Anda di halaman 1dari 5

1.

Prinsip SP log
SP Log merupakan pencatatan perbedaan potensial antara elektrode tetap
di permukaan dengan elektrode yang bergerak di dalam lubang bor, terhadap
kedalaman lubang bor. (Adi Harsono, 1997)
Pada defleksinya : defleksi negatif akan terjadi apabila salinitas kandungan
lapisan lebih besar daripada salinitas lumpur. Sedangkan defleksi positif terjadi
apabila salinitas kandungan lebih kecil daripada salinitas lumpur. Bila salinitas
kandungan lapisan sama dengan salinitas lumpur, maka defleksi kurva akan
merupakan garis lurus seperti pada shale.
Fungsi :
 mengidentifikasi lapisan-lapisan porous dan permeabel
 mencari batas-batas lapisan permeable
 korelasi antar sumur berdasarkan batasan lapisan tersebut,
 menentukan harga tahanan air formasi (Rw) dan memberikan indikasi
lapisan serpih berdasarkan shale base line

Kurva SP Log
Menjauhi SBL porous, kearah positif berrti fresh water, kearah kanan berrti air
asin. Bentuk defleksi kearah kanan dengan bentung yang tidak simetris
indikasi HC.

SP Shale = -15, SP Sand = -40, SP chart = -25


𝐴𝑆𝑃−𝑆𝐵𝐿
1. Vclay (sp log) = 1- | 𝐸𝑆𝑆𝑃−𝑆𝐵𝐿 |
−25−(−15)
= 1- | |
−40−(−15)
= 0,6

2. Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu kemampuan batuan
untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui batuan tersebut
(Darling, 2005). Nilai resistivitas rendah apabila batuan mudah untuk
mengalirkan arus listrik, sedangkan nilai resistivitas tinggi apabila batuan sulit
untuk mengalirkan arus listrik.
Kurva yang terbentuk pada Resistivity log adalah sebagai akibat dari
pengukuran tahanan listrik formasi dengan dua atau tiga elektrode yang
diturunkan kedalam lubang bor.
Dewasa ini banyak sekali jenis-jenis dari Resistivity log, diantaranya adalah:
Normal Log
Induction Log
Lateral Log
Micro Resistivity Log

3. Lateral log Device ini mempunyai tiga elektrode yang dimaksudkan untuk
mendeteksi tahanan formasi yang tidak terinvasi oleh lumpur bor (Rt). Lateral
log sering disebut konvensional Resistivity log, yang hanya dapat digunakan
dalam lumpur jenis water base mud. Dalam lumpur yang salinitasnya besar, hasil
pengukuran dengan konvensional Resistivity log ini akan menghasilkan data
yang kurang akurat. Pembacaan yang baik akan didapatkan pada lapisan tebal
dan Resistivity yang relatif tinggi. Harga tahanan yang dicatat oleh konvensional
Resistivity log adalah harga tahanan semu bukan tahanan yang sebenarnya. Hal
ini karena harga tahanan yang tercatat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
diameter lubang bor, ketebalan lapisan, tahanan lumpur, diameter invasi air
filtrat lumpur, tahanan zone invasi dan tahanan lapisan batuan diatas dan
dibawahnya.
Arus listrik konstan dialirkan melalui elektrode A, sedangkan beda potensial
antara elektrode M dan N ditempatkan pada permukaan lingkaran ekuipotensial
yang berpusat di A, di tengah-tengah antara elektrode M dan N terdapat titik O,
dengan jarak AO adalah 18’ 8”.

4. Density log disebut juga dengan formation density log, tujuannya adalah
untuk menentukan porositas batuan formasi, dengan jalan mengukur densitas
batuan. Prinsip kerjanya adalah dengan jalan memancarkan sinar gamma dari
sumber radiasi sinar gamma yang diletakkan pada dinding lubang bor. Pada saat
sinar gamma menembus batuan, sinar tersebut akan bertumbukkan dengan
elektron pada batuan tersebut, yang mengakibatkan sinar gamma akan
kehilangan sebagian dari energinya dan yang sebagian lagi akan dipantulkan
kembali, yang kemudian akan ditangkap oleh detektor yang diletakkan diatas
sumber radiasi. Intensitas sinar gamma yang dipantulkan tergantung dari
densitas batuan formasi.
Sinar gamma yang menyebar dan mencapai detektor dihitung dan akan
menunjukkan besarnya densitas batuan formasi. Formasi dengan densitas tinggi
akan menghasilkan jumlah yang rendah pada detektor. Yang ditentukan di sini
sebenarnya adalah densitas elektron, yaitu berat elektron per cm3 batuan formasi
(gr/cc). Kondisi penggunaan yang baik untuk density log adalah pada formasi
dengan densitas rendah dimana tidak ada pembatasan penggunaan lumpur bor
tetapi tidak dapat digunakan pada lubang bor yang sudah di casing (cased hole).
Densitas elektron akan berhubungan dengan densitas batuan sebenarnya,
besar kecilnya energi yang diterima oleh density log tergantung pada densitas
matrik, porositas, dan densitas fluida yang mengisi pori-porinya.

5. Sonic log dirancang untuk mengukur porositas batuan formasi dengan cara
mengukur interval transite time, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh gelombang
suara untuk merambat di dalam batuan formasi sejauh satu feet. Peralatan Sonic log
menggunakan sebuah transmitter (pemancar gelombang suara) dan dua buah
receiver (penerima). Jarak antara keduanya adalah satu feet.
Prinsip kerjanya adalah dengan menggunakan kecepatan suara yang
dikirimkan/dipancarkan kedalam formasi oleh bagian pemancar (Transmitter)
dimana pantulan suara yang kembali akan diterima oleh bagian penerima
(Receiver). Waktu yang diperlukan gelombang suara untuk sampai ke receiver
disebut Interval Transite Time (Δt). Besar kecilnya Δt yang melalui suatu formasi
tergantung dari jenis batuan dan besarnya porositas batuan serta isi/kandungan
didalam pori-pori batuan tersebut. Suara dikirimkan dari transmitter kemudian
masuk kedalam formasi, lalu pencatatan dilakukan pada saat pantulan suara
pertama kali sampai di receiver.

6. NMR Log, subkategori elektromagnetik log, mengukur momen magnet induksi


dari inti hidrogen (proton) yang terkandung dalam fluida yang mengisi media
berpori (batuan reservoir). Tidak seperti pengukuran log konvensional
(misalnya, akustik, densitas, neutron, dan resistivitas), yang merespon baik
matriks batuan maupun sifat fluida dan sangat bergantung pada mineralogi,
pengukuran NMR-logging merespons keberadaan proton hidrogen. Karena
proton ini terutama terjadi dalam fluida pori, NMR efektif merespon volume,
komposisi, viskositas, dan distribusi fluida, misalnya:

Minyak
Gas
air
Log NMR memberikan informasi tentang jumlah fluida yang ada, sifat-sifat fluida,
dan ukuran pori-pori yang mengandung fluida ini. Dari informasi ini,
dimungkinkan untuk menyimpulkan atau memperkirakan:

Volume (porositas) dan distribusi (permeabilitas) dari ruang pori batuan


Komposisi batu
Jenis dan kuantitas hidrokarbon cairan
Produktivitas hidrokarbon

7. Cement Bond Log, tujuannya untuk mengevaluasi kualitas cement bonding


dibelakang casing setelah dilakukan cementing job. CBL sendiri pada prinsipnya
merupakan salah satu logging tool jenis accoustic yg dirun di dalam lubang yg
sudah dicasing. Karena merupakan accoustic tool (sonic log), alat ini dilengkapi
transmitter dan receiver (untuk memancarkan dan menerima amplitude signal).
Dengan CBL, kita akan bisa mendeteksi apakah cement dibelakang casing ,
bonding (ikatan) cukup bagus atau tidak. Hal ini penting sekali untuk diketahui
guna mencegah hubungan antara interval formasi yg satu dengan interval
formasi yg lain dan mencegah fluid flow dibelakang casing.

Prinsip kerja CBL


 Acoustic transmitter mengeluarkan suara melewati fluida yang ada di
dalam lubang sumur menuju casing, cement dan formasi
 Gelombang suara ditangkap oleh signal receiver dan amplitudonya akan
menunjukkan kwalitas ikatan dari cement
 Kalau amplitudonya rendah, berarti ikatan cement dengan casing atau
formasi cukup bagus, begitu pula sebaliknya

8. Tujuan dari Analisa hasil logging adalah untuk mendapatkan informasi litologi,
pengukuran porositas, pengukuran resistivitas, dan kejenuhan hidrokarbon. Sedangkan tujuan
utama dari penggunaan log ini adalah untuk menentukan zona, dan memperkirakan kuantitas
minyak dan gas bumi dalam suatu reservoir.

9. Secara kualitatif, praktisnya adalah dengan menganalisa karakteristik grafik


data log, untuk langkah awal identifikasi dan penentuan zona reservoar
hidrokarbon. Metode ini dilakukan dengan menganalisa zona prospek yang
dianggap mengandung HC berdasarkan defleksi yang terjadi pada chart log, dari
zona yang dianggap prospek tersebut akan dilanjutkan pengukuran secara
kuantitatif.