Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RESPIRATORY


DISTRESS SYNDROME (RDS) DI RUANG PERINATOLOGI RSD Dr.
SOEBANDI JEMBER

oleh
Nikmatul Khoiriyah, S. Kep
NIM 122311101075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN RESPIRATORY
DISTRESS SYNDROME (RDS)
Oleh: Nikmatul Khoiriyah NIM 122311101075

1. Definisi
Sindrom Gagal Nafas (dulu disebut Penyakit Membran Hialin) adalah suatu
keadaan dimana kantung udara (alveoli) pada paru-paru bayi tidak dapat tetap terbuka
karena tingginya tegangan permukaan akibat kekurangan surfaktan (Leifer, 2015).
Agar bayi bisa bernafas dengan bebas, setelah lahir, alveoli harus tetap terbuka dan
terisi dengan udara. Alveoli bisa terbuka lebar karena adanya suatu bahan yang
disebut surfaktan. Surfaktan dihasilkan oleh sel-sel di dalam alveoli dan berfungsi
menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan dihasilkan oleh paru-paru yang matang,
yaitu pada kehamilan 34-37 minggu.

Gambar 1. Bayi dengan Respiratory Distress Syndrome

2. Etiologi
Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur,
asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress Syndrome
(RDS) disebut juga Hyaline Membran Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi
prematur, yang disebabkan defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa
gestasi kurang. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur (Leifer, 2015).

3. Patofisiologi
RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat
yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran
nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24
minggu dan mencapai max pada minggu ke 37 (Leifer, 2015). Zat ini terdiri dari
fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan
permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara
fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya
ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan
asam laktat asam organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam
alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan
membrane hialin.

Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan


aliran darah keparu, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang
pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan
adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.

4. Manifestasi Klinis
Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :
a. Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per menit.
b. Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96
jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik.
c. Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
d. Grunting : suara merintih saat ekspirasi
e. Pernapasan cuping hidung
Evaluasi Respiratory Distress Skor Down:
Pemeriksaan 0 1 2
Frekuensi Nafas < 60x/menit 60-80 x/menit >80x/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis hilang dengan Sianosis menetap
Sianosis Tidak sianosis
O2 walaupun diberi O2
Penurunan ringan udara Tidak ada udara
Air Entry Udara masuk
masuk masuk
Dapat didengar dengan Dapat didengar tanpa
Merintih Tidak merintih
stetoskop alat bantu

Evaluasi Respiratory Distress Skor Downe


Skor < 4 Gangguan pernafasan ringan
Skor 4 – 6 Gangguan pernafasan sedang
Skor > 7 Ancaman gagal nafas (pemeriksaan gas darah harus dilakukan)
Gambar 2. Table Score Down

5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress Pernafasan
Pemeriksaan Kegunaan
Kultur darah Menunjukkan keadaan bakteriemia
Analisis gas darah
Menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam
basa
Glukosa darah Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia
dapat menyebabkan atau memperberat takipnea
Rontgen toraks Mengetahui etiologi distress nafas
Darah rutin dan Leukositosis menunjukkan adanya infeksi
hitung jenis Neutropenia menunjukkan infeksi bakteri
Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis
Pulse oximetry Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen

6. Komplikasi
Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi :
a. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi
dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea,
atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
b. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang
memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni.
Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena,
kateter, dan alat-alat respirasi.
c. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan
intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi
terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.
d. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan
komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi
surfaktannya.
e. Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen,
tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya
oksigen yang menuju ke otak dan organ lain.

Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :


a. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik
yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36
minggu. BPD berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan yang
digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik, adanya infeksi,
inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD meningkat dengan
menurunnya masa gestasi.
b. Retinopathy premature : Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-
70% bayi yang berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.
7. Penatalaksanaan
Menurut Leifer (2015) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk mengatasi
masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.

Penatalaksanaan secara umum :


a. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling
sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
1) Pantau selalu tanda vital
2) Jaga patensi jalan nafas
3) Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
b. Jika bayi mengalami apneu
1) Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
2) Lakukan penilaian lanjut
c. Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar gula darah
e. Pemberian nutrisi adekuat

Penatalaksanaan medis:
1. Resiko terjadinya sindroma gawat pernafasan bisa dikurangi jika
persalinan bisa ditunda sampai paru-paru bayi telah mampu menghasilkan
surfaktan dalam jumlah yang memadai.
2. Jika kemungkinan akan terjadi persalinan prematur, maka dilakukan
amniosentesis untuk mengetahui kadar surfaktan.
3. Jika diperkirakan bahwa paru-paru bayi belum matang dan persalinan
tidak dapat ditunda, maka diberikan kortikosteroid kepada ibu minimal 24
jam sebelum waktu perkiraan persalinan.
4. Kortikosteroid akan melewati plasenta dan merangsang pembentukan
surfaktan oleh paru-paru janin.
5. Setelah persalinan, kepada bayi yang menderita sindroma ringan hanya
perlu diberikan oksigen. Pada sindroma yang lebih berat mungkin perlu
didukung oleh ventilator dan obat surfaktan.
6. Obat surfaktan sangat menyerupai surfaktan yang asli dan dapat diteteskan
langsung ke dalam trakea bayi melalui suatu selang.
7. Obat ini bisa memperbaiki angka kelangsungan hidup bayi dengan cara
mengurangi beratnya sindroma dan resiko terjadinya komplikasi.
8. Untuk mencegah terjadinya sindroma pada bayi yang sangat prematur,
obat surfaktan bisa diberikan segera setelah bayi lahir atau diberikan
ketika tanda-tanda terjadinya gejala mulai terlihat.
9. Pengobatan bisa dilanjutkan selama beberapa hari sampai bayi mulai
menghasilkan surfaktan sendiri.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Identitas pasien yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai,
status pendidikan, dan pekerjaan pasien/asuransi kesehatan.
Identitas bayi lebih berfokus pada bayi yang lahir sebelum gestasi <37
minggu, berat badan 1000-2000 gram
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Pasien dengan RDS didapatkan keluhan seperti sesak, pernapasan cepat,
mengorok ekspiratori, pernapasan cuping hidung, lemah, lesu, apneu, tidak
responsive, penurunan bunyi napas.
b) Riwayat Penyakit Saat Ini
Sesak nafas dan pernafasan cepat, frekuensi pernafasan > 60x/menit, pernafasan
cepat dan dangkal timbul 6-8 jam pertama setelah kelahiran dan gejala karak
mulai terlihat pada umur 24-72 jam.
Pada pasien RDS, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih,
dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot menurun, edema
terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/ epigastrik/
intercosta, grunting expirasi.
c) Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan paru-paru yang
imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfactan, lahir premature dengan
operasi Caesar serta penurunan suplay oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi
matur atau premature, atelektasis, diabetes mellitus, hipoksia, asidosis.

d) Riwayat Maternal
Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti
perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang
memiliki riwayat sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta tidak
memperhatikan gizi yang baik bagi janin).
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang terkena penyakit -penyakit
yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran premature / Caesar sehinnga
menimbulakan membrane hyialin disease. Biasanya keluarga memiliki riwayat
penyakit DM atau hipertensi.

3. Genogram
Genogram tiga generasi, Identifikasi penyakit yang pernah di derita / sedang di
derita keluarga, riwayat penyakit keturunan, penyakit ensefalitis yang diderita
keluarga.

4. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu
tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi
terhadap terjadinya asidosis metabolik, frekuensi nafas yang sangat lambat dan
ireguler sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang
merupakan tanda memburuknya keadaan klinik.Meningkatnya usaha nafas
ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi dinding dada, yang sering
dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan kepala ke
atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan
mekanik usaha pernafasan.

b. B2 (Blood)
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran
sirkulasi perifer nadi yang tidak adekuat dan tidak teraba pada satu sisi
menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada
daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya
bercak, pucat dan sianosis (Adun, 2012).
a) B3 (Brain)
Integritas ego meliputi letargi, gelisah, otot muka tegang, euphoria. Neurosensori
meliputi gangguan sensori, kelemahan dan kenaikan tekanan pada pembuluh
darah cerebral, imobilitas, flaciditas, penurunan suhu tubuh.
b) B4 (Bladder)
Pada ginjal terjadi penurunan produksi atau laju filtrasi glomerulus, terjadi
perubahan eliminasi urin: oliguri
c) B5 (Bowel)
Pasien biasanyan mual dan muntah, anoreksia akibat pembesaran vena dan statis
vena di dalam rongga abdomen, serta penurunan berat badan. Dan penurunan
motilitas usus.
d) B6 (Bone)
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak
(mottled) , tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.

6. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan rongten dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi
diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar
- Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.
b) Data laboratorium
- Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan amnion
(untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS)
 Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2:1 atau lebih mengindikasikan maturitas
paru
 Phospatidyglicerol: meningkat saat usia gestasi 35 minggu
 Tingkat phosphatydylinositol
- Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari 60
mmHg, saturasi oksigen 92% – 94%, pH 7,31 – 7,45
- Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel
alveolar yang rusak
7. Diagnosa Keperawatan
a. Hambatan pertukaran gas berhubungan dengan imaturitas paru dan
neuromuskular, defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar.
b. ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi
jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas
c. Hipotermi berhubungan dengan imaturitas organ termoregulasi kulit
d. ketidakefektifan pola makan bayi berhubungan dengan ketidakmampuan
menghisap, penurunan motilitas usus.
e. Penurunan koping keluarga berhubungan dengan ansietas, perasaan bersalah,
dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis
f. Resiko infeksi berhubungan dengan pemaparan agen infeksius

8. Intervensi
DX 1 : Gangguan pertukaran gas b.d imaturitas paru dan neuromuskular, defisiensi
surfaktan dan ketidakstabilan alveolar.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola
nafas efektif.
Kriteria hasil :
Jalan nafas bersih
Pernapasan 40-60 x/mnt
Takipneu atau apneu tidak ada
Sianosis tidak ada
Intervensi Rasionalisasi
Posisikan pasien untuk memaksimalkan untuk mencegah adanya penyempitan jalan
ventilasi nafas.
Identifikasi pasien perlunya pemasangan karena akan membantu membuka jalan
alat jalan nafas bantuan nafas
Monitor rata-rata , irama dan suara nafas Untuk mengetahui keedalaman nafas pasien
pasien
Keluarkan sekret dengan batuk atau menghilangkan mukus yang terakumulasi
section dari nasofaring, trakea, dan selang
endotrakeal
Monitor pola nafas memastikan bahwa jalan napas bersih
KIE keluarga terkait pemasangan alat Menambah pengetahuan pasien
bantu

Kolaborasi pemberian bronkodilator bila menilai fungsi pemberian surfaktan


perlu

DX 2 : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan
nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai
dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan
atau tanpa sputum, sianosis
Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam terdapat perilaku peningkatan keefektifan jalan
napas.
Kriteria hasil : Bunyi napas terdengar bersih, ronkhi tidak terdengar, tracheal tube
bebas sumbatan, menunjukkan batuk yang efektif, tidak ada lagi penumpukan sekret
di saluran pernapasan.
Intervensi Rasional
Kaji keadaan jalan napas Obstruksi mungkin dapat disebabkan oleh
akumulasi sekret, sisa cairan mucus,
perdarahan, bronkhospasme, dan/atau posisi
dari endotracheal/tracheostomy tube yang
berubah.
Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi Pengembangan dada dapat menjadi batas dari
suara napas pada kedua paru (bilateral). akumulasi cairan dan adanya cairan dapat
meningkatkan fremitus
Catat karakteristik dari suara nafas Suara nafas terjadi karena adanya aliran
udara melewati batang tracheo branchial dan
juga karena adanya cairan, mukus atau
sumbatan lain dari saluran nafas
Catat adanya batuk Karakteristik batuk dapat merubah
ketergantungan pada penyebab dan etiologi
dari jalan nafas. Adanya sputum dapat dalam
jumlah yang banyak, tebal dan purulent
Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas
dan gunakan jalan nafas tambahan bila dengan paten
perlu
Atur/ubah posisi pasien secara teratur Mengatur pengeluaran sekret dan ventilasi
(tiap 2jam). segmen paru-paru, mengurangi risiko
atelektasis.
Peningkatan oral intake jika Membantu pengenceran sekret,
memungkinkan mempermudah pengeluaran sekret.
Berikan oksigen, cairan IV ; tempatkan Mengeluarkan sekret dan meningkatkan
di kamar humidifier sesuai indikasi transport oksigen
Kolaborasi pemberian therapi aerosol, Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan
ultrasonik nabulasasi mengeluarkan sekret
Berikan fisiotherapi dada misalnya : Meningkatkan drainase sekret paru,
postural drainase, perkusi dada/vibrasi peningkatan efisiensi penggunaan otot-otot
jika ada indikasi pernafasan
Kolaborasi obat-obat bronchodilator Mengatur ventilasi dan melepaskan sekret
sesuai indikasi seperti aminophilin, karena relaksasi muscle/bronchospasme.
meta-proterenol sulfat (alupent),
adoetharine hydrochloride (bronkosol).

DX 3 : ketidakefektifan pola makan bayi berhubungan dengan ketidakmampuan


menghisap, penurunan motilitas usus.
Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam intake nutrisi sesuai kebutuhan
Kriteria hasil : kebutuhan asi terpenuhi, tidak ada penurunan BB, reflek hisap
meningkat
Intervensi Rasional
Monitor kemampuan bayi menghisap Mengetahui kemampuan reflek hisap bayi
Diskusikan penggunakan pompa asi jika Memenuhi kebutuhan asi bayi
bayi tidak mampu menyusu
Instruksikan ibu untuk makan makanan Meningkatkan produksi asi
bergizi selama menyusui
Kolaborasi pemasangan OGT Menyiapkan alat bantu untuk bayi tetap
dapat terpenuhi asinya
KIE keluarga terkait pemasangan OGT Menjelaskan fungsi pemasangan OGT

DX 5 : penurunan koping keluarga berhubungan dengan ansietas, perasaan bersalah,


dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam keluarga pasien telah mengerti kondisi pasien
Kriteria hasil :
Rasa bersalah dan cemas berkurang
Intervensi Rasional
Kaji respon verbal dan non verbal Hal ini akan membantu mengidentifikasi
orangtua terhadap kecemasan dan dan membangun strategi koping yang
penggunaan koping mekanisme efektif
Bantu orangtua mengungkapkan Membuat orangtua bebas mengekpresikan
perasaannya secara verbal tentang perasaannya sehingga membantu menjalin
kondisi sakit anaknya, perawatan yang rasa saling percaya, serta mengurangi
lama pada unit intensive, prosedur dan tingkat kecemasan
pengobatan infant
Berikan informasi yang akurat dan Informasi dapat mengurangi kecemasan
konsisten tentang kondisi perkembangan
infant
Bila mungkin, anjurkan orangtua untuk Memfasilitasi proses bounding
mengunjungi dan ikut terlibat dalam
perawatan anaknya

DX 6: Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya


lapisan lemak pada kulit.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu
tubuh tetap normal.
Kriteria hasil :
Bayi tidak kedinginan, suhu normal
Intervensi Rasional
Tempatkan bayi pada tempat yang Mencegah terjadinya hipotermi
hangat
Atur suhu incubator Menjaga kestabilan suhu tubuh
Pantau suhu tubuh setiap 2 jam Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi

DX 7: Resiko infeksi berhubungan dengan pemaparan agen infeksius


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan tanja
gejala infeksi hilang
Kriteria hasil :
tidak ada gejala infeksi, lingkungan bersih
Intervensi Rasional
Monitor adanya tanda gejala infeksi Mengetahui adanya gejala
Berikan lingkungan yang bersih Mencegah nfeksi
Batasi pengunjung Mencegah penyebaran bakteri
Cuci tangan disetiap tindakan Mencegah penyebaran bakteri
keperawatan
Pertahankan lingkungan antiseptik Mempertahankan lingkungan bersih dan
aman
Kolaborasi pemberian antibiotik Menmbunuh bakteri yang telah berada
dalam tubuh
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, et al. 2017. Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi Keenam


Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Bulechek, et al. 2017. Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi Keenam


Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Leifer, Gloria. 2015. Introduction to Maternity and Pediatric Nursing. Edisi 7. United
Sates of America: Elsevier.

Moorhead, S., et al. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC). United Sates of
America: Elsevier.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.
NANDA. 2018. Diagnosa Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017, Edisi 10.
Jakarta: EGC.
Surasmi, Asrining , dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC
PATHWAY

Tindakan
RDS
medis/perawatan

Bayi dirawat diruang Paru belum


Resiko Lapisan lemak
rawat bayi matur
infeksi belum terbentuk

Ibu terpisah dari bayi


Fungsi paru tidak
adekuat hipotermi

Penurunan
koping keluarga Surfaktan kurang

Alveoli mengempis

Tidak dapat Peningkatan


takipneau
terjadi pertukaran sekret pulmonal
gas

Reflek hisap Ketidakefektifan


menurun bersihan jalan
Hambatan
nafas
pertukaran gas
Intake tidak
adekuat

Ketidakefektifan
pola makan bayi