Anda di halaman 1dari 15

1.

Topik : Studi Kasus Pendaratan Sekutu Di Incheon Pada 5 September 1950 Ditinjau
Dari Aspek Operasi Amfibi dan Manfaatnya Bagi TNI AL.

2. Latar Belakang
a. Umum.
Korea adalah bangsa dengan sejarah yang panjang. Terletak di wilayah
semenanjung Asia Timur, ke dua negara itu jika disatukan memiliki luas 219.629
kilometer persegi termasuk 3.500 pulau kecil di lepas pantai.1 Sejarah perang korea
diawali ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Korea terbelah, utara diduduki Uni
Sovyet dan selatan dikuasai Amerika Serikat. Batas negara ditetapkan garis lintang
38°LU. Kedua negara itu meninggalkan daerah pendudukannya setelah keduanya
merdeka. Korea Utara merdeka 1 Mei 1948 dan Korea Selatan 15 Agustus 1948. Tapi
perjalanan kedua negara bersaudara itu tidak lepas dari berbagai kepentingan negara
lain, sampai akhirnya terjadi perang besar yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Sovyet,
PBB, China dan negara lain. 2 Amerika yang menduduki Korea bagian selatan ingin
mempertahankan keberadannya di Korea dari serbuan Korea Utara yang didukung oleh
Uni Sovyet dan Cina serta ingin membendung faham komunis yang ada di Korea Utara
agar tidak menyebar ke Korea Selatan yang dibawah kendalinya. Sementara itu Korea
Utara ingin menyatukan Korea menjadi satu negara Komunis yang didukung oleh Uni
Sovyet dan Cina sebagai negara utama yang berfaham Komunis, dimana hal ini
bertentangan dengan dunia internasional terutama PBB. Perang Ini terjadi pada tahun
1950 yang dikenal dengan Perang Korea. Pengusiran tentara Korea utara ini diawali
dengan operasi Amfibi di Incheon pada 15 September 1950.
b. Kronologis. peristiwa operasi pendaratan Amfibi di Inchon semenanjung Korea pada
September 1950 adalah sebagai berikut : 3
1) Pra Kejadian.
(a) Pada tanggal 25 Juni 1950 pasukan Korea utara dengan kekuatan
90.000 prajurit dari 7 divisi infanteri NPKA dalam lindungan tembakan mortir
memasuki perbatasan Korea selatan pada garis perbatasan (lintang 38°LU)

1 https://rappler.idntimes.com/christian-simbolon/di-balik-unifikasi-dua-korea-jalan-panjang-menuju-panmunjeom-

1/full, diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul 17.00 WIB.


2 https://dunia.tempo.co/read/372526/kim-jong-il-dan-sejarah-korea-utara, diakses pada tanggal 28 Juli Pukul

17.30 WIB.
3 Fransminggi Kamasa.(2016). Perang Korea. Jogjakarta; penerbit Narasi. Hal 216-222.
2
sepanjang 40 km. Kekuatan NKPA juga didukung lebih dari 150 Tank T34/85,
1.700 unit Howitzer 122 mm dan meriam Artileri Medan 76mm. Selain itu juga
adanya dukungan dari Uni Sovyet lebih dari 200 unit pesawat serbu. Dari
penyerbuan ini, akhirnya pada 4 Agustus 1950 NKPA berhasil menembus
perimeter Pusan.
(b) Berdasarkan kondisi tersebut, setelah gagal dalam upaya diplomasi
maka PBB memutuskan untuk melaksanakan operasi militer untuk memaksa
pengunduran kekuatan militer Korea utara menuju lintang 38°LU sebagai garis
demarkasi. PBB memutuskan untuk meminta bantuan Amerika Serikat dan
beberapa negara lain yang dilibatkan. Ide operasi amfibi ini dicetuskan oleh
Jendral McArthur setelah meninjau mandala pertempuran pada 29 Juni 1950.
Operasi pendaratan Amfibi dengan sandi “Operation Chromite “dilakukan pada
tanggal 15 September 1950 di Incheon, jauh di belakang kekuatan militer
Korea utara yang telah menuju ke selatan.

Gambar 1 : Kronologis penyerbuan tentara Korea Utara4

4http://www.koreanwaronline.com/arms/pusan.htm. Diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul 19.00 WIB.


3
2) Kejadian. Pelaksanaan pendaratan diatur dalam urutan sebagai
berikut :
(a) Pada jam 6.30 Pasukan Korps ke-X Mendarat di Green Beach/Pantai
Hijau. Pasukan ini terdiri dari Batalion 3 Satuan Marinir ke-5 dan 9 tank M26
Pershing dari Batalion 1 tank. Setelah berhasil menyerang titik-titik serbuan
selanjutnya menunggu pasang naik sampai dengan jam 7.50 untuk
pendaratan kesatuan lainnya/Ratmin.
(b) Pada jam 17.32 kesatuan Resimen Marinir ke-1 mendarat di pantai
Biru/Blue Beach. Pendaratan di pantai ini didahului dengan BTK untuk
membungkam meriam pantai NKPA yang berhasil menenggelamkan satu LST.
(c) Pada jam 17.33 kesatuan Resimen Marinir ke-5 mendarat di pantai
Merah/Red Beach. Kesatuan ini adalah Tim 5 Resimen Tempur/Combat
Regimental Team 5 yang mendarat menggunakan tangga.
(d) Setelah seluruh daerah serbuan berhasil dikuasai maka dilanjutkan
dengan pendaratan administrasi untuk mendaratkan supply logistik yang terdiri
dari tim UDTs serta zeni konstruksi USMC dengan sebuah dock ponton di
pantai Hijau/Green Beach dan melaksanakan pembersihan pantai ( beach
clearence).
4

Gambar 2 : Kronologis pendaratan Amfibi di Inchon 5

3) Pasca Kejadian.
Pada Tanggal 28 September, Seoul secara resmi berhasil dikuasai oleh
pasukan sekutu dan pada tanggal 29 September Mac Arthur menyerahkan kembali
pemerintahan kepada pemimpin Korea Selatan yaitu Syngman Rhee, maka secara
resmi Operasi Chromite dinyatakan berakhir dengan korban sebanyak 566 personel
pasukan PBB tewas dan 2.713 orang lainnya terluka, sementara dari pihak NKPA
sebanyak 35.000 personel tewas, terluka, atau tertangkap.6

Gambar-3 : Situasi Pantai Incheon setelah Operasi Amfibi.7

3. Analisis
a. Tujuan Operasi.
Tujuan Operasi Chromite adalah merebut Incheon dan menciptakan tumpuan pantai
(beachhead), menduduki lapangan udara Kimpo, melintasi sungai Han dan merebut
Seoul, serta menduduki posisi-posisi penghalang ke arah utara, timur dan arah timur
Seoul. Dampak dan hasil Keberhasilan pendaratan Incheon ini membuat jalan pasukan

5
Ibid.
6 https://internasional.kompas.com/read/2014/09/19/16193321/Pertempuran Incheon Sebuah Mahakarya
Strategi Perang. Diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul 23.00 WIB.
7 Ballard, John.R.(2001). Operation Chromite ; Counterattack at Incheon. Joint Force Quarterly Journal. Hal 35.
5
PBB untuk merebut Seoul terbuka lebar. Pada 25 September 1950, pasukan PBB
berhasil merebut Seoul setelah melewati perang dari rumah ke rumah yang sangat brutal.
Selain itu, keberhasilan pendaratan Incheon memicu keberhasilan pasukan angkatan
darat AS ke-8 menerobos Pusan Perimeter dan memaksa NKPA melakukan gerak
mundur yang panjang ke utara.

b. Pelaksanaan Operasi.

1) Penerimaan Direktif.
Pada tanggal 7 Juli 1950 McArthur menerima Direktif dari Presiden Truman
dan resmi diangkat sebagai “Supreme Commander Allied Forces” (Panglima
Tertinggi Pasukan Sekutu) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam. Operasi yang
dilaksanakan Mc Arthur dalam rangka membantu Korea Selatan selanjutnya disebut
dengan nama sandi “Operation Chromite’’.
2) Perencanaan.
Setelah mendapat persetujuan dari Kepala Staf Gabungan, maka Jenderal
Mac Arthur segera membuat perencanaan Operasi Amfibi bersama Mayjend
OP.Smith di Tokyo. Dalam perencaan ini mereka merancang rincian pendaratan
(Green Beach, red Beach, dan Blue Beach) dan penggunaan kekuatan kapa-kapal
penyerang, kapal eskorta berkecepatan tinggi dan LSD (Landing Ship Dock ).
Diputuskan juga tugas marinir adalah ; Merebut Inchon dan menciptakan suatu
pertahan pantai ; Menduduki lapangan udara Kimpo ; Melintasi Sungai Han dan
merebut Seoul ;Serta menduduki posis-posisi penghalang ke arah timur ibu kota.
a) Perencanaan Intelijen. Perencanaan intelijen ini diselenggarakan dengan
mengirimkan tim intelijen militer dan CIA ke daerah sasaran dengan cara
penyusupan dipimpin oleh Letnan Eugene Clark.
b) Rencana dukungan logistik. Dukungan penyelenggaraan operasi telah
diberangkatkan sejak awal oleh tim aju yang mempersiapkan logistik untuk
kepentingan operasi yang dipimpin oleh Mayor Jenderal John H Church.
3) Embarkasi.
Tahap embarkasi dimulai pada tanggal 3 September dimana pasukan Divisi
Marinir I dari pantai barat Jepang mulai masuk ke kapal-kapal pendarat, yang
selanjutnya bertugas melancarkan serangan kedua pada malam hari. Selama
proses embarkasi mengalami kesulitan akibat cuaca yang buruk dengan terjadinya
6
topan Jane serta perlunya memindahkan setiap pasukan marinir yang usianya
dibawah 18 tahun (kira-kira berjumlah 500 orang) ke status non-combatant, sesuai
dengan keputusan US Navy pada saat-saat terakhir. Titik-titik embarkasih yang di
tentukan adalah sebagai berikut :
a) Pusan (untuk embarkasi pasukan Korea Selatan)
b) Sasebo
c) Kobe
d) Yokohama

Gambar 3 : Peta Titik-titik Embarkasi Pasukan dan Rute GMS8

Pelaksanaan Embarkasi Embarkasi dilaksanakan tanggal 3 Agustus 1950 oleh


Divisi Marinir ke-1 dan bergabung dengan Corps X USMC untuk mendarat di Pusan.
Kemudian tanggal 9-11 September berurutan Divisi ke-7 melaksanakan embarkasi
dari Yokohama menuju ke Inchon dan Resimen ke-7 serta Resimen ke-1
melaksanakan embarkasi dari Kobe Jepang ke Inchon. Kekuatan laut yang
digunakan sebanyak 261 kapal perang dari 17 negara.

4) Latihan umum.
Pendeknya waktu antara persiapan dan pelaks latihan umum tidak
dilaksanakan.

8 https://weaponsandwarfare.com/2015/10/05/inchon-landings/ diakses pada 29 Juli 2018 Pukul 00.30 WIB.


7

5) Gerakan menuju Sasaran.


Pada tahap gerakan menuju sasaran rute yang digunakan adalah disesuaikan
dengan daerah serbuan amfibi di barat semenanjung yaitu Samudera Pasifik-laut
China Timur-Laut Kuning untuk yang titik embarkasi dari Yokohama dan Kobe.
Sedang untuk Pusan dan Sasebo adalah Selat Tsushima-Laut China Timur-Laut
Kuning. Pada tahap ini ditetapkan 2 titik RV yaitu titik IOWA dan ARKANSAS. Pada
tahap ini pula dilaksanakan penggugus tugasan kedalam 7 gugus tugas oleh karena
jumlah kapal terlibat yang cukup besar yaitu lebih dari 230 kapal berbagai jenis.9
a) Task Force/TF 90: Attack Force/Kekuatan penyerang yang terdiri dari
kapal-kapal eskort, dibawah pimpinan Rear Adm. James H. Doyle dari USN.
b) TF 92: X Corps, dibawah pimpinan Maj. Gen. Edward M. Almond dari
USMC, adalah pasukan pendarat.
c) TF 99: Patrol & Reconnaissance Force/Kekuatan Patroli dan pengintaian,
dibawah pimpinan Rear Adm. G. R. Henderson, kekuatan ini terdiri dari kapal-
kapal patroli.
d) TF 91: Blockade & Covering Force/Blokade dan kekuatan lindung,
dibawah pimpinan Rear Adm. W. G. Andrews dari Inggris, melibatkan
kekuatan kapal-kapal Inggris dengan jenis kapal-kapal destroyer.
e) TF 77: Fast Carrier Force/kapal induk, dibawah pimpinan Rear Adm. E. C.
Ewen dari USN, dengan kekuatan kapal induk.
f) TF 79: Logistic Support Force, dibawah pimpinan Capt. B. L. Austin dari
USN, dengan kekuatan kapal-kapal Bantu.
g) TF 70.1: Flagship Group/kapal komando, dibawah pimpinan Capt. E. L.
Woodyard dari USN, dengan kekuatan kapal komando yang memiliki fasilitas
kodal.

6) Serbuan Amfibi.
Tahap ini diawali beberapa kegiatan yang merupakan awal tahap serbuan atau
disebut dengan pra serbuan. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu :

9 Appleman, Roy E.(1992). South To The Naktong, North To The Yalu. Washington, D. C. Hal 49.
8
a) Serangan udara, tujuannya adalah untuk melakukan isolasi area
pendaratan. Kegiatan ini dilaksanakan H-10 (mulai 4 September) sampai
dengan pelaksanaan serbuan.
b) Serangan bom napalm oleh Marine air elemen.
c) Pelaksanaan BTK untuk menetralisir meriam-meriam pantai, pelaksanaan
dilakukan oleh unsur-unsur BTK yang terdiri dari 2 unsur heavy cruisers
Amerika, 2 unsur light cruisers Inggris dan 6 destroyer Amerika.
d) Menetralisir bahaya ranjau pantai di selat ikan terbang dengan
menugaskan unsur penyapu ranjau pada H-2.
e) Pada jam J-1 BTK tetap dilaksanakan dan ditambah dengan serangan
udara. Selanjutnya papal-kapal destroyer menunggu lebih kurang 1 jam
kemudian bergerak dekat untuk lego jangkar di Wolmi-do setelah diyakinkan
bahwa tidak ada tembakan balasan dari pantai atau meriam pantai telah dapat
dinetralisir.
f) Tahap berikutnya adalah serbuan, setelah diagram serbuan terbentuk.
Pada tahap ini Korps ke-X pasukan pendarat mendarat di Inchon dengan
kekuatan mendekati 70,000 personel, diikuti dengan pendaratan Advance
Attack Group termasuk unsur artileri/bantuan tembakan dan BTP yang mulai
bergerak mendekat ke Inchon pada jam 2.00. Pasukan pendarat yang pertama
menyentuh pantai hampir sama sekali tidak mendapatkan perlawanan.
Selanjutnya diikuti gelombang yang disertai dengan kapal-kapal LSV's
pembawa tank. Gelombang ketiga membawa dozer blades untuk
menhancurkan pagar kawat berduri barbed wire, menutup parit-parit dan
gorong-gorong.

7) Pengakhiran Operasi Amfibi.


Tahap pengakhiran pada operasi pendaratan di Inchon ini dinyatakan setelah
tumpuan pantai berhasil dikuasai dan dilanjutkan dengan operasi darat lanjutan. Hal
ini dinyatakan setelah pada sore tanggal 16 September, Jenderal Smith mendirikan
pos komando di timur Ichon dan dari sini pada jam 18.00 Laksamana Doyle
menyerahkan tanggung jawab untuk operasi darat lanjutan. Komando dan
Pengendalian, pelaksanaan kodal selama operasi amfibi adalah dilakukan dari
kapal Flagship Group/kapal komando, dibawah pimpinan Capt. E. L. Woodyard dari
USN, dimana memiliki fasilitas kodal yang lengkap.
9

c. Hal – hal yang tidak dapat dilaksanakan. Operasi ini berjalan sukses , tidak ada
kegagalan pelaksanaan dari hal yang telah di rencanakan. Ada berapa kesulitan yang
harus di hadapi dalam pelaksanaan operasi yaitu :
1) Pasukan terdiri dari berbagai negara memerlukan kepemimpinan dan
pengendalian yang rumit di lapangan.
2) Operasi yang digunakan adalah pendaratan amfibi yang mensinergikan berbagai
kekuatan matra sehingga memerlukan kesiapan dan disiplin yang tinggi.
3) Daerah sasaran jauh dari pangkalan sehingga membutuhkan dukungan logistik
yang banyak.

d. Tinjauan berdasarkan azaz dan prinsip Operasi Amfibi. Dalam penggelaran Operasi
Amfibi, dikenal adanya azas-azas dan Prinsip yang bisa dijadikan sebagai bahan acuan
pertimbangan. Analis Operasi pendaratan Amfibi yang dilakukan di Incheon ditinjau
berdasarkan azaz dan Prinsip dijelaskan sebagai berikut :
1) Tinjauan bedasarkan Azaz-azaz Operasi Amfibi:10
a) Satu kesatuan Doktrin, pihak yang terlibat dalam Operasi Amfibi harus
mempunyai satu kesatuan pandang dalam menggunakan doktrin mana yang
akan dipakai. Dalam operasi Chromite ini , pasukan sekutu menggunakan
doktrin Operasi Amfibi untuk melaksanakan serangan.
b) Keterpaduan, organisasi tugas yang dibentuk harus bisa saling
mendukung satu dengan lainnya. Dalam operasi Chromite ini, organisasi
tugas yang terdiri dari satgas laut US Navy, pasukan pendarat USMC dan
pasukan Infanteri US Army dapat melaksanakan keterpaduan sehingga
operasi berjalan sukses.
c) Memegang teguh tujuan, bahwa apa yang sudah ditetapkan dalam
perencanaan harus dilaksanakan dengan konsekuen. Hal ini terbukti dengan
pemilihan tempat pendaratan yang awalnya banyak ditentang oleh pejabat
militer AS, namun karena Jend Mc Artur berhasil meyakinkan dan seluruh yang
terlibat memegang teguh tujuan maka operasi dapat dilaksanakan dengan
sukses.

10 Seskoal.(2013).Paket Instruksi Opsgab TNI Tentang Operasi Amfibi. Hal 6


10
d) Kesatuan komando, bahwa semua perintah yang dikeluarkan harus
berasal dari satu komando yang jelas sehingga tidak menimbulkan
kesalahpahaman bagi unsur di bawahnya. Jenderal McArthur dengan seni
kepemimpinannya melaksanakan operasi Chromite dengan kekuatan Darat,
Laut dan Udara dari beberapa negara, namun mampu menyelenggarakan
dengan baik dan sempurna.
e) Kesederhanaan, bahwa perencanaan yang dibuat haruslah sesederhana
mungkin dan dapat diaplikasikan di lapangan. Perencanaan yang terpenting
adalah dalam menyusun organisasi tugas. Dalam operasi ini McArthur
menyusun satuan tugasnya dalam bentuk Gugus Tugas ke-7. Selanjutnya
disusun dalam suatu komando bawah yang langsung dikendalikan oleh
McArthur. Tiap-tiap komando bawahan dipimpin satu perwira yang memiliki
hubungan komando langsung kepada panglima tertinggi operasi Chromite.
f) Tidak mengenal menyerah, didalam melaksanakan operasi amfibi
dibutuhkan semangat juang yang tinggi untuk memenangkan pertempuran
sampai tugas pokok tercapai. Dengan semangat yang tinggi, meskipun
pasukan bertahan di pantai sudah siap menghadang, operasi amfibi dapat
terlaksana.
g) Pemusatan kekuatan, terdapat suatu bentuk konsentrasi kekuatan dari
laut yang akan diproyeksikan ke darat.
2) Tinjauan bedasarkan prinsip-prinsip Operasi Amfibi :11
1) Penggugustugasan, dalam rangka melaksanakan operasi amfibi harus
dibentuk gugus tugas yang bertanggung jawab terhadap segala kegiatan yang
menyangkut proses operasi itu sendiri. Dalam operasi ini, dilaksanakan
penggugus tugasan kedalam 7 gugus tugas dengan kapal terlibat yang cukup
besar yaitu lebih dari 230 kapal berbagai jenis.
2) Penggunaan kekuatan secara ekonomis, kekuatan yang digunakan
dalam pelaksanaan operasi amfibi harus dirancang seefektif dan seefisien
mungkin, namun dalam operasi ini kekuatan yang di kerahkan adalah
kekuatan sekutu yang besar.
3) Rantai komando yang sejajar, dalam proses perencanaan, kedudukan
antara Pangkogasfib dan Pangkogasgabrat adalah sejajar.

11 Ibid. Hal 7.
11

4. Hal Positif dan Negatif


a. Hal Positif, pada penyelenggaraan operasi amfibi di pantai Inchon terdapat
kelebihan sebagai berikut:
1) Kemampuan dan kejelian Jenderal McArthur dalam mengambil keputusan
untuk menentukan tempat pantai pendaratan di Inchon yang didasari pertimbangan
bahwa akan dapat memukul lawan dari belakang yang terkonsentrasi menyerang
perimeter Pusan.
2) Prinsip dan azas-azas operasi amfibi yang dipegang secara teguh sehingga
memupus segala keraguan baik staf bawahan maupun para pimpinan.
3) Waktu perencanaan yang cukup (lebih kurang 2 bulan) sejak mulai adanya
gagasan tanggal 29 Juni 1950 sampai dengan pelaksanaan operasi (hari H tanggal
15 September 1950).
4) Adanya dukungan internasional melalui PBB sehingga memiliki kekuatan
diplomasi. Selain itu hal ini akan mendapat dukungan yang sangat besar dari
negara-negara lain.
5) Penugasan unsur pasrat yang memiliki keahlian dan pengalaman (kesatuan
korps ke-X USMC) dari perang dunia ke-II.

b. Hal Negatif, pada penyelenggaraan operasi amfibi di pantai Inchon terdapat


kekurangan sebagai berikut:
1) Adanya demobilisasi pasca perang dunia ke-II, sehingga saat persiapan
operasi dibutuhkan waktu untuk dapat mengumpulkan kembali para prajurit yang
telah kembali ke masyarakat dan memobilisasi untuk ikut dalam operasi.
2) Birokrasi eksekutif dan legislatif yang cukup memakan waktu sesuai dengan
peraturan ketata negaran untuk tujuan pengerahan kekuatan militer. Oleh karena
itu dibutuhkan suatu metode diplomasi guna meyakinkan kepentingan untuk
dilaksanakannya operasi amfibi guna membantu pasukan Korea selatan yang tidak
cukup kuantitas maupun kualitas dibandingkan dengan kekuatan militer Korea
uatara yang mendapat pelatihan intensif dari Uni Sovyet dan China serta
merupakan para veteran perang dunia ke-II.
12

5. Manfaat yang dapat diambil


a. Edukatif.
1) Keahlian dan ketrampilan serta pengalaman seorang komandan/manajer yang
memimpin pelaksanaan kegiatan mulai dari tahap perencanaan sampai
pengakhiran sangat dibutuhkan. Hal ini hanya dapat terbentuk dari pendidikan,
pelatihan dan penugasan.
2) Ketrampilan profesi dalam pelaksanaan operasi amfibi masih sangat relevan
untuk menjadi materi kurikulum pendidikan di lingkungan TNI AL. Namun pada
pelaksanaannya harus selalu dilakukan penelitian dan pengkajian melalui analisa
atau studi kasus yang harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan TNI AL dengan
memasukan unsur perkembangan Ilpengtek yang aplikatif bagi pelaksanaan
operasi amfibi di Indonesia.
3) Pemahaman mendasar secara keilmuan tentang operasi amfibi setidaknya
harus dikaji tidak dalam segi kualitatif namun juga kuantitatif. Hal ini dapat dilakukan
dengan melibatkan civitas akademika perguruan tinggi bidang riset operasi, ilmu
intelijen, sosial politik, hukum dan ekonomi guna dapat terlibat dalam pengkajian
edukatif keilmuan operasi amfibi khususnya dan operasi militer lainnya.

b. Instruktif.
1) Perlunya dukungan internasional memberikan makna pengajaran bahwa TNI
AL harus mampu melaksanakan fungsi diplomasi untuk membantu tugas
pemerintah dalam menjaga hubungan dengan negara lain.
2) Pengajaran strategi, taktik, doktrin dan azas-azas operasi amfibi adalah materi
mendasar yang harus senantiasa melekat sebagai ketrampilan prajurit TNI AL. Hal
ini tidak hanya dapat dilakukan dalam jalur formil pendidikan tapi juga jalur non formil
dengan pelatihan di Kolat kotama operasi.

c. Inspiratif.
1) Indonesia perlu memiliki sistem dan metode mobilisasi kekuatan militer yang
komprehensif melibatkan berbagai instansi untuk pelaksanaan pendataan dan
administrasi, dukungan logistik, pelatihan sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan
akan dapat tersedia untuk kepentingan pertahanan negara.
13

2) Sosialisasi kepada personel birokrat baik di lembaga eksekutif dan legislatif


harus intensif dilaksanakan untuk mendapatkan pemahaman yang sama terhadap
pelaksanaan operasi militer baik untuk perang maupun selain perang. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan pemahaman yang menyebabkan
terjadinya proses negasi/saling meniadakan, saling menyelahkan dan tidak sinergis
mengingat operasi militer adalah operasi yang kompleks dan tidak dapat berdiri
sendiri.

6. Penutup.
a. Kesimpulan.
1) Operasi amfibi di Inchon terjadi sebagai bagian dari perang Korea yang
melibatkan sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat menghadapi Korea Utara
dimana terlihat bagaimana pihak sekutu menerapkan teori operasi amfibi yang
meliputi tujuan operasi, kesatuan yang digunakan dan pentahapan operasi dalam
meraih tujuan dari operasi tersebut.

2) Operasi pendaratan amfibi di Incheon sangat riskan untuk dilaksanakan,


karena kondisi geografi didaerah operasi tersebut sangat tidak lazim digunakan
untuk melaksanakan pendaratan amfibi, dimana tempat tersebut rawan terhadap
bahaya navigasi yaitu alur yang sempit dan dangkal, pasang surut yang cepat
kemudian kondisi pantai berkarang dan terjal serta kondisi laut yang bergelombang
karena badai taifun yang sering terjadi di Laut Kuning. Namun kondisi seperti ini
justru tidak pernah diperhitungkan oleh musuh sehingga dapat memberikan dampak
pendadakan.

3) Dihadapkan dengan segala faktor-faktor penghalang, Operasi amfibi akan


mencapai kesuksesan jika langkah-langkah operasi amfibi dilaksanakan dengan
baik mulai perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran.

b. Saran.

1) TNI AL diharapkan mampu mengembangkan taktik dan seni operasi amfibi,


oleh sebab itu Marinir sebagai pasukan pendarat TNI AL perlu melaksanakan
latihan secara periodik dan berlanjut dengan lokasi dan daerah pendaratan yang
14
berbeda sehingga pasukan dapat memperoleh pengalaman dan ilmu yang
bermanfaat bila sewaktu-waktu dilaksanakan operasi amfibi yang sesungguhnya.
2) TNI AL perlu melakukan evaluasi dan inventarisir peralatan dan persenjataan
termasuk di dalamnya kendaraan tempur apakah masih sesuai untuk mendukung
pelaksanaan operasi pendaratan amfibi.
3) TNI AL harus selalu mengkaji doktrin operasi amfibi yang ada dengan
beberapa penyesuaian dihadapkan dengan faktor geografis Indonesia serta
mengikutu perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi.

7. Alur Pikir. ( Lampiran A )


8. Daftar Referensi. ( Lampiran B )

Jakarta, Agustus 2018


Perwira Siswa,

Rudi Sutisna
Mayor Marinir NRP. 16667/P
MARKAS BESAR ANGKATAN LAUT
SEKOLAH STAF DAN KOMANDO LAMPIRAN - B

DAFTAR PUSTAKA

A. DAFTAR BUKU

Akhmad Iqbal.(2010).Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia. Edisi Pertama. Jogjakarta :


Jogja Bangkit Publisher.

Appleman, Roy E.(1992). South To The Naktong, North To The Yalu. Washington, D. C.

Ballard, John.R.(2001). Operation Chromite ; Counterattack at Incheon. Joint Force Quarterly


Journal.

Fransminggi Kamasa.(2016). Perang Korea. Jogjakarta; Narasi.Publisher.

Seskoal.(2013).Paket Instruksi Opsgab TNI Tentang Operasi Amfibi.

B. DAFTAR WEBSITE

https://rappler.idntimes.com/christian-simbolon/di-balik-unifikasi-dua-korea-jalan-panjang-
menuju-panmunjeom-1/full, diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul 17.00 WIB.
https://dunia.tempo.co/read/372526/kim-jong-il-dan-sejarah-korea-utara, diakses pada
tanggal 28 Juli Pukul 17.30 WIB.
http://www.koreanwaronline.com/arms/pusan.htm. Diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul
19.00 WIB.
https://internasional.kompas.com/read/2014/09/19/16193321/Pertempuran Incheon Sebuah
Mahakarya Strategi Perang. Diakses pada tanggal 28 Juli 2018 Pukul 23.00 WIB.
https://weaponsandwarfare.com/2015/10/05/inchon-landings/ diakses pada 29 Juli 2018
Pukul 00.30 WIB.