Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Widya Medika Surabaya Vol.2 No.

2 Oktober 2014

LUKA BAKAR
SUDUT PANDANG DERMATOLOGI

Jose L. Anggowarsito*

Abstract
Burns gives a great effect on humans, especially in terms of human life, suffering,
disability, and financial losses. Burns can be caused by thermal injuries (fire, liquid/
grease, and steam), radiation, electricity, chemistry. Damage and changes in various
systems of the body related to burns trauma sometimes difficult to monitor, that’s why
the problem is very complex. Understanding the burn phase, the degree of depth,
breadth and severity of the burn will assist in handling. Burns should be managed by
a trauma team consisting of the various disciplines. Dermatology viewpoint refers to
dermato-therapy, pain management, and dyspigmentation.
Keywords: Burns, Dermatology

Abstrak
Luka bakar memberikan pengaruh hebat pada manusia, terutama dalam hal
kehidupan manusia, penderitaan, cacat, dan kerugian finansial. Luka bakar
dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, dan uap panas), radiasi,
listrik, kimia. Kerusakan dan perubahan berbagai sistem tubuh berkaitan dengan
trauma luka bakar yang kadang sulit dipantau, sehingga permasalahannya sangat
kompleks. Pengertian terhadap fase luka bakar, derajat kedalaman, luas dan derajat
keparahan luka bakar akan membantu dalam penanganannya. Penanganan luka
bakar sebaiknya dikelola oleh tim trauma yang terdiri dari multi disiplin ilmu.
Sudut pandang dermatologi mengacu pada dermatoterapi, manajemen nyeri, dan
dispigmentasi.
Kata kunci: Luka bakar, Dermatologi
* Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik
Widya Mandala Surabaya

1. PENDAHULUAN panas baik kontak secara langsung maupun


tidak langsung.ii Kulit adalah organ tubuh
Luka bakar adalah kerusakan atau
terluas yang menutupi otot dan memiliki
kehilangan jaringan yang dapat disebabkan
peran homeostasis. Kulit merupakan organ
oleh panas (api, cairan/lemak panas, uap
terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh
panas), radiasi, listrik, kimia. Luka bakar
kulit beratnya sekitar 16% berat tubuh, pada
merupakan jenis trauma yang merusak dan
dewasa sekitar 2,7-3,6kg dan luasnya sekitar
merubah berbagai sistem tubuh.i
1,5-1,9m2. Tebal kulit bervariasi mulai
Luka bakar adalah luka yang terjadi 0,5mm hingga 4mm tergantung letak, umur,
akibat sentuhan permukaan tubuh dengan dan jenis kelamin.iii,iv
dengan benda-benda yang menghasilkan

115
Jose L. Anggowarsito

2. PATOFISIOLOGI gangguan circulation (sirkulasi). Gangguan


airway dapat terjadi segera atau beberapa
Pajanan panas yang menyentuh
saat seteah trauma, namun obstruksi jalan
permukaan kulit mengakibatkan kerusakan
nafas akibat juga dapat terjadi dalam 48-72
pembuluh darah kapiler kulit dan peningkatan
jam paska trauma. Cedera inhalasi pada luka
permeabilitasnya. Peningkatan permeabilitas
bakar adalah penyebab kematian utama di
ini mengakibatkan edema jaringan dan
fase akut. Ganguan keseimbangan sirkulasi
pengurangan cairan intravaskular. Kerusakan
cairan dan elektrolit akibat cedera termal
kulit akibat luka bakar menyebabkan
berdampak sitemik hingga syok hipovolemik
kehilangan cairan terjadi akibat penguapan
yang berlanjut hingga keadaan hiperdinamik
yang berlebihan di derajat 1, penumpukan
akibat instabilisasi sirkulasi.
cairan pada bula di luka bakar derajat 2,
dan pengeluaran cairan dari keropeng luka 3.2. Fase subakut/flow/hipermetabolik
bakar derajat 3. Bila luas luka bakar kurang
Fase ini berlangsung setelah syok
dari 20%, biasanya masih terkompensasi
teratasi. Permasalahan pada fase ini adalah
oleh keseimbangan cairan tubuh, namun
proses inflamasi atau infeksi pada luka bakar,
jika lebih dari 20% resiko syok hipovolemik
problem penutupan lukan, dan keadaan
akan muncul dengan tanda-tanda seperti
hipermetabolisme.
gelisah, pucat, dingin, nadi lemah dan cepat,
serta penurunan tekanan darah dan produksi 3.3. Fase lanjut
urin.4 kulit manusia dapat mentoleransi suhu
44oC (111oF) relatif selama 6 jam sebelum Pada fase ini penderita dinyatakan
mengalami cedera termal.3 sembuh, namun memerlukan kontrol rawat
jalan. Permasalahan pada fase ini adalah
3. FASE LUKA BAKAR2 timbulnya penyulit seperti jaringan parut yang
hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi,
Luka bakar terbagi dalam 3 fase,
deformitas, dan adanya kontraktur.
yaitu fase akut, subakut, dan fase lanjut.
Pembagian ketiga fase ini tidaklah tegas,
4. DERAJAT KEDALAMAN LUKA
namun pembagian ini akan membantu
BAKAR11,2
dalam Penanganan Luka Bakar Yang Lebih
Terintegrasi. Kedalaman kerusakan jaringan akibat
luka bakar tergantung dari derajat sumber,
3.1. Fase akut/syok/awal
penyebab, dan lamanya kontak dengan
Fase ini dimulai saat kejadian hingga permukaan tubuh. Luka bakar terbagi dalam
penderita mendapatkan perawatan di IRD/ 3 derajat.
Unit luka bakar. Seperti penderita trauma
4.1. Luka bakar derajat I
lainnya, penderita luka bakar mengalami
ancaman gangguan airway (jalan nafas), Kerusakan jaringan terbatas pada
breathing (mekanisme bernafas), dan lapisan epidermis (superfisial)/epidermal

116
Jurnal Widya Medika Surabaya Vol.2 No.2 Oktober 2014

burn. Kulit hiperemik berupa eritema, sedikit basah. Permukaan luka berbecak merah dan
edema, tidak dijumpai bula, dan terasa nyeri sebagian putih karena variasi vaskularisasi.
akibat ujung saraf sensoris teriritasi. Pada Luka terasa nyeri, namun tidak sehebat
hari keempat paska paparan sering dijumpai derajat II dangkal. Folikel rambut, kelenjar
deskuamasi. Salep antibiotika dan pelembab keringat, dan kelenjar sebasea tinggal sedikit.
kulit dapat diberikan dan tidak memerlukan Penyembuhan terjadi lebih lama, sekitar 3-9
pembalutan. minggu dan meninggalkan jaringan parut.
Selain pembalutan dapat juga diberikan
4.2. Luka bakar derajat II
penutup luka sementara (xenograft, allograft
Kerusakan meliputi epidermis dan atau dengan bahan sintetis).
sebagian dermis berupa reaksi inflamasi
4.3. Luka bakar derajat III
disertai proses eksudasi. Pada derajat ini
terdapat bula dan terasa nyeri akibat iritasi Kerusakan jaringan permanen yang
ujung-ujung saraf sensoris. meliputi seluruh tebal kulit hingga jaringan
subkutis, otot, dan tulang. Tidak ada lagi
A. Dangkal/superfisial/superficial partial
elemen epitel dan tidak dijumpai bula, kulit
thickness
yang terbakar berwarna keabu-abuan pucat
B. Dalam/deep partial thickness
hingga warna hitam kering (nekrotik).
Pada luka bakar derajat II dangkal/ Terdapat eskar yang merupakan hasil
superficial partial thickness, kerusakan koagulasi protein epidermis dan dermis.
jaringan meliputi epidermis dan lapisan atas Luka tidak nyeri dan hilang sensasi akibat
dermis. Kulit tampak kemerahan, edema, dan kerusakan ujung-ujung saraf sensoris.
terasa lebih nyeri daripada luka bakar derajat Penyembuhan lebih sulit karena tidak ada
I. luka sangat sensitif dan akan lebih pucat epitelisasi spontan. Perlu dilakukan eksisi
jika kena tekanan. Masih dapat ditemukan dini untuk eskar dan tandur kulit untuk luka
folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar bakar derajat II dalam dan luka bakar derajat
sebasea. Penyembuhan terjadi secara spontan III. Eksisi awal mempercepat penutupan luka,
dalam 10-14 hari tanpa sikatrik, namun warna mencegah infeksi, mempersingkat durasi
kulit sering tidak sama dengan sebelumnya. penyembuhan, mencegah komplikasi sepsis,
Perawatan luka dengan pembalutan, salep dan secara kosmetik lebih baik.
antibiotika perlu dilakukan tiap hari. Penutup
luka sementara (xenograft, allograft atau
dengan bahan sintetis) dapat diberikan sebagai
pengganti pembalutan.

Pada luka bakar derajat II dalam/deep


partial thickness, kerusakan jaringan terjadi
pada hampir seluruh dermis. Bula sering
ditemukan dengan dasar luka eritema yang

117
Jose L. Anggowarsito

6. DERAJAT KEPARAHAN2

Derajat keparahan luka bakar,


ditentukan jika:

• Luka bakar derajat II <15% ----


• Luka bakar derajat II <10% Luka bakar
pada anak ringan
• Luka bakar derajat III <2% ----

• Luka bakar derajat II <15-25%


Gambar 1. Derajat kedalaman luka bakar
• Luka bakar derajat II >10-20% Luka bakar
http://www.faqs.org/health/Sick-V1/Burns-and- sedang
pada anak
Scalds-Treatment.html
• Luka bakar derajat III <10% ---
5. LUAS LUKA BAKAR2
• Luka bakar derajat II ≥25% ----
Penentuan luas luka bakar dengan
• Luka bakar derajat II ≥20%
bantuan rule of nine Wallace yang membagi pada anak
sebagai berikut: kepala dan leher 9%, lengan • Luka bakar derajat III ≥10%
18%, badan bagain depan 18%, badan bagian • Luka bakar pada wajah, Luka bakar
belakang 18%, tungkai 36%, dan genetalia/ telinga, mata, tangan, kaki dan berat

perineum 1%. Luas telapak tangan penderita genitalia/perineum


adalah 1% dari luas permukaan tubuhnya. • Luka bakar dengan cedera
inhalasi, listrik, dan disertai
Pada anak-anak menggunakan modifikasi rule trauma lain. ---------------------
of nine Lund dan Browder yang membedakan
pada anak usia 15 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun. 7. PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR

Penanganan pertama sebelum ke


rumah sakit dengan menyingkirkan sumber
luka bakar tanpa membahayakan penolong,
kemudian penatalaksanaan mengikuti prinsip
dasar resusitasi trauma:

• Lakukan survei primer singkat dan


segera atasi permasalahan yang
ditemukan
• Singkirkan pakaian dan perhiasan
yang melekat
• Jika pernafasan dan sirkulasi telah
Gambar 2. Rule of nine Wallace dan teratasi, lakukan survei sekunder
modifikasi rule of nine Lund dan Browder.
Redrawn from Artz CP, JA Moncrief: The Airway dan Breathing
Treatment of Burns, Ed 2. Philadelphia, WB
Managemen airway pada luka bakar
Saunders Company, 1969
penting dilakukan karena jika tidak dilakukan

118
Jurnal Widya Medika Surabaya Vol.2 No.2 Oktober 2014

dengan baik akan mengakibatkan komplikasi makanan. Evaluasi semua denyut nadi perifer
serius. Kondisi serius yang perlu dicermati dan dinding thoraks untuk kemungkinan
adalah adanya cedera inhalasi, terutama jika timbulnya sindroma kompatermen terutama
luka bakar terjadi pada ruang tertutup. Cedera pada luka bakar sirkumferensial. Observasi
inhalasi lebih jarang terjadi pada ruang menyeluruh terhadap edema jaringan terutama
terbuka atau pada ruang dengan ventilasi pada ektremitas dan kemungkinan terjadinya
baik. Hilangnya rambut-rambut wajah dan gagal ginjal. Elevasi tungkai dapat dilakukan
sputum hitam memberikan tanda adanya untuk mengurangi edema pada tungkai.
cedera inhalasi. Kriteria American Burn Association
Pemberian oksigen dengan saturasi untuk merujuk ke rumah sakit pusat luka
yang diharapkan setinggi >90% harus bakar:7
segera diberikan. Pasien dengan luka bakar • Derajat keparahan luka bakar sedang
luas sering membutuhkan intubasi. Stidor • Luka bakar derajat III >5%
dapat dijumpai dalam beberapa jam pada • Luka bakar derjat II atau III pada wajah,
pasien dengan airway stabil seiring dengan telinga, mata, tangan, kaki, dan genitalia/
perineum
terjadinya edema pada saluran nafas. Hati-
• Cedera inhalasi
hati dalam penggunaan obat-obat penenang,
• Luka bakar listrik atau petir
karena dapat menekan fungsi pernafasan.
• Luka bakar dengan trauma, jika trauma
Circulation lebih beresiko maka sebaiknya dirujuk ke
pusat trauma terlebih dahulu
Akses intravena dan pemberian • Penyakit penyerta yang mempersulit
resusitasi cairan sangat penting untuk segera managemen luka bakar
dilakukan. Lokasi ideal akses pemberian • Luka bakar kimia
cairan pada kulit yang tidak mengalami luka • Luka bakar sirkumferensial
bakar, namun jika tidak memungkinkan Luka bakar anak perlu dirujuk pada
maka dapat dilakukan pada luka bakar. Akses rumah sakit yang memiliki fasilitas dan
intravena sebaiknya dilakukan sebelum kemampuan menangani permasalahan ini.
terjadi edema jaringan yang akan menyulitkan Luka bakar akibat penyalahgunaan/abuse
pemasangan infus. Pemasangan infus di vena memerlukan dukungan rehabilitasi jangka
sentral perlu dipertimbangkan jika tidak ada panjang.
akses pada vena perifer. Cairan Ringer laktat
dan NaCl 0,9% tanpa glukosa dapat diberikan 7.1. Dermatoterapi pada luka bakar
pada 1-2 akses intravena. Kateter Foley
Luka bakar mengakibatkan hilangnya
digunakan untuk memonitor produksi urin
barier pertahanan kulit sehingga memudahkan
dan keseimbangan cairan.
timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka,
Evaluasi lanjut dengan resiko penetrasi patogen ke jaringan
Selang nasogastic digunakan untuk yang lebih dalam dan pembuluh darah
dekompresi lambung dan jalur masuk sehinga beresiko menjadi infeksi sistemik

119
Djuharto
Jose L. Anggowarsito
S. Sutanto, Nurtjahjo.

yang mengarah pada kematian. Pemberian sehingga ujung-ujung saraf lebih tersensitisasi
terapi antimikroba topikal dalam bentuk salep oleh rangsangan. Nyeri juga dialami pada
atau cairan kompres/rendam seperti: Silver- luka bakar derajat II sedangkan pada derajat
Sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate, III tidak ada. Peningkatan katekolamin saat
Povidone-Iodine, Bacitracin, Neomycin, nyeri mengakibatkan peningkatan denyut
Polymyxin B, dan antifungal seperti nystatin, nadi, tekanan darah, dan respirasi. Nyeri
mupirocin, dan preparat herbal seperti Moist akan dirasakan pasien terutama saat ganti
Exposed Burn Ointment/Therapy (MEBO/ pembalut luka, saat prosedur operasi, dan
MEBT). saat rehabilitasi. Golongan opioid dan anti
inflamasi non steroid lazim diberikan untuk
MEBO/MEBTv
mengatasi nyeri. Preparat anestesi inhalasi
Merupakan antimikroba broad dapat pula diberikan saat ganti pembalut.
spectrum berbentuk ointment dari preparat
DAFTAR PUSTAKA
herbal yang terdiri dari beta sitosterol,
bacailin, berberine yang berperan sebagai 1. Jong W. Luka, Luka bakar. Buku ajar be-
dah 2nd ed. EGC. Jakarta. 2005.3:66-8
analgetik, anti inflamasi, anti mikroba, dan
menghambat pembentukan jaringan parut. 2. Noer MS, Saputro ID, Perdanakusuma
DS. Penanganan luka bakar. Airlangga
Preparat ini juga mengandung amino acid, University press. Surabaya. 2006.2:3-9
fatty acid, dan amylase yang memberikan
3. Chu DH. Overview of biology, develop-
nutrisi untuk regenerasi dan perbaikan ment, and structure of the skin. In: In:
kulit. Preparat ini merangsang pertumbuhan Wolf KW, et al. Fitzpatrick’s dermatology
potential regenerative cells (PRCs) dan in General Medicine, 8thed. Mc Graw Hill
Medical. 2013.3:7:58-75
sel punca (stem cell) untuk penyembuhan
luka dan mengurangi terbentuknya jaringan 4. Perdanakusuma DS. Anatomi fisiologi
kulit dan penyembuhan luka. Surabaya
parut. MEBO/MEBT idealnya diberikan
plastic surgery. Available at: http://sura-
dalam 4- 12 jam pertama setelah paparan bayaplasticsurgery.blogspot.com
panas. Kelembaban pada preparat ointment 5. Hirsch T, Schumacher AW, Steinstraesser
akan mengoptimalkan kondisi penyembuhan L, Ingianni G, Cedidi CC. Moist exposed
luka. Penutupan luka dengan kompres saline burn ointment (MEBO) in partial thick-
ness burns-a randomized, comparative
dapat berikan bersamaan. Aplikasi MEBO/
open mono-center study on the efficacy of
MEBT dilakukan setiap 6 jam secara teratur, dermaheal (MEBO) ointment on thermal
tanpa pembersihan dengan desinfektan atau 2nd degree burns compared to conventional
debridemen luka. therapy. Eur J Med Res. 2008;13.11:505-
10
7.2. Manajemen nyerivi 6. Holmes JH, Heimbach DM. Burns. In:
Schwartz’s Principles of Surgery. 18th ed.
Nyeri merupakan masalah serius bagi McGraw-Hill. New York. 186-216
pasien luka bakar semasa pengobatan. Luka 7. Edlich RF. Thermal burns. De la Torre JI.
bakar pada lapisan epidermis terasa nyeri [cited July 2014], available at: http://emed-
hebat akibat tidak ada lapisan epidermis icine.medscape.com/article/1278244

120