikan jambal sia., sedangkan untuk ikan
yang dihamparkan berupa ikan mola, ikan tawes, ikan bandeng, nilem, tawes dan oskar
dimana jenis ikan tersebut efektif untuk mengendalikan pencemaran (Kementrian Kelautan
dan Perikanan, 2016). Penerapan sistem TLBA menimbulkan terciptanya ekosistem perairan
waduk yang terbebas dari berbagai limbah sisa pakan dan kotoran, sekaligus meningkatkan
kelestarian lingkungannya (Apridayanti, 2008).

4.5.4 Introduksi Zooplankton Jenis Rotifera sp. Pada Waduk Lahor


Rotifera sp. adalah jenis zooplankton yang hidup dengan memangsa fitoplankton jenis
Cyanophyta (Alga hijau biru). Rotifera sp. Merupakan salah satu mikroorganisme laut yang
bias didapatkan di alam maupun dikultur untuk kepentingan budidaya. Rotifer sp. Memiliki
system pencernaan yang cukup baik dibandingkan filum lainnya, rotifer sp. Mampu
mencerna makanan secara kimiawi di dalam system pencernannya (Sutomo, 2007 dalam
Sintha 2016). Makanan utama dari rotifera adalah fitoplankton , dan bahan-bawan organik
terutama yang mengendap di dasar perairan (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995 dalam Shinta,
2016). Rotifera jenis brachionus sangat penting dalam menunjang budidaya perikanan,
terutama sebagai pakan yang baik pada larva ikan maupun udang (Artana, 2012 dalam
Shinta, 2016).
Rotifera akan memangsa alga yang mendominasi perairan waduk Lahor sehingga terjadi
keseimbangan dan memperkecil terjadinya ledakan populasi alga, yang dapat mengancam
kelestarian biota perairan lainnya seperti ikan yang kekurangan oksigen terlarut ketika terjadi
blooming algae. Penggunaan pemangsa atau predator alga ini lebih ramah lingkungan dan
lebih murah karena selain tidak menggunakan bahwan kimia, rotifera juga akan terus
berkembangbiak sekaligus sebagai pakan alami untuk anakan ikan dan udang (Sinung,
2016).
Oleh sebab itu untuk mengurangi kelimpahan microcystis di waduk Lahor dapat
menggunakan zooplankton jenis rotifera dengan cara mengintroduksi rotifera kedalam
perairan waduk Lahor. Untuk mendapatkan biakan rotifera dapat bekerjasama dengan divisi
mikrobiologi Lembaga ilmu pengetahuan (LIPI) atau bias dibiakkan dengan Teknik kultur.

4.5.5 Desain Karamba Jaring Apung Bertingkat Terintegrasi


BAB V
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

1. Menguji efektifitas dari upaya yang telah kami rumuskan seberapa besar penurunan
algae atau fitoplankton yang dicapai
2. Mengajukan usulan ke PJT I dalam upaya peningkatan kualitas air waduk Lahor
3. Melakukan diskusi ringan dengan ketua petani ikan di waduk Lahor apakah
mendukung desain karamba jaring apung dan penerapan Trophic Level Based
Aquaculture dalam kegiatan budidaya perikanan atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA

Apridayanti, Eka. 2008. Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Perairan Waduk Lahor


Kabupaten Malang Jawa Timur. Tesis. Program Pasca Sarjana, Universitas
Diponegoro, Semarang.

Perusahaan Umum Jasa Tirta I. 2016. Manual Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Lahor.
Malang: Perusahaan Umum Jasa Tirta I.

Republik Indonesia. 2009. Peraturan Mentri Lingkungan Hidup No. 28 Tahun 2009 Tentang
Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan / Waduk. Lembaran Negara RI
Tahun 2009., Sekretariat Negara. Jakarta

Republik Indonesia. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang


Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Lembaran Negara RI Tahun
2009., Sekretariat Negara. Jakarta
PROGRESS PENELITIAN

1. Pengumpulan Data 100%


2. Analisa Kualitas Air 100%
3. Perumusan Upaya Konservatif 100%
4. Publikasi penelitian 100%
5. Hak paten 50%
90%

LAPORAN KEUANGAN
Harga
No. Tanggal Keperluan Jumlah Total
satuan
1. 14-03-2018 Data Kualitas air 1 tahun @800
Rp. 2.336.800,00
2. Data 1 tahun
@800
Debit, Morfologi Rp. 876.000,00
waduk
3. 09-04-2018 Alat & bahan 12 ml @2.000
penelitian (Lugol 1 pcs @3.000
1%, Pipet tetes, 4 pcs Rp. 55.000,00
@2.000
Botol film, Ember 1 pcs
@20.000
4. 11-04-2018 Peminjaman Alat 1 pcs
Penelitian 1 pcs @50.000
(Planktonnet, 1 pcs @10.000
Rp. 70.000,00
Termometer, Llife 1 pcs @5.000
Jacket, Cool 1 pcs @5.000
Box,Roll Meter)
5. 10-04-2018 Bensin 25 L @7800 Rp. 198.003,00
6. 06-04-2-18 Peminjaman Alat
 Cool Box 1 pcs
Rp. 33.000,00
 Planktonnet 1 pcs -
 Termometer 1 pcs
7. 10-04-2018 Karcis masuk 3 pcs
@5.000 Rp. 15.000,00
lokasi penelitian
8. 10-04-2018 Karcis parkir 1 pcs
masuk lokasi @4.000 Rp. 4000
penelitian
9. 08-05-2018 Kertas A4 1 pcs @47.000 Rp. 47.000,00
10. 11-04-2018 Pengujian 4 hari
@900.000 Rp. 1.800.000
fitoplankton
11. Pembelian kertas 1 Rim
Rp.64.000
foto & A4
12. Print laporan
kemajuan, Rp. 112.800
dokumentasi dll
13. Sewa llaboratorium 4 hari @100.000 Rp. 400.000
Total Rp. 6.011.600
DOKUMENTASI PENELITIAN

Survei dan Penentuan Titik Lokasi Pengambilan Sampel

Pengambilan Sampel di Waduk Lahor

Pengujian Sampel Fitoplankton