Anda di halaman 1dari 2

Karakteristik dari pendekatan filosofi dapat dibedakan dalam 4 bagian :1[3]

1. Comprehension (pemahaman), yakni menunjukkan pemahaman keseluruhan dan bukan


hanya bagian-bagian.Dalam Auditing hal ini akan mengarahkan kita pada suatu Pertimbangan
dari konsep umum seperti : Bahan Pembuktian, Hal pemeliharaan, Disclosure dan
Independensi.
2. Prespektip, pandangan pendekatan filosofi yang mengeksplorasi kebenaran sampai
keakarnya para Auditor harus mempunyai wawasan yang sangat luas yang penting untuk
mendapatkan kebenaran dan signifikasi akan berbagai hal dalam pembuktian audit. Auditor
perlu menyingkirkan dalih-dalih tertentu dan lebih mementingkan kepedulian pribadi dan
kepentingan yang ada. Tiap masalah harus ditimbang berdasarkan kepentingan keseluruhan
dan percabangnya dibandingkan dengan dari satu atau lebih pandangan lain yang teratur.
3. Insight (Wawasan), auditor harus mampu memberikan asumsi-asumsi yang rasional.
Pengungkapan dan penerimaan postulat sebagai dasar auditing penting untuk menghindari
bias dan menghilangkan alasan yang tidak jelas. Asumsi-asumsi dasarnya, asal bahan
pembuktian, kelemahan dan implikasi-implikasi diungkap dan diuji.
4. Vision (Visi), dalam pendekatan filosofi, auditing harus mempunyai visi ke depan yang jelas .
ini akan membantu auditor dalam memberikan keyakinan, melihat jauh kedepan dalam
emfisualisasikan prospek-prospek dan tujuan-tujuan.
Sedangkan menurut Mauft dan Sharaf (1961) filosofi diartikan sebagai “kumpulan
prinsip yang mendasari suatu cabang pengetahuan dan sebagai suatu system untuk memandu
permasalahan praktis”. Dengan demikian maka filosofi auditing berarti kita mengikuti
pandangan synoptic dalam mana suatu persoalan dapat dipahami secara menyeluruh dalam
ketotalitasannya setiap isu secara berkaitan satu sama lain, memasuki wilayah keyakinan
yang diterima akal dan melihat jauh kedepan baik prospeknya maupun tujuannya.
Terlepas dari kritikan kedua penulis mengklaim bahwa ada teori auditing yang
memiliki asumsi dasar (basic assumption) atau body of integrate ideas. Dengan adanya basic
assumption ini maka diaharapkan akan dapat membantu pengembangan dan pelaksanaan
praktek audit serta dapat memecahkan berbagai persoalan yang ditemukan dalam profesi dan
ilmu audit ini. Basic assumption atau body of integrate ideas ini lazim disebut teori.
Sedangkan teori adalah susunan konsep, defenisi dan dalam menyajikan pandangan
sistematis fenomena dengan menunjukkan hubungan antara satu variable dengan variable lai
untuk menjelaskan dan meramalkn fenomena. Teori menurut Webster merupakan susunan
Meminjam pendapat Vernon Kam dalam membahas kegunaan teori Akuntansi,
menurut penulis teori auditing ini berguna dalam hal:
1. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar auditing dalam menyusunnya.

1
2. Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah auditing dalam hal tidak
adanya standar resmi.
3. Menentukan batas dalam hal melakukan “judgment” dalam penyusunan strategi atau
program audit.
4. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pelaku audit terhadap pelaksaksanaan auditing.
5. Meningkatkan kualitas audit.
Dari penjelasan ini dapat kita simpulkan bahwa sebagai ilmu maupun sebagai metode,
praktek dan teknik alangkah baiknya jika Auditing memiliki landasan filosofi atau teori yang
jelas sehingga dapat menjawab permasalahan yang muncul serta dapat mengembangkan ilmu
itu selanjutnya.2[4]