Anda di halaman 1dari 11

Makalah Kenakalan Remaja

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku
menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat
penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social
yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat
membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara
tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak
melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya


perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku
kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang
disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami
bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia
tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker (dalam Soerjono Soekanto,1988,26),
mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang
mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap
manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa
pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang
dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk
menyimpang.
Masalah sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang “Kenakalan Remaja” bisa
melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui
pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai
masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang
perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa
perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Perilaku
disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan
lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara
seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan”
dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.
Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan
menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu, kondisi kehidupan
lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang
diserap. Salah satu variasi dari teori yang menjelaskan kriminalitas di daerah perkotaan, bahwa
beberapa tempat di kota mempunyai sifat yang kondusif bagi tindakan kriminal oleh karena
lokasi tersebut mempunyai karakteristik tertentu, misalnya (Eitzen, 1986 : 400), mengatakan
tingkat kriminalitas yang tinggi dalam masyarakat kota pada umumnya berada pada bagian
wilayah kota yang miskin, dampak kondisi perumahan di bawah standar, overcrowding, derajat
kesehatan rendah dari kondisi serta komposisi penduduk yang tidak stabil. Penelitian inipun
dilakukan di daerah pinggiran kota yaitu di Pondok Pinang Jakarta Selatan tampak ciri-ciri
seperti disebutkan Eitzen diatas. Sutherland dalam (Eitzen,1986) beranggapan bahwa seorang
belajar untuk menjadi kriminal melalui interaksi. Apabila lingkungan interaksi cenderung devian,
maka seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilai-
nilai devian yang pada gilirannya akan memungkinkan untuk menumbuhkan tindakan kriminal.
Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang
bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber
masalah. Dikatakan oleh (Eitzen, 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh
karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada
umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial
menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah,
sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam
masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan
surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena
tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut
yaitu “Kenalakan Anak Remaja”.

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui gambaran mengenai remaja kenakalan remaja
2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalana remaja
3. Untuk mengetahui penyebab timbulnya kenakalan remaja
4. Cara mengatasi kenakalan remaja
D. Manfaat Penulisan
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khusunya bagi penulis umumnya untuk seluruh
pembaca.

E. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan metode studi pustaka
dimnana data-data diperoleh dati buku-buku dan melalui internet.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Kenakalan Remaja


Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang
tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 :
93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka
menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat,
sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut
“kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan
remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar
norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani
proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-
kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan
perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja
merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-
kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa
lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma
terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri,
dan sebagainya.
Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja
digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1)
kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga
tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat
melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang
berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut
bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1)
kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah
tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti
mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus
seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di
atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.
Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah
dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa
perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta
sosial yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu
kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian
perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam
masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu
perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu
perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

B. Pembagian Masa Perkembangan Remaja


1. Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada
anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini,
terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai
berkembangnya organ- organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja.
Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada fase ini.
Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu
segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan
terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta
menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala
yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan
hidup pujaan tersebut.
Selain itu, pada masa ini remaja juga cenderung lebih berani mengutarakan keinginan
hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan
pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi oleh orang tua sebagai
pembangkangan. Remaja tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil lagi. Mereka lebih senang
bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga
semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna,
maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir
ke tempat lain selepas sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk
bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-
teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada
bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
2. Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu
menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu
menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi
sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat.
Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan
datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya
mimpi basah yang pertama.
Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus
mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika
hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal
pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak
diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual.
Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan
seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang
lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa
ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat
peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.
3. Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat
menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena
tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat.
Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses
kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan
fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum
tercapai sepenuhnya.
4. Periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi
fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak
dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai
menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap
kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah
kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
C. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja
Berdasarkan data di lapangan dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan
remaja sebagai salah satu perilaku menyimpang adalah mereka yang berumur antara 13
tahun-21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur antara 18 tahun-21 tahun.
1. Berbohong
2. Pergi keluar rumah tanpa pamit
3. Keluyuran
4. Begadang
5. Membolos sekolah
6. Berkelahi dengan teman
7. Berkelahi antar sekolah
8. Buang sampah sembarangan
9. Membaca buku porno
10. Melihat gambar porno
11. Menonton film porno
12. Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM
13. Kebut-kebutan/mengebut
14. Minum-minuman keras
15. Kumpul kebo
16. Hubungan sex diluar nikah
17. Mencuri/ Mencopet
18. Narkoba
19. Menodong
20. Menggugurkan Kandungan
21. Memperkosa
22. Berjudi
23. Menyalahgunakan narkotika
24. Membunuh

D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Remaja


1. Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi
tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi
mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di
kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang
terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya
membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang
dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal,
kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan
menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai
gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai
modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila
timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik,
obat terlarang, dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus
dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu
cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan
ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan
kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja
hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul.
Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul
yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi
orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk
mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan
mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian
tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah
pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan
tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan
sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam
rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari.
Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan
teman yang baik.
Kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-
hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan
apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam
bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita. Sebaliknya, kriteria teman yang tidak
baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang
yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
2. Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada
anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu.
Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Masih sering terjadi
dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya
memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang
justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang
berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang
berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama
sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa
mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah
anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si
anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka
berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan
pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama
telah selesai dikerjakan.
3. Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha
menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu
luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi
waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang
positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang
negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa
iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para
remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari
orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap
iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan.
Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat
bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena
dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya
apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh
lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya
mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta
kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun
lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi
keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan,
keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas
sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan
mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula
orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan
sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja.
Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain
membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena
itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai
sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
5. Uang Saku
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang
hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat
menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang
tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan
uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh
Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang
sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk
menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya
uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang
diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:anak menjadi boros,
anak tidak menghargai uang, dan anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian
pun uang gampang.
6. Perilaku Seksual
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para
remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-
tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat
sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi
mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan
remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era
globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu.
Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam
masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak
hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita,
sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan
dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.Dalam
memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua
hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin
muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi
pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka
berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat
memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak
salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua
hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana
kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta
segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya
memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang
sesuai dengan agama.
Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap
dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh
dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan
menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus
dilakukan.

E. Kiat Mengatasi Kenakalan Anak Remaja


1. Memberikan pendidikan dasar keagaman dari sejak kecil sehingga menumbuhkan rasa malu
melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat dan Menumbuhkembangkan perasaan malu
dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan
2. Pemberdayaan untuk memperkuat keluarga melalui 3 tahapan
a. Enabling
b. Linking
c. Catalizing
d. Priming
3. Membatasi pergaulan dengan teman yang dapat menjerusmuskan ke hal-hal yang negatif
4. Keluarga hendaknya senantiasa memberikan bimbingan dan arahan kepada anaknya

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah kenakalan anak dan remaja tidak memandang tempat maupun status sosial
ekonomi, ada pada setiap lapisan masyarakat, di kota maupun di desa, pada lingkungan kaya
maupun miskin. Keluarga sebagai penyebab tidak langsung terjadinya kenakalan remaja selain
masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga, misalnya dari single earner
menjadi dual earner mengakibatkan ibu rumah tangga berkurang waktunya untuk
memperhatikan anaknya. Perubahan ini juga memberikan kontribusi pada semakin besarnya
peluang terjadinya perceraian. Fenomena empty shell juga dapat disebabkan oleh perubahan
akibat tidak langsung terjadinya kenakalan remaja, sebab kebutuhan akan rasa aman remaja
tidak terpenuhi.
Kenakalan remaja dapat difahami melalui lima model pendekatan, yaitu model
konstitusional, yang memahami remaja dari perkembangan fisiologis dan biologis; model krisis
identitas untuk memahami kesulitan remaja dalam menemukan jati dirinya; model kebutuhan
yang memahami remaja dari kondisi pemenuhan kebutuhan dasar manusia; model belajar
sosial untuk memahami bagaimana perilaku remaja sebagai hasil belajar dari lingkungannya;
dan model stress untuk memahami bagaimana kemampuan remaja dalam mengatasi stress
(coping ability).
Keluarga, bagaimanapun merupakan sumber terjadinya masalah kenakalan remaja,
akan tetapi keluarga juga merupakan sumber untuk mencegah dan mengatasi kenakalan
remaja. Hal ini sejalan dengan aliran konservatif yang menganggap bahwa keluarga, utamanya
yang memiliki orang tua lengkap, merupakan institusi yang sangat penting sebagai tempat anak
untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang memadai dengan menerapkan nilai dan moralitas
yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

B. Saran
1. Memberikan pendidikan dasar agama dan moral dari sejak kecil kepada anak
2. Membatasi pergaulan dengan teman-teman yang dapat menjerumuskan ke dalam hal-hal
negatif
3. Pihak Sekolah memberikan bimbingan konseling terhadap para siswanya