Anda di halaman 1dari 19

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Saliva
Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan
mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan
ekosistem di dalam rongga mulut. Saliva merupakan hasil sekresi dari beberapa
kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva
mayor yang meliputi kelenjar parotid, submandibular dan sublingual, sedangkan sisa
7% lainnya disekresikan oleh kelenjar saliva minor yang terdiri dari kelenjar bukal,
labial, palatinal, glossopalatinal lingual. Kelenjar-kelenjar minor ini menunjukkan
aktivitas sekretori lambat yang berkelanjutan, dan juga mempunyai peranan yang
penting dalam melindungi dan melembabkan mukosa oral, terutama pada waktu
malam hari ketika kebanyakan kelenjar-kelenjar saliva mayor bersifat inaktif.10
Komposisi saliva terdiri atas 94,0%-99,5% air, bahan organik dan bahan
anorganik. Komponen organik saliva yang terutama adalah protein. Di samping itu,
masih ada komponen-komponen lain seperti lipid, urea, asam amino, glukosa,
amoniak dan vitamin. Adapun juga, komponen anorganik saliva terutama adalah
elektrolit dalam bentuk ion seperti Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO4 2-, H2PO4 dan
HPO4.11
Ada beberapa fungsi saliva yaitu membentuk lapisan mukus pelindung pada
membran mukosa yang akan bertindak sebagai barier terhadap iritan dan akan
mencegah kekeringan, membantu membersihkan mulut dari makanan, debris dan
bakteri yang akhirnya akan menghambat pembentukan plak. Selain itu, dapat
mengatur pH rongga mulut karena mengandung bikarbonat, fosfat dan protein.
Peningkatan kecepatan sekresinya biasanya berakibat pada peningkatan pH dan
kapasitas buffernya. Oleh karena itu, membran mukosa akan terlindung dari asam
yang ada pada makanan dan pada waktu muntah. Selain itu, penurunan pH plak,
sebagai akibat dari organisme asidogenik, akan dihambat.11

Universitas Sumatera Utara


6

Saliva juga membantu menjaga integritas gigi dengan berbagai cara karena
kandungan kalsium dan fosfat. Saliva membantu menyediakan mineral yang
dibutuhkan oleh enamel yang belum terbentuk sempurna pada saat awal setelah
erupsi. Pelarutan gigi dihindari atau dihambat dan mineralisasi dirangsang dengan
memperbanyak aliran saliva. Lapisan glikoprotein terbentuk oleh saliva pada
permukaan gigi (acquired pellicle) juga akan melindungi gigi dengan menghambat
keausan karena abrasi dan erosi, serta mampu melakukan aktivitas anti bakteri dan
anti virus karena selain mengandung antibodi spesifik (secretory IgA), juga
mengandung lysozime, laktoferin dan laktoperoksidase.11

2.1.1 Laju Alir Saliva


Laju alir saliva sangat mempengaruhi kuantitas saliva yang dihasilkan. Laju
alir saliva tidak terstimulasi dan kualitas saliva sangat dipengaruhi oleh waktu dan
berubah sepanjang hari. Terdapat peningkatan laju alir saliva saat bangun tidur
hingga mencapai tingkat maksimal pada siang hari, serta menurun ketika tidur.
Refleks saliva terstimulasi melalui pengunyahan atau adanya makanan asam dapat
meningkatkan laju alir saliva hingga 10 kali lipat atau lebih.10
Pada orang normal, laju alir saliva dalam keadaan tidak terstimulasi sekitar
0,3-0,5 ml/menit. Jumlah sekresi saliva per hari tanpa distimulasi adalah 300 ml.
Sedangkan ketika tidur selama 8 jam, laju alir saliva hanya sekitar 15 ml. Dalam
kurun waktu 24 jam, saliva rata-rata akan terstimulasi pada saat makan selama 2 jam.
Lalu saliva berada dalam kondisi istirahat selama 14 jam, dengan total produksi
saliva 700-1500 ml. Sisanya merupakan saliva dalam kondisi istirahat. Ketika saliva
distimulasi, laju alir saliva meningkat hingga mencapai 7 ml/menit.10 Peningkatan
laju alir saliva akan meningkatkan pH karena adanya ion bikarbonat sehingga
kemampuan mempertahankan pH saliva (kapasitas dapar) juga akan meningkat. Ion
kalsium dan fosfat juga meningkat sehingga akan terjadi keseimbangan antara
demineralisasi dan remineralisasi.10

Universitas Sumatera Utara


7

Laju alir saliva mengalami perubahan karena beberapa faktor seperti derajat
hidrasi saliva. Derajat hidrasi atau cairan tubuh merupakan faktor yang paling penting
karena apabila cairan tubuh berkurang 8% maka kecepatan alir saliva berkurang
hingga mencapai nol. Sebaliknya hiperhidrasi akan meningkatkan kecepatan alir
saliva. Pada keadaan dehidrasi, saliva menurun hingga mencapai nol. Pada posisi
tubuh pula posisi tubuh dalam keadaan berdiri merupakan posisi dengan kecepatan
alir saliva tertinggi bila dibandingkan dengan posisi duduk dan berbaring. Pada posisi
berdiri, laju alir saliva mencapai 100%, pada posisi duduk 69% dan pada posisi
berbaring 25%. Paparan cahaya juga mempengaruhi laju alir saliva. Dalam keadaan
gelap, laju alir saliva mengalami penurunan sebanyak 30-40%.
Selain itu, laju aliran saliva dipengaruhi oleh siklus circardian (circardian
rhythms), yaitu irama jantung yang teratur dalam fungsi tubuh yang terjadi selama 24
jam. Laju alir saliva memperlihatkan dapat mencapai puncaknya pada siang hari dan
menurun saat malam hari dan penggunaan tropine dan obat kolinergik seperti
antidepresan trisiklik, antipsikotik, tropine, β-blocker dan antihistamin dapat
menurunkan laju alir saliva.
Laju alir saliva pada usia lebih tua mengalami penurunan, sedangkan pada
anak dan dewasa laju alir saliva meningkat diikuti dengan efek psikis seperti
berbicara tentang makanan yang disukai, melihat makanan dan mencium makanan
yang disukai dapat meningkatkan laju alir saliva. Sebaliknya, berfikir makanan atau
mencium bau yang tidak disukai dapat menurunkan sekresi saliva. Adapun juga, laju
aliran saliva pada pria lebih tinggi daripada wanita meskipun keduanya mengalami
penurunan setelah radioterapi. Perbedaan ini disebabkan oleh karena ukuran kelenjar
saliva pria lebih besar daripada kelenjar saliva wanita.

2.1.2 Viskositas Saliva


Viskositas adalah suatu keadaan viskus yang mempunyai hubungan yang erat
dengan komposisi glikoprotein. Peran saliva sebagai pelumas sangat penting untuk
kesehatan mulut, memfasilitasi pergerakan lidah dan bibir selama proses penelanan,
dan juga penting dalam memperjelas ucapan saat berbicara. Viskositas saliva sangat

Universitas Sumatera Utara


8

dipengaruhi oleh sekresi saliva. Viskositas saliva yang normal penting untuk
pencernaan makanan dan fungsi motorik seperti mastikasi, penelanan dan bicara.
Peningkatan viskositas saliva akan menyebabkan gangguan bicara dan penelanan.
Individu yang mempunyai viskositas saliva yang tinggi berisiko tinggi mendapat
penyakit periodontal. Efisiensi saliva sebagai pelumas tergantung pada viskositas dan
perubahan laju aliran saliva. Apabila viskositas saliva meningkat, komposisi air
dalam saliva menurun dan ini akan menyebabkan saliva menjadi lebih kental.

2.1.3 Volume Saliva


Volume saliva yang disekresikan setiap hari diperkirakan antara 1,0-1,5
Liter.14 Seperti yang telah diketahui, bahwa saliva disekresi oleh kelenjar parotis,
submandibularis, sublingualis dan kelenjar minor. Pada malam hari, kelenjar parotis
sama sekali tidak berproduksi. Jadi, sekresi saliva berasal dari kelenjar
submandibularis, yaitu lebih kurang 70% dan sisanya (30%) disekresikan oleh
kelenjar sublingualis dan kelenjar ludah minor. Sekresi saliva dapat dipengaruhi oleh
rangsangan yang diterima oleh kelenjar saliva. Rangsangan tersebut dapat terjadi
melalui jalan mekanis dimana mengunyah permen karet ataupun makanan yang
keras, kimiawi yaitu rangsangan rasa seperti asam, manis, asin, pahit dan juga pedas,
psikis yaitu stres yang akan menghambat sekresi saliva, dapat juga karena
membayangkan makanan yang enak sehingga sekresi saliva meningkat, neural yaitu
rangsangan yang diterima melalui sistem saraf otonom baik simpatis maupun
parasimpatis, dan rangsangan rasa sakit misalnya karena adanya peradangan,
gingivitis dan juga karena protesa yang akan menstimulasi sekresi saliva.
Sekresi saliva sebenarnya tidak tergantung pada umur, tetapi pada efek
samping dari obat-obatan tertentu yang dikonsumsi sehingga mengurangi alir saliva.
Sekresi saliva yang berkurang akan mengakibatkan mulut kering, penurunan
pengecapan, kesukaran mengunyah dan menelan makanan, timbulnya keluhan rasa
sakit pada lidah dan mukosa, juga dapat menyebabkan karies dan kehilangan gigi.12

Universitas Sumatera Utara


9

2.1.4 Derajat Keasaman Saliva (pH dan Buffer Saliva)


Derajat keasaman saliva juga disebut sebagai pH (potential of hydrogen)
merupakan suatu cara untuk mengukur derajat asam maupun basa dari cairan tubuh.
Keadaan basa maupun asam dapat diperlihatkan pada skala pH sekitar 0-14 dengan
perbandingan terbalik yang makin rendah, nilai pH makin banyak asam dalam larutan
sedangkan meningkatnya nilai pH berarti bertambahnya basa dalam larutan, dimana 0
merupakan pH yang sangat rendah dari asam. pH 7,0 merupakan pH yang netral,
sedangkan pH diatas 7,0 adalah basa dengan batas pH setinggi 14.2 Menurut Mount
dan Hume, pH berpengaruh terhadap terjadinya demineralisasi email jika saliva
sudah mencapai pH kritis yaitu 5,5 karena pada pH tersebut hidroksiapatit email akan
mengalami kerusakan. Penurunan pH yang secara terus-menurus mengakibatkan
semakin banyak asam yang bereaksi dengan kalsium dan fosfat sehingga melarutkan
hidroksiapatit.12,13
Besarnya nilai pH mulut tergantung dari saliva sebagai buffer yang mereduksi
formasi plak. Kapasitas buffer saliva merupakan faktor primer yang penting pada
saliva untuk mempertahankan derajat keasaman saliva berada dalam interval normal
sehingga keseimbangan (homeostatis) mulut terjaga. Sistem buffer yang memberi
kontribusi utama (85%) pada kapasitas total buffer saliva adalah sistem bikarbonat
dan (15%) oleh fosfat, protein dan urea. Pembentukan asam oleh bakteri didalam plak
maka akan terjadi penurunan pH. Dengan adanya penurunan pH akan menyebabkan
kadar asam menjadi tinggi didalam mulut akibatnya pH saliva menjadi asam.11,12,13
Derajat keasaman pH dan kapasitas buffer saliva ditentukan oleh susunan
kuantitatif dan kualitatif elektrolit di dalam saliva terutama ditentukan oleh susunan
bikarbonat, karena susunan bikarbonat sangat konstan dalam saliva dan berasal dari
kelenjar saliva. Derajat keasaman saliva dalam keadaan normal antara 5,6–7,0 dengan
rata-rata pH 6,7. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada pH
saliva antara lain rata-rata kecepatan alir saliva, mikroorganisme rongga mulut, dan
kapasitas buffer saliva.2,11
Derajat keasaman saliva pada keadaan istirahat pH saliva total yang tidak
dirangsang biasanya bersifat asam, bervariasi dari 6,4 sampai 6,9. Konsentrasi

Universitas Sumatera Utara


10

bikarbonat pada saliva istirahat bersifat rendah, sehingga suplai bikarbonat kepada
kapasitas buffer saliva paling tinggi hanya mencapai 50%, sedangkan pada saliva
yang dirangsang dapat mensuplai sampai 85%.11
Kecepatan sekresi saliva mempengaruhi derajat keasaman dalam saliva, dan
juga berpengaruh pada proses demineralisasi gigi. Hal ini dapat ditemukan pada
beberapa penyakit dengan gangguan sekresi saliva. Keadaan psikologis juga
menyebabkan penurunan pH saliva akibat penurunan kecepatan sekresi saliva.11
Derajat keasaman (pH) saliva optimum untuk pertumbuhan bakteri 6,5–7,5
dan apabila rongga mulut pH-nya rendah antara 4,5–5,5 akan memudahkan
pertumbuhan kuman asidogenik seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus.2
Beberapa proses fisiologis yang dipengaruhi oleh pH adalah aktifitas enzimatik,
proses demineralisasi dan remineralisai jaringan keras serta ikatan zat asam.
Penurunan pH dalam rongga mulut dapat menyebabkan demineralisasi elemen-
elemen gigi dengan cepat, sedangkan pada kenaikan pH dapat terbentuk kolonisasi
bakteri dan juga meningkatkan pembentukan kalkulus.3,14
Faktor yang mempengaruhi ph dan buffer saliva adalah siklus circadian.
Siklus circadian mempengaruhi pH dan laju alir saliva. Pada keadaan istirahat atau
segera setelah bangun pH saliva meningkat dan kemudian turun kembali dengan
cepat. Pada seperempat jam setelah makan (stimulasi mekanik), pH saliva juga tinggi
dan turun kembali dalam waktu 30-60 menit kemudian. pH saliva agak meningkat
sampai malam dan setelah itu turun kembali.11,12 Selain itu, diet dapat mempengaruhi
pH saliva. Diet kaya karbohidrat dapat menurunkan buffer saliva, sedangkan diet
kaya serat dan diet kaya protein mempunyai efek meningkat buffer saliva. Diet kaya
karbohidrat meningkatkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut,
sedangkan protein sebagai sumber makanan bakteri, meningkatkan zat-zat basa
seperti ammonia.15 Adapun juga Perangsangan kecepatan sekresi saliva dapat
mempengaruhi pH dan buffer saliva. Laju alir saliva merupakan pengaturan fisiologis
sekresi saliva. Pada keadaan normal, laju alir saliva berkisar antara 0,05-1,8
mL/menit. Kelenjar saliva dapat distimulasi dengan cara mekanis yaitu dengan
pengunyahan, kimiawi yaitu dengan rangsangan rasa, neural yaitu melalui saraf

Universitas Sumatera Utara


11

simpatis dan parasimpatis, psikis dan rangsangan rasa sakit. Bila dirangsang akan
meningkat menjadi 2,5-5 mL/menit.10,11
Bila alir saliva menurun, maka akan terjadi peningkatan frekuensi karies gigi.
Jika laju alir saliva meningkat, akan menyebabkan konsentrasi sodium, kalsium,
klorida, bikarbonat dan protein meningkat, tetapi konsentrasi fosfat, magnesium dan
urea akan menurun. Apabila komponen bikarbonat saliva meningkat, maka hasil
metabolik bakteri dan zat-zat toksik bakteri akan larut dan tertelan sehingga
keseimbangan lingkungan rongga mulut tetap terjaga dan frekuensi karies gigi akan
menurun.10,12
Apabila sekresi saliva meningkat, maka pH dan kapasitas buffernya juga akan
meningkat, dan volume saliva juga akan bertambah sehingga risiko terjadinya karies
makin rendah. Penurunan pH dalam rongga mulut dapat menyebabkan demineralisasi
elemen gigi dengan cepat, sedangkan pada kenaikan pH dapat terbentuk kolonisasi
bakteri yang menyimpang dan meningkatnya pembentukan kalkulus. Rendahnya
sekresi saliva dan kapasitas buffer saliva dapat menyebabkan berkurangnya
kemampuan saliva untuk membersihkan sisa makanan, mematikan kuman,
mengurangi kemampuan menetralkan asam dan kemampuan menimbulkan
remineralisasi lesi enamel. Penurunan sekresi saliva saliva dapat diikuti oleh
peningkatan jumlah Streptokokus mutans dan Laktobasilus. Dengan demikian,
aktivitas karies yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang sekresi saliva
berkurang.12

2.2 Pengukuran Saliva Menggunakan Saliva-Check Buffer Kit


Salah satu faktor dari lingkungan oral yang harus diperiksa dab dinilai dalam
menentukan faktor risiko karies adalah saliva. Lima faktor yang dinilai dalam tes
saliva (Saliva-Check Buffer Kit) adalah derajat hidrasi, viskositas, pH, kuantitas (laju
alir saliva) dan kapasitas buffer (kualitas).16

Universitas Sumatera Utara


12

2.2.1 Tes Derajat Hidrasi


Unstimulated saliva memiliki peran untuk hidrasi dan kenyamanan rongga
mulut, karena stimulated saliva hanya diproduksi selama mastikasi. Kelenjar saliva
minor menghasilkan 15% dari seluruh produksi saliva harian, dan kelenjar
submandibula merupakan kelenjar yang memberi kontribusi utama. Terdapat banyak
variasi flow rate pada kelenjar saliva minor yang terdapat pada berbagai macam area
dalam mulut. Penurunan flow rate unstimulated saliva pada kelenjar saliva minor di
daerah palatum dapat terjadi seiring pertambahan usia individu, namun tidak terdapat
perubahan yang berhubungan dengan usia dari kelenjar-kelenjar minor yang terdapat
pada daerah bukal dan labial, sehingga pemeriksaan dilakukan pada kelenjar minor
yang terdapat pada bagian dalam bibir bawah.16 Cara pemeriksaan dimulai dengan
pasien diinstruksikan duduk tegak lalu bibir bawah pasien ditarik kearah luar dan
dikeringkan dengan basa. Setelah itu waktu yang dibutuhkan saliva untuk keluar dari
duktus kelenjar saliva minor dicatat.
Hasil dan Interpretasi:-
Waktu yang dibutuhkan bagi titik-titik saliva untuk muncul mengindikasikan
keadaan kelenjar saliva minor.

Tabel 1. Petunjuk interpretasi hasil tes hidrasi pada pemeriksaan saliva dengan
menggunakan Saliva-Check Buffer Kit16
Hasil Tes Hidrasi Pembagian Warna
Lebih dari 60 detik Merah
Kurang dari 60 detik Hijau
Merah menunjukkan tidak adanya fungsi kelenjar saliva minor yang dapat
disebabkan karena dehidrasi parah, kerusakan kelenjar saliva karena radioterapi atau
karena proses patologis, ketidakseimbangan hormonal, efek samping obat. Hijau
menunjukkan fungsi normal kelenjar saliva minor.16

Universitas Sumatera Utara


13

2.2.2 Tes Viskositas


Saliva terdiri dari 99% air dan 1% protein dan elektrolit, sehingga saliva
seharusnya tampak jernih, encer dan mengandung sedikit buih serta memiliki
kemampuan untuk membentuk lapisan yang sangat tipis pada seluruh jaringan keras
dan lunak. Nilai viskositas saliva diukur secara visual berdasarkan kemampuan
mengalirnya saliva ketika gelas ukur dimiringkan dan banyaknya busa yang terlihat.16
Cara pemeriksaan dimulai dengan pasien diminta untuk tidak menelan selama 30
detik lalu pasien diminta untuk mengumpulkan saliva secara pasif ke dalam gelas
ukur yang sudah disediakan. Setelah saliva terkumpul, diamati dan dicatat hasil
tampilan saliva di dalam gelas ukur.
Hasil dan interpretasi:
Salah satu fungsi penting saliva adalah untuk membersihkan debris dari
rongga mulut. Saliva yang berbuih memiliki kandungan air yang lebih sedikit dan
memiliki kemampuan protektif yang lebih rendah terhadap jaringan lunak dan keras
yaitu berkurangnya kemampuan clearance dan ketidakmampuan saliva dalam
membentuk lapisan yang dapat melindungi permukaan gigi.16

Tabel 2. Petunjuk interpretasi hasil tes viskositas pada pemeriksaan saliva dengan
menggunakan Saliva-Check Buffer Kit16
Hasil Test Viskositas Pembagian Warna
Saliva terlihat kental, lengket dan apabila gelas ukur Merah
dimiringkan saliva tidak mengalir ( sticky frothy)
Saliva terlihat berwarna putih busa, tidak menggenang dan Kuning
apabila gelas ukur dimiringkan saliva mengalir dengan
pelan (frothy bubbly).
Saliva terlihat cair, menggenang, tidak menunjukkan busa, Hijau
dan apabila dimiringkan saliva mengalir dengan cepat
(watery clear).

2.2.3 Tes Derajat Keasaman Saliva (pH saliva)


Permukaan gigi dilapisi oleh lapisan tipis unstimulated saliva, sehingga
keadaan pH saliva dapat mempengaruhi keadaan biofilm pada permukaan gigi. Cara

Universitas Sumatera Utara


14

pemeriksaan dimulai pasien diminta untuk meludah ke dalam gelas ukur lalu
indikator pH dicelupkan ke dalam saliva yang terkumpul. Setelah 10 detik, pH diukur
berdasarkan aturan pabrik.

Hasil dan interpretasi:


Derajat keasaman saliva (pH unstimulated saliva) merupakan indikator umum
keadaan asam rongga mulut. Umumnya, pH kritis hidroksi apatit adalah 5,5 sehingga

Hasil Tes pH Pembagian Warna


pH < 5,8 Merah
pH 6,0-6,6 Kuning
pH > 6,8 Hijau
semakan dekat pH unstimulated dengan pH kritis, maka semakin besar risiko
demineralisasi.16

Tabel 3. Petunjuk interpretasi hasil tes pH pada pemeriksaan saliva dengan


menggunakan Saliva-Check Buffer Kit.16

2.2.4 Tes Kuantitas


Komposisi stimulated saliva tergantung pada laju alir saliva (flow rate) yang
merupakan representasi produksi kelenjar saliva mayor dan minor. Rata-rata laju alir
saliva distimulasi adalah 1,6 ml/menit. Laju alir saliva distimulasi sebesar 0,7
ml/menit dianggap sebagai ambang, dimana laju alir di bawah batas tersebut
menunjukkan peningkatan risiko terjadinya karies.16 Pasien diminta mengunyah
permen paraffin tanpa rasa. Setelah 30 detik, pasien diminta untuk membuang saliva
tanpa terkumpul lalu pasien diminta untuk mengunyah paraffin kembali selama 5
menit. Setelah itu, pasien diminta untuk membuang saliva ke dalam gelas ukur dengan
interval teratur pada 5 menit pengunyahan. Setelah 5 menit, volume dicatat.

Universitas Sumatera Utara


15

Tabel 4. Petunjuk interpretasi hasil tes kuantitas pada pemeriksaan saliva dengan
menggunakan Saliva-Check Buffer Kit16
Hasil Tes Kuantitas Pembagian Warna
Saliva distimulasi setelah 5 menit < 3,5 ml Merah
Saliva distimulasi setelah 5 menit 3,5-5,0 ml Kuning
Saliva distimulasi setelah 5 menit > 5 ml Hijau

2.2.5 Tes Kapasitas Buffer


Kapasitas buffer menunjukkan kemampuan saliva dalam menetralisir asam
dan hal ini tergantung pada konsentrasi bikarbonat dalam saliva. Sampel yang
digunakan adalah saliva yang dikumpulkan pada tes kuantitas saliva dan masing-
masing strip tes ditetes oleh saliva. Kelebihan saliva dibuang dengan memiringkan
strip sebesar 90O untuk memastikan volume konstan. Setelah 2 menit, warna pada

Hasil Tes Kapasitas Buffer Pembagian Warna


0-5 Merah
6-9 Kuning
10-12 Hijau
strip test dibandingkan dengan panduan dari pabrik.
Hasil dan interpretasi :
Masing-masing warna memiliki skor berdasarkan instruksi pabrik. Seluruh
skor dijumlahkan dan diinterpretasikan sesuai.

Tabel 5. Petunjuk interpretasi hasil tes kapasitas buffer pada pemeriksaan saliva
dengan menggunakan Saliva-Check Buffer Kit16

2.3 Karies
Karies gigi merupakan penyakit yang tersebar di seluruh dunia. Karies gigi
dapat dialami oleh setiap orang, dapat timbul pada satu permukaan gigi atau lebih dan
dapat meluas kebagian yang lebih dalam, misalnya dari email ke dentin atau ke pulpa.
Karies gigi tidak akan sembuh dengan sendirinya.17
Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan
oleh aktivitas jasad renik dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies

Universitas Sumatera Utara


16

ditandai dengan adanya demineralisasi jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan
bahan organiknya. Hal ini akan menyebabkan invasi bakteri dan kerusakan pada
jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menyebabkan rasa
nyeri.18 Pada penelitian Pratiwi dkk dikemukakan bahwa karies pada siswa tunanetra
termasuk dalam kategori yang tinggi. Hal ini karena rata-rata skor DMF-T penelitian
beliau adalah 8,73 dan ini berhubungan dengan status OHIS yang yang jelek.19
2.3.1 Mekanisme terjadinya Karies
Teori multifaktorial Keyes menyatakan ada faktor penyebab yang saling
berhubungan dan mendukung, yaitu host (saliva dan gigi), mikroorganisme, substrat
dan waktu. Selain faktor penyebab yang langsung berhubungan dengan karies gigi,
ada beberapa faktor tidak langsung yang berhubungan dengan karies, disebut sebagai
faktor risiko. Yang dimaksud dengan faktor risiko karies adalah faktor-faktor yang
memiliki hubungan sebab akibat terjadinya karies. Beberapa faktor yang dianggap
sebagai faktor risiko adalah pengalaman karies, penggunaan fluor, oral higiene,
jumlah bakteri, saliva dan pola makan.17,19

Gambar 1. Skema yang menunjukkan karies sebagai


penyakit multifaktorial18

Universitas Sumatera Utara


17

a. Faktor host atau tuan rumah


Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah
terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel,
faktor kimia dan kristalografis. Pit dan fisur pada gigi posterior sangat rentan
terhadap karies karena sisa-sisa makanan mudah menumpuk di daerah tersebut
terutama pit dan fisur yang dalam. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat
menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi. Enamel
merupakan jaringan tubuh dengan susunan kimia kompleks yang mengandung 97%
mineral (kalsium, fosfat, karbonat, fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Bagian luar
enamel mengalami mineralisasi yang lebih sempurna dan mengandung banyak fluor,
fosfat, sedikit karbonat dan air. Kepadatan kristal enamel sangat menentukan
kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel
semakin padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi desidui lebih mudah terserang
karies dari pada gigi permanen. Hal ini disebabkan karena enamel gigi desidui
mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih
sedikit dari pada gigi permanen. Selain itu, secara kristalografis kristal-kristal gigi
susu tidak sepadat gigi tetap dan email orang muda lebih lunak dibandingkan orang
tua. Mungkin alasan ini menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi karies pada
anak-anak. Daerah yang mudah diserang karies adalah pit dan fisur pada permukaan
oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif, permukaan halus
di daerah aproksimal sedikit di bawah titik kontak, Email pada tepian di daerah leher
gigi sedikit di atas tepi gingival, tepi tumpatan terutama yang kurang atau
mengemper.
b. Faktor agen atau mikroorganisme
Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies.
Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang
berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada
permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Pada awal pembentukan plak, kokus gram
positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptokokus mutans,
Streptokokus sanguis, Streptokokus mitis, dan Streptokokus salivarius serta beberapa

Universitas Sumatera Utara


18

strain lainnya. Selain itu, ada juga penelitian yang menunjukkan adanya laktobasilus
pada plak gigi. Pada penderita karies aktif, jumlah laktobasilus pada plak gigi
berkisar 104-105 sel/mg plak. Walaupun demikian, Streptokokus mutans yang diakui
sebagai penyebab utama karies.18
c. Faktor substrat atau diet
Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena
membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada
permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak
dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta
bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa orang yang banyak mengonsumsi karbohidrat terutama sukrosa
cenderung mengalami kerusakan pada gigi, sebaliknya pada orang dengan diet yang
banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak
mempunyai karies gigi. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa karbohidrat
memegang peranan penting dalam terjadinya karies. Karbohidrat merupakan sumber
energi utama bagi bakteri mulut dan secara langsung terlibat dalam penurunan pH.
Dibutuhkan waktu tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk
membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Plak akan tetap
bersifat asam selama beberapa waktu, untuk kembali ke pH normal sekitar 7,
dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu konsumsi gula yang berulang-ulang
menyebabkan demineralisasi email.18
d. Faktor waktu
Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang
berkembang dalam beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan
karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48
bulan.11

Universitas Sumatera Utara


19

2.3.2 Faktor-Faktor Risiko Karies


Adanya hubungan sebab akibat terjadinya karies sering diidentifikasi sebagai
faktor risiko karies. Oleh karena itu, individu dengan risiko karies yang tinggi adalah
seseorang yang mempunyai faktor risiko yang lebih banyak.18

Tabel 6. Faktor-faktor risiko karies dan akibatnya terhadap perkembangan lesi


karies15

Faktor Risiko Risiko Tinggi Risiko Rendah


Plak Plak banyak, berarti banyak Plak sedikit, jumlah bakteri yang
bakteri yang dapat memproduksi asam juga
memproduksi asam berkurang, oral hygiene baik

Bakteri Bakteri kariogenik banyak, Bakteri kariogenik sedikit,


sehingga menyebabkan pH sehingga menyebabkan pH
rendah, plak mudah melekat normal, plak tidak mudah
melekat

Pola Makan Konsumsi karbohidrat tinggi Konsumsi karbohidrat rendah


terutama sukrosa, makanan dan diet makanan yang tidak
yang mudah melekat mudah melekat

Laju Alir Saliva Alir saliva berkurang Alir saliva yang optimal,
mengakibatkan gula bertahan sehingga dapat membantu
dalam waktu lama (daya membersihkan sisa-sisa
proteksi saliva menurun) makanan

Buffer saliva Buffer saliva rendah akan Kapasitas buffer yang optimal,
mengakibatkan pH rendah pH rendah hanya sementara
dalam waktu lama

Fluor Tidak ada pemberian fluor, Mendapat aplikasi fluor,


remineralisasi berkurang remineralisasi meningkat

2.3.3 Indeks Karies (DMFT Klein dan WHO)


Untuk mendapatkan data tentang pengalaman karies seseorang digunakan
indeks karies agar penilaian yang diberikan pemeriksa sama atau seragam. Ada
beberapa indeks karies yang biasa digunakan seperti indeks Klein dan indeks WHO,

Universitas Sumatera Utara


20

namun belakangan ini diperkenalkan indeks Significant Caries (SiC) untuk


melengkapi indeks WHO sebelumnya. Dalam hal ini indeks karies yang dipakai
adalah indeks yang diperkenalkan oleh Klein. Semua gigi diperiksa kecuali gigi
molar tiga. Tiap gigi hanya dimasukkan dalam satu kategori saja : D, M, atau F.18
Indeks Klein diperkenalkan oleh Klein H, Palmer CE, Knutson JW pada tahun
1938 untuk mengukur pengalaman seseorang terhadap karies gigi. Pemeriksaannya
meliputi pemeriksaan pada gigi (DMFT) dan permukaan gigi (DMFS). Semua gigi
diperiksa kecuali gigi molar tiga. Indeks ini tidak menggunakan skor; pada kolom
yang tersedia langsung diisi kode D (gigi yang karies), M (gigi yang hilang) dan F
(gigi yang ditumpat) dan kemudian dijumlahkan sesuai kode. Untuk gigi permanen
dan gigi desidui hanya dibedakan dengan pemberian kode DMFT (Decayed Missing
Filled Tooth) sedangkan untuk gigi susu adalah deft (decayed extracted filled
tooth).18
Menurut DMFT ( gigi permanen) yang termasuk dalam D (Decayed) adalah
gigi tetap dengan satu lesi karies atau lebih yang belum ditambal. Yang termsuk
dalam Mi (Missing indicated) yaitu gigi tetap dengan lesi karies yang tidak dapat
ditambal lagi dan harus dicabut dan Me (Missing extracted) yaitu gigi tetap dengan
lesi karies yang tidak dapat ditambal lagi dan sudah dicabut. Yang termasuk dalam F
(Filling) adalah gigi tetap dengan lesi karies dan sudah ditambal dengan sempurna.18
Indeks DMFT yang dikeluarkan oleh WHO bertujuan untuk menggambarkan
pengalaman karies seseorang atau dalam suatu populasi. Semua gigi diperiksa kecuali
gigi molar. Indeks ini dibedakan atas indeks DMFT (Decayed Missing Filled Teeth)
yang digunakan untuk gigi permanen pada orang dewasa dan deft (decayed extracted
filled tooth) untuk gigi susu pada anak-anak.18 Indek WHO dikategorikan seperti
berikut:
a. Sangat rendah : < 1,2
b. Rendah : 1,2-2.6
c. Sedang : 2,7-4,4
d. Tinggi : 4,5-6,5
e. Sangat tinggi : > 6,5

Universitas Sumatera Utara


21

2.4 Tunanetra (Visually Impaired)


Tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya tidak berfungsi sebagai
saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang normal.
Mereka memiliki keterbatasan untuk melakukan berbagai aktivitas yang
membutuhkan bantuan penglihatan seperti menonton televisi, membaca huruf atau
tanda visual, serta hal lainnya yang berkenaan dengan penglihatan. Persatuan
Tunanetra Indonesia/Pertuni (2004) mendefinisikan tunanetra sebagai mereka yang
tidak memilki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih
memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk
membaca tulisan berukur 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu
oleh kaca mata.20
Secara umumnya dari segi kebijaksanaan, anak-anak tunanetra hampir sama
dengan anak normal, dimana ada anak yang cerdas, ada yang rata-rata dan ada yang
kurang. Dari segi perkembangan emosi, anak tunanetra akan sedikit mengalami
hambatan dibandingkan dengan anak yang normal. Keterlambatan ini terutama
disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada
awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar
untuk mencoba menyatakan emosinya, namun hal ini tetap dirasakan tidak efisien
karena dia tidak dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara
tepat. Akibatnya pola emosi yang ditampilkan mungkin berbeda atau tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh diri sendiri maupun lingkungannya.21
Dari segi perkembangan sosial pula, anak tunanetra mengahadapi hambatan
langsung maupun tidak langsung. Motivasi yang kurang, ketakutan dalam
menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas atau baru, perasaan rendah diri, malu
dan sikap masyarakat yang seringkali tidak menguntungkan penghinaan, sikap tak
acuh serta terbatasnya kesempatan bagi anak tunanetra untuk mempelajari pola
tingkah laku yang diterima merupakan kecenderungan tunanetra yang dapat
mengakibatkan kehambatan perkembangan sosial. Perlakuan dan penerimaan
lingkungan terutamanya lingkungan keluarga penting bagi perkembangan sosial anak
tunanetra.21

Universitas Sumatera Utara


22

2.4.1 Klasifikasi Tunanetra


Berdasarkan kemampuan daya lihat tunanetra dibagi atas tiga klasifikasi
yaitu:
a. Low vision yaitu mereka yang mempunyai kelainan atau kekurangan daya
penglihatan, seperti pada penderita rabun, juling, myopia ringan yang juga disebut
tunanetra ringan. Mereka masih dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
membutuhkan penglihatan dengan baik.
b. Partially sighted yaitu mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan
yang juga disebut tunanetra sedang.
c. Totally blind yaitu mereka yang sama sekali tidak dapat melihat atau oleh
masyarakat disebut “buta” yang juga disebut tunanetra berat.20

2.4.2 Etiologi terjadinya Tunanetra


Tunanetra dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Hal yang termasuk faktor internal yaitu faktor keturunan
atau genetik dan faktor yang erat hubungannya selama bayi masih dalam kandungan
seperti kurang gizi, terkena infeksi, keracunan, aborsi yang gagal, ataupun adanya
penyakit kronis. Faktor eksternal diantaranya adalah faktor ketika lahir atau maupun
faktor setelah lahir misalnya kecelakaan, terkena penyakit sifilis yang mengenai
matanya saat dilahirkan, kelahiran yang lama sehingga kehabisan cairan, kelahiran
yang dibantu alat yang mengenai saraf, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus
trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, serta peradangan mata karena penyakit,
bakteri ataupun virus.20

Universitas Sumatera Utara


23

2.5 Kerangka Konsep

Kondisi Saliva

1. Level Hidrasi Saliva


a. Rendah: > 60 detik
b. Normal: < 60 detik
2. Viskositas Saliva
a. Normal : Watery clear
b. Sedang : Frothy bubbly
c. Buruk : Sticky frothy
3. Derajat Keasaman Saliva (pH saliva)
a. Normal: pH > 6,8
b. Rendah: pH 6,0 - 6,6
c. Sangat Rendah: pH < 5,8
4. Kuantitas Saliva (ml)
a. Normal: > 5,0 mL
b. Rendah: 5,0-3,5 mL
c. Sangat rendah: < 3,5 mL
Siswa Tunanetra 5. Kapasitas Buffer Saliva
a. Normal: nilai akhir 10-12
b. Rendah: nilai akhir 6-9
c. Sangat Rendah: nilai akhir 0-5

Pengalaman Karies (Indeks Klein) :

• D(Decay)
• M(Missing)
Mi (Missing indicated)
Me (Missing extracted)
• F(Filling)

Universitas Sumatera Utara