Anda di halaman 1dari 25

68

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tentang hubungan tingkat

kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pada penderita TB paru di UPT

Puskesmas Mantup Kab. Lamongan. Hasil penelitian dikelompokan menjadi data

umum dan data khusus. Data umum menjelaskan karakteristik responden yang

meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan akan disajikan dalam bentuk tabel.

Data khusus adalah data tentang hubungan antara tingkat kecemasan dengan

tingkat kualitas hidup pada penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup Kab.

Lamongan

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Data Umum

1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur responden

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur


responden di UPT Puskesmas Mantup Kab.
Lamongan
Umur Frekuensi Prosentase (%)
≤ 30 tahun 8 16,3
31 – 40 tahun 11 22,4
41 – 50 tahun 8 16,3
> 50 tahun 22 44,9
Total 49 100
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.1 di atas didapatkan data bahwa sebagian

kecil/hampir setengah dari responden berumur >50 tahun yaitu

sebanyak 22 responden (44,9%).


69

2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin responden

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis


kelamin responden di UPT Puskesmas Mantup Kab.
Lamongan
Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase (%)
Laki-laki 25 51,0
Perempuan 24 49,0
Total 49 100.0
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.2 di atas didapatkan data bahwa sebagian

besar dari responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 25

responden (51,0%).

3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan responden

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan


pendidikan responden di UPT Puskesmas Mantup
Kab. Lamongan
Pendidikan Frekuensi Prosentase (%)
SD/MI 23 46,9
SLTP/ SMP/MTS 11 22,4
SLTA/SMA/MA 15 30,6
Sarjana 0 0,0
Total 49 100.0
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.3 di atas didapatkan data bahwa sebagian

kecil/hampir setengah dari responden berpendidikan SD/MI yaitu

sebanyak 23 responden (46,9%).


70

4.1.2 Data Khusus

1. Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada penderita TB paru di


UPT Puskesmas Mantup Kab. Lamongan

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada


penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup Kab.
Lamongan
Tingkat Kecemasan Frekuensi Prosentase (%)
Normal 16 32,7
Ringan 10 20,4
Sedang 11 22,4
Parah 6 12,2
Sangat Parah 6 12,2
Total 49 100.0
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.4 di atas didapatkan data bahwa tingkat

kecemasan pada penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup Kab.

Lamongan sebagian kecil/hampir setengah dari responden yaitu

normal dengan frekuensi 16 responden ( 32,7 %).

2. Distribusi frekuensi tingkat kualitas hidup pada penderita TB paru di


UPT Puskesmas Mantup Kab. Lamongan

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi tingkat kualitas hidup pada


penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup Kab.
Lamongan
Tingkat Kualitas Hidup Frekuensi Prosentase (%)
Tinggi 31 63,3
Rendah 18 36,7
Total 49 100.0
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.5 di atas didapatkan data bahwa tingkat

kualitas hidup pada penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup

Kab. Lamongan sebagian besar dari responden yaitu tinggi dengan

frekuensi 31 responden (63,3 %).


71

3. Tabulasi silang hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat


kualitas hidup pada penderita TB paru di UPT Puskesmas Mantup
Kab. Lamongan

Tabel 4.6 Tabulasi Silang hubungan antara tingkat kecemasan


dengan tingkat kualitas hidup pada penderita TB
paru di UPT Puskesmas Mantup Kab. Lamongan
Tingkat Kualitas Hidup
Tingkat Kualitas Hidup Kualitas Hidup Total
Kecemasan Tinggi Rendah
F (%) F (%) F (%)
Normal 8 50,0 8 50,0 16 100
Rendah 6 60,0 4 40,0 10 100
Sedang 7 63,6 4 36,4 11 100
Parah 5 83,3 1 16,7 6 100
Sangat Parah 5 83,3 1 16,7 6 100
Total 31 63,3 18 36,7 49 100
p = 0,083 α = 0,05
Sumber: Data primer tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa setengah dari

16 responden yang mempunyai Tingkat Kecemasan Normal

memiliki Tingkat Kualitas Tinggi dan Rendah yang sama yaitu

sebanyak 8 responden (50,0%) dan hampir seluruh dari 6 responden

yang mempunyai Tingkat Kecemasan Parah dan Sangat Parah sama

sama memiliki Tingkat Kualitas Hidup Tinggi yaitu sebanyak 5

responden (83,3%).

Hasil uji spearman rho dengan menggunakan SPSS didapatkan

nilai signifikasi = 0,083. Ketentuan α = 0,05 dimana H0 ditolak jika

Sig. (2-tailed) < α atau H0 diterima jika Sig. (2-tailed) > α. Karena

sig. (2-tailed) 0,083 > α 0,05 maka H0 diterima artinya tidak terdapat

terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat kualitas


72

hidup pada penderita TB Paru di UPT Puskesmas Kecamatan

Mantup Kabupaten Lamongan.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Tingkat Kecemasan

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa sebagian besar dari

responden mempumyai tingkat kecemasan yaitu normal sebanyak 16

responden (32,7%).

Kecemasan adalah emosi, perasaan yang timbul sebagai respon

awal terhadap stres psikis dan ancaman terhadap nilai-nilai yang berarti

bagi individu (Azizah, L.M., Zainuri, I., & Akbar, A., 2016). Penyakit

TB masih menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar, karena jika salah

satu anggota keluarganya ada yang menderita TB maka kemungkinan

akan sangat berpengaruh pada anggota keluarga lain, salah satunya

timbulnya kecemasan pada pasien TB terhadap adanya penularan.

Selain itu, pasien TB juga mengalami gangguan pola tidur karena batuk

dan sesak napas. Dari tanda dan gejala tersebut dapat menimbulkan

kecemasan (Andika, S., 2016).

Hasil analisa data menunjukkan bahwa sebagian besar dari jumlah

responden yang memiliki tingkat kecemasan normal, merasa tidak

cemas dengan tanda–tanda penyakit yang dialaminya dan yakin bahwa

penyakit yang dideritanya akan sembuh, meskipun harus menjalani

lama pengobatan selama 6 bulan.


73

Adapun faktor–faktor lain yang dapat dikaitkan yaitu umur, jenis

kelamin, dan pendidikan. Sebagian besar dari responden berumur >50

tahun yaitu sebanyak 22 responden (44,9%). Umur adalah umur

individu yang terhitung mulai dari dilahirkan sampai berulang tahun

(Nursalam, 2003 dalam Yeti, A., dkk, 2015; 39). Semakin cukup umur,

tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam

berfikir. Semakin produktif umur maka pengetahuan seseorang juga

semakin baik (Yeti, A., dkk, 2015; 39). Umur merupakan salah satu

faktor internal yang berkontribusi terhadap timbulnya kecemasan pada

orang tua, Bahkan ada yang berpendapat bahwa faktor umur muda lebih

mudah mengalami cemas daripada umur tua, tetapi ada juga yang

berpendapat sebaliknya (Kaplan & Sadock dalam Soep, 2013).

Kenyataan yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan bahwa

responden berumur >50 tahun cenderung lebih memiliki tingkat

kecemasan yang normal, ini disebabkan karena semakin bertambah

umur maka seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan semakin

tua umur seseorang maka semakin konstruktif dalam menggunakan

koping, terhadap masalah yang dihadapi.

Sebagian besar dari responden berjenis kelamin laki–laki yaitu

sebanyak 25 responden (51,0%). Laki-laki lebih cenderung mengalami

kecemasan dibandingkan dengan perempuan, hal ini dikarenakan laki–

laki dirasa lebih sensitif terhadap permasalahan, sehingga mekanisme

koping laki-laki kurang baik dibandingkan perempuan (Soep, 2013).


74

Kenyataan yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan bahwa

responden berjenis kelamin laki-laki cenderung lebih memiliki tingkat

kecemasan yang normal, ini disebabkan karena laki–laki lebih dapat

mengatasi kecemasan yang dialaminya daripada perempuan, dengan

pemilihan koping yang adaptif. Laki-laki mudah cepat bergaul untuk

mendapatkan informasi dan tidak mudah untuk tergesa–gesa dalam

menyelesaikan masalah, sehingga mereka memiliki banyak solusi untuk

mengurangi kecemasan dan dapat mengelola setiap kecemasan yang

dihadapinya.

Sebagian besar dari responden berpendidikan SD/MI yaitu

sebanyak 23 responden (46,9%). Semakin tinggi pendidikan seseorang,

maka semakin mudah untuk penerimaan informasi. ini berarti semakin

tinggi pendidikan semakin tinggi pula tingkat pengetahuan seorang

maka akan lebih mengatasi dalam menggunakan koping yang efektif

dibanding tingkat pengetahuan rendah (Yeti, A., dkk, 2015; 40).

Secara umum semakin rendah pendidikan seseorang maka

semakin besar risiko memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Semakin

tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik dalam pemilihan

mekanisme koping, untuk mengatasi kecemasan yang tengah

dihadapinya. Kenyataan yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan

bahwa responden berpendidikan SD/MI cenderung lebih memiliki

tingkat kecemasan yang normal, ini disebabkan karena tingkat

pendidikan juga dipengaruhi oleh umur seseorang, meskipun


75

mempunyai tingkat pendidikan rendah, seseorang dapat mempunyai

tingkat kecemasan yang rendah, karena seseorang tersebut memiliki

banyak pengalaman hidup dalam mengelola kecemasan, dengan begitu

mekanisme koping yang dipilih sangat efektif untuk mengatasi

kecemasan yang tengah dihadapinya.

4.2.2 Tingkat Kualitas Hidup

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa sebagian besar dari

responden mempumyai tingkat kualitas hidup yang tinggi sebanyak 31

responden (63,3%).

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai

posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai

di mana mereka hidup dan dalam kaitannya denga tujuan, harapan

standar dan perhatian mereka (Nursalam, 2013; 84). Rendahnya

kualitas hidup pada responden diakibatkan adanya gangguan kesehatan

fisik yang menyebabkan terganggunya aspek – aspek kehidupan yang

lainnya. Dengan terganggunya kesehatan fisik dam pengobatan yang

cukup lama pada penderita Tuberkulosis Paru sangat mempengaruhi

pada kesehatan psikologis, keleluasaan aktivitas (pekerjaan), hubungan

sosial, dan lingkungan (Hastuti, Ina D., Setiawan, R., dan Fikri, J.,

2014).

Peningkatan kualitas hidup adalah hal yang penting sebagai

tujuan pengobatan dan merupakan kunci untuk kesembuhan penderita

TB. Sejumlah orang dapat hidup lebih lama, namun dengan membawa
76

beban penyakit menahun atau kecacatan, sehingga kualitas hidup

menjadi perhatian pelayanan kesehatan. Salah satunya lamanya proses

pengobatan, tuberkulosis yang membutuhkan waktu minimal 6 bulan

dan lingkungan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien tuberculosis

(Yunikawati, 2013 dalam Putri S, 2015). Sedangkan alasan dari tetap

rendahnya kualitas hidup pasien TB setelah masa pengobatan 6 bulan

mungkin berhubungan dengan dampak psikologi dari penyakit, dimana

terjadi isolasi dari komunitas dan keluarga yang dapat mencetus

terjadinya gangguan kesejahteraan psikologi (Mamani et al., 2014).

Hasil analisa data menunjukkan bahwa sebagian besar dari jumlah

responden yang memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, penderita TB

merasa dapat melakukan aktifitas sehari–hari dengan baik tanpa ada

keluhan yang diakibatkan oleh penyakit yang dialaminya dan lama

terapi pengobatan selama 6 bulan.

Adapun faktor–faktor lain yang dapat dikaitkan yaitu umur, jenis

kelamin, dan pendidikan. Sebagian besar dari responden yang

berumur >50 tahun yaitu sebanyak 22 responden (44,9%). Kualitas

hidup menurun seiring peningkatan umur. Penderita dengan umur

produktif merasa termotivasi untuk sembuh, mempunyai harapan hidup

yang tinggi, dan menjadi tulang punggung keluarga. Sementara,

penderita umur tua menyerahkan keputusan kepada keluarga. Tidak

sedikit dari mereka merasa sudah bosan, capek menunggu waktu,


77

sehingga kurang termotivasi dalam menjalani terapi. (Abrori, I &

Ahmad, Riris A., 2018; 58).

Berbeda dari teori, kenyataan yang terjadi pada penelitian ini

menunjukkan bahwa responden berumur >50 tahun cenderung lebih

memiliki tingkat kualitas hidup yang tinggi, ini disebabkan karena

seiring umur bertambah maka bertambah banyak pula pengalaman

hidup yang dimiliki sehingga dalam pengelolaan aktivitas atau perilaku

sehari–harinya menjadi lebih baik, serta mempunyai motivasi dan

harapan yang tinggi untuk melakukan kegiatan sehari–hari tanpa

bosan.

Sebagian besar dari responden berjenis kelamin laki–laki yaitu

sebanyak 25 responden (51,0%). Laki–laki memiliki kepatuhan lebih

rendah daripada perempuan. Kecenderungan laki-laki lebih tinggi untuk

mangkir berobat karena memiliki aktivitas lebih tinggi dalam sehari-

harinya, dan laki-laki merupakan tulang punggung keluarga yang harus

bekerja, namun laki-laki cenderung memiliki kualitas hidup lebih buruk

daripada perempuan. (Abrori, I & Ahmad, Riris A., 2018; 58).

Kenyataan yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan bahwa

responden berjenis kelamin laki-laki cenderung lebih memiliki tingkat

kualitas hidup yang tinggi, ini disebabkan laki–laki secara umum

memiliki tingkat kualitas hidup yang jauh lebih baik. Kesejahteraan

tinggi pada pria lebih terkait dengan aspek pendidikan dan pekerjaan

yang lebih baik dan layak. Dengan pekerjaan yang layak, seseorang
78

yang mempunyai pekerjaan layak memungkinkan untuk berusaha

memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik pula, dan akan

termotivasi untuk berusaha mendapatkan pelayanan kesehatan yang

jauh lebih baik.

Sebagian besar dari responden berpendidikan SD/MI yaitu

sebanyak 23 responden (46,9%). Tingkat pendidikan termasuk salah

satu faktor yang memengaruhi kualitas hidup, pengetahuan merupakan

domain untuk membentuk tindakan. Penderita berpendidikan tinggi

memiliki pengetahuan lebih luas sehingga dapat mengontrol diri dalam

mengatasi masalah yang dihadapi. (Abrori, I & Ahmad, Riris A., 2018;

59).

Secara umum kualitas hidup akan meningkat seiring dengan

tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu. Kenyataan

yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden

berpendidikan SD/MI cenderung lebih memiliki tingkat kualitas hidup

yang tinggi, ini bisa disebabkan responden karena pendidikan juga

dipengaruhi oleh bertambahnya umur seseorang. Seiring umur

bertambah maka seseorang akan mempunyai pengalaman hidup yang

lebih banyak, sehingga banyak pula yang mereka ketahui dari pada

orang yang berumur lebih muda. Seseorang yang lebih matang dalam

berfikir akan tahu bagaimana cara untuk dapat mengelola aktivitas

keseharian–hariannya, sehingga seseorang tersebut dapat menikmati

hidupnya.
79

4.2.3 Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Tingkat Kualitas

Hidup pada Penderita Paru

Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa setengah dari

16 responden yang mempunyai Tingkat Kecemasan Normal memiliki

Tingkat Kualitas Rendah yaitu sebanyak 8 responden (50,0%) dan

hampir seluruh dari 6 responden yang mempunyai Tingkat Kecemasan

Sangat Parah memiliki Tingkat Kualitas Hidup Tinggi yaitu sebanyak 5

responden (83,3%).

Pada penelitian ini tidak diperoleh hubungan tingkat kecemasan

dengan tingkat kualitas hidup pada penderita TB Paru di UPT

Puskesmas Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan dengan (r=  250

sig. (2-tailed) = 0.083 sehingga > α 0,05). Dapat diartikan bahwa tidak

terdapat hubungan yang bermakna atau signifikan dan bersifat negatif

antara hubungan tingkat kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pada

penderita TB Paru di UPT Puskesmas Kecamatan Mantup Kabupaten

Lamongan.

Faktor psikologis sendiri dapat berupa kecemasan yang bisa

menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stressor. Stressor

tersebut menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga

orang tersebut terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri

untuk menanggulanginya, dan apabila tidak dapat menanggulangi maka

akan timbul keluhan seperti cemas. Psikologis menjadi salah satu faktor

yang menentukan kualitas hidup seseorang. Penting bagi individu untuk


80

melakukan kontrol terhadap semua kejadian yang dialami dalam

hidupnya serta kesejahteraan psikologisnya, agar kualitas hidup

individu tersebut menjadi lebih baik (Suryani, A., 2016).

Dampak dari beban psikologis pada pasien Tuberkulosis paru

akan memperburuk kesehatan psikologis sehingga akan menurunkan

kualitas hidup pasien. Ketidakberdayaan pasien Tuberkulosis paru akan

menimbulkan perubahan adaptasi pada respon psikologis, sosial, dan

spiritual sehingga akan berpengaruh terhadap Quality of Life (QoL)

penderitanya (Kusnanto, dkk., 2016; 221).

Hal ini sesuai dengan penelitian Andika S. yang menyebutkan

bahwa tidak ada hubungan antara kecemasan dengan kualitas hidup

pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Perumnas II Kecamatan

Pontianak Barat dengan nilai p value = 1,000 (Andika, S., 2016).

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani A (2016).,

yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan tingkat kecemasan dengan

kualitas hidup dengan korelasi yang bernilai negatif (-0,269) dan nilai

sig. (2-tailed) = 0,041 (Suryani, A., 2016).

Kenyataan yang terjadi pada penelitian ini menunjukkan bahwa 8

responden yang memiliki tingkat kecemasan normal memiliki tingkat

kualitas hidup rendah, meskipun responden penderita TB Paru dapat

mengatasi kecemasan dengan pemilihan mekanisme koping yang

adaptif dan efektif, serta tidak cemas dengan tanda–tanda penyakit yang

dialaminya, akan tetapi hal ini tidak berpengaruh terhadap kualitas


81

hidupnya. Ini disebabkan dampak fisiologis penderita yang menjalani

masa pengobatan 6 bulan, dimana penderita mengalami pembatasan

aktivitas bekerja seperti biasanya serta terisolasi dari masyarakat dan

keluarga akibat penyakit yang dialaminya, sehingga menyebabkan

kualitas hidupnya menurun.

Sedangkan 5 responden yang memiliki tingkat kecemasan sangat

parah memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, meskipun salah satu

timbulnya kecemasan pada pasien TB disebabkan adanya penularan

terhadap anggota keluarga, serta pemilihan koping yang maldapatif.

Akan tetapi hal ini ternyata tidak berdampak pada kualitas hidupnya,

sehingga penderita TB Paru tetap bisa berfikir positif dan dapat

melakukan aktifitas sehari–hari dengan baik.

Adapun faktor–faktor lain yang dapat dikaitkan yaitu umur, jenis

kelamin, dan pendidikan.

Sebagian besar dari responden yang berumur >50 tahun yaitu

sebanyak 22 responden (44,9%). Dengan semakin cukup umur tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang maka akan lebih matang dalam

berfikir dan bagaimana cara untuk dapat mengatasi kecemasan yang

dirasakannya. (Yeti, A., dkk, 2015; 39). Sedangkan seiring peningkatan

umur maka kualitas hidup semakin menurun. Penderita dengan umur

produktif merasa termotivasi untuk sembuh, mempunyai harapan hidup

yang tinggi, dan menjadi tulang punggung keluarga. (Abrori, I &

Ahmad, Riris A., 2018; 58).


82

Kenyataan dalam penelitian ini, semakin tua umur seseorang

maka semakin konstruktif dalam menggunakan koping, terhadap

masalah yang dihadapi. Akan tetapi seseorang yang lebih tua juga dapat

mengalami tingkat kualitas hidup rendah, ini dikarenakan penderita

dengan umur yang sudah tua merasa tidak termotivasi untuk sembuh,

mempunyai harapan hidup yang rendah, dan sudah tidak menjadi tulang

punggung keluarga, penderita umur tua juga menyerahkan keputusan

kepada keluarga, sehingga tidak sedikit dari mereka merasa sudah

bosan, capek menunggu waktu, sehingga kurang termotivasi dalam

menjalani terapi, yang mengakibatkan kualitas hidupnya menurun.

Namun dalam penelitian ini juga didapatkan responden yang

mengalami tingkat kecemasan sangat parah memiliki tingkat kualitas

hidup tinggi, ini disebabkan karena umur juga merupakan salah satu

faktor internal yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada orang

tua, dan semakin bertambah umur seseorang maka kualitas hidup

individu juga semakin tinggi, ini disebabkan karena banyaknya

pengalaman yang sudah dimiliki sehingga dalam pengelolaan aktivitas

atau perilaku sehari – harinya dapat menjadi lebih baik.

Sebagian besar dari responden berjenis kelamin laki–laki yaitu

sebanyak 25 responden (51,0%). Laki-laki lebih cenderung mengalami

kecemasan dibandingkan dengan perempuan, hal ini dikarenakan laki–

laki dirasa lebih sensitif terhadap permasalahan, sehingga mekanisme

koping laki-laki kurang baik dibandingkan perempuan (Soep, 2013).


83

Laki–laki memiliki kepatuhan lebih rendah daripada perempuan,

sehingga laki-laki cenderung memiliki kualitas hidup lebih buruk

daripada perempuan. (Abrori, I & Ahmad, Riris A., 2018; 58).

Kenyataan dalam penelitian ini, laki–laki lebih bisa

mengkoordinir kecemasannya dengan berkumpul dan bersosialisasi

dengan orang lain, hal ini dapat dilakukan dengan cara berkumpul

dengan penderita TB untuk mendiskusikan berbagi pengalaman, situasi,

masalah, mengaplikasikan keterampilan teknik pengelolaan kecemasan,

dan pengembangan pengetahuan mengenai tuberkulosis, sehingga

penderita TB paru laki–laki dapat mengatasi kecemasan yang

dihadapinya.

Namun laki–laki memiliki kepatuhan lebih rendah daripada

perempuan. Kecenderungan laki-laki lebih tinggi untuk mangkir

berobat ini yang mengakibatkan kualitas hidupnya semakin menurun.

Kunci menunju keberhasilan kepatuhan berobat salah satunya adalah

motivasi. Dengan tidak adanya dorongan, keinginan untuk berobat atau

melakukan sesuatu yang lebih baik disertai dukungan dari keluarga,

masyarakat, serta PMO, penderita TB paru dapat mengalami penurunan

kualitas hidup, akibat tidak keteraturan atau kepatuhan dalam

pengobatannya.

Namun dalam penelitian ini juga didapatkan responden yang

mengalami tingkat kecemasan sangat parah memiliki tingkat kualitas

hidup tinggi, ini disebabkan karena laki–laki cenderung sensitif dan


84

agresif terhadap permasalahan yang dihadapinya, ini disebabkan

pemilihan koping lebih ke maladaptif ketimbang mekanisme koping

yang adaptif, namun laki–laki memiliki tingkat kualitas hidup yang baik

dan lebih terkait dengan aspek pendidikan dan pekerjaan. Dengan

pendidikan yang tinggi dapat memberikan pengetahuan yang baik untuk

mengelola aktivitas kehidupan sehari harinya dan mendapatkan

pekerjaan yang layak, sehingga seseorang dapat memiliki kesejahteraan

dalam menghidupi diri sendiri dan keluarga, serta dapat menikmati

kehidupannya.

Seseorang yang mempunyai pekerjaan layak memungkinkan

seseorang untuk berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik

pula, dan akan termotivasi untuk berusaha mendapatkan pelayanan

kesehatan yang jauh lebih baik.

Sebagian besar dari responden berpendidikan SD/MI yaitu

sebanyak 23 responden (46,9%). Semakin tinggi pendidikan seseorang,

maka semakin mudah untuk penerimaan informasi. Berarti semakin

tinggi pendidikan semakin tinggi pula tingkat pengetahuan seorang

maka akan lebih mengatasi dalam menggunakan koping yang efektif

dibanding tingkat pengetahuan rendah (Yeti, A., dkk, 2015; 40).

Tingkat pendidikan termasuk salah satu faktor yang memengaruhi

kualitas hidup, penderita berpendidikan tinggi dapat mengontrol diri

dalam mengatasi masalah yang dihadapi. (Abrori, I & Ahmad, Riris A.,

2018; 59).
85

Semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat

pengetahuan seseorang sehingga seseorang akan lebih mudah mengatasi

masalah dengan menggunakan koping yang efektif. Ini dikarenakan

seseorang dengan pendidikan lebih tinggi dapat mengolah informasi

dengan baik untuk mengatasi problem yang dihadapi. Namun seseorang

tersebut dapat mengalami penurunan kualitas hidup, akibat tidak adanya

dukungan sosial dari orang-orang terdekat, secara tidak langsung dapat

meningkatkan beban pada aspek kesejahteraan psikologi sehubungan

dengan penyakit yang dideritanya, sehingga penderita TB paru

mengalami penurunan kualitas hidup.

Namun dalam penelitian ini juga didapatkan responden yang

mengalami tingkat kecemasan sangat parah memiliki tingkat kualitas

hidup tinggi, ini disebabkan karena status pendidikan dan status

ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan orang tersebut

mengalami cemas dibanding dengan mereka yang berpendidikan dan

berstatus ekonomi tinggi, dengan pendidikan yang kurang seseorang

kurang mampu mengatasi kecemasan dengan koping yang efektif atau

adaptif. Tingkat pendidikan juga termasuk salah satu faktor yang

memengaruhi kualitas hidup, pengetahuan merupakan domain untuk

membentuk tindakan. Penderita berpendidikan tinggi memiliki

pengetahuan lebih luas dan lebih matang dalam berfikir, sehingga

seseorang dapat menikmati serta mengontrol tindakan saat beraktivitas

sehari – hari dalam kehidupannya.


86

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul hubungan tingkat

kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pada penderita TB paru di UPT

Puskesmas Mantup Kab. Lamongan, didapatkan kesimpulan bahwa:

5.1.1 Sebagian kecil/hampir setengah dari responden mempumyai tingkat

kecemasan yaitu normal sebanyak 16 responden (32,7%).

5.1.2 Sebagian besar dari responden mempumyai tingkat kualitas hidup yang

tinggi sebanyak 31 responden (63,3%).

5.1.3 Hasil uji spearman rho dengan menggunakan SPSS didapatkan nilai

signifikasi = 0,083. Ketentuan α = 0,05 dimana H0 ditolak jika Sig. (2-

tailed) < α atau H0 diterima jika Sig. (2-tailed) > α. Karena sig. (2-

tailed) 0,083 > α 0,05 maka H0 diterima artinya tidak terdapat terdapat

hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat kualitas hidup pada

penderita TB Paru di UPT Puskesmas Kecamatan Mantup Kabupaten

Lamongan.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Responden

Bagi pasien tuberkulosis paru disarankan untuk memperbaiki

perilaku ataupun kebiasaan sehari – hari untuk lebih mengarah pada

perilaku baik supaya tidak menularkan tuberkulosis pada orang

disekelilingnya terutama keluarganya dan diharapkan mencari tahu


87

lebih dalam tentang penyakit tuberkulosis sehingga tidak mengalami

kecemasan yang lebih lanjut serta selalu menjaga kesehatan baik secara

fisik mapun psikologis, terutama yang menyebabkan penurunan

kualitas hidup pada penderita TB Paru sehingga dapat mengurangi

dampak dari kecemasan.

5.2.2 Bagi Keluarga & Masyarakat

Diharapkan keluarga penderita TB Paru dan masyarakat yang ada

disekitar agar memberikan motivasi dan dukungan kepada penderita TB

Paru untuk proses kesembuhannya. Hal ini diupayakan agar penderita

paru tidak mengalami kecemasan yang dapat mempengaruhi kualitas

hidupnya, sehingga keluarga penderita agar mampu memberikan

ketenangan dan semangat pada penderita TB Paru.

5.2.3 Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan dapat memberikan informasi dan mengembangkan

ilmu keperawatan jiwa terkait kualitas hidup.

5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor lain

yang berhubungan dengan tingkat kualitas hidup pada penderita TB

paru.
88

DAFTAR PUSTAKA

Abrori, I & Ahmad, Riris A. (2018). Kualitas Hidup Penderita Tuberculosis


Resistan Obat di Kabupaten Banyumas. Berita Kedokteran Masyarakat,
34, (2), 55 – 61. Retrieved from
https://media.neliti.com/media/publications/227862-kualitas-hidup-
penderita-tuberculosis-re85fcd9a7.pdf. Diakses pada tanggal 05 Mei 2018
Andika, Surya. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Tingkat Kualitas
Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Perumnas II Kecamatan
Pontianak Barat. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.
Retrieved from
https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmkeperawatanFK/article/view/22009.
Diakses pada tanggal 05 Mei 2018
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Ed 4.
Jakarta: Rineka Cipta
Azizah, Lilik Ma’rifatul, Zainuri, Imam, & Akbar, Amar. (2016). Buku Ajar
Keperawatan Kesehatan Jiwa – Teori & Aplikasi Praktik Klinik.
Yogyakarta: Indomedia Pustaka
Bond, Jhon & Corner, Lynne. (2004). Quality Of Life And Older People. New
York: McGraw – Hill Education
Datulong, J., Sapulete, Margareth R., dan Kandou, Grace D., (2015). Hubungan
Faktor Risiko Umur, Jenis Kelamin Dan Kepadatan Hunian Dengan
Kejadian Penyakit Tb Paru Di Desa Wori Kecamatan Wori. Jurnal
Kedokteran Komunitas dan Tropik, 3, (2), 57 – 65. Retrieved from
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JKKT/article/download/7773/7336.
Diakses pada tanggal 27 Januari 2018
Dinkes Lamongan. (2018). Laporan Penemuan Dan Pengobatan Pasien TB.
Lamongan: Dinkes Lamongan
Guo, N., Marra, F., & Marra, C. A. (2009). Measuring health-related quality of
life in tuberculosis: a systematic review. Health and Quality of Life
Outcomes, 7, (14). Retrieved from http:// doi.org/10.1186/1477-7525-7-14
or https://hqlo.biomedcentral.com/articles/10.1186/1477-7525-7-14.
Diakses pada tanggal 12 Juni 2018
Hastuti, Ina D., Setiawan, R., dan Fikri, J. (2014). Hubungan Dukungan Sosial
dan Kualitas Hidup pada Penderita TB Paru di Balai Kesehatan Kerja
Masyarakat Provinsi Jawa Barat Tahun 2014. Jurnal Bhakti Kencana
Medika, 4, (1), 58 – 63. Retrieved from
http://ejurnal.stikesbhaktikencana.ac.id/file.php?file=jurnal&id=574&cd=
89

0b2173ff6ad6a6fb09c9595f6d50001df6&name=Hub%20dukungan%20so
sial%20dgn%20kualitas%20hidup.pdf. Diakses pada tanggal 12 Juni 2018
Herry, Erika. (2016). Tingkat Kecemasan, Dukungan Sosial, dan Mekanisme
Koping terhadap Kelentingan Keluarga pada Keluarga dengan TB Paru
di Kecamatan Ciomas Bogor. (Skripsi). Retrieved from
http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/48176/12/I11ehe.pdf
. Diakses pada tanggal 05 Mei 2018
Hiswani. (2009). Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi
Masalah Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Retrieved from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3718/fkm-
hiswani6.pdf?sequence=1. Diakses pada tanggal 27 Januari 2018
Ibrahim, Ilyas. (2017). Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Tb Paru Di Wilayah
Kota Tidore. Global Health Science, 2, (1), 34 – 40. Retrieved from
http://jurnal.csdforum.com/index.php/GHS/article/download/59/20.
Diakses pada tanggal 27 Januari 2018
Irawan, Hengky. (2015). Pengaruh Konseling Kesehatan Terhadap Penurunan
Tingkat Kecemasan Pasien TBC Paru di Puskesmas Campurejo Kota
Kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan, 4, (1), 87 – 94. Retrieved from
http://ejurnaladhkdr.com/index.php/coba/article/download/79/72. Diakses
pada tanggal 05 Mei 2018
Isaacs, Ann. (2004). Panduan Belajar Keperawatan Jiwa Psikiatrik. Jakarta: EGC
Juliandari, N.M., Kusnanto, Hidayati, L. (2014). Hubungan Antara Dukungan
Sosial Dan Coping Stres Dengan Kualitas Hidup Pasien Tb Paru Di
Puskesmas Perak Timur Surabaya Tahun 2014. Program Studi Pendidikan
Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Retrieved from
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-pnj1d633d6153full.docx.
Diakses pada tanggal 28 Januari 2018
Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Retrieved from
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf. Diakses pada tanggal 25 September 2017
Kemenkes RI. (2016). Infodatin TBC Temukan Obat Sampai Sembuh. Retrieved
from
http://www.pusdatin.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/
infodatin/Infodatin-TB-2016.pdf.Diakses pada tanggal 07 September 2017
Kemenkes RI. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Retrieved from
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-2016.pdf. Diakses pada tanggal 11
Oktober 2017
90

Kemenkes RI. (2017). Data & Infromasi Profil Kesehatan Indonesia 2016.
Retrieved from
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/lain-
lain/Data%20dan%20Informasi%20Kesehatan%20Profil%20Kesehatan%
20Indonesia%202016%20-%20%20smaller%20size%20-%20web.pdf.
Diakses pada tanggal 07 September 2017
Kusnanto, Pradanie R., & Karima, Inas A. (2016). Spiritual Emotional Freedom
Technique (SEFT) and the Quality of Life of People Living with Lung
Tuberculosis. Jurnal JKP, 4, (3), 213 – 224. Retrieved from
https://media.neliti.com/media/publications/104426-ID-spiritual-
emotional-freedom-technique-se.pdf. Diakses pada tanggal 05 Mei 2018
LPPM. (2017). Buku Panduan Penulisa Skripsi. Mojokerto: Stikes Bina Sehat
PPNI Mojokerto
Mamani, M., Majzoobi, M. M., Ghahfarokhi, S. M., Esna-Ashari, F., & Keramat,
F. (2014). Assessment of health-related quality of life among patients with
tuberculosis in Hamadan, Western Iran. Oman Medical Journal, 29, (2),
102–105. Retrieved from http://doi. org/10.5001/omj.2014.25. Diakses
pada tanggal 12 Juni 2018
Mubarak, W.I., Indrawati, L., dan Susanto, J. (2015). Buku Ajar Ilmu
Keperawatan Dasar Buku 1. Jakarta: Salemba Medika
Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Nurjana, Made Agus. (2015). Faktor Risiko Terjadinya Tuberculosis Paru Usia
Produktif (15-49 Tahun) Di Indonesia. Media Litbangkes, 25, (3), 163 –
170. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/20736-
ID-faktor-risiko-terjadinya-tuberculosis-paru-usia-produktif-15-49-tahun-
di-indones.pdf or
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/4387.
Diakses pada tanggal 27 Januari 2018
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Ed 3. Jakarta:
Salemba Medika
Patiro, Lindy A., Kaunang, Wulan P.J., dan Malonda, Nancy S.H. (2017). Faktor
Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas
Tuminting. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam
Ratulangi Manado. Retrieved from
https://ejournalhealth.com/index.php/medkes/article/viewfile/358/349.
Diakses pada tanggal 26 Januari 2018
91

Prasetya, Jaka. (2009). Hubungan Motivasi Pasien Tb Paru Dengan Kepatuhan


Dalam Mengikuti Program Pengobatan Sistem Dots Di Wilayah
Puskesmas Genuk Semarang. Jurnal Visikes, 8, (1), 46 – 53. Retrieved
from http://eprints.umm.ac.id/23340/2/jiptummpp-gdl-noviatulmu-38878-
1-pendahul-n.pdf. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2017
Priyatin, Wiwik. (2007). Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kecemasan
Anggota Keluarga terhadap Penularan TB Paru di Wilayah Kerja
Puskesmas Sokaraja II, Banyumas. Jurnal Keperawatan Soedirman, 2, (3),
154 – 161. Retrieved from
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=10517&val=715.
Diakses pada tanggal 05 Januari 2018
Putri, Agstri L. (2017). Gambaran Persepsi Pasien Tb Terhadap Perawatan
Kesehatan Mandiri. (Skripsi). Retrieved from
http://eprints.undip.ac.id/55131/1/Proposal_Skripsi_Agstri_Lestari_P.pdf.
Diakses pada tanggal 28 Januari 2018
Putri, Suci.T., (2015). Kualitas Hidup Pada Pasien Tuberkulosis Paru Berdasarkan
Aspek Kepatuhan Terhadap Pengobatan Di Puskesmas Padasuka Kota
Bandung. Jurnal Keperawatan Aisyiyah, 2 (2), 62 – 63. Retrieved from
http://jurnalkeperawatan.stikes-
aisyiyahbandung.ac.id/jurnal.php?detail=jurnal&file=SuciTutyPutri_JKA_
Vol2_No2_Desember_2015_08.pdf&id=546&cd=0b2173ff6ad6a6fb09c9
5f6d50001df6&name=SuciTutyPutri_JKA_Vol2_No2_Desember_2015_0
8.pdf. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2017
Ratnasari, Nita Y. (2012). Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup
pada Penderita TB Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4)
Yogyakarta Unit Minggiran. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, 8 (2), 1 – 35.
Retrieved from http://ppti.info/ArsipPPTI/PPTI-Jurnal-Maret-2012.pdf.
Diakses pada tanggal 05 Mei 2018
Riyadi, Sujono & Purwanto, Teguh. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Safaria, Triantoro & Saputra, Nofrans Eka. (2012). Manajemen Emosi: Sebuah
Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda.
Jakarta: Bumi Aksara
Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan,Eds.2.
Jogjakarta: Graha Ilmu
Setiawan, A & Saryono. (2012). Metodologi Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1,
dan S2. Yogyakarta: IKAPI
Soep. (2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan
Pasien Tb Paru Di Ruang 3 RSUP Haji Adam Malik Medan. Jurnal Ilmiah
PAMED, 9 (2), 195 – 198. Retrieved from http://repository.poltekkes-
92

medan.ac.id/files/1701173dda0328/398830305/files/jurnalvol9no2thn2014
.pdf. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2017
Suryani, A., (2016). Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas
Hidup Lanjut Usia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Pajang Surakarta.
(Skripsi). Retrieved from
http://eprints.ums.ac.id/44708/27/NASKAH%20PUBLIKASI%20rev.pdf.
Diakses pada tanggal 28 Januari 2018
Swarjana, I Ketut. (2016). Statistik Kesehatan. Bali: Andi
UPT Puskesmas Mantup. (2017). Narasi Profil Puskesmas Mantup 2017.
Lamongan: UPT Puskesmas Mantup
Wahid, Abdul & Suprapto, Imam. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Asuhan
Keperawatan pada Gangguan Sistem Respirasi. Jakarta: Trans Info Media
WHO.(1996). WHOQOL – BREF Introduction, Administration, Scoring, and
Generic Version of The Assesment Programme On Mental Health.
Genewa: WHO. Retrieved from
http://www.who.int/mental_health/media/en/76.pdf. Diakses pada tanggal
31 Oktober 2017
WHOQOL. (2012). Programme On Mental Health WHOQOL User Manual.
International: Division Of Mental Health And Prevention Of Substance
Abuse. Retrieved from http://apps.who.int/iris/handle/10665/77932.
Diakses pada tanggal 31 Oktober 2017
WHO. (2016). Global Tuberculosis Report. Retrieved from
http://www.who.int/tb/publications/global_report/gtbr2016_executive_su
mmary.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2017
Yeti, A., Candrawati, E., & Ragil., C.A.W. (2015). Pengetahuan Pasien
Tuberkulosis Berimplikasi terhadapt Keoatuhan Berobat. Jurnal Care, 3,
(2), 35 – 44. Retrieved from
https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care/article/view/481. Diakses pada
tanggal 05 Mei 2018
Yuni, I Dewa A.M.A., (2016). Hubungan Fase Pengobatan Tb Dan Pengetahuan
Tentang Mdr Tb Dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien TB. Jurnal
Berkala Epidemiologi, 4, (3), 301 – 312. Retrieved from
https://media.neliti.com/media/publications/76810-ID-none.pdf. Diakses
pada tanggal 27 Januari 2017