Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


NOVEMBER, 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LEPTOSPIROSIS

Oleh :

WAODE ANNISA WAHID, S.Ked

Pembimbing :
dr. Zakaria Mustari, Sp.PD

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Penyakit


Dalam)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama : WAODE ANNISA WAHID, S. Ked
Judul Referat : LEPTOSPIROSIS
Telah menyelesaikan referat dalam rangka Kepanitraan Klinik di Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, November 2017

Pembimbing,

(dr. Zakaria Mustari, Sp.PD)

i
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.


Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga referat dengan judul
“Leptospirosis” ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat senantiasa tercurah
kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar sejati yang memberikan
pedoman hidup yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Zakaria
Mustari, Sp.PD yang telah memberikan petunjuk, arahan dan nasehat yang sangat
berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan referat ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi
penyempurnaan referat ini.
Demikian, semoga referat ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan
penulis secara khususnya.

Wassalamu Alaikum WR.WB.

Makassar, November 2017

Penulis

DAFTAR ISI

ii
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING......................................................i

KATA PENGANTAR..........................................................................................ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 3

Definisi Leptospirosis ........................................................................................ 3

Etiologi Leptospirosis ........................................................................................ 4

Epidemiologi Leptospirosis ............................................................................... 6

Penularan Leptospirosis ..................................................................................... 7

Manifestasi Klinik Leptospirosis ...................................................................... 8

Patologi Leptospirosis ........................................................................................ 12

Patogenesis Leptospirosis .................................................................................. 13

Diagnosis Leptospirosis .................................................................................... 16

Penatalaksanaan Leptospirosis ........................................................................... 18

Komplikasi Leptospirosis ................................................................................... 19

Prognosis Leptospirosis ..................................................................................... 19

Pencegahan ......................................................................................................... 19

BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 21

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

Penyakit leptospirosis terjadi di seluruh dunia, baik di daerah pedesaan


maupun perkotaan, di daerah tropis maupun subtropis. Di daerah endemis, puncak
kejadian leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir. Iklim
yang sesuai untuk perkembangan Leptospira adalah udara yang hangat, tanah
yang basah dan pH alkalis, kondisi ini banyak ditemukan di negara beriklim
tropis, seperti Indonesia. Oleh sebab itu, kasus leptospirosis 1000 kali lebih
banyak ditemukan di negara beriklim tropis dibandingkan dengan negara
subtropis dengan risiko penyakit yang lebih berat. Angka kejadian leptospirosis di
negara tropis basah 5-20/100.000 penduduk per tahun. World Health Organization
(WHO) mencatat, kasus leptospirosis di daerah beriklim subtropis diperkirakan
berjumlah 0,1-1 per 100.000 orang setiap tahun, sedangkan di daerah beriklim
tropis kasus ini meningkat menjadi lebih dari 10 per 100.000 orang setiap tahun.
Pada saat wabah, sebanyak lebih dari 100 orang dari kelompok berisiko tinggi di
antara 100.000 orang dapat terinfeksi (Zulkoni, 2011).1
Prevalensi penderita yang sudah terinfeksi Leptospira di Thailand 27%, di
Vietnam 23%, dan 37% di daerah pedesaan Belize. Leptospirosis juga merupakan
masalah kesehatan masyarakat di negara Asia lainnya, Eropa bagian Selatan,
Australia, dan Selandia Baru. Di Amerika, leptospirosis merupakan masalah
kesehatan pada kehewanan dan masih dilaporkan 50-150 penderita leptospirosis
pada manusia setiap tahun (Yatim, 2007). Penyakit leptospirosis di Cina disebut
sebagai penyakit akibat pekerjaan (occupational disease) karena banyak
menyerang para petani, dan di Jepang penyakit ini disebut dengan penyakit
“demam musim gugur”. Penyakit ini juga banyak ditemukan di Rusia, Inggris,
Argentina, dan Australia. Leptospira dapat menyerang semua jenis mamalia
seperti tikus, anjing, kucing, landak, sapi, burung, dan ikan. Hewan yang
terinfeksi dapat tanpa gejala sampai meninggal. Laporan hasil penelitian tahun
1974 di Amerika Serikat menyatakan 15-40% anjing terinfeksi, dan penelitian lain
melaporkan 90% tikus terinfeksi Leptospira. Hewan-hewan tersebut merupakan

1
faktor penyakit pada manusia. Manusia merupakan ujung rantai penularan
penyakit ini (Kunoli, 2013).1
Manusia yang berisiko tertular adalah yang pekerjaannya berhubungan
dengan hewan liar dan hewan peliharaan seperti peternak, petani, petugas
laboratorium hewan, dan bahkan tentara. Wanita dan anak di perkotaan sering
terinfeksi setelah berenang dan piknik di luar rumah. Orang yang hobi berenang
termasuk yang berisiko terkena penyakit ini (Kunoli, 2013).1

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI LEPTOSPIROSIS
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
patogen spirochaeta, genus Leptospira. Spirochaeta ini pertama kali diisolasi
di Jepang oleh Inada setelah sebelumnya digambarkan oleh Adolf Weil tahun
1886. Weil menemukan bahwa penyakit ini menyerang manusia dengan
gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal.2
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan
binatang. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat
menjangkiti manusia. Termasuk penyakit zoonosis yang paling sering terjadi
di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood fever atau demam
banjir karena memang muncul dikarenakan banjir.3,6
Dibeberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam
icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit swinherd, demam rawa,
penyakit weil, demam canicola (PDPERSI Jakarta, 2007). Leptospirosis
adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman leptospira patogen (Saroso,
2003).3,6
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan
Leptospira. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever,
Slime fever (Shlamnfieber), Swam fever, Autumnal fever, Infectious jaundice,
Field fever, Cane cutter dan lain-lain (WHO, 2003). 3,6
Leptospirosis atau penyakit kuning adalah penyakit penting pada manusia,
tikus, anjing, babi dan sapi. Penyakit ini disebabkan oleh spirochaeta
leptospira icterohaemorrhagiae yang hidup pada ginjal dan urine tikus
(Swastiko, 2009).3,6
Leptospirosis merupakan istilah untuk penyakit yang disebabkan oleh
semua leptospira tanpa memandang serotipe tertentu. Hubungan gejala klinis
dengan infeksi oleh serotipe yang berbeda membawa pada kesimpulan bahwa

3
suatu serotipe leptospira bertanggung jawab terhadap berbagai macam
gambaran klinis, sebaliknya suatu gejala seperti meningitis aseptik dapat
disebabkan oleh berbagai serotipe. Oleh karena itu lebih disukai untuk
menggunakkan istilah umum leptospirosis dibanding Weil’s Disease dan
demam kanikola.3
B. ETIOLOGI LEPTOSPIROSIS
Leptospira yang termasuk dalam ordo Spirochaeta, dapat menyebabkan
penyakit infeksius yang disebut leptospirosis. Leptospira merupakan
organisme fleksibel, tipis, berlilit padat, dengan panjang 5-15 μm, disertai
spiral halus yang lebarnya 0,1-0,2 μm. Salah satu ujung bakteri ini seringkali
bengkok dan membentuk kait.2,4,6
Leptospira memiliki ciri umum yang membedakannya dengan bakteri
lainnya. Sel bakteri ini dibungkus oleh membran luar yang terdiri dari 3-5
lapis. Di bawah membran luar, terdapat lapisan peptidoglikan yang fleksibel
dan helikal, serta membran sitoplasma. Ciri khas Spirochaeta ini adalah
lokasi flagelnya, yang terletak diantara membran luar dan lapisan
peptidoglikan. Flagela ini disebut flagela periplasmik. Leptospira memiliki
dua flagel periplasmik, masing-masing berpangkal pada setiap ujung sel.
Kuman ini bergerak aktif, paling baik dilihat dengan menggunakan
mikroskop lapangan gelap.2,4,6

Gambar 1. Leptospira interrogans

4
Gambar 2. Bakteri Leptospira sp. menggunakan mikroskop elektron tipe
scanning

Leptospira merupakan Spirochaeta yang paling mudah dibiakkan, tumbuh


paling baik pada keadaan aerob pada suhu 28-30ºC dan pada pH 7,4. Media
yang bisa digunakan adalah media semisolid yang kaya protein, misalnya
media Fletch atau Stuart. Lingkungan yang sesuai untuk hidup leptospira
adalah lingkungan lembab seperti kondisi pada daerah tropis.2,4,6
Berdasarkan spesifisitas biokimia dan serologi, Leptospira sp. dibagi
menjadi Leptospira interrogans yang merupakan spesies yang patogen dan
Leptospira biflexa yang bersifat tidak patogen (saprofit). Sampai saat ini telah
diidentifikasi lebih dari 200 serotipe pada L.interrogans. Serotipe yang paling
besar prevalensinya adalah canicola, grippotyphosa, hardjo,
icterohaemorrhagiae, dan pomona.2,4,6
Infeksi pada manusia terjadi akibat tertelan makanan atau minuman yang
tercemar air kencing hewan yang sakit leptospirosis selain itu kuman dapat
masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit atau selaput lendir jaringan
tubuh. Hewan-hewan yang dapat menularkan leptospirosis selain anjing
adalah sapi, babi, dan tikus. Meskipun banyak binatang tidak menunjukkan
gejala penyakit, tetapi 1 dari 10 anjing yang terinfeksi leptospirosis akan
mati5

C. EPIDEMIOLOGI LEPTOSPIROSIS

5
Leptospirosis diperkirakan merupakan zoonosis yang paling luas tersebar
di dunia. Kasus-kasus dilaporkan secara teratur dari seluruh dunia kecuali
Antartika dan terutama paling banyak di daerah tropis. Meskipun leptospirosis
bukan merupakan penyakit umum, penyakit ini sudah pernah dilaporkan dari
seluruh daerah Amerika Serikat, termasuk daerah kering seperti Arizona.
Leptospira biasa terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, babi, lembu,
kuda, kucing, marmut, atau binatang-binatang pengerat lainnya seperti tupai,
musang, kelelawar, dan lain sebagainya. Di dalam tubuh binatang tersebut
leptospira hidup di dalam ginjal/air kemihnya. Tikus merupakan vektor utama
dari L.icterohaemorrhagica penyebab leptospirosis pada manusia.3,6

Dalam tubuh tikus, leptospira akan menetap dan membentuk koloni serta
berkembang biak di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan secara terus menerus
ikut mengalir dalam filtrat urin. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah
beriklim sedang, masa puncak insiden dijumpai pada musim panas dan musim
gugur karena temperatur adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan
hidup leptospira, sedangkan di daerah tropis insiden tertinggi terjadi selama
musim hujan.3,6

Di daerah tropis dengan kelembaban tinggi angka kejadian leptospirosis


berkisar antara 10-100 per 100.000 sedangkan di daerah subtropis angka
kejadian berkisar antara 0,1-1 per 100.000 per tahun. Case fatality rate (CFR)
leptospirosis di beberapa bagian dunia dilaporkan berkisar antara <5%-30%.
Angka ini memang tidak terlalu reliabel mengingat masih banyak daerah di
dunia yang angka kejadian leptospirosisnya tidak terdokumentasi dengan baik.
Selain itu masih banyak kasus leptospirosis ringan belum didiagnosis secara
tepat.7

D. PENULARAN LEPTOSPIROSIS

6
Transmisi bakteri leptospira ke manusia dapat terjadi karena ada kontak
dengan air atau tanah yang tercemar urin hewan yang mengandung leptospira.
Selain itu penularan bisa juga terjadi karena manusia mengkonsumsi makanan
atau minuman yang terkontaminasi dengan bakteri leptospira.7

Gambar 3. Siklus penularan leptospirosis

Faktor lingkungan memiliki peranan penting dalam proses penularan


leptospirosis. Faktor lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, biologik,
dan sosial. Salah satu pengaruh lingkungan sosial adalah mengenai jenis
pekerjaan. Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis antara lain:
petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan, pekerja pengontrol tikus,
tukang sampah, pekerja selokan, buruh tambang, tentara, pembersih septic
tank dan pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Agus (2008) di Kabupaten Demak
menunjukkan beberapa faktor risiko kejadian leptospirosis yaitu pekerjaan
yang melibatkan kontak tubuh dengan air (OR=17,36; p:0,001), keberadaan
sampah di dalam rumah (OR=7,76; p:0,008), keberadaan tikus di dalam dan
sekitar rumah (OR=10,34; p:0,004), kebiasaan tidak memakai alas kaki
(OR=24,04; p:0,001), kebiasaan mandi/cuci di sungai (OR=12,24; p:0,001),
tidak ada penyuluhan tentang leptospirosis (OR=4,94; p:0,022).7

7
E. MANIFESTASI KLINIK LEPTOSPIROSIS

Manifestasi klinik pada leptospirosis berkaitan dengan penyakit febril


umum dan tidak cukup khas untuk menegakkan diagnosis.9 Secara khas
penyakit ini bersifat bifasik, yaitu fase leptospiremi/ septikemia dan fase
imun.8,9
1. Fase leptospiremi atau septikemia
Masa inkubasi dari leptospira virulen adalah 7-12 hari, rata-rata 10
hari. Untuk beberapa kasus, dapat menjadi lebih singkat yaitu 2 hari
atau bahkan bisa memanjang sampai 30 hari.10 Fase ini ditandai
adanya demam yang timbul dengan onset tiba-tiba, menggigil, sakit
kepala, mialgia, ruam kulit, mual, muntah, conjunctival suffusion, dan
tampak lemah.8,9
Demam tinggi dan bersifat remiten bisa mencapai 40ºC sebelum
mengalami penurunan suhu tubuh. Conjunctival suffusion merupakan
tanda khas yang biasanya timbul pada hari ke-3 atau ke-4 sakit.20
Selama fase ini, leptospira dapat dikultur dari darah atau cairan
serebrospinal penderita. Tes serologi menunjukkan hasil yang negatif
sampai setidaknya 5 hari setelah onset gejala. Pada fase ini mungkin
dijumpai adanya hepatomegali, akan tetapi splenomegali kurang umum
dijumpai. Pada hitung jumlah platelet, ditemukan adanya penurunan
jumlah platelet dan trombositopeni purpura. Pada urinalisis ditemukan
adanya proteinuri, tetapi kliren kreatinin biasanya masih dalam batas
normal sampai terjadi nekrosis tubular atau glomerulonefritis.8,9
2. Fase imun
Fase kedua ini ditandai dengan leptospiuria dan berhubungan
dengan timbulnya antibodi IgM dalam serum penderita. Pada kasus
yang ringan (mild case) fase kedua ini berhubungan dengan tanda dan
gejala yang minimal, sementara pada kasus yang berat (severe case)
ditemukan manifestasi terhadap gangguan meningeal dan hepatorenal
yang dominan. Pada manifestasi meningeal akan timbul gejala

8
meningitis yang ditandai dengan sakit kepala, fotofobia, dan kaku
kuduk. Keterlibatan sistem saraf pusat pada leptospirosis sebagian
besar timbul sebagai meningitis aseptik. Pada fase ini dapat terjadi
berbagai komplikasi, antara lain neuritis optikus, uveitis, iridosiklitis,
dan neuropati perifer.10 Pada kasus yang berat, perubahan fase
pertama ke fase kedua mungkin tidak terlihat, akan tetapi timbul
demam tinggi segera disertai jaundice dan perdarahan pada kulit,
membrana mukosa, bahkan paru. Selain itu ini sering juga dijumpai
adanya hepatomegali, purpura, dan ekimosis. Gagal ginjal, oliguria,
syok, dan miokarditis juga bisa terjadi dan berhubungan dengan
mortalitas penderita.8,9

Gambar 4. Sifat bifasik leptospirosis

Menurut berat ringannya, leptospirosis dibagi menjadi ringan (nonikterik)


dan berat (ikterik). Ikterik merupakan indikator utama dari leptospirosis
berat.8,9

a. Leptospirosis ringan (non-ikterik)

9
Sebagian besar manifestasi klinik leptospirosis adalah anikterik, dan ini
diperkirakan mencapai 90% dari seluruh kasus leptospirosis di masyarakat.
Gejala leptospirosis timbul mendadak ditandai dengan virallike illness, yaitu
demam, nyeri kepala, dan mialgia. Nyeri kepala bisa berat, mirip yang terjadi
pada infeksi dengue, disertai nyeri retro orbital dan fotofobia. Nyeri otot
diduga terjadi karena adanya kerusakan otot sehingga kreatinin fosfokinase
(CPK) pada sebagian besar kasus meningkat, dan pemeriksaan CPK ini dapat
membantu penegakan diagnosis klinik leptospirosis. Dapat juga ditemukan
nyeri perut, diare, anoreksia, limfadenopati, splenomegali, rash makulopapular,
kelainan mata (uveitis, iridosiklitis), meningitis aseptik dan conjunctival
suffusion. 8,9

Pemeriksaan fisik yang khas adalah conjunctival suffusion dan nyeri tekan
di daerah betis. Gambaran klinik terpenting leptospirosis non-nikterik adalah
meningitis aseptik yang tidak spesifik sehingga sering terlewatkan
diagnosisnya. Sebanyak 80-90% penderita leptospirosis anikterik akan
mengalami pleositosis pada cairan serebrospinal selama minggu ke-2 penyakit
dan 50% diantaranya akan menunjukkan tanda klinis meningitis. Karena
penderita memperlihatkan penyakit yang bersifat bifasik atau memberikan
riwayat paparan dengan hewan, meningitis tersebut kadang salah didiagnosis
sebagai kelainan akibat virus.8,9

Pasien dengan leptospirosis non-ikterik pada umumnya tidak berobat


karena keluhan bisa sangat ringan. Pada sebagian pasien, penyakit ini bisa
sembuh sendiri (self-limited) dan biasanya gejala kliniknya menghilang dalam
waktu 2 sampai 3 minggu. Karena gambaran kliniknya mirip dengan penyakit
demam akut yang lain, maka pada setiap kasus dengan keluhan demam akut,
leptospirosis anikterik harus dipikirkan sebagai salah satu diagnosis banding,
terutama di daerah endemik leptospirosis seperti Indonesia.8,9

b. Leptospirosis berat (ikterik)

10
Bentuk leptospirosis yang berat ini pada mulanya dikatakan sebagai Leptospira ichterohaemorrhagiae, tetapi ternyata dapat

terlihat pada setiap serotipe leptospira yang lain. Manifestasi leptospirosis yang berat memiliki angka mortalitas sebesar 5-15%.

Leptospirosis ikterik disebut juga dengan nama Sindrom Weil. Tanda khas dari sindrom Weil yaitu jaundice atau ikterik, azotemia, gagal

ginjal, serta perdarahan yang timbul dalam waktu 4-6 hari setelah onset gejala dan dapat mengalami perburukan dalam minggu ke-2.

Ikterus umumnya dianggap sebagai indikator utama leptospirosis berat. Pada leptospirosis ikterik, demam dapat persisten sehingga fase

imun menjadi tidak jelas atau nampak overlapping dengan fase leptospiremia.8,9

Sindroma, Fase Gambaran Klinik Spesimen Laboratorium

Leptospirosis anikterik* Demam tinggi, nyeri Darah, LCS Urin


Fase leptospiremia kepala, mialgia, nyeri
perut, mual, muntah,
Fase imun
conjunctival suffusion
Demam ringan, nyeri
kepala, muntah,
meningitis aseptik

Leptospirosis ikterik Fase Demam, nyeri kepala, Darah, LCS (minggu 1)


leptospiremia dan fase mialgia, ikterik, gagal Urin (minggu ke-2)
imun (sering ginjal, hipotensi,
overlapping) manifestasi perdarahan,
pneumonitis hemorrargik,
leukositosis

*antara fase leptospiremia dengan fase imun terdapat periode asimtomatik


(± 1-3 hari)8,9

Tabel 1. Perbedaan gambaran klinik leptospirosis anikterik dan ikterik

Beratnya berbagai komponen sindrom Weil kemungkinan mencerminkan


beratnya vaskulitis yang mendasarinya. Ikterus biasanya tidak terkait dengan
nekrosis hepatoselular, dan setelah sembuh tidak terdapat gangguan fungsi hati
yang tersisa. Kematian pada sindrom Weil jarang disebabkan oleh gagal hati.8,9

F. PATOLOGI LEPTOSPIROSIS

11
Dalam perjalanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan toksin
yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan patologi pada beberapa organ.
Lesi yang muncul terjadi karena kerusakan pada lapisan endotel kapiler. Pada
leptospirosis, terdapat perbedaan, antara derajat gangguan fungsi organ dengan
kerusakan secara histologik. Pada leptospirosis lesi histologis yang ringan
ditemukan pada ginjal dan hati pasien dengan kelainan fungsional yang nyata
dari organ tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan pada
struktur organ. Lesi inflamasi menunjukkan edema dan infiltrasi sel monosit,
limfosit, dan sel plasma. Pada kasus yang berat terjadi kerusakan kapiler
dengan perdarahan yang luas dan disfungsi hepatoseluler dengan retensi bilier.
Selain di ginjal leptospira juga dapat bertahan pada otak dan mata. Leptospira
dapat masuk ke dalam cairan cerebrospinalis pada fase leptospiremia. Hal ini
akan menyebabkan meningitis yang merupakan gangguan neurologi terbanyak
yang terjadi sebagai komplikasi leptospirosis. Organ-organ yang sering
diserang leptospira adalah 8

a. Ginjal : Interstisial nefritis dengan infiltrasi sel mononuklear


merupakan bentuk lesi pada leptospirosis yang dapat terjadi tanpa
gangguan fungsi ginjal.

b. Hati : Hati menunjukan nekrosis sentilobuler fokal dengan infiltrasi


sel limfosit fokal dan proliferasi sel kuppfer dengan kolestasis.

c. Jantung : Epikardium, endokardium dan miokardium dapat terlibat


berupa perdarahan fokal pada miokardium dan endokarditis.

d. Otot rangka : Pada otot rangka terjadi perubahan-perubahan berupa


lokal nekrotis, vakuolisasi dan kehilangan striata.

e. Mata : Leptospira dapat masuk ruang anterior dari mata selama


fase leptospiremia dan bertahan beberapa bulan walaupun antibodi yang
terbentuk cukup tinggi.

12
f. Pembuluh darah : Terjadi perubahan pembuluh darah akibat
terjadinya vaskulitis yang akan menimbulkan perdarahan.

g. Susunan daraf pusat : Leptospira mudah masuk ke dalam cairan


cerebrospinal dan dikaitkan dengan terjadinya meningitis.

h. Weil Disease : merupakan leptospirosis yang ditandai dengan


ikterus, biasanya disertai perdarahan, anemia, azotemia, gangguan
kesadaran dan demam tipe kontinu.8

G. PATOGENESIS LEPTOSPIROSIS

Transmisi infeksi leptospira ke manusia dapat melalui berbagai cara, yang


tersering adalah melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar bakteri
leptospira. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka dan
mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini dapat
melalui kontak dengan kulit sehat (intak) terutama bila kontak lama dengan air.
Selain melalui kulit atau mukosa, infeksi leptospira bisa juga masuk melalui
konjungtiva. Bakteri leptospira yang berhasil masuk ke dalam tubuh tidak
menimbulkan lesi pada tempat masuk bakteri. Hialuronidase dan atau gerak yang
menggangsir (burrowing motility) telah diajukan sebagai mekanisme masuknya
leptospira ke dalam tubuh. 10

Selanjutnya bakteri leptospira virulen akan mengalami multiplikasi di


darah dan jaringan. Sementara leptospira yang tidak virulen gagal bermultiplikasi
dan dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh setelah 1 atau 2 hari infeksi.
Leptospira virulen mempunyai kemampuan motilitas yang tinggi, lesi primer
adalah kerusakan dinding endotel pembuluh darah dan menimbulkan vaskulitis
serta merusak organ. Vaskulitis yang timbul dapat disertai dengan kebocoran dan
ekstravasasi sel.10

Patogenitas leptospira yang penting adalah perlekatannya pada permukaan


sel dan toksisitas selular. Lipopolysaccharide (LPS) pada bakteri leptospira
mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin bakteri gram

13
negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil pada sel endotel
dan trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai trombositopenia.
Bakteri leptospira mempunyai fosfolipase yaitu suatu hemolisis yang
mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel lain yang mengandung
fosfolipid.10

Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Di
dalam ginjal bakteri leptospira bermigrasi ke interstisium tubulus ginjal dan lumen
tubulus. Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro dan
meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan
hipovolemia. Hipovolemia akibat dehidrasi dan perubahan permeabilitas kapiler
salah satu penyebab gagal ginjal. Pada gagal ginjal tampak pembesaran ginjal
disertai edema dan perdarahan subkapsular, serta nekrosis tubulus renal.
Sementara perubahan yang terjadi pada hati bisa tidak tampak secara nyata.
Secara mikroskopik tampak perubahan patologi berupa nekrosis sentrolobuler
disertai hipertrofi dan hiperplasia sel Kupffer.10

14
Gambar 5. Leptospirosis pathway dan gambaran klinis10

H. DIAGNOSIS LEPTOSPIROSIS

1. Diagnosis Klinis

Leptospirosis dipertimbangkan pada semua kasus dengan riwayat


kontak terhadap binatang atau lingkungan yang terkontaminasi urin
binatang, disertai dengan gejala akut demam, menggigil, mialgia,
conjunctival suffusion, nyeri kepala, mual, atau muntah.20 Selain itu
penting juga untuk mempertimbangkan jenis pekerjaan penderita dan
riwayat adanya kontak dengan air sebelumnya.10

2. Diagnosis Laboratorium

15
Diagnosis definitif leptospirosis bergantung pada penemuan
laboratorium. Pada sindrom Weil dapat ditemukan leukositosis dan
netropenia, terutama selama fase awal penyakit. Anemia tidak biasa
ditemukan pada leptospirosis anikterik, tetapi dapat terjadi anemia
berat pada sindrom Weil. Kadar enzim hati, kreatinin, dan ureum dapat
sedikit meningkat pada leptospirosis anikterik, dan meningkat secara
ekstrim pada sindrom Weil.10

a. Pemeriksaan mikrobiologik

Bakteri Leptospira sp. terlalu halus untuk dapat dilihat di


mikroskop lapangan terang, tetapi dapat dilihat jelas dengan
mikroskop lapangan gelap atau mikroskop fase kontras.
Spesimen pemeriksaan dapat diambil dari darah atau urin.10

b. Kultur

Organisme dapat diisolasi dari darah atau cairan


serebrospinal hanya pada 10 hari pertama penyakit. Bakteri
tersebut biasanya dijumpai di dalam urin pada 10 hari pertama
penyakit. Media Fletcher dan media Tween 80-albumin
merupakan media semisolid yang bermanfaat pada isolasi
primer leptospira. Pada media semisolid, leptospira tumbuh
dalam lingkaran padat 0,5-1 cm dibawah permukaan media
dan biasanya tampak 6-14 hari setelah inokulasi. Untuk kultur
harus dilakukan biakan multipel,10

c. Inokulasi hewan

Teknik yang sensitif untuk isolasi leptospira meliputi


inokulasi intraperitoneal pada marmot muda. Dalam beberapa
hari dapat ditemukan leptospira di dalam cairan peritoneal;
setelah hewan ini mati (8-14 hari) ditemukan lesi hemoragik
pada banyak organ.10

16
d. Serologi

Diagnosis laboratorium leptospirosis terutama didasarkan atas


pemeriksaan serologi. Macroscopic slide agglutination test
merupakan pemeriksaan yang paling berguna untuk rapid screening.
Pemeriksaan gold standart untuk mendeteksi antibodi terhadap
Leptospia interrogans yaitu Microscopic Agglutination Test (MAT)
yang menggunakan organisme hidup. Pada umumnya tes aglutinasi
tersebut tidak positif sampai minggu pertama sejak terjadi infeksi,
kadar puncak antibodi 3-4 minggu setelah onset gejala dan menetap
selama beberapa tahun, walaupun konsentrasinya kemudian akan
menurun. 10

Tes MAT ini mendeteksi antibodi pada tingkat serovar sehingga


dapat digunakan untuk mengidentifikasi strain Leptospira pada
manusia dan hewan dan karena itu membutuhkan sejumlah strain
(battery of strains) Leptospira termasuk stock-culture, disamping
sepasang sera dari pasien dalam periode sakit akut dan 5-7 hari
sesudahnya. Pemeriksaan MAT dikatakan positif jika terjadi
serokonversi berupa kenaikan titer 4 kali atau ≥ 1:320 dengan satu
atau lebih antigen tanpa kenaikan titer (untuk daerah non endemik
leptospirosis digunakan nilai ≥ 1:160).10

I. PENATALAKSANAAN LEPTOSPIROSIS

Leptospirosis terjadi secara sporadik, pada umumnya bersifat selflimited


disease dan sulit dikonfirmasi pada awal infeksi. Pengobatan harus dimulai segera
pada fase awal penyakit. Secara teori, Leptospira sp. adalah mikroorganisme yang
sensitif terhadap antibiotik.10

17
Tabel 2. Manajemen kasus dan kemoprofilaksis leptospirosis berdasarkan
Kriteria Diagnosis WHO SEARO 2009

J. KOMPLIKASI LEPTOSPIROSIS

Terdapat beberapa komplikasi dari leptospirosis, diantaranya adalah gagal


ginjal akut (95% dari kasus), gagal hepar akut (72% dari kasus), gangguan
respirasi akut (38% dari kasus), gangguan kardiovaskuler akut (33% dari
kasus), dan pankreatitis akut (25% dari kasus)10

K. PROGNOSIS LEPTOSPIROSIS

18
Jika tidak ada ikterus, penyakit jarang fatal. Pada kasus dengan ikteru,
angka kematian 5 % pada umur di bawah 30 tahun, dan pada usia lanjut
mencapai 30-40%.10

L. PENCEGAHAN

- Pencegahan hubungan dengan air atau tanah yang terkontaminasi Para


pekerja yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi leptospira, misalnya
pekerja irigasi, petani, pekerja laboratorium, dokter hewan, harus memakai
pakaian khusus yang dapat melindungi kontak dengan air atau tanah yang
terkontaminasi leptospira. Misalnya dengan menggunakan sepatu bot,
masker, sarung tangan.

- Melindungi sanitasi air minum penduduk Dalam hal ini dilakukan


pengelolaan air minum yang baik, dilakukan filtrasi dan deklorinai untuk
mencegah invasi leptospira.

- Pemberian vaksin.10

BAB III
KESIMPULAN

Leptospirosis merupakan suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh


leptospira. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan leptospira secara
insidental. Gejala klinis yang timbul mulai dari ringan sampai berat bahkan
kematian, bila terlambat mendapat pengobatan. Diagnosis dini yang tepat dan

19
penatalaksanaan yang cepat akan mencegah perjalanan penyakit menjadi berat.
Pencegahan dini terhadap mereka yang terpapar diharapkan dapat melindungi dari
serangan leptospirosis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wahyuningsih, Dwinur. 2016. Leptospirosis.


http://eprints.ums.ac.id/41309/5/BAB%20I.pdf, accessed on 19 November
2017
2. Lucy, Andani. 2014. Infeksi Tropis : Leptospirosis.
http://eprints.undip.ac.id/44817/3/BAB_II.pdf , accessed on 19 November
2017
3. Isselbacher, Braunwald, et all. 2002. Harrison : Prinsip-prinsip Ilmu
Penyakit Dalam Volume 2. Jakarta. EGC.
4. Soedarto. 2009. Penyakit Menular di Indonesia. Surabaya: Sagung Seto
5. Soedarto. 2012. Penyakit Zoonosis Manusia Ditularkan oleh Hewan.
Surabaya: Sagung Seto
6. Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :
Interna Publishing

20
7. Lucy, Andani. 2014. Infeksi Tropis : Leptospirosis.
http://eprints.undip.ac.id/44817/3/BAB_II.pdf , accessed on 19 November
2017
8. Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :
Interna Publishing
9. Lucy, Andani. 2014. Infeksi Tropis : Leptospirosis.
http://eprints.undip.ac.id/44817/3/BAB_II.pdf , accessed on 19 November
2017
10. Isselbacher, Braunwald, et all. 2002. Harrison : Prinsip-prinsip Ilmu
Penyakit Dalam Volume 2. Jakarta. EGC.

21