Anda di halaman 1dari 24

PENCEMARAN KESEHATAN LINGKUNGAN

“MASALAH PENCEMARAN UDARA”

Disusun oleh :

Ade Raman Santosa (1504103010007)

Zia Aulia Putra (1404103010019)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG…………………………………………………………………..1


1.2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………………………..2
1.3 TUJUAN……………………………………………………………………………........3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PENCEMARAN UDARA…………………………………………...4

2.2 KLASIFIKASI BAHAN PENCEMARAN UDARA………………………………….5

2.3 FAKTOR PENYEBAB PENCEMARAN UDARA………………………….………..7

2.4 ZAT-ZAT PENCEMARAN UDARA………………………………………………….9

2.5 PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN DAMPAKNYA……………….……....17

2.6 UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA…………………….....20

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN……………………………………………………………………….…21

3.2 SARAN……………………………………………………………………………….….21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..……....22
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang
kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi
mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Namun, saat ini kualitas udara sangat
memprihatinkan akibat pencemaran udara.
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat
memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara
lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut
merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas.
Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti
kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari pencemaran udara
tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap
kesehatan manusia.
Pencemaran udara merupakan masalah yang memerlukan perhatian khusus,
khususnya untuk daerah-daerah kota besar. Pencemaran udara yang ada dapat berasal dari
asap kendaraan bermotor, asap pabrik ataupun partikel-partikel yang lain. Saat ini mulai
dilakukan upaya pemantauan pencemaran udara. Dari hasil pemantauan tersebut
diketahui ada beberapa parameter yang cukup memprihatinkan, diantaranya: debu
(partikulat), Sulfur Dioksida (SO2), Oksida nitrogen (NOx), Carbon dioksida (CO) dan

hidrokarbon (HC). Pencemar lainnya adalah timbal (Pb) yang dikandung dalam bensin
(Premium). Keberadaan timbal (Pb) di udara dapat membahayakan bagi kesehatan
manusia.
Pencemaran udara akan terus berlangsung sejalan dengan laju pertumbuhan
ekonomi. Dengan semakin berkembangnya kehidupan ekonomi, masyarakat akan
semakin banyak menggunakan bahan-bahan berteknologi tinggi yang dapat menimbulkan
pencemaran udara seperti motor dan mobil. Hal ini memberikan kontribusi besar dalam
menurunkan kwalitas udara yang dapat mengganggu kenyamanan, kesehatan dan bahkan
keseimbangan iklim global.
Kualitas udara sangat dipengaruhi oleh besar dan jenis sumber pencemar yang ada
seperti dari kegiatan industri, kegiatan transportasi dan lain-lain. Masing-masing sumber
pencemar yang berbeda-beda baik jumlah, jenis, dan pengaruhnya bagi kehidupan.
Pencemar udara yang terjadi sangat ditentukan oleh kualitas bahan bakar yang digunakan,
teknologi serta pengawasan yang dilakukan.
Hasil penelitian Bapedal (1992) di beberapa kota besar (Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya) menunjukkan bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber utama
pencemaran udara. Hal ini dapat dilihat dari persentase cemaran CO sebesar 98,8%, NOx

sebesar 73,4% dan HC sebesar 88,9%, Pb sebesar 100% yang semuanya berasal dari hasil
pembakaran kendaraan bermotor. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah
mengeluarkan kebijakan melalui Kepmen LH no 35 tahun 1993 tentang Baku Mutu
Emisi kendaraan bermotor. Pemerintah Daerah juga merespon situasi ini seperti contoh
keluarnya SK Gubernur DKI Jakarta no 1041 tahun 2000 dengan batasan yang lebih
rendah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang permasalahan didapatkan suatu perumusan masalah, yaitu:
1. Apakah pengertian dari pencemaran udara?
2. Bagaimana klasifikasi bahan pencemar udara?
3. Apakah factor-faktor penyebab pencemaran udara?
4. Apakah zat-zat yang dapat mencemari udara?
5. Bagaimana dampak dari pencemaran udara?
6. Bagaimana upaya penanggulangan pencemaran udara?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari pencemaran udara
2. Mahasiswa mengetahui klasifikasi bahan pencemar udara
3. Mahasiswa mengetahui factor-faktor penyebab pencemaran udara
4. Mahasiswa mengetahui sumber utama pencemaran udara
5. Mahasiswa mengetahui dampak dari pencemaran udara
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PENCEMARAN UDARA


Pencemaran udara atau sering kita dengar dengan istilah polusi udara menurut
Akhmad (2000) diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara
yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya.
Pencemaran udara disebabkan oleh berbagai macam zat kimia, baik berdampak langsung
maupun tidak langsung yang semakin lama akan semakin mengganggu kehidupan
manusia, hewan dan tumbuhan.
Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi di dalam
rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran maka disebut sebagai
pencemaran dalam ruang (indoor pollution). Sedangkan bila pencemarannya terjadi di
lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional maka disebut sebagai pencemaran di luar
ruang (outdoor pollution).
Umumnya, polutan yang mencemari udara berupa gas dan asap. Gas dan asap
tersebut berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna, yang
dihasilkan oleh mesin-mesin pabrik, pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Selain
itu, gas dan asap tersebut merupakan hasil oksidasi dari berbagai unsur penyusun bahan
bakar, yaitu: CO2 (karbondioksida), CO (karbonmonoksida), SOx (belerang oksida) dan
NOx (nitrogenoksida).

2.2 KLASIFIKASI BAHAN PENCEMARAN UDARA


Bahan pencemar udara atau polutan dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Polutan Primer
Polutan primer adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu.
Polutan primer berupa polutan gas dan partikel.Polutan gas terdiri dari:senyawa
karbon, senyawa sulfur, senyawa nitrogen , senyawa halogen.
Partikel yang di atmoser mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa
zat padat maupun suspensi aerosol caor di atmosfer. Bahan partikel tersebut berasal
dari proses kondensasi, proses disperse, maupun proses erosi bahan tertentu. Asap
sering kali dipakai untuk menunjukkan campuran bahan partikulat, uap, gas, dank
abut.
2. Polutan Sekunder
Polutan sekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan kimia di
udara, Misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2 dan O
radikal. Sifat fisik dari polutan sekunder terbagi ats dua yaitu sifat fisik dan kimia
yang tidak stabil. Termasuk dalam polutan sekunder ini adalah Ozon ,Peroxy Acyl
Nitrat (PAN), dan Formaldehid.

2.3 FAKTOR PENYEBAB PENCEMARAN UDARA


Pencemaran udara disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Faktor alam (internal), yang bersumber dari aktivitas alam, seperti:
- abu yang dikeluarkan akibat letusan gunung berapi
- gas-gas vulkanik
- debu yang beterbangan di udara akibat tiupan angin
- bau yang tidak enak akibat proses pembusukan sampah organic
2. Faktor manusia (eksternal), yang bersumber dari hasil aktivitas manusia, seperti:
- hasil pembakaran bahan-bahan fosil dari kendaraan bermotor
- bahan-bahan buangan dari kegiatan pabrik industri yang memakai zat kimia
organik dan anorganik
- pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara
- pembakaran sampah rumah tangga
- pembakaran hutan
Kualitas udara sangat dipengaruhi oleh besar dan jenis sumber pencemar yang ada
seperti dari kegiatan industri, kegiatan transportasi dan lain-lain. Masing-masing sumber
pencemar yang berbeda-beda baik jumlah, jenis, dan pengaruhnya bagi kehidupan.
Pencemar udara yang terjadi sangat ditentukan oleh kualitas bahan bakar yang digunakan,
teknologi serta pengawasan yang dilakukan.

Sumber pencemaran umumnya dari kegiatan industri pengolahan, transportasi dan


rumah tangga. Menurut Setyowidagdo (2000) dari beberapa penelitian yang telah
dilakukan ternyata 70% dari total emisi yang dibuang ke udara berasal dari gas buang
kendaraan bermotor. Pencemaran udara yang melampaui batas kewajaran akan
menimbulkan dampak terhadap makhluk hidup yang hidup di atas bumi ini.

Oleh sebab itu, maka perlu kita fahami dampak apa saja yang dapat ditimbulkan
oleh pencemaran udara khususnya terhadap tumbuhan. Seiring dengan laju pertambahan
kendaraan bermotor, maka konsumsi bahan bakar juga mengalami peningakatan dan
berujung pada bertambahnya jumlah polutan yang dilepaskan ke udara. Di Indonesia
kurang lebih 70 % pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor.
Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang memiliki dampak negatif baik
terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungannya.

Dalam beberapa tahun terakhir pencemaran udara terutama di kota-kota besar di


Indonesia merupakan masalah yang serius, beberapa sumber pencemar udara utama
Indonesia antara lain emisi gas buang kendaraan bermotor, emisi dari pabrikpabrik,
rumah tangga dan kebakaran hutan, data penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80%
pencemaran udara yang terjadi di kotakota besar di Indonesia di sebabkan oleh kendaraan
bermotor.

Kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran udara yaitu dengan


dihasilkannya gas CO, HC, NOx yang merupakan bahan logam timah yang ditambahkan
kedalam bensin berkualitas rendah untuk meningkatkan nilai oktan guna mencegah
terjadinya letupan pada bensin. Peningkatan polusi udara yang signifikan dari tahun
ketahun disebabkan oleh naiknya angka pertumbuhan pemakaian kendaraan. kondisi ini
diperparah dengan angka pertumbuhan jalan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan
kendaraan bermotor yang hanya 2% pertahun, semakin memperburuk kondisi udara
diberbagai kota. Sektor transportasi telah dikenal sebagai salah satu sektor yang sangat
berperan dalam pembangunan ekonomi yang menyeluruh. Penggunaan bahan bakar
minyak secara intensif dalam sektor ini menjadi penyebab utama timbulnya dampak
terhadap lingkungan udara terutama didaerah perkotaan.

Pembangunan lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik berupa


bangunan sarana dan prasarana, misalnya pertokoan, pemukiman, tempat rekreasi dan
industri otomotif. Dengan meningkatkan pembangunan tersebut mengakibatkan
berkurangnya lahan yang seharusnya untuk penghisapan. Hal tersebut dapat
menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan sehingga udara menjadi tercemar dan
kotor.

2.4 ZAT-ZAT PENCEMARAN UDARA


Ada beberapa polutan yang dapat menyebabkan pencemaran udara, antara lain:
Karbon monoksida, Nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, Partikulat, Hidrokarbon, CFC,
Timbal dan Karbondioksida.
1. Karbon monoksida (CO)
Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun. Dihasilkan dari
pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil, misalnya gas buangan kendaraan
bermotor.
2. Nitrogen dioksida (NO2)
Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara di pabrik,
pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor.
3. Sulfur dioksida (SO2)
Gas yang berbau tajam, tidak berwarna dan tidak bersifat korosi. Dihasilkan dari
pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur terutama batubara. Batubara ini
biasanya digunakan sebagai bahan bakar pabrik dan pembangkit tenaga listrik.

4. Partikulat (asap atau jelaga)


Polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya. Dihasilkan dari
cerobong pabrik berupa asap hitam tebal.
Macam-macam partikel, yaitu :
a. Aerosol : partikel yang terhambur dan melayang di udara
b. Fog (kabut) : aerosol yang berupa butiran-butiran air dan berada di udara
c. Smoke (asap) : aerosol yang berupa campuran antara butir padat dan cair dan
melayang berhamburan di udara
5. Hidrokarbon (HC)
Uap bensin yang tidak terbakar. Dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang
tidak sempurna.
6. Chloro fluoro carbon (CFC)
Gas yang dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon yang ada di atmosfer
bumi.
Dihasilkan dari berbagai alat rumah tangga seperti kulkas, AC, alat pemadam
kebakaran, pelarut, pestisida, alat penyemprot (aerosol) pada parfum dan hair spray.
7. Timbal (Pb)
Logam berat yang digunakan manusia untuk meningkatkan pembakaran pada
kendaraan bermotor. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan timbal oksida yang
berbentuk debu atau partikulat yang dapat terhirup oleh manusia.
8. karbon dioksida (CO2)
Gas yang dihasilkan dari pembakaran sempurna bahan bakar kendaraan bermotor
dan pabrik serta gas hasil kebakaran hutan.

2.5 PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN DAMPAKNYA


Salah satu permasalahan lingkungan dapat terjadi karena polusi udara yang
dihasilkan oleh industri. Meskipun saat ini telah banyak aturan yang diadakan perkenaan
dengan asap yang dihasilkan oleh industri, namun hal ini tidak terjadi begitu saja.
Manusia umumnya akan mengantisipasi, bila telah merasakan akibat dari perbuatannya.
Ada beberapa peristiwa yang terjadi diakibatkan polusi udara yang sangat mematikan,
bahkan menyebabkan kematian ribuan orang, yaitu great smoke of London (1952)
dan Donora Smog (1948).
1. Great Smoke of London
Revolusi industri yang terjadi di Inggris telah membawa perubahan pada gaya
hidup masyarakatnya, baik dalam skala rumah tangga maupun industri. Penggunaan
bahan bakar berbasiskan batu bara menjadi sumber utama masyarakat di London pada
sekitar tahun 1500-an. Semenjak penggunaan batu bara sebagai sumber bahan bakar,
telah terjadi beberapa kali peristiwa kabut asap yang disebabkan oleh pembakaran batu
bara.
Pada Desember 1952 yang merupakan musim dingin, meningkatkan pembakaran
di skala rumah tangga (untuk penghangat) dan industri. Ribuan rumah tangga
menghasilkan asap yang berasal dari batu bara. Namun bukannya sebagai penghangat,
lebih banyak asap yang dihasilkan dari pembakaran ini. Tidak pernah ada peristiwa
yang lebih berbahaya dan mematikan dari pada peristiwa di tahun 1952 ini.
Pada peristiwa ini ribuan ton jelaga hitam, tar, dan SO2 telah terakumulasi di
udara akibat pembakaran batu bara. Konsentrasi bahan-bahan tersebut mencapai 3000-
14.000 gr/m3 di udara, sekitar 50 kali diatas ambang batas normal pada saat itu. Sebuah
kabut cahaya telah berdiam di kota itu sejak tanggal 5 Desember, asap dan uap dari
pembakaran tetap bergerak dan membentuk asap padat. Salah satu faktor yang
menyebabkan peristiwa ini juga adalah cuaca yang sangat dingin saat musim salju saat
itu. Terjadi inversi temperatur, sehingga asap yang dihasilkan dari pembakaran akan
terjebak dan terakumulasi. Peristiwa mematikan yang terjadi disebabkan penyakit
pneumonia, bronchitis, tubercolosis, kerusakan jantung, asma dan kematian karena
keracunan yang berasal dari asap tersebut. Ketika asap menyebar ke seluruh London,
4000 orang meninggal, beberapa berita menyatakan total korban jiwa dari peristiwa ini
mencapai 12.000 jiwa.
2. Donora Smog
Asap yang menyebabkan peristiwa ini pertama kali terlihat pada tanggal 27
Oktober 1948 di Donora, Pennysylvania. Akibat dari peristiwa ini banyak kematian
dan penyakit yang disebabkan oleh asma dan penyakit pernafasan lainnya, 20 orang
meninggal dan sepertiga dari penduduk kota sakit. Dampak dari peristiwa ini juga
masih terlihat sepuluh tahun kemudian, dimana tingkat kematian di kota tersebut
meningkat dengan pesat.
Donora Zinc Works yang merupakanindustri besi di Amerika membuat emisi
yang menghasilkan HF dan SO2 . Peristiwa ini disebabkan emisi tersebut terjebak
karena terjadinya inversi temperatur, dimana asap manjadi bertemperatur lebih tinggi,
udara terjebak di dalam bongkahan tersebut, serta tercampurnya polutan kedalam asap.
Peristiwa ini berhasil diatasi dengan waktu yang cukup cepat, dengan
menghentikan untuk sementara kegiatan di industri tsb. Dengan hal ini, jumlah korban
yang lebih buruk dapat dicegah hingga tanggal 31 Oktober 1948. Donora
smog merupakan salah satu peristiwa paling mematikan disebabkan oleh polusi udara.
Dari peristiwa Great Smoke of London, pemerintah setempat langsung
mengambil tindakan untuk membersihkan udara nasional. Peristiwa yang mematikan
tersebut terjadi karena kelalaian masyarakat akan berbahayanya pembakaran bahan
bakar, pulusi udara terhadap kesehatan. Pada tahun 1968 Clean Air Act memberikan
standar polusi udara yang dapat dibuang ke udara bebas, serta menyarankan rumah
tangga untuk menggunakan bahan bakar pemanas yang lebih ramah lingkungan seperti
gas, minyak, dan listrik.
Peristiwa Donora Smog yang juga mengakibatkan kematian yang fatal, telah
mendapat perhatian serius dari pemerintah AS saat itu. Industri besi yang merupakan
sumber pencemaran telah dihukum, dan dikenakan denda, juga pelaku sebanyak 80
orang yang terlibat. Semenjak peristiwa itu juga aksi dan tindakan untuk menjaga
lingkungan khususnya polusi udara terus digalakkan.
Dari kedua peristiwa di atas, dapat dilihat bahwa peningkatan polusi udara dan zat
beracun dalam asap tsb terjadi di kota-kota besar di dunia. Meskipun peristiwa
mematikan seperti itu tidak terjadi lagi hari-hari ini, namun permasalahan lingkungan
karena polusi udara di kota-kota besar tetap terjadi.
Untuk mencegah dan mengurangi dampak dari polusi udara yang terjadi dan
semakin pesat di berbagai belahan dunia, maka pada tahun 1974 UNEP(The United
Nations of Environment Programme) dan WHO (World Health
Organizations) menginisiasi program sistem pengawasan terhadap keadaan lingkungan
global. Organisasi ini telah memantau keadaan udara di lebih dari 50 kota di 35 negara
berkembang. Fokus pertama adalah memantau kadar SO2 yang terakumulasi
dengan high-volume sample matter serta Pb dalam polutan. Hasil dari pendataan ini
sangat bermanfaat untuk menganalisa permasalahan udara secara global. Pantauan
dilanjutkan dengan mendata kandungan NO2, CO dan O3 di udara.
Selain itu pada konferensi Lingkungan Internasional yang diadakan pada tahun
1992 di Rio de Janeiro, permasalahan polusi udara di perkotaan juga mendapat sorotan
yang penting. Meskipun polusi udara hanya merupakan salah satu permasalahan yang
terjadi selain kontaminasi perairan, hal ini merupakan salah satu kontroversi politik
yang menjadi fokus di kota-kota besar. Pemantauan terhadap kandungan polutan udara
yang ada di beberapa kota besar terus dilakukan. Umumnya polutan yang tinggi terjadi
di negara-negara berkembang, yang polutan nya berasal dari industri ataupun
pembakaran melalui kendaraan bermotor.
Hingga saat ini, usaha pengurangan polutan di kota-kota besar dilakukan secara
parsial oleh kebijakan masing-masing kota. Peraturan mengenai udara buang yang
boleh dihasilkan industri, filtrasi asap yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, hingga
pengurangan penggunaan kendaraan bermotor terus dilakukan. Selain itu penanaman
pohon yang dapat mengurangi polutan di perkotaan merupakan salah satu kebijakan di
berbagai kota. Sistem pengawasan lokal di masing-masing kota juga dilakukan dengan
pemasangan alat pemantauan komposisi udara di perkotaan.
1. Dampak Pencemaran Udara Bagi Alam
Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara
lain:hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global.
1. Hujan Asam
Hujan asam adalah hujan yang memiliki kandungan pH (derajat
keasaman) kurang dari 5,6.

SO2 dan NOx (NO2 dan NO3) yang dihasilkan dari proses pembakaran
bahan bakar fosil (kendaraan bermotor) dan pembakaran batubara (pabrik dan
pembangkit energi listrik) akan menguap ke udara. Sebagian lainnya bercampur
dengan O2 yang dihirup oleh makhluk hidup dan sisanya akan langsung
mengendap di tanah sehingga mencemari air dan mineral tanah. SO2 dan NOx
(NO2 dan NO3) yang menguap ke udara akan bercampur dengan embun. Dengan
bantuan cahaya matahari, senyawa tersebut akan diubah menjadi tetesan-tetesan
asam yang kemudian turun ke bumi sebagai hujan asam. Namun, bila H2SO2 dan
HNO2 dalam bentuk butiran-butiran padat dan halus turun ke permukaan bumi
akibat adanya gaya gravitasi bumi, maka peristiwa ini disebut dengan deposisi
asam.
2. Penipisan Lapisan Ozon
Ozon (O3) adalah senyawa kimia yang memiliki 3 ikatan yang tidak stabil.
Di atmosfer, ozon terbentuk secara alami dan terletak di lapisan stratosfer pada
ketinggian 15-60 km di atas permukaan bumi. Fungsi dari lapisan ini adalah untuk
melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan sinar matahari
dan berbahaya bagi kehidupan.

Namun, zat kimia buatan manusia yang disebut sebagai ODS (Ozone
Depleting Substances) atau BPO (Bahan Perusak Ozon) ternyata mampu merusak
lapisan ozon sehingga akhirnya lapisan ozon menipis. Hal ini dapat terjadi karena
zat kimia buatan tersebut dapat membebaskan atom klorida (Cl) yang akan
mempercepat lepasnya ikatan O3 menjadi O2. Lapisan ozon yang berkurang
disebut sebagai lubang ozon (ozone hole).
Diyakini bahwa penyebab menipisnya lapisan ozon ini adalah gas CFC
baik CFC-11(CFCl2) dan CFC-12 (CF2Cl2). Gas ini banyak dipergunakan dalam
industri untuk pendingin yang lebih dikenal dengan istilah freon (Graedel and
Crutzen, 1990).
3. Pemanasan Global
Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan menimbulkan
dampak berupa berubahnya pola iklim.

Permukaan bumi akan menyerap sebagian radiasi matahari yang masuk ke


bumi dan memantulkan sisanya. Namun, karena meningkatnya CO2 di lapisan
atmosfer maka pantulan radiasi matahari dari bumi ke atmosfer tersebut terhalang
dan akan kembali dipantulkan ke bumi. Akibatnya, suhu di seluruh permukaan
bumi menjadi semakin panas (pemanasan global). Peristiwa ini sama dengan yang
terjadi di rumah kaca. Rumah kaca membuat suhu di dalam ruangan rumah kaca
menjadi lebih panas bila dibandingkan di luar ruangan. Hal ini dapat terjadi
karena radiasi matahari yang masuk ke dalam rumah kaca tidak dapat keluar.

2. Dampak Pencemaran Udara Bagi Manusia


Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga
membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan,
tumbuhan dan
manusia. Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain:
1. Karbon monoksida (CO)
Mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan
tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa; rasa
sakit pada dada, nafas pendek, sakit kepala, mual, menurunnya pendengaran dan
penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi
lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO),
dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
2. Nitrogen dioksida (SO2)
Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma.
3. Hidrokarbon (HC)
Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung.
4. Chlorofluorocarbon (CFC)
Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang
berkulit terang, katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh
5. Timbal (Pb)
Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental
serta mempengaruhi kecerdasan otak.

6. Ozon (O3)
Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan
memperkecil paru-paru.
7. NOx
Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.

3. Dampak Pencemaran Bagi Hewan


1. Penipisan lapisan ozon
Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya
rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena penurunan
jumlah fitoplankton.
2. Hujan asam
Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air
terganggu.
3. Pemanasan global
Penurunan hasil panen perikanan. Selain membawa dampak negatif pada
kehidupan hewan, pencemaran udara juga mampu merusakkan bangunan dan
candi-candi. Iklim dunia yang berubah polanya mengakibatkan timbulnya
kemarau panjang, bencana alam dan naiknya permukaan laut. Kemarau panjang
memicu terjadinya kebakaran hutan dan menurunnya produksi panen, bencana
alam (banjir, gempa, tsunami) banyak terjadi dan permukaan laut yang meninggi
akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah-daerah pesisir
pantai.
4. Dampak Pencemaran Udara Bagi Tumbuhan
Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan tumbuhan, antara lain:
1. Hujan Asam
- Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan
(karena memindahkan zat hara di daun dan menghalangi pengambilan Nitrogen)
dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
- Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam tanah
sehingga tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon akan mati.
2. Penipisan Lapisan Ozon
Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti
beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan
produsen bagi rantai makanan di laut.
3. Pemanasan Global
Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan
untuk bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
4. Gas CFC
Mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut punah, terjadi
mutasi genetic (perubahan sifat organisme).

2.6. UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA


Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif) yang
dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah
terjadinya pencemaran.
1. Usaha Preventif (sebelum pencemaran)
- mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan
- mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan masyarakat
- mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
bagi industry atau usaha yang menghasilkan limbah
- tidak membakar sampah di pekarangan rumah
- tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi penggunaan
AC dalam kehidupan sehari-hari
- tidak merokok di dalam ruangan
- menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot
- ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan
- ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung
- tidak melakukan penebangan hutan, pohon dan tumbuhan liar secara sembarangan
- mengurangi atau menghentikan penggunaan zat aerosol dalam penyemprotan
ruang
- menghentikan penggunaan busa plastik yang mengandung CFC
- mendaur ulang freon dari mobil yang ber-AC
- mengurangi atau menghentikan semua penggunaan CFC dan CCl4
2. Usaha kuratif (sesudah pencemaran)
Bila telah terjadi dampak dari pencemaran udara, maka perlu dilakukan beberapa
usaha untuk memperbaiki keadaan lingkungan, dengan cara:
- menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran lingkungan.
- kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansiinstansi untuk membersihkan
lingkungan dari polutan.
- melokalisasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sebagai tempat/pabrik daur
ulang.
- menggunakan penyaring pada cerobong-cerobong di kilang minyak atau pabrik
yang menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara.
- mengidentifikasi dan menganalisa serta menemukan alat atau teknologi tepat guna
yang berwawasan lingkungan setelah adanya musibah/kejadian akibat pencemaran
udara, misalnya menemukan bahan bakar dengan kandungan timbal yang rendah
(BBG).

Untuk melindungi masyarakat terhadap bahaya polusi udara, maka perlu


dilakukan usaha-usaha sebagai berikut, antara lain :

 Setiap pabrik diwajibkan melakukan pengolahan terlebih dahulu terhadap asap


pabriknya sebelum di buang ke udara bebas. Pengolahan yang dapat dilakukan
adalah:
1. Untuk udara yang mengandung gas atau uap :
- Dengan cara mencuci, yaitu udara dialirkan ke dalam air atau cairan yang
mudah bereaksi dengan gas atau uap yang terdapat dalam udara kotor
tersebut sehingga terikat.
- Dengan jalan membakar, yaitu udara yang kotor di lewatkan pada alat
pembakar agar terbakar semua.
2. Untuk udara yang mengandung debu atau alcohol
- Udara kotor yang akan di buang di alirkan dalam satu kamar khusus, yang
di sebut kamar pengendap agar debu-debunya mengendap.
- Udara kotor di lewatkan pada alat khusus perangkap kelembapan sehingga
partikel yang ada di dalam nya tidak ikut bersama aliran udara.
- Udara kotor di lewatkan pada ruangan khusus secara melingkar-lingkar
(cyclone) sehingga partikel yang terdapat di dalamnya melekat di dinding
- Dengan presipitasi dinamis, alat yang bentuknya seperti baling-balingyang
menyebabkan partikel-partikel yang terdapat pada udara kotor terhempas
dan terkumpul di sekitar baling-baling.
- Partikel-partikel yang terdapat dalam udara kotor di saring dengan suatu
filter khusus. Partikel dalam udara kotor di endapkan secara elektrik
karena adanya perbedaan tegangan listrik diantara dua kutub listrik.

3. Untuk kendaraan bermotor, digunakan bahan bakar yang sedikitnya


mencemari udara, seperti bahan bakar gas atau bahan bakar sinar matahari.
Bagi kendaraan bermotor yang sisa pembakarannya lebih banyak, sebaiknya
menggunakan jalan-jalan di pinggir kota.

4. Melakukan penghijauan kota, karena tumbuh-tumbuhan dapat menghasilkan


oksigen pada siang hari di samping menyerap karbon dioksida dari udara.
Oleh alam, hujan yang turun menyebabkankotoran di udara berkurang dan
angin akan menyebabkan kotoran di udara tersebar luas, sehinggatidak
terkonsentrasi pada daerah tertentu.

Selain usaha preventif dan kuratif, Pemerintah juga perlu mencanangkan


programprogram yang bertujuan untuk mengendalikan pencemaran, khususnya
pencemaran udara, yaitu;
- PROGRAM LANGIT BIRU yang dicanangkan sejak Agustus 1996. Bertujuan
untuk meningkatkan kembali kualitas udara yang telah tercemar, misalnya dengan
melakukan uji emisi kendaraan bermotor.
- Keharusan membuat cerobong asap bagi industri/ pabrik.
- Imbauan mengurangi bahan bakar fosil (minyak, batu bara) dan menggantinya
dengan energy alternatif lainnya.
- Membatasi beroperasinya mobil dan mesin pembakar yang sudah tua dan tidak
layak pakai.
- Larangan menggunakan gas CFC
- Larangan beredarnya insektisida berbahaya seperti DDT (dikhloro difenil trikhloro
etana).
- Melarang penggunaan CFC pada produksi kosmetika.
- Menetapkan undang-undang dan hukum tentang pelaksanaan perlindungan lapisan
ozon (secara nasional dan internasional).
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pencemaran Udara adalah peristiwa masuknya, atau tercampurnya, polutan (unsur-
unsur berbahaya) ke dalam lapisan udara (atmosfer) yang dapat mengakibatkan
menurunnya kualitas udara (lingkungan).
Sumber pencemaran dapat berasal dari gejala alam seperti letusan gunung, emisi
industri dan buangan gas dari kendaraan bermotor yang dapat mencemari udara. Hujan
asam menyebabkan menurunnya pH perairan dan mengendapnya zat asam di tanah, yang
menyebabkan kerusakan bagi tanaman.
Zat-zat yang berasal dari kegiatan industri maupun kendaraan separti Karbon
monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Sulfur dioksida (SO2), Partikulat (asap atau
jelaga), Chlorofluorocarbon (CFC), Timbal (Pb), karbon dioksida (CO2)
Pencemaran udara tersebut akan mengakibatkan Hujan Asam, Penipisan Lapisan
Ozon Dan Pemanasan Global. Dan berdampak pada lingkungan, manusia, hewan dan
tumbuhan.

3.2 SARAN
Untuk mengendalikan pencemaran Pb tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan
teknis yaitu dengan mengupayakan pembakaran sempurna dan mencari bahan bakar
alternatif. Pemerintah mempunyai posisi yang strategis untuk melakukan pendekatan
planatologi, administrasi dan hukum. Sedangkan untuk meningkatkan kedisiplinan
perawatan dan cara pengemudian yang baik dan benar dapat dilakukan melalui
pendekatan edukatif.
DAFTAR PUSTAKA

Mukono. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan Ed. 2. Airlangga University Press:
Surabaya
Anonim. 1948. Donora Smog. http://en.wikipedia.org/wiki/1948_Donora_smog#Sources diakses
pada tanggal 06 Februari 2014
Karliansyah. 2011. Mendorong Peningkatan Kualitas udara perkotaan dari pencemaran udara.
http://www.menlh.go.id/langit-biru-mendorong-peningkatan-kualitas-udara-perkotaan-dari-
pencemaran-udara/ diakses pada tanggal 06 Februari 2014

Depkes. Parameter pencemar udara Dan dampaknya terhadap kesehatan.


http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF. diakses pada 06 Februari 2014

Rahmawaty. 2002. Dampak pencemar udara terhadap tumbuhan.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/857/1/hutan-rahmawaty2.pdf. diakses pada 06
Februari 2014

Asih Nindi. 2009. Akibat Pencemaran Udara. http://nindiasih.files.wordpress.com/2009/05/akibat-


pencemaran-udara.pdf. di akses pada 07 februari 2014

Sutiman. 2004. Upaya Pengendalian Pencemaran Udara Melalui Pengembangan Teknologi Motor
Bensin Dan Ems
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Bahan%20Seminar%20Nasional%20KPRN_1.pdf. Diakses
pada 07 februari 2014

http://www.smallcrab.com/kesehatan/520-5-macam-penyakit-akibat-pencemaran-partikel-
debu-di-udara diakses pada tanggal 06 Februari 20

http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?mnorutisi=8&vnomor=7. diakses pada tanggal


06 Februari 2014