Anda di halaman 1dari 42

KeluargaBinaanRotasiII

DIABETES MELITUS TIPE 2

Oleh:
Elsa Giatri
FadrianHerjunio
Katerine
VidyaHamzah
WardhyAriefHidayat

Preseptor:
dr. TaufikHidayat, MSc, Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS PADANG PASIR
PADANG

1
2017
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI……………………………………………………………. i
DAFTAR TABEL……………………………………………………… ii
ABSTRAK………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA….…..……………………………….. 3
2.1 Definisi………………………………………………………. 3
2.2 Klasifikasi…………………………………………………… 3
2.3 Patofisiologi…………………………………………………. 4
2.4 Diagnosis……………………………………………………. 5
2.5 Penatalaksanaan…………………………………………….. 7
BAB III KELUARGA BINAAN............................................................. 20
3.1 Pengenalan keluarga binaan..................................................... 20
3.2 Identifikasi permasalahan……………………………………. 21
3.3 Pemecahan masalah………………………………………….. 30
3.4 Follow up……………………………………………………… 31
BAB IV KESIMPULAN…..…………………………………………… 41
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 44

2
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Kriteria diagnosis DM………………………………………. 6
Tabel 2.Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai standar
penyaring dan diagnosis diabetes melitus............................... 7
Tabel 3. Kriteria pengendalian............................................................. 19

3
ABSTRAK

DIABETES MELITUS TIPE 2


Oleh
Katerine, Elsa Giatri, VidyaHamzah, Fadrian H, WardhyA
Kesehatan keluarga adalah suatu keadaan yang mencerminkan status kesehatan
dari keluarga, sementara keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat.Keluarga
adalah unit terkecil, maka kesehatan keluarga dengan sendirinya akan menjadi
faktor yang sangat strategis dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat.
Terwujudnya keadaan sehat merupakan idaman dari semua pihak baik secara
individu,keluarga, maupun semua anggota masyarakat.Sehat adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif.
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit menahun yang akan
disandang seumur hidup. Penyakit ini sangat berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia dan berdampak kepada peningkatan biaya kesehatan yang
cukup besar.Oleh karena itu, peran dokter umum sebagai ujung tombak di
kesehatan primer menjadi sangat penting.Semua pihak baik masyarakat maupun
pemerintah seharusnya ikut serta secara aktif dalam usaha penanggulangan DM,
khususnya dalam upaya pencegahan. Pasien dan keluarga mempunyai peran yang
penting sehingga perlu mendapatkan edukasi untuk memberikan pemahaman
mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit dan pentalaksanaan DM.
Pemahaman yang baik akan sangat membantu dalam mencapai hasil
penatalaksanaan pada pasien DM yang lebih baik.
Masalah kesehatan yang terkait dengan faktor yang berpengaruh
diidentifikasi dengan memperhatikan konsep Mandala of Health, dan diselesaikan
dengan pendekatan individual untuk penatalaksanaan klinisnya dan pendekatan
keluarga dan komunitas untuk penyelesaian faktor yang berpengaruh.Pendekatan
tersebut diterapkan secara menyeluruh, paripurna, terintegrasi dan
berkesinambungan. Penatalaksanaan kasus bertujuan
mengidentifikasimasalahklinis pada pasien dan keluarga serta faktor-faktor yang
berpengaruh, menyelesaikan masalah klinis pada pasien dan keluarga, dan
mengubah perilaku kesehatan pasien dan keluarga serta partisipasi
keluargadalammengatasi masalah kesehatan.Untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat juga diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang kesehatan secara umum.
Kata kunci: kesehatan keluarga, diabetes melitus,

4
BAB I
PENDAHULUAN

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit menahun yang akan


disandang seumur hidup. Penyakit ini sangat berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia dan berdampak kepada peningkatan biaya kesehatan yang
cukup besar.Oleh karena itu, peran dokter umum sebagai ujung tombak di
kesehatan primer menjadi sangat penting.Selain dokter, semua pihak baik
masyarakat maupun pemerintah seharusnya ikut serta secara aktif dalam usaha
penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan. Pasien dan keluarga
mempunyai peran yang penting sehingga perlu mendapatkan edukasi untuk
memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit dan
pentalaksanaan DM.Pemahaman yang baik akan sangat membantu dalam
mencapai hasil penatalaksanaan pada pasien DM yang lebih baik.Diabetes melitus
sering disebut sebagai the great imitator karena penyakit ini dapat mengenai
semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan dengan gejala
sangat bervariasi. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa
diperhatikan sampai ketika orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar
glukosa darahnya. Terkadang gambaran klinis dari DM tidak jelas dan baru
ditemukan pada saat pemeriksaan penyaring atau pemeriksaan untuk penyakit
lain.
Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang dan disfungsi beberapa organ tubuh terutama mata,
ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
Jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia terus meningkat dimana
saat ini diperkirakan sekitar 5 juta lebih penduduk Indonesia atau berarti 1 dari 40
penduduk Indonesia menderita diabetes. Berdasarkan profil kesehatan sumatera
barat, diabetes melitus merupakan penyebab kematian terbanyak si Sumatera
Barat. Prevalensi Diabetes Melitus (DM) pada tahun 2009-2010 menempati

5
urutan ke 4 dari 10 penyebab kematian terbanyak di Kota Padang, dan meningkat
menjadi urutan 2 dari 10 pada tahun 2011. Tingginya prevalensi DM di
masyarakat terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup terutama di kota
besar yang menyebabkan peningkatan angka penyakit degeneratif.
Kami memilih pasien Diabetes mellitus (DM) untuk dijadikan keluarga
binaan karena berdasarkan prevalensi sangat banyak dijumpai di masyarakat
khususnya masyarakat di Puskesmas PadangPasir dan komplikasinya yang sangat
berbahaya seperti aterosklerosis, neuropati, retinopati dan gagal ginjal.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes
melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresiinsulin, kerja insulin, atau
kedua-duanya.Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan
jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata,
ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. World Health Organization (WHO)
sebelumnya telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat
dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi secara umum dapat
dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari
sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan
gangguan fungsi insulin.1

2.2 Klasifikasi
American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Medical Care
in Diabetes (2009) memberikan klasifikasi diabetes melitus menjadi 4 tipe yang
disajikan dalam :1
1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan oleh
adanya destruksi sel β pankreas yang secara absolut menyebabkan
defisiensi insulin.
2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya
kelainan sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin.
3. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan oleh beberapa
faktor lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel β pankreas, kelainan
genetik pada aktivitas insulin, penyakit eksokrin pankreas (cystic fibrosis),
dan akibat penggunaan obat atau bahan kimia lainnya (terapi pada
penderita AIDS dan terapi setelah transplantasi organ).
4. Diabetes melitus gestasional, yaitu tipe diabetes yang terdiagnosa atau
dialami selama masa kehamilan.

7
2.3 Patofisiologi
2.3.1 Diabetes melitus tipe 1
Pada DM tipe I ( DM tergantung insulin (IDDM), sebelumnya disebut
diabetes juvenilis), terdapat kekurangan insulin absolut sehingga pasien
membutuhkan suplai insulin dari luar. Keadaan ini disebabkan oleh lesi pada sel
beta pankreas karena mekanisme autoimun, yang pada keadaan tertentu dipicu
oleh infeksi virus.DM tipe I terjadi lebih sering pada pembawa antigen HLA
tertentu (HLA-DR3 dan HLA-DR4), hal ini terdapat disposisi genetik.Diabetes
mellitus tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onsetdiabetes,
juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes
yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat defek
sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat
diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa, namun lebih sering didapat pada
anak – anak.1

2.3.2 Diabetes Melitus tipe 2


Pada DM tipe II (DM yang tidak tergantung insulin (NIDDM),
sebelumnya disebut dengan DM tipe dewasa) hingga saat ini merupakan diabetes
yang paling sering terjadi.Pada tipe ini, disposisi genetik juga berperan
penting.Namun terdapat defisiensi insulin relatif; pasien tidak mutlak bergantung
pada suplai insulin dari luar. Pelepasan insulin dapat normal atau bahkan
meningkat, tetapi organ target memiliki sensitifitas yang berkurang terhadap
insulin. Sebagian besar pasien DM tipe II memiliki berat badan berlebih.Obesitas
terjadi karena disposisi genetik, asupan makanan yang terlalu banyak, dan
aktifitas fisik yang terlalu sedikit.Ketidakseimbangan antara suplai dan
pengeluaran energi meningkatkan konsentrasi asam lemak di dalam darah. Hal ini
selanjutnya akan menurunkan penggunaan glukosa di otot dan jaringan lemak.
Akibatnya, terjadi resistensi insulin yang memaksa untuk meningkatan pelepasan
insulin. Akibat regulasi menurun pada reseptor, resistensi insulin semakin
meningkat.1
Obesitas merupakan pemicu yang penting, namun bukan merupakan
penyebab tunggal diabetes tipe II.Penyebab yang lebih penting adalah adanya
disposisi genetic yang menurunkan sensitifitas insulin.Sering kali, pelepasan

8
insulin selalu tidak pernah normal.Beberapa gen telah di identifikasi sebagai gen
yang menigkatkan terjadinya obesitas dan DM tipe II.Diantara beberapa factor,
kelaian genetic pada protein yang memisahkan rangkaian di mitokondria
membatasi penggunaan substrat. Jika terdapat disposisi genetik yang kuat,
diabetes tipe II dapat terjadi pada usia muda. Penurunan sensitifitas insulin
terutama mempengaruhi efek insulin pada metabolisme glukosa, sedangkan
pengaruhnya pada metabolisme lemak dan protein dapat dipertahankan dengan
baik. Jadi, diabetes tipe II cenderung menyebabkan hiperglikemia berat tanpa
disertai gangguan metabolisme lemak.1

2.4. Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.Guna penentuan
diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan
glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena.Penggunaan bahan
darah utuh (whole blood), vena, ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan
memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan
oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan
glukometer.1

2.4.1. Diagnosis diabetes melitus


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah
ini:1,2
1. Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
2. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal,mata kabur,
dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara:1,2


1. Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma
sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkandiagnosis DM

9
2. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL dengan adanya keluhan
klasik.
3. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75 g
glukosa lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa
plasma puasa, namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri.
TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat
jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus. Apabila hasil
pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, bergantung pada
hasil yang diperoleh, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok
toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu
(GDPT).
Perbedaan TGT dan GDPT:1,2
1. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO
didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 –199 mg/dL
(7,8-11,0 mmol/L).
2. GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa
plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL (5,6– 6,9 mmol/L) dan
pemeriksaan TTGO gula darah 2 jam < 140 mg/dL.

Tabel 1. Kriteria diagnosis DM1

Ada perbedaan antara uji diagnostik diabetes melitus dengan pemeriksaan


penyaring.Uji diagnostik diabetes melitus dilakukan pada mereka yang
menunjukkan gejala atau tanda diabetes melitus, sedangkan pemeriksaan
penyaring bertujuan untuk mengidentifikasikan mereka yang tidak bergejala, yang
mempunyai resiko diabetes melitus. Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan
10
kemudian pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif, untuk
memastikan diagnosis definitif.1
Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan
Dibetes melitus, toleransi glukosa terganggu (TGT) maupun glukosa darah puasa
terganggu (GDPT), sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat.Pasien dengan
TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi glukosa, merupakan tahapan
sementara menuju diabetes melitus. Kedua keadaan tersebut merupakan faktor
risiko untuk terjadinya diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular di kemudian
hari.3
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar
glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti
dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar.1

Tabel 2. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai standar


penyaring dan diagnosis diabetes melitus.4

Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk


menentukan diagnosis diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu dan glukosa
darah puasa tergagnggu. Berikut adalah langkah-langkah penegakkan diagnosis
diabetes melitus, TGT, dan GDPT.4

2.5 Penatalaksanaan
2.5.1. Tujuan penatalaksanaan
1. Jangka pendek: menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahankan
rasa nyaman, dan mencapai target pengendalian glukosa darah.
2. Jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati, makroangiopati, dan neuropati.

11
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa
darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien
secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.4

2.5.2 Evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama


Evaluasi medis meliputi:
A. Riwayat Penyakit
1. Gejala yang timbul,
2. Hasil pemeriksaan laboratorium terdahulu meliputi: glukosa darah,
A1C, dan hasil pemeriksaan khusus yang terkait DM
3. Pola makan, status nutrisi, dan riwayat perubahan berat badan
4. Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda
5. Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap,
termasuk terapi gizi medis dan penyuluhan yang telah diperoleh
tentang perawatan DM secara mandiri, serta kepercayaan yang diikuti
dalam bidang terapi kesehatan
6. Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang digunakan,
perencanaan makan dan program latihan jasmani
7. Riwayat komplikasi akut (ketoasidosis diabetik, hiperosmolar
hiperglikemia, dan hipoglikemia)
8. Riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi, dan traktus
urogenitalis serta kaki
9. Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik (komplikasi pada
ginjal, mata, saluran pencernaan, dll.)
10. Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah
11. Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung koroner,
obesitas, dan riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan
endokrin lain)
12. Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM
13. Pola hidup, budaya, psikososial, pendidikan, dan status ekonomi
14. Kehidupan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan kehamilan.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang
2. Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah dalam
posisi berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik,
serta anklebrachial index (ABI), untuk mencari kemungkinan
penyakit pembuluh darah arteri tepi
3. Pemeriksaan funduskopi
12
4. Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid
5. Pemeriksaan jantung
6. Evaluasi nadi, baik secara palpasi maupun dengan stetoskop
7. Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari
8. Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan
insulin) dan pemeriksaan neurologis
9. Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe-lain

C. Evaluasi Laboratoris / penunjang lain


1. Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial
2. HBA1C
3. Profil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total, HDL, LDL, dan
trigliserida)
4. Kreatinin serum
5. Albuminuria
6. Keton, sedimen, dan protein dalam urin
7. Elektrokardiogram
8. Foto sinar-x dada

2.5.3. Evaluasi medis secara berkala


1. Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah
makan, atau pada waktu-waktu tertentu lainnya sesuai dengan kebutuhan
2. Pemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulan
3. Secara berkala dilakukan pemeriksaan:
a. Jasmani lengkap
b. Mikroalbuminuria
c. Kreatinin
d. Albumin / globulin dan ALT
e. Kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida
f. EKG
g. Foto sinar-X dada
h. Funduskopi

2.5.4. Pilar penatalaksanaan DM


1. Edukasi
2. Terapi gizi medis
3. Latihan jasmani
4. Intervensi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan danlatihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum
mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik
oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera
diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan
13
dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan
yang menurun dengan cepat, dan adanya ketonuria, insulin dapat segera
diberikan.4

A. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telahterbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan
partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat.Tim kesehatan mendampingi
pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat.Untuk mencapai keberhasilan
perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya
peningkatan motivasi.Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri,
tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada
pasien. Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah
mendapat pelatihan khusus.4

B. Terapi Nutrisi Medis


Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta
pasien dan keluarganya). Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM
sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan
makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk
masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan
kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu
ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan
jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa
darah atau insulin.4

1) Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:


a) Karbohidrat
1. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi.
2. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan
3. Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.
4. Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat
makan sama dengan makanan keluarga yang lain
5. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.

14
6. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak
melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake)
7. Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam
sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau
makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

b) Lemak
1. Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak
diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
2. Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
3. Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak jenuh
tunggal.
4. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung
lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu penuh
(whole milk).
5. Anjuran konsumsi kolesterol < 200 mg/hari.

c) Protein
1. Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.
2. Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi, dll), daging
tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-
kacangan, tahu, dan tempe.
3. Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8
g/Kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya
bernilai biologik tinggi.

d) Natrium
1. Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran
untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan
6-7 gram (1 sendok teh) garam dapur.
2. Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400 mg garam
dapur.
3. Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan
pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.

e) Serat
1. Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan
mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah, dan sayuran serta

15
sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung vitamin,
mineral, serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.
2. Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari.

f) Pemanis alternatif
1. Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak
berkalori. Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa.
2. Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitoldan
xylitol.
3. Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan
kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.
4. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena
efek samping pada lemak darah.
5. Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara lain aspartam,
sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame.
6. Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted
Daily Intake / ADI)

2) Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penyandang diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan
kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi
bergantung pada beberapa faktor seperti: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat
badan, dll.

Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi
adalah sbb:
1. Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
2. Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150
cm, rumus dimodifikasi menjadi :
3. Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
4. BB Normal : BB ideal ± 10 %
5. Kurus :< BBI - 10 %
6. Gemuk :> BBI + 10 %

Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).

16
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:

IMT = BB(kg)/
TB(m2)

Klasifikasi IMT*
1. BB Kurang < 18,5
2. BB Normal 18,5-22,9
3. BB Lebih ≥ 23,0

Keterangan:
1. Dengan risiko 23,0-24,9
2. Obes I 25,0-29,9
3. Obes II > 30
*WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining
Obesity and its Treatment.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :


1. Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori
wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB.
2. Umur
Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk
dekade antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69
tahun dan dikurangi 20%, di atas usia 70 tahun.
3. Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat,
20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas sedang, dan 50%
dengan aktivitas sangat berat.
4. Berat Badan
Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat
kegemukan.Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk
meningkatkan BB. Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang
diberikan paling sedikit 1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal
perhari untuk pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas
dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%),
serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan
17
kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan.
Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan
disesuaikan dengan penyakit penyertanya.4

3) Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama
kurang lebih 30 menit,sifatnya sesuai CRIPE (Continuous, Rhithmical, Interval,
Progressive training). Sedapatmungkin mencapai zona sasaran 75-85 % denyut
nadi maksimal (220/umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit
penyerta. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30
menit, olahraga sedang adalah berjalan selama 20 menit dan olahraga berat
misalnya joging.5,6

4) Terapi farmakologis
a) Sulfonil urea
Obat golongan ini sudah dipakai pada pengelolaan diabetes sejak
1957.Berbagai macam obat golongan ini umumnya mempunyai sifat
farmakologis yang serupa, demikian juga efek klinis dan mekanisme
kerjanya. Beberapa informasi baru mengenai obat golongan ini ada,
terutama mengenai efek farmakologis pada pemakaian jangka lama dan
pemakaiannya secara kombinasi dengan insulin.7,8
Golongan obat ini bekerja dengan menstimulasi sel-β pankreas
untuk melepaskan insulin yang tersimpan.Karena itu tentu saja hanya
dapat bermanfaat pada pasien yang masih mempunyai kemampuan untuk
mensekresikan insulin.Golongan obat ini tidak dapat dipakai pada DM tipe
1. Efek ekstra prankreas yaitu memperbaiki sensitivitas insulin ada, tetapi
tidak penting karena ternyata obat ini tidak bermanfaat pada pasien yang
insulinopenik.7,8

Mekanisme kerja obat golongan sulfonilurea:


1. Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan (stored insulin)
2. Menurunkan ambang sekresi insulin
3. Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa
Obat golongan ini semuanya mempunyai cara kerja yang serupa,
berbeda dalam hal masa kerja, degradasi dan aktivitas
18
metabolitnya.Semuanya dapat menyebabkan hipoglikemia yang mungkin
dapat fatal.Untuk mengurangi kemungkinan hipoglikemia, apalagi pada
orang tua dipilih obat yang masa kerjanya paling pendek. Obat
sulfonilurea dengan masa kerja panjang sebaiknya tidak dipakai pada usia
lanjut.7,8

b) Kombinasi Sulfonilurea dengan Insulin


Pemakaian kombinasi kedua obat ini didasarkan bahwa rerata
kadar glukosa darah sepanjangn hari terutama ditentukan oleh kadar
glukosa darah puasnya. Umumnya kenaikan kadar glukosa darah sesudah
makan kurang lebih sama, tidak tergantung dari kadar glukosa darah
puasanya. Dengan memberikan dosis insulin kerja sedang malam hari,
produksi glukosa hati malam hari dapat dikurangi sehingga kadar glukosa
darah puasa dapat menjadi lebih rendah. Selanjutnya kadar glukosa darah
siang hari dapat diatur dengan pemberian sulfonilurea seperti biasanya.7,8
Kombinasi sulfonilurea dan insulin ini ternyata lebih baik daripada
insulin saja dan dosis insulin yang diperlukan pun ternyata lebih rendah.
Selain itu pasien lebih bisa menerima cara pengelolaan kombinasi daripada
pengelolaan dengan suntikan yang lebih sering.7,8

c) Glinid
Glinid merupakan obat generasi baru yang cara kerjnya sama
dengan sulfonilurea, dengan meningkatkan sekresi insulin fase pertama.
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam
benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan
cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui
hati.7,8
d) Biguanid
Saat ini dari golongan ini yang masih dipakai adalah
metformin.Metformin menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya
terhadap kerja insulin pada tingkat selular, distal dari reseptor insulin serta
juga pada efeknya menurunkan produksi glukosa hati. Metformin

19
meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus sehingga menurunkan
glukosa darah dan juga disangka menghambat absorbsi glukosa dari usus
pada keadaan sesudah makan.7,8
Metformin menurunkan kadar glukosa darah tetapi tidak
menyebabkan penurunan sampai di bawah normal. Karena itu tidak
disebut sebagai obat hipoglikemik, tetapi obat antihiperglikemik.Pada
pemakaian kombinasi dengan sulfonilurea, hipoglikemia dapat terjadi
akibat pengaruh sulfonilureanya. Pada pemakaian tunggal, metformin
dapat menurunkan kadar glukosa darah sampai 20%. Kadar insulin plasma
basal juga turun. Metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan
seperti pada pemakaian sulfonilurea.7,8

e) Tiazolidindion
Tiazolidindion adalah golongan obat baru yang mempunyai efek
farmakologis meningkatkan sensitivitas insulin.dapat diberikan secara oral.
Golongan obat ini bekerja meningkatkan glukosa disposal pada sel dan
mengurangi produksi glukosa di hati.7,8
Golongan obat baru ini diharapkan dapat lebih tepat kerjanya pada
sasaran kelainan yaitu resistensi insulin dan dapat pula dipakai untuk
mengatasi berbagai manifestasi resistensi insulin tanpa menyebabkan
hipoglikemia dan juga tidak menyebabkan kelelahan sel-β pankreas.7,8

f) Penghambat Glukosidase Alfa


obat ini bekerja secara kompetitif megnhambat kerja enzim
kosidase alfa di dalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan
penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial.7,8
obat ini bekerja di dalam lumen usus dan tidak menyebabkan
hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin. Efek samping
akibat maldigestif karbohidrat berupa gejala gastrointestinal seperti
meteorismus, flatus dan diare.7,8

20
g) Insulin
Secara keseluruhan sebanyak 20-25% pasien DM tipe 2 kemudian
akan memerlukan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darahnya.
Untuk pasien yang sudah tidak dapat dikendalikan kadar glukosa darahnya
dengan kombinasi sulfonilurea dan metformin, langkah berikut yang
mungkindiberikan adalah insulin.
Disamping pemberian insulin secara konvensional 3 kali sehari
dengan memakai insulin kerja cepat, insulin dapat pula diberikan dengan
dosis terbagi insulin kerja menengah dua kali sehari dan kemudian
diberikan campuran insulin kerja cepat dimana perlu sesuai dengan
respons kadar glukosa darahnya. Umumnya dapat juga pasien langsung
diberikan insulin campuran kerja cepat dan menengah dua kali sehari.1
Kombinasi insulin kerja sedang yang diberikan malam hari
sebelum tidur dengan sulfonilurea tampaknya memberikan hasil yang lebih
baik daripada dengan insulin saja, baik satu kali ataupun dengan insulin
campuran. Keuntungannya pasien tidak harus dirawat dan kepatuhan
pasien tentu lebih besar.7,8

Tabel 3. Kriteria Pengendalian9

Baik Sedang Buruk


Glukosa darah puasa 80-109 110-125 ≥126
(mg/dl) 110-144 145-179 ≥180
Glukosa darah 2 jam <6,5 6,5-8 >8
(mg/dl) <200 200-259 ≥240
AIC (%) <100 100-129 ≥130
Kolestrol total (mg/dl) >45

21
Kolestrol LDL (mg/dl) <150 150-199 ≥200
Kolestrol HDL (mg/dl) 18,5-22,9 23-25 >25
Trigliserida (mg/dl) <130/80 130-140/80-90 >140/90
IMT (kg/m2)
Tekanan darah (mmhg)

Untuk pasien berumur > 60 tahun, sasaran kadar glukosa darah lebih tinggi
dari pada biasanya (pausa < 150 mg/dl dan sesudah makan < 200 mg/dl),
demikian pula kadar lipid, tekanan darah, dll mengacu pada batasan kriteria
pengendalian sedang.9

22
BAB 3
KELUARGA BINAAN

3.1 Pengenalan Keluarga Binaan


Keluarga Ny.Yani merupakan keluarga yang kami pilih untuk dijadikan
keluarga binaan yang merupakan salah satu aktivitas yang diwajibkan saat
menjalani Rotasi II di Puskesmas Padang pasir.Keluarga ini kami kenali saat
kunjungan Ny.Yani untuk berobat di puskesmas Padang Pasir.Ny. Yani merupakan
salah satu pasien pada Balai Kesehatan Umum di Puskesmas Padang Pasir,
dengan diagnosis Diabetes Melitus.Ny. Yani menderita penyakit Diabetes Melitus
yang juga diderita oleh adik laki-laki pasien, dimana penyakit ini seharusnya
dapat dicegah dan sekarang perlu dilakukan pencegahan sekunder dan tersier
terhadap Ny. Yani. Sementara, suami pertama pasien juga menderita penyakit
yang sama dan sudah meninggal dunia. Untuk itu, kami memilih Ny.Yani dan
keluarga untuk menjadi keluarga binaan kami.

Hal – hal yang kami lakukan diantaranya adalah berupa :


 Melakukan home visit / kunjungan ke rumah.
 Melakukan evaluasi permasalahan pada keluarga tersebut secara holistik.
 Memberi eduksi pemecahan masalah serta diskusi tentang permasalahan
yang dialami keluarga tersebut.

Berikut merupakan informasi yang kami peroleh mengenai anggota keluarga


binaan kami :
No Nama Jenis Usia Status Pendidi Pekerjaan
Kelamin kan
1 Yani Perempuan 54 tahun Istri SMP Pedagang
2 Rani Perempuan 27 tahun Anak S1 IRT

3.2 Identifikasi Permasalahan


Identifikasi permasalahan pada keluarga ini kami telusuri berdasarkan
beberapa faktor, secara garis besar sebagai berikut :

23
3.2.1 Kesehatan Individu
Permasalahan utama yang kami temui pada keluarga ini bermula dari
kunjungan Ny. Yani ke Balai Kesehatan Umum Puskesmas Padang Pasir pada
tanggal 24 Maret 2017 untuk cek kesehatan
Berikut hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang kami lakukan
terhadap Ny. Yani di Puskesmas:
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur :Ny. Yani/ Perempuan/ 54 tahun
b. Pekerjaan/pendidikan : Pedagang/ SMP
2. Alamat : Jl.Olo Ladang Dalam No.70E
3. Anamnesis
a. Keluhan Utama : Cek kesehatan
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
- Pasien datang ke puskesmas untuk mengecek kesehatan
- Pasien mengeluhkan 2 minggu terakhir sering buang air kecil,
terutama malam hari hingga terbangun ± 5 kali serta sering haus.
- Berat badan pasien semakin menurun dalam beberapa bulan terakhir, 2
bulan yang lalu berat badan pasien 67 kg dan sekarang 64 kg.
- Badan sering terasa letih dan pegal-pegal sejak 3 hari yang lalu
- Kehilangan nafsu makan sejak 1 bulan yang lalu
- Penglihatan kabur tidak ada
- Keluhan kesemutanatau rasa baal pada anggota gerak tidak ada
- Keluhan nyeri saat berjalan dan berkurang saat istirahat tidak ada
- Buang air besar biasa

24
- Pasien ingin memeriksakan kesehatan karena saudara pasien sudah
terlebih dahulu didiagnosis dokter mengalami Diabetes Melitus tipe 2
- Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan untuk Diabetes
Melitus di Puskesmas Belimbing sebelumnya.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
- Saudara laki-laki pasien sudah didiagnosis dokter 10 tahun yang lalu
menderita Diabetes Melitus tipe 2 dan tidak pernah kontrol ke dokter.
e. Riwayat Kebiasaan
- Pasien adalah seorang pedagang, aktivitas sedang dan jarang
berolahraga.
- Riwayat merokok tidak ada
f. Aspek Psikologis di Keluarga
- Hubungan dengan keluarga baik.
- Faktor stress dalamkeluarga tidak ada.
g. Latar Belakang Sosial, Ekonomi, Demografi dan Lingkungan Keluarga
a. Status Perkawinan : Menikah
b. Status Ekonomi :Cukup,+Rp.3.500.000,-/bulan.
c. Kondisi Rumah :
- Rumah adalah rumah permanen 1 lantai, seluas 15 x 10 m2, lantai
ubin, atap gentengdengan loteng.
- Rumah terdiri dari 3 kamar tidur dengan ukuran (3 x 3) m2,(3 x 3)
m2, (3 x 4) m2dan (3 x 4)m2,1 ruang tamu bergabung dengan
ruang keluarga, 1 ruang makan, 2buah kamar mandi, dan dapur.
- Kebersihan rumah kurang dengan barang-barang berserakan di
dalam rumah
- Ventilasi dan pecahayaan rumah kurang, langit-langit rumah
cukup tinggi.
- Lantai dapur terbuat dari semen. Dapur terkesan kurang bersih
- Kamar mandi dan jamban terdapat di dalam rumah. Untuk
keperluan mandi dan mencuci diambil dari air PDAM. Air minum
menggunakan galon isi ulang. Septic tank terdapat di depan
rumah , berjarak ±10 meter dari ruang makan.
- Listrik ada
- Sampah di buang ke TPS
- Halaman rumah bersih dan tertata rapi
d. Penghuni rumah adalah: pasien, suami dan 1 orang anaknya
e. Kondisi Lingkungan Keluarga
- Pasien tinggal di lingkungan cukup padat penduduk

25
- Lingkungan sekitar kurang bersih
4. Pemeriksaan fisik
a. Status generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis cooperatif
Tekanan Darah : 130/90 mmHg
Frekuensi Nadi : 88 x / menit
Frekuensi Nafas : 21 x / menit
Suhu : 37,5ºC
BB : 64 kg
TB : 162 cm
BMI : 24,3 kg/m2 (overweight)
Status gizi : Gizi lebih
BBI : 56 kg
Kebutuhan kalori : 1350 kkal
b. Status Internus
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : tidak ada kelainan
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : tidak ada kelainan
Tenggorokan : tidak ada kelainan

Thoraks
Paru
Inspeksi : simetris ki=ka dalam keadaan statis dan
dinamis
Palpasi : fremitus ki=ka
Perkusi : sonor
Auskultasi : Vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Jantung
Inspeksi : iktus terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
kanan : LSD
atas : RIC II
pinggang jantung : ada
Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : tidak tampak membuncit
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
pembesaran.
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU (+) N

Punggung : tidak ditemukan kelainan


Genitalia : tidak diperiksa
26
Anggota gerak : reflex fisiologis +/+,
reflex patologis -/-,
Oedem tungkai -/-

Kanan Kiri
Pulsasi arteri :
a.radialis + +
a.femoralis + +
a. poplitea + +
a. tibialis posterior + +
a. dorsalis pedis + +
Sensibilitas:
Halus + +
Kasar + +

5. Laboratorium
GDP :158 mg/dL
GD2PP : 259 mg/dL
6. Diagnosis kerja :Diabetes Melitustipe 2
7. Diagnosis Banding :-
8. Pemeriksaan anjuran :
- Pemeriksaan Gula Darah Rutin
- Pemeriksaan HbA1c
9. Manajemen
a. Preventif
- Kontrol gula darah teratur sekali sebulan
- Konsumsi obat anti Diabetes Melitus sesuai dengan anjuran dokter
- Konsultasi gizi tentang nutrisi yang sesuai untuk penderita DM dan
mengikuti pola makan sehat sesuai kalori yang dibutuhkan
- Melakukan perawatan kaki secara berkala terutama pada kaki yang
berisiko tinggi sebagai akibat komplikasi dari Diabetes Melitus,
antara lain:
1. Kulit kaku yang kering, bersisik, dan retak-retak serta kaku
2. Bulu-bulu rambut kaki yang menipis
3. Kalus (mata ikan) terutama di telapak
4. Perubahan bentuk jari-jari dan telapak kaki dan tulang-tulang
kaki yang menonjol
5. Kaki baal, semutan, atau tidak terasa nyeri
6. Kaki yang terasa dingin.
Adapun elemen edukasi perawatan kaki antara lain :
1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki
2. Periksa kaki setiap hari, laporkan jika terkelupas, kemerahan
atau luka

27
3. Periksa alas kaki dari benda asing
4. Jaga kaki dalam keadaan bersih tidak basah dan mengoleskan
pelembab
5. Potong kuku teratur
6. Keringkan kaki dan sela-sela jari kaki secara teratur
7. Gunakan kaus kaki dari bahan katun
8. Sepatu tidak boleh terlalu sempit

- Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan


sakit akut dengan tepat. Awasi tanda tanda kegawatan DM
(pingsan/penurunan kesadaaran karena hipoglikemia dan
hiperglikemia)
- Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

b. Promotif
 Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit DM,
komplikasi, penanganan dan pencegahannya.
 Memberikan penjelasan dan pengetahuan kepada pasien dan
keluarga mengenai efek samping obat-obat yang dikonsumsi, serta
pentingnya keteraturan pengobatan dan evaluasi pengobatan.
 Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini merupakan
penyakit degeneratif yang menuntut keteraturan dalam menjalani
pengobatan
 Mengedukasi pasien agar mau melakukan pemeriksaan kimia darah
(kadar gula darah sewaktu, gula darah puasa, kolesterol total, HDL,
LDL, dan trigliserida) guna mendiagnosa penyakit penyerta pada
pasien sehingga dapat ditangani dengan tepat
 Mengedukasi pasien untuk mematuhi aturan pola makan yang
sesuai guna mengontrol gula darah
 Mengedukasi pasien untuk berolahraga ringan 2-3x dalam
seminggu seperti jalan pagi sekitar rumah selama 15-30 menit.
 Mengedukasi kepada pasien agar mengajak anak-anaknya untuk
mencek gula darah sebagai skrining penyakit DM

c. Kuratif
- Metformin 500 mg 1x1 tab sesudah makan

28
- Diet : (BBI x 25) – 5% untuk usia 40-59 tahun + 20% untuk
aktivitas fisik ringan – 20% untuk berat badan berlebih
1400 – 70 + 266 – 319,2 = 1276,8 kkal
Aturan makan :
 Pagi : 20% total kalori = 255 kkal
Contoh : nasi goreng
 Snack pagi : 10% total kaori = 127 kkal
Contoh : semangka+melon / pir / apel / tahu goreng / biskuit
 Siang : 30% total kalori = 383 kkal
Contoh : nasi putih dengan ikan bandeng goreng / ikan
bawal goreng / ikan bakar + sayur bayam bening / tumis
buncis / sup kentang buncis
 Snack : 10% total kalori = 127 kkal
Contoh : semangka+melon / pir / apel / tahu goreng / biskuit
 Sore : 25% total kalori = 319 kkal
Contoh : nasi putih dengan ikan bandeng goreng / ikan
bawal goreng / ikan bakar + sayur bayam bening / tumis
buncis / sup kentang buncis
 Snack : 10% total kalori = 127 kkal
Contoh : psang mas dengan semangka+melon / / apel / tahu
goreng / biscuit

c. Rehabilitatif
 Minum obat secara teratur
 Kontrol ke Puskesmas setelah obat habis (setelah 10 hari)
 Jika terjadi gejala – gejala hipoglikemia segera dibawa ke
puskesmas terdekat.
RESEP Dinas Kesehatan Kota Padang
Puskesmas Padang Pasir

Dokter : dr. Elsa/dr.Vidya/dr.fadrian/dr.Katerine/dr.Wardhy


Tanggal : 24 Maret 2017

R/ Metformin tab 500 mg No. XX


S 1dd tab 1 ac

Pro : Ny. Yani


Umur : 54 tahun
Alamat : Jl.Olo Dalam

29
Kesehatan individu pada anggota keluarga yang lain kami lakukan pada
kunjungan pertama ke rumah pasien dengan anamnesis ringkas pada tanggal 30
Maret 2017. Berikut status kesehatan yang kami peroleh
i. Tn. Wawan/ Laki-laki/ 56 tahun (Suami pasien)
Setelah dilakukan anamnesis tidak ditemukan keluhan apapun.Status
kesehatan suami pasien masih terjaga dengan baik. Suami pasien
tidak rutin berolahraga dan tidak ada riwayat merokok
ii. Rani/ Perempuan/ 27 tahun
Anak pasien tidak memiliki keluhan apapun terkait kesehatannya

3.2.2 Kesehatan Rumah dan Lingkungan


Berikut adalah kondisi lingkungan rumah yang kami temukan pada
keluarga ini:
- Rumah adalah rumah permanen 1 lantai, seluas 15 x 10 m2, lantai ubin,
atap genteng dengan loteng.
- Rumah terdiri dari 3 kamar tidur dengan ukuran (3 x 3) m2,(3 x 3) m2,
(3 x 4) m2 dan (3 x 4) m2 ,1 ruang tamu bergabung dengan ruang
keluarga, 1 ruang makan, 2 buah kamar mandi, dan dapur.
- Kebersihan rumah kurang dengan barang-barang berserakan di dalam
rumah
- Ventilasi dan pecahayaan rumah kurang, langit-langit rumah cukup
tinggi.
- Lantai dapur terbuat dari semen. Dapur terkesan kurang bersih
- Kamar mandi dan jamban terdapat di dalam rumah. Untuk keperluan
mandi dan mencuci diambil dari air PDAM. Air minum menggunakan
galon isi ulang. Septic tank terdapat di depan rumah , berjarak ±10
meter dari ruang makan.
- Listrik ada
- Sampah di buang ke TPS
- Halaman rumah bersih dan tertata rapi
- Penghuni rumah adalah: pasien dengan suami dan 1 orang anaknya

3.2.3 Kebiasaan Hidup Sehat


Berikut adalah permasalahan pokok yang kami temukan pada keluarga ini
berkaitan dengan kebiasaan hidup sehat:
- Kebiasaan tidak berolahraga
30
3.2.4 Permasalahan sosial dan ekonomi
Cukup, penghasilan+ Rp.3.500.000,-/bulan
3.2.5 Permasalahan Psikologi
Pada keluarga binaan ini tidak ditemukan permasalahan psikologi,
kehidupan anggota kelurga harmonis.

3.3 Pemecahan Masalah


Setelah mengetahui pasti permasalahan yang ada pada keluarga ini kami
lakukan diskusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi keluarga. Berikut adalah
solusi pemecahan masalah yang kami sampaikan pada keluarga binaan saat home
visit ke rumah berikutnya:
3.3.1 Kesehatan Individu
- Memberikan pengetahuan tentang gizi yang baik. Disarankan untuk
mengatur makan dengan diet teratur dengan menjaga pola makan secara
teratur guna mencegah perjalanan penyakit serta memberikan pengaturan
pola makan berupa jadwal dan menu pilihan yang sesuai dengan
penyakitnya.
- Menganjurkan pasien untuk berolahraga ringan guna meningkatkan
sensitivitas insulinnya.
- Memberikan pengetahuan kepada pasien bagaimana cara mengatur pola
gizi yang seimbang dan baik untuk keluarga.
- Menjelaskan kepada pasien bahwa diabetes melitus tidak dapat
disembuhkan, akan tetapi dapat dikontrol dengan mengurangi makanan
yang banyak mengandung gula.
- Kontrol gula darah secara rutin setiap bulannya.
- Memberikan edukasi tentang gejala-gejala komplikasi dari DM seperti
badan terasa lemah, gemetaran, keringat dingin, luka yang tidak sembuh
dan penglihatan kabur.
- Istirahat yang cukup
- Kontrol ke puskesmas setelah obat habis (10 hari)

3.3.2 Kesehatan Rumah dan Lingkungan


- Sebaiknya ventilasi udara dibuka pada siang hari agar sirkulasi udara
dirumah tetap kering dan tidak lembab.
- Menjaga kebersihan dan kerapian rumah serta perkarangan rumah

3.3.3 Kebiasaan Hidup Sehat

31
- Mengedukasi pasien agar memiliki kebiasaan makan yang teratur sesuai
dengan jadwalnya tiga kali sehari dan sesuai dengan pola makan yang telah
dianjurkan pada pasien dan istrinya.
- Menganjurkan olahraga ringan pada pasien guna memperbaiki pola hidup
sehat bagi pasien

3.3.4 Permasalahan sosial ekonomi


Pasien tidak memiliki masalah pada sosial ekonomi.

3.3.5 Permasalahan psikologi


- Memberi edukasi kepada suami dan anak pasien mengenai penyakit
Diabetes Melitus dan tetap memotivasi serta mensupport dan mengontrol
penyakit pasien

3.4 Follow up
3.4.1 Kunjungan Rumah Pertama
Dilakukan 6hari setelah pasien datang berobat ke Balai Kesehatan Umum
Puskesmas Padang Pasir, tepatnya pada tanggal 30Maret 2017.
a. Riwayat Penyakit Sekarang:
- Pasien masih mengeluhkan sering buang air kecil
- Olahraga tidak dilakukan
- Pasien mengaku sempat mencicipi air seninya karena ada persepsi
bahwa air seni manis menandakan menderita diabetes mellitus dan
pasien ingin membuktikannya.
- Pasien masih meminum obat yang diberikan dari Puskesmas sesuai
aturan.
- Nafsu makan biasa
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : CMC
Nadi : 88x/ menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 37,30C
Edema : (-)
Anemis : (-)
Sianosis : (-)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit : status dermatologikus
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB
THT : Tidak ditemukan kelainan
Dada:
Paru :
Inspeksi : simetris kiri =kanan
32
Palpasi : fremitus kiri =kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (+/+)
Jantung:
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan: LSD
Atas : RIC II
Auskultasi: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi :BU (+) N
Anggota gerak :dalam batas nomal
c. Diagnosis Kerja :
- Diabetes Melitus tipe 2
d. Manajemen
- Edukasi kepada pasien bahwa tidak benar paradigma yang beredar
di masyarakat bahwa air seni manis pada penderita diabetes
mellitus sebagai penanda seseorang menderita DM, sehingga tidak
perlu dicicipi. Air seni mengandung sisa metabolisme tubuh yang
harus dibuang
- Edukasi pasien bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit
degeneratif yang penatalaksanaannya harus secara komprehensif
mencakup gaya hidup sehat seperti olahraga.
- Edukasi kepada pasien tentang tanda dan gejala hipoglikemi,
penanganan sementara, dan hal lain harus dilakukan, seperti
pemberian teh manis atau air gula pada pasien saat kondisi
hipoglikemi yang sadar, pemeriksaan gula darah setelah 15 menit
pemberian terapi, dan jika hasil pemeriksaan glukosa darah
kadarnya sudah mencapai normal, pasien diminta untuk makan
atau mengkonsumsi snack untuk mencegah berulangnya
hipoglikemi.
- Edukasi kepada pasien mengenai penyulit yang dapat terjadi.
- Edukasi kepada pasien mengenai bagaimana pola makan yang
sesuai untuk pasien.
- Anjuran kepada pasien untuk datang ke puskesmas lagi jika obat
telah habis diminum.

33
3.4.2 Kunjungan Rumah Kedua
Dilakukan pada tanggal 5 April 2017.
a. Riwayat Penyakit Sekarang:
- Pasien masih mengeluhkan sering buang air kecil
- Olahraga sudah mulai dilakukan pasien. Pasien sudah mulai jalan
pagi beberapa hari ini
- Pasien sudah mulai memahami bahwa kondisi yang dialaminya
merupakan satu penyakit degeneratif
- Nafsu makan biasa
- Pola makan pasien belum sesuai aturan diet seharusnya

b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : CMC
Nadi : 86x/ menit
Nafas : 21x/menit
Suhu : 37,20C
Edema : (-)
Anemis : (-)
Sianosis : (-)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit : status dermatologikus
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB
THT : Tidak ditemukan kelainan
Dada:
Paru :
Inspeksi : simetris kiri =kanan
Palpasi : fremitus kiri =kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (+/+)
Jantung:
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan: LSD
Atas : RIC II
Auskultasi: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi :BU (+) N
Anggota gerak :dalam batas normal
c. Diagnosis Kerja :
- Diabetes Melitus tipe 2
34
d. Manajemen
- Edukasi pasien bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit
degeneratif yang penatalaksanaanya harus secara komprehensif
mencakup gaya hidup sehat seperti olahraga.
- Edukasi kepada pasien tentang tanda dan gejala hipoglikemi,
penanganan sementara, dan hal lain harus dilakukan, seperti
pemberian teh manis atau air gula pada pasien saat kondisi
hipoglikemi yang sadar, pemeriksaan gula darah setelah 15 menit
pemberian terapi, dan jika hasil pemeriksaan glukosa darah
kadarnya sudah mencapai normal, pasien diminta untuk makan
atau mengkonsumsi snack untuk mencegah berulangnya
hipoglikemi.
- Edukasi kepada pasien mengenai bagaimana pola makan yang
sesuai untuk pasien, yaitu makan tiga kali sehari dengan diselingi
dua snack, makan terakhir pada pukul 18.00
- Tetap lanjutkan olahraga dan tingkatkan frekuensinya, tiga kali
seminggu

3.4.3 Kunjungan Rumah Ketiga


Dilakukan pada tanggal 8April 2017
a. Riwayat Penyakit Sekarang
- Pasien masih mengeluhkan sering buang air kecil
- Pasien sudah mulai memahami bahwa kondisi yang dialaminya
merupakan satu penyakit degeneratif
- Pasien masih melanjutkan olahraga dengan jalan pagi beberapa kali
dalam seminggu
- Nafsu makan biasa
- Pola makan pasien belum sesuai aturan diet seharusnya, pasien
masih makan dengan pola sama seperti sebelum pasien sakit.

a. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : CMC
Nadi : 82x/ menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36,80C
Edema : (-)
Anemis : (-)
Sianosis : (-)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik

35
Kulit : status dermatologikus
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB
THT : Tidak ditemukan kelainan
Dada:
Paru :
Inspeksi : simetris kiri =kanan
Palpasi : fremitus kiri =kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (+/+)
Jantung:
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan: LSD
Atas : RIC II
Auskultasi: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi :BU (+) N

b. Diagnosis Kerja :
Diabetes Melitus tipe 2
c. Manajemen
- Edukasi pasien bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit
degeneratif yang penatalaksanaanya harus secara komprehensif
mencakup gaya hidup sehat seperti olahraga.
- Edukasi kepada pasien tentang tanda dan gejala hipoglikemi,
penanganan sementara, dan hal lain harus dilakukan, seperti
pemberian teh manis atau air gula pada pasien saat kondisi
hipoglikemi yang sadar, pemeriksaan gula darah setelah 15 menit
pemberian terapi, dan jika hasil pemeriksaan glukosa darah kadarnya
sudah mencapai normal, pasien diminta untuk makan atau
mengkonsumsi snack untuk mencegah berulangnya hipoglikemi.
- Edukasi kepada pasien mengenai bagaimana pola makan yang sesuai
untuk pasien, yaitu makan tiga kali sehari dengan diselingi dua
snack, makan terakhir pada pukul 18.00
- Sesuai pola diet Diabetes Melitus yang harus dijalankan pasien,
maka disarankan agar makan pasien dibagi menjadi 3x sehari dengan
selang snack 2-3x diantaranya, seperti makan pagi dengan nasi

36
goreng berkalori 255 kkal dan snack pagi 127 kkal seperti
semangka+melon
- Tetap lanjutkan olahraga dan tingkatkan frekuensinya, tiga kali
seminggu

3.4.4 Kunjungan Rumah Keempat


Dilakukan pada tanggal 12 April 2017.
a. Riwayat Penyakit Sekarang:
- Keluhan sering buang air kecil sudah mulai berkurang dialami
pasien.
- Pasien sudah mulai memahami bahwa kondisi yang dialaminya
merupakan satu penyakit degeneratif
- Pasien masih melanjutkan olahraga dengan jalan pagi beberapa kali
dalam seminggu
- Nafsu makan biasa
- Pola makan pasien sudah sesuai aturan diet seharusnya, pasien
makan dengan pola makan yang sudah disesuaikan menurut
edukasi yang diberikan pada kunjungan sebelumnya.

d. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : CMC
Nadi : 82x/ menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 37,20C
Edema : (-)
Anemis : (-)
Sianosis : (-)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
Kulit : status dermatologikus
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB
THT : Tidak ditemukan kelainan
Dada:
Paru :
Inspeksi : simetris kiri =kanan
Palpasi : fremitus kiri =kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (+/+)
Jantung:
Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Kanan: LSD
Atas : RIC II

37
Auskultasi: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi : Hati dan lien tidak teraba, Nyeri Tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi :BU (+) N

e. Diagnosis Kerja
Diabetes Melitus tipe 2
f. Manajemen
- Edukasi pasien bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit
degeneratif yang penatalaksanaanya harus secara komprehensif
mencakup gaya hidup sehat seperti olahraga.
- Edukasi kepada pasien tentang tanda dan gejala hipoglikemi,
penanganan sementara, dan hal lain harus dilakukan, seperti
pemberian teh manis atau air gula pada pasien saat kondisi
hipoglikemi yang sadar, pemeriksaan gula darah setelah 15 menit
pemberian terapi, dan jika hasil pemeriksaan glukosa darah kadarnya
sudah mencapai normal, pasien diminta untuk makan atau
mengkonsumsi snack untuk mencegah berulangnya hipoglikemi.
- Edukasi kepada pasien mengenai bagaimana pola makan yang sesuai
untuk pasien, yaitu makan tiga kali sehari dengan diselingi dua
snack, makan terakhir pada pukul 18.00
- Tetap lanjutkan olahraga dan tingkatkan frekuensinya, tiga kali
seminggu
- Kembali mengingatkan pasien agar tetap rutin memeriksakan gula
darah rutin dan ambil obat Diabetes Melitus setiap 1 bulan sekali

38
BAB IV
KESIMPULAN

Hasil pencapaian yang didapat dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan
dalam kurun waktu lebih kurang 3 minggu ini, yaitu:

a. Yang berhasil dilakukan intervensi :

1. Pasien sudah paham dengan penyakit yang dideritanya serta faktor-


faktor resiko dan penyakit penyerta yang lainnya.
2. Pasien sudah paham tentang proses pengobatan penyakit serta
komplikasi yang timbul jika penyakitnya tidak terkontrol
3. Pasien sudah teratur meminum obat-obataya dan tahu tentang cara
kerja obatnya.
4. Pasien sudah mulai mengikuti pola makan yang dianjurkan
5. Telah dilakukan edukasi tentang penyakit DM kepada keluarga pasien
yang lain (anak pasien)

b. Yang belum berhasil dilakukan intervensi :


Pasien masih jarang berolahraga secara rutin karena keluhan pasien akan
nyeri lutut.

39
40
41
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo A, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI; 2006

2. Suyono S. 2006. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam Jilid III Edisi 4. Jakarta : FKUI, hal 1852-1856.

3. PB.PERKENI. Konsensus pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia.


2006. PB.PERKENI. Jakarta. 2006

4. PB.PERKENI. Konsensus pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia.


2011. PB.PERKENI. Jakarta. 2011

5. Tandra H. 2008. Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang


Diabetes, Panduan Lengkap Mengenal dan Mengatasi Diabetes dengan
Cepat dan Mudah. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

6. Gustaviani R. 2006. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi 4. Jakarta : FKUI, hal 1857-
1859.

7. Waspadji S. 2006. Kaki Diabetes. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III Edisi 4. Jakarta : FKUI, hal 1911-1914.

8. Olson, Charles O. 2001. Diagnose and Management of Diabetes Mellitus.


USA : Lea and Febigar.

9. Sukaton U, Soegondo S, Oemardi M. 1996. Obesitas. Dalam Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi 4. Jakarta : FKUI, hal 707-709.

42

Beri Nilai