Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

BAB I
PENGUJIAN BAHAN AGREGAT KASAR

1.1. PENGUJIAN BERAT JENIS DAN


PENYERAPAN AGREGAT KASAR (Specific Gravity
and Absorption of Coarse Aggregate).
1.1.1. Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan berat jenis kering oven
(bulk specific gravity), berat jenis kering permukaan jenuh (saturated
surface dry), berat jenis semu (apparent specific gravity) dan penyerapan air
(water absorpsi) dari agregat kasar.

1.1.2. Teori Ringkas


Berat jenis agregat adalah perbandingan antara berat volume agregat
dan berat volume air. Besar jenis agregat penting dalam perencanaan
campuran agregat dengan aspal keras, umumnya direncanakan berdasarkan
perbandingan berat dan juga untuk menentukan banyak pori. Agregat
dengan berat jenis yang kecil mempunyai volume yang besar sehingga berat
yang sama membutuhkan jumlah aspal yang banyak disamping itu agregat
dengan kadar pori yang besar membutuhkan jumlah aspal yang banyak.
Ada 3 berat jenis yang dapat ditentukan berdasarkan manual
PB 0202-76 atau AASHTO T85-81.
A. Berat jenis kering oven (bulk specific gravity)
Berat jenis kering oven ialah berat jenis yang memperhitungkan
seluruh volume pori yang ada (volume pori yang dapat diresapi air dan
volume pori yang tidak dapat diresapi air).
Rumus Perhitungan :
I - A
BJ bulk =
B −C ................................................... (1. 1)

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I-1
B. Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry)
Berat jenis kering permukaan jenuh ialah berat jenis yang
memperhitungkan volume pori yang hanya dapat diresapi oleh aspal
ditambah dengan volume partikel.
Rumus perhitungan :

B
BJ SSD =
B −C ................................................... (1. 2)

C. Berat jenis semu (apparent specific gravity)


Berat jenis semu ialah berat jenis yang memperhitungkan volume
partikel saja tanpa memperhitungkan volume pori yang dapat dilewati
oleh air.
Rumus perhitungan :

A
BJ semu =
A − C ....................................................... (1. 3)

D. Penyerapan air (water absorpsi)


Penyerapan air adalah perbandingan perubahan berat agregat
karena penyerapan air oleh pori-pori dengan berat agregat pada kondisi
kering.
Rumus perhitungan :

B− A
Penyerapan air = x 100 %
A .......................... (1. 4)

Keterangan :
A = Berat contoh kering oven (gram).
B = Berat contoh kering permukaan (gram).
C = Berat contoh dalam air (gram).
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.1.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


A. Alat yang digunakan
a. Keranjang kawat dengan ukuran 3,35 mm atau 2,36 mm (No.6 atau No.8)
dengan kapasitas kira-kira 5 kg.
b. Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai untuk pemeriksaan.
c. Timbangan dengan kapasitas 5 kg dan ketelitian 0,1 % dari berat contoh
yang ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang.
d. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai
(110 ± 5)°C.
e. Saringan 3/4”, No. 4.
f. Kain lap.
g. Talam

B. Bahan yang digunakan


a) Benda uji adalah agregat yang lolos pada saringan 3/4” dan tertahan pada
saringan No. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat
sebanyak 2500 gram.
b) Air Suling.

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I-3
njang
dan untuk Merendam
mengeluarkan
mengeringkannya benda
dengan uji
udara dalam
yang
kain air padaselaput
tersekap
lap atau
sampai suhu kamar
dan menentukan
airyangselama
pada 24 4 jam.
beratnya
permukaan dalamagregat.
hilang, air.
untukMengukur
butiran suhu
yang air untuk
besar penye
harus sat
Mencuci
enda uji benda
pada uji untuk
suhu menghilangkan
kamar selama debu
:1-3 jam, bahan-bahan
kemudian lain melekat pada permukaan
Menyiapkan
Mengeringkan peralatan
benda uji dalam oven pada suhu menimbang
105C sampaidengan timbangan
beratnya tetap. ketelitian 0,5 gram.
pengujian

Keranjang kawat.
hasil

000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
TempatMenyiapkan
air. bahan :
000000000000000000000000000000000000000000000ffffffffffffffffffffffff00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Persiapan

00030003000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000180002010300000005000000f
Timbangan.
Agregat yang lolos saringan 3/4" dan tertahan pada saringan No. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh sebanyak 2500 gram.
Analisa

Oven. Air suling


Saringan 3/4", No. 4.
72006500730030003000300000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Proses

Kain lap.
Talam

1.1.4. Prosedur Percobaan


A. Diagram Alir Prosedur

s
Gambar 1.1. Flow Chart Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar.

LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

B. Uraian Prosedur
a. Mencuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain
yang melekat pada permukaan.
b. Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu 105°C sampai beratnya
tetap.
c. Mendinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1-3 jam, kemudian
menimbangnya dengan timbangan ketelitian 0,5 gram.
d. Merendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama 24 ± 4 jam.
e. Mengeluarkan benda uji dari dalam air, dan mengeringkannya dengan
kain lap sampai selaput air pada permukaan hilang, untuk butiran yang
besar harus satu persatu.
f. Menimbang benda uji dalam keranjang, mengguncangkan keranjang
untuk mengeluarkan udara yang tersekap dan beratnya ditentukan
dalam air. Mengukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan pada suhu
standar (25°C).

1.1.5. Spesifikasi Pengujian


Tabel 1.1. Data spesifikasi berat jenis dan penyerapan air.
Spe sifik asi
Pe rcobaan
M inimum M ak simum

Berat jenis kering oven


(bulk specific grav ity). 2.5 -

Berat jenis kering permukaan jenuh


(saturated surface dry) 2.5 -

Berat jenis semuapparent


( specific grav ity) 2.5 -

Penyerapan air
(w ater absorpsi) - 3.0%
I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I-5
1.1.6. Data Pengujian
Tabel 1.2. Pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar.
Rata-rata
Keterangan Rumus I II
2481,50
Berat sampel kering oven. A 2473,70 2489,30
2526,25
Berat sampel kering permukaan. B 2519,50 2533,00
1593,00
Berat sampel dalam air. C 1589,00 1597,00

Berat jenis kering oven A 2,66


2,66 2,66
(bulk specific gravity). B−C
Berat jenis kering permukaan jenuh B 2,71
2,71 2,71
(saturated surface dry). B−C
Berat jenis semu A 2,79
2,80 2,79
(apparent specific gravity). A−C
Penyerapan air B− A 1,81 %
x 100 % 1,85 % 1,76 %
(water absorption ) A

1.1.7. Analisa Data


a. Pengujian 1
a. Berat jenis kering oven (bulk specific gravity) :

A
BJ bulk = B−C
2473,70 gr
= 2519,50 gr −1589,00 gr
= 2,66
b. Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated
surface dry) :
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

B
BJ SSD = B−C
2519,50 gr
= 2519,50 gr −1589,00 gr
= 2,71

c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) :


A
BJsemu = A−C
2473,70 gr
= 2473,70 gr −1589,.00 gr
= 2,80
d. Penyerapan air (water absorpsi):
B − A
x 100 %
Penyerapan air = A

2519,50 gr − 2473,70 gr
x 100 %
= 2473,70 gr

= 1,85 %

b. Pengujian 2

a. Berat jenis kering oven (bulk specific gravity) :


A
BJ bulk = B − C

2489,30 gr
= 2533,00 gr − 1597,00 gr
I - = 2,66
b. Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry) :
B
BJ SSD = B−C

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I-7
2533,00 gr
= 2533,00 gr − 1597,00 gr
= 2,71
c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) :
A
BJsemu = A−C

2489,30 gr
= 2489,30 gr − 1597,00 gr
= 2,79

d. Penyerapan air (water absorpsi):


B− A
x 100%
Penyerapan air = A

2533,00 gr − 2489,30 gr
x100 %
= 2489 ,30 gr

= 1,76 %

c. Rata – rata
a. Berat jenis kering oven (bulk specific gravity) rata-rata :
2,66 + 2,66
BJ bulk = 2

= 2,66
b. Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated
surface dry) rata-rata:
2,71+ 2,71
BJ SSD = 2

= 2,71
c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) rata-rata:
2,80 + 2,79
BJ semu = 2
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

= 2,79
d. Penyerapan air (water absorpsi )rata-rata:
1,85 % + 1,76 %
Penyerapan air = 2
= 1,81 %

Tabel 1.3. Rekapitulasi pengujian berat jenis dan penyerapan agregat


kasar.
H as il Spe s ifik asi
No Pe me rik s aan
pe me rik s aan M in. M ax.

1 Berat jenis kering oven


(bulk specific gravity). 2,66 2,5 -

2 Berat jenis kering permukaan jenuh


(saturated surface d ry)
. 2,71 2,5 -

3 Berat jenis semuapparent


( specific gravity). 2,79 2,5 -

4 Penyerapan air(water absorpsi) 1,81 - 3,0 %

1.1.8. Kesimpulan
Dari hasil dan analisa sampel agregat kasar di Laboratorium
Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin, diperoleh hasil rata-rata yaitu :
A. Berat jenis kering oven (bulk specific gravity) : 2,66
I -
B. Berat jenis kering permukaan jenuh
(saturated surface dry) : 2,71
C. Berat jenis semu (apparent specific gravity) : 2,79
D. Penyerapan air (water absorpsi) : 1,81 %

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I-9
Benda uji yang digunakan dalam pemeriksaan berat jenis dan
penyerapan agregat kasar telah memenuhi spesifikasi (lihat pada Tabel 1.1),
berat jenis yang disyaratkan minimal 2,5 dan penyerapan air maksimal
3,0 %.
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 11
1.2. INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN AGREGAT
(Flakiness and Elongation Index).

1.2.1. Tujuan
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui bentuk dari agregat
yang akan dipergunakan pada proses pekerjaan jalan.

1.2.2. Teori Ringkas


Partikel agregat berbentuk pipih dapat merupakan hasil dari mesin
pemecah batu ataupun memang merupakan sifat dari agregrat tersebut yang
jika dipecahkan cenderung berbentuk pipih. Agregat pipih yaitu agregat
yang lebih tipis dari 0,6 kali diameter rata-rata. Indeks kepipihan (flakiness
index) adalah berat total agregat yang lolos slot dibagi dengan berat total
agregat yang tertahan pada ukuran nominal tertentu.
Agregat berbentuk pipih mudah pecah pada waktu pencampuran,
pemadatan ataupun akibat beban lalu lintas, oleh karena itu banyaknya
agregat pipih ini dibatasi dengan menggunakan nilai indeks kepipihan yang
disyaratkan.
Agregat berbentuk lonjong dapat ditemui di sungai-sungai atau
bekas dari endapan sungai. Agregat dikatakan lonjong jika ukuran
terpanjangnya > 1,8 kali diameter rata-rata. Indeks kelonjongan (elongation
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

index) adalah perbandingan dalam persen dari berat lonjong yang tertahan
terhadap agregat yang tertahan.
Rumus perhitungan :
A
Indeks kepipihan = x 100 %
C ............................... (1.5)
B
Indeks kelonjonga n = x 100 %
C .............................. (1. 6)
Keterangan :
A = Berat lolos pada alat pengukur kepipihan (gram).
B = Berat lolos pada alat pengukur kelonjongan (gram).
C = Berat total (gram).

1.2.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


A. Percobaan Indeks Kepipihan

a. Alat yang Digunakan


- Saringan 3/4”, 1/2”, dan 3/8”.
- Talam - talam.
- Alat pengukur kepipihan.
- Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

b. Bahan yang Digunakan


Menyaring agregat dengan menggunakan saringan 3/4”, 1/2”, dan
3/8”. Kemudian memisahkan agregat yang tertahan pada saringan 1/2” dan
3/8” masing-masing sebanyak 500 gram.

B. Percobaan Indeks Kelonjongan

a. Alat yang Digunakan


- Saringan 3/4”, 1/2”, dan 3/8”.
I - - Talam - talam.
- Alat pengukur kelonjongan.
- Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 13
Menyaringagregat
Menimbang agregat dengan menggunakan saringan 3/4", 1/2" dan 3/8".
han pada saringan 1/2" dan yang lolos dan tertahan
3/8" masing-masing pada alat
sebanyak 500pengukur
gram lalukepipihan.
memasukkannya pada alat pengukur kepipih
Menyiapkan peralatan :
pengujian

Saringan 3/4", 1/2" dan 3/8".


Talam – talam.
hasil

menggunakan saringan 3/4", 1/2", dan 3/8". Kemudian memisahkan agregat yang tertahan pada saringan 1/2" dan 3/8"
Persiapan

Alat pengukur kepipihan.


Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.
Analisa
Proses

b. Bahan yang Digunakan


Menyaring agregat dengan menggunakan saringan 3/4”, 1/2”, dan
3/8”. Kemudian memisahkan agregat yang tertahan pada saringan 1/2” dan
3/8” masing-masing sebanyak 500 gram.

1.2.4. Prosedur Percobaan


A. Diagram Alir Prosedur Indeks Kepipihan Agregat
Menimbang agregat yang lolos dan tertahan pada alat pengukur kelonjongan.
Menyaring agregat dengan menggunakan saringan 3/4", 1/2" dan 3/8".
Menyiapkan peralatan :
an pada saringan
Gambar 1/2"
1.2 dan 3/8" masing-masing sebanyak 500 gram lalu memasukkannya pada alat pengukur kelonjong
Saringan 3/4", 1/2" danFlow
3/8". chart pengujian indeks kepipihan agregat kasar
pengujian
Proses Persiapan

0028c0e1c000000fb0280fe0000000000009001010000000402001054696d6573204e657720526f02004f006c00650050
Talam – talam.
enggunakan saringan 3/4", 1/2", danLABORATORIUM
LAPORAN 3/8". Kemudian memisahkan
REKAYASA agregat yang tertahan pada saringan 1/2" dan 3/8" m
TRANSPORTASI
Alat pengukur kelonjongan.
Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

B. Diagram Alir Prosedur Indeks Kelonjongan Agregat

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 15
Gambar 1.3 Flow Chart Pengujian Indeks Kelonjongan Agregat Kasar
72006500730030003000300000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Analisa hasil

C. Uraian Prosedur Pengujian Kepipihan Agregat Kasar

a. Menyaring agregat dengan


menggunakan saringan 3/4”,
1/2” dan 3/8”.
b. Menimbang agregat yang
tertahan pada saringan 1/2”
dan 3/8” masing-masing
sebanyak 500 gram lalu
memasukkannya pada alat
pengukur kepipihan.
c. Menimbang agregat yang
lolos dan tertahan pada alat
pengukur kepipihan.
d. Menghitung prosentase
kepipihan :
A
Indeks kepipihan = x 100 %
C
Keterangan :
A = Berat lolos pada alat pengukur kepipihan (gram).
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

C = Berat total (gram).

D. Uraian Prosedur Pengujian Kelonjongan Agregat Kasar

a. Menyaring agregat dengan menggunakan saringan 3/4”, 1/2”


dan 3/8”.
b. Menimbang agregat yang tertahan pada saringan 1/2” dan 3/8”
masing-masing sebanyak 500 gram lalu memasukkannya pada
alat pengukur kelonjongan.
c. Menimbang agregat yang lolos dan tertahan pada alat
pengukur kelonjongan.
d. Menghitung prosentase kelonjongan :
B
Indeks kelonjonga n = x 100 %
C
Keterangan :
B = Berat lolos pada alat pengukur kelonjongan (gram).
C = Berat total (gram).

1.2.5. Spesifikasi Pengujian


Tabel. 1.4. Data spesifikasi indeks kepipihan dan kelonjongan agregat
kasar

Spesifikasi
Percobaan
Minimum Maksimum

Indeks kepipihan agregat - 25%

Indeks kelonjongan agregat - 25%

I - 1.2.6. Data Pengujian


Tabel 1.5. Pengujian indeks kepipihan agregat

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 17
Gradasi Ukuran Thickness
No Berat Lolos Berat Tertahan Berat Total
Saringan Gauge

Lebar Panjang Slot (Gram) Slot (Gram) (Gram)

(mm) (mm) A B C

I 3/4" 1/2" 6,67 38,20 20,30 479.70 500

II 1/2" 3/8" 4,80 25,40 27,80 472,2 500

Total 48,1 951,90 1000

I 3/4" 1/2" 6,67 38,20 32,80 467,20 500

II 1/2" 3/8" 4,80 25,40 37,70 462,30 500

Total 70,50 929,50 1000

Tabel 1.6. Pengujian indeks kelonjongan agregat

Gradasi Ukuran Thickness Berat Berat


No Berat Lolos
Saringan Gauge Tertahan Total

Lebar Panjang Slot (Gram) Slot (Gram) (Gram)

(mm) (mm) A B C

I 3/4" 1/2" 10,00 14,00 206,60 293,40 500

II 1/2" 3/8" 6,30 10,00 306,00 194,00 500

Total 512,60 487,40 1000

I 3/4" 1/2" 10,00 14,00 107,30 392,70 500

II 1/2" 3/8" 6,30 10,00 254,40 245,60 500

Total 361,70 638,30 1000

1.2.7. Analisa Data


i.Indeks Kepipihan
A
x 100 %
a. Pengujian 1 = C
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

48,10
x100 %
= 1000,00

= 4,81 %
A
x 100 %
b. Pengujian 2 = C
70,50
x100 %
= 1000,00

= 7,05 %
4,81% + 7,05%
c. Pengujian rata-rata = 2
= 5,93 %

B. Indeks kelonjongan
A
x 100 %
a. Pengujian 1 = C

512,60
x 100 %
= 1000,00

= 51,26 %
A
x 100 %
b. Pengujian 2 = C
361,70
x 100 %
= 1000,00

= 36,17 %
51,26% + 36,17%
c. Pengujian rata-rata = 2
= 43,71 %

I -

1.2.8. Kesimpulan
Dari hasil dan analisa sampel agregat kasar di Laboratorium
Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 19
Hasanuddin, diperoleh hasil rata-rata :
A. Indeks kepipihan = 5,93 %
B. Indeks kelonjongan = 43,71%
Benda uji yang digunakan dalam pemeriksaan indeks kepipihan
agregat kasar telah memenuhi spesifikasi (lihat pada Tabel 1.4), indeks
kepipihan dan kelonjongan yang disyaratkan maksimal 25 %.
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

I -

1.3. PENGUJIAN KEAUSAN AGREGAT KASAR


1.3.1. Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan ketahanan agregat

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 21
kasar terhadap keausan dengan menggunakan mesin Los Angeles. Keausan
dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lolos saringan No.
12 terhadap berat semula, dalam persen.

1.3.2. Teori Ringkas


Ketahanan agregat terhadap penghancuran (degradasi) diperiksa
dengan menggunakan percobaan Abrasi Los Angeles (abration los angeles
test).
Nilai tinggi menunjukkan banyaknya benda uji yang hancur akibat
putaran alat yang mengakibatkan tumbukan dan gesekan antar partikel dan
dengan bola-bola baja, nilai abrasi > 40 % menunjukkan agregat tidak
mempunyai kekerasan cukup untuk digunakan sebagai material lapisan
perkerasan. Nilai abrasi < 40 %, baik sebagai bahan lapis permukaan dan
lapis pondasi atas. Nilai abrasi < 50 %, dapat dipergunakan sebagai bahan
lapisan lebih bawah.
Rumus perhitungan :

( A − B)
Keausan = x 100 %
A ............................................. (1.7)

Keterangan :
A = Berat sampel sebelum keausan (gram).
B = Berat sampel sesudah keausan tertahan saringan No.12 (gram).

1.3.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


A. Peralatan Percobaan
a. Mesin Los Angeles.
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

Mesin terdiri dari silinder baja tertutup pada kedua sisinya dengan
diameter 71 cm (28”) panjang dalam 50 cm (20”). Silinder bertumpu
pada dua poros pendek yang tak menerus dan berputar pada poros
mendatar. Silinder berlubang untuk memasukkan benda uji. Penutup
lubang terpasang rapat sehingga permukaan dalam silinder tidak
terganggu. Pada bagian dalam silinder terdapat bilah baja melintang
penuh setinggi 8,9 cm (3,56“).
b. Saringan No.12, 3/4”, 1/2”, 3/8”, dan saringan –
saringan lainnya seperti tercantum dalam tabel 1.7.
c. Timbangan, dengan ketelitian 5 gram.
d. Bola-bola baja dengan diameter rata-rata 4,68 cm (1
7/8”) dari berat masing – masing antara 390 gram
sampai 445 gram.
e. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk
memanasi sampai (100 ± 5)°C.

B. Benda uji
a. Berat dan gradasi benda uji sesuai daftar pada tabel
1.7.
b. Benda uji dibersihkan dan dikeringkan dalam oven
pada suhu (110 ± 5)°C sampai berat tetap.

I -

Tabel 1.7. Jenis gradasi agregat kasar

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 23
Menyiapkan alat :
Mesin Los Angeles. Menyiapkan bahan :
Persiapan

Saringan No. 12, 3/4", 1/2", Chipping


3/8". lolos saringan 3/4" dan tertahan pada saringan 1/2" sebanyak 2500 gram.
Timbangan. Chipping lolos saringan 1/2" dan tertahan pada saringan 3/8" sebanyak 2500 gram.
Bola - bola baja 4,68 cm.
Oven.

Ukuran saringan Berat dan gradasi benda uji (gram)

Lewat Tertahan A B C D E F G
(mm) (mm)
76,2 63,5 2500
63,5 50,8 2500
50,8 38,1 5000 5000
Proses pengujian

38,1 25,4 1250 5000 5000


25,4 19,05 1250 5000
19,05 12,7 1250 2500
12,7 9,51 1250 2500
9,51 6,35 2500
6,35 4,75 2500
4,75 2,36 5000
Jumlah bola 12 11 8 6 12 12 12
Analisa hasil

Berat bola (Gram) 5000 4584 3330 2500 5000 5000 5000
+ 25 + 25 + 20 + 15 + 25 + 25 + 25

Keterangan :
= Gradasi yang digunakan

Gambar 1.4 Flow Chart Pengujian Keausan Agregat Kasar.

1.3.4. Prosedur Percobaan


A. Diagram Alir Prosedur
Benda uji dan bola-bola baja dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles.
Memutar mesin dengan kecepatan 30 sampai 33 rpm sebanyak 500 putaran
0007200650073003000300030000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
menyaring dengan saringan No. 12. Mencuci bersih butiran yang tertahan di atasnya, lalu mengeringkannya dalam ove
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

B. Uraian Prosedur
a. Memasukkan benda uji dan bola-bola
baja ke dalam mesin Los Angeles.
I - b. Memutar mesin dengan kecepatan 30
sampai 33 rpm sebanyak 500 putaran
(digunakan gradasi B).
c. Setelah selesai pemutaran, kemudian

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 25
mengeluarkan benda uji dari mesin
kemudian menyaringnya dengan saringan
No. 12. Mencuci bersih butiran yang
tertahan di atasnya, kemudian
mengeringkannya dalam oven dengan
suhu (110 ± 5)°C sampai berat tetap.

1.3.5. Spesifikasi Pengujian


Tabel. 1.8. Data spesifikasi pengujian mesin Los Angeles.

Spesifikasi
Percobaan
Minimum Maksimum

Pengujian mesin Los Angeles 40%


-

1.3.6. Data Pengujian


Tabel 1.9. Pengujian keausan agregat kasar.

Gradasi Saringan No. Sampel

I II

Lolos Tertahan A B C D
Berat Sebelum Berat Sesudah Berat Sebelum Berat Sesudah
(gr) (gr) (gr) (gr)

3/4" 1/2" 2500 3911,70 2500 4219,20

1/2" 3/8" 2500 2500

Jumlah Berat (gram) 5000 5000


Berat tertahan Saringan
3911,70 4219,20
No. 12 (gram)
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.3.7. Analisa Data


A−B
x 100 %
A. Prosentase keausan sampel I = A
5000 − 3911,70
x100%
= 5000
= 21,78 %
A−B
x 100 %
B. Prosentase keausan sampel II= A
5000 − 4219,20
x100%
= 5000
= 15,62 %

C. Prosentase keausan rata-rata =

Keausan I + Keausan II
2
21,78% + 15,62%
= 2

= 18,69 %

1.3.8 Kesimpulan
Dari hasil dan analisa sampel agregat kasar di Laboratorium
Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin, diperoleh hasil keausan rata-rata sebesar 18,69 %.
Benda uji yang digunakan dalam pemeriksaan keausan agregat kasar
telah memenuhi spesifikasi (lihat pada Tabel 1.8), prosentase keausan yang
disyaratkan maksimal 40 %.
I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 27
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 29
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.4. ANALISA SARINGAN AGREGAT KASAR (Shieve Analysis).


1.4.1. Tujuan
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir
(gradasi) agregat kasar dengan menggunakan saringan.

1.4.2. Teori Ringkas


Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agregat
merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan.
Gradasi agregat mempengaruhi besarnya rongga antar butir yang akan
menentukan stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan.
Gradasi agregat diperoleh dari hasil analisa saringan dengan
menggunakan 1 set saringan dimana yang paling kasar diletakkan di atas dan
yang paling halus diletakkan paling bawah. Jika agregat kasar itu “bersih”,
tidak / sedikit sekali mengandung butiran halus dapat digunakan analisa
kering. Berdasarkan besar partikel-partikel agregat kasar, agregat > 4.75 mm
menurut ASTM atau > 2 mm AASHTO.
Gradasi agregat dapat dibedakan atas :
A. Gradasi seragam (uniform graded).
Gradasi seragam (uniform graded) adalah agregat dengan ukuran
yang hampir sama/sejenis atau mengandung agregat halus yang sedikit
jumlahnya sehingga tidak dapat mengisi rongga antar agregat. Gradasi
seragam disebut juga gradasi terbuka. Agregat dengan gradasi seragam
akan menghasilkan lapisan perkerasan dengan sifat permeabilitas tinggi,
I - stabilitas kurang, berat volume kecil.
B. Gradasi rapat (dense graded).
Gradasi rapat (dense graded) merupakan campuran agregat kasar dan
halus dalam porsi yang berimbang, sehingga dinamakan juga agregat

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 31
bergradasi baik (well graded). Agregat dengan gradasi rapat akan
menghasilkan lapisan perkerasan dengan sifat, stabililitas tinggi, berat
volume besar.

C. Gradasi buruk/jelek (poorly graded).


Gradasi buruk/jelek (poorly graded) adalah campuran agregat yang
tidak memenuhi 2 kategori di atas, agregat bergradasi buruk yang umum
digunakan untuk lapisan perkerasan lentur yaitu gradasi celah (gap
graded), yaitu campuran agregat dengan 1 fraksi hilang atau 1 fraksi
sedikit sekali, atau dikenal dengan agregat bergradasi senjang.

Rumus perhitungan :
a. Komulatif tertahan = Komulatif
tertahan + Berat tertahan
b. Persen total tertahan =

Jumlah komulatif tertahan


x 100 %
Total agregat
c. Persen lolos = 100 % - Persen total
tertahan

1.4.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


A. Alat yang Digunakan
a. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2
% dari berat benda uji.
b. Satu set saringan : 1/2” ; 3/8” ; No. 4 ; No.
8 ; No.30 ; No. 50 ; No.100 ; No.200 ; PAN
(standar ASTM).
c. Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk
memanasi sampai (110 ± 5)° C.
d. Mesin pengguncang saringan (shieve shaker).
e. Talam-talam.
Perhitungan analisa saringan agregat kasar :
Mengeringkan benda
- Kumulatif uji dalam oven
tertahan dengan tertahan
= Kumulatif suhu (110 5) C,
+ Berat sampai berat tetap.
tertahan
paling besar -ditempatkan paling atas.=Mengguncang
Persen total tertahan saringan
Kumulatif tertahan dengan
/ Total agregat x mesin
100 % pengguncang selama 15 menit. Mendiamk
- Persen lolos = 100 - Persen total tertahan
pengujian
hasil

LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI


Persiapan

Menyiapkan peralatan :
Timbangan dan neraca
Satu set saringan
Analisa

Menyiapkan bahan :
Oven Agregat Kasar (chipping)
Alat pemisah contoh
Proses

Mesin penguncangDiperoleh dari shaker)


alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak 1500 kg yang lolos saringan 1/2".
saringan (shieve
Talam – talam f. Kuas, sikat kuningan, sendok dan lain-lain
Kuas, sikat kuningan, sendok dan lain-lain

B. Bahan yang Digunakan


Bahan yang digunakan adalah agregat kasar (batu pecah) sebanyak
1500 gram, yang lolos saringan 1/2”.

1.4.4. Prosedur Percobaan


A. Diagram Alir Prosedur

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 33
Gambar 1.5 Flow Chart Pengujian Analisa Saringan Agregat Kasar.
No. Spesifikasi ( %)
Saringan Minimum Ideal Maksimum
1/2" 100 100.0 100
3/8" 80 90 100
4 55 65 75
8 35 42.5 50
30 18 24 29
50 13 18 23
100 8 12 16
200 4 7 10

B. Uraian Prosedur
a. Mengeringkan benda uji dalam oven
dengan suhu (110 ± 5)° C, sampai berat
tetap.
b. Menimbang kosong masing-masing
saringan.
c. Menyaring benda uji lewat susunan
saringan dengan ukuran saringan paling
besar ditempatkan paling atas.
d. Mengguncang saringan dengan mesin
pengguncang (shieve shaker) selama 15
menit.
e. Mendiamkan selama 5 menit agar debu
yang ada di dalam saringan yang lebih
halus dapat mengendap.
f. Menimbang kembali masing-masing
saringan beserta agregat yang tertahan.
g. Menghitung prosentase tertahan dan lolos
agregat kasar.

1.4.5. Spesifikasi Pengujian


Tabel 1.10. Data spesifikasi analisa saringan untuk gradasi III
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

Ket : Spesifikasi Standarisasi Bina Marga

1.4.6. Data Pengujian


Tabel 1.11. Pengujian analisa saringan agregat kasar

No Berat Komulatif Pe rsen Total Pe rsen Lolos


Saringan Te rtahan (gr) Tertahan (gr) Te rtahan (%) (% )
A B C D E
1/2" 0.00 0.00 0.00 100.00
3/8" 378.60 378.60 25.24 74.76
4 858.30 1236.90 82.46 17.54
8 91.30 1328.20 88.55 11.45
30 65.90 1394.10 92.94 7.06
50 26.30 1420.40 94.69 5.31
100 16.20 1436.60 95.77 4.23
200 42.00 1478.60 98.57 1.43
PAN 21.40 1500.00 100.00 0.00

I -

1.4.7. Analisa Data


Contoh :
Komulatif tertahan = C + B

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 35
= 378,60 gram + 858,30 gram
= 1236,90 gram
C
x 100 %
Prosentase tertahan = Total agregat =

378,60 gram
x100 %
1500,00 gram
= 25,24 %
Prosentase lolos = 100,00 % – D
= 100,00 % – 25,24 %
= 74,76%
Ket :
A = Nomor saringan D = Prosentase total tertahan
B = Berat tertahan E = Persen Lolos
C = Komulatif tertahan
1.4.8. Kesimpulan
Dari pemeriksaan dan analisa sampel agregat kasar di Laboratorium
Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin, maka diperoleh hasil prosentase lolos :
Saringan 1/2” = 100,00 %
Saringan 3/8” = 74,76 %
Saringan No.4 = 17,54 %
Saringan No.8 = 11,45 %
Saringan No.30 = 7,06 %
Saringan No.50 = 5,31 %
Saringan No.100 = 4,23 %
Saringan No.200 = 1,43 %

Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa gradasi agregat kasar


masuk dalam batasan gradasi III pada penggabungan agregat (lihat Tabel
1.10), sehingga agregat kasar tersebut dapat digunakan untuk bahan
pekerjaan kontruksi jalan.
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 37
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 39
1.5. PENGUJIAN KELEKATAN AGREGAT TERHADAP ASPAL
1.5.1. Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan besarnya kelekatan
agregat terhadap aspal melalui percobaan di Laboratorium.

1.5.2. Teori Ringkas


Kelekatan agregat terhadap aspal adalah prosentase luas permukaan
batuan tertutup aspal terhadap keseluruhan luas permukaan agregat.
Faktor yang mempengaruhi lekatnya agregat dan aspal dapat
dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :

A. Sifat mekanis yang tergantung dari :


a. Pori-pori dan absorpsi.
b. Bentuk dan tekstur permukaan.
c. Ukuran butiran.
B. Sifat kimiawi dari agregat.
Agregat berpori berguna untuk menyerap aspal sehingga ikatan antara
aspal dan agregat baik. Tetapi terlalu banyak pori dapat mengakibatkan
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

terlalu banyak aspal yang terserap yang berakibat lapisan aspal menjadi
tipis.

Agregat berbentuk kubus dan kasar lebih baik mengikat aspal dari
pada agregat berbentuk bulat dan halus. Permukaan yang kasar akan
memberikan ikatan dengan aspal lebih baik dari pada agregat dengan
permukaan licin.
Disamping hal tersebut di atas, daya lekat aspal dipengaruhi juga
oleh sifat agregat terhadap air. Grani dan batuan yang mengandung silica
merupakan agregat bersifat hydrophilic yaitu agregat yang senang terhadap
air. Agregat tersebut tidak baik digunakan untuk lapisan perkerasan
beraspal, karena mudah terjadi stripping yaitu lepasnya lapis aspal dari
agregat akibat pengaruh air.
Sebaliknya agregat seperti dioritandesit disebut agregat
hydrophobic, adalah agregat yang tidak mudah terikat dengan air sehingga
ikatan antara aspal dan agregat cukup baik dan stripping yang terjadi kecil
sekali.
Pemeriksaan agregat untuk daya lekatnya terhadap aspal dilakukan
dengan percobaan stripping mengikuti PB 0205-76 atau AASHTO T182-82.
Kelekatan agregat terhadap aspal sangat berpengaruh terhadap
kekuatan dari campuran material (mix design) dalam pembuatan jalan dan
sebagainya.

1.5.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


1. Alat yang Digunakan
1. Wadah untuk mengaduk, kapasitas minimal 500 ml.
2. Timbangan dengan kapasitas 200 gram dan ketelitian 0,1 gram.
3. Tabung gelas kimia dengan kapasitas 600 ml.
I - 4. Saringan 6,3 mm (1/4”) dan 9,5 mm (3/8”).
5. Termometer.
6. Air suling dengan pH 6,0 – 7,0.
7. Spatula.

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 41
2. Bahan yang Digunakan
Sampel merupakan agregat yang lolos saringan 9,5 mm (3/8”)
dan tertahan pada saringan 6,3 mm (1/4”), sebanyak 100 gram.

1.5.4. Prosedur Percobaan


A. Diagram Alir Prosedur
Gambar 1.6 Flow Chart Pengujian Kelekatan Agregat terhadap Aspal.

LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

B. Uraian Prosedur
a. Menyaring agregat yang lolos saringan 9,5 mm (3/8”) dan
tertahan pada saringan 6,3 mm (1/4”), sebanyak 100 gram.
b. Mencuci agregat dengan air suling. Kemudian mengeringkan
pada suhu 135-149o C hingga beratnya tetap.
c. Memasukkan sampel ke dalam wadah. Memanaskan wadah
yang berisi sampel yang telah diberi aspal sebanyak 50,5 ±
0,2 gr, selama 1 jam dalam oven. Mengaduk sampel selama ±
2 menit.
d. Memasukkan adukan aspal dan agregat tadi ke dalam oven
pada suhu 60ºC selama 2 jam. Setelah 2 jam, mengeluarkan
adukan beserta wadahnya dari oven dan mengaduknya lagi
hingga dingin (suhu ruang).
e. Memindahkan sampel yang sudah terselaput aspal ke dalam
tabung gelas kimia 600 ml. Segera menambahkan air suling
I - sebanyak 400 ml dan membiarkannya pada suhu ruang
selama 16 hingga 18 jam.
f. Memeriksa luas permukaan sampel yang sudah terselaput
aspal dengan memperkirakan luas permukaan sampel yang

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 43
terselimuti telah aspal.

1.5.5. Spesifikasi Pengujian


Tabel. 1.12. Data spesifikasi kelekatan agregat terhadap aspal.
Spesifikasi
Percobaan
Minimum Maksimum

Kelekatan agregat terhadap aspal 95% 100%

1.5.6. Data Pengujian


Tabel 1.13 Pengujian kelekatan agregat terhadap aspal.

Nomor % Kelekatan

1 > 95

2 > 95

3 > 95

4 > 95

5 > 95

6 > 95

7 > 95

8 > 95

9 > 95

10 > 95

Rata-rata > 95
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.5.7 Analisa Data


Dari hasil pengujian diperoleh nilai kelekatan aspal > 95% sebesar
100% ,sehingga diperoleh nilai kelekatan rata-rata agregat terhadap aspal
sebasar > 95 %.

1.5.8 Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan kelekatan agregat terhadap aspal di
Laboratorium Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin, diperoleh nilai kelekatan rata-rata sebesar > 95 %.
Benda uji yang digunakan dalam pemeriksaan kelekatan agregat
terhadap aspal memenuhi spesifikasi (lihat pada Tabel 1.13), nilai kelekatan
yang disyaratkan minimal 95 %.

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 45
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.6. PENGUJIAN KEKUATAN AGREGAT TERHADAP TUMBUKAN


( Aggregate Impact Value ).
1.6.1. Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan nilai kekuatan agregat
terhadap tumbukan.

1.6.2. Teori Ringkas


Salah satu metode yang dikembangkan untuk menguji kekuatan
batuan terhadap beban lalu lintas adalah dengan melakukan simulasi
I - pemberian beban terhadap suatu sampel agregat dengan cara ditumbuk
(impact). Prisipnya adalah sampel agregat ditumbuk dengan alat khusus
selama beberapa waktu. Agregat yang hancur kemudian ditimbang dan
dibandingkan dengan berat semula sampel. Perbandingan ini merupakan

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 47
nilai dari aggregate impact value (AIV).
Proses penumbukan ini adalah proses dasar pembuatan agregat di
aggregat crushing plant. Biasanya beban tumbukan ini dikombinasikan
dengan beban tekanan (crushing) baik dari arah lateral maupun aksial.
Beban tumbukan yang diterima oleh agregat pada konstruksi jalan dimulai
dari aggregat crushing plant. Kemudian di laboratorium selain melalui
pengujian ini juga pada pembuatan campuran aspal dan agregat dalam mix
design.
Rumus :
B
AIV = x100 %
A .......................................................... (1.11)
Keterangan :
AIV = Aggregate impact value (%).
A = Berat awal sampel (gram).
B = Berat sampel lolos saringan No.8 (gram).

1.6.3. Alat dan Bahan yang Digunakan


1. Alat yang Digunakan
a. Saringan 1/2”, 3/8”, dan No.8.
b. Aggregate impact machine.
c. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram.
d. Talam- talam.
2. Bahan yang Digunakan
Agregat yang lolos pada saringan 1/2” dan tertahan pada saringan
3/8” sebanyak 1000 gram.
Menyaring agregat sebanyak 1000 gram, dengan menggunakan saringan 1/2" dan 3/8".
numbuk kemudian mengatur ketinggian palu agar jarak antara bidang kontak palu dengan permukaan sampel 380 ? 5
Menyiapkan alat :
Menyiapkan bahan :
Persiapan

Saringan : 1/2", 3/8" danLAPORAN


No.8. LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI
Menyaring agregat yang lolos saringan 1/2" dan tertahan 3/8" sebanyak 1000 gram
Aggregate impact machine
Timbangan
Talam-talam

1.6.4.1.1.1.1. Prosedur Percobaan


1. Diagram Alir Prosedur

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 49
nyaring sampel dengan
Gambar
pengujian saringan
1.7. No. 8,
Flow chart kemudianaggregate
pengujian menimbangimpact
yang lolos dari saringan No.8.
value
at palu pada posisi semula dan melepaskan kembali (jatuh bebas). Melakukan tumbukan sebanyak 15 kali dengan ten
hasil

4e657720526f02004f006c006500500072006500730030003000300000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Analisa
Proses

2. Uraian Prosedur
a. Memasukkan sampel dalam cup (cylindrial steel cup)
sedemikian rupa hingga tidak melebihi tinggi cup (50 mm).
Memasukkan sampel ke dalam dengan sedikit menekan lalu
memadatkannya dengan tangan.
b. Meletakkan aggregate impact machine pada lantai dasar yang
keras.
c. Meletakkan cup berisi sampel pada tempatnya dan
memastikan letak cup sudah baik dan tidak akan bergeser
akibat tumbukan palu.
d. Mengatur ketinggian palu agar jarak antara bidang kontak
palu dengan permukaan sampel 380 ± 5mm.
e. Melepaskan pengunci palu dan biarkan palu jatuh bebas ke
sampel. Mengangkat palu pada posisi semula dan melepas
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

kembali (jatuh bebas). Melakukan tumbukan sebanyak 15


kali dengan selisih waktu penumbukan tidak lebih dari satu
detik.
f. Setelah selesai, kemudian menyaring benda uji dengan
saringan No.8 dan menimbang berat yang lolos dengan
ketelitian 0,1 gram.
g. Menghitung nilai AIV dengan rumus :
B
AIV = x100 %
A
Keterangan :
AIV = Aggregate impact value (%).
A = Berat awal sampel (gram).
B = Berat sampel lolos saringan No.8 (gram).

1.6.4.1.1.1.2. Data Pengujian


Tabel. 1.14 Data pengujian aggregate impact value (AIV)

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 51
Berat (gram)
Item Pengujian
Sampel I Sampel II

Berat sampel (A) 500.00 500.00


Berat sampel setelah penekanan dan lewat
45,80 40,80
saringan 2,36 mm (B)
Berat sampel setelah penekanan dan tertahan
454,20 459,20
saringan 2,36 mm
B
Aggregate impact value = ( ) x 100 % 9,16% 8,16%
A
Rata-rata AIV (%) 8,66%

1.6.4.1.1.1.3. Analisa Data


A. Pengujian 1
B
x 100 %
a. Nilai AIV =
A

45,80
x 100 %
= 500,00
= 9,16 %

B. Pengujian 2
B
x 100 %
b. Nilai AIV =
A

40,80
x 100 %
= 500,00
= 8,16 %

C. Rata - rata
9,16% + 8,16%
c. Nilai AIV rata-rata = 2
= 8,66 %
LAPORAN LABORATORIUM REKAYASA TRANSPORTASI

1.6.4.1.1.1.4. Kesimpulan

Dari hasil pemeriksaan Aggregate impact value (AIV) agregat kasar


di Laboratorium Rekayasa Transportasi Jurusan Sipil Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin, diperoleh nilai Aggregate impact value (AIV)
rata-rata sebesar 8,66 %.
Spesifikasi mengisyaratkan nilai AIV < 10% baik untuk lapisan
permukaan, sedangkan nilai AIV > 35% tidak baik untuk lapisan
permukaan. Jadi, benda uji yang digunakan dalam pemeriksaan AIV baik
digunakan sebagai lapisan permukaan.

I -

KELOMPOK XIII ( Nurul,Nhieta,Ismail,Taufik)


I - 53