Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN KASUS

KONJUNGTIVITIS MEMBRANOSA

Pembimbing :
dr. Agah Gadjali, Sp.M
dr. Hermansyah, Sp.M
dr. Henry A. W, Sp.M
dr. Gartati Ismail, Sp.M
dr. Mustafa K. Shahab, Sp.M
dr. Susan S Sp.M

Disusun oleh :
Fawzia Devi Fitriani
1102013110

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK.1 RADEN SAID SUKANTO
PERIODE 6 AGUSTUS 2018 – 8 SEPTEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. C
Tempat tanggal Lahir : Jakarta, 23-07-2000
Umur : 18 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa, Indonesia
Status : Belum Menikah
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Komp. Satwal protokol blok B 5 no. 8 Ciracas, Jakarta
Timur, 137401
Tanggal pemeriksaan : 13 Agustus 2018

II. ANAMNESA (Autoanamnesis pada 13 Agustus 2018)


A. Keluhan utama
Mata merah pada kedua mata sejak 2 minggu SMRS

B. Keluhan tambahan
Mata lengket disertai gatal pada kedua mata
Riwayat penyakit sekarang
Nn. C datang ke Poliklinik Mata RS Polri dengan keluhan utama kedua mata
merah sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan disertai mata lengket terutama saat bangun
tidur pada pagi hari dan disertai gatal.
Pasien mengatakan awalnya kedua mata merah disertai lengket dan gatal saja,
namun karena sering di kucek menggunakan tangan, sehingga pasien juga
mengeluhkan kedua matanya terasa bengkak terutama pada kelopak mata atas. Pasien
juga mengeluhkan adanya rasa mengganjal pada kedua matanya. Adik pasien di
rumah yang masih bayi mengalami keluhan serupa dan sudah dibawa ke dokter dan
diobati sampai sembuh.
Pasien belum pernah berobat ke dokter untuk mengobati keluhan matanya,
pasien hanya membeli obat tetes mata di apotek berupa insto dan terus
menggunakannya setiap hari namun tidak didapati perbaikan. Pasien menyangkal

2
adanya demam, Pasien juga mengatakan kedua matanya tidak mengalami penurunan
tajam penglihatan dan tidak ada masalah jika terkena sinar.
Setelah 2 minggu pasien mengeluh tidak kunjung sembuh dan kedua matanya
bertambah bengkak, sehingga pasien memutuskan untuk berobat ke rumah sakit.

C. Riwayat penyakit dahulu


- Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini
- Riwayat penggunaan kacamata (-)
- Riwayat trauma pada mata (-)
- Riwayat penurunan tajam penglihatan (-)
- Riwayat kontak dengan penderita sakit mata seperti pasien (+)
- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat diabetes mellitus (-)
- Riwayat terkena bahan kimia pada mata (-)
- Riwayat alergi makanan (-)
- Riwayat alergi obat (-)
- Riwayat alergi debu (-)

D. Riwayat penyakit keluarga


- Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama (+)
- Riwayat penyakit hipertensi (-)
- Riwayat penyakit diabetes mellitus (-)
- Riwayat alergi makanan, obat, debu (-)

E. Riwayat kebiasaan
- Pasien sering mengucek kedua matanya dengan tangan saat terasa gatal atau ada yang
tidak nyaman

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital
Tekanan darah : 120/ 80 mmHg
Nadi : 80x/menit

3
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36,5 º C.

IV. STATUS OFTALMOLOGI (13 Agustus 2018)

Inspeksi :

4
OD OS
Visus 6/6 6/6
TIO N/ palpasi N/ palpasi
Posisi Hirshberg Ortoforia

Gerakan bola mata

Palpebra Superior Edema (+), hiperemis (+), Edema (+), hiperemis


massa (-), nyeri tekan (+) (+), massa (-), nyeri
tekan (+)

Palpebra inferior Edema (-), hiperemis (+), Edema (-), hiperemis(+),


massa (-), nyeri tekan (-) massa(-), nyeri tekan (-)

Konjungtiva Tarsal Hiperemis (+), papil (-), Hiperemis (+), papil (-),
Superior edema (-), membran (+), edema (-), membran (+),
terdapat perdarahan saat terdapat perdarahan saat
membran diangkat (+) membran diangkat (+)
Konjungtiva Tarsal Hiperemis (+), papil (-), Hiperemis (+), papil (-),
Inferior edema (-), membran (+), edema (-), membran (+),
terdapat perdarahan saat terdapat perdarahan saat
membran diangkat (+) membran diangkat (+)

Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (+), Injeksi konjungtiva (+),


injeksi siliar (-) injeksi siliar (-)

5
Kornea Jernih Jernih

Bilik Mata Depan Dalam, jernih Dalam, jernih

Iris Kripti (+), coklat Kripti (+), coklat

Pupil Bulat, isokor 3mm, RCL Bulat, isokor 3mm, RCL


(+), RCTL (+) (+), RCTL (+)
Lensa Jernih Jernih

Vitreus Tidak dilakukan Tidak dilakukan


pemeriksaan pemeriksaan

Fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan


pemeriksaan pemeriksaan

V. RESUME
Pasien Nn. C 18 tahun datang ke poli mata dengan keluhan utama kedua mata
merah disertai lengket dan gatal sejak 2 minggu yang lalu. Eksudasi terutama saat
bangun tidur pagi hari (+), rasa mengganjal pada kedua mata (+), kedua mata
bengkak terutama pada kelopak mata atas (+), riwayat kontak dengan pasien sakit
mata seperti pasien (+), riwayat kebiasaan mengucek mata dengan tangan saat
gatal atau tidak nyaman (+)
Pada pemerikasaan fisik, ditemukan :
Palpebra superior : udem +/+, hiperemis +/+
Palpebra inferior : hiperemis +/+
Konjungtiva tarsal superior : Hiperemis +/+, membran +/+, terdapat perdarahan
saat membran diangkat (+)
Konjungtiva tarsal inferior : hiperemis +/+, membran +/+, terdapat perdarahan
saat membran diangkat (+)
Konjungtiva bulbi : Injeksi konjungtiva +/+

VI. DIAGNOSIS KERJA


Konjungtivitis membranosa okuli dextra sinistra

VII. PENATALAKSANAAN

6
1. Terapi medikamentosa
a. Terapi topical
- Cendo xitrol eye drop (dexamethason 1mg, neomycin sulfate 3,5 mg,
polymixin B sulfate 10.000 SI) 3x1 tetes ODS
- Cendo LFX eye drop (levofloxacin 5 mg) tiap jam 1 tetes ODS
- Cendo Noncort eye drop 0,6 ml (Natrium diklofenak) 4x1 tetes ODS

2. Terapi non medikamentosa :


- Mengedukasi agar tidak mengosok-gosok mata saat gatal atau ada yang
tidak nyaman

VIII. PROGNOSIS
- Quo Ad Vitam : Ad Bonam
- Quo Ad Fungsional : Ad Bonam
- Quo Ad Sanactionam : Ad Bonam

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang


menutupi belakang kelopak dan bola mata dalam bentuk akut maupun kronis yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, klamidia, alergi, toksik, iritasi. Penyakit ini
bervariasi mulai dari hiperemi ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat
dengan banyak sekret purulen kental1,2..

2.2 Anatomi dan Fisiologi

Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang
merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak
mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali
bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh
darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi.. Konjungtiva mengandung kelenjar
musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama
kornea6

Gambar 1 Anatomi Konjungtiva dan Palpebra

8
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:

1. Konjungtiva palpebralis : menutupi permukaan posterior dari palpebra


dan dapat dibagi menjadi marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva. 6
a. Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata sampai
sekitar 2mm di belakang kelopak mata menuju lengkung dangkal,
sulkus subtarsalis. Sesungguhnya merupakan zona transisi antara
kulit dan konjungtiva sesungguhnya.
b. Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat vaskuler.
Menempel ketat pada seluruh tarsal plate pada kelopak mata atas.
Pada kelopak mata bawah, hanya menempel setengah lebar tarsus.
Kelenjar tarsal terlihat lewat struktur ini sebagai garis kuning.
c. Orbital konjungtiva berada diantara tarsal plate dan forniks.
2. Konjungtiva bulbaris : menutupi sebagian permukaan anterior bola mata.
Terpisah dari sklera anterior oleh jaringan episklera dan kapsula Tenon.
Tepian sepanjang 3mm dari konjungtiva bulbar disekitar kornea disebut
dengan konjungtiva limbal. Pada area limbus, konjungtiva, kapsula Tenon,
dan jaringan episklera bergabung menjadi jaringan padat yang terikat secara
kuat pada pertemuan korneosklera di bawahnya. Pada limbus, epitel
konjungtiva menjadi berlanjut seperti yang ada pada kornea. 6 konjungtiva
bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan,
mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah
dapat dilihat di bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet
yang mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-
kornea yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.6

3. Forniks : bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian


posterior palpebra dan bola mata. Forniks konjungtiva berganbung dengan
konjungtiva bulbar dan konjungtiva palpebra. Dapat dibagi menjasi forniks
superior, inferior, lateral, dan medial forniks. 6

9
Gambar 2. Struktur anatomi dari conjungtiva

Dikutip dari Khurana AK. Disease of The Conjunctiva. Dalam: Comprehensive Ophthalmology. 4 th edition. New
Delhi: New Age International(P) Limited; 2007

Lapisan epitel konjungtiva tediri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat,superfisial dan basal. Sel epitel superfisial mengandung sel goblet bulat atau
oval yang mensekresi mukus. Mukus yang mendorong inti sel goblet ke tepi dan
diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea. Stroma
konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa
(profundal). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat
dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa stratum germativum.6

Struktur Histologis dari konjungtiva6


- Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari:
a. Marginal konjungtiva mempunyai epitel tipe stratified skuamous lapis 5.
b. Tarsal konjungtiva mempunyai 2 lapis epitelium: lapisan superfisial dari sel
silindris dan lapisan dalam dari sel pipih.

10
c. Forniks dan bulbar konjungtiva mempunyai 3 lais epitelium: lapisan superfisial
sel silindris, lapisan tengan polihedral sel dan lapisan dalam sel kuboid.
d. Limbal konjungtiva sekali lagi mempunyai banyak lapisan (5-6 lapis) epitelium
stratified skuamous
- Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu
lapisan fibrosa (profundus).
a. Lapisan adenoid disebut dengan lapisan limfoid dan terdiri dari jaringan ikat
retikulum yang terkait satu sama lain dan terdapat limfosit diantaranya. Lapisan ini
paling berkembang di forniks. Tidak terdapat mulai dari lahir tetapu berkembang
setelah 3-4 bulan pertama kehidupan. Untuk alasan ini, inflamasi konjungtiva pada bayi
baru lahir tidak memperlihatkan reaksi folikuler. 6
b. Lapisan fibrosa Terdiri dari jaringan fiber elastik dan kolagen. Lebih tebal daripada
lapisan adenoid, kecuali di regio konjungtiva tarsal dimana pada tempat tersebut
struktur ini sangat tipis. Lapisan ini mengandung pembuluh darah dan saraf
konjungtiva. Bergabung dengan kapsula tenon pada regio konjungtiva bulbar. 6

- Konjungtiva mempunyai dua macam kelenjar, yaitu:


1. Kelenjar sekretori musin. Mereka adalah sel goblet(kelenjar uniseluler
yang terletak di dalam epitelium), kripta dari Henle(ada apda tarsal
konjungtiva) dan kelenjar Manz(pada konjungtiva limbal). Kelenjar-
kelenjar ini menseksresi mukus yang mana penting untuk membasahi
kornea dan konjungtiva. 6
2. Kelenjar lakrimalis aksesorius, mereka adalah: 6
a. Kelenjar dari Krause(terletak pada jaringan ikat konjungtiva di
forniks, sekitar 42mm pada forniks atas dan 8mm di forniks bawah).
Dan
b. Kelenjar dari Wolfring(terletak sepanjang batas atas tarsus superios
dan sepanjang batas bawah dari inferior tarsus).6
-Suplai arterial konjungtiva:
Konjungtiva palpebra dan forniks disuplai oleh cabang dari arcade arteri periferal dan
merginal kelopak mata. Konjungtiva bulbar disuplai oleh dua set pembuluh darah: arteri
konjungtiva posterior yang merupakan cabang dari arcade arteri kelopak mata; dan
arteri konjungtiva anterior yang merupakan cabang dari arteri siliaris anterior. Cabang

11
terminal dari arteri konjungtiva posterior beranastomose dengan arteri konjungtiva
anterior untuk membentuk pleksus perikornea. 6

2.3. Patofisiologi

Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar. Kemungkinan konjungtiva


terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Pertahanan Konjungtiva terutama oleh
karena adanya tear film pada konjungtiva yang berfungsi untuk melarutkan kotoran-
kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis
ke meatus nasi inferior.5

Di samping itu tear film juga mengandung beta lysin, lysozym, IgA, IgG yang berfungsi
untung menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada mikroorganisme patogeen yang
mampu menembus pertahanan tersebut hingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut
konjungtivitis.5

2.4.Etiologi4
 Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :
a. infeksi oleh virus atau bakteri.
b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.
c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet.
d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang.

2.5. pustaka-gejala dari konjungtivitis secara umum antara lain:7


1. Hiperemia. Mata yang memerah adalah tanda tipikal dari konjungtivitis. Injeksi
konjungtival diakibatkan karena meningkatnya pengisian pembuluh darah
konjungtival, yang muncul sebagian besar di fornik dan menghilang dalam
perjalanannya menuju ke limbus. Hiperemia tampak pada semua bentuk konjungtivitis.
Tetapi, penampakan/visibilitas dari pembuluh darah yang hiperemia, lokasi mereka,
dan ukurannya merupakan kriteria penting untuk diferensial diagnosa. Seseorang juga
dapat membedakan konjungtivitis dari kelainan lain seperti skleritis atau keratitis
berdasar pada injeksinya. Tipe-tipe injeksi dibedakan menjadi: 8,9
 Injeksi konjungtiva(merah terang, pembuluh darah yang distended bergerak
bersama dengan konjungtiva, semakin menurun jumlahnya saat menuju ke arah
limbus).

12
 Injeksi perikornea(pembuluh darah superfisial, sirkuler atau cirkumcribed pada
tepi limbus).
 Injeksi siliar(tidak terlihat dengan jelas, pembuluh darah berwarna terang dan
tidak bergerak pada episklera di dekat limbus).
 Injeksi komposit(sering).
Dilatasi perilimbal atau siliar menandakan inflamasi dari kornea atau struktus yang
lebih dalam. Warna yang benar-benar merah menandakan konjungtivitis bakterial, dan
penampakan merah susu menandakan konjungtivitis alergik. Hiperemia tanpa infiltrasi
selular menandakan iritasi dari sebab fisik, seperti angin, matahari, asap, dan
sebagainya, tetapi mungkin juda didapatkan pada penyakit terkait dengan instabilitas
vaskuler(contoh, acne rosacea). 8

Gambar 3. bentuk-bentuk injeksi pada konjungtiva


dikutip dari Lang GK, Lang GE. Conjunctiva. Dalam: Lang GK, Gareis O, Amann J, Lang GE, Recker D, Spraul
CW, Wagner P. Ophthalmology: a short textbook. New York: Thieme; 2000.

2. Discharge ( sekret ). Berasal dari eksudasi sel-sel radang. Kualitas dan sifat
alamiah eksudat(mukoid, purulen, berair, ropy, atau berdarah) tergantung dari
etiologinya.11
3. Chemosis ( edema conjunctiva ). Adanya Chemosis mengarahkan kita secara
kuat pada konjungtivitis alergik akut tetapi dapat juga muncul pada konjungtivitis
gonokokkal akut atau konjungtivitis meningokokkal, dan terutama pada konjungtivitis
adenoviral. Chemosis dari konjungtiva bulbar dapat dilihat pada pasien dengan

13
trikinosis. Meskipun jarang, chemosis mungkin timbul sebelum adanya infiltrasi atau
eksudasi seluler gross. 8

Gambar 4. Kemosis pada mata


Dikutip dari http://www.eyedoctom.com/eyedoctom/EyeInfo/Images/Chemosis2.jpg

4.Epifora (pengeluaran berlebih air mata). Lakrimasi yang tidak


normal(illacrimation) harus dapat dibedakan dari eksudasi. Lakrimasi biasanya
mencerminkan lakrimasi sebagai reaksi dari badan asing pada konjungtiva atau kornea
atau merupakan iritasi toksik. Juga dapat berasal dari sensasi terbakar atau garukan atau
juga dari gatal. Transudasi ringan juga ditemui dari pembuluh darah yang hiperemia
dan menambah aktifitas pengeluaran air mata. Jumlah pengeluaran air mata yang tidak
normal dan disertai dengan sekresi mukus menandakan keratokonjungtivitis sika. 6
5.Pseudoptosis. Kelopak mata atas seperti akan menutup, disebabkan karena adanya
infiltrasi sel-sel radang pada palpebra superior maupun karena edema pada palpebra
superior. 6
6.Hipertrofi folikel. Terdiri dari hiperplasia limfoid lokal dengan lapisan limfoid dari
konjungtiva dan biasanya mengandung germinal center. Secara klinis, folikel dapat
dikenali sebagai struktur bulat, avaskuler putih atau abu-abu. Pada pemeriksaan
menggunakan slit lamp, pembuluh darah kecil dapat naik pada tepi folikel dan
mengitarinya. Terlihat paling banyak pada kasus konjungtivitis viral dan pada semua
kasus konjungtivitis klamidial kecuali konjungtivitis inklusi neonatal, pada beberapa
kasus konjungtivitis parasit, dan pada beberapa kasus konjungtivitis toksik diinduksi
oleh medikasi topikal seperti idoxuridine, dipiverin, dan miotik. Folikel pada forniks
inferior dan pada batas tarsal mempunyai nilai diagnostik yang terbatas, tetapi ketika
diketemukan terletak pada tarsus(terutama tarsus superior), harus dicurigai adanya
konjungtivitis klamidial, viral, atau toksik (mengikuti medikasi topikal). 6
.

14
Gambar 5. gambaran klinis dari folikel
Dikutip dari James B, Chew C, Bron A. Conjunctiva, Cornea and Sclera. Dalam: Lecture Notes on
Ophthalmology. 9th edition. India: Blackwell Publishing; 2003

7.Hipertrofi papiler. Adalah reaksi konjungtiva non spesifik yang muncul karena
konjungtiva terikat pada tarsus atau limbus di dasarnya oleh fibril. Ketika pembuluh
darah yang membentuk substansi dari papilla(bersama dengan elemen selular dan
eksudat) mencapai membran basement epitel, pembuluh darah tersebut akan bercabang
menutupi papila seperti kerangka dari sebuah payung. Eksudat inflamasi akan
terakumulasi diantara fibril, membentuk konjungtiva seperti sebuah gundukan. Pada
kelainan yang menyebabkan nekrosis(contoh,trakoma), eksudat dapat digantikan oleh
6
jaringan granulasi atau jaringan ikat. Ketika papila berukuran kecil, konjungtiva
biasanya mempunyai penampilan yang halus dan merah normal. Konjungtiva dengan
papila berwarna merah sekali menandakan kelainan disebabkan bakteri atau
klamidia(contoh, konjungtiva tarsal yang berwarna merah sekali merupakan
karakteristik dari trakoma akut). Injeksi yang ditandai pada tarsus superior,
menandakan keratokunjungtivitis vernal dan konjungtivitis giant papillary dengan
sensitivitas terhadap lensa kontak; pada tarsal inferior, gejala tersebut menandakan
keratokonjungtivitis atopik. Papila yang berukuran besar juga dapat muncul pada
limbus, terutama pada area yang secara normal dapat terekspos ketika mata sedang
terbuka(antara jam 2 dan 4 serta antara jam 8 dan 10). Di situ gejala nampak sebagai
gundukan gelatin yang dapat mencapai kornea. Papila limbal adalah tanda khas dari
keratokonjungtivitis vernal tapi langka pada keratokonjungtivitis atopik. 6

15
Gambar 6. gambaran klinis hipertrofi papiler
Dikutip dari www.onjoph.com

8.Membran dan pseudomembran. Merupakan reaksi konjungtiva terhadap infeksi


berat atau konjungtivitis toksis. Terjadi oleh karena proses koagulasi kuman/bahan
toksik. Bentukan ini terbentuk dari jaringan epitelial yang nekrotik dan kedua-duanya
dapat diangkat dengan mudah baik yang tanpa perdarahan(pseudomembran) karena
hanya merupakan koagulum pada permukaan epital atau yang meninggalkan
permukaan dengan perdarahan saat diangkat(membran) karena merupakan koagulum
yang melibatkan seluruh epitel. 9

Gambar 7. Bentukan pseudomembran yang diangkat


Dikutip dari http://www.rootatlas.com/wordpress/wp-content/uploads/2007/08/pseudomembrane-eye.jpg

9.Phylctenules. Menggambarkan manifestasi lokal pada limbus karena alergi terhadap


toxin yang dihasilkan mikroorganisme. Phlyctenules dari konjungtiva pada mulanya
terdiri dari perivaskulitis dengan pengikatan limfositik pada pembuluh darah. Ketika

16
berkembang menjadi ulserasi dari konjungtiva, dasar ulkus mempunyai banyak leukosit
polimorfonuklear. 8

10.Formasi pannus. Pertumbuhan konjungtiva atau pembuluh darah diantara lapisan


Bowman dan epitel kornea atau pada stroma yang lebih dalam. Edema stroma, yang
mana menyebabkan pembengkakan dan memisahkan lamela kolagen, memfasilitasi
terjadinya invasi pembuluh darah.9

Gambar 8. Pannus tampak pada mata pasien konjungtivitis

Dikutip dari Kanski JK. Conjunctiva. Dalam: Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 5th edition. hal. 63-81

11. Granuloma. Adalah nodus stroma konjungtiva yang meradang dengan area bulat
merah dan terdapat injeksi vaskular. Tanda ini dapat muncul pada kelainan sistemik
seperti tuberkulosis atau sarkoidosis atau mungkin faktor eksogen seperti granuloma
jahitan postoperasi atau granuloma benda asing lainnya. Granuloma muncul bersamaan
dengan bengkaknya nodus limfatikus preaurikular dan submandibular pada kelainan
seperti sindroma okuloglandular Parinaud.

Gambar 9 Granuloma konjungtiva disertai dengan folikel pada sindroma okuloglandular Parinaud.
dikutip dari Kanski JK. Conjunctiva. Dalam: Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 5 th edition. hal. 63-81

12. Nodus limfatikus yang membengkak. Sistem limfatik dari regio mata berjalan
menuju nodus limfatikus di preaurikular dan submandibular. Nodus limfatikus yang

17
membengkak mempunyai arti penting dan seringkali dihadapi sebagai tanda diagnostik
dari konjungtivitis viral. 9

2.6 Pemeriksaan Laboratorium5

Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut
dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel
radang polimorfonuklear,sel-sel morfonuklear,juga bakteri atau jamur pnyebab
konjungtivitis dapat diidentifikasi dari pengecatan ini.

Pada konjungtivitis yang disebabkan oleh alergi pada pengecatan giemsa akan
didapatkan sel-sel eosinofil.

2.7 Diagnosis5

Diagnosis konjungtiva ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan


laboratorium.

Pada pemeriksaan klinis didapatkan adanya hiperemi konjungtiva,sekret atau getah


mata,edema konjungtiva. Pemeriksaan laboratorium ditemukannya kuman-kuman atau
mikroorganisme dalam sediaan langsung dari kerokan konjungtiva,juga sel radang
polimorfonuklear atau sel-sel radang mononuklear. Pada konjungtivitis karena jamur
ditemukan adanya hyfe, sedangkan pada konjungtivitis karena alergi ditemukan sel-sel
eosinofil.

2.8 Penatalaksanaan5

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Dua penyebab


konjungtivitis bakteri akut adalah streptococcus pneumoni dan Haemophyllus
aegypticus.

Pada umumnya konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (


Sulfacetamide 15%) atau antibiotik (Gentamycin 0.3% Chloramphenicol 0.5%,
Polimixin). Gentamycin dan Tobramycin sering disertai hipersensitivitas lokal.
Penggunaan Gentamycin yang tidak teratur dan adekuat menyebabkan resistensi
organisme Gram negatif.

18
Konjungtivitis karena jamur sangat jarang. Dapat diberi Amphoterichin B 0.1% yang
efektif untuk Aspergillus dan Candida. Konjungtivitis karena virus, pengobatan
terutama ditujukan untuk mencgah terjadinya infeksi sekunder dengan antibiotik.
Beberapa virus yang sering menyebabkan konjungtivitis adalah Adenovirus type 3 dan
7 yang mnyebabkan demam pharingokonjungtiva. Adenovirus 8 dan 19 menyebabkan
epidemik keratokonjungtivitis. Enterovirus 70 menyebabkan konjungtivitis hemoragi
akut. Pengobatan dengan antivirus tidak efektik. Pengobatan utama adalah suportif.
Berikan kompres hangat atau dingin, bersihkan sekret dan dapat memakai air mata
buatan. Pemberian kortikosteroid tidak dianjurkan untuk pemakaian rutin.

Pengobatan untuk alergi diobati dengan antihistamin ( Antazolin 0.5%,Naphazoline


0.05%)atau kortikosteroid ( dexamethason 0.1%)

2.9 Prognosis

Konjungtivitis pada umumnya self limited disease artinya dapat sembuh sendiri. Tanpa
pengobatan biasanya sembuh dalam 10-14 hari. Bila diobati sembuh dalam 1-3 hari.
Konjungtivitis karena stafilokokus sering kali menjadi kronis.5

3.0 Klasifikasi6

Menurut penyebab terjadinya, konjungtivitis dibagi menjadi beberapa bagian:

A. Konjungtivitis Karena agen infeksi:


 Konjungtivitis Bakterial

Gambar 10 Konjungtivitis bakterial

19
Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan menahun.
Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus, Pneumococcus,
dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan
mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya penyakit dapat mencapai 2
minggu jika tidak diobati dengan memadai.
Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari sekian
antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa hari.
Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria
meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini
A. Tanda dan Gejala
- Iritasi mata,
- Mata merah,
- Sekret mata,
- Palpebra terasa lengket saat bangun tidur
- Kadang-kadang edema palpebra
Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke mata sebelahnya melalui tangan.
Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan kuman
seperti seprei, kain, dll.1,5

B. Pemeriksaan Laboratorium
Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui dengan
pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan pulasan
Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil
polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan
biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen,
bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik, namun
sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas antibiotika
telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan.

C. Komplikasi dan Sekuel


-Blefaritis marginal menahun sering menyertai konjungtiva stafilokokus kecuali pada
pasien sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut konjungtiva dapat terjadi pada
konjungtivitis pseudomembranosa dan pada kasus tertentu yang diikuti ulserasi kornea
dan perforasi.

20
-Ulserasi kornea marginal dapat terjadi pada infeksi N gonorroeae, N konchii, N
meningitides, H aegyptus, S gonorrhoeae berdifusi melalui kornea masuk camera
anterior, dapat timbul iritis toksik.1,3

D. Terapi
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan
terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika
yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N meningitides. Terapi topical
dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah materi untuk pemeriksaan laboratorium
telah diperoleh.
Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas
dengan larutan garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk mencegah
penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara khusus
hygiene perorangan.

E. Perjalanan dan Prognosis


Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat berlangsung
selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali konjungtivitis
stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap
mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak diobati dapat berakibat
perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk
bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis
meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4
Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan menjadi
masalah pengobatan yang menyulitkan.
A.1. Konjungtivitis Bakterial Akut

Definisi

Peradangan pada konjungtiva yang disebabkan Oleh Streptokokus, Corynebacterium


diptherica, Pseudomonas, neisseria, dan hemophilus. 3

21
Gambar 11 Konjungtivitis Purulen

Gambaran klinis berupa konjungtivitis mukopurulen dan konjungtivitis purulen,


hiperemi konjungtiva, edema kelopak,hipertrofi papil.

Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari sekian
antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa hari.
Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria
meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini, 4

Diagnosis :

 Hiperemi Konjungtiva
 Edema kelopak dengan kornea yang jernih
 Kemosis : pembengkakan konjungtiva
 Mukopurulen atau Purulen

Pemeriksaan
 Pemeriksaan tajam penglihatan
 Pemeriksaan segmen anterior bola mata
 Sediaan langsung (swab konjungtiva untuk pewarnaan garam) untuk
mengindentifikasi bakteri, jamur dan sitologinya. 5

22
Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan. Infeksi
dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan kuman seperti
seprei, kain, dll.1,5

Pemeriksaan Laboratorium

Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui dengan


pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan pulasan
Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil
polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan
biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen,
bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik, namun
sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas antibiotika
telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan. 6

Terapi

Prinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. Pada 24 jam pertama obat diteteskan
tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari selama 1 minggu. Pada
malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah belekan di pagi hari dan
mempercepat penyembuhan1, 3

Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen


mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan
terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika
yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N meningitides. Terapi topical
dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah materi untuk pemeriksaan laboratorium
telah diperoleh. 4,6

Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas
dengan larutan garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk mencegah
penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara khusus
hygiene perorangan. 1,4

23
Perjalanan dan Prognosis

Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat berlangsung
selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali konjungtivitis
stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap
mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak diobati dapat berakibat
perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk
bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis
meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4

Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan menjadi
masalah pengobatan yang menyulitkan.

Pencegahan

 Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudahmembersihkan


atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

 Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata
yang sakit.

 Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah


lainnya.8

A.2 Konjungtivitis Gonore

Merupakan radang konjungtiva akut dan hebat disertai dengan sekret purulen.
Gonokok/Neisseria Gonorrhoea merupakan kuman yang sangat patogen, virulen dan
bersifat invasif, sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat. 3

Infeksi pada neonatus terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada
bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang menderita penyakit tersebut. Sedang pada

24
orang dewasa didapatkan penularan dari penyakit kelamin sendiri. Masa inkubasi 12-5
hari disertai pendarahan subkonjungtiva dan konjungtivitis kemotik.

Gambar 12 Konjungtivitis Gonore

Secara klinis penyakit ini dilihat dalam bentuk:

 Oftalmia Neonatorum ( bayi berusia 1-3 hari )


 Konjungtivitis gonore infantum ( usia lebih dari 10 hari )
 Konjungtivitis gonore adultorum

Gejala :

 Konjungtiva yang kaku, dan sakit saat perabaan


 Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar di buka.
 Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior, sedangkan
konjungtiva bulbi merah.
 Pada stadium supuratif terdapat sekret yang kental. 3,5.
 Pendarahan terjadi karena edema konjungtiva yang hebat. Hal ini akan
mengakibatkan pecahnya pembuluh darah konjungtiva.
 Pembesaran kelenjar preaurikuler.

Pemeriksan dan diagnosis

 Kerokan getah mata yang purulen dicat dengan pengecatan Gram dan diperiksa
dibawah mikroskop. Didapatkan sel-sel polimorfonuklear dalam jumlah yang
banyak.

25
Pengobatan

Tanpa penyulit :

 Topikal : Salep mata Tetracycline HCL 1% atau Ciprofloxacin 0.3% diberikan


minimal 6kali sehari pada neonatus dan diberikan sedikitnya tiap 2 jam sekali
pada penderita dewasa dilanjutkan sampai 5 kali.Sebelumnya sekret
dibersihkan dahulu.
 Sistemik : Dewasa diberikan Penicillin G 4.8 juta IU IM dalam dosis tunggal
ditambah dengan Probenecid 1 gram per oral atau Ampicilin dosis tunggal 3.5
gram per oral.
 Pada neonatus dan anak-anak injeksi penicilin diberikan dengan dosis 50.000-
100.000 IU/kgBB

Dengan penyulit pada kornea:

 Topikal : Ciprofloxacin 0.3% dgn cara pemberian,hari 1 : 1-2 tetes setiap 15


menit selama 6jam selanjutnya 2 tetes setiap 30 menit, hari 2 : 2 tetes tiap 1 jam,
hari 3 : 2 tetes tiap 4 jam. Obat-obatan topikal lain, Bacitracin, Vancomycin,
Chepaloridin, Gentamycin.
 Dapat diberikan siklopegik (Scopolamin 0.25%) 2-3x setiap hari untuk
menghilangkan nyeri karena spasme siliar dan mencegah sinekia.
 Apabila ada bahaya perforasi yang mengancam ( descemetocele ) dapat
dilakukan oprasi flap konjungtiva “ partial conjunctivall bridge flap”

Komplikasi

 Tukak kornea marginal


 Perforasi kornea
 Keratitis
 Sikatrik kornea
 Penurunan visus sampai kebutaan

26
A.3 Konjungtivitis Angular

Konjungtivitis Angular terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra disertai


ekskoriasi kulit disekitar daerah yang radang. Disebabkan oleh Basil Moraxella
Axenfeld. 3

Gambar 13 Konjungtivitis Angular

Gejala :

 Ekskoriasi kulit di sekitar daerah meradang


 Sekret mukopurulen
 Pasien sering mengedip5,6

Pengobatan

Tetrasiklin dan basitrasin

Komplikasi

Blefaritis

A.4 Konjungtivitis mukopurulen

Konjungtivitis mukopurulen merupakan konjungtivitis dengan gejala umum


konjungtivitis kataral mukoid yang disebabkan oleh Streptococcus pneumonia atau
basil Koch Weeks.3

27
Gejala

 Hiperemi konjungtiva
 Sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata melekat terutama
saat bangun pagi.
 Terdapat gambaran halo ( dibedakan dengan halo pada glaukoma)

Komplikasi

Bila samp hari ke 3 dan tidak diobati akan berjalan kronis. Dapat timbul ulkus kataral
marginal pada kornea atau keratitis superfisial.

Pengobatan

Membersihkan konjungtiva dan antibiotik yang sesuai.

B. Konjungtivitis Virus:

1. Konjungtivitis Folikuler Virus Akut


a). Demam Faringokonjungtival 3

Gambar 14 Konjungtivitis Virus

Tanda dan gejala

Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,5-40⁰C, sakit tenggorokan, dan


konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler sering sangat mencolok pada
kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering terjadi,
edema kelopak dengan pseudomembran, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah

28
subepitel. Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).1
Komplikasinya terjadi keratitis epitel superfisial dan atau subepitel.

Laboratorium
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang
– kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam sel HeLa dan ditetapkan
oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis
secara serologic dengan meningkatnya titer antibody penetral virus. Diagnosis klinis
adalah hal mudah dan jelas lebih praktis.1,3,6
Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tak ada bakteri yang
tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak-anak daripada orang dewasa
dan sukar menular di kolam renang berchlor. 1,3,6
Terapi
Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri, umumnya dalam
sekitar 10 hari1.Pengobatan hanya suportif diberikan kompres,astringen, lubrikasi.
Pengobatan biasanya simtomatik dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.

b). Keratokonjungtivitis Epidemika3

Tanda dan gejala


Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu mata
saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien merasa ada infeksi
dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14 hari oleh fotofobia,
keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan
adalah khas. Edema palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut.
Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat membentuk
pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan symblepharon. 1,3,4
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel terutama
terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-bulan namun
menyembuh tanpa meninggalkan parut. 1
Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata.
Namun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam,
sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.

29
Laboratorium
Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37
(subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel
dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi
radang mononuclear primer; bila terbentuk pseudomembran, juga terdapat banyak
neutrofil. 1
Penyebaran
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui jari-jari
tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau pemakaian larutan
yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama anestetika topical, mungkin
terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva
atau silia. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran.
1,3

Pencegahan
Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan memakai penetes
steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. Cuci tangan secara
teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh
mata khususnya tonometer juga suatu keharusan. Tonometer aplanasi harus dibersihkan
dengan alcohol atau hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan
dengan hati-hati. 4,6
Terapi
Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan mengurangi
beberapa gejala. kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat memperpanjang
keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen antibakteri harus diberikan jika
terjadi superinfeksi bacterial. 1

30
c). Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks3

Gambar 15 Konjungtivitis Herpes simpleks

Tanda dan gejala


Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak kecil, adalah
keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi,
sekret mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial
tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus epithelial
yang bercabang banyak (dendritik). Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes
kadang-kadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada
palpebra. Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. 1,3
Laboratorium
Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Jika konjungtivitisnya
folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear, namun jika pseudomembran,
reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari tempat nekrosis. Inklusi
intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea, jika dipakai fiksasi Bouin dan
pulasan Papanicolaou, tetapi tidak terlihat dengan pulasan Giemsa. Ditemukannya sel
– sel epithelial raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic.3
Virus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering di
atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan.3
Terapi
Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang dewasa, umunya
sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun, antivirus local maupun
sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. Untuk ulkus kornea
mungkin diperlukan debridemen kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus

31
dengan kain kering, meneteskan obat antivirus, dan menutupkan mata selama 24 jam.
Antivirus topical sendiri harus diberikan 7 – 10 hari: trifluridine setiap 2 jam sewaktu
bangun atau salep vida rabine lima kali sehari, atau idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap
jam sewaktu bangun dan 1 tetes setiap 2 jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat
pula diobati dengan salep acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan
acyclovir oral, 400 mg lima kali sehari selama 7 hari.3
Untuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. Lebih jarang adalah
pemakaian vidarabine atau idoxuridine. Antivirus topical harus dipakai 7-10 hari.
Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan, karena makin memperburuk infeksi
herpes simplex dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh sendiri yang singkat
menjadi infeksi yang sangat panjang dan berat. 1,3

d). Konjungtivitis Hemoragika Akut2,3


Epidemiologi
Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic besar
konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. Pertama kali diketahui di Ghana
dalam tahun 1969. Konjungtivitis ini disebabkan oleh coxackie virus A24. Masa
inkubasi virus ini pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). 5
Tanda dan Gejala
Kedua mata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air mata,
merah, edema palpebra, dan hemoragi subkonjungtival, sekret seromukus. Kadang-
kadang terjadi kemosis. Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat
berupa bintik-bintik pada awalnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar
ke bawah. Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati preaurikuler, folikel
konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah dilaporkan, demam,
malaise, mialgia, umum pada 25% kasus. 1,5
Penyebaran
Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh fomite seperti
sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan air. Penyembuhan terjadi dalam 5-7 hari
Terapi
Tidak ada pengobatan yang pasti. Penyakit ini dapat sembuh sendiri sehingga
pengobatan hanya simtomatik. Antibiotika spektrum luas, sulfasetamid dapat
digunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Pencegahan adalah dengan mengatur
kebersihan.

32
e). Konjungtivitis Inklusi3
Merupakan konjungitivis yang disebabkan oleh infkesi klamidia yang merupakan
penyakit kelamin.
Epidemiologi
Masa inkubasi 5-10 hari. Klamidia menetap beberapa tahun sehingga mudah terjadi
infeksi ulang. Penyakit ini dapat bersifat epidemik karena merupakan swimming pool
konjungtivitis. Pada bayi timbul 3-5 hari setelah lahir.
Tanda dan Gejala
Konjungtiva hiperemia, kemosis, psudomembran, hipertrofi folikel, hipertrofi papil,
pembesaran kelenjar preaurikuler.

Terapi
Pengobatan sistemik dengan eritromisin lebih efektif daripada topikal.

2. Konjungtivitis Virus Menahun

a). Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum

Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat
menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral, keratitis superior, dan
pannus superior, dan mungkin menyerupai trachoma. Reaksi radang yang mononuclear
(berbeda dengan reaksi pada trachoma), dengan lesi bulat, berombak, putih mutiara,
non-radang dengan bagian pusat, adalah khas molluscum kontagiosum. Biopsy
menampakkan inklusi sitoplasma eosinofilik, yang memenuhi seluruh sitoplasma sel
yang membesar, mendesak inti ke satu sisi.3

Eksisi, insisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi memasukinya, atau
krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya

33
b). Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster

Tanda dan gejala

Hyperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi vesikuler khas sepanjang
penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika adalah khas herpes zoster.
Konjungtivitisnya biasanya papiler, namun pernah ditemukan folikel, pseudomembran,
dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Limfonodus preaurikuler yang nyeri
tekan terdapat pada awal penyakit. parut pada palpebra, entropion, dan bulu mata salah
arah adalah sekuele. 1

Laboratorium

Pada zoster maupun varicella dilakukan pewarnaan Giemsa, kerokan dari vesikel
palpebra mengandung sel raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear; kerokan
konjungtiva pada varicella dan zoster mengandung sel raksasa dan monosit. Virus dapat
diperoleh dari biakan jaringan sel – sel embrio manusia. 1

Komplikasi

Iritis, skleritis, episkleritis, glaukoma, sikatrik pada kelopak, glaukoma, katarak,


kelumpuhan saraf III, IV, VI, atropi saraf optik, dan kebutaan.

Terapi

Pengobatan dengan kompres dingin. Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg oral lima kali
sehari selama 10 hari), jika diberi pada awal perjalanan penyakit, agaknya akan
1
mengurangi dan menghambat penyakit. Pada 2 minggu pertama dapat diberikan
analgesik untuk menghilangkan rasa sakit. Pada komplikasi dapat diberikan steroid,
antiglaukoma dan tetrasiklin.

c). Keratokonjungtivitis Morbilli

Tanda dan gejala

Pada awal penyakit, konjungtiva tampak mirip kaca yang aneh, yang dalam beberapa
hari diikuti pembengkakan lipatan semiluner. Beberapa hari sebelum erupsi kulit,

34
timbul konjungtivitis eksudatif dengan secret mukopurulen, dan saat muncul erupsi
kulit, timbul bercak-bercak Koplik pada konjungtiva dan kadang-kadang pada
carunculus. 1,3

Pada pasien imunokompeten, keratokonjungtivitis campak hanya meninggalkan sedikit


atau sama sekali tanpa sekuel, namun pada pasien kurang gizi atau imunokompeten,
penyakit mata ini seringkali disertai infeksi HSV atau infeksi bacterial sekunder oleh S
pneumonia, H influenza, dan organism lain. Agen ini dapat menimbulkan konjungtivitis
purulen yang disertai ulserasi kornea dan penurunan penglihatan yang berat. Infeksi
herpes dapat menimbulkan ulserasi kornea berat dengan perforasi dan kehilangan
penglihatan pada anak-anak kurang gizi di Negara berkembang. 1,3

Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi sel mononuclear, kecuali jika ada


pseudomembran atau infeksi sekunder. Sedian terpulas giemsa mengandung sel-sel
raksasa. Karena tidak ada terapi spesifik, hanya tindakan penunjang saja yang
dilakukan, kecuali jika ada infeksi sekunder. 1

Konjungtivitis Klamidia Trakoma

Gambar 16 Konjungtivitis trakoma

Etiologi
Chlamydia trachomatis serotipe A,B,Ba, atau C. 2Infeksi ini menyebar melalui
kontak langsung dengan sekret kotoran mata penderita trakoma atau melalui alat-alat
kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan lain-lain. Penyakit ini
sangat menular dan biasanya menyerang kedua mata.5

35
Gambar 17. etiologi dan patofisiologi dari trakoma
Dikutip dari http://cartercenter.org/images/BLINDch_web.gif

Gejala dan tanda


Awalnya merupakan konjungtivitis folikular kronik pada masa kanak-kanak yang
berprogresi menjadi konjungtival scarring. Pada kasus berat, bulu mata yang bengkok
ke arah dalam timbul pada awal masa dewasa sebagai hasil dari konjungtival scarring.
Abrasi yang ditimbulkan oleh bulu mata tersebut dan defek pada tear film akan
mengakibatkan scarring pada kornea, biasanya setelah umur tiga puluh tahun. 2
Periode inkubasinya rata-rata tujuh hari tetapi bervariasi dari lima sampai empat belas
hari. Pada anak kecil, onsetnya tidak jelas dan penyakit dapat sembuh dengan
komplikasi minimal atau tidak ada komplikasi sama sekali. Pada dewasa, onsetnya
sering subakut atau akut, dan komplikasi dapat timbul kemudian. Pada onset, trakoma
sering mirip dengan konjungtivitis bakterial lainnya, tanda dan gejala biasanya terdiri
dari produksi air mata berlebih, fotofobia, nyeri, eksudasi, edema pada kelopak mata,
chemosis pada konjungtiva bulbar, hiperemia, hipertrofi papiler, folikel tarsal dan

36
limbal, keratitis superios, formasi pannus, dan tonjolan kecil dan nyeri dari nodus
preaurikular. 2
Pada trakoma yang sudah benar-benar matang, juga mungkin terdapat keratitis epitelial
superior, keratitis subepitelial, pannus, atau folikel limbal superior, dan akhirnya
terbentuk peninggalan sikatrikal yang patognomonik dari folikel tersebut, yang dikenal
dengan nama Herbert’s pits dengan bentuk depresi kecil dari jaringan ikat pada
partemuan limbokorneal ditutupi oleh epitel. Pannus yang terkait adalah membran
fibrovaskular naik dari limbus, dengan lengkung vaskular memanjang ke kornea.
Semua tanda dari trakoma lebih parah pada konjungtiva dan kornea superior
dibandingkan dengan bagian inferior. 2 Pada sikatrik yang berat dapat terjadi “Tear
Deficiency Syndrome”5

Gambar 18. Herbert’s pits pada trachoma


Dikutip dari http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/atlas/thumbnails/Herberts-pits-enhanced-through-being-
pigmented.jpg

Untuk menegakkan keadaan endemik trakoma pada keluarga atau sebuah komunitas,
sejumlah anak harus mempunyai minimal dua dari tanda berikut: 2
1. Lima atau lebih folikel pada garis konjungtiva tarsal datar
kelopak mata atas.
2. Konjungtival scarring yang khas pada konjungtiva tarsal atas.
3. Folikel limbal atau sekuelnya(Herbert’s pits).
4. Ekstensi atau perpanjangan pembuluh darah ke arah kornea,
paling sering tampak pada limbus superior.
Ketika beberapa individu akan memenuhi kriteria ini, secara luas distribusi tanda ini
pada keluarga individu dan komunitas tersebut diidentifikasi dengan trakoma. 2

37
Klasifikasi trakoma
Untuk tujuan kontrol, WHO pada tahun 1987 telah mengembangkan metode
ringkas untuk menggambarkan penyakit Trakoma. Klasifikasi FISTO tersebut adalah:
2

- TF: Five or more follicles on the upper tarsal conjunctiva(Lima atau


lebih folikel pada konjungtiva tarsal atas dengan ukuran tiap-tiap
diameter folikel >0,5mm atau lebih). 2,9

- TI: Diffuse infiltration and papillary hypertrophy of the upper tarsal


conjunctiva obscuring at least 50% of the normal deep
vessels(Infiltrasi dan hipertrofi papiler yang difus pada konjungtiva
tarsal atas memenuhi setidaknya 50% pembuluh darah normal
dalam). 2,9

- TS: Trachomatous conjunctival scarring(Scarring tarsal


konjungtiva mudah terlihat sebagai garis putih atau lembaran putih).
2,9

- TT: Trichiasis or entropion(Trikiasis atau enteropion ditegakkan


apabila setidaknya satu bulu mata menggosok bola mata). 2,9
- CO: Corneal opacity(Opasitas kornea ditegakkan apabila terjadi
opasitas yang terlihat pada pupil, biasanya menurunkan tajam
pengelihatan sampai kurang dari 6/18). 2,9

38
Gambar 19. stadium trakoma
Dikutip dari http://www.pyroenergen.com/articles/images/trachoma3.jpeg

39
Gambar 20. pembagian stadium trakoma menurut WHO
Dikutip dari http://www.who.int/blindness/publications/trachoma_english1.jpg

Diagnosa
Inklusi klamidia dapat diketemukan pada kerokan konjungtiva yang diwarnai
dengan pengecatan giemsa, tetapi tidak selalu ditemuka. Inklusi muncul pada preparasi
Giemsa sebagai massa sitoplasma berwarna ungu gelap atau biru yang tampak seperti
topi yang menutupi nukleus dari sel epitel. Pengecatan antibodi fluoresensi dan tres
immunoassay enzim tersedia secara komersil dan sering dipakai secara luas pada
laboratorium klinis. Tes-tes tersebut dan tes baru lainnya termasuk PCR, telah

40
menggantikan pengecatan giemsa pada smear konjungtiva dan isolasi agen klamidia
pada kultur sel. 2

Komplikasi
Jaringan parut pada konjungtiva merupakan komplikasi yang sering timbul dan
dapat menghancurkan glandula lakrimalis dan meng-obliterasi duktula glandula
lakrimalis. Keadaan tersebut dapat mengurangi secara drastis komponen akueus pada
tear film prekorneal, dan komponen mukus film mungkin tereduksi oleh karena
hilangnya sel goblet. Jaringan parut juga dapat menyebabkan distorsi kelopak mata atas
dengan deviasi dari bulu mata ke arah dalam(trikiasis) atau keseluruhan pinggiran
kelopak mata(enteropion), jadi bulu mata secara kontan mengabrasi kornea. Hal ini
sering menyebabkan ulserasi kornea, infeksi bakteri korneal, dan jaringan parut kornea.
2

Terapi
Perkembangan klinis yang mencenggangkan dapat diperoleh dengan memberikan
tetrasiklin, 1-1,5g per hari secara oral terbagi dalam empat dosis untuk tiga sampai
empat minggu; doksisiklin, 100mg secara oral dua kali sehari selama tiga minggu; atau
eritromisin, 1g per hari dalam empat dosis terbagi untuk tiga sampai empat minggu.
Sistemik tetrasiklin tidak boleh diberikan pada anak berumur di bawah tujuh tahun atau
pada wanita hamil, karena tetrasiklin mengikat kalsium sehingga mempengaruhi
pertumbuhan gigi dan tulang serta dapat mengakibatkan kelainan kongenital berupa
perubahan warna gigi dan skeletal(contoh, klavikula) menjadi warna kuning permanen.
Studi terakhir pada negara berkembang telah menunjukkan azitromisin merupakan
terapi yang efektif untuk trakoma, diberikan oral 1g pada anak-anak. Karena efek
samping yang minimal dan kemudahan pemberian, antibiotik makrolid ini telahmenjadi
obat pilihan untuk kampanye terapi masal. 2
Ointment topikal atau tetes mata, termasuk preparat sulfonamid, tetrasiklin, eritromisin,
dan rifampisin, digunakan empat kali sehari selama enam minggu ternyata mempunyai
efektivitas yang sama kuat. 2
Dari pertama kali terapi diberikan, efek maksimum biasanya tidak dapat diapai untuk
sepuluh samapai 12 minggu. Persistensi folikel pada tarsal atas untuk beberapa minggu
setelah pemberian terapi tidak seharusnya menjadi pertanda kegagalan proses terapi. 2

41
Koreksi pembedahan pada bulu mata yang masuk ke dalam esensial untuk
mencegah pembentukan jaringan parut dari trakoma lanjut pada negara berkembang.2

Perjalanan penyakit
Jika dibiarkan, kelainan ini berjalan melewati empat tipe(McCallan, 1908): 2
Stadium Nama Gejala

Stadium I Trakoma insipien Folikel imatur,

hipertrofi papilar

minimal

Stadium II Trakoma Folikel matur pada

dataran tarsal atas

Stadium IIA Dengan Hipertrofi Keratitis, Folikel

folikular yang menonjol limbal

Stadium IIB Dengan Hipertrofi Aktivitas kuat dengan

papilar yang menonjol folikel matur tertimbun

dibawah hipertrofi

papilar yang hebat

Stadium III Trakoma memarut Parut pada konjungtiva

(sikatrik) tarsal atas, permulaan

trikiasis, entropion

Stadium IV Trakoma sembuh Tak aktif, tak ada

hipertrofi papilar atau

folikular, parut dalam

bermacam derajat

variasi

Gambar 21. stadium perjalanan penyakit pada trakoma

42
C. Konjungtivitis Imunologik (Alergik):
 Reaksi Hipersensitivitas Humoral Langsung
a. Konjungtivitis Demam Jerami (Hay Fever)
Tanda dan gejala
Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai demam jerami (rhinitis
alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan, dan
lainnya. Pasien mengeluh tentang gatal-gatal, berair mata, mata merah, dan sering
mengatakan bahwa matanya seakan-akan “tenggelam dalam jaringan sekitarnya”.
Terdapat sedikit penambahan pembuluh pada palpebra dan konjungtiva bulbi, dan
selama serangan akut sering terdapat kemosis berat (yang menjadi sebab
“tenggelamnya” tadi). Mungkin terdapat sedikit sekret, khususnya jika pasien telah
mengucek matanya.
Laboratorium
Sulit ditemukan eosinofil dalam kerokan konjungtiva
Terapi
Meneteskan vasokonstriktor local pada tahap akut (epineprin, larutan 1:1000 yang
diberikan secara topical, akan menghilangkan kemosis dan gejalanya dalam 30 menit).
Kompres dingin membantu mengatasi gatal-gatal dan antihistamin hanya sedikit
manfaatnya. Respon langsung terhadap pengobatan cukup baik, namun sering kambuh
kecuali anti-gennya dapat dihilangkan.
b. Konjungtivitis Vernalis

Gambar 22 KonjungtivitisVernalis

Definisi
Penyakit ini, juga dikenal sebagai “konjungtivitis musiman” atau “konjungtivitis
musim kemarau”, adalah penyakit alergi bilateral yang jarang.1,3 Penyakit ini lebih

43
jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah dingin. Penyakit ini hampir selalu
lebih parah selama musim semi, musim panas dan musim gugur daripada musim dingin.
Insiden
Biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5 – 10 tahun. Penyakit
ini lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. 5
Tanda dan gejala
Pasien mengeluh gatal-gatal yang sangat dan bersekret berserat-serat. Biasanya
terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lainnya). Konjungtiva
tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis
inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali.
Setiap papilla raksasa berbentuk polygonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas
kapiler. Kompliasi Shiled Ulcer 1,2,3
Laboratorium

Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan
granula eosinofilik bebas. 1
Terapi
Penyakit ini sembuh sendiri tetapi medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya
member hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai untuk jangka panjang. steroid
sisremik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengharuhi penyakit kornea
ini, dan efek sampingnya (glaucoma, katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat
merugikan.
Cromolyn topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat.
Vasokonstriktor, kompres dingin dan kompres es ada manfaatnya, dan tidur di tempat
ber AC sangat menyamankan pasien. Agaknya yang paling baik adalah pindah ke
tempat beriklim sejuk dan lembab. Pasien yang melakukan ini sangat tertolong bahkan
dapat sembuh total. 1,3

c. Konjungtivitis Atopik
Tanda dan gejala
Sensasi terbakar, mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian palpebra eritemosa, dan
konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla halus, namun papilla raksasa
tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di
tarsus inferior. Berbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis vernal, yang

44
terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada perjalanan
lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulangkali. Timbul keratitis
perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus berat, seluruh kornea
tampak kabur dan bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan. 1,3
Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada pasien atau
keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic sejak bayi. Parut
pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering
ditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-
larut dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal,
penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun.
Laboratorium
Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang terlihat
sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 1
Terapi
Antihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10 mg
empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200 mg)
ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti
ketorolac dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Pada
kasus berat, plasmaferesis merupakan terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan
komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk
mengembalikan ketajaman penglihatannya. 1,3
 Reaksi Hipersensitivitas Tipe Lambat
Phlyctenulosis
Definisi
Keratokonjungtivitis phlcytenularis adalah respon hipersensitivitas lambat terhadap
protein mikroba, termasuk protein dari basil tuberkel, Staphylococcus spp, Candida
albicans, Coccidioides immitis, Haemophilus aegyptus, dan Chlamydia trachomatis
serotype L1, L2, dan L3. 1

45
Gambar 23.Konjungtivitis flikten

Tanda dan Gejala


Phlyctenule konjungtiva mulai berupa lesi kecil yang keras, merah, menimbul, dan
dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga, dengan apeks
mengarah ke kornea. Di sini terbentuk pusat putih kelabu, yang segera menjadi ulkus
dan mereda dalam 10-12 hari. Phlyctenule pertama pada pasien dan pada kebanyakan
kasus kambuh terjadi di limbus, namun ada juga yang di kornea, bulbus, dan sangat
jarang di tarsus. 1
Phlyctenule konjungtiva biasanya hanya menimbulkan iritasi dan air mata, namun
phlyctenule kornea dan limbus umumnya disertai fotofobia hebat. Phlyctenulosis sering
dipicu oleh blefaritis aktif, konjungtivitis bacterial akut, dan defisiensi diet.
Terapi
Phlyctenulosis yang diinduksi oleh tuberkuloprotein dan protein dari infeksi sistemik
lain berespon secara dramatis terhadap kortikosteroid topical. Terjadi reduksi sebagian
besar gejala dalam 24 jam dan lesi hilang dalam 24 jam berikutnya. Antibiotika topical
hendaknya ditambahkan untuk blefarikonjungtivitis stafilokokus aktif. Pengobatan
hendaknya ditujukan terhadap penyakit penyebab, dan steroid bila efektif, hendaknya
hanya dipakai untuk mengatasi gejala akut dan parut kornea yang menetap. Parut
kornea berat mungkin memerlukan tranplantasi. 1

D. Konjungtivitis Akibat Penyakit Autoimun:


 Keratokonjungtivitis Sicca
Berkaitan dgn. Sindrom Sjorgen (trias: keratokonj. sika, xerostomia, artritis).
Gejala:
-gatal, mata berpasir,silau, sekresi mukus brlebihan,mata kering,kadang2 keratitis.
- khas: hiperemia konjungtivitis bulbi dan gejala iritasi yang tidak sebanding dengan
tanda-tanda radang.

46
- Dimulai dengan konjungtivitis kataralis
- Pada pagi hari tidak ada atau hampir tidak ada rasa sakit, tetapi menjelang siang atau
malam hari rasa sakit semakin hebat.
- Lapisan air mata berkurang (uji Schirmer: abnormal)
- Pewarnaan Rose bengal Ù uji diagnostik.
Pengobatan:
- air mata buatan Ù vitamin A topikal
- obliterasi pungta lakrimal.

E. Konjungtivitis Kimia atau Iritatif:


 Konjungtivitis Iatrogenik Pemberian Obat Topikal
Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik infiltrate, yang diikuti
pembentukan parut, sering kali terjadi akibat pemberian lama dipivefrin, miotika,
idoxuridine, neomycin, dan obat-obat lain yang disiapkan dalam bahanpengawet atau
vehikel toksik atau yang menimbulakan iritasi. Perak nitrat yang diteteskan ke dalam
saccus conjingtiva saat lahir sering menjadi penyebab konjungtivitis kimia ringan. Jika
produksi air mata berkurang akibat iritasi yang kontinyu, konjungtiva kemudian akan
cedera karena tidak ada pengenceran terhadap agen yang merusak saat diteteskan
kedalam saccus conjungtivae.
Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratin, beberapa neutrofil
polimorfonuklear, dan sesekali ada sel berbentuk aneh. Pengobatan terdiri atas
menghentikan agen penyebab dan memakai tetesan yang lembut atau lunak, atau sama
sekali tanpa tetesan. Sering reaksi konjungtiva menetap sampai berminggu-minggu
atau berbulan-bulan lamanya setelah penyebabnya dihilangkan.

 Konjungtivitis Pekerjaan oleh Bahan Kimia dan Iritans


Asam, alkali, asap, angin, dan hampir setiap substansi iritan yang masuk ke saccus
conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan umum adalah pupuk,
sabun, deodorant, spray rambut, tembakau, bahan-bahan make-up, dan berbagai asam
dan alkali. Di daerah tertentu,asbut (campuran asap dan kabut) menjadi penyebab
utama konjungtivitis kimia ringan. Iritan spesifik dalam asbut belum dapat ditetapkan
secara positif, dan pengobatannya non-spesifik. Tidak ada efek pada mata yang

47
permanen, namun mata yang terkena seringkali merah dan terasa mengganggu secara
menahun. 1

Pada luka karena asam, asam itu mengubah sifat protein jaringan dan efek langsung.
Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup kedalam jaringan
dan menetap di dalam jaringan konjungtiva. Disini mereka terus menerus merusak
selama berjam-jam atau berhari-hari lamanya, tergantung konsentrasi molar alkali
tersebut dan jumlah yang masuk. Perlekatan antara konjungtiva bulbi dan palpebra dan
leokoma kornea lebih besar kemungkinan terjadi jika agen penyebabnya adalah alkali.
Pada kejadian manapun, gejala utama luka bahan kimia adalah sakit, pelebaran
pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu biasanya
dapat diungkapkan.

Pembilasan segera dan menyeluruh saccus conjungtivae dengan air atau larutan garam
sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara mekanik. Jangan
memakai antidotum kimiawi. Tindakan simtomatik umum adalah kompres dingin
selama 20 menit setiap jam, teteskan atropine 1% dua kali sehari, dan beri analgetika
sistemik bila perlu. Konjungtivitis bacterial dapat diobati dengan agen antibakteri yang
cocok. Parut kornea mungkin memerlukan transplantasi kornea, dan symblepharon
mungkin memerlukan bedah plastic terhadap konjungtiva. Luka bakar berat pada
kojungtiva dan kornea prognosisnya buruk meskipun dibedah. Namun jika pengobatan
memadai dimulai segera, parut yang terbentuk akan minim dan prognosisnya lebih
baik.

Diagnosis Banding Konjungtivitis Gambaran Klinis1

Tanda Bakterial Virus Alergi Toksik Clamidia

Injeksi Mencolok Sedang Ringan- Ringan- Sedang


Konjungtiva Sedang Sedang

Hemoragi + + - - -

Kemosis ++ +/- ++ +/- +/-

48
Eksudat Purulen – Jarang, Berserabut - Berserabut
Mukopurulen air lengket lengket
putih

Pseudomembran +/- +/- - - -

Papil +/- - + - +/-

Folikel - + - + +

Nodus + ++ - - +/-
preaurikuler

Pannus - - - (kecuali - +
vernal)

Klinik dan Virus Bakteri Klamidia Alergi


Sitologi

Gatal Minim Minim Minim Hebat

Hiperemia Umum Umum Umum Umum

Eksudat Minim Mengucur Mengucur Minim

Adenopati Lazim Jarang Lazim hanya Tak ada


Preurikular Konjungtivitis
inklusi

Pewarnaan Monosit Bakteri,PMN PMN Eosinofil


kerokan

Sakit Kadang2 Kadang2 Tak pernah Tak pernah


tenggorakan,
panas yang
menyertai

49
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Teori Kasus
Anamnesis  Mata merah  Terdapat mata merah
 Eksudasi  Terdapat eksudasi
terutama saat bangun
tidur pagi hari

Pemeriksaan  Kemerahan pada konjungtiva ODS


 Eksudat purulen  terdapat injeksi
 Udem palpebra konjungtiva
 membran  saat pemeriksaan tidak
ditemukan eksudat
 terdapat udem palpebra
superior
 terdapat mebran

Tatalaksana  Terapi spesifik tergantung pada temuan  Diberikan antibiotik


agen mikrobiologiknya, sambil menunggu topikal
hasil dapat diberikan antibiotik topikal  Diberikan NSAID
spektrum luas topikal
 Membilas saccus conjunvtivalis dengan
larutan saline untuk menghilangkan sekret

50
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section


11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006

2. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Jakarta. 1998

3. Ilyas, H. Sidarta Prof. dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003, hal
2, 134.

4. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005

5. Pedoman Diagnosis dan Terapi, SMF Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, 2006
,Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo, Surabaya.

6. Putz, R. & Pabst R. Sobotta. Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2000. hal 356.

7. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa


kedokteran. Jakarta. 2002

8. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000

9. Wijaya N. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 1983

51