Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA


IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN KUNCI DETERMINASI KELAS
AMPHIBIA

OLEH :
KELOMPOK 3B

RAMADANI FITRA 1610422034


LINA JUWAIRIYAH 1610422012
SASMITA YULIZA 1610421008
ULFA DEWI AMELISA 1610422002
APRIMAWITA 1610422048
REGITA CAHYANI 1610423002

ASISTEN PJ : MUHAMMAD RINGGA


YENI GUSMA YANTI

LABORATORIUM PENDIDIKAN IV
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Vertebrata pertama di darat adalah anggota kelas Amphibia. Saat ini kelas tersebut

diwakili oleh kurang lebih 4000 spesies katak, salamander, dan caecilia (makhluk tak bertungkai

yang membuat lubang untuk sarang di hutan tropis dan danau air tawar. Terdapat tiga

ordo Kelas Amphibia yang masih hidup saat ini, yaitu Urodela (berekor ±

salamander), Anura (tidak berekor ± katak, termasuk bangkong), dan Apoda (tak

berkaki ± caecilian). Hanya ada sekitar 400 spesies dari ordo Urodela. Beberapa

diantaranya hanya hidup di air,tetapi yang lain hidup di darat sebagai hewan dewasa

atau bahkan sepanjang masa kehidupan.Sebagian besar salamander yang hidup di darat

berjalan dengan pembengkokan badan darisisi ke sisi yang mirip dengan cara berjalan

tetrapoda awal ( Cambell, 2004).

Berdasarkan American Museum Natural History (2016), Kelas amphibia di

dunia saat ini terdiri dari 6771 spesies, di mana Ordo Anura terdiri dari 5966 spesies,

Ordo Caudata 619 spesies, dan Ordo Ghymnophiona 186 spesies. Famili Bufonidae

dari Ordo Anura terdiri dari 558 spesies. Famili Megophryidae terdiri dari 156

spesies, famili Ranidae 347 spesies. Famili Microhylidae terdiri dari 487 spesies dan

321 spesies dari Rhacoporidae.

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk

tubuh pada mahluk hidup maupun ciri khas dari makhluk hidup itu sendiri.

Mengetahui bentuk tubuh dan karakteristik dari makhluk hidup dapat dibuat kunci

determinasi untuk memudahkan dalam pengelompokannya. Kunci determminasi

adalah salah satu cara yang digunakan untuk pengelompokan spesies berdasarkan

ciri-ciri morfologinya (Iskandar, 1998).

Untuk dapat membuat taksonomi, maka kita harus melakukan identifikasi dan

morfologi dari berbagai bentuk tubuh hewan ataupun objek lain terlebih dahulu.

Sistem atau cara pengelompokan seperti ini dikenal dengan istilah sistematika atau
taksonomi. Oleh karena itu pada praktikum ini kita harus mengetahui dan memahami

langkah – langkah dalam mengidentifikasi dan mengenali karakter morfologi dari

objek. Sehingga nantinya dengan mudah kita dapat melakukan identifikasi dengan

baik dan tepat.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui identifikasi dan

morfologi dari kelas amphibi sehingga dapat dibuat kunci determinasi.

.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Amphibi merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi

oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Amphibi selalu hidup

berasosiasi dengan air, tetapi hewan ini menghuni habitat yang cukup beragam mulai

dari yang hidup di bawah permukaan air sampai yang hidup di puncak pepohonan.

Amfibi tidak memiliki alat fisik untuk mempertahankan diri seperti taring dan cakar,

sebagian besar untuk jenis katak mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat

dan menghindari bahaya, alat pertahanan lain yang cukup efektif adalah kulitnya

yang beracun. Anggota amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Urodela (Salamander),

Apoda (Caecilia), dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah) (Djuhanda,

1983).

Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki

peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis,

amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan

invertebrata lainnya serta dapat digunakan sebagai bioindikator kondisi lingkungan.

Secara ekonomis amfibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani, hewan

percobaan, hewan peliharaan dan bahan obat-obatan (Duellman, 1994).

Amfibi berasal dari kata amphi yang berarti ganda dan bio yang berarti hidup.
Secara harfiah amfibi diartikan sebagai hewan yang hidup di dua alam, yakni dunia
darat dan air. Amfibi dikenal sebagai hewan bertulang belakang yang suhu tubuhnya
tergantung pada lingkungan, mempunyai kulit licin dan berkelenjar serta tidak
bersisik. Sebagian besar mempunyai anggota gerak dengan jari (Jafnir,1984).
Amfibi memiliki beragam bentuk dasarnya tergantung ordonya. Ordo Anura
(jenis katak-katakan) secara morfologi mudah dikenal karena tubuhnya seperti
berjongkok di mana ada empat kaki untuk melompat, bentuk tubuh pendek, leher
yang tidak jelas, tanpa ekor, mata melotot dan memiliki mulut yang lebar Tungkai
belakang selalu lebih panjang dibanding tungkai depan. Tungkai depan memiliki 4
jari sedangkan tungkai belakang memiliki 5 jari. Kulitnya bervariasi dari yang halus
hingga kasar bahkan tonjolan-tonjolan tajam kadang ditemukan seperti pada famili
Bufonidae. Ukuran katak di Indonesia bervariasi mulai dari yang terkecil yakni 10
mm hingga yang terbesar mencapai 280 mm (Iskandar, 1998). Katak di Sumatera
diketahui berukuran antara 20 mm – 300 mm (Zyg,1993).
Habitat utama amfibi adalah hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa, sungai
besar, sungai sedang, anak sungai, kolam dan danau. Umumnya amfibi dijumpai
pada malam hari atau pada musim penghujan. Amfibi selalu hidup berasosiasi
dengan air sesuai namanya yaitu hidup pada dua alam (di air dan di darat).
Selanjutnya dijelaskan bahwa sebagian besar amfibi didapatkan hidup di kawasan
hutan karena di samping membutuhkan air juga membutuhkan kelembaban yang
cukup tinggi (75-85%) untuk melindungi tubuh dari kekeringan (Jafnir,1984).
Ordo Gymnophiona atau yang lebih dikenal dengan sebutan sesilia merupakan
satwa yang dianggap langka dan sulit diketahui keberadaannya dialam. Jumlah jenis
dari Ordo ini adalah sebanyak 170 jenis dari seluruh jenis amfibi. Ichthyophiidae
merupakan salah satu famili yang terdapat di Asia Tenggara. Tidak semua ordo
dalam kelas amfibi terdapat di Indonesia. Caudata merupakan satu-satunya ordo dari
Amfibi yang tidak terdapat di Indonesia. Ordo Anura terdiri dari katak dan kodok.
Saat ini terdapat lebih dari 4,100 jenis Anura di dunia dan di Indonesia memiliki
sekitar 450 jenis atau 11% dari seluruh anura di dunia. (Zyg,1993).
Ketergantungan Amphibia terhadap lingkungannya bagi kepentingan suhu

tubuhnya membuat Amphibia umumnya terbatas pada habitat spesifik. Karena

Amphibia memiliki kontrol yang kecil terhadap suhu tubuhnya, maka demi

kesehatan maka Amphibia harus tetap berada dalam lingkungan dengan batas-batas

suhu yang sesuai. (Djuhanda, 1983).

Pada umumnya katak aktif pada malam hari (nocturnal) dan biasanya berada

dengan posisi kepala menghadap ke air. Makanannya terutama terdiri dari

Arthropoda, cacing, larva serangga, ikan kecil, udang, kerang, katak muda bahkan

kadal, ular dan tikus kecil. Suhu udara yang turun pada malam hari dan naiknya

kelembaban udara atau kalau ada hujan memberi kondisi yang baik bagi kegiatan

katak (Jafnir, 1984).


Terdapat tiga perubahan pada metamorphosis katak, yaitu berupa penciutan

bahkan habis sama sekali dari struktur yang sebelumnya sudah ada, terbentuknya

organ yang baru, yang tidak tampak dari luar adalah perubahan struktur baru dari

organ yang sama yang disesuaikan dengan hewan dewasa, walaupun berlangsungnya

singkat. Metamorfosis merupakan suatu masa kritis yang di alami selama terjadinya

perubahan dari hewan berhabitat aquatik menjadi terestrial (Duellman, 1994).

Katak mudah dikenal dari tubuh yang tampak berjongkok dengan empat kaki

untuk melompat dan tanpa ekor. Kaki belakang berfungsi untuk melompat, lebih

panjang dari pada kaki depan yang pendek dan ramping, dan berguna untuk

melompat mencari mangsa atau menghindarkan diri. Matanya sangat besar dengan

pupil mata horizontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak pupil matanya

berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi masing-masing kelompok. Ujung

jarinya mungkin tidak berbentuk, hanya silindris atau berbentuk piringa yang pipih

dan kadang-kadang mempunyai lipatan kulit lateral lebar. Kaki depan mempunyai

empat jari, sedangkan kaki belakang berjari lima. Selaput kulit tumbuh diantara jari-

jari. Selaput ini bervariasi dari tiap jenis. Beberapa jenis hampir tidak berselaput

tetapi pada jenis yang lain selaputnya meluas sampai menutupi jari atau pelebaran

ujung jari (Iskandar, 1998).


III. METODA PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 02 November 2017 pukul 08.00-11.00

WIB, di Laboratorium Pendidikan IV, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam, Unversitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah rol, tabel pengamatan, dan alat

tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Duttaphrynus

melanostictus,Odorrana hosii,Fejervarya cancrivora, Lymnonectes

kuhlii,Polypedates leucomystax, Huia sumatrana,Hylarana erythraea, Amnirana

nicobariensis, Fejervarya limnocaris, Phrynoidis asper, Polypedates

pseudotilophus, Hylarana picturata.

3.3 Cara Kerja

Objek diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala disebelah kiri. Objek itu

diamati dan didokumentasikan dengan menggunakan kamera digital atau kamera

handphone. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap morfologi amphibia yang

menjadi bahan praktikum yaitu SLV, Processus Odontoid, Gigi Vomer, Gigi Maxilla,

Kelenjar Paratoid, Urutan Panjang Kaki Depan dan Belakang, Alur Suprathympanic,

Dorsolateral, Warna Dorsolateral, Ukuran Webbing, Warna Webbing, Bentuk Ujung

Jari, Bentuk Pupil, kemudian dicatat pada data sheet yang telah disediakan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Fejervarya canerivora


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae
Genus : Fejervarya
Species : Fejervarya cancrivora Gambar 1. Fejervarya
(Amphibiaweb,2016) concrivora

Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil pengamatan Fejervarya cancrivora,

SVL 50 mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer tidak ada, gigi maxilla ada,

kelenjar paratoid tidak ada, urutan panjang kaki depan 1>3>2>4 dan urutan kaki

belakang 4>5>3>2>1, alur suprathympanic ada, dorsolateral ada, warna dorsolateral

coklat muda, ukuran webbing setengah, warna webbing coklat tua, bentuk ujung jari

pipih dengan lekuk sirkum marginal, bentuk pupil horizontal.

Fejervarya cancrivora memiliki warna coklat cerah dengan bintil-bintil hitam di


punggungnya, thympanum berwarna hijau kecoklatan dan memiliki gigi fermer.
Menurut Iskandar (1998) bahwa katak berukuran besar dengan lipatan- lipatan atau
bintil- bintil memanjang parallel dengan sumbu tubuh. Hanya terdapat satu bintil
metatarsal dalam, selaput selalu melampaui bintil subartikuler terakhir jari kaki ke 3
dan ke 5. Warnanya seperti lumpur yang kotor dengan bercak- bercak tidak simetris
berwarna gelap. Sering disertai dengan garis dorsolateral yang lebar .
4.2 Fejervarya limnocharis (Boulenger, 1891)
Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae
Genus : Fejervarya
Gambar 2. Fejervarya
Species : Fejervarya limnocharis (Boulenger, 1891) limnocharis
(Amphibiaweb, 2016)

Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil yaitu SVL 40 mm, processus

odontoid ada, gigi vomer ada, gigi maxilla tidak ada, kelenjar paratoid tidak ada,

urutan panjang kaki depan 3>1>4>2 dan urutan kaki belakang 4>3>5>2>1, alur

suprathympanic ada, dorsolateral ada, warna dorsolateral hijau, ukuran webbing

setengah, warna webbing putih kecoklatan, bentuk ujung jari agak runcing, bentuk

pupil horizontal.

Katak ini berukuran besar dengan kepala yang runcing, jari kaki setengah

berselaput dan mempunyai bintil metatarsal. Menurut Iskandar (1998) bahwa katak

ini merupakan jenis yang berukuran kecil dengan ukuran jantan 50 mm dan betina

sampai 60 mm. Memiliki kepala runcing, pendek, jari kaki setengah yang berselaput,

tepat sampai pada ruas yang terakhir. Mempunyai sepasang bintil metatarsal. Kulit

berbintil- bintil panjang jelas parallel dengan sumbu tubuh. Warna tubuh kotor

seperti lumpur dengan bercak gelap, kadang- kadang berwarna kehijauan dan sedikit

semu kemerahan .
4.3 Duttaphrynus melanostictus (Gunter,1859)
Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibi
Ordo : Anura
Famili : Bufonidae Gambar 3. Duttaphrynus
Genus : Bufo melanostictus
Spesies : Duttaphrynus melanostictus (Gunter,1859)
(Amphbiaweb, 2016)

Di dalam praktikum kali ini didapatkan hasil pengamatan Duttaphrynus

melanosticus

SVL 40 mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer tidak ada, gigi maxilla tidak

ada, kelenjar paratoid ada, urutan panjang kaki depan 3>4>2>1 dan urutan kaki

belakang 2>3>1>4>5, alur suprathympanic tidak ada, dorsolateral tidak ada, warna

dorsolateral tidak ada, ukuran webbing setengah , warna webbing coklat muda,

bentuk ujung jari tumpul dengan bintik hitam diujung, bentuk pupil horizontal.

Menurut Amphibiaweb (2016) Duttaphrynus melanostictus kepala dengan

berbeda rostral, preorbital, supraorbital, postorbital dan pendek orbito-timpani,

puncak tengkorak, tidak ada punggung bukit temporal, ruang interorbital lebih luas

dari bagian atas kelopak mata, tympanum sangat berbeda, setidaknya dua pertiga

diameter mata, jari pertama umumnya tetapi tidak selalu melampaui kedua, tuberkel

subarticular ganda hanya di bawah jari ketiga. Jari kaki dengan Tuberkulum

subarticular tunggal, elipticle parotis, dengan coklat gelap concretions branching

tersebar; kulit sangat tuberculated pada panggul, tuberkel biasanya berujung dengan

duri coklat gelap, sebuah baris punggung lateral terhuyung-huyung dari 8-9 tuberkel

membesar puncak kranial, bibir, tips digit, tuberkel metakarpal dan metatarsal yang

cornified dengan coklat tua, yang cenderung gemuruh dari pada individu yang

diawetkan, kepala hampir halus.


4.4 Limnonectes Sp (Tschudi, 1838)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae
Genus : Limnonectes
Species : Limnonectes Sp (Tschudi, Gambar.4 Limnonectes Sp
1838)
(Amphibiaweb, 2016)

Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil pengamatan Fejervarya cancrivora,

SVL 50 mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer tidak ada, gigi maxilla ada,

kelenjar paratoid tidak ada, urutan panjang kaki depan 1>3>2>4 dan urutan kaki

belakang 4>5>3>2>1, alur suprathympanic ada, dorsolateral ada, warna dorsolateral

coklat muda, ukuran webbing setengah, warna webbing coklat tua, bentuk ujung jari

pipih dengan lekuk sirkum marginal, bentuk pupil horizontal..

Hewan ini tidak memiliki lipatan dorsolateral dan memiliki tubuh yang berwarna

hijau kecoklatan dengan ventral berwarna putih gading. Menurut Iskandar (1998)

bahwa katak yang tambun, cincin telinga tidak jelas, kepala lebar,pelipis berotot

terutama pada yang jantan, jari seluuhnya berselaput renang sampai keujung jari.

Kaki sangat pendek dan berotot. Ukuran tubuh yang jantan dewasa sampai 80mm

dan betina dewasa sampai 70mm memiliki tekstur kuit yang sangat berkerut dan

warnanya hitam marmer diseluruh bagian dorsum sampai kehitaman.

4.5 Amnirana nicobariensis (Gunter,1859)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibi
Ordo : Anura
Famili : Ranidae Gambar 5. Amnirana
nicobariensis
Genus : Amnirana
Spesies :Amnirana nicobariensis (Gunter,1859)
(Amphbiaweb, 2016)
Dari hasil pratikum yang didapatkanSVL 43 mm, processus odontoid tidak ada, gigi

vomer tidak ada, gigi maxilla ada, kelenjar paratoid ada, urutan panjang kaki depan

2>1>4>3 dan urutan kaki belakang 4>5>3>2>1, alur suprathympanic ada,

dorsolateral ada, warna dorsolateral coklat tua, ukuran webbing setengah, warna

coklat bening, bentuk ujung jari bulat dengan bintik hitam, bentuk pupil horizontal.

Amnirana nicobariensis memiliki warna hitam kecoklatan, dengan bintil yang

halus atau tidak kasar dan memiliki gigi fermer. Menurut Mistar (2003) bahwa katak

ini memiliki ukuran tubuh yang kecil, kaki yang panjang, alat ekstremitas dengan jari

kaki memiliki tutupan selaput renang yang tidak penuh. Kulit katak licin, berwarna

cokelat muda hingga cokelat tua atau hitam. Selain itu, pada bagian tubuh terdapat

lipatan dorsolateral yang memanjang dari kepala hingga ke ujung tubuh yang

berwarna halus dan tipis. Pada umunya, ukuran hewan jantan sekitar 37-47 mm dan

ukuran hewan betina sekitar 47-55 mm.

4.6 Odorana hosii (Boulenger, 1891)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae
Genus : Odorrana
Species : Odorrana hosii (Boulenger, 1891)
(Amphibiaweb, 2016)
Gambar 6. Odorrana hosii

Di dalam praktikum kali ini didapatkan hasil pengamatan Odorrana hosii SVL 55

mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer ada, gigi maxilla tidak ada, kelenjar

paratoid tidak ada, urutan panjang kaki depan 3>4>2>1 dan urutan kaki belakang

4>5>3>2>1, alur suprathympanic tidak ada, dorsolateral tidak ada, warna

dorsolateral tidak ada, ukuran webbing penuh , warna webbing coklat tua, bentuk

ujung jari pipih dengan lekuk sirkum marginal, bentuk pupil horizontal.

Menurut Mistar (2003) Katak ini mempunyai ukuran tubuh sedang sampai besar

dengan bentuk badan yang ramping. Katak ini mempunyai kaki belakang panjang

dan ramping dengan jari kaki bagian belakang berselaput penuh sampai kedasarnya,

tekstur kulit halus. Mempunyai kelenjar racun yang memberikan bau busuk.Katak ini

mempunyai warna tubuh hijau zaitunatau hijau kecoklatan. Pada bagian sisi

tubuhnya biasanya lebih gelap atau hitam. Biasanya katak jantan berukuran sekitar

45-68 mm, dan katak betina berukuran sekitar 86-100 mm.


4.7 Hylarana picturata(Schlegel, 1837)) (Kongkang bintik)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura Gambar 12. Hylarana picturata


Family : Ranidae

Genus : Hylarana

Spesies : Hylarana picturata (Schlegel, 1837)

Vername : Kongkang bintik

Sumber : Robert Inger, Djoko Iskandar, Peter Paul van Dijk, Norsham Yaakob 2004.

Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil yaitu SVL 55 mm, processus

odontoid tidak ada, gigi vomer ada, gigi maxilla tidak ada, kelenjar paratoid tidak

ada, urutan panjang kaki depan 3>1>4>2 dan urutan kaki belakang 4>5>3>2>1, alur

suprathympanic tidak ada, dorsolateral ada, warna dorsolateral orange, ukuran

webbing setengah, warna webbing abu-abu, bentuk ujung jarimembulat, bentuk pupil

horizontal.

Pulchrana picturata adalah anggota kelompok spesies yang terkait denagn aliran
dataran rendah. Memiliki bintik kuning tetapi tidak memiliki dorsolateral. Pulchrana
picturata jantan memiliki panjang 40 mm dan betina hampir 70 mm. Sirip ekor nya
agak tinggi sehingga ekornya panjang. Iris memiliki cincin merah disekitar pupila.
Ketika fase berudu mereka hidup di air yang tenang atau kecepatan geraknya lambat,
tetapi ditemukan juga dikolam dekat sungai dengan akumulasi sampah daun. Mereka
besembunyi disiang hari dan keluar pada malam hari dengan warna tubuh yang lebih
pucat (Iskandar,1998)
4.8 Hylarana erythraera (Gunter,1859)
Klasifkasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae
Genus : Hylarana
Species : Hylarana erithrea (Gunter,1859)
(Amphibiaweb, 2016)
Gambar 8. Hylarana
erythraera

Dari hasil pratikum yang didapatkanSVL 44 mm, processus odontoid tidak ada,

gigi vomer tidak ada, gigi maxilla ada, kelenjar paratoid tidak ada, urutan panjang

kaki depan 3>4>1>2 dan urutan kaki belakang 4>5>3>2>1, alur suprathympanic

tidak ada, dorsolateral ada, warna dorsolateral hijau, ukuran webbing setengah,

warna webbing kuning, bentuk ujung jari sedikit membulat, bentuk pupil horizontal.

Hewan ini memiliki lipatan dorsolateral dan memiliki tubuh yang berwarna hijau

dengan ventral berwarna putih gading dan femur berwarna cokelat kekuningan.

Menurut Inger (1968) Pada umumnya, bagian dorsal katak berwarna hijau terang

hingga hijau gelap dan bagian ventralnya berwarna keputihan walaupun ada

ditemukan katak jenis ini memiliki warna biru. Karakter lainnya katak hijau memiliki

lipatan dorsolateral yang bervariasi dan terkadang berbatasan dengan warna hitam.

Species ini memiliki kulit yang halus dan licin, alat ekstremitas dengan jari yang

panjang serta dilengkapi dengan cakram beralur, serta terdapat tubercle namun

kurang terluhat jelas .


4.9 Polypedates leucomystax (Gravenhorst,1829)
Kalsifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Rachoporidae
Genus : Polypedates Gambar 9. Polypedates
leucomystax
Species : Polypedates leucomystax (Gravenhorst,1829)
(Amphibiaweb, 2016)
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil dengan parameter

yaitu SLV 590 mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer ada, gigi maxila tidak

ada, kelenjar paratoid ridak ada, urutan oanjng kaki depan yaitu 3>4>2>1 dan urutan

panjang kaki belakang yaitu 4>5>3>2>1, alur suprathympanic tidak ada, lipatan

dorsolateral tidak ada, warna lipatan dorsolateral tidak ada, ukuran webbing

setengah, warna webbing cokelat, bentuk ujung jari membulat, dan bentuk pupil

horizontal.

Hewan ini tidak memiliki lipatan dorsolateral dan memiliki tubuh yang

berwarna hijau muda kecoklatan dan mempunyai disk pada kakinya. Menurut

McKay (2006) Polypedates leucomystax adalah katak pohon yang berukuran kecil

hingga menengah, umunya ukuran panjang badan hewan jantan 50 mm dan ukuran

hewan betinanya 80 mm. katak pohon ini memiliki warna cokelat, abu-abu, kuning

atau warna cokelat gelap. Kulit katak pohon ini memiliki pola-pola yang bervariasi

berupa garis-garis .
4.10 Polypedates pseudotilophus (Gravenhorst,1829)
Kalsifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Rachoporidae
Genus : Polypedates Gambar 11. Polypedates
Species :Polypedates pseudotilophus lpseudotilophus
(Gravenhorst,1829) (Amphibiaweb, 2016)
Gambar 10. Odorrana hosii

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil dengan parameter

yaitu SLV 72 mm, processus odontoid ada, gigi vomer tidak ada, gigi maxila ada,

kelenjar paratoid tidak ada, urutan panjng kaki depan yaitu 3>4>2>1 dan urutan

panjang kaki belakang yaitu 4>3>5>2>1, alur suprathympanic tidak ada, lipatan

dorsolateral ada, warna lipatan dorsolateral kuning, ukuran webbing setengah, warna

webbing putih, bentuk ujung jari membulat, dan bentuk pupil horizontal.

Polypedates pseudotilophus merupakan katak unik yang ditemukan dihutan

wilayah sumatra. Termasuk golongan katak pohon, memiliki tonjolan didekat telinga

yang menyerupai tanduk sebelumnya katak pohon ini berasar dari kalimantan dan

dari sumatra dikategorikan sebagai spesies yang sama. Polypedates pseudotilophus

merupaan jenis katak yang telah lama hidup dipohon dan mampu beradaptasi dengan

baik ditunjukkan dengan adanya adaptasi antara jari kaki berupa bantalan sehingga

dapat hidup dipohon (Iskandar,1998).


4.11 Huia sumatrana (Boulenger, 1891)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Famili : Ranidae

Genus : Huia

Species : Huia sumatrana (Boulenger, 1891)


(Amphibiaweb, 2016) Gambar 11. Huia sumatrana

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil dengan parameter

yaitu SLV 65 mm, processus odontoid tidak ada, gigi vomer ada, gigi maxila ada,

kelenjar paratoid ridak ada, urutan oanjng kaki depan yaitu 3>1>4>2 dan urutan

panjang kaki belakang yaitu 4>5>3>2>1, alur suprathympanic tidak ada, lipatan

dorsolateral ada, warna lipatan dorsolateral hitam, ukuran webbing penuh, warna

webbing hitam, bentuk ujung jari bulat pipih, dan bentuk pupil horizontal.

Katak ini memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar dengan bentuk badan

yang ramping. Menurut Djoko iskandar (2004) bahwa Huia sumatrana merupakan

katak berukuran sedang berwarna coklat dengan bintik hitam di permukaan kulitnya.

Spesies ini endemik di pegunungan Sumatera Barat (di Aceh, Sumatera Utara,

Sumatera Barat, Bengkulu dan Provinsi Lampung). Katk ini banyak terdapat pada

ketinggian 200 mdpl hingga mencapai 1.200 m dpl.


KUNCI DETERMINASI

1.a. Kulit berbintil………………………….........…...................................................2

b. Kulit tidak berbintil…………………………......................................................4.

2. a. Memiliki alur supraorbital.........................................Duttaphrynus melanostictus

b. Tanpa alur supraorbital .........................................................................................3

3. a. Memiliki kalenjar paratinoid….................................................Prhynoidis aspera

b. Tidak memiliki kelenjar paratoid...............................................................................

4. a. Memiliki disk........................................................................................................5

b. Tidak memiliki disk..............................................................................................6

5. a. Dorsolateral jelas berwarna kuning........................................Hylarana erythraea

b. Dorsolateral tidak jelas warna hijau kekuningan............................Odorana hosii

6. a. Rasio panjang kaki belakang hampir sama dengan panjang tubuh........Huia sumatrana

b.Rasio panjang kaki belakang tidak sama dengan panjang tubuh………………...7

7. a. Memiliki processus odontoid..................................................Limnonectes kuhlii

b. Tanpa processus odontoid.........................................................................................8

8 . a. Memiliki duri pada kaki belakang............................Polypedates pseudotilophus

b. Tanpa duri pada kaki belakang.................................................................................9

9. a. Tidak memiliki webing.......................................................Hylarana leucomystax

b. Memiliki webbing...................................................................................................10

10.a. Webing setengah penuh...................................................Amnirana nicobariensis

b. Webbing penuh………………………………………………………………11

11. a. Tubuh memiliki totol………………………………............Hylarana picturata

b. Tubuh tidak memiliki totol…..……………………………………...…...…..12

12. a. Memiliki garis longitudinal sepanjang tubuh..................Fejervarya limnocharis

b. Tidak memiliki garis longitudinal pada tubuh.....................Fejervarya cancrivora


V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan didapatkan hasil yaitu:
a. Duttaphrynus melanostictus memiliki kulit dengan bintil-bintil,memiliki kelenjar paratoid,
ukuran webbing setengah, warna webbing coklat muda..
b. Odorrana hosii warna kulit hijau, tanpa dorsolateral, memiliki gigi former. webbing
penuh,
c. Fejervarya cancrivora mempunyai warna hijau kecoklatan, memiliki gigi maxilla tanpa
dorsolateral, memiliki webbing setengah.
d. Limnonectes kuhlii warna coklat kehitaman, tanpa dorsolateral, memiliki processus
odontoid, gigi vomer, dan gigi maxilla, webbing penuh.
e. Polypedates leucomystaxwarna kulit coklat muda, mempunyai gigi vomer, memiliki
webbing setengah, mempunyai warna coklat kedaunan.
f. Huia sumatrana warna kulit coklat kehijauan, memiliki gigi vomer juga gigi maxilla,
memiliki dorsolateral berwarna hitam, webbing penuh dengan warna hitam.
g. Hylarana erythrea mempunyai dorsolateral, memiliki webbing setengah pada kaki
belakang, mempunyai warna hijau kekuningan, mempunyai gigi former.
h. Amnirana nicobariensis warna kulit coklat muda, memiliki gigi maxilla juga kelenjar
paratoid, dorsolateral berwarna coklat tua.
i. Fejervarya limnocharismemiliki processus odontoid, memiliki gigi vomer, mempunyai
dorsolateral berwarna hijau, memiliki webbing setengah pada kaki belakang, mempunyai
warna putih kecoklatan.
j. Phrynoidis asper warna tubuh hijau gelap, memiliki gigi maxilla, memiliki kelenjar
paratiroid di punggungnya, memiliki dorsolateral berwarna coklat kehitaman, ukuran
webbing setengah berwarna coklat kehitaman..
k. Polypedactes pseudotilophus warna kulit hijau, memiliki processus odontoid, memiliki
gigi maxilla, dorsolateral berwarna kunig, ukuran webing setengah dengan warna putih
l. Hylarana picturatawarna tubuh hitam dengan bintik orange, memiliki gigi
vomer,memiliki dorsolateral berwarna orange, webbing setengah, dengan warna abu-abu.
5.2 Saran

Saran kepada praktikan yang akan melaksanakan praktikum ini disarankan agar berhati hati
saat melakukan pengamatan dan pengukuran. Saat memegang Phrynoidis asper disarankan
agar menggunakan sarung tangan, karena kodok ini memiliki racun yang keluar dari kelenjar
paratoidnya. Saat mengamati megophrys disaran kan dengan hati-hati karena jenis hewan ini
lemah, dan rentan pada kematian.
DAFTAR PUSTAKA

American Museum Natural History. 2016. Amphibi Spescies of The World.


http://research.amnh.org/vz/herpetology/amphibia/. November 2016.
Amphibiaweb. 2011. Amphibian. http://amphibiaweb.org. November 2016.
Campbell, N.A. 2004. Biologi. Jakarta : Erlangga
Djoko Iskandar, Mumpuni 2004. Huia sumatrana. In: IUCN 2013. IUCN Red List of
Threatened Species.Version 2013.2. <www.iucnredlist.org>.November 2016.
Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid II. Armico: Bandung.
Duellman, WE and Trueb L. 1994. Biology of Amphibians. John Hopkins Uni London
Iskandar, D.T dan Mistar. 1998. Amphibi Jawa dan Bali, Seri Panduan Lapangan. Puslitbang
Biologi-LIPI: Bogor.
Inger, RF, JP Bacon. 1968. Ahuran, Reproduksi dan Ukuran pada Katatk Hutan Tropik
Sarawak. Copa: Malaysia
Jafnir. 1984. Kemungkinan Pembudidayaan Kodok Rana macrodon di Payakumbuh.
UNAND: Padang.
McKay, J.L. (2006). A Field Guide to the Amphibians and Reptiles of Bali. Krieger Publishing
Company, Malabar, Florida.

Mistar. 2003. Panduan Lapangan Amphibia Kawasan Ekosistem Leuser Bogor. The Gibbon
Foundation.
Zug, G. R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles. Academic
Press. London, p : 357 – 358.