Anda di halaman 1dari 5

Monitoring Nutrisi Diabetes Mellitus

Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat


badan ideal. Komposisi energi adalah 45 – 65% dari karbohidrat, 10 – 20% dari
protein dan 20 – 25% dari lemak. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah
kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan
memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 – 30
kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa faktor
yaitu jenis kelamin, umur, aktifitas, kehamilan / laktasi, adanya komplikasi dan
berat badan. Cara yang lebih gampang lagi adalah dengan cara pegangan kasar,
yaitu untuk pasien kurus 2300–2500 kalori, normal 1700–2100 kalori dan gemuk
1300–1500 kalori (Soegondo, dkk, 2009:54). Kebutuhan kalori penyandang
diabetes dapat dilihat di tabel berikut :

Cara lain untuk menghitung kalori penderita diabetes melitus


Untuk wanita :
( Berat badan ideal x 25 kalori ) ditambah 20% utnuk aktifitas
Untuk pria :
( Berat badan ideal x 30 kalori ) ditambah 20% untuk aktifitas

Bagaimana menentukan Berat badan ideal (BBI) ?


BBI = Tinggi Badan (cm) – 100 cm – 10%
Contoh : seorang pria, tinggi badan 164 cm, berat badan 70kg. Maka :
BBI = 64 kg – 10% = 58 kg
Sehingga kebutuhan kalori dasar :
58 x 30 kalori = 1740 kalori
Ditambah kalori untuk aktivitas 20% = 2088 kalori. Maka pria tersebut
memerlukan diet 2000 kalori sehari

Saat ini Indonesia menghadapi beban kesehatan ganda, yaitu epidemi penyakit
menular dan epidemi penyakit tidak menular. Dengan meningkatnya standar
kesehatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini yang menjadi
penyebab kematian tertinggi adalah penyakit tidak menular.
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insidensi dan prevalensi diabetes melitus (DM) tipe 2 di
seluruh dunia. Diperkirakan jumlah penyandang DM di Indonesia adalah sekitar
21,3 juta pada 2030, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pada tahun
2000. Pengaruh perubahan gaya hidup dan urbanisasi merupakan penyebab
penting masalah ini. Obesitas, terutama obesitas sentral, dapat meningkatkan
terjadinya resistensi insulin yang mengakibatkan DM.
Patofisiologi DM tipe 2 adalah terjadinya resistensi insulin pada jaringan dan
defek sekresi insulin relatif yang bervariasi. Resistensi insulin menyebabkan sel
tidak dapat memanfaatkan glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Akibatnya, terjadi pemecahan glikogen (glikogenolisis) dan peningkatan produksi
glukosa oleh hati (glukoneogenesis). Insulin dalam keadaan normal akan
menghambat glikogenolisis dan glukoneogenesis, sehingga defek sekresi insulin
akan menyebabkan peningkatan produksi glukosa.
Pada DM tipe 2 kadar glukosa darah setelah makan meningkat akibat sel tidak
dapat mengutilisasi glukosa, dan akibatnya glukoneogenesis akan meningkat
sehingga menyebabkan peningkatan glukosa darah saat puasa. Banyak
penyandang DM tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) hingga 6-10 tahun
tetapi timbul komplikasi yang berhubungan dengan DM.
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah serta ada
atau tidaknya keluhan. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang
DM, berupa keluhan klasik yaitu banyak kencing, banyak minum, banyak makan,
dan adanya penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya,
dan keluhan lain seperti lemah badan, kesemutan, gatal-gatal, pandangan kabur,
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Gambar 1. Diagnosis DM (Sumber: Konsensus Pengendalian dan Pencegahan
Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, PERKENI, 2011)

Tujuan penatalaksanaan DM secara umum adalah meningkatkan kualitas


hidup penyandang DM, dengan cara pengendalian glukosa darah, tekanan
darah, berat badan, dan profil lipid. Tujuan ini disesuaikan dengan kemauan dan
kemampuan penyandang DM. Empat pilar penatalaksanaan DM adalah edukasi,
terapi nutrisi, peningkatan aktivitas fisik, dan farmakologis.
Diagnosis nutrisi yang berhubungan dengan DM tipe 2 adalah asupan
kalori yang berlebih, asupan lemak berlebih, ketidakseimbangan asupan lemak
dan karbohidrat, kurangnya asupan serat, gangguan fungsi saluran cerna
(gastroparesis), abnormalitas nilai laboratorium yang berhubungan dengan
nutrisi, adanya interaksi obat dan makanan, adanya kelebihan berat badan atau
obesitas, kurangnya pengetahuan atau kepercayaan yang salah mengenai
makanan dan nutrisi, dan ketidaksiapan terhadap perubahan diet dan gaya
hidup.
Tujuan terapi nutrisi adalah mendukung dan memfasilitasi modifikasi
perilaku dan gaya hidup yang akan berakibat pada perbaikan kontrol metabolik,
mencapai berat badan normal/ideal, serta mencegah atau memperlambat
timbulnya komplikasi, dengan cara menciptakan pola makan sehat. Pola makan
yang sehat meliputi apa yang dimakan (Jenis) dalam berapa banyak (Jumlah),
dan kapan diberikan selama jeda waktu berapa lama (Jadwal) (3J). Terapi nutrisi
pada DM sebaiknya diterapkan secara individual dengan memprioritaskan pada
masalah metabolik karena DM berhubungan dengan banyak faktor misalnya
usia, gaya hidup, dan pengaruh kultural. Terapi nutrisi untuk penyandang DM
tidak berlaku one fit for all. Terapi yang diberikan dimonitor secara berkala untuk
dapat dievaluasi dan disesuaikan dengan hasil monitoring tersebut.
Terapi nutrisi pada DM secara umum meliputi:

1. Manajemen berat badan


Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas berhubungan kuat
dengan terjadinya DM tipe 2. Obesitas merupakan faktor risiko independen dari
hipertensi, dislipidemia, dan penyakit kardiovaskuler, yang merupakan penyebab
kematian pada DM. Penurunan berat badan yang tepat dapat memperbaiki
kontrol glikemik dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler. Terapi
perubahan gaya hidup yang direkomendasikan adalah pengurangan asupan
kalori sebanyak 500-1000 kalori per hari dan peningkatan aktivitas fisik.

2. Asupan karbohidrat
Monitoring jumlah asupan karbohidrat adalah strategi mencapai kontrol
glikemik yang baik. Jumlah karbohidrat yang dianjurkan adalah 45-65% dari total
asupan kalori. Karbohidrat yang dipilih adalah yang berserat tinggi. Diet rendah
karbohidrat tidak dianjurkan karena karbohidrat merupakan sumber kalori terbaik,
vitamin larut air dan mineral, juga serat. Asupan karbohidrat kurang dari 130
gram per hari tidak direkomendasikan karena otak dan sistem saraf pusat
memerlukan glukosa sebagai sumber energi utama. Penggunaan gula sebagai
bumbu masakan diperbolehkan dengan jumlah tidak lebih dari 5% total kalori.
Penggunaan pemanis buatan diperbolehkan dalam jumlah tidak melebihi batas
aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake).

3. Asupan protein
Jumlah protein yang dibutuhkan adalah 10-20% total kalori. Asupan
protein lebih dari 20% kalori total dapat meningkatkan risiko nefropati. Sumber
protein dipilih yang mengandung lemak rendah. Pada pasien dengan nefropati
asupan protein dikurangi atau 10% dari total kalori.

4. Asupan lemak
Asupan lemak yang dianjurkan adalah 20-25% kalori total dengan asupan
lemak jenuh kurang dari 7%. Asupan lemak trans seminimal mungkin. Asupan
lemak tidak jenuh ganda <10%, sisanya adalah lemak tidak jenuh tunggal.
Asupan kolesterol dibatasi <200 mg/hari.

5. Asupan serat
Asupan serat yang dianjurkan adalah 14 gram per 1000 kalori. Serat
didapat dari buah, sayur, kacang-kacangan, dan sumber karbohidrat tinggi serat.

6. Asupan natrium
Asupan natrium dibatasi 6-7 gram garam per hari atau setara 1 sendok
teh.