Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sirsak (Annona muricata L.)

2.1.1 Definisi dan Morfologi

Sirsak (Annona muricata L) merupakan salah satu tanaman

buah yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan

yang memiliki rasa manis agak asam sehingga sering dipakai sebagai

bahan jus buah. Antioksidan yang terkandung dalam buah sirsak antara

lain vitamin C.

Tanaman sirsak termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh

dan berbuah sepanjang tahun, apabila air tanah mencukupi selama

pertumbuhannya. Di Indonesia tanaman sirsak menyebar dan tumbuh

baik mulai dari dataran rendah beriklim kering sampai daerah basah

dengan ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (Radi, 1998).

Daun sirsak berwarna hijau muda sampai hijau tua memiliki

panjang 6-18 cm, lebar 3-7 cm, bertekstur kasar, berbentuk bulat telur,

ujungnya lancip pendek, daun bagian atas mengkilap hijau dan gundul

pucat kusam di bagian bawah daun, berbentuk lateral saraf. Daun

sirsak memiliki bau tajam menyengat dengan tangkai daun pendek

sekitar 3-10 mm (Radi, 1998). Menurut Zuhud (2011), daun yang

berkualitas adalah daun sirsak dengan kandungan antioksidan yang

tinggi terdapat pada daun yang tumbuh pada urutan ke-3 sampai ke-5

8
9

dari pangkal batang daun dan dipetik pukul 5-6 pagi. Daun yang

terlalu muda belum banyak acetogenin yang terbentuk, sedangkan

kadar acetogenins pada daun yang terlalu tua sudah mulai rusak

sehingga kadarnya berkurang.

Bunga pohon sirsak besar namun memiliki bau yang tidak

begitu sedap dan hanya sekali sepanjang tahun. Bunga pohon sirsak

memiliki tangkai yang pendek, kelopaknya tebal dan terdiri dari tiga

sepalum kecil berwarna hijau tua sampai hijau kekuningan (Sunarjono,

2005).

Buah sirsak berbentuk lonjong dengan duri yang lunak. Buah

ini membesar dari banyak bakal buah, sehingga buah sirsak sering

disebut buah majemuk (komposit). Daging buah berwarna putih dan

dapat dimakan (pseudocarp). Buah sirsak matang akan terasa asam

sampai manis. Biji buah sirsak yang telah tua akan berwarna hitam

kecoklatan dan berbentuk pipih (Sunarjono, 2005)

Gambar 2.1. (a) Buah sirsak , (b) Daun sirsak , (c) Bunga sirsak
(Redaksi Trubus, 2012)
10

2.1.2 Taksonomi Annona muricata L.

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Polycarpiceae

Famili : Annonaceae

Genus : Annona

Spesies : Annona muricata L. (Sunarjono, 2005)

2.1.3 Kandungan Fitokimia Daun Sirsak (Annona muricata L.)

Daun sirsak memiliki kandungan kimia berupa alkaloid, tannin,

dan beberapa kandungan lainnya termasuk senyawa annonaceous

acetogenins. Annonaceous acetogenins merupakan senyawa yang

memiliki potensi sitotoksik. Senyawa sitotoksik merupakan senyawa

yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan

pertumbuhan sel kanker (Mardiana & Ratnasari, 2011).

Menurut Robinson (1995), kandungan senyawa dalam daun

sirsak antara lain steroid/terpenoid, flavonoid, kumarin, alkaloid, dan

tanin. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan untuk penyakit kanker,


11

anti mikroba, anti virus, pengatur fotosintetis, dan pengatur tumbuh.

Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan

termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji.

Kebanyakan flavonoid berada di dalam tumbuh-tumbuhan kecuali

alga. Alkaloid merupakan senyawa yang ada secara alami,

mengandung dasar atom nitrogen. Yang paling melimpah di Annona

muricata adalah retikulin dan coreximine, dan daun Annona muricata

sendiri mengandung konsentrasi alkaloid yang lebih tinggi daripada

organ lainnya pada tanaman tersebut (Leboeuf et al, 1981).

Annona muricata menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap

bakteri gram positif dan gram negatif. Efikasi bioaktivitasnya

tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam ekstraksi.

Bioaktivitas antimikroba ekstrak Annona muricata dikaitkan dengan

kandungan flavonoid, steroid dan alkaloid dalam ekstrak tanaman

tersebut (Radji et al., 2015). Aktifitas antibakteri ekstrak daun sirsak Commented [U1]: Dipindah ke bab2 lalu bab 2 nya dikirim ke
saya

diperoleh karena beragam kandungan senyawa di dalamnya. Ekstrak

metanol daun sirsak diketahui mengandung tanin dan flavonoid,

sehingga memiliki aktifitas antibakteri lebih baik dibanding dengan

fraksi kloroform dari ekstrak tersebut yang kandungan flavonoidnya

lebih sedikit (Haro, et al., 2012). Skrining fitokimia yang dilakukan

pada ekstrak air dan ekstrak metanol daun sirsak menunjukkan bahwa

kedua ekstrak mengandung senyawa steroid, glikosida jantung,

alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid (Solomon-Wisdom, et al.,


12

2014). Di dalam ekstrak air daun sirsak juga terdapat kandungan

vitamin C, SOD, dan fenol yang cukup tinggi. Sementara esktrak

etanol daun sirsak juga diketahui mengandung alkaloid, flavonoid,

glikosida, saponin dan tanin. (Vijayameena et al., 2013).

Tabel 2.1. Tabel Penapisan Fitokimia

Sumber : Dina Mulyanti dkk., 2015

2.1.4 Manfaat Daun Sirsak (Annona muricata L.)

Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk

pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun

sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga

dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, antikejang, anti jamur,

anti parasit, antimikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal-gatal, bisul,

flu, dan lain-lain (Mardiana, 2011). Menurut Adewole dan Martin

(2006) dalam Restuati (2013) menemukan bahwa daun sirsak memiliki

efek yang bermanfaat dalam meningkatkan aktivitas enzim antioksidan

dan hormon insulin pada jaringan pankreas serta melindungi dan


13

menjaga sel-sel β-pankreas. Menurut Holdsworth (1990) dalam

Restuati (2013) juga menyebutkan bahwa daun sirsak juga berpotensi

sebagai antihipertensi, antispasmodik, obat pereda nyeri, hipoglikemik,

antikanker, emetic (menyebabkan muntah), vermifuge (pembasmi

cacing).

Pada daun sirsak ditemukan senyawa acetogenin yang

bermanfaat mengobati berbagai penyakit. Acetogenin memiliki

sitotoksisitas terhadap sel kanker. Acetogenin berperan serta dalam

melindungi sistem kekebalan tubuh serta mencegah infeksi yang

mematikan (Erlinger, 2004). Hasil riset menyatakan, sirsak

mengandung acetogenin yang mampu melawan 12 jenis sel kanker.

Banyaknya manfaat sirsak membuat orang mulai beralih mengonsumsi

suplemen herbal daun sirsak sebagai alternatif pencegahan dan

pengobatan konvensional (Adjie, 2011). Pada daun sirsak, telah

ditemukan 18 jenis annonaceous acetogenin dan telah terbukti secara

in vitro bersifat sitotoksik (Zeng et al, 1996)

Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa

ekstrak dari daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan dari bakteri

seperti Streptococcus pyogenes, Eschericia coli, Streptococcus mutans

dan Propionibacterium acnes. Menurut penelitian Dina Mulyanti dkk.,

(2015) ekstrak etanol daun sirsak diketahui memiliki aktivitas

antibakteri yang “lemah-sedang” terhadap pertumbuhan beberapa


14

bakteri uji yang digunakan, yaitu Propionibacterium acnes,

Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus epidermidis. Commented [U2]: Dipindah ke bab2 lalu bab 2 nya dikirim ke
saya

2.2 Mekanisme Kerja Ekstrak Annona muricata L. dalam Menghambat

Pertumbuhan Bakteri Streptococcus pyogenes

Ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung senyawa

acetogenin Annonaceous, yaitu annomuricine dan muricapentocin yang

memiliki efek antibakteri (Simbala, 2009). Daun dari sirsak (Annona

muricata L.) menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram positif

dan gram negatif. Kandungan senyawa dalam daun sirsak seperti tanin,

flavonoid, saponin dan alkaloid berperan dalam menghambat dan

menghancurkan sel bakteri. Misalnya, tanin yang terdapat dalam daun sirsak

berperan menghalangi sintesa normal dari bakteri yang akan menyebabkan

lisis sel sehingga mengakibatkan kematian sel bakteri. Begitu pula dengan

senyawa lain yang terdapat dalam daun sirsak. Senyawa flavonoid yang

terdapat dalam sirsak dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik

dengan mengganggu fungsi organisme, seperti bakteri atau virus. Flavonoid

digolongkan sebagai senyawa yang bersifat bakteriostatik yang dapat

merusak membran sel bakteri dan keluarnya senyawa intraseluler

(Roslizawati, 2013)
15

2.3 Streptococcus pyogenes

2.3.1 Definisi dan Morfologi

Streptococcus pyogenes merupakan bakteri Gram positif, nonmotil,

tidak berspora, membentuk kokus yang berbentuk rantai, berdiameter

0,6 - 1,0 mikrometer dan fakultatif anaerob. Bakteri ini melakukan

metabolisme secara fermentasi. Streptococcus pyogenes digolongkan

ke dalam bakteri hemolitik-β, sehingga membentuk zona terang bila

ditumbuhkan dalam media agar darah (Cunningham, 2000).

Streptococcus pyogenes dapat tumbuh baik pada suhu optimum 37oC.

Streptococcus pyogenes mudah tumbuh dalam media BAP.

Penambahan glukosa dalam konsentrasi 0.5% akan meningkatkan

pertumbuhannya tetapi menyebabkan penurunan daya lisisnya

terhadap sel darah merah. Dalam lempeng agar yang diinkubasi pada

suhu 37oC selama 18 – 24 jam akan membentuk koloni kecil keabu-

abuan, bentuknya bulat, pinggir rata pada permukaan media, koloni

tampak seperti setitik cairan (Shulman, 2003).


16

Gambar 2.3 Bakteri Streptococcus pyogenes pada media Blood Agar Plate
Sumber : www.microbiologyinpictures.com

2.4 Taksonomi Streptococcus pyogenes

Kingdom : Bacteria

Filum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Lactobacillales

Family : Streptococcaceae

Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus pyogenes

Gambar 2.4 Bakteri Streptococcus pyogenes


dalam 3D
Sumber : CDC

2.5 Patogenitas Streptococcus pyogenes

Streptococcus pyogenes merupakan salah satu patogen yang banyak

menginfeksi manusia. Diperkirakan 5-15% individu normal memiliki bakteri

ini dan biasanya terdapat pada saluran pernafasan, namun tidak menimbulkan

gejala penyakit. S. pyogenes dapat menginfeksi ketika pertahanan tubuh

inang menurun atau ketika organisme tersebut mampu berpenetrasi melewati


17

pertahanan inang yang ada. Bila bakteri ini tersebar sampai ke jaringan yang

rentan, maka infeksi supuratif dapat terjadi. Infeksi ini dapat berupa

faringitis, tonsilitis, impetigo dan demam scarlet. Streptococcus pyogenes

juga dapat menyebabkan penyakit invasif seperti infeksi tulang, necrotizing

fasciitis, radang otot, meningitis dan endokarditis (Cunningham, 2000).

Demam rematik dan glomerulonefritis merupakan penyakit

streptokokus akibat komplikasi non supuratif atau sekuele. Demam rematik

akut dapat terjadiapabila penderita yang terinfeksi S. pyogenes 1-5 minggu

sebelumnya tidakmendapat penanganan segera. Sekuele ini terjadi akibat

adanya antibodi protein M yang bereaksi silang dengan protein jaringan

jantung sehingga menimbulkan peradangan jantung atau lebih dikenal dengan

penyakit jantung rematik. Penderita pada umumnya akan mengalami

kerusakan pada sebagian otot jantung dan katup jantung. (Cunningham,

2000). Glomerulonefritis akut diduga terjadi akibat deposisi kompleks

antigen-antibodi pada membran glomeruli ginjal. Gejala glomerulonefritis

biasanya terjadi 10 hari setelah infeksi tenggorokan atau kulit oleh S.

pyogenes dan umumnya menyerang anak-anak usia 3-4 tahun. Pada orang

dewasa, penyakit ini dapat menyebabkan gagal ginjal kronis (Guzman dkk.,

1999).

2.6 Patogenesis dan Imunitas Streptococcus pyogenes

Virulensi dari GAS ditentukan oleh kemampuan bakteri melekat pada

permukaan sel, invasi ke dalam sel epitel dan menghindari peristiwa

opsonisasi, fagositosis dan memproduksi beragam toksin dan enzim (Murray,


18

2005). Organisme berikatan ke membran mukosa melalui asam lipotechoic

(LTA) yang ada di dinding sel streptokokus. LTA adalah cytotoksik dan

mampu melakukan beberapa aktifitas biologi. Sekali terikat, streptokokus

akan bertahan terhadap fagositosis, memperbanyak diri dan mulai menginvasi

jaringan sekitar. Sebagai tambahan terhadap protein M, organisme ini

memiliki kemampuan virulensi lain seperti C5A peptidase. Peptidase C5

menghancurkan sinyal kimia dengan memotong komponen C5A pada jalur

komplemen (Sharma, 1996)

S.pyogenes juga memiliki banyak mekanisme untuk menghindari

opsonisasi dan fagositosis. Regio dari protein M dapat mengikat faktor H dari

β-globulin serum yang merupakan protein regulator untuk jalur alternatif dari

komplemen. Komponen komplemen C3b, mediator untuk fagositosis di-tidak

stabilkan oleh faktor H. Saat C3b terikat pada permukaan sel di regio protein

M, C3b akan didegradasi oleh faktor H dan fagositosis akan tercegah

(Murray, 2005)

2.7 Diagnosis Laboratorium

2.7.1 Spesimen

Spesimen yang diambil tergantung dari infeksi streptokokus

yang terjadi. Untuk kultur, digunakan spesimen yang berasal dari

usap tenggorokan, pus, atau darah. Sedangkan untuk pemeriksaan

antibodi, digunakan spesimen serum (Jawetz, 2005). Meskipun

sulit untuk melakukan pengambilan spesimen usap tenggorokan


19

dari anak, namun spesimen harus diambil dari bagian orofaring

posterior. Bakteri yang berada di daerah anterior mulut lebih

sedikit, dan mulut (khususnya saliva) terkolonisasi oleh bakteri

yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus pyogenes

(Murray, 2005).

2.7.2 Pemeriksaan Mikroskopis

Sebagai diagnosis preliminer dari infeksi jaringan lunak

maupun pyoderma dapat dilakukan pewarnaan Gram dari sampel

yang berasal dari jaringan yang terkena. Dijumpainya kokus Gram

positif berpasangan dan berantai serta adanya lekositosis

merupakan hal yang penting oleh karena streptokokus bukan flora

normal pada kulit. Sebaliknya, streptokokus merupakan bagian dari

flora normal orofaring, sehingga keberadaannya pada spesimen

pernafasan dari pasien faringitis memiliki nilai prediksi yang jelek

(Jawetz, 2005). Identifikasi langsung secara mikroskopis dari

Streptokokus ini sangat membantu terutama pada spesimen dari

lokasi steril, seperti cairan serebrospinal (Murray, 2007).

Streptokokus dapat menjadi Gram negatif oleh karena organisme

yang tidak dapat bertahan hidup lama serta menjadi kehilangan

kemampuannya untuk menahan zat warna ungu kristal (Jawetz,

2005).
20

2.8 Pengobatan

Antibiotika telah mengubah prognosis semua macam infeksi

streptokokus secara radikal. Pengobatan yang dini dan teratur dengan

antibiotika pada umumnya memberikan penyembuhan.

Streptococcus pyogenes sensitif terhadap penisilin G. Ada beberapa

yang resisten terhadap tetrasiklin. Pada endokarditis bakterialis, tes

sensitivitas kuman berbagai macam antibiotika sangat diperlukan, karena

hasilnya penting untuk menentukan pengobatan yang optimum.

Aminoglikosida sering dapat mempertinggi daya kerja penisilin terhadap

kuman streptokokus, terutama enterokokus. Obat-obatan antibiotika tidak

berpengaruh terhadap glumerulonefritis dan demam rheuma yang telah

terjadi. Namun pada infeksi streptokokus yang akut, harus diusahakan untuk

membasmi bersih kuman streptokokus dari tubuh penderita, yang berarti

mencegah terbentuknya antigen yang dapat menyebabkan timbulnya

penyakit-penyakit setelah infeksi streptokokus. Obat-obat antibiotika juga

bermanfaat untuk mencegah atau untuk mengobati penderita rheuma

terhadap reinfeksi oleh Streptococcus pyogenes (Anggun, 2007).