Anda di halaman 1dari 9

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara

yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992.
Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan
stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-
masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN. Konsekuensi atas kesepakatan MEA
tersebut berupa aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa,
dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas
modal. Hal-hal tersebut tentunya dapat berakibat positif atau negative bagi perekonomian
Indonesia. Oleh karena itu dari sisi pemerintah juga dilakukan strategi dan langkah-langkah
agar Indonesia siap dan dapat memanfaatkan momentum MEA.

MEA merupakan sebuah bentuk dari Free trade area (FTA) seperti EU (European Union) dan
NAFTA . Pada dasarnya, pelaksanaan FTA ditujukan untuk meningkatkan kerjasama
ekonomi diantara negara kawasan untuk meningkatkan sebuah ekspansi perdagangan (trade
creation). Meski harus disadari, bahwa FTA juga berpotensi menyebabkan trade diversion
yang menyebabkan.

Masyarakat ekonomi asean (mea) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang
dianut dalam visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara. Contoh
penulisan daftar pustaka yang benar untuk membuat karangan atau tulisan karya ilmiah
diharuskan untuk melengkapinya dengan daftar pustaka yaitu kajian. Mea merupakan bentuk
realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan asia tenggara. sebuah bentuk pasar
bebas tidak hanya pada sektor barang namun juga.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), menjadi gerbang utama bagi pembisnis di Indonesia
untuk mengenalkan brandnya di pasar Internasional. Program ini sudah dirancang dan akan
dijalankan dalam waktu dekat ini. Bukan hanya pembisnis saja, tapi daya saing pekerja juga
mengetat. tidak hanya membuka arus perdagangan dan jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja
profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.

“Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi
berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.”

Gambaran karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi;
kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang
adil; dan kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dampak terciptanya MEA
adalah terciptanya pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.
Konsekuensi atas kesepakatan MEA yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara
ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja
terampil, dan dampak arus bebas modal.

Dari karakter dan dampak MEA tersebut di atas sebenarnya ada peluang dari
momentum MEA yang bisa diraih Indonesia. Dengan adanya MEA diharapkan
perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Salah satunya pemasaran barang dan jasa dari
Indonesia dapat memperluas jangkauan ke negara ASEAN lainnya. Pangsa pasar yang ada di
Indonesia adalah 250 juta orang. Pada MEA, pangsa pasar ASEAN sejumlah 625 juta orang
bisa disasar oleh Indonesia. Jadi, Indonesia memiliki kesempatan lebih luas untuk memasuki
pasar yang lebih luas. Ekspor dan impor juga dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
murah. Tenaga kerja dari negara-negara lain di ASEAN bisa bebas bekerja di Indonesia.
Sebaliknya, tenaga kerja Indonesia (TKI) juga bisa bebas bekerja di negara-negara lain di
ASEAN.

Dampak Positif lainnya yaitu investor Indonesia dapat memperluas ruang investasinya
tanpa ada batasan ruang antar negara anggota ASEAN. Begitu pula kita dapat menarik
investasi dari para pemodal-pemodal ASEAN. Para pengusaha akan semakin kreatif karena
persaingan yang ketat dan para professional akan semakin meningkatakan tingkat skill,
kompetansi dan profesionalitas yang dimilikinya.

Namun, selain peluang yang terlihat di depan mata, ada pula hambatan menghadapi
MEA yang harus kita perhatikan. Hambatan tersebut di antaranya : pertama, mutu pendidikan
tenaga kerja masih rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP
atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta
pekerja di Indonesia. Kedua, ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga
mempengaruhi kelancaran arus barang dan jasa. Menurut Global Competitiveness Index
(GCI) 2014, kualitas infrastruktur kita masih tertinggal dibandingkan negara Singapura,
Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. .Ketiga, sektor industri yang rapuh karena
ketergantungan impor bahan baku dan setengah jadi. Keempat, keterbatasan pasokan energi.
Kelima, lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor, dan sekarang produk impor
Tiongkok sudah membanjiri Indonesia. Apabila hambatan-hambatan tadi tidak diatasi maka
dikhawatirkan MEA justru akan menjadi ancaman bagi Indonesia.
Menjelang MEA yang sudah di depan mata, pemerintah Indonesia diharapkan dapat
mempersiapkan langkah strategis dalam sektor tenaga kerja, sektor infrastuktur, dan sektor
industri. Dalam menghadapi MEA, Pemerintah Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang
berkaitan dengan Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan Infrastruktur,
Pengembangan Logistik, Pengembangan Investasi, dan Pengembangan Perdagangan
(www.fiskal.depkeu.go.id). Selain hal tersebut masing-masing Kementrian dan Lembaga
berusaha mengantisipasi MEA dengan langkah-langkah strategis.

Pemerintah berusaha mengubah paradigma kebijakan yang lebih mengarah ke


kewirausahaan dengan mengedepankan kepentingan nasional. Untuk bisa menghadapi
persaingan MEA, tidak hanya swasta (pelaku usaha) yang dituntut harus siap namun juga
pemerintah dalam bentuk kebijakan yang pro pengusaha.

Negara lain sudah berpikir secara entrepreneurial (wirausaha), bagaimana agar


pemerintah berjalan dan berfungsi laksana seubah organisasi entrepreneurship yang
berorientasi pada hasil. Maka dengan momentum MEA ini sudah tiba saatnya pemerintah
Indonesia mengubah pola pikir lama yang cenderung birokratis dengan pola pikir
entrepreneurship yang lebih taktis, efektif dan efisien. Sebagai contohnya adalah kebijakan
subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 300 triliun (US$ 30 miliar) yang kurang
produktif diarahkan kepada pembiayayaan yang lebih produktif misalnya investasi
infrastruktur.

Dalam bidang pendidikan, Pemerintah juga dapat melakukan pengembangan


kurikulum pendidikan yang sesuai dengan MEA. Pendidikan sebagai pencetak sumber daya
manusia (SDM) berkualitas menjadi jawaban terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Oleh
karena itu meningkatkan standar mutu sekolah menjadi keharusan agar lulusannya siap
menghadapi persaingan.
Kegiatan sosialisasi pada masyarakat juga harus ditingkatkan misalnya dengan Iklan Layanan
Masyarakat tentang MEA yang berusaha menambah kesiapan masyarakat menghadapinya.

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, meningkatkan standar mutu pendidikan


salah satunya dengan menguatkan aktor pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, dan orang
tua. Menurutnya, kepemimpinan kepala sekolah menjadi kunci tumbuhnya ekosistem
pendidikan yang baik. Guru juga perlu dilatih dengan metode yang tepat, yaitu mengubah
pola pikir guru.

Dalam bidang Perindustrian, Menteri Perindustrian Saleh Husin juga memaparkan


strategi Kementrian Perindustrian menghadapi MEA yaitu dengan strategi ofensif dan
defensif. Strategi ofensif yang dimaksud meliputi penyiapan produk-produk unggulan. Dari
pemetaan Kemenperin, produk unggulan dimaksud adalah industri agro seperti kakao, karet,
minyak sawit, tekstil dan produk tekstil, alas kaki kulit, mebel, makanan dan minimum,
pupuk dan petrokimia, otomotif, mesin dan peralatan, serta produk logam, besi, dan baja.
Adapun strategi defensive dilakukan melalui penyusunan Standar Nasional Indonesia untuk
produk-produk manufaktur.(www.kemenperin.go.id)

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel punya langkah-langkah yang akan dilakukan


untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2019. Salah satunya adalah
mencanangkan Nawa Cita Kementerian Perdagangan, dengan menetapkan target ekspor
sebesar tiga kali lipat selama lima tahun ke depan. Cara tersebut bisa dilakukan dengan
membangun 5.000 pasar, pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta
peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Adapun target ekspor pada 2015 dibidik
sebesar US$192,5 miliar. Selanjutnya pemerintah juga menyiapkan strategi subsititusi impor
untuk meningkatkan ekspor, dan memberi nilai tambah produk dalam negeri. Pada saat ini 65
persen ekspor produk Indonesia masih mengandalkan komoditas mentah.Pemerintah
berusaha membalik struktur ekspor ini yaitu dari komoditi primer ke manufaktur, dengan
komposisi 35 persen komoditas dan 65 persen manufaktur. Oleh karena itu, industri
manufaktur diharapkan tumbuh dan fokus pada peningkatan kapasitas produksi, untuk
meningkatkan ekspor sampai 2019.

Pemerintah juga mendekati industri yang berpotensi menyumbang peningkatan


ekspor, misalnya industri otomotif. Diketahui, industri otomotif berencana mengekspor 50
ribu sepeda motor ke Filipina. Kementerian Perdagangan juga mendorong sektor mebel untuk
semakin menggenjot ekspornya. Selain itu, sektor perikanan juga memberikan optimisme
terhadap peningkatan ekspor Indonesia.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memperkuat produk UKM dengan membina
melalui kemasan, sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan meningkatkan daya saing produk
dalam negeri. Lalu, mereka juga memfasilitasi pelaku UKM dalam pameran berskala
internasional. Melalui fasilitas itu, Kementerian Perdagangan berharap, produk serta merek
yang dibangun oleh pelaku UKM di Indonesia dapat dikenal secara global.

Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan karena hambatan


perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan
berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.
Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas
komoditas yang diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu,
tekstil, dan barang elektronik (Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul
dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang
akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh
lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca perdagangan bagi
Negara Indonesia sendiri.

Tantangan yang dihadapi Indonesia memasuki integrasi ekonomi ASEAN tidak hanya
bersifat internal di dalam negeri tetapi dengan sesama Negara ASEAN dan luar ASEAN
seperti China dan India. Berdasarkan kinerja ekspor 2004-2008, Indonesia berada diurutan
keempat setelah Singapura, Malaysia dan Thailand dan importer tertinggi setelah Singapura
dan Malaysia.

Ancaman yang diperkirakan lebih serius lagi datang dari China. Pada tahun 2008,
Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 3600 juta. Apabila kondisi daya saing Indonesia tak
segera diperbaiki, nilai defisit perdagangan dengan China akan semakin maningkat.(Media
Indonesia, 26 November 2009).

Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign
Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui
perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia
(human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. Meskipun begitu, kondisi
tersebut dapat memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki tingkat regulasi
yang kurang mengikat sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam skala besar.
Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak
ekosistem di Indonesia, sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat
untuk menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang terkandung.
Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja
karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang
beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan
menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi
kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan
kriteria yang diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi
Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing
dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi
industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di
ASEAN.

Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan rencana
strategis pemerintah untuk menghadapi MEA / AEC, antara lain :

1. Penguatan Daya Saing Ekonomi

Pada 27 Mei 2011, Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan


Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan perwujudan transformasi
ekonomi nasional dengan orientasi yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang kuat,
inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.

2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)

ACI (Aku Cinta Indonesia) merupakan salah satu gerakan ‘Nation Branding’ bagian dari
pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres No.6 Tahun 2009 yang berisikan
Program Ekonomi Kreatif bagi 27 Kementrian Negara dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih
berjalan sampai sekarang dalam bentuk kampanye nasional yang terus berjalan dalam
berbagai produk dalam negeri seperti busana, aksesoris, entertainment, pariwisata dan lain
sebagainya. (dalam Kemendag RI : 2009:17).

3. Penguatan Sektor UMKM

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin mengadakan


mengadakan beberapa program, antara lainnya adalah ‘Pameran Koperasi dan UKM Festival’
pada 5 Juni 2013 lalu yang diikuti oleh 463 KUKM. Acara ini bertujuan untuk
memperkenalkan produk-produk UKM yang ada di Indonesia dan juga sebagai stimulan bagi
masyarakat untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan usaha kecil serta menengah.

Selain itu, persiapan Indonesia dari sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM)
untuk menghadapi MEA 2015 adalah pembentukan Komite Nasional Persiapan MEA 2015,
yang berfungsi merumuskan langkah antisipasi serta melakukan sosialisasi kepada
masyarakat dan KUKM mengenai pemberlakuan MEA pada akhir 2015.

Adapun langkah-langkah antisipasi yang telah disusun Kementerian Koperasi dan UKM
untuk membantu pelaku KUKM menyongsong era pasar bebas ASEAN itu, antara lain
peningkatan wawasan pelaku KUKM terhadap MEA, peningkatan efisiensi produksi dan
manajemen usaha, peningkatan daya serap pasar produk KUKM lokal, penciptaan iklim
usaha yang kondusif.

Namun, salah satu faktor hambatan utama bagi sektor Koperasi dan UKM untuk bersaing
dalam era pasar bebas adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) pelaku KUKM yang
secara umum masih rendah. Oleh karena itu, pihak Kementrian Koperasi dan UKM
melakukan pembinaan dan pemberdayaan KUKM yang diarahkan pada peningkatan kualitas
dan standar produk, agar mampu meningkatkan kinerja KUKM untuk menghasilkan produk-
produk yang berdaya saing tinggi.

Pihak Kementerian Perindustrian juga tengah melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan


terhadap sektor industri kecil menengah (IKM) yang merupakan bagian dari sektor UMKM.
Penguatan IKM berperan penting dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui perluasan
kesempatan kerja dan menghasilkan barang atau jasa untuk dieskpor. Selain itu, koordinasi
dan konsolidasi antar lembaga dan kementerian pun terus ditingkatkan sehingga faktor
penghambat dapat dieliminir.

4. Perbaikan Infrastruktur

Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun 2010 telah
berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur seperti prasarana jalan,
perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut, transportasi udara, komunikasi dan
informatika, serta ketenagalistrikan :
i. Perbaikan Akses Jalan dan Transportasi
ii. Perbaikan dan Pengembangan Jalur TIK
iii. Perbaikan dan Pengembangan Bidang Energi Listrik.

5. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur pendidikan. Selain
itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah
membangun sarana dan prasarana pendidikan secara memadai, termasuk rehabilitasi ruang
kelas rusak berat. Data Kemdikbud tahun 2011 menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar
173.344 ruang kelas jenjang SD dan SMP dalam kondisi rusak berat. (dalam Bappenas RI
Buku I, 2011:36).

6. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintahan

Dalam rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, telah


ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi jangka panjang 2012-
2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk
pelaksanaan aksi setiap tahunnya. Upaya penindakan terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK)
ditingkatkan melalui koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK kepada Kejaksaan
dan Kepolisian.

Jika Indonesia mampu mengantisipasi, pengaruh liberalisasi akan mengarah pada


efisiensi pasar jasa. Dampaknya adalah pilihan bagi konsumen meningkat, produktivitas
meningkat, serta persaingan yang lebih sehat di dorong. Pencapaian MEA dilakukan melalui
empat tahapan strategis, meliputi : pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi,
kawasan ekonomi yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan terintegrasi
dengan perekonomian global. Menghadapi tantangan itu HIPMI mulai menyiapkan sejumlah
langkah menghadapi persaingan ekonomi pada 2020. “Indonesia harus menjadi pemain
dalam komunitas ekonomi ASEAN,” kata Oktohari. Untuk menghadapi itu semua, paparnya,
mulai saat ini HIPMI telah mengambil sejumlah langkah antara lain menyiapkan dan
memberikan mentoring pada pengusaha pemula agar mampu menghadapi persaingan baik di
dalam negeri, kawasan dan global. Selain itu, katanya, HIPMI juga memberikan perhatian
pada pengusaha-pengusaha lokal atau di daerah agar dapat mengembangkan usahanya
sekaligus memperluas pasar produksi barang-barang mereka. Program kebijakan penguatan
daya saing telah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, antara lain penguatan UKM
nasional. Hal tersebut penting untuk memfasilitasi UKM nasional yang berdaya saing tinggi,
inovatif, dan kreatif, serta mampu melakukan perluasan pasar dari Komunitas Ekonomi
ASEAN.

Integrasi pasar tunggal ASEAN 2015 tinggal menghitung hari. MEA 2015 memiliki sebuah
peluang dan ancaman bagi perekonomian domestik, khususnya bagi Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM). MEA direalisasikan dengan ide dasar untuk mentransformasikan
ASEAN menjadi sebuah kawasan pasar bebas tunggal dan basis produksi bagi pergerakan
barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan arus modal. Selanjutnya, MEA juga diarahkan
sebagai sebuah kawasan yang sangat kompetitif; sebuah kawasan dengan pembangunan
ekonomi yang merata; dan sebuah kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian
global.

http://www.islampos.com/masyarakat-ekonomi-asean-tantangan-atau-ancaman-102209/
Yusanto, M.Ismail. 2009. Pengantar Ekonomi Islam. Bogor: Al Azhar Press

http://www.kemenperin.go.id/artikel/10920/Strategi-Kementerian-Perindustrian-Hadapi-
MEA