Anda di halaman 1dari 126

1

BAB 1

PENDAHULUAN

METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP)


DI RUANG PERAWATAN MAWAR KUNING BAWAH

1.1 Latar Belakang

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam

menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen mencakup kegiatan

koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana dan prasarana dalam mencapai

tujuan. Manajemen keperawatan merupakan proses bekerja melalui anggota staf

untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Proses manajemen

keperawatan sejalan dengan keperawatan sebagai salah satu metode pelaksanaan

asuhan keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan keduanya saling

menopang.

Adanya tuntutan pengembangan pelayanan kesehatan oleh masyarakat

umum, termasuk di dalamnya keperawatan, merupakan salah satu faktor yang harus

dicermati dan diperhatikan oleh tenaga perawat, sehingga perawat mampu

berkiprah secara nyata dan diterima dalam memberikan sumbangsih bagi

kemanusiaan sesuai ilmu dan kiat serta kewenangan yang dimiliki. Salah satu

strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan

keperawatan adalah melakukan manajemen keperawatan dengan harapan adanya

faktor kelola yang optimal mampu meningkatkan keefektifan pembagian pelayanan

keperawatan sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan

keperawatan.
2

Ruangan atau bangsal sebagai salah satu unit terkecil pelayanan kesehatan

merupakan tempat yang memungkinkan bagi perawat untuk menerapkan ilmu dan

kiatnya secara optimal. Namun perlu disadari, tanpa tanpa adanya tata kelola yang

memadai, kemauan, dan kemampuan yang kuat, serta peran aktif dari semua pihak,

maka pelayanan keperawatan profesional hanyalah akan menjadi teori semata.

Untuk itu, maka perawat perlu mengupayakan kegiatan penyelenggaraan Model

Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) khususnya di Ruang Perawatan

Mawar Kuning Bawah.

Dasar pertimbangan penerapan model sistem pemberian asuhan

keperawatan adalah

Sesuai visi dan misi rumah sakit. Ekonomis, Menambah kepuasan pasien, keluarga,

dan masyarakat, Menambah kepuasan kerja perawat karena dapat melaksanakan

perannya dengan baik, Terpenuhinya kebutuhan dasar klien secara komprehensif,

Terlaksananya proses keperawatan yang sesuai dengan Standar Praktek

Keperawatan (SPK) Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan

tim kesehatan lainnya.

Penerapan MAKP harus mampu memberikan asuhan keperawatan

profesional, untuk itu diperlukan penataan 3 komponen utama, yakni Ketenagaan

keperawatan, Metode pemberian asuhan keperawatan, Dokumentasi keperawatan.

Di RSUD Sidoarjo Khususnya ruang Mawar Kuning di bagi menjadi dua

tempat Mawar Kuning Atas dan Mawar Kuning Bawah, lahan kelolaan kita berada

pada Mawar Kuning Bawah dengan Jumlah bed keseluruhan 63 tempat

tidur,sedangkan lahan yang dikelola pada kamar A 6 bed tempat tidur. Berdasarkan

hasil pengkajian pada tanggal 01-03 Januari 2018 didapatkan data Petugas Medis
3

dan Non medis Ruang Mawar Kuning sebanyak 32 orang. Kebutuhan sarana dan

prasarana sebagian besar sudah memenuhi standar. Model Asuhan Keperawatan

Profesional (MAKP) yang dilaksanakan adalah MAKP Tim. Modifikasi dengan

kepala ruangan adalah seorang Ners, dan 3 orang Ketua Tim adalah seorang Ners

dan 1 orang Ketua tim adalah seorang Amd.Kep. Mawar Kuning Bawah terdapat

10 ruangan, yaitu ruang Kepala ruangan, ruag perawat, ruang administrasi, , ruang

A, ruang B, ruang C, ruang D, ruang E, ruang F, ruang G,ruang H, ruang HCU,

ruang Remona. Dengan komposisi tenaga perawat terdiri dari Ners, S1

keperawatan, dan D3 keperawatan.

Model asuhan keperawatan profesional saat ini yang digunakan pada Mawar

Kuning Bawah adalah Metode Tim. Metode Tim merupakan metode penugasan

Asuhan Keperawatan yang diberikan oleh sekelompok perawat terhadap

sekelompok pasien (Suyanto, 2009). Metode Tim dikembangkan dalam rangka

peningkatan mutu pemberian Asuhan Keperawatan yang lebih baik dengan

menggunakan jumlah staf yang tersedia. (Suyanto,2009).

Metode menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda

dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap kelompok pasien. Perawat ruangan

dibagi menjadi 2-3 tim/group yang terdiri atas tenaga professional, teknikal, dan

pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu (Nursalam, 2013).

Berdasarkan hal di atas, maka mahasiswa Program Studi Profesi Ners

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto mencoba menerapkan

Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) dengan metode pemberian

asuhan keperawatan Metode Primer, karena memiliki kelebihan yaitu

memungkinkan pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi dan efektif terhadap


4

pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Sehingga dapat

memenuhi kebutuhan pasien secara individu. Dimana pelaksanaannya melibatkan

pasien kelolaan di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Sidoarjo pada kamar A dengan perawat yang bertugas di ruang tersebut.

Model asuhan keperawatan tersebut diharapkan mampu menyelesaikan masalah

dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan profesional sehingga mampu

memenuhi tuntutan masyarakat.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Setelah melaksanakan praktek manajemen keperawatan, mahasiswa

diharapkan dapat menerapkan manajemen keperawatan dan model pemberian

asuhan keperawatan yang sesuai dengan Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.

1.2.2 Tujuan Khusus

Setelah melaksanakan praktek klinik manajemen keperawatan di Ruang

Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo,

mahasiswa mampu :

a. Menganalisa kebutuhan tenaga keperawatan (SDM) di Ruang Mawar

Kuning Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

Sidoarjo.

b. Menganalisa kecukupan sarana dan prasarana di Ruang Mawar Kuning

Bawah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.

c. Melaksanakan peran sesuai dengan model MAKP yang telah ditentukan:

1) Melakukan penerimaan pasien baru.


5

2) Melakukan supervisi keperawatan.

3) Melakukan timbang terima keperawatan.

4) Melakukan Discharge Planning.

5) Melakukan penerapan sentralisasi obat.

6) Melakukan ronde keperawatan.

7) Mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan salah satu model

penugasan asuhan keperawatan.

d. Menganalisa tingkat kepuasan pasien dalam pelayanan di ruang Mawar

Kuning Bawah.

1.3 Manfaat

1.3.1 Mahasiswa

a. Mahasiswa mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya masing-

masing dalam penerapan MAKP Metode TIM.

b. Mahasiswa dapat mengumpulkan data dalam penerapan MAKP metode

TIM di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Sidoarjo.

c. Mahasiswa dapat mengetahui masalah dalam penerapan MAKP metode

TIM di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Sidoarjo.

d. Mahasiswa dapat menganalisa masalah dengan metode SWOT dan

menyusun rencana strategi.

e. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dalam menerapkan model

asuhan keperawatan metode primer di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.


6

f. Meningkatkan pelayanan keperawatan melalui praktik manajemen

pelayanan keperawatan profesional.

1.3.2 Perawat Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Sidoarjo.

a. Melalui praktik manajemen keperawatan dapat mengetahui masalah-

masalah yang ada di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit Umum

Daerah Kabupaten Sidoarjo yang berkaitan dengan pelaksanaan MAKP

metode Primer.

b. Melalui praktik manajemen keperawatan perawat ruangan dapat

mempelajari penerapan model keperawatan metode Primer.

c. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal.

d. Terbinanya hubungan yang kondusif antara perawat dengan perawat,

perawat dengan tim kesehatan lain, dan perawat dengan pasien serta

keluarga.

e. Meningkatnya kinerja perawat di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.

1.3.3 Pasien dan Keluarga Pasien

Pasien dan keluarga mendapatkan pelayanan yang optimal sehingga

memperoleh kepuasan selama mendapat perawatan di Ruang Mawar Kuning

Bawah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.

1.3.4 Institusi Keperawatan

a. Mampu menerapkan ilmu manajemen keperawatan khususnya terkait

penerapan model keperawatan metode Primer.


7

b. Mampu menjalin kerjasama yang lebih baik antara institusi pendidikan

dengan institusi pelayanan di Ruang Mawar Kuning Bawah Rumah Sakit

Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo.


8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Manajemen

Manajemen merupakan suatu proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui

upaya orang lain. Menurut Liang Lie, manajemen adalah suatu ilmu dan seni

perencanaan , pengarah, pengorganisasian, dan pengontrolan dari benda dan

manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya (Liang Lie, 2008

dalam Nursalam, 2011).

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam

menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen tersebut mencakup

kegiatan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controling) terhadap staf,

sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant dan Massey, 1999

dalam Nursalam, 2001).

2.2 Fungsi Manajemen

Manajemen berasal dari manage, yaitu mengatur. Dimana dalam hal

mengatur ada beberapa pertanyaan; mengapa harus diatur dan apa tujuan

pengaturan tersebut diadakan. Manajemen merupakan usaha dari orang – orang

untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan (visi dan misi) sehingga akan

ada hubungan antara administrasi, manajemen, dan organisasi. Manajemen

dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-

sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Ada tiga alasan utama diperlukannya

manajemen:

a. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi.


9

b. Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan -

tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-

pihak berkepentingan dalam organisasi, seperti pemilik dan karyawan,

maupun kreditur, pelanggan, konsumen, supplier, serikat kerja, asosiasi

perdagangan,masyarakat dan pemerintah.

c. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas suatu kerja organisasi dapat di

ukur dengan banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang umum adalah

efisiensi dan efektivitas.

Fungsi – fungsi manajemen adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan (Planning), perencanaan merupakan:

a. Gambaran apa yang akan dicapai.

b. Persiapan pencapaian tujuan.

c. Rumusan suatu persoalan untuk dicapai.

d. Persiapan tindakan – tindakan.

e. Rumusan tidak harus tertulis.

f. Tiap – tiap organisasi perlu pencapaian.

2. Pengorganisasian (Organizing), merupakan pengaturan setelah

rencana, mengatur dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam,

jenis, unit kerja, alat – alat keuangan dan fasilitas.

a. Penggerak (Actuating), Menggerakkan orang-orang agar mau /

suka bekerja. Ciptakan suasana bekerja bukan hanyakarena

perintah tetapi harus dengan kesadaran sendiri termotivasi.

b. Pengendalian/Pengawasan (Controling), merupakan fungsi

pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana.


10

Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera

diperbaiki.

c. Penilaian (Evaluasi), merupakan proses pengukuran dan

perbandingan hasil – hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai (

Nursalam, 2015).

2.3 Konsep Manajemen Keperawatan

1. Definisi Manajemen Keperawatan

Manajemen keperawatan dapat didefinisikan sebagai suatu proses

koordinasi dan integrasi sumber daya keperawatan dengan menerapkan proses

manajemen untuk mencapai perawatan, tujuan pelayanan dan objektif (Huber,

2006).

Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus

dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencakan, mengorganisasikan,

mengarahkan serta mengawasi sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana

sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada

pasien, keluarga dan masyarakat (Suyanto, 2008).

Muninjaya (2004), menyatakan bahwa manajemen mengandung tiga prinsip

pokok yang menjadi ciri utama penerapannya yaitu efisiensi dalam pemanfaatan

sumber daya, efektif dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih

alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalam

pengambilan keputusan manajerial.

Manajemen keperawatan adalah penggunaan waktu yang efektif karena

manajemen adalah pengguna waktu yang efektif, keberhasilan rencana perawat

manajer klinis, yang mempunyai teori atau sistematik dari prinsip dan metode yang
11

berkaitan pada instusi yang besar dan organisasi keperawatan di dalamnya,

termasuk setiap unit. Teori ini meliputi pengetahuan tentang misi dan tujuan dari

institusi tetapi dapat memerlukan pengembangan atau perbaikan termasuk misi

tujuan devisi keperawatan. Dari pernyataan pengertian yang jelas perawat manajer

mengembangkan tujuan yang jelas dan realistis untuk pelayanan keperawatan

(swanburg, 2000).

Menurut Swanburg (2000), keterampilan manajemen dapat diklasifikasikan

dalam tiga tingkatan yaitu:

1. Ketrampilan intelektual, yang meliputi kemampuan atau penguasaan teori,

ketrampilan berfikir.

2. Ketrampilan tekhnikal meliputi: metode, prosedur atau tekhnik

3. Ketrampilan interpersonal, meliputi kemampuan kepemimpinan dalam

berinteraksi dengan individu atau kelompok.

2.4 Fungsi Manajemen Keperawatan

Pada fungsi manajemen keperawatn terdapat beberapa elemen utama yaitu

planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), staffing (kepegawaian),

directing (pengarahan), controling (pengendalian atau evaluasi).

a. Planning (perencanaan)

Fungsi planning dan (perencanaan) adalah fungsi terpenting dalam

manajemen, oleh karena fungsi ini akan menetukan fungsi-fungsi manajemen

lainya. Menurut Muning jaya, (1999) fungsi perencanaan merupakan fungsi

landasan dasar dari fungsi manajemen secara keseluruhan . tanpa ada fungsi

perencanaan tidak mungkin fungsi manajemen lainya akan dapat dilaksanakan

dengan baik. Perencanaan akan memberikan pola pandang terhadap semua


12

pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan, dan kapan akan

dilakukan.

Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses pencapai tujuan secara

efektif dan efisien. Swamburg (2000) mengatakan bahwa planing adalah

memutuskan seberapa luas akan dilakukan, bagaimana melakukan dan siapa yang

melakukan.Dibidang kesehatan perencenaan dapat didefinisikan sebagai proses

untuk menumbuhkan, merumuskan masalah-masalah kesehatan di masyarakat,

menentukan kebutuhan dan sumberdaya yang tersedia, menetapkan tujuan progam

yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapkan tersebut.

1. Tujuan perencanaan

a. Untuk menimbulkan keberhasilan dalam mencapai sasaran dan tujuan.

b. Agar penggunaan personil dan fasilitas yang tersedia lebih efektif.

c. Membantu dalam koping dengan situasi kritis.

d. Meningkatkan efektifitas dalam hal biaya.

e. Membantu menurunkan elemen perubahan, karena perencanaan

berdasarkan masalalu dan akan datang.

f. Dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk berubah

g. Penting untuk melakukan kontrol yang lebih efektif.

2. Tahap dalam perencanaan

a. Penting untuk melakukan kontrol yang lebih efektif.

b. Analisis situasi bertujuan untuk mengumpulkan data dan fakta.

c. Mengidentifikasi maalah penetapan perioritas masalah .

d. Merumuskan tujuan progam dan besarnya traget yang ingin dicapai.


13

e. Mengkaji kemungkinan adanya hambatan dan kendala dalam

pelaksanaan progam.

f. Meyusun rencana kerja operasional (RKO)

3. Jenis perencanaan

a. Perencanaan strategi

Perencanaan strategis merupakan suatu proses berkesinambungan,

proses yang sistematis dalam pembuatan dan pengambilan keputusan

masakini dengan kemungkinan pengetahuan yang paling besar dari efek-

efek perencanaan pada masa depan, mengoganisasikan upaya-upaya yang

perlu melaksanakan keputusan ini terhadap hasil yang diharapkan melalui

mekanisme umpan balik yang dapat dipercaya.

Perencanaan strategis dalam keperawatan bertujuan untuk

memperbaiki alokasi sumber-sumber yang langka, termasuk uangdan waktu

dan untuk mengatur pekerjaan defisi keperawatan.

b. Perencanaan operasional

Perencanaan oprasional menguraikan aktifitas prosedur yang akan

digunakan serta menyusun jadwal waktu pencapaian tujuan, menetukan

siapa orang-orang yang bertanggung jawab setiap aktifitas dan prosedur.

Menggambarkan cara menyiapkan orang-orang untuk bekerja dan standart

untuk mengevaluasi perawatan pasien, di dalam perencanaan operasional

terdiri dari dua bagian yaitu rencana tetap dan sekali pakai. Rencana tetap

adalah rencana yang sudah ada dan menjadi pedomandidalam kegiatan

setiap hari yang terdiri dari kebijaksanaan, standart prosedur operasional


14

dan peraturan. Sedangkan rencana sekali pakai terdiri dari program dan

proyek.

4. Manfaat perencanaan

a. Membantu proses manajemen dalam menyesuaikan diri dalam

perubahan-perbahan lingkungan.

b. Memberikan cara pemberian perintah yang tepat untuk pelaksanaan.

c. Memudahkan koordinasi

d. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasional

secara jelas.

e. Membantu penetapan tanggung jawab lebih tepat.

f. Membuat tujuan lebih khusus, lebih rinci dan lebih mudah di pahami.

g. Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti

h. Menghemat waktu dan dana.

5. Keuntungan perencanaan

a. Mengurangi atau menghilangkan jenis atau pekerjaan yang tidak

produktif.

b. Dapat dipakai sebagai alat pengukur hasil yang akan dicapai.

c. Memberikan suatu landasan pokok fungsi manajemen lainnya terutama

fungsi keperawatan.

d. Memodifikasi gaya manajemen.

e. Fleksibilitas dalam pengambilan keputusan

6. Kelemahan Perencanaan

a. Perencanaan mempunyai keterbatasan dalam hal ketepatan informasi dan

fakta-fakta tentang masa yang akan datang.


15

b. Perencanaan memerlukan biaya yang cukup banyak.

c. Perencanaan mempunyai hambatan psikologis.

d. Perencanaan menghambat timbulnya inisiatif.

e. Perencanaan menghambat terhambatnya tindakan yang perlu diambil.

b. Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan, menggolongkan

dan mengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang

seseorang, pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi

pengorganisasian merupakan alat untuk memadukan semua kegiatan yang beraspek

personil, finansial, material dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan yang telah

ditetapkan (Muninjaya, 1999). Berdasarkan penjelasan tersebut, organisasi dapat

dipandang sebagai rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi

wadah bagi segenap kegiatan usaha kerjasama dengan jalan membagi dan

mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menyusun

jalinan hubungan kerja di antara para pekerjanya.

1. Manfaat Pengorganisasian

a. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok.

b. Hubungan organisatoris antara orang-orang di dalam organisasi tersebut

melalui kegiatan yang dilakukannya.

c. Pendelegasian wewenang.

d. Pemanfaatan staff dan fasilitas dan fasilitas fisik.

2. Langkah-langkah Pengorganisasian

a. Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf. Tugas ini sudah tertuang dalam

fungsi perencanaan.
16

b. Membagi habis pekerjaan dalam bentuk mencapai tujuan

c. Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan-satuan kegiatan yang

praktis

d. Menetapkan berbagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh staf dan

menyediakan fasilitas yang diperlukan.

e. Penugasan personil yang tepat dalam melaksanakan tugas.

f. Mendelegasikan wewenang

c. Staffing (Kepegawaian)

Staffing merupakan metodologi pengaturan staff, proses yang teratur,

sistematis berdasarkan rasional yang diterapkan untuk menentukan jumlah personil

suatu organisasi yang dibutuhkan dalam situasi tertentu (Swanburg, 2000). Proses

pengaturan staff bersifat kompleks. Komponen pengaturan staff adalah sistem

kontrol termasuk studi pengaturan staff, penguasaan rencana pengaturan staff,

rencana penjadwalan, dan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK).

SIMK meliputi 5 elemen yaitu kualitas perawata pasien, karakteristik dan

kebutuhan perawatan pasien, perkiraan suplai tenaga perawat yang diperlukan,

logistik dari pola program pengaturan staf dan kontrolnya, evaluasi kualitas

perawatan yang diberikan.

Dasar perencanaan untuk pengaturan staff pada suatu unit keperawatan

mencakup personil keperawatan yang bermutu harus tersedia dalam jumlah yang

mencukupi dan adekuat, memberikan pelayanan pada semau pasien selama 24 jam

sehari, 7 hari dalam seminggu, 52 minggu dalm setahun. Setiap rencana pengaturan

staff harus disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit dan tidak dapat hanya dicapai

dengan rasio atau rumusan tenaga/pasaien yang sederhan. Jumlah dan jenis staff
17

keperawatan yang diperlukan oleh derajat dimanan departemen lain memberikan

pelayanan pendukung, juga dipengaruhi oleh jumlah dan komposisi staff medis dan

pelayanan medis yang diberikan. Kebutuhan khusus individu, dokter, waktu dan

lamanya ronde, jumlah test, obat-obatan dan pengobatan, jumlah dan jenis

pembedahan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas personel perawat yang

diperlukan dan mempengaruhi penempatan mereka.

Pengaturan staff kemudian juga dipengaruhi oleh organisasi divisi

keperawatan. Rencana harus ditinjau ulang dan diperbaharui untuk mengatur

departemen beroperasi secara efisien dan ekonomis dengan pernyataan misi,

filosofi dan objektif tertulis, struktur organisasi, fungsi dan tanggung jawab,

kebijakan dan prosedur tertulis, pengembangan program staff efektif, dan evaluasi

periodik terencana.

Komponen yang termasuk dalam fungsi staffing adalah prinsip rekrutmen,

seleksi, orientasi pegawai baru, penjadwalan tugas, dan klasifikasi pasien.

Pengrekrutan merupakan proses pengumpulan sejumlah pelamar yang

berkualifikasi untuk pekerjaan di perusahaan melalui serangkaian aktivitas. Tujuan

orientasi pegawai baru adalah untuk membantu perawat dalam menyesuaikan diri

pada situasi baru. Produktivitas meningkat karena lebih sedikit orang yang

dibutuhkan jika mereka terorientasi pada situasi kerja. Penjadwalan siklus

merupakan salah satu cara terbaik yang dipakai untuk memenuhi syarat distribusi

waktu kerja dan istirahat untuk pegawai. Pada cara ini dibuat pola waktu dasar

untuk minggu-minggu tertentu dan diulang pada siklus berikutnya. Jadwal

modifikasi kerja mingguan menggunakan shift 10-12 jam dan metode lain yang

biasa.
18

d. Directing (pengarahan)

Pengarahan adalah hubungan antara aspek-aspek individual yang

ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahan-bawahan untuk dapat

dipahami dan pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang

nyata. Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam keberhasilan manajemen.

Menurut Stogdill dalam Swanburg (2000), kepemimpinan adalah suatu proses yang

mempengaruhi aktivitas kelompok terorganisasi dalam upaya menyusun dan

mencapai tujuan. Gardner dalam Swanburg (2000), menyatakan bahwa

kepemimpinan sebagai suatu proses persuasi dan memberi contoh sehingga

individu (pimpinan kelompok) membujuk kelompoknya untuk mengambil tindakan

yang sesuai dengan usulan pimpinan atau usulan bersama. Seorang manajer yang

ingin kepemimpinannya lebih efektif harus mampuuntuk memotivasi diri sendiri

untuk bekerja dan banyak membaca, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap

permasalahan organisasi, dan menggerakkan (memotivasi) staffnya agar mereka

mampu melaksanakan tugas-tugas pokok organisasi. Menurut Lewin dalam

Swanburg (2000), terdapat beberapa macam gaya kepemimpinan yaitu :

1. Autokratik

Pemimpin membuat keputusan sendiri. Mereka lebih cenderung

memikirkan penyelesaian tugas dari pada memperhatikan karyawan.

Kepemimpinan ini cenderung menimbulkan permusuhan dan sifat agresif

atausama sekali apatis dan menghilangkan inisiatif.

2. Demokratis

Pemimpin melibatkan bawahannya dalam proses pengambilan

keputusan. Mereka berorientasi pada bawahan dan menitikberatkan pada


19

hubungan antara manusia dan kerja kelompok. Kepemimpinan demokratis

meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja.

3. Laissez faire

Pemimpin memberikan kebebasan dan segala serba boleh, dan pantang

memberikan bimbingan kepada staff. Pemimpin tersebut membantu kebebasan

kepada setiap orang dan menginginkan setiap orang senang. Hal ini dapat

mengakibatkan produktivitas rendah dan karyawan frustasi. Manajer perawat

harus belajar mempraktekkan kepemimpinan perilaku yang merangsang

motivasi pada para pemiliknya, mempraktekkan keperawatan professional dan

tenaga perawat lainnya. Perilaku ini termasuk promosi autonomi, membuat

keputusan dan manajemen partisipasi oleh perawat professional.

4. Controlling (pengendalian/evaluasi)

Fungsi pengawasan atau pengendalian (controlling) merupakan fungsi

yang terakhir dari proses manajemen, yang memiliki kaitan yang erat dengan

fungsi yang lainnya. Pengawasan merupakan pemeriksaan terhadap sesuatu

apakah terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan/disepakati, instruksi

yang telah dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang telah ditentukan, yang

bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki

(Fayol,1998).

Pengawasan juga diartikan sebagai suatu usaha sistematik untuk

menetapkan standard pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang

sistem informasi timbal balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standard

yangtelah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-

penyimpangan, serta mengambil tindakan yang digunakan dengan cara paling


20

efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan perusahaan (Mockler, 2002).

Pengontrolan atau pengevaluasian adalah melihat bahwa segala sesuatu

dilaksanakan sesuai dengan rencana yang disepakati, instruksi yang telah

diberikan, serta prinsip-prinsip yang telah diberlakukan (Urwick, 1998). Tugas

seorang manajemen dalam usahanya menjalankan dan mengembangkan fungsi

pengawasan manajerial perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut :

a. Pengawasan yang dilakukan harus dimengerti oleh staff dan hasilnya

mudah diukur, misalnya menepati jam kerja.

b. Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam

upaya mencapai tujuan organisasi.

c. Standard unjuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada

semua staf, sehingga staf dapat lebih meningkatkan rasa tanggung

jawab dan komitmen terhadap kegiatan program.

d. Kontrol sebagai pengukuran dan koreksi kinerja untuk meyakinkan

bahwa sasaran dan kelengkapan rencana untuk mencapai tujuan

telah tersedia, serta alat untuk memperbaiki kinerja.

e. Terdapat sepuluh karakteristik suatu sistem control yang baik :

a. Harus menunjukkan sifat dari aktivitas

b. Harus melaporkan kesalahan-kesalahan dengan segera

c. Harus memandang ke depan

d. Harus menunjukkan penerimaan pada titik kritis

e. Harus objektif

f. Harus fleksibel

g. Harus menunjukkan pola organisasi


21

h. Harus ekonomis

i. Harus mudah dimengerti

j. Harus menunjukkan tindakan perbaikkan.

Untuk fungsi-fungsi control dapat dibedakan pada setiap tingkat manajer.

Sebagai contoh, manajer perawat kepala dari satu unit bertanggung jawab mengenai

kegiatan operasional jangka pendek termasuk jadwal harian dan mingguan, dan

penugasan, serta pengunaan sumber-sumber secara efektif. Kegiatan-kegiatan

control ditujukan untuk perubahan yang cepat. Dua metode pengukuran yang

digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuan-tujuan keperawatan adalah :

1) Analisa tugas : kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur

yang tersusun dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran.

Hanya mengukur dukungan fisik saja, dan secara relatif beberapa alat

digunakan untuk analisa tugas dalam keperawatan.

2) Kontrol kualitas : Kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas

danakibat-akibat dari pelayanan keperawatan.

Apabila fungsi pengawasan dan pengendalian dapat dilaksanakan dengan

tepat, maka akan diperoleh manfaat :

1) Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan

sesuai dengan standard atau rencana kerja.

2) Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan dan pengertian

stafdalam melaksanakan tugas-tugasnya.

3) Dapat diketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi

kebutuhan dan telah digunakan secara benar.


22

4) Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau bentuk

promosi dan latihan lanjutan.

2.5 Prinsip Dasar Manajemen Keperawatan

a. Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan

b. Tahap perencanaan terdiri atas pembuatan tujuan, pengalokasian anggaran,

identifikasi kebutuhan pegawai, dan penetapan struktur organisasi

c. Selama proses perencanaan, yang dapat dilakukan oleh pimpinan

keperawatan adalah menganalisis dan mengkaji system.

d. Mengatur strategi organisasi dan menentukan tujuan jangka panjang dan

pendek, mengkaji sumber daya organisasi, mengidentifikasi kemampuan

yang ada dan aktivitas yang spesifik serta prioritasnya

e. Manajemen keperawatan dilandaskan melalui penggunaan waktu yang

efektif

f. Manajemen keperawatan melibatkan pengambilan keputusan

g. Manajemen keperawatan harus terorganisasi

h. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif

i. Komunikasi yang dilakukan secara efektif mampu mengurangi kesalah

pahaman, danakan memberikan persamaan pandangan arah dan pengertian

diantara pegawai dalam suatu tatanan organisasi

j. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan

2.6 Komponen Manajemen Keperawatan

a. Input

Dalam proses manajemen keperawatanantara lain berupa informasi,

personel,peralatan dan fasilitas.


23

b. Proses

Pada umumnya merupakan kelompok manajer dari tingkat

pengelola keperawatan tertinggi sampai keperawatan pelaksana yang

mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan,

pengorganisasian pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan

pelayanan keperawatan. Proses merupakan kegiatan yang cukup penting

dalam suatu system sehingga mempengaruhi hasil yang diharapkan suatu

tatanan organisasi.

c. Output

Umumnya dilihat dari hasil atau kualitas pemberian askep dan

pengembangan staf serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil

atau keluaran.

d. Kontrol

Diperlukan dalam proses manajemen keperawatan sebagai upaya

meningkatkan kualitas hasil. Control dalam manajemen keperawatan dapat

dilakukan melalui penyusunan anggaran yang proporsional, evaluasi

penampilan kerja perawat, pembuat prosedur yang sesuai standard

akreditasi.

e. Mekanisme umpan balik

Mekanisme umpan balik diperlukan untuk menyelaraskan hasil dan

perbaikan kegiatan yang akan datang. Mekanisme umpan balik dapat


24

dilakukan melalui laporan keuangan, audit keperawatan, dan survey kendali

mutu, serta penampilan kerja perawat.

2.7 Sumber Daya Manusia (M1/MAN)

a. Umur

Semakin tua usia seorang karyawan semakin kecil kemungkinan keluar dari

pekerjaan, karena semakin kecil alternatif untuk memperoleh kesempatan pekerjaan

lain. Di samping itu karyawan yang bertambah tua biasanya telah bekerja lebih

lama, memperoleh gaji yang lebih besar dan berbagai keuntungan lainnya.

Hubungan usia dengan kinerja atau produktifitas dipercaya menurun dengan

bertambahnya usia. Hal ini disebabkan karena ketrampilan-ketrampilan fisiknya

sudah mulai menurun. Tetapi produktifitas seseorang tidak hanya tergantung pada

ketrampilan fisik serupa itu. Karyawan yang bertambah tua, bisa meningkat

produktifitasnya karena pengalaman dan lebih bijaksana dalam mengambil

keputusan (Mangkunegara, 2006).

b. Jenis Kelamin

Beberapa isu yang sering diperdebatkan, kesalahpahaman dan pendapat-

pendapat tanpa dukungan mengenai apakah kinerja wanita sama dengan pria ketika

bekerja. Misalnya ada tidaknya perbedaan yang konsisten pria-wanita dalam

kemampuan memecahkan masalah. Ketrampilan, analisis, dorongan, motivasi,

sosiabilitas atau kemampuan bekerja (Robbins, 2001).

Secara umum diketahui ada perbedaan yang signifikan dalam produktifitas

kerja maupun dalam kepuasaan kerja, tapi dalam masalah absen kerja, tapi dalam

masalah absen kerja karyawati lebih sering tidak masuk kerja daripada laki-laki
25

(Anonim, 2005). Alasan yang paling logis adalah karena secara tradisional wanita

memiliki tanggung jawab urusan rumah tangga dan keluarga. Bila ada anggota

keluarga yang sakit atau urusan sosial seperti kematian tetangga dan sebagainya,

biasanya wanita agak sering tidak masuk kerja.

c. Masa Kerja

Banyak studi tentang hubungan antara senioritas karyawan dan

produktifitas. Meskipun prestasi kerja seseorang itu bisa ditelusuri dari prestasi

kerja sebelumnya, tetapi sampai ini belum dapat diambil kesimpulan yang

meyakinkan antara dua variabel tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa senioritas

dan produktifitas pekerjaan. Masa kerja yang diekspresikan sebagai pengalaman

kerja, tampaknya menjadi peramal yang baik terhadap produktifitas karyawan.

Studi juga menunjukkan bahwa senioritas berkaitan negatif dengan kemangkiran.

Masa kerja berhubungan negatif dengan keluar masuknya karyawan dan sebagai

salah satu peramal tunggal paling baik tentang keluar masuknya karyawan

(Mangkunegara,2003).

d. Pendidikan

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dalam Hasbullah (2005) yaitu

tuntunan di dalam tumbuhnya anak-anak, adapaun maksudnya, pendidikan yaitu

menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai

manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan

kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber

daya keperawatan adalah melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,

mengikuti pelatihan perawatan keterampilan teknis atau keterampilan dalam

hubungan interpersonal. Sebagian besar pendidikan perawat adalah vokasional (D3


26

Keperawatan ). Untuk menjadi perawat profesional, lulusan SLTA harus

menempuh pendidikan akademik S1 Keperawatan dan Profesi Ners . Tetapi bila

ingin menjadi perawat vokasional, (Primary Nurse) dapat mengambil D3

Keperawatan/Akademi Keperawatan. Lulusan SPK yang masih ingin menjadi

perawat harus segera ke D3 Keperawatan atau langsung ke S1 Keperawatan.

Selanjutnya, lulusan D3 Keperawatan atau langsung ke S1 Keperawatan dan Ners.

Dari pendidikan S1 dan Ners, baru ke Magister Keperawatan/Spesialis dan

Doktor/Konsultan (Gartinah et, al 1989).

e. Pelatihan Kerja

Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang

menggambarkan suatu proses dalam pengembangan organisasi maupun

masyarakat. Pendidikan dengan pelatihan merupakan suatu rangkaian yang tak

dapat dipisahkan dalam sistem pengembangan sumberdaya manusia, yang di

dalamnya terjadi proses perencanaan, penempatan, dan pengembangan tenagan

manusia. Dalam proses pengembangannya diupayakan agar sumberdaya manusia

dapat diberdayakan secara maksimal, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam

memenuhi kebutuhan hidup manusia tersebut dapat terpenuhi.

Moekijat (1993) juga menyatakan bahwa “pelatihan adalah suatu bagian

pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan

ketrampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif

singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.

Alex S. Nitisemito (1982) mengungkapkan tentang tujuan pelatihan sebagai

usaha untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, sesuai dari keinginan

individu, masyarakat, maupun lembaga yang bersangkutan. Dengan demikian


27

pelatihan yang dimaksudkan dalam pengertian yang lebih luas, dan tidak terbatas

semata-mata hanya untuk mengembangkan ketrampilan dan bimbingan saja.

Pelatihan diberikan dengan harapan individu dapat melaksanakan pekerjaannya

dengan baik. Seseorang yang telah mengikuti pelatihan dengan baik biasanya akan

memberikan hasil pekerjaan lebih banyak dan baik pula dari pada individu yang

tidak mengikuti pelatihan.

Dengan demikian, kegiatan pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan

pengetahuan, keahlian/ ketrampilan (skill), pengalaman, dan sikap peserta pelatihan

tentang bagaimana melaksanakan aktifitas atau pekerjaan tertentu. Hal ini sejalan

dengan pendapat Henry Simamora (1995) yang menjelaskan bahwa pelatihan

merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian,

pengetahuan, pengalaman ataupun perubahan sikap seorang individu atau

kelompok dalam menjalankan tugas tertentu.

a. Bed Occuption Rate (BOR)

BOR adalah indikator tinggi rendahnya pemanfaatan tempat tidur di Rumah

sakit. Rumus untuk mencari BOR adalah sebagai berikut :

jumlah pasien x 100%


BOR/Hari =
Tempat Tidur

jumlah pasien x 100%


BOR/Bln =
Tempat Tidur

jumlah pasien x 100%


BOR/Thn =
Tempat Tidur

b. Kebutuhan Tenaga Keperawatan

a. Metode Gilles

b. Gilles (1989) mengemukakan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di satu

unit perawatan adalah sebagai berikut :


28

𝐴𝑥𝐵𝑥𝐶 F
= =H
(C − D)xE G

Keterangan :

A = Rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari.

B = Rata-rata jumlah pasien/hari

C = Jumlah hari/tahun

D = Jumlah hari libur masing-masing perawat

E = Jumlah jam kerja masing-masing perawat

F = Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan pertahun

G = Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun

H = Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut.

Prinsip perhitungan rumus gilles :

Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk pelayanan, yaitu:

1. Perawatan langsung

Adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan secara

khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Berdasarkan tingkat

ketergantungan tingkat ketergantungan pasien pada perawat maka dapat

diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu : self care, partial care, total care dan

intensive care. Menurut Minett Huchinson (1994) kebutuhan keperawatan langsung

setiap pasien adalah empat jam perhari sedangkan untuk :

a. Self care dibutuhkan 1⁄2 x 4 jam : 2 jam

b. Partial Care dibutuhkan 3⁄4 x 4 jam : 3 jam

c. Total Care dibutuhkan 1-11⁄2 x 4 jam : 4 – 6 jam

d. Intensive Care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam


29

2. Perawatan Tak Langsung

Meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan, memasang atau

menyiapkan alat, konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca catatan

kesehatan, melaporkan kondisi pasien.

3. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi : aktifitas,

pengobatan serta tindak lanjut pengobatan. Menurut mayer dalam Gilles (1994),

waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan kesehatan ialah 15 menit/ pasien/hari.

4. Rata-rata pasien per hari adalah jumlah pasien yang dirawat di suatu unit

berdasarkan rata-ratanya atau menurut “Bed Occupancy Rate (BOR) “ dengan

Rumus :

Jumlah hari perawatan rumah sakit dalam waktu


tertentu x 100%

Jumlah tempat tertentu x 365

 Jumlah hari pertahun, yaitu 365 hari

 Hari libur masing-masing perawat pertahun, yaitu 128 hari, hari minggu =

52 hari dan hari sabtu = 52 hari. Untuk hari sabtu tergantung kebijakan RS

setempat, kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan, begitu

juga sebaliknya, hari libur nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari.

 Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja

efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam, kalau hari kerja efektif 6 hari per minggu

maka 40/6 jam = 6,6 jam per hari).

 Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah

20% (untuk antisipasi kekurangan /cadangan).

5. Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang dibutuhkan per hari :


30

Rata – rata klien/hari x rata-rata jam


perawatan/hari=

6. Menentukan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per shift, yaitu dengan

ketentuan menurut Warstler (dalam Swansburg, 1990).

Kombinasi jumlah tenaga menurut Intermountain Health Care Inc. Adalah :

 58% = 6,38 (6 orang) S1 keperawatan

 26% = 2,86 (3 orang) D3 Keperawatan

 16% = 1,76 (2 orang ) SPK

Kombinasi menurut Abdellah dan Levinne adalah :

 55% = 6,05 (6 Orang) tenaga professional.

 45% = 4,95 (5 orang) tenaga non profesional

7. Metode Douglass

Klasifikasi pasien berdasarkan Tingkat Ketergantungan Dengan Metode

Douglas dalam Nursalam, 2015.

Bagi pasien rawat inap, standar waktu pelayanan pasien antara lain :

 Perawatan minimal memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam.

 Perawatan intermediate memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam.

 Perawatan maksimal/ total memerlukan waktu 5-6 jam/24 jam.

2.8 Material (M2/MATERIAL)

1. Lokasi dan denah

Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang

Interna Rumah Sakit RSUD Sidoarjo dengan uraian denah sebagai berikut.

 Sebelah Utara berbatasan Lab Patologi Anatomi

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Ruang Hemodialisa


31

 Sebelah Barat berbatasan dengan Ruang Gizi

 Sebelah Timur berbatasan dengan Ruang Teratai

2. Peralatan dan Fasilitas

a) Fasilitas untuk pasien

Tabel 11.4 Daftar Fasilitas untuk pasien Ruang Interna RSUD Sidoarjo

NO RUANG FASILITAS JUMLAH

1. A-H  Tempat tidur pasien 48


 Bedside cabinet 48
 Standart infus 48
 Overbed table 48
 Kursi kayu 48
 Kipas angina 48
8
 Jemuran handuk
8
 Wastafel
32
 Oksigen central 8
 Jam dinding 16
 Pispot 16
 Urinal 8
 Meja makan 8
 Kamar mandi/WC 2
 Tempat sampah medis dan non medis
2. HCU  Tempat tidur pasien 4
 Loker arsip 2
 Meja ½ biro 1
 nebulizer 2
 almari pasien 4
 troli obat 1
4
 kursi kayu
2
 AC
4
 Bed side monitor
4
 Meja pasien 2
 Syringe pump 1
 Suction pump 4
 Standart infus 1
 Kamar mandi/WC 1
 Tempat sampah medis non medis 1
 Tempat sampah medis dan non medis
3. Combustio  Bed Pasien 3 Crank 6
(I)  Bedside Cabinet 6
32

 AC split PK 2
 Standar Infus 6
 Over Bed Table 6
 Kursi Kayu 6
 Kipas Angin Dinding 2
 Jemuran Handuk 1
1
 Wastafel Di Depan Kamar Mandi
4
 Oksigen Sentral 4 Titik
1
 Jam Dinding 2
 Pisapot 2
 Urinal 1
 Meja Makanan 2
 Tempat Sampah Medis Non Medis

4 Remona  Tempat tidur pasien 4


1-2  Bedside cabinet 0
 Standart infus 4
 Overbed table 4
 Kursi kayu 4
 Kipas angina 2
0
 Jemuran handuk
1
 Wastafel
0
 Oksigen central 0
 Jam dinding 2
 Pispot 2
 Urinal 0
 Meja makan 1
 Kamar mandi/WC 2
 Tempat sampah medis dan non medis

2.9 Metode (M3/METHODE)

Model Praktik Keperawatan Profesional (MAKP) merupakan suatu sistem

(struktur, proses dan nilai-nilai profesional ) yang memungkinkan perawat

profesional mengatur pemberian perawat profesional mengatur pemberian asuhan

keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut

menurut (Hoffart & Woods, 1996).

Oleh karena itu direncanakan terdapat beberapa jenis MPKP, yaitu :


33

 Model praktek keperawatan profesional III melalui pengembangan MPKP III

dapat diberikan asuhan keperawatan profesional tingkat III. Pada ketenagaan

terdapat tenaga perawat dengan kemampuan dokter dalam keperawatan klinik

yang berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing para perawat melakukan

riset serta memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan

keperawatan.

 Model praktek keperawatan profesional II pada model ini, akan mampu

memberikan asuhan kep[erawatan profesional tingkat II. Pada ketenagaan

terdapat tenaga perawat dengan kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik

untuk cabang ilmu tertentu. Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan

konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer pada area

spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset

dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat spesialis direncanakan

1 orang untuk 10 perawat primer (1:10).

 Model praktek keperawatan profesional 1 model praktek keperawatan

profesional pemula MPKP. Pada model ini mampu diberikan asuhan

keperawatan profesional tingkat pemula. Pada model ini perawat mampu

memberikan asuhan keperawatan profesional I dan untuk ini diperlukan

penataan 3 komponen utama, yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian

asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawtan. Model ini merupakan model

yang akan dikembangkan secara bertahap (Developmental model) dan telah diuji

coba di RSUPN Cipto mangunkusumo dan RSUP persahabatan.

 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)


34

Ada 5 metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang sudah

ada dan akan terus dikembangkan di masa depan dalam menghadapi tren

pelayanan keperawatan . untuk memberikan asuhan keperawatan yang lazim

dipakai meliputi metode fungsional, metode tim, metode kasus, modifikasi

metode – primer.

 Metode fungsional ( Bukan MAKP )

Metode Fungsional merupakan menejemen klasik yang menekan

efisiensi, pembagian tugas yang yang jelas, dan pengawasan yang baik. Metode

ini sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga. Perawat senior

menyibukkan diri dengan tugas manjerial, sedangkan perawat pasien diserahkan

kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman. Kelemahan dari metode

ini adalah pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses

keperawatan. Setiap perawat hanya melakukan 1-2 jam jenis intervensi

(misalnya merawat luka). Metode ini tidak memberikan kepuasan kepada pasien

maupun perawat dan persepsi maupun perawat dan persepsi perawat cenderung

kepada tindakan yang berkaitan dengan keterampilan saja.

 Metode Tim

Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda

dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat

ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional,

teknikal, dan pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.

Metode ini memungkinkan pemberian pelayanan keperawatan yang

menyeluruh, mendukung pelaksanaan proses keperawatan yang menyeluruh,

mendukung pelaksanaan proses keperawatan, dan memungkinkan komunikasi


35

antartim, sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada

antaranggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya

membutuhkan waktu, yang sulit untuk dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

Hal pokok dalam metode tim akan berhasil bila didukung oleh kepala ruang.

 Tujuan metode keperawatan tim adalah untuk memberikan perawatan yang

berpusat pada klien. Perawatan ini memberikan pengawasan efektif dari

memperkenalkan semua personel adalah media untuk memenuhi upaya

kooperatif antara pemimpin dan anggota tim. Melalui pengawasan ketua tim

nantinya dapat mengidentifikasi tujuan asuhan keperawatan, mengidentifikasi

tujuan asuhan keperawatan, mengidentifikasi kebutuhan anggota tim,

memfokuskan pada pemenuhan tujuan dan kebutuhan, membimbing anggota tim

untuk membantu menyusun dan memenuhi standar asuhan keperawatan.

 Metode Primer

Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab

penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai pasien masuk

sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada

kejelasan antara pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini

ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus-menerus antara pasien dan

perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi

asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Konsep dasar metode primer adalah

ada tanggung jawab dan tanggung gugat, ada otonomi, dan ketertiban pasien dan

keluarga.

Metode primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan

keterampilan manajemen, bersifat kontuinitas dan komprehensif, perawat primer


36

mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan memungkinkan

pengembangan diri sehingga pasien merasa dimanusiakan karena terpenuhinya

kebutuhan secara individu. Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan

membuat prioritas setiap kebutuhan klien, mengidentifikasi diagnosa

keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan, dan mengevaluasi

keefektifan keperawatan. Sementara perawat yang lain memberikan tindakan

keperawatan, perawat primer mengkoordinasikan keperawatan dan

menginformasikan tentang kesehatan klien kepada perawat atau tenaga

kesehatan lainnya. Selain itu, asauhan yang diberikan bermutu tinggi, dan

tercapai pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi,

informasi, dan advokasi.

 Metode Kasus

Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien

saat dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift, dan

tidak ada jaminan oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode

penugasan kasus biasanya diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini

umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus

seperti : isolasi, intensive care. Kelebihannya adalah perawat lebih memahami

kasus per kasus, sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.

Kekurangannya adalah belum dapat diidentifikasikan perawat

penanggungjawab, perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai

kemampuan dasar yang sama.

 Metode Modifikasi Tim Primer


37

Pada model MAKP tim digunakan secara kombinasi dari kedua sistem.

Menurut Ratna S.Sudarsono (2000) penetapan sistem model MAKP ini

didasarkan pada beberapa alasan :

1) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer harus

mempunyai latar belakang pendidikan S1 keperawatan atau setara.

2) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhan

keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.

3) Melalui kombinasi tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan

akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer.

Adapun tugas dari Kepala Ruangan, Perawat Primer, dan Perawat Associate

menurut MPKP Pemula adalah sebagai berikut ini :

a. Kepala Ruang Rawat

Ada ruang rawat dengan MPKP pemula, kepala ruang rawat adalah perawat

dengan kemampuan D3 keperawatan yang berpengalaman dan pada MPKP tingkat

satu adalah perawat dengan kemampuan SKP atau Ners yang berpengalaman.

Kepala ruang rawat bertugas sesuai jam kerja yaitu dinas pagi.

1) Mengatur pembagian tugas jaga perawat (jadwal dinas)

2) Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketramoilan ruangan

3) Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah diruangan

4) Bimbingan membimbing siswa atau mahasiswa (bekerja sama dengan

pembimbing klinik). Dalam pemberian askep diruangan, dengan mengikuti

sistem MPKP yang sudah ada.

5) Melakukan kegiatan administrasi dan surat menyurat


38

6) Mengorientasikan pegawai baru residen, mahasiswa kedokteran atau

keperawatan yang akan melakukan praktik diruangan.

7) Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan

klien/keluarga dan tim kesehatan lain, antara lain kepala ruang rawat

mengingatkan kembali pasien dan keluarga tentang perawat tim yang

bertanggungjawab terhadap mereka di ruangan yang bersangkutan.

8) Memeriksa kelengkapan persediaan status keperawatan minimal lima set

setiap hari.

9) Melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal implementasi

MPKP termasuk sikap dan tingkah laku profesional.

10) Bila PP cuti, tugas dan tanggung jawab PP dapat didelegasikan kepda PA

senior (wakil PP pemula yang ditunjuk) tetapi tetap dibawah pengawasan

kepala ruang rawat.

11) Merencanakan dan memfasilitasi ketersediaan fasilitas yang dibutuhkan

diruangan.

12) Memantau dan mengevaluasi penampilan kerja semua tenaga yang ada

diruangan, membuat DP3 dan usulan kenaikan pangkat.

13) Merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu asuhan keperawatan.

14) Membuat peta resiko diruangan

b. Perawat Primer/Ketua Tim

Perawat primer (PP) pemula adalah perawat lulusan D3 Keperawatan

dengan pengalaman minimal 4 tahun dan pada MPKP minimal 1 tahun. PP dapat

bertugas pada pagi, sore atau malam hari. Namun sebaiknya PP hanya bertugas pagi

atau sore saja karena pada malam hari, PP akan libur beberapa hari sehingga sulit
39

untuk menilai perkembangan pasien. Melakukan kontrak dengan klien/keluarga

pada awal masuk ruangan sehingga tercipta hubungan terapeutik. Hubungan ini

dibina secara terus-menerus. Pada saat melakukan pengkajian atau tindakan pada

pasien/keluarga.

1) Melakukan pengkajian terhadap klien baru atau melengkapi pengkajian

yang sudah dilakukan oleh PP pada sore, malam atau libur.

2) Menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis standar

renpra sesuai dengan hasil pengkajian.

3) Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan kepada PA dibawah tanggung

jawabnya sesuai klien yang dirawat.

4) Menetapkan PA yang bertanggung jawab ada setiap pasien, setiap kali

giliran jaga. Pembagian klien berdasarkan jumlah pasien, tingkat

ketergantungan pasien.

5) Melakukan bimbingan dan evaluasi (mengecek) PA dalam melakukan

tindakan keperawatan, apakah sesuai dengan SOP.

6) Memonitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA

7) Membantu tindakan keperawatan yang bersikap terapi keperawatan dan

tindakan keperawatan yang tidak dapat dilakukan oleh PA.

8) Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium

9) Melakukan kegiatan serah terima pasien dibawah tanggungjawabnya

bersama PA.

10) Mendampingi dokter visite klien dibawah tanggung jawabnya. Bila PP

tidak ada, visite didampingi oleh PA (Perawat Associate/Perawat

Pelaksana) sesuai dengan timnya.


40

11) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan

perkembangan klien setiap hari.

12) Melakukan pertemuan dengan pasien/ keluarga minimal setiap dua hari

untuk membahas kondisi keperawatan klien (bergantung pada kondisi

klien).

13) Bila PP cuti atau libur, tugas –tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah

ditunjuk (wakil PP) denhgan bimbingan kepala ruang rawat.

14) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien/keluarga.

15) Membuat perencanaan pulang pasien

c. Perawat Acocciate/Perawat Pelaksana

PA pada MPK pemula atau MPKP tingkat satu, sebaiknya adalah perawat

dengan kemampuan D3 Keperawatan. Namun, pada beberapa kondisi bila belum

semua tenaga mendapat pendidikan tambahan, beberapa MPKP, PA adalah perawat

dengan pendidikan dengan SPK tetapi memiliki pengalaman yang cukup lama

dirumah sakit.

1) Membaca ranpra yang telah ditetapkan PP

2) Membina hubungan terapeutik dengan pasien/ keluarga, sebagai lanjutan

kontrak yang sudah dilakukan PP.

3) Menerima klien baru (kontrak dan memberikan informasi berdasarkan

format orientasi klien/keluarga jika PP tidak ada ditempat.

4) Memeriksa kerapian dan kelengkapan status keperawatan.

5) Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan

mendokumentasikannya pada format yang tersedia.

6) Mengikuti visite dokter jika PP tidak ada ditempat.


41

7) Melakukan tindakan keperawatan pada pasiennya berdasarkan renpra.

8) Membuat laporan pergantian dinas setelah selesai dinas diparaf.

9) Mengkomunikasikan kepada PP/PJ dinas bila menemukan masalah yang

perlu diselesaikan.

10) Berperanserta dalam memberikan pendidikan kesehatan pada

klien/keluarga yang dilakukan oleh PP.

11) Melakukan inventaris fasilitas yang berkaitan dengan timny.

12) Membantu tim lainnya yang membutuhkan.

13) Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi

tanggung jawabnya dan berkoordinasi dengan PP.

Sedangkan menurut JCIA (Joint Comition International Acreditation) tugas

dari kepala ruangan, Perawat Primer, dan Perawat Asociate adalah sebagai berikut

a. Kepala Ruang Rawat

1) Mengobservasi dan member masukan kepada PP terkait dengan bimbingan

yang diberikan PP kepada PA. Apakah sudah baik.

2) Memberikan masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA.

3) Mempresentasikan isu-isu baru terkait dengan asuhan keperawatan.

4) Mengidentifikasikan fakta dan temuan yang memerlukan pembuktian.

5) Mengidentifikasi masalah penelitian, merancang usulan dan melakukan

penelitian.

6) Menerapkan hasil penelitian dan memberikan asuhan keperawatan.

7) Bekerjasama dengan kepala ruangan dalam hal melakukan evaluasi tentang

mutu asuahn keperawatan, mengarahkan dan mengevaluasi tentang

implementasi MPKP.
42

8) Mengevaluasi pendidikan kesehatan yang dilakukan PP dan memberikan

masukan untuk perbaikan.

9) Merancang pertemuan ilmiah untuk membahas hasil evaluasi/penelitian

tentang asuhan keperawatan.

b. Kepala Group

1) Bersama anggota group melaksanakan ASKEP sesuai standar.

2) Bersama anggota group mengadakan serah terima dengan group. Tim

(Group Petugas Ganti) mengawasi : kondisi pasien/anggota keluarga,

logistik keperawatan, administrasi rekam medic, pelayanan pemeriksaan

penunjang, kolaborasi program pengobatan.

3) Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh group

sebelumnya.

4) Merundingkan pembagian tugas dengan anggota groupnya.

5) Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.

6) Mandampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program

pengobatan dokter.

7) Membantu pelaksanaan rujukan.

8) Melakukan orientasi terhadap pasien/ anggota keluarga baru mengenai : tata

tertib ruangan RS, perawat yang bertugas.

9) Menyiapkan orientasi pulang dan member penyuluhan kesehatan.

10) Memelihara kebersihan ruang rawat : mengatur cleaning service, mengatur

tugas peserta didik, mengatur tata tertib ruangan yang ditunjukkan kepada

semua petugas, peserta didik dan penunjang ruangan.

11) Membantu KaRu membimbing peserta didik keperawatan.


43

12) Membantu KaRu untuk menilai mutu pelayanan ASKEP serta tenaga

keperawatan.

13) Menulis laporan tim mengenai klien/anggota keluarga dan lingkungan.

14) Menulis laporan tim mengenai klien/anggota keluarga dan lingkungan.

c. Perawat Pelaksana

1) Melakukan asuhan keperawatan sesuai standar.

2) Mengadakan serah terima dengan group/tim lain (group petugas ganti)

mengenai kondisi pasien/anggota keluarga, logistic keperawatan,

administrasi rekam medik, pelayanan pemeriksaan penunjang, kolaborasi

program pengobatan.

3) Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh group

sebelumnya.

4) Merundingkan pembagian tugas dalam groupnya.

5) Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.

6) Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program

pengoobatan dokter.

7) Membantu pelaksanaan rujukan.

8) Melakukan orientasi terhadap klien/anggota keluarga/keluarga baru

mengenai: tata tertib ruangan/RS, perawat tang bertugas.

9) Menyiapkan pasien/anggota keluarga pulang dan memberikan penyuluha

kesehatan.

10) Memelihara kebersihan ruang rawat dengan : mengatur tugas cleaning

service dan peserta didik.


44

11) Mengatur tata tertib ruangan yang dirujukan kepada semua petugas, peserta

didik dan pengunjung ruangan.

12) Membantu kepala ruangan membimbing peserat didik keperawatan.

13) Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan

keperawatan serta tenaga keperawatan.

14) Menulis laporan tim/ group mengenai kondisi pasien.anggota keluarga dan

lingkungannya.

15) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien.anggota

keluarga/keluarga.

Menurut fungsi-fungsi manajemen tugas dari Kepala Ruangan, Perawat

primer, dan Perawat Asociate adalah sebagai berikut :

a. Kepala Ruangan

Perencanaan

a) Menunjukkan ketua TIM akan bertugas diruangan masing-masing.

b) Mengekuti serh terima pasien pada shift sebelumnya

c) Mengidentifikasi tingkat keterganatungan pasien : gawat, transisi dan

persiapan pulang, bersama ketua tim

d) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan

kebutahan pasien bersama ketua tim, mengatur penugasan atau penjadwalan

e) Merencanakan strategi pelaksananan perawatan

f) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan

medis yang akan dilakuka, program pengobatan dan mendiskusikan dengan

dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.

g) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan.


45

h) Membantu mengembangkanniat pendididkan dan latihan hari.

i) Membantu membimbing peserta didik keperawatan.

j) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan Rumah sakit.

Pengorganisasian

a) Merumuskan metode penugasan yang digunakan.

b) Merumuskan tujuan metode penugasan.

c) Membuat rincian tugas ketua TIM dan anggota tim secara jelas.

d) Membuat rentang kendali kepada ruangan membawahi 3 ketua TIM, dan

ketua TIM membawahi 2-3 perawat.

e) Mengatur dan mengendlikan tenaga keperawatan membuat proses dinas,

mengatur tenaga yang ada setiap hari, dan lainnya .

f) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek.

g) Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan.

h) Mendelegsikan tugas, saat kepala ruangan tidak ada di tempat kepada ketua

TIM.

i) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.

j) Indentifikasi masalah dan penanganannya.

Pengarahan

a) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua TIM.

b) Memberi pujian kepada anggota TIM yang melakukan tugas dengan baik.

c) Memberi motifasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap.

d) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan

ASKEP pasien.

e) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.


46

f) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan

tugasnya.

g) Meningkatkan kolaborasi dengan TIM lain .

Pengawasan

a) Melalui komunikasi mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua

tim maupun pelaksanaan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan

kepada pasien.

b) Melalui supervise pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi,

mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan

memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat itu juga.

Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua TIM,

membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat

selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan),

mendengar laporan ketua TIM tentang pelaksanaan tugas, Menevaluasi

upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan renana keperawatan yang

telah disusun bersama ketua TIM dan audit keperawatan.

Ketua TIM

a) Bertanggung Jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan klien sejak

masuk sampai pulang.

b) Mengorientasikan pasien yang baru dan keluarganya.

c) Mengkaji kondisi kesehatan pasien dan keluarganya .

d) Membuat diagnose keperawatan dan rencana keperawatan.

e) Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota TIM.


47

f) Mengarahkan dan membimbing anggota TIM dalam melakukan tindakan

keperawatan.

g) Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan.

h) Melaksanakan tindakan keperawatan tertentu.

i) Mengembangkan perencanaan pulang.

j) Memonitor Pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh

anggota tim

k) Melakukan/mengikuti pertemuan dengan anggota tim/tim kesehatan lainnya

untuk membahas perkembangan kondisi pasien

l) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan

memberikan bimbingan melalui konferensi.

m) Mengevaluasi pemberian ASKEP dan hasil yang dicapai serta

pendokumentasiannya.

Anggota TIM

a) Menjalankan asuhan keperawatan sesuai standar.

b) Membina hubungan terapeutik dengan pasien/ keluarga.

c) Mengikuti serah terima denngan group/ TIM lain ( group petugas ganti )

mengenal kondisi pasien/ keluarga, logistic keperawatan, administrasi,

rekam medic, pelayanan pemeriksaan penunjang, kolaborasi program

pengobatan.

d) Melanjutkan tugasyag belum dapat diselesaikan oleh group sebelumnya.

e) Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter.

f) Mendampingi dokter visite, mencatat dan melaksanakan program

pengobatan dokter bia kepala group tidk ada di tempat.


48

g) Membantu pelaksanaan rujukan dn menyiapkan pasien untuk pemeriksaan

diagnostik, laboratorium, pengobatan, dan tindakan.

h) Melakukan orientasi terhadap pasien/ anggota keluarga/ keluarga baru

mengenal: tata tertib ruangan, Rs, perawat yang bertugas.

i) Membuat laporan pergantian dinas dan setelah selesai diparaf.

j) Menyiapkan pasien/ anggota keluarga pulang dan memberikan penyuluhan

kesehatan.

k) Memelihara kebersihan ruang rawat dengan: mengatur tugas cleaning

service dan peserta didik dan pengunjung ruangan.

l) Membantu kepala ruangan untuk menilaimutu pelayanan asuhan

keperawatan serta tenaga keperawatan.

m) Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan

keperawatan serta tenaga keperawatan.

n) Menulis laporan tim/group mengenai kondisi klien/anggota keluarga dan

lingkungannya.

o) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien/anggota

keluarga/keluarga.

p) Mengkomunikasikan kepada Kepala Ruangan/Kepala Group jika ada

masalah yang belum terselesaikan.

q) Memeriksa kelengkapan status keperawatan

r) Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga pasien yang menjadi

tanggung jawabnya dan berkoordinasi dengan kepala group.

2.10 Pembiayaan (M4/MONEY)

a. Kompensasi
49

Kompensasi merupakan terminology luas yang berhubungan dengan

imbalan financial. Terminologi dalam kompensasi adalah :

1. Upah dan Gaji

Upah (wages) biasanya berhubungan dengan tariff gaji per jam. Aji (salary)

umunya berlaku untuk tarif bayaran mingguan , bulanan, atau tahunan.

2. Insentif

Insentif (insentive) adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji

atau upah yang diberikan organisasi.

3. Tunjangan

4. Fasilitas (Simamora, 2004).

b. Reward

Hazli (2002) mendefinisikan reward yaitu hadiah dan hukuman dalam

situasi kerja, hadiah menunjukkan adanya penerimaan terhadap perilaku dan

perbuatan, sedangkan hukuman menunjukkan penolakan perilaku dan

perbuatannya.

Wahyuningsih (2009) juga mendefinisikan reward adalah

penghargaan/hadiah untuk sesuatu hal yang tercapai. Fransisca (2006)

memfokuskan definisi reward sebagai hadiah atau bonus yang diberikan karena

prestasi seseorang. Reward dapat berwujud banyak rupa. Paling sederahan berupa

kata-kata seperti pujian adalah salah satu bentuknya. Reward biasanya digunakan

untuk mengendalikan jam kerja seseorang dalam organisasi (Raharja, 2006).

Artinya, dengan reward seseorang bekerja dapat dilakukan tanpa ada

kendali langsung dari pimpinan., melainkan dapat berjalan apa adanya sesuai

evaluasi kinerja sebelumnya. Selebihnya, dengan reward seseorang dapat


50

meningkatkan cara kerjanya tanpa harus dikendalikan pimpinan. Hal ini juga

ditegaskan Gouillart & Kelly dalam Raharja (2006) bahwa reward yang diperoleh

atau diharapkan akan diperoleh sebagai konsekuensi dari apa yang mereka kerjakan

akan merubah perilaku manusia secara fundamental.

c. Punishment

Punishment adalah hukuman atas suatu hal yang tidak tercapai/pelanggaran.

Hukuman seperti apa yang harus diberikan. Setiap orang pasti beda persepsi dan

beda pendapat (Wahyuningsih, 2009).

Punishment merupakan penguatan yang negative, tetapi diperlukan dalam

perusahaan. Punishment yang dimaksud disini adalah tidak seperti hukuman

dipenjara atau potong tangan, tetapi punishment yang bersifat mendidik. Selain itu

punishment juga merupakan alat pendidikan regresif, artinya punishment ini

digunakan sebagai alat untuk menyadarkan karyawan kepada hal-hal benar. (Ngalin

Purwanto, 1998:238) membagi punishment menjadi dua macam yaitu :

1. Hukuman Prefentif

Yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud atau supaya tidak terjadi

pelanggaran. Hukuman ini bermaksud untuk mencegah agar tidak terjadi

pelanggaran dilakukannya sebelum terjadi pelanggaran dilakukan. Contoh

perintah, larangan, pengawasan, perjanjian dan ancaman.

2. Hukuman Refresif

Yaitu hukuman yang dilakukan, oleh karena adanya dosa yang telah

diperbuat. Jadi hukuman itu terjadi setelah terjadi kesalahan.

2.11 Pemasaran (M5/MARKETING)

a.Indeks Kepuasan Masyarakat


51

Kepuasan masyarakat merupakan faktor yang sangat penting dan

menentukan keberhasilan suatu badan usaha karena masyarakat adalah konsumen

dari produk yang dihasilkannya. Hal ini didukung oleh pernyataan Hoffman dan

Beteson (1997), yaitu :”without customers,the service firm has no reason to exist”.

Definisi kepuasan masyarakat menurut Mowen (1995) :“Customers satisfaction is

defind as the overall attitudes regarding goods or services after its acquisition and

uses”.Oleh karena itu, badan usaha haru dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan

masyarakat sehingga menyebabkan ketidakpuasan masyarakat mengakibatkan

kesetiaan akan suatu produk menjadi luntur dan beralih ke produk atau layanan

yang disediakan oleh badan usaha yang lain.

Pelayanan publik yang professional, artinya pelayanan public yang dicirikan

oleh adanya akuntabilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah). Dengan cirri

sebagai bberikut :

a. Efektif

b. Sederhana

c. Kejelasan dan kepastian

d. Keterbukaan

e. Efisiensi

f. Ketepatan Waktu

g. Responsif

h. Adaptif

Berkembangnya era servqual juga memberi inspirasi pemerintah Indonesia

untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja pelayanan sektor publik. Salah satu

produk peraturan pemerintah terbaru tentang pelayanan publik yang telah


52

dikeluarkan untuk melakukan penilaian dan evaluasi terhadap kinerja unit

pelayanan publik instansi pemerintah adalah Keputusan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara Nomor: KEP- 25/M.PAN/2/2004 tanggal 24 Pebruari 2004

tentang Pedoman Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan

Instansi Pemerintah. Ke-14 indikator yang akan dijadikan instrumen pengukuran

berdasarkan keputusan menteri pendayagunaan aparatur negara di atas adalah

sebagai berikut:

 Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan

kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.

 Persyaratan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang

diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

 Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang

memberikan pelayanan (nama, jabatan, serta kewenangan dan tanggung

jawab). Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam

memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai

ketentuan yang berlaku. Tanggung jawab petugas pelayanan yaitu kejelasan

wewenang dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan dan penyelesaian

pelayanan.

 Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan keterampilan

yang dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada

masyarakat.

 Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam

waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan.


53

 Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak

membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.

 Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta

saling menghargai dan menghormati.

 Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap

besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan.

 Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan

dengan biaya yang telah ditetapkan.

 Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai

dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

 Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang

bersih, rapi dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada

penerima pelayanan.

 Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnnya tingkat keamanan lingkungan unit

penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga

masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-

resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanaan.


54

BAB 3

PENGKAJIAN

3.1 Visi, Misi, Nilai, Tujuan dan Motto RSUD Sidoarjo

3.1.1 Visi RSUD Sidoarjo

Visi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo adalah’’ Menjadi

Rumah Sakit Yang Terakriditasi Internasional dalam Pelayanan, Pendidikan dan

Penelitian’’.

Visi tersebut adalah kondisi yang akan dicapai Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2016-2021.

3.1.2 Misi RSUD Sidoarjo

Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo dengan pengupayaan

pelayanankesehatan yang bermutu dan mandiri melalui peningkatan sumber daya

rumah sakit adalah:

1. Mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan terakriditasi dengan

mengutamakan keselamatan pasien serta kepuasaan pelanggan.

2. Menyelenggarakan pendidikan , pelatihan dan penelitian kesehatahan

yang bermutu dan beretika untuk menunjang pelayanan.

3. Mewujudkan tatakelola runah sakit yang professional, integritas dan

beretika,

3.1.3 Nilai Dasar

Professional,integritas, dan beretika

Nilai dasar disusun sebagai acuan bagi rumah sakit umum daerah kabupaten

Sidoarjo dalam perilaku yang menunjang tercapainya visi dan misi. Nilai dasar
55

tersebut, nantinya diharapkan dapat menjadi budaya organisasi di Rumah Sakit

Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Nilai dasar tersebut adalah:

1. Profesionalisme

Penejelasan : keyakinan terhadap tatanan dalam memberikan

pelayanan yang berlandaskan pada kaidah ilmiah dan kaidah profesi serta

tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakt, dengan

cirri-ciri: bertanggung jawab, inovatif, kreatif, dan optimis.

2. Integritas

Penjelasan : berperilaku sebgai insane yang beriman, jujur, kerja

keras, disiplin, berkomitmen, mendahulukan kepentingan organisasi, serta

mampu menjaga keseimbangan Emotional Quotion (EQ) Intelectual

Quotion (IQ), And Spiritual quotion (SQ)

3. Etika

Penejelsan : nilai yang dijunjung tinggi dalam pergaulan dengan

klien, antar sesame anggota tim kesehatan, antaara petugas dengan

pemimpin unit kerja maupun etika dalam menjalankan profesi kesehatan

dengan klien prinsip senantiasa mengutamakan kesehatan penderita.

3.1.4 Tujuan

1. Tujuan umum

Memberikan pelayanan yang berkualitas, dan menyelenggarakan

pendidikan dan penelitian yang bermutu sesuai dengan standart akriditasi

internasional sehingga tercapainya tata kelola rumah sakit yang professional,

integritas dan beretika.


56

2. Tujuan khusus

a. Terwujudnya pelayanan yang berkualitas dan terakriditasi dengan

mengutamakan keselamatan pasien serta kepuasaan pelanggan.

b. Terselenggarannya pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan yang

bermutu dan beretika untuk menunjang pelayanan,

c. Terwujudnya tata kelola rumah sakit yang professional, integritas, dan

beretika.

3. Motto RSUD Sidoarjo

Kesembuhan pasien adalah kebahagiaan kami.

3.2 Tujuan pelayanan ruang Mawar Kuning Bawah

3.2.1 Tujuan Umum

Memberikan pelayanan kepada pasien secara profesional dan komprehensif

dengan tetap memelihara hubungan kerja efektif kepada semua anggota tim

kesehatan yang terkait dilingkungan RSUD Sidoarjo

3.3.2 Tujuan Khusus

1. Mewujudkan sistem pelayanan keperawatan dengan hubungan tata kerja

yang baik, jelas dan diketahui oleh semua pihak yang terkait

2. Terpenuhinya penerapan asuhan keperawatan sesuai dengan standart

asuhan keperawatan

3. Terpenuhinya kerja sama yang baik antara tim kesehatan dalam mengenal

pasien multiple trauma.


57

3.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan tanggal 01 Januari – 02 Januari 2018, meliputi

M1 – M5. Data yang didapat dianalisis menggunakan analisis SWOT sehingga

diperoleh beberapa rumusan masalah, kemudian dipilih satu sebagai prioritas

masalah.

3.3.1 Tenaga dan Pasien (M1 – Man)

Tabel 3.1 : Tingkat Pendidikan Tenaga Keperawatan Ruang Mawar kuning Bawah
Rsud Sidoarjo
No Kualifikasi Jumlah Ketenagaan Prosentasi
1 SI Kep 5 Perawat 15,625%
2 D3 Kep 23 Perawat 71,875%
3 SKM 1 Administrasi 3,125%
1 Administrasi,
4 SMA 9,375 %
2 helper
Total 32 100 %
Sumber : verifikator Mawar Kuning Bawah tahun 2018

Analisis ketenagaan perawat mencakup jumlah tenaga keperawatan dan non

keperawatan, dan jumlah tenaga di Mawar Kuning Bawah sebanyak 32 orang,

terdiri dari tenaga keperawatan : 28 orang (SI : 5 orang, D3 Kep : 23 Orang) Tenaga

Admininstrasi (2 orang), dan helper 2.

Tabel 3.2 Jumlah Tenaga Non Medis di Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo
Desember 2017

Jenis
No Kualifikasi Jumlah
PNS BLUD
1 SKM 1 0 1
2 SMA 3 0 3
58

Tabel 3.3 Jumlah perawat berdasarkan lama masa kerja di ruang Mawar Kuning
Bawah
No Masa Kerja Jumlah
1. Masa kerja > 5 tahun 19 Orang
2. Masa kerja < 5 tahun 9 Orang
Sumber : verifikator Mawar Kuning Bawah Tahun 2018
Berdasarkan table diatas didaptkan lama kerja perawat > 5 tahun 19 orang dan

masa kerja < 5 tahun 9 orang

a. Struktur Ruang Mawar Kuning Bawah

KEPALA RUANGAN

Arik Wiji Lestari, S.kep Ners

KOORDINATOR

Vony Andrea W, S.kep. Ners

KATIM I KATIM II KATIM III

Anggota Anggota Anggota

Pasien Pasien Pasien

Sumber data : Verivikator Mawar Kuning Bawah 2018


Gambar 3.1 Struktur Organisasi Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo
59

b. Tugas Pokok dan Fungsi

Tabel 3.4 Uraian Tugas Kepala Perawat Rawat Inap (MAKP)


Nama Kepala Perawat Rawat Inap Ruang Mawar Kuning
Jabatan
Nama Arik Wiji Lestari, S.kep., Ners
Atasan Kepala instalansi rawat inap
Langsung
Persyaratan 1. Pegawai Negeri Sipil/Pegawai Tetap BLUD RSUD
Jabatan 2. Pendidikan Sarjana Keperawatan
3. Masa kerja minimal 2 tahun di Rumah saki
4. Mempunyai kemampuan manajerial
5. Sehat jasmani dan Rohani
Tugas Mengatur dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan dan
Pokok administrasi di Instalansi Rawat inap
Fungsi A. Fungsi Perencanaan
1. Menyusun rencana kerja kepala perawat instalasi
2. Merencanakan kebutuhan tenaga dan sarana prasarana
3. Merencanakan jenis asuhan keperawatan yang akan
diselenggarakan
B. fungsi Pengorganisasian
1. Mengkoordinasikan semua kegiatan pelayanan keperawatan dan
administrasi di istalasi rawat inap
2. Memberikan pengarahan dan bimbingan pada case manajer,katim,
perawat pelaksana dan staf administrasi
C. fungsi Pelaksanaan
1. Melaksanakan morning report
2. Melaksanakan rapat bulanan dengan seluruh staf
3. Mengelompokkan pasien sesuai kebutuhan
4. Memberikan orientasi tenaga dan mahsiswa baru
5. Memberikan bimbingan keperawatan tentang pelayanan
keperawatan pada semua staf
6. Membuat daftar dinas dan pembagian tugas perawat
7. Melaksanakan tugas pokja akreditasi
8. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
D. fungsi Pengawasan
1. Melakukan supervisi dan penilaian kinerja staf
2. Monitoring dan evalusi pelayanan keperawatan
3. Memantau kelengkapan dokumentasi rekam medisk
4. Melakukan validasi indikator mutu unit
5. Monitoring dan evalusi sarana prasarana
Tugas 1. Sebagai anggota kelompok kerja akreditsi
Tambahan 2. Sebagai instruktur klinik rawat inap
We 1. Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan
wenang 2. Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan
3. Mengawasi, mengendalikan, dan menilai pendayagunaan staf,
sarana prasara dan mutu asuhan keperawatan di instalasi rawat
inap
60

Tanggung Dalam melaksanakan tugas secara teknis profesi bertanggung jawab


Jawab kepada bidang keperawatan

Tabel 3.5 Uraian Tugas Ketua Tim Keperawatan


Nama Jabatan Ketua Tim Keperawatan Instalasi Rawat Inap
Nama Ratna Wijayanti
Umi Nur Diana
Anita Yuspita
Titin Dwi Jayanti
Atasan Langsung Kepala Perawat Instalasi Rawat Inap Mawar Kuning
Persyaratan 1. Pegawai Negeri Sipil / Pegawai Tetap BLUD RSUD
Jabatan 2. Masa kerja minimal 2 tahun di RS
3. Pendidikan S1 Keperawatan
4. Memiliki sertifikat pelatihan Instruktur klinik
5. Sehat jasmani dan rohani
Bawahan Perawat pelaksana dan Helper
Fungsi 1. Mengelola asuhan / pelayanan keperawatan di ruang rawat
inap
2. Melaksanakan fungsi kolaborasi dengan tim kesehatan lain
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan kepada
perawat / bidan baru
4. Melaksanakan dan memberikan pendidikan kesehatan kepada
pasien dan keluarga
5. Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan
asuhan / pelayanan keperawatan di ruang rawat inap guna
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
6. Mendukung terlaksananya program pasient safety
7. Melakukan kelengkapan entry data riil
time,mendokumentasikan asuhan keperawatan, mengisi kode
diangnosa medis
8. Bertanggung Jawab terhadap kebenaran kelengkapan Rekam
Medis
Tugas Utama Melakukan pengendalian,pemantauan dan evaluasi kegiatan
asuhan/pelayanan keperawatan diruang rawat inap guna
peningkatan mutu pelayanan keperawatan
Tugas Tambahan Sebagai Instruktur klinik di Ruang rawat inap
Kewenangan 1. Mengatur dan membimbing serta memberi arahan kepada
perawat yang menjadi tanggung jawabnya
2. Melakukan kolaborasi dengan Tim kesehatan lain
3. Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan kepala
perawat instalasi
4. Melakukan asuhan dan pelayanan keperawatan yang
komprehensif dan prima kepada semua pasien yang menjadi
tanggung jawabnya
5. Mendelegasikan kepada perawat penanggung jawab /senior
apabila sedang tidak bertugas atau dinas luar ( berhalangan )
6. Menghadiri rapat apabila atasan berhalangan hadir
61

Tanggung Jawab Bertanggung jawab kepada Kepala Perawat Instalasi Irna dalam
hal :
1. Bertanggung jawab terhadap kebenaran pengkajian
data,diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan ;
2. Bertanggung jawab terhadap kebenaran pelayanan asuhan
keperawatan ,tindakan keperawatan ,evaluasi, resume
keperawatan dan dokumrntasi keperawatan;
3. Bertanggung jawab terhadap kebenaran dan ketepatan
pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada pasien dan
keluarga
4. Bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan
pelayanan keperawatan / kesehatan paada pasien serta
berkolaborasi dengan tim kesehatan lain;
5. Bertanggung jawab terhadap kelengkapan dan kebenaran
informasi kepada pasien tentang dokter dan perawat yang
bertanggung jawab pada hari itu;
6. Bertanggumg jawab terhadap keelngkapan dan kebenaran isi
dokumen asuhan keperawatan
7. Bertanggung jawab terhadap kebenaran dan kelengkapan
laporan dan dokumentasi asuhan keperawatan
Koordinasi 1.Kepala Instalasi
2.Kepala Perawat Instalasi
3.Bagian Farmasi
4. Bagian RTP
5. Bagian IPS
6. Kamar Jenazah

Tabel 3.6. Uraian tugas perawat pelaksana keperawatan rawat inap


Nama Jabatan Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap
Atasan Kepala Perawat Instalasi Rawat Inap
Langsung
Bawahan -
Langsung
Job Spesifik 1. Perawat
2. PNS atau pegawai tetap BLUD
3. Pendidikan minimal D3 Keperawatan dengan masa kerja 2
tahun
4. Pelatihan menejemen data
5. Sehat jasmani dan rohani
Tugas Pokok Mengendalikan kegiatan pengukuran indicator kunci rumah sakit
(indicator unit kerja, standar pelayanan minimal (SPM),
menejemen resiko, clinireal, pathway, surveillance PPI, asuhan
keperawatan)
Fungsi a. Fungsi perencanaan
6. Merencanakan dan menyusun jadwal kegiatan pengukuran
indicator
62

7. Merencanakan pelaksanaan menejemen mutu


b. Fungsi Pengorganisasian dan Pelaksanaan
1. Menyelenggarakan pelaksanaan kegiatan pengukuran
indicator mutu mulai dari pengumpulan data, analisa,
evaluasi sampai dengan penyajian dast board
2. Melakukan rapat koordinasi dengan tim mutu RS
c. Fungsi Pengawasan
1. Monitoring dan evaluasi program kegiatan mutu di
instalasi
2. Melaporkan hasiln evalusi indicator mutu instalasi ke tim
mutu rumah sakit setiap tanggal 10 bulan berikutnya
Tugas 1. Sebagai ketua tim memberi asuhan keperawatan
tambahan 2. Melakukan tugas lain yang diberikan kepala instalasi
rawat inap
Wewenang 1. Meminta informasi dan pengarahan tentang kegiatan mutu
kepada kepala instalasi
2. Memberikan petunjuk dan informasi dalam pelalaksanaan
menejemen mutu di instalasi
3. Menambung dan menanggulangi tentang penyampaikan
laporan kejadian tentang hasil pantauan mutu di instalasi
4. Memantu mengatasi masalah yang timul dalam
pelaksanaan kegiatasn mutu di instalasi
Tanggung Bertanggung jawab kepada kepala instalasi dalam hal:
jawab 1. Kebenaran dan ketepatan dalam mengendalikan semua
kegiatan mutu di instalasi
2. Kebenaran dan ketepatan dalam membuat semua laporan
kegiatan mutu di instalasi
Kewenangan Dalam melaksanakan tugasnya perawat pelaksana mempunyai
wewenang sbb:
1. Meminta informasi dan petunjuk kepada atasan
2. Memberikan asuha keperawatan kepada pasien / keluarga
pasien sesuai kemampuannya dan batas kewenangannya
Tanggung Bertanggung jawab kepada Kepala Perawat Instalasi rawat inap
Jawab terhadap:
1. Kebenaran dan ketepatan dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai standar
2. Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan
pelaksanaan asuhan keperawatan / kegiatan lain yang dilakukan
63

c. Tenaga Keperawatan Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo

Tabel 3.7 : Pelatihan Teanga Keperawatan Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD
Sidoarjo

JUM
NAMA
NO PENDIDIKAN PELATIHAN LAH
PERAWAT
SDM
BLS, BCLS, ECG, APAR,
1 Arik Wiji L S.Kep,.Ns Konselor HIV, CI, Preceptor 9
Klinik, MPKP, M.Bangsal
S.kep,. Ns BLS, BCLS, ECG, HIV, Apar,
2 Voni Andrea W 9
Dalin, Cust Servis, SKP, M.Nyeri.
D3 Kep PPGD, BLS, BCLS, Konselor
3 Umi Nur Diana HIV, PPI, TB Dost, Rawat Luka, 9
Perawatan Luka Bakar, Apar
D3 Kep PPGD, BLS, BCLS, ECG, HIV.
4 Ratna W 6
Apar
D3 Kep BCLS, ECG, Dalin, HIV, Safety
5 M. Edy K 7
Patient, Servis Excelent, Apar
6 Eko F D3 Kep BLS, BCLS, Rawat Luka, Apar 4
7 Ari Dian F D3 Kep BTCLS, Apar 2
D3 Kep BLS, BTCLS, PPI, Cust Service,
8 Ika Yulia W.S 5
Apar
D3 Kep BLS, BCLS, PPI Dasar, ECG,
9 Mila A 6
Apar
10 A. Miftahul R D3 Kep BLS, Apar 2
11 Anita Y D3 Kep BLS, Cust Service, Apar 3
12 Yulita P.S S.kep,.Ns BLS, ECG, Excelen Service, Apar 4
D3 Kep BLS, Apar, Cust Service,
13 Rizki A 5
Phlebotomy, Hyperkes
14 Ach. Fajar S S.kep,.Ns BTCLS, Apar 2
15 Noveri R D3 Kep BLS, Apar 2
16 Milehatul S.kep,.Ns BLS, Pengambilan sampel darah 2
D3 Kep BCLS, ECG, Dalin, HIV/ AIDS,
17 Fredy L Cust Service, Intensive care unit, 7
Apar
18 Isnawati D3 Kep 0
19 M Herles .B.K D3 Kep Apar, HIV/AIDS 2
D3 Kep PPGD, BLS, Perawatan Luka,
20 Atik S 5
Cust Service, Apar
21 Eko P.T.S D3 Kep Rawat Luka, Apar, BLS 3
D3 Kep BLS & ECB, BLS, PPI, Cust
22 Prakam Tri 4
Service
D3 Kep BLS, BCLS, ECG, HIV/AIDS,
23 Titin D.J 6
Cust Service, Apar
64

JUM
NAMA
NO PENDIDIKAN PELATIHAN LAH
PERAWAT
SDM
24 Pristian D3 Kep PPGD, BCLS, EKG, Apar 4
25 Andit. K D3 Kep BLS, BCLS, Apar, Triage 4
26 Moch. Irfan Z D3 Kep BLS, Apar 2
27 Ervia N.H D3 Kep PPGD, BLS, BCLS, Apar 4
28 Siswanto D3 Kep BLS, ECG, BCLS, PPGD, Apar 5
Sumber : Verivikator Mawar Kuning Bawah 2018

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 2 Januari 2018 dengan kepala tim

ruangan Mawar Kuning Bawah diketahui bahwa perawat di ruangan sudah pernah

mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan Rumah Sakit baik Indoor/ Outdoor.

d. Kebutuhan ketenagaan
Jumlah tenaga yang diperlukan bergantung dari jumlah pasien dan tingkat
ketergantungannya. Klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu :

1) Keperawatan langsung
 Perawatan minimal 26 orang, memerlukan waktu 1-2 jam sehari
26 x 2 jam = 52 jam
 Perawatan parsial 18, memerlukan waktu 3-4 jam sehari
18 x 3 jam = 54 jam
 Perawatan Total 6 memerlukan waktu 6 jam sehari
6 x 6 jam = 36 jam
2) Keperawatan tidak langsung : 50 pasien x 1 jam = 50 jam
3) Penyuluhan kesehatan: 50 x 0,25 jam = 12.5 jam
Total jam keseluruhan adalah 52 jam + 54 jam + 36 jam + 50 jam + 12,5 jam
= 204,5 jam
4) Menentukan jumlah total jam keperawatan yang dibutuhkan per pasien
perhari adalah 204,5 jam : 50 pasien = 4 jam
65

Pengaturan tenaga kerja berdasarkan tingkat ketergantungan pasien dibagi


menjadi 3 sift menurut teori Gillies 1989.

1. Proporsi dinas pagi 47%


2. Proporsi dinas siang 36%
3. Proporsi dinas malam 17%
Pasien yan
66

KEBUTUHAN TENAGA PERAWAT TIAP SIFT BERDASARKAN TINGKAT KETERGANTUNGAN


DI RUANG MAWAR MERAH BARA RSUD SIDOARJO

Jumlah Kebutuhan Tenaga


Kualifikasi Pasien
01 Januari 2018 02 Januari 2018 03 Januari 2018
Tingkat Jumlah Jumlah Jumlah
Pagi Sore Malam Pagi Sore malam Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien Pasien Pasien
Minimal 26 26x0,17 = 26x0,14= 26x0,07= 24 24x0,17 24x0,14 24x0,07 23 23x0,17 23x0,14 23x0,07
4,42 3,64 1,82 =4,08 =3,36 =1,68 =3,91 =3,22 =1,61
Partial 18 18x0,27 = 18x0,15= 18x0,10= 18 18x0,27 18x0,15 18x0,10 15 15x0,27 15x0,15 15x0,10
4,86 2,7 1,8 =4,86 =2,7 =1,8 =4,05 =2,25 =1,65
Total 6 6x0,36= 6x0,3=1,8 6x0,20=1,2 6 6x0,36= 6x0,3=1 6x0,20= 6 6x0,36= 6x0,3=1, 6x0,20=
1,56 2,16 ,8 1,2 2,16 8 1,2

Jumlah 50 10,84 8,14 4,82 48 11,1 7,86 4,68 44 10,12 7,27 4,46
11 8 5 11 8 5 10 7 4

01 Januari 2018 02 Januari 2018 03 Januari 2018


Total Tenaga Perawat : Total Tenaga Perawat : Total Tenaga Perawat :
Pagi : 11 orang Pagi : 11 orang Pagi : 10 orang
Sore : 8 orang Sore : 8 orang Sore : 7 orang
Malam : 5 orang Malam : 5 orang Malam : 4 orang
67

24 Orang 24 orang 21 orang

Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari : Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari : Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari :

74 x 24 74 x 24 74 x 21
= 6,10 = 6 orang = 6,10 = 6 orang = 5,34 = 5 orang

291 291 291

Sumber : Metode Douglas 1984 (dalam Swanburg & Swansburg, 1999)


68

Menentukan jumlah tenaga kerja :

4 jam/pasien/hari x rata-rata pasien/hari (BOR x TT) x 365 hari

(365 hari – 74 ) x 7 jam

4 x (80,23 x 62) x 365


=
(365 − 74) x 7

4 x 49,7x 365
=
2.037

= 35, 6 = 36 (Orang)

47
𝑃𝑎𝑔𝑖 = 𝑥 36 = 16,9 = 17 (𝑂𝑟𝑎𝑛𝑔)
100

36
𝑆𝑜𝑟𝑒 = 𝑥 36 = 12,9 = 13 (𝑂𝑟𝑎𝑛𝑔)
100

17
𝑀𝑎𝑙𝑎𝑚 = 𝑥 36 = 6,12 = 6 (𝑂𝑟𝑎𝑛𝑔)
100

Untuk menurunkan tingkat ketergantungan pasien kelompok menggunakan

klasifikasi dan kriteria tingkat ketergantungan berdasarkan orem, yaitu teori self

care defisit sedangkan menurut Sitorus, 2006 untuk mengetahui jumlah tenaga yang

dibutuhkan menggunakan perhitungan tenaga.

Berdasarkan penghitungan tersebut pada tanggal 2 Januari 2018 bahwa

kebutuhan ketenagaan perawat diruang Mawar Kuning Bawah jumlah perawat

sebanyak 35 orang.
69

e. Laporan BOR, ALOS, TOI, BTO Mawar Kuning Bawah Bulan Desember 2017

Pasien Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Perincian Jumlah Pasien Pasien Perincian
Awal nya nya nya nya nya pasien lama keluar sisa jumlah
pasien pasien pasien pasien mati dirawat masuk (yang hari
masuk pindah dipindah keluar (9+10) <48 48 di hari masih H Kel
kan hidup jam jam yang dirawat) C III
dan sama U
lebih
1872 690 1 148 232 9 - 3 1542 - 330 14 330
Jumlah Jumlah
1507 389

1542 1542
BOR = 𝑥 100% = x 100% = 80,23 %
62 x 31 1922

1542
ALOS = = 6,31 hari
244
70

( 62 𝑥 31 ) – (1208)
TOI = = 2,92 hari
244

244
BTO = = 3,93 Kali (4)
62
71

f. Tabel BOR Kelolaan Ruang Mawar Kuning Bawah

No Pengkajian Hari / tanggal Pukul Kelas III BOR


1 Senin, 01 Januari 2018 11.00 WIB 62 Bed ( terisi 50 ) 50/62 x 100 = 80,64 %
2 Selasa, 02 Januari 2018 11.00 WIB 62 Bed ( terisi 48 ) 48/62 x 100 = 77,41 %
3 Rabu, 03 Januari 2018 11.00 WIB 62 Bed ( terisi 44 ) 44/62 x 100 = 70,96 %

Ket :

 BOR (Bed Occupancy Ratio): Angka penggunaan tempat tidur. Nilai ideal

menurut Depkes RI, 2005 adalah 60-85%

 ALOS (Averange Lenght Of Stay): Rata-rata lamanya pasien dirawat. Nilai

ideal menurut Depkes RI, 2005 adalah 6-uj9 hari

 TOI ( Turn Over Interval) : Tenggang Perputaran tempat Tidur. Nilai ideal

menurut Depkes RI, 2005 adalah 1-3 hari

 BTO (Bed Turn Over): Frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu

periode. Nilai ideal menurut Depkes RI, 2005 adalah 40-50 kali.

Berdasarkan hasil perhitungan, rata- rata BOR pasien Ruang mawar kuning

bawah mahasiswa praktik managemen keperawatan dilakukan pengkajian selama

3 hari.

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan kelompok yang dimulai tanggal 1

Januari 2018, beban kerja perawat berdasarkan penghitungan work sampling rata-

rata beban perawat pershift diruang Mawar Kuning Bawah .


72

g. Diagnosis Penyakit Terbanyak

Terdapat Diagnosis Penyakit terbanyak yang ada di ruang Mawar Kuning

Bawah Rsud Sidoarjo pada bulan Desember 2017 yang tertinggi adalah Diarhoea

And Gasttroenteritis Of Presumed sebanyak 83 orang pada bulan Desember 2017.

Tabel 3.9 Diagnosis Penyakit Terbanyak Ruang Mawar Kuning Bawah Bulan
Desember Tahun 2017
No Diagnosa Jumlah %
1 Diarhoea And Gasttroenteritis Of 83 10,56%
Presumed
2 Infectious Origin, 44 5,60%
3 Nausea And Vomiting 42 5,34%
4 Cerebral Infraction, Unspecified 22 2,80%
5 Fever, Unspecified 22 2,80%
6 Concussion 20 2,54%
7 Volume Depletion 18 2,29%
8 End-Stage Renal Disease 17 2,16%
9 Bronchopneumonia, Unspecified 13 1,65%
10 Benign Neoplasm Of Breast 13 1,65%
Total 294 100%
Sumber data : Administrasi

Dari tabel diatas didapatkan bahwa diagnosa penyakit terbanyak di ruang

Mawar Kuning Bawah adalah Diarhoea And Gasttroenteritis Of Presumed 83 orang

dengan presentase (10,56%).

h. Perhitungan Beban kerja Perawat

Penghitungan beban kerja perawat (Time and Motion Study). Pengukuran

beban kerja objektif dilakukan untuk mengetahui dalam melaksanakan aktifitas

baik untuk tugas pokok, tugas penunjang, kepentingan pribadi dan lain-lain.

Pembagian jam kerja secara normatif pada setiap pada setiap sift pada ruang Mawar

Kuning Bawah sebagai berikut.

a. Sift pagi dimulai pukul 07.00 – 14.00 (7 jam)

b. Sift siang di mulai pukul 14.00-21.00 (6 jam)

c. Sift malam di mulai pukul 21.00-07.00 (11 jam)


73

3.3.2 Sarana Dan Prasarana (M2- Material)

Manajemen keperawatan dan kegiatan pembelajaran pada mahasiswa

Praktek Manajemen Keperawatan Program Profesi Ners Stikes Dian Husada

Mojokerto mengambil tempat di Rawat Inap Mawar Kuning Bawah RSUD

Sidoarjo, dengan alamat Jl. Mojopahit No.667, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten

Sidoarjo, Jawa Timur 61215 Jawa Timur. Pengkajian data awal dilakukan pada

tanggal 01 Januari 2018. Data-data yang diperoleh antara lain:

A. Penataan gedung / Lokasi dan denah ruangan

a) Lokasi Ruang mawar kuning bawah

 Sebelah Utara : berbatasan dengan ruang laboratorium pa

 Sebelah selatan : berbatasan dengan ruang hemodiialisa

 Sebelah barat : berbatasan dengan ruang gizi, gudang umum

 Sebelah timur : berbatasan dengan ruang teratai

NO RUANG JUMLAH BED


1 A-H 48
2 HCU 4
3 COMBUSTIO 6
4 REMONA 1 2
5 REMONA 2 2
TOTAL 62

Mawar kuning terdiri dari 2 lantai, lantai 1 mawar kuning bawah, lantai 2

mawar kuning atas. Mawar kuning bawah meliputi ruang rawat inap HCU, ruangan

kelas 3, ruang perawat, ruang sentralisasi obat, kamar mandi, ruang mahasiswa,

ruang administrasi, ruang farmasi . Dan total kapasitas ruang rawat inap terdapat 62

TT, Pada lantai 1 terdiri dari 10 ruangan, yang ruangan HCU ada 4 TT, ruang
74

combustio 6 TT, ruang remona terdiri 2 ruangan 1 ada 2 TT total semua 4 TT kelas

3 ada 8 ruang tiap ruang ada 6 TT sehingga total ada 48 TT.

B. Denah Ruang Mawar Kuning Bawah

I
2 1 M SI
E E R.E R.D R.C D MA R.B R.A
R R A FAR

R.PE
R.F R.G R.H RA HCU R.J
WA
T

Gambar Denah Mawar Kuning Bawah

: Pintu

: lift

: Ruang obat

: Tangga

C. Fasilitas dan Sarana Prasarana

1) Fasilitas untuk pasien

Pada tanggal 01 Januari 2018 dilakukan observasi, dan di dapatkan hasil di

ruang mawar kuning bawah sudah memiliki fasilitas, baik untuk pasien dan tenaga

kesehatan. Sumber listrik yang digunakan adalah dari PLN. Sumber air

menggunakan air PDAM. Standar fasilitas dimasing-masing ruang untuk pasien

adalah sebagai berikut :


75

a) Fasilitas di Ruang Pasien Mawar Kuning Bawah

NO RUANG FASILITAS JUMLAH

1. A-H  Tempat tidur pasien 48


 Bedside cabinet 48
 Standart infus 48
 Overbed table 48
 Kursi kayu 48
 Kipas angina 48
8
 Jemuran handuk
8
 Wastafel
32
 Oksigen central 8
 Jam dinding 16
 Pispot 16
 Urinal 8
 Meja makan 8
 Kamar mandi/WC 2
 Tempat sampah medis dan non medis
2. HCU  Tempat tidur pasien 4
 Loker arsip 2
 Meja ½ biro 1
 nebulizer 2
 almari pasien 4
 troli obat 1
4
 kursi kayu
2
 AC
4
 Bed side monitor 4
 Meja pasien 2
 Syringe pump 1
 Suction pump 4
 Standart infus 1
 Kamar mandi/WC 1
 Tempat sampah medis non medis 1
 Tempat sampah medis dan non medis
3. Combustio  Bed Pasien 3 Crank 6
(I)  Bedside Cabinet 6
 AC split PK 2
 Standar Infus 6
 Over Bed Table 6
 Kursi Kayu 6
2
 Kipas Angin Dinding
1
 Jemuran Handuk
1
 Wastafel Di Depan Kamar Mandi 4
 Oksigen Sentral 4 Titik
76

 Jam Dinding 1
 Pisapot 2
 Urinal 2
 Meja Makanan 1
 Tempat Sampah Medis Non Medis 2

4 Remona  Tempat tidur pasien 4


1-2  Bedside cabinet 0
 Standart infus 4
 Overbed table 4
 Kursi kayu 4
 Kipas angina 2
0
 Jemuran handuk
1
 Wastafel
0
 Oksigen central 0
 Jam dinding 2
 Pispot 2
 Urinal 0
 Meja makan 1
 Kamar mandi/WC 2
 Tempat sampah medis dan non medis

a) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang A terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot
77

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

b) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang B terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

c) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang C terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu
78

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

d) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang D terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis


79

e) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang E terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

f) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang F terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi


80

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

g) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang G terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

h) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang H terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet
81

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

i) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang (HCU) I terdiri dari:

 4 Bed Pasien 3 Crank

 4 Bedside Cabinet

 4 Standar Infus

 2 Loker arsip

 1 Meja ½ biro

 1 troli obat

 5 almari pasien

 2 nebulezer

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 2 unit AC
82

 2 syringe pump

 6 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

j) Fasilitas di Ruang Pasien kelas III, ruang (Combustio) J terdiri dari:

 6 Bed Pasien 3 Crank

 6 Bedside Cabinet

 2 AC split PK

 6 Standar Infus

 6 Over Bed Table

 6 Kursi Kayu

 2 Kipas Angin Dinding

 1 Jemuran Handuk

 1 Wastafel Di Depan Kamar Mandi

 4 Oksigen Sentral 4 Titik

 1 Jam Dinding

 2 Pisapot

 2 Urinal
83

 1 Meja Makanan

 2 Tempat Sampah Medis Non Medis

k) Remona 1-2

 4 Tempat tidur pasien \

 0 Bedside cabinet

 4 Standart infus

 4 Overbed table

 4 Kursi kayu

 2 Kipas angina

 1 Jemuran handuk

 1 Wastafel

 4 Oksigen central

 1 Jam dinding

 2 Pispot

 2 Urinal

 1 Meja makan

 1 Kamar mandi/WC

 2 Tempat sampah medis dan non medis


84

D. Fasilitas untuk petugas kesehatan

1) Ruang Kepala Ruangan terletak di lantai 2 belakang rung perawat

memiliki 1buah AC, 1 kompute, 1 buah prinan.

2) Nurse Station terpisah dengan ruang kepala ruangan, yang mana

terletak dilantai 1 depan ruangan farmasi. Sedangkan ruangan

administrasi terletak di sebelah kanan lift lantai 1.

3) Ruang tindakan/ ruang obat terletak sebelah kiri ruang perawat yang

terdiri dari 2 trolly obat, 2 tensimeter dan 1 alat suction.

4) Ruang Sholat terletak di ruang edukasi.

5) Ruang Penyuluhan terletak di depan ruang remona

Standar fasilitas dimasing-masing ruang untuk tenaga kesehatan adalah sebagai

berikut :

NO RUANG FASILITAS Jumlah


1 Kepala Ruangan  Ac 1
 Komputer 1
 Printer 1
 Lemari 2
 Kursi 1
 Meja 1
1
 Jam
2 Ruang perawat (  Meja kayu kantor 4
nurse station)  unit AC 2
 jam dinding 1
 telepon 1
 almari untuk 2
penyimpanan berkas
 komputer dan print 1
1
 tempat sampah non medis
1
 tempat sampah medis
1
 unit tv 21inci 8
 kursi tempat duduk 4
 papan tulis 1
 troli status 6
 tensi meter 1
 unit Ekg troli 1
85

 lemari berkas 1
 lemari inventaris medis

3 Ruang  buah almari 1


Tindakan/  buah troli 3
Ruang Obat  tempat sampah medis 2
 tempat sampah non medis 2
 safetybox 2
 Meja kayu 2

E. DAFTAR INVENTARIS ALAT NON MEDIS RUANG MAWAR KUNING BAWAH


2 JANUARI 2018
Tahun Rencana
No. Nama Barang Merek Jumlah B C R
Perolehan Tindak Lanjut
1 AC 7 7
2 Apar 5 5
3 Bak mandi 14 14
4 Bedside cabinet Paramount 24 24
5 Bedside cabinet Max 19 19
6 Bedside cabinet besi 15 10 5
7 Box ambil darah 2 2
9 Brangkart 2 2
10 Closet duduk 14 14
11 Computer layar datar Hp 3 3
13 Dispenser Modena 1 1
14 Dresingkart 5 5
15 Ember steenlis 12 12
16 Gayung 12 12
17 Handle kamar mandi 12 12
18 Jam dinding 13 13
19 Kipas angina 54 54

20 Kontainer cucian 5 5
bersih plastic
21 Kontainer cucian 1 1
bersih steenlist
Kulkas minum
1
23 perawat Sharp 1
24 Kulkas obat Desimal Smart 1 1
86

25 Kursi kantor Verona 2 2


26 Kursi kantor Polaris 2 2
27 Kursi kayu 52 52
28 Kursi lipat 14 14
29 Kursi penunggu stenlis / kayu 3 3
pasien panjang
30 Kursi roda dewasa 3 3
31 Lampu emergenci 1 1

32 Lemari bahan habis 3 3


pakai
33 Lemari berkas 1 1
Lemari inventaris alat
34 1 1
medis
35 Lemari laken 1 1
Lemari sentralisasi
36 2 2
cairan
37 Loker perawat kayu / stenlis 4 4
38 Manometer O2 sentral Gentec 5 5
39 Manometer O2 sentral Flow meter 4 4
40 Manometer O2 sentral tidak ada merk 6 6
43 Meja kayu kantor 4 4
44 Meja kayu pasien 18 18
45 Meja komputer 2 2
46 O2 transport 2 2
47 Penghancur kertas 1 1
48 Pesawat tilp 2 2
49 Pispot 17 17
50 Printer Hp 2 1 1
51 Rak Jemuran 4 4
52 Rak sepatu 1 1
53 Standar infus 28 28
54 Tempat sampah medis 13 13
55 Tempat sampah non
13 13
medis
56 Tempat tidur pasien Supramak 14 14
58 Tempat tidur pasien Polimedikal 12 12
59 Tempat tidur pasien Besi 8 8
60 Tempat tidur pasien Paramount 28 28
63 Troli sentalisasi obat 3 3
64 Troly ECG 1 1
65 TV 21 inch 2 2
87

66 TV 32 inch 2 2
67 Urinal 22 22
68 Overbed table 18 18

F. DAFTAR INVENTARIS ALAT MEDIS RUANG MAWAR KUNING BAWAH


2 JANUARI 2018
Rencana
Tahun
No. Nama Barang Merek Jumlah B C R Tindak
Perolehan
Lanjut
1 Alat baca rotgen 2016 one med 1 1
2 Alat GDA stik 2016 on call plus 1 1
3 Ambubag 3 3
4 Bak injeksi 4 4
5 Beban 1/2 Kg 8 8
6 Beban traksi 1 Kg 7 7
7 Beban traksi 2 Kg 7 7
8 Beban traksi 5 Kg 5 5
Spacelabs
Bed Side monitor type 1 1
9 ultraview
Uzumu type
1
10 Bed Side monitor visio ecco 1
Omni Altus
2
11 Bed Side monitor III 2
Zoll E series
Defibrilator SN AB12CO 1 1
12 19348
13 ECG 3 Channel Fukuda 2 1 1 di kembalikan
aesculap,
merk 2cpf
Gunting gip electric 2014 1 1
SN 30-2110-
14 22
15 Gunting gip manual 2 2
16 Hammer 4 4
Terumo 1
unit, B braun 1
17 Infus pump 1 Unit 1
18 Kabel ECG 10 Fukuda 1 1
Kabel ECG for patient
Uzumzu 1
19 monitor 1
20 Lampu emergency 1 1
21 Limb elektroda ECG 1 1
88

Pulmo
Nebuleser aide/pulmo 2 2
22 mate
O2 Tabung Paket Im3 Ed
1
23 AED 121108 1
24 Stetoskop dewasa Litman 2 2
25 Strecter GEA 2 2
26 Suctione Thomas 1 1
Suctione continuos MGE SAM
1
27 (WSD) 18 1
Suctione continuos
2014 2
28 (WSD) 2
Terumo 2
Syringe pump unit, B braun 9 9
29 2 unit,
30 Tensi berdiri 2017 Erka 2 2
31 Tensimeter digital Omron 2 2
32 Termometer digital Abn 1 1
Hortman duo
1
33 Termometer mercury 2014 scan 1
Troley Emergency
1
34 paket AED 1
35 Termometer 2017 Microlife 1 1
Saturasi Schiller
36 Argus OXM 2017 1 1

2) Standar Fasilitas Tabel

Sumber data :

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pada dinas pagi tanggal 02

januari 2018 didapatkan bahwa peralatan yang ada di ruangan mawar kuning

bawah sudah lengkap dan perawat mengerti cara menggunakan alat-alat

keperawatan.

3) Dokumentasi

Dokumentasi yang dimiliki juga sudah memadai misalnya: admintrasi

ruangan, cleaning service yang membersihkan ruangan tiap hari. Kondisi

dokumentasi cukup baik seperti: buku observasi TTV, buku timbang terima, lembar
89

diet pasien, buku laboratorium, buku visite dokter, buku return obat, buku perbaikan

ips-ipe, buku kartu penunggu, buku inventaris ruangan.

3.1.3 Metode (M3-Method)

1. Penerapan MAKP

Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) adalah suatu sistem

(struktur, proses dan nilai-nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur

pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian

asuhan tersebut (Nursalam, 2012). Unsur dasar dalam menetukan pemilihan MAKP

dapat didasarkan pertimbangan yang sesuai dengan misi dan visi institusi, dapat

diterapkan proses asuhan keperawatan dan asuhan keperawatan, efesien dan efektif

penggunaan biaya, terpenuhinya kepuasan klien keluarga dan masyarakat,

kepuasan kinerja kerja dan MAKP nya. Menurut Grant & Massey (1997) ada 4

model MAKP yang sudah ada dan terus dikembangkan dalam menghadapi tren

pelayanan keperwatan yaitu MAKP fungsional, MAKP kasus, MAKP primer,

MAKP tim.

Kepala Ruangan
Koordinator

Ketua Tim 1 Ketua Tim 2 Ketua Tim 3

Perawat Pelaksana
Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana

Pasien / Klien Pasien / Klien Pasien / Klien

Gambar 2.8 Penerapan MAKP Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo
90

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan pada taggal 02 Januari 2017,

Model asuhan keperawatan professional di Ruang Mawar Kuning Bawah saat ini

menggunakan metode tim. dikarenakan kualifikasi perawat S1 keperawatan

berjumlah 5 orang, D3 keperawatan berjumlah 23 orang, Non Medis berjumlah 7

orang. Sehingga belum mencukupi untuk dilaksanakan model MAKP primer.

Komunikasi antar profesi terlaksana dengan baik, pendokumentasian keperawatan

sudah cukup baik namun terkadang masih harus ada bimbingan dari Kepala

Ruangan. Secara keseluruhan MAKP tim yang diterapkan diruangan sudah bisa

berjalan dengan lancar dan sudah cukup maksimal.

2. Penerimaan Pasien Baru

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat pada tanggal 02 Januari 2018

Penerimaan pasien baru di ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo dimulai

pasien yang akan masuk rumah sakit, dari IGD menghubungi terlebih dahulu Ruang

Mawar Kuning Bawah dan dari poli ataupun ruangan lain. Ruang Mawar Kuning

Bawah akan menyiapkan kamar, setelah kamar pasien sudah siap, kemudian pasien

datang dilakukan identifikasi pasien dan dicocokkan dengan berkas RM, pasien

ditidurkan sesuai dengan ruang kebutuhan pasien, operan status pasien dengan

petugas yang mengantar dengan menggunakan transfer dan harus ditanda tangani

oleh pengantar dan penerima pasien, kemudian perawat melakukan pengkajian

keperawatan meliputi :

1. Salam perkenalkan diri perawat yang merawat

2. Identifikasi pasien

3. Keluhan pasien

4. RPS-RPD-RPK
91

5. Assesment + gizi (dengan mengisi skor gizi)

6. Resiko jatuh (dengan mengisi blanko resiko jatuh)

7. Nyeri (intervensi nyeri), mengisi blanko nyeri, TTD px pada lembar edukasi

8. HPK yang ada pada lembar edukasi (TTD px dilembar edukasi) dengan

menggunakan lembar balik

9. Penggunaan alat-alat medis yang aman (TTD px)

10. Menerangkan fungsi gelang

11. Menerangkan dokter penanggung jawab (DPJP)

12. Keluarga dipersilahkan menuju kantor untuk pengisian informs pasien baru

dan lembar edukasi untuk ditanda tangani

Pasien

IGD IRJ

MRS
92

Gambar 3.4 Alur Penerimaan Pasien Baru di Ruang Mawar Kuning Bawah

3. Timbang Terima

Berdasarkan wawancara kepada beberapa perawat pada tanggal 02 Januari

2018, Timbang terima dilakukan tiga sift dalam sehari atau pergantian sift, dimana

pergantian sift malam ke pagi dilakukan pada jam 07.00 WIB, Sift pagi ke shift sore

dilakukan pada jam 14.00 dan sift sore ke sift malam dilakukan pada jam 21.00

WIB. Setiap timbang terima dihadiri oleh perawat yang bertugas serta didampingi

katim. Timbang terima dilakukan setiap pergantian shift di ruang Nurse Station

setelah itu perawat yang bertugas berkeliling ke kamar pasien untuk melihat kondisi

pasien secara langsung, serta menginformasikan pergantian perawat yang bertugas

kepada pasien. Timbang terima yang isinya informasi tentang identitas pasien,
93

nomor bed pasien, diagnosa medis, keadaan umum atau keluhan utama, data

objektif, data subjektif, masalah keperawatan, intervensi baik mandiri maupun

kolaborasi dan catatan serta terapi dan intervensi yang belum dan sudah dilakukan.

Pelaksanaan timbang terima ini dilakukan oleh seluruh perawat kepada perawat

yang bertugas berikutnya. Pelaksanaan timbang terima terdokumentasikan di buku

timbang terima yang sudah disediakan oleh ruangan.

Berdasarkan observasi pada tanggal 1-3 Januari 2018 timbang terima di

lakukan di nurse station oleh kepala ruangan, katim dan perawat pelaksana,

Timbang terima di ruangan Mawar Kuning Bawah dilakukan di nurse station masih

terfokus pada tindakan yang direncanakan dan yang sudah dilakukan yakni masalah

medis dan keperawatan yang ada, pada saat observasi keliling ke pasien untuk

melihat kondisi pasien secara langsung,. Timbang terima yang isinya informasi

tentang identitas pasien , nomor bed pasien, diagnose medis, keadaan umum dan

keluhan utama, data objektif, data subjektif, masalah keperawatan, intervensi baik

mandiri maupun kolaborasi dan catatan serta terapi dan intervensi yang belum dan

sudah dilakukan. Pelaksanaan timbang terima dilakukan oleh semua perawat

kepada perawat yang bertugas berikutnya. Pelaksanaan timbang terima

terdokumentasi di buku timbang terima yang sudah disediakan oleh ruangan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada saat timbang terima didapatkan

bahwa timbang terima di ruang mawar kuning bawah lebih berfokus pada masalah

diagnose medis dan kegiatan timbang terima dilakukan pada tiap pergantian sift,

Timbang terima dilakukan di ners station dengan menyebutkan diagnosa pasien

setelah di nurse station dilanjutkan dengan mengidentifikasi serta

menginformasikan pergantian perawat yang bertugas kepada pasien, dokter dan


94

menjelaskan keluhan pasien saat ini. Dan data yang bersifat rahasia tidak boleh

dilakukan di ruangan pasien melainkan di lakukan di nurse station

4. Sentralisasi obat

Dokter

Resep

BPJS
Umum

Perawat Perawat

Cholecting oleh Pasien


farmasi

Farmasi

Perawat

Perawat

Gambar 2.9 Alur Sentralisasi Obat di Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD

Sidoarjo

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat pada tanggal 02 Januari 2018

di ruang Mawar Kuning Bawah sudah dilakukan sentralisasi obat secara UDD (Unit

Dose Dispensing) adalah suatu system distribusi obat kepeda pasien rawat inap

disiapkan dalam bentuk dosis terbagi siap pakai untuk pemakaian selama 24 jam
95

system distribusi obat UDD merupakan tanggung jawab farmasi, juga terkait

dengan staf medis, perawat, dan administrasi.

Obat diracik UDD dikemas dalam wadah kantong plastik dengan warna

etiket yang berbeda untuk mempermudah perawat dalam memberikan obat sesuai

waktu yang ditentukan dan untuk menghindari kesalahan dalam jadwal penyerahan

obat. Untuk pemberian pagi (jam 07.00) diberi dengan etiket merah muda, siang

(jam 19.00) diberi dengan etiket kuning, malam (jam 24.00) diberi dengan etiket

hijau.

Alur sentralisasi obat setelah dokter visite memberikan resep, kemudian

resep dicollecting oleh apoteker ruangan apakah obat sudah habis atau belum di

loker pasien, kemudian resep disetorkan ke farmasi oleh apoteker ruangan. Farmasi

menyiapkan obat sesuai resep dokter, setelah itu obat diantar keruangan. Jika ada

kelebihan obat maka perawat menginformasikan ke pasien untuk kemudian

dilakukan retur ke bagian farmasi.

Pembagian obat: Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam

format pemberian obat oral/ injeksi. Obat-obat yang telah diterima disimpan untuk

selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memperhatikan alur yang telah

tercantum format pemberian obat oral/ injeksi,. Pada saat pemberian obat, perawat

memanggil nama pasien dan melihat gelang yang terpasang pada pasien dan

menjelaskan nama obat, kegunaan obat, namun belum didokumentasikan dalam

format pemberian obat oral/injeksi keluarga / pasien tidak tanda tangan di format

pemberian obat.
96

Penambahan obat baru : Bilamana terdapat penambahan atau perubahan

jenis, dosis atau perubahan rute pemberian obat, maka informasi ini akan

dimasukkan dalam buku sentralisasi obat dan lembar kontrol obat. Pada pemberian

obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu), maka dokumentasi tetap di catat pada buku

sentralisasi obat dan lembar kontrol obat dan tanda tangan pada lembar

dokumentasi serah terima obat.

4. Perencanaan pulang (discharge planning)

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat Discharge planning di

Ruang Mawar Kuning Bawah sudah dilakukan baik saat pasien datang, saat

dirawat, saat akan pulang dengan lisan maupun tulisan oleh perawat.

Proses pelaksanaan Discharge planning dilakukan di Nurse Station

dengan cara memanggil keluarga dan pasien. Kartu Discharge planning sudah ada

dengan isi sesuai dengan standart yang telah ditetapkan Rumah Sakit, meliputi :

Identitas pasien, tanggal masuk, diagnosa masuk, ruang rawat, kriteria pasien

membutuhkan perencanaan pulang kritis, perawatan dan aktifitas di rumah, aturan

diet, obat-obatan yang diminum (dosis, warna dan efek samping), rencana hari

perawatan, edukasi kesehatan, rincian pemulangan (hasil yang dibawa pulang,

jadwal kontrol klinik). Discharge planning dilakukan oleh Perawat

Pelaksana/Katim tepat saat pasien dinyatakan boleh pulang oleh Dokter.

Berdasarkan hasil observasi selama 3 hari dalam discharge planning di ruang

Mawar Kuning Bawah tidak ada leafleat yang menjelaskan terkait perawatan

lanjutan selama pasien dirumah, namun pemberian health education secara verbal

kepada keluarga pasien. Discard planning dilakukan oleh perawat pelaksana tepat

saat pasien dinyatakan boleh pulang oleh dokter.


97

Alur discharge planning di ruang Mawar Kuning Bawah

Dokter menyatakan bahwa pasien


diperbolehkan pulang/ pasien meninggal

Dokter dan perawat melengkapi berkas status


rekam (RM) medis pasien

Berkas RM pasien dikirimkan ke Bag.


Administrasi untuk dilakukan proses perincian
biaya dan kelengkapan berkas ( untuk pasien
asuransi) serta proses koding bagi pasien BPJS
dengan iur bayar

Pasien menuju unit farmasi 6 untuk mengambil


obat untuk diminum dirumah serta ke loket
pembayaran Rawat Inap untuk menyelesaikan
pembiayaan

Kasir mengecek out

Keluarga pasien menunjukkan kwitansi


pembayaran kepada petugas administrasi

Perawat menjelaskan sisa obat oral, dan yang


di minum, hasil penunjang dan surat kontrol
98

Pasien KRS

Gambar 3.7 Alur discharge planning di ruang Mawar Kuning Bawah

5. Ronde Keperawatan

Dari hasil wawancara pada tanggal 02 Januari 2018 di ruang Mawar Kuning

Bawah, diketahui bahwa ronde keperawatan masih belum dilakukan dan masih

menggunakan RDK (Refleksi Diskusi Kasus) yang merupakan suatu metode dalam

merefleksikan pengalaman klinis perawat dalam menerapkan standar dan uraian

tugas. Pengalaman klinis yang direfleksikan merupakan pengalaman actual dan

menarik baik hal-hal yang merupakan keberhasilan maupun kegagalan dalam

memberikan pelayanan keperawatan termasuk untuk menemukan masalah dan

menetapkan upaya penyelesaiannya misal dengan adanya rencana untuk menyusun

SOP baru. RDK hanya dilakukan pada saat menemukan adanya permasalahan dan

masih belum terjadwal karena adanya keterbatasan waktu, dan biasanya RDK

ditentukan oleh katim mengenai permasalahannya dengan melihat permasalahan

yang ada dan di sampaikan ke kepala ruangan, kemudian dipimpin kepala ruangan

untuk melakukan RDK yang diikuti oleh katim, dan perawat pelaksana.

Dari Hasil Observasi tanggal 01-02 januari 2018 di ruang Mawar Kuning

Bawah ronde keperawatan memang belum dilakukan dan selama ini masih

menggunakan RDK (Refleksi Studi Kasus) dan RDK dilakukan hanya pada saat

menemukan permasalahan.

6. Supervisi
99

Supervise keperawatan adalah aktivitas menentukan kondisi atau syarat-

syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan asuhan keperawatan,

kegiatan supervise semacam ini adalah merupakan dorongan dan bimbingan

kesempatan bagi perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat, jadi dalam

kegiatan supervisi seluruh staf keperawatan bukan sebagai pelaksana pasif

melainkan diperlukan sebgai patner kerja yang memiliki ide-ide, pendapat dan

pengalaman yang perlu di dengar, dihargai dan diikut sertakan dalam usaha-usaha

perbaikan proses keperawatan.

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 02 januari 2018 didapatkan bahwa

Ruang MKB pelaksanaan supervisi dilakukan oleh kepala ruangan umtuk katim,

katim melakukan supervise untuk perawat pelaksana. Supervisi keperawatan dan

ketenagaan dilakukan setiap 1 bulan sekali. Kegiatan supervisi sudah terjadwal.

Dalam pelaksanaan supervisi menggunakan dua model, yaitu model langsung dan

tidak langsung. Sebagai contoh model langsung digunakan saat supervisi timbang

terima, sedangkan model tidak langsung digunakan saat supervisi SAK (Supervisi

SAK terakhir pada tanggal 16 Desember 2017).

Rencana tindak lanjut yang diberikan setelah kegiatan supervisi di mawar

kuning bawah adalah berupa teguran langsung kepada perawat yang bersangkutan

dan dianjurkan lebih memahami tentang proses asuhan keperawatan, seperti selalu

turut aktif dalam setiap kegiatan asuhan keperawatan yang sesuai dengan SPO yang

berlaku.

7. Dokumentasi keperawatan

Dokumentasi keperawatan adalah suatu tindakan yang memuat seluruh

informasi yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosa keperawatan, menyusun


100

rencana keperawatan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang

disusun secara sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Jadi, dapat

disimpulkan pendokumentasian adalah informasi mencakup aspek biologis,

psikologis, social dan spiritual yang terjadi pada setiap tahap proses keperawatan

yang dicatat secara menyeluruh serta informasi yang disusun secara sistematis

kedalam suatu format yang telah disetujui dan dapat dipertanggung jawabkan

secara moral maupun hukum.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1-2 Januari 2018 semua tenaga

kesehatan yang melakukan implementasi ke pasien dicatat dalam satu lembar

terintegrasi dan berkelanjutan.

Setelah dilakukan wawancara terhadap perawat, menyatakan sudah ada

format pendokumentasian, dan melakukan pendokumentasian dengan tepat waktu.

Didapatkan pendokumentasian yang berlaku di Ruang Mawar Kuning Bawah

adalah sistem SOR (Source Oriented Record) yaitu suatu sistem pendokumentasian

yang berorientasi dari berbagai sumber tenaga kesehatan, misalnya dari Dokter,

perawat, ahli gizi, fisioterapi dan lain-lain.

Contoh dokumentasi : lembar indeks diagnose, lembar registsrasi, lembar masuk

dan keluar RS, lembar untuk penempelan surat (MRS, rujukan), daftar masalah,

lembar riwayat penyakit, lembar catatan harian Dokter, lembar instruksi Dokter,

lembar untuk pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Lembar instruksi Dokter dan

laporan perawat, lembar konsultasi, lembar observasi, lembar pengkajian dan

asuhan keperawatan.

Pendokumentasian dilakukan satu kali pada setiap shift dan

pendokumentasian mencakup asuhan keperawatan mulai dari keluhan utama, data


101

objektif, data subjektif dan tindakan keperawatan. Selama ini pendokumentasian

asuhan keperawatan sudah dilaksanakan pada lembar rekam medis dan format

asuhan keperawatan. Catatan tindakan keperawatan pada rekam medis terkait

advice dari Dokter, sedangkan pada format status pasien meliputi anamnesa,

diagnosa, pengkajian, renpra, intruksi Dokter, laporan perawat dan intervensi serta

evaluasi keperawatan. Lembar observasi pasien tidak ditempel pada bed pasien

masing-masing ruangan tapi terdapat pada lembar observasi di status RM

Komunikasi via telepon dengan SBAR

S: Situasion (kondisi terkini yang terjadi pada pasien)

- sebutkan nama pasien, umur, tanggal masuk dan hari perawatan

serta dokter yang merawat

- sebutkan diagnosis medis dan masalah keperawatan yang belum

atau sudah teratasi/kebutuhan utama

B: Background (info penting yang berhubungan dengan kondisi pasien

terkini)

- jelaskan intervensi yang telah dilakuakan dan respons pasien dari

setiap diagnose keperawatan

- sebutkan riwayat alergi, riwayat pemedahan penanganan alat infasif

dan obat-obatan termasuk cairan infuse yang digunakan

- jelaskan pengetahuan pasien dan keluarga terhadap penanganan

medis

A: Assessment (hasil pengkajian dari kondisi pasien saat ini)


102

- jelaskan secara lengkap hasil pengkajian pasien terkini seperti TTV,

Skor nyeri tingkat kesadaran, status restrain, resiko jatuh, status

nutrisi kemampuan elimasi dan lain-lain

- jelaskan informasi klinik lain yang mendukung

R: Recommendation

- rekomendasikan intervensi keperawatan yang telah dan perlu


dilakukan termasuk discharge planning dan edukasi pasien dan
keluarga.
- Hasil advis dokter

3.3.4 M-4 (MONEY)

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada hari Senin 02 Januari

2018 biaya perawatan pasien di ruang mawar kuning bawah berasal dari

umum/biaya sendiri dan BPJS. BPJS dibagi menjadi 2, yaitu BPJS kesehatan, BPJS

Ketanagakerjaan yang dimana akan dipakai sewaktu kecelakaan kerja. JKMM

(surat dari dinas sosial khusus untuk warga sidoarjo). Jasa Raharja (Kecelakaan)

dan Biaskes Maskin yaitu untuk pasien tanpa keluarga.

1. Jenis Pembiayaan Rawat Inap pada bulan Oktober-Desember di ruang Mawar

Kuning Bawah RSUD Sidoarjo.

Tabel 5.1 Jenis Pembiayaan di Di Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo
Jenis Pembiayaan pada bulan Oktober 2017

No. Jenis Pembiayaan Bulan ∑ Presentase (%)


1. Umum Oktober 157 18,74 %
2. Hair Star Indonesia, PT Oktober 1 0,12 %
3. BPJS Kesehatan Oktober 558 66,59 %
4. Jasa Raharja Oktober 24 2,86 %
5. Jaminan Kesehatan Oktober 89 10,62 %
Maskin (JKMM)
6. BPJS Ketenagakerjaan Oktober 1 0,12 %
103

7. International Oktober 1 0,12 %


Organization For
Imigration (IOM)
8. Biaskes Maskin Oktober 7 0,84 %
Total 838 100 %

Jenis Pembiayaan pada bulan November 2017

No. Jenis Pembiayaan Bulan ∑ Presentase (%)


1. Umum November 134 18,31 %
2. BPJS Kesehatan November 497 67,90 %
3. Jasa Raharja November 16 2,19 %
4. Jaminan Kesehatan November 80 10,93 %
Maskin
5. BPJS Ketenagakerjaan November 1 0,14%
6. Biaskes Maskin November 4 0,55 %
Total 732 100 %
Jenis Pembiayaan pada bulan Desember 2017

No. Jenis Pembiayaan Bulan ∑ Presentase (%)


1. Umum Desember 151 20,66 %
2. BPJS Kesehatan Desember 491 67,17 %
3. Jasa Raharja 18 2,46 %
4. Jaminan Kesehatan Desember 66 9,03 %
Maskin
5. BPJS Ketenagakerjaan Desember 1 0,14 %
6. Biaskes Maskin Desember 4 0,55 %
Total 731 100 %
Sumber Data: Administrasi Mawar Kuning Bawah

Berdasarkan tabel diatas dari bulan Oktober sampai Desember 2017 hasil

pembiayaan rawat inap pasien paling besar menggunakan BPJS Kesehatan bulan

oktober yaitu 558 orang sebanyak (66,59%).

Biaya Perawatan Luka (Umum)

No Jenis Perawatan Tarif


1. Selain luka bakar dan gandeng Rp. 75.000
2. Luka bakar ≤ 20 % Rp. 95.000
3. Luka bakar ≥ 20 % Rp. 214.000
4. Luka gandeng Rp. 90.000
Sumber Data: Administrasi Mawar Kuning Bawah

Jasa pelayanan Ruang Mawar Kuning Bawah


104

No Jasa Pelayanan Tarif


1. Kamar per hari Rp. 40.000
2. Visite dokter Rp. 55.000
3. Makan Rp. 35.000
4. Jasa pelayanan keperawanan Rp. 50.000
5. BAHP Dasar Rp. 25.000
6. Kamar + visite dokter per hari Rp. 205.000
Sumber Data: Administrasi Mawar Kuning Bawah

3.3.5 Mutu Pelayanan dan Marketing (M5)

A. Mutu Pelayanan

Peningkatan mutu pelayanan adalah derajat memberikan pelayanan secara

efisien dan efektif sesuai dengan standart profesi, standart pelayanan yang di

laksanakan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien, memanfaatkan

teknologi tepat guna dan hasil penelitian dalam pengembangan pelayanan

kesehatan/keperawatan sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal

(Nursalam, 2015).

1. Mutu Pelayanan Keperawatan

Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di RSUD Sidoarjo terutama di

ruang Mawar Kuning Bawah, maka Rumah Sakit telah membuat program peningkatan

mutu pelayanan rawat inap.

1) Kegiatan pokok dan rincian kegiatan

(1) Evaluasi indikator klinis pelayanan yaitu pengumpulan/pencatatan pelapor indikator

pelayanan/klinis diruang rawat inap.

(2) pengendalian infeksi nosokomial diruang rawat inap.

(3) Evaluasi survey kepuasan pasien terhadap pelayanan diruang rawat inap

(4) Pencatatan pelaporan audit medik dan audit keperawatan diruang rawat inap

dilakukan oleh Komite Keperawatan Sub Mutu.


105

(5) Peningkatan mutu SDM diruang rawat inap

a. Orientasi pegawai baru

b. Mengikut sertakan pelatihan,baik internal maupun eksternal

c. Memberikan ijin untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan

2) Pelaksanaan Kegiatan

(1) Mencatat dan melaporkan indikator klinis setiap bulan kepada tim pengendalian

mutu Rumah Sakit.

(2) Mencatat dan melaporkan pengendalian infeksi nosokomial setiap bulan kepada tim

PPI Rumah Sakit.

(3) Menyebarkan kuesioner kepuasan kesemua pasien rawat inap yang telah dirawat

lebih dari dua hari,kemudian hasil diserahkan kepada tim pengendalian mutu Rumah

Sakit.

(4) Melaporkan kepada Komite Keperawatan Sub. Mutu Rumah Sakit apabila ada kasus

yang perlu di audit.

(5) Melakukan orientasi bila ada pegawai baru.

(6) Melakukan analisis ketenagaan, kuantitas dan kualifilkasi pegawai setiap tahun dan

kemudian membuat usulan untuk diberikan pelatihan terhadap pegawai sesuai

kebutuhan.

2. Kepuasan

Menurut (Nursalam, 2016), Penilaian kepuasan pasien terhadap pelayanan

menggunakan pernyataan lima dimensi antara lain tangible, realiability, responsiveness,

assurance, emphaty. Pernyataan tersebut berjumlah 25 poin dan jawaban menggunakan

ceklist (SP) sangat puas = 4, (P) Puas = 3, (TP) Tidak Puas = 2, (STP) Sangat Tidak Puas

= 1. Kemudian dilakukan penghitungan dan hasilnya diintrepetasikan dengan skala seratus


106

dengan menggunakan penilaian kepuasan. Berdasarkan rentang prosentase yang diadopsi

menurut Notoatmodjo, 2004 dimana kriteria <56% menunjukkan kurang puas, 56-75%

menunjukkan cukup puas, dan 75-100% menunjukkan puas.

Kepuasan Pasien

10%

10 %
Puas

Cukup Puas

80 % Kurang Puas

Berdasarkan hasil kuisioner dari 10 pasien sebagian besar 8 pasien (80%)

menyatakan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan adalah puas.

3. Tingkat Kepuasan Perawat

Berikut adalah hasil tingkat kepuasan perawat terhadap hasil kinerja selama

menjadi perawat di RSUD Sidoarjo. Dari total 7 perawat yang menjadi responden, sebagian

besar 5 perawat (71,4%) menyatakan puas, dan sebagian kecil 2 perawat (28,6%)

menyatakan cukup puas.


107

Kepuasan Perawat

28,6 %
Puas

Cukup Puas

71,4 % Kurang Puas

4. Keamanan Pasien

Patient Safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah

sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesment resiko, identifikasi

dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analitis

insiden, kemampuan dan analisis insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi

untuk meminimalkan timbulnya resiko.

Program pasien Safety bertujuan untuk menjamin keselamatan pasien di rumah

sakit melalui pencegahan terjadinya kesalahan dalam memberikan pelayanan kesehatan

antara lain pasien jatuh, kesalahan pemberian obat, salah posisi dalam operasi, kesalahan

identifikasi pasien, tindakan bunuh diri yang bisa di cegah dan lain-lain.

Tujuan dari program patient Safety yaitu :

1) Terciptanya budaya keselamatan pasien diirumah sakit

2) Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat

3) Menurunnya kejadian tak diharapkan (KTD)

4) Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD


108

Tabel 3.7 Pasien Safety di Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo

Angka
No Indikator Standart
Kejadian
1. Kejadian Pasien Jatuh 0 0
2. Kejadian Pasien Terjatuh dari Bed 0 0
3. Kesalahan Pemberian Obat 0 0
4. Kesalahan Identifikasi Pasien 0 0
Sumber data : Ruang Mawar Kuning Bawah 01 – 03 Januari 2018

a. Angka Kejadian Jatuh

Dari pengkajian pada tanggal 01 - 03 Januari 2018 didapatkan bahwa 100%

pasien tidak mengalami jatuh selama dilakukan perawatan oleh perawat ruangan,

meskipun sebagian pasien memiliki resiko untuk jatuh pada pasien dewasa dengan

menggunakan Morse Fall Scale, sedangkan pada pasien anak – anak menggunakan

Skala Humpty Dumpty (Nursalam,2016). Setiap pasien memiliki tanda resiko jatuh

pada gelang identitas pasien yaitu diberitanda kuning untuk resiko jatuh sedang,

sedangkan diberi tanda merah untuk resiko tinggi pasien jatuh.

Angka Kejadian Jatuh :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑡𝑢ℎ


𝑥 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜

Angka kejadian jatuh tanggal 01 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
49

Angka kejadian jatuh tanggal 02 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
50

Angka kejadian jatuh tanggal 03 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
48

b. Kesalahan Pengobatan (Medication Eror)


109

Medication Error terdiri dari Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) dan

Kejadian Nyaris Cidera (KNC). Pada saat pengkajian tanggal 01 – 03 Januari 2018

tidak ditemukan adanya medication error. Hal ini juga ditunjang dengan pemberian

label High Alert pada kemasan obat.

Angka KTD

𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑃𝑥 𝑦𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑙𝑚 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑜𝑏𝑎𝑡


𝑥 100 %
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑡𝑢

Angka KTD tanggal 01 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
49

Angka KTD tanggal 02 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
50

Angka KTD tanggal 03 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
48

Angka KNC

𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑃𝑥 𝑦𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑐𝑖𝑑𝑒𝑟𝑎 𝑑𝑙𝑚 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑜𝑏𝑎𝑡


𝑥 100 %
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑡𝑢

Angka KTD tanggal 01 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
49

Angka KTD tanggal 02 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
50

Angka KTD tanggal 03 Januari 2018


110

0
x 100 % = 0%
48

5. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Setiap rumah sakit harus menerapkan prinsip PPI (Pencegahan dan

Pengandalian Infeksi) di semua tindakan dan prosedur. Hal ini bertujuan untuk

menurukan atau mengendalikan infeksi nosocomial atau HAIS (Healthcare

Associated Infection).

Tujuan dari PPI adalah untuk :

1) Melindungi masyarakat (pengunjung, pasien serta masyarakat sekitar RS) dan

tenaga kesehatan serta seluruh individu yang di RS dari resiko penularan infeksi.

2) Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit

3) Menurunkan dan mengendalikan HAIS/INOS

Tabel 3.8 Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi di Ruang Mawar Kuning Bawah
RSUD Sidoarjo

Angka
No Indikator Standart
Kejadian
1. Kejadian Infeksi Pasca Operasi < 0,5% 0
2. Kejadian Infeksi Nosokomial < 1,5% 0
3. Kejadian Tertusuk Jarum 0 0
4. Kejadian Phlebitis 0 0
5. Kejadian Dekubitus 0 0
\Sumber data : Ruang Mawar Kuning Bawah 01 – 03 Januari 2018

a. Angka Kejadian Phlebitis

Penilaian Angka Kejadian Phlebitis menggunakan Visual Infusion Phlebitis Score

Kejadian phlebitis pada tanggal 01 - 03 Januari 2018 ditemukan pasien phlebitis sebanyak

4 pasien.
111

Angka Kejadian Phlebitis

𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑝ℎ𝑙𝑒𝑏𝑖𝑡𝑖𝑠


𝑥 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑓𝑢𝑠

Angka kejadian phlebitis tanggal 01 Januari 2018

2
x 100 % = 4.1%
49

Angka kejadian phlebitis tanggal 02 Januari 2018

1
x 100 % = 2%
50

Angka kejadian phlebitis tanggal 03 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
48

b. Angka Kejadian Dekubitus

Angka Kejadian Dekubitus menggunakan Instrumen Southamptonscoring

system, kejadian dekubitus pada tanggal 01 – 03 Januari 2018 tidak ditemukan

pasien yang mengalami dekubitus.

Angka Kejadian Dekubitus

𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑘𝑢𝑏𝑖𝑡𝑢𝑠


𝑥 100 %
𝑃𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜

Angka kejadian dekubitus tanggal 01 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
49

Angka kejadian dekubitus tanggal 02 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
50

Angka kejadian dekubitus tanggal 03 Januari 2018

0
x 100 % = 0%
48
112

6. Kecemasan Pasien

Menurut buku (Nursalam, 2016) menggunakan Zung Self – Ratting Anxiety

Scale (SAS/SRAS). Berdasarkan data kecemasan pasien dengan kuesioner yang

kami sebarkan pada tanggal 03 Januari 2018 di Ruang Mawar Kuning bawah pada

48 orang didapatkan 26 pasien dengan prosentase 54,2% mengalami cemas sedang,

tidak ada pasien yang mengalami cemas berat, sedangkan 16 pasien dengan

prosentase 33,3% dari jumlah sampling cemas ringan dan 6 pasien dengan

prosentase 12,5% tidak mengalami kecemasan.

7. Kenyamanan Pasien

Menurut buku (Nursalam, 2016) menggunakan Scala Nyeri. Kenyamanan

pasien di Ruang Mawar Kuning Bawah dari hasil pengumpulan data pada tanggal

03 januari 2018, 48 pasien didapatkan 29 pasien dengan prosentase 58,3%

mengalami nyeri ringan, 14% pasien dengan prosentase 29,2% pasien mengeluh

nyeri sedang, dan 6 pasien dengan prosentase 12,5% pasien yang mengalami nyeri

berat.

Angka kejadian yang tidak diinginkan (KTD) tidak banyak dan kejadiannya

tidak membuat fatal pasien. Pemberian obat injeksi atau oral langsung dipantau dan

di planing oleh bagian apoteker klinis sehingga obat tidak sampai

tertukar/salah/terlambat (sentralisasi obat), distribusi obat untuk sore dan pagi tetap

dilakukan oleh perawat.


113

8. Perawatan Diri

Tabel 3.9 Kategori Tingkat Kemandirian Pasien Pada 01-03 Januari 2018
Berdasarkan Indeks KATZ
Kategori Deskripsi Jumlah Pasien
A Mandiri dalam hal makan, BAB, BAK, mengenakan pakaian,
pergi ke toilet, berpindah dan mandi.
B Mandiri semuanya, kecuali salah satu fungsi diatas.
C Mandiri, kecuali mandi dan salah satu fungsi diatas.
D Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan salah satu fungsi
diatas.
E Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ketoilet dan salah satu
fungsi diatas.
F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ketoilet, berpindah dan
salah satu fungsi diatas.
G Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.

Prosentase kebutuhan perawatan diri pasien pada tanggal 01-03 Januari 2018 :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑎𝑛 𝑥 100%


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢

Kebutuhan Perawatan Diri Pada tanggal 01 Januari 2018

12 𝑥 100
= 24, 5%
49

Kebutuhan Perawatan Diri Pada tanggal 02 Januari 2018

12 𝑥 100
= 24%
50

Kebutuhan Perawatan Diri Pada tanggal 03 Januari 2018

15 𝑥 100
= 31, 25%
48
114

B. Marketing

Dalam hal promosi RSUD Kabupaten Sidoarjo memakai promosi lewat leaflet

yang ada di resepsionis depan jadi kalau ada pengunjung baru, pengunjung tersebut bisa

mengambil leaflet yang ada sehingga para pengunjung tahu akan fasilitas yang ada di

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Selain itu RSUD Kabupaten Sidoarjo

juga memakai media Baliho yang bisa di tempatkan di tempat yang strategis sehingga

masyarakat tahu akan fasilitas yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

Sidoarjo.
115

3.6 ANALISA SWOT

Tajubel 3.23 Analisa SWOT di Ruang Mawar Kuning Bawah RSUD Sidoarjo
Bobot x
NO ANALISIS SWOT Bobot Rating Rating
1. M1 (SumberDayaManusia/Man)
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGHT
1. Jenis ketenagaan 0,6 3 1,8
S1 Kep : 5 Orang S–W =
D3 Kep: 23 orang
2. 28 orang perawat di ruang Mawar Kuning 3,1-
Bawah sudah mendapatkan pelatihan 2,7=
0,4 3 1,2 0,4
TOTAL

WEAKNESS 1 3,1
1) 23 orang (65,7%) latar belakang
pendidikan D3 keperawatan.
2) Minimnya tenaga S1 keperawatan
dibandingkan dengan D3 keperawatan 0,4 3 1,2
yang lebih banyak
3) Hampir seluruhnya perawat mengikuti 0,3 2 0,6
pelatihan MAKP

TOTAL 0,3 3 0,9

b. EkternalFaktor (EFAS) 1 2,7


OPPORTUNITY
1. Adanya kesempatan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi 0,5 4 2
2. Adanya kebijakan pemerintah tentang
profesionalisasi perawat O-T =
TOTAL 0,5 3 1,5 3,5– 2,5
=1
THREATENED 1 3,5
1. Makin tinggi kesadaran masyarakat
akan pentingnya kesehatan
2. Belum sesuai dengan keinginan
perawat 0,2 2 0,4
3. Makin tingginya kesadaran
masyrakat akan hukum pelayanan 0,1 1 0,1
kesehatan
4. Ada tuntutan tinggi dari masyarakat 0,2 2 0,4
untuk pelayanan yang lebih
professional
116

5. Persaingan antar RS yang semakin 0,2 2 0,4


kuat

TOTAL 0,3 4 1,2

1 2,5

2. M2 (Sarana dan Prasarana)


a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGTH
1. Mempunyai sarana dan prasarana untuk 0,3 4 1,2
pasien dan tenaga kesehatan.
2. Mempunyai peralatan yang mendukung 0,3 4 1,2
proses perawatan seperti alat oksigenasi,
nebulizer, alat pengukur tanda vital, dan
semua tenaga perawat mampu
mengoperasikan dengan baik.
3. Tersedianya Nurse Station 0,2 3 0.6
4. Terdapat administrasi penunjang 0,2 3 0.6
S–W
TOTAL 1 3,6 3,6-2=
1,6
WEAKNESS
1) Ada beberapa peralatan di ruangan yang 0,5 3 1,5
jumlahnya masih perlu ditambah sesuai
dengan kebutuhan ruangan.
2) Belum terpakainya sarana dan prasarana 0,5 1 0,5
secara optimal
TOTAL 1 2
B. EkternalFaktor (EFAS)
OPPORTUNITY
1) Adanya kesempatan untuk menambah 0.3 4 1,2
alat yang kurang
2) Adanya kerjasama antara rumah sakit 0.4 3 1,2
dengan pihak luar yang dapat
menyediakan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan. 0.3 3 0,9
3) Kebijakan pemerintah untuk menambah
sarana dan prasarana di rumah sakit.
1 3,3
TOTAL

THREATENED 0,3 3 0,9 O–T


1) Banyak berdiri rumah sakit swasta di 3,3 –
wilayah sekitar. 0,3 2 0,6 2,3= 1
2) Terlalu banyak pasien yang berbanding
terbalik dengan jumlah bed yang
tersedia diruangan 0.4 2 0,8
117

3) Adanya tuntutan masyarakat yang tinggi


terhadap pelayanan kesehatan sehingga
memerlukan peralatan yang memadai.
1 2,3
TOTAL

3. METHODE (M3)
MAKP
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGTH
1) RS memiliki visi, misi dan motto sebagai 0.2 4 0,8 S–W
acuan melaksanakan kegiatan pelayanan. 3,2-2=
2) Kegiatan manajemen yang sudah berjalan 0.2 4 0,8 1,2
meliputi: timbang terima. discharge
planning. sentralisasi obat. supervisi
,dokumentasi dan peneriman pasien baru.
3) Ada dokumentasi SBAR 0.2 2 0.4
4) Mempunyai Standar Asuhan 0.2 3 0.6
Keperawatan dan Protap setiap tindakan.
5) Komunikasi antar perawat cukup efektif. 0.1 3 0.3
6) Adanya kepuasaan pasien terhadap
kinerja perawat sebanyak (75% ) 0.1 3 0,3
TOTAL
q 1 3,2
WEAKNESS
1. Pelaksanaan metode MAKP tim belum 0.4 2 0.8
dilaksanakan dengan optimal
2. Diperlukan banyak tenaga profesional 0.3 2 0,6
3. Diperlukan banyak biaya 0.3 2 0.6

TOTAL 1 2

b.Ekternal Faktor (EFAS)


OPPORTUNITY
1) Adanya mahasiswa S1 keperawatan 0.3 3 0,9
Praktik manajemen keperawatan.
2) Adanya kerjasama antara institusi 0.2 3 0,6
pendidikan kesehatan dengan RS.
3) Adanya kebijakan RS dalam peningkatan 0.2 3 0,6
SDM
4) Rumah sakit yang sudah terakreditasi A 0.2 2 0,4
paripurna
5) PPNI berkontribusi dengan menaungi 0.1 2 0,2
perkembangan profesi perawat.
TOTAL 1 2,7
118

THREATENED O –
1) Adanya tuntutan masyarakat yang 0.4 3 1,2 T= 2,7–
semakin tinggi terhadap peningkatan 2,2=
pelayanan keperawatan yang lebih 0,5
profesional. 0.4 2 0,6
2) Makin tingginya kesadaran masyarakat
tentang kesehatan. 0.2 2 0.4
3) Persaingan RS yang semakin ketat
dalam penerapan MAKP
1 2,2
TOTAL

Ronde keperawatan
a. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH
1) Bidang perawatan dan ruangan 0.3 3 0,9 S –W
mendukung adanya kegiatan ronde 2.3–2=
keperawatan. 0.2 2 0,4 -0,3
2) Tenaga kesehatan yang lengkap. Terdiri
dari Dokter spesialis, perawat, DM, ahli
gizi, mahasiswa perawat praktek. 0.5 2 1
3) Sebagian besar perawat mengerti adanya
ronde keperawatan.
1 2,3
TOTAL

WEAKNESS 0.5 2 1
1) Karakteristik tenaga yang memenuhi
kualifikasi belum merata 0,3 2 0,6
2) Pelaksanaan ronde keperawatan belum
optimal dan tidak terjadwal. 0,2 2 0,4
3) Karakteristik tenaga yang memenuhi
kualifikasi belum merata
1 2
TOTAL

b. External Factor (EFAS)


OPPORTUNITY 0.4 4 1.6
1) Adanya mahasiswa praktek yang akan
menerapkan ronde ke perawatan di ruang
Mawar Merah RSUD 0.4 2 0.6
2) Adanya dukungan dari ruangan untuk
mengadakan ronde keperawatan bila ada
mahasiswa O–T
3) Banyaknya kasus-kasus medik yang 0,2 2 0.4 2,6-2 =
memerlukan perhatian khusus 0.6

TOTAL 1 2,6
119

TREATHENED
1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari 0.5 2 1
masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan yang lebih profesional
2) Persaingan antar RS semakin kuat dalam 0.3 2 0,6
pemberian pelayanan.
3) Pengetahuan akan kasus bagi tenaga 0,2 2 0,4
keperawatan semakin meningkat.

TOTAL 1 2

Sentralisasi Obat
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGTH
1) Tersedianya sarana dan prasarana untuk 0.5 4 2 S–W
pengelolaan sentralisasi obat yaitu lemari 3,5 –
obat. kotak sentralisasi obat dan buku 2,5 = 1
penerimaan obat
2) Ada pencatatan sentralisasi obat 0.5 3 1,5
penyimpanan obat injeksi dan oral
TOTAL 1 3,5

WEAKNESS
1) Ketersediaan obat yang terkadang belum 0.5 2 1
lengkap sehingga mengganggu
pengaturan obat.
2) Penggunaan alat habis pakai kurang 0.5 3 1,5
optimal (spuit).

TOTAL 1 2,5

b. EkternalFaktor (EFAS)
OPPORTUNITY
1) Adanya mahasiswa PSIK yang Praktik 0.5 3 1,5
sebagai role model.
2) Kerjasama yang baik antara perawat dan 0.5 3 1.5
mahasiswa. O–T
TOTAL 1 3.5 3– 2,5 =
0,5
TREATHENED
1) Adanya tuntutan pasien untuk 0.5 4 2
mendapatkan pelayanan yang profesional
2) Adanya ketidakpercayaan pasien 0.5 1 0,5
terhadap pengelolaan sentralisasi obat.

TOTAL 1 2,5
120

Supervisi
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGTH
1) Perawat mengerti tentang supervisi. 0.2 3 0.6
2) Adanya hubungan kerja sama yang baik 0.3 4 1,2
antara kepala ruangan dengan staf
3) Adanya umpan balik dari supervisor 0.2 3 0.6
untuk setiap tindakan.
4) Kepala ruangan mendukung kegiatan 0.3 3 0.9
supervisi. S –W
1 3,3 3,3-
TOTAL 2,5=
0,8
WEAKNESS
1) Supervisi ruangan hanya dilakukan sesuai 0,5 3 1,5
kebutuhan dan kebijakan kepala ruangan.
2) supervisi belum terstruktur dengan baik 0.5 2 1

TOTAL 1 2,5

b. EksternalFaktor (EFAS)
OPPORTUNITY
1) Adanya mahasiswa Keperawatan yang 0.5 4 2
praktik manajemen
2) Adanya kerjasama yang baik antara 0.5 3 1,5
institusi kesehatan dengan bidang
keperawatan
1 3.5
TOTAL

THREATENED 0.5 3 1,5 O–T


1) Adanya kompetisi beberapa RS 2.5 – 2=
mengenai kegiatan keperawatan. 0.5 2 1 0.5
2) Adanya kesadaran masyarakat yang
tinggi terhadap mutu kesehatan.
1 2
TOTAL

Timbang Terima
a. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH
1) Kepala TIM memimpin kegiatan timbang 0.2 3 0.6 S–W
terima. 2,9 -2 =
2) Adanya timbang terima tiap shift. 0.2 3 0,6 0,9
3) Adanya kemauan perawat untuk 0.1 3 0.3
melakukan timbang terima.
121

4) Adanya format khusus untuk pelaporan 0.2 3 0.6


timbang terima berupa buku
5) Dokumentasi keperawatan menggunakan 0.2 3 0.6
SBAR.
6) Kegiatan timbang terima yang dipimpin 0.1 2 0,2
ketua tim telah dilakukan pada tiap shift.

TOTAL 1 2,9

WEAKNESS
1) Isi timbang terima belum terfokus pada 1 2 2
masalah keperawatan, masih pada
masalah medis.

TOTAL 1 2

b. External Factor (EFAS)


OPPORTUNITY
1) Adanya mahasiswa PSIK yang akan 0.5 4 2
praktik manajemen
2) Adanya kerja sama yang baik antara 0.5 4 2
mahasiswa PSIK dengan perawat ruangan
TOTAL 1 4
THREATENED
1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari 0.5 2 1
masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan keperawatan yang professional
2) Meningkatnya kesadaran masyarakat 0.5 2 1
tentang tanggung jawab dan tanggung O–T
gugat perawat sebagai pemberi asuhan 4 –2 = 2
keperawatan
1 2
TOTAL

Discharge Planning
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGHT
1) Adanya kemauan untuk memberikan 0.3 4 1.2
pendidikan kesehatan kepada
pasien/keluarga 0.2 2 0.4
2) Pernah dilaksanakannya discharge
planning sebelumnya 0.2 4 0.8
3) Adanya surat control dan format resume
untuk pasien pulang 0.2 4 0.8
4) Ada alur pasien pulang 0.1 3 0.3
122

5) Sudah tersedianya kartu discharge


planning untuk pasien pulang 1 3,5 S–W
3.5 – 2
TOTAL =1,5

0.5 2 1
WEAKNESS
1. Keterbatasan waktu perawat dalam
memberikan Pendidikan Kesehatan. 0.5 2 1
2. Pemberian pendidikan kesehatan
dilakukan secara lisan setiap 1 2
pasien/keluarga.

TOTAL 0.5 4 2.0


O–T
OPPORTUNITY 0.5 3 1.5 3.5-
1. Adanya mahasiswa PSIK yang sedang 2,5= 1
melakukan praktik manajemen
2. Adanya kerjasama yang baik antara 1 3.5
mahasiswa PSIK dengan perawat klinik

TOTAL 0.5 3 1,5

TREATHENED
1. Adanya tuntutan masyarakat untuk 0.5 2 1
mendapatkan pelayanan keperawatan
yang profesional 1 2,5
2. Makin tingginya kesadaran masyarakat
akan pentingnya kesehatan

TOTAL

Dokumentasi Keperawatan 0.3 4 1.2


Internal Factor (IFAS)
STRENGTH 0.3 4 1,2
1. Pendokumentasian model SOR (Source
Oriented Record). 0.4 3 1.2 S–W=
2. Tersedianya sarana dan prasarana untuk 3,6-2.5
pendokumentasian = 1,1
3. Tersedia format asuhan keperawatan 1 3.6
dan standar asuhan keperawatan.

TOTAL 0.5 3 1.5

WEAKNESS 0.5 2 1
123

1. Belum semua tindakan perawat


didokumentasikan. 1 2.5
2. Pengawasan terhadap sistematika
pendokumentasian kurang dilaksanakan
secara optimal.
TOTAL 0.5 4 2

External Factor (EFAS) 0.5 3 1,5


OPPORTUNITY
1) Peluang perawat untuk meningkatkan
pendidikan (pengembangan SDM) 1 3,5
2) Kerjasama yang baik antara perawat
dengan mahasiswa O–T
3,5-
TOTAL 0.5 2 1 2,5= 1

THREATHENED
0.5 3 1.5
1) Adanya tingkat kesadaran yang tinggi
dari pasien dan keluarga tentang
tanggung jawab dantang gunggugat.
2) Persaingan antar RS dalam memberikan 1 2.5
pelayanan keperawatan

TOTAL
0.4 3 1.2
Penerimaan Pasien Baru
Internal Factor (IFAS) 0.6 4 2,4
STRENGTH
1) Sudah ada format penerimaan pasien baru
dan tata tertib pasien 1 3,6 S–W=
2) Ada kepuasan pasien dan keluarga 3,6 –
terhadap pelayanan 3=0,6
1 3 3
TOTAL

WEAKNESS
1) Kurang tersedianya waktu bagi perawat 1 3
untuk mengorientasikan pasien dan
keluarga akibat keterbatasan waktu dan
tenaga

TOTAL 0.5 3 1.5

b.External Factor (EFAS ) 0.5 3 1.5


OPPORTUNITY
124

1) Adanya mahasiswa PSIK yang praktik O – T


manajemen keperawatan 1 3 =3 – 2,3
2) Adanya kerjasama yang baik antara = 0,7
mahasiswa dengan perawat Ruang Tulip
atas. 0.3 2 0.6

TOTAL
0.3 3 0.9
TREATHENED
1) Adanya tuntutan masyarakat untuk 0.4 2 0,8
mendapatkan pelayanan keperawatan
yang profesional.
2) Makin tinggi kesadaran masyarakat 1 2,3
akan pentingnya kesehatan.
3) Persaingan antar Rumah Sakit swasta
yang semakin ketat.

TOTAL
4 1,2
0,3
Dokumentasi Keperawatan 3 0,9
0,3
Internal Factor (IFAS)
STRENGTH 0,4 3 1,2
1) Pendokumentasian memakai SOR
(source oriented record) 1 3,3 S–W=
2) Tersedianya sarana parasarana untuk 3,3 – 2=
pendokumentasian. 1,1
3) Tersedianya format asuhan keperawatan 2 1
dan standart asuhan keperawatan. 0,5
TOTAL 2 1
0,5
WEAKNESS
1) Tindakan belum semuanya di 2
dokumentasikan
2) Pengawasan terhadap sistemaktika 1
pendokumentasian kurang dilaksanakan
secara optimal.
3 1,5
TOTAL
0,5 3 1,5
External Factor (EFAS )
OPPORTUNITY 0,5 3
1) Peluang perawat untuk meningkatkan O–T =
pendidikan (pengembangan SDM) 1 3–2,5 =
2) Kerja sama yang baik antara perawat 3 1,5 0,5
dengan mahasiswa
TOTAL
0,5 2 1
125

TREATHENED
1) Adanya tingkat kesadaran yang tinggi 2,5
dari pasien dan keluarga tentang 0,5
tanggung jawab dan tanggung gugat.
2) Persaingan antara rumah sakit dalam 1
memberi pelayanan keperawatan.

TOTAL

4. M4 (MONEY)
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGTH
1) Sebagian besar pembiayaan ruangan 0,5 4 2
berasal dari rumah sakit yang diperoleh
dari APBD Kabupaten Sidoarjo.
2) Sedangkan pembiayaan pasien sebagian 0.5 3 1.5 S–W
besar dari BPJS, dan biaya sendiri. Biaya 3,5 – 2
Perawatan yang berlaku saat ini sesuai = 1,5
kelas perawatan. Di Ruang mawar merah
putih
1 3,5
TOTAL

WEAKNESS 1 2 2
1) Adanya ketidaksesuaian intensif perawat
yang diterima
1 2
TOTAL

b. EkternalFaktor (EFAS)
OPPORTUNITY 0,5 3 1,5
1) Pengeluaran sebagian besar dibiayai oleh
institusi O-T
2) Adanya kesempatan untuk menggunakan 0,5 3 1,5 3-2 =
konsumsi medis sehingga menghemat 1
pengeluaran
1 2,5
TOTAL

TREATHENED 1 2 2
1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari
pasien dan keluarga untuk mendapatkan
pelayanan yang lebih baik dengan biaya
yang dikeluarkan
1 2
TOTAL
5. Marketing (M5)
126

a. Internal Faktor (IFAS)


STRENGTH
1. Kepuasaan pasien dengan pelayanan 0,6 3 1,8 S-W
kesehatan di rumah sakit 3–2=
2. Rata-rata Bor cukup baik 0,3 3 0,9 1
3. Adanya variasi karakteristik dari pasien 0,1 3 0,3
(BPJS, Umum / non BPJS)
TOTAL 1 3

WEAKNESS
1. Adanya 80 % pasien yang mengatakan
cukup puas dengan pelayanan kinerja 1 2 2
perawat di mawar kuning bawah
TOTAL
1 2
b. Ekternal Faktor (EFAS)

OPPORTUNITY
1) Meningkatkan pelayanan kepada pasien
yang baik antara perawat dan mahasiswa 0,5 4 2
2) Meningkatnya pendapatan RS O–T=
0,5 3 1,5 3,5–
TOTAL 2,5= 1
1 3.5
TREATHENED
1. Adanya peningkatan standart kesehatan
masyarakat yang harus dipenuhi. 0,5 3 1,5
2. Persaingan RS dalam memberikan
pelayanan keperawatan. 0,5 2 1
TOTAL
1 3