Anda di halaman 1dari 14

TUGAS SWAMEDIKASI

KULIT

Kelompok 1
Disusun Oleh:
1. Apriyani Dwi Handayani (1820363996)
2. Denia Isra Putri (1820364005)
3. Desi Ratna Permatasari (1820364006)
4. Dhenis Clarista Wijayanti (1820364011)
5. Diah Wuri Damayanti (1820364012)
6. Muksin Alkarim (1820364042)

FAKULTAS FARMASI
PROGAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit kulit pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan yang rendah
cenderung meningkat dan endemis. Tingkat kejadian tinggi biasanya terjadi pada daerah yang
sedang mengalami musim kemarau yang panjang sehingga sulit untuk mendapat pasokan air
bersih. Selain itu juga lingkungan yang kotor dan memiliki sumber air bersih yang sangat minim
contohnya seperti pada daerah pemukiman kumuh dapat memicu tingginya tingkatan penyakit
kulit.
Sumber penularan penyakit kulit adalah berupa sentuhan langsung dengan penderita
melalui perantara seperti melalui pakaian, selimut, sabun mandi yang dipakai oleh penderita.
Penyakit kulit adalah penyakit yang menyerang kulit permukaan tubuh yang disebabkan
oleh berbagai macam penyebab. Penyakit kulit juga mempunyai karakteristik gatal-gatal pada
saat pagi, siang, sore atau sepanjang hari, timbul pula bintik-bintik, bentol-bentol, ataupun timbul
bula-bula yang berisi cairan bening atau nanah pada kulit permukaan tubuh.
Penyakit kulit secara umum disebabkan oleh kebersihan yang kurang dijaga, bakteri,
virus, reaksi alergi dan daya tahan tubuh rendah. Jika penyebab hanya berupa masalah
kebersihan yang kurang dijaga maka masih bisa dilakukan pencegahan dengan merubah gaya
hidup menjadi gaya hidup yang lebih bersih dan sehat.
Penyakit kulit masih menjadi masalah di Indonesia dikarenakan perubahan cuaca yang
tidak menentu dan gaya hidup bersih penduduk yang masih belum terjaga dengan baik
menyebabkan penderita penyakit kulit di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Salah satu
penyakit kulit yang sering dialami masyarakat Indonesia adalah herpes.
Data World Health Organization (WHO) diperkirakan usia 15-49 tahun yang hidup
dengan infeksi HSV-2 di seluruh dunia pada tahun 2003 sejumlah 536 juta. Wanita lebih banyak
yang terinfeksi dibanding pria, dengan perkiraan 315 juta wanita yang terinfeksi dibandingkan
dengan 221 juta pria yang terinfeksi. Jumlah yang terinfeksi meningkat sebanding dengan usia
terbanyak pada 25-39 tahun. Sedangkan, jumlah infeksi HSV-2 baru pada kelompok usia 15-49
tahun di seluruh dunia pada tahun 2003 sejumlah 236 juta, di antaranya 12,8 juta adalah wanita
dan 10,8 juta adalah pria.

B. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta penatalaksanaan penyakit
kulit
2. Mengetahui diagnosa yang timbul pada manusia
3. Menentukan perencanaan tindakan pada manusia

C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta penatalaksanaan penyakit kulit?
2. Bagaimana diagnosa yang timbul pada manusia ?
3. Bagaimana perencanaan tindakan pada manusia ?
BAB II
ISI
A. KULIT
1. DefinisiKulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan
hidup manusia.Luas kulit orang dewasa sekitar 1.5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan
(Wasitaatmadja, 2010).

2. Anatomi Kulit

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu: lapisan
epidermis, lapisan dermis, dan lapisan subkutis. Lapisan epidermis terdiri atas:

a. Stratum korneum (lapisan tanduk) merupakan lapisan kulit yang terluar dan terdiri atas
sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan keratin.
b. Stratum lusidum merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang
telah menjadi protein.
c. Stratum granulosum (lapisan keratohialin) yaitu dua atau tiga lapis selsel gepeng dengan
sitoplasma butir kasar dan berinti di antaranya.
d. Stratum spinosum (stratum Malphigi) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal dengan besar yang berbeda akibat adanya proses mitosis.
e. Stratum basale terbentuk oleh sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal
dan berbaris seperti pagar (palisade).

Lapisan dermis berada di bawah lapisan epidermis dan lebih tebal daripada lapisan
epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular
dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1) Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis yang berisi ujung serabut saraf
dan pembuluh darah.
2) Pars retikulare, yaitu bagian yang menonjol ke arah subkutan yang berisi serabut-serabut
penunjang misalnya: serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat longgar berisi
sel lemak. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan
makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening
(Wasitaatmadja, 2010).

3. Faal Kulit
a. Fungsi proteksi, menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanis,
gangguan kimiawi, gangguan yang bersifat panas, dan gangguan infeksi luar dengan
adanya bantalan lemak.Menurut Menurut Lazarus (1999) bahwa stres adalah keadaan
internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan
dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi
kemampuan individu untuk mengatasinya.
b. Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat
dengan permeabilitas terhadap O2, CO2, dan uap air sehingga kulit ikut ambil bagian
dalam fungsi respirasi. Penyerapan berlangsung melalui celah antar sel, menembus sel
epidermis atau melalui muara saluran kelenjar.
c. Fungsi ekskresi, kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi
atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia.
d. Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung-ujung saraf sensoris di dermis dan subkutis.
Rangsang panas oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis, rangsang dingin oleh
badan-badan Krause di dermis. Badan Meissner di papila dermis dan badan Merkel
Ranvier di epidermis berperan terhadap rabaan. Sedangkan rangsang tekanan oleh badan
Paccini di epidermis.
e. Fungsi pengaturan suhu tubuh, dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan
pembuluh darah kulit.
f. Fungsi pembentukan pigmen.
g. Fungsi keratinisasi.
h. Fungsi pembentukan vitamin D, dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol melalui
pertolongan sinar matahari (Wasitaatmadja, 2010)
B. HERPES
1. Pengertian
Herpes simpleks adalah infeksi akut pada genital yang disebabkan oleh herpes simpleks
virus (HSV) tipe 1 dan tipe 2 yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas
kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan dan bersifat rekurens.
2. Etiologi
Herpes simpleks virus (HSV) tipe 1 dan tipe 2 merupakan virus DNA. Pembagian tipe 1
dan tipe 2 berdasarkan kerakteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenik markes dan lokasi
klinis tempat predileksi. HVS tipe 1 sering dihubungkan dengan infeksi oral sedangkan HSV tipe
2 dihubungkan dengan infeksi genital. Semakin sering infeksi HSV tipe 1 di daerah genital dan
infeksi HSV tipe 2 di daerah oral kemungkinan disebabkan oleh kontak seksual dengan cara oral-
genital.
Secara serologic, biologik, dan sifat fisikokimia HSV-1 dan HSV-2 sukar dibedakan.
Dari penelitian seroepidemiologik didapat bahwa antibody HVS-1 sudah terdapat pada anak-
anak sekitar umur lima tahun, meningkat 70% pada usia remaja dan 97% pada orang tua.
Penelitian seroepidemiologik terdapat antibodi HSV-2 sulit untuk dinilai berhubung adanya
reaksi silang antara respons imun humoral HSV-1 dan HSV-2. Dari data yang dikumpulkan
WHO dapat diambil kesimpulan bahwa antibodi terhadap HSV-2 rata-rata baru terbentuk setelah
melakukan aktivitas seksual. Pada kelompok remaja didapatkan kurang dai 30%, pada kelompok
wanita di atas umur 40 tahun naik sampai 60%, dan pada pekerja seks wanita (PSW) ternyata
antibodi HSV-2 sepuluh kali lebih tinggi dari pada orang normal.
3. Epidemiologi
Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan menyerang dan menyerang baik pria
maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh herpes simpleks virus
(HSV) tipe 1 biasa pada usia anak-anak, sedangkan infeksi HSV tipe 2 biasa terjadi pada decade
2 atau 3 dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual. Infeksi genital yang berulang 6
kali lebih sering dari pada infeksi berulang pada oral-labial, infeksi HSV tipe 2 pada daerah
genital lebih sering kambuh daripada infeksi HSV tipe 1 di daerah genital, dan infeksi HSV tipe
1 pada oral-labial lebih sering kambuh daripada HSV tipe 2 di daerah oral. Walaupun begitu
infeksi dapat terjadi di mana saja pada kulit dan infeksi pada satu area tidak menutup
kemungkinan bahwa infeksi dapat menyebar ke bagian lain.
4. Patogenesis/Patofisiologi
Infeksi primer HSV masuk melalui defek kecil pada kulit atau mukosa dan bereplikasi
lokal lalu menyebar melalui akson ke ganglia sensoris dan terus bereplikasi. Dengan penyebaran
sentrifugal oleh syaraf-syaraf lainnya menginfeksi daerah yang lebih luas. Setelah infeksi primer
HSV masuk dalam masa laten di ganglia sensoris. Pada episode 1 non infeksi primer, infeksi
sudah lama berlangsung tetapi belum menimbulkan gejala klinis, tubuh sudah membentuk zat
anti sehingga pada waktu terjadinya episode 1 ini kelainan yang timbul tidak seberat episode 1
dengan infeksi primer. Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factora), virus akan
mengalami reaktivitas dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekurens.
Pada saat ini di dalam tubuh horpes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang
timbul dan gejala konstitusinya tidak seberat pada waktu infeksi primer. Trigger factor tersebut
antara lain adalah trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan, stress emosi,
kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, obat-obatan (imunosupresif, kortikosteroid), dan
ada beberapa kasus sukar diketahui dengan jelas penyebabnya. Ada beberapa pendapat mengenai
terjadinya infeksi rekurens: 1. Faktor pencetus akan mengakibatkan reaktivasi virus dalam
ganglion dan virus akan menurun melalui akson saraf perifer ke sel epitel kulit yang
dipersarafinya dan disana akan mengalami replikasi dan multiplikasi serta menimbulakan lesi. 2.
Virus secara terus menerus dilepaskan ke sel-sel epitel dan adanya faktor pencetus ini
menyebabkan kelemahan setempat dan menimbulkan lesi rekurens.
5. Manifestasi Klinis (Tanda dan Gejala)
Manifestasi klinis dapat dipengaruhi oleh faktor hosper, pajanan HSV sebelumnya,
episode terdahulu dan tipe virus. Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-7 hari, tetapi dapat
lebih lama. Gejala yang timbul dapat bersifat berat, tetapi bisa juga asimtomatik terutama bila
lesi ditemukan pada daerah serviks. Pada penelitian retrospektif 50-70% infeksi HSV adalah
asimtomatis. Biasanya didahului rasa terbakar dan gatal di daerah lesi yang terjadi beberapa jam
sebelum timbulnya lesi. Setelah lesi timbul dapat disertai gejala konstitusi seperti malaise,
demam, dan nyeri otot. Lesi pada kulit berbentuk vesikel yang berkelompok dengan dasar
eritem. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan erosi multiple. Tanda infeksi sekunder,
penyembuhan terjadi dalam waktu lima sampei tujuh hari dan tidak terjadi jaringan parut, tetapi
bila ada penyembuhan memerlukan waktu yang lebih lama dan meninggalkan jaringan parut.
Pada infeksi inisial gejalanya lebih berat dan berlangsung lebih lama. Kelenjar limfe
regional dapat membesar dan nyeri pada perabaan. Infeksi di daerah serviks, dapat menimbulkan
beberapa perubahan termasuk peradangan difus, ulkus multiple sampai terjadinya ulkus yang
besar dan nekrotik. Tetapi dapat juga tanpa gejala klinis. Pada saat pertama kali timbul,
penyembuhan memerukan waktu yang cukup lama, dapat dua sampai emapat minggu, sedangkan
pada serangan berikutnya penyembuhan akan lebih cepat. Di samping itu pada infeksi pertama
dapat terjadi disuria bila lesi terletak di urin.
Hal lain yang menyebabkan retensi urin adalah lesi pada daerah sakral yang
menimbulkan mielitis dan radikulitis.Tempat predileksi pada pria biasanya di preputium, glans
penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah anal (pada homoseks), sedangkan daerah
skrotum jarang terkena. Lesi pada wanita dapat ditemukan di daerah labia major/minor, klitoris,
introitus vaginae, serviks, sedangkan pada daerah perianal, bokong dan mons pubis jarang
ditemukan. Infeksi pada wanita sering dihubungkan dengan servitis, karena itu perlu
pemerikasaan sitologi secara teratur.

C. PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, DAN TERSIER

Pencegahan transmisi HSV secara horizontal, bisa dilakukan secara mandiri seperti
sering mebersihkan diri dengan mandi menggunakan air yang bersih, idealnya saat musim panas
dua kali pagi dan sore, dan menjaga lingkungan agar tetap bersih. Pencegahan kontak dengan
saliva penderita HSV dapat dilakukan dengan menghindari berciuman dan menggunakan alat-
alat makan penderita serta menggunakan obat kumur yang mengandung antiseptik yang dapat
membunuh virus sehingga menurunkan risiko tertular. Pencegahan transmisi HSV secara
vertikal, dapat dilakukan dengan deteksi ibu hamil dengan screening awal di usia kehamilan 14-
18 minggu, selanjutnya dilakukan kultur servik setiap mulai dari minggu ke-34 kehamilan pada
ibu hamil dengan riwayat infeksi HSV serta pemberian terapi antivirus supresif (diberikan setiap
hari mulai dari usia kehamilan 36 minggu dengan acyclovir 400mg 3kali/hari atau 200mg
5kali/hari) yang secara signifikan dapat mengurangi periode rekuensi selama proses persalinan
(36% VS 0%). Namun apabila sampai menjelang persalinan, hasil kultur terakhir tetap positif
dan terdapat lesi aktif di daerah genital maka kelahiran secara sesar menjadi pilihan
utama.Periode postnatal bertanggung jawab terhadap 5-10% kasus infeksi HSV pada neonatal.
Infeksi ini terjadi karena adanya kontak antara neonatus dengan ibu yang terinfeksi HSV (infeksi
primer HSV-1 100%, infeksi primer HSV-2 17%, HSV-1 rekuren 18%, HSV-2 rekuren 0%, dan
juga karena kontak neonatus dengan tenaga kesehatan yang terinfeksi HSV. Pemilihan metode
pencegahan yang tepat sesuai dengan transmisinya dapat menurunkan angka kejadian dan
penularan infeksi HSV.

D. PENATALAKSANA
Sampai saat ini belum ada terapi memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada
pengobatan yang dapat mencegah episode rekurens secar tuntas. Pada lesi yang dini dapat
digunakan obat topical berupa salap/krim yang mengandung preparat idoksuridin (stoxil,
viruguent, viruguent-P) dengan cara aplikasi yang sering dengan interval beberapa jam. Preparat
asiklovir (zovirax) yang dipakai secara topikal tampaknya memberikan masa depan yang lebih
cerah. Asiklovir ini cara kerjanya mengganggu replikasi DNA virus. Klinis hanya bermanfaat
bila penyakit sedang aktif. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres. Pengobatan oral berupa
preparat asiklovir tampaknya memberikan hasil yang lebih baik, penyakit berlangsung lebih
cepat dan masa rekurensnya lebih panjang. Dosisnya 5*200 mg sehari selam 5 hari. Pengobatan
parenteral dengan asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berat atau jika timbul
komplikasi pada alat dalam. Begitu pula dengan preparat adenin arabinosid (vitarabin).
Interferon sebuah preparat glikoprotein yang dapat menghambat reproduksi virus juga dapat
dipakai secara parenteral.

Untuk mencegah rekurens macam-macam usaha yang dilakukan dengan tujuan


meningkatkan imunitas seluler, misalnya pemberian preparat lupidon H (untuk HSV tipe 1) dan
lupidon G (untuk HSV tipe 2) dalam satu seri pengobatan. Pemberian levamisol dan isoprinosin
atau asiklovir secara berkala menurut beberapa penyelidik memberikan hasil yang baik. Efek
levamisol dan isoprinosin ialah sebagai imunostimulator. Pemberian vaksinasi cacar sekarang
tidak dianut lagi.
BAB III
SOSIODRAMA

Pada suatu hari datang ibu santi bersama anaknya yang berumur 12 tahun ke apotek. Ibu tersebut
datang membeli obat untuk menyembuhkan penyakit herpes yang dialami anaknya. Ibu tersebut
mengatakan bahwa anaknya sering mengeluh merasa gatal terkadang disertai perih.

AA1 : Selamat siang Bu. Ada yang bisa saya bantu?

Ibu pasien : Siang mbak, mbak saya mau membeli obat gatal seperti herpes pada kulit anak
saya mbak, kira-kira obatnya apa ya mbak.

AA1 : Maaf sebelumnya dengan ibu siapa ya?

Ibu pasien : Saya ibu santi, mbak..

AA1 : Baiklah ibu untuk obatnya silahkan berkonsultasi dengan apotekernya, mari
saya antar.

(AA mengantar pasien ke ruang konsultasi Apoteker)

Apoteker : Selamat siang ibu, silahkan duduk.

Ibu pasien : Iya mbak terimakasih

Apoteker : Saya selaku apoteker di Apotek ini, dengan ibu santi ya bu?

Ibu pasien : Iya mbak ibu santi

Apoteker : Baiklah ibu ada yang bisa saya bantu?

Ibu pasien : Begini mbak anak saya mengeluh merasa gatal pada dagunya kelihatannya
seperti herpes, obatnya apa ya mbak?

Apoteker : Apakah yang sakit dengan adiknya ini ibu?

Ibu pasien : Iya mbak

Apoteker : Namanya siapa dek? Boleh saya lihat dimana yang gatal dek?
Pasien : Nama saya dina bu, yang sakit bagian ini

Apoteker : Apa yang adek rasakan?

Pasien : Rasanya seperti terbakar dan gatal?

Apoteker : Sudah berapa lama sakitnya dek

Pasien : Sudah sekitar 5 hari ini mbak

Apoteker : Kemarin adeknya demam nggak bu?

Ibu pasien : Iya mbak badannya agak panas

Apoteker : Baiklah ibu, mohon tunggu sebentar saya ambilkan obatnya dulu ya bu.

(Apoteker meminta AA untuk menyiapkan obat )

Apoteker : Mbak tolong siapkan obat Asiklovir tablet yang dosisnya 200 mg sebanyak 2,5
strip dan salep asiklovir beserta etiketnya untuk pasien anak dina ya mbak.

AA2 : Baik mbak akan saya siapkan, mohon tunggu sebentar

Apoteker : Atas nama anak dina

Ibu pasien : Iya mbak

Aoteker : Ibu ini obatnya, asiklovir tablet nanti diminum setiap 4 jam ya bu jadi sehari
minumnya 5 kali sesudah makan, obatnya harus dihabiskan ya bu dan ini
salepnya acifar krim nanti dioleskan tipis sehari 5-6 kali terutama pada saat
sebelum tidur dan sebelum istirahat.

Ibu pasien : Baik mbak

Apoteker : Ibu obat ini mempunyai efek samping mengantuk, jadi saya sarankan setelah
minum obat ini anak ibu sebaiknya istirahat dan banyak minum air putih ya buk.

Ibu pasien : Baik mbak

Apoteker : Boleh saya minta ibu untuk mengulangi yang saya jelas kan tadi?
Ibu pasien : Tadi obatnya diminum sehari 5 kali setiap 4 jam setelah makan lalu salepnya
dioleskan tipis sehari 5-6 kali sebelum tidur dan istirahat sama diperbanyak
minum air putih dan istirahat ya mbak.

Apoteker : Iya bu betul, nanti kalau selama 5 hari belum ada perubahan saya sarankan
untuk berkonsultasi dengan dokter ya bu

Ibu pasien : Iya mbak

Apoteker : Adek jangan banyak main dulu ya dek, kalau gatal jangan digaruk ya, setelah
minum obat kalau bisa istirahat biar cepat sembuh

Pasien : Iya bu

Apoteker : Ada yang bisa saya bantu lagi ibu?

Ibu paien : Saya rasa sudah mbak, terimakasih mbak

Apoteker : Iya Ibu sama-sama nanti pembayarannya di kasir ya buk, terimaksih

(Ibu santi membayar di kasir)

Kasir : Ibu santi ini obatnya asiklovir tablet totalnya 25.000

Ibu pasien : Iya mbak ini uangnya

Kasir :Terimaksih Ibu semoga anaknya lekas sembuh

Ibu pasien : Iya mbak terimaksih


BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Berdasarkan bahasan diatas bahwa penyakit kulit merupakan penyakit yang menyerang
kulit permukaan tubuh. Penyakit ini juga di sebabkan oleh berbagai penyebab yaitu dari
lingkungan, virus, bakteri, infeksi jamur, kutu dan lain sebagainya.
Penyakit kulit juga terdiri dari berbagai macam jenis ada yang menular dan ada juga yang
tidak, tetapi kebanyakan dari penyakit kulit adalah menular. Cara penularan penyakit kulit
hampir sama satu sama lain yaitu kontak langsung dengan penderita misalnya melalui pakaian,
selimut ataupun sabun mandi. Yang membedakan macam penyakit kulit yang satu dengan yang
lainnya adalah penyebab terjadinya penyakit tersebut.
Dalam bahasan di atas di ambil contoh kasus penderita penyakit Herpes virus simplex.
Gejala yang didapat pada salah satu penderita herpes virus simplek adalah rasa terbakar dan gatal
di daerah lesi yang terjadi beberapa jam sebelum timbulnya lesi. Setelah lesi timbul dapat
disertai gejala konstitusi seperti malaise, demam, dan nyeri otot. Penanganan pasien yang cacar
air biasanya pada lesi yang dini dapat digunakan obat topical berupa salap/krim yang
mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, viruguent-P) dengan cara aplikasi yang
sering dengan interval beberapa jam. Preparat asiklovir (zovirax) yang dipakai secara topikal
tampaknya memberikan hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Daili Syaiful Fahmi, B.Makes Wresti Indriatmi, Zubier Farida, Edisi Keempat. Infeksi Menular
Seksual. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Prof. Dr. dr. Adhi Djuanda, dr. Mochtar Hamzah, Prof. Dr. dr. Siti AisyahEdisi Kelima. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Univ. Indonesia.
Brenda B. Spriggs, 2012 (http:///C:/Users/Public/Documents/Chapter%20II.pdf) diakses pada
hari Minggu, 26 Agustus 2018 pukul 07.13 WIB
Jakagendon-syahrul, 2012 https://id.wikipedia.org/wiki/Herpes_simpleks. Diakses pada hari
Minggu, 26 Agustus 2018 pukul 07.55 WIB
Dwinoviakrismawanti, 2010 http://www.alodokter.com/herpes-genital, Diakses pada hari
Minggu, 26 Agustus 2018 pukul 08.13 WIB