Anda di halaman 1dari 129

HUBUNGAN FAKTOR PERSONAL DAN DUKUNGAN

KELUARGA DENGAN MANAJEMEN DIRI PENDERITA


DIABETES MELLITUS DI POSBINDU WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PISANGAN KOTA TANGERANG SELATAN
TAHUN 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Oleh :

FATIMAH

NIM: 1112104000040

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/2016 M
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam (UIN) Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam (UIN) Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 2016

Fatimah

ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul

HUBUNGAN FAKTOR PERSONAL DAN DUKUNGAN KELUARGA


DENGAN MANAJEMEN DIRI PENDERITA DIABETES MELLITUS DI
POSBINDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS PISANGAN KOTA
TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing


Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Disusun oleh:

Fatimah
NIM: 1112104000040

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS Jamaludin, S.Kp.,M.Kep


NIP. 19770401 200912 2 003 NIP. 19680522 200801 1 007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1437 H/2016 M

iii
LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi dengan judul

HUBUNGAN FAKTOR PERSONAL DAN DUKUNGAN KELUARGA


DENGAN MANAJEMEN DIRI PENDERITA DIABETES MELLITUS DI
POSBINDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS PISANGAN KOTA
TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh:

Fatimah
NIM: 1112104000040

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS Jamaludin, S.Kp.,M.Kep


NIP. 19770401 200912 2 003 NIP. 19680522 200801 1 007

Penguji I Penguji II

Ratna Pelawati, S.Kp.,M.Biomed Yenita Agus, S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat.,PhD


NIP. 19780215 200901 2 005 NIP. 19720608 200604 2 001

Penguji III Penguji IV

Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS Jamaludin, S.Kp.,M.Kep


NIP. 19770401 200912 2 003 NIP. 19680522 200801 1 007

iv
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan judul

HUBUNGAN FAKTOR PERSONAL DAN DUKUNGAN KELUARGA


DENGAN MANAJEMEN DIRI PENDERITA DIABETES MELLITUS DI
POSBINDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS PISANGAN KOTA
TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Disusun oleh:

Fatimah
NIM: 1112104000040

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Maulina Handayani, S.Kp.,M.Sc


NIP. 197902102005012002

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, S.KM.,M.Kes


NIP. 19650808198803100

v
RIWAYAT HIDUP

Nama : Fatimah

Tempat, tgl lahir : Pinrang, 19 September 1994

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Asal : Pinrang, Sulawesi Selatan

Email : Fatimahexacter@ymail.com

Riwayat Pendidikan:

1. TK Al-Ikhlas Paladang (1998-2000)


2. MIN Lerang (2000-2006)
3. MTs PP. DDI Lil-Banat Parepare (2006-2009)
4. MA PP. DDI Lil-Banat Parepare (2009-2012)
5. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2012-sekarang)
Pengalaman Organisasi:

1. Pengurus OSIS koordiantor bidang kebersihan tahun


2. Pengurus PMII Komfakkes anggota bidang kesenian dan olahraga tahun
2013-2014
3. Pengurus PMII Komfakkes bidang pengembangan dan pemberdayaan

vi
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY

PROGRAM OF NURSING

Thesis, Mei 2016

Fatimah, NIM: 1112104000040

The Relationship Between Personal Factor and Family Support With Self-
Management of Diabetes Mellitus in Posbindu Working Area Puskesmas
Pisangan South Tangerang 2016

xx + 79 pages + 15 tables + 2 chart + 7 Appendix Figure

ABSTRACT
Based on data from the International Diabetes Federation in 2014 found
that people with type 2 diabetes is increasing every year in every state and in 2035
is estimated diabetics increased to 592 million people, and Indonesia was ranked
7th. Diabetes is a degenerative disease that occurs lifetime. People with diabetes
will experience difficult times due to a change in him, so it needs the support of
people around, especially family support to help him in mengontol lifestyle of
self-management and care of families with diabetes. Diabetes is a chronic disease
that requires self-management of diabetes to prevent serious complications. This
study aims to identify the relationship between family support with self-
management diabetes mellitus in Posbindu Puskesmas Pisangan South Tangerang
City. The study designs was a quantitative approach cross sectional design with a
sample of 35 respondents. Data analysis using Chi Square test. Results showed
that there was no relationship between family support with self-management of
diabetes with significant (p value) = 0.274 at α = 0.05). Researchers suggest the
need for the dissemination of information related to self-management through
counseling and home visits are also necessary for those who could not attend due
to Posbindu physical condition does not allow, while motivating families to help
diabetics in controlling the self-management to prevent and avoid complications
sustainable.

Key Words: Family Support; Self-management

Reading list: 56 (2005-2014 )

vii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juni 2016

Fatimah, NIM: 1112104000040

Hubungan Faktor Personal Dan Dukungan Keluarga Dengan Manjemen


Diri Penderita Diabetes Mellitus Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas
Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016

xx + 79 Halaman + 15 Tabel + 2 Bagan + 7 Lampiran

ABSTRAK
Berdasarkan data International Diabetes Federation tahun 2014 ditemukan bahwa
penderita diabetes tipe 2 meningkat setiap tahunnya disetiap negara dan pada
tahun 2035 diperkirakan penderita diabetes meningkat menjadi 592 juta orang,
dan indonesia berada pada urutan ke-7. Diabetes merupakan penyakit degeneratif
yang terjadi seumur hidup. Penderita diabetes akan mengalami masa-masa sulit
akibat perubahan pada dirinya, sehingga membutuhkan dukungan dari orang
sekitar terutama dukungan keluarga untuk membantunya dalam mengontol pola
hidup dan perawatan manajemen diri keluarga yang mengalami diabetes. Diabetes
merupakan penyakit kronis yang membutuhkan manajemen diri diabetes untuk
mencegah komplikasi yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita diabetes
mellitus di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan.
Desain dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif design cross
sectional dengan sampel sebanyak 35 responden. Analisis data menggunakan uji
Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara
dukungan keluarga dengan manajemen diri diabetes dengan signifikansi (p value
= 0,274 pada α= 0,05). Peneliti menyarankan perlunya penyebaran informasi
terkait manajemen diri melalui penyuluhan dan juga diperlukan kunjungan rumah
bagi yang tidak bisa hadir ke posbindu karena kondisi fisik yang tidak
memungkinkan, sekaligus memotivasi keluarga untuk membantu penderita
diabetes dalam mengontrol manajemen diri untuk mencegah dan menghindari
komplikasi yang berkelanjutan.
Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Manajemen Diri.

Daftar bacaan : 56 (2005-2014)

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti kepada Allah swt, yang telah melimpahkan beberapa

rahmat, taufiq dan hidayat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal

ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada bimbingan nabi besar

Muhammad SAW, karena atas limpahan rahmat dan hidayatnya sehingga peneliti

dapat menyelesaikan penyusunan proposal yang berjudul hubungan dukungan

keluarga dengan manajemen diri penderita DM di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan Tahun 2015.

Dalam penyusunan proposal skripsi ini, tidak sedikit kesulitan, cobaan dan

hambatan yang peneliti temukan. Namun, syukur alhamdulillah berkat rahmat dan

hidayah-nya, kesungguhan, kesabaran dan kerja keras disertai dukungan keluarga

dan bantuan dari berbagai pihak baik berupa moril maupun material, segala

kesulitan yang telah dilalui dan diatasi dengan sebaik-baiknya, sehingga pada

akhirnya penyusunan proposal skripsi ini dapat terselesaikan.

Oleh sebab itu, sudah sepantasnya pada kesempatan ini peneliti

mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Maulida Handayani, S.Kp., MSc dan ibu Ernawati, S.Kp., M.Kep., Sp.

KMB, selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan dan Sekretaris

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

ix
3. Ibu Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS dan bapak Jamaludin, S.Kp.,

M.Kep, selaku dosen pembimbing yang telah sabar dan ikhlas untuk

meluangkan waktu, tenaga serta fikiran selama membimbing peneliti.

4. Segenap Bapak dan Ibu Dosen atau Staf Pengajar, pada lingkungan Program

Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang dengan ikhlas dan

tulus memberikan ilmu pengetahuaan kepada peneliti selama menjalankan

perkuliahan.

5. Segenap Jajaran Staf dan Karyawan Akademik dan Perpustakaan Fakultas

yang telah banyak membantu dalam pengadaan referensi buku ataupun skripsi

sebagai bahan rujukan skripsi.

6. Bidan Astri dan segenap perawat serta staf yang bertugas di Puskesmas

Pisangan Tangerang Selatan yang telah memberikan kesempatan kepada

peneliti dan mengarahkan peneliti dalam proses melakukan studi pendahuluan

dalam menyusun skripsi.

7. Segenap guru-guru PP DDI Lil Banat yang telah memberikan semangat dan

dukungan serta do’a dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kedua orang tua peneliti, sujud hormat atas semua pengorbanan ayah H.

Muslikin S,Pdi dan Ibunda Hj. Hasnawati S,pd yang senantiasa memberikan

dukungan dan kekuatan kepada peneliti baik berupa material maupun doa

yang selalu mereka panjatkan untuk mengiringi setiap langkahku sehingga

peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

x
9. Adek-adekku tersayang Khaerul.M, Mawaidah.M dan Husnaeni.M, serta

nenek-nenekku dan keluarga-keluargaku yang selalu memberikan dukungan

dan do’a kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Kak Ria yang selalu memberikan semangat dan dukungan serta motivasi yang

begitu besar dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Kak Marwah Mula, kak Badariah Hamzah, kak Arifin Nur Try Wardana,

yang selalu memberikan perhatian, motivasi serta semangat untuk terus

berjuang, sekaligus tempat berkeluh kesah dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Segenap keluargaku di CSS MoRA UIN Jakarta yang telah memberikan

dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Temanku Astuti Akin, dan Suharni, yang telah membantu peneliti untuk

menjelaskan hal-hal yang kurang saya pahami serta teman yang selalu

memberikan dukungan, motivasi dan semangat dalam menyelesaikan skripsi

ini.

14. Teman-teman seperjuangan yang selalu bareng mengerjakan skripsi yang

tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu, yang selalu saling mendukung,

memotivasi dan selalu memberikan semangat satu sama lain dalam

menyelesaikan skripsi ini.

15. Teman-teman sepembimbing dan teman-teman yang setiap malam bersama

untuk begadang dalam menyelesaikan skripsi ini.

16. Teman-teman seperjuangan Program Studi Ilmu Keperawatan angkatan 2012

yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu. Terimakasih atas dukungan,

semangat, kebersamaan, kenangan, inspirasi yang telah diberikan serta

kekompakan yang selama ini tidak akan terlupakan.

xi
Akhir kata, peneliti mengharakan kritik dan saran yang membangun

sehingga peneliti dapat menyempurnakan skripsi ini. Peneliti berharap dapat

bermanfaat khususnya bagi peneliti dan umumnya bagi pembaca yang

menggunakannya, terutama dalam hal kemajuan pendidikan selanjutnya.

Jakarta, Juni 2016

Penulis

xii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................. ii


PERNYATAAN PERSETUJUAN...................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iv
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................v
RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. vi
ABSTRACT ......................................................................................................... vii
ABSTRAK .......................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ix
DAFTAR ISI....................................................................................................... xiii
DAFTAR BAGAN............................................................................................ xviii
LAMPIRAN........................................................................................................ xix
DAFTAR SINGKATAN......................................................................................xx

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................7
C. Pertanyaan Penelitian......................................................................................8
D. Tujuan Penelitian ............................................................................................8
1. Tujuan umum ...............................................................................................8
2. Tujuan Khusus..............................................................................................9
E. Manfaat Penelitian ..........................................................................................9
1. Bagi Pendidikan Ilmu Keperawatan.............................................................9
2. Bagi Puskesmas..........................................................................................10
3. Bagi Peneliti ...............................................................................................10
4. Bagi Pasien .................................................................................................10
5. Bagi Keluarga.............................................................................................10
F. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................................11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................12


A. Konsep Keluarga ..........................................................................................12
1. Definisi Keluarga .......................................................................................12
2. Tipe Keluarga .............................................................................................12

xiii
3. Tugas Keluarga ..........................................................................................15
4. Fungsi Keluarga .........................................................................................16
B. Dukungan Keluarga ......................................................................................17
1. Definisi Dukungan Keluarga......................................................................17
2. Dimensi Keluarga.......................................................................................18
3. Pengukuran Dukungan Keluarga ...............................................................20
C. Diabetes Mellitus ..........................................................................................21
1. Definisi Diabetes Mellitus..........................................................................21
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus .....................................................................21
3. Manifestasi Klinis ......................................................................................23
4. Penatalaksanan Diabetes Mellitus ..............................................................24
D. Manajemen Diri pada Diabetes ....................................................................26
1. Definisi Manajemen Diri............................................................................26
2. Manajemen Diri Pada Diabetes..................................................................26
4. Pengukuran Manajemen Diri pada Diabetes Mellitus................................31
E. Kerangka Teori ............................................................................................32

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN, HIPOTESIS DAN


DEFINISI OPERASIONAL................................................................................33
A. Kerangka Konsep Penelitian................................................................................... 33
B. Hipotesis ................................................................................................................. 34
C. Definisi Operasional ............................................................................................... 35

BAB IV METODE PENELITIAN .....................................................................37


A. Desain Penilitian..................................................................................................... 37
B. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian................................................................ 37
C. Populasi dan Sampel............................................................................................... 38
D. Instrumen Penelitian ............................................................................................... 39
E. Uji Validitas dan Reliabilitas.................................................................................. 40
F. Pengumpulan Data.................................................................................................. 43
G. Pengolahan Data ..................................................................................................... 44
H. Etika Penelitian .................................................................................................... 45
I. Analisa Data Statistik ............................................................................................. 46

xiv
BAB V HASIL PENELITIAN ............................................................................48
A. Profil Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan.............................................. 48
1. Gambaran Umum Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan........................ 48
B. Analisis Karakteristik Responden Penelitian.......................................................... 50
C. Analisis Univariat Gambaran Dukungan Keluarga ................................................ 53
D. Analisis Univariat Gambaran Manajemen Diri ...................................................... 54
E. Analisis Bivariat ..................................................................................................... 54
1. Hubungan Karakteristik Umur Dengan Manajemen Diri Penderita DM............. 55
2. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Manajemen Diri Responden.......................... 55
3. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Manajemen Diri Responden ................. 56
4. Hubungan Lama Menderita DM Dengan Manajemen Diri Responden............... 57
5. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Manjemen Diri Penderita DM di
Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan ............. 58

BAB VI PEMBAHASAN.....................................................................................59
A. Gambaran Karakteristik Penderita DM Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas
Pisangan Kota Tangerang Selatan .......................................................................... 59
B. Gambaran Dukungan Keluarga di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan
Kota Tangerang Selatan.......................................................................................... 65
C. Gambaran Manajemen Diri di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota
Tangerang Selatan .................................................................................................. 67
D. Hubungan Karakteristik Responden Dengan Manajemen Diri Penderita DM Di
Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan................ 69
E. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Manajemen Diri Penderita DM di
Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan................ 74
F. Keterbatasan penelitian........................................................................................... 76

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................78


A. Kesimpulan............................................................................................................. 78
B. Saran ....................................................................................................................... 79

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional.......................................................................35

Tabel 4.1 Analisis Bivariat.............................................................................47

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Di Posbindu


Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan kota tangerang selatan
(n=35).............................................................................................50

Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Posbindu


Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan
(n=35).............................................................................................50

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden Di Posbindu


Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan
(n=35).............................................................................................51

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Keluarga Yang Merawat Penderita DM Di


Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan (n=35)...............................................................................52

Tabel 5.5 Distribusi Kadar Glukosa Darah Sewaktu Penderita DM Di


Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan (n=35)...............................................................................52

Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menderita DM Di


Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan (n=35)................................................................................53

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Di Posbindu Wilayah


Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)..........53

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Manjemen Diri Penderita DM Di Posbindu


Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan
(n=35).............................................................................................54
Tabel 5.9 Distribusi Nilai Umur Dengan Manajemen Diri Penderita DM Di
Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan (n=35)...............................................................................55

Tabel 5.10 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Manajemen


Diri Penderita DM Di Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan
(n=35) ............................................................................................56

Tabel 5.11 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan


Manajemen Diri Penderita DM Di Posbindu Wilayah Kerja
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)...................56

Tabel 5.12 Distribusi Nilai Lama Menderita DM Dengan Manajemen Diri


Penderita DM Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan
Kota Tangerang Selatan Tahun (n=35)..........................................57

Tabel 5.13 Distribusi Dukungan Keluarga Dengan Manajemen Diri Penderita


DM Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota
Tangerang Selatan (n=35) .............................................................58

xvii
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori...............................................................................32

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian..........................................................33

xviii
LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat izin uji validitas dan reliabilitas

Lampiran 2 Surat izin penelitian dan pengambilan data

Lampiran 3 Informed consent

Lampiran 4 Kuisioner penelitian

Lampiran 5 Hasil uji validitas dan reliabilitas

Lampiran 6 Hasil uji statistik

xix
DAFTAR SINGKATAN

DM : Diabetes Mellitus

POSBINDU : Pos Binaan Terpadu

PUSKESMAS: Pusat Kesehatan Masyarakat

HDFFS : Hensarling Diabetes Family Support Scale

DSMQ : Diabetes Self Management Questionnaire

IDF : International Diabetes Federation

xx
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan merupakan cita-cita suatu bangsa yang

terlihat dari peningkatan taraf hidup dan Umur Harapan Hidup (UHH).

Keberhasilan Pembangunan Nasional memberikan dampak meningkatnya

Umur Harapan Hidup waktu lahir (UHH) yaitu dari 68,6 tahun 2004 menjadi

70,6 pada tahun 2009 (Kemenkes, 2013).

Peningkatan UHH dapat mengakibatkan terjadinya transisi dalam

bidang kesehatan akibat meningkatnya jumlah angka kesakitan karena

penyakit degeneratif. Dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis

mengalami penurunan akibat proses degeneratif (penuaan) sehingga penyakit

tidak menular banyak muncul pada usia lanjut. Selain itu masalah degeneratif

menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit

menular. Penyakit menular yang diderita adalah tuberkulosis, diare,

pneumonia dan hepatitis. Sedangkan penyakit tidak menular pada lansia di

antaranya hipertensi, stroke, diabetes mellitus dan radang sendi atau rematik.

Salah satu penyakit yang tidak menular yang sering terjadi adalah diabetes

mellitus (Kemenkes, 2013).

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan karakterisitk

terjadinya peningkatan kadar glukosa darah, yang terjadi akibat terganggunya

sekresi insulin, aktivitas insulin atau keduanyan (Smeltzer & Bare, 2008).

Ketidakmampuan memproduksi insulin atau penggunaannya yang tidak

1
2

efektif menyebabkan kadar glukosa menumpuk di dalam darah atau dikenal

sebagai hiperglikemia, dan kadar glukosa yang tinggi tersebut akan

mempengaruhi terjadinya kerusakan pada tubuh serta kegagalan berbagai

organ dan jaringan (IDF, 2013).Diabetes tipe 2 merupakan jenis yang paling

umum dari diabetes, yang mencapai 90-95% dari seluruh penderita diabetes.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) ditemukan

bahwa jumlah penderita diabetes tipe 2 meningkat setiap tahunnya di setiap

negara. Pada tahun 2013, ditemukan sebanyak 382 juta orang menderita

diabetes, diabetes menyebabkan 5,1 juta kematian dan penderita diabetes

meninggal setiap enam detik. Pada tahun 2035 penderita diabetes

diperkirakan akan meningkat menjadi 592 juta orang, dan Indonesia berada

pada urutan ke-7 di antara sepuluh negara di dunia dengan penderita diabetes

terbesar di bawah negara Cina, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan

Mexico (IDF, 2014). Diabetes melitus dapat menjadi serius dan menyebabkan

kondisi kronik yang membahayakan apabila tidak segera diobati. Sehingga

diabetes mellitus dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi.

Komplikasi yang timbul akibat diabetes pada semua organ serta

semua sistem tubuh sangat tergantung pada bagaimana menjaga glukosa

darah selalu berada dalam keadaan normal. Melakukan kontrol adalah suatu

keharusan bagi semua penderita DM (Tandra, 2008). Kebanyakan penderita

DM tidak memeriksakan kadar gula darah bila tidak ada keluhan. Mereka

akan memeriksakan kesehatan bila merasa ada gangguan (Tandra, 2008).

Diabetes yang sering tidak terkontrol dapat mengakibatkan beberapa

komplikasi yang serius baik makrovaskular maupun mikrovaskular


3

seperti penyakit jantung, penyakit vaskuler perifer, gagal ginjal, kerusakan

saraf dan kebutaan. Banyaknya komplikasi yang mengiringi penyakit DM

telah memberikan kontribusi terjadinya perubahan fisik, psikologis dan sosial.

Untuk mencegah terjadinya komplikasi dari penyakit diabetes melitus, maka

diperlukan pengontrolan secara teratur melalui perubahan gaya hidup yang

tepat bagi penderita DM. Pengontrolan yang sering dilakukan juga dengan

cara pembatasan diet, peningkatan aktivitas fisik, regimen pengobatan yang

tepat, kontrol medis teratur dan pengontrolan metabolik secara teratur (Golien

et al dalam Ronquillo et al, 2003).

Peranan dalam mengontrol diabetes mellitus adalah untuk melihat

pengaruh dari pola makan, olahraga dan pengobatan yang telah dilakukan

oleh penderita diabetes mellitus. Sehingga secara tidak langsung, kontrol gula

darah dapat berpengaruh terhadap terjadinya komplikasi. Karena apabila

penderita Diabetes mellitus tidak pernah melakukan kontrol, maka penderita

tersebut tidak mengetahui keadaan gula darahnya. Sehingga apabila gula

darahnya tinggi dan penderita melakukan kebiasaan yang dapat membuat gula

darah tinggi maka dapat dipastikan penderita mengalami komplikasi

(Wardani, et al, 2014).

Seseorang dengan penyakit kronis akan mengalami berbagai macam

perubahan yang terjadi pada dirinya. Sehingga dalam hal ini keluarga

berperan dalam mengontrol kesehatan keluarganya yang mengalami diabetes.

Dukungan keluarga merupakan dukungan yang berarti diperoleh dari orang

lain yang dapat dipercaya, sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang

lainyang memperhatikan, menghargai, dan mencintainya. Dukungan


4

keluargamenjadikannya mampu dalam meningkatkankesehatan dan adaptasi

mereka dalamkehidupan (Sasih, 2015).

Keluarga merupakan bagian terpenting bagi semua orang. Begitu pula

bagi penderita diabetes mellitus. Disadari atau tidak, saat seseorang

mengalami diabetes mellitus maka mereka akan mengalami masa–masa sulit.

Mereka harus mulai berbenah diri, mulai mengontrol pola makan dan

aktifitas. Hal tersebut pasti sangat membutuhkan bantuan dari orang sekitar

terutama keluarga, dengan menceritakan kondisi diabetes mellitus pada orang

terdekat, maka akan membantu dalam kontrol diet dan program pengobatan

(Wardani, et al, 2014). Oleh karena itu, keluarga dapat mengingatkan ataupun

mengontrol manajemen diripenderita diabetes.

Diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan manajemen

diri diabetes sebagai komponen penting bagi setiap individu dalam

pengelolaan penyakitnya dan merupakan hal terpenting untuk mengendalikan

dan mencegah komplikasi diabetes (Xu et al., 2008). Perilaku manajemen diri

yang harus dilakukan oleh penderita diabetes mencakup mengatur pola

makan, latihan fisik, minum obat, pemantauan glukosa darah, dan perawatan

kaki (Shamoon et al., 1993; Xu et al, 2008). Keberhasilan manajemen diri

diabetes bergantung pada aktivitas perawatan diri individu untuk mengontrol

gejala dan menghindari komplikasi. Jika kegiatan perawatan diri dilakukan

secara teratur, maka dapat mencegah komplikasi yang timbul akibat diabetes

(Wu et al., 2007).

Secara umum, manajemen diri adalah perawatan diri individu dalam

hal meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri, terdiri dari


5

tindakan mereka seperti gaya hidup sehat, untuk memenuhi kebutuhan sosial,

emosional dan kebutuhan psikologis, merawat kondisi jangka panjang mereka

dan untuk mencegah penyakit lebih lanjut (UK departemen health, 2005

dalam Koetsenruijter,et.al, 2014). Untuk mempertahankan kontrol glikemik

yang memadai, pasien biasanya mengikuti regimen manajemen diri yang

melibatkan pemantauan diri glukosa darah yang sering, modifikasi diet,

olahraga, pendidikan, dan pemberian obat. Kolaborasi dan negosiasi dengan

penyedia layanan kesehatan, anggota keluarga, dan lain-lain (Ciechanowski,

2004 dalam Mahfoue, et al, 2011).

Manajemen diri pada diabetes merupakan tugas yang menantang yang

membutuhkan perubahan gaya hidup jangka panjang dan dedikasi yang tinggi

(Bean, 2007). Perilaku dalam mengontrol diabetes ini sangat penting, akan

tetapi perilaku manajemen diri tidak dilakukan secara konsisten oleh pasien

diabetes (Xu et al., 2008). Pasien diabetes yang mendapatkan pengetahuan

tentang manajemen perawatan diri untuk penyakitnya, juga sulit melakukan

perubahan perilaku dan gaya hidup (Rapley & Fruin, 1999; Wu et al., 2007).

Pasien tidak selalu menerapkan perubahan perilaku yang diinginkan (Sharoni

& Wu, 2012). dan banyak penderita diabetes yang tidak terlibat dalam semua

praktik manajemen diri (Hunt et al., 2012; Al-Khawaldeh, Al-Hassan &

Froelicher, 2012).

Di Indonesia masih banyak penyandang diabetes yang belum

terdiagnosis, hanya dua pertiga saja dari yang terdiagnosis yang menjalani

pengobatan, baik non farmakologis maupun farmakologis. Dari jumlah pasien

yang menjalani pengobatan tersebut hanya sepertiganya saja yang terkendali


6

dengan baik (PERKENI, 2011). Hasil penelitian dari Kusniyah, (2010)

menyimpulkan bahwa pasien diabetes tipe 2 masih memiliki tingkat

manajemen diri yang rendah. Hasil penelitian dari Kusniawati (2011) juga

menyimpulkan bahwa aktivitas perawatan diri pasien diabetes tipe 2 masih

rendah pada monitoring gula darah mandiri dan perawatan kaki.

Berdasarkan studi pendahuluan kepada 8 orang penderita DM

didapatkan 4 orang penderita DM mengatakan bahwa mereka setiap bulannya

di ingatkan oleh anggota keluarganya baik itu istri/suami, anak/menantu, dan

lainnya untuk mengontrol kadar gula darah mereka di posbindu dan jika

mereka tidak sempat ke posbindu maka mereka mengontrol kadar gula

darahnya di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. 4 orang lainnya tidak

teratur mengontrol gula darah serta keluarga jarang mengingatkan untuk

mengecek kadar gula darahnya.

Selanjutnya dari 8 orang pasien, 5 pasien mengatakan bahwa mereka

tidak melakukan latihan fisik seperti berjalan, olahraga ataupun yang lainnya

di pagi hari serta belum bisa mengontrol pola makannya karena tidak ada

kemauan dan kurangnya perhatian dari keluarga untuk mengingatkan mereka

olahraga serta dalam mengontrol pola makannya dan 3 lainnya sering

melakukan olahraga dengan berjalan-jalan di pagi hari serta sudah cukup baik

dalam mengontrol pola makannya. Dengan demikian kondisi yang dialami

penderita DM belum cukup optimal dalam mengatur manajemen diri mereka,

sehingga mereka membutuhkan dukungan oleh orang-orang sekitar terutama

keluarga terhadap manajemen diri penderita diabetes mellitus.


7

Rendahnya dukungan keluarga akan berdampak terhadap

terlaksananya manjemen diri penderita DM dalam hal pengelolaan dan

perawatan diri mereka. Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti hubungan

dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita DM di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Dukungan keluarga dengan manajemen diri pasien diabetes tipe 2

merupakan komponen untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam

mengelola penyakitnya, mencegah dan mengontrol komplikasi yang dapat

terjadi ataupun sudah terjadi. Saat seseorang mengalami diabetes mellitus

maka mereka harus banyak memperhatikan hal-hal yang terkait dengan diri

mereka sendiri. Mereka harus mulai merubah perilaku gaya hidup. sehingga

keluarga dapat memberikan dukungan yang berarti dalam pengontrolan diet,

aktifitas fisik, pemeriksaan kadar gula darah dan program pengobatan. Oleh

karena itu, pengelolaan atau manajemen diri diabetes merupakan hal yang

perlu diperhatikan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan dapat

disimpulkan bahwa masih rendahnya dukungan keluarga akan berdampak

terhadap terlaksananya manjemen diri dalam hal pengelolaan dan perawatan

diri mereka. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku

manajemen diri penderita diabetes mellitus masih belum optimal, dan

dukungan dari keluarga merupakan orang terdekat bagi penderita DM yang

bisa mengontrol penderita DM dalam melakukan manajemen diri,sehingga

peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan


8

manajemen diri penderita DM di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran karakteristik responden (usia, jenis kelamin, tingkat

pendidikan, kadar glukosa darah sewaktu dan lama menderita DM).

2. Bagaimana gambaran dukungan keluarga pada penderita diabetes mellitus

di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Tahun 2016.

3. Bagaimana gambaran manajemen diri pada penderita diabetes mellitus di

Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Tahun 2016.

4. Bagaimana hubungan karakteristik responden (usia, jenis kelamin, tingkat

pendidikan dan lama menderita DM) dengan manajemen diri penderita

diabetes mellitus di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan Tahun 2016.

5. Bagaimana hubungan dukungan keluarga dengan manajemen diri

penderita diabetes mellitus di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara karakteristik responden, dukungan keluarga

dengan manajemen diri penderita diabetes mellitus di Posbindu Wilayah

Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.


9

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

a. Mengetahui gambaran karakteristik responden (usia, jenis kelamin,

tingkat pendidikan, kadar glukosa darah dan lama menderita DM).

b. Mengetahui gambaran dukungan keluarga pada penderita diabetes

mellitus di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan Tahun 2016.

c. Mengetahui gambaran manajemen diri pada penderita diabetes

mellitus di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Tangerang

Selatan Tahun 2016.

d. Mengetahui hubungan karakteristik responden dengan manajemen

diri penderita diabetes mellitus di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

e. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan manajemen diri

pada penderita diabetes mellitus di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pendidikan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan ilmu bagi

keperawatan dalam pemberian pelayanan keperawatan kepada

masyarakat terutama klien yang menderita diabetes mellitus serta kajian

keilmuan bagi mahasiswa keperawatan tentang manajemen diri pada

penderita diabetes mellitus.


10

2. Bagi Puskesmas

Memberikan acuan untuk meningkatkan program pengontrolan

diabetes mellitus, penyuluhan terkait diet serta senam bagi penderita

diabetes mellitus dalam rangka meningkatkan kesehatan dan

kesejahteraan penderita diabetes mellitus.

3. Bagi Peneliti

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah informasi dan

wawasan dalam hal keperawatan gerontik, keperawatan komunitas dan

keperawatan medikal bedah, serta dapat digunakan sebagai dasar

penelitian selanjutnya terkait dengan pengaruh keluarga terhadap

perilaku perawatan diri pasien diabetes mellitus dalam pengontrolan

manajemen diri mereka.

4. Bagi Pasien

Penelitian ini diharapkan bahwa pasien dapat meningkatkan

kesehatan mereka dalam hal pengelolaan terkait manajemen kesehatan

diri untuk mengoptimalkan status kesehatannya.

5. Bagi Keluarga

Penelitian ini diharapkan bahwa keluarga mampu merawat

keluarganya yang menderita diabetes mellitus, memberikan dukungan

kepada anggota keluarga dalam pelaksanaan manajemen diri serta dapat

mengontrol kondisi kesehatan keluarganya serta diri mereka sendiri.


11

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penilitian ini dilakukan oleh mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk

mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri

penderita diabetes mellitus di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan

Kota Tangerang Selatan Tahun 2016. Partisipan pada penelitian ini adalah

responden yang menderita diabetes mellitus. Pengambilan data di ambil

melalui metode cross sectional dengan instrument berupa kuesioner.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keluarga

1. Definisi Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat terdiri dari

kepala keluarga dan beberapa anggota keluarga didalamnya yang tinggal

dalam satu atap dan saling bergantung satu sama lain (Harmoko, 2012).

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang memiliki ikatan

perkawinan yang sah, memiliki hubungan darah antara satu sama lain dan

tinggal bersama di dalam satu rumah serta memiliki peran masing-

masing dalam setiap anggota keluarga (Harnilawati, 2013).

2. Tipe Keluarga

Menurut Harnilawati (2013) tipe keluarga secara tradisional

dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Tipe keluarga secara tradisional

Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

1) Keluarga inti (nuclear family)

Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan

anak yang diperoleh dari keturunannya yang tinggal dalam satu

rumah.

2) Keluarga Besar (Extended Family)

12
13

Keluarga besar adalah keluarga inti ditambah dengan anggota

keluarga yang lain, misalnya kakek, nenek, paman, bibi,

keponakan dan sebagainya).

b. Secara modern

Secara modern dikelompokkan tipe keluarga selain diatas

yaitu:

1) Reconstituted neclear

Perkawinan kembali suami atau istri sehingga pembentukan

keluarga inti yang baru, tinggal dalam satu rumah dengan anak-

anaknya, baik anak dari perkawinan yang lama ataupun hasil dari

perkawinan baru, salah satu atau keduanya dapat bekerja di luar

rumah.

2) Middle age / aging couple

Suami sebagai pencari uang, istri tinggal di rumah atau kedua-

keduanya bekerja di rumah, anak-anak telah meninggalkan rumah

karena sekolah, perkawinan atau meniti karier.

3) Dyadic Nuclear

Suami istri yang sudah berumur lanjut dan tidak memiliki anak,

keduanya atau salah satu dari mereka bekerja di rumah.

4) Single parent

Satu orang tua akibat perceraian atau pasangannya meninggal

sehingga anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.

5) Dual carrier
14

Suami istri atau keduanya bekerja dan tidak memiliki anak.

6) Commuter married

Suami istri atau keduanya bekerja dan hidup terpisah pada jarak

tertentu. Keduanya mencari waktu-waktu tertentu untuk bertemu.

7) Single Adult

Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya

keinginan untuk kawin.

8) Keluarga besar 3 generasi ( three generation).

Keluarga yang hidup dalam satu rumah terdiri dari 3 generasi,

mulai dari keluarga kakek-nenek, keluarga ayah-ibu, dan keluarga

anak-anak nya.

9) Institusional

Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti.

10) Communal

Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogami

dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan

fasilitas.

11) Group marriage

Satu rumah terdiri dari orang tua dan anak-anaknya di dalam

satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan

yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.

12) Unmarried parent and child

Ibu dan anak di mana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya

diadopsi.
15

13) Cohibing couple

Dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa

kawin.

14) Gay dan lesbia family

Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang memiliki jenis

kelamin yang sama.

3. Tugas Keluarga

Tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan, antara

lain (Friedman, Bowden & Jones, 2010, dalam Zaidin, 2009).

a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya

Kesehatan merupakan suatu hal yang sangat penting sehingga

tidak boleh diabaikan, karena jika kesehatan terganggu segala sesuatu

tidak akan berarti. Anggota keluarga memiliki kewajiban untuk

mengetahui penyakit yang dialami oleh keluarganya. Anggota keluarga

yang menderita DM maka kemungkinan besar memiliki riwayat dari

keluarga yang sebelumnya atau karena gaya hidup seperti makanan

yang tidak terkontrol. Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai

kesehatan dapat menjadi masalah serius karena keluarga tidak dapat

menjalankan tugas keluarga dengan baik, misalnya keluarga tidak

mengetahui bahwa ada gangguan kesehatan pada anggota keluarga

yang mengacu pada DM.

b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat


16

Tugas ini merupakan upaya keluarga untuk ke pelayanan

kesehatan yang tepat sesuai dengan keadaan anggota keluarga, dengan

mempertimbangkan salah satu dari anggota keluarga yang berhak

memberikan keputusan untuk melakukan sesuatu atau tindakan. Seperti

halnya jika salah satu anggota keluarga yang terkena DM mengalami

komplikasi keluarga dapat memberikan keputusan ke mana lansia akan

dilakukan perawatan. Keluarga dapat mengambil kepeutusan yang

tepat untuk mendukung kesembuhan bagi penderita.

c. Memberi perawatan kepada anggota keluarga yang sakit atau yang

tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang

terlalu muda.

d. Mempertahankan suasana di rumah menjadi nyaman yang

menguntungkan kesehatan dan perkembangan anggota keluarga.

e. Mempertahankan hubungan yang baik anatara keluarga dan fasilitas

kesehatan yang ada.

4. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (2010) terdapat 5 fungsi dasar keluarga yaitu:

a. Fungsi afektif

Mempertahankan kepribadian, memfasilitasi stabilisasi

kepribadian orang dewasa, memnuhi kebutuhan psikologis anggota

keluarga.
17

b. Fungsi sosial

Memfasilitasi sosialisasi primer anggota keluarga yang

bertujuan untuk menjadikan anggota keluarga yang produktif dan

memberikan status pada anggota keluarga.

c. Fungsi reproduksi

Mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa

generasi dan untuk kelangsungan hidup masyarakat.

d. Fungsi ekonomi

Menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi

efektifnya.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik, makanan, pakaian, dan

tempat tinggal serta perawatan kesehatan.

B. Dukungan Keluarga

1. Definisi Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan proses yang menjalin hubungan

antar keluarga melalui sikap, tindakan dan penerimaan keluarga yang

terjadi selama masa hidup (Friedman, 2010). Dukungan keluarga dapat

berupa dukungan dari internal dan juga berupa dukungan eksternal dari

keluarga inti. Dukungan yang diberikan keluarga dapat berupa dukungan

emosional, dukungan penghargaan, dukungan informasional dan dukungan

instrumental (House dan Kan, 1985 dalam Friedman, 2010).


18

2. Dimensi Keluarga

Dimensi dukungan keluarga menurut Sarafino (2004), Hensarling

(2009) adalah:

a. Dimensi Emosional/Empati

Dukungan ini melibatkan perasaan empati dan perhatian terhadap

seseorang sehingga membuatnya merasa lebih baik, merasa dihargai

dan merasa dimiliki. Dukungan ini menunjukkan adanya pengertian dan

perhatian dari anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang

menderita DM. Komunikasi dan interaksi antara snggota keluarga harus

terjalin karena diperlukan untuk memahami situasi anggota keluarga

yang lain.

b. Dimensi Penghargaan

Dukungan ini membuat seseorang merasa berharga, kompeten dan

dihargai kareba keluarga memberikan penguatan yang positif kepada

anggota keluarga yang menderita penyakit. Dukungan ini muncul dari

penerimaan dan penghargaan seseorang terhadap keberadaan seseorang

yang dapat menerima kelebihan dan kekurangan orang lain dan diri

sendiri.

Dapat dikatakan bahwa adanya dukungan penghargaan kepada

anggota keluarga yang menderita DM dapat memberikan motivasi,

semangat, dan peningkatan harga diri karena dianggap masih berguna

dan berarti untuk keluarga, sehingga penderita DM diharapkan dapat


19

membentuk perilaku yang sehat dalam hal untuk meningkatkan status

kesehatannya.

c. Dimensi Instrumental

Dukungan yang bersifat nyata, dimana dukungan berupa

bantuan langsung. Dukungan instrumental keluarga merupakan suatu

dukungan atau bantuan penuh keluarga dalam bentuk memberikan

bantuan tenaga, dana maupun menyediakan waktu untuk melayani dan

mendengarkan keluarga yang sakit dalam mengungkapkan persaan

yang dialaminya (Bomar, 2004). Dukungan instrumental termasuk

dalam fungsi perawatan kesehatan keluarga dan fungsi ekonomi yang

diberikan kepada keluarga yang sakit. Fungsi perawatan kesehatan

seperti menyediakan sandan dan pangan, perawatan kesehatan,

perlindungan terhadap bahaya dan fungsi ekonomi.

d. Dimensi Informasi

Dukungan berupa percakapan atau umpan balik tentang

bagaimana melakukan sesuatu, misalnya saat seseorang mengalami

kesulitan dalam pengambilan keputusan, akan menerima saran-saran

atau umpan balik tentang ide-ide dari keluarganya. Dimensi ini dapat

membantu pasien dalam mengambil keputusan dalam manajemen

penyakitnya.

Bomar (2004), menyatakan dukungan informasi keluarga

merupakan suatu dukungan atau bantuan yang diberikan keluarga

dalam bentuk saran atau masukan, nasehat atau arahan, dan


20

memberikan informasi-informasi penting yang dibutuhkan keluarga

yang sakit dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.

Dukungan informasi yang dibutuhkan pasien DM pemberian

informaasi terkait kondisi yang dialaminya dan bagaimana cara

perawatannya. Dimensi ini penting bagi individu yang memberikan

dukungan keluarga karena menyangkut persepsi tentang keberadaan

dan ketepatan dukungan keluarga bagi seseorang. Dukungan keluarga

bukan sekedar memberikan bantuan, tetapi persepsi penerima terhadap

bantuan yang diberikan.

3. Pengukuran Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga terkait dengan kesehatan dan kesejahteraan

dimana lingkungan keluarga menjadi tempat individu belajar. Dukungan

keluarga terdiri atas dukungan orang tua ke anak, anak ke orang tua, antar

pasangan, saudara ke saudara, cucu ke kakek/nenek. Hensarling (2009),

mengembangkan suatu skala pengukuran dukungan keluarga dengan nama

“Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS), dimana skala ini

menunjukkan validitas isi untuk pengukuran persepsi pasien terhadap

dukungan yang diberikan oleh keluarga. Hensarling juga

merekomendasikan penggunaan skala ini untuk mengukur dukungan

keluarga pada pasien DM.

HDFSS mengukur dukungan keluarga yang dirasakan oleh pasien

DM, secara konsep didefinisikan sebagai cara pasien melihat dukungan


21

dari keluarganya. HDFSS terdiri atas 29 pertanyaan dengan alternatif

jawaban: 4: selalu, 3: sering, 2: jarang, 1: tidak pernah.

C. Diabetes Mellitus

1. Definisi Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme secara

genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa

hilangnya toleransi karbohidrat (Price, 2006). Diabetes mellitus atau

penyakit kencing manis merupakan suatu penyakit menahun yang

ditandai dengan kadar glukosa darah diatas kisaran nilai normal yaitu

kadar gula darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl, dan kadar gula

darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Misnadiarly, 2006).

2. Klasifikasi Diabetes Mellitus

Klasifikasi diabetes mellitus telah disahkan oleh world health

organization (WHO) dan telah dipakai oleh seluruh dunia. Empat

klasifikasi gangguan toleransi glukosa

a. Diabates mellitus tipe 1

DM tipe 1 dikenal dengan tipe Juvenileonset dan tipe

dependen insulin. Insiden diabetes tipe 1 sebanyak 30.000 kasus

baru setiap tahunnya dan dibagi dalam dua subtipe : a) autoimun,

akibat disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel beta dan b)

idiopatik, tanpa bukti adanya autoimun dan tidak diketahui

sumbernya. Subtipe ini lebih sering timbul pada etnik keturunan

Afrika-Amerika dan Asia.


22

b. Diabetes mellitus tipe 2

DM tipe 2 dikenal sebagai tipe onset maturitas dan tipe

nondependen insulin. Insiden diabetes mellitus tipe 2 sebesar 650.000

kasus baru setiap tahunnya. Obesitas sering dikaitkan dengan penyakit

ini.

c. Diabetes gestasional (GDM)

Diabetes gestasional dikenal pertama kali selama kehamilan

dan mempengaruhi 4% dari semua kehamilan. Faktor risiko terjadinya

GDM adalah usia tua, etnik, obesitas, multiparitas, riwayat keluarga,

dan riwayat diabetes gestasional terdahulu. Diabetes kehamilan

berisiko tinggi mengalami morbiditas dan mortalitas perinatal dan

mempunyai frekuensi kematian janin yang lebih tinggi. Kebanyakan

perempuan hamil menjalani penapisan untuk diabetes selama usia

kehamilan 24 hingga 28 minggu.

d. Tipe tipe lain

DM tipe lain, disebabkan karena kelainan genetik fungsi sel beta,

kelainan genetik kerja insulin, karena obat atau zat kimia, infeksi dan

sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM. Beberapa hormon

seperti hormon pertumbuhan, kortisol, glukagon ddan epineprine

bersifat antagonis atau melawn kerja insulin. Kelebihan jumlah

hormon-hormon tersebut dapat mengakibatkan DM. Terjadi sebanyak

1-2% dari semua DM (Black & Hawks, 2006).


23

3. Manifestasi Klinis

Menurut Misnadiarly, 2006 gejala dan tanda-tanda dapat

digolongkan menjadi gelaja akut dan gejala kronik

a. Gejala akut

Gejala penyakit DM berbeda-beda dan tidaklah selalu sama.

Pada perm ulaan gejala meliputi: Poliphagia (banyak makan)

polidipsia (banyak minum), Poliuria (banyak kencing/sering kencing di

malam hari). Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, maka timbul

gejala karena kurangnya insulin. Jadi bukan 3P, melainkan 2P

(polidipsia dan poliuria) serta beberapa keluahan lain seperti nafsu

makan mulai berkurang, bahkan kadang-kadang timbul rasa mual jika

kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai: berat badan turun

dengan cepat (bisa 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah,

bahkan penderita akan jatuh koma sehingga disebut koma diabetik.

Koma diabetik adalah koma akibat kadar glukosa darah terlalu tinggi

diatas 600 mg/dl.

b. Gejala kronik

Gejala kronik diabetes melitus yaitu : Kesemutan, kulit terasa

panas atau seperti tertusuk tusuk jarum, rasa tebas dikulit, kram,

kelelahan, mudah mengantuk, pandangan mulai kabur, gigi mudah

goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun bahkan pada

pria bisa terjadi impotensi, pada ibu hamil sering terjadi keguguran

atau kematian janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir

lebih dari 4kg.


24

4. Penatalaksanan Diabetes Mellitus

Menurut lanywati, 2011 prinsip penatalaksanaan diabates melitus

secara umum ada lima sesuai dengan Konsensus Pengelolaan DM

diIndonesia tahun 2006 adalah untukmeningkatkan kualitas hidup pasien

DM. Terapi DM pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:

a. Mengembalikan kadar gula darah sehingga menjadi normal, penderita

merasa nyaman dan sehat.

b. Mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi

c. Mendidik penderita dalam hal pengetahuan dan motivasi agar

penderita dapat merawat penyakitnya sendiri.

Menurut Sylvia, 2006 penatalaksanaan diet DM adalah sebagai

berikut:

1) Diet DM

Diet DM dimaksudkan untuk mengatur jumlah kalori dan

karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari oleh penderita DM , agar

gula darah dapat terkontrol dengan pengaturan makanan.jumlah

kalori yang disarankan juga bervariasi tergantung pada kebutuhan

untuk mempertahankan, menurunkan, atau meningkatkan berat

tubuh penderita DM. Sistem makanan penukar dikembangka untuk

membantu pasien dalam hal menangani pola dietnya

2) Latihan fisik

Latihan fisik untuk mempermudah transpor glukosa ke

dalam sel-sel dan meningkatkan kepekaan terhadap insulin. Dengan


25

menyesuaikan waktu pasien dalam melakukan aktifitas latihan

fisik, pasien mungkin dapat mengontrol kadar gula darah mereka

a) Olahraga

Berikut ini adalah pertimbangan manfaat- risiko

olahraga pada lansia

Manfaat pada lansia adalah perbaikan toleransi

glukosa, peningkatan kemampuan konsumsi oksigen

maksimum, peningkatan kekuatan otot, penurunan tekanan

darah, pengurangan lemak tubuh, perbaikan profil lipid. Risiko

nya adalah sebagai berikut: hipoglikemia, cedera pada tulng

sendi dan kaki. Karena lansia sering kali dijumpai penyakit

penyerta osteoartritis, parkinson, gangguan penglihatan, dan

gangguan keseimbangan, sehingga olahraga sebaiknya

dilakukan yang memang dekat, dan jensi olahraga yang

silakukan lebih bersifat isotonik daripada isometrik.

3) Pengobatan DM

Penyakit yang progresif obat-obat oral hipoglikemik juga

dianjurkan. Obat-obat yang digunakan adalah persensitif insulin

dan sulfonilurea. Dua tipe persensitif yang tersedia adalah

metformin dan tiazolidinedion. Metformin diberikan sebagai

terapi tunggal dengan dosis 500 hingga 1700mg/ hari. Metformin

menurunkan kadar produksi glukosa hepatik, menurunkan

absorpsi glukosa pada usus, dan meningkatkan kepekaan insulin,

khususnya di hati. Tiazolidinedion meningkatkan kepekaan


26

insulin perifer dan menurunkan produksi glukosa hepatik.

Tiazolidinedian, yaitu rosiglitazon dan dengan dosis 4 hingga 8

mg/hari dan pioglitazon dengan dosis 30 hingga 45 mg/hari dapat

diberikan sebagai terapi tunggal atau dikombinasikan dengan

metformin, sulfonilurea, atau insulin. Obat-obat ini menyebabkan

retensi air sehingga tidak cocok diberikan pada pasien dengan

agagal jantung kongestif.

Lispro awitannya segera selama 30-90 menit dan regular

(crystalline Zinc) awitannya 30 menit. NPH itu keruh, suspensi

insulin seng kristal, 50% jenuh dengan protamin. Ultralente dan

Glargine

D. Manajemen Diri pada Diabetes

1. Definisi Manajemen Diri

Manajemen diri pada diabetes merupakan seperangkat perilaku

yang dilakukan oleh individu dengan diabetes untuk mengelola kondisi

mereka, termasuk minum obat, mengatur diet, melakukan latihan fisik,

pemantauan glukosa darah mandiri, dan mempertahankan perawatan kaki

(Xu et al., 2010).

2. Manajemen Diri Pada Diabetes

Manajemen diri pada diabetes juga didefinisikan sebagai perilaku

manajemen diri yang mencakup pengaturan pola makan, olahraga, pemantauan

glukosa darah secara mandiri, dan minum obat, yang secara keseluruhan

berhubungan dengan perbaikan yang signifikan dalam mengontrol status

metabolik (Jones et al., 2003; Sousa et al., 2005; Hunt et al., 2012).
27

Seseorang yang menderita diabetes perlu mengetahui pemahaman

dalam pengelolaan penyakitnya. Tugas-tugas dalam manajemen diri yang

yang harus diperhatikan adalah, sebagai berikut:

a. Diet

Diet merupakan faktor utama dalam mengontrol diabetes, yang

melibatkan pengendalian berat badan dan perencanaan makan yang

sehat untuk pasien DM (Harris et al., 2012). Pasien dengan diabetes

harus dimotivasi untuk menerapkan perubahan pola hidup yang lebih

sehat (Amod et al., 2012). Rekomendasi diet bagi penderita diabetes

mirip dengan rekomendasi untuk masyarakat umum, misalnya

mengurangi gula, lemak jenuh, dan asupan garam (Dyson, 2002; Nair,

2007). Meskipun setiap orang memiliki kebutuhan yang sama untuk

nutrisi dasar, pasien diabetes akan membutuhkan diet yang lebih

terstruktur untuk mencegah hiperglikemia (Lemone & Burke, 2004;

Nair, 2007).

b. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik merupakan faktor dalam mengelola diabetes

dan mengontrol kadar glukosa darah yang lebih baik. Sebelum

meningkatkan pola aktivitas fisik dari yang biasanya, pasien diabetes

harus melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu, untuk

menyesuaikan kebutuhan individu dan mempertimbangkan adaptasi

latihan terhadap adanya komplikasi diabetes. Latihan fisik dapat

membantu meningkatkan sirkulasi, dan mengurangi berat badan

(Caterson, 2005; Nair, 2007), serta meningkatkan penyerapan glukosa


28

dalam sel otot (Pullen, 2000; Nair, 2007), sehingga membantu

menurunkan kadar glukosa darah (Nair, 2007).

c. Medikasi (ke tempat pelayanan kesehatan)

Bagi penderita diabetes tipe 2, kontrol glikemik dapat

dipertahankan dengan intervensi non-farmakologis seperti diet, latihan

fisik, dan monitoring gula darah mandiri. Namun, sebagian besar

penderita diabetes tipe 2 memerlukan pengobatan dengan farmakologi

(DeCoste & Scott, 2004). Diabetes tipe 2 dapat diobati dengan obat

tunggal atau kombinasi obat oral dan insulin. Setiap obat diberikan

untuk salah satu ketidaknormalan kadar gula darah dan kombinasi

dengan perawatan medis yang dapat menormalkan kadar gula darah.

Jika terapi oral tidak bekerja, maka terapi insulin satu-satunya cara

untuk mengontrol kondisi hiperglikemia. Insulin hanya akan

digunakan jika nilai HbA1c lebih dari 6,5% setelah terapi oral

maksimal. Insulin harus dikombinasi dengan terapi oral untuk

mengurangi risiko hipoglikemia dan peningkatan berat badan (Garber

et al., 2002; Svartholm & Nylander, 2010).

d. Kontrol Glukosa

Kontrol kadar glukosa darah merupakan bagian dalam

manajemen diri pasien dengan diabetes, dan disarankan pada pasien

diabetes yang menggunakan terapi obat oral. Monitoring gula darah

mandiri bertujuan untuk mencapai penurunan HbA1c dengan tujuan

utama mengurangi risiko komplikasi, mengidentifikasi adanya

hipoglikemia (IDF, 2012), mempertahankan kadar glukosa darah pada


29

4-6 mmol/L sebelum makan (preprandial) dan tidak di atas 10 mmol/L

dua jam setelah makan (postprandial) (Diabetes UK, 2006; Nair,

2007). Kontrol glukosa darah didasarkan pada kebutuhan individu,

jadwal, dan penggunaan data yang direncanakan. Kontrol gula darah

efektif dalam meningkatkan kontrol glikemik pada individu dengan

diabetes tipe 2 yang tidak menggunakan insulin (Welschen et al, 2005;

Hirsch et al, 2008).

Monitoring glukosa darah mandiri memberikan informasi

mengenai efek terapi, diet dan aktivitas fisik. Pernyataan dari ADA

(2009, dalam CPG on Management T2DM, 2009) merekomendasikan

bahwa monitoring glukosa darah mandiri harus dilakukan 3 atau 4 kali

sehari untuk pasien menggunakan suntikan insulin. Untuk pasien yang

menggunakan suntikan insulin tidak sering, terapi non-insulin atau

terapi nutrisi medis saja, monitoring glukosa darah mandiri mungkin

berguna dalam mencapai kontrol glikemik.

3. Faktor-faktor yang berhubungan dengan manajemen diri penderita

DM tipe 2

a. Umur

Penderita diabetes yang lebih tua memiliki tingkat manajemen

diriyang lebih tinggi pada diet, olahraga, dan perawatan kaki dari pada

individu yang lebih muda (Xu, Pan & Liu, 2010). Penderita diabetes

yang lebih tua dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga akan
30

lebih baik dalam perawatan diri daripada orang tua yang buta huruf

(Bai, Chiou & Chang, 2009).

b. Jenis kelamin

Perawatan diri diabetes dapat dilakukan oleh siapa saja yang

menderita diabetes baik laik-laki ataupun perempuan. Klien laki-laki

memiliki tanggung jawab penuh dalam melaksankan pengelolaan

terhadap penyakit yang sedang dialaminya demikian juga dengan

perempuan yang tampak lebih peduli terhadap kesehatannya sehingga

berupaya optimal untuk melakukan perawatan mandiri terhadap

kesehatan yang dialaminya (Sousa, 2005 dalam Kusniawati, 2010).

c. Tingkat pendidikan

Seseorang dengan pendidikan tinggi umumnya memiliki

pemahaman yang baik tentang pentingnya perilaku perawatan diri dan

memiliki keterampilan manajemen diriyang lebih baik untuk

menggunakan informasi peduli diabetes yang diperoleh melalui

berbagai media dibandingkan dengan tingkat pendidikan rendah (Bai,

Chiou & Chang, 2009). Seseorang dengan tingkat pendidikan yang

lebih tinggi memiliki tingkat manajemen diriyang lebih tinggi terhadap

diet, olahraga, dan pemeriksaan gula darah mandiri, dan lebih mudah

untuk memahami informasi kesehatan yang berhubungan dengan diet,

aktivitas fisik, dan pemeriksaan gula darah mandiri (Xu, Pan & Liu,

2010).

d. Lamanya menderita diabetes


31

Seseorang dengan durasi penyakit lebih lama memiliki

pengalaman dalam mengatasi penyakit mereka dan melakukan perilaku

perawatan diri yang lebih baik (Wu et al., 2007). Seseorang yang telah

didiagnosis dengan diabetes bertahun-tahun dapat menerima diagnosis

penyakitnya dan rejimen pengobatannya, serta memiliki adaptasi yang

lebih baik terhadap penyakitnya dengan mengintegrasikan gaya hidup

baru dalam kehidupan mereka sehari-hari (Xu, Pan & Liu, 2010).

4. Pengukuran Manajemen Diri pada Diabetes Mellitus

Manajemen diri pada diabetes tipe 2 diukur dengan menggunakan

kuesioner The DSMQ (Diabetes Self Management Questionnaire)

dikembangkan di Lembaga Penelitian Diabetes Academy Mergentheim.

Ini adalah instrumen untuk menargetkan perawatan diri diabetes. DSMQ

mencakup: manajemen glukosa' (item 1, 4, 6, 10, 12), 'diet kontrol' (item

2, 5, 9, 13), 'aktivitas fisik' (item 8, 11, 15), dan menggunakan perawatan

kesehatan' (item 3, 7, 14). Satu item (16) secara keseluruhan terkait

terhadap perawatan diri dan dimasukkan dalam jumlah skala. Jumlah total

pertanyaan sebanyak 16 item (Schmitt, et, al, 2013).


32

E. Kerangka Teori

Komplikasi:
1. komplikasi akut Diabetes meliitus
2. Komplikasi kronis

Dukungan sosial/
Manajemen diri
dukungan keluarga
1. Kontrol glukosa
1. Dimensi informasi 2. Diet
2. Dimensi emosional 3. Aktivitas fisik
3. Dimensi penghargaan 4. Gunakan perawatan kesehatan
4. Dimensi instrumental

Status glikemik terkontrol


Faktor personal
Komplikasi minimal
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Tingkat pendidikan
4. Lama menderita
dm

Skema 2.1 Kerangka teori

Dimodifikasi dari konsep Bandura, (1989), Hensarling (2009), Friedman

(2010), Xu, Pan & Liu (2010), Bai, Chiou & Chang ( 2009).
BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN, HIPOTESIS DAN DEFINISI

OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri

dari dua variabel yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel

dependen dalam penelitian ini adalah manajemen diri pasien diabetes

mellitus, sedangkan variabel independen adalah faktor personal dan dukungan

keluarga.

Variabel independen variabel dependen

Manajemen diri pasien


Dukungan keluarga
DM

Faktor personal
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Tingkat pendidikan
4. Lama menderita
dm

Skema 3.1

Kerangka konsep penelitian

33
34

B. Hipotesis

1. Ada hubungan karakteristik responden (usia, jenis kelamin, tingkat

pendidikan dan lama menderita DM) dengan manajemen diri penderita

DM di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang

Selatan

2. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita

DM di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang

Selatan.
35

C. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala
.
1. Usia Usia responden sejak lahir Responden diberi pertanyaan Kuisioner 1. 45-59tahun Interval
sampai sekarang mengenai usianya 2. 60-75 tahun
3. 76-90 tahun
2. Jenis Kelamin Jenis kelamin responden, Menentukan kode untuk setiap Kuisioner 1. laki-laki Nominal
apakah laki-laki atau pilihan jawaban 2. Perempuan
perempuan 1. laki-laki
2. perempuan
3. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan Responden diberikan Kuisioner 1. Tidak Sekolah Ordinal
terakhir atau formal yang pertanyaan tentang 2. SD
telah diselesaikan oleh pendidikannya dikelompokkan 3. SMP
responden menjadi 4. SMA
1. Tidak Sekolah 5. Perguruan Tinggi
2. SD
3. SMP
4. SMA
5. Perguruan Tinggi
4. Lama menderita DM Rentang waktu seseorang Responden diberikan Kuisioner 1. 1-5 tahun Interval
pertama kali menderita pertanyaan terkait seberapa 2. 6-10 tahun
DM sampai sekarang lama menderita DM 3. >10 tahun
Variabel dependen
1. Manajemen diri Manajemen diri meliputi Menggunakan instrument Kuisioner Pada analisis Ordinal pada
manajemen glukosa, Diabetes Self-Management univariat: analisis
kontrol diet, aktivitas fisik Questionnaire (DSMQ). 1. baik = lebih dari univariat
dan menggunakan DSMQ terdiri dari 16 mean (≥26,23)
36

perawatan kesehatan. pertanyaan. 2. kurang baik =


kurang dari mean
(<26,23)

Variabel Independen
2. Dukungan Keluarga Dukungan yang diberikan Menggunakan skala Hensarling Kuisioner 1. baik = lebih dari Ordinal pada
keluarga kepada pasien Diabetes Family Support Scale median (≥ 67) analisis
DM yang meliputi empat (HDFSS) yang dikembangkan 2. kurang baik = univariat
dimensi, yaitu dimensi oleh hensarling 2009. HDFSS kurang dari median
emosional, penghargaan, terdiri atas 25 item pertanyaan (<67)
instrumental dan dengan alternatif jawaban
informasi. menggunakan skala Likert.
Untuk pertanyaan positif yaitu
4: selalu
3: sering
2: jarang
1: tidak pernah
Sedangkan untuk pertanyaan
negatif yaitu
1: selalu
2: sering
3: jarang
4: tidak pernah
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penilitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan design

cross sectional yaitu pengukuran atau pengumpulan data variabel bebas dan

variable terikat dilakukan dalam satu waktu. Tujuan spesifik dari study cross

sectional adalah untuk mendeskripsikan hubungan antara variabel independen

dan variabel dependen dalam satu waktu ( Sastroasmoro & Ismael, 2010).

Peneliti menggunakan pendekatan cross sectional karena penelitian

ini bermaksud mengidentifikasi ada tidaknya hubungan variabel dependen

terhadap variabel independen dalam satu kali pengukuran menggunakan alat

ukur berupa kuisioner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis

hubungan dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita DM di

Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun

2016.

B. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016. Alasan peneliti memilih

Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan karena

belum ada penelitian yang dilakukan terkait dengan hubungan dukungan

keluarga dengan manajemen diri lansia penderita DM di Posbindu Wilayah

Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan tersebut serta masih

37
38

kurangnya dukungan keluarga terhadap manajemen diri penderita DM yang

diperoleh dari hasil studi pendahulan.

Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2016, dilanjutkan

dengan analisis data. Pengambilan data dilakukan pada minggu pertama April

sampai minggu pertama Mei 2016.

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh subjek atau objek dengan karakteristik

tertentu yang akan di teliti (Setiadi, 2007). Populasi penelitian ini adalah

seluruh pasien DM yang tinggal bersama keluarga di daerah Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan.

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dipilih dengan cara

tertentu sehingga dianggap dapat mewakili dari populasinya ( Sastroasmoro

& Ismael, 2010). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu total sampling dengan melihat kriteria inklusi.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

1. Responden yang menderita DM umur >45 tahun

2. Responden yang tinggal bersama dengan keluarganya

3. Dapat berkomunikasi dengan baik

4. Bersedia menjadi responden

5. Beragama islam

Sedangkan kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:

1. Pasien DM yang mengalami penurunan status kesehatan secara drastis

seperti pingsan saat penelitian berlangsung.


39

Adapun jumlah sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah

sebesar 35 responden.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan kuisioner, di mana responden mengisi kuisioner sendiri

atau dibantu. Kuisioner yang digunakan terdiri dari kuisioner dukungan

keluarga dan kuisioner manajemen diri.

1. Kuisioner dukungan keluarga

Kuisioner dukungan keluarga diadopsi dari Hensarling Diabetes Family

Support Scale (HDFSS) yang dikembangkan oleh Hensarling (2009).

HDFFS mencakup dimensi emosional terdiri dari 10 item ( pertanyaan

nomor 4, 5, 6, 7, 13, 15, 17, 24, 27, 28), dimensi penghargaan 8 item

(pertanyaan nomor 8, 10, 12, 14, 18, 19, 20, 25), dimensi instrumental 8

item (pertanyaan nomor 9, 11, 16, 21, 22, 23, 26, 29). Dan dimensi

informasi 3 item (pertanyaan nomor 1, 2, 3,). Jumlah total pertanyaan

sebangak 29 item dengan alternatif jawaban:

Untuk pertanyaan positif:

Kuisioner dukungan keluarga nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,11, 14, 15,

16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, dan 29

Selalu: 4, sering: 3, jarang: 2, tidak pernah: 1.

Untuk pertanyaan negatif:

Kuisioner dukungan keluarga nomor 12, 13, 17, dan 24

Selalu: 1, sering: 2, jarang: 3, tidak pernah: 4.

2. Kuisioner manjemen diri


40

The DSMQ dikembangkan di Lembaga Penelitian Diabetes Academy

Mergentheim. Ini adalah instrumen untuk menargetkan perawatan diri

diabetes. DSMQ mencakup: manajemen glukosa' (item 1, 4, 6, 10, 12),

'diet kontrol' (item 2, 5, 9, 13), 'aktivitas fisik' (item 8, 11, 15), dan

menggunakan perawatan kesehatan' (item 3, 7, 14). Satu item (16) secara

keseluruhan terkait terhadap perawatan diri dimasukkan dalam jumlah

skala. Jumlah total pertanyaan sebanyak 16 item dengan alternatif

jawaban:

Untuk pertanyaan positif:

Kuisioner manajemen diri nomor 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, dan 14

Sesuai: 3, cukup sesuai: 2, kurang sesuai: 1, tidak sesuai: 0

Untuk pertanyaan negatif

Kuisioner manajemen diri nomor 5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, dan 16

Sesuai: 0, cukup sesuai: 1, kurang sesuai: 2, tidak sesuai: 3

E. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas instrumen merupakan validitas yang diuji datanya, data atau

informasi yang dapat dikatakan valid, bila tidak ada perbedaan antara yang

dilaporkan peneliti, dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang

diteliti (Lapau, 2012). Validitas instrumen diuji dengan teknik korelasi

Pearson Product Moment yaitu melihat nilai korelasi antara skor masing-

masing variabel dengan skor totalnya.

Berdasarkan tingkat signifikan 0,05, bila r hitung lebih besar dari nilai

r tabel, maka item kuesioner adalah valid, namun bila nilai r hitung lebih
41

kecil dari r tabel maka instrumen tidak valid. Sedangkan reliabilitas

menyangkut ketepatan alat ukur atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat

pengukuran (Lapau, 2012). Reliabilitas instrumen akan diuji dengan

menggunakan Alpha Cronbach yaitu bila nilai r hitung lebih besar dari nilai r

tabel maka item kuesioner reliabel, namun bila nilai r hitung lebih kecil dari

nilai r tabel maka item kuesioner tidak reliabel. Menurut Sugiyono (2012)

menyatakan bahwa suatu instrumen dinyatakan reliabel jika nilai alpha

cronboach ≥ 0,6

Hasil uji validitas dan reliabilitas tentang dukungan keluarga telah

dilakukan oleh Yusra (2010) dengan menggunakan degree of freedom 20-2=

18 ( r tabel 0.444) pada kuesioner dukungan keluarga terdapat 14 pertanyaan

yang tidak valid, namun pertanyaan tidak dibuang tetapi diperbaiki redaksi

kalimatnya menjadi lebih spesifik dan mudah dipahami responden.

Selanjutnya instrumen dukungan keluarga yang telah diperbaiki digunakan

untuk pengambilan data.

Hasil uji validitas dan reliabilitas dukungan keluarga yang dilakukan

oleh Yusra (2010) yang dilakukan kepada 30 responden dari 120 responden

dengan degree of freedom 30-2= 28 (r tabel 0.361), pada kuesioner dukungan

keluarga terdapat 4 item pertanyaan yang tidak valid yaitu nomor 12 (

dimensi penghargaan), nomor 13 dan 17 (dimensi emosional) serta nomor 26

(dimensi instrumental). Keempat pertanyaan tersebut tidak dimasukkan ke

dalam instrumen, sehingga pertanyaan valid dan reliabel adalah 25 item

dengan nilai validitas (r 0,395-0,856) dan nilai reliabelnya (Alpha Cronbach

0.940). total skor responden terendah 28 dan tertinggi 100.


42

Berdasarkan uji validitas yang dilakukan di luar negeri, kedua

kuisioner ini dinyatakan valid, akan tetapi kedua kuisioner ini diuji validitas

kembali untuk memastikan bahwa apakah kuisioner ini valid jika digunakan

di Indonesia. Responden dalam uji validitas dan reliabilitas berjumlah 30

responden, yaitu penderita diabetes mellitus yang berada di Posbindu

Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan. Hasil uji validitas terhadap kuisioner

DSMQ atau kuisioner manajemen diri adalah sebagai berikut:

Hasil uji validitas dan reliabilitas dengan degree of freedom 30-2= 28

(r tabel 0,312 ), pada kuisioner manajemen diri terdapat 7 item pernyataan

yang tidak valid yaitu nomor 3, 4 ,5 ,8 ,9 ,13 dan 14, tetapi pernyataan pada

nomor yang tidak valid penting dalam manajemen diri diabetes, maka

pernyataan-peryataan tersebut tidak dibuang namun struktur katanya

diperbaiki. Sedangkan hasil uji reliabilitas kuisioner adalah r alpha

cronbach’s 0,635 sehingga kuisioner ini dinyatakan reliabel. Selanjutnya

instumen manajemen diri yang telah diperbaiki digunakan untuk pengambilan

data. Total skor responden terendah adalah 0 dan tertinggi 48.

Hasil uji validitas dan reliabilitas dukungan keluarga terdapat 9

pernyataan yang tidak valid yaitu nomor 2, 6, 7, 9, 12, 15, 18, 27 dan 29 ,

namun pernyataan tidak dibuang tetapi diperbaiki redaksi kalimatnya menjadi

lebih mudah dipahami responden. Selanjutnya instrumen dukungan keluarga

yang telah diperbaiki digunakan untuk pengambilan data. Sedangkan hasil

nilai reliabelnya (Alpha Cronbach 0,718). Total skor responden terendah 29

dan tertinggi 116.


43

F. Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan data primer yang diperoleh langsung dan

dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner terstruktur yang berisi

pertanyan tentang dukungan keluarga dan manajemen diri penderita DM.

Proses pengumpulan data tersebut di lakukan dengan kunjungan ke Posbindu.

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti.

Adapun prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Peneliti membuat surat studi pendahuluan dikampus yang kemudian akan

di bawa ke Dinas Kesehatan.

2. Surat yang telah jadi di kampus kemudian di bawa ke dinas kesehatan.

Setelah surat yang dari dinas kesehatan selesai. Kemudian surat tersebut di

bawa ke Puskesmas yang di ditempati untuk melakukan penelitian.

3. Setelah surat dibawa ke Puskesmas, peneliti meminta izin kepada kepala

Puskesmas untuk melakukan penelitian di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan.

4. Peneliti menghadiri kegiatan posbindu untuk menemui responden dan

mengenalkan diri kepada responden.

5. Peneliti memberi penjelasan terkait maksud, tujuan penelitian kepada kader

posbindu dan kepada responden penelitian. Bila responden setuju, maka

responden diminta untuk mengisi lembar persetujuan.

6. Setelah mendapat persetujuan dari responden, peneliti membacakan

pertanyaan-pertanyaan dan mengisi kuisioner sesuai dengan jawaban yang

di ungkapkan oleh responden.


44

7. Lembar kuisioner yang telah terkumpul, kemudian peneliti akan

melakukan analisa data statistik.

G. Pengolahan Data

Menurut Hidayat (2011), dalam proses pengolahan data terdapat

beberapa langkah yang harus ditempuh, diantaranya:

1. Editing

Editing adalah memeriksa kelengkapan data yang telah di isi oleh

responden. Editing ini untuk memastikan bahwa semua pertanyaan telah

dijawab oleh responden tanpa ada satu pun pertanyaan yang terlewatkan.

Jika terdapat pertanyaan yang kosong maka peneliti meminta kesediaan

responden untuk mengisi kembali pertanyaan yang masih kosong.

2. Coding

Kegiatan ini memberikan kode atau simbol sesuai dengan pertanyaan

kuisioner yang telah dikumpulkan. Coding dilakukan untuk memudahkan

dalam pengolahan data dengan mengubah data berbentuk huruf menjadi

data berbentuk angka sesuai dengan yang telah ditentukan.

3. Entri data

Entri data merupakan proses memasukkan data ke dalam komputer untuk

dilakukan analisa data. Peneliti melakukan entri data jika peneliti sudah

yakin bahwa data yang ada sudah benar, baik dari kelengkapan data

maupun pengkodean data.

4. Cleaning

Cleaning data dilakukan untuk mengecek kembali data untuk memastikan

bahwa tidak ada kesalahan sebelum dilakukan analisa data. Setelah


45

peneliti yakin semua data telah dibersihkan maka dilanjutkan dengan

analisa data.

H. Etika Penelitian

Menurut Wasis (2008), seseorang dalam melakukan penelitian

menekankan prinsip-prinsip etika penelitian meliputi:

1. Lembar persetujuan (Inform consent)

Setiap responden diberikan hak untuk menyetujui atau menolak ikutserta

untuk mengisi kuisoner yang telah diberikan dengan menandatangani

lembar persetujuan kesediaan menjadi responden yang telah disiapkan

oleh peneliti.

2. Tanpa Nama

Untuk menjaga identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama

responden pada lembar pengumpulan data yang di isi. Hanya

mencantumkan kode pada lembar tersebut serta inisial nama responden.

3. Beneficence

Penelitian yang dilakukan mempunyai keuntungan bagi peneliti maupun

responden penelitian. Sebelum pengisian kuisioner, peneliti memberi

beberapa penjelasan terkait manfaat dan keuntungannya bagi responden

dan peneliti. Keuntungan penelitian untuk responden adalah responden

dapat mengetahui manajemen diri yang baik dalam mengontrol

penyakitnya. Keuntungan untuk peneliti adalah sebagai upaya untuk

menjawab pertanyaan penelitian terhadap pentingnya dukungan keluarga

dalam memanajemen diri penyakitnya.


46

4. Maleficence

Peneliti memperhatikan dan menghindari bahaya-bahaya bagi responden.

Peneliti menanyakan kepada responden apakah terdapat masalah saat

mengisi kuisioner, jika tidak ada masalah, maka responden dapat

melanjutkan pengisian kuisioner.

5. Confidentialy

Peneliti menjaga kerahasiaan informasi responden, hanya ada beberapa

data tertentu yang dapat dicantumkan sebagai hasil penelitian.

I. Analisa Data Statistik

Analisa data dilakukan dengan menggunakan software computer,

adapun analisa data yang dilakukan adalah:

1. Analisa Univariat

Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan gambaran distribusi

frekuensi dari variable dependen dan variable independen. Variabel

independen (faktor personal dan dukungan keluarga) dan variabel

dependen (manajemen diri) hasil analisisnya disajikan dalam bentuk baik

dan kurang baik dengan proporsi atau distribusi frekuensi. Untuk variabel

independen jenis hasil analisis berupa distribusi frekuensi.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel

independen dan variabel dependen dengan menggunakananalisis bivariat.

Sebelum dilakukan analisis data lebih lanjut, pada data numerik dilakukan

uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Data


47

dinyatakan terdistribusi normal bila hasil uji memiliki nilai p value >0,05.

Apabila nilai signifikasi (p value) >0,05 maka Ho diterima, artinya tidak

ada hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita

diabetes mellitus. Apabila nilai signifikasi (p value) <0,05 maka Ho

ditolak, artinya ada hubungan antara dukungan keluarga dengan

manajemen diri penderita diabetes mellitus.

Jenis uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Tabel 4.1 Analisis Bivariat

Variabel Independen Variabel Dependen Uji Statistik

1. Usia Manajemen diri T independen test

2. Jenis Kelamin Manajemen diri Chi square

3. Tingkat Pendidikan Manajemen diri Chi square

4. Lama menderita DM Manajemen diri T independen test

5. Dukungan Keluarga Manajemen diri Chi square


BAB V

HASIL PENELITIAN

Bab 5 ini menguraikan hasil penelitian hubungan dukungan keluarga

dengan manajemen diri penderita Diabetes Mellitus di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016. Penelitian ini

dilakukan pada bulan April 2016. Hasil penelitian berupa hasil analisis univariat

dan bivariat. Analisa univariat menggambarkan secara deskriptif data demografi

responden yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama menderita

DM, serta menggambarkan secara deskriptif data dukungan keluarga dan data

manajemen diri.

A. Profil Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan


1. Gambaran Umum Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Puskesmas Pisangan adalah Puskesmas yang ada di Kecamatan

Ciputat Timur, yang terletak di sebelah Tenggara Tangerang dengan luas

wilayah 1,685 Ha, dengan sebagian besar tanah darat dan sisanya rawa.

Adapun letak Puskesmas Pisangan berada dengan batas-batas sebagai

berikut: sebelah barat terdapat wilayah kerja PKM Ciputat (Kecamatan

Ciputat), sebelah timur terdapat DKI Jakarta, sebelah Utara terdapat

wilayah kerja Puskesmas Jurangmangu Timur (Kec. Pondok Aren),

sebelah selatan terdapat wilayah kerja PKM Pamulang (Kec. Pd Cabe

Ilir). Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan terdiri dari Kelurahan

Pisangan dan Kelurahan Cirendeu.

48
49

2. Visi, Misi dan Motto Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan

a. Visi

Dengan iman dan taqwa mewujudkan masyarakat pisangan setia,

amanah, siaga, mandiri, hidup sehat, melalui akselerasi, upaya

kesehatan guna mewujudkan Tangerang Selatan Sehat 2016.

b. Misi

1) Menggerakkan serta membudayakan peran serta dan potensi di

masyarakat dalam bidang kesehatan.

2) Mengupayakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu,

merata, dan terjangkau.

3) Menjalin kemitraan dengan lintas program, lintas sektoral dan

swasta untuk mendukung pembangunan berwawasan kesehatan.

c. Motto

Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan memiliki singkatan SETIA

yang berarti S adalah senyum, sapa, salam, sopan dan santun yang

menjadi budaya, E merupakan empati kepada masyarakat.

Selanjutnya, T adalah tanggap terhadap setiap permasalahan. I

adalah inovatif dalam berkarya, A adalah aman dan nyaman dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat.


50

B. Analisis Karakteristik Responden Penelitian

1. Karakteristik Umur

Karakteristik responden berdasarkan umur digambarkan pada tabel

berikut

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Di Posbindu Wilayah
Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Umur Frekuensi (n) Persentase (%)


45-59 22 62,9%
60-75 11 31,4%
76-90 2 5,7%
Total 35 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah presentase

umur terbanyak responden adalah pada usia pertengahan yaitu 45-59

tahun sebanyak 22 atau (62,9%), jumlah umur 60-75 tahun sebanyak 11

atau (31,4%) dan jumlah presentase umur paling sedikit adalah

responden yang berumur 76-90 tahun sebanyak 2 atau (5,7%).

2. Karakteristik Jenis Kelamin

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin digambarkan

pada tabel berikut

Tabel 5.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Jenis kelamin Frekuensi (n) Persentase


Laki-laki 5 14,3%
Perempuan 30 85,7%
Total 35 100%

Tabel 5.2 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin. Dari 35 responden dapat diketahui bahwa sebagian besar


51

responden penderita DM adalah perempuan, yaitu sebesar 85,7% dan

hanya sebagian kecil responden yang berjenis kelamin laki-laki, yaitu

sebesar 14,3%.

3. Tingkat Pendidikan

Pendidikan terakhir yang dimiliki oleh sebagian besar responden

adalah SD, yaitu sebanyak 18 atau 51,4%. Selebihnya digambarkan pada

tabel dibawah ini

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden Di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Tingkat pendidikan Frekuensi (n) Presentase


Tidak sekolah 5 14,3%
SD 18 51,4%
SMP 7 20,0%
SMA 4 11,4%
Perguruan tinggi 1 2,9%
Total 35 100%

Dari tabel 5.3 dapat dilihat sebagian besar responden merupakan

lulusan SD, yaitu sebesar 51,4%, selanjutnya yang terbanyak kedua

adalah lulusan SMP , dengan nilai sebesar 20,0%, selanjutnya yang

terbanyak ketiga adalah responden yang tidak bersekolah, yaitu sebesar

14,3%. Responden SMA sebesar 11,4%, , sedangkan lulusan perguruan

tinggi hanya satu orang sebesar 2,9% dari total responden.


52

4. Keluarga Yang Merawat Penderita DM

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Keluarga Yang Merawat Penderita DM Di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Keluarga yang Frekuensi Presentase


merawat
Suami 14 40,0%
Istri 6 17,1%
Anak 13 37,1%
Ayah/ibu 2 5,7%
Total 35 100%

Dari tabel 5.4 menunjukkan distribusi frekuensi keluarga yang

merawat penderita DM. Dari 35 responden, hubungan keluarga dengan

penderita DM yaitu sebanyak 14 atau 40,0% sebagai suami, 6 responden

atau 17,1% sebagai istri, 13 responden atau 37,1% sebagai anak, 2

responden atau 5,7% sebagai ayah/ibu.

5. Kadar Glukosa Darah Sewaktu

Hasil analisis kadar glukosa darah sewaktu sebagai berikut:

Tabel 5.5
Distribusi Kadar Glukosa Darah Sewaktu Di Posbindu Wilayah Kerja
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Variabel Mean SD Min- 95%CI


Maks
Kadar glukosa 249,26 72,178 148-499 224,46- 274,05
darah sewaktu

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa rata-rata glukosa

darah sewaktu responden adalah 249,26 mg/dl. Gula darah sewaktu

terendah adalah 148 mg/dl dan tertinggi adalah 499 mg/dl. Dari hasil

estimasi interval dapat disimpulkan bahwa rata-rata kadar glukosa darah

sewaktu berkisar antara 224,46 sampai 274,05 mg/dl.


53

6. Lama Menderita DM

Hasil analisis lama menderita DM pada responden sebagai berikut:

Tabel 5.6
Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menderita DM Di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Lama menderita Frekuensi (n) Presentase


DM
1-5 tahun 32 91,4%
6-10 tahun 2 5,7%
>10 tahun 1 2,9
Total 35 100%

Dari tabel 5.6 dapat diketahui bahwa responden yang menderita

DM 1–5 tahun sebanyak 32 responden dengan presentase sebesar 91,4 %.

Responden dengan lama menderita DM 6-10 tahun sebanyak 2 responden

dengan presentase sebesar 5,7%. Sedangkan responden yang sudah lama

menderita DM selama >10 tahun sebanyak 1 responden dengan

presentase sebesar 2,9%.

C. Analisis Univariat Gambaran Dukungan Keluarga

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Di Posbindu Wilayah Kerja
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Dukungan keluarga Frekuensi (n) Persentase


Baik 13 37,1%
Kurang baik 22 62,9%
Total 35 100%

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa responden yang memiliki

dukungan keluarga yang baik sebesar 13 atau 37,1%, sedangkan untuk

dukungan keluarga yang kurang baik sebanyak 22 responden atau 62,9%. Ini

menunjukkan bahwa responden yang memiliki dukungan keluarga baik lebih


54

sedikit dibandingkan dengan responden yang memiliki dukungan keluarga

yang kurang baik.

D. Analisis Univariat Gambaran Manajemen Diri

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Manjemen Diri Penderita DM Di Posbindu Wilayah
Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Manajemen diri Frekuensi Persentase


Baik 16 46,7%
Kurang baik 19 54,3%
Total 35 100%

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa responden dengan manajemen

diri yang baik sebanyak 16 atau 46,7% , sedangkan untuk responden dengan

manajemen diri yang kurang baik sebanyak 19 atau 54,3%. Ini menunjukkan

bahwa responden dengan manajemen diri kurang baik lebih banyak daripada

responden yang memiliki manajemen diri yang baik.

E. Analisis Bivariat

Analisis bivariat pada penelitian ini menggunakan uji statistik chi

square dan uji t-independen. Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui

apakah terdapat hubungan antara variabel karakteristik, variabel independen

dan variabel dependen.


55

1. Hubungan Karakteristik Umur Dengan Manajemen Diri Penderita

DM

Hasil analisis bivariat untuk melihat apakah terdapat hubungan

antara umur dengan manajemen diri responden dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 5.9
Distribusi Nilai Umur Dengan Manajemen Diri Penderita DM Di Posbindu
Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Umur N Mean SD Pvalue


Manajemen diri
Baik 20 56,75 7,055 0,266
Kurang baik 15 59,93 9,625

Tabel 5.9 menunjukkan bahwa analisis hubungan umur dengan

manajemen diri diketahui rata-rata umur pasien dengan manajemen diri baik

ada 56,75 tahun dengan standar deviasi 7,055 tahun berarti sebaran datanya

besar sehingga nilai datanya bervariasi.. Pasien yang manajemen diri kurang

baik rata-rata umur adalah 59,93 dengan standar deviasi 9,625 tahun. Dari

hasil uji statistik diperoleh Pvalue sebesar 0,266, artinya pada alpha 5% tidak

terdapat perbedaan rata-rata umur antara pasien manajemen diri baik

dibandingkan dengan pasien manajemen diri kurang baik.

2. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Manajemen Diri Responden

Hasil analisis bivariat hubungan jenis kelamin dengan manajemen diri

responden sebagai berikut:


56

Tabel 5.10
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Manajemen Diri
Penderita DM Di Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Jenis Manajemen diri Total OR Pvalue


kelamin (95%
Baik Kurang CI)
baik
N % N % N %
Laki-laki 2 40% 3 60% 5 100% 0,762 1,000
Perempuan 1 46,7 16 53,3 30 100% (0,111-
4 % % 5,237)
Total 1 45,7 19 54,3 35 100%
6 % %

Tabel 5.10 menunjukkan hasil analisis bahwa diketahui responden yang

berjenis kelamin laki-laki dengan manajemen diri yang baik ada 2 atau 40%

dari 5 orang. Sedangkan responden yang jenis kelamin perempuan ada 14

atau 46,7% dari 30 responden yang memiliki manajemen diri yang baik. Dari

hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (Pvalue=1,000), artinya pada

alpha 5 % tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin

dengan manajemen diri.

3. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Manajemen Diri Responden

Hasil analisis bivariat hubungan tingkat pendidikan dengan manajemen

diri sebagai berikut:

Tabel 5.11
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan Manajemen Diri
Penderita DM Di Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Tingkat Manajemen diri Total OR Pvalue


pendidikan (95%
Baik Kurang baik CI)
N % N % N %
Rendah 13 43,3% 17 56,7% 30 100% 0,510 0,835
Tinggi 3 60% 2 40% 5 100% (0,074-
3,510)
Total 16 45,7% 19 54,3% 35 100%
57

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa hasil analisis diatas diketahui

responden yang berpendidikan rendah dengan manajemen diri yang baik ada

13 atau 43,3% dari 30 orang. Sedangkan responden yang berpendidikan

tinggi ada 3 atau 60% dari 5 responden yang memiliki manajemen diri yang

baik. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (Pvalue=0,835),

artinya pada alpha 5 % tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat

pendidikan dengan manajemen diri.

4. Hubungan Lama Menderita DM Dengan Manajemen Diri Responden

Hasil analisis lama menderita DM dengan manajemen diri responden

sebagai berikut:

Tabel 5.12
Distribusi Nilai Lama Menderita DM Dengan Manajemen Diri Penderita DM
Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan
(n=35)

Lama menderita DM N Mean SD Pvalue


Manajemen diri
Baik 16 3,06 5,859 0,270
Kurang baik 19 1,53 1,124

Tabel 5.12 menunjukkan bahwa hasil analisis hubungan lama

menderita DM dengan manajemen diri diketahui rata-rata lama menderita

DM pasien dengan manajemen diri baik ada 3,06 tahun dengan standar

deviasi 5,859 tahun berarti sebaran datanya besar sehingga nilai datanya

bervariasi. Pasien yang manajemen diri kurang baik rata-rata lama menderita

DM adalah 1,53 dengan standar deviasi 1,124 tahun. Dari hasil uji statistik

diperoleh Pvalue sebesar 0,270, artinya pada alpha 5% terdapat perbedaan

rata-rata lama menderita DM antara pasien manajemen diri baik dibandingkan

dengan pasien manajemen diri kurang baik.


58

5. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Manjemen Diri Penderita DM di

Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Tabel 5.13
Distribusi Dukungan Keluarga Dengan Manajemen Diri Penderita DM Di
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan (n=35)

Dukungan Manajemen diri Total OR Pvalue


keluarga (95%
Baik Kurang baik CI)
N % N % N %
Baik 8 61,5% 5 38,5% 13 100% 2,800 0,274
Kurang 8 36,4% 14 63,6% 22 100% (0,680-
baik 11,530)
Total 16 45,7% 19 54,3% 35 100%

Tabel 5.15 menunjukkan hasil analisis diatas diketahui responden yang

memiliki dukungan keluarga baik dengan manajemen diri yang baik ada 8

atau 61,5%% dari 13 orang. Sedangkan responden yang memiliki dukungan

keluarga kurang baik ada 8 atau 36,4% dari 22 responden yang memiliki

manajemen diri yang baik. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas

(Pvalue=0,274), artinya pada alpha 5% tidak terdapat hubungan yang

bermakna antara dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita DM.


BAB VI

PEMBAHASAN

Bab 6 ini menjelaskan makna dari hasil penelitian yang telah dilakukan

yaitu hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri penderita

Diabetes Mellitus Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan. Pembahasan

menjelaskan diskusi hasil penelitian serta interpretasi dan juga akan dijelaskan

tentang keterbatasan penelitian yang telah dilaksanakan.

A. Gambaran Karakteristik Penderita DM Di Posbindu Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

1. Usia

Hasil gambaran Jumlah presentase umur terbanyak responden

adalah pada usia pertengahan yaitu 45-59 tahun sebanyak 22 atau

(62,9%), jumlah umur 60-75 tahun sebanyak 11 atau (31,4%) dan jumlah

presentase umur paling sedikit adalah responden yang berumur 76-90

tahun sebanyak 2 atau (5,7%). Diabetes mellitus menyerang usia >45

tahun karena kelompok usia ini lebih rentang terkena DM. Hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Tamara, 2014 di RSUD Arifin

Achmad Provinsi Riau bahwa dari 46 responden diabetes mellitus, 21

diantaranya berumur 45-55 tahun. Sesuai juga dengan penelitian yang

dilakukan oleh Ferawati, 2014 bahwa penderita DM pada usia

pertengahan 45-59 tahun lebih banyak.

Penelitian yang dilakukan Iswanto (2004) mengemukakan adanya

hubungan yang signifikan antara umur dengan Diabetes Mellitus. Hal

59
60

tersebut disebabkan karena terjadinya peningkatan intoleransi glukosa

pada usia tersebut. Sehingga terjadi penurunan kemampuan sel β

pankreas dalam memproduksi insulin (Sanjaya, 2009). Dikemukakan

oleh Tandra (2008) bahwa resistensi insulin dan kerja insulin mengalami

penurunan, selain itu pada usia tersebut juga terjadi penurunan aktivitas

untuk bergerak sehingga lebih berisiko mengalami penyakit diabetes

mellitus (DM).

2. Jenis Kelamin

Hasil penelitian yang telah dilakukan dari 35 responden dapat

diketahui bahwa sebagian besar responden penderita DM adalah

perempuan, yaitu sebesar 85,7% dan hanya sebagian kecil responden

yang berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 14,3%. Hal ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliansyah et. al bahwa jenis

kelamin responden terbanyak adalah jenis kelamin perempuan sebanyak

17 responden dan untuk jenis kelamin laki-laki sebanyak 13 responden.

Begitu juga halnya dengan penelitian yang dilakukan Arifin et al, 2014

bahwa responden berjenis kelamin perempuan lebih tinggi yaitu

sebanyak 24 responden (52,2%).

Menurut Handarsari dan Bintanah (2012) penderita DM lebih

banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Wanita lebih berisiko

mengalami diabetes karena secara fisik wanita berpeluang mengalami

peningkatan indeks massa tubuh yang lebih besar. Selain itu terjadinya

persentase timbunan lemak pada wanita lebih besar dibandingkan dengan

laki-laki (Handasari dan Bintanahi, 2012). Hal ini juga yang


61

menyebabkan diabetes mellitus lebih tinggi pada perempuan dibanding

dengan laki-laki.

3. Tingkat Pendidikan

Sebagian besar responden merupakan lulusan SD, yaitu sebesar

51,4%, selanjutnya yang terbanyak kedua adalah lulusan SMP , dengan

nilai sebesar 20,0%, selanjutnya yang terbanyak ketiga adalah responden

yang tidak bersekolah, yaitu sebesar 14,3%. Responden SMA sebesar

11,4%, , sedangkan lulusan perguruan tinggi hanya satu orang sebesar

2,9% dari total responden.

Penelitian yang dilakukan oleh Juliansyah dkk didapatkan bahwa

responden tertinggi didapatkan dengan pendidikan tingkat SMA yaitu

sebanyak 15 orang, dan terendah pada tingkat perguruan tinggi yaitu 2

orang. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit diabetes dapat terjadi pada

siapa saja tanpa melihat tingkat pendidikan seseorang. Hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Styorogo & Trisnawati (2013),

bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan terjadinya

diabetes mellitus.

Tingkat pendidikan dapat menentukan mudah atau tidaknya dalam

memamhami sesuatu yang mereka peroleh, serta tingkat pendidikan yang

lebih matang dapat merubah dirinya ke arah yang lebih positif dan

terbuka terhadap berbagai informasi (Notoatmodjo, 2007). Sehingga

dengan cepatnya menerima informasi terkait kesehatan tentunya dapat

memudahkan dalam melaksanakan manajemen diri.


62

4. Keluarga Yang Merawat

Hubungan keluarga dengan penderita DM. Dari 35 responden,

hubungan keluarga dengan penderita DM yaitu sebanyak 14 atau 40,0%

sebagai suami, 6 responden atau 17,1% sebagai istri, 13 responden atau

37,1% sebagai anak, 2 responden atau 5,7% sebagai ayah/ibu. Hasil

penelitian yang sejalan diatas menunjukkan bahwa presentase tertinggi

terdapat pada pasangan dan anak dengan jumlah responden sebanyak 19

orang. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Triyanto

(2010) terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan

koping istri karena diantaranya menerima dukungan suami. Kebutuhan

manusia adalah berupa perhatian yang lebih. Dukungan tersebut dapat

berupa perhatian, komunikasi, hubungan yang emosional dan hangat

dengan seluruh anggota keluarga (Rich, 2007).

5. Kadar Glukosa Darah Sewaktu

Pada hasil diatas dapat dilihat rata-rata kadar glukosa darah

sewaktu penderita Diabetes Mellitus adalah 249,26 mg/dl, median 231

mg/dl dan standard deviasi 72,178 mg/dl dengan kadar glukosa darah

terendah adalah 148 mg/dl dan kadar glukosa darah tertinggi adalah 499

mg/dl. Distribusi frekuensi ditampilkan menurut kadar glukosa darah

sewaktu terendah sampai dengan kadar glukosa darah tertinggi. Dari

hasil estimasi interval kadar glukosa darah sewaktu dilihat dari 95%

confidence interval kadar glukosa darah sewaktu yaitu 224,46 sampai

dengan 274,05. Jadi kita 95% yakin bahwa rata-rata kadar glukosa darah

sewaktu berada pada selang 224,46 sampai dengan 274,05 mg/dl.


63

Pada dasarnya dalam mengontrol gula darah tergantung dari

kesadaran dan kepatuhan individu melalui life style (Soegondo, 2011).

Upaya untuk menurunkan kadar gula darah yaitu melalui empat pilar

penatalaksanaan DM seperti edukasi, perencanaan makan, latihan

jasmani dan terapi farmakologi (Waspadji, 2007). Pemantauan kadar gula

darah sangat penting karena gula darah adalah indikator untuk

menentukan diagnosa penyakit DM. Kadar gula darah dapat diperiksa

sewaktu, dan ketika puasa. Seseorang di diagnosa menderita DM jika

dari hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl, sedangkan

kadar gula darah ketika puasa ≥126 mg/dl (Waspadji, 2007).

Olahraga yang teratur menyebabkan sel-sel tubuh lebih peka

terhadap insulin, sehingga dengan kadar insulin yang sedikit saja,

glukosa dalam darah mudah masuk kedalam sel (RS.Marinir Cilandak,

2009). Pada obesitas sel-sel lemak yang menumpuk akan menghasilkan

beberapa zat yang digolongkan sebagai adipositokin yang jumlahnya

lebih banyak daripada keadaan tidak gemuk. Zat-zat ini yang

menyebabkan resistensi terhadap insulin. Akibat resistensi ini glukosa

darah sulit masuk ke dalam sel sehingga glukosa di dalam darah

meningkat (Nurrahmani,2012).

6. Lama Menderita DM

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil

responden yang menderita DM 1–5 tahun sebanyak 32 responden dengan

presentase sebesar 91,4 %. Responden dengan lama menderita DM 6-10

tahun sebanyak 5,7%. Sedangkan responden yang sudah lama menderita


64

DM selama >10 tahun sebanyak 1 responden dengan presentase sebesar

2,9%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ervy

et.al (2014) menjelaskan lama menderita terbanyak 1–5 tahun sebanyak

27 orang (58,7%). Lamanya menderita DM tertinggi terdapat pada

kelompok 1-5 tahun yaitu 60,7% (34 orang), kemudian kelompok 6-10

tahun yaitu 16,3% (9 orang), kelompok 1-11 bulan yaitu 12,5% (7

orang), terendah kelompok 11-15 tahun yaitu 10,5% (6 orang). Semakin

lama menderita diabetes melitus tipe 2 tidak selalu diikuti dengan

meningkatnya kadar gula darah puasa.

Berdasarkan kategori lama menderita dapat dilihat mayoritas

responden telah menderita DM tipe 2 selama 1–5 tahun dengan jumlah 27

responden (58,7%). Penurunan kualitas ini dirasakan setelah penderita

minimal menderita DM selama satu tahun. Hal ini disebabkan karena

setelah satu tahun pasien telah mengalami dan merasakan perubahan atau

keluhan fisik dan psikis selama menderita (Rahmat, 2010).

Kenyataannya bahwa seseorang menjelaskan lama menderita DM

pada saat diagnosa ditegakkan, sehingga hal tersebut kurang memberikan

gambaran tentang lamanya menderita DM, padahal mungkin saja

penyakit diabetes sudah terjadi sebelumnya. Lama menderita DM sering

dihubungkan dengan terjadinya komplikasi. Komplikasi biasanya mulai

timbul setelah klien menderita DM selama lebih dari 10 tahun. Penelitian

ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menederita DM kurang dari

10 tahun, sehingga klien belum berisiko terjadinya komplikasi akan

tetapi tidak menutup kemungkinan komplikasi dapat terjadi akibat faktor


65

yang lain seperti obesitas, displipidemia, merokok dan lain-lain

(Kusniawati, 2010).

Penderita diabetes dengan durasi menderita DM lebih dari 5 tahun

memiliki resiko 16,787 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien

kurang 5 tahun (Subekti, 2007). Lama menderita DM yang nantinya akan

berhubungan dengan terjadinya hiperglikemi berkepanjangan.

B. Gambaran Dukungan Keluarga di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan

Responden yang memiliki dukungan keluarga yang baik sebesar 13

atau 37,1%, sedangkan untuk dukungan keluarga yang kurang baik sebanyak

22 responden atau 62,9%. Ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki

dukungan keluarga kurang baik lebih banyak daripada responden yang

memiliki dukungan keluarga yang baik. Ini berarti bahwa sebagian responden

masih kurang mendapatkan dukungan dari keluarga dalam menerapkan

manajemen dirinya.

Menurut Salvicion (1989) dalam Chayatin (2009), dukungan keluarga

merupakan dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan

darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dan mereka hidup dalam

suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya

masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. Sesuai

dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang

kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan. Secara lebih spesifik dukungan

sosial sangat berperan aktif untuk menurunkan mortalitas dan dapat

meningkatkan status kesehatan.


66

Sumber dukungan yang ada dapat dilakukan keluarga dengan cara

mengenal adanya gangguan kesehatan secepat mungkin seperti pada saat

anggota keluarga menderita penyakit Diabetes Mellitus. Keluarga selalu

saling membantu dalam memberikan perawatan, pada penelitian ini juga

didapatkan anggota keluarga yang memiliki ekonomi yang tinggi dapat

memodifikasi rumah dan memberi kesempatan pada anggota keluarga yang

menderita Diabetes Mellitus untuk memilih fasilitas yang diinginkan, serta

memberikan motivasi untuk menjalankan pengobatannya. Seringkali keluarga

mengambil tindakan yang tidak tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki

keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri (Susanti, 2013).

Menurut Friedman (2010) dukungan keluarga adalah sikap, tindakan

dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Keluarga juga

berfungsi untuk mendukung keluarganya dan selalu siap untuk memberikan

pertolongan jika diperlukan. Soegondo (2006) berpendapat bahwa keluarga

mempunyai pengaruh kepada sikap dan kebutuhan belajar bagi penderita DM

dalam hal memberikan dukungan baik dari segi fisik, psikologis, emosional

dan sosial atau dengan cara menolak. Ali (2009) juga menyatakan bahwa

dukungan keluarga merupakan saran, bantuan, yang nyata atau tingkah laku

yang diberikan oleh orang–orang yang akrab dengan subjek didalam

lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal–hal yang dapat

memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku

penerimanya.

Peran keluarga sebagai sistem pendukung dalam mengatasi masalah

penderita diabetes mellitus menjadi pribadi yang lebih adaptif dalam


67

menyikapi masalahnya (Delamater, 2006). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa keluarga sangat penting membantu individu dalam menyelesaikan

masalah. Penelitian yang dilakukan oleh Goz et al (2007), bahwa pada pasien

DM memerlukan pengontrolan untuk mempengaruhi gaya hidup pasien untuk

menggunakan terapi insulin ataupun obat-obatan yang lain, makanan,

pengukuran gula darah dan latihan. Hal ini dapat tercapai dengan adanya

keterlibatan keluarga dan partisipasi dari mereka.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Coffman, (2008) bahwa

dukungan sosial yang diterima oleh pasien DM adalah dari keluarga.

Coffman menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan sumber

dukungan yang paling utama. Dukungan keluarga dapat diberikan dalam

bentuk dukungan emosional, penghargaan, instrumental, dan informasi.

Dukungan yang diberikan tersebut dapat meningkatkan perilaku yang baik

dalam hal pengontrolan diri mereka sendiri.

Dari hasil penelitian serta pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa

dukungan keluarga merupakan sistem pendukung bagi penderita diabetes

sehingga dapat memberikan pengaruh yang besar untuk mengontrol gaya

hidup dan mampu memberikan dukungan yang positif baik dari segi fisik,

psikologil, emosional serta informasi yang penting terkait dengan masalah

kesehatan seperti halnya penyakit diabetes mellitus (DM).

C. Gambaran Manajemen Diri di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan

Responden dengan manajemen diri kurang baik lebih banyak

dibandingkan dengan responden manajemen diri yang baik dengan


68

perbandingan 19:16 Ini menunjukkan bahwa responden kurang bisa dalam

menerapkan manajemen diri yang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh

Wahyuningsih, 2014 bahwa sebagian responden dalam hal manjemen diri

masih negatif. Kemampuan penderita DM dalam melakukan manajemen diri

dalam teori Rinanda 2006 bahwa strategi manajemen diri meliputi kemauan

dari dalam diri untuk selalu menjaga kestabilan gula darah, sedangkan

sebagian besar belum tahu cara melakukan pengontrolan diri dan belum

mampu mematuhi sesuatu yang sudah ditentukan dalam menjaga perawatan

dirinya.

Menurut Wahyuningsih, (2014), kemampuan setiap individu berbeda,

tingkat efektivitas individu dalam melakukan manajemen diri dipengaruhi

sejauhmana individu mampu mempertahankan, memelihara dan

mengembangkan empat aspek yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki

manajemen diri yang baik. Aspek tersebut meliputi kesehatan, keterampilan

atau keahlian, aktifitas dan identitas. Pada penderita Diabetes Mellitus

manajemen diri adalah bagaiaman cara penderita DM dalam mengatur pola

makan, olahraga, pemeriksaan rutin, dan mengkonsumsi obat, hal ini perlu

dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Manajemen diri didefinisikan dengan cara yang berbeda, yaitu:

Perawatan individu terhadap kesehatan mereka sendiri dan kesejahteraannya:

itu terdiri dari tindakan yang mereka ambil untuk pola hidup sehat, untuk

memenuhi kebutuhan sosial, emosional dan kebutuhan psikologikal, merawat

kondisi jangka panjang mereka, dan untuk mencegah penyakit lebih lanjut

(lieshout, 2014). Menurut Antari, Rasdini dan Triyani (2011), dengan adanya
69

dukungan sosial sangat membantu penderita DM tipe 2 untuk dapat

meningkatkan keyakinan akan kemampuannya melakukan perawatan diri.

Penderita dengan dukungan sosial yang baik akan memiliki perasaan aman

dan nyaman sehingga akan tumbuh rasa perhatian terhadap diri sendiri dan

meningkatkan motivasi untuk melakukan pengelolaan penyakit dalam hal

manajemen diri.

Allen (2006) menjelaskan bahwa dukungan keluarga berupa

kehangatan dan keramahan, dukungan emosional terkait monitoring glukosa,

diet dan latihan dapat meningkatkan efikasi diri pasien sehingga mendukung

keberhasilan dalam perawatan diri sendiri. Dari hasil penelitian diatas dapat

disimpulkan bahwa manajemen diri sangat berpengaruh untuk penderita DM

dalam mengontrol perawatan diri mereka, karena dengan mengontrol

perawatan mereka sendiri dapat mencegah terjadinya komplikasi yang serius

untuk penderita DM.

D. Hubungan Karakteristik Responden Dengan Manajemen Diri Penderita


DM Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan

1. Hubungan Karakteristik Usia Dengan Manajemen Diri

Analisis hubungan usia dengan manajemen diri diabetes pada

penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara

usia dengan manajemen diri diabetes. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh Ariyani, menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik

usia dengan efikasi diri. Hal yang serupa juga dijelaskan oleh Vivienne et

al (2007) bahwa usia tidak berhubungan dengan perawatan diri diabetes.


70

Wu, et al. (2007) juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara,

umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dengan efikasi diri responden.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa usia tidak mempengaruhi

seseorang dalam melakukan perawatan diri, manajemen diri dan efikasi

diri. Penelitian ini menjelaskan bahwa klien yang berusia muda maupun

lebih tua menunjukkan perilaku manajemen diri diabetes yang sama.

Hasil penelitian tidak sejalan menurut Sousa et al (2005) bahwa

usia memiliki hubungan dengan perawatan diri diabetes, yang

menunjukkan bahwa seiring dengan bertambahnya usia maka terjadi

peningkatan dalam hal aktivitas perawatan diri. Hal ini disebabkan karena

seiring bertambahnya usia maka pola berfikir juga meningkat terkait

dengan manfaat yang akan diperoleh jika klien melakukan aktifitas dalam

kehidupan sehari-hari.

Perbedaan dari beberapa penelitian tersebut dapat disebabkan

karena klien yang lebih muda memiliki pemahaman yang cukup terkait

dengan manajemen diri diabetes serta manfaat yang dirasakan jika

melakukan aktifitas terkait perawatan diri diabetes dalam kehidupan

sehari-hari. Sedangkan mereka yang usianya lebih tua, telah merasakan

manfaat dari aktifitas perawatan diri yang telah dilakukan melalui

pengalaman yang mereka sudah lakukan. Sehingga dapat ditarik

kesimpulan bahwa responden yang berusia muda ataupun responden yang

lebih tua, mereka sama-sama mengontrol manajemen diri serta aktifitas

perawatan diri agar tercapainya gula darah yang normal dan mencegah

terjadinya komplikasi karena adanya diabetes mellitus yang di derita.


71

2. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Manajemen Diri

Analisis hubungan jenis kelamin dengan manajemen diri pada

penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara

jenis kelamin dengan manajemen diri diabetes. Hasil penelitian ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Wu, et al. (2007) juga menyatakan

bahwa tidak ada hubungan antara, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan

dengan efikasi diri responden. Hasil penelitian tersebut menjelaskan

bahwa responden antara laki-laki dan perempuan menunjukkan aktifitas

manajemen diri diabetes yang sama. Hal yang serupa juga dijelaskan oleh

sousa et al (2005) yang menjelaskan bahwa jenis kelamin memberikan

pengaruh terhadap perawatan diri diabetes, jenis kelamin perempuan lebih

baik dibandingkan jenis kelamin laki-laki. Perempuan lebih peduli

terhadap kesehatannya sehingga berupaya optimal dalam melakukan

perawatan mandiri terhadap penyakit yang dialaminya.

Perbedaan dari beberapa hasil penelitian tersebut dikarenakan

aktifitas manajemen diri diabetes dapat dilakukan oleh siapa saja yang

sedang mengalami diabetes baik laki-laki ataupun perempuan. Laki-laki

memiliki tanggung jawab dalam melakukan pengontrolan terhadap

penyakit yang dialaminya begitu juga halnya dengan perempuan yang

selalu memperhatikan kondisi kesehatannya. Seseorang yang memiliki

semangat dan motivasi dalam dirinya dalam melaksanakan pengontrolan

aktifitas perawatan diri dalam kehidupan sehari-hari maka perilaku

tersebut akan menjadi tanggung jawab dan akan menjadi kebiasaan dalam

kehidupan sehari-hari.
72

3. Hubungan tingkat pendidikan dengan manajemen diri

Analisis hubungan tingkat pendidikan dengan manajemen diri

meunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan

maanjemen diri. Berdasarkan analisis hubungan antara pendidikan dengan

kejadian DM Tipe 2, didapatkan kesimpulan yang didapat adalah tidak ada

hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian DM Tipe 2

(Trisnawa, 2013). Berbeda dengan penelitian Stipanovic (2003)

menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan

efikasi diri dan perilaku perawatan diri DM bahwa responden dengan

pendidikan yang tinggi memiliki efikasi diri yang baik.

Menurut Ford, Tilley, dan Mc-Donald, (1998), menjelaskan bahwa

pendidikan secara positif mempengaruhi kesehatan dan kontrol glikemik.

Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang baik akan lebih matang

dalam proses perubahan dirinya sehingga akan lebih mudah menerima

pengaruh dari luar yang positif, obyektif dan terbuka terhadap berbagai

informasi terkait kesehatan. Menurut Young (2010 dalam Gamara, 2013),

tingkat pengetahuan perawatan diabetes melitus dapat dipengaruhi oleh

lama penyakit yang diderita, tingkat pendidikan dan faktor ekonomi,

sehingga pasien dengan tingkat pendidikan rendah namun memiliki

kemampuan manajemen perawatan diri yang baik akan memiliki hasil

yang baik pula.

Perbedaan dari beberapa penelitian dari hasil tersebut adalah

tingkat pendidikan setiap orang itu berbeda-beda, pendidikan juga

mempengaruhi pemahaman, kemampuan dan tingkat pengetahuan


73

seseorang. Sehingga seseorang dengan pendidikan rendah tetapi memiliki

kemampuan dalam melakukan manajemen diri maka hasil yang ingin

dicapai akan baik pula.

4. Hubungan Lama Menderita DM Dengan Manajemen Diri

Hasil analisis antara lama DM dengan manajemen diri

menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama DM dengan

manajemen diri diabetes. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan Kusniawati (2011) menunjukkan bahwa tidak ada

hubungan antara lama menderita DM dengan perawatan diri diabetes.

Lama menderita DM tidak berhubungan dengan efikasi diri

disebabkan karena lamanya menderita DM, sehingga dapat terjadi banyak

kerusakan sel dan fungdi di dalam tubuh yang dapat menimbulkan

berbagai macam gangguan fisik dan metabolik atau dapat terjadi

komplikasi yang serius. Sesorang yang telah mengalami komplikasi akan

merasa sulit dalam melakukan perawatan diri karena mengalami berbagai

macam gangguan dan keterbatasan sehingga menyebabkan terjadinya

efikasi diri pasien yang rendah (Bernal, et al. 2000).

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pendapat Bai et al (2009)

menjelaskan bahwa lama seseorang menderita DM berpengaruh terhadap

perawatan diri diabetes. Durasi DM yang lebih lama memiliki pemahaman

yang lebih bahwa pentingnya perilaku perawatan diri diabetes sehingga

mereka dapat dengan mudahnya mencari informasi terkait dengan

perawatan diabetes yang dilakukan. Semakin lama seseorang mengalami

DM maka ada kecenderungan untuk menjadi tidak patuh terhadap


74

pelaksanaan perawatan mandiri, namun ada kecenderungan lain pasien

memiliki pengalaman perawatan mandiri yang lebih baik daripada pasien

yang baru terdiagnosa DM. Klien yang baru mengalami diabetes dan klien

yang sudah lama menderita diabetes menunjukkan perilaku perawatan diri

yang sama dalam hal aktivitas.

Kenyataan yang dapat terjadi adalah seseorang dengan diabetes

yang baru terdiagnosis memiliki perhatian dan semangat dalam melakukan

pengontrolan diri terhadap penyakitnya dalam melakukan manajemen diri

serta perawatan diri. Bagi klien yang baru pertama kali menderita diabetes

merupakan pengalaman dan tantangan dalam melakukan manajemen diri

dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercapai kadar gula darah

untuk meminimalkan komplikasi. Sedangkan untuk klien yang telah lama

mengalami diabetes, mereka telah beradaptasi sehingga dalam hal

manajemen diri sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Klien yang

sudah lama menderita diabetes memiliki pemahaman terkait dengan

pentingnya self care diabetes dan dapat memiliki kemampuan dalam hal

manajemen diri.

E. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Manajemen Diri Penderita DM

di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang

Selatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara

dukungan keluarga dengan manajemen diri (pvalue=2,743). Hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Nida, 2015 bahwa tidak ada hubungan

antara dukungan sosial dengan manajemen diri p=(-0,042)hal itu juga sesuai
75

dengan penelitian yang dilakukan Xu et.al (2008) menemukan bahwa

dukungan sosial dari anggota keluarga tidak langsung mempengaruhi perilaku

manajemen diri diabetes. Namun, dukungan keluarga mempengaruhi self-

efficacy dan keyakinan, yang secara berurutan, mempengaruhi perawatan diri

(Xu et al., 2008).Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Jocelyn Sonsona, yang

menunjukkan adanya hubungan positif antara dukungan sosial dan perilaku

manajemen diri diabetes.

Manajemen perawatan diri dari penyakit apapun adalah efikasi diri.

Bandura (1994) menjelaskan bahwa efikasi diri adalah keyakinan seseorang

terhadap kemampuannya untuk mencapai suatu tingkat kinerja yang

mempengaruhi setiap peristiwa dalam hidupnya. Efikasi diri menentukan

bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri, dan berperilaku dari

waktu ke waktu (Beckerle & Lavin, 2013). Konsep efikasi diri juga

digambarkan sebagai rasa kontrol pribadi atas perubahan yang diinginkan

atau keyakinan bahwa individu dapat mencapai perilaku tertentu.Berkaitan

dengan manajemen diri, efikasi diri mencerminkan keyakinan kemampuan

pasien untuk mengatur dan mengintegrasikan perilaku manajemen diri baik

terhadap fisik, sosial, dan emosional guna menciptakan solusi dalam

menghadapi masalah pada kehidupan sehari-hari (Yoo et al., 2011).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Scolla Koliopoulos (2011)

diketahui bahwa penderita diabetes yang memiliki riwayat keturunan

cenderung memiliki persepsi bahwa dirinya mampu mengendalikan

penyakitnya. Sampel penelitian tersebut menunjukkan perilaku manajemen

diri yang tinggi sebagai usaha mencapai pengendalian penyakit yang


76

optimal (Scollan-Koliopoulos, 2011). Efikasi diri penderita diabetes dalam

menjalani manajemen diri dapat mempengaruhi penderita dalam menjalani

perawatan kesehatan dirinya sehari-hari. Penderita diabetes yang memiliki

efikasi diri yang tinggi dapat didorong untuk menjalani perawatan kesehatan

dengan maksimal. Hasil penelitian juga sejalan dengan yang dilakukan oleh

Miftahul, 2015 yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan

sosial dengan manajemen diri pada penderita diabetes tipe 2.

Berdasarkan penelitian-penelitian diatas dapat dilihat bahwa tidak ada

hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri

yang disebabkan karena efikasi diri mempengaruhi manajemen diri

seseorang, sehingga efikasi diri termasuk dalam manajemen diri. Dukungan

sosial dari anggota keluarga juga tidak secara langsung mempengaruhi

perilaku manajemen diri diabetes. Namun, dukungan keluarga mempengaruhi

self-efficacy dan keyakinan, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi

perawatan diri.

F. Keterbatasan penelitian

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini meliputi:

1. Tidak semua posbindu dikunjungi dalam pengambilan data dikarenakan

bertepatan dengan adanya kegiatan dikampus. Total posbindu sebanyak 11

dan yang tidak di kunjungi dalam pengambilan data adalah 2 posbindu

yaitu 1 berada di posbindu Pisangan dan 1 lagi berada di posbindu

Cirendeu.

2. Peneliti hanya mengambil responden penderita diabetes yang hadir pada

saat proses pelaksanaan Posbindu berlangsung, sehingga responden


77

penderita DM yang tidak hadir pada pelaksanaan posbindu tidak dapat

dijadikan sampel penelitian, dikarenakan sampel penelitian yang diambil

hanya responden yang datang pada saat pelaksanaan posbindu.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Sebagian besar responden yang menderita diabetes mellitus di posbindu

wilayah kerja Puskesmas Pisangan mempunyai karakter sebagai berikut:

a. Perempuan

b. Berusia lebih dari >45 tahun

c. Pendidikan terakhirnya SD

d. Keluarga yang selama ini merawat adalah suami dan anak

2. Sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga yang kurang

baik, sebanyak 22 responden atau 62,9%. Sedangkan responden dengan

dukungan keluarga yang baik sebanyak 13 responden atau 37,1%.

3. Sebagian responden memiliki manajemen diri yang kurang baik

sebanyak 19 responden atau 54,3% dan sebagian lagi memiliki

manajemen diri yang baik sebanyak 16 responden atau 46,7%.

4. Tidak ada hubungan antara umur dengan manajemen diri diabetes

(p=0,266)

5. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan manajemen diri

diabetes (p=1,000)

6. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan manajemen diri

(p=0,835)

7. Tidak ada hubungan antara lama menderita DM dengan manajemen diri

diabetes (p=0,270)

78
79

8. Tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan manajemen diri

penderita DM (p= 0,274)

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-

saran sebagai berikut:

1. Bagi mahasiswa, dosen dan peneliti dalam bidang keperawatan

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang dukungan keluarga

dengan manajemen diri, mengingat sampel yang terdapat dalam

penelitian ini masih sedikit, serta referensi bacaan masih terbatas dalam

bahasa indonesia, dan penelitian manajemen diri masih terbatas di

indonesia. Padahal diabetes mellitus harus segera di berikan tatalaksana

untuk menghindari terjadinya komplikasi yang parah bahkan jika sampai

berakibat pada kematian.

2. Bagi tenaga kesehatan

Perlu dilakukannya pendidikan kesehatan terkait pentingnya

manajemen diri untuk penderita diabetes mellitus. Karena dari hasil

penelitian sebagian besar penderita dm masih memiliki manajemen diri

yang kurang baik.

3. Bagi penderita diabetes

Perlu dukungan keluarga ataupun orang terdekat untuk

mengingatkan dalam mengatur manjemen diri untuk menghindari

terjadinya komplikasi yang membahayakan, maka sangat diperlukan

manajemen diri yang baik untuk mencapai kesehatan yang stabil


DAFTAR PUSTAKA

Allen. Support of diabetes from the family. Diunduh tanggal 13 mei 2016 dari
http://www.buzzle.com/editorials/7-3-2006101247.asp, 2006.

Amod, A., Ascott-Evans, BH., Berg, G. I., Blom, D. J. , Brown, S. L., & Carrihill,
M. M., et al. The 2012 JEMDSA Guideline for the management of type 2 diabetes
(revised). Journal of Endocrinology, Metabolism and Diabetes of South Africa-
JEMDSA, 2012

Antari, G.A.A., Rasdini, I.G.A., & Triyani, G.A.P. Besar Pengaruh Dukungan Sosial
terhadap Kualitas Hidup pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Interna
RSUP Sanglah. Diakses dari http://www.unud.ac.id pada tanggal 13 mei 2016, 2011.

ADA. Diagnosis and classification of diabetes mellitus (Position statement). Diabetes Care,
36(1), 67–74. doi:10.2337/dc13-S067, 2013.

Baradero , Mary. Klien Gangguan Endokrin. Jakarta: EGC, 2009.

Black, J.M. & Hawks, J. H. Medical Surgical Nursing. St louis: Elsevier Saunders, 2005.

Bintanah, S; Handarsari, E. Asupan Serat Kadar Gula Darah, kadar Kolesterol Total, dan
Status Gizi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Roemani Semarang.
UNIMUS, 2012.

Beckerle, C. M., & Lavin, M. A. Association of self-efficacy and self-care with glycemic
control in diabetes. Diabetes Spectrum, 26 (3), 172–178.
doi:10.2337/diaspect.26.3.172, 2013.

Coffman, M.J. Effect of tangible social support and depresion on diabetes self efficacy.
Journal of GerontologicalNursing, 34 (4), 32 – 39, 2008.

DeCoste, K. C., & Scott, L. K. Diabetes update: Promoting effective


disease management. American Association of Occupational Health Nurses
Journal, 2004

Friedman, M.M, Bowden, V.R & E.G. Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset, Teori, Dan
Praktik, Alih Bahasa, Akhir Yani S. Hamid Dkk; Ed 5. Jakarta: EGC, 2010.

Gamara, S. E. Hubungan Antara Pengetahuan Perawatan dengan Kemampuan Manajemen


Perawatan Diri pada Pasien Diabetes Mellitusdi Rumah Sakit Umum Daerah
Kuningan 45 Kuningan 2013, 2013.

Goz, F., Karaoz, S., Goz, M., Ekiz, S., & Cetin, I. Effect of diabetic patient’s perceived social
support on their quality of life. Journal of Clinical Nursing, 16,1353-1360, 2007.

Harmoko. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.


Harris, P., Mann, L., Phillips, P., & Webster, C. (2012). Diabetes management in
general practice: Guidelines for type 2 diabetes. (8thed.). Sydney: Diabetes Australia.
Retrieved from http://www.diabetesaustralia.com.au/ Documents
/DA/What's%20New/12.10.02%20Diabetes%20Management%20in%20General%20Pr
actice.pdf

Hirsch, I. B., Bode, B. W., Childs, B. P., Close, K. L., Fisher, W. A., Gavin, J. R., et al. Self-
monitoring of blood glucose (SMBG) in insulin- and non-insulin-using adults with
diabetes: Consensus recommendations for improving SMBG accuracy, utilization, and
research. Diabetes Technology & Therapeutics, 2008.

Harnilawati. Konsep Dan Proses Keperawatan Keluarga. Takalar: Pustaka As Salam, 2013.

Hensarling, J. Development and psychometric testing of Hensarling’s diabetes family support


scale, a dissertation. Degree of Doctor of Philosophy in the Graduate School of the
Texa’s Women’s University. Diakses dari www.proquest.com pada tanggal 25
Desember 2015, 2009.

Hidayat, A. Aziz. Alimul. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika, 2011.

Hunt, C. W., Wilder, B., Steele, M. M., Grant, J. S., Pryor, E. R., & Moneyham, L.
Relationships among self-efficacy, social support, social problem solving, and self-
management in a rural sample living with type 2 diabetes mellitus.Research and Theory
for Nursing Practice: AnInternational Journal, 26(2), 126–141. doi:10.1891/1541-
6577.26.2.126, 2012.

International Diabetes Federation. One Adult In Ten Will Have Diabetes By 2030.
Diakses dari http://www.idf.org/media-events/press-releases/2011/diabetes-atlas-8th-
edition, 2011

IDF. Global guideline for type 2 diabetes. Brussels, Belgium: The Author.
Retrieved from http://www.idf.org/sites/default/files/IDF-Guideline-for-Type-2-
Diabetes.pdf, 2012.

IDF. Global guideline for type 2 diabetes. Brussels, Belgium: The Author.
Retrieved from http://www.idf.org/sites/default/files/IDF-Guideline-for-Type-2-
Diabetes.pdf, 2014.

Irawan, Dedi. Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Daerah
Urban Indonesia (Analisa Data Sekunder Riskesdas 2007). ThesisUniversitas
Indonesia, 2010

Ira Ferawati. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetikum pada pasien DM
tipe 2 di RSUD Prof.DR. Morgono Soekarjo Purwokerto, 2014.

Isa Wahyuningsih. Manajemen diri penderita DM di desa pekuwon, kec bangsal


kab.mojokerto, 2014.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia Di Indonesia.
Jakarta: Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan, 2013.

Lanywati. Diabetes Mellitus Penyakit Kencing Manis. Yogyakarta: Kanisius, 2011.

Lincol,A. What to expect diabetes. Diperoleh tanggal 9 Juli 2014 dari


http://www.mayoclinic.com, 2010.

Misnadiarly. Diabetes Mellitus: Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala, Menanggulangi,


Dan Mencegah Komplikaasi. Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2006.

Nair, M. Nursing management of the person with diabetes mellitus. Part 2.


British Journal of Nursing, 2007.

Nyunt, S. W., Howteerakul, N., Suwannapong, N., & Rajatanun, T. Selfefficacy, self-care
behaviors and glycemic control among type-2 diabetes patients attending two private
clinics in Yangon, Myanmar. Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public
Health, 41(4), 943–951, 2010.

Notoatmodjo, S. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2007.

Saini, sukma.Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Keaktifan Pasien Diabetes Melitus


Dalam Melakukan Pemeriksaan Glukosa Darah Di Rsud Pringsewu Tahun 2014
diakses dari http://dokumen.tips/education/jurnal-elyasari.html, 2014.

Schmit, Andreas et.al. The diabetes self management questionnaire (DSMQ): Development
And Evaluation Of An Instrument To Assess Diabetes Self Care Activities Associated
With Glycaemic Control. Health Adn Quality Of Life Outcomes. Access Of
http:Biomedical.co.id, 2013.

Senuk et. Al. Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarg A Dengan Kepatuhan
Menjalani Diet Diabetes Melitus Di Poliklinik Rsud Kota Tidore Kepulauan Provinsi
Maluku Utara. Diakses dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=140940&val=5798, 2013.

Sonsona, Jocelyn. Factor Influencing Diabetes Self Management Of Filipino Americans With
Type 2 Diabetes Mellitus. Philippines: Walden University, 2014.

Sylvia. Patofisiologi. Jakarta: EGC, 2006.

Soegono, Sidartawan. Hidup Secara Mandiri dengan: Diabetes Mellitus, Kencing Manis,
Sakit Gula.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008.

Scollan-Koliopoulos, M., Walker, E. A., & Bleich, D. Perceived Risk of Amputation,


Emotions, and Foot Self-Care Among Adults With Type 2 Diabetes. The Diabetes
Educator, 36, 473-483, 2010.

Scollan-Koliopoulos, M., Walker, E. A., & Rapp, K. J. Self-Regulation Theory and the
Multigenerational Legacy of Diabetes. The Diabetes Educator, 37, 669-680, 2011.
Sujaya, I Nyoman. “Pola Konsumsi Makanan Tradisional Bali sebagai Faktor Risiko
Diabetes Melitus Tipe 2 di Tabanan.” Jurnal Skala Husada Vol. 6 No.1 hal:75-81,
2009.

Soegondo, S. Farmakologi pada pengendalian glikemia diabetes mellitus tipe 2, dalam


sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.,& Setiati, S: Buku ajar ilmu
penyakit dalam (cetakan ke-3) (hlm 1882-1885). Jakarta: pusat penerbit departemen
ilmu penyakit dalam FKUI, 2006

Setyorogo & Trisnawati. Faktor resiko kejadian diabetes melitus tipe 2 di


Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat tahun 2012. Diperolehtanggal 9 april
2016 dari http://lp3m.thamrin.ac.id/upload/artikel2.vol 5 no 1_shara.pdf, 2012.

Shigaki, C., Krusel, R.L., Mehr, D.,Sheldon, K.M., Ge, B., Moore, C.,and Lemaster, J.
Motivation and diabetes selfmanagement(abstract). Diunduh pada tanggal 20 april
2016 dari .http://www. ncbi.nlm.nih. gov/pubmed/ 20675362, 2010.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta. 2012

Svartholm, E., & Nylander, E. Self care activities of patients with diabetes mellitus type 2
in Ho Chi Minh City. Master’s Thesis. Retrieved from
http://www.divaportal.org/smash/get/diva2:322414/FULLTEXT01.pdf , 2010.

Tandra, Hans. Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes: Panduan
Lengkap Mengenal dan Mengatasi Diabetes dengan Cara Cepat dan Mudah.Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Tamara, Ervy dkk, Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dan Kualitas Hidup Pasien
Diabetes Mellitus Tipe II Di Rsud Arifin Achmad Provinsi Riau, 2014.

Tri juliansyah, veny elita, bayhakki. Hubungan dukungan keluarga dengan mekanisme
koping pasien diabetes mellitus, 2014

Wasis. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta: EGC, 2008.

WHO. Definition And Diagnosis Of Diabetes Mellitus And Intermediate Hyperglikemia.


WHO Library catalaguing in publication data, 2006.

Wardani, Et. Al. Hubungan Dukungan Keluarga Dan Pengendalian Kadar Gula Darah
Dengan Gejala Komplikasi Mikrovaskuler Diakses dari
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jbef4166aa5ccfull.pdf, 2014

Xu, Y., Pan, W., & Liu, H. Self-management practices of ChineseAmericans with type 2
diabetes. Nursing and Health Sciences, 12, 228–234. doi:10.1111/j.1442-
2018.2010.00524.x, 2010.

Xu yin, toobert, D., Savage, C., Pan, W., & whitmer, K. Factor influencing diabetes self
management in chinese people with type 2 diabetes. Research in nursing & health, 31,
613-625, 2008.
Yoo, H., Kim, C. J., Jang, Y., & You, M-A. Self-efficacy associated with
self-management behaviours and health status of South Koreans with chronic
diseases. International Journal of Nursing Practice, 17, 599–606. doi:10.1111/j.1440-
172X.2011.01970.x, 2011.
LAMPIRAN
Lampiran 3

INFORMED CONSENT
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MANAJEMEN DIRI
PENDERITA DM DI POSBINDU KELURAHAN PISANGAN DAN CIRENDEU
TANGERANG SELATAN TAHUN 2016
Assalamualaikum Wr. Wb

Salam sejahtera

Nama : Fatimah

NIM : 1112104000040

Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas


Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan sedang melaksanakan
penelitian untuk skripsi sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan keperawatan
sebagai sarjana keperawatan (S.Kep).

Dalam lampiran ini terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan


penelitian. Untuk itu saya harap dengan segala kerendahan hati agar sekiranya bapak atau ibu
bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuisioner yang telah disediakan. Kerahasiaan
jawaban ibu dan bapak akan dijaga dan hanya diketahui oleh peneliti.

Kuisioner ini saya harap diisi dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang anda
rasakan dan apa yang dipertanyakan. Sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran yang
baik untuk penelitian ini.

Saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasi bapak dan ibu dalam pengisian
kuisioner ini. Apakah bapak atau ibu bersedia menjadi responden?

YA/TIDAK

Tertanda

Responden
Lampiran 4

Kuesioner Penelitian

Kode Responden: (diisi oleh peneliti)

Petunjuk pengisian :

1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap item pertanyaan


2. Pilih salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling sesuai dengan kondisi yang
dialami dengan memberi tanda ceklis (√) pada pilihan yang dipilih.
3. Isilah titik-titik yang tersedia dengan jawaban yang benar.

A. Karakterisitik Responden
Nama (inisial) : ..................................................................
Umur : ..................................tahun
Jenis kelamin : laki-laki perempuan
Pendidikan : 1. Tidak sekolah
2. SD
3. SMP
4. SMA
5. PT
B. Lama menderita Diabetes Mellitus (DM) :.................... Tahun ....................bulan
C. Keluarga yang selama ini merawat :
Suami istri anak ayah/ ibu cucu
Yang lain sebutkan......................
DUKUNGAN KELUARGA
Petunjuk pengisian : Pilih salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling sesuai dengan
kondisi yang dialami dengan memberi tanda ceklis (√) pada pilihan
yang dipilih.
Pilihan Jawaban:
Selalu : jika pernyataan tersebut selalu dilakukan oleh keluarga (misalnya: jika rentang nilai
0-10, dinilai 9-10).

Sering : jika pernyataan tersebut sering dilakukan oleh keluarga (misalnya: jika rentang
nilai 0-10, dinilai 7-8).

Jarang : jika pernyataan tersebut jarang dilakukan oleh keluarga (misalnya: jika rentang
nilai 0-10, dinilai 5-6).

Tidak pernah : jika pernyataan tersebut tidak pernah dilakukan oleh keluarga (misalnya: jika
rentang nilai 0-10, dinilai 0-4).

No Pernyataan Tidak Jarang Sering Selalu


pernah
1. Keluarga memberi saran supaya saya kontrol ke dokter
2. Keluarga memberi saran untuk mengikuti edukasi diabetes
3. Keluarga memberikan informasi baru tentang diabetes kepada saya
4. Keluarga mengerti saat saya mengalami masalah yang berhubungan
dengan diabetes
5. Keluarga mendengarkan jika saya bercerita tentang diabetes
6. Keluarga mengerti perasaan saya saat mengalami diabetes
7. Informasi dari keluarga membuat saya merasa mudah memahami
tentang diabetes
8. Keluarga mengingatkan saya untuk mengontrol gula darah jika saya
lupa
9. Keluarga membantu usaha saya untuk olah raga
10. Keluarga mendorong saya untuk mengikuti rencana diet/makan
11. Keluarga membantu saya untuk menghindari makanan yang manis
12. Keluarga makan makanan yang tidak boleh saya makan didekat saya
13. Keluarga merasa kesusahan terhadap diabetes yang saya alami
14. Keluarga mengingatkan saya untuk memesan obat diabetes
15. Meminta bantuan kepada keluarga membuat saya merasa mudah
dalam mengatasi masalah diabetes
16. Keluarga mengingatkan saya tentang jadwal diet yang teratur
17. Keluarga merasa terganggu dengan diabetes saya
18. Keluarga menyarankan untuk memeriksakan mata saya ke dokter
19. Keluarga mendorong saya untuk memeriksakan kaki saya ke dokter
20. Keluarga mendorong saya untuk periksa gigi ke dokter
21. Saya merasakan kemudahan meminta bantuan keluarga untuk
mendukung perawatan diabetes saya
22. Keluarga menyediakan makanan sesuai diet saya
23. Keluarga mendukung usaha saya untuk makan makanan sesuai diet
24. Keluarga tidak menerima bahwa saya menderita diabetes
25. Keluarga mendorong saya untuk memeriksakan kesehatan saya
26. Keluarga membantu ketika saya cemas dengan diabetes
27. Keluarga mengerti ketika saya sedih dengan diabetes
28. Keluarga memahami cara membantu saya dalam mengatasi diabetes
29. Keluarga membantu untuk membayar pengobatan diabetes.
MANAJEMEN DIRI

Petunjuk pengisian : Pilih salah satu jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling sesuai
dengan kondisi yang dialami dengan memberi tanda ceklis (√) pada
pilihan yang dipilih.
Pilihan Jawaban:

Sesuai : jika pernyataan tersebut sesuai dengan yang bapak/ibu lakukan (misalnya:
jika rentang nilai 0-10, dinilai 9-10).

Cukup sesuai : jika pernyataan tersebut cukup sesuai dengan yang bapak/ibu lakukan
(misalnya: jika rentang nilai 0-10, dinilai 7-8).

Kurang sesuai : jika pernyataan tersebut kurang sesuai dengan yang bapak/ibu lakukan
(misalnya: jika rentang nilai 0-10, dinilai 5-6).

Tidak sesuai : jika pernyataan tersebut tidak sesuai dengan yang bapak/ibu lakukan
(misalnya: jika rentang nilai 0-10, dinilai 0-4).

No Pernyataan Tidak Kurang Cukup Sesuai


Pernyataan berikut ini menggambarkan kegiatan perawatan diri sesuai sesuai sesuai
terkait dengan diabetes. Berpikirlah tentang perawatan diri Anda
selama 8 minggu terakhir, sebutkan sejauh mana setiap pernyataan
sesuai untuk Anda.
1. Saya memeriksakan kadar gula darah saya dengan penuh perhatian.
2. Makanan yang saya konsumsi memudahkan dalam mencapai nilai
gula darah yang normal.
3. Semua dokter menyarankan pengobatan terkait dengan diabetes.
4. Saya mengkonsumsi obat diabetes (misalnya insulin, tablet) sesuai
saran yang telah dianjurkan.
5. Biasanya saya selalu memakan makanan manis dan makanan lain
yang mengandung karbohidrat ( seperti nasi, roti, jagung, ubi dll).
6. Saya rutin melakukan pemeriksaan gula darah secara teratur.
7. Saya jarang menemui dokter untuk berkonsultasi terkait pengobatan
diabetes.
8. Saya melakukan aktivitas fisik secara teratur untuk mencapai nilai
gula darah yang normal.
9. Saya mengkonsumsi makanan yang disarankan oleh dokter atau
dokter spesialis diabetes.
10. Saya tidak sering memeriksakan kadar gula darah seperti yang telah
dianjurkan untuk mencapai nilai gula darah normal.
11. Saya kurang beraktivitas fisik, meskipun saya tahu hal itu dapat
mengontrol diabetes saya.
12. Saya sering lupa untuk mengkonsumsi obat diabetes saya (misalnya
insulin, tablet).
13. Kadang-kadang saya tidak bisa mengatur pola makan yang
berlebihan.
14. Terkait perawatan diabetes yang saya lakukan, saya harus lebih
sering berkunjung ke pelayanan kesehatan.
15. Saya cenderung mengabaikan aktivitas fisik yang telah
direncanakan.
16. Saya kurang memperhatikan perawatan diri terkait diabetes yang
saya alami.
Lampiran 5

Uji validitas dan reliabilitas


Item-Total Statistics

Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Cronbach's


Item Deleted if Item Deleted Total Alpha if Item
Correlation Deleted

p1 143,27 287,720 ,627 ,699


p2 143,70 301,045 ,181 ,714
p3 143,90 297,197 ,339 ,709
p4 143,53 300,947 ,329 ,712
p5 143,33 299,264 ,442 ,710
p6 143,33 308,920 -,052 ,719
p7 143,73 303,926 ,165 ,715
p8 143,47 296,533 ,483 ,707
p9 143,80 309,752 -,071 ,721
p10 143,90 289,679 ,690 ,700
p11 143,50 287,086 ,724 ,697
p12 144,63 301,275 ,266 ,713
p13 144,90 297,955 ,331 ,710
p14 143,43 296,668 ,380 ,708
p15 143,50 306,741 ,066 ,718
p16 143,97 290,171 ,549 ,701
p17 145,03 298,654 ,351 ,710
p18 144,37 308,999 -,041 ,722
p19 144,37 297,895 ,291 ,710
p20 144,57 290,530 ,578 ,701
p21 143,60 294,869 ,579 ,705
p22 144,00 294,552 ,451 ,706
p23 143,83 293,454 ,546 ,704
p24 144,83 296,764 ,373 ,708
p25 143,47 300,051 ,309 ,711
p26 143,77 301,357 ,289 ,712
p27 143,77 301,840 ,247 ,713
p28 143,50 298,672 ,505 ,709
p29 143,40 303,559 ,203 ,715
total 73,20 77,131 1,000 ,802

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

,718 30
Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

146,40 308,524 17,565 30

Manajemen diri

Reliability Statistics

Cronbach's N of Items
Alpha

,635 17

Item-Total Statistics

Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Cronbach's


Item Deleted if Item Deleted Total Alpha if Item
Correlation Deleted

p1 62,53 94,809 ,412 ,623


p2 62,83 92,282 ,361 ,616
p3 62,43 97,013 ,153 ,633
p4 62,30 97,872 ,197 ,635
p5 63,87 103,775 -,309 ,669
p6 62,43 95,426 ,411 ,625
p7 63,80 83,476 ,563 ,582
p8 63,40 93,283 ,211 ,625
p9 63,07 99,789 -,108 ,655
p10 64,07 90,409 ,291 ,616
p11 63,53 89,292 ,371 ,608
p12 63,87 91,292 ,259 ,620
p13 63,17 96,902 ,032 ,642
p14 62,53 97,430 ,073 ,636
p15 63,83 88,144 ,417 ,603
p16 63,97 83,068 ,548 ,581
tot_skor 32,63 24,654 1,000 ,417
Lampiran 6

Analisa umur
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

umur 35 100,0% 0 0,0% 35 100,0%

umur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

45-59 22 62,9 62,9 62,9

60-75 11 31,4 31,4 94,3


Valid
76-90 2 5,7 5,7 100,0

Total 35 100,0 100,0

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

umur ,124 35 ,190 ,951 35 ,120

a. Lilliefors Significance Correction

jenis_kelamin

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

laki-laki 5 14,3 14,3 14,3

Valid perempuan 30 85,7 85,7 100,0

Total 35 100,0 100,0


Tingkat pendidikan
pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Tidak Sekolah 5 14,3 14,3 14,3

SD 18 51,4 51,4 65,7

SMP 7 20,0 20,0 85,7


Valid
SMA 4 11,4 11,4 97,1

PT 1 2,9 2,9 100,0

Total 35 100,0 100,0

Keluarga yang selama ini merawat

keluarga_yang_selama_ini_merawat

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Suami 14 40,0 40,0 40,0

Istri 6 17,1 17,1 57,1

Valid Anak 13 37,1 37,1 94,3

Ayah/Ibu 2 5,7 5,7 100,0

Total 35 100,0 100,0

Kadar glukosa darah sewaktu

Descriptives

Statistic Std. Error

Mean 249,26 12,200

Lower Bound 224,46


95% Confidence Interval for Mean
Upper Bound 274,05

5% Trimmed Mean 243,67

Median 231,00

Variance 5209,726

kadar_glukosa_darah_sewaktu Std. Deviation 72,178

Minimum 148

Maximum 499

Range 351

Interquartile Range 109

Skewness 1,330 ,398

Kurtosis 2,736 ,778


lama_menderita_dm

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

1-5 tahun 32 91,4 91,4 91,4

6-10 tahun 2 5,7 5,7 97,1


Valid
>10 tahun 1 2,9 2,9 100,0

Total 35 100,0 100,0

Dukungan keluarga

dukungan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Baik 13 37,1 37,1 37,1

Valid kurang baik 22 62,9 62,9 100,0

Total 35 100,0 100,0

Manajemen diri

manajemen

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Baik 16 45,7 45,7 45,7

Valid kurang baik 19 54,3 54,3 100,0

Total 35 100,0 100,0

Group Statistics

manajemen_diri N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

kurang baik 20 56,75 7,055 1,578


umur
baik 15 59,93 9,625 2,485
Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error 95% Confidence Interval of
Difference the Difference

Lower Upper

Equal variances assumed 2,350 ,135 -1,131 33 ,266 -3,183 2,816 -8,912 2,545
Umur
Equal variances not assumed -1,081 24,612 ,290 -3,183 2,944 -9,251 2,884
jenis_kelamin * manajemen Crosstabulation

manajemen Total

baik kurang baik

Count 2 3 5
laki-laki
% within jenis_kelamin 40,0% 60,0% 100,0%
jenis_kelamin
Count 14 16 30
perempuan
% within jenis_kelamin 46,7% 53,3% 100,0%
Count 16 19 35
Total
% within jenis_kelamin 45,7% 54,3% 100,0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


(2-sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square ,077 1 ,782
b
Continuity Correction ,000 1 1,000
Likelihood Ratio ,077 1 ,781
Fisher's Exact Test 1,000 ,585
Linear-by-Linear ,075 1 ,785
Association
N of Valid Cases 35

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,29.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper

Odds Ratio for ,762 ,111 5,237


jenis_kelamin (laki-laki /
perempuan)
For cohort manajemen = ,857 ,274 2,679
baik
For cohort manajemen = 1,125 ,511 2,479
kurang baik
N of Valid Cases 35

Case Processing Summary


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

tingkat_pendidikan * 35 100,0% 0 0,0% 35 100,0%


manajemen

tingkat_pendidikan * manajemen Crosstabulation

manajemen Total

baik kurang baik

Count 13 17 30
rendah
% within tingkat_pendidikan 43,3% 56,7% 100,0%
tingkat_pendidikan
Count 3 2 5
tinggi
% within tingkat_pendidikan 60,0% 40,0% 100,0%
Count 16 19 35
Total
% within tingkat_pendidikan 45,7% 54,3% 100,0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square ,480 1 ,489
b
Continuity Correction ,043 1 ,835
Likelihood Ratio ,479 1 ,489
Fisher's Exact Test ,642 ,415
N of Valid Cases 35
a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,29.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval


Lower Upper

Odds Ratio for ,510 ,074 3,510


tingkat_pendidikan (rendah
/ tinggi)
For cohort manajemen = ,722 ,317 1,647
baik
For cohort manajemen = 1,417 ,463 4,334
kurang baik
N of Valid Cases 35
Group Statistics

manajemen N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

baik 16 3,06 5,859 1,465


lama_menderita_dm
kurang baik 19 1,53 1,124 ,258
Independent Samples Test

Levene's Test for Equality t-test for Equality of Means


of Variances

F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the
Difference

Lower Upper

Equal variances assumed 4,635 ,039 1,122 33 ,270 1,536 1,370 -1,250 4,323
lama_menderita_dm
Equal variances not assumed 1,033 15,931 ,317 1,536 1,487 -1,618 4,690
Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

dukungan * manajemen 35 100,0% 0 0,0% 35 100,0%

dukungan * manajemen Crosstabulation

manajemen Total

baik kurang baik

Count 8 5 13
baik
% within dukungan 61,5% 38,5% 100,0%
dukungan
Count 8 14 22
kurang baik
% within dukungan 36,4% 63,6% 100,0%
Count 16 19 35
Total
% within dukungan 45,7% 54,3% 100,0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 2,087 1 ,149
b
Continuity Correction 1,196 1 ,274
Likelihood Ratio 2,098 1 ,147
Fisher's Exact Test ,179 ,137
Linear-by-Linear Association 2,027 1 ,155
N of Valid Cases 35

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,94.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper

Odds Ratio for dukungan (baik / kurang baik) 2,800 ,680 11,530
For cohort manajemen = baik 1,692 ,840 3,409
For cohort manajemen = kurang baik ,604 ,284 1,288
N of Valid Cases 35