Anda di halaman 1dari 10

gNAMA : RIZKI DINI INDIARTI,S.

Pd
NIM : 18056102710014
KELAS : GURU KELAS SD – UM – KELAS A

TUGAS MODUL 6 KB 2
Kewarganegaraan Indonesia dan Warga Negara Global pada Era Globalisasi

Membuat laporan tentang hasil bacaan, hasil diskusi dan hasil kajian dengan struktur
pokok sebagai berikut:
a. Hasil bacaan tentang konsep warga negara, teori kewarganegaraan Indonesia, dan
permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia.
b. Hasil diskusi tentang konsep warga negara, teori kewarganegaraan Indonesia, dan
permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia.
c. Hasil kajian permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia

JAWABAN
1. Laporan hasil bacaan tentang konsep warga negara, teori kewarganegaraan
Indonesia, dan permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia.
Konsep Warga Negara
a. Hakikat Warga Negara
Secara etimologis, warga negara berasal dari bahasa Belanda, yaitu
staatsburger; bahasa Inggris, yaitu citizen; dan bahasa Perancis, yaitu citoyen.
Warganegara adalah rakyat yang menetap di suatu wilayah dan rakyat tertentu dalam
hubungannya dengan negara. Menurut AS Hikam, warga negara merupakan
terjemahan dari citizenship adalah anggota dari sebuah komunitas yang membentuk
negara itu sendiri. Dalam bukunya yang berjudul Civics: Citizen in Action, Turner
(1990) menjelaskan bahwa warga negara adalah anggota dari sekelompok manusia
yang hidup atau tinggal di wilayah hukum tertentu.
Dalam pengertian warga negara secara umum dinyatakan bahwa warga negara
merupakan anggota negara yang mempunyai kedudukan khusus terhadap negaranya.
Ia mempunyai hubungan hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik terhadap
negaranya. Hak-hak warga negara yang dijamin dalam UUD adalah hak asasi manusia
yang rumusan lengkapnya tertuang dalam pasal 26, 27, 28 dan 30, 31.
Sedangkan contoh kewajiban yang melekat bagi setiap warganegara antara lain
kewajiban membayar pajak sebagai kontrak utama antara negara dengan warga,
membela tanah air, membela pertahanan dan keamanan negara, menghormati hak
asasi orang lain dan mematuhi pembatasan yang tertuang dalam peraturan, dan
berbagai kewajiban lainnya dalam undang-undang.
b. Hak dan Kewajiban Warga Negara
Hak merupakan sesuatu yang boleh kita dapatkan, miliki, dan bukanlah menjadi
keharusan. Kansil (1989) membedakan hak ke dalam dua jenis hak, yakni:
1) Hak mutlak ialah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk
melakukan suatu perbuatan, hak mana dapat dipertahankan terhadap siapapun
juga, dan sebaliknya setiap orang juga harus menghormati hak tersebut.. Hak
mutlak terbagi ke dalam tiga macam hak, yaitu:
 Hak asasi manusia, misalnya hak untuk hidup dan melanjutkan keturunan.
 Hak publik mutlak, misalnya hak negara untuk memungut pajak dari
rakyatnya.
 Hak keperdataan, misalnya hak material.
2) Hak nisbi atau hak relatif ialah hak yang memberikan wewenang kepada seorang
tertentu atau beberapa orang tertentu untuk menuntut agar seseorang atau
beberapa orang tertentu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak
melakukan sesuatu. Hak ini biasanya berada dalam hukum perikatan yang harus
disetujui oleh kedua belah pihak.
Dalam menggunakan haknya, setiap orang harus memerhatikan aspek berikut
ini (Halim, 1988, hlm. 178):
 Aspek kekuatan.
 Aspek perlindungan hukum atau proteksi hukum.
 Aspek pembatasan hukum (restriksi hukum).
Dalam melaksanakan haknya, seseorang dibatasi oleh kewajibannya sendiri dan
hak orang lain. Dengan kata lain, perlaksanaan hak seseorang harus
mempertimbangkan hak orang lain pula. Alangkah lebih baik, sebelum menuntut hak
harus melaksanakan kewajiban terlebih dahulu. Kewajiban seorang warga negara
misalnya membayar pajak dan mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku
di negaranya.
Dalam melaksanakan kewajiban, maka aspek-aspek yang perlu diperhatikan
adalah (Wuryan & Syaifullah, 2008, hlm. 117):
 Aspek kemungkinan
 Aspek perlindungan hukum
 Aspek pembatasan hukum
 Aspek pengecualian hukum
Seorang warga negara harus pandai melaksanakan hak dan kewajibannya secara
seimbang dan tidak bertentangan dengan hak orang lain. Dalam kehidupannya,
seorang warga negara juga dituntut untuk selalu mengembangkan dirinya sesuai
dengan tuntutan perkambangan masyarakat masa kini.

Teori Kewarganegaraan Indonesia


Menurut UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia, yang menjadi
warga negara Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Anak yang lahir dari pernikahan seorang ayah dan ibu warga negara Indonesia;
b. Anak yang lahir dari pernikahan seorang ayah warga negara Indonesia dan ibu warga
negara asing;
c. Anak yang lahir dari pernikahan seorang ayah warga negara asing dan ibu warga
negara Indonesia, yang keduanya tetap memilih kewarganegaraan Indonesia bagi
anaknya;
d. Anak yang lahir di luar nikah dari seorang ibu warga negara Indonesia;
e. Anak yang lahir di luar nikah yang diakui oleh ayahnya seorang warga negara
Indonesia;
f. Anak yang lahir di wilayah Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak mendapat
kewarganegaraan ayah atau ibunya;
g. Anak yang baru lahir yang diketemukan di wilayah Republik Indonesia selama kedua
orang tuanya tidak diketahui;
h. Anak dari seorang ayah dan ibu warga negara Indonesia yang dilahirkan di luar
wilayah Republik Indonesia.
UU No. 12 Tahun 2006 menyatakan cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia
dengan cara pewarganegaraan, adopsi, dan pemberian. Berikut adalah penjelasannya:
a. Pewarganegaraan, permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon apabila
telah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Sudah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau sudah menikah.
2) Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah Negara
Republik Indonesia paling sedikit 15 tahun berturut-berturut atau selama 20 tahun
tidak berturut-turut.
3) Sehat jasmani dan rohani.
4) Cakap berbahasa Indonesia dan mempunyai pengetahuan tentang Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan sejarah Indonesia.
5) Tidak pernah melakukan tindak pidana yang diancam dengan hukuman pidana
paling singkat 1 (satu) tahun.
6) Apabila memperoleh kewarganegaraan Republilk Indonesia, tidak menjadi
berkewarganegaraan ganda.
7) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap.
8) Membayar uang pewarganegaraan ke kas negara.
b. Adopsi, yaitu anak warga negara asing yang belum berumur 21 (dua puluh satu) tahun
dan belum menikah, yang diangkat secara sah menurut keputusan pengadilan sebagai
anak oleh warga negara Indonesia, apabila tidak mengakibatkan berkewarganegaraan
ganda.
c. Orang asing yang telah berjasa kepada Negara Republik Indonesia atau dengan alasan
kepentingan negara dapat diberikan kewarganegaraan Republik Indonesia oleh
Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
UU No. 12 Tahun 2006 dalam Bab IV Pasal 23 menyatakan bahwa warga negara
Indonesia kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan: (1) Memperoleh
kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri; (2) Tidak menolak dan melepaskan
kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk
itu; (3) Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonannya sendiri,
yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar
negeri, dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi
tanpa kewarganegaraan; (4) Masuk dalam dinas tentara asing tanapa izin terlebih dahulu
dari presiden; (5) Secara sukarela masuk dalam dinas negara lain, yang jabatan dalam dinas
semacam itu di indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya
dapat dijabat oleh warga negara Indonesia; (6) Secara sukarela mengangkat sumpah atau
menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut; (7)
Tidak diwajibkan tetapi ikut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan
untuk suatu negara asing; (8) Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari
negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih
berlaku dari negara lain atas namanya; (9) Bertempat tinggal di wilayah negara Republik
Indonesia selama lima tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan
yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi warga
negara Indonesia sebelum jangka waktu lima tahun itu berakhir, dan setiap lima tahun
berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi warga
negara Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan
padahal perwakilan Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis
kepada yang bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tidak berlaku bagi
mereka yang mengikuti program pendidikan di negara lain yang mengharuskan mengikuti
wajib militer.
Selain itu, Pasal 31 menyatakan bahwa seseorang yang telah kehilangan
kewarganegaraan Indonesia dapat memperoleh kembali kewarganegaraannya melalui
prosedur pewarganegaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9-18 dan pasal 22 UU No.
12 tahun 2006. Cara memperoleh kewargenegaraan dengan kelahiran terdapat dua asas
(Komalasari & Syaifullah, 2009, hlm. 6), yaitu asas keturunan (ius sanguinis) dan asas
tempat kelahiran (ius soli). Ius sanguinis beranggapan bahwa seseorang adalah warga
negara jika dilahirkan dari orang tua warga negara tersebut (melalui pewarisan/citizenship
by heritance). Asas ini dapat memudahkan bagi adanya solidaritas. Namun, tidak semua
negara menggunakan asas tersebut, sebab meskipun suatu negara mengatur
kewarganegaraan berdasarkan persamaan keturunan, namun ikatan antara negara dengan
warga negara dapat menjadi tidak erat jika warga negara tersebut tinggal lama di negara
lain. Sedangkan menurut ius soli, seseorang yang dilahirkan dalam wilayah suatu negara
adalah warga negara dari negara tersebut (melalui wilayah/citizenship by territory).

Permasalahan Status Kewarganegaraan


Adanya perbedaan asas kewarganegaraan dan cara memperoleh serta kehilangan
kewaganegaraan berimplikasi pada timbulnya permasalahn kewarganegaraan yang baru.
Milsanya cara memperoleh kewarganegaraan dengan kelahiran dan perkawinan, seringkali
menyebabkan permasalahan kewarganegaraan berupa bipatride dan apatride, terutama bagi
mereka pasangan yang melakukan perkawinan campuran. Pasal 57 UU No. 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan berbunyi “perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang
yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan
dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.” Selanjutnya, Pasal 58 menyebutkan
bahwa bagi orang-orang yang berlainan kewarganegaraan yang melakukan perkawinan
campuran, dapat memperoleh kewarganegaraan dari suami/isterinya dan dapat pula
kehilangan kewarganegaraannya, menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam Undang-
Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku.
a. Karakteristik Warga Negara dalam Konteks Kewarganegaraan Indonesia
Cogan (1998) berpendapat ciri-ciri kewarganegaraan akan berbeda berdasarkan
hakikat sistem politik yang dianutnya, ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: (1)
Perasaan identitas; (2) Memiliki hak-hak tertentu; (3) Pemenuhan kewajiban-kewajiban;
(4) Tingkat kepentingan dan keterlibatan dalam berbagai urusan publik; (5) Penerimaan
nilai-nilai masyarakat yang mendasar.
Di samping itu, Cogan (1998) mengemukakan tentang karakteristik yang harus
dimiliki oleh warga negara adalah:
1) Kemampuan untuk melihat dan mendekati masalah sebagai aggota masyarakat
global.
2) Kemampuan bekerja dengan orang lain dengan cara kooperatif dan bertanggung
jawab terhadap peran dan kewajiban dalam masyarakat.
3) Kemampuan untuk memahami, menerima, dan toleransi terhadap keragaman
budaya. Kemampuan bekerja dengan orang lain dengan cara kooperatif dan
bertanggung jawab terhadap peran dan kewajiban dalam masyarakat
4) Kemampuan untuk berpikir secara sistematis dan kritis.
5) Keinginan untuk menyelesaikan konflik secara damai.
6) Keinginan untuk mengubah kebiasaan gaya hidup dan konsumtif untuk menjaga
lingkungan.
7) Kemampuan yang sensitif dan mempertahankan hak-hak asasi manusia.
8) Keinginan dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik tingkat lokal,
nasional, dan internasional.
Karakteristik warga negara tersebut tidak lepas dari kecenderungan global
bangsa-bangsa abad 21 yang berdampak dan berimplikasi dalam berbagai konteks
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Berbagai kecenderungan global tersebut
dapat diklasifikasikan menjadi (Cogan, 1998): (1) Kesenjangan ekonomi; (2) Secara
dramatis, teknologi informasi akan mengurangi masalah privasi atau hak-hak individu;
(3) ketidakmerataan antara yang punya akses kepada teknologi informasi dan yang yang
tidak memiliki akses akan semakin meningkat; (4) Konflik kepentingan antara negara
maju dan negara berkembang akan meningkatkan kerusakan lingkungan; (5)
Penggundulan hutan; (6) pertumbuhan penduduk.

b. Karakteristik Warga Negara Global


Warga negara global adalah warga negara yang bertanggungjawab untuk
memenuhi persyaratan institusional dan kultural demi kebaikan yang lebih besar bagi
masyarakat (Korten, 1993). Sementara itu, Mansbach (1997) menggunakan istilah
global actors yang membedakannya menjadi dua macam, yaitu intergovernmental
organization (IGO) dan international nongovernmental organization (INGO).
Menurutnya, kedua aktor ini memiliki peran yang sangat penting dan telah banyak
terlibat dalam kehidupan kewarganegaraan.
Untuk menjadi seorang warga negara global, terlebih dahulu seseorang harus
menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab di negaranya. Sifat yang
menjadi ciri khas dari seorang warga negara yang bertanggung jawab adalah adanya
komitmen terhadap nilai integratif dan penerapan aktif kesadaran kitisnya, yaitu
kemampuan untuk berpikir mandiri, kritis, dan konstruktif, kemampuan melihat
masalah dalam konteks jangka panjang, dan untuk membuat penilaian berdasarkan
suatu komitmen kepada kepentingan masyarakat jangka panjang. Sarana yang
dipergunakan unuk menetapkan identitas dan pengakuan sah adalah organisasi sukarela.
c. Konsep Globalisasi dan Permasalahannya
Globalisasi adalah proses meluas atau mendunianya kebudayaan manusia, karena
difasilitasi media komunikasi dan informasi yang mendukung ke arah perluasan
kebudayaan itu. Sedangkan warga negara global adalah warga negara dimana sikap,
komitmen, dan tanggung jawabnya mampu melintasi batas-batas budaya setempat baik
lokal maupun nasional kepada budaya masyarakat global (Korten, 1993).
Globalisasi saat ini berdampak positif dan negatif bagi bangsa Indonesia.
Huntington meramalkan akan terjadinya benturan antarperadaban akibat faktor politik,
sosial, budaya, ekonomi, ras, dan agama.

2. Laporan hasil diskusi dengan teman sejawat (rekan kerja) tentang konsep warga
negara, teori kewarganegaraan Indonesia, dan permasalahan kewarganegaraan yang
terjadi di Indonesia.
A. Konsep Warga Negara
 Warga negara merupakan orang-orang sebagai bagian dari suatu penduduk yang
menjadi unsur negara. Warga negara mengandung arti peserta, anggota atau
warga dari suatu negara, yakni peserta dari suatu persekutuan yang didirikan
dengan kekuatan bersama. Untuk itu, setiap warga negara mempunyai persamaan
hak di hadapan hukum. Semua warga negara memiliki kepastian hak, privasi, dan
tanggung jawab.
 Seseorang yang diakui sebagai warga negara dalam suatu negara haruslah
ditentukan berdasarkan ketentuan yang telah disepakati dalam negara tersebut.
ketentuan itu menjadi asas atau pedoman untuk menentukan status
kewarganegaraan seseorang. Setiap warga negara mempunyai kebebasan dan
kewenangan untuk menentukan asas kewarganegaraannya.
 Dalam menerapkan asas kewarganegaraan ini, dikenal dengan 2 (dua) pedoman,
yaitu asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan
berdasarkan perkawinan. Dari sisi kelahiran, ada 2 (dua) asas kewarganegaraan
yang sering dijumpai, yaitu ius soli (tempat kelahiran) dan ius sanguinis
(keturunan). Sedangkan dari sisi perkawinan dikenal pula asas kesatuan hukum
dan asas persamaan derajat.

B. Teori kewarganegaraan Indonesia


 Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang dikenal dengan adanya asas
kewarganegaraan yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis.
 Asas ius adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang menurut
daerah atau negara tempat dimana orang tersebut dilahirkan. Asas ius soli disebut
juga asas daerah kelahiran. Sedang asas ius sanguinis ialah asas yang menentukan
kewarganegaraan seseorang menurut pertalian daerah atau keturunan dari orang
yang bersangkutan.
 Asas ius soli dan asas ius sanguinis dianggap sebagai asas yang utama dalam
menentukan status hukum kewarganegaraan. Pada sekarang ini umumnya negara
menganut kedua asas tersebut secara simultan.
C. Permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia antara lain:
 Apatride merupakan istilah untuk orang-orang yang tidak mempunyai status
kewarganegaraan.
 Bipatride merupakan istilah yang digunakan untuk orang-orang yang memiliki
status kewarganegaraan rangkap atau dengan istilah lain dikenal dengan dwi-
kewarganegaraan.
 Multipatride adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan status
kewarganegaraan seseorang yang memiliki 2 (dua) atau lebih status
kewarganegaraan.
 Kasus orang-orang yang tidak memiliki status kewarganegaraan merupakan
sesuatu yang akan mempersulit orang tersebut dalam konteks menjadi penduduk
pada suatu negara. Mereka akan dianggap sebagai orang asing, yang tentunya
akan berlaku ketentuan-ketentuan peraturan atau perundang-undangan bagi orang
asing, yang selain segala sesuatu kegiatannya akan terbatasi, juga setiap tahunnya
diharuskan membayar sejumlah uang pendaftaran sebagai orang asing.
 Kasus kewarganegaraan dengan kelompok bipatride, dalam realitas empiriknya,
merupakan kelompok status hukum yang tidak baik, karena dapat mengacaukan
keadaan kependudukan di antara dua negara, karena itulah tiap negara dalam
menghadapi masalah bipatride dengan tegas mengharuskan orang-orang yang
terlibat untuk secara tegas memilih salah satu di antara kedua
kewarganegaraannya.
 Kondisi seseorang dengan status berdwikewarganegaraan, sering terjadi pada
penduduk yang tinggal di daerah perbatasan di antara dua negara. Dalam hal ini,
diperlukan peraturan atau ketentuan-ketentuan yang pasti tentang perbatasan serta
wilayah teritorial, sehingga penduduk di daerah itu dapat meyakinkan dirinya
termasuk ke dalam kewarganegaraan mana di antara dua negara tersebut.
3. Laporan hasil kajian permasalahan kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia
Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda dapat menimbulkan masalah
kewarganegaraan, antara lain:
a. Apatride (tidak berkewarganegaraan)
Dengan keadaan apatride ini mengakibatkan seseorang tidak akan mendapat
perlindungan dari negara manapun juga.
b. Bipatride (berkewarganegaraan ganda)
Dengan demikian mengakibatkan ketidakpastian status orang yang bersangkutan dan
kerumitan administrasi tentang kewarganegaraan tersebut.
c. Multipatride (lebih dari 2 berkewarganegaraan)
Upaya-upaya penyelesaian permasalahan apatride, bipatride, dan multipatride
dijelaskan sebagai berikut:
- Memberikan kepastian hukum yang jelas akan status kewarganegaraannya.
- Menjamin hak-hak perlindungan hukum yang pasti bagi seseorang dalam
kehidupan bernegara.

Perkawinan Campuran
Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan
dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 : ”yang dimaksud
dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua
orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan
kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia”.
Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah
masalah kewarganegaraan anak.UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip
kewarganegaraan tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya
bisa memiliki satu kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang
harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan
apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat
pengasuhan anaknya yang warga negara asing.
Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji
bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan
campuran. Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak adalah :“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.
Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek
hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih
dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang
menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup.Manusia sebagai subjek hukum berarti
manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum.Namun tidak berarti
semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak
memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh
orang lain.
Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak
cakap melakukan perbuatan hukum.Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa
diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum.Anak yang lahir
dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki
kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang
berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti
kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak
akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan
kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penentuan
kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara dapat menciptakan problem
kewarganegaraan bagi seorang warga.Secara ringkas problem kewarganegaraan adalah
munculnya apatride dan bipatride.Appatride adalah istilah untuk orang-orang yang tidak
memiliki kewarganegaraan. Bipatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki
kewarganegaraan ganda (rangkap dua). Bahkan dapat muncul multipatride yaitu istilah
untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan yang banyak (lebih dari 2).
Proses kewarganegaraan dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu:
 kewarganegaraan karena kelahiran
 kewarganegaraan melalui pewarganegaraan
 kewarganegaraan melalui registrasi biasa.
Kasus-kasus kewarganegaraan di Indonesia banyak yang tidak sepenuhnya dapat
diselesaikan melalui cara pertama dan kedua saja. Sebagai contoh, banyak warganegara
Indonesia yang karena sesuatu, bermukim di Arab Saudi, di Jepang, ataupun
di Malaysia dan negara-negara lainnya dalam waktu yang lama sampai beranak dan
bercucu, tetapi tetap mempertahankan status kewarganegaraan Republik Indonesia.