Anda di halaman 1dari 20

JOURNAL READING

Oleh:
Nabilla Turista Lastanta
30101206697
Nur Sulistiyaningsih
30101407274

Pembimbing:
dr. Elly Noer Hidayah, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSJD AMINO GONDO UTOMO SEMARANG
PERIODE 4 JUNI – 2 JUNI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
PREVALENSI DEPRESI, CEMAS, DAN INSOMNIA PADA PASIEN

DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIS DAN KORELASINYA DENGAN

VARIABEL DEMOGRAFI

H.K. Aggarwal, Deepak Jain, Geeta Dabas, R K Yadav

Abstrak

Latar Belakang: Penyakit ginjal kronis (CKD) adalah masalah kesehatan yang

dapat muncul baik di negara maju maupun negara berkembang. Depresi, cemas

dan gangguan tidur sangat lazim terjadi pada pasien dengan penyakit kronis, tetapi

hal tersebut tetap belum terobati meskipun ada konsekuensi negatif yang

signifikanpada kesehatan pasien. Penilaian komponen kunci dari kesehatan mental

pada awal perjalanan penyakit akanmembantu untuk mengidentifikasi subjek

berisiko tinggi dan bila dapat memodifikasi prediktor ini diharapkan akan

membantu dalam mewujudkan kehidupan yang aktif dan sehat pada pasien CKD.

Metode: Kami melakukan studi cross sectional pada 200 pasien CKD stadium III

hingga V-D yang memenuhikriteria kelayakan yang sedang ditindaklanjuti di

pusat pelayanan tersier tunggal di negara bagian Haryana, India. Kami menilai

prevalensi cemas, depresi dan insomnia serta hubungannya denganvariabel

demografi pada pasien ini. Kuesioner terstruktur yang digunakan dalam penelitian

ini mengumpulkan informasi tentang karakteristik demografi dan penyakit

responden, serta informasi yang diperoleh dari kuisioner HADS dan PSQI. Faktor

yang terkait dengan cemas, depresi dan insomnia diolah dengan analisis regresi

logistik ganda.
Hasil: Prevalensi dari cemas, depresi dan insomnia masing-masing antara lain

71%, 69% dan86,5%. Pada CKD tingkat lanjut, prevalensi sertaparameter tingkat

keparahan penyakit inimeningkat. Cemas, depresi dan kualitas tidur didapatkan

secara signifikan berkorelasi dengan pengangguran, penghasilan rendah,

pendidikan rendah, tempat tinggal perkotaan dan kehadiran komorbiditas.Skor

cemas, depresi dan insomnia dilaporkan memiliki korelasi negatif yang

kuatdengan eGFR, hemoglobin, serum kalsium (p <0,01) dan korelasi positif

dengan TLC, ureadarah, serum kreatinin dan serum fosfat (p <0,05).

Kesimpulan: Kami disini mengamati tingginya prevalensi cemas, depresi dan

insomnia pada pasien CKD. Perlu dilakukannya pegembangan strategi agar secara

akurat dapat mengidentifikasi subjek "berisiko tinggi" yang mungkin

dapatbermanfaatdalam tindakan pencegahan sebelum komplikasi terjadi. Dengan

mengidentifikasi pasien CKD dengan risiko tinggi yang terkait dengan kesehatan

mental tersebut, penyedia layanan kesehatan akan menjadi lebih mampu

menyediakan rehabilitasi yang sesuai untuk pasien CKD.

Kata kunci: Penyakit ginjal kronis, depresi, cemas, insomnia.\

PENGANTAR

Penyakit ginjal kronis (CKD) adalah masalah kesehatanutamayang perlu

diperhatikan dan seperti banyak penyakit kronis lainnya yang selalu dikaitkan

dengan berbagai kondisi kejiwaan dan kualitas hidup yang lebih buruk. CKD

memiliki dampak negatif yang mempengaruhi dari segi sosial, finansial, dan
[1,2]
kesejahteraan psikologis pasien. Pasien dengan CKDdianggap sangat rentan
terhadap masalah emosi karena stres kronis yang terkait dengan beban penyakit,

pembatasan diet, keterbatasan fungsional, penyakit kronis terkait,efek samping

obat, perubahan persepsi diri dan rasa takut mati. Pasien hemodialisis mengalami

penurunan kualitas hidup, lebih banyak gangguan fungsional, terjadinya keadaan

psikopatologis yang lebih besar termasuk bunuh diri, kepatuhan yang lebih rendah
[3]
terhadap pengobatan dan peningkatan jangka panjang rasa nyeri pada tubuh.

Karena itu, diagnosis dan pengobatan kondisi ini menjadi penting untuk

meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup secara keseluruhan

serta pada akhirnya dapat mengurangi morbiditas dan risiko kematian pada

populasi tersebut.

Secara keseluruhan, depresi adalah masalah kejiwaan/psikologis yang

paling umum (kemungkinan terjadi bersamaan dengan cemas). Pada klinik

pelayanan primer, perkiraan prevalensi gangguan depresi adalah 13-22% tetapi


[4]
hanya diakui pada sekitar 50% kasus. Karena banyak gejala depresi yang

tumpang tindih dengan gejala akibat uremia pada CKD, pasienpun banyak yang

tidak terdiagnosis oleh dokter yang merawat. Cemas pada pasien CKD sering

terjadi bersamaan dengan depresi dan bahkan sepertinya memperburuk gejala

depresi sehingga dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup. Baik depresi

maupun cemas adalah prediktor morbiditas dan mortalitas pada pasien

hemodialisis, sehingga berpengaruh dalam kepatuhan pasien dan menurunkan

kekebalan serta status gizi pasien. Menurunnya kualitas tidur adalah halumum

yang dapat terjadi pada pasien hemodialisis sehingga dapat menurunkan kualitas
[5]
hidup. Penyebab kurang tidur pada pasien CKD antara lain cemas, depresi,

kelelahan, sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome), apneaobstruktif saat


tidur, dll. Telah dilaporkan prevalensi ‘kekurangan tidur’ pada pasien

hemodialisis berada di kisaran 45-80%. [6]

Meski beberapa studi tentang depresi, cemas dan kualitas tidur telah

dilakukan, mayoritasdari studi yang dilakukan berasal dari negara-negara barat.

Penelitian pada kesehatan mental terkait pasien CKD di India jarang dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji prevalensi cemas, depresi dan insomnia

pada pasien CKD di India dan korelasinya dengan variabel sosio-demografi

dengan harapan temuan ini dapat menjadi pertimbangan psikologis yang sesuai

mengenai strategi intervensi untuk pasien CKD di India.

BAHAN DAN METODE

Dalam penelitian cross sectional ini, sebanyak 200 pasien dengan penyakit

ginjal kronis stadium III hingga V-D direkrut antara bulan Mei 2014 - Oktober

2015 di Pt. B. D. Sharma PGIMS, Rohtak; pusat pelayanankesehatan tersier di

negara bagian Haryana, India. Pasien berusia <18 tahun, pasien dengan riwayat

penyakit psikiatriatau disfungsi kognitifyang sudah ada sebelumnya, pasien

dengan transplantasi ginjal atau kondisi apa saja menghalangi pasien untuk

berpartisipasi dalam penelitian; seperti penyalahgunaan narkoba, wanita hamil,

keganasan, akan dieksklusi dari penelitian.

Setelah mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta mendapat

informed consent tertulis, pasien kemudian direkrut. Definisi operasional cemas,

depresi dan insomnia diartikan sebagai:


Cemas: Rasa tidak percaya yang subyektif, ketakutan atau firasat, dapat

menjadi kondisi psikiatri primer, atau bisa sebagai bagian atau temuan klinis dari

penyakit medis utama yang lain.

Depresi: Gangguan depresi mayor didefinisikan oleh DSM-IV

sebagaihilangnya minat dan kegembiraan selama 2 minggu, disertai 5 atau lebih

gejala psikologis, somatik dan perilaku.

Insomnia: Sensasi subyektif dari tidur yang singkat, dan tidak memuaskan,

meski memiliki kemampuan untuk tidur. Baik kesulitan dalam memulai tidur,

terbangun saat malam, maupun kesulitan untuk tidur kembali yang harus terus

menerus hadir (yaitu 3-4 kali seminggu selama beberapa minggu).

Riwayat medistelah digali danpemeriksaan klinis telah dilakukan. Subyek

kemudian menjalani pemeriksaan laboratorium rutin termasuk pemeriksaan

radiografi dan biokimia dasar. Profil demografis setiap pasien dicatat sesuai

performa yang ditentukan sebelumnya bersama dengan kuesioner HADS

(Hospital Anxiety and Depression Scale) untuk cemas dan depresi serta PSQI

(Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk insomnia. HADS adalah skala pengukuran

dengan 14 item pertanyaan yang menghasilkan data ordinal. 7 dari item tersebut

berhubungan dengan cemas dan 7berhubungan dengan depresi. Ini adalah alat

yang berguna untuk mendeteksi cemas dan depresi pada orang dengan masalah

kesehatan fisik. Tanggapan diberi skor dengan skala 0-3, skala 3 menunjukkan

frekuensi gejala yang lebih tinggi. Skor dari setiap subskala dapat berkisar antara

0-21,yang dikategorikan sebagai 0-7 normal, 8-10 cemas/depresi ringan, 11-14

cemas/depresi sedang dan 15-21 cemas/depresi berat. Total skor untuk seluruh
skala (gangguan mood dan afek) berkisar antara 0-42,dengan skor yang lebih

tinggi menunjukkan lebih banyak kesulitan. Kualitas tidur diukur menggunakan

Pittsburgh Sleep Quality Indeks. PSQI adalah kuesioner untuk menilai kualitas
[7]
tidur dalam interval waktu 1 bulan. Ia membedakan antara kualitas tidur yang

"buruk" dengan yang "baik" dengan cara mengukur tujuh domain yaitu: kualitas

tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, kebiasaan tidur, dan gangguan tidur,

penggunaan obat tidur, dan gangguan aktivitas pada siang hari selama beberapa

bulan terakhir. Setiap domain diberi skor tertentu yang pada akhirnya dirangkum

dalam skor global untuk memprediksi kualitas tidur. Skor ≥5 adalah indikasi

kualitas tidur yang buruk.

Populasi penelitian dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan eGFR dan

perbandingan lebih lanjuttelah dibuat.

Kelompok A terdiri dari 50 pasien dengan eGFR antara 30-59 ml/menit/1.73 m2

(CKD stadium III).

Kelompok B terdiri dari 50 pasien dengan eGFR antara 15-29 ml/menit/1.73m2

(CKD stadium IV).

100 pasienlainnya dengan eGFR <15 ml/menit/1.73m2 (tahap V) direkrut

dan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan hemodialisis:

Kelompok C terdiri dari 50 pasien yang tidak menjalani hemodialisis (CKD

stadium V).

Kelompok D terdiri dari 50 pasien dengan hemodialisis dalam 6 bulan terakhir


(CKD stadium V-D).

Metode Statistik:

Perangkat lunak statistik SPSS IBM versi 20digunakan untuk analisis

statistik. Skor mentah dari kuesioner ditransformasikan ke skala skor

menggunakan sintaks perangkat lunak untuk HADS dan PSQI. Data dianalisis dan

disajikan sesuai untuk hasil tes distribusi normal. Tes ANOVA digunakan untuk

menganalisis perbedaan dalam variabel kuantitatif antar kelompok. Uji t

independen digunakan untuk membandingkan cemas, depresi dan skor PSQI

terkait dengan korelasi yang dikategorikan. Nilai P <0,05 dianggap signifikan.

HASIL:

Populasi penelitian ini terdiri dari 200 pasien.Usia rata-ratanya adalah

50,11 ± 13,99 tahun, dan sebagian besar subjek adalah laki-laki (64%),

menganggur (57%), menikah (94,5%), tergolong kelompok dengan pendapatan

rendah (≤1,5 lac per tahun) (56%) dan yang berada di daerah pedesaan (52,5%).

Selain itu, 58% pasien mendapat pendidikan hingga tingkat dasar sementara

34,5% pasien memiliki pendidikan tingkat menengah dan hanya 7,5% yang

melanjutkan ke universitas pada tingkat lanjut. Hampir 50,5% pasien memiliki

komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular, penyakit saluran napas kronis,

hipotiroidisme, penyakit hati kronis, dan penyakit serebrovaskular. Di antara

distribusi etiologi, penyebabCKD yang paling umum antara lain penyakit diabetes

mellitus (29%) yang diikuti oleh glomerulonefritis kronis (26%), hipertensi


(24,5%) dan obstruktif saluran kencing (9,5%). Etiologi yang kurang sering

ditemukan yaitu sindrom nefrotik dan penyakit ginjal polikistik.

Seperti yang telah ditunjukkan pada Tabel 1, tidak ada perbedaan statistik

yang signifikan antara 4 kelompok tersebut dalam hal usia, SBP, DBP, MAP,

gula darah, serum asam urat, dan serum kalium. Disisi lain, hemoglobin, serum

kalsium dan eGFR menunjukkan penurunan yang signifikan secara statistik dari

kelompok A ke D sedangkan ureadarah, serum kreatinin dan serum fosfat

menunjukkan kenaikan dari kelompok A ke D yang signifikan secara statistik (p

<0,05).

Tabel 1. Demografi dan parameter klinis dasar dari 4 kelompok

Dari 200 pasien, 142 (71%) pasien mengalami cemas (HADS-A score> 7),

138 (69%) pasien mengalami depresi (skor HADS-D> 7) dan 173 (86,5%) pasien
memiliki kualitas tidur yang buruk (PSQI skor ≥5). Skor cemas, depresi, dan

insomnia masing-masing 11,16 ± 3,91, 10,74 ± 3,69 dan 7,93 ± 3,37. Skor

tersebut lebih tinggi dari nilai ambang, dalam diagnosis kondisi ini; di sebagian

besar populasi penelitian menyiratkan kehadiran tingkatcemas, depresi dan

insomnia yang tinggipada pasien CKD. Rata-rata skor cemas, depresi dan

insomnia menunjukkan peningkatan bertahap dari kelompok A ke D seperti yang

ditunjukkan pada tabel 2 yang signifikan secara statistik (p <0,001). Temuan ini

menunjukkan bahwa semakin lanjut stadium CKD, semakin besar kemungkinan

pasien mengalami cemas, depresi dan insomnia. Tingkat keparahan penyakit juga

meningkat seiring memburuknya stadium CKD seperti yang ditunjukkan oleh

meningkatnya skor cemas, depresi dan insomnia dari kelompok A ke D. (Tabel-2)

Tabel 2. Cemas, depresi dan insomnia pada masing-masing kelompok

Tabel 3 menunjukkan korelasi skor cemas, depresi dan insomnia dengan

berbagai klinis dan variabel sosio-demografi. Rata-rata dari skor cemas, depresi

dan insomnia ditemukan menjadi lebih tinggi pada mereka yang memiliki Hb <9,

pengangguran, tinggal di daerah perkotaan, memiliki pendapatan rendah, dan ko-

morbiditas terkait (p <0,05).


Tabel 3. Korelasi terkelompok dari skor cemas, depresi dan insomnia

Tingkat pendidikan pasien dicari korelasinuya dengan cemas, depresi dan

insomnia menggunakanuji t tidak berpasangan. Tingkat pendidikan tidak terbukti

mempengaruhi tingkat cemas. Namun, rata-rata skor depresi dan PSQI

menunjukkan penurunan yang signifikan dari pendidikan tingkat dasar ke

menengah (p <0,001) tetapi perbedaan antara tingkat menengah dan kelompok

universitas tidak signifikan (p> 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa pasien

yang kurang berpendidikan memiliki skor depresi dan skala insomnia yang lebih

tinggi secara signifikan. (Tabel-4)


Tabel 4. Korelasi antara pendidikan dengan skor cemas, depresi dan insomnia

Pada penerapan korelasi Pearson, secara statistik memiliki korelasi positif

yang signifikan antara cemas, depresi dan skor PSQI dengan jumlah leukosit, urea

darah,serum kreatinin dan serum fosfat, sertamemiliki korelasi negatif yang

signifikan secara statistik dengan hemoglobin, serum kalsium dan eGFR. Skor

depresi dan PSQI juga berkorelasi positif dengan kadar serum kalium sedangkan

cemas tidak menunjukkan korelasi dengan serum kalium. Cemas dan depresi juga

berkorelasi negatif dengan BMI namun skor PSQI tidak memiliki korelasi yang

signifikan dengan BMI. Korelasi variabel lain seperti usia, MAP, serum asam

urat, serum natrium, gula darah dengan cemas, depresi dan skor PSQI juga dinilai

dalam penelitian ini. Namun, hasilnya tidak signifikan secara statistik. Cemas,

depresi, dan insomnia ditemukan memiliki korelasi positif yang signifikan satu

sama lain ketika koefisien korelasi Pearson digunakan (p <0,05).

DISKUSI

Populasi yang memiliki penyakit kronis telahdilaporkan memiliki kualitas

hidup dan kesehatan mental yang lebih buruk, termasuk tingkat depresi yang lebih

tinggi [8,9]Dalam sebagian besar studi literatur, telah ditemukan bahwa pada pasien

tersebut cenderung mengalami depresi atau cemas sebagai konsekuensi dari

diagnosis penyakit kronis[10,11] Diagnosis penyakit kronis bersama dengan terapi

obat dalam jangka waktu lama dan banyak serta seringnya rawat inap dapat

berkontribusi pada depresi atau cemas. Meski sudah ada peningkatan perhatian

pada kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir, stigma sosial


dandiskriminasi yang terkait dengan penyakit mental masih menjadi penghalang

yang signifikan terhadap kesehatan dan pekerjaan individu. Tujuan di balik

perencanaan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara fungsi ginjal,

cemas, depresi, kualitas tidur dan prediktornya karena terdapat kelangkaan studi

semacam itu pada pasien CKD pada populasi India, sehingga diharapkan dapat

berkontribusi dalam manajemen masalah kesehatan yang lebih baik pada pasien

CKD.

Prevalensi cemas dan depresi dinilai dengan menggunakan skor HADS.

Secara keseluruhan, Mykletun dkk menemukan bahwa skala HADS memiliki

keunggulan "Sifat psikometrik dalam hal faktor struktural, inter korelasi,

homogenitas dan konsistensi internal”. [12] Dalam ulasan lain yang dilakukan oleh

Bjelland dkk, HADS digunakan dalam menilai keparahan dari gangguan cemas

dan depresi baik dalam somatik, psikiatri dan pelayanan primer pasien dan
[13]
populasi secara umum. Kualitas tidur dinilai menggunakan skor PSQI.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa PSQI adalah instrumen efektif

yang digunakan untuk mengukur kualitas dan pola tidur pada orang dewasa yang

lebih tua.

Hasil kami menunjukkan bahwaterdapat prevalensi cemas, depresi, dan

insomnia yang tinggi pada pasien CKD. Sebanyak 142 (71%) pasien mengalami

cemas (HADS-A > 7), 138 (69%) pasien mengalami depresi (HADS-D > 7) dan

173 (86,5%) pasien memiliki kualitas tidur yang buruk (PSQI ≥5). Terdapat

persentase yang lebih tinggi untuk ketiga parameter tersebut dibandingkan dengan

penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Kutner dkkyang menemukan


tingkat prevalensi depresi dan cemas masing-masing 26,6% dan 45% dan Cukor

dkk yang menemukan tingkat prevalensi depresi

[14,15]
dan cemasmasing-masing 29% dan 45,7% pada pasien ESRD. Temuan ini

dapat dikaitkan dengan fakta bahwa dalam populasi India sebagian besar orang

memiliki status pendapatan rendah dengan pendekatan yang buruk terhadap

fasilitas medis yang baik. Dan juga tingkat pendidikan yang rendah, masalah

keuangan, seringnya kunjungan untuk hemodialisis dan waktu tunggu yang

berkepanjangan yang dapat memperburuk kondisi stres pada pasien CKD. Dalam

populasi penelitian ini, 10% dikategorikan sebagai cemas ringan, 36,5% cemas

sedang dan 24,5% cemas berat. Proporsi depresi ringan, sedang dan berat masing-

masing 11%, 43,5% dan 14,5%. Temuan penelitian kami juga mengungkapkan

bahwa semakin lanjut stadium CKD lebih besar pula prevalensi dan tingkat

keparahan cemas, depresi, serta insomnia. Hal ini menyiratkan bahwa seiring

dengan peningkatan stadium CKD, kesehatan mental dan kualitas tidur pasien

akan semakin memburuk. Hubungan antara gejala depresi dengan stadium CKD

yang serupa dilihat oleh Palmer dkk dan Chiang dkk dalam studi masing-masing.
[16, 17]
Terdapat kekurangnan dari studi yang membandingkan cemas pada berbagai

stadium CKD. Dalam studi lain yang dilakukan oleh Cantekin dkk pada pasien

pra hemodialisis ditemukan bahwa 35% pasien mengalami depresi dan 53,4%

mengalami cemas. Penelitian ini menunjukkan adanya masalah psikopatologis

sebelum pasien memulai hemodialisis. [18]

Gangguan tidur adalah salah satu faktor yang bisamengurangi kualitas

hidup pada pasien dengan CKD. Prevalensi gangguan tidur di antara pasien CKD

diperkirakan sekitar 41% hingga 83% dalam studi berbasis kuesioner. Keluhan
yang paling seringantara lain kesulitan dalam memulai tidur, kesulitan dalam
[19]
mempertahankan tidur, kantuk di siang hari,dan kelelahan. Temuan serupa

telah diamati pada penelitian kami dengan 86,5% pasien mengalami kualitas tidur

yang kurang berdasarkan kuesioner PSQI. Maqbool dkk melakukan studi tentang

insomnia pada pasien CKD yang menunjukkan bahwa insomnia masih merupakan
[20]
masalah utama, yaitu sebanyak 42,9% pasien. Di tempat lain studi yang

dilakukan oleh Iliescu dkk, kualitas tidur pada pasien dengan penyakit ginjal

kronis diukur menggunakan PSQI dengan hasil sebanyak 53% pasien memiliki

'kualitas tidur yang buruk' yang didefinisikan sebagai skor PSQI global ≥5. [21]

Pengaruh pemeriksaan laboratorium danparameter sosio-demografi juga dipelajari

untuk mengevaluasi peran mereka dalam kesehatan mental dan kualitas tidur.

Pasien pada penelitian kami dengan hemoglobin <9,0 g/dl, menganggur, mereka

yang tinggal di daerah perkotaan dan kelompok yang memiliki pendapatan rendah

memiliki nilai prevalensi cemas, depresi dan insomnia yang lebih tinggi dan

signifikan(p <0,001). Temuan ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Tanvir

dkk yang menemukan skor cemas dan depresi yang lebih tinggi pada pasien
[22]
dengan status sosio-ekonomi rendah dan pendidikan yang kurang. Sesso dkk

juga menemukan peningkatan terjadinya depresi pada pasien yang menganggur


[23]
dan berpenghasilan rendah. Theofilou mempelajari efek karakteristik sosio-

demografis pada cemas dan depresi pada pasien CKD dan menemukan tingkat

depresi yang lebih tinggi pada kelompok sosio-ekonomi rendah yang memberikan

bukti langsung bahwa pasien ini menghadapi masalah yang meningkat baik dalam
[24]
kesejahteraan psikologis, hubungan sosial dan kesehatan umum. Jika

dibandingkan, pasien dengan komorbiditas memiliki skor yang lebih tinggi secara
signifikan dibandingkan dengan tanpa komorbiditas (p <0,001). Hal tersebut

serupa dengan hubungan depresi dan penyakit komorbid yang dilihat oleh Patel

dkk. Pasien yang menderita depresi memiliki tingkat kelelahan dan kecemasan

yang lebih besar, sering memiliki keinginan bunuh diri, dan kualitas hidup yang
[25]
lebih buruk daripada pasien yang tidak depresi. Hubungan antarapendapatan

rendah dan kehadiran penyakit komorbid dengan depresi juga diamati oleh
[25]
Andrade dkk pada pasien CKD. Terdapat kekurangan data dalam

membandingkan kualitas tidur dengan variabel sosio-demografi, bagaimanapun

juga pada studi kami ditemukanbahwa kualitas tidur secara signifikan dipengaruhi

oleh status pekerjaan, kelompok pendapatan, tingkat pendidikan, daerah

perumahan dan komorbiditas. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk

memperjelas hubungan di antara mereka. Dalam penelitian kami tidak ada

perbedaan dalam skor cemas, depresi dan insomnia yang terlihat atas dasar BMI,

usia dan jenis kelamin. Temuan-temuan ini termasuk bertentangan dengan yang

terlihat oleh Patel dkk yang menemukan adanya hubungan langsung depresi
[25]
dengan BMI yang rendah. Namun, temuan ini sesuai dengan hasil yang

diperoleh oleh Chiang dkk yang mempelajari korelasi antara depresi pada pasien

CKD dan tidak menemukan hubungan antara depresi dengan usia dan jenis
[17]
kelamin. Dalam studi lain, Theofilou menemukan korelasi langsung depresi

dengan usia yang lebih tua yang menunjukkan lebih rendahnya

[24]
tingkat kesejahteraan fisik dan tingkatdepresi yang lebih tinggi. Perbedaan ini

mungkin disebabkan oleh struktur populasi yang berbeda dan sedikitnya orang tua

dalam populasi. Status pernikahan juga tidak memiliki efek pada skor cemas dan

insomnia meskipun skor depresi yag lebih tinggi secara signifikan ditemukan pada
pasien yang sudah menikah. Hasil yang sama terlihat oleh Tanvir dkk yang
[22]
menemukan skor depresi yang lebih tinggi pada pasien yang menikah. Orang

yang menikah menanggung tanggung jawab ekstra dari keluarga mereka. Hal ini

seiring dengan peningkatanbeban keuangan dan biaya hari ke hari mungkin

memperburuk depresi pada orang yang sudah menikah. Pengaruh pendidikan

dievaluasi setelah membagi populasi penelitian dalam tiga kelompok atas dasar

tingkat pendidikan yaitu dasar (hingga tingkat 8), menengah (tingkat 9-12) dan

universitas (lulusan). Secara keseluruhan, pasien dengan profil sosial ekonomi

rendah atau kurang dalam pendidikan, yang umumnya diambil sebagai indikator

status sosial, telah dilaporkan dalam literatur mereka mungkin menghadapi


[27]
masalah kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan kesehatan umum.

Dalam penelitian kami, pasien yang kurang terdidik memiliki kesehatan yang

kurang dan prevalensi serta keparahan yang lebih tinggi dalam hal cemas, depresi

dan insomnia.

Korelasi antara cemas, depresi daninsomnia dengan berbagai parameter

laboratorium dihitung menggunakan korelasi Pearson. Korelasi negatif yang

signifikan terlihat antara faktor-faktor seperti eGFR, penurunan serum kalsium

dan

kadar hemoglobin dengan skor cemas, depresi dan insomnia. Hal ini berarti

persepsi kesehatan mental pasien tidak hanya terkait dengan fungsi ginjal, tetapi

juga untuk kondisi lain - seperti anemia yang biasa terlihat pada pasien CKD.

Korelasi positif yangsignifikan dari skor ini terlihat pada urea darah, serum

kreatinin, serum fosfat dan TLC.


Kualitas tidur telah ditemukan terkaitlangsung ke cemas dan depresi.

Untuk mempelajari korelasi yang sama, skor dihitung menggunakan korelasi

Pearson, antara skor HADS-A, HADS-D dan PSQI. Korelasi positif yang

signifikan terlihat di antara semua skor. Hasil yang sama ditemukan oleh Chiang

dkk yang memeriksa prevalensi depresi, serta pengaruh faktor psikososial lainnya

pada pasien CKD di Taiwan. Studi tersebut mengungkapkan mereka dengan

gangguan tidur tiga kali lebih banyak cenderung mengalami depresi daripada
[17]
mereka yang memiliki tidur yang nyenyak. Keadaan psikopatologis tersebut

dapat terjadi diasumsikan mempengaruhi aktivitas penurunan

kortikotalamiksehingga baik usaha awal untuk memulai tidur maupun


[28]
pemeliharaankualitas tidur dapat terganggu. Dari perspektif neurobiologis,

gairah sistem individu yang mengalami insomnia lebih aktif daripada pada

populasi umum. Fenomena ini akan menyebabkan perubahan aktivitas

kortikotalamik, seperti konsentrasi yang lebih tinggi dari adrenocorticotropin

(ACTH) dan kortisol, yang mungkin dalam jangka panjang dapat mengakibatkan
[29, 30]
gangguan kejiwaan. Di lain studi yang dilakukan oleh Iliescu dkk riwayat

depresi dilaporkan menjadi prediktor independen dari 'Tidur yang buruk'. [21]’

Hasil dari penelitian ini harus ditafsirkan dengan berbagai keterbatasan

dalam pikiran karena kendala ekonomi, keengganan pasien dan berbagai macam

alasan teknis hemodialisis yang adekuat yang tidak bisa dipertahankan pada

semua pasien dalam kelompok D.

KESIMPULAN:
Mempertimbangkan dari meningkatkan prevalensi CKD yang berkembang

di seluruh duniadan pentingnyakesehatan mental dalam penyakit kronis, serta

meningkatkan pengetahuan kamitentang gangguan kejiwaan danpentingnya

prediktor risiko tinggi pada pasien CKD. Rusaknyakesehatan mental pada pasien

CKD adalah masalah multi-faktorial kompleksyang dimulai sejak dinidan

berkembang sesuai dengan tahapan penyakit. Oleh karena itu perlu adanya

pengembangan strategi secara akurat untuk mengidentifikasi subjek yang

"berisiko tinggi" sehingga dapat dilakukannya tindakan pencegahan sebelum

komplikasimulai terjadi yang akan membantu dalam penerapan hidupaktifdan

sehat pada pasien CKD. Mengingat bahwa banyaknya bukti dalam peningkatan

morbiditas danmortalitas yang terkait dengan depresi dan cemas pada pasien

CKD, menjadikan jelas bahwa penelitian guna mencari solusi yang efektif

ternyata masih tertinggal jauh di belakang. Target yang berpotensi bermanfaat

untukpenelitian termasuk pemeriksaan efektivitas dankeamanan obat antidepresan

dan anticemas, serta efektivitas intervensi psikologis danperilaku. "Manajemen"

daridepresi dan cemas itu rumit, seperti halnya "manajemen" penyakit kronis.

Karena adanya interaksi kedua komponen ini, sehingga solusiperlu diintegrasikan.

Oleh karena itu butuh waktu untukmengembangkan dan menguji efektivitas klinis

dan biaya dari sistem manajemen penyakit terpadu untukkondisi kejiwaan pada

pasien CKD. Saat ini,pelayanan kesehatan bersifat linier, pertamakami merawat

penyakit fisiknya terlebih dahulu, kemudian merujuk pasien untuk menangani

kesehatan mentalnya, atau sebaliknya.[31] Hal tersebut tidak efektif, efisien atau

hemat biaya. Model pelayanan terpadu ini perlu untuk diimplementasikan dan

dievaluasi. Berdasarkan padaprinsip manajemen penyakit kronis dantemuan klinis


pada penelitian ini, sistem manajemen penyakit terintegrasi dapatmeliputi

skriningdan pemantauan, informasi penyakit yang baik dansaran manajemen diri,

serta berbagaistrategi kognitif dan perilaku yang diterapkan dalammodel bertahap

atau berjenjang.