Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PROBLEM BASED LEARNING HERBAL

FITOTERAPI
BAWANG PUTIH (Allium sativum L.)

Disusun Oleh :

Chusnul Nur Rhamadhani (1708062127)

Dewita Fitri Widodo (1708062135)

Marwah Pahsimi Putri (1708062134)

Mella Yusvarina (1708062130)

Indah Woro Utami (1708062128)

Rahma Delfiyanti (1708062129)

Kelas : A Profesi Apoteker XXXV


Kelompok : IV

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2018

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG .................................................................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 1
C. TUJUAN....................................................................................................... 2
BAB II.ISI ............................................................................................................... 3
2.1 KASUS .............................................................................................................. 3
2.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................. 3
2.3 ANALISA KASUS ........................................................................................... 3
KESIMPULAN ..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 14

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dewasa ini, penelitian dan pengembangan tumbuhan obat baik di dalam maupun
di luar negeri berkembang berdasarkan indikasi tumbuhan obat yang telah digunakan
oleh sebagian masyarakat dengan khasiat yang teruji secara empiris terutama untuk
mengantisipasi harga obat yang mahal. Pemerintah Indonesia mendukung pengobatan
tradisional yang sedang berkembang, dengan surat keputasan menteri kesehatan tentang
Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional, yang saat ini sudah
berdiri di dua belas provinsi Indonesia. WHO (World Health Organisation) juga
merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan
kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit
kronis, penyakit degeneratif dan kanker.

Obat herbal atau obat yang menggunakan tanaman berkhasiat memiliki


keuntungan, selain aman juga memiliki spesifikasi khasiat yang sangat unik. Satu jenis
obat herbal memiliki khasiat yang beragam, berbeda dengan obat konvensional (sintetis
atu obat kimia) yang khasiatnya hanya untuk satu jenis penyakit saja. Contohnya
tanaman bawang putih yang miliki aneka khasiat, sebagai antiseptik, bakteriostatik,
antiviral, antispasmodik, ekspektoran, diaporetik, bersifat menurunkan tekanan darah,
agen anthelmintik dan promoter leukositosis. Pengunaan tradisional sebagai obat
bronkitis, asma dan flu. Percobaan yang sedang berkembang mempersiapkan bawang
putih sebagai antimikroba, antihipertensi, trombolitik, fibrinolitik, pencegah kanker dan
efek penurunan kadar lemak.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Apa senyawa aktif ekstrak pegagan yang berkhasiat sebagai obat maag,
bagaimana mekanismenya, serta bagaimana standarisasi ektrak pegagan ?
1.2.2 Apa sediaan yang sesuai untuk mengembangkan obat herbal ekstrak pegagan
dan bagaimana formulasi, serta cara pembuatannya ?
1.2.3 Bagaimana mendesain kemasan primer dan sekunder yang menarik ?

3
1.3 TUJUAN
1.3.1 Mengetahui senyawa aktif ekstrak pegagan yang berkhasiat sebagai obat maag,
bagaimana mekanismenya, serta bagaimana standarisasi ektrak pegagan
1.3.2 Mengetahui sediaan yang sesuai untuk mengembangkan obat herbal ekstrak
pegagan dan bagaimana formulasi, serta cara pembuatannya
1.3.3 Mengetahui kriteria pemilihan kemasan primer dan apa saja yang harus
dicantumkan dalam kemasan sediaan.

4
BAB II
ISI
2.1 Kasus
Setiap hari Ahad Tuan Damar (58 Tahun) selalu melakukan pemeriksaan tekanan
darahnya. Berdasarkan 2 kali pengecekan terakhir, tekanan darah tuan damar adalah
150/80 mmHg dan 155/85 mmHg dan beliau merasakan nyeri pada leher bagian
belakang (Tengkuk kaku). Tuan Damar ingin mengkonsumsi obat herbal untuk
mengobati keluhannya.

2.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana faktor resiko dan patofisiologi terjadinya hipertensi ?
2) Apa senyawa aktif yang terkandung dalam baang putih sebagai obat hipertensi ?
3) Bagaimana mekanisme senyawa aktif pegagan dalam mengobati hipertensi ?
4) Bagaimana penentuan dosis, interaksi obat, efek samping ?
5) Bagaimana standarisasi ekstrak bawang putih ?
2.3 Analisis kasus
Berdasarkan JNC 7 Tuan Damar disimpulkan menderita hipertensi stage 1 sebab
tekanan darah sistolik beliau tuan damar berada dalam range 140-159 mmHg dan
berdasarkan JNC 8 target tekanan darah untuk tuan damar yang berusia < 60 tahun yaitu
140/90 mmHg, dengan nyeri/ kekakuan pada tengkuk sebagai manifestasi klinis dari
hipertensi yang beliau derita.

2.3.1 Pengertian Hipertensi


Hipertensi adalah suatu kondisi peningkatan tekanan darah arterial secara persisten,
dengan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg
(DiPiro et al., 1998; Ried et al., 2008). Menurut JNC 7, tekanan darah diklasifikan ke
dalam beberapa kategori sebagai berikut:

Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Normal < 120 < 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Stage 1 140-159 90-99
Stage 2 ≥ 160 ≥ 99

Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi

5
2.3.2 Patofisiologi Hipertensi

Gambar 1. Patofisiologi Hipertensi

2.3.3 Tanaman Berkhasiat Sebagai Antihipertensi


Hasil pencarian pustaka menunjukkan ada beberapa tanaman yang dapat digunakan
sebagai penurun tekanan darah yaitu bawang putih (Allium sativum L), seledri (Apium
graveolens L.) dan kumis kucing (Orthosiphon aristatus). Dari beberapa informasi yang
ditemukan bawang putih yang menjadi pilihan utama karena dapat menurunkan tekanan
darah secara poten dibandingkan dengan plasebo berdasarkan hasil sistematik review
dari 25 hasil penelitian dimana 11 di antaranya direview secara meta analisis (Ried et
al., 2008). Bawang putih mempunyai beberapa mekanisme aksi sebagai antihipertensi
sehingga dapat disimpulkan bahwa efek yang dihasilkan cukup poten, selain itu bawang
putih adalah tanaman yang sangat lazim tersedia di rumah dan dapat dikonsumsi tanpa
preparasi sehingga memudahkan pasien.

Nama tanaman : Bawang Putih / Garlic

6
Nama Ilmiah : Allium sativum L.
Senyawa Aktif : Allicin (komponen utama dan paling poten), diallyl disulphide
(DDS), S-allylcysteine (SAC) and diallyl trisulfide (DTS)
(Mikaili et al., 2013).
Struktur kimia :

Gambar 2. Allicin (Pubchem)

2.3.4 Sifat fisikokimia


Allicin mempunyai berat molekul 162,265 g/mol, titik leleh 250C, titik didih 2480C,
kelarutan 24 mg/mL pada suhu 100C dalam air, dan tidak dapat bercampur dengan
etanol, eter dan benzen (Pubchem). Stabilitas: pada suhu ruang, allicin dalam bentuk
ekstrak air lebih stabil apabila disimpan pada pH 5-6 dan terdegradasi dengan cepat jika
pH diturunkan hingga < 1,5 atau dinaikkan hingga > 11, atau apabila suhu penyimpanan
> 40oC-70oC, pada kondisi yang buruk, allicin terdegradasi pada rentang waktu 30
hingga 120 menit. Pada suhu ruang, allisin dalam air dapat disimpan hingga 5 hari tanpa
adanya degradasi. Penyimpanan dalam konsentrasi tinggi menunjukkan kestabilan yang
lebih baik (Wang et al., 2014).

2.3.5 Khasiat
Bawang putih mengandung senyawa aktif berupa organosulfur yang terdiri dari
Allicin sebagai komponen yang paling utama dari bawang putih, diallyl disulphide
(DDS), S-allylcysteine (SAC) dan diallyl trisulfide (DTS) yang mempunyai beragam
aktivitas farmakologi yaitu mampu mengurangi resiko kardiovaskular meliputi
antitrombotik, antidiabetes, antiaterosklerosis dan antihipertensi. Mengurangi resiko
kanker meliputi efek antitumorigenetik, antioksidan, antikarsinogenik dan fungsi
apoptosis. Organosulfur lainnya mempunyai efek antimikrobial dan antiinflamasi yaitu
Ajoene (Lee et al., 2012; Dubey et al., 2017).
2.3.6 Dosis (Febyan et al., 2015)
Dosis yang digunakan untuk antihipertensi adalah 600-900 mg serbuk bawang putih,
4 gram bawang putih segar, 8 mg minyak bawang putih (allicin) per hari.

7
2.3.7 Mekanisme kerja zat aktif (Febyan et al., 2015)
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk menentukan
mekanisme aksi dari bawang putih diperoleh beberapa mekanisme yang diperkirakan
menyebabkan penurunan tekanan darah, yaitu :

Gambar 3. Mekanisme Kerja Zat Aktif

a. Meningkatkan komponen vasodilatasi, yaitu nitrit oksida (NO).

8
Gambar 4. Mekanisme Kerja Meningkatkan Nitrit Oksida (Ried & Fakler, 2014).

Hal ini terjadi dengan cara menyumbangkan arginin yang merupakan prekursor NO.
Arginin ini kemudian akan diubah oleh enzim nitrite oxidase menjadi nitrit oksida.
Nitrit oksida kemudian akan menstimulasi guanylate cyclase yang kemudian
mengubah GTP (guanosine triphosphate) menjadi cyclic-GMP. Cyclic-GMP
mengaktifkan protein kinase G yang menyebabkan pengambilan ulang Ca2+ dan
pembukaan saluran kalium yang diaktifkan oleh kalsium. Menurunnya konsentrasi
Ca2+ memastikan bahwa myosin light-chain kinase (MLCK) tidak dapat
memfosforilasikan lebih lama molekul miosin, sehingga menghentikan siklus
jembatan silang dan menyebabkan relaksasi sel otot polos pembuluh darah sehingga
terjadi vasodilatasi.

b. Allicin bekerja menyerupai ACE inhibitor. Allicin dan derivatnya merupakan


peptida yang mempunyai gugus yang mirip dengan angiotensin I sehingga
keberadaannya menyebabkan angiotensin I tidak bisa menduduki kanal reseptornya
pada enzim ACE, dan tidak diubah menjadi angiotensin II yang merupakan
vasokonstriktor poten. Tidak terbentuknya angiotensin II juga menyebabkan

9
penurunan sekresi aldosteron pada kelenjar adrenal, mengurangi penyerapan Na dan
air sehingga volume plasma akan turun yang berakibat pada penurunan tekanan
darah.
c. Pengubahan angiotensin I menjadi angiotensin II yang diperantarai oleh ACE
membutuhkan bradikinin. Hambatan ACE oleh allicin menyebabkan penumpukan
bradikinin di dalam tubuh. Bradikinin akan mengaktifkan enzim phospholipase yang
kemudian menyebabkan pelepasan asam arakidonat, yaitu prekursor PGE2
(prostaglandin E2) yang merupakan vasodilator sehingga terjadi penurunan tekanan
darah, meskipun efek PGE2 tidak terlalu signifikan berpengaruh terhadap tekanan
darah karena merupakan vasodilator lemah (Al-Qattan et al., 2001). Pada saat
bersamaan bradikinin akan berikatan dengan reseptor BK2 yang terdapat pada sel
endotel pembuluh darah dan menstimulasi produksi dari NO.
d. Allicin ternyata mempunyai efek hambatan pada cycloxygenase 1 (COX1) yang
berperan mengubah asam arakidonat menjadi tromboksan yang merupakan
komponen vasokonstriktor. Dengan demikian, terjadi vasodilatasi yang berujung
pada penurunan tekanan darah.

2.3.8 Mekanisme kerja obat sintetis (Sukandar et al., 2008)


a. Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE-Inhibitor)
Kaptopril merupakan ACE-inhibitor pertama yang banyak digunakan di klinik untuk
pengobatan hipertensi dan gagal jantung. Mekanisme kerjanya yaitu secara langsung
menghambat pembentukan Angiotensin II dan pada saat yang bersamaan
meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa vasokonstriksi yang berkurang,
berkurangnya natrium dan retensi air dan meningkatkan vasodilatasi (melalui
bradikinin). Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Kaptopril, Enalapril,
Benazepril, Fosinopril, Moexipril, Quianapril, Lisinopril.
b. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis. Diuretik
menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan garam yang tersimpan di dalam
tubuh. Pengaruhnya ada dua tahap yaitu: (1) Pengurangan dari volume darah total
dan curah jantung yang menyebabkan meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer; (2) Ketika curah jantung kembali ke ambang normal, resistensi pembuluh
darah perifer juga berkurang. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah

10
Bumetanide, Furosemide, Hydrochlorothiazide, Triamterene, Amiloride,
Chlorothiazide, Chlorthaldion.
c. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Mekanisme kerja: sebagai inhibitor kompetitif dari resptor Angiotensin tipe I (AT1).
Pengaruhnya lebih spesifik pada Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali
tidak ada produksi ataupun metabolisme bradikinin. Contoh antihipertensi dari
golongan ini adalah Losartan, Valsartan, Candesartan, Irbesartan, Telmisartan,
Eprosartan, Zolosartan.
d. Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot polos pembuluh darah
dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan
relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan resistensi perifer
ini sering diikuti efek takikardia dan vasokonstriksi, terutama bila menggunakan
golongan obat dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan Diltiazem dan Veparamil tidak
menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif langsung pada jantung.
Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Amlodipine, Diltiazem, Verapamil,
Nifedipine.
e. Penghambat Reseptor α1
Prasozin, terasozin dan doksazosin merupakan penghambat reseptor α1 yang
menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vaskuler perifer yang memberikan
efek vasodiltasi.
Obat sintetis yang menjadi acuan pengobatan hipertensi Tuan Damar yang dipilih
adalah golongan ACEI sebab Bawang Putih (Allicin) mempunyai aksi yang serupa.

2.3.9 Interaksi obat


Mempengaruhi farmakokinetika dan farmakodinamika obat antiretroviral.
Kemungkinan mekanisme interaksi tersebut dikarenakan suplemen mengandung allisin
dapat menginduksi isoenzim CYP450 3A4 dan secara klinik menyebabkan penurunan
konsentrasi obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Meskipun beberapa belum
terbukti, sebaiknya hindari penggunaan bersamaan dengan penghambat protease,
siklosporin, ketokonazol, itraconazole, glukokortikoid, kontrasepsi oral, verapamil,
diltiazem, lovastatin, simvastatin dan atorvastatin. Allicin diperkirakan meningkatkan
toksisitas dari klorpopamid dan parasetamol sebagai akibat dari induksi enzim CYP450

11
yang menyebabkan terjadinya peningkatan metabolisme obat tersebut dan jumlah
metabolit reaktif yang dihasilkan. Meningkatkan resiko perdarahan agen antikoagulan
dan antiplatelet yang disebabkan oleh aksi sinergisme antara bawang putih dan agen
terkait dalam mencegah pembekuan darah (BPOM RI, 2011).

2.3.10 Toksisitas, Efek samping & Kontraindikasi


Toksisitas pada manusia belum dilaporkan. Pemberian ekstrak bawang putih
konsentrasi tinggi dan jangka panjang pada tikus menyebabkan terjadinya anemia,
penurunan berat badan dan kegagalan pertumbuhan akibat lisisnya sel darah merah, dan
kerusakan pada hati (Banerjee & Maulik, 2002). Dalam Permenkes no. 6 tahun 2016
disebutkan LD50 bawang putih 3034 mg/kgBB pada kelinci pada pemberian per oral.
Efek samping penggunaan bawang putih yang telah dilaporkan meliputi
gastrointestinal disorder apabila dikonsumsi dalam keadaan perut kosong yang
diperkirakan terjadi akibat adanya efek hambatan Allicin terhadap COX1 yang berperan
menghasilkan prostaglandin I2 dan prostasiklin yang berfungsi melindungi mukosa
lambung, dermatitis alergi, konjungtivitis alergi, rhinitis dan bronkospasma akibat
inhalasi serbuk bawang putih (Banerjee & Maulik, 2002; BPOM RI, 2011).
Bawang putih dikontraindikasikan pada pasien yang sedang menggunakan
antikoagulan atau antitrombotik, wanita hamil dan menyusui (BPOM RI, 2011).
2.3.11 Simplisia, Preparasi dan Parameter standarisasi (Depkes RI, 2008; Srihari
et al., 2015)
Simplisia berupa umbi lapis utuh, warna putih atau putih keunguan, bau khas, agak
pahit. Umbi bawang putih adalah umbi yang terbentuk dari roset daun, terdiri atas
beberapa umbi yang berkelompok membentuk sebuah umbi yang besar.
Kandungan kimia yang terdapat dalam bawang putih bersifat kurang stabil dan tidak
tahan terhadap pemanasan sehingga proses pembuatan serbuk bawang putih dilakukan
dengan metode spray drying menggunakan bahan pengisi 10% maltodekstrin. Bawang
putih diekstraksi dengan air perbandingan 1:6 sehingga seluruh kandungan di dalam
bawang putih tersari secara sempurna kemudian dikeringkan dengan spray drying pada
suhu inlet 180oC. Metode ini menghasilkan serbuk bawang putih yang kering dengan
kadar air 3-5 %, tidak mudah menyerap air, tetapi mudah larut dan stabil.

12
No Parameter Ekstrak
1. Spesifik
a. Identitas nama latin
b. Nama latin Allium sativum Linn.
c. Bagian tumbuhan Umbi lapis utuh
d. Nama Indonesia Bawang putih
e. Organoleptik
Bentuk Umbi lapis utuh
Warna Putih, putih keunguan
Bau Khas
Rasa Agak Pahit
f. Sari larut air ≥5%
g. larut etanol ≥ 4%
h. Kandungan minyak atsiri ≥ 0,5% b/v

2. Non-spesifik
Kadar abu total ≤ 3%
Kadar abu tidak larut asam <1 %
Susut pengeringan 3-5%
Tabel 2. Standarisasi Spesifik dan Non Spesifik

13
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan informasi yang dijelaskan dalam makalah ini maka Tuan Damar (58
Tahun) bisa mengkonsumsi herbal dari ekstrak bawang putih untuk dapat membantu
menurunkan tekanan darahnya. Dosis yang digunakan untuk dapat membantu
menurunkan tekanan darah adalah 600-900 mg serbuk bawang putih, 4 gram bawang
putih segar, 8 mg minyak bawang putih (allicin) per hari.

14
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qattan, K. K., Khan, I., Alnaqeeb, M. A., Ali, M., 2001, Thromboxane-B2,
prostaglandin-E2 and hypertension in the rat 2-kidney 1-clip model: a possible
mechanism of the garlic induced hypotension, Prostaglandins Leukot Essent
Fatty Acids, 64(1):5-10.

Banerjee, S. K., & Maulik, S. K. (2002). Effect of garlic on cardiovascular disorders: a


review. Nutrition Journal, 1, 4. http://doi.org/10.1186/1475-2891-1-4

BPOM RI, 2011, Acuan Sediaan Herbal Volume 6 Edisi I, Jakarta.

Depkes RI, 2008, Farmakope Herbal Indonesia, Jakarta.

DiPiro, J. T., DiPiro C. V., Wells, B. G., Schwinghammer, T. L., 1998,


Pharmacotherapy Handbook: 9th Edition, Mc Graw Hill, New York.

Dubey, H., Singh, A., Patole, A. M., & Tenpe, C. R., 2017, Antihypertensive effect of
allicin in dexamethasone-induced hypertensive rats, Integrative Medicine
Research, 6(1), 60–65. http://doi.org/10.1016/j.imr.2016.12.002

Febyan, Wijaya, S. H., Adinata, J., Hudyono, J., 2015, Peranan Allicin dari Ekstrak
Bawang Putih sebagai Pengobatan Komplemen Alternatif Hipertensi Stadium 1,
CDK 227 vol. 42 no. 4.

Lee, D. Y., Li, H., Lim, H. J., Lee, H. J., Jeon, R., & Ryu, J.-H. (2012). Anti-
Inflammatory Activity of Sulfur-Containing Compounds from Garlic. Journal of
Medicinal Food, 15(11), 992–999. http://doi.org/10.1089/jmf.2012.2275

Mikaili, P., Maadirad, S., Moloudizargari, M., Aghajanshakeri, S., & Sarahroodi, S.,
2013, Therapeutic Uses and Pharmacological Properties of Garlic, Shallot, and
Their Biologically Active Compounds. Iranian Journal of Basic Medical
Sciences, 16(10), 1031–1048.

Qidwai, W., & Ashfaq, T., 2013, Role of Garlic Usage in Cardiovascular Disease
Prevention: An Evidence-Based Approach, Evidence-Based Complementary and

15
Alternative Medicine : eCAM, 2013, 125649.
http://doi.org/10.1155/2013/125649

Ried K., Frank OR, Stock NP, Fakler P., Sullivan T., 2008. Effect Of Garlic on Blood
pressure : A systemic review and meta-analysis, BMC Cardiovascular Disorder
8: 13, doi : 10.1186/1471-2261/8/13

Ried, K., & Fakler, P., 2014, Potential of garlic (Allium sativum) in lowering high
blood pressure: mechanisms of action and clinical relevance, Integrated Blood
Pressure Control, 7, 71–82. http://doi.org/10.2147/IBPC.S51434

Srihari, E., Lingganingrum, F. S., Damiyanti, D., Fanggih, N., 2015, Ekstrak bawang
putih bubuk dengan menggunakan proses spray drying, Jurnal Teknik Kimia,
Vol 9, No.2.

Sukandar, E. Y., Retnosari A, Joseph I. S., I Ketut A., Adji P. S., Kusnandar, 2008, Iso
Farmakoterapi, ISFI Penerbitan, Jakarta.

16