Anda di halaman 1dari 30

TUGAS

Geologi Batubara

“Pembatubaraan Serta Sifat-Sifat Fisik dan Kimia Batubara”

Disusun Oleh:

ELKA MUSTIKA

270110120134

Kelas B

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2015
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT dapat

menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Pembatubaraan Serta Sifat-

Sifat Fisik dan Kimia Batubara” dengan baik dan lancar.

Penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan

penulis, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih ada beberapa

kesalahan dan masih banyak kekurangannya, untuk itu penulis menerima saran dan

kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan yang lebih baik untuk makalah ini.

Penulis sampaikan terimakasih kepada pembaca.

Jatinangor, 22 September 2015

ELKA MUSTIKA

270110120134

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2

BAB II ISI

a. Pengertian Batubara…………………………………………………. 3

b. Proses Pembatubaraan…………………………………………………. 3

c. Sifat-sifat Fisik dan Kimia Batubara………………………. ……………. 11

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ....................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………… 27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung akan ketersedian sumber

daya alam. Sumber daya alam menjadi mutlak menjamin kehidupan salah satunya

adalah batubara. Batubara adalah salah satu menggerak ekonomi dan sangat

dibutuhkan dalam industri. Pada dasarnya batubara merupakan bahan bakar fosil

dan termasuk dalam kategori batuan sedimen.

Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan

waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa

tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan

mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia,

maupun geologi.

Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil dan

penting untuk dibahas lebih lanjut dalam sebuah makalah “Pembatubaraan Serta

Sifat-Sifat Fisik dan Kimia Batubara”.

1.2 Tujuan makalah

Tujuan dari makalah ini adalah:

a. Mahasiswa dapat memahami tentang batubara.

1
b. Mahasiswa dapat memehami sifat-sifat fisik dan kimia batubara.

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah:

a. Bagaimana penjelasan tentang pengertian batubara?

b. Bagaimana sifat-sifat fisik dan kimia batubara?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Batubara

2.1.1 Pengertian Batubara

Istilah batubara merupakan istilah yang luas untuk keseluruhan bahan yang

bersifat karbon yang terjadi secara alamiah. Batubara dapat pula didefinisikan sebagai

batuan yang bersifat karbon berbentuk padat, rapuh, berwarna coklat tua sampai

hitam, dapat terbakar, yang terjadi akibat perubahan atau pelapukan tumbuhan secara

kimia dan fisika (dalam “Kamus Pertambangan, Teknologi dan Pemanfaatan

Batuabara”, Silalahi, 2002). Sedangkan dalam pengertian geologi batubara oleh

Schoft (1956) dan Bustin, dkk (1983) (dikutip dari Rahmad, B., 2001) lebih spesifik

mendefinisikan batubara sebagai bahan atau batuan yang mudah terbakar,

mengandung lebih dari 50% hingga 70% volume kandungan karbon yang berasal dari

sisa-sisa material tumbuhan yang terakumulasi dalam cekungan sedimentasi dan

mengalami proses perubahan kimia dan fisika, sebagai reaksi terhadap pengaruh

pembusukan bakteri, temperatur, tekanan dan waktu geologi.

1.1.2 Proses Pembatubaraan

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa

tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses

fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara

3
termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan

menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification). Faktor

tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi dan lokasi

tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan

(sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan

geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang

jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda

sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).

Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon

(Carboniferous Period) -- dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang

berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap

endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan,

yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah

menjadi gambut (peat), yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite)

atau disebut pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara

dengan jenis maturitas organik rendah. Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan

yang terus menerus selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami

perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batu

bara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous). Perubahan kimiawi

dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih

hitam sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite). Dalam

4
kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus

berlangsung hingga membentuk antrasit. Dalam proses pembatubaraan, maturitas

organik sebenarnya menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama

pembentuk batubara. Batubara yang berkualitas tinggi umumnya akan semakin keras

dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu,

kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat,

sehingga kandungan energinya juga semakin besar. Secara ringkas ada 2 tahap proses

yang terjadi, yakni:

- Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman

terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses

perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang

dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material

organik serta membentuk gambut.

- Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit

menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan

waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-

bituminus, lignit dan gambut.

5
 Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan

(luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan

kadar air kurang dari 8%.

 Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10%

dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.

 Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh

karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan

bituminus.

 Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang

mengandung air 35-75% dari beratnya.

 Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang

paling rendah.

Tahapan mengenai jenjang-jenjang pembatubaraan, yaitu :

1. Tahap pertama: Pembentukan gambut

Iklim bumi selama zaman batubara adalah topis dan jenis tumbuh-

tumbuhan tumbuh subur di rawa-rawa membentuk suatu hutan tropis. Setelah

benyak tumbuhan mati dan menumpuk diatas tanah, tumpukan itu semakin

lama semakin tenbal menyebabkan bagian dasar dari raw turunsecara

perlahan-lahan dan material tumbuhan tersebut diuraikan oleh bakteri dan

jamur. Tahap ini merupakan tahap awal pembentukan batubara (coal

6
lification) yang ditandai dengan rangkaian biokimia yang luas. Selam prose

penguriaan tersebut , protein, kanji dan selulosa mengalami penguraian yang

lebih cepat dibandingkan material berkayu (lignin) dan bagian tumbuhan yang

beerlilin (kulit ari daun, dinding spora, dan tepung sari). Karena itulah, dalam

batubara yang mudah masih terdapat ranting, daun, spora, bijih, dan resin,

sebagi sisa tumbuhan. Bagian-bagiab tunmbuhan itu terurai dibawah kondisi

aerob menjadi karbon dioksida air, dan amoniak serta dipengaruhi oleh iklim.

Proses ini disebut dengan pembentukan humus (humification) dan sebagi

hasilnya adalah gambut.

Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang

paling rendah.

7
Faktor-faktor yang berperan pada pembentukan gambut

 Evolusi tumbuhan : jenis tumbuhan pada skala waktu geologi.

 Iklim : berpengaruh terhadap kecepatan tumbuh dan variasi jenis

tumbuhan serta proses dekomposisi

 Geografi dan posisi : kenaikan muka air tanah relatif lambat, dan ada

perlindungan rawa terhadap pantai atau sungai.

 Struktur Geologi dan tektonik :Adanya keseimbangan antara penurunan

cekungan terhadap kecepatan penumpukan sisa tumbuhan (kesimbangan

biotektonik).

2. Tahap kedua : Pembentukan Lignit

Prose pembentukan gambut berlangsung tanpa menutupi endapan gambut

tersebut dawah kondisi yang asam, dengan dibebaskanya H2O, CH4,dan

sedikit CO2. Terbentuklah material dengan rumus kimia C65H2O30 atau

ulmin yang dalam keadaan kering akan mengnadung karbon 61,7% hydrogen

0,3% dan oksigen 38%.

Dengan berubahnya tofografi daerah diselilinganya, gambut menjadi

terkubur di bawah lapisan lanau (silt) dan pasir yang dinedapkan oleh sungai

dan rawa. Semakin dalam terkubur, semakin bertambah timbunan sedimen

yang menghimpitnya sehinggga tekanan pada lapisan gambut bertambah serta

8
suhu naik dengan jelas. Tahap ini merupakan tahapan kedua dari prosesm

pembentukan batubara atau yang disebut tahap metamorfik.

Penutupan rawa gambut memberikan kesempatan bada bakteri untuk aktif

dan penguraian pada kondisi basa yang menyebabkanya CO2, dioksigenasi

dari ulmin, sehinggga kandungan hydrogen dan karbon bertambah. Tahap

kedua dari pembentukan batubara ini adlah pembentuakan lignit, yaitu batubra

rank rendah yang mempunyai rumus perkiraan C79H5,5O14,1. Dalam kering,

lignit mengandung karbon 80,4% dan oksigen 19,1%.

3. Tahap ketiga: Pembentukan batubara subbitumen

Tahap selanjutnya dari proses pembentukan batubara ialah pengubahan

batubara bitumen rank rendah menjadi batubara bitumen rank pertengahan

dan rank tinggi. Selama tahap ketiga , kandungan hydrogen akan tetap

konstan dan oksigen turun. Tahap ini merupakan tahap pembentukan batubara

subbitumen (sub-bituminous caol).

9
Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh

karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan

bituminus.

4. Tahap ke Empat: Pembentukan batubara bitumen

Dalam tahap ke empat atau tahap pembentukan batubara bitumen

(bitumenios coal). Kandungan hydrogen turun dengan menurunnnya jumlah

oksigen secara berlahan-lahansebelumnya. Produk samping dari tahap ketiga

dank e empat ini adalah CH4,CO2, dan Mungkin H2O.

5. Tahap ke lima: Pembentukan antrasit

Tahap ke lima adalah antrasitasi. Dalam tahap ini, oksigen hampir

konstan, sedangkan hydrogen turun lebih cepat dibandingkan tahap-tahap

sebelumnya. Proses pembentukan batubara merupakan proses reaksi kimia.

Kecepatan reaksi kimia ini dapat diatur oleh suhu dan tekanan. Pengendapan

10
dan tekanan yang menyebabkan adanya kenaikkan rank batubara sampai

membentuk batubara rank paling tinggi, yakni antrasit. Susunan unsure

karbon, volatile matter, calorific, value, dan moisture, dalam gambut, lignit,

batubara subbitunen, dan bitumen

Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan

(luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan

kadar air kurang dari 8%.

1.1.3 Sifat-sifat Fisik dan Kimia Batubara

Batubara memiliki substansi yang kompleks dan meskipun demikian akan

dipelajari mengenai Fisika dan kimiawi penting tertentu, Pada umumnya sifat

batubara, antara lain:

1. Sifat umum (general properties)

2. Sifat fisika (phisical properties)

3. Sifat kimia (chemical properties)

4. Sifat teknis (technical properties).

11
Metode analisa standard :

Laboratorium Industri umumnya memakai 2 metode:

1. Analisis proximat

Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar Moisture (air

dalam batubara) kadar moisture ini mengcakup pula nilai free moisture serta total

moisture, ash (debu), volatile matters (zat terbang), dan fixed carbon (karbon

tertambat). Moisture ialah kandungan air yang terdapat dalam batubara

sedangkan abu (ash) merupakan kandungan residu non-combustible yang

umumnya terdiri dari senyawa-senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida

(CaO), karbonat, dan mineral-mineral lainnya,Volatile matters adalah kandungan

batubara yang terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen

(misalnya CxHy, H2, SOx, dan sebagainya).

Fixed Carbon

Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah

volatile matters dipisahkan dari batubara. Kadar fixed carbon ini berbeda dengan

kadar karbon (C) hasil analisis ultimat karena sebagian karbon berikatan membentuk

senyawa hidrokarbon volatile.

Nilai Kalor Batubara (Coal Calorific Value)

12
Salah satu parameter penentu kualitas batubara ialah nilai kalornya, yaitu

seberapa banyak energi yang dihasilkan per satuan massanya. Nilai kalor batubara

diukur menggunakan alat yang disebut bomb kalorimeter. Kalorimater bom terdiri

dari 2 unit yang digabungkan menjadi satu alat. Unit pertama ialah unit pembakaran

di mana batubara dimasukkan ke dalam bomb lalu diinjeksikan oksigen lalu bomb

tersebut dimasukkan kedalam bejana disini batubara dibakar dengan adanya pasokan

udara/oksigen sebagai pembakar. Unit kedua ialah unit pendingin/kondensor (water

handling).

Kadar Sulfur

Salah satu cara untuk menentukan kadar sulfur yaitu melalui pembakaran

pada suhu tinggi. Batubara dioksidasi dalam tube furnace dengan suhu mencapai

1350°C. Sulfur oksida (SOx) yang terbentuk sebagai hasil pembakaran kemudian

ditangkap oleh oleh detektor infra merah kalau menggunakan metode infrared

sedangkan kalau menggunakan metode HTM akan ditangkap oleh larutan peroksida

lalu dititrasi dengan natrium borat dan kemudian dianalisis.

Analisis ultimat. Analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kadar karbon

(C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen, (N), dan sulfur (S) dalam batubara. Seiring

dengan perkembangan teknologi, analisis ultimat batubara sekarang sudah dapat

dilakukan dengan cepat dan mudah. Analisa ultimat ini sepenuhnya dilakukan oleh

alat yang sudah terhubung dengan komputer. Prosedur analisis ultimat ini cukup

13
ringkas; cukup dengan memasukkan sampel batubara ke dalam alat dan hasil analisis

akan muncul kemudian pada layar komputer.

Analisa Size Analisis

Data analisis dari suatu hasil tambang ialah satu data dari data-data yang

diperlukan dalam perancangan coal preparation plant, pada crushing plant dan

screening plant pemeriksaan size diperlukan untuk melihat apakah hasil dari proses

masih sesuai dengan spesifikasi atau tidak, pada proses loading dilakukan untuk

mengantisifasi masalah yang timbul karena kalau terlalu banyak yang fine coal nilai

total moisturenya cenderung meningkat dan akan berdebu pada saat kering.

2. Analisis proximate

Analisis proximate menunjukan persen berat dari fixed carbon, bahan mudah

menguap, abu, dan kadar air dalam batubara. Jumlah fixed carbon dan bahan yang

mudah menguap secara langsung turut andil terhadap nilai panas batubara. Fixed

carbon bertindak sebagai pembangkit utama panas selama pembakaran. Kandungan

bahan yang mudah menguap yang tinggi menunjukan mudahnya penyalaan bahan

bakar. Kadar abu merupakan hal penting dalam perancangan grate tungku, volum

pembakaran, peralatan kendali polusi dan sistim handling abu pada tungku. Analisis

proximate untuk berbagai jenis batubara .

14
Tabel . Analisis proximate untuk berbagai batubara (persen)

Parameter Batubara Batubara Batubara Afrika

India Indonesia Selatan

Kadar air 5,98 9,43 8,5

Abu 38,63 13,99 17

Bahan mudah 20,70 29,79 23,28

menguap

(volatile matter)

Fixed Carbon 34,69 46,79 51,22

Parameter-parameter tersebut digambarkan dibawah ini.

Fixed carbon:

Fixed carbon merupakan bahan bakar padat yang tertinggal dalam tungku

setelah bahan yang mudah menguap didistilasi. Kandungan utamanya adalah karbon

tetapi juga mengandung hidrogen, oksigen, sulfur dan nitrogen yang tidak terbawa

gas. Fixed carbon memberikan perkiraan kasar terhadap nilai panas batubara.

Bahan yang mudah menguap (volatile matter):

Bahan yang mudah menguap dalam batubara adalah metan, hidrokarbon,

hydrogen, karbon monoksida, dan gas-gas yang tidak mudah terbakar, seperti karbon

15
dioksida dan nitrogen. Bahan yang mudah menguap merupakan indeks dari

kandunagnbahan bakar bentuk gas didalam batubara. Kandunag bahan yang mudah

menguap berkisar antara 20 hingga 35%.

Bahan yang mudah menguap:

 Berbanding lurus dengan peningkatan panjang nyala api, dan membantu

dalam

memudahkan penyalaan batubara

 Mengatur batas minimum pada tinggi dan volum tungku

 Mempengaruhi kebutuhan udara sekunder dan aspek-aspek distribusi

 Mempengaruhi kebutuhan minyak bakar sekunder

Kadar abu

Abu merupakan kotoran yang tidak akan terbakar. Kandungannya berkisar

antara 5% hingga 40%. Abu:

 Mengurangi kapasitas handling dan pembakaran

 Meningkatkan biaya handling

 Mempengaruhi efisiensi pembakaran dan efisiensi boiler

 Menyebabkan penggumpalan dan penyumbatan

Kadar Air

16
Kandungan air dalam batubara harus diangkut, di-handling dan disimpan

bersama-sama batubara. Kadar air akan menurunkan kandungan panas per kg

batubara, dan kandungannya berkisar antara 0,5 hingga 10%. Kadar air:

 Meningkatkan kehilangan panas, karena penguapan dan pemanasan berlebih

dari uap

 Membantu pengikatan partikel halus pada tingkatan tertentu

 Membantu radiasi transfer panas

Kadar Sulfur

Pada umumnya berkisar pada 0,5 hingga 0,8%. Sulfur:

 Mempengaruhi kecenderungan teradinya penggumpalan dan penyumbatan

 Mengakibatkan korosi pada cerobong dan peralatan lain seperti pemanas

udara dan economizers

 Membatasi suhu gas buang yang keluar

Analisis Ultimate

Analsis ultimate menentukan berbagai macam kandungan kimia unsur- unsur

seperti karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dll. Analisis ini berguna dalam penentuan

jumlah udara yang diperlukan untuk pemakaran dan volum serta komposisi gas

pembakaran. Informasi ini diperlukan untuk perhitungan suhu nyala dan perancangan

saluran gas buang dll. Analisis ultimate untuk berbagai jenis batubara diberikan

dalam tabel dibawah.

17
Tabel. Analisis ultimate batubara

Parameter Batubara India, % Batubara Indonesia, %

Oksigen 9,89 11,88

Kadar Air 5,98 9,43

Bahan Mineral (1,1 x 38,63 13,99

Abu)

Karbon 41,11 58,96

Hidrogen 2,76 4,16

Nitrogen 1,22 1,02

Sulfur 0,41 0,56

Oksigen 9,89 11,88

Tabel . Hubungan antara analisis ultimate dengan analisis proximate

%C = 0,97C+ 0,7(VM - 0,1A) - M(0,6-0,01M)

%H = 0,036C + 0,086 (VM -0,1xA) - 0,0035M

(1-0,02M)

%N2 = 2,10 -0,020 VM

Dimana

18
C = % fixed carbon

A = % abu

VM = % bahan mudah menguap (volatile matter)

M = % kadar air

Tiga elemen-elemen pertama adalah tergantung kepada komposisi maseral dan

peringkat batubara tertentu. Elemen berikut utamanya maceral-independent. Sifat

fisika, kimiawi dan, teknis batubara tergantung kepada tipe batubara demikian

halnya terhadap peringkat batubara.

Sifat Umum (General properties) :

Warna, perbedaan warna /shades adalah catatan untuk berbagai macam litotipe (yaitu

cerah untuk vitrain, gelap untuk fusain). Yang lebih penting adalah perubahan

makroskopik dari coklat cerah ke gelap dalam batubara muda dan hitam sempurna

dalam batubara tua, tergantung pada peringkat.

Kilap, juga adalah tergantung pada maceral-independent, tetapi peningkatan secara

bertahap kilap berkaitan dengan pemantulan sinar (light reflectance) yaitu typical

daripada peningkatan peringkat batubara.

19
Nyala, berkaitan dengan peringkat, daya bakar batubara berbeda memiliki pula nyala

yang berbeda pula, terutama dengan hilangnya zat terbang (yaitu, batubara zat

terbang tinggi, pembakarannya panjang, dan batubara peringkat tinggi rendah zat

terbang terbakar dengan nyalanya pendek). Akan tetapi komposisi maseral juga

memegang peranan penting , tergantung atas jumlah exinites.

Pelapukan, mengurangi kilapan dan mengurangi kontras antar litotypes. pelapukan

disertai oleh oksidasi dan pengrusakan pada tekstur asal dalam batubara. Singkapan

yang melapuk tidak dapat dipakai untuk diskripsi dan sampling (percontoan).

Perpanjangan pelapukan batubara yang ditambang yang terdapat di penampungan

mengurangi kwalitas teknis. Derajat pelapukan kadang-kadang diekspresikan dengan

SLACKING INDEX: gumpalan batubara akan terapung di air dan kering dan jumlah

yang terpisah dapat dideterminasi dengan pengayakan.

Spontaneous combustion, adalah suatu rekasi dimana tergantung kepada derajat

oksidasi, yaitu pelapukan batubara. Hal ini dapat berbahaya selama penambangan jika

tiba-tiba kontak dengan oksigen dari udara, dan terutama sekali kelembaban, udara

basah (damp air), disebabkan pengapian.

Sifat Fisika (Phisical properties):

Ultrafine structure; Batubara dapat diperikan sebagai substansi colloidal yang

terdiri dari partikel-partikel kecil atau micelles yang mempunyai dimeter mikron,

20
Peningkatan devolatilisasi (devolatilization), menyebabkan pertumbuhan micelles

lebih besar dan menjadi lebih teratur.

Densitas (density): densitas berkurang pada batubara muda (± 1.5 gr/cm3) hingga

batubara bituminous pada sekitar DOM 70 (1.25 gr/ cm3), dan kemudian bertambah

lagi hingga 1.5 pada antrasit dengan DOM 95, selanjutnya akan meningkat tajam

melalui meta-antrasit hingga grafit (± 2.2).

Porositas (porosity). Sebenarnya ada 2 sistim pori dalam batubara, yaitu: Yang

pertama dibentuk oleh pori-pori lebih besar dengan menembuskan mercury dibawah

tekanan, dan pori-pori ultrafines lainnya dengan memasukkan helium , Dalam

batubara peringkat rendah porositas bisa lebih dari 20% , tetapi cepat berkurang

hingga minimum sekitar 2.5% pada DOM 75. bertambah kembali kearah antrasit (±

10%).

Kompaksi (compaction), tergantung terutama kepada makroporositas,

Kapasitas Adsorpsi (adsorption capacity), tergantung atas area permukaan internal

batubara dan secara mendasar dalam mikroporositas. Tergantung pada penyerapan

gas pada low-temperature, Oleh karena itu gas methane , berasal dari proses

koalifikasi pada peringkat rendah , biasanya tidak dilepas tetapi diserap oleh batubara.

Bawaan ini berbahaya dengan akumulasi gas methane apabila bercampur dengan

oxygen dari udara dapat memberikan munculnya fire-dump explosions (ledakan) di

tambang batubara.

21
Moisture holding capacity atau “total moisture” atau “bed moisture”, dalam

batubara peringkat rendah tergantung besarnya makroporositas dan kecepatan

pengurangan dalam range batubara muda ( yaitu sesungghnya diklassifikasikan

dengan kandungan total moisture), hingga mencapai kurang dari 5% pada DOM 60,

Porositas serupa, mencapai minimum sekitar 1% sekitar DOM 75 dan secara nyata

bertambah kembali hingga sekitar 2 – 3% dalam peringkat tertinggi.

Nilai kalori (calorific value), sebenarnya takaran nilai kalori, berbeda untuk 3 grup

maseral; tertinggi pada exinite, menengah pda vitrinite dan terrendah pada inertenit.

Nilai kalori daripada vitrinite adalah parameter rank-classification untuk batubara tua

berderajat rendah dan ketinggiannya tergantung kepada kandungan air (moisture

content).

Kekuatan (strength), adalah berhubungan dengan kekerasan (hardness) dan

kerapuhan (friability), selanjutnya sifat daripada batubara muda lebih plastis,

Standard perkiraan untuk batubara tua adalah Vicker’s Hardness Test, Kekerasan

batubrara maximum yaitu pada DOM ± 65, minimum pada DOM 35 – 90, dengan

anthrasit yang memiliki DOM lebih tinggi dari 94 bertindak sebagai material-material

klastik. Mikrokekerasan (Microhardness) HV100 dalam kg/mm2 adalah Vicker

microhadness untuk suatu beban 100 g. Kekuatan (the strength) HV1000 dalam

kg/mm2 adalah Vickers microhardness untuk beban 1000 g. Konduktifitas kelistrikan,

Konduktifitas panas, Sifat optis: Reflektifitas sinar, Anisotrophy, Diffraksi sinar-x,

Resonansi elektron, Immersion swelling, Thermal expansion.

22
Keliatan (plastisitas), pada temperature kamar batubara bersifat/bertindak sebagai

kompak britel (brittle solid), Diskusi mengenai deformasi plastis dan plastisitas pada

temperature tinggi, adalah faktor penting dalam pemurnian batubara (coal refining).

Sifat Kimia (Chemical Properties)

Sulphur (Belerang) hadir dalam jumlah sedikit sebagai campuran organic bawaan

(inherent) dalam batubara dan mungkin berasal dari protein dari tanaman asli yang

diperkaya oleh bakteri sulfur. Bubuk sulfur dalam batubara adalah unsur mineral

tambahan dan terdapat dalam jumlah yang bervariasi. Belerang tidak diinginkan

sebab bertindak sebagai polutan dalam atmosfer dalam atmosfer, kontaminasi dalam

distalasi gas, dan mengganggu dalam pembuatan kokas , sulit terhidrilisis dan

memiliki sifat efek korosif yang tinggi di dalam oven Sebagian akan hilang dalam

pengkokasan bercampur dengan zat terbang.

Nitrogen berasal dari protein unsur tanaman asli, biasanya dibawah 1% dan pada

batubara peringkat tinggi hadir hanya sebagai trace,

Pelarutan (Solubility); fraksi-fraksi terlarut dapat diekstraksi dari batubara dengan

berbagai macam larutan organic, tetapi perlarutan adalah tidak pernah lengkap

kecuali dibantu oleh temperatur tinggi untuk mengadakan degradasi panas dan

reaksi-reaksi dalam larutan.

Aromatik (Aromaticity) , batubara umumnya highly aromatic. Exinite kurang

aromatic sehubungan dengan vitrinites, tetapi dengan mikrinit bertentangan.

23
Sifat Teknis

Nilai praktis daripada suatu batubara adalah ditentukan oleh 3 faktor utama;

1. Kandungan unsur terbang (volatile matter) Kandungan volatile batubara

penting dalam ekstraksi coal tar dan gas. Pyrolysis, dimana batubara yang

dipanasi dalam oven dengan pengeluaran oksigen. Nama alternative adalah

“dry distillation”.

Produksi utama pyrolusis adalah: coal tar, coal gas, gas metan, gas coke ,

2. Kokabilitas (the Cokeability), Proses pengkokasan: semua batubara berupa

vitrinite adalah layak pengkokasan batubara, tetapi lebih pantas pada

peringkat range terbatas hingga medium (sebagian yang rendah), Dalam

proses pengkokasan, adalah peleburan batubara (the coal melt),

pengembangan (swells) dan pelepasan zat terbang. Titik yang penting adalah

peleburan dan devolatisasi,

• Hasil daripada pengkokasan adalah busa (foamy) peleburan porous

residu yang kaya dengan karbon.

• Kokas berkwalitas tinggi diharapkan mengandung kurang dari 7% abu

dan kurang dari 1.3% sulfur (dimana berdampak merugikan terhadap

logam).

24
3. Nilai panas (the heating values).

Ada 3 temperature range dalam pyrolysis :

Low temperature coking (up to ± 6000C)

Medium temperature coking (up to ± 8000C)

high temperature coking (up to ± 10000C).

dimana yang terakhir adalah sangat penting, menghasikan high kokas

kwalitas metalurgi (quality metallurgical coke) dipakai sebagai agen pemisah

dalam blast-furnaces (dapur) . Produk sampingnya (by product) adalah

ammonia, benzene, aromatic tars, dan gas

25
BAB III

KESIMPULAN

1. Unsur-unsur utama batubara terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia

yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.

2. Semakin tinggi rank suatu batubara, maka semakin tinggi nilai kalorinya, dan

semakin tinggi nilai karbon (%C). Dan sebaliknya, semakin rendah

kandungan air, vollatil matter, hydrogen dan oksigen

3. Proses pembentukan batubara melewati dua tahapan yaitu tahapan diagenesa

(biokimia) yang dimulai dari proses penggambutan (peatification) sampi pada

lignite, dan Tahapan Metamorfisma (geokimia) mulai yang dimulai dari

lignite sampai pada anthracite.

4. Terdapat perbedaan tipe endapan batubara yaitu, Batubara insitu biasanya

lebih tebal, endapannya menerus, terdiri dari sedikit lapisan, dan relatif tidak

memiliki pengotor. Sedangkan batubara yang terbentuk atau berasal dari

transportasi material (berdasarkan teori drift) ini biasanya terjadi pada delta-

delta kuno dengan ciri-ciri: lapisannya tipis, endapannya terputus-putus

(splitting), banyak lapisan (multiple seam), banyak pengotor, dan kandungan

abunya biasanya tinggi.

26
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara

imambudiraharjo.wordpress.com

majalah1000guru.net/2011/07/pembentukan-batu-bara/

https://achmadinblog.wordpress.com/2010/05/21/pembentukan-batubara/

http://www.academia.edu/6876315/BAB_II_GENESA_BATUBARA

http://angghajuner.blogspot.co.id/2010/10/proses-pembentukan-endapan-

batubara.html

27