Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA ORGANIK

Isolation and Structure Elucidation of Eumitrin A


From Lichen Usnea blepharea Motyka and Its Cytotoxic
Activity

OLEH :

NAMA : HABRIN KIFLI HS.


NIM : F1C1 15 034

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat serta
hidayah-Nya, makalah sederhana ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan.
Makalah sederhana ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah elusidasi
struktur senyawa organik, semester enam yang dibimbing oleh Bapak Dr. Imran,
M.Si. Program Studi S1 Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Mipa, Universitas Halu
Oleo. Selain itu, makalah ini juga bermanfaat bagi kami dimana dengan adanya
makalah sederhana ini kami dapat mengembangkan dan melatih kemampuan
menulis kami, dapat juga mengetahui lebih tentang penetuan struktur senyawa
organik.
Makalah sederhana ini diselesaikan masih jauh dari sempurna dengan
keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, maka penulis menerima
kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan penulisan Makalah berikutnya.

Kendari, Juni 2018

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................ ..............................................i


Daftar Isi .................................................................................................. ..............ii
BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................1
1.3 Tujuan ................................................................................................................2
1.4 Manfaat ..............................................................................................................2

BAB II: HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III: PENUTUP


4.1 Kesimpulan ......................................................................................................11
4.2 Saran .................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................12

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lichen adalah tanaman unik karena terbentuk dari dua simbiosis
organisme yang berbeda melalui kehidupan bersama-sama saling menguntungkan
antara ganggang dan jamur. Produk lumut telah digunakan sebagai obat
tradisional di beberapa negara dan masih dianggap sebagai obat alternatif yang
menarik. Di masa lalu, penduduk asli Amerika menggunakan lumut untuk obat-
obatan, sebagai contoh: U.longissima sebagai obat kulit halus dan Letharea
vulpine sebagai pewarna kuning. Di India, lichen digunakan untuk
menyembuhkan beberapa penyakit, yaitu asma, bronkitis, sakit perut, alergi, retak
tulang, gangguan hati dan darah. Secara tradisional, lumut memiliki sejumlah
kegunaan tergantung pada spesies, seperti U. misaminensis digunakan sebagai
anti-diare, influenza, dan obat batuk. Lichen Heterodermia boryi, Parmotrema
stuppeum (Taylor) Halye, U. nilgirica, Pyine sp. dan Parmotrema melanothix
(Mont.) Hale digunakan sebagai agen anti-mikroba untuk E.coli, Pseudomonas
sp., Klebsiella sp., Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians dan
Acinetobacter sp. U. barbata dan U. dasypoga digunakan sebagai anti-
tuberkulosis.
Berdasarkan pengalaman empiris, Usneasp. mengandung senyawa kimia
yang memiliki khasiat sebagai obat tradisional, penyakit perut seperti diare, tinja
berdarah, obat sariawan, obat flu, kejang, sakit perut, sulit buang air kecil,
gangguan menstruasi, wasir dan sakit kepala. Mayoritas tanaman Usnea
mengandung senyawa kimia yang dominan yaitu asam usnat. Maulidiyah, dkk.
(2015) telah melaporkan bahwa di lichen Usnea sp. mengandung senyawa asam
usnic yang memiliki aktivitas untuk menghambat pertumbuhan Murine Leukemia
P388 sel. Usnea adalah genus lumut yang telah diklasifikasikan sebagai bagian
dari parmeliaceae keluarga, dan menyebar ke seluruh dunia seperti jenis lumut
sekitar 20.000 spesies.
Pabrik lumut di Indonesia tersebar di berbagai daerah, yaitu Sulawesi,
menurut masyarakat setempat bahwa tanaman U. blepharea Motyka digunakan
sebagai obat kusta, obat batuk dan obat-obatan untuk menghilangkan kutil.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian tentang senyawa kimia yang terkandung
dalam lichen U. blepharea Motyka dilakukan untuk memperoleh bioaktivitas.
Senyawa isolasi diuji aktivitas sitotoksik terhadap sel Murine Leukemia P388
sebagai senyawa anti kanker.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana mengisolasi dan
menguraikan struktur senyawa metabolit sekunder dan untuk menguji aktivitas
sitotoksik lichen Usnea blepharea Motyka?
1.3 Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi
dan menguraikan struktur senyawa metabolit sekunder dan untuk menguji
aktivitas sitotoksik lichen Usnea blepharea Motyka.

1.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat mengisolasi dan
menguraikan struktur senyawa metabolit sekunder dan untuk menguji aktivitas
sitotoksik lichen Usnea blepharea Motyka.

2
3

BAB II
PEMBAHASAN

Senyawa ini telah diisolasi dan berbentuk kristal kuning dengan titik
leleh = 263-264 dengan rotasi optik [a]D = -53° (CHCl c = 0,0005).
Data dari sinar UV spektroskopi yang mengisolasi senyawa Gambar. 1) telah
diukur pada panjang gelombang λ = 200-400 nm dalam pelarut diklorometana
memberikan penyerapan maksimum pada panjang gelombang λ = 229 nm dan 334
nm. Absorpsi pada λmax = 229 nm menunjukkan adanya konjugasi ikatan ganda C
= C dari benzena dengan jenis transisi π → π*. Absorpsi pada omemax 340 nm
diperkirakan berasal dari gugus C = C chromofor yang terkonjugasi dengan C = O
disertai perpanjangan ikatan rangkap.

Gambar 1. Pengukuran data Spektroskopi UV

Gambar. 2 menunjukkan hasil kromatogram LC-MS dari puncak ion


molekul terlihat pada m / z = 680, ini senyawa terisolasi memiliki berat molekul
[M+] = 680.
Gambar 2. Pengukuran data LC-MS Chromatogram

Spektrum IR dari pita serapan pada daerah gelombang di 3487 cm-1


adalah getaran peregangan kelompok hidroksil (OH). Ini didukung oleh adanya
getaran lentur di area 1249 cm-1 untuk gugus hidroksil (OH). Pita absorpsi pada
daerah 2962 cm-1 adalah peregangan vibrasi asimetris ikatan C-H dari gugus CH3,
didukung oleh adanya pita absorpsi dalam bilangan gelombang 1743 cm-1 yang
merupakan peregangan vibrasi asimetris C = O dari kelompok ester. Band serapan
dalam bilangan gelombang 1612 cm-1 diindikasikan adanya cincin aromatik,
sedangkan pita absorpsi dalam bilangan gelombang 140 cm-1 dan 1018 cm-1
memiliki getaran pengikatan ikatan C-O-C, seperti dapat dilihat pada Gambar. 3.

Gambar 3. Pengukuran data spektrum Infra Merah (IR)

4
Gambar 4. Pengukuran data spektrum 1H-NMR

Spektrum 1H-NMR pada senyawa terisolasi menunjukkan sepasang


proton aromatik dengan sistem AB pada pergeseran kimia δH 6,58 (1H d, J = 7,9
Hz) dan δH 7,29 (1H d, J = 7,9 Hz). Dengan pasangan proton dengan kopling J 7,9
Hz berarti proton kedua berdekatan (posisi orto). Satu proton aromatik lainnya
tidak memiliki pasangan yang terlihat pada δH 6,47 (1H, s). Dua sinyal pada δH =
3,76 (3H, s) dan 3,68 (3H, s) menunjukkan kelompok methoxy. Gugus asetil
(CH3CO-) ditunjukkan pada δH 1,79 ppm (3H, s). Senyawa ini memiliki lima
gugus hidroksi yang membentuk ikatan hidrogen dengan gugus C = O yang
terlihat pada δH (ppm) 13.92 (1H, s), 13.91 (1H, s), 12.00 (1H, s), 11.57 (1H, s),
11.23 (1H, s). Proton metin diindikasikan pada δH (ppm) 5.34 (1H, s); 4.15 (1H,
s); 6,58; 6. 47; 7.10; 2,69. Adanya gugus pasangan metin (CH) dengan pergeseran
kimia 2,63 (1H dd, J = 7,3 Hz; 4,9 Hz) dengan δH = 2,66 (1H dd, J = 7,3 Hz; 4,3
Hz) telah memprediksi adanya gugus metilen (CH2) tetapi tampaknya satu proton
dengan satu sama lain tidak identik, kemudian terjadi germinal kopling dengan
konstanta kopling 7,3 Hz. Kehadiran kelompok methylene ditunjukkan pada 2,64
δH 2,40 (2H, m) dan 2,5 (2H, m). Senyawa terisolasi mirip dengan senyawa yang
telah dilaporkan oleh Maulidiyah (2011) perbedaannya adalah 18 atom C
quartener dan 8 kelompok metin19, sementara senyawa ini memperoleh 20 atom
C quartener dan 6 kelompok metin. Spektrum 1H-NMR dapat dilihat pada
Gambar. 4.
Spektrum 13C-NMR menunjukkan atom karbonil dari karbonil pada
posisi δC = 188,05 ppm, 170,95 ppm, 169,07 ppm, 187,30 ppm dan 184,86 ppm.
Atom karbon Quaterner yang mengikat atom O ditampilkan pada posisi δC =
161,25 ppm; 177,48 ppm; 84,96 ppm; 149,93 ppm; 159,57 ppm; 128,96 ppm,
150,52 ppm, dan 116,04 ppm. Atom C kuartener ditunjukkan dalam pergeseran
kimia δC = 100,3 ppm; 157,44 ppm; 111,29 ppm; 139,98 ppm; 117,71 ppm;
140,24 ppm dan 100,65 ppm.
Hasil 13C-NMR dan DEPT (Gambar 5 dan 6) menjelaskan gambaran
umum senyawa ini yang memiliki 34 atom karbon terdiri dari 2 gugus metil, 2
gugus metoksi, 1 gugus metil dari gugus asetil, 6 gugus metin, 3 gugus metilena.

5
dan 20 atom quartener C dengan struktur rumus C34H32O15. Hasilnya dapat
dihitung dan senyawa yang terisolasi memiliki jumlah cincin dan ikatan ganda
sebanyak 19 buah. Dari data spektroskopi dapat diketahui bahwa defisiensi
hidrogen menunjukkan dari 5 kelompok dari C = O, 8 dari C = C kelompok, dan
sisanya adalah 6 cincin.

Gambar. 5. Pengukuran data spektrum 13C-NMR

Gambar. 6. Pengukuran data spektrum DEPT

HMQC dan HMBC (Gambar 7 dan 8) dapat ditentukan pasangan proton


yang terikat dengan atom C, maka korelasi antara proton dengan atom tetangga C
memiliki jarak antara 2-3 ikatan seperti yang dapat dilihat pada Gambar. 8. Dari
data menunjukkan (Gbr. 7) proton aromatik δH = 6,58 ppm terikat pada posisi C-4
'(107,85 ppm), sedangkan proton aromatik δH = 7,29 ppm terikat pada posisi C-3'
(141,86 ppm). Proton aromatik lainnya pada δH = 6,47 ppm terikat pada posisi C-2
’(111,49 ppm). Kelompok-kelompok metoksi dengan δH = 3,68 ppm dan δH =
3,76 ppm yang terikat pada posisi δC = 53,56 ppm dan δC = 53,66 ppm. Kelompok

6
asetil (CH3CO-) pada posisi δH = 1,79 ppm yang terikat pada posisi δC = 21,25
ppm. Kelompok metil pada δH = 2,06 ppm terikat pada posisi δC = 28,65 ppm,
sedangkan kelompok metil lainnya pada δH = 1,17 ppm terikat pada posisi δC =
17,63 ppm. Kelompok methylene pada δH 2,40 ppm yang terikat pada δC = 21,21.
Kelompok metilena lainnya pada δH = 2,54 ppm yang terikat pada posisi δH =
22,68 ppm. Kelompok Metin pada δH = 4,15 ppm, 5,34 ppm dan 2,69 ppm terikat
pada posisi δC = 71,45 ppm, 66,15 ppm dan 20,52 ppm, masing-masing.

Gambar 7. Pengukuran data dari HMQC Spectrum

7
Gambar. 8. Analisis HMBC senyawa isolat

Dari data HMBC spektrum menunjukkan resonansi dari satu sinyal


aromaticproton pada δH = 6.47 ppm memiliki korelasi dengan karbon C-1 (161.25
ppm), 3-CH3 (28.65 ppm), C-3 (111.29 ppm) dan C-1a (157,44 ppm). Proton
aromatik pada δH = 6,58 ppm berkorelasi dengan karbon C-2’ (117,71 ppm) dan
C-4'a (116,04 ppm). Proton aromatik lainnya pada δH = 7,29 ppm berkorelasi
dengan proton karbon C-1’ (159,57 ppm), C-2’ (117,71 ppm) C-4’ (107,85 ppm)
dan C-4'a (116,04 ppm). Sinyal proton metoksik dengan δH = 3,68 ppm
berkorelasi dengan karbon yang memiliki pergeseran kimia δC = 184,86 ppm,
sedangkan proton metoksi lainnya dengan δH = 3,76 ppm telah berkorelasi dengan
karbon pada δC = 170,95 ppm. Proton dari gugus hidroksi dengan δH = 13,92 ppm
berkorelasi dengan karbon pada C-7 (32,70 ppm) dan C-8 (177,48 ppm). C-9
(100,35 ppm) proton dari gugus hidroksi δH = 11,23 ppm berkorelasi dengan
karbon C-1 (161,25 ppm) dan C-2’ (111,49 ppm). Proton hidroksi pada δH = 11,57
ppm memiliki korelasi dengan karbon C-1' (159,57 ppm), dan C-2' (117,71 ppm),
sedangkan proton hidroksi lainnya pada δH = 13,91 ppm berkorelasi dengan
karbon C-9' (100,65 ppm) dan C-7' (22,68 ppm). Proton metilena pada δH = 2,40
ppm berkorelasi dengan karbon C-5 (71,45 ppm) dan karbon C-8 (177,48 ppm).
Proton metilena pada δH = 2,54 ppm berkorelasi dengan karbon C-5 (71,45 ppm),
C-8 (177,48 ppm) dan C-9 (100,3 ppm). Proton metin lainnya pada δH = 2,69 ppm
berkorelasi dengan karbon C-9’ (100,65 ppm). Proton dari gugus metil pada δH =
2,06 ppm telah berkorelasi dengan karbon C-3 (111,29 ppm), C-2 (111,49 ppm)
dan C-2 ’(117,71 ppm). Proton lain dari gugus metil pada δH = 1,17 ppm

8
berkorelasi dengan karbon C-5’ (66,15 ppm). Proton dari kelompok metin pada δH
= 4,15 ppm telah berkorelasi dengan karbon C-5 (100,3 ppm), C-6 (21,21 ppm)
dan C-10 (84,96 ppm). Proton metin pada δH = 5,34 ppm telah berkorelasi dengan
karbon C-10' (128,96 ppm), C-6' (20,52 ppm), C-7' (22,68 ppm) dan C-9' (100,65
ppm). Proton geminal metin pada δH = 2,66 ppm telah berkorelasi dengan karbon
C-9’ (100,65). Proton metil dari gugus asetil pada δH = 1,79 ppm berkorelasi
dengan karbon δC = 169,07 ppm. Analisis HMBC dari senyawa terisolasi dapat
dilihat pada Gambar. 9.

Gambar 9. Pengukuran data spektrum HMBC

Gambar. 10. Pengukuran data spektrum COSY

Gambar. 10 adalah spektrum 2D-NMR COSY menunjukkan pasangan


proton spin yaitu H-41 6,59 ppm dan H-31 7,2 ppm. Berdasarkan hasil analisis
spektrum oleh UV-Vis, FTIR, 1H-NMR, 13C-NMR, 2D-NMR, dapat disimpulkan
bahwa senyawa yang diisolasi adalah senyawa Eumitrin A1 dengan rumus struktur

9
C34H32O15. Ini didukung oleh hasil pengukuran LC-MS yang menunjukkan
senyawa ini memiliki berat molekul 680. Menurut Lee dkk., studi struktur
Eumitrin A1 sangat sulit untuk dijelaskan. Senyawa ini telah ditemukan pada
lichen Usnea bayleyi sebelumnya (Stirt.) Zhlbr dan turunan dari spesies yaitu
parmeliaceae parmotrema cristiferum (taylor) Hale, tetapi ditemukan di U.
blepharea Motyka dan dilakukan uji aktivitas sitotoksik untuk pertama kali.
Struktur Eumitrin A1 dapat dilihat pada Gambar. 11.
Uji aktivitas sitotoksik Eumitrin A1 terhadap sel P388 Murine Leukemia
berdasarkan MTT assay. IC50 ditentukan oleh persamaan logaritmik. Hasil
pengukuran terhadap aktivitas sitotoksik menunjukkan nilai IC50 4,509 μg / mL
(Gambar 12). Ini dilakukan dalam nilai triplo dengan SD 0,73. Menurut kategori
berdasarkan studi sel kanker sitotoksik terhadap beberapa senyawa dinyatakan
sangat aktif jika memiliki nilai IC50 <5 µg / mL, aktif (IC50 5-10 µg / mL),
sedang (IC50 11-30 µg / mL) dan tidak aktif (IC50> 30 µg / mL).

Gambar. 11. Struktur senyawa yang diisolasi (Eumitrin A1)

Gambar. 12. Hasil pengukuran Sel P388 Murine Leukemia

10
11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari analisis data spektra dengan menggunakan UV-Vis, FTIR, 1H-
13
NMR, C-NMR, 2D-NMR, dapat disimpulkan senyawa metabolit sekunder telah
diisolasi dari lumina U. blepharea Motyka adalah Eumitrin A1 dengan struktur
formula C34H32O15 dengan berat molekul 680. Uji aktivitas sitotoksik terhadap sel
Murine Leukemia P388 menunjukkan sangat aktif dengan nilai IC50 4,5 µg / mL.

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung
jawabkan. Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa
untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di
jelaskan.
12

DAFTAR PUSTAKA

Ağar G, Aslan A, Sarioğlu EK, Alpsoy L, Ceker S. Protective activitty of the


methanol extract of Usnea longissima against oxidative damage and
genotoxicity caused by aflatoxin B1in vitro.Turk J. Med. Sci., 2011,
41(6):1043-1049.

Brisdelli F, Perilli M, Sellitri D, Piovano M, Garbarino JA, Nicoletti M, Bozzi


A, Amicosante G and Celenza G. Cytotoxic activity and antioxidant
capacity of purified Lichen metabolites: An In Vitro study.
Phytotherapy Research,2012, 27(3):431-437.

De Castro MEPC, Boufleur K, Soliza P, Nociti T, Melo JM, Amuda LK, Nahas
R. Hypertrophic lichen planus-like atopic dermatitis: a case report.
WAO Journal.,2015, 8(Suppl 1):A214.

Singh S, Uperti DK, Lehri A and Paliwal AK. Quantification of Lichens


commercially used in traditional perfumery industries of Uttar
Pradesh, India. Indian Journal of Plant Sciences.,2015, 4(1):29-33.

Shrestha G. and Larry LStC. Anti-microbial activity of extracts from two


Lichens-Ramalina menziesii and Usnea lapponica. Bulletin of the
California Lichen Society.,2013, 20(1):5-10.