Anda di halaman 1dari 11

Nama : Alfi Laily Sa’adah

Nim : 1601200020

Kelas : D3/2A

1. Pendidikan Institusional Histori

Teori institusional (Institutional Theory) atau teori kelembagaan core idea-nya adalah
terbentuknya organisasi oleh karena tekanan lingkungan institusional yang menyebabkan
terjadinya institusionalisasi. Zukler (1987) dalam Donaldson (1995), menyatakan bahwa ide
atau gagasan pada lingkungan institusional yang membentuk bahasa dan simbol yang
menjelaskan keberadaan organisasi dan diterima (taken for granted) sebagai norma-norma
dalam konsep organisasi.

Eksistensi organisasi terjadi pada cakupan organisasional yang luas dimana setiap organisasi
saling mempengaruhi bentuk organisasi lainnya lewat proses adopsi atau institusionalisasi
(pelembagaan).

Di Maggio dan Powell (1983) dalam Donaldson (1995), menyebutnya sebagai proses imitasi
atau adopsimimetic sebuah organisasi terhadap elemen organisasi lainnya.

Menurut Di Maggio dan Powell (1983) dalam Donaldson (1995), organisasi terbentuk oleh
lingkungan institusional yang ada di sekitar mereka. Ide-ide yang berpengaruh kemudian di
institusionalkan dan dianggap sah dan diterima sebagai cara berpikir ala organisasi tersebut.
Proses legitimasi sering dilakukan oleh organisasi melalui tekanan negara-negara dan
pernyataan-pernyataan. Teori institusional dikenal karena penegasannya atas organisasi
hanya sebagai simbol dan ritual.

Perspektif yang lain dikemukakan oleh Meyer dan Scott (1983) dalam Donaldson (1995),
yang mengklaim bahwa organisasi berada dibawah tekanan berbagai kekuatan sosial guna
melengkapi dan menyelaraskan sebuah struktur, organisasi harus melakukan kompromi dan
memelihara struktur operasional secara terpisah, karena struktur organisasi tidak ditentukan
oleh situasi lingkungan tugas, tetapi lebih dipengaruhi oleh situasi masyarakat secara umum
dimana bentuk sebuah organisasi ditentukan oleh legitimasi, efektifitas dan rasionalitas pada
masyarakat.

BEBERAPA KASUS
Berikut adalah beberapa kasus yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK dalam

(hubungan-antar) organisasi yang dapat dilihat secara lebih komprehensif dengan


menggunakan

perspektif teori institusional.

a. Sistem “Kluster” dalam Bisnis Pulsa Telepon Elektrik Kasus ini menarik perhatian karena
sempat

terjadi demo oleh para pengusaha “server-pulsa” yang tidak dapat berjualan pulsa elektrik
secara

bebas karena adanya sistem penjatahan (“kluster”), dari para operator telepon seluler. Hal
yang cukup menarik dari kasus ini adalah sebenarnya para pengusaha “server-pulsa” ini
mencoba mengatasi sistem penjatahan tersebut dengan menggunakan mekanisme saling tukar
persediaan (stok) pulsa dengan cara Host-to-Host berbasis satu protokol antar mereka yang
mereka namakan “Protokol Bandung”.

b. Penghimpunan Data dan Informasi yang Berkaitan dengan Perpajakan Pemerintah telah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 31/2012 tentang Pemberian dan Penghimpunan Data
Dan Informasi yang Berkaitan dengan Perpajakan. Peraturan ini merupakan aturan
pelaksanaan dari Pasal 35A UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Hal
menarik yang perlu dicermati dari ketentuan ini dalam hemat peneliti adalah bahwa
sebenarnya secara teknis penghimpunan data tersebut tidak terlalu sulit namun lebih pada
masalah-masalah institusional. Perlu diingat bahwa aturan tentang hal ini sudah meningkat
“magnitude” karena pada mulanya aturan seperti ini hanya pada tingkat keputusan presiden
(Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden
Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara) namun sepertinya dukungan pada level tersebut kurang kuat sehingga perlu
diperkuat dengan mencantumkannya dalam pasal UU dan dilaksanakan dengan PP. Berbagai
kasus singkat di atas menunjukkan bahwa teori institusional dapat digunakan mengungkap
berbagai fenomena di balik kejadian secara lebih komprehensif untuk nantinya (jika
mungkin) menemukan solusi bisnis tertentu. Artinya, ada tekanan-tekanan institusional
tertentu yang akhirnya mendesak para pengusaha ini mencari solusi teknis atau sebaliknya
solusi teknis yang tidak dapat berjalan karena faktor institusional yang tidak mendukung.

2. Teori konflik

Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui
proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat
adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi
semula.

Teori konflik adalah istilah dalam Bahasa Inggris “Conflict Theory” yang bermula dari
pertentangan kelas sosial antara kelompok masyarakat, kelompok ini terdiri dari kelompok
tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada bentuk perubahan sosial,
baik yang mengarah pada dampak positif perubahan sosial ataupun yang mengerah
pada dampak negatif perubahan sosial.

Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada
keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik
atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi
(kekuasaan), koersi (memaksa pihak lain untuk berperilaku secara spontan dengan
menggunakan ancaman, imbala atau bentuk alin dari tekanan atau kekuatan), dan kekuasaan
dalam masyarakat.

Teori-Teori Konflik

Teori Konflik Menurut Para Ahli

Penjelasan mengenai teori konflik ini pada hakekatnya berpedoman pada pemikiran para teori
sosiologi dan tokohnya, antara lain adalah sebagai berikut;

Karl Marx

Karl Marx sebagai pencetus awal mula teori ini berpendapat bahwa tujuan dari masyarakat
seutuhnya adalah menciptakan kondisi masyarakat tanpa kelas (sosialisme), dalam hal ini
identik dengan konflik kelas sosial yang merupakan sumber yang paling penting dan sumber
paling berpengaruh dalam semua perubahan sosial.

Ralf Dahrendorf
Ahli lainnya, mengenai pengertian teori konflik ini dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf yang
memiliki penjelasan bahwa semua perubahan sosial yang dialami manusia merupakan hasil
dari konflik kelas di masyarakat. Dahrendorf sangat yakin bahwa konflik dan pertentangan
menjadi bagian-bagian hidup masyarakat.

Dari penjelasan mengenai beberapa teori konflik menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa prinsip yang mendasari adanya teori konflik yaitu konflik sosial dan perubahan sosial
yang selalu tersedia di dalam struktur kehidupan masyarakat.

Jenis-Jenis Teori Konflik

Berdasarkan kajian mengenai menyebab terjadinya teori konflik, dapat dilihat dalam dua
macam konflik, yaitu sebagai berikut.

 Konflik budaya, adalah kajian dalam teori konflik yang terjadi apabila dalam suatu
masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus yang bersifat tertutup. Kebudayaan ini
dianggap aneh sehingga menjadikan pandangan masyarakat memiliki dasar pengetahuan
yang bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk sikap mengenai ketidakterimaan dalam
perubahan sosial.

 Konflik kelas sosial, jenis lainnya penerapan dalam kajian teori konflik sebagai akibat
kelompok menciptakan peraturan sendiri untuk melindungi kepentingannya. Pada kondisi ini
terjadi eksploitasi yang berlawanan antara masyarakat kelas atas kepada masyarakat yang
berada kelas bawah. Kedua masyarakat dalam kelas sosial akan berupa mendapatkan serta
menetang hak-hak istimewa kelas.

Contoh Teori Konflik

Berbagai contoh yang nyata dalam teori konflik di dalam kehidupan masyarakat, antara lain
adalah sebagai berikut;

Kemiskinan

Kajian mengenai teori konflik jika dilakukan pendalaman, bisa memberikan kejelasan
mengenai kemiskinan. Kemiskinan melatar belakangi masyarakat untuk melakukan
perubahan sosial ke arah yang lebih baik, perubahan ini terbentuk karena masyarakat miskin
akan berupaya melakukan sesuatu hal yang bisa meningkatkan pendapatannya. Misalnya
orang miskin untuk naik kelas melakukan tindakan kriminalitas, sedangkan orang kaya
bertahan untuk memperluaskan jaringan usahanya agar bisa bertahan dalam kekayaan.
Kondisi ini jika terjadi secara terus menerus akan menyebabkan masyarakat berada
dalam kesenjangan sosial yang lebih tinggi, selama itu pula konflik akan terjadi dalam
kehidupan masyarakat karena berdasarkan faktor ekonomi dan perebutan antara status kaya
dan miskin.

Buruh dan Majikan

Kasus konflik yang paling kecil dan bisa dilakukan pendalaman dalam teori konflik ini
adalah kasus mengenai buruh dan majiakan, meskipun hal ini sebagai keteraturan sosial akan
tetapi di dalamnya ada hubungan status dan peranan yang dapat memperdalam adanya
jaringan-jaringan konflik masyarakat.

Seorang majikan akan memberikan perintah, sedangkan buruh akan mentatai perintah yang
diinginkan majian, kejadian ini berakibat pada terbentuknya keseimbang, meski dalam
kehidupannya tidak haromonis karena setiap buruh memiliki keinginan untuk menjadi
majikan.

Politik

Teori konflik juga bisa diperdalam melalui politik yang memberikan penguasaan serta
mempertahankan kekuasaan yang diinginkan. Politik yang ada di dalam pemerintahan
menjadi sumber konflik yang paling di takuti, karena hal ini akan memicul adanya konflik
dalam segi kehidupan sosial lainnya, baik eknomi, hukum, dan lainnya.

Perebutan kekuasaan yang ada serta dilakukan pemerintah merupakan salah satu isu yang
bisa dikaji dalam teori konflik, yang berpedapat bahwa kekuasaan hanya akan diberikan
kepada orang yang memiliki uang, yang kondisi ini kita rasakan pada kehidupan saat ini.

3. Teori pertukaran sosial

Teori Pertukaran Sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam sebuah
hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling
memengaruhi.[1] Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan
kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
 Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan
dari hubungan itu.
 Jenis hubungan yang dilakukan.
 Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini


menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah
sebagai suatu transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain karena
mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Teori ini beranggapan bahwa kita
dapat dengan teliti mengantisipasi pemberian imbalan berbagai interaksi. Pikiran kita
seperti komputer dan suatu komputer hanya dapat menganalisa suatu data yang dimasukan
kedalamnya apabila kita memasukan ”sampah”, maka keluarnya pun akan “sampah” pula.

Menurut Thibaul dan Helley, empat konsep pokok dari teori ini adalah : ganjaran, biaya, laba
dan tingkat perbandingan

 Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai (+ )yang diperoleh


seseorang dalam suatu hubungan. Ganjaran berupa uang,penerimaan sosial, atau dukungan
terhadap nilai-nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang
dengan orang lain, dan berlainan anatara waktu yang satu dengan yang lain.
 Biaya adalah akibat yang dinilai (-) yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya dapat berupa
waktu, usaha, konflik, kecemasan dan keruntuhan harga diri. Biayanya pun berubah-ubah
dari waktu ke waktu
 Laba atau hasil adalah ganjaran yang dikurangi biaya. Bila
seoarang individu merasa dalam suatu hubungan interpersoanal
bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang
mendatangkan laba.
 Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku yang dipakai
sebagai criteria dalam menilai hubungan individu. Pada saat ini ukuran baku ini dapat berupa
pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya
(Komala 2009 ,172-173)
Contoh : Bila pada masa lalu seseorang individu mengalami hubungan interpersonal yang
memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Atau kita akan mengevaluasi hubungan yang
pernah dialami pada masa lalunya dengan hubungan yang sedang dijalaninya.

Teori Pertukaran Sosial $eorge C. Homans

Menurut Homans, “semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu betuk
tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan
tindakan tertentu tadi”, Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang maka makin
besar pula kemungkinan perbuatan tersebut di ulangnya kembali. Prinsip dasar dalam social
exchange adalah Distributive justice, yaitu aturan yang mengatakan bahwa sebuah
imbalan harus sebanding dengan investasi. Seseorang dalam
hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan
imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan
pengorbanan yang telah dikeluarkannya, makin tinggi
pengorbanan, makin tinggi imbalannya, dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak
harus sebanding dengan investasinya,makin tinggi investasi makin tinggi keuntungan

 Penerapan Teori Pertukaran Sosial

Kalau kita berteman dengan seseorang, mungkinkah kita


tidak mengharapkan sesuatu apapun dari yang kita ingin dia membantu kita dalam kesusahan,
mendengar dan memberi nasihat tatkala kita membutuhkan, menghibur tatkala lagi be-te, dan
seterusnya. Mengapa hal ini terjadiI karena memang persahabatan juga membutuhkan
“biaya”, dan setelah biaya itu dibayarkan dalam persahabatan tentu kita membutuhkan
imbalan dari biaya tersebut.

Hal-hal individualistik seperti ini yang menjadi dasar pijak teori pertukaran sosial, sebuah
teori sosial yang bersandar pada perilaku antar individu. Berdasarkan teori Kelly dan Thibaut
yang memaparkan setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal
dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi
ganjaran dan biaya. Ini berarti, walau
bagaimanapun, dalam sebuah hubungan interpersonal, seorang individu pasti mengharapkan
“biaya” atau pengorbanan yang sama
bahkan lebih dari “biaya” yang telah keluarkan oleh individu
tersebut.Hal di atas tidak jauh berbeda apabila individu tersebut
sedang bergabung dalam sebuah kelompok. Misalnya seorang
remaja yang bergabung dengan sebuah gank. Sesaat setelah
terbentuknya gank, setiap anggota saling memberikan “hadiah” yang bertujuan untuk
mempertahankan dan meningkatkan ikatangank tersebut. Hadiah yang dimaksud bisa berupa
materi maupun nonmateri. dalam pertukaran “hadiah”
tersebut tentu saja tidakbisa selamanya setara. Maka ketimpangan pertukaran “hadiah”
tersebut bisa menimbulkan perbedaan kekuasaan dalam gank
tersebut. contohnya, dalam sebuah gank yang terdiri dari lima orang remaja, si
A lebih sering mentraktir ataupun memberikan fasilitas yang lebih pada teman-temannya.
Perlakuan si A tersebut merupakan sebuah “hadiah”. Maka, kemungkinan besar, pendapat si
A akan lebih didengar oleh teman-temannya, sebagai imbalan
diatelah memberikan “hadiah” yang lebih dibandingkan HhadiahJdiberikan empat orang
temannya yang lain.

3. Teori Pembelajaran Sosial

Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar
yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Ia seorang psikolog
yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.

Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional
(behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986).
Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi
memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada
proses-proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan
penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal
untuk memahami bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial
“manusia” itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul”
oleh stimulus-stimulus lingkungan.

Bersama Richard Wakters sebagai penulis kedua, Bandura menulisAdolescent Aggression


(1959) mengenai suatu laporan terinci tentang sebuah studi lapangan dimana prinsip-prinsip
pembelajaranan sosial digunakan untuk menganalisis perkembangan kepribadian sekelompok
remaja lelaki delinkuen dari kelas menengah, disusuli dengan Sosial Learning and personality
development (1963), sebuah buku dimana beliau dan Walters memaparkan prinsip-prinsip
pembelajaran sosial yang telah mereka perkembangkan beserta dengan eviden atau bukti
yang menjadi asas bagi teori tersebut. Pada tahun 1969, Bandura menerbitkan Principles of
behavior modification, dimana ia menguraikan penerapan teknik-teknik behavioral
berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaranan dalam memodifikasikan tingkah laku dan pada
tahun 1973,”Aggression: A sosial learning analysis”.

Menurut Psikolog Albert Bandura dan rekan-rekannya, suatu bagian utama dari pembelajaran
manusia terdiri atar belajar observasional, yang mana merupakan pembelajaran dengan cara
melihat perilaku orang lain, atau model. Karena pendasarannya pada observasi terhadap
orang lain-fenomena sosial-sudut pandang yang diambil oleh Bandura ini sering disebut
dengan pendekatan kognisi sosial tentang belajar.(Bandura, 1999,2004 cit Feldman,2012).

Contoh kasus : Seorang siswa melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya karena
perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama
ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang
dialami orang lain. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku suatu model
meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan atau pelemahan pada saat pengamat itu
sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh
pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai
secara tuntas apa yang dipelajari itu.

Dalam laporan hasil percobaan Miller dan Dollard, mereka mengatakan bahwa peniruan
(imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis.
Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku
orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa
begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social
learning “(pembelajaran social). Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena
kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan
memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya.

Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru
atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam
percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-
orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika
perempuan tidak. Karakter di media dapat mempengaruhi perilaku hanya dengan ditayangkan
di layar. Penonton tidak perlu diberi penguat untuk memperlihatkan perilaku yang
dicontohkan.

CONTOH KASUS

Anak-anak yang menonton televisi tentang kekerasan, pembunuhan, tanpa diawasi oleh orang
tua, cenderung akan mengimitasi (meniru) adegan-adegan tersebut ke dalam kehidupan nyata.
Anak-anak berpikir apabila ia meniru adegan-adegan tersebut, maka ia merasa akan sama
seperti orang yang memerankan adegan kekerasan atau pembunuhan tersebut.
DAFTAR RUJUKAN

https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik

https://blog.ruangguru.com/memahami-teori-konflik-karl-marx-dalam-permasalahan-sosial

http://dosensosiologi.com/teori-konflik-menurut-para-ahli-dan-contohnya-lengkap/

https://www.academia.edu/23189855/TEORI_PERTUKARAN_SOSIAL_DAN_CONTOH_
KASUS_Analisis_Perspektif_Komunikasi_Islam_

https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_pertukaran_sosial

http://destianarafidayanti.blogspot.com/2016/05/teori-pembelajaran-sosial.html

http://fatinurrohmahputri.blogspot.com/2016/05/teori-pembelajaran-sosial.html

http://perilakuorganisasi.com/teori-institusional-institutional-theory-2.html

http://retorics.blogspot.com/2015/02/pendekatan-institusionalisme.html

https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-pendekatan-politik-institusional/11369/2

https://www.researchgate.net/publication/305477957_PENGGUNAAN_TEORI_INSTITUSI
ONAL_DALAM_PENELITIAN_TEKNOLOGI_INFORMASI_DAN_KOMUNIKASI_DI_I
NDONESIA