Anda di halaman 1dari 52

1. Apa definisi rumah sakit ?

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 44 TAHUN 2009
TENTANG RUMAH SAKIT
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat.

PMK NO. 56
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang


menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.

2. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan


pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

3. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang memberikan


pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit
tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis
penyakit atau kekhususan lainnya.

4. Izin Mendirikan Rumah Sakit, yang selanjutnya disebut Izin


Mendirikan adalah izin yang diberikan oleh pejabat yang
berwenang kepada instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah atau
badan swasta yang akan mendirikan bangunan atau mengubah
fungsi bangunan yang telah ada untuk menjadi rumah sakit setelah
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
ini.

5. Izin Operasional Rumah Sakit, yang selanjutnya disebut Izin


Operasional adalah izin yang diberikan oleh pejabat yang
berwenang sesuai kelas rumah sakit kepada
penyelenggara/pengelola rumah sakit untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan di rumah sakit setelah memenuhi persyaratan
dan standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ini.

6. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah


Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

7. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan


pemerintahan di bidang kesehatan.
8. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
daerah.

2. Sebutkan jenis-jenis rumah sakit !

UU 44 tahun 2009

Bagian Kedua
Klasifikasi
Pasal 24
(1) Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara
berjenjang dan fungsi rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit
khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan
pelayanan Rumah Sakit.
(2) Klasifikasi Rumah Sakit umum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
a. Rumah Sakit umum kelas A;
b. Rumah Sakit umum kelas B
c. Rumah Sakit umum kelas C;
d. Rumah Sakit umum kelas D.
(3) Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
a. Rumah Sakit khusus kelas A;
b. Rumah Sakit khusus kelas B;
c. Rumah Sakit khusus kelas C.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.
3. Apa saja tugas dan fungsi rumah sakit ?
Permenkes 1045 2006
UU RI No.44 Tahun 2009

BAB II

ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2

Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan


kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat,
keadilan, persamaan hak dananti diskriminasi, pemerataan,
perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi
sosial.

-
Pasal 3

Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan:

a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan


kesehatan;

b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien,


masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di
rumah sakit;

c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan


rumah sakit; dan

d. memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat,


sumber daya manusia rumah sakit, dan Rumah Sakit.

BAB III

TUGAS DAN FUNGSI

Pasal 4

Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan


perorangan secara paripurna.

Pasal 5

Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4,


Rumah Sakit mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan
kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

b. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui


pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga
sesuai kebutuhan medis;

c. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia


dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian
pelayanan kesehatan; dan

d. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan


teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan;

4. Apa visi dan misi rumah sakit ?


Penyusunan misi dan visi rumah sakit merupakan fase penting
dalam tindakan strategis rumah sakit. Hal ini sebagai hasil
penafsiran terhadap lingkungan yang berubah. Penafsiran-
penafsiran yang dilakukan dengan cerdas akan mendorong
pemimpin untuk berpikir mengenai misi organisasi dan keadaan
organisasi yang dicita-citakan. Pemikiran ini merupakan dasar untuk
menetapkan strategi pengembangan lembaga. Lebih lanjut,
pemimpin rumah sakit memerlukan pernyataan misi dan visi
sebagai isi komunikasi dalam meningkatkan komitmen seluruh
pihak terkait. Berdasarkan konsep dari Kaplan dan Norton terdapat
hubungan misi dan visi sampai pada strategi seperti terdapat pada
gambar 3.1. Berdasarkan gambar ini, hasil pelaksanaan strategi
harus dapat mencerminkan berjalannya misi dan juga merupakan
langkah-langkah untuk tercapainya visi lembaga. Menetapkan misi
dan visi bukanlah proses yang mudah. Pernyataan misi dan visi
tidak dianjurkan disusun atas dasar tugas pelatihan ataupun
tuntutan akreditasi. Pernyataan misi dan visi merupakan hasil
pemikiran bersama dan disepakati oleh seluruh anggota rumah
sakit. Dalam konsep learning organization menurut Senge,
diperlukan suatu visi bersama (shared vision). Visi bersama ini
memberikan fokus dan energi untuk pengembangan organisasi.

Nilai-nilai lembaga
Apa yang kita percaya
Visi
Keadaan lembaga yang kita tuju di masa mendatang
Strategi Pernyataan mengenai rencana menjalankan misi dan
mencapai visi Strategi merupakan ketetapan yang akan
dilaksanakan dan berfokus Memerlukan kegiatan-kegiatan untuk
mewujudkannya
Sumber daya manusia yang termotivasi dan siap bekerja
Pengguna yang senang
Pihak terkait yang puas
Hasil pelaksanaan strategi
Misi: Mengapa sebuah lembaga berdiri? Untuk Siapa?
Proses kegiatan yang efektif
1. Misi Rumah Sakit
Misi rumah sakit merupakan pernyataan mengenai mengapa
sebuah rumah sakit didirikan, apa tugasnya, dan untuk siapa rumah
sakit tersebut melakukan kegiatan. Sebagai contoh, salah satu misi
rumah sakit keagamaan adalah melayani masyarakat miskin dan
membutuhkan pertolongan kesehatan.
Sementara itu, misi sebuah rumah sakit for profit salah satunya adalah melayani masyarakat
dengan sebaik-baiknya. Rumah sakit for-profit juga berusaha memenuhi harapan pemegang
saham yaitu memperoleh keuntungan. Dengan demikian pernyataan misi tergantung pada
sifat lembaga dan pemilik rumah sakit.
Misi sebaiknya dapat menggambarkan tugas, cakupan tindakan yang dilakukan, kelompok
masyarakat yang dilayaninya, pengguna yang harus dipuaskan, dan nilainya. Perincian misi
mencakup pernyataan mengenai tujuan yang akan dicapai oleh lembaga. Berikut ini beberapa
contoh misi rumah sakit atau lembaga pelayanan kesehatan.
Henry Ford Health System is one of the nation's leading health care providers, offering a
seamless array of acute, primary, tertiary, quaternary and preventive care backed by
excellence in research and education. Henry Ford Health System (HFHS).
To provide the highest quality care to individuals and to the community, to advance care
through excellence in biomedical research, and to educate future academic and practice
leaders of the health care professions (Massachusetts General Hospital) Menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi dan profesional dengan dilandasi sentuhan
manusiawi serta terjangkau bagi masyarakat eks Karesidenan Banyumas dan sekitarnya (RSUD
Banyumas).
Beberapa sifat misi adalah sebagai berikut (Ginter dan Duncan );
1. Misi merupakan pernyataan tujuan rumah sakit secara luas, tetapi jelas batasannya. Dalam
misi Henry Ford Health Service secara jelas diungkap tujuan pelayanan kesehatan, pendidikan,
dan penelitian. Sementara itu, RSUD Banyumas terbatas mencantumkan tugas pelayanan
kesehatan. RS ini tidak mempunyai tugas penelitian maupun pendidikan.
ASPEK STRATEGIS MANAJEMEN RUMAH SAKIT 190
Pernyataan misi ditulis untuk dikomunikasikan ke seluruh sumber daya manusia serta seluruh
stakeholder.
2. Pernyataan misi sebaiknya bersifat tahan lama tetapi dapat berubah. Tujuan organisasi yang
tercakup dalam misi dapat berubah tetapi tidak terlalu sering berganti. Dengan sifat misi yang
dapat bertahan lama maka sumber daya manusia rumah sakit dapat mempunyai komitmen
terhadap tujuan lembaga. Sebagai contoh, misi rumah sakit pendidikan harus dipahami,
sehingga dokter yang bekerja pada rumah sakit pendidikan akan mempunyai komitmen
sebagai seorang pendidik. Komitmen sebagai pendidik ini bersifat spesifik dan harus bertahan
lama. RSUD Banyumas, di tahun 2000 sedang merintis menjadi rumah sakit pendidikan untuk
Fakultas Kedokteran UGM. Apabila hal ini benar terjadi maka misi rumah sakit akan ditambah
dengan misi pendidikan dan penelitian.
3. Misi sebuah rumah sakit sebaiknya menggarisbawahi keunikan lembaga. Hal ini dilihat pada
pergantian misi sebuah rumah sakit kusta. Setelah penyakit kusta berkurang drastis, rumah
sakit kusta berubah misi menjadi rumah sakit umum. Akan tetapi, rumah sakit tersebut masih
mempunyai keunikan karena merupakan rumah sakit umum yang dikenal mempunyai misi
rehabilitasinya.
4. Pernyataan misi sebaiknya mencantumkan jangkauan pelayanan, kelompok masyarakat
yang dilayani dan pasar penggunanya. Misi sebuah lembaga sebaiknya menyatakan kebutuhan
manusia akan peran lembaga.

Berikut dua contoh pernyataan misi sebuah rumah sakit daerah di Jawa. Menyelenggarakan
pelayanan kesehatan preventif, kuratif maupun rehabilitatif dan promotif dengan mutu
terbaik, sejalan dengan program pemerintah dan berorientasi kepada kepuasan konsumen
(RSUD Y). Rumah sakit menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk mencapai Kab X sehat di
tahun 2010 (RSUD X). BAGIAN 3 DARI VISI DAN STRATEGI KE PROGRAM 191
Berdasarkan kedua contoh tersebut terlihat bahwa pernyataan misi masih bersifat umum,
kurang mencerminkan keunikan dan kejelasan mengenai penggunanya. Pernyataan misi
seperti ini sering ditulis oleh lembaga rumah sakit pemerintah. Pada saat pelatihan
manajemen strategis bagi rumah sakit daerah yang diselenggarakan oleh Departemen Dalam
Negeri dan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM, terlihat bahwa penyusunan misi
menghasilkan pernyataan yang hampir seragam dan tidak mencerminkan keunikan rumah
sakit. Sebagai gambaran, rumah sakit di daerah industri ternyata tidak menuliskan misinya
sebagai rumah sakit yang mendukung kesehatan industri. Demikian pula rumah sakit di daerah
pariwisata ternyata tidak mencantumkan misi rumah sakit yang berkaitan dengan sektor
kepariwisataan. Dalam hal ini seolah-olah penulisan misi dilakukan tanpa memperhatikan
lingkungan yang ada.
Penulisan misi sebenarnya merupakan proses yang penting dan sebaiknya melibatkan
pemimpin puncak serta para stakeholder kunci. Pengamatan menunjukkan bahwa penulisan
misi sering dilakukan secara mendadak atau didasarkan pada kebutuhan untuk lulus akreditasi
dan mengikuti pelatihan.
Proses penyusunan misi sebaiknya memperhatikan berbagai hal. Pernyataan-pernyataan ini
dapat dianggap sebagai check list untuk penyusunan misi yang benar (Ginter dkk,1995; Truitt,
2001).
- Misi RS X memberikan …….. Dalam menuliskan misi perlu memperhatikan tatabahasa dan
susunan kalimat agar dapat menggambarkan tugas rumah sakit secara jelas. Penulisan misi
terkait dengan kebutuhan masyarakat. Penulisan misi sebaiknya untuk jangka panjang.

- Kami melaksanakan tujuan rumah sakit dengan memberikan pelayanan …….. Perlu
dinyatakan apa saja pelayanan yang dilakukan oleh rumah sakit. Pernyataan ini harus
bermakna untuk pihak luar yang mungkin tidak paham dengan tugas rumah sakit, dan
bermakna pula bagi karyawan rumah sakit.
ASPEK STRATEGIS MANAJEMEN RUMAH SAKIT 192
- Kami menyelenggarakan pelayanan ini untuk …… Dalam hal ini perlu disebutkan siapa
pengguna layanan rumah sakit dan di mana tempat mereka.

- Prinsip dasar yang dipegang dalam hubungan dengan pengguna adalah…... Dalam mengisi hal
ini perlu disebutkan standar pelayanan yang menjadi pegangan rumah sakit. Misalnya, rumah
sakit yang menerima pasien dari luar negeri akan mencantumkan standar internasional dalam
pernyataan misinya. Standar-standar ini akan menjadi pedoman nilai untuk pegangan
karyawan dan pihak manajemen dalam bekerja. Selanjutnya, standar tersebut dapat diuraikan
dalam bagian pedoman nilai

5. Apa saja jenis pelayanan rumah sakit ?

Sakit Umum Kelas A paling sedikit meliputi:


a. pelayanan medik;
b. pelayanan kefarmasian;
c. pelayanan keperawatan dan kebidanan;
d. pelayanan penunjang klinik;
e. pelayanan penunjang nonklinik; dan
f. pelayanan rawat inap.

Pasal 15
(1) Pelayanan medik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a, paling sedikit terdiri dari:
a. pelayanan gawat darurat;
b. pelayanan medik spesialis dasar;
c. pelayanan medik spesialis penunjang;
d. pelayanan medik spesialis lain;
e. pelayanan medik subspesialis; dan
f. pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
(2) Pelayanan gawat darurat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus
diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus.
(3) Pelayanan medik spesialis dasar, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi
pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri dan ginekologi.
(4) Pelayanan medik spesialis penunjang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi pelayanan anestesiologi, radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan rehabilitasi
medik.
Pasal 19
Pelayanan penunjang nonklinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e meliputi
pelayanan laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan
limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem
penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik, dan pengelolaan air bersih.
Pasal 20
Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf f harus dilengkapi dengan
fasilitas sebagai berikut:
a. jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah;
b. jumlah tempat tidur perawatan Kelas III paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik swasta;
c. jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen) dari seluruh tempat tidur
untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan Rumah Sakit milik swasta.

Pasal 21
(1) Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas A terdiri atas: a. tenaga medis;

b. tenaga kefarmasian;

c. tenaga keperawatan;

d. tenaga kesehatan lain;

e. tenaga nonkesehatan.

(2) Tenaga medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas: a. 18
(delapan belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 4 (empat) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 6 (enam) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar;
d. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis penunjang;
e. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis lain;
f. 2 (dua) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik subspesialis; dan
g. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut.
(3) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh)
tenaga teknis kefarmasian;
c. 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis
kefarmasian;
d. 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2 (dua) tenaga teknis
kefarmasian;
e. 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) tenaga teknis
kefarmasian;
f. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap
melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga
teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian
Rumah Sakit; dan
g. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan
pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah
Sakit.

Pasal 22
(1) Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1)
huruf c sama dengan jumlah tempat tidur pada instalasi rawat inap.
(2) Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit. -
Pasal 23
Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 huruf d dan huruf e disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
Pasal 24
(1) Peralatan Rumah Sakit Umum kelas A harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(2) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari peralatan medis
untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik, farmasi,
instalasi gizi, dan kamar jenazah.

(3) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam Lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Paragraf 2
Rumah Sakit Umum Kelas B
Pasal 25
Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum kelas B paling sedikit meliputi:
a. pelayanan medik;
b. pelayanan kefarmasian;
c. pelayanan keperawatan dan kebidanan;
d. pelayanan penunjang klinik;
e. pelayanan penunjang nonklinik; dan
f. pelayanan rawat inap.
Pasal 26
(1) Pelayanan medik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a, paling sedikit terdiri dari:
a. pelayanan gawat darurat;
b. pelayanan medik spesialis dasar;
c. pelayanan medik spesialis penunjang;
d. pelayanan medik spesialis lain;
e. pelayanan medik subspesialis; dan
f. pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
(2) Pelayanan gawat darurat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus
diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus.
(3) Pelayanan medik spesialis dasar, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi
pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri dan ginekologi.
(4) Pelayanan medik spesialis penunjang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi pelayanan anestesiologi, radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan rehabilitasi
medik.
(5) Pelayanan medik spesialis lain, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, paling sedikit
berjumlah 8 (delapan) pelayanan dari 13 (tiga belas) pelayanan yang meliputi pelayanan mata,
telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan pembuluh darah, kulit dan kelamin,
kedokteran jiwa, paru, orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan kedokteran
forensik.
(6) Pelayanan medik subspesialis, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, paling sedikit
berjumlah 2 (dua) pelayanan subspesialis dari 4 (empat) subspesialis dasar yang meliputi
pelayanan subspesialis di bidang spesialisasi bedah, penyakit dalam, kesehatan anak, dan
obstetri dan ginekologi.
(7) Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f,
paling sedikit berjumlah 3 (tiga) pelayanan yang meliputi pelayanan bedah mulut,
konservasi/endodonsi, dan orthodonti.
Pasal 27
Pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf b meliputi pengelolaan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik.
Pasal 28
Pelayanan keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c
meliputi asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
Pasal 29
Pelayanan penunjang klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf d meliputi pelayanan
bank darah, perawatan intensif untuk semua golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi
instrumen dan rekam medik.
Pasal 30
Pelayanan penunjang nonklinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf e meliputi
pelayanan laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan
limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem
penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik, dan pengelolaan air bersih.
Pasal 31
Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf f harus dilengkapi dengan
fasilitas sebagai berikut:
a. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah;
b. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik swasta;
c. jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen) dari seluruh tempat tidur
untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan Rumah Sakit milik swasta.

Pasal 32
(1) Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas B terdiri atas:
a. tenaga medis;
b. tenaga kefarmasian;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kesehatan lain;
e. tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas:
a. 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar;
d. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis penunjang;
e. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis lain;
f. 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik subspesialis; dan
g. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut.
(3) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 4 (empat) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan)
orang tenaga teknis kefarmasian;
c. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang
tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) orang apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2 (dua) orang
tenaga teknis kefarmasian;
e. 1 (satu) orang apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) orang tenaga
teknis kefarmasian;
f. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu
oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan
kefarmasian Rumah Sakit; dan
g. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan
pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah
Sakit.
Pasal 33
(1) Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1)
huruf c sama dengan jumlah tempat tidur pada instalasi rawat inap.
(2) (2) Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
(3) Pasal 34
(4) Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf d dan e disesuaikan dengan kebutuhan
pelayanan Rumah Sakit.
(5) Pasal 35
(6) (1) Peralatan Rumah Sakit Umum kelas B harus memenuhi standar sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(7) (2) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari peralatan
medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat
operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi, dan kamar jenazah.
(8) (3) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(9)
(10) Paragraf 3
(11) Rumah Sakit Umum Kelas C
(12) Pasal 36
(13) Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum kelas C paling sedikit meliputi:
(14) a. pelayanan medik;
(15) b. pelayanan kefarmasian;
(16) c. pelayanan keperawatan dan kebidanan;
(17) d. pelayanan penunjang klinik;
(18) e. pelayanan penunjang nonklinik; dan
(19) f. pelayanan rawat inap.
Pasal 37
(1) Pelayanan medik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a, paling sedikit terdiri dari:
a. pelayanan gawat darurat;
b. pelayanan medik umum;
c. pelayanan medik spesialis dasar;
d. pelayanan medik spesialis penunjang;
e. pelayanan medik spesialis lain;
f. pelayanan medik subspesialis; dan
g. pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
(2) Pelayanan gawat darurat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus
diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus.
(3) Pelayanan medik umum, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi pelayanan
medik dasar, medik gigi mulut, kesehatan ibu dan anak, dan keluarga berencana.
(4) Pelayanan medik spesialis dasar, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi
pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri dan ginekologi.
(5) Pelayanan medik spesialis penunjang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d,
meliputi pelayanan anestesiologi, radiologi, dan patologi klinik.
(6) Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g,
paling sedikit berjumlah 1 (satu) pelayanan.
Pasal 38
Pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf b meliputi pengelolaan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik.
Pasal 39
Pelayanan keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf c
meliputi asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
Pasal 40
Pelayanan penunjang klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf d meliputi pelayanan
bank darah, perawatan intensif untuk semua golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi
instrumen dan rekam medik.
Pasal 41
Pelayanan penunjang nonklinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf e meliputi
pelayanan laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan
limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem
penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik, dan pengelolaan air bersih.
Pasal 42
Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf f harus dilengkapi dengan
fasilitas sebagai berikut:
a. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah;
b. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik swasta;
c. jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen) dari seluruh tempat tidur
untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan Rumah Sakit milik swasta.

Pasal 43
(1) Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas C terdiri atas:
a. tenaga medis;
b. tenaga kefarmasian;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kesehatan lain;
e. tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas:
a. 9 (sembilan) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 2 (dua) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar;
d. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis penunjang; dan
e. 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut.
(3) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 2 (dua) apoteker yang bertugas di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 4 (empat)
orang tenaga teknis kefarmasian;
c. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang
tenaga teknis kefarmasian;
d. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan produksi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu
oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan
kefarmasian Rumah Sakit.

Pasal 44
(1) Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1)
huruf c dihitung dengan perbandingan 2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur.
(2) Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah Sakit.
Pasal 45
Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 43 ayat (1) huruf d dan huruf e disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah
Sakit.
- 20 -
Pasal 46
(1) Peralatan Rumah Sakit Umum kelas C harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(2) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari peralatan medis
untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik, farmasi,
instalasi gizi, dan kamar jenazah.

(3) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam Lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Paragraf 4
Rumah Sakit Umum Kelas D
Pasal 47
Pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Kelas D paling sedikit meliputi:
a. pelayanan medik;
b. pelayanan kefarmasian;
c. pelayanan keperawatan dan kebidanan;
d. pelayanan penunjang klinik;
e. pelayanan penunjang nonklinik; dan
f. pelayanan rawat inap.
Pasal 48
(1) Pelayanan Medik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf a, paling sedikit terdiri dari:
a. pelayanan gawat darurat;
b. pelayanan medik umum;
c. pelayanan medik spesialis dasar; dan
d. pelayanan medik spesialis penunjang.
(2) Pelayanan gawat darurat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus
diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus.
(3) Pelayanan medik umum, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi pelayanan
medik dasar, medik gigi mulut, kesehatan ibu dan anak, dan keluarga berencana.
(4) Pelayanan medik spesialis dasar, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, paling
sedikit 2 (dua) dari 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar yang meliputi pelayanan
penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan/atau obstetri dan ginekologi.
(5) Pelayanan medik spesialis penunjang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d,
meliputi pelayanan radiologi dan laboratorium.
Pasal 49
Pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf b meliputi pengelolaan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik.
Pasal 50
Pelayanan keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf c
meliputi asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
Pasal 51
Pelayanan penunjang klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf d meliputi pelayanan
darah, perawatan high care unit untuk semua golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi
instrumen dan rekam medik.
Pasal 52
Pelayanan penunjang nonklinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf e meliputi
pelayanan laundry/linen, jasa boga/dapur, teknik dan pemeliharaan fasilitas, pengelolaan
limbah, gudang, ambulans, sistem informasi dan komunikasi, pemulasaraan jenazah, sistem
penanggulangan kebakaran, pengelolaan gas medik, dan pengelolaan air bersih.
Pasal 53
Pelayanan rawat inap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 huruf f harus dilengkapi dengan
fasilitas sebagai berikut:
a. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah;
b. jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh
tempat tidur untuk Rumah Sakit milik swasta;
c. jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5% (lima persen) dari seluruh tempat tidur
untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan Rumah Sakit milik swasta.

Pasal 54
(1) Sumber daya manusia rumah sakit umum kelas D terdiri atas:
a. tenaga medis;
b. tenaga kefarmasian;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kesehatan lain;
e. tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit terdiri atas:
a. 4 (empat) dokter umum untuk pelayanan medik dasar;
b. 1 (satu) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut;
c. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar.
(3) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas:
a. 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
b. 1 (satu) apoteker yang bertugas di rawat inap dan rawat jalan yang dibantu oleh paling
sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian;
c. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan produksi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu
oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan
kefarmasian Rumah Sakit.
Pasal 55
(1) Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1)
huruf c dihitung dengan perbandingan 2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur.
(2) Kualifikasi dan kompetensi tenaga keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan rumah sakit.
Pasal 56
Jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 54 ayat (1) huruf d dan huruf e disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan Rumah
Sakit.
Pasal 57
(1) Peralatan Rumah Sakit Umum kelas D harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(2) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari peralatan medis
untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik, farmasi,
instalasi gizi, dan kamar jenazah.

(3) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam Lampiran
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Paragraf 5
Rumah Sakit Umum Kelas D Pratama
Pasal 58
(1) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat 2 huruf b,
didirikan dan diselenggarakan untuk menjamin ketersediaan dan meningkatkan aksesibilitas
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tingkat kedua.
- 24 -
(2) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Selain pada daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Rumah Sakit Umum kelas D
pratama dapat juga didirikan di kabupaten/kota, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. belum tersedia Rumah Sakit di kabupaten/kota yang bersangkutan;

b. Rumah Sakit yang telah beroperasi di kabupaten/kota yang bersangkutan kapasitasnya


belum mencukupi; atau

c. lokasi Rumah Sakit yang telah beroperasi sulit dijangkau secara geografis oleh sebagian
penduduk di kabupaten/kota yang bersangkutan.

(4) Ketentuan mengenai Rumah Sakit Umum kelas D pratama diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Rumah Sakit Khusus
Pasal 59
(1) Rumah Sakit Khusus meliputi rumah sakit khusus:

a. ibu dan anak;


b. mata;
c. otak;
d. gigi dan mulut;
e. kanker;
f. jantung dan pembuluh darah;
g. jiwa;
h. infeksi;
i. paru;
j. telinga-hidung-tenggorokan;
k. bedah;
l. ketergantungan obat; dan
m. ginjal.
(2) Selain jenis Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri dapat
menetapkan jenis Rumah Sakit Khusus lainnya.
(3) Jenis Rumah Sakit Khusus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa
penggabungan jenis kekhususan atau jenis kekhususan baru.

(4) Penetapan jenis Rumah Sakit Khusus baru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
berdasarkan hasil kajian dan mendapatkan rekomendasi asosiasi perumahsakitan serta
organisasi profesi terkait.

Pasal 60
(1) Rumah Sakit Khusus hanya dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai bidang
kekhususannya dan bidang lain yang menunjang kekhususan tersebut.

(2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di luar bidang kekhususannya hanya dapat


dilakukan pada pelayanan gawat darurat.

Pasal 61
Rumah Sakit Khusus harus mempunyai fasilitas dan kemampuan, paling sedikit meliputi:
a. pelayanan, yang diselenggarakan meliputi:
1. pelayanan medik, paling sedikit terdiri dari:
a) pelayanan gawat darurat, tersedia 24 (dua puluh empat) jam sehari terus menerus sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b) pelayanan medik umum;
c) pelayanan medik spesialis dasar sesuai dengan kekhususan;
d) pelayanan medik spesialis dan/atau subspesialis sesuai kekhususan;
e) pelayanan medik spesialis penunjang;
2. pelayanan kefarmasian;
3. pelayanan keperawatan;
4. pelayanan penunjang klinik; dan
5. pelayanan penunjang nonklinik;
b. sumber daya manusia, paling sedikit terdiri dari:
1. tenaga medis, yang memiliki kewenangan menjalankan praktik kedokteran di Rumah Sakit
yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. tenaga kefarmasian, dengan kualifikasi apoteker dan tenaga teknis kefarmasian dengan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.
3. tenaga keperawatan, dengan kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan
pelayanan Rumah Sakit;
4. tenaga kesehatan lain dan tenaga nonkesehatan, sesuai dengan kebutuhan pelayanan
Rumah Sakit;
c. peralatan, yang memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
Pasal 62
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria klasifikasi dan standar peralatan untuk masing-
masing jenis Rumah Sakit Khusus diatur dengan Peraturan Menteri.

1. Bagaimana Struktur organisasi di rumah sakit?


Permenkes 1045 tahun 2006
2. Apa saja definisi dan komponen manajemen rumah sakit?
Manajemen rs : koordinasi dari berbagai sumber daya , perencanaan , pengorganisasian,
kemampuan untuk mencapai tujuan rumah sakit. Misal, menyiapkan sumber daya,
mengevaluasi efektiftas, mengatur pemakaian pelayanan dan efisiensi kualitas.
Komponen manajemen rumah sakit :

- Manajemen ketenagakerjaan : mengatur ttg pegawainya.


- Manajemen logistic dan ketersediaan barang : merencanakan, menentukan kebutuhan,
penyimpanan , pengadaan, penghapusan, pemeliharaan.
- Manajamen mutu pelayanan rumah sakit
- Manajemen pemasaran dan marketing rumah sakit
- Manajemen strategis : lebih ke perencanaan.
Perencanaan pengadaan obat dan logistic  1. Pola konsumsi
2. Epidemiologi
Perencanaan tenaga di rumah sakit  1. Jenis pekerjaan
2. sifat pekerjaan
3. perkiraan beban masing-masing pekerjaan
4. perkiraan kapasitas pegawai yang akan ditampung
5. jenis dan jumlah peralatan medis

3. Apa ruang lingkup pelayanan dan manajemen rumah sakit?


Ruang lingkup manajemen rumah sakit :
a. Bagian administrasi. Meliputi fungsi perencanaan pengorganisasian, pelaksanaan,
evaluasi
b. Objek dan subjek. Kumpulan factor yang berhubungan yang dibuat untuk
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit agar bisa melayani tuntutan kesehatan
perseorangan keluarga kelompok setiap saat dibutuhkan

Ruang lingkup pelayanan rumah sakit :

*sesuai dengan tipe rumah sakit-nya*

4. Apa saja indikator pelayanan rumah sakit ?

INDIKATOR PENILAIAN MUTU ASUHAN KESEHATAN


Mutu asuhan kesehatan sebuah RS akan selalu terkait dengan struktur, proses, dan
outcome sistem pelayanan RS tersebut. Mutu asuhan pelayanan RS juga dapat dikaji dan
tingkat pemanfaatan sarana pelayanan oleh masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi
RS. Ada beberapa aspek penting yang perlu dikaji jika ingin memba‐has indikator mutu
pelayanan RS.
Aspek struktur Struktur adalah semua masukan (input) untuk sistem pelayanan sebuah RS
yang meliputi tenaga, peralatan, dana, dsb. Ada sebuah asumsi yang mengatakan bahwa jika
struktur sistem RS tertata dengan baik, akan lebih menjamin mutu asuhannya. Baik tidaknya
struktur RS diukur dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya (efisiensi), mutu dari masing‐masing
komponen struktur.

Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter dan tenaga profesi lainnya yang mengadakan
in‐teraksi secara profesional dengan pasiennya. Interaksi ini diukur antara lain dalam bentuk
penilaian tentang penyakit pasien, penegakan diagnosa, rencana tindakan pengobatan,
indikasi tindakan, penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan.
Dalam hal ini juga dianut asumsi bahwa semakin patuh tenaga profesi menjalankan
"standars of a good practice" (standard of conduct) yang telah diterima dan diakui oleh
masing‐masing ikatan profesi akan semakin tinggi pula mutu asuhan ter‐hadap pasien. Baik
tidaknya pelaksanaan proses pelayanan di RS dapat diukur dari tiga aspek yaitu relevan
tidaknya proses itu bagi pasien, efektifitas prosesnya, dan kualitas interakasi asuhan terhadap
pasien.
Out come
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter dan tenaga profesi lainnya terhadap pasien.
Petunjuk untuk mengukur mutu asuhan kesehatan. Indikator‐indikator mutu yang mengacu
pada aspek pelayanan medis meliputi:

1. Angka infeksi nosokomial


2. Angka kematian kasar (gross death rate)

3. Kematian pasca bedah

4. Kematian ibu melahirkan (MDR) 5. Kematian bayi baru lahir (IDR)


1. NDR (net death rate di atas 48 jam)

2. ADR (anasthesia death rate)

3. PODR (post operation death rate)

4. POIR (post operative infection rate)

(1‐2%)
(3‐4%)
(1‐2%)
1‐2%
20/1000.
2.5%
max. 1/5000
1%
1%

Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS:


1. Unit cost untuk rawat jalan

2. Jumlah penderita yang mengalami decubitus.

3. Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur.

4. BOR: 70‐85%

5. BTO (Bed turn over) : 5 ‐ 45 hari atau 40‐50 kali per satu TT/thn
1. TOI (Turn over interval) :l‐3 hari TT yang kosong.

2. ALOS (Average length of stay) : 7 ‐ 10 hari.

3. Normal Tissue Removal Rate : 10%

Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien dapat diukur dengan:
1. Jumlah keluhan dari pasien/keluarganya

2. Surat pembaca di koran

3. Surat kaleng

4. Surat masuk di kotak saran, dsb.

Indikator cakupan pelayanan sebuah RS terdiri dari:


1. Jumlah dan prosentase kunjungan rawat jalan/inap menurut jarak RS dengan asal pasien.

2. Jumlah pelayanan dan tindakan medik.


Jumlah tindakan pembedahan.

Jumlah kunjungan SMF spesialis.

3. Pemanfaatan oleh masyarakat:


. Contac rate

. Hospitalization rate

. Out patient rate.

. 4. Emergency out patient rate

Untuk mengukur mutu pelayanan sebuah RS, angka‐angka standar tersebut di atas
dibandingkan dengan standar (indikator) nasional. Jika tidak ada angka standar nasional,
penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan hasil pencatatan mutu pada tahun‐tahun
sebelumnya di RS yang sama setelah dikembangkan kesepakatan pihak manajemen/direksi RS
ybs dengan masing SMF dan staf lainnya yang terkait.
Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan pasien:
1. Pasien terjatuh dari tempat tidur/kamar mandi

2. Pasien diberi obat salah

3. Tak ada obat/alat emergensi

4. Tak ada oksigen

5. Tak ada alat penyedot lendir

6. Tak tersedia alat pemadam kebakaran

7. Pemakaian obat

8. Pemakaian air, listrik, gas, dsb.


Mutu pelayanan medis dan kesehatan di RS sangat erat kaitannya dengan manajemen RS
(quality of services) dan keprofesionalan SMF dan staf lainnya di RS (quality of care). Keduanya
merupakan bagian dari manajemen menjaga mutu di RS (quality assurance) melalui
pembentukan gugus kendali mutu di tingkat manajemen RS. Dalam hal ini, gugus kendali mutu
dapat dibebankan kepada komite medik RS karena mereka adalah staf fungsional (non
struktural) yang membantu direktur RS dan yang melibatkan sepenuhnya semua SMF RS.
I. RUMUS UNTUK MENGHITUNG MUTU PELAYANAN RS
1. Bed Occupancy Rate (BOR)
Persentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Indikator ini
memberikan gambaran tentang tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur RS.

Rumus:
Jumlah hari perawatan di RS
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐ x 100 %
Jumlah TT x 365
2. Average Length of Stay (ALOS)
Rata‐rata lamanya perawatan seorang pasien. Indikator ini dapat menggambarkan tingkat
efisiensi manajemen pasien di sebuah RS, untuk mengukur mutu pelayanan apabila diagnosis
penyakit tertentu dijadikan tracernya (sesuatu yang perlu diamati le‐bih lanjut).
Rumus:
Jumlah hari perawatan pasien dalam 1 tahun
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Jumlah pasien keluar jumlah pasien keluar (hidup + mati)
3. Bed Turn Over (BTO)
Frekuensi pemakaian tempat tidur dalam satu satuan waktu (biasanya per tahun) tempat tidur
RS. Indikator ini akan memberikan gambaran tentang tingkat pemakaian tempat tidur di
sebuah RS.
Rumus:
Jumlah pasien keluar RS (hidup + mati)
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Jumlah tempat tidur
4. Turn Over Interval (TOI)
Rata‐rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat ke saat sampai terisi berikutnya. Indikator
ini juga memberikan gambaran tentang tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.
Rumus:
(Jumlah TT x hari) ‐ hari perawatan
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Jumlah pasien keluar (hidup+mati)
5. Net Death Rate (NDR)
Angka kematian di atas 48 jam setelah dirawat di RS untuk tiap‐tiap 100 penderita yang keluar
dari RS.
Rumus:
Jumlah pasien mati di atas 48 jam dirawat
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐ x 100%
Jumlah pasien keluar hidup dan mati di bawah 48 jam
6. Gross Death Rate (GDR)
Angka kematian umum penderita keluar RS.
Rumus:
Jumlah pasien mati setelah dirawat
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐ x 100%
Jumlah pasien keluar rumah sakit (hidup + mati)

5. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendah BOR?