Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK

(SUPPLY CHAIN MANGEMENT) BUAH MANGGIS OLEH


KELOMPOK TANI DI KENAGARIAN SUNGAI TALANG
KABUPATEN 50 KOTA PROVINSI SUMATERA BARAT

Dedet Deveriky1, Melinda Noer2, Mahdi2

Abstract: This study aims to describe the characteristic of manggis


supply chain in Kenagarian Sungai Talang, 50 Kota district and to
analyze the performance of manggis supply chain by farmer’s
groups in Kenagarian Sungai Talang, 50 Kota district. The
sampling method used in this study is purposive sampling.The
sample was taken 50 % consist of 22 farmers, one head of farmer’s
group, one merchant, one middleman in Sicincin sub district and
one merchant from Jakarta City. The research results showed
thatthe structure ofmanggissupply chain in Kenagarian Sungai
Talang is starting from farmers - farmer’s group - merchant-
middleman in Sicincin sub district and merchant in jakarta. The
three flow of supply chain are flow of goods, flow of money and
flow of information. The performance of supply chain reliabilty is
30,60, the performance of supply chain responsivness is 11.5 day,
and the value of supply chain cost is 1.21 and the results of the
calculation critical key indicator is 0,681.

Key words: management, suply chain, manggis

pemenuhan kebutuhan vitamin dan


PENDAHULUAN
mineral lainnya. Dengan masih ren-
Seiring dengan semakin ketat- dahnya tingkat konsumsi komoditi
nya persaingan antar negara, sektor hortikultura, maka peluang pengem-
pertanian dituntut pula agar dapat bangannya masih cukup besar
memacu pusat pertumbuhan baru (Suryana, 2004).
yang dapat memberi pengaruh yang Manajemen rantai pasok pro-
signifikan terhadap pembangun-an duk pangan hortikultura berupa buah
ekonomi nasional. Salah satu pusat tropis sangat berpotensi untuk dikem-
pertumbuhan baru yang sangat poten- bangkan kualitas dan kwantitasnya.
sial dikembangkan pada masa kini Menurut data Direktorat Jendral Hor-
dan masa depan adalah subsektor tikultura (2009), kapasitas produksi
hortikultura. Sub-sektor ini meme- buah segar sebagian besar berasal dari
gang peranan penting dalam pertani- negara-negara Asia kemudian disusul
an Indonesia secara umum. Komoditi oleh negara-negara Amerika Latin,
hortikultura merupakan komoditi Karibia, Afrika, serta negara-negara
yang mempunyai nilai ekonomis yang lain. Indonesia sebagai negara agraris
cukup tinggi serta dibutuhkan untuk termasuk 10 negara Asia penyumbang

1 DededDeveriky adalah Mahasiswa S2 Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Andalas


2 Melinda Noer dan Mahdi adalah Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Andalas
22
Dedet Deveriky dkk, Analisis Manajemen Rantai Pasok 23

terbesar produksi buah dan sayur dan komponen rantai pasok lainnya
dunia. Berdasarkan Badan Pusat perlu dirancang dengan memperhati-
Statistik (BPS, 2010), produksi buah kan karakteristik tersebut.
tropis secara total mengalami pening- Manajemen rantai pasok oleh
katan dari tahun ke tahun. Pertum- kelompok tani buah manggis pada
buhan ini adalah potensi yang dimiliki sistem produksi agribisnis pada skala
Indonesia yang harus ditangani de- usaha sempit juga menjadi penyebab
ngan serius sekaligus tantangan untuk utama bahwa produk buah kurang
meningkatkan daya saing dan nilai dapat bersaing. Permintaan manggis
tambah produk hingga sampai ke terhadap harga jual produk yang jauh
tangan konsumen. lebih tinggi, harga sarana produksi
Pengukuran kinerja bagi mana- yang lebih murah, ilmu pengetahuan
jemen rantai pasok, merupakan salah dan teknologi, modal investasi, serta
satu hal penting yang perlu dilakukan peningkatan efisiensi akibat realokasi
untuk melihat sejauh mana perfo- sumberdaya dan dorongan persaing-
mance manajemen rantai pasok yang an. Perubahan lingkungan strategis,
diterapkan dalam mencapai efekti- seperti liberalisasi perdagangan, pe-
vitas dan efisiensi yang menjadi tu- satnya pertumbuhan pasar modern
juan pelaku bisnis itu. Pengukuran selain pasar tradisional, dinamika per-
kinerja harus dilakukan seefektif mintaan pasar dan perubahan prefe-
mungkin, agar dapat mengungkap rensi konsumen, serta fenomena seg-
kelemahan serta memberikan masuk- mentasi pasar menuntut usaha agro-
an kepada perusahaan untuk melaku- industri untuk menanamkan modal
kan penyesuaian apa yang diperlukan dan memusatkan perhatiannya pada
untuk memperbaikinya, untuk mem- hubungan dengan konsumen dan pe-
bantu pelaku bisnis mencapai efektivi- masoknya. Kerjasama antar mitra bis-
tas dan efisiensi yang diharapkannya. nis dan tanggung jawab terhadap ke-
Dalam konteks manajemen rantai butuhan konsumen merupakan stra-
pasok pengukuran tidak hanya meli- tegi bersaing dengan tetap mem-
batkan proses internal pelaku bisnis, pertahankan kebutuhan peningkatan
tetapi terhadap seluruh pihak yang efisiensi dalam operasi dalam agribis-
terlibat dalam rantai pasoknya nis. Oleh karena itu, manajamen
(Pujawan, 2005). rantai pasok mulai banyak digunakan
Jika rantai pasok umumnya dalam agroindustri di negara maju
didefinisikan sebagai sistem con- dan negara berkembang. Rantai pasok
sumer-driven, maka rantai pasok per- merupakan proses terintegrasi sejak
tanian dapat didefinisikan sebagai dari bahan baku diperoleh sampai
system producer-consumer-driven. diubah menjadi produk jadi dan
Peramalan permintaan dan pasokan dikirim kepada konsumen (Priyono,
mempunyai tingkat kepentingan yang 2008).
sama dalam rantai pasok pertanian, Penerapan manajemen rantai
tetapi anggota rantai pasok mempu- pasok di kelompok tani yang bergerak
nyai kemampuan yang terbatas dibidang agribisnis buah manggis,
untuk mengendalikannya (Astuti, tentunya bakal lebih rumit dari pada
2009). Rantai pasok pertanian juga yang bergerak dibidang lain, hal ini
cukup khas karena karakteristik ba- dikarenakan sifat produk pertanian
han pertanian yang sangat sensitif itu sendiri yang bersifat musiman dan
terhadap waktu. Oleh karena itu, cepat busuk, serta besarnya pengaruh
pengelolaan persediaan, transportasi, alam dalam proses produksinya
24 Jurnal Agribisnis Kerakyatan, Volume 5, Nomor 1, Maret 2015, hal. 22-30

(Astuti et al., 2010). Kelompok tani vey penelitian dengan ketua kelompok
adalah unit business bergerak agri- tani setempat bahwa pe-nelitian dari
bisnis yang menerapkan manajemen Perguruan Tinggi hanya sebatas ten-
rantai pasok ini dalam kegiatan usa- tang penelitian budidaya manggis
hanya. Kerumitan penerapan manaje- (hulu) tetapi tentang Supply Chain
men rantai pasok pada kelompok tani Management (hulu-hilir) belum ada
ini semakin terasa jika melihat konsep dilakukan penelitian. Selain itu dae-
bisnis yang diterapkannya, struktur rah tersebut mempunyai potensi areal
kelembagaannya, dan jumlah permin- dan produksi manggis yang besar
taan manggis dalam sebagai pemasok untuk dikembangkan.
bahan bakunya. Sehingga kemampu-
an kelompok tani dalam memanaje- Teknik Pengambilan Sampel
men rantai pasoknya ini, menjadi hal
yang sangat menarik untuk dikaji dan Pengambilan sampel dilakukan
dinilai perfomancenya, yang pada secara sengaja (purposive). Data yang
akhirnya diharapkan dari kelompok di-gunakan dalam penelitian adalah
tani dapat memberikan kontribusi data primer dan sekunder yang ber-
besar dalam menyelesaikan masalah sifat kualitatif maupun kuantitatif.
kebu-tuhan buah manggis di Data primer data yang diperoleh dari,
Kabupaten 50 Kota. wawancara mendalam (in depth
interview) dengan ketua kelompok
Perumusan Masalah tani. Data yang dikumpulkan adalah
data produksi manggis tahun 2013
Masalah yang sering dihadapi (Panen Raya) di Kenagarian Sungai
kelompok tani manggis di Kabupaten Talang Kabupaten 50 Kota. Data
50 Kota dalam menetapkan harga jual sekunder diperoleh dari, jurnal, studi
adalah lemahnya posisi kelompok tani pustaka, internet, dan dokumen-
dalam melakukan proses tawar mena- dokumen pendukung lainnya.
war dan kurangnya pasokan manggis
di daerah tersebut untuk memenuhi KARAKTERISTIK RANTAI
permintaan dari luar. Umumnya hal PASOK BUAH MANGGIS DI
ini diakibatkan oleh jumlah penjualan KENAGARIAN SUNGAI TALANG
yang kecil, aksesbilitas petani dalam KABUPATEN 50 KOTA
mendistribusikan manggisnya yang PROVINSI SUMATERA BARAT
rendah, serta adanya keterikatan
petani dengan lembaga tataniaga yang 1. Struktur Rantai Pasok Buah
bera-da diatasnya dalam bentuk Manggis
pinjaman modal yaitu kelompok tani.
a. Petani
METODOLOGI PENELITIAN Petani manggis merupakan pe-
laku dalam rantai pasok yang ber-
Penelitian ini dilakukan di peran melakukan kegiatan budidaya
Kenagarian Sungai Talang Kabupaten manggis, mulai dari pembibitan po-
50 Kota Sumatera Barat. Pemilihan hon manggis, pemeliharaan, dan pe-
lokasi ini dilakukan secara sengaja manenan. Pada saat ini, jumlah petani
(purposive) dengan mempertimbang- manggis yang terlibat dalam rantai
kan belum adanya penelitian menge- pasok buah manggis segar adalah 22
nai supply chain management didae- orang. Sebagian besar petani manggis
rah tersebut. Menurut wawancara sur- merupakan pemilik kebun manggis
Dedet Deveriky dkk, Analisis Manajemen Rantai Pasok 25

dengan luas lahan rata-rata 0,5-1,5 manggis di sana tidak ada yang
hektar. Pohon manggis dibudidayakan bersisa.
di Kenagarian Sungai Talang ini
adalah sebagaian besar dari warisan c. Pedagang Besar
yang sudah berusia lebih dari 30 Dalam rantai pasok buah
tahun. manggis ini, pedagang besar berperan
Budidaya manggis yang dilaku- sebagai penghubung antara kelompok
kan oleh petani manggis di kenagarian tani dengan pedagang perantara
Sungai Talang Kabupaten 50 Kota ini yanga ada di dalam daerah Sumatera
masih kurang atau masih belum Barat (Kecamatan Sicincin) dan Luar
intensif, dikarenakan beberapa para daerah Sumatera Barat (Jakarta).
petani tidak melakukan pemupukan, Pedagang besar membeli manggis di
pengendalian hama dan penyakit, tempat kelompok tani. Harga beli
pemangkasan cabang dan ranting buah manggis dari kelompok tani di-
manggis secara rutin. bedakan lagi kualitas dan ditetapkan
berdasarkan negosiasi antara kelom-
b. Kelompok Tani pok tani dengan pedagang besar.
Kelompok tani manggis di Pembelian buah manggis dilakukan di
Nagari Sungai Talang merupakan kelompok tani dan dibayar secara
kelompok tani yang didirikan oleh tunai oleh pedagang besar di waktu
beberapa orang petani manggis di itu juga, pedagang besar juga melaku-
Kenagarian Sungai Talang Kabu- kan sortasi dan grading pada buah
paten 50 Kota. Nama kelompok Tani manggis yang dibeli dari kelompok ta-
adalah kelompok tani “Ingin Maju” ni kemudian menjual buah mangginya
yang diketuai oleh Bapak Ifsal. ke pedagang perantara di Sicincin dan
Kelompok tani berperan sebagai pedagang besar di Jakarta.
bussiness unit dalam mengelola serta
mengko-ordinir petani manggis dalam d. Pedagang Perantara Sicincin
memproduksi manggisnya. Misalnya Dalam rantai pasok buah
hasil panen para petani dicatat oleh manggis ini, pedagang perantara di
pengurus kelompok tani, penjadwalan Sicincin berperan sebagai penghu-
panen, penjadwalan pemupukan (jika bung antara pedagang besar dengan
ada) dan teknis lainnya. Kelompok pedagang pengecer serta konsumen
tani melakukan sortasi dan grading akhir yang ada di dalam daerah
pada buah manggis yang dikirim oleh Sumatera Barat (Kecamatan Sicincin).
petani kemudian menjual manggis Pedagang perantara membeli manggis
kualitas baik kepada pedagang besar dari pedagang besar dari Sungai
secara lagsung. Buah manggis yang Talang dan mengumpulkan serta
yang dihasilkan oleh petani terbagi mencari orang yang ingin menjual
menjadi 2 grade yaitu grade super langsung ke konsumen akhir karena
dan grade BS (bekas sortiran). pedagang pengecer disini hanya be-
Buah manggis hasil sortasi oleh kerja disaat panen raya buah manggis.
kelompok tani yang tidak memenuhi Harga beli buah manggis dari pe-
syarat dalam persyaratan grade maka dagang besar dibedakan lagi kualitas
disiasati dengan menjual manggis dan ditetapkan berdasarkan negosiasi
kepada pedagang pengecer. Itupun antara pedagang besar dan pedagang
hasil sortasi tidak terlalu banyak. perantara di Sicincin. Rata-rata harga
Hanya sampai 0,5-2 % dari total per manggis Rp.10.000-Rp.12.000/kg di-
produksi petani manggis. Sehingga tingkat pedagang perantara dan
26 Jurnal Agribisnis Kerakyatan, Volume 5, Nomor 1, Maret 2015, hal. 22-30

Rp. 14.000 – Rp. 16.000 per kg di buah manggisnya langsung ke gudang


tingkat pengecer. Pembelian buah kelompok tani, dengan menggunakan
manggis dilakukan di lokasi pedagang kendaraan roda dua (becak bermotor)
perantara dan dibayar secara tunai sebagai alat transportasi. Penjualan
oleh pedagang pengecer. Di waktu itu buah manggis ke kelompok tani di-
juga pedagang perantara juga melaku- lakukan sekali dalam dua hari. Rata-
kan sortasi dan grading pada buah rata satu orang petani menjual buah
manggis yang dibeli dari pedagang manggisnya ke kelompok tani se-
besar kemudian menjual ke peda- banyak 3-5 ton/dua hari. Rata-rata
gang pengecer dan langsung dijual petani menjual buah manggisnya
buah manggisnya ke konsumen akhir. kekelompok tani ini dengan alasan
kelompok tani adalah wadah untuk
e. Pedagang Perantara Jakarta mengurangi kejahatan transaksi,
Dalam rantai pasok buah sudah berlangganan, saling percaya
manggis, pedagang besar di Jakar-ta dan sudah kenal baik dengan
berperan sebagai penghubung anta-ra kelompok tani ini.
pedagang besar di Sungai Talang
dengan konsumen yang ada di luar b. Kelompok Tani ke Pedagang
daerah Sumatera Barat (Jakarta). Pe- Besar
dagang besar di Sungai Talang me- Menurut informasi yang dida-
ngantarkan langsung manggis di tem- patkan dari wawancara kelompok tani
pat pedagang pengecer di Jakarta. bahwa buah manggis dijual kembali
Harga beli buah manggis pun dari kepada pedagang besar. Kegiatan
pedagang besar dibedakan lagi kua- pembelian dilakukan pada malam hari
litas dan ditetapkan berdasarkan ne- sekali dalam dua hari. Sedangkan
gosiasi antara pedagang besar dengan transaksi yang dilakukan di gudang
pedagang pengecer di Jakarta. Berda- pedagang besar dengan penetapan
sarkan hasil wawancara dengan nara- harga, pedagang besar yang menentu-
sumber, dapat digambarkan rantai kannya. Hal ini juga dikarenakan
pasok manggis oleh kelompok tani pedagang besar lebih mengetahui
yang menjadi batasan subjek pene- informasi pasar dan permintaan akan
litian di Nagari Sungai Talang Kabu- buah manggis di pasaran. Pembayar-
paten 50 Kota adalah dari petani- an yang dilakukan oleh pedagang
kelompok tani-pedagang besar peda- besar ke kelompok tani adalah secara
gang perantara di sicincin dan peda- tunai. Di dalam aliran barang ini,
gang besar di Jakarta. Batasan peneli- dilakukan oleh kelompok tani yaitu
tian dimaksudkan agar batasan pene- pembelian dan penjualan. Pengang-
litian tersebut dapat diidentifikasi se- kutan yang dilakukan kelompok tani
cara menyeluruh, sehingga diharap- di Nagari Sungai Talang ini yaitu
kan nanti nilai kinerja masing-masing menggunakan mobil pick up yang
stakeholders bisa di kelola. bermuatan 80-95 peti manggis di
mana 1 peti manggis mempunyai
2. Aliran Barang, Uang dan berat 45 kg. Pengang-kutan manggis
Informasi ke pedagang besar sebanyak 50-55
peti/sekali angkut dan kelompok tani
a. Petani ke Kelompok Tani mengeluarkan biaya sebesar Rp.
Ingin Maju 400.000/hari. Jarak dari sekreta-riat
Dalam melakukan penjualan ke Kelompok Tani ke Lokasi peda-gang
kelompok tani, petani mengantar besar sekitar 20-25 km.
Dedet Deveriky dkk, Analisis Manajemen Rantai Pasok 27

c. Pedagang Besar Sungai Talang gari mengirimkan buah manggisnya


ke Pedagang Perantara dua kali dalam seminggu ke pedagang
Sicincin besar yang ada di Jakarta dan pe-
Selanjutnya, buah manggis di dagang besarlah yang menjual buah
pasarkan di Sicincin sebanyak 30-60 manggisnya ke pedagang pengecer
ton/minggunya. Untuk mencapai pe- yang ada di Jakarta. Proses transaksi
dagang pengecer yang berada dida- buah manggis, biasanya pedagang
erah tersebut maka pedagang peran- besar yang ada di Jakarta mentransfer
tara Sicincinlah yang langsung mem- uang kepada pedagang besar nagari
beli ke pedagang besar Nagari Sungai terlebih dahulu.
Talang. Biasanya pedagang pengum-
pul Sicincin membeli buah manggis ANALISIS KINERJA RANTAI
seminggu sekali ke pedagang besar. PASOK BUAH MANGGIS OLEH
Pembelian dilakukan pada pagi hari KELOMPOK TANI DI
sebelum kios-kios pedagang pengecer KENAGARIAN SUNGAI TALANG
dibuka dan dalam penetapan harga KABUPATEN 50 KOTA
dilakukan oleh pedagang perantara
dengan kisaran harga Rp. 9.000 - Baik dan buruknya terhadap
Rp. 10.000/Kg. Pedagang pengecerlah manajemen rantai pasok dapat dilihat
yang menjual buah manggisnya ke dari kinerja terhadap komoditas yang
konsumen akhir. Penetapan harga bersangkutan. Aspek yang diukur
dilakukan oleh kedua belah pihak adalah aspek reliability, aspek res-
secara tawar menawar dan berdasar- ponsiveness, aspek agility, aspek cost
kan kesepakatan ber-sama, rata-rata dan aspek asset of management
harga jual antara Rp. 12.000 - (Pujawan, 2005).
Rp. 14.000/Kg. Sistem pembayaran 1. Supply Chain Reliability
buah manggis ini dilakukan secara Nilai untuk metrik ini adalah
tunai (cash), pembayaran ini terjadi di 30,60. Metrik level dua waktu ke-
tempat transaksi yakni gudang datangan dan pesanan terkirim penuh
pedagang yang bersangkutan. Infor- juga memiliki awal yang tinggi.
masi pasar dibutuhkan untuk menge- Pemasok biasanya dapat melakukan
tahui perkembangan permintaan dan pengiriman sesuai dengan jadwal
penawaran manggis yang terkait yang ditetapkan. Selain itu, hanya
dengan harga yang harus dibayarkan sedikit bahan baku yang mengalami
kepada pedagang besar. kerusakan. Hal ini menujukan bahwa
bahan baku yang dibawa yaitu mang-
d. Pedagang Besar Sungai Talang gis masih dalam keadaan sehat dan
ke Pedagang Besar di Jakarta segar. Nilai kedua matrik tersebut
Pedagang besar di Kenagarian adalah 95,06. Untuk metrik dokumen-
Sungai Talang yaitu pedagang besar tasi akurat memiliki nilai kedua
nagari yang mengirimkan buah mang- terendah yaitu sebesar 1,525. Hal ini
gis ke pedagang besar yang ada di tidak berpengaruh yang besar karena
Jakarta dan pedagang pengecer yang bobot metrik ini sangat kecil di-
ada di Jakarta pedagang besar di bandingkan dengan bobot ketiga
Sungai Talang hanya menjual mang- metrik level dua lainnya, yaitu hanya
gisnya kepada satu orang pedagang 0,1 dari nilai keseluruhan adalah nilai
besar yang berada di Jakarta. Rata- 1. Selanjutnya dari keempat metrik
Rata dalam seminggu 90-100 ton/ level dua yang telah ditentukan bo-
minggu. Biasanya pedagang besar na-
28 Jurnal Agribisnis Kerakyatan, Volume 5, Nomor 1, Maret 2015, hal. 22-30

botnya oleh pakar, diagrerasi untuk pada sore hari maka pengiriman akan
menentukan nilai metrik level satu. dilakukan pada esok hari (N+1) se-
Nilai metrik level satu untuk re- hingga jumlah lead time pe-mrosesan
liability buah manggis adalah 40,5 adalah satu hari. Sedangkan untuk
dan apabila dibandingkan dengan pelanggan di luar Provinsi Sumatera
standar penilaian kinerja pemasok, Barat seperi Jakarta maka order
nilai ini tergolong kurang. Artinya pemrosesan adalah (N+2) sehingga
tercipta kinerja yang kurang dalam jumlah lead time adalah 2-4 hari.
hal pemenuhan pesanan. Nilai ini Menurut hasil agregasi di dalam pe-
masih dapat ditingkatkan menjadi ngukuran kinerja responsivness rantai
baik bahkan menjadi sangat baik. pasok manggis dimulai dari pema-
sukan input pada metrik level tiga,
2. Supply Chain Responsivness sehingga diperoleh nilai dari metrik
Pengukuran variabel ini akan level dua. Metrik level dua waktu
dibagi kedalam 3 level matriks, yang source adalah 3 hari. Waktu make 4,5
mana level terbawah/level 3, merupa- hari, dan waktu deliver 4 hari.
kan penjabaran dari level 2, begitu
pun level 2, merupakan pen-jabaran 3. Supply Chain Agility
dari matriks level 1. Penjumlahan Kondisi bahan baku yang ber-
agrerat setiap level akan menetukan sifat musiman dan cepat rusak ini
nilai matriks level 1, yakni waktu pe- menyebabkan pengukuran fleksibili-
menuhan pesanan, yang mana sebagai tas tidak dilakukan, karena menurut
acuan dalam menentukan kinerja wawancara dengan kelompok tani, pe-
responsivitas. Rincian atribut setiap dagang besar tidak pernah meminta
level belum diadopsi dari penelitian tambahan permintaan secara tiba-
terdahulu, yang nantinya akan di- tiba. Sistem produksi yang stabil yang
sesuaikan dilapangan, karena atribut membuat pedagang besar tidak mela-
pastinya akan diketahui pada tahapan kukan tambahan permintaan secara
penelitian. Nilai per atribut (hari/ mendadak.
siklus) akan ditentukan sendiri oleh
peneliti berda-sarkan observasi dan 4. Supply Chain Cost
wawancara langsung dengan pihak Untuk perhitungan adalah ke-
manajemen ter-kait. lompok tani mengeluarkan biaya yang
Lead time kelompok tani wajar dan sesuai dengan pemasukan
manggis dalam melayani pelanggan yang diterimanya. Efisiensi biaya yang
ter-diri dari dua bagian, yaitu lead lebih baik diperoleh dengan pemasok.
time pemrosesan order dan lead time Supply bahan baku cendrung stabil
pe-ngiriman. Lead time pemrosesan sehingga pemasok dalam hal ini
or-der, yaitu waktu yang dibutuhkan kelompok tani dapat meningkatkan
oleh kelompok tani mulai dari efisiensi biayanya pada transportasi.
manggis dari petani sampai manggis Umumnya dalam sekali pengiriman
di kirim ke pedagang besar. Lead time ke pedagang besar, kelompok tani
pem-rosesan order sesuai dengan dapat mengisi penuh kendaraan pick
keten-tuan yang telah ditetapkan oleh up dengan buah manggis yang dibeli
masing-masing pelaku rantai pasok. dari petani. Pedagang besar umumnya
Untuk pesanan yang ada di dalam mengeluarkan biaya yang tidak wajar
Provinsi Sumatera Barat, maka lead dalam pemenuhan buah manggisnya
time pemrosesan order dimulai nol bila dibandingkan dengan petani dan
hari dan bila pemesanan dilakukan kelompok tani karena pedagang besar
Dedet Deveriky dkk, Analisis Manajemen Rantai Pasok 29

disini menentukan harga semurah nagari, pedagang besar nagari ke


mungkin, sehingga harga manggis di pedagang perantara di Sicincin dan
tingkat petani bisa diminimalisasi pedagang besar di Jakarta. Sedangkan
lagi. Nilai keseluruhanya adalah 1,218 aliran uang dan informasi mengalir
Berdasakan standar, nilai ini dari pedagang besar Jakarta dan pe-
tergolong poor dan memiliki peluang dagang perantara di Sicincin ke pe-
untuk ditingkat kearah yang lebih dagang besar nagari, pedagang besar
baik. nagari ke kelompok tani dan kelom-
Faktor utama yang perlu me- pok tani ke petani. Analisa didapatkan
njadi perhatian bagi kelompok tani di bahwa pengkajian model rantai pasok
Sungai Talang ini adalah efisiensi buah manggis menunjukkan kerja-
biaya di tingkat petani. Dibandingkan sama yang cukup baik antar pelaku
dengan biaya efisiensi dari kelompok rantai pasok, supaya keseluruhan
tani yang mempunyai nilai 0,681 Bi- aliran tersebut lebih optimal dan efisi-
aya efisiensi petani lebih besar. Hal ini en lagi, maka diharapakan manaje-
menunjukkan masih lemahnya posisi men rantai pasok yang lebih tersiste-
tawar petani. Dari hasil perhitungan- matis, yang akhirnya lebih bisa me-
nya pada metrik level 1 di tingkat ningkatkan efektifitas dan efisiensi
petani yaitu 0,681 yang artinya petani masing-masing lembaga rantai pasok.
mengeluarkan biaya yang besar tetapi Kinerja rantai pasok buah
tidak sesuai dengan pemasukan yang manggis oleh kelompok tani di Kena-
diterimanya. Karena dalam hal ini garian Sungai Talang Kabupaten 50
petani hanya bersifat penerima harga Kota yang didasari oleh variabel mo-
(price taker). Petani yang mempu- del supply chain operation reference,
nyai wilayah kerjanya di hulu, biasa- supply chain reliability memperoleh
nya memilki resiko yang sangat besar. nilai yaitu 30,60 berarti kelompok
Sedangkan dibandingkan dengan pe- tani masih belum bisa menyediakan
dagang besar nilai matrik level 1 buah manggis secara berkelanjutan.
adalah 0,091 yang artinya pedagang Supply chain responsiveness bahwa
besar tidak terlalu mengeluarkan jumlah hari yang dibutuhkan oleh
biaya yang besar dalam mendapatkan kelompok tani untuk jumlah permin-
buah manggis di tingkat petani. taan buah manggis adalah 11,5 hari
yang artinya tidak lewat deadline.
Untuk nilai supply chain agility tidak
KESIMPULAN
dilakukan penghitungan disebabkan
Dalam Struktur rantai pasok tidak adanya jumlah tambahan per-
buah manggis di Kenagarian Sungai mintaan buah manggis sebesar 20%
Talang Kabupaten 50 Kota meliputi dari pelaku rantai pasok dan untuk
petani - kelompok tani - pedagang nilai supply chain cost adalah 1,218
besar - pedagang perantara di Sicincin yang artinya nilai yang tergolong
dan pedagang besar di Jakarta serta 3 sangat kurang.
aliran yang dikelola dalam rantai Hasil perhitungannya Critical
pasok buah manggis di Kenagarian Key Performance Indicators dari
Sungai Talang Kabupaten 50 Kota, Supply Chain Cost pada metrik level 1
yakni aliran barang, aliran uang dan di terjadi di tingkat petani yaitu 0,681
aliran informasi. Aliran barang me- yang artinya petani mengeluarkan
ngalir dari petani ke kelompok tani, biaya yang besar tetapi tidak sesuai
kelompok tani ke pedagang besar dengan pemasukan yang diterimanya
sedangkan dibandingkan dengan pe-
30 Jurnal Agribisnis Kerakyatan, Volume 5, Nomor 1, Maret 2015, hal. 22-30

dagang besar nilai matrik level 1 ada- Hugos, dan Schmitz, M. 2007. Supply
lah 0,091 yang artinya pedagang besar Chain Analysis of Fresh Fruit
tidak terlalu mengeluarkan biaya yang and Vegetables in Germany.
besar dalam mendapatkan buah Market and Trade Policies for
manggis di tingkat petani. the Mediterranean Agriculture:
The Case of Fruit/Vegetables
and Olive Oil.
DAFTAR PUSTAKA
Levi, D. Simchi, Kaminsky, P., Levi, E.
Astuti,Retno dan Marimin. 2010. Simchi. 1999. Designing and
Kebutuhan dan Struktur Ke- Managing the Supply Chain.
lembagaan Rantai Pasok Buah McGraw-Hill International Edi-
Manggis, Studi Kasus di Kabu- tion.
paten Bogor. Dalam Jurnal Inte- Lee, Hau. 1999. Supply Chain Ma-
gritas Manajemen Bisnis, Volu- nagement. di dalam : Stanford
me 3, Nomor 1 Supply Chain Forum. Stanford.
Astuti, Retno. 2012. Pengembangan Stanford University.
Rantai Pasok Buah Manggis di Marimin.2004. Pengambilan Kepu-
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. tusan Kriteria Majemuk. Grasi-
Disertasi. Institut Pertanian Bo- ndo. Jakarta
gor Miranda dan Amin W.T. 2006.
Andi Ilham, dkk. 2006. Produktivitas Manajemen Logistik dan Supply
dan Efisiensi dengan Supply Chain Management. Harvari-
Chain Management, Jakarta, Pe- ndo, Jakarta.
nerbit PPM. Monczka, Robert. M, 2002, “Succes
Badan Pusat Statistik. 2009. Statistika Factors in Strategic Supplier
Pertanian. BPS. Jakarta Alliance The Buying Company
Badan Pusat Statistik. 2010. Statistika Perspective II”, Decision
Indonesia. BPS. Jakarta Nazir, M. (1983). Metode Penelitian.
Bolstorff, P., dan Rosenbaum, R. Jakarta : Ghalia Indonesia.
2003. Supply Chain Excellence, Pujawan. Nyonman. 2005. Supply
A Handbook for Dramatic Im- Chain Management. Edisi Per-
provement Using the SCOR tama. Penerbit guna Widya.
Model. AMACOM. American Ritchie, R. dan Brindley, C. 2007.
Management Association. Supply Chain Risk Management
Central Agribussiness Policy Agri- and Performance: Current Tre-
culture Studies Padjajaran nds and Future Develop-ments.
University, 2012. Supply Chain International
Manggosteen in West Suma- Robert.2008. Studi Kasus, Desain
tera. Bandung. dan Metode.Jakarta, PT Raja
Christopher, M.G. 1998. Logistics and Gra-findo Persada.217.
Supply Chain Management: Shapiro, J.F. 2001. Modelling the
Strategies for Reducing Cos- Supply Chain. Duxbury. USA.
ts and Improving Services. Pit- Sharma, M. K. dan Bhagwat, R.
man, London 2007. Integrated BSC-AHP
Heizer, J. dan B. Render. 2005. Approach for Supply Chain
Manajemen Operasi (Ter- Management Evaluation. Mea-
jemahan Edisi Tujuh). Salemba suring
Empat, Jakarta.