Anda di halaman 1dari 20

PANDUAN

PENGELOLAAN BAHAN DAN LIMBAH


BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

RUMAH SAKIT ISLAM KARAWANG


KARAWANG, 2018
BAB I
DEFINISI

1
A. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat,
energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan
dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.
B. Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut,
mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan atau membuang B3.
C. Penyimpanan B3 adalah teknik kegiatan penempatan B3 untuk menjaga
kualitas dan kuantitas B3 dan atau mencegah dampak negatif B3 terhadap
lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya;
D. Pengemasan B3 adalah kegiatan mengemas, mengisi atau memasukkan B3
ke dalam suatu wadah dan atau kemasan, menutup dan atau menyegelnya;
E. Simbol B3 adalah gambar yang menunjukkan klasifikasi B3;
F. Label adalah uraian singkat yang menunjukkan antara lain klasifikasi dan jenis
B3;
G. Pengangkutan B3 adalah kegiatan pemindahan B3 dari suatu tempat ke
tempat lain dengan menggunakan sarana angkutan;
H. Kimia toksik adalah bahan kimia beracun, yang bahayanya terhadap
kesehatan sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk ke dalam
tubuh.
I. Bahan kimia korosif/iritan adalah bahan kimia yang mampu merusak berbagai
peralatan dari logam dan apabila bahan kimia ini mengenai kulit akan
menimbulkan kerusakan berupa iritasi dan peradangan kulit.
J. Bahan kimia eksplosif adalah bahan kimia mudah meledak.
K. Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasikan oksigen
dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain, bersifat reaktif dan
eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran.
L. Limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan.
M. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah B3
adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
N. Limbah B3 cair adalah Limbah cair yang mengandung B3 antara lain Limbah
larutan fixer, Limbah kimiawi cair, dan Limbah farmasi cair.

2
O. Limbah infeksius adalah Limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang
tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan
virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.
P. Limbah patologis adalah Limbah berupa buangan selama kegiatan operasi,
otopsi, dan/atau prosedur medis lainnya termasuk jaringan, organ, bagian
tubuh, cairan tubuh, dan/atau spesimen beserta kemasannya.
Q. Limbah sitotoksik adalah Limbah dari bahan yang terkontaminasi dari
persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang
mempunyai kemampuan untuk membunuh dan/atau menghambat
pertumbuhan sel hidup.
R. Pengelolaan Limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan
penimbunan limbah B3.

3
BAB II
RUANG LINGKUP

Rumah Sakit Islam Karawang adalah institusi pelayanan kesehatan yang


menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Pengelolaan Rumah Sakit Islam
Karawang sebagai institusi pelayanan publik harus dikelola secara aman dari pencemaran
lingkungan Rumah Sakit Islam Karawang yang diakibatkan oleh bahan berbahaya dan
beracun (B3) serta limbah B3.
Sebagai institusi pelayanan publik yang memberikan jasa pelayanan kesehatan, Rumah
Sakit Islam Karawang berkewajiban untuk mengupayakan keselamatan dan keamanan
seluruh penghuni. Agar dapat memberikan jasa pelayanan kesehatan secara maksimal,
mengamanakan dan mencegah pencemaran lingkungan, Rumah Sakit Islam Karawang harus
dalam keadaan aman akibat dari penggunaan bahan berbahaya dan beracun.
Rumah Sakit Islam Karawang menggunakan berbagai jenis bahan berbahaya dan
beracun dalam penyelenggaran pelayanan kesehatan yang berpotensi menimbulkan berbagai
risiko. Untuk mengantisipasi dan meminimalisasi dampak dari kemungkinan risiko-risiko
tersebut, maka perlu dibuat panduan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun serta limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3) sehingga memberikan rasa aman kepada petugas dan
lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut maka pelu dibuat panduan pengelolaan B3 dan limbah B3 dengan
tujuan:
1. Sebagai acuan di Rumah Sakit Islam Karawang dalam pengelolaan bahan berbahaya
dan beracun serta limbah B3 yang dihasilkan dalam pelayanan kesehatan.
2. Memberikan keamanan kepada pasien, dokter, pengunjung dan karyawan Rumah
Sakit Islam Karawang, serta mencegah pencemaran lingkungan dengan adanya bahan
berbahaya dan beracun
3. Meminimalisasi risiko penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Ruang lingkup panduan pengelolaan bahan dan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3)
di Rumah Sakit Islam Karawang meliputi :
1. Identifikasi (inventarisasi) Bahan Berbahaya Beracun (B3) dan limbah B3
a. Identifikasi area/unit mana yang menyimpan (lokasi, jenis, jumlah b3 & limbah yg
disimpan)

4
2. Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (B3)
3. Pengelolaan limbah bahan berbahaya beracun (B3)
4. Pengemasan, pelabelan B3 dan limbah B3
5. Penanganan tumpahan limbah B3 dan pelaporan insiden
6. Alat Pelindung Diri (APD) pada penanganan B3 dan limbah B3
7. Pendokumentasian limbah B3

5
BAB III
TATA LAKSANA

A. Identifikasi Bahan Berbahaya Beracun (B3) dan Limbah B3


Untuk menentukan bahan berbahaya yang digunakan di Rumah Sakit Islam
Karawang mengacu pada Peraturan Pemerintah RI No 74 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Identifikasi B3 dilakukan dengan cara:
a. Inventarisasi jenis B3 di area Rumah Sakit Islam Karawang
b. Inventarisasi sumber penghasil B3 dan limbah B3.
c. Pengecekan label/simbol pada kemasan.
Klasifikasi jenis B3 terdiri dari :
a. mudah meledak (explosive);
b. pengoksidasi (oxidizing);
c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
d. sangat mudah menyala (highly flammable);
e. mudah menyala (flammable);
f. amat sangat beracun (extremely toxic);
g. sangat beracun (highly toxic);
h. beracun (moderately toxic);
i. berbahaya (harmful);
j. korosif (corrosive);
k. bersifat iritasi (irritant);
l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
m. karsinogenik (carcinogenic);

Sifat B3 dan limbah B3 dan Instalasi / unit kerja yang menghasilkan limbah
B3 di Rumah Sakit Islam Karawang adalah sebagai berikut.
Tabel 4.1
Sifat B3 dan limbah B3 dan instalasi/unit penghasil

6
Instalasi/unit penghasil B3
No Jenis B3 dan limbah B3
dan limbah B3
1 Ruang Operasi Infeksius, Benda Tajam
Ruang Farmasi
2 Radiologi Radioaktif, berbahaya terhadap lingkungan,
Benda Tajam
3 Laboratorium Infeksius, Korosif, Mudah terbakar, Benda
Tajam
4 Perawatan Infeksius, Mudah terbakar, Benda Tajam
5 IGD dan poliklinik Infeksius, Mudah terbakar, Benda Tajam
6 Gizi, laundry, gudang gas Mudah meledak, mudah terbakar
7 Ruang Genset Mudah terbakar
8 Ruang penunjang lainnya Mudah meledak

Gb.4.1 Label B3

Mudah meledak Padatan Mudah Menyala Cairan Mudah Terbakar

Beracun Korosif Berbahaya Terhadap


Lingkungan

Infeksius Reaktif

Jenis limbah B3 yang dihasilkan di Rumah Sakit Islam Karawang, sesuai Peraturan
Pemerintah RI No.101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
Beracun dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 56 Tahun 2015, limbah B3
rumah sakit diberi label seperti berikut.
Tabel 4.2

7
Label limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dalam wadah

No Kategori Warna wadah Wadah/kemasan Lambang

Kantong plastik

1 Infeksius Kuning kuat dan anti bocor,


atau kontainer

Kantong plastik

2 Patologis Kuning kuat dan anti bocor,


atau kontainer

Kontainer plastik
3 Benda tajam Kuning
kuat dan anti bocor

Bahan kimia
kadaluwarsa, Kantong plastik
Coklat
4 -
tumpahan, atau atau kontainer
sisa kemasan

5 Radioaktif Merah/kuning Kantong plastik

4 Kimia cair - Dirigen tertutup

6 Beracun - Dirigen tertutup

B. Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (B3)


1. Pengadaan B3
Pengadaan B3 dilakukan oleh distributor B3 yang telah memiliki ijin dari
Kementerian Lingkungan Hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Distributor wajib menyertakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety
Data Sheet – MSDS) dalam pengadaan B3. Selain itu, setiap penanggung jawab

8
pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 juga wajib menyertakan Lembar
Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet)

2. Penyimpanan B3
Penyimpanan B3 harus memperhatikan sifat – sifat dari bahan tersebut dan
reaksi bahan selama penyimpanan. Ketentuan yang perlu dilakukan pada tahap
penyimpanan B3 antara lain sebagai berikut
a. Melakukan pengemasan sesuai dengan klasifikasi B3
b. Memberikan simbol dan label pada setiap tempat penyimpanan B3
c. Kapasitas tempat penyimpanan dapat menampung jumlah B3 yang disimpan
d. Lokasi dan kontruksi bangunan tempat penyimpanan B3 memenuhi syarat
e. Melengkapi tempat penyimpanan B3 dengan sistem tanggap darurat dan prosedur
penanganan B3
Selain ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya, penyimpanan B3 juga
harus sesuai dengan jenisnya. Berikut syarat tempat penyimpanan B3 berdasarkan
klasifikasinya.
a. Penyimpanan bahan mudah meledak (explosive)
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin dan ventilasi cukup
2) Jauhkan dari sumber api / panas
3) Hindarkan tumbukan/benturan mekanis
b. Penyimpanan bahan oksidator (oxidizing)
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin dan ventilasi cukup
2) Jauhkan dari sumber api / panas
3) Jauhkan dari bahan mudah terbakar/reduktor
c. Penyimpanan bahan mudah menyala (flammable)
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin
2) Jauh dari sumber api
3) Sediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
4) Tempat penyimpanan tidak lembab
5) Hindari kontak dengan air
6) Hindari gesekan
d. Penyimpanan bahan beracun (toxic)
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin dan ventilasi cukup

9
2) Disimpan terpisah dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi
3) Sediakan alat pelindung diri, masker, gloves dan pakaian kerja
e. Penyimpanan bahan berbahaya (harmful)
1) Tempat penyimpanan tertutup
2) Disimpan terpisah dari bahan-bahan lain
3) Sediakan alat pelindung diri, masker, gloves dan pakaian kerja
f. Penyimpanan bahan bersifat iritasi (irritant)
1) Tempat penyimpanan tertutup
2) Hindari kontak langsung dengan kulit
3) Sediakan alat pelindung diri, masker, gloves dan pakaian kerja
g. Penyimpanan bahan korosif
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin dan ventilasi cukup
2) Disimpan terpisah dari bahan beracun
3) Wadah tertutup dan beretiket
4) Sediakan alat pelindung diri kaca mata, gloves dan pakaian kerja
h. Penyimpanan bahan berbahaya bagi lingkungan
1) Tersedia saluran pada tempat penyimpanan
2) Hindari tumpahan/ceceran masuk ke lingkungan
3) Disimpan terpisah dari bahan-bahan lain
i. Penyimpanan bahan bersifat karsinogenik, tertogenik dan mutagenik
1) Tempat penyimpanan bersuhu dingin dan ventilasi cukup
2) Disimpan terpisah dari bahan-bahan lain
3) Wadah tertutup
j. Penyimpanan gas bertekanan
1) Disimpan tegak dan terikat
2) Disimpan pada ruangan dingin dan tidak terkena matahari langsung
3) Jauh dari sumber api/panas
4) Disimpan jauh dari bahan – bahan korosif yang dapat merusak kran-kran.

3. Penanganan Bahan Berbahaya Beracun (B3)


Kegiatan pengelolaan B3 wajib menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja, pengawas B3 wajib dilakukan
pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dalam penanganan Bahan Berbahaya

10
Beracun (B3), hal penting yang harus diperhatikan adalah sifat fisik, kimia, bahaya
dan akibat dari bahan tersebut.
a. Penanganan bahan beracun
Untuk menghindari paparan bahan beracun, cara penanganan yang dilakukan sebagai
berikut :
1) Penanganan dalam ruang khusus atau lemari asam.
2) Bekerja dengan arah angin dari pekerja ke sumber emisi.
3) Ruang kerja berventilasi.
4) Memakai alat pelindung masker atau respirator yang tepat.
b. Penanganan bahan korosif
Untuk mencegah paparan bahan kimia korosif, penanganan jenis bahan ini dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
1) Menggunakan sarung tangan (gloves)
2) Pelindung muka (goggle)
3) Pelindung badan (jas lab)

1) 2) 3)

c. Penanganan bahan mudah terbakar (flammable)


Untuk mencegah bahaya kebakaran dalam penanganan bahan mudah terbakar, cara
yang dilakukan :
1) Pisahkan 3 unsur terjadinya kebakaran meliputi bahan mudah terbakar O2 dan
sumber panas
2) Simpan bahan tersebut pada tempat dengan temperatur ruang dan berventilasi
cukup
d. Penanganan bahan kimia reaktif
1) Penyimpanan jauhkan dari sinar matahari atau panas
2) Hindarkan dari pengadukan yang menimbulkan panas
3) Hindari benturan pada saat pengangkutan

11
4) Penanganan harus menggunakan alat pelindung diri (kacamata,pelindung muka
dan badan, sarung tangan,)
5) Sediakan alat pemadam api ringan di tempat penyimpanan/lokasi kerja.
e. Penanganan bahan iritasi (irritant)
1) Kemasan mengggunakan bahan pvc/plastic
2) Ruangan harus berventilasi cukup
3) Penanganan harus menggunakan alata pelindung diri (sarung tangan, masker)

C. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3)


1. Pengurangan dan Pemilahan
a. Limbah B3 dari sumber dipisahkan dengan kemasan/wadah plastik untuk
limbah padat limbah infeksius, wadah safety box untuk limbah infeksius tajam,
dan wadah dirigen/drum untuk B3 cair..
b. Dari sumber limbah B3 dikumpulkan dan diangkut dengan trolley tertutup
(BIN) ke Tempat Pengumpulan Sementara limbah B3.
c. Pengangkutan ke Tempat pengumpulan Sementara limbah B3 menggunakan
jalur terpisah agar tidak terjadi tidak kontak dengan pasien dan pengunjung
sehingga dapat dihindari risiko infeksi nosokomial. Trolley (Bin)
pengangkutan limbah B3 disajikan pada gambar 4.1

Gb.4.2 Trolley / Bin limbah B3

2. Penyimpanan Limbah B3

12
a. Sebelum limbah B3 dimasukan ke dalam TPS limbah B3 dilakukan
penimbangan dan dicatat di dalam log book/catatan limbah B3 untuk
mengetahui jumlah limbah B3 setiap harinya.
b. Penyimpanan limbah B3 dipisahkan berdasarkan karakteristiknya.
1) Limbah B3 infeksius (padat dan benda tajam)
2) Limbah B3 Cair
3) Limbah B3 Umum (accu bekas, bohlam/lampu, tinta, kaleng cat, oli bekas
dll).
Syarat penyimpanan Limbah B3
a. Limbah B3 dapat disimpan selama 2 (dua) hari jika temperatur tempat
penyimpanan lebih besar dari 0oC atau dapat disimpan selama 90 (sembilan
puluh) hari jika temperatur tempat penyimpanan sama dengan atau lebih kecil
dari 0oC
b. Tempat penyimpananan limbah B3 dialasi dengan pallet agar lantai dapat
dibersihkan setiap saat.Petugas yang menimbang harus menandatangani catatan
jumlah B3 di dalam logbook/catatan produksi limbah B3.
c. Ruang penyimpanan limbah B3 harus memiliki ventilasi yang baik, dilengkapi
dengan penerangan dan APAR.

3. Pembuangan Limbah B3
a. Pembuangan dan pemusnahan limbah B3 di Rumah Sakit Islam Karawang
dilakukan oleh pihak ketiga yang telah memenuhi syarat dari Kementerian
Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan dituangkan dalam perjanjian
kerjasama. Frekuensi pengangkutan disesuaikan dengan produksi limbah B3.
Maksimal waktu penyimpanan sementara di lokasi Rumah Sakit Islam
Karawang 30 hari dari ketentuan 90 hari. Rata – rata limbah B3 diangkut dari
TPS limbah B3 ke tempat pemusnahan adalah 1 kali dalam 2 minggu.
b. Sebelum limbah B3 diangkut oleh pihak kedua, dilakukan penimbangan
disaksikan oleh petugas Rumah Sakit Islam Karawang yang bertanggung
terhadap penanganan limbah B3.
c. Pihak kedua harus memberikan manifest tentang jumlah dan jenis limbah B3
yang akan dimusnahkan kepada pihak Rumah Sakit Islam Karawang yang telah
ditandatangani oleh pihak kedua.

13
D. Pengemasan, Pelabelan B3 dan Limbah B3
Pengemasan, pelabelan B3 dan limbah B3 harus memenuhi hal-hal berikut ini:
- Kemasan B3 dan limbah wajib diberi simbol dan label yang sesuai.
- B3 dapat dikemas ulang dengan memperhatikan kaidah-kaidah keselamatan dan
keamanan.
- Simbol dan label B3 diberikan pada kemasan, tempat penyimpanan, dan tempat
pengumpulan B3 sesuai dengan peraturan yang berlaku.
- Simbol dan label yang mengalami kerusakan wajib diganti dengan yang baru.

E. Penanganan Tumpahan Bahan dan Limbah B3 serta Pelaporan Insiden


Penanganan tumpahan limbah B3 adalah tindakan gawat darurat terhadap
tumpahan limbah B3 yang tercecer di area instalasi yang menghasilkan limbah B3,
area Rumah Sakit Islam Karawang dan Tempat Penyimpanan Sementara (TPS)
limbah B3. Jenis limbah B3 yang dihasilkan di umah Sakit Islam Karawang terdiri dari
limbah infeksius, limbah B3 cair (radiologi, laboratorium) dan limbah B3 umum (accu
bekas, lampu TL & Bohlam, tinta, dll).
Upaya penanganan tumpahan B3 agar berjalan efektif, perlu didukung dengan
penyediaan sarana spill kit tumpahan B3. Spill kit tersebut adalah seperangkat
perlengkapan penanganan tumpahan yang terdiri dari:
1. APD: Google, masker disposible, sarung tangan disposible, apron disposible.
2. Cairan: desinfektan dan handrub.
3. Peralatan: adsorben (kertas, kain majun, kantong plastik kuning, serokan + sapu
kecil, spuit)
Selain itu diperlukan cara penganan tumpahan yang benar agar tidak terjadi
paparan terhadap petugas.

1. Penanganan tumpahan limbah B3


a. Penanganan tumpahan limbah infeksius.
1) Cuci tangan menggunakan handrub.
2) Petugas menggunakan Alat Pelindung diri (kacamata/google, masker
disposible, apron disposible, sarung tangan disposible, dan sepatu kerja).

14
3) Gunakan adsorbent kain/koran bekas untuk menyerap dan membersihkan
tumpahan limbah infeksius.
4) Masukan kain/koran bekas yang telah digunakan ke plastik kuning.
5) Basahi lantai yang terkena tumpahan dengan desinfektan/larutan chlorine
0.05% selama 5 menit.
6) Bersihkan lantai dengan adsorbent kain/koran bekas untuk menyerap dan
membersihkan sisa desinfektan.
7) Lepas APD (sarung tangan disposible, masker disposible, apron disposible)
dan masukkan ke kantong plastik kuning.
8) Lepas APD kacamata/google dan bersihkan dengan desinfektan.
9) Buang plastik kuning ke tempat sampah infeksius.
10) Cuci tangan menggunakan handrub
11) Isi kembali spill kit.
12) Buat laporan kejadian tumpahan pada formulir pelaporan.
13) Serahkan kepada Panitia K3 paling lama 2 x 24 jam.

b. Penanganan tumpahan limbah B3 non infeksius


1) Penanganan tumpahan solar :
 Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (sarung tangan dan sepatu
boot).
 Lokalisir tumpahan solar dengan adsorbent pasir/serbuk
kayu/koran/kain bekas.
 Hindarkan semua material yang yang berpotensi menimbulkan
percikan/ nyala api.
 Masukkan adsorben pasir/serbuk kayu/koran/solar ke dalam kantong
plastik kuning/ember/drum.
 Bersihkan lantai yang terkena tumpahan solar dengan detergen sampai
lantai tidak licin.
 Bersihkan dan bilas APD dengan air mengalir.
 Lakukan prosedur cuci tangan dengan sabun.
 Buat laporan kejadian tumpahan pada formulir pelaporan.
 Serahkan kepada Panitia K3 paling lama 2 x 24 jam.

15
2. Pelaporan insiden
Kontaminasi/paparan bahan berbahaya beracun (B3) serta limbahnya dapat
menimbulkan bahaya pada manusia maupun lingkungan. Kejadian
kontaminasi/tumpahan dikategorikan sebagai kecelakaan akibat kerja sehingga perlu
pelaporan (accident report).
Alur pelaporan insiden sama dengan kejadian pelaporan kecelakaan akibat
kerja (SPO pelaporan kecelakaan akibat kerja di Rumah Sakit Islam Karawang.
Laporan insiden dilaporkan dan dievaluasi setiap 3 (tiga) bulan oleh panitia K3
kepada Direktur. Arahan Direktur dijadikan petunjuk untuk
meningkatkan/memperbaiki agar tidak terjadi lagi insiden kecelakaan akibat kerja
akibat kontaminasi baik bahan maupun limbah berbahaya beracun.
Gambar Alur pelaporan insiden

Tumpahan Pencatatan
Kecelakaan Pengobatan accident report &
/kontaminasi
akibat kerja di IGD evaluasi
B3/Limbah B3
oleh PK3 RS

Pelaporan
data accident
report ke
Direktur

Arahan &
tindak lanjut
dari Direktur

F. Alat Pelindung Diri Penanganan B3 dan Limbah B3

Bahan dan limbah bahan Berbahaya dan Beracun berpotensi menimbulkan kecelakaan
dan penyakit akibat kerja. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang
berlaku tentang Keselamatan Kerja, maka Rumah Sakit Islam Karawang harus menyediakan
peralatan pelindung diri yang digunakan secara benar disertai prosedur tertulis cara
penggunaannya serta dipelihara dalam kondisi layak pakai. Pimpinan RS menetapkan secara
tertulis jenis dan jumlah alat pelindung diri yang harus ada di Rumah Sakit Islam Karawang,

16
dimana dan pada saat apa dipergunakan serta siapa yang mempergunakan alat pelindung
diri tersebut.
Jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan di tiap instalasi/unit kerja cukup
banyak jenisnya, diantaranya:
1. Masker
2. Sepatu boot
3. Sarung tangan disposible
4. Kaca mata/google
5. Apron disposible
6. Jas lab
7. Baju operasi

Seluruh instalasi/unit kerja yang yang mempunyai risiko terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Jenis Alat Pelindung Diri
menurut tempat kerja disajikan pada table berikut.
Tabel 4.3
Jenis Alat Pelindug Diri (APD) Di Rumah Sakit Islam Karawang
No Jenis APD Instalsi/Unit Risiko Bahaya Gambar
1 Masker Farmasi Debu
Perawatan Penularan penyakit
R.operasi
Laboratorium
Kesling Pestisida

2 Sepatu Booth Kebersihan Terpeleset,tertusuk


Juru masak benda tajam, kejatuhan
benda

3 Sarung tangan Perawat Iritasi kulit


Laboratorium Penularan penyakit
Dokter
Kesling

17
4 Kaca mata UPSRS Cahaya pijar las
R.Operasi Penularan kuman

5 Celemek Dapur Tumpahan minyak

6 Jas laboratorium Laboratorium Percikan specimen lab

7 Baju operasi R.Operasi Percikan darah


Kontaminasi kuman

8 Apron Radiologi Paparan sinar radiasi

18
BAB V
DOKUMENTASI

Untuk menjamin keamanan dalam kegiatan pengelolaan bahan dan limbah B3 (bahan
berbahaya dan beracun) di Rumah Sakit Islam Karawang, maka perlu dilakukan
pendokumentasian terhadap berbagai tahapan pengelolaannya, mulai dari pengadaan hingga
pemusnahan B3.

A. Pengadaan bahan berbahaya dan beracun.


Dokumentasi pengadaan akan kebutuhan bahan berbahaya dan beracun (B3) di RS
Murni Asih dilaksanakan oleh petugas yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengadaan B3 harus dilengkapi dokumen ijin/sertifikat dari rekanan/suplier yang
mengadakan B3.

B. Penyimpanan B3 dan Limbah B3


Dokumentasi penyimpanan B3 dan limbah B3 dilaksanakan oleh Panitia K3 Rumah
Sakit dan petugas kesehatan lingkungan. Kegiatan pendokumentasian meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1. Pendokumentasian jumlah, jenis dan label/simbol B3 di seluruh tempat
penyimpanan B3.
2. Pendokumentasian Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data
Sheet/MSDS) seluruh B3 di seluruh tempat penyimpanan B3.
3. Pencatatan jumlah limbah bahan berbahaya beracun yang disimpan dalam TPS
Limbah B3
4. Pencatatan jumlah limbah bahan berabahaya beracun yang akan dimusnahkan oleh
rekanan yang bersertifikasi.
5. Pendokumentasian perijinan terhadap penyimpanan sementara limbah B3 dari
instansi yang berwenang.

C. Pemusnahan limbah B3
Dokumentasi pemusnahan limbah B3 dilaksanakan oleh petugas kesehatan lingkungan
dibawah pengawasan Manajer Rumah Tangga. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Pendokumentasian perijinan terhadap rekanan yang bekerjasama dalam
pemusnahan limbah B3.

19
2. Pengarsipan manifest limbah B3 dari rekanan.
3. Pendokumentasian melalui sertifikasi bukti pemusnahan limbah B3 dari rekanan.

20