Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Tanah merupakan bagian terluar lapisan bumi (ketebalan berkisar antara beberapa
centimeter hingga lebih dari 3 meter) yang tersusun dari campuran bahan-bahan
organic dan mineral sebagai tempat tumbuhnya tanaman (Pritchett, 1979). Sistem
tanah tersusun atas tiga fase yaitu padat, cair, dan gas. Fase padat merupakan
campuran bahan organic dan anorganik sehingga membentuk kerangka tanah.
Kerangka berkaitan dengan system pori yang bergabung bersama-sama dengan fase
cair dan gas. Bahan anorganik, bahan organic, air dan udara merupakan empat
konstituen utama tanah, dimana konsentrasinya berbeda-beda menurut horizon. dan
jenis tanah (Tan, 2000).
Tanah yang bertekstur lempung mempunyai komposisi 45 % bahan anorganik,
5 % bahan organic, 25 % air, dan 25 % udara dilaporkan merupakan kondisi yang
optimum untuk pertumbuhan tanaman (Brady, 1990). Kandungan hara di dalam
tanah meliputi N, P, K, Ca, Mg, Fe, Mn, Zn, Bo, Co, Br, dan sebagainya, yang
terdapat dalam bentuk tersedia maupun tidak tersedia bagi tumbuhan (Pritchett, 1979).

Sifat-sifat tanah yang menyebabkannya bermanfaat adalah (1) penyedia air, nutrien,
dan tempat bertumpuhnya pohon, (2) habitat untuk organisme decomposer yang
berperan dalam siklus karbon dan hara mineral, (3) mempunyai aksi penyangga
(buffer) terhadap perubahan temperatur dan air antara atmosfer dan air tanah, dan (4)
peranananya dalam pergantian ion (penyangga pH) sehingga mempertahankan nutrien
dan unsure lainnya dari pencucian dan volatilisasi (Wild, 1993).
Salah satu peran tanah dalam bidang pertanian adalah sebagai tempat penyimpanan
air yang sangat penting dalam hubungan kation, pelapukan bahan organik dan
kegiatan jasad-jasad renik. Hal itu dijumpai pada pori-pori mikro.

Sifat tanah dibedakan atas sifat fisik dan sifat kimia tanah. Pada analisa sifat fisik
tanah contoh tanah yang diambil dapat berupa 3 jenis yaitu : (1) contoh tanah utuh
untuk penetapan kerapatan limbak, susunan pori tanah, pF dan permeabilitas; (2)
contoh tanah dengan agregat utuh untuk penetapan kemantapan agregat dan (3)
contoh tanah biasa atau contoh tanah terganggu untuk penetapan kadar air, tekstur,
konsistensi, dan kadar air optimum.

Pengukuran kekuatan tanah

Penetrometer adalah pengukur kekuatan atau ketahanan tanah terhadap penembusan secara vertikal.
Pada mulanya penetrometer hanya digunakan untuk penyelidikan kualitatif terhadap kerapatan
relatif zarah-zarah dan konsistensi tanah. Sekarang, banyak jenis penetrometer telah dirancang untuk
pengukuran kuantitatif kekuatan tanah terhadap penembusan, sehingga dapat dihubungkan secara
tepat dengan sifat-sifat fisik tanah seperti daya olah, kerapatan relatif zarah-zarah tanah,
kemampatan, daya tahan terhadap tekanan atau kekuatan dan daya dukung tanah terhadap
gangguan alat-alat besar. Penometer yang paling mudah dan praktis digunakan adalah penometr saku.
Prinsip kerja penometer ini adalah jarum piston yang dapat ditekan ke tanah dihungkan dengan
sebuah per. Perubahan bentuk maksimum per tersebut akibat jarum piston yang ditekan ke tanah,
dihubungkan dengan kekuatan tanah terhadap tekanan yang dinyatakan dalam Kg/cm2. alat ini
dapat dipakai langsung pada permukaan tanah di lapangan, pada tanah-tanah dalam tabung contoh,
pada bongkahan-bongkahan contoh tanah yang tidak terganggu atau pada tanah dalam lubang galian.
Alat ini banyak dipakai dalam teknik bangunan untuk menduga besarnya tekanan yang diajukan pada
suatu bidang tanah. Dibidang kehutanan alat ini berguna untuk pemilihan jenis-jenis alat besar yang
tidak merusak struktur tanah.

Kadar air tanah

Tanah terdiri dari 3 fase, yaitu cairan, gas dan padatan. Fase cairan adalah air tanah yang mengisi
bagian-bagian atau seluruh ruangan kosong di antara zarah-zarah padat. Salah satu peran tanah bagi
vegetasi adalah sebagai tempat penyimpanan air yang sangat penting dalam hubungan kation,
pelapukan bahan organik dan kegiatan jasad-jasad mikro. Hal ini dijumpai dalam pori-pori mikro
ataupun sebagai selaput-selaput yang berada di sekitar zarah-zarah tanah. Air yang tidak tertahan
akan mengisi poro-pori makro dan kemudian meresap ke bawah karena adanya gaya grafitasi.

Penahanan air oleh tanah serta kecenderungan air bergerak dalam tanah, bergerak dari tanah ke
tanaman dan dari tanaman ke atmospher merupakan akibat adanya selisih potensial akibat
perbedaan energi. Potensi total air tanah adalah jumlah pengaruh dari berbagai gaya yaitu potensial,
grafitasi, potensial matriks, potensial osmotik, dan potensial lain yang kurang begitu berarti.
Potensial grafitasi berperan penting dalam menghilangkan air berlebih. Potensial osmotik disebabkan
oleh adanya bahan terlarut dalam tanah yang dapat menurunkan energi bebas air karena ion dan
atau bahan terlarut dalam air akan menarik molekul-molekul air, jadi potensialnya negatif. Potensial
matriks merupakan hasil gaya kapilaritas dan gaya jerapan yang diakibatkan oleh matriks tanah.
Kedua gaya tersebut menurunkan energi bebas tanah sehingga potensial matriks akan selalu negatif.
Potensial yang sangat mempengaruhi hubungan air-tanah dan tanaman adalah potensial matriks dan
osmotik. Karena kedua potensial tersebut negatif, maka sering disebut tegangan atau hisapan.

Air dalam tanah dapat digolongkan dalam (1) air grafitasi (2) air kapiler, dan (3) air higroskopis. Air
grafitasi adalah air yang tidak dapat ditahan oleh tanah, tetapi meresap ke bawah karena pengaruh
gaya grafitasi dan terdapat antara tegangan 0,1 sampai 0,5 atmospher. Air kapiler adalah air yang
dijerap. Biasanya merupakan suatu lapisan yang ada di sekeliling zarah-zarah tanah dan berada dalam
ruang kapiler dan berada antara tegangan 0,1 dan 31 atmospher. Air higroskopik adalah air yang
dijerap dari uap air oleh zarah tanah. Air ini melekat pada permukaan zarah tanah berupa lapisan tipis
yang terdiri dari lapisan molekul air. Lapisan ini tertahan kuat sekali sehingga tidak mudah menguap
dalam keadaan biasa. Air higroskopik tidak dapat diserap oleh tumbuhan dan berada pada tegangan
31—10.000 atmospher.

Untuk mengetahui keadaan air air tanah dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman, maka
perlu ditetapkan kadar air tanah dalam beberapa keadaan seperti (1) kadar air total, (2) kapasitas
lapang, dan (3) titik layu permanen.

Kadar air total tanah adalah kadar air tanah yang diperoleh dengan jalan pengeringan tanah kering
udara di dlam oven pada suhu 105oC sehingga bobotnya tetap. Kapasitas lapang adalah jumlah air
yang ditahan oleh tanah setelah kelebihan air grafitasi meresap ke bawah karena gaya grafitasi. Titik
layu permanen adalah kanduangan air pada saat vegetasi yang tumbuh diatasnya telah mengalami
layu permanen dalam arti sukar untuk disembuhkan kembali meskipun telah ditambahkan sejumlah
air yang mencukupi. Selisih antara kapasitas lapang dan titik layu permanen disebut air tersedia.

Penetapan kadar air tanah dapat dilakukan dengan cara langsung, tidak langsung, dan berbagai
berbagai teknik dengan penetapan potensial kelembaban.

Tekstur tanah

Tekstur tanah adah susunan relatif dari tiga ukuran zarah tanah, yaitu pasir (berukuran 50 m -- 2 mm);
debu (berukuran 2 m --50 m) dan liat (berukuran < 2 m) tanah dengan kandungan debu tinggi
mempunyai kapasitas tertinggi untuk mengikat air tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Pelapukan
mineral secara kimiawi pada pemecahan pasir dan debu menghasilkan ion-ion yang akan bergabung
kembali untuk membentuk kristal-kristal baru dari mineral-mineral sekunder, yang mempunyai
ukuran partikel kecil dan terjadi pada pemisahan liat, mineral-mineral ini cenderung membentuk
semacam lempeng, beberapa partikel dengan ukuran sangat halus mengembang dan mengerut
karena adanya pembasahan dan pengeringan. Hal ini diakibatkan karena daerah permukaan yang
sangat luas per gram dan dengan satu kemampuan untuk menahan sejumlah besar air. Sebagian
besar partikel liat juga mempunyai muatan negatif yang dipenuhi oleh kation-kation yang menetralisir
muatan negatif dari liat. Kation-kation yang diabsorbsi bergerak dekat dengan permukaan liat dan
bertukar tempat satu dengan yang lainnya, dan dengan kation-kation dalam larutan tanah. Kapasitas
tanah untuk mengabsorbsi kation-kation dapat ditukar disebut kapasitas tukar kation. Kation-kation
dapat ditukar yang diadsorbsi tidak dapat tercuci dari tanah dan sedikit tersedia untuk dapat
digunakan tanaman. Jadi tanah-tanah dengan kandungan liat tinggi cenderung memiliki kapasitas
yang tinggi untuk menahan baik air, maupun unsur hara yang tersedia.

Untuk keperluan pemilihan ada 13 kelas tekstur tanah yaitu pasir, debu, liat, pasir berlempung,
lempung berpasir, lempung, lempung berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat
berdebu, liat berpasir dan liat berdebu. Pembagian itu kemudian disederhanakan menjadi tujuh kelas
yang terdiri dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu, dan liat
sangat halus. Penetapan tekstur secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penetapan
kasar menurut perasaan di lapangan dan penetapan di laboratorium.

Penetapan menurut perasaan di lapangan

Masa tanah kering atau lembab dibasahi kemudian dipirid di antara ibu jari dan telunjuk sehingga
membentuk pita lembab sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licin. Kemudian digulung-gulung
sambil dilihat daya tahan terhadap tekanan dan dilihat kelekatan masa tanah waktu telunjuk dan ibu
jari direnggangkan. Dari rasa kasar atau licin, gejala piridan, gulungan dan kelekatan dapat ditentukan
kelas tekstur lapang. Kelas tekstur lapang tersebut disajikan dalam tabel berikut :

No. Kelas Tekstur Rasa dan sifat tanah


1. pasir Rasa kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan, serta
tidak melekat
2. Pasir berlempung Rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah sekali
hancur serta sedikit sekali melekat
3. Lempung berpasir Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah
hancur, serta melekat
4. Lempung berdebu Rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk pita, lekat
5. lempung Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat
sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta agak
melekat
6. debu Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung
dengan permukaan mengkilat serta agak melekat
7. Lempung berliat Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (kering),
membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta
melekat
8. Lempung liat berpasir Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (kering),
membentuk gulungan jika dipijit gulungan mudah hancur serta
melekat
9. Lempung liat berdebu Rasa jelas licin, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat
serta melekat
10. Liat berpasir Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering,
sukar dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali
11. Liat berdebu Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar
dipijit, mudah digulung serta melekat sekali
12. liat Rasa berat, membentuk bola baik serta melekat sekali
13. Liat berat Rasa berat sekali, membentuk bola baik serta melekat sekali

Penentuan tekstur tanah yang paling umum dilakukan di laboratorium adalah dengan metode pipet
dan atau hidromet. Dengan metode ini penetapan tekstur dilakukan berdasarkan hukum Stokes
(Baver, 1959). Secara garis besar hukum tersebut didasarkan atas pengendapan zarah berbentuk bola
dalam suatu cairan. Jari-jari tengah mempengaruhi kecepatan pengendapan.