Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan teknologi berkembang sangat cepat sehingga menyebabkan
permintaan atas tenaga kerja yang kompeten semakin meningkat. Keadaan ini
akan mendorong calon lulusan perguruan tinggi untuk semakin meningkatkan
kualitas dan sikap profesionalisme. Pembekalan teori yang telah didapat
mahasiswa selama proses pembelajaran tentunya tidak cukup untuk membentuk
tenaga kerja yang kompeten dan kompetitif. Lebih dari sekedar teori semata,
mahasiswa membutuhkan pembekalan Praktik Kerja Lapangan untuk menjadi
tenaga kerja yang kompeten dan berkualitas.
Universitas Negeri Malang (UM) merupakan salah satu Perguruan Tinggi
Negeri yang mempunyai kewajiban untuk mencetak mahasiswa yang berkualitas
baik dalam kemampuan intelektual maupun kepekaan terhadap dinamika sosial.
Keberadaan Program Studi Kimia di Universitas Negeri Malang merupakan salah
satu pilar bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang mendasari ilmu-ilmu
lainnya dan diharapkan dapat memberi kontribusi untuk dapat mengaktualisasikan
diri dalam kapasitasnya sebagai pengembang dasar ilmu pengetahuan yang perlu
memiliki daya pikir dan kinerja optimal.
Salah satu aspek yang berkaitan dengan teknologi dan instrumen yang
berkaitan dengan bidang ilmu kimia yang dapat mejadi obyek Praktik Kerja
Lapangan adalah pengolahan asam amino sebagai komponen utama penyusun
protein. Dalam bidang peternakan asam amino yang sering dimanfaatkan yaitu L-
Lysine dan L-Tryptophan. L-Lysine dan L-Tryptophan merupakan jenis asam
amino yang tidak dapat dihasilkan langsung didalam metabolisme hewan (asam
amino essensial) sehingga perlu adanya asupan dari pakan ternak. Kedua asam
amino ini penting sebagai stimulan pertumbuhan hewan ternak, namun sulit
dijumpai dalam pakan ternak sehingga industri mulai mengembangkan
produksinya secara komersial. Salah satu industri yang memproduksi asam amino
secara komersial untuk campuran pakan ternak adalan PT. Cheil Jedang
Indonesia, Pasuruan-Jawa Timur.

1
PT. Cheil Jedang Indonesia selaku tempat Praktik Kerja Lapangan
merupakan perusahaan milik asing yang bergerak dalam bidang produksi asam
amino esensial feed grade pertama dan terbesar di Asia. Asam amino yang
diproduksi oleh PT. Cheil Jedang Indonesia diantaranya L-Lysine (L-Lysine HCL
dan L-Lysine Sulfate), dan L-Tryptophan. Asam amino adalah senyawa organik
yang mengandung gugus fungsional karboksil (-COOH) dan gugus amina (-NH2).
Secara umum struktur dari asam amino sebagai berikut:

Gambar 1.1 Struktur Asam Amino


Asam amino berdasarkan pembentukannya di dalam tubuh dikelompokkan
menjadi dua yakni asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam
amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga
harus diperoleh dari asupan makanan baik dari hewan atau tumbuhan yang
mengandung asam amino tersebut. Sementara itu, asam amino non esensial
merupakan asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh.
L-Lysine (Lysine) dan L-Tryptophan (Tryptophan) adalah beberapa dari
asam amio esensial yang mana untuk memenuhi kebutuhan asam amino ini harus
disuplai dari makanan. Hanya tanaman dan bakteri tertentu yang dilengkapi
dengan kemampuan untuk mensintesis asam amino ini. L-Lysine (Lysine) dan L-
Tryptophan (Tryptophan) dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan L-Lysine dan
L-Tryptophan tanpa kadar protein yang berlebihan. Oleh karena itu, L-Lysine dan
L-Tryptophan sebagai bahan aditif telah banyak diteliti karena kemampuannya
dapat meningkatkan efisiensi pakan serta penurunan biaya produksi. L-Lysine
merupakan sumber protein yang sangat penting digunakan oleh ternak untuk
meningkatkan produktivitas. Sebagai zat aditif dalam pakan, L-Lysine memiliki
interaksi dengan beberapa jenis zat, baik dengan asam amino lainnya, mineral,
enzim, atau kondisi fisiologis. Berikut adalah struktur umum dari L-Lysine:

2
Gambar 1.2 Struktur Umum Asam Amino L-Lysine
L-Lysine yang dipasarkan adalah L-Lysine HCl dengan kadar minimum 98% dan
L-Lysine Sulfate dengan kadar minimum 68,8%. Bentuk fisik L-Lysine HCl adalah
padatan putih kekuningan, dengan berat molekul 182,65 dan rumus molekul
C6H14N2O2HCl. L-Lysine HCl feed grade diproduksi melalui fermentasi oleh
bakteri dengan bahan baku alami. Dosis yang digunakan 1-2 kg/ton pakan atau 2
gram/kg pakan. Berikut struktur L-Lysine HCl:
Sementara itu, L-Tryptophan memiliki kadar minimum 98%. Berikut adalah
struktur asam amino L-Tryptophan:

Gambar 1.3 Struktur Umum Asam Amino L-Tryptophan


Agar kualitas produk (L-Lysine HCl, L-Lysine Sulfate, dan L-Tryptophan)
yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu, maka pemilihan bahan baku,
proses, serta perlakuan terhadap produk harus dilakukan sesuai dengan prosedur
yang ada. Untuk menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi dengan sistem
biologis, maka perlu adanya kontrol secara kontinyu oleh seksi Quality Assurance
(QA). Kontrol yang dilakukan meliputi pemantauan mutu bahan baku, proses
serta produk yang dihasilkan dengan menggunakan berbagai analisis dan metode
yang berbeda untuk setiap uji material. Dengan adanya kesesuaian disiplin ilmu
yang terdapat pada Program Studi Kimia maka penulis melaksanakan Praktik
Kerja Lapangan di PT. Cheil Jedang Indonesia di Pasuruan.

3
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Khusus
Secara umum praktek kerja lapangan ini memiliki tujuan:
a. Mempelajari dan melakukan analisis yang dilakukan oleh seksi Quality
Assurance guna menjaga mutu dan kualitas bahan masuk, produksi dan
produk yang dihasilkan oleh PT. Cheil Jedang Indonesia
b. Mengetahui aplikasi dan perkembangan teknologi yang ada di PT.
Cheil Jedang Indonesia
c. Meningkatkan kerja sama yang baik dan saling menguntungkan antara
pihak universitas dengan pihak industri untuk meningkatan kualitas
mahasiswa sebagai tuntutan era globalisasi
d. Memenuhi mata kuliah Praktik Kerja Lapangan yang merupakan
kewajiban bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar kesarjanaan
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mempelajari dan mengoperasikan instrumen HPLC yang digunakan di
PT. Cheil Jedang Indonesia
b. Mengetahui proses pengolahan limbah pada PT Cheil Jedang Indonesia
yang ramah lingkungan sehingga kebersihan lingkungan tetap terjaga
c. Mahasiswa dapat mengaplikasikan proses pengendalian mutu yang
dilakukan oleh seksi Quality Assurance (QA)
d. Mahasiswa dapat mempelajari dan mengaplikasikan teknik
pengoperasian alat yang secara prinsip berdasarkan atas efisiensi kerja,
keakuratan analisis dan kuantitaas analisis yang dihasilkan.

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat bagi mahasiswa
a. Memperoleh pengetauan, pengalaman dan keterampilan mengenai
pengendalian mutu yang dilakukan oleh perusahaan untuk semua
produk
b. Memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai proses pembuatan
asam amiono essensial (L-Lysine dan L-Triptophan)

4
c. Melatih diri untuk disiplin dalam bekerja, sigap, dan tangkas dalam
menghadapi berbagai kondisi di dunia kerja
d. Mampu mengidentifikasi masalah yang ada di industri dan memberikan
solusi alternatif untuk pemecahannya
e. Memiliki pengetahuan tentang sikap bekerja yang baik dan sikap kerja
aman.
1.3.2 Manfaat bagi Perusahaan (PT. Cheil Jedang Indonesia)
a. Sebagai sarana alih informasi antara dunia pendidikan dengan dunia
kerja bidang kimia untuk kemajuan perusahaan
b. Menjalin hubungan kerja sama yang baik antara perusahaan dengan
fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.
1.3.3 Manfaat bagi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang
a. Sebagai sarana evaluasi kesesuaian kurikulum yang ada di fakultas
MIPA dengan perkembangan yang ada di dunia kerja/industri
b. Mencetak mahasiswa yang siap kerja, terampil dan disiplin tinggi
c. Sebagai sarana pengenalan mahasiswa kimia fakultas MIPA kepada
dunia kerja.

5
BAB II
TINJAUAN PERUSAHAAN

2.1 Lokasi Perusahaan


Lokasi PT. Cheil Jedang Indonesia terletak di Desa Arjosari Kecamatan
Rejoso, Pasuruan Jawa Timur yang memiliki wilayah seluas 34 Ha. Sebagian
besar lahannya merupakan dataran rendah dengan iklim tropis (24oC – 32oC),
hanya untuk wilayah di atas 1000 m PT. Cheil Jedang Indonesia dibatasi oleh
beberapa wilayah, diantaranya adalah:
1. Utara : Jalan Raya Pasuruan-Probolinggo
2. Timur : Desa Kemantren, Kecamatan Rejoso
3. Selatan : Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso
4. Barat : Dusun Sarirejo, Desa Arjosari
Pemilihan lokasi didirikannya PT. Cheil Jedang Indonesia secara teknis
sangat menguntungkan, dengan alasan sebagai berikut:
1. Kemudahan mencari bahan baku tetes tebu, bahan-bahan kimia untuk
kebutuhan produksi yang dapat diperoleh dari lokasi sekitar seperti
Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Probolinggo
2. Kemudahan memperoleh air dari sungai rejoso yang mengalir di belakang
PT. Cheil Jedang Indonesia
3. Letaknya yang cukup strategis karena merupakan lalu lintas kota dan
provinsi, serta posisinya yang dekat dengan pelabuhan Tanjung Perak
yang mendukung untuk prasarana ekspor dan impor.

2.2 Sejarah Perusahaan


PT. Cheil Jedang Indonesia didirikan di Indonesia pada tahun 1988,
tepatnya pada tanggal 1 Juli 1988. Pada awalnya PT. Cheil Jedang Indonesia
bernama PT. Cheil Samsung Astra (PT. CSA). PT. CSA merupakan gabungan dua
perusahaan dari Korea Selatan yaitu Cheil Foods and Chemicals Co dan Samsung
Co, dan dua perusahaan dari Indonesia yaitu PT. Astra Internasional dan PT.
Surya Gatra Gama. Pada saat itu, modal perusahaan dipegang oleh perusashaan
Korea Selatan dengan status PMA (Perusahaan Milik Asing) sebesar 75% dan

6
perusahaan Indonesia sebesar 25%. Sejak tahun 1995 seluruh modal dan saham
menjadi milik perusahaaan Korea Selatan karena dua perusahaan Indonesia yaitu
PT. Astra Internasional dan PT. Surya Gatra Gama telah menarik diri dari
kepemilikan saham PT. CSA, sehingga saat itu namanya diubah menjadi PT.
Cheil Samsung Indonesia (PT. CSI). Selanjutnya pada bulan Januari 2005,
Samsung Co melepaskan diri dari kepemilikan saham PT. CSI, sehingga sejak 1
Februari 2005 nama PT.CSI diganti PT. Cheil Jedang Indonesia sampai saat ini.
Berikut ini merupakan sejarah singkat dari PT. Cheil Jedang Indonesia:
1. 1 Juli 1988 : PT. Cheil Samsung Astra didirikan di Indonesia.
2. 20 Desember 1988 : PT. Cheil Samsung Astra telah didaftarkan secara
resmi sebagai perusahaan baru di Indonesia.
3. 8 Juli 1989 : Peletakan batu pertama.
4. 1 Oktober 1990 : Produksi percobaan pertama MSG dengan
kapasitas 20.000 ton per tahun.
5. 1 Januari 1991 : Produksi perdana L-Lysine dengan kapasitas
produksi 2.000 ton per tahun.
6. 14 Maret 1991 : PT. Cheil Samsung Astra diresmikan oleh Presiden
Soeharto.
7. 24 Juni 1995 : PT. Cheil Samsung Astra mengadakan perluasan
dengan menambah kapasitas produksi L-Lysine
menjadi 40.000 ton dan pendirian unit produksi
pakan ternak “Superfeed”.
8. 1 Juli 1995 : Nama PT. Cheil Samsung Astra diubah menjadi
PT. Cheil Samsung Indonesia dengan status
perusahaan sebagai PMA murni.
9. 23 Maret 1996 : Produksi superfeed pertama dihasilkan.
10. 1 Februari 2005 : Nama PT. Cheil Samsung Indonesia berubah
menjadi PT. Cheil Jedang Indonesia.
Saat ini PT. Cheil Jedang Indonesia termasuk industri dengan status PMA
murni dengan total investasi per Oktober 1996 US$ 210 juta dan saat ini
mempekerjakan 750 labour supply tetap dan ± 750 labour supply tidak tetap. PT.
Cheil Jedang Indonesia adalah satu-satunya produsen L-Lysine di Indonesia dan

7
merupakan pabrik terbesar di dunia setelah Prancis, Meksiko, USA, China dan
Thailand.
Prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh PT. Cheil Jedang Indonesia
adalah sebagai berikut:
1. 12 Januari 1993 : Teladan K3 tingkat Nasional
2. 5 Juni 1995 : Perusahaan terbaik dalam mengendalikan
lingkungan
3. 26 Juni 1995 : Perusahaan terbaik dalam mengendalikan
lingkungan dengan peringkat hijau
4. 24 Juni 1997 : Juara pertama penghijauan di lingkungan Industri
tingkat I Jawa Timur dan kinerja IPAL terbaik di
Jawa Timur tahun 1996/1997
5. Tahun 2001 : mendapat penghargaan 6 juta zero accident
6. April 2002 : mendapat penghargaan ISO 14001
7. November 2002 : mendapat penghargaan ISO 9001
8. Desember 2003 : sebagai produsen L-Lysine terbesar di dunia
9. Tahun 2003/2004 : mendapat penghargaan perusahaan terbaik dalam
CJ grup dan mendapatkan CJ award
10. Tahun 2004 : mendapat penghargaan sebagai perusahaan
eksprotir terbaik di Jawa Timur.
Maksud dan tujuan pendirian PT. Cheil Jedang Indonesia adalah:
1. Mejalankan usaha di bidang produksi bahan penyedap makan (MSG) dan
bahan aditif untuk pakan ternak (L-Lysine) serta industri yang
berhubungan dengan hal tersebut
2. Menjalankan pendistribusian penjualan untuk dalam maupun luar negeri.

2.3 Strukur Organisasi


Struktur organisasi PT. Cheil Jedang Indonesia disusun berdasarkan
masing-masing bagian yang bertujuan agar dapat menjalankan tugas seccara
maksimal. Kepemimpinan tertinggi dipegang oleh seorang presiden direktur yang
membawahi tugas Factory dan Maketing, bagian Factory dipimpin oleh seorang
Vice President Director. Factory sendiri terdiri atas beberapa seksi yang masing-

8
masing dipimpin oleh seorang manajer, berikut adalah beberapa seksi yang
tercakup dalam bagian Factory:
1. ADM (Administrasi) meliputi:
a. ACCT (Accounting) menangani akuntasi perusahaan
b. W/H (Ware House) menangani barang baik raw dan submaterial-
submaterial yang keluar dan masuk gudang.
2. Pembelian (Purchasing) meliputi:
a. Purchasing 1 menangani pembelian Raw Material
b. Purchasing 2 menangani pembelian Sub Material
c. Purchasing 3 menangani pembelian Packing Material
3. G/A (General Affairs) meliputi:
a. HRD (Human Resources Development) menangani pemenuhan dan
penempatan tenaga kerja serta peningkatan kualitas SDM.
b. G/A eksternal membina hubungan baik antara karyawan dan direksi
PT. Cheil Jedang Indonesia dengan masyarakat dan pemerintah.
c. G/A internal membina hubungan baik antara karyawan dan direksi PT.
Cheil Jedang Indonesia serta penyediaaan dan perawatan fasilitas
ketenagakerjaan untuk karyawan.
Berikut adalah beberapa seksi yang tercangkup dalam bagian Factory:
1. Fermentasi meliputi:
a. Fermentasi I : bertanggung jawab terhadap proses fermentasi
L-Lysine
b. Fermentasi II : bertanggung jawab terhadap proses fermentasi
L-Tryptophan.
2. Produksi meliputi:
a. Produksi I : bertanggung jawab terhadap prosess refinery
sampai packing produk L-Lysine
b. Produksi II : bertanggung jawab terhadap prosess refinery
sampai packing produk L-Tryptophan.
3. Engineering meliputi:
a. Enginering bertanggung jawab terhadap penyediaan, perawatan dan
kestabilan instrumen-instrumen dan peralatan-peralatan elektrik

9
b. Utility bertanggung jawab terhadaap kontinuitas unit pendukung yang
meliputi compressor, boiler, dan chiller.
4. Technical meliputi:
a. QA (Quality Assurance) bertanggung jawab terhadap kualitas bahan-
bahan dasar, kualitas produk setengah jadi selama proses produksi
berlangsung dan kualitas prodak akhir yang diinginkan
b. Environment bertanggung jawab terhadap pengolahan Waste Water
Treatment (WWT).

2.4 Visi dan Misi


1. Visi : CJ bekerja keras menunjukan pada customers (pelanggan) akan
suatu budaya yang berdasarkan pada gaya hidup lebih sehat, lebih
nikmat, dan lebih nyaman
2. Misi : Misi CJ adalah untuk menghasilkan nilai-nilai bagi customers
(pelanggan), pemegang saham dan para pekerja dengan cara
memberikan baik sesuatu yang tak lain berupa produk dan
pelayanan yang baik.

2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Sebagian besar pendukung produksi merupakan bahan-bahan berbahaya
dan mudah terbakar. Alat-alat digunakan untuk melindungi pekerja antara lain:
1. Bahan-bahan berbahay dan beracun (B3)
a. Masker : cotton masker
b. Sepatu : rubber shoes dan safety shoes
c. Helm dan sarung tangan
2. Bahan-bahan yang mudah terbakar
3. Disediakan bahan pemadam kebakaran seperti hydrant, pasir, air dan lain-
lain.
PT. Cheil Jedang Indonesia juga melaksanakan program terpadu K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang merupakan program terpadu untuk
mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang mengacu pada Undang-Undang No. 1

10
tahun 1970. Tim safety dibentuk untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat
kebakaran dan ledakan peralatan. Aktivitas tim safety antara lain:
1. Memberikan penjelasan tentang keselamatan kerja pada karyawan
2. Memberikan penjelasan dan pembinaan kepada tenaga kerja harian agar
memenuhi peraturan tenaga kerja
3. Memasang rambu-rambu keselamatan kerja pada tempat-tempat yang
dianggap rawan bahaya
4. Mengadakan rambu-rambu keselamatan kerja pada tempat-tempat yang
dianggap rawan bahaya
5. Mengadakan penyelidikan terhadap timbulnya kecelakaan
6. Menyediakan perlengkapan pengaman bagi setiap karyawan berupa
sepatu, helm, pakaian kerja dan untuk keperluan khusus dilengkapi dengan
sarung tangan, masker, peredam bunyi dan tabung oksigen
7. Mengantisipasi keadaan darurat dengan menyediakan perlatan pada daerah
yang rawan kecelakaan
8. Memberikan penjelasan kepada karyawan bahwa program K3 merupakan
tanggung jawab seluruh karyawan
9. Tujuan umum dari K3 antara lain:
a. Mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan kerja
b. Agar sumber-sumber produksi dapat dipakai secara efisien
c. Menciptakan kondisi bekerja yang sehat dan selamat
d. Melancarkan proses produksi supaya berjalan taanpa hambatan.

2.6 Hasil Produksi


Adapun ruang lingkup usaha yang dijalani oleh PT. Cheil Jedang
Indonesia adalah sebagai berikut:
1. L-Lysine HCl
L-Lysine HCl merupakan bahan aditif untuk pakan ternak yang dapat
meningkatkan produktivitas hasil ternak. L-Lysine HCl juga merupakan produk
unggulan PT. Cheil Jedang Indonesia. L-Lysine HCl pertama kali diproduksi pada
1 Januari 1991 dengan kapasitas produksi L-Lysine HCl yang ditingkatkan
menjadi 40.000 ton/tahun. PT. Cheil Jedang Indonesia merupakan satu-satunya

11
produsen L-Lysine HCl di Indonesia dan termasuk salah satu dari lima negara
produsen di dunia. Proses pembuatannya juga melalui fermentasi menggunakan
Corynobacterium glutamate.
2. Prosin
Prosin merupakan produk hasil olahan limbah dari proses produksi L-
Lysine dan L-Trptophan. Kandungan protein pada prosin berupa crude protein
yang berasal dari sel bakteri pada L-Lysine. Kapasitas produksi prosin adalah
18.500 ton/tahun.
3. Pupuk Organik/Bio Green
Pupuk Organik merupakan produk hasil olahan dari proses produksi L-
Lysine dan L-Tryptophan.

2.7 Dampak positif pendirian PT. Cheil Jedang Indonesia


1. Menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk wilayah sekitar dengan tujuan
membantu meningkatkan pendapatan
2. Menghasilkan nilai tambah yang tinggi pada bahan molasses, dextrose dan
bahan baku lainnya
3. Meningkatkan nasil produksi daerah setempat
4. Meningkatkan hasil ekspor non migas
5. Menerapkan teknologi khususnya teknologi fermentsai yeng termasuk
advance technology.

2.8 Sosialisasi Perusahaan


Pengadaan program sosialisai untuk mengarahkan masyarakat agar dapat
memiliki keberadaan perusahaan. Program yang dilaksanakan oleh PT. Cheil
Jedang Indonesia antara lain:
1. Mengadakan pertemuaan dengan ulama, warga, pemuda dan pemerintah
2. Mengadakan kotak saran yang digunakan untuk menampung aspirasi
karyawan dan masyarakat sekitar untuk dijadikan perhatian perusahaan
3. Program sosialisasi lainnya yaitu khitanan masal, donor darah, serta
beasiswa bagi anak-anak warga sekitar pabrik.

12
BAB III

QUALITY ASSURANCE (PENJAMINAN MUTU)

Dalam Quality Assurance (QA) terdapat beberapa sub seksi analisis,


diantaranya yaitu analisis material, analisis proses, analisis kontaminan, HPLC,
dan analisis produk. Quality Assurance pada PT. Cheil Jedang Indonesia
bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu perusahaan, tidak hanya mutu
dari produk yang dihasilkan tetapi juga mutu bahan setengah jadi dari proses
produk dan bahan baku. Secara garis besar, Quality Assurance bertanggung jawab
terhadap mutu bahan baku yang masuk di PT. Cheil Jedang Indonesia dan produk
yang keluar dari PT. Cheil Jedang Indonesia. Quality Assurance memberikan
batasan atau ketentuan standart produk yang layak dipasarkan. Standart ini
didasarkan pada keinginan konsumen dan departemen kesehatan.

3.1 Analisis Material


3.1.1 Raw Material
Raw material menganalisis bahan mentah, seperti tepung, Cane Molases
(CM), Raw Sugar (RAS), dan Beet Molasses (BM). Bahan mentah tersebut
nantinya akan digunakan untuk sumber nutrisi bagi bakteri dalam proses
fermentasi. Tepung dianalisis kadar air, pH, dan kadar putih. Sedangkan tetes,
RAS, dan B-Mix dianalisis Total Sugar (TS), kadar air, pH, Color Value (CV),
dan total solid. Berikut ini beberapa analisis yang dilakukan pada raw meterial:
1. Analisis Total Sugar (TS)
a. Analisis total sugar untuk BM (beet molasses) dan CM (cane molasses)
mengunakan metode Berthland dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 Ditimbang berat bahan (Beet Molases dan Cane Molases) sebesar 1,5
gram dengan neraca digital
 Dilarutkan dalam 100 mL DIW
 Dikocok hingga homogen
 Diambil 10 mL dari masing-masing larutan bahan dan dimasukkan
erlenmeyer

13
 Ditambahkan HCl 0,1 N sebanyak 20 mL ke dalam masing-masing
erlenmeyer
 Dipanaskan diatas pemanas hingga volume tersisa 10 mL
 Ditambahkan reagen A dan reagen B dan dipanaskan kembali ± 3 menit
hingga terbentuk endapan merah bata
 Didinginkan dalam penangas air dingin
 Disaring dan disisakan endapan dalam erlenmeyer
 Dilarutkan endapan dalam reagen C (asam sulfat) sebanyak 20 mL
 Dititrasi dengan KMnO4 5% hingga terjadi perubahan dari warna hijau
menjadi merah bata
 Dicatat volume KMnO4 dan dihitung persentase total sugar masing-
masing bahan dengan rumus berikut:
nilai table berthland x faktor koreksi KMnO4 0,05% x 0.95
Total Sugar = berat sampel(gram)

Keterangan:
 Untuk bahan jenis CM (tetes tebu) total standart gula minimal 55%
 Untuk bahan jenis RAS total standart gula minimal 97%
 Untuk bahan jenis BM total standart gula minimal 50%
Metode Berthland merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui
kadar total komponen gula yang terkandung dalam suatu sampel gula diantaranya
mengandung sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Penambahan HCl 0,1 N pada larutan
sampel bertujuan untuk memecah polisakarida menjadi monosakarida, sedangkan
pemanasan dilakukan untuk mempercepat reaksi. Penambahan Reagen A
(CuSO4.5H2O) dan Reagen B (C4H4KNaO6 + NaOH) berfungsi untuk membentuk
endapan Cu2O yang berwarna merah bata yang ekivalen dengan gula yang
terendap. Sementara itu, penambahan Reagen C (Fe2(SO4)3 + H2SO4) bertujuan
untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ dan FeSO4 yang terbentuk kemudian dititrasi
dengan KMnO4 dalam suasana asam. Berikut persamaan reaksi Fe3+ menjadi Fe2+:
Cu2O(s) +Fe2(SO4)3 (aq) + H2SO4(aq)  2CuSO4 (aq) + 2FeSO4(aq) + H2O(l)

b. Analisis Total Sugar untuk RAS (Raw Sugar) mengunakan metode


polarimetri dengan langkah-langkah sebagai berikut:

14
 Ditimbang RAS sebesar 1,25 gram
 Dilarutkan dalam labu 100 mL DIW
 Diset alat polarimeter
 Diukur blank dengan -0,035 sampai dengan -0,041
 Diukur % TS
Prinsip kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah
getar yang sama dengan arah polarisator. Larutan gula yang merupakan larutan
aktif optik berfungsi untuk membelokan cahaya yang telah melalui polarisator.

3.1.2 Sub Material


Sub seksi ini menganalisis bahan-bahan pendukung berupa bahan-bahan
kimia meliputi:
 H2SO4  Karbon aktif
 HCl  Amonium sulfat (NH4)2SO4
 NaOH  FeSO4
 NaOCl  MnSO4
 H3PO4  MgSO4
 KOH  CuSO4
 P-amino benzoic acid  Poli Alumunium chloride
 Asam suksinat  Coal
 Antifoam (neorin)  Resin
 Yeast extract  Anticaking (silikon dioksida)
 IDO  Perlite

Berikut beberapa analisis yang dilakukan di sub material:


1. Analisis Poli Aluminium Chloride dan Koagulan
 Ditimbang ± 5 g sampel
 Difill up dengan milli-Q sampai 100 mL dan distirer
 Diambil 10 mL dan dimasukkan erlenmeyer 250 mL
 Ditambahkan HNO3 5% 2 mL
 Dipanaskan sampai mendidih
 Didinginkan
 Ditambahkan bufer asam asetat + ammonium asetat 20 mL
 Ditambahkan EDTA 0,05 M 20 mL
 Dipanaskan dan didinginkan

15
 Ditambahkan etanol 98% 30 mL
 Ditambahkan indikator ditizone sampai berwarna coklat
 Dititrasi dengan ZnSO4 0,05 M
 Dicatat volume ZnSO4 yang dibutuhkan untuk titrasi
PAC (Poli Aluminium Chloride) adalah garam dasar khusus alumunium
klorida yang dirancang untuk memberikan daya koagulasi dan flokulasi yang
lebih kuat dan lebih baik daripada alumunium biasa dan garam besi. PAC dapat
digunakan untuk mengolah air permukaan maupun air tanah untuk memperoleh
air bersih ataupun air minum. Bentuk PAC dapat berupa cairan jernih kekuningan
atau serbuk berwarna kekuningan. PAC mengandung Al2O3 sebanyak 10-12% dan
kandungan basa minimal 50%. Nilai standart maksimal analisis PAC adalah 10%.
Rumus perhitungan analisis PAC :
(20 mL x F.EDTA 0,05 M)−(mL titrasi x F.ZnSO4 0,05M)x 0,05 x 50,98 x P
% konten Al2O3 = Berat sampel x 1000x 10

2. Analisis Methylene Blue Adsorption Active Carbon


 Ditimbang karbon aktif drybase 0,1 g dalam erlenmeyer 100 mL
 Ditambah metilen biru 1200 ppm 25 mL
 Distirer selama 5 menit
 Disaring dengan kertas saring 10 𝜇m
 Diambil hasil saringan dan dicek pada spektrofotometer dengan 𝜆 620 nm
(C2)
 Dicek metilen biru 1200 ppm pada spektrofotometer dengan 𝜆 620 nm (C1)
((C1−C2)/1000)
Rumus perhitungan = berat smpel (g)
× 30

3. Analisis tawas
 Tawas ditimbang 15 gram dan dilarutkan dalam akuades 100 mL
 Diukur pH larutan tawas menggunakan pH meter

3.1.3 Packing Material


Sub seksi ini menganalisis bahan-bahan untuk kemasan diantaranya
kardus, tas, sak (karung), pallete, dan lain-lain. Kemasan ini dibedakan menjadi
beberapa ukuran meliputi K/P L-Lysine HCl 25 Kg, K/P L-Lysine SO4 25 kg, K/P

16
L-Tryptophan 10 kg, Tycon, L-Lysine HCl 800/825 Kg, Tycon L-Lysine 500 Kg
dan Tycon L-Lysine SO4 800 Kg. Salah satu analisis yang dilakukan di packing
material adalah analisis bursting strenght. Analisis ini dilakukan untuk
mengetahui kelayakan packaging dari produk khususnya kekuatan kertas yang
digunakan untuk packing.

3.2 Analisis Proses


Sub seksi ini merupakan lanjutan dari analisis incoming material.
Incoming material yang lulus dari material analisis selanjutnya diolah dalam
bagian proses, bisa bagian fermentasi atau refinery, dan selanjutnya dianalisis oleh
sub seksi ini. Analisis proses yang dilakukan bertujuan untuk mengontrol suplai
makanan yang dibutuhkan broth bakteri pengembang pada tahapan proses
produksi. Analisis yang dilakukan meliputi kontrol kandungan mineral pada feed
bakteri pada tiap tahapnya. Setelah sampel dianalisis, dilaporkan ke bagian proses.
Berikut beberapa analisis yang dilakukan dalam analisis proses:
3.2.1 Analisis Total Sugar (TS)
Di PT. Cheil Jedang Indonesia gula merupakan bahan pokok sebagai
makanan bakteri untuk dirubah menjadi asam amino. Jadi kebutuhan gula sangat
penting disini. Maka dari itu analisis gula dapat dilakukan berbagai cara misalnya
dengan metode Berthland, polarimetri serta HPLC.
a. Metode Polarimetri
Sampel yang diuji yaitu Feed TRP, TB-Mix, SOD A, SOD B, CSOD A,
dan CSOD B. Prosedur analisisnya sebagai berikut:
1) Untuk blangko:
 Ditekan “On” pada tombol power, ditunggu sampai stabil ± 30 menit
 Diambil cuvet, dibersihkan dan ditambah akuades
 Dipastikan tidak ada gelembung dalam cuvet
 Dimasukkan ke alat dan ditutup cover
 Diklik mode  blank  start  save
 Dipastikan nilai blanko -0,035 s/d -0,041

17
2) Untuk sampel
 Diambil cuvet dan dibuang akuadesnya
 Dibilas dengan sampel dan dimasukkan sampel
 Dimasukkan ke alat dan cover ditutup
 Diklik Gb. Erlenmeyer & tes tube
 Diklik sample weight
 Dimasukkan berat sampel
 Diklik OK
 Hasil dicatat dan disiapkan sampel berikutnya
Penentuan konsentrasi sampel larutan gula yaitu sukrosa, diukur terlebih
dahulu dengan pengukuran sudut putar terhadap larutan deret standar sukrosanya.
Dikarenakan sukrosa memiliki atom C yang tidak simetris maka merupakan zat
yang bersifat aktif optik, sehingga memungkinkan diukur sudut putarnya. Pada
pelaksanaannya dilakukan pengukuran sudut putar pada larutan deret standar
dengan prinsip bahwa semakin besar konsentrasi sukrosa, perputaran sudut
polarisasi semakin besar. Sehingga dari hasil pengukuran ini berdasarkan
hubungan antara konsentrasi dengan besar sudut putar, dimana besarnya
konsentrasi merupakan fungsi dari besar sudut putar, maka akan dihasilkan kurva
linear sehingga konsentrasi sampel akan didapat dengan menginterpolasikannya
ke dalam kurva tersebut. Tetapi pada pengukuran menggunakan polarimeter di
PT. Cheil Jedang Indonesia sudah dapat digunakan langsung tanpa menggunakan
kurva standart setiap akan analisis.
b. Metode Berthland
Metode ini dilakukan dengan cara titrasi menggunakan KMnO4 dalam
suasana asam. Sampel yang diuji meliputi Lys-ferm (feed), TMIX, TCM, IN,
OUT dan Sludge D/F. Prosedur analisis yang dilakukan sebagai berikut:
 Dimasukkan milli-Q dalam labu ukur, diletakkan pada neraca analitik, di re-
zero dan dimasukkan sampel dalam labu ukur dicatat massa sampel,
selanjutnya labu ukur ditambah mili-Q hingga tanda batas dan dikocok
hingga larut
 Diambil 10 mL dan dimasukkan dalam erlemeyer, ditambahkan 20 mL HCl
0,1 N yang bertujuan untuk memecah molekul-molekul gula

18
 Dipanaskan diatas pemanas
 Ditambahkan 20 mL reagen A (CuSO4.5H2O)
 Diambah 20 mL reagen B (NaOH + KNaC4H4O6.4H2O)
 Dipanaskan hingga mendidih
 Didinginkan dalam penangas air dingin
 Disaring dan disisakan endapan dalam erlenmeyer. Kemudian endapan
dilarutkan dengan 20 mL reagen C (Fe2(SO4)3 + H+)
 Dititrasi dengan KMnO4 5% hingga terjadi perubahan dari warna
hijau menjadi merah bata
 Dicatat volume KMnO4 (volume KMnO4 dikonversi ke total sugar
dilihat pada tabel Berthland) dan dihitung persentase total sugar masing-
masing bahan dengan rumus berikut:
Volume KMnO4 x faktor koreksi KMnO4 0,05% x 0.95
% Total Sugar = berat sampel(gram)

3.2.2 Analisis PCV (Packed Cell Volume)


Packed Cell Volume (PCV) merupakan analisis untuk mengetahui volume
endapan atau solid yang larut dari sel bakteri. Analisis ini bertujuan untuk
memantau pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri selama proses produksi.
Alat yang digunakan yaitu sentrifuge dengan prosedur analisis sebagai berikut:
 Sampel diambil 10 mL dan dimasukkan dalam tabung sentrifuge
 Diatur speed 3000 rpm dan timer 15 menit
 Dihitung jumlah padatan sesuai skala dalam tabung sentrifuge

3.2.3 Analisis Mineral Kation


Alat yang digunakan adalah AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer)
dan bahan yang digunakan yaitu larutan standart masing-masing kation dan
sampel feed dengan prosedur analisis sebagai berikut:
 Sampel diencerkan 103
 Sampel akan dianalisis kadar kation Mg, Na, K, Fe, dan Ca
 Kadar kation (dalam ppm) yang muncul dari AAS di catat

19
Prinsip metode AAS yaitu absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat
unsurnya. Mekanisme yang terjadi dalam penentuan mineral kation menggunakan
AAS adalah larutan sampel diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur didalam
sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom-atom unsur
yang dianalisis.

3.2.4 Analisa Sulfat (SO42-)


Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kandungan sulfat yang terdapat
dalam sampel. Alat yang digunakan yaitu pipet, labu ukur, spektrofotometer dan
bahan yang digunakan yaitu DIW, BaCl2, larutan buffer SO42- dengan prosedur
analisis sebagai berikut:
a. Pembuatan blanko
 Larutan diambil 0,5 mL dan dimasukkan dalam labu 50 mL
 Setelah itu larutan difill-up dan dikocok sampai homogen
b. Proses penentuan kandungan fosfat
 Diatur panjang gelombang spektrofotometer sebesar 420 nm
 Dimasukkan blanko dalam kuvet lalu dimasukkan pada spektrofotometer
 Dicatat absorbansi yang muncul
 Blanko ditambah BaCl2 ±1 gram dan dimasukkan dalam kuvet lalu
dimasukkan pada spektrofotometer
 Dicatat absorbansi yang muncul
 Dihitung kadar fosfat dapat dengan rumus berikut:
%SO42- = (99.678 x – 1.9835)y
Keterangan :
x : selisih antara absorbansi sampel setelah ditambah BaCl2 dengan
blanko
y : pengenceran larutan

3.2.5 CV (Colour Value)


Analisis Colour Value (CV) dilakukan untuk mengetahui kenampakan
fisik warna dari sampel. Analisis ini dilakukan dengan prinsip serapan/absorpsi

20
sinar tampak (UV-Visible) pada panjang gelombang antara 400-750 nm dari
sampel yang berwarna. Pada analisis ini terjadi absorbansi maksimum pada
panjang gelombang 430 nm. Prosedur analisisnya sebagai berikut:
 Alat spektrofotometer dinyalakan dan diatur panjang gelombangnya sebesar
430 nm.
 DIW dimasukkan dalam kuvet sebagai blanko
 Sampel dimasukkan dalam kuvet dan dianalisis CV dengan
spektrofotometer
 Sampel dipreparasi berbeda-beda
 Nilai absorbansinya dicatat
 Diukur CV menggunakan rumus sebagai berikut:
CV = absorbansi x volume pengenceran

3.2.6 Analisis TN (Total Nitrogen) dan AN (Amonium Nitrat)


Alat yang digunakan adalah KJELTAC Auto dan sampel yang digunakan
yaitu BO Lys, HSM PROD, LZ dan CSB. Prosedur yang dilakukan analisis TN
sebagai berikut:
 Sampel dimasukkan dalam tabung kjedhal
 Sampel ditambah H2SO4 pekat 98%
 Ditambah 5 mL H2O2
 Ditambah katalisator Kjeldahl tablet
 Ditambah batu didih (untuk L-Lysine dan L-Tryptophan)
 Dipanaskan sampel pada heater pada suhu 4000C selama 2 jam kemudian
didinginkan pada suhu ruang
 Ditambah DIW
 Diuji sampel dan blanko (DIW) di alat kjedhal
 Dicatat volume hasil analisis
Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan
nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen.
Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang
sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan
alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan

21
penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami
modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya
memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisis yang
pendek. Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga
tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan tahap titrasi. Sementara itu,
untuk proses AN tidak dilakukan tahap dekstruksi, hanya dilakukan tahap destilasi
dan titirasi. Berikut penjelasan tentang tahap-tahap analisa protein cara Kjeldahl.
1. Tahap Destruksi
Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga
terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksidasi
menjadi CO, CO2, dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan berubah menjadi
(NH4)2SO4. Untuk mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator
berupa campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Dengan penambahan katalisator
tersebut titik didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga destruksi berjalan lebih
cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga diberikan
Selenium. Selenium dapat mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain
menaikkan titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke
valensi rendah atau sebaliknya.
2. Tahap Destilasi
Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3)
dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Agar selama destilasi
tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung
gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn). Ammonia yang
dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam klorida atau asam borat 4%
dalam jumlah yang berlebihan. Agar kontak antara asam dan ammonia lebih baik
maka diusahakan ujung tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam.
Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator
misalnya BCG + MR atau PP.
3. Tahap Titrasi
Apabila penampung destilat digunakan asam klorida maka sisa asam
klorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar (0,1 N).
Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda

22
dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP. Perhitungan TN
maupun AN sebagai berikut:
mL titrasi x faktor asam sulfat x 14,0667
% TN/AN= x 100%
mL sampel

3.3 Analisis Kontaminan


Pada sub seksi ini dilakukan analisis pada bahan baku produk, hasil produk
sebelum dikemas dan dimasukkan logistik, serta hal yang berkaitan pada tempat
packing produk (swap test). Selain itu, sub seksi ini menyediakan media untuk
analisis pada fermentasi I, II, dan III. Tujuan dari analisis ini adalah menguji
adanya kontaminan atau tidak. Kontaminan yang dimaksud adalah adanya bakteri
lain yang tidak diinginkan. Ada 4 uji bakteri yang ada di PT. Cheil Jedang
Indonesia, yaitu PCA untuk bakteri umum, DRBC untuk jamur, Violet Agar untuk
koliform, dan Petri Film untuk E- Coli.
3.3.1 Pembuatan media
Media yang digunakan untuk analisis kontaminasi ini harus dalam keadaan
steril. Apabila tidak steril maka akan mempengaruhi analisis kontaminasi yang
dilakukan. Langkah-langkah pembuatan media adalah sebagai berikut:
 Disterilisasi botol, cawan petri, dan alat-alat yang digunakan dalam
autoclave
 Ditimbang bahan pembuatan media sesuai kebutuhan, seperti: glukosa 5
gram, yeast 5 gram, agar-agar 20 gram, pepton 10 gram, NaCl 12 gram, dan
ammonium asetat 3 gram. Pemberian ammonium asetat khusus untuk media
uji kontaminan pada L-Lysine saja
 Dilarutkan semua bahan dengan akuades sampai volume 1 L
 Disterilisasi larutan media di autoclave dengan suhu 121oC selama 3 jam
 Dicairkan kembali jika larutan mengendal dengan stirer
 Setelah itu media didiamkan sampai suhu 55oC dan dituangkan dalam
cawan petri yang dilakukan di dalam clean bench
 Didiamkan media sampai memadat
 Sebelum digunakan media dibiarkan dalam clean bench selama 3 hari, hal
ini dilakukan untuk memastikan media digunakan steril

23
 Setelah itu, media siap di kirim ke bagian fermentasi atau dipakai untuk uji
kontaminasi.
Penambahan agar berfungsi sebagai zat yang memadatkan media,
penambahan pepton dan yeast berfungsi sebagai sumber nitrogen bagi
perkembangan bakteri, penambahan glukosa berfungsi sebagai sember karbon dan
energi bagi pertumbuhan bakteri. Sedangkan penambahan NaCl berfungsi sebagai
bahan pengawet untuk mengawetkan media.

3.3.2 Uji Kontaminasi Proses Refinery


Uji kontaminasi proses refinery merupakan uji yang bertujuan untuk
menjaga kualitas produk belum jadi dengan mengetahui dengan ada atau tidaknya
bakteri yang tidak diharapkan dalam sampel. Pada analisis dilakukan pengenceran
sampel, hal ini bertujuan untuk memudahkan perhitungan koloni bakteri
kontaminan. Pengenceran yang diperlukan untuk setiap sampel berbeda, oleh
karena itu pengenceran dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan mengacu pada
analisis sebelumnya. Prosedur analisisnya sebagai berikut:
 Disiapkan cawan petri (media PCA), bunsen, korek api, agar spreading rod
(spatula bengkok), label, mikropipet tip ke dalam clean bench
 Distrerilkan clean bench dengan sinar UV minimal 30 menit
 Disemprotkan tangan dengan alkohol
 Dinyalakan bunsen, diambil sampel dan dilakukan pengenceran dalam clean
bench, pengenceran yang dilakukan pada setiap sampel berbeda-beda.
Berikut pengenceran yang diperlukan untuk setiap sampel:
- Sampel air (PW, DIW, DWW) : 100
- Sampel broth : 102, 104 dan 106
- Sampel selain a dan b : 101 dan 103/ sesuai kepadatan bakteri
 Masing-masing pengenceran diambil 0,1 mL dan dituang ke dalam cawan
petri (media PCA), kemudian diratakan menggunakan spreading rod yang
telah dibakar dengan bunsen
 Diinkubsi pada suhu 350 C selama 24 jam
 Dilakukan perhitungan koloni.

24
3.4 High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
3.4.1 Pengertian HPLC
Sub seksi ini merupakan analisis bahan yang sama dengan material analisis
dan proses analisis. Hasil dari HPLC ini akan dibandingkan dengan hasil sub seksi
material analisis dan proses analisis yang dilakukan secara manual. Selain itu,
HPLC digunakan sebagai uji analisis kemurnian atau sering disebut dengan
purity.
HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga
disebut dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dikembangkan pada
akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, HPLC merupakan teknik
pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk
atau dalam sediaan. Dalam HPLC, zat cair (liquid) digunakan sebagai fasa gerak.
Kolom berisi serbuk halus yang dipadatkan atau sering disebut resin (sebagai fasa
diam). Dapat dibayangkan betapa sulitnya zat cair mengalir melalui fasa diam di
dalam kolom. Sehingga, agar zat cair dapat melewati kolom dengan cepat,
dibutuhkan bantuan pompa bertekanan tinggi. Dengan bantuan pompa, fase gerak
dialirkan melalui kolom ke detektor. Sampel yang dilarutkan dalam solven,
dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara injeksi.
Didalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran.
Perbedaan kekuatan interaksi antara analit (solute-solute) dengan stationary phase
pada kolom. Solute-solute yang kurang kuat interaksinya dengan fase diam akan
keluar dari kolom terlebih dahulu. Sebaliknya, solute-solute yang kuat
berinteraksi dengan fasa diam maka solute-solute tersebut akan keluar dari kolom
lebih lama. Setiap komponen campuran yang keluar dari kolom dideteksi oleh
detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Sistem HPLC dapat
dihubungkan dengan software pada komputer dan dioperasikan secara
computerize.

25
3.4.2 Instrument HPLC
1. Solven/reagen
Pelarut yang berfungsi sebagai fasa gerak yaitu pembawa sampel ke
dalam kolom.
2. Pompa
Pompa berfungsi untuk mendorong sampel masuk ke dalam kolom
dengan menggunakan tekanan tertentu.
3. Injektor
Injektor berfungsi untuk memasukkan sampel ke dalam kolom dengan
cara injeksi oleh jarum.
4. Detektor
Detektor mendeteksi jenis sampel yang telah dipisahkan di dalam kolom.
Terdapat 3 jenis detektor, yaitu :
a. FLD (Fluoroscence Detector)
b. DAD (Dioda Aray Detector)
c. RID (Refractive Index Detector)
5. Komputer
Berisi software untuk mengolah data hasil dari pendeteksian detektor.

3.4.3 Metode Analisis


Metode analisis yang digunakan dalam HPLC yaitu:
1. FLD (Fluorescence Detector)
Metode ini mempunyai sensivitas yang tinggi dan konsentrasi yang rendah
sehingga waktu retensinya lebih cepat. Bentuk kromatogram yang mempunyai
kecenderungan simetri serta kurang stabil.
2. RID (Refractive Index Detector)
Metode ini mempunyai sensivitas yang rendah dan konsentrasi yang tinggi
sehingga waktu retensinya lebih lambat. Bentuk kromatogram yang berbentuk
fronting serta lebih stabil dibanding dengan metode FLD yang dilihat dari nilai
repeatibility.

26
3.4.4 Tahap Pengujian
Dalam penggunaan HPLC dilakukan beberapa tahapan sebelum pengujian
yaitu tahap verifikasi, validasi, dan uji kemurnian. Proses verifikasi meliputi:
1. Kurva standart (Linearity)
Pembuatan kurva standart HPLC bertujuan untuk mengetahui konsentrasi
optimal sampel yang akan digunakan untuk menguji kemurnian asam amino. Nilai
titik korelasi minimal untuk kurva standart adalah R2 = 0.999 yang
mengindikasikan bahwa ketepatan alat adalah 99.9%.
2. Pengulangan (Repeatibility)
Verifikasi repeatability dilakukan untuk mengetahui kestabilan alat HPLC
dengan melihat nilai hasil pengujian standart yang diinjeksikan. RT merupakan
waktu retensi terpisahnya senyawa dalam kolom hingga keluar bersama fasa
gerak. Amount menunjukkan besarnya konsentrasi sampel. Area menunjukkan
luasnya kurva kromatogram.
3. Akurasi (Reproducibility)
Akurasi dilakukan untuk mengetahui keakuratan hasil data yang dihasilkan
instrument HPLC. Setelah dilakukan uji akurasi, alat dapat digunakan untuk
menguji kemurnian.

27
3.4.5 Diagram Alir Analisis dengan HPLC

Eluen/Reagen

Pompa

Reaction eluent
Injektor

Pompa

Kolom

Reaktor

Detektor

Software
Waste

Gambar 3.4.1 Diagram Alir HPLC untuk Analisis L-Lysine


Keterangan :
 Eluen : H3BO3, NaNO3, Akuades, pH = 10.5
 Reaction Eluent : H3BO3, KOH, Akuades, Metanol, OPA, Brij-35,
dan Mercaptoethanol

28
Eluen/Reagen

Pompa

Injektor

Kolom

Detektor

Gambar 3.4.2 Diagram Alir HPLC untuk Analisis L-Tryptophan


Keterangan:
 Eluen: KH2PO4, Akuades, Asetonitril, pH = 2.9

29
Eluen/Reagen A Eluen/Reagen A

Pompa

Injektor

Kolom

Detektor

Gambar 3.4.3 Diagram Alir HPLC untuk Analisis EBT


(Racun/impurity L-Tryptophan)
Keterangan :
 Eluen induk : NaH2PO4, Akuades, pH = 2.3 diadjust dengan H3PO4
 Eluen A : Eluen induk sebanyak 885 mL dan asetonitril
 Eluen B : Eluen induk sebanyak 650 mL dan asetonitril

30
Eluen/Reagen

Pompa

Injektor

Kolom

Detektor

Gambar 3.4.4 Diagram Alir HPLC untuk Analisis Gula


Keterangan :
 Eluen : Ca-EDTA dan akuades

31
3.4.6 Proses Pemurnian Air

PW - Air sungai
( Process Water ) - Air hujan
- Air suling
RSO3- - PAM

DIW
(De-ionisation Water)

Evaporasi

RO
(Reverse Osmosis)

RSO3-

MQ
(Milli Que)

RSO3-

MQ+
(Milli Que Plus)

Gambar 3.4.5 Proses Pemurnian Air

3.4.7 Dilusi / pengenceran


Dilusi atau pengenceran adalah menurunkan atau memperkecil konsentrasi
larutan dengan menambahkan pelarut. Pada proses pengenceran, volume dan
molaritas berubah sedangkan jumlah molnya tetap. Oleh karena itu berlaku
rumus:
V1 x M1 = V2 x M2
Keterangan:
V1 : volume larutan sebelum diencerkan (L atau ml)
M1: molaritas larutan sebelum diencerkan
V2 : volume larutan setelah diencerkan (L atau ml)
M2: molaritas setelah diencerkan

32
3.4.8 Perhitungan
Setelah keluar kromatogram, akan muncul puncak untuk komponen yang
dianalisis. Luas puncak menyatakan besarnya (kadar) komponen dalam sampel
yang dianalisis. Secara umum perhitungan luas puncak ada tiga macam:
1. Menggunakan 1 standart
area sampel
% komponen = x [standart]x pengenceran
area standart
2. Menggunakan 2 standart
area sampel − area standart 1
% komponen = x([standart 2]
area standart 2 − area standart 1
− [standart 1]) + [standart 1]x dilusi
3. Menggunakan 3 standart atau lebih
Dengan metode liniearitas
y = ax+b
Keterangan:
y = area
x = amount (% komponen)

3.4.9 Percobaan
1. Preparasi reagen/eluen
Reagen untuk menganalisis sukrosa di suatu sampel gula berbeda dengan
reagen yang digunakan untuk menganalisis L-Tryptophan pada suatu sampel dari
proses fermentasi L-Tryptophan. Berikut adalah cara pembuatan reagen-reagen
untuk beberapa analisis:
a. Reagen analisis L-Lysine
 Menimbang H3BO3
 Menimbang NaNO3
 Memasukkan semua bahan yang telah ditimbang ke dalam erlenmeyer
berisi akuades
 Mengaduk dengan stirer ketika semua bahan yang telah dimasukkan
dalam erlenmeyer
 Menambah NaOH sampai pH mencapai 10,5
 Menyaring larutan dengan kertas saring khusus

33
 Meletakkan reagen dalam bak ultrasonik
b. Reagen analisis L-Tryptophan
 Menimbang KH2PO4
 Menimbang asetonitril
 Memasukkan semua bahan yang telah ditimbang ke dalam erlenmeyer
yang sudah berisi akuades
 Mengaduk dengan stirer ketika semua bahan yang telah dimasukkan
dalam erlenmeyer
 Menambah H3PO4 sampai pH mencapai 2.9
 Menyaring larutan dengan kertas saring khusus
 Meletakkan reagen dalam bak ultrasonik
c. Reagen analisis gula
 Menimbang CaNaEDTA
 Memasukkan CaNaEDTA yang telah ditimbang ke dalam erlenmeyer
yang berisi akuades
 Mengaduk dengan stirrer semua bahan yang telah dimasukkan dalam
erlenmeyer
 Meletakkan reagen dalam bak utrasonik
d. Reagen OPA
 Menimbang H3BO3
 Menimbang KOH
 Memasukkan semua bahan yang telah ditimbang ke dalam erlenmeyer
yang sudah berisi akuades
 Mengaduk dengan stirrer ketika semua bahan yang telah dimasukkan
dalam erlenmeyer
 Menimbang OPA
 Menambahkan metanol
 Menambahkan larutan Brij-35
 Menambahkan mercaptoetanol
 Meletakkan reagen dalam bak ultrasonik

34
2. Preparasi Standart
a. Standart L-Lysine HCl
 Mengeringkan standart p.a dengan alat moist meter 1200C
 Memasukkan ke dalam desikator selama 10 menit
 Menyiapkan labu ukur 250 mL yang bersih dan kering yang telah diberi
akuades
 Menimbang standart p.a
 Memasukkan stadart p.a yang telah ditimbang ke dalam labu ukur 250
mL yang telah disiapkan
 Menambahkan akuades sampai batas labu ukur dan mengaduk dengan
stirrer sampai homogen
 Memasukkan dalam ultrasonic degasser selama 10 menit
 Memasukkan dalam botol yang sudah diberi label
 Menyimpan standart dalam lemari es dengan masa pakai 1 minggu.
b. Standart Sukrosa, Glukosa, Fruktosa, dan Maltosa
 Mengeringkan standart p.a dengan alat moist meter 1050C
 Memasukkan ke dalam desikator selama 10 menit
 Menyiapkan labu ukur 250 mL yang bersih dan kering yang telah diberi
akuades
 Menimbang standart sukrosa, glukosa, fruktosa, dan maltose
 Menambahkan akuades sampai batas labu ukur dan mengaduk dengan
stirrer sampai homogen
 Memasukkan dalam ultrasonic degasser
 Memasukkan dalam botol yang sudah diberi label.
 Menyimpan standart dalam lemari es dengan masa pakai 1 minggu.
c. Standart EBT
 Menimbang standart EBT
 Memasukkan standart EBT yang telah ditimbang ke dalam labu ukur
100 mL dan menambahkan 10% asetonitril
 Menambahkan akuades sampai batas labu ukur (100 ppm)
 Dari larutan standart EBT 100 ppm, memipet 1 mL

35
 Mengencerkan dengan 10% asetonitril pada labu ukur 500 mL
 Menghomogenkan larutan dengan stirer.
d. Standart L-Tryptophan
 Menimbang standart p.a L-Tryptophan
 Memasukkan standart p.a L-Tryptophan ke dalam labu ukur 500 mL
 Menambahkan kira-kira 100 akuades dan mengocok labu sampai
homogen
 Membilas labu dengan akuades sampai tidak ada kristal
 L-Tryptophan pada dinding labu ukur
 Memasukkan labu ke dalam ultrasonic degasser selama 10 menit
 Mendiamkan sampai temperatur kamar
 Memfill up dan mengaduk larutan dengan stirrer sampai homogen.

3.5 Analisis Produk


Analisis produk merupakan sub seksi dari Quality Assurance yang
bertugas menganalisis produk-produk yang dihasilkan oleh PT. Cheil Jedang
Indonesia. Produk-produk tersebut terdiri dari main product dan co-product
diantaranya: L-Lysine dan L-Tryptohan (main product) dan Prosin, Zeta,
LF/Liquid Fertilizer, OF/Organik Fertilizer dan BIO Green (co-product). Berikut
beberapa analisis yang dilakukan:
3.5.1 Mesh
Alat yang digunakan yaitu Sieve Shaker, Mesh Sieve, timbangan, sikat
plastik dan beaker plastik. Sampel yang dianalisis yaitu L-Lysine. Prosedur
analisisnya sebagai berikut :
 Ditimbang sampel sebanyak 100 gram
 Disusun ayakan dengan urutan dari bawah ke atas dari ukuran yang paling
kecil ke ukuran yang paling besar
 Digetarkan ayakan menggunakan alat shaker selama 10 menit
 Ditimbang produk dalam tiap ayakan
 Dihitung prosentase L-Lysine dalam masing-masing ayakan, massa yang
dihasilkan sama dengan prosentase produk dalam tiap ayakan.

36
Analisis mesh bertujuan untuk mengelompokkan padatan sampel
berdasarkan ukuran padatan yang sama. Ada enam jenis ukuran mesh yaitu: 14,
16, 25, 35, 45, dan 60. Ukuran tersebut artinya dalam tiap inchi mesh terdapat
lubang sebanyak 14, 16, 25, 35, 45, 60.

3.5.2 Moist
Analisa moist merupakan analisa kadar air dalam produk padat maupun
cair untuk mengetahui kelembaban produk. Alat yang digunakan adalah Moist
Meter. Sampel yang dianalisis yaitu L-Lysine dan L-Tryptohan (main product)
dan Prosin, Zeta, LF/Liquid Fertilizer, OF/Organik Fertilizer dan BIO Green (co-
product). Prosedur Analisisnya sebagai berikut:
 Ditekan tombol on pada moist meter
 Diatur temperatur sampai 120°C
 Ditekan tombol rezero
 Ditimbang 10 gram sampel dalam tempat sampel di moist meter
 Ditunggu hingga muncul data kadar air yang stabil
 Dicatat data yang diperoleh.

3.5.3 pH
Alat yang digunakan adalah pH meter. Sampel yang analisis yaitu sample
material incoming, process, produk akhir. Pengukuran pH bertujuan untuk
mengetahui tingkat keasaman sampel. Prosedur analisisnya sebagai berikut:
 Ditimbang 5 gram sampel dalam gelas kimia
 Ditambahkan aquades sebanyak 50 mL
 Diaduk dengan stirer hingga homogen
 Diukur pH menggunakan pH meter

3.5.4 % T
Analisis %T bertujuan untuk mengetahui nilai warna produk sampel.
Analisis dilakukan menggunakan Spektrofotometer pada panjang gelombang 430
nm. Alat yang digunakan adalah cuvet dan spektrofotometer. Sampel yang
dianalisis yaitu L-Lysine dan L-Tryptohan (main product) dan Prosin, Zeta,

37
LF/Liquid Fertilizer, OF/Organik Fertilizer dan BIO Green (co-product).
Prosedur analisisnya sebagai berikut:
 Ditimbang 5 gram produk sampel dalam beaker kimia
 Ditambahkan akuades 50 mL
 Diaduk dengan stirer hingga homogen
 Dimasukkan beberapa mL ke dalam cuvet
 Ditunggu hingga %T stabil

3.5.5 LOD (Lost On Drying)


Analisis LOD merupakan analisis untuk mengetahui kadar air dalam satu
sampel padatan. Alat yang digunakan yaitu timbangan analitik, dry oven,
desikator, botol timbang. Sampel yang dianalisis yaitu L-Lysine dan L-Tryptohan
(main product) dan Prosin, Zeta, LF/Liquid Fertilizer, OF/Organik Fertilizer/BIO
Green (co-product). Prosedur analisisnya sebagai berikut:
 Dikeringkan botol timbang dalam dry oven pada temperatur 105oC
 Didinginkan botol timbang dalam desikator
 Ditimbang botol timbang dan di re-zero
 Ditimbang sampel dalam botol timbang sebanyak 1-2 g, dicatat beratnya (Wo)
 Diambil sampel dan catat berat contoh + botol timbang (W1)
 Dimasukkan dalam dry oven selama 3 jam dengan temperatur 105oC
 Didinginkan sampel dalam desikator
 Ditimbang sampel + botol timbangan dan dicatat hasilnya (W2)
 Dihitung massa sampel (selisih berat krusibel).
 Dihitung persen LOD
W1 − W2
%LOD = x 100%
Wo

38
BAB IV
HIGH PERFORMANCE LIQUID LIQUID CHROMATOGAPHY (HPLC)
PROJECT

4.1 Pengujian Sample Proses Produksi dengan Metode HPLC menggunakan


Detektor yang Berbeda
4.1.1 Metode
Fluorescence Detector (FLD) dan Refractive Index Detector (RID).
4.1.2 Rumusan Masalah
Eluen FLD relatif tidak stabil (OPA) dan biaya tinggi.
4.1.3 Tujuan
1. Mencari metode analisis yang cepat, presisi, dan akurat
2. Mengetahui % selisih konsentrasi sampel dengan metode FLD dan RID.
4.1.4 Teori Pendukung
1. Prinsip kerja FLD : sensitivitas tinggi dan konsentrasi rendah
2. Prinsip kerja RID : sensitivitas rendah dan konsentrasi tinggi
3. Standart persen selisih konsentrasi maksimal 2% untuk hasil pengujian
dari perbedaan metode.

39
4.1.5 Prosedur Pembuatan Larutan Standart L-Lysine HCL
FLD (Fluoroscence Detector)
Diagram Alir Cara Kerja

Dry base Mengeringkan dengan moist meter pada 120oC selama ±5


menit untuk menghilangkan kadar air

Menyimpan dalam desikator dengan absorben kristal silika


Penyimpanan
selama 5 menit untuk menstabilkan kondisi solid standart

Preparasi Menimbang 0,05 g standar L-Lysine dan dilarutkan dalam


250 ml MQ untuk mendekatan terhadap konsentrasi standart

Degassing Meletakkan dalam ultrasonik selama 5 menit untuk memecah


partikel dan menghilangkan potensi munculnya oksigen

Pendinginan Mendiamkan selama 5 menit untuk mengkondisikan larutan


pada suhu ruang

Fill up
Menfill up dengan MQ+ untuk meminimalkan impurities
(ion, organik, koloid dll)

Homogenisasi Menghomogenkan dengan magnetic stirrer selama 5 menit


untuk mendapatkan konsentrasi standart yang terlarut

Filtering Menyaring dengan membran nitrat selulosa dengan ukuran


pori 0,45 nm dan ditampung dalam vial tertutup untuk
memperoleh larutan steril dan ukuran pori yang diinginkan

Inject
Memasukkan vial pada HPLC FLD (HPLC-2)

Result Menggunakan formula 1 standart

Tabel 4.1.1 Prosedur Pembuatan Larutan Standart L-Lysine HCL


dengan Metode FLD (Fluoroscense Detector)

40
RID (Refractive Index Detector)
Diagram Alir Cara Kerja

Dry base Mengeringkan dengan moist meter pada 120oC selama ±5


menit untuk menghilangkan kadar air

Menyimpan dalam desikator dengan absorben kristal silika


Penyimpanan
selama 5 menit untuk menstabilkan kondisi solid standart

Menimbang standar L-Lysine


Preparasi  0,1 g dilarutkan dalam 100 ml MQ
 0,2 g dilarutkan dalam 100 ml MQ
 0,6 g dilarutkan dalam 100 ml MQ
untuk mendekatan terhadap konsentrasi standart

Degassing Meletakkan dalam ultrasonik selama 5 menit untuk memecah


partikel dan menghilangkan potensi munculnya oksigen

Pendinginan Mendiamkan selama 5 menit untuk mengkondisikan larutan


pada suhu ruang

Fill up
Menfill up dengan MQ+ untuk meminimalkan impurities
(ion, organik, koloid dll)

Homogenisasi Menghomogenkan dengan magnetic stirrer selama 5 menit


untuk mendapatkan konsentrasi standart yang terlarut

Filtering Menyaring dengan membran nitrat selulosa dengan ukuran


pori 0,45 nm dan ditampung dalam vial tertutup untuk
memperoleh larutan steril dan ukuran pori yang diinginkan

Inject
Memasukkan vial pada HPLC FLD (HPLC-6)

Result Menggunakan formula 3 standart

Tabel 4.1.2 Prosedur Pembuatan Larutan Standart L-Lysine HCL


dengan Metode RID (Refractive Index Detector)

41
4.1.6 Prosedur Preparasi Sampel
 Dikocok sample yang akan diuji
 Dilakukan pengenceran dengan pendekatan nilai
 Digunakan formula sesuai dengan standart pembanding (misalnya purity
%, konsentrasi g/L atau mg/g).
4.1.7 Prosedur Pengujian Konsentrasi Sampel
 Disiapkan peralatan (labu ukur 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml dan
mikropipet 0,4 ml, 0,5 ml, 1,0 ml)
 Dilakukan preparasi pengenceran dengan mengambil sample dengan
mikropipet atau ditimbang
 Difill up dengan mili-Q hingga tanda batas
 Dikocok dengan stirrer hingga homogen
 Disaring menggunakan filter holder dengan membran
 Dimasukkan ke dalam vial 1 ml dan ditutup
 Diinject sampel ke dalam instrument HPLC (waktu retensi 5
menit/inject)
 Ditunggu hingga proses analisa selesai dan diamati hasilnya.
4.1.8 Formula
 1 standart :
area sampel
x [standart] x pengenceran
area standart
 2 standart :
area sampel − area standart 1
[ ] x [standart 2 − standart 1] + [standart 1]x pengenceran
area standart 2 − area standart 1

 Perbandingan :
area sampel berat standart
[area standart x ] x 𝑝𝑢𝑟𝑖𝑡𝑦 standart
berat sampel

 3 standart :
Y = A* X-B

42
4.1.9 Verifikasi Standart L-Lysine HCL
FLD (Fluoroscence Detector)
AGILENT 2
Mobile : LYSINE
Repeatibility (< 1%) → Stabilitas
Phase FLD
Flow Rate : 0.5 [Standart]
0,20048
Pompa ml/min (g/l)
Pressure
: 84.14 bar No Inject 1 2 3 4 5
Pompa
Inject Area
: 5 µL 9728562 9749676 9817373 9701946 9670560
Volume Standart
: Waters-
Column AVG 9733623,4
Amino
Temperatur : 65oC STDEV 55402,50294
Reaction
: OPA %RSD 0,56919
Eluent
Detector : FLD RF 48551593,18

Linearity (R2 > 0.999) → Akurasi


[Standart]
0,05016 0,1006 0,20048 0,25036 R2
(g/l)
Area
2716389 5278840 9728562 11941697 0,99966
Standart

Reproducibility (< 1%) → Presisi/ketepatan


[Standart]
Hasil STDEV %Target
(g/l)
200,11 197,87 1,58391919 -1,11938
Tabel 4.1.3 Verifikasi Standart L-Lysine HCL dengan Metode FLD

Gambar 4.1.1 Report Repeatibility dan Reproducibility


Standart L-Lysine HCl dengan Metode FLD

43
Gambar 4.1.2 Gambar 4.1.3
Kurva Kalibrasi Standart L-Lysine Kromatogram Standart L-Lysine
HCl dengan Metode FLD HCl dengan Metode FLD

RID (Refractive Index Detector)


AGILENT 6
Mobile : LYSINE
Repeatibility (< 1%) → Stabilitas
Phase RID
Flow Rate [Standart]
: 1.0 ml/min 6,0001
Pompa (g/l)
Pressure
: 47.61 bar No Inject 1 2 3 4 5
Pompa
Inject Area
: 10 uL 329700 329445 329075 329741 329096
Volume Standart
:
Column Phenomenec- AVG 329411,4
Kromasil
Temperatur : 40oC STDEV 318,4718198
Reaction
:- %RSD 0,09668
Eluent
Detector : RID RF 54900,98498

Linearity (R2 > 0.999) → Akurasi


Standart
1,0006 2,0018 6,0001 R2
(g/l)
Area
54072 109565 329700 1
Standart

Reproducibility (< 1%) → Presisi/ketepatan


[Standart]
Hasil STDEV %Target
(g/l)
200,11 199,68 0,304055916 0,15194
Tabel 4.1.4 Verifikasi Standart L-Lysine HCL dengan Metode RID

44
Gambar 4.1.4 Report Repeatibility dan Reproducibility
Standart L-Lysine HCl dengan Metode RID

Gambar 4.1.5 Gambar 4.1.6


Kurva Kalibrasi Standart L-Lysine Kromatogram Standart L-Lysine
HCl dengan Metode RID HCl dengan Metode RID

45
4.1.10 Pengujian Sampel Proses
Konsentrasi
No. Sampel % Selisih
Metode FLD Metode RID
1. Produk L-Lysine-HCL 98,63 % 99,2 % g/L 0,577917
2. Produk L-Lysine-SO4 69,34 % 67,5 % g/L -2,65359
3. Lysine Liquid 50% 637,55 g/L 651,67 g/L 2,214728
4. Main6-Batch122 180,18 g/L 172,2 g/L -4,4289
5. Main18-Batch126 164,33 g/L 162,15 g/L -1,3266
6. Main8-Batch129 116,08 g/L 116,25 g/L 0,146451
7. Mixer-2 305,39 g/L 312,35 g/L 2,279053
Rata - Rata -0,45585
Tabel 4.1.5 Hasil Pengujian Sampel Proses
menggunakan Metode FLD dan RID

4.1.11 Pembahasan
HPLC merupakan salah satu teknik pemisahan dalam kromatografi cair
yang melibatkan fasa diam yang ditempatkan dalam sebuah kolom, fasa gerak,
serta melibatkan pompa bertekanan tinggi untuk elusinya. Prinsipnya yaitu
pemisahana analit dengan pertukaran ion. Pertukaran ion ini terjadi pada kolom
HPLC. Metode yang digunakan untuk pengujian HPLC diantaranya sebagai
berikut:
 Refractive Index Detector (RID)
 Fluorescence Detector (FLD)
 Spektrofotometer UV–Visible
 Spektrometer Infra Merah
 Spektrometer Massa( LC–MS )
 Spektrometer NMR ( LC–NMR ).

Namun pada pengujian kali ini menggunakan metode Refractive Index


Detector (RID) dan Fluorescence Detector (FLD). Tujuan utama dari pengujian
kali ini yaitu mengetahui persen selisih konsentrasi sampel dengan menggunakan

46
kedua metode. Hal ini perlu dilakukan karena eluen pada FLD relatif tidak stabil
dan biayanya tinggi. Berdasarkan teori yang ada hasil pengujian dari perbedaan
metode dengan standar persen selisih konsentrasi sampel maksimal 2%.
Pengujian yang pertama yaitu menggunakan standart L-Lysine HCl.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa metode RID
lebih presisi dan akurat. Selain itu metode RID analisisnya juga lebih cepat. Hal
ini diperkuat oleh data verifikasi yang telah didapatkan.
Verifikasi Metode RID Metode FLD
Linearity (>0.999) R2 1.000 R2 0.99966
Repeatibility (<1%) % RSD 0.096 % RSD 0.975
Reproducibility (<1%) -0.21% -1,11 %
Tabel 4.1.6 Hasil Verifikasi menggunakan Metode RID dan FLD

Selain itu dapat dilihat dari bentuk kromatogramnya metode FLD simetri
sedangkan bentuk kromatogram metode RID melebar, untuk deteksinya metode
FLD sensitivitas tinggi dan konsentrasi rendah sedangkan metode RID sensitivitas
rendah dan konsentrasi tinggi, waktu retensi metode FLD 5 menit sedangkan
metode metode RID 4 menit.
Pengujian yang kedua yaitu dengan menggunakan sampel proses diantara
yaitu Produk L-Lysine-HCL, Produk L-Lysine-SO4, Lysine Liquid 50%, Main6-
Batch122, Main18-Batch126, Main8-Batch129, dan Mixer-2 dengan persen
selisih -0,45585. Persen selisih dari perbedaan kedua metode kurang dari 2%,
maka kedua metode baik digunakan untuk analisis dengan HPLC.
4.1.12 Kesimpulan
 Dilihat dari bentuk kromatogramnya metode FLD simetri sedangkan
bentuk kromatogram metode RID melebar, untuk deteksinya metode
FLD sensitivitas tinggi dan konsentrasi rendah sedangkan metode RID
sensitivitas rendah dan konsentrasi tinggi, waktu retensi metode FLD
5 menit sedangkan metode metode RID 4 menit, dan verifikasi metode
FLD linearity (>0.999) : R2 0.99966, repeatibility (<1%) : % RSD 0.975
reproducibility (<1%) : -1,11 % sedangkan metode RID linearity
(>0.999) : R2 1.000, repeatibility (<1%) : % RSD 0.096, reproducibility

47
(<1%) : -0.21%. jadi metode RID lebih tepat digunakan untuk
mengatasi eluen FLD yang relatif kurang stabil dan biaya tinggi.
 Persen selisih konsentrasi sampel dengan metode FLD dan RID
adalah -0,45585 jadi metode FLD dan RID sama-sama dapat
digunakan untuk metode analisis.

4.2 Pengujian Sample Gula dengan Membandingkan Dilusi Besar dan Dilusi
Kecil
4.2.1 Metode
HPLC dengan standart campuran (Sukrosa, Glukosa, Fruktosa) dengan
menggunakan rumus kurva 3 titik.
4.2.2 Rumusan Masalah
Masa pemakaian kolom kurang lebih 1 bulan.
4.2.3 Tujuan
1. Mengetahui persen selisih konsentrasi sampel gula dari perbedaan dilusi
2. Menambah masa pemakaian kolom dengan target kurang lebih 5 bulan
3. Dapat mengurangi pengeluaran biaya untuk pembelian kolom tiap bulan.
4.2.4 Teori Pendukung
1. Sample sugar memiliki komposisi yang berbeda
2. Perbedaan dilusi sample dibandingkan dengan standart formula kurva
yang sama, hasil tidak jauh berbeda
3. Perbedaan hasil pengujian, standart % selisih konsentrasi maksimal 2%.
4.2.5 Bahan yang Digunakan
1. Ras Kristal
2. B-Mix
3. Csod-A
4. Sod A
5. Feed Lysine
6. Feed Tryptopan-88
4.2.6 Prosedur Preparasi Sample
 Dikocok sample yang tersimpan dalam tabung reaksi 50 ml
 Dilusi kecil berada pada titik atas kurva (volume sample besar)
 Dilusi besar berada pada titik bawah kurva (volume sample kecil).

48
4.2.7 Prosedur kerja :
 Disiapkan labu ukur 100 mL dan 250 mL
 Diambil sampel dan timbang
 Difill-up dengan mili-Q
 Dikocok hingga homogen
 Disaring (difilter) dan dimasukkan dalam vial
 Diinject sample dan dianalisis dengan HPLC
4.2.8 Analisis Data dan Pembahasan

Level Standart Conc. (%) Area R2


1 0,10043 146161
2 Sukrosa 0,25017 435680 1
3 0,50007 922141
1 0,01049 13574
2 Glukosa 0,25018 464098 0,99989
3 0,50034 959510
1 0,01037 11913
2 Fruktosa 0,05037 79869 0,99964
3 0,10020 172997

Tabel 4.2.1 Hasil Verifikasi Standart Gula

Dilusi Kecil
No Sampel Sukrosa (%) Glukosa (%) Fruktosa (%)
Berat (g) Vol. (ml)
Area [] Area [] Area []
1 Ras Crystal 1,2504 250 868563 94,43 - - - -
2 B-Mix 1,0426 100 877682 45,78 - - - -
3 CM 1,0024 100 647505 34,71 61788 4,76 125760 7,91
4 Csod-A 0,7287 100 - - 846220 61,08 - -
5 Sod A 1,4058 100 - - 847756 31,71 - -
6 Feed Lys 0,8141 100 621679 42,29 43065 3,39 42786 3,48
Dilusi Besar
No Sampel Sukrosa (%) Glukosa (%) Fruktosa (%)
Berat (g) Vol. (ml)
Area [] Area [] Area []
1 Ras Kristal 0,25747 250 139833 95,10 - - - -
2 B-Mix 0,2296 100 159609 47,76 - - - -
3 CM 0,2972 100 147420 35 19725 5,12 41463 8,79
4 Csod-A 0,1898 100 - - 183513 62,84 - -
5 Sod A 0,3283 100 - - 177346 32,46 - -
6 Feed Lys 0,2612 100 163133 44,44 10746 3,17 8350 3,63
Tabel 4.2.2 Hasil Verifikasi Dilusi Kecil dan Dilusi Besar

49
% Selisih Konsentrasi
No. Sampel Dilusi Kecil : Dilusi Besar
Sukrosa Glukosa Fruktosa
1 Ras kristal 0,67 - -
2 B-Mix 1,98 - -
3 CM 0,71 0,36 0,88
4 Csod-A - 1,76 -
5 Sod-A - 0,75 -
6 Feed Lys 2,15 -0,22 0,15
Rata-rata 1,38 0,66 0,51
Tabel 4.2.3 Perbandingan Persen Selisih Konsentrasi
Dilusi Kecil dan Dilusi Besar

4.2.9 Pembahasan
Dilusi merupakan proses mengurangi atau memperkecil konsentrasi tinggi
zat terlarut menjadi konsentrasi yang lebih kecil dengan cara menambahkan
pelarut yang berlebih. Kolom pada HPLC merupakan bagian yang sangat penting,
karena pemisahan komponen-komponen sampel yang akan terjadi di dalam
kolom. Kolom akan menjadi penentu keberhasilan pemisahan serta hasil akhir
analisis pada HPLC. Pengujian kali ini tentang membandingkan dilusi besar
dengan dilusi kecil pada sampel gula. Metode yang digunakan pada pengujian ini
adalah HPLC dengan standart campuran (Sukrosa, Glukosa, Fruktosa) dengan
menggunakan rumus kurva 3 titik. Pengujian ini dilakukan bertujuan untuk
menambah masa pemakaian kolom gula yang bisa dipakai dalam waktu 1 bulan
menjadi 5 bulan. Berdasarkan teori yang ada hasil pengujian dari perbedaan dilusi
dengan standar persen selisih konsentrasi sampel maksimal 2%.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel gula diantaranya yaitu
ras kristal, B-Mix, CM, Csod-A, Sod-A, Feed Lysine. Persen selisih konsentrasi
yang dihasilkan dari dilusi kecil maupun dilusi besar yaitu pada sampel yang
mengandung Sukrosa sebesar 1,38%, sampel yang mengandung Glukosa sebesar
0,66 %, dan sampel yang mengandung fruktosa sebesar 0,51% .Persen selisih
dari perbedaan kedua dilusi kurang dari 2%, maka kedua metode baik digunakan
untuk analisis dengan HPLC.

50
4.2.10 Kesimpulan
 Berdasarkan hasil data pengujian persen selisih konsentrasi antara dilusi
besar maupun kecil tidak sampai melebihi 2% sehingga menggunakan
dilusi besar dapat digunakan
 Dari data pengujian antara dilusi kecil maupun besar tidak ada
perbedaan sehingga metode dengan dilusi besar dapat digunakan
 Dapat mengurangi pengeluaran biaya untuk pembelian kolom 5 bulan
kedepan sehingga 1 tahun hanya memerlukan 3 kolom dan menghemat.

4.3 Pengujian Sampel Produk L-Lysine SO4 dengan Menggunakan Pelarut Air dan
HCl 0,05 M
Sifat produk yang sulit larut dalam air atau mempunyai tingkat kelarutan
rendah, sehingga harus dilarutkan dalam pelarut basa ataupun asam. Penggunaan
senyawa basa atau asam yang digunakan sebagai pelarut secara terus menerus
mempunyai banyak efek bagi udara sekitar.
4.3.1 Metode
Fluorescence Detector (FLD) dan Refractive Index Detector (RID).
4.3.2 Tujuan
1. Mengetahui nilai kemurnian produk yang akurat
2. Mencari metode dilusi/pelarut yang tepat
3. Mengetahui korelasi kadar air dengan kemurnian produk.
4.3.3 Prosedur Pengujian Sampel
 Disiapkan sample L-Lysine-SO4 sebanyak ±10g
 Disiapkan labu ukur 250 mL, pH portable, pelarut air, pelarut HCl 0,05 N
dan NaOH 6N
 Dimasukkan alumunium plate ke dalam moistmeter dan tare
 Dituang sampel produk ±5 g dan dikeringkan dengan moistmeter dengan
temperatur 1200C
 Disimpan sampel dalam desikator selama 5 menit
 Dengan menggunakan metode FLD, ditimbang sampel produk 0,05
g/250 mL sebanyak 3 kali

51
 Dengan menggunakan metode RID, ditimbang sampel produk 1,5 g/250
mL sebanyak 3 kali
 Diperiksa pH masing-masing eluent baik FLD dan RID
 Preparasi 1, dilarutkan dengan air, diukur pH dan dicatat
 Preparasi 2, dilarutkan dengan HCl 0,05 N + NaOH 6N , diukur pH
larutan harus sama dengan pH air
 Preparasi 3, dilarutkan dengan HCl 0,05 N + NaOh 6N , diukur pH
larutan harus sama dengan pH eluen
 Didegassing sampel preparasi dengan ultrasonik selama ±10 menit
 Dikocok dengan stirrer hingga homogen selama ±10 menit
 Disaring menggunakan filter holder dengan membran nitrat selulosa
ukuran pori 0,45 nm
 Dimasukkan ke dalam vial 1 mL dan ditutup
 Diinject sampel kedalam instrument HPLC (waktu retensi 5 menit/inject
 Dengan urutan: standart ~ preparasi 1 ~ preparasi 2 ~ preparasi 3 ~
standart
 Ditunggu hingga proses analisis selesai dan diamati hasilnya.

52
4.3.4 Data Hasil Pengamatan
FLD (Fluoroscence Detector)
AGILENT 2
Mobile Phase : LYSINE FLD Repeatibility (< 1%) → Stabilitas
Flow Rate Pompa : 0.5 ml/menit Conc. Std (g/l) 0.20048
Pressure Pompa : 84.14 bar No Inject 1 3 4 5
Inject Volume : 5 uL Area Standart 9728562 9817373 9701946 9670560

Column : Waters-Amino AVG 9729610.25

Temperature : 65oC STDEV 63128.55104


Reaction Eluent : OPA %RSD 0.64883
Detector : FLD RF 48531575.47

Linearity (R2 > 0.999) → Akurasi


Conc. Std (g/l) 0.05016 0.20048 0.25036 R2
Area Standart 2716389 9728562 11941697 0.99966

Reproducibility (< 1%) → Presisi


Conc. Std (g/l) Hasil %Target
200.11 197.87 -1.11938
Tabel 4.3.1 Verifikasi Standart L-Lysine-SO4 dengan Metode FLD

RID (Refractive Index Detector)


AGILENT 6
Mobile Phase : LYSINE RID Repeatibility (< 1%) → Stabilitas
Flow Rate Pompa : 1.0 ml/menit Conc. Std (g/l) 6.0001
Pressure Pompa : 47.61 bar No Inject 1 3 4 5
Inject Volume : 10 uL Area Standart 329700 329075 329741 329096
: Phenomenec-
Column AVG 329403
Kromasil
Temperatuer : 40oC STDEV 367.0994416
Reaction Eluent :- %RSD 0.11144
Detector : RID RF 54899.58501

Linearity (R2 > 0.999) → Akurasi


Conc. Std (g/l) 1.0006 6.0001 R2
Area Std 54072 329700 1

Reproducibility (< 1%) → Presisi


Conc. Std (g/l) Hasil %Target
200.11 199.68 -0.21488
Tabel 4.3.2 Verifikasi Standart L-Lysine-SO4 dengan Metode RID

53
Standart Sampel Purity
No. Pelarut AVG %RSD
Weight Area Weight Area (%)
MQ 0.04000 48586417 0.0576 48426846 69.22
1. Adj pH MQ 0.04000 48586417 0.0574 49250366 70.64 69.59
Adj pH Eluen 0.04000 48586417 0.0571 47790985 68.91
0.448121
MQ 0.04000 48586417 0.0574 47546127 68.19
2. Adj pH MQ 0.04000 48586417 0.0576 48423886 69.21 68.95
Adj pH Eluen 0.04000 48586417 0.0577 48676794 69.45
Tabel 4.3.3 Hasil Pengukuran dengan menggunakan Metode FLD

No Standart Sampel Purity


Pelarut AVG %RSD
. Weight Area Weight Area (%)
MQ 1.2052 332481 1.7148 322468 68.17 0.379603
1. Adj pH MQ 1.2052 332481 1.7146 319419 67.53 67.90 0.374836
Adj pH Eluen 1.2052 332481 1.7149 321748 68.01 0.24222
MQ 1.2052 331837 1.7145 323050 68.43 0.379603
2. Adj pH MQ 1.2052 331837 1.7146 320377 67.86 68.12 0.374836
Adj pH Eluen 1.2052 331837 1.7143 321310 68.07 0.24222
Tabel 4.3.4 Hasil Pengukuran dengan menggunakan Metode RID

Metode RID Metode FLD


Pelarut
Purity % RSD Purity %RSD
68.17 69.22
MQ 0.183848 0.72832
68.43 68.19
67.53 70.64
pH MQ 0.233345 1.011163
67.86 69.21
68.01 68.91
pH Eluen 0.042426 0.381838
68.07 69.45
Tabel 4.3.5 Hasil Perbandingan dari Metode FLD dan RID

54
4.3.5 Pembahasan
Dari teori yang didapat bahwa nilai kemurnian produk adalah minimum
68,8 %, sedangkan dari data yang didapatkan bahwa kemurnian produk berkisar
antara 68-70 % baik dengan menggunakan metode FLD ataupun RID. Sehingga
hal ini membuktikan bahwa nilai kemurnian pelarut air tidak jauh berbeda dengan
nilai kemurnian pelarut HCl 0,05 N. Dalam hal ini dilusi atau pengenceran dengan
menggunakan air lebih mudah daripada HCl 0,05 N.
4.3.6 Kesimpulan
 Nilai kemurnian produk adalah 68-70%
 Metode pengenceran/dilusi dengan Mili-Q ataupun HCl 0,05 N
merupakan metode yang sama-sama akurat karena kemurniannya tidak
jauh berbeda
 Kemurnian air tidak mempengaruhi kemurnian produk.

55
BAB V
WASTE WATER TREATMENT (PENGOLAHAN AIR LIMBAH)

Limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan. Dalam produksi asam
amino dihasilkan limbah padat, cair, gas dan limbah B3. Limbah yang dihasilkan
sebagian besar mengandung senyawa-senyawa organik yang apabila melebihi
ambang batas tertentu dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu,
diperlukan pengolahan limbah secara cepat dan tepat.
Usaha pengolahan limbah diimplementasi oleh PT. Cheil Jedang Indonesia
melalui program IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Kebijakan Lingkungan
PT. Cheil Jedang Indonesia adalah “PT. Cheil Jedang Indonesia bertekad menjadi
perusahaan yang ramah lingkungan dalam memproduksi asam amino dengan
proses fermentasi dan refinery beserta kegiatan jasa dan fasilitas pendukungnya”.
Pengolahan air limbah yang dilakukan PT. Cheil Jedang Indonesia mengacu pada
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup meliputi :
1. Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang lingkungan hidup
2. Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 1994 tentang baku mutu limbah cair
3. Peraturan Daerah No.5 Tahun 2000 tentang pengendalian pencemaran air di
Jawa Timur
4. Peraturan Gubernur No.52 Tahun 2014 tentang baku mutu industry L-Lysine
dan MSG.
Pengolahan air limbah secara garis besar dibagi menjadi :
1. Preliminary Treatment
Tahap ini meliputi penyaringan kotoran-kotoran berukuran besar yang terdapat
pada limbah.
2. Primary Treatment
Tahap ini meliputi pengendapan kotoran terlarut dan tersuspensi.
3. Secondary Treatment
Tahap ini merupakan pengolahan limbah menggunakan mikroorganisme.
4. Tertiary Treatment
Tahap ini bertujuan untuk menstabilkan nutrient dan mikroba pathogen yang
terkandung dalam limbah.

56
Draynase TSP 1 C/T Alum, anion
Recycling
Alkali Sed. Sed.
LDW Aerasi 1-14
2a 3a

PRT-A LST A
EFF
Alum, anion

LDW Aerasi 1-4 Sed. Sed.


Alum, kation 2b 3b
Sungai
Coll. PRT-B
15

Thickner
Liquid Belt Press
Mix.tnk
Fertilizer

Gambar 5.1 Diagram Proses Pengolahan Limbah

Tujuan dari pengolahan limbah buangan sebagai berikut:


1. Ditinjau dari segi kesehatan, untuk menghindari penyakit menular karena air
merupakan media terbaik untuk kelangsungan hidup mikroba penyebab
penyakit menular
2. Ditinjau dari segi estetika, untuk menjaga air dari bau dan warna yang tidak
menyenangkan atau tidak diharapkan
3. Ditinjau dari segi lingkungan hidup, untuk menjaga ekosistem air.
Limbah yang dihasilkan oleh PT. Cheil Jedang Indonesia antara lain:
1. Limbah Padat
Limbah padat terbagi atas:
a. Limbah Aktif
Limbah ini terdiri dari mikroba yang dihasilkan dari sistem lumpur aktif.
Setelah dikomposkan, bahan dicampurkan dalam pupuk cair organik.
b. Gypsum
Limbah ini berasal dari pemisahan kalsium yang terdapat dalam tetes tebu.
Dengan penambahan asam sulfat akan terbentuk endapan kalsium sulfat.

57
c. Cake Sludge
Cake Sludge berasal dari IPAL. Buangan jenis ini juga diambil untuk
digunakan sebagai pupuk.
d. Sampah kertas dan daun
Bahan-bahan ini dibakar dalam incinerator.
2. Limbah Gas
Limbah gas berasal dari tangki penyimpanan HCl dan H2SO4. Gas yang
dikeluarkan dari tangki terlebih dahulu disemprot dengan partikel air halus di
dalam unit gas scrubber. Air ini diputar terus sampai kondisi jenuh kemudian
diganti dengan yang baru. Air yang jernih kemudian dikirim ke IPAL
sedangkan udara yang keluar dari gas scrubber sedah relatif bersih.
3. Limbah Debu
Debu di gudang tapioka berupa tumpahan tepung. Pengolahanya adalah
dengan dibersihkan secara rutin dengan cara disapu. Bagi karyawan yang
memasuki daerah ini diwajibkan memakai masker (penutup hidung).
4. Limbah Cair
Limbah ini merupakan limbah yang membutuhkan perhatian khusus.
Baku Mutu Limbah Cair PT. Cheil Jedang Indonesia berdasarkan SK Gubernur
Jawa Timur No.136 Tahun 1996 meliputi:
a. Volume air limbah per satuan produk yang dihasilkan L-Lysine adalah
180m3/ton produk
b. Parameter pengolahan air limbah:
Standar SK Gubernur No.136 PT. CJI
Parameter
(mg/L) (mg/L)
BOD 80 47
COD 150 120
TSS 100 6
NH3N 5 0.75
pH 6-9 6.8
Tabel 5.1 Perbandingan Parameter Pengolahan Air Limbah

58
Berdasarkan COD (Chemical Oxygen Demand) limbah cair PT. Cheil
Jedang Indonesia dibagi menjadi :
1. PC (Primary Cut) dari refinery L-Lysine dengan volume 3240m2 per hari. PC
ini berwarna hitam pekat dengan COD 1000-1300 dan BOD 1800 mg/L.
2. LSB (Low Suspended Broth) dari refinery L-Lysine dengan volume 1680
m3/hari
3. Lainya berasal dari air cucian, kondensat, seal water dan lain-lain dengan
volume 7920m3/hari.
Pengolahan limbah cair menggunakan kolam (pond) dengan berbagai
ukuran disesuaikan dengan fungsinya. Masing-masing perlakuan mempunyai
waktu tinggal sendiri. Waktu tinggal di kolam pengolahan air limbah adalah 55
jam yaitu pengolahan awal (pretreatment) 2 jam, kolam aerasi (perlakuan
biologis) 44 jam dan pengendapan (setelah perlakuan biologis) selama 9 jam.
Operasional pengolahan air limbah berlangsung secara kontinyu dan
dikontrol selama 24 jam. Setiap mesin yang mendukung proses dimonitor atau
dikontrol dari ruang monitor. Selain itu disediakan mesin cadangan dengan posisi
siap operasi untuk mesin yang sangat penting dan berhubungan terhadap kualitas
effluent. Mesin-mesin tersebut diantaranya pompa sludge, pompa bahan kimia,
mesin penghasil udara (untuk aerasi). Dengan adanya perlakuan pada awal
pengolahan air limbah dan sistem kontrol IPAL akan didapat kualitas effluent
yang stabil. Secara garis besar unit pengolahan limbah cair PT. Cheil Jedang
Indonesia terdiri atas High Density Water (HDW) dan Low Density Water (LDW).
Air Limbah

LDW HDW

Perlakuan HDW

Perlakuan LDW

Effluent

Gambar 5.2 Diagram Proses Pengolahan Air Limbah

59
5.1 High Density Water (HDW)
Limbah PC yang dihasilkan ISEP (Ion Separator) dari proses refinery L-
Lysine-HCL yang memiliki nilai COD, BOD dan SS (suspend solid) tinggi
dialirkan ke kolam sedimentasi 1B dengan kapasitas 250 m3/jam. Pada kolam ini
terjadi penambahan flokulan dan koagulan yang berfungsi untuk membantu dan
mempercepat pengendapan kotoran-kotoran pada limbah PC, sedangkan sludge
dialirkan ke kolam aerasi yang berjumlah 5 unit dengan kapasitas masing-masing
900 m3.
COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyakmya oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik dalam air secara kimiawi.
Sedangkan BOD (Biochemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen dalam air
yang dibutuhkan oleh bakteri aerob utuk menetralisasi bahan organik didalam air
secara dekomposisi aerobik.
Pada kolam aerasi B terdapat penambahan bakteri solar system (teknologi
dari jepang). Bakteri-bakteri tersebut antara lain Vorthicella sp., Spathidium sp.,
Cashesium sp., Opercularia sp., Epicyllis sp., Aspdisca sp., Eupletes sp., Oxytrica
sp. dan lain-lain. Bakteri-bakteri ini mengalami proses fotosintesis untuk
menguraikan makromolekul menjadi mirkomolekul dalam limbah. Bakteri ini
hanya sekali didatangkan dari jepang dan selanjutnya dikembangkan sendiri
hingga saat ini. Bakteri tersebut di sub-culture dalam growth tank kemudian
ditampung di bio energizer tank (BET) untuk pengkondisian atau adaptasi bakteri
agar dapat berfungsi dengan baik untuk mencegah shock sebelum ditransfer ke
area limbah sebenarnya. Setelah seminggu dikondisikan, maka bakteri
diinjeksikan ke dalam kolam aerasi B.
Buangan akan mengalir kebawah karena gravitasi dari kolam aerasi A
hingga kolam aerasi E. pada bagian bawah kolam terdapat blower yang berfungsi
untuk membantu difusi oksigen. Proses penguraian oleh bakteri solar dapat
menyebabkan BOD HDW turun menjadi 200 ppm. Buangan selanjutnya dialirkan
ke kolam sedimentasi 1A dimana terjadi proses pengendapan untuk memisahkan
cairan dari sludge dan overflow dari HDW feed dialirkan ke LDW aeration ponds,
sedangkan sedimenya (sludge) dikembalikan ke kolam A (proses recycle) dan
sebagian lagi dialirkan ke kolam LDW dan akhirnya diproses dalam sistem LDW.

60
5.2 Low Density Water (LDW)
Limbah Low Suspended Broth (LSB) yang juga dihasilkan dari ISEP
refinery L-Lysine-HCl dialirkan kekolam pretreatment A. limbah LSB ini lebih
ringan jika dibandingkan dengan PC karena mempunyai nilai COD dan BOD
yang lebih rendah. Pada kolam pretreatment A terjadi penambahan flokulan yang
kationik dan koagulan (biasanya digunakan jenis tawas) yang berfungsi untuk
mempercepat pengendapan. Sedimen yang dihasilkan sebagian dialirkan ke kolam
thickener A dan sebagian lain ke kolam thickener C dan D, hal ini dilakukan
karena volume sedimen yang besar sehingga untuk efisiensi waktu dan untuk
menyesuaikan volume yang masuk dengan kapasitas kolam thickener maka
dilakukan pengaliran ke kolam yang berbeda. Sedangkan liquid atau cairan yang
jernih dari kolam pretreatment A dialirkan ke tangki chusion dan diturunkan
suhunya dengan cooling tower. Selanjutnya buangan dialirkan ke storage pond A
dan selanjutnya dialirkn ke kolam LDW aeration A dan jika volumenya besar
maka untuk mengurangi beban alat, sebagian dialirkan ke kolam storage B. pada
kedua kolam storage ini terjadi proses penyeimbangan untuk menstabilkan
volume dan kapasitas buangan sehingga diperoleh aliran yang konstan. Dengan
adanya penyeimbangan ini, buangan dapat terolah dengan lebih baik karena
terjadi minimalisasi kapasitas bahan-bahan organik dalam buangan dan dapat
mengoptimalisasi pengendapan.
Limbah cair yang ketiga merupakan buangan dari berbagai macam proses
dengan pH berbeda-beda yang dialirkan ke collection ponds. Collection ponds
terdiri dari 5 kolam dengan kapasitas masing-masing 600 m3. Buangan mengalir
karena gravitasi dari collection ponds 1 hingga 5. Kemudian buangan dialirkan ke
reaction pond yang merupakan tempat pengolahan secara kimia dengan
penambahan tawas untuk menjernihkan buangan dan NaOH untuk menetralkan
pH (6.8-7.0). Dari reaction pond, buangan dialirkan ke kolam pretreatment B
untuk diendapkan. Sedimen yang dihasilkan dialirkan ke kolam thickener B
sedangkan cairannya dialirkan ke tangki cushion.
Pada LDW aeration pond A dan B terjadi pengolahan secara biologi
dengan lumpur aktif. Lumpur aktif dalam hal ini merupakan materi tidak larut
yang tersusun atas serat-serat organik kaya selulosa dan mengandung banyak

61
mikroba. Dalam metode ini terdapat dua pond yaitu aeration pond dan
sedimentation pond. Pada aeration pond pengolahan secara biologis bertujuan
untuk menurunkan nilai BOD yang ditandai dengan peningkatan massa lumpur.
Oleh karena itu, aeration pond harus mampu menampung hasil metabolisme
selama penguraian.
Dalam aeration pond terjadi proses aerasi mekanik, yaitu suplai oksigen
dari diffuser yang bertujuan untuk menyesuaikan pH dan kadar oksigen terlarut
untuk kehidupan bakteri. Karakteristik mikroba lumpur aktif yaitu pada pH netral
(6.5-7.5), suhu 27-34°C, oksigen terlarut 0,2-5ppm, dan nutrisi seimbang.
Setelah mencapai waktu tertentu, buangan yang berisi campuran sel baru
dan lama dari LDW aeration A dialirkan ke tangki sedimentasi 2A dan dari LDW
aeration B dialirkan ke tangki 2B. Pada tangki sedimentasi ini terjadi
pengendapan dan pemisahan secara gravitasi antara limbah dan sel. Underflow
dari tangki fermentasi 2A dan B yang berupa sludge campuran bakteri dan
lumpur direcycle ke aeration ponds. Overflow dari tangki sedimentasi 2A dan B
dialirkan ke reaction pond.
Pada reaction pond, terjadi pengolahan secara kimia dengan penambahan
alum/tawas (Al2(SO4)3) sebagai koagulan dengan dosis tertentu. Tahap ini
dilakukan untuk menggumpalkan partikel-partikel yang belum terendapkan.
Tawas berasal dari pencairan kristal tawas pada tangki preparasi dengan pH 1-3
yang selanjutnya dialirkan ke alum storage. Pada reaction pond ditambahkan
NaOH sampai pH 6.8-7.0 dan polimer untuk pengendapan pada tangki fermentasi
3. Buangan yang telah memenuhi baku mutu akan dialirkan ke sungai sedangkan
underflow dari tangki sedimentasi 3 dialirkan ke kolam thickener untuk proses
pemekatan lumpur.
Kolam thickener terdiri dari 4 kolam, dimana pada kolam thickener C
terjadi recycling, yaitu penambahan buangan hasil refinery Zeta. Proses
pemekatan lumpur thickener sludge dilakukan dengan cara sludge dewatering
menggunakan alat Belt Press. Sludge yang diperoleh setelah dikeringkan dengan
Belt Press kemudian diangkut dengan conveyor menuju cake hopper dan
selanjutnya digunakan dalam produksi pupuk cair (Liquid Fertilizer).

62
BAB VI

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis untuk produksi terdapat 5 subseksi analisis yaitu
analisis meterial, analisis proses, analisis kontaminan, analisis HPLC, dan
analisis produk.
2. Produk yang diproduksi oleh PT. Chiel Jedang Indonesia Pasuruan yaitu:
main products meliputi: L-Lysine HCl, L-Lysine SO4, L-Tryptophan,
Liquid Lysine 30%, Liquid Lysine 50%, serta co-product meliputi: Prosin,
Zeta, Liquid Fertilizer (LF), dan Bio Green.
3. Pada analisis pengujian sample proses produksi dengan metode HPLC
menggunakan detektor berbeda yaitu metode Refractive Index Detector
(RID) dan Fluorescence Detector (FLD) menghasilkan kedua metode
tersebut sama-sama dapat digunakan untuk metode analisis. Namun,
metode RID lebih tepat digunakan untuk mengatasi eluen, sedangkan FLD
relatif kurang stabil untuk mengatasi eluen dan biaya tinggi.
4. Pada analisis pengujian sample gula dengan membandingkan dilusi besar
dan dilusi kecil menghasilkan pada persen selisih konsentrasi antara dilusi
besar maupun kecil tidak sampai melebihi 2% sehingga menggunakan
dilusi besar dapat digunakan analisis dan dapat mengurangi pengeluaran
biaya untuk pembelian kolom.
5. Pada analisis pengujian sampel produk L-Lysine SO4 dengan
menggunakan pelarut air dan HCl 0,05 N sama-sama akurat karena
kemurniannya tidak berbeda yaitu sekitar 68-70%, sehingga
menggunakan pelarut air dapat digunakan untuk analisis dan dilusi atau
pengenceran dengan menggunakan air lebih mudah daripada HCl 0,05 N.

63
1.2 Rekomendasi
1.2.1 Untuk peserta PKL
Bagi peserta PKL yang akan mengikuti kegiatan praktik kerja lapangan,
PT. Chiel Jedang Indonesia merupakan perusahaan yang tepat karena menerapkan
ilmu kimia dasar serta biokimia sebagai dasar analisis. PT. Chiel Jedang Indonesia
juga memiliki Laboratorium Quality Assurance yang telah terintegrasi ISO
140001 dan instrumen-instrumen analisis yang modern serta mutakhir, sehingga
sesuai kebutuhan pengetahuan mahasiswa di masa mendatang.

1.2.2 Untuk Jurusan Kimia UM


PT. Chiel Jedang Indonesia sangat kompeten dalam bidang produksi
asam amino sehingga dapat dijalin kerja sama yang baik dalam bidang
pengembangan riset produksi asam amino esensial. Selain itu, PT. Chiel Jedang
Indonesia menggunakan alat-alat modern, sehingga dapat membantu jurusan
kimia untuk mengenalkan alat-alat yang digunakan dalam skala industri. Dengan
adanya kerja sama yang baik dapat membantu jurusan kimia untuk memperbaiki
kualitas mahasiswa jurusan kimia yang siap terjun dalam dunia kerja terutama
bidang industri.

64
DAFTAR PUSTAKA

Day R. A. & Underwood A. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima.


Erlangga: Jakarta.
Fessenden, R. J. & Fessenden, J. S. 1989. Kimia Organik jilid II. Erlangga:
Jakarta.
Girindra, Aisyah. 1986. Biokimia I Ed. Ke-1. PT Gramedia: Jakarta.
Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia: Jakarta.
Kealey, D and Haines, P. J. 2002. Instant notes: Analytical Chemistry, BIOS
Scientific Publishers Limited: New York.
Kenkel, J. 2002. Analytical Chemistry for Technicians, 3th. Edition., CRC Press:
U.S.A.
Meyer, F. R. 2004. Practical High-Performance Liquid Chromatography, 4th Ed.,
John Wiley & Sons: New York.
Parlan dan Wahyudi. 2005. Kimia Organik II. UM Press: Malang.

65
LAMPIRAN
1. Verifikasi Standart L-Lysine HCL dengan Metode FLD
(Fluoroscence Detector)

2. Verifikasi Standart L-Lysine HCL dengan Metode RID


(Refractive Index Detector)

66
3. Verifikasi Sampel Proses menggunakan Metode FLD
(Fluoroscence Detector)

4. Verifikasi Sampel Proses menggunakan Metode RID


(Refractive Index Detector)

67
5. Verifikasi Standart Sugar

68
6. Verifikasi Sample Produk L-Lysine-SO4 dengan menggunakan Pelarut
Air dan HCl 0,05 N dengan Metode FLD (Fluoroscence Detector)

7. Verifikasi Sample Produk L-Lysine-SO4 dengan menggunakan Pelarut


Air dan HCl 0,05 N dengan Metode RID (Refractive Index Detector)

69