Anda di halaman 1dari 22

Nama : IBRAHIM MALIK

No Peserta : 18120222010158
Tugas : TUGAS MODUL 2 KB 2 PROFESIONAL

Instructions

1. Carilah dari berbagai sumber tentang syarat suatu ilmu itu dapat berdiri
sendiri dan fakuskan pada ilmu keolahragaan!
2. Salah satu syarat suatu ilmu dapat berdiri sendiri adalah objek materi tidak
dikaji oleh bidang ilmu lainnya. Carilah objek materi bidang ilmu
keolahragan yang tidak dikaji oleh bidang ilmu lainnya serta utarakan
hakikat objek materi dimaksud!

JAWABAN

A. Carilah dari berbagai sumber tentang syarat suatu ilmu itu dapat berdiri
sendiri dan fakuskan pada ilmu keolahragaan
Ilmu adalah suatu kumpulan pengetahuan yang dapat diandalkan dan
berguna bagi manusia dalam menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol
gejala alam. Sedangkan makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia
adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang
merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Webster’s New
Collegiate Dictonary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk
mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam
olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat). Menurut Cholik
Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau
usaha yang dapat mendorong mengembangkan,dan membina potensi-
potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota
masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan
prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang
berkualitas berdasarkan Pancasila. Dari beberapa penjelasan diatas dapat
disimpulakan ilmu keolahragaan adalah kumpulan pengetahuan yang
berguna untuk menjelaskan, meramalkan, mengontrol segala aktivitas yang
bertujuan membinan, memelihara atau mengembangkan kegiatan fisik yang
ditujukan untuk aktivitas fisik yang untuk mencari prestasi maupun tidak.
Ilmu Pendukung Ilmu Keolahragaan

Pada hakekatnya ilmu keolahragaan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi


membutuhkan ilmu pengetahuan yang lain untuk bisa diterapkan scara
maksimal. Menurut Herbert Haag (1994:52) ada beberapa ilmu pengetahuan
yang mendukung ilmu keolahragaan antara lain:

1. Olahraga Kesehatan
a. Definisi Olahraga Kesehatan
Olahraga kesehatan merupakan ilmu olahraga yang bertujuan bertujuan
untuk kesehatan, baik ditinjau dari segi usia, kemampuan fisik dan penyakit
bawaan seperti penyakit jantung, asma, hepatitis, darah tinggi dan penyakit
dalam lainnya. Ilmu kesehatan olahraga berhubungan dengan cedera,
pencegahan kecelakaan dalam berolahraga, terapi, dan penelitian-penelitian
pengobatan cedera. Dengan ilmu olahraga kesehatan diharapkan dapat
memeperbaiki atau mengurangi resiko atau menjadi terapi olahraga bagi
orang-orang yang mengidap penyakit dalam dan cedera dalam berolahraga.

b. Hubungan Olahraga dengan kesehatan


Olahraga merupakan aktivitas yang harus dilakukan setiap orang untuk
menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dan psikologi. Di dalam tubuh
yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jika Anda ingin memiliki jiwa yang
sehat, maka harus punya tubuh yang sehat, hal ini bisa kita lihat ketika kita
tidak dalam keadaan sehat, maka kita tidak akan berpikir secara sehat.
2. Biomekanika
a. Definisi Biomekanika

Mekanika adalah merupakan salah satu cari cabang ilmu fisika yang
mempelajari gerak dan perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan
ganguan mekanik yang disebut gaya. Mekanika adalah cabang ilmu yang
tertua dari semua cabang ilmu dalam fisika. Tersebutlah nama-nama seperti
Archimides (287-212 SM), Galileo Galilei (1564-1642), dan Issac Newton
(1642-1727) yang merupakan peletak dasar bidang ilmu ini. Galileo adalah
peletak dasar analisa dan eksperimen dalam ilmu dinamika. Sedangkan
Newton merangkum gejala-gejala dalam dinamika dalam hukum-hukum
gerak dan gravitasi.

Mekanika teknik atau disebut juga dengan mekanika terapan adalah


ilmu yang mempelajari peneraapan dari prinsip-prinpsip mekanika.
Mekanika terapan mempelajari analisis dan disain dari sistem mekanik.
Biomekanika didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada
sistem biologi. Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu
mekanika terapan dari ilmu-ilmu biologi dan fisiologi. Biomekanika
menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam
biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep,
analisis, disain dan pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan
kedoteran.

b. Biomekanika dalam Olahraga


Tidak bisa dipungkiri biomakania sangat berguna untuk
mendukung ilmu olah raga. Biomekania mempelajari gerak mekanis dari
mahluk hidup, itu artinya ilmu ini menganalisis samua gerakan yang di
timbulkan oleh gerakan manusia yg sedang berolahraga dengan tujuan
mendapatkan gerakan atau teknik yang efektif dan efisien. Dengan
menganalisis gerak pelatih bisa memaksimalkan kemampuan atet yang
dibinanya dengan cara menganalisis setiap kesalahan-kesalahan dari tehnik
atlet kemudian di betulkan, menganalisis otot apa saja yang dipakai
kemudian dilatih agar bisa mendapatkan gerakan-gerakan dan power yang
lebih baik.
3. Psikologi Olahraga
a. Defini Psikologi Olahraga
Psikologi secara umum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
tentang gejala kejiwaan manusia. Sedangkan kejiwaan atau jiwa adalah
merupakan sesuatu yang sifatnya abstrak, yang berarti tidak dapat dilihat
dan belum dapat diungkapkan secara jelas dan lengkap. Oleh karena itu,
untuk mengungkapnya para ahli cenderung untuk mempelajari kejiwaan
yang terjelma ke dalam jasmani manusia dalam bentuk perilaku fisik, yaitu
segala aktivitas, perbuatan, atau penampilan diri manusia dalam hidupnya.
Dengan demikian sebenarnya bahwa perilaku manusia merupakan
pencerminan dari kejiwaannya, sehingga psikologi dapat juga dikatakan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku atau tingkahlaku manusia.

Psikologi olahraga adalah merupakah salah satu cabang ilmu yang


relatif baru, yaitu merupakan salah satu hasil perkembangan dari psikologi.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa sejak akhir abab ke-19 para ahli psikologi
telah berusaha menerapkan hasil-hasil penelitian psikologi ke dalam
kehidupan sehari-hari. Selanjutnya tumbuh dan berkembang apa yang
disebut sebagai psikologi terapan (applied psychology) di berbagai bidang,
termasuk salah satunya adalah dalam bidang olahraga.

b. Psikologi dalam Olahraga


Ada beberapa Psikologi yang di terapkan dalam Olahraga antara lain:
1) Psikologi Perkembangan
Dalam psikologi perkembangan dikenal interaksi antara bakat dan
lingkungan (nature vs nurture). Kalau bakat sudah ditemukan, usaha
pencetakan atlet sangat diperlukan. Salahsatunya keberhasilan Korea Selatan
atau Jepang dalam olahraga di tingkat dunia jelas menujukan keberhasilan
“mencetak atlet”. Pada Negara maju, tentunya dengan pengetahuan yang
maju serta di tunjang peralatan canggih, mereka berhasil mengembangkan
para etlet sampai ke puncak penampilannya sajajar dengan atlet-atlet dunia
lainnya (tentu tidak pada semua cabang olahraga).
2) Psikologi Belajar
Proses belajar menjadi ciri umum dari individu yang sedang tumbuh dan
berkembang. Belajar bisa belangsung secara pasif melalui intansi atau secara
aktif yang sengaja di buat, diprogramkan atau diintruksikan. Banyak
penampilan yang Nampak sekarang ini adalah hasil proses belajar (aktif atau
pasif). Proses pembentukan ini banyak mempergunakan dasar dan konsep
psikologi belajar.

Dalam usaha mencentak atlet yang baik perlu usaha keras dan berbagai
pihak. Pada atlet pemula atau muda usia, peran serta dari keluarga (orang
tua) besar sekali, dari minat dan bakat, dari kemampuan teknis sebagai
bakat (potensi) yang dimiliki harus bisa di munculkan (aktualisasi) menjadi
prestrasi.

3) Psikologi Kepribadian
Aspek kepribadian cukup mendominasi dalam penampilan atlet antara
lain motivasi, kecemasan, sifat mudah menyerah, sifat sifat emosional, sifat
pemalu,dan masih banyak aspek-aspek kepribadian lainnya, untuk itu
pelatih atau guru olahraga harus bisa memahami dan mengerti atlet ataupun
anak didiknya agar bisa dikembangkan kearah yang lebih baik.

4) Psikologi Sosial
Proses sosialisasi menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat
pehatian khusus, agar pandangan dan sikap-sikapnya terhadap orang lain
tidak menjadi sempit. Kepercayaan diri berkaitan pula dengan pengaruh
sekelilingnya. Dalam hal ini yang jelas adalah pengaruh penonton. Penonton
adalah sekelompok massa yang bisa menekan perasan atlet, sekalipun dalam
hal-hal tertentu dapat menjadi pendorong positif kearah penampilannya
yang optimal.Pendekatan psikologi sosial dapat diarahkan untuk mengubah
sikap penyesuaian diri serta kepercayaan diri seorang.

5) Psikometri
Penilaian terhadap atlet merupakan usaha untuk menentukan langkah-
langkah dalam pembinaan lebih lanjut. Penilaian ini menjadi masalah yang
rumit dalam olahraga. Seorang pelatih bolabasket bisa menilai kelemahan-
kelemahan atletnya, meskipun penilaian itu tidak selalu sama dengan pelatih
lain. Demikian pula pelatih-pelatih dalam cabang lain baik cabang olahaga
yang bersifat individu maupun kelompok .

Penggunaan psikometri harus menjadi di kebijaksanaan dan bahkan


peraturan sehingga semua hal, yang akan ditentukan mengenai kepribadian
atlet dapat dilakukan dengan dasar patokan yang mantap.

4. Pedagogi Olahraga
a. Definisi Pedagogi Olahraga
Pedagogi Olahraga adalah sebuah disiplin ilmu keolahragaan yang
berpotensi untuk mengintegrasikan subdisiplin ilmu keolahragaan lainnya
untuk melandasi semua praktik dalam bidang keolahragaan yang
mengandung maksud dan tujuan untuk mendidik.
Dalam model yang dikembangkan di Universitas Olahraga Moskow, pedagogi
olahraga ditempatkan sebagai ”pusat” yang berpotensi untuk memadukan
beberapa subdisiplin ilmu dalam taksonomi ilmu keolahragaan, sementara
para ahli meletakkan sport medicine yang mencakup aspek keselamatan
(safety) dan kesehatan sebagai landasan bagi pedagogi olahraga (Rusli
Lutan, 1988; dalam laporan hasil The Second Asia-pasicic Congress Of Sport
and Physical Education University President
Definisi ini sangat banyak mebantu kita untuk memahami bahwa
lingkup pedagogi olahraga banyak berurusan dengan segenap upaya yang
bersifat mendidik yang sarat dengan misi dalam rangka proses
pembudayaan, khususnya transformasi nilai-nilai inti, yang memang, jika
disimak secar cermat, bahwa olahraga itu sangat kaya dengan potensi dan
kesempatan dalam pembekalan kecakapan hidup.

5. Sosiologi Olahraga
a. Definisi Sosiologi Olahraga
Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat
dan proses-proses sosial yang terjadi di dalamnya antar hubungan manusia
dengan manusia, secara individu maupun kelompok, baik dalam suasana
formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
Sosiologi olahraga merupakan ilmu terapan, yaitu kajian sosiologis pada
masalah keolahragaan. Proses sosial dalam olahraga menghasilkan
karakteristik perilaku dalam bersaing dan kerjasama membangun suatu
permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata yang sudah
melembaga. Kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe
perilaku anggotannya dalam mencapai tujuan bersama, kelompok sosial
biasanya terwadahi dalam lembaga sosial, yaitu organisasi sosial dan
pranata. Beragam pranata yang ada ternyata terkait dengan fenomena
olahraga.

b. Hubungan Ilmu Sosilogi dan Ilmu Olahraga


Dari penjelasan diatas secara gamblang telah dijelaskan sosiologi
merupakan ilmu yang mempelajari proses sosial yang terjadi anatar
hubungan manusia dengan manusia, itu artinya ilmu ini sangat dibutuhkan
didalam ilmu keolahragaan sebagai panduan untuk bisa bersosialisasi
dilapangan. Dengan semakin baiknya sosialisasi maka akan semakin mudah
dalam mencapai tujuan dilapangan, baik itu tujuan prestasi maupun tuajuan
pemasalan olahraga.

6. Sejarah
a. Definisi sejarah
Sejarah merupakan kajian sistematis dari masa lampau. Sejarah
Olahraga dipahami sebagai penerapan ilmu sejarah dalam konteks ilmu
keolahragaan sebagai obyek kajian. Sejarah dapat mengajarkan setiap orang
untuk memahami masa lalu dan menghubungkannya dengan masa kini dan
masa depan. Melalui pemahaman tentang masa lalu, seseorang bisa
memahami konteks kekinian dan meramalkan peristiwa yang mungkin
terjadi pada masa yang akan datang.

b. Sejarah dan Olahraga


Seperti penjelasan diatas, sejarah dapat mengajarkan setiap orang
untuk memahami masa lalu dan menghubungkannya dengan masa kini dan
masa depan. Dengan demikian, pelatih, guru, atlet maupun pelaku olahraga
lain diharapkan tidak mengulang kesalahan atau kegagalan diwaktu
mendatang, sehingga akan timbul peninggkatan kearah yang lebih baik, baik
itu prestasi maupun kemampuan atlet, pelatih ataupun pelaku olahraga yang
lain.

7. Filsafat olahraga
a. Definisi Filsafat Olahraga
Filsafat adalah seni berpikir. Oleh karena itu, Filsafat Olahraga
merupakan perenungan akan keterlibatan manusia dalam aktivitas jasmani.
Mengkaji pendidikan jasmani dan olahraga dari berbagai posisi pemikiran
filsafat akan mendukung penjelasan dan pemahaman tentang sifat, nilai,
tujuan, signifikansi, dan cakupan pendidikan jasmani dan olahraga serta
dapat memahami cakupan wilayah studi filsafat atau cabang filsafat
(ontologi, epistemology, dan aksiologi) dan aplikasi kajiannya dalam
pendidikan jasmani dan olahraga.

b. Hubungan Ilmu Filsafat dengan Ilmu Keolahragaan


Pengaruh dan sumbangsih Ilmu Filsafat pada Penjas dan Olahraga juga
memiliki andil yang besar dalam perkembangan Pendidikan Jasmani dan
Olahraga, yaitu melahirkan ilmu-ilmu baru yang sangat berkaitan erat dan
mendukung kemajuan penjas dan olahraga itu sendiri.

Sebagai salah satu contoh yaitu, dengan filsafat maka dapat membantu
menganalisis prinsip-prinsip pendidikan jasmani dan olahraga beserta
implikasinya terhadap pengajaran dan pelatihan

Selain beberapa ilmu yang telah disebutkan diatas, Harbert Haag


memperkenalkan teori baru tentang ilmu olah raga, antara lain:

1. Informasi Olahraga (Sport Information)


Olahraga merupakan bagian dari kehidupan sosial dan menjadi bagian
penting dalam kehidupan. Informasi olahraga sekarang ini sudah sama
penting nya dengan informasi dibidang politik, ekonomi dan budaya.
Informasi olahraga dapat berupa rekaman pertandingan, buku-buku,
catatan-catatan, ataupun rekaman suara yang dapat membantu dalam
menggali informasi dalam bidang olahraga. Salah satu manfaat ilmu
informasi olahraga ini, dapat membatu pelatih dalam menganalisis
kemampuan anak latih maupun calon lawan tanding guna mempersiapan
strategi di pertandingan.

2. Olahraga Politik (Sport Politics- Political Science and Sport)


Olahraga merupakan subsistem dari masyrakat terkait erat dengan
strategi dalam politik. Di satu sisi politik dapat membantu dalam
perkembangan olahraga, tetapi disisi lain olahraga sering disalahgunakan
dalam ilmu berpolitik. Olahraga politik berfungsi sebagai istilah untuk setiap
tindakan olahraga yang berorientasi individu publik maupun institusi.
Olahraga dapat membatu mempererat hubungan dalam negeri maupun luar
negeri suatu negara dengan cara pertandingan nasional maupun
internasional.

3. Hukum olahraga (Sport Science- Science of Law and Sport)


Olahraga merupakan bagian dari masyarakat yang ditandai dengan
meningkatnya pengaruh undang-undang dan peraturan tergantung pada
tingkatan suatu organisasi olahraga tersebut. Tingkat regulasi tinggi dalam
olahraga profesional yang akan menurun pada olahraga di lembaga
pendidikan, klub olahraga, olahraga komersial, olahraga yang tidak
berinstitusi. Dengan ada nya ilmu hukum olahraga dapat mengurangi tingkat
kecurangan-kecurangan di dunia olahraga. Di dunia olahraga profesional
jika tidak ada nya hukum olahraga ini, maka dunia olahraga akan kacau balau
seperti perpindahan pemain yang sembarangan, penunggakan-
penunggakan gaji atlet dan masih banyak lagi kecurangan lainnya, untuk
itulah adanya hukum olahraga yang mengatur jalannya kehidupan olahraga.

4. Teori Tentang Fasilitas dan perlengkapan olahraga (Theory of Sport


Facilities and Sport Equpment)
Ilmu ini mempelajari dan meneliti fasilitas dan pelengkapan yang
digunakan oleh atlet. Dengan ilmu ini perkembangan dunia oalahraga
menjadi begitu pesat. Ilmu ini meneliti dan merefisi alat dan fasilitas
olahraga supaya dapat mendukung memaksimalkan kemapuan atlet, sebagai
contoh Michael Phelps pernang asal Amerika serikat yang mendapat lima
emas di Olimpiade Beijing tahun 2008 yang memakai baju renang
berteknologi tinggi buatan speedo.

5. Pemasaran Olahraga ( Sport Economic)


Ilmu ini mempelajari olahraga dari segi ekonomi nya, yang membuat
olahraga menjadi salah satu industri terbesar di dunia. Kemajuan suatu
negara bisa di lihat dari maju atau tidak nya industri olahraga di negara
tersebut. Di negara-negara maju seperti Amerika, olahraga merupakan suatu
kebutuhan bagi masyarakatnya karena merupakan sarana hiburan yang
sangat diminati oleh masyarakat. Industri olahraga sendiri merupan
lembaga-lembaga hukum yang mandiri yang tidak menggantungkan hidup
dari subsidi pemerintah. Industri Olahraga seperti NBA, NFL, MLB, ataupun
NHL mereka menggantungkan hidup dari pembelian tiket, pembelian hak
siar, iklan, jual beli pemain, dan penjualan cendera mata.
B. Salah satu syarat suatu ilmu dapat berdiri sendiri adalah objek materi tidak
dikaji oleh bidang ilmu lainnya. Carilah objek materi bidang ilmu
keolahragan yang tidak dikaji oleh bidang ilmu lainnya serta utarakan
hakikat objek materi dimaksud!

Pembahasan dari aspek ontologi berusaha menjawab persoalan apa objek studi
Ilmu Keolahragaan yang dianggap unik dan tidak dikaji oleh disiplin ilmu
lainnya. Selain itu, perlu juga memetakan medan kajian Ilmu Keolahragaan
sebagai suatu rincian objek formalnya, serta pembahasan tentang maksud dan
sasaran Ilmu Keolahragaan yang merupakan persoalan atau fokus penting
dalam membangun dasar-dasar teoritis Ilmu Keolahragaan dari aspek ontologi
ini (KDI Keolahragaan, 2000: 6, 9; Haag, 1994: 9).

Objek Studi Ilmu Keolahragaan


Karakteristik dari objek studi Ilmu Keolahragaan adalah fenomena gerak
manusia. Fenomena gerak ini dalam konteks keolahragaan menjadi amat
kompleks karena mengandung muatan biologis, psikologis, dan antropologis.
Olahraga adalah bentuk perilaku gerak manusia yang spesifik. Arah dan tujuan
orang berolahraga termasuk waktu dan lokasi kegiatan dilaksanakan
sedemikian beragam. Ini menunjukkan bahwa olahraga merupakan fenomena
yang relevan dengan kehidupan sosial dan ekspresi budaya, termasuk dalam
hal ini kecenderungan khas ideologi, profesi, organisasi, pendidikan dan sains.
Sedangkan sifat universalitas menunjukkan keanekaragaman olahraga yang
dipengaruhi oleh keragaman sosial budaya dan kondisi geografis yang spesifik
(Haag, 1994: 13) Fenomena olahraga hadir di masyarakat dan terkontrol di
bawah restu nilai dan norma, di samping terikat langsung oleh kapasitas
kemampuan biologik (Rusli dan Sumardianto, 2000: 2).

Arah kajian Ilmu Keolahragaan secara khusus adalah ilmu tentang manusia
berkenaan dengan perilaku gerak insani yang diperagakan dalam adegan
bermain, berolahraga dan berlatih (KDI Keolahragaan, 2000: 7). Karena itu,
esensi dari fokus studi Ilmu Keolahragaan adalah studi dan pendidikan manusia
dalam gerak. Tegasnya, arah kajian Ilmu Keolahragaan adalah gerak manusia
(human movement), sehingga objek formalnya adalah gerak manusia dalam
rangka pembentukan (forming) dan pendidikan (KDI Keolahragaan, 2000: 7).

Perilaku gerak berlangsung dalam hubungan koordinasi yang amat kompleks


namun teratur, cepat, dan halus dari fungsi-fungsi neuro-fisiologis-anatomis
yang menyatu dengan fungsi psikologis, sesuai ciri-ciri biologis manusia yang
mampu memperbarui energi dan melaksanakan daur ulang, mengatur diri
sendiri, beradaptasi, serta kemampuan mempertahankan keseimbangan atau
homeostatis sebagai kata kunci untuk bertahan hidup. Ternyata gerak yang
tampak dalam perilaku merupakan hasil keseluruhan sistem yang sinkron dan
menyatu antara jiwa dan badan yang membentuk satuan individu sebagai
pribadi. Unsur fisik-biologis, biokimia, impuls syaraf elektronik menyatu
dengan unsur mental dan rohaniah. Manusia menggerakkan dirinya secara
sadar melalui pengalaman badaniah sebagai medium mencapai tujuan tertentu.
Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan jasmani, gerak manusia
inilah yang menjadi medan pergaulan yang bersifat mendidik antara peserta
didik sebagai aktor, dan pendidik sebagai auctor, pengarah sekaligus fasilitator
(Rusli dan Sumardianto, 2000: 1-2).

Hal tersebut selaras dengan pengertian olahraga itu sendiri yang dipahami
sebagai proses pembinaan sekaligus pembentukan melalui perantaraan raga,
aktivitas jasmani, atau pengalaman jasmaniah (body experience) dalam rangka
menumbuhkembangkan potensi manusia secara menyeluruh menuju
kesempurnaan. Jadi Ilmu Keolahragaan adalah pengetahuan yang sistematis
dan terorganisir tentang fenomena keolahragaan yang dibangun melalui sistem
penelitian ilmiah yang diperoleh dari medan-medan penyelidikan, di mana
produk nyatanya tampak dalam batang tubuh pengetahuan Ilmu Keolahragaan
(KDI Keolahragaan, 2000: 8).

Medan Kajian Ilmu Keolahragaan


Fungsi Ilmu Keolahragaan adalah mengkaji persoalan berdasarkan masalah
yang telah diidentifikasi dan mengungkapkan pengetahuan sebagai
jawabannya secara ilmiah. Berkaitan dengan objek formalnya, maka medan
pengkajian Ilmu Keolahragaan mencakup spektrum aktivitas pendidikan
jasmani yang cukup luas, yang meliputi: (1) bermain (play), (2) berolahraga
(dalam arti sport) (3) pendidikan jasmani dan kesehatan (physical and health
education), (4) rekreasi (recreation and leisure), dan (5) tari (dance). Hal ini
tampak jelas dari sisi praktis atau layanan profesional yang pada gilirannya
menjadi lahan subur bagi pengembangan batang tubuh Ilmu Keolahragaan itu
sendiri (KDI Keolahragaan, 2000: 9).

a. Bermain
Johan Huizinga melihat permainan sebagai sumber dari bentuk-bentuk kultural
paling penting, yang merentang sejak dari hal-hal yang menyenangkan, seperti
seni, sampai ke hal-hal yang kurang menyenangkan dan kontroversial, seperti
perang. Dalam karyanya Homo Ludens (manusia sebagai makhluk bermain –
yang menjadi tesis antropologis-filsafatinya), Huizinga (1950: 18-21)
memaparkan karakteristik bermain sebagai dorongan naluri, aktivitas bebas,
dan pada anak merupakan keniscayaan sosiologis dan biologis. Ciri lain yang
amat mendasar yakni kegiatan itu dilaksanakan secara suka rela, tanpa
paksaan, dalam waktu luang. Huizinga menyebutkan juga ciri khusus
permainan: ini bukanlah kehidupan “nyata” dan kebebasan mewarnai aktivitas
tersebut. Namun patut diingat bahwa sebenarnya Huizinga menegaskan
permainan sebagai keberadaan yang “tak serius”, tetapi di saat yang sama
menyeret pemainnya untuk bermain intens atau habis-habisan (Huizinga,
1950: 21).

Huizinga melihat bahwa bermain dan berolahraga merupakan kegiatan yang


senantiasa ada dalam inti kebudayaan masyarakat, sejak primitif sampai
modern (Huizinga, dalam Hyland, 1990: 23). Meskipun “tak serius”, di dalam
permainan terdapat nilai pendidikan, sehingga perlu dimanfaatkan sebagai
upaya menuju pendewasaan melalui pemberian rangsangan yang bersifat
menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental sosial, dan moral yang berguna pada
pencapaian pertumbuhan dan perkembangan secara normal dan wajar. Tujuan
yang ingin dicapai tersirat di dalam kegiatan itu, suatu ciri yang
membedakannya dengan aktivitas ‘bekerja’ (KDI Keolahragaan, 2000: 9-10).
b. Olahraga (Sport)
Istilah olahraga yang digunakan disini merupakan istilah generik, sehingga
pengetahuannya tidak terbatas pada pengertian sempit olahraga prestasi-
kompetitif-elit untuk sementara olahragawan yang pelaksanaannya dikelola
secara formal seperti lazim dijumpai pada cabang-cabang olahraga resmi,
tetapi juga jenis-jenis aktivitas jasmani lainnya yang bersifat informal.

Olahraga sebagai kata majemuk berasal dari kata olah dan raga. Olah artinya
upaya untuk mengubah atau mematangkan, atau upaya untuk
menyempurnakan. Bisa juga olah diinterpretasikan sebagai perubahan bunyi
istilah ulah, yang berarti perbuatan atau tindakan. Sedangkan raga berarti
badan/fisik. Dengan demikian, secara etimologis singkat, olahraga berarti
penyempurnaan atau aktivitas fisik. Abdulkadir Ateng (dalam Harsuki dan
Soewatini (ed.), 2003: 45) menganggap rancu jika kata olahraga ini dipadankan
dengan kata asing sport. Menurutnya, sport hanya sebagian dari isi pengertian
olahraga. Ia berasal dari bahasa Inggris Kuno disportare, yang berarti
bersenang-senang [bandingkan dengan Rusli dan Sumardianto (2000: 1) yang
berpendapat bahwa istilah sport berasal dari kata disport, dan pertama kali
muncul dalam kepustakaan pada tahun 1303 yang berarti “sport, past time,
recreation, and pleasure”]. Padanan sport yang lebih mendekati aslinya adalah
seperti istilah sukan di Malaysia (Indonesia: bersuka-sukaan) (Abdulkadir,
dalam Harsuki dan Soewatini (ed.), 2003: 45).

Makna istilah olahraga memang selalu berubah sepanjang waktu, namun esensi
pengertiannya mengandung tiga unsur pokok: bermain, latihan fisik, dan
kompetisi (Rusli dan Sumardianto, 2000: 1-2). Dalam “Declaration of Sport”,
UNESCO mendefinisikan olahraga berikut ini, yang menyiratkan betapa luas
kemungkinan cakupan makna olahraga:

Olahraga adalah setiap aktivitas fisik berupa permainan yang berisikan


perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, ataupun diri sendiri (dalam
Rusli dan Sumardianto, 2000: 6).

Definisi lain yang dirumuskan oleh Dewan Eropa pada tahun 1980 yang
berbunyi “Olahraga sebagai aktivitas spontan, bebas, dan dilaksanakan selama
waktu luang” merupakan interpretasi yang bersifat umum yang kemudian
digunakan sebagai dasar bagi sport for all – olahraga masal - yang dimulai di
Eropa tahun 1966, dan 27 tahun kemudian Indonesia mencanangkan panji
olahraga “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” (Rusli
dan Sumardianto, 2000: 6).

Berbagai definisi yang sudah ada tentang olahraga, bagaimanapun harus


dilandasi suatu argumentasi yang konsisten. Istilah olahraga yang dipakai
sebagai rujukan pengembangan Ilmu Keolahragaan adalah definisi yang
bersifat umum, rumusan pedagog asal Jerman, Herbert Haag yang memperoleh
pengakuan internasional:

Olahraga itu sendiri pada hakikatnya bersifat netral dan natural, namun
masyarakatlah yang kemudian membentuk dan memberi arti terhadapnya.
Sesuai dengan fungsi dan tujuannya, olahraga dapat dirinci sebagai berikut.

1. Olahraga pendidikan adalah proses pembinaan menekankan penguasaan


keterampilan dan ketangkasan berolahraga termasuk juga pembinaan
nilai-nilai kependidikan melalui pembekalan pengalaman yang lengkap
sehingga yang terjadi adalah proses sosialisasi melalui dan ke dalam
olahraga.
2. Olahraga kesehatan adalah jenis kegiatan olahraga yang lebih
menitikberatkan pada upaya mencapai tujuan kesehatan dan fitnes yang
tercakup dalam konsep well-being melalui kegiatan olahraga.
3. Olahraga rekreatif adalah jenis kegiatan olahraga yang menekankan
pencapaian tujuan yang bersifat rekreatif atau manfaat dari aspek
jasmaniah dan sosial-psikologis.
4. Olahraga rehabilitatif adalah jenis kegiatan olahraga, atau latihan
jasmani yang menekankan tujuan yang bersifat terapi atau aspek psikis
dari perilaku.
5. Olahraga kompetitif adalah jenis kegiatan olahraga yang
menitikberatkan peragaan performa dan pencapaian prestasi maksimal
yang biasanya dikelola oleh organisasi olahraga formal, baik nasional
maupun internasional (KDI Keolahragaan, 2000: 10-11).
Karena karakteristik olahraga semakin kompleks, selain mengandung muatan
bio-psiko-sosio-kutural-antropologis dan juga teknologis (techno-sport)
serta respon lingkungan (eco-sport), maka amat sukar menetapkan sebuah
batasan. Namun demikian dapat diidentifikasi ciri yang bersifat umum
(common denominator) sebagai berikut:

1. olahraga merupakan subsistem dari bermain: pelaksanaan secara


sukareka tanpa paksaan;
2. olahraga berorientasi pada dimensi fisikal: kegiatan itu merupakan
peragaan keterampilan fisik;
3. olahraga merupakan kegiatan riil, bukan ilusi atau imajinasi;
4. olahraga, terutama olahraga kompetitif, menekankan aspek performa
dan prestasi sehingga di dalamnya terlibat unsur perjuangan,
kesungguhan, dan faktor surprise sebagai lawan dari faktor untung-
untungan sehingga performa itu dicapai melalui usaha pribadi;
5. olahraga berlangsung dalam suasana hubungan sosial dan bersifat
kemanusiaan, bukan membangkitkan naluri rendah, bahkan justru
membangun solidaritas;
6. olahraga harus bermuara pada upaya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan total (wellness) (KDI Keolahragaan, 2000: 11-12).

Secara khusus dan ontologis, Richard Schacht (1998: 126-127)


mengemukakan konsepsinya tentang olahraga yang telah dimodifikasi dari
pandangan-pandangan sang filsuf martir, Nietzsche, yang pada bagian ini
dapat dijadikan acuan tambahan pengembangan Ilmu Keolahragaan.

1. Olahraga menjadi aktivitas psikosomatik yang lepas dan terbuka di mana


pikiran, tubuh, dan perasaan seseorang terlibat secara serempak dalam
berolahraga.
2. Olahraga memuat sifat kognitif dan utilitarian meskipun tidak dalam
kodrat dasariahnya.
3. Olahraga merupakan satu spesies permainan yang khas dalam hal
struktur dan intensitasnya.
4. Olahraga meliputi pengolahan dan pengembangan kecakapan, keahlian,
dan sensitivitas mental dan motorik, yang dapat diajarkan dan dipelajari,
tetapi tak dapat direduksi pada formula-formula dan aturan-aturan
mekanis.
5. Olahraga merupakan bagian fenomena sejarah dan budaya, dan bersifat
sosial dan interpersonal.
6. Olahraga berpusat pada suatu jenis kompetisi, yang diilhami semangat
“will to power”.
7. Olahraga memiliki kelenturan format perwujudan, namun sekaligus
ketertiban tingkat keseriusan.

Hasil investigasi filsafati Scacht ini mengisyaratkan suatu keterbukaan


ontologis olahraga, dipandang dari filsafat ilmu. Artinya, ekstensifikasi dan
intensifikasi ilmiah dapat terjadi sampai pada interaksi yang bahkan revolutif
di tingkat ontologis, misalnya pergeseran objek studi. Apabila di penelitian ini
objek studi Ilmu Keolahragaan dibatasi pada fenomena gerak manusia, maka
seiring perkembangan teknologi olahraga dalam techno-sport, bisa jadi
pengabsahan-pengabsahan permainan yang sangat baru dengan instrumen
teknologis sebagai fokusnya, menghasilkan kesepakatan global tentang objek
studi Ilmu Keolahragaan yang baru. Objek studi Ilmu Keolahragaan kemudian
tidak hanya menyangkut gerak insani, namun juga prestasi piranti teknologi
ciptaan “atlet”, seperti yang dapat diamati pada perlombaan “Tamiya” di
Indonesia akhir-akhir ini. (Bukankah secara awam dan harfiah, pemaknaan
gerak insani tidak tepat bila digunakan pada olahraga catur dan bridge?).

c. Pendidikan Jasmani dan Olahraga


Pendidikan jasmani adalah proses sosialisasi melalui aktivitas jasmani, bermain
dan/atau olahraga yang bersifat selektif untuk mencapai tujuan pendidikan
pada umumnya. Meskipun orientasi pembinaan tertuju pada aspek jasmani,
namun demikian seluruh skenario adegan pergaulan yang bersifat mendidik
juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif dan afektif sehingga
pendidikan jasmani merupakan intervensi sistematik yang bersifat total,
mencakup pengembangan aspek fisik, mental, emosional, sosial dan moral-
spiritual (KDI Keolahragaan, 2000: 12).
Perlu ditegaskan bahwa pendidikan jasmani pengertiannya bukan pendidikan
terhadap jasmani, tetapi pendidikan melalui jasmani. Secara definitif, Sukintaka
menterjemahkannya sebagai berikut.

…proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, melalui aktivitas


jasmani yang dikelola secara sistematik untuk menuju manusia Indonesia
seutuhnya (Sukintaka, dalam Harsuki dan Soewatini (ed.), 2003: 5).

Sedangkan dalam kaitannya dengan pendidikan secara nasional, berdasarkan


SK Mendikbud 413/U/1987, maka definisi pendidikan jasmani adalah:

…merupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan


meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual, dan
emosional melalui aktivitas fisik (Abdulkadir, dalam Harsuki dan Soewatini
(ed.), 2003: 5).

Pendidikan kesehatan adalah proses pembinaan pola atau gaya hidup sehat
sebagai keterpaduan pengetahuan, nilai, sikap dan perilaku nyata. Tujuan yang
ingin dicapai adalah kesehatan total, bukan dalam pengertian bebas dari cacat,
tetapi sehat fisik, mental, dan sosial, seperti tercakup dalam konsep wellness.
Antara sakit dan sehat bukan sebagai sebuah dikotomi, tetapi sehat bergerak
dalam gerak kontinuum, sehingga fungsi dari pendidikan kesehatan adalah
untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan seseorang (KDI
Keolahragaan, 2000: 12-13).

d. Rekreasi
Rekreasi adalah satu bentuk kegiatan suka rela dalam waktu luang, bukan
aktivitas survival, yang diarahkan terutama dalam bentuk rekreasi aktif berupa
aktivitas jasmani atau kegiatan berolahraga. Pelaksanaannya harus sesuai
dengan norma dan etika masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai mencakup
aspek pemulihan kelelahan, relaksasi, atau penanganan stress untuk
menggairahkan hidup agar lebih produktif melalui relativitas energi dalam
suasana kehidupan yang riang, tanpa tekanan dan merasa bahagia, di samping
memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar melalui jalinan hubungan
sosial (KDI Keolahragaan, 2000: 13).
e. Tari
Tari menunjukkan fenomena peragaan keterampilan ketangkasan, sehingga
dari pengungkapan keterampilan gerak ia masuk ke tapal batas kegiatan
olahraga. Namun aktivitas jasmani tersebut lebih bernuansa persyaratan seni
atau faktor estetika, meskipun tidak bisa dibantah bahwa dalam berolahraga
banyak sekali dijumpai unsur-unsur seni dan keindahan (KDI Keolahragaan,
2000: 13-14).

Maksud dan Sasaran Ilmu Keolahragaan


Pertanyaan apa yang dikaji oleh suatu disiplin ilmu, merupakan pertanyaan
mendasar yang dalam wilayah akademis filsafat ilmu tercakup dalam ontologi
ilmu (Jujun, 2002: 35). Permasalahan maksud dan sasaran dari apa yang dikaji
ilmu tertentu, merupakan permasalahan ontologis juga yang merupakan
cerminan pertanyaan-pertanyaan final “untuk apa?”, atau “mengapa?”.
Demikian juga dengan disiplin ilmu baru seperti Ilmu Keolahragaan. Empat
dimensi berikut ini menghasilkan sudut pandang berbeda serta wilayah yang
luas dari aspek-aspek yang menyusun keseluruhan jawaban dari pertanyaan
ontologis “apa fungsi Ilmu Keolahragaan itu?”. Meskipun Ilmu Keolahragaan
keberadaannya masih baru, sejarah Ilmu Keolahragaan atau ilmu aktivitas
jasmani dapat dilacak ke awal-awal abad 20, tanpa mempertimbangkan
interpretasi yang diberikan oleh para filsuf dan sarjana medis sebelum tahun
1900 (Haag, 1994: 23). Pembahasan empat dimensi dalam pertimbangan
ontologis “maksud dan sasaran” Ilmu Keolahragaan berikut ini merupakan
pendasaran yang sederhana dan dipersingkat.

a. Dimensi Historis
Pertimbangan historis menyajikan kerangka kerja luas dalam mencari jawaban
atau dapat menyumbang persepsi masa kini Ilmu Keolahragaan secara lebih
baik. Bagaimanapun, kesalinghubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan
merupakan paradigma dasar berpikir yang tak dapat diabaikan: mengetahui
masa lalu, mengalami masa kini, membentuk masa depan.

Gerakan, permainan dan olahraga sebagai bagian budaya manusia memiliki


sejarah yang menarik. Cara yang relatif objektif dalam mendapatkan data
dalam perspektif historis adalah menyampaikan perhatian terhadap topik yang
diberikan pada dokumen-dokumen kunci. Dengan menganalisa hasil ini secara
kronologis, kecenderungan dan perkembangan dapat diikuti sampai situasi
terkini (Haag, 1994: 25-27).

b. Dimensi Komparatif
Perspektif horizontal termasuk dalam dimensi komparatif; Ini berhubungan
dengan perbandingan persoalan dan memberi jawab dalam sedikitnya dua
perbedaan latar belakang sosial-kultural atau negara-negara. Dengan
menyimpulkan informasi dari sudut pandang banyak negara, bermacam-
macam gagasan dan solusi dapat sangat meningkat. Keuntungan penggunaan
pendekatan komparatif berlipat tiga:

1. lebih banyak informasi dan sistem yang diperoleh tentang negara yang
berbeda;

2. pandangan yang lebih baik tercapai dalam sistem sendiri;

3. dihasilkan ide-ide untuk perbaikan situasi/sudut pandang sendiri (Haag,


1994: 24).

Gerakan, permainan, dan olahraga adalah hal yang menarik, karena merupakan
pengalaman-pengalaman tindakan manusia yang terikat secara kultural dan
tersedia dalam informasi yang bervariasi. Pendekatan lintas kultural dan
internasional secara kontinu mencapai nilai pentingnya, khususnya karena
gerakan, permainan dan olahraga sebagai ekspresi non-verbal manusia pada
dasarnya bersifat internasional. Oleh karena itu, studi-studi komparatif
mungkin membantu mencapai jawaban yang solid dan benar terhadap
pertanyaan yang diberikan: “apa fungsi Ilmu Keolahragaan itu?”. Jawaban-
jawaban ini tak terbatas pada sisi pandang satu negara. Karena gerakan,
permainan dan olahraga merupakan fenomena internasional yang khas,
tampaknya sangat berguna dan perlu untuk mengikuti internasionalitas ini
dalam perspektif komparatif (Haag, 1994: 29).
c. Dimensi Situasional/Status Quo
Dimensi situasional berarti, situasi sekarang dianalisa sangat hati-hati dalam
rangka solusi ilmiah persoalan yang ada. Ini terutama terdiri dari analisis
pustaka yang relevan dengan Ilmu Keolahragaan dalam dekade terakhir.
Bahkan jika proses perkembangan Ilmu Keolahragaan ke arah kemantapan
penuh dan diakui disiplin akademis berada pada tingkat memuaskan, opini
yang ada cukup tersedia mengenai persoalan yang dihadapi. Bidang ilmiah
yang baru dan sedang berkembang harus selalu didiskusikan dan ditinjau
kembali meta-teorinya sendiri agar mencapai perkembangan besar dalam
ranah ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, dimensi situasional mengenai
pertanyaan “apa fungsi Ilmu Keolahragaan itu?” menjadi penting untuk dapat
dipertimbangkan. Dua parameter digunakan dalam dimensi situasional:
terminologi mengenai lembaga-lembaga Ilmu Keolahragaan dan
perkembangan jurnal dan organisasi-organisasi Ilmu Keolahragaan pada level
nasional dan internasional. Tidak diragukan bahwa dimensi situasional harus
dipertimbangkan sebagai dasar tindakan masa depan. Satu kesalahan, jika
sesuatu di masa lalu yang tetap konstan atau selalu berhubungan dengan apa
yang disebut impian masa depan yang lebih baik, kehilangan perspektif
kekinian, situasi aktual dan kondisi-kondisi konkret (Haag, 1994: 23 dan 31).

Kesulitan yang langsung tampak pada eksplorasi pendasaran ontologis Ilmu


keolahragaan dalam dimensi ini adalah sifatnya yang cenderung berpijak pada
ruang dan waktu tertentu, sehingga pola universalitasnya harus terlebih dahulu
melewati kompromi-kompromi keilmuan global. Sejauh mana olahraga
keindonesiaan tercatat dalam kamus dimensi situasional, ditentukan oleh
sosialisasi global informasi keolahragaan Indonesia.

d. Dimensi Masa Depan


Dimensi ini lebih merupakan sifat dasar hipotetis dan bukan bukti secara
ilmiah. Bagaimanapun, ini merupakan tugas perguruan tinggi dan sarjana yang
termasuk dalam kerja universitas untuk berpikir ke depan, untuk
mengembangkan perspektif dan untuk berkarya pada konsep masa depan,
didasarkan pada susunan pengetahuan sejarah dan pemahaman kekinian yang
seimbang.
Meskipun demikian, adalah logis/sah untuk melihat masa depan dengan mana
perspektif dimensi futuristik ini dikembangkan berkenaan dengan lima
persoalan relevansi dasar perkembangan ke depan Ilmu Keolahragaan:
fenomena olahraga, internasionalitas, etika ilmu, metode penelitian, dan teori
keilmuan. Lebih jauh, proyeksi-proyeksi dibuat untuk tiga tingkat dasar
penelitian Ilmu Keolahragaan, yakni fase penemuan, realisasi dan aplikasi,
dengan mana proses penelitian mengikuti muatan logis ini. Oleh karena itu,
dimensi futuristik dapat menyumbang, apa yang disebut Willimczik, “Ilmu
Keolahragaan interdisipliner – ilmu dalam pencarian identitasnya” (Haag, 1994:
24 dan 42).

Quo Vadis Ilmu Keolahragaan?

Teori ilmiah Ilmu Keolahragaan dalam kaitannya dengan pemahaman ilmiah


Ilmu Keolahragaan sebagai aspek filsafat Ilmu Keolahragaan harus seimbang
dan berkepastian. Hal ini terkait dengan konstruksi wacana meta-teoritis yang
perlu bagi bidang keilmuan baru sebagaimana Ilmu Keolahragaan ini. Ilmu
Keolahragaan juga segera menjadi tantangan baru masyarakat post-industrial
(Watson, dalam Haag, 1994: 21). Menurut Baur (dalam Haag, 1994: 21),
konsepsi-konsepsi pengembangan-teoritis baru (aspek interaksi,
transaksional, dan dialektika) penting untuk perkembangan Ilmu Keolahragaan
ke depan.

Keterbukaan wacana pengembangan keilmuan menuntut suasana ilmiah yang


kondusif dan kompetitif. Di Indonesia, kelahiran Ilmu Keolahragaan sebagai
ilmu yang mandiri di tahun 1998 merupakan anugerah sekaligus peringatan
dan tantangan bagi akademisi keolahragaan. Paradigma olahraga dengan
“raga” sebagai titik tekan praktek akademik di lapangan olahraga, harus
diseimbangkan dengan karya-karya penelitian yang mencerminkan kualitas
keilmuan modern. Suasana ilmiah yang kondusif dan kompetitif, sekali lagi,
menjadi mercu suar dalam perjalanan masyarakat akademik Ilmu Keolahragaan
menuju penerimaan yang qualified di masyarakat ilmiah internasiona