Anda di halaman 1dari 52

SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

SPESIFIKASI TEKNIS

PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN PONDASI

1. PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN PONDASI


1.1. Pekerjaan galian dan urugan meliputi:
 Galian tanah untuk pondasi dan sloof .
 Galian tanah untuk saluran air hujan.
 Urugan tanah kembali lubang pondasi.
 Urugan pasir di bawah pondasi.

1.2. Pengerjaan
1.2.1. Kontraktor bertanggungjawab atas tata letak yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan. Sebelum penataan, Kontraktor harus
menyerahkan rencana tata letak untuk mendapat persetujuan
Pengawas/Tim teknis. Bench mark yang bersifat tetap ataupun sementara
harus dijaga dari kemungkinan gangguan atau pemindahan.
1.2.2. Selama pelaksanaan pekerjaan tanah ini, Kontraktor harus menempatkan
pengawas ahli yang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan
galian dan urugan, yang mengetahui semua aspek pekerjaan yang harus
dilaksanakan sesuai kontrak.
1.2.3. Semua benda di permukaan seperti pohon, akar, dan tonjolan, serta
rintangan dan lain-lain yang berada di dalam batas daerah pembangunan
harus dibersihkan, kecuali untuk hal-hal tertentu yang tidak mengganggu
sesuai dengan petunjuk Pengawas/Tim Teknis.
1.2.4. Galian harus dilakukan sesuai dengan ukuran yang tercantum di dalam
gambar atau BQ dan diperhitungkan dengan ruang kerja secukupnya.
Apabila terjadi galian melebihi kedalaman yang ditentukan, maka
pengurugan kembali harus dilakukan dengan pasangan atau beton
tumbuk tanpa biaya tambahan dari Pembari Tugas.
1.2.5. Bila diperlukan untuk mendapat daya dukung tanah yang lebih baik, maka
dasar galian tanah pondasi harus dipadatkan/ditimbris/ditumbuk.
1.2.6. Pada bagian-bagian galian yang dianggap dapat longsor, Kontraktor
harus mengadakan tindakan pencegahan dengan memasang papan
penahan/turap atau dengan cara lain.
1.2.7. Urugan dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan tidak melibihi 20 cm,
dan setiap tanah urugan harus dibersihkan dari tunas tumbuhan dan
kotoran lainnya.

2. PEKERJAAN PONDASI

2.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan Pondasi yang harus dikerjakan
2.1.1. Pondasi Telapak
2.1.2. sloof

2.2. SYARAT-SYARAT UMUM


2.2.1. Semua bahan-bahan yang dipergunakan harus memenuhi
peraturan/normalisasi yang berlaku di indonesia seperti
PUBB,PBI,PMI dan lain-lainnya.

STR - 1
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

2.2.2. Penggalian
a. Tenaga ahli Pengawas lapangan
Pemborong harus mengajukan daftar nama yang mau diajukan
dilapangan, tenaga ahli tersebut harus mengikuti petunjuk yang
diberikan oleh pengawas dan tenaga ahli tersebut harus
kontinyu berada dilapangan untuk pengawasan
 Penggalian
Pemborong harus melakukan pengukuran untuk menetapkan
lokasi dan elevasi lubang-lubang pondasi sesuai dengan
gambarkerja, hasil pengukuran harus disetujui oleh
pengawas sebelum melanjutkan pekerjaan
 Pergeseran as pondasi yang direncanakan maksimum 5 cm
kesegala arah, dasar pondasi harus horizontal deviasi
maksimum 5 cm
 Penggalian lubang harus dikerjakan secara terus menerus
sampai mencapai yang dipersyaratkan dan harus
mendapatkan persetujuan tertulis ayng ditandatangani oleh
pengawas
 Material lepas dan lumpur harus dibersihkan dari lubang
pondasi, lubang harus bersih setiap saat.

b. Persyaratan-persyaratan pekerjaan sloof


 Lingkup pekerjaan
 Semua pekerjaan beton tumbuk antara lain untuk lantai kerja
 Semua pekerjaan beton bertulang yang menurut sifat
konstruksinya merupakan struktur utama antara lain, balok
sloof.
 Semua pekerjaan yang dilakukan sebelum, selam dan
sesudah pengecoran yaitu :
1. Pembuatan pemetaan /shop drawing
2. Persiapan dan pemasangan penulangan
3. Pengecoran
4. Pemeliharaan
5. Pembukaan cetakan
c. Pengecoran
 Pengecoran baru boleh dimulai setelah ada persetujuan
tertulis dan tanda tangani oleh pengawas
 Campuran beton harus dicampur dengan mesin pengaduk (
beton molen ) sekurang-kurangnya 5 menit semua bahan-
bahan dimasukan kedalam drum pengaduk setelah
pengaduk selesai adukan beton harus memperlihatkan
susunan warna seragam
 Persyaratan-persyaratan lainnya untuk pengecoran harus
mengikuti persyaratan pengecoran.
d. Baja tulangan
 Pemasangan dan pengikatan dari baja tulangan dilakukan
pada keadaan normal
 Pemotongan dan pengikatan sesuai dengan skala untuk
pada gambar

STR - 2
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

 Pemborong harus membuat detail shop drawing dengan


skala untuk disetujui oleh pengawas dalam pelaksanaan
 Semua baja pada pekerjaan beton ini permukaannya harus
lebih bersih dari larutan bahan-bahan atau material yang
dapat memberikan akibat pengurangan ikatan antara beton
dan baja
 Tulangan harus dipasang sedemikain kokoh sehingga
selama dan sebelum pengecoran tulangan tidak berubah
tempat.
 Penahan jarak bentuk balok-balok persegi atau gelang-
gelang untuk menjaga ketebalan penutup ( selimut) beton
harus dipasang sebanyak minimm 4 buah setiap m2
 Jumlah luas jenis maupun mutu dari baja tulangan sesuai
dengan gambar dan perhitungan.

e. Penyelesaian
 Pemborong harus membersihkan kembali daerah yang telah
selesai dikerjakan dari berbagai macam kotoran.
 Kelebihan tanah bekas galian pondasi dan bobokan maupun
material yang tidak diperlukan lagi harus dibawa keluar
dengan persetujuan pengawas.
 Pemborong harus tetap menjawab susunan pada daerah
disekitar pondasi terhadap kepadatannya.

3. PEKERJAAN PONDASI TELAPAK

3.1. Persyaratan Bahan


Pondasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Beton cor menggunakan adukan beton K-300 yang campurannya
merupakan hasil dari Mix design dan dikerjakan setelah beton mengeras.
Bahan PC, pasir, air dan bahan lainya harus memenuhi persyaratan
bahan yang sesuai dengan pasal pekerjaan beton pada buku RKS ini.
3.2. Persyaratan Teknis dan Pelaksanaan
3.2.1. Pelaksanaan Galian / bor
a. Galian / bor pada dasarnya dilaksanakan sehingga mencapai
lapisan tanah keras. Ukuran kedalam yang tercantum pada
gambar kerja adalah ukuran yang ditentukan berdasrkan
hasil penyelidikan tanah dengan alat sondir yaitu antara 0 –
4,2 m
b. Apabila didalam pelaksanaan ternyata kedalaman tanah
keras berada pada taraf kurang dari ukuran yang tercantum
dalam gambar kerja, maka galian dapat dihentikan pada
tarap itu dengan persetujuan pengawas.
c. Demikian pula sebalikanya, apabila didalam pelaksanaan
ternyata pada kondisi yang tercantum dalam gambar kerja
belum dijumpai lapisan tanah keras, maka galian HARUS
TERUS DILAKSANAKAN sampai dijumpai lapisan tanah
keras yang disetujui oleh pengawas. Apabila kondisi lapisan
tanah pada lubang tersebut ternyata berubah menjadi lunak
kembali, maka galian harus terus dilaksanakan sampai

STR - 3
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

dijumpai lapisan tanah keras yang memenuhi persyaratan.


d. Yang perlu diperhatikan, bahwa galian harus dilaksanakan
secara TEGAK LURUS.
3.2.2. Pengamanan galian
 Untuk menjaga agar bidang sisi galian bor tidak runtuh dan
menjaga keamanan penggali, diperlukan suatu konstruksi
pengaman galian.
 Jenis konstruksi pengaman galian ditentukan oleh jenis
lapisan tanah pada galian tersebut. Untuk tanah sedang-
keras mungkin tidak diperlukan konstruksi pengaman galian,
jenis tanah lunak-sedang diperlukan konstruksi pengaman
galian sederhana ( mis dari gedeg bambu/ anyaman
bambu). Untuk jenis tanah lunak-lunak pengamanan galian
yang kuat ( mis buis beton )
 Apabila air harus selalu dijalankan untuk membuang air dari
dalam galian.
3.2.3. Pengecoran
 Pengecoran pondasi dapat dilakukan apabila telah disetujui
oleh pengawas dan kedalaman galian telah mencapai tanah
keras yang dipersyaratkan.
 Sebelum pengecoran dilaksanakan lubang galian harus
bersih dari lumpur, tanah dan sampah serta kondisi lubang
dalam kondisi kering (pompa harus siap tersedia)
 Pengecoran dilakukan dengan menggunakan Tremi /belalai
agar ketinggian jatunhnya adukan tidak terlalu tinggi.

4. BETON COR DI TEMPAT

4.1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan ini meliputi pengangkutan, pengadaan bahan, peralatan dan


tenaga kerja serta pelaksanaan pekerjaan beton pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja. Pekerjaan ini termasuk tetapi tidak terbatas
pada hal-hal berikut :

Seluruh pekerjaan beton struktural seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.


Beton tumbuk, lantai kerja dan beton ringan serta beton non-struktural lainnya
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

4.2. STANDAR / RUJUKAN

4.2.1 American Concrete Institute (ACI).


4.2.2 American Society for Testing and Materials (ASTM).
4.2.3 American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO).
4.2.4 Standar Industri Indonesia (SU)/Standar Nasional Indonesia (SNI).
4.2.5 Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2, 1971).
4.2.6 Spesifikasi Teknis

STR - 4
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Uji Beton.
- Galian, Urugan Kembali dan Pemadatan
- Baja Tulangan.

4.3. PROSEDUR UMUM

4.3.1. Gambar Detail Pelaksanaan


Gambar Detail Pelaksanaan berikut harus diserahkan Kontraktor
kepada Konsultan pengawas untulk disetujui, dan harus meliputi
- Diagram penulangan yang menunjukkan pembengkokan kait,
lewatan, sambungan dan lainnya sesuai ketentuan Spesifilkasi
Teknis
- Bentuk cetakan harus menunjukkan batang struktur, spasi, ukuran,
sambungan, sisipan dan pekerjaan lainnya yang terkait.
- Metoda pengecoran termasuk desain campuran, tenaga kerja,
peralatan dan alat-alat kerja.

4.3.2. Pemeriksaan, Pengambilan Contoh dan Pengujian


a. Pemeriksaan Lapangan.
Sebelum memulai pekerjaan beton, pengujian pendahuluan
tersebut di bawah akan dilakukan oleh Konsultan pengawas
dengan biaya Kontraktor.
Pengujian tambahan harus dilakukan bila diperlukan.
Kontraktor harus mengacu kepada hasil campuran percobaan dan
estimasi yang akan digunakan dalam pekerjaan ini.
Kontraktor harus membantu Konsultan pengawas dalam
pelaksanaan pengambilan contoh dan pengujian. Pengujian
pendahuluan akan meliputi penentuan hal-hal berikut:
- Keawetan.
- Karakteristik batu pecah.
- Tipe dan kualitas semen.
- Pernilihan dan dosis bahan tambahan.
- Perbandingan kelas batu pecah dalam campuran.
- Kekuatan semen.
- Faktor air semen.
- Pengujian slump.
- Karakteristik berbagai campuran beton segar.
- Kuat tekan.
- Kerapatan air.
- Ketahanan terhadap cuaca.
- Ketahanan terhadap reaksi bahan kimia.
Pengujian-pengujian ini harus dilakukan sampai diperoleh
campuran yang sesuai dengan ketentuan Spesifikasi ini.
b. Pengambilan Contoh dan Pengujian.
Semua pengambilan contoh dan pengujian harus dilakukan oleh
Kontraktor tanpa tambahan biaya. Pekerjaan ini akan berlangsung
terus selama pelaksanaan pekerjaan beton.
Pengambilan contoh dan pengujian harus ditentukan oleh
Konsultan pengawas, seperti tersebut di bawah :
- Semen.
Semen harus memiliki sertifikat dari pabrik pernbuat, yang
menunjukkan berat per zak, bahan alkali yang sesuai.
- Agregat.

STR - 5
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Agregat harus sesuai dan diuji menurut standar ASTM C 33.


Pengujian dimulai 30 (tiga puluh) hari sebelum pelaksanaan
pekerjaan beton.
- Beton.
Minimal 30 (tiga puluh) hari sebelurn pekerjaan beton dimulai,
Kontraktor harus membuat percobaan campuran untuk
pengujian, material yang akan digunakan, dan metode yang
akan digunakan untuk pekerjaan ini.
6 (enam) buah uji beton silinder harus dibuat dari setiap 6
(enam) adukan dari setiap campuran yang diajukan untuk
setiap mutu beton dan jumlah maksimal batu pecah.
- Bahan Tambahan.
Sernua bahan tambahan untuk beton harus diuji sesuai standar
ASTM minimal 30 (tiga puluh) hari sebelum pekerjaan beton
dimulai.
Bahan tambahan tidak diijinkan digunakan tanpa persetujuan
Konsultan pengawas.

4.3.3. Campuran Beton


Desain campuran beton harus ditentukan oteh hal-hal berikut:
- Mengambil contoh dengan peralatan laboratorium yang
dibutuhkan.
- Mengukur berat pasir, kerikil, semen, kerucut air dan contoh batu
pecah.
- Perhitungan.

4.3.4. Pengiriman dan Penyimpanan


a. Semen.
- Sernua bahan semen dalam zak yang didatangkan ke lokasi
harus segera disimpan di tempat terlindung yang disediakan
oleh Kontraktor. Lantai tempat penyimpan harus berada di atas
tanah, sehingga bila hujan lantai tidak menjadi basah/harus
mencegah kelembaban.
- Semen tidak boleh disimpan di luar, kecuali bila akan segera
digunakan.
- Penyimpanan harus ditumpuk tidak lebih dari tinggi 150cm dan
harus dipisah-pisah berdasarkan umur produksi. Penyimpanan
semen dalam zak harus dibatasi sampai 90 (sembilan puluh)
hari, dan 6 (enam) bulan dalam kemasan besar. Bila waktu
penyimpanan melebihi dari yang disyaratkan, semen harus diuji
berdasarkan standar ASTM C 150 dan/atau peraturan lokal yang
beriaku dan/atau disetujui Konsultan pengawas.
- Kontraktor harus mencatat dan memberikannya kepada
Konsultan pengawas, sebuah catatan, tanggal, jumlah dan
lokasi penyimpanan setiap semen yang didatangkan dan
digunakan. Kontraktor setiap waktu harus menyediakan fasilitas
untuk pemenksaan semen, bila diperlukan.
b. Batu Pecah.
Batu pecah harus disimpan di lokasi yang bersh, bebas dari aliran
air permukaan, yang dilengkapi dengan drainase yang bak, dan
bebas dad benda asing lainnya.
Tinggi penumpukan tidak lebih dari 120cm agar batu pecah tidak
berhamburan.
c. Bahan Tambahan.
STR - 6
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Tanggal produksi bahan tambahan harus tercanturn pada kemasan


dan disimpan di suatu tempat yang terlindung.
Penggunaan bahan tambahan harus ditentukan dan disetujui
Konsultan pengawas.
Sernua biaya penggunaan bahan tambahan harus sudah termasuk
dalam harga penawaran kontrak.

4.4. MATERIAL

4.4.1. Beton
a. Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja atau sesuai petunjuk
Konsultan pengawas, beton dikelompokkan dalam kelas yang
berbeda yang terdiri dari :
- Mutu beton K-300 untuk beton struktural.
- Mutu beton K-250 untuk beton struktural.
- Mutu beton K-175 untuk beton non-struktural.
- Mutu beton K-125 untuk beton pengisi dan lantai kerja
pondasi.
b. Komposisi beton, baik berat atau volume, harus ditentukan oleh
Konsultan pengawas dan harus memenuhi kondisi berikut: :
- Slump harus ditentukan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis .
- Campuran alternatif harus digunakan sebelum disetujui
Konsultan pengawas.
- Tanpa air yang berasal dari batu pecah.

4.5. Semen
Semen harus dari tipe 1 dan memenuhi persyaratan SIl-0013-81/SNI.
15-2049-1994 atau ASTM C 150-96.
Sebelum pengadaan semen, sertifikat semen harus diserahkan kepada
Konsultan pengawas untuk disetujui, termasuk metoda dan cara
pengangkutan harus disertakan.
Semen harus diadakan dafam kemasan besar atau zak, tergantung
persetujuan dari Konsultan pengawas.

4.6. Air
Air untuk campuran, perawatan atau aplikasi lainnya harus bersih dan bebas
dari unsur-unsur yang merusak seperti alkali, asam, gararn dan bahan
anorganik fainnya.
Air dari kualitas yang dikenal dan untuk konsumsi manusia tidak pedu diuji.
Bagaimanapun, bila hal ini terjadi, sernua air kecuali yang telah disebutkan di
atas, harus diuji dan disetujui Konsultan pengawas.

4.7. Agregat Halus


4.4.1. Agregat halus untuk beton harus terdiri dari pasir keras dan harus
disetujui Konsultan pengawas. Agregat halus harus memenuhi
ketentuan berikut:

STR - 7
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

METODA UJI BERAT %


JENIS BAHAN
AASHTO MAKSIMAL
Gumpalan tanah liat T 112 0,5%
Batubara dan bahan terbakar T113 0,5&
Bahan lolos saringan no. 200 T11 3%

4.4.2. Agregat halus tidak boleh mengandung material anorganik, asam,


alkali dan bahan lain yang merusak.
Agregat halus harus merata digradasi dan harus memenuhi ketentuan
gradasi berikut :

% BERAT YANG LOLOS


SARINGAN
(AASHTO T 27)
3/8” (9,5mm) 100
No. 4 (4,75mm) 95-100
No. 16 (1,18mm) 45-80
No. 50 (0,30Omm) 10-30
No. 100 (0,15Omm) 2-10

4.8. Agregat Kasar


4.8.1. Agregat kasar untuk konstruksi harus terdiri dari batu butiran, batu
pecah, terak dapur tinggi atau bahan lainnya yang disetujui yang
memiliki karakteristik serupa yang keras, tahan lama dan bebas dari
material yang tidak diinginkan. Agregat kasar harus bebas dari material
yang merusak dan harus memenuhi ketentuan berikut:

METODA UJI BERAT %


BAHAN
AASHTO MAKSIMAL
Gumpalan tanah liat T 112 0,25%
Bahan lolos saringan no. 200 T11 1%
Bahan tipis panjang lebih dari 5x
- 10%
ketebalan maksimal
Material lain yang merusak harus tidak febih dari batas persentase
yang ditentukan dalarn Spesifikasi Teknis ini dan/atau disetujui
Konsultan pengawas.

4.8.2. Gradasi batuan kasar harus memenuhi ketentuan berikut:

UKURAN PERSENTASE BERAT LOLOS SARINGAN %


MAKSIMAL UKURAN SARINGAN
BATU PECAH
(CM) No. No.
5,08 2,54 1,905 1,27 0,952 No. 4
8 16
3,81 95-100 - - - 10-30 0-5 - -
1,905 - 100 90-100 - 20-55 0-10 0-5 -
0,952 - - - 100 85-100 10-30 0-10 0-5

4.8.3. Agregat kasar dari ukuran yang berbeda harus digabung dengan
ukuran lain dengan perbandingan berat atau volume untulk

STR - 8
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

menghasilkan batuan yang memenuhi persyaratan gradasi yang


ditentukan.

4.9. Bahan Perawatan


Bahan untuk perawatan harus memenuhi ketentuan berikut:

NO. DESKRIPSI METODA UJI


1. Tikar katun untuk perawatan beton AASHTO M 73
2. Lembaran kain dari serat/goni AASHTO M 182
3. Kertas kedap air untuk perawatan beton AASHTO M 139
(ASTNI C 171)
4.Lapisan cairan untuk perawatan beton AASHTO M 148
Lembaran polyethylene putih untuk perawatan
5. AASHTO M 171
beton
Metoda lain untuk perawatan beton harus disetujui Konsultan pengawas.

4.10. Bahan Tambahan

4.10.1. Bahan tambahan untuk menahan gelembung udara untuk sernua


beton ekspos harus memenuhi ketentuan ASTM C 260.
4.10.2. Bahan tambahan untuk mengurangi air dan memperlambat
pengerasan beton, bila dibutuhkan, harus memenuhi ketentuan ASTM
C 494 tipe B dan D.
4.10.3. Bahan tambahan untuk mempercepat pengerasan beton, bila
diperlukan, harus memenuhi ketentuan ASTM C 494 tipe C.

4.11. Pengisi Sambungan/Joint Filler dan Joint Sealant


4.11.1. Joint filler harus memenuhi persyaratan AASHO M 213-65 dan US
Federal Specification HH-F 34 1a type 1 class B, seperti Febseal
Fibrefill, Fiber-Pak, Tex-Lite atau yang setara.
4.11.2. Joint sealant harus memenuhi persyaratan US Federal Specification
SS-S-200 D/TT-S-00227 E type II, BS 4254, seperti Sikaflex T68 HM,
Febseal 2 part Polysulphide atau yang setara.

4.12. Water Stop


Water Stop harus dari tipe/jenis dan bentuk yang sesuai dengan tipe/jenis
sambungan pekerjaan beton seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, sesuai
atau setara dengan produk Blue-Chip.

4.13. Baja Tulangan


Baja tulangan harus memenuhi ketentuan Spesifilkasi Teknis.

STR - 9
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

5.1. Perancah dan Acuan


5.1.1. Perancah harus dibuat di atas pondasi dengan kekuatan yang
memadai untulk menerima beban tanpa penurunan.
5.1.2. Perancah yang berdiri di atas tanah lembek harus didukung dan
diperkuat dengan perancah tambahan yang sesuai. Sebelum
menempatkan perancah, gambar rancangan
pemasangan/penempatan perancah harus diserahkan kepada
Konsultan pengawas untulk disetujui.
5.1.3. Acuan harus memenuhi ketentuan berikut:
- Semua acuan harus dilengkapi dengan lubang pembersihan yang
memadai untuk pemeriksaan dan pembershan setelah
pemasangan baja tulangan.
- Bahan acuan harus dari papan kayu tebal minimal 20mm, kayu
lapis tebal minimal 12mm, baja pelat lembaran tebal minimal
0,6mm, atau bahan lain yang disetujui.
- Permukaan beton yang menghendaki penyelesaian halus dan
di-ekspos harus menggunakan acuan kayu lapis.
- Acuan harus rapat dan kaku agar tidak terjadi distorsi yang
diakibatkan oleh tekanan alat penggetar dan beban beton atau
lainnya.
- Acuan harus dibuat dengan teliti dan diperiksa kernampuan
konstruksinya sebelum pengecoran.
- Semua sudut sambungan/pertemuan harus kaku untuk mencegah
terbukanya acuan selama pekerjaan pengecoran berlangsung.
Kontraktor bertanggung jawab untuk acuan dan penopangnya
yang memadai.
- lkatan metal, penunjang, baut dan batang harus disusun
sedemikian rupa sehingga ketika acuan dibuka, semua metal harus
berada tidak kurang dari 50mm dari permukaan beton ekspos.
- Untuk permukaan beton ekspos, ikatan metal, bila diijinkan, harus
disingkirkan sampai kedalaman minimal 25mm dari permukaan
beton tanpa merusak.
- Kerucut yang sesuai harus disediakan. Cekungan-cekungan harus
diisi dengan adukan dan permukaan harus tetap halus, rata dan
seragam dalam warna.
5.1.4. Bila dasar acuan sukar dicapai, dinding bagian bawah acuan harus
dibiarkan terbuka, atau perlengkapan lain harus disediakan sehingga
material asing dapat disingkirkan dari acuan dengan mudah sebelum
penempatan beton.
5.1.5. Semua dinding acuan harus diberi lapisan oli yang disetujui sebelum
penempatan baja tulangan, dan acuan dari kayu harus dibasahi
dengan air sebelum penempatan beton.
Bahan pelapis yang akan menyebabkan perubahan warna ash beton
tidak boleh digunakan.

5.2. Toleransi
Kontraktor harus menjaga dan menyetel acuan untuk memastikan, setelah
pembongkaran acuan dan sebelum pekerjaan akhir, bahwa tidak ada bagian
beton yang melebihi toleransi yang diijinkan dalarn Gambar Kerja. Variasi

STR - 10
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

ketinggian lantai harus diukur sebelum pembongkaran pelindung dan


penumpu.
Toleransi harus memenuhi ketentuan ACI 347 dan/atau disetujui Konsultan
pengawas.

5.3. Selimut Beton.


Bila tidak ditentukan, ukuran minimal selimut beton yang disesuaikan dengan
penggunaannya (tidak termasuk pelesteran), adalah sebagai berikut:
- Pondasi atau pekerjaan lainnya yang berhubungan langsung dengan
tanah 75mm atau sesuai petunjuk Gambar Kerja.
- Kolom dan balok-balok beton 40mm, atau sesuai petunjuk dalam Gambar
Kerja.

5.4. Perbandingan dan Campuran Beton.


5.4.1. Perbandingan bahan ditentukan dengan penimbangan atau dengan
metoda yang disetujui Konsultan pengawas
Perbandingan volume tidak diijinkan. tanpa persetujuan Konsultan
pengawas.
5.4.2. Semua beton harus dicampur dengan mesin. Waktu pencampuran
harus sesuai dengan petunjuk kapasitas alat pencampur.
5.4.3. Slump yang diijinkan minimal 65mrn dan maksimal 75mm.
Pencampuran beton tidak boleh dimulai tanpa memastikan persediaan
bahan yang memadai, dalarn batas yang aman, agar pengecoran
beton dapat dilaksanakan.
5.4.4. Bila pengecoran tidak dapat dihentikan, Kontraktor harus menyediakan
peralatan tambahan yang memadai yang disetujui Konsultan
pengawas.
5.4.5. Beton ready-mixed harus dicampur dan didatangkan sesuai ketentuan
ASTM C 944 atau ASTM C 685.

5.5. Penempatan Beton dan Pembongkaran Acuan


5.5.1. Beton tidak boleh ditempatkan sampai semua acuan, penulangan,
sisipan, block out dan lainnya telah disetujui Konsultan pengawas.
Acuan harus dibersihkan, bebas dari guncangan, celah, mata kayu,
kotoran dan bengkokan sebelum pengecoran.
5.5.2. Metoda dan urutan pengecoran harus sesuai dengan Spesifikasi
Teknis ini dan petunjuk Gambar Kerja.
Bagian yang dipersiapkan dan disetujui untuk dicor tidak boleh lebih
luas dari 16,83m2 setiap bloknya.
Pada setiap pelaksanaan, pengecoran harus dilakukan blok demi blok.
5.5.3. Bagian luar permukaan beton harus dikerjakan dengan baik selarna
pengecoran.
Penggetaran terus-menerus pada jarak 380-500mm harus tetap
terjaga untuk mencegah kropos dan untuk mendapatkan permukaan
yang halus.
Selama penggetaran beton, tangkai penggetar harus dipegang tegak
lurus terhadap permukaan horisontal beton segar.

STR - 11
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

5.6. Corong dan Saluran


5.6.1. Beton harus ditempatkan sedemikian rupa untuk mencegah
terpisahnya material dan bergesemya baja tulangan.
Bila dibutuhkan kemiringan yang tajam, corong harus dilengkapi
dengan papan-papan berukuran pendek yang mengubah arah
gerakan. Semua corong, saluran dan pipa harus dijaga agar bebas
dari beton yang mengeras dengan cara menyiram air setiap kali
setelah penuangan. Siraman air harus jauh dari beton yang baru saja
selesai ditempatkan.
5.6.2. Beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih dari 150cm kecuali
melalui corong tertutup atau pipa. Setelah ikatan awal beton, acuan
tidak boleh digetarkan dan tekanan tdak boleh dilakukan pada ujung
pelindung tulangan. Beton harus diangkat dari mesin pengaduk dan
diangkut dalarn waktu 1 jam ke lokasi akhir yang disetujui Konsultan
pengawas.
Hal ini untuk memastikan bahwa beton sesuai dengan mutu yang
disyaratkan pada waktu penempatan dan Kontraktor harus menjaga
pengangkutan beton yang menerus/tidak terputus-putus.
5.6.3. Sernua peralatan, mesin dan alat-alat yang digunakan untuk pekerjaan
ini harus bersih, dan bekerja dengan baik. Bila memungkinkan, sebuah
unit pengganti atau suku cadang harus disediakan di lokasi.
5.6.4. Bila digunakan, jalur pompa harus diletakkan sedemikian rupa
sehingga aliran beton tidak terganggu. Benda-benda tajam harus
disingkirkan.
5.6.5. Kadar air dan ukuran partikel batuan harus diawasi dengan teliti ketika
beton dipompa untuk mencegah pernampatan.
Kemiringan saluran untuk mengalirkan beton segar harus dipilih
dengan tepat sehingga beton dengan kadar air rendah dapat mengalir
dalam aliran seragam tanpa pemisahan semen dan batuan.
5.6.6. Bila beton ditempatkan langsung di alas tanah, alas atau dasar harus
bersh dan padat, dan bebas dari air atau aliran air.
Permukaan lantai yang akan diberi beton harus benar-benar bersh dari
lumpur, batu lepas, kotoran dan bahan lapisan lain yang mengganggu.
Prosedur ini harus diketahui dan disetujui Konsultan pengawas.

5.7. Pengisi Sambungan


5.7.1. Sambungan muai yang diisi harus dibuat serupa dengan sambungan
terbuka. Bila ditentukan pembentukan ulang sambungan muai,
ketebalan pengisi yang dipasang sesuai dengan ketentuan Gambar
Kerja. Pengisi sambungan harus dipotong dengan bentuk dan ukuran
yang sama dengan permukaan yang akan disambung.
5.7.2. Pengisi harus dipasang dengan kuat terhadap permukaan beton yang
telah ditempatkan dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak
bergeser bila disampingnya ditempatkan beton.
5.7.3. Bila diperlukan penggunaan lebih dari 1 lembar pengisi untuk mengisi
sambungan, lembaran harus ditempatkan secara rapat dan celah di
antaranya diisi dengan aspal kelas 18kg, dan salah satu sisinya harus
ditutup dengan aspal panas agar tersimpan dengan bak
5.7.4. Segera setelah pembongkaran acuan, sambungan muai harus
diperiksa dengan teliti.
5.7.5. Beton atau adukan yang menutup sambungan harus dipotong dengan
raph dan dibuang. Bila, selama pelaksanaan, bukaan sebesar 3mm
STR - 12
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

atau lebih muncul pada sambungan yang akan dilalui lalu lintas,
bukaan tersebut harus ditutup dengan ter panas atau aspal sesuai
petunjuk Konsultan pengawas.

5.8. Sambungan Besi dan Water Stop


Sambungan besi dan water stop harus ditempatkan pada sernua sambungan
konstruksi yang berhubungan langsung dengan tanah atau air bawah tanah
dan tempat-tempat lain sesuai Gambar Kerja dan/atau sesuai petunjuk
Konsultan pengawas. Water Stop harus ditempatkan secara menerus dan
teliti, dan harus ditumpu dengan aman untuk mencegah perubahan posisi.
Sambungan harus dilakukan sesuai rekomendasi dari pabrik pembuatnya.

5.9. Pembongkaran Acuan


Acuan dan perancah tidak boleh dibongkar tanpa persetujuan Konsultan
pengawas. Persetujuan Konsultan pengawas tidak membebaskan Kontraktor
dari keamanan pekerjaan tersebut. Jadwal pembongkaran harus ditentukan
oleh Konsultan pengawas.

5.10. Penyelesaian Beton


Kecuali ditentukan lain, permukaan beton harus segera diselesaikan setelah
pembongkaran dan harus diselesaikan sesuai tingkat dan dimensi seperti
ditunjukkan dalarn Gambar Kerja.
Penyelesaian beton dengan koral sikat dilaksanakan dengan detail sesuai
petunjuk Gambar Kerja.

5.11. Pengurukan
Bahan urukan ditempatkan lapis demi lapis setebal maksimal 200mm dan
dipadatkan secara menerus segera setelah uji beton menunjukkan kekuatan
28 (dua puluh delapan) hari. Semua bahan urukan harus disetujui Konsultan
pengawas sebelurn memulai pekerjaan pengurukan, seperti ditentukan dalarn
Spesifikasi Teknis STR-004.

5.12. Perawatan dan Perlindungan


Beton harus dilindungi dari kerusakan karena sinar matahari, hujan, afiran air
dan kerusakan mekanik dan harus dibiarkan mengering dari saat ditempatkan
sampai masa akhir perawatan yang ditentukan.
Perawatan harus dilakukan dengan menyiramkan air terus-menerus dalam
batas waktu minimal 14 (empat belas) hari, dengan karung goni yang
dibiarkan lembab atau metoda perawatan lainnya yang disetujui Konsultan
pengawas

6. PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH

6.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan ini meliputi
- Pekerjaan kendali ketinggian (level) bangunan dan letak as bangunan/
- Pekerjaan galian/urugan pada bagian-bagian tertentu yang ditentukan

STR - 13
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

sesuai dengan gambar;


- Pekerjaan struktur atas;
6.2. Penentuan Tinggi Peil (Leveling)
Penentuan tinggi peil (leveling) didasarkan atas apa yang telah termuat
pada Bab sebelumnya dalam RKS ini.

6.3. Pekerjaan Tanah

6.3.1. Umum
Pekerjaan tanah, pembongkaran, pembersihan, galian, urugan dan
pemadatan urugan yang termasuk dalam pekerjaan struktur atas
harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor memulai pekerjaan struktur atas yang
sebenarnya.
Pekerjaan-pekerjaan tersebut sesuai dengan yang telah ditentukan
di dalam gambar, dan mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
Daerah yang ada harus dibersihkan dari semua benda penghambat
daerah pembangunan, sampah-sampah, tonggatonggak, humus,
lumpur.
Bekas-bekas lubang dan sumur harus dikuras diambil lumpur serta
diambil tanah lembek yang ada didalamnya.
Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang ada hanya boleh
disingkirkan setelah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.
Tunggak-tunggak pepohonan dan jalinan jalinan akar harus
dibersihkan sampai pada kedalaman ± 1/2 m di bawah permukaan
tanah.
Segala sisa dan kotoran yang disebabkan oleh pekerjaan-pekerjaan
tanah tersebut harus disingkirkan dari daerah pembangunan oleh
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor sesuai dengan petunjuk Konsultan
Pengawas.
Bahan galian dari daerah pembangunan dapat dipergunakan, bila
memadai untuk urugan. Bahan urugan harus bersih dari unsur-
unsur perusak dan harus disetujui Konsultan Pengawas. Bilamana
perlu dapat dilakukan penyelidikan laboratorium mekanika tanah yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Segala biaya penyelidikan tersebut
menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.
Penggalian melebihi batas yang ditentukan harus dicegah. Penggalian
melebihi batas yang ditentukan harus diurug kembali hingga mencapai
kerataan peil yang ditetapkan dengan bahan urugan yang dipadatkan.
Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan
pengurugan adalah ± 50 mm terhadap kerataan peil yang ditentukan.

6.3.1 Urugan
a. Bahan Urugan
Bahan urugan harus dipadatkan sekurang-kurangnya mencapai
kepadatan minimum 85% dari kepadatan maksimum yang
dicapai di laboratorium.

b. Tanah Asli
Bagian teratas sedalam 150 mm dari tanah asli haruslah
mempunyai kepadatan minimum 85% AASHO pada laboratorium.

STR - 14
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

c. Urugan Tanah
Bahan urugan untuk pelaksanaan pengerasan harus disebar
dalam lapisan -lapisan yang rata dalam ketebalan yang tidak
melebihi 300 mm pada kedalaman gembur. Gumpalan-gumpalan
tanah yang harus digemburkan dan bahan urugan tersebut
dicampur dengan cara menggaru atau cara sejenisnya
sehingga diperoleh lapisan
kepadatannya sama. Setiap urugan haruslah sama dalam hal
bahan, kepadatan dan kelembabannya, sebelum pengerasan
dilaksanakan.
Setiap lapisan harus diarahkan pada kepadatan yang dibutuhkan
dan diperiksa melalui pengujian lapangan yang memadai,
sebelum dimulai dengan lapisan yang berikutnya. Bilamana
bahan urugan tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki,
lapisan tersebut harus diulang dikerjakan atau diganti dan cara-
cara pelaksanaan akan dihentikan guna mendapatkan kepadatan
yang dibutuhkan. Jadwal pengujian akan ditentukan/ditetapkan oleh
Konsultan Pengawas.
Setelah pemadatan selesai, urugan tanah yang berlebihan harus
dipindahkan ke tempat yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.
Ketinggian (peil) disesuaikan dengan gambar.

d. Sarana-sarana Darurat
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membangun saluran-saluran,
memasang paritparit, memompa dan atau mengeringkan saluran
drainase dengan layak. Semua drainage darurat harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
Pembersihan pekerjaan tanah untuk kepentingan pembuatan jalan
pengangkutan tidak diperhitungkan dalam Penawaran awal. Jalan-
jalan pengangkutan akan sepenuhnya menjadi tanggungjawab
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.

7. PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

7.1. Bahan-bahan dan Syarat Bahan


7.1.1. Semen, Agregat dan Syarat Atas
Bahan-bahan bangunan berupa semen, agregat dan air kerja harus
sesuai dengan persyaratan yang termuat dalam RKS ini pada bab
sebelumnya.
7.1.2. Adukan dan Campuran
Perbandingan dari berbagai adukan (specie) diberikan sesuai dengan
proporsi bawah ini, dimana angka-angka tersebut menyatakan
perbandingan jumlah isi ditakar dalam keadaan kering, yaitu :
- beton tumbuk I pc : 2 ps : 4 kr
- lantai kerja 1 pc : 3 ps : 5 kr
- pondasi batu kali I pc : 4 ps
- pasangan dinding kedap air I pc : 2 ps
- pasangan dinding biasa 1 pc : 4 ps
- plesteran sudut Ipc : 3 ps
STR - 15
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- plesteran beton Ipc : 3 ps


- pasangan lantai I pc : 4 ps
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membuat takaran yang sama
ukuranukurannya dan harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas.
Selanjutnya takaran tersebut dapat dipergunakan sebagai takaran
untuk berbagai Campuran, untuk pasangan, plesteran dan lain-lain.
Adukan dan campuran untuk beton bertulang dan pekerjaan-pekerjaan
khusus lainnya akan ditentukan dalam pasal tersendiri.
7.1.3. Bahan Campuran Tambahan (Admixtural)
Pemakaian bahan-bahan campuran tambahan (admixture) harus
mendapat persetujuan Konsultan Perancang atau Konsultan Pengawas.

7.2. Pekerjaan Beton

7.2.1. Besi Beton Polos (BJTP) dan Ulir (BJTD)


Semua besi beton yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat dan
ketentuan berikut :
- Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia 1982.
- Standard Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK. SNI-
15-1991 - 03).
- Standard Industri Indonesia (SII) 0136-84.
- Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak/minyak, karat dan tidak
cacat (retakratak, mengelupas, luka dan sebagainya).
- Jenis baja mild-steel dengan tegangan leleh (fy) minimum 2400
kg/cm 2 untuk diameter tulangan ≤ 12 dan 3900 kg/cm2 untuk diameter
tulangan ≥ 13.
- Mempunyai penampang yang sama rata.
- Disesuaikan dengan gambar-gambar.

Pemakaian besi beton dari jenis yang berlainan dari ketentuan -


ketentuan di atas, harus mendapat persetujuan dari Perancang/ Konsultan
Pengawas.
Pemilihan perusahaan ataupun merk dari besi tulangan harus dari
perusahaan/merk yang sudah sangat dikenal mutu/kualitas maupun
reputasinya. Pemilihan ini harus mendapat persetujuan Perancang.
Tidak dibenarkan untuk mencapur adukan bermacam-macam produk
besi beton untuk seluruh pekerjaan konstruksi. Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor diharuskan mengadakan pengujian mutu besin
beton yang akan dipakai sesuai dengan petunjuk-petunjuk Konsultan
Pengawas dengan biaya sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pelaksana
Pekerjaan/ Kontraktor, dimana batang percobaan yang diambil berjumlah
minimal 5 (lima) batang untuk tiap-tiap jenis percobaan yang diameternya
sama dengan panjang 1000 mm. Pemasangan besi beton dilakukan
sesuai dengan gambar-gambar yang ada dan mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas. Hubungan antara besi beton satu dengan yang
lain harus menggunakan kawat beton, diikat dengan erat, tidak
menggeser selama pengecoran beton dan bebas dari tanah ataupun
papan bekisting.

Penggunaan besi beton yang sudah jadi seperti steel wiremesh dan
semacamnya, harus mendapat persetujuan Konsultan Perancang/Konsultan
STR - 16
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Pengawas.
Besi beton yang tidak memenuhi syarat karena kualitas tidak sesuai
dengan spesifikasi harus segera dikeluarkan dari site, setelah
menerima instruksi tertulis dari Konsultan Pengawas, dalam waktu 24
jam.

7.2.2. Penyetelan Besi Beton


Pembengkokan besi beton harus dilakukan secara hati-hati dan teliti,
tepat pada ukuran posisi pembengkokan sesuai dengan gambar dan
tidak menyimpang dari SK.BI-1.4.53.1989 - UDC : 693.s.
Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga yang ahli dengan
menggunakan alat-alat sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan
cacat, patah, retak-retak dan sebagainya.
Sebelum penyetelan dan pemasangan dimulai, Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor harus membuat rencana kerja pemotongan dan
pembengkokan baja tulangan (bending schedule), yang sebelumnya
harus diserahkan kepada konsultan-Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan peil-peil sesuai dengan
gambar dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunnya.
Pemasangan dengan menggunakan pelindung beton (beton dekking)
harus sesuai dengan gambar. Apabila hal tersebut tidak tercantum di
dalam gambar, maka digunakan specifikasi SK.SNI T-15-1991-03 pasal
3.16.7.

7.2.3. Adukan (Adonan) Beton


Adukan beton harus memenuhi syarat-syarat SKBI 1.4.53.1989-
UDC:6953. Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus membuat adukan
beton menurut komposisi adukan dan proporsi antara split, air dan
semen dan bertanggungjawab penuh atas kekuatan beton yang
disyaratkan.
Penggunaan air harus sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan beton yang padat dengan daya kerja yang baik
sehingga dapat memberikan daya lekat yang baik dengan besi beton.

Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan membuat adukan percobaan


(trial mixed) untuk mengontrol daya kerjanya sehingga tidak ada
kelebihan air pada permukaan ataupun menyebabkan terjadinya
pengendapan (segregation) dari agregat.
Percobaan slum diadakan menurut syarat-syarat dalam Tata Cara
Perancangan dan Pelaksanaan Konstruksi Beton 1989 (SK.BI-
1.4.53.1989) dan Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-
1982). Pengadukan harus dilakukan di dalam suatu mesin pengaduk
dari tipe yang disetujui dan berputar pada kecepatan yang
direkomendasikan oleh pabrik pembuat mesin tersebut.
Adukan beton dibuat setempat di dalam site (site mixing) dan harus
memenuhi syarat-syarat :
- Semen diukur menurut berat per kantong;
- Agregat diukur menurut beratnya;
- Pasir diukur menurut beratnya;
- Adukan beton harus dibuat menggunakan alat pengaduk mesin
(batch mixer), type dan kapasitasnya harus mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas;
- Kecepatan adukan sesuai dengan rekomendai dari pembuat mesin

STR - 17
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

tersebut.
- Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi dari kapasitas mesin
pengaduk;
- Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua
bahan sudah berada dalam mesin pengaduk;
- Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus
dibersihkan dahulu, sebelum adukan beton yang barn dimulai.

7.2.4. Tes Kubus Beton (Pengujian Mutu Beton)


Cetakan kubus coba harus berbentuk bujur sangkar dalam segala arah
serta memenuhi persyaratan seperti dalam SK.BI-1.4.53.1989. Ukuran
kubus coba adalah 150 x 150 x 150 mm3. Pengambilan adukan beton,
pencetakan kubus coba dan curingnya harus di bawah pengawasan
Konsultan-Konsultan Pengawas. Kubus coba harus ditandai untuk identifikasi
dengan suatu kode yang dapat menunjukkan tanggal pengecoran dan hal
lain yang perlu dicatat. Semua kubus coba dites dalam laboratorium
yang berwenang dan disetujui Konsultan Pengawas.
Laporan hasil percobaan harus diserahkan kepada Konsultan
Pengawas selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah percobaan selesai
dengan mencantumkan harga karakteristik, nilai deviasi, slump, tanggal
pengecoran dan pengetesan yang dilakukan.

7.2.5. Standard Mutu (Standard of Acceptance)

Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor diharuskan membuat percobaan


pendahuluan (trial test) atas kubus coba sejumlah minimum 30 buah untuk
setiap proporsi adukan yang dikehendaki dan untuk masing-masing
percobaan pada umur 3,7 dan 28 hari.
Trial test ini harus sudah diselenggarakan segera setelah adanya Surat
Perintah Kerja atau penunjukkan Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.
Biaya dan jaminan akan mutu dari hasil percobaan ini tetap menjadi
tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.
Penentuan nilai kuat tekan beton (fc') boleh didasarkan pada nilai kuat tekan
beton yang didapat dari hasil uji tekan benda uji kubus berisi 150 mm
(fc'k).
Dalam hal ini nilai fc' didapat dari perhitungan konversi

fck'
fc' = 0,76 + 0,210log ( ----- ) fck'
15

Dimana

fc' = kuat tekan beton yang disyaratkan 30 mPa


fck' = kuat tekan beton yang disyaratkan ...mPa
didapat dari uji kubus berisi 150 mm.

Apabila dalam pelaksanaan kedapatan bahwa mutu beton gagal


memenuhi syarat spesifikasi, maka Konsultan Pengawas berhak meminta
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor supaya mengadakan percobaan non
destruktif atau kalau memungkinkan mengadakan percobaan coring.
Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat-syarat dalam :

- Method for Making Test Cubus from Fresh Concrete (BS 1881 part 108:

STR - 18
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

1983).
- Method for Determination for Compressive Strength of Concrete Cubus
(BS 1881 part 16 : 1983).
Mutu/nilai kuat tekan beton yang disyaratkan adalah fc' = 500 kg/cm 2
untuk beton balok prestressed, sedangkan untuk struktur lainnya
mempunyai kuat tekan beton fc' = 300 kg/cm2 dengan proporsi campuran
coba serta pelaksanaan produksinya harus didasarkan pada teknik
penakaran berat (weight batching).

7.2.6. Kuat Tekan Rata-Rata yang Ditaruetkan


Kuat tekan rata-rata yang ditargetkan (fcr') yang digunakan sebagai
dasar dalam menentukan proporsi campuran beton harus diambil
sebagai nilai yang terbesar dari 2 (dua) persamaan, yaitu
fcr' = fc' + 1, 64. s
fcr' = fc' + 2,64.s - 4

dimana s = deviasi standard.

Bila suatu fasilitas produksi beton tidak mempunyai rekaman uji


lapangan untuk menghitung deviasi standard maka target fcr'
haruslah diambil tidak kurang dari (fc' + 12) mPa.
Tingkat kekuatan dari suatu mutu beton dinyatakan tercapai secara
memuaskan bila kedua persyaratan berikut ini dipenuhi, yaitu

- Nilai fcr' dari semua pasangan hasil uji yang masing-masing terdiri dari
3 hari uji kuat tekan tidak kurang dari (fc' + 0,82.s) mPa.
- Tidak satupun dari hasil uji tekan fcr' dari 2 silinder) mempunyai nilai
dibawah 0,85 fc'.

Bila salah satu dari kedua syarat di atas tidak dipenuhi, maka harus
diambil langkah untuk meningatkan rata-rata dari hasil uji kuat tekan
berikutnya.

7.2.7. Pengecoran Beton

Adukan beton harus secepatnya dibawa ke tempat pengecoran dengan


menggunakan cara yang sepraktis mungkin, sehingga tidak
memungkinkan adanya pengendapan agregat dan tercampurnya kotoran-
kotoran atau bahan lain dari luar. Penggunaan alat-alat pengangkut mesin
haruslah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas sebelum
didatangkan ke tempat pekerjaan. Semua alat-alat pengangkut yang
digunakan pada setiap waktu harus dibersihkan dari sisa- sisa
adukan yang mengeras.
Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum
pemasangan besi beton selesai diperiksa dan mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas.
Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat-tempat yang akan dicor
terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran (potongan
kayu, batu, tanah dan lainlain) lalu dibasahi dengan air semen.
Pengecoran dilakukan selapis demi selapis dan tidak dibenarkan
menuangkan adukan dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian yang
akan menyebabkan pengendapan agregat.
STR - 19
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Pengecoran dilakukan secara terus menerus. Adukan yang tidak dicor


(ditinggalkan) dalam waktu lebih dari 15 menit setelah keluar dari mesin
adukan beton dan juga adukan yang tumpah selama pengangkutan tidak
diperkenankan untuk dipakai lagi.
Pada pengecoran baru (sambungan antara beton lama dan beton baru),
maka permukaan beton lama terlebih dahulu harus dibersihkan dan
dikasarkan dengan menyikat sampai agregat kasar tampak, kemudian
disirim dengan air semen. Tempat dimana pengecoran akan dihentikan
harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.

7.2.8. Pemadatan Beton


Beton didapatkan dengan menggunakn suatu vibrator selama pengecoran
berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak
acuan maupun posisi tulangan.
Kontraktor harus menyediakan vibrator-vibrator untuk menjamin efisiensi
tanpa adanya penundaan.
Pemadatan beton secara berlebih-lebihan sehingga menyebabkan
pengendapan agregat, kebocoran-kebocoran melalui acuan dan lain-lain,
harus dihindarkan.
Beton harus dicorkan lapis demi lapis dengan tidak melebihi 460 mm
tebalnya. Lapis-lapis ini harus dijaga supaya mempunyai pengikatan
satu sama lain yang baik.

7.2.9. Siar Pelaksanaan dan Siar Dilatasi


Posisi dan pengaturan siar-siar ini harus mendapat persetujuan Konsultan-
Konsultan Pengawas, dimana
- Siar dalam kolom sebaiknya ditempat sedekat mungkin dengan bidang
bawah dari balok tertinggi;
- Siar dalam balok dan pelat ditempatkan pada tengah-tengah bentang;
- Siar vertikal dalam dinding supaya dihindarkan;
- Siar harus dibaut sekecil mungkin dan atas persetujuan Konsultan
Pengawas.
Sebelum pengecoran beton baru, permukaan dari beton lama supaya
dibersihkan dengan seksama dan dikasarkan. Kotoran-kotoran
disingkirkan dengan cara menyemprotkan permukaan dari beton lama
supaya dengan cara menyemprotkan permukaan dengan air dan
menyikat sampai agregat kasar tampak.
Setelah permukaan siar tersebut bersih, bubur semen (grout) yang tipis
dilapiskan merata keseluruh permukaan.
Bahan yang dipakai untuk expansion joint adalah heavy duty sealant
dengan pelat hitam berukuran 200 mm x 2 mm yang diletakkan
sepanjang dilatasi dan dipasang sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

7.2.10 Adukan Beton Monolitik


Pada pertemuan dari balok dengan kolom, perbedaan adukan beton supaya
dicorkan serentak atau berseling, yaitu beton yang bermutu tinggi dicorkan
lebih dahulu, atau berselang tidak lebih dari 20 menit antar waktu pengecoran
kedua mutu beton. Beton tersebut digetarkan samapi kedua mutu beton
tersebut mengikat bersama.

7.2.11. Curing dan Perlindungan Atas Beton


Beton harus dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan
terhadap sinar matahari, angin, hujan atau aliran air dan
STR - 20
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

pengrusakan secara mekanis atau pengeringan sebelum waktunya.


Semua permukaan beton yang terbuka harus dijaga tetap basah
selama 4 hari dengan menyemprotkan air atau menggenangi dengan air
pada permukaan beton tersebut.
Terutama pada pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing
dan perlindungan atas beton harus diperhatikan. Pelaksana
Pekerjaan/Kontraktor harus bertanggung jawab atas retaknya beton
karena kelalaian ini .

7.2.12. Bekisting (Formwork)


Bekisting yang dibuat dari kayu dan besi harus memenuhi syarat -
syarat kekuatan, daya tahan dan mempunyai permukaan yang baik
untuk pekerjaan finishing.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor harus memberikan sample dan
perhitungan kekuatan bahan yang akan dipakai untuk bekisting,
untuk disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Bekisting harus dipasang sesuai dengan ukuran-ukuran jadi yang
ada di dalam gambar dan menjamin bahwa ukuran-ukuran tersebut tidak
akan berubah sebelum dan selama pengecoran.
Bekisting harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi
kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran, tetap lures (tidak
berubah bentuk) dan tidak bergoyang.
Bekisting harus dibersihkan dari potongan-potongan seperti kayu, paku,
tahi gergaji, tanah dan sebagainya yang akan/dapat merusak beton
yang sudah jadi pada waktu pembongkaran bekisting.
Bekisting untuk bagian konstruksi (pelat, balok dan kolom)
diharuskan memakai multiplek dengan ketebalan minimal 9 mm dan
cukup kuat, disesuaikan dengan jarak rusuk-rusuk pengaku bekisting.

Untuk mengejar kecepatan pengecoran struktural, maka disyaratkan


agar Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor membuat panel-panel bekisting yang
standard untuk bagian konstruksi yang typical.

7.2.13. Pembongkaran Bekisting


Pembongkaran bekisting dilakukan sesuai dengan standard dalam
SKBI- 1.4.53.1989.
Bagian-bagian konstruksi yang akan dibongkar bekistingnya harus
sudah dapat memikul berat sendiri dan baban-beban pelaksanaan.
Acuan-acuan bagian konstruksi di bawah ini boleh dilepas dalam
waktu sebagai berikut
- Sisi-sisi balok, dinding dan kolom yang tidak dibebani 2 hari
- Pelat beton (tiang penyangga tidak dilepas) 7 hari
- Tiang-tiang penyangga pela 28 hari
- Tiang-tiang penyangga balok (tiang penyangga tidak dilepas) 7
hari
yang tidak dibeba 6 hari
Tiang-tiang penyangga overstek (cantilever) 28 hari

Pekerjaan pembongkaran bekisting harus dilaporkan dan disetujui


sebelumnya oleh Konsultan Pengawas.
Apabila setelah bekisting dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian
beton yang keropos atau cacat konstruksi maka Pelaksana
STR - 21
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Pekerjaan/Kontraktor harus segera memberitahukan kepada Konsultan


Pengawas, untuk meminta persetujuan mengenai cara pengisian atau
menutupnya.
Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan
biaya- biaya pengisian atau penutupan bagian tersebut menjadi
tanggungjawab Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor.

\
7.2.14. Alat-alat di dalam Beton
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor tidak dibenarkan untuk membobok,
membuat lubang atau memotong konstruksi, beton yang sudah jadi
tanpa sepengetahuan dan seijin Konsultan Pengawas. Ukuran dari
pembuatan lubang, pemasangan alat-alat di dalam beton, pemasangan
sparing dan sebagainya harus menurut petunjuk Konsultan
Pengawas.

7.2.15. Beton Kedap Air


Untuk pembuatan beton kedap air (sesuai dengan gambar-gambar),
maka Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor terlebih dahulu harus meminta
persetujuan Konsultan Pengawas perihal bahan waterproofing
(additive) sebagai campuran dalam adukan beton dan proporsi
adukannya.
Pelaksana Pekerjaan/Kontraktor bertanggungjawab atas pekerjaan
pembuatan beton kedap air tersebut. Apabila dikemudian hari ternyata
kedapatan bocor atau terjadi rembesan,
maka Kontraktor harus mengadakan perbaikan-perbaikan dengan
biaya dari Kontraktor sendiri.
Prosedur perbaikan tersebut harus sesuai dengan petunjuk dari Konsultan
Pengawas sedemikian rupa sehingga tidak merusak bagian-bagian lain
yang sudah selesai.
7.2.16. Beton Rabat dan Kansteen
Beton rabat dan kansteen dikerjakan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam pasal lain dalam RKS ini (Bagian III Bab I butir 1.7.).

8. UJI BETON

8.1. LINGKUP PEKERJAAN

Spesifikasi teknis ini membahas tentang prosedur pengadaan uji beton pada
pondasi, plat lantai, lantai kerja, sloof atau balok struktur, beton untuk
waterproofing, dan pekerjaan beton lainnya seperti yang ditunjukkan pada
Gambar Kerja.

Pekerjaan ini termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut :


Peralatan dan perlengkapan laboratorium yang dibutuhkan.
- Tempat penyimpanan.
- Tempat pengadukan didekat tempat penyimpanan.
- Non-absorptive mold dengan base.

STR - 22
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Steel tamping-rod bullet pointed at the bottom, the dimensions shall be


16mm (5/8") diameter by 60cm (2') long.
- Slump cone.
- Air content test.
- Shovel dan sekop.
- Kotak penyimpanan untuk pengiriman contoh.

8.2. STANDAR / RUJUKAN

8.2.1. American Society of Testing and Materials (ASTM) :


- ASTM C31-90 Method of Making and Curing Concrete Test
Specimens in the Field.
- ASTM C39-86 Test Method for Compressive Strength of Cylindrical
Concrete Specimens
- ASTM C42-90 Method of Obtaining and Testing Drilled Cores and
Saved Beams of Concrete.
- ASTM C143-90a Test Method for Slump of Portland Cement
Concrete.
- ASTM C172-90 Method of Sampling Freshly Mixed Concrete.
- ASTM C231-90 Test Method for Air Content of Freshly Mixed
Concrete by the Pressure Method.
8.2.2. Japanese Industrial Standard (JIS) :
- JIS A1107-93 Method of Obtaining and Testing Drilled Cores and
Sawed Beams of Concrete.
- JIS A1108-93 Method of Test for Compressive Strength of
Concrete
- JIS A1115-75 Method of Sampling Fresh Concrete.
- JIS A1128-93 Method of Test for Air Content of Fresh Concrete by
Pressure Method.
- JIS A1132-93 Method of Making and Curing Concrete Specimens.
8.2.3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2, 1971).

8.2.4. American Concrete Institute (ACI) :


- ACI 308-92 Standard Practice for Curing Concrete.
8.2.5. Spesifikasi Teknis
- Beton Cor di Tempat.

8.3. PROSEDUR UMUM

8.3.1. Contoh beton harus diambil sesuai dengan petunjuk dari ASTM C172-
90, PBI (NI-2, 1971) atau seperti yang dijelaskan berikut yang
disesuaikan dengan standar ASTM C172-90.
8.3.2. Contoh harus mewakili semua bagian adukan dan harus diambil dari
beberapa tempat dari adukan.
8.3.3. Contoh harus diambil dari 3 (tiga) kali atau lebih selama pengadukan
kecuali pada saat mulai dan selesai, dan ditempatkan dalam wadah
metal seperti boggie atau wheelborrow.
Contoh untuk uji tekan harus diambil dari pengecoran setiap 30 m3
atau kurang.
Kecepatan pengaliran pengecoran harus disesuaikan dengan
kecepatan perputaran teromol dan bukan dengan besarnya bukaan.
Pengambilan contoh harus dilakukan dengan cara melewatkan

STR - 23
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

penampung pada aliran pengecoran beberapa kali atau langsung


mengubah aliran menuju wadah contoh yang disediakan. Harus
diperhatikan bahwa pengambilan contoh tidak boleh mengganggu
aliran pengecoran yang dapat mengakibatkan pemisahan material
beton.
8.3.4. Contoh harus dicampur secara merata dengan menggunakan sekop
untuk menjamin keseragaman. Tes slump dan tes specimen harus
segera dilakukan.

8.4. MATERIAL

Megacu kepada Pelaksanaan Pekerjaan pada Spesifikasi ini.

8.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

8.5.1 Kandungan Ion Chloric


Kandungan dari ion Chloric dalam beton struktur yang berasal dari
semen, agregat, air dan bahan aditif tidak boleh melebihi 0,30 kg/m3
Tes kandungan ion chloric harus dilakukan pada concrete plant dan
concrete site sebelum beton dicurahkan, dan hasilnya harus
diserahkan pada Konsultan pengawas untuk disetujui.

8.5.2. Slump Test


Suatu slump test harus dilakukan untuk setiap contoh yang diambil.
Metodanya merujuk kepada standard ASTM C143-90a atau seperti
dijelaskan berikut ini:
- Bersihkan dan basahi slump-cone dengan benar.
- Isi slump-cone dengan 3 (tiga) lapisan yang hampir sama tebal.
- Aduk setiap lapisan 25 (dua puluh lima) kali dengan tamping-rod
(batang pengaduk). Pengadukan harus dilakukan secara merata
dari sisi ke sisi slump-cone.
- Ratakan puncak dari slump-cone sehingga slump-cone benar-
benar terisi.
- Bersihkan semua beton yang tumpah disekitar dasar cone.
- Pindahkan slump-cone dari beton dalam waktu kurang lebih 5
(lima) (5) detik, angkat hanya ke arah vertikal dengan hati-hati.
- Segera ukur Slump untuk mengetahui perbedaan tinggi antara
slump-cone dan tinggi contoh beton.
Slump harus sesuai dengan yang disebutkan dalam Spesifikasi teknis
STR-002 atau sesuai dengan yang ditentukan oleh Pengawas.

8.5.3. Pencetakan
Metoda pencetakan harus disesuaikan dengan standard ASTM C31-
90. Waktu pembuatan contoh harus sedekat mungkin dengan waktu
pengiriman.
Jika material diambil dari tempat yang jauh dari sumber, maka beton
harus diaduk kembali dengan sekop sebelum membuat cetakan.
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
- Letakan cetakan pada dasar yang berat, terutama dari metal.
- Isi cetakan dengan tiga (3) lapisan yang hampir sama tebal

STR - 24
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Aduk setiap lapisan 25 (dua puluh lima) kali dengan tamping-rod


(batang pengaduk). Jangan sampai melekukkan dasar dari wadah
ketika mengaduk lapisan bawah.
- Sapu bagian atas agar rata dan tutup dengan plat metal atau kaca
untuk mencegah penguapan. Jangan pernah menggunakan
sepotong kayu.

8.5.4. Laboratory-Cured Specimens


a. Contoh untuk uji kekuatan harus diambil sesuai dengan :
- JIS 1115-75 Method of Sampling Fresh Concrete (Metoda
mengambil contoh beton segar).
- ASTM C172-90 Method of Sampling Freshly Mixed Concrete
(Metoda mengambil contoh adukan beton yang baru jadi).
b. Kubus untuk uji kekuatan harus dicetak dan dikeringkan di
laboratorium (Laboratory-cured) dan diuji sesuai dengan PBI (NI-2,
1971).
c. Silinder untuk uji kekuatan harus dicetak dan dikeringkan di
laboratorium sesuai dengan:
- JIS A 1132-93 Method of making and curing concrete
specimens (Metoda pembuatan dan pengeringan beton
contoh).
- ASTM C31-90 Method of Making and Curing Concrete Test
Specimens in the Field (Metoda pembuatan dan pengeringan
beton contoh untuk pengujian, di lapangan) .
- JIS A 1108-93 Method of test for compressive strength of
concrete.
- ASTM C39-86 Test Method for Compressive Strength of
Cylindrical Concrete Specimens.

8.5.5. Penanganan dan Penyimpanan


a. Pengeringan contoh harus sesuai dengan ACI 308-92 and ASTM C
31-90.
b. Dua puluh empat (24) jam pertama setelah pencetakan sangat
penting. Contoh hanya dapat dipindahkan dari tempat pencetakan
ke tempat penyimpanan yang telah direncanakan, dengan tetap
menjaga agar posisinya tidak terbalik dan dihindarkan dari getaran
dan gangguan. Contoh dapat disimpan dalam kotak kayu yang
kuat, tempat pasir, atau di bangunan sementara selama suhu
disekitar contoh dapat dijaga antara 15,6°C sampai 26,7°C dan
kelembaban contoh dapat dijaga.
c. Setelah berumur 1 (satu) hari setiap contoh harus dikirim/dianalisa
ke laboratorium yang disetujui untuk pengeringan dan pengujian.
Tempatkan contoh dalam kotak yang kokoh dengan tetap
mengunakan wadahnya. Ruang antara contoh dan kotak harus
diisi dengan pasir basah atau sandust. Setiap contoh harus
dilengkapi dengan data yang berisi tanggal pembuatan contoh
tersebut.
d. Jika pengiriman contoh saat berumur 1 (satu) hari tidak
memungkinkan, maka contoh harus disimpan dalam damp sand
setelah waktu 24 jam pertamanya terlewati dan harus tetap dijaga

STR - 25
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

kelembabannya dalam suhu 21°C sampai 24°C sampai pengiriman


dapat dilakukan. Contoh harus dikirim secepatnya beberapa hari
sebelum waktu 7 (tujuh) hari terlewati, dan laboratorium harus
menerima contoh tersebut minimal sehari sebelum waktu uji 7
(tujuh) hari.
e. ukurannya untuk menyimpan peralatan dan contoh di lapangan
dan apapun yang dibutuhkan oleh pekerja dalam mempersiapkan
contoh.

8.5.6. Pengujian
a. Pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh perusahaan yang ditunjuk
oleh kontraktor.
b. Pengujian semen dan agregat dapat dilakukan untuk menjamin
kesesuaian dengan prosedur yang dijelaskan dalam spesifikasi teknis
ST – 002.
c. Pengujian untuk kandungan udara pada setiap contoh adalah
compression testing. Pengujian harus sesuai dengan JIS A1128-93
atau ASTM C231-90.
d. Kontraktor harus bekerjasama dengan Laboratorium pengujian untuk
membantu pekerjaan mereka. Kontraktor harus memberitahu
Laboratorium Pengujian dan Konsultan pengawas minimum 24 jam
sebelum membuat beton untuk pemeriksaan dan pengujian baik di
pabrik maupun di lapangan, dan untuk pemeriksaan perancah dan
tulangan.
e. Pekerjaan pembuatan, penanganan, pemindahan, dan pengeringan
beton hanya dapat dilakukan oleh staff dari laboratorium pengujian.
f. Pemeriksaan dan pengujiaan alat pembuatan beton (Plant) minimal
harus memenuhi prosedur berikut:
- Pengambilan contoh dan pengujian bahan-bahan beton.
- Review dan pengecekan rencana campuran yang diajukan oleh
kontraktor.
- Memeriksa peralatan dan perlengkapan untuk mengukur,
mencampur dan membawa beton.
- Memeriksa tempat dan pelaksanaan pencampuran.
- Memeriksa campuran beton.
g. Pemeriksaaan dan pengujian di lapangan minimal harus memenuhi
prosedur berikut:
- Memeriksa kartu penyerahan campuran beton dari pabrik.
- Memeriksa jumlah air yang ditambahkan pada campuran beton,
jika diijinkan, di lapangan.
- Membuat contoh dan menguji kandungan udara dalam beton.
- Membuat uji slump.
- Membuat contoh untuk uji kekuatan tekan di laboratorium.
- Mengukur suhu beton saat dicampur, dituangkan, dan saat
pengeringan.
- Mengukur suhu udara selama penuangan dan pengeringan beton.
- Mengecek prosedur penuangan dan pengeringan beton.
h. Penemeriksaan dan pengujian di laboratorium minimal harus
memenuhi prosedur berikut:
- Uji kuat tekan sesuai dengan JIS A 1108-93 atau ASTM C39-86 :
- Tiga (3) buah contoh dikeringkan di laboratorium untuk uji kekuatan
beton umur 7 (tujuh) hari.

STR - 26
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Tiga (3) buah contoh dikeringkan di laboratorium untuk uji kekuatan


beton umur 28 (dua puluh delapan) hari.
- Tiga (3) buah contoh dikeringkan di lapangan untuk uji kekuatan
beton umur 7 (tujuh) hari.
- Tiga (3) buah contoh dikeringkan di lapangan untuk uji kekuatan
beton umur 28 (dua puluh delapan) hari.
- Uji kekuatan beton umur yang lain sesuai kebutuhan.
- Tiga (3) buah contoh dikeringkan di laboratorium dan dilapangan
untuk uji kekuatan beton umur 3 (tiga) hari dan umur yang
diharapkan jika menggunakan bahan aditif untuk mempercepat
pengerasan.
- Mengukur berat semua contoh.
i. Uji inti (Core tests) untuk beton yang telah mengeras harus sebagai
berikut:
- Uji inti akan dilakukan jika hasi dari uji kuat tekan dari laboratorium
tidak memuaskan atau diketahui adanya kelalaian dalam
penuangan beton.
- Konsultan pengawas mempunyai hak untuk memilih tempat
diambilnya contoh untuk pemeriksaan dan pengujian ini. Peralatan
pemotongan dan metoda penerasan harus disetujui oleh Konsultan
pengawas. Contoh harus diambil dan duji sesuai dengan JIS
A1107-93 atau ASTM C 42-90.
Bagian inti (cored portion) dari pekerjaan harus dilakukan dengan baik
untuk memenuhi persyaratan Konsultan pengawas.
- Kontraktor harus menanggung biaya dari pengadaan pengujiaan ini
jika diperlukan karena kegagalan pengujian contoh, atau jika uji inti
gagal.
j. Jika Pengujian dan laporan memperlihatkan bahwa beton yang
dituangkan tidak sesuai dengan kekuatan yang disyaratkan, maka
Konsultan pengawas akan memberitahu kontraktor masalah tersebut
secara tertulis. Penerasan tambahan yang disyaratkan oleh Konsultan
pengawas harus dilakukan, dan perubahan perbandingan campuran
diperlukan untuk campuran beton untuk pekerjaan beton yang tersisa,
atau beton yang telah jadi harus diganti, dengan segala biaya
ditanggung oleh Kontraktor.

8.5.7. Kondisi Lingkungan


Jangan menuangkan beton ketika hujan atau akan hujan kecuali
pekerjaan dapat dilindungi dari hujan atau aliran air.

9. ADUKAN ENCER (GROUT)

9.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini nneliputi pengadaan tenaga kerja, alat-alat dan bahan serta
pemasangan adukan cair pada pekerjaan-pekerjaan seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja dan/atau sesuai petunjuk Konsultan pengawas.

STR - 27
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

9.2. STANDAR / RUJUKAN

9.2.1. American Society for Testing and Materials (ASTM).


9.2.2. American Concrete Institute (ACI).
9.2.3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2, 1971).
9.2.4. Spesifikasi Teknis :
- Beton Cor di Tempat.
- Baja Struktur.

9.3. PROSEDUR UMUM

9.3.1. Contoh Bahan dan Data Teknis


Contoh, brosur dan/atau data teknis bahan yang akan digunakan harus
diserahkan kepada Konsultan pengawas untuk disetujui tedebih dahulu
sebelum didatangkan ke lokasi.

9.3.2. Pengiriman dan Penyimpanan


Kantong kemasan asli dari pabrik harus dalam keadaan tertutup rapat
dan harus disimpan dalam gudang yang cukup ventilasinya, fidak
terkena air. tidak berubah warna dan tidak berbongkah serta diletakkan
pada tempat yang tingginya 30cm dari lantai.

9.4. MATERIAL

9.4.1. Adukan Encer


Adukan encer harus dibuat dari bahan dasar semen, dan harus memiliki
karakteristik minimal sebagai berikut:
- Bebas dari bahan klorida dan alumina,
- Jenis non-shrinkage dan non-metallic,
- Memiliki kuat tekan minimal 700kg/cm2 pada umur 28 (dua puluh
delapan) hari, seperti Sika Grout 214-11, Conbextra EP, Pagel
Grout atau yang setara.

9.4.2. Air
Air sebagai bahan pencampur/pengencer harus air yang bersih seperti
disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis

9.4.3. Cetakan/Acuan
Bahan cetakan/acuan dibuat dari bahan besi pelat atau kayu lapis
dengan ketebalan yang sesuai, yang dibentuk sedemikian rupa sesuai
dengan ukuran dan bentuk yang ditunjukan dalam Gambar Kerja.
Cetakan/acuan harus sama pada semua tempat yang menghendaki
ukuran dan bentuk yang sama.

STR - 28
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

9.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

9.5.1. Persiapan
a. Cetakan/acuan harus dibuat sedemikian rupa sehingga adukan
encer dapat dialirkan seluruhnya selama pelaksanaan. Jalan masuk
yang baik harus disediakan.
b. Cetakan/acuan harus sudah disiapkan dan bagian yang akan
menerima adukan encer harus dibersihkan dari minyak, gemuk dan
segala kotoran lainnya yang akan mengurangi daya lekat. Debu
harus ditiup keluar dari cetakan.
c. Angkur-angkur, baut pengencang dan pelat landasan harus sudah
tepat elevasinya sebelum penuangan adukan encer.

9.5.2. Cuaca
Cuaca pada saat akan melaksanakan pekerjaan ini harus sesuai
dengan persyaratan dari pabrik pembuat adukan encer bersangkutan.

9.5.3. Campuran Adukan Encer


Perbandingan campuran antara bahan adukan encer dengan air sesuai
petunjuk dari pabrik pembuat.
Pencampuran harus dilakukan dengan cara mekanis, dengan alat
pencampur bertenaga atau tangkai pengaduk yang sesuai yang
dipasang pada mesin bor kecepatan rendah.

9.5.4. Pelaksanaan
a. Adukan encer dapat dituangkan atau dipompakan ke dalam
cetakan/acuan atau sesuai petunjuk pabrik pembuat.
Penggetaran halus akan memperlancar aliran.
b. Penggunaan tali atau rantai akan memperlancar aliran pada bagian
yang berjarak lebih dari 100cm (gerakan menggergaji dari tali atau
rantai melancarkan aliran adukan encer - cara ini harus dilakukan
sedemikian rupa agar tidak terbentuk ruang kosong).
c. Afiran adukan encer harus tetap terjaga sampai adukan encer
mengisi rongga cetakan dan telah memenuhi seluruh panjang
cetakan pada sisi lainnya. Penempatan adukan encer harus
dilakukan dari salah satu sisi saja.

STR - 29
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

10. BAJA TULANGAN

10.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini mencakup pengadaan bahan baja tulangan yang sesuai


Gambar Kerja. Pekerjaan ini termasuk sernua mesin, peralatan, tenaga kerja,
dan pemasangan baja tulangan.
Spesifikasi ini akan lebih kuat dari pada Gambar Kerja bila ada perbedaan
detail yang mungkin terjadi.

10.2. STANDAR / RUJUKAN

10.2.1. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (N 1-2, 1971


10.2.2. American Concrete Institute (ACI).
10.2.3. Standar Industri Indonesia (SII/Standar Nasional Indonesia (SNI).
10.2.4. Spesifikasi Teknis
- Beton Cor di Tempat.

10.3. PROSEDUR UMUM

10.3.1. Contoh Bahan dan Sertifikat Pabrik


a. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan pengawas,
contoh bahan beserta sertifikat pabrik bahan baja tulangan
untuk disetujui.
b. Sebelum pengadaan bahan, semua daftar bahan dan daftar
pemotongan harus disiapkan oleh Kontraktor dan diserahkan
kepada Konsultan pengawas untuk disetujui.
Persetujuan yang diberikan tidak berarti membebaskan
Kontraktor dari tanggung jawabnya untulk memastikan
kebenaran daftar pemesanan dan daftar pemotongan.
Setiap penyimpangan dari daftar bahan dan daftar
penulangan yang telah disetujui menjadi tanggung jawab
Kontraktor untulk menggantinya atas biayanya.

10.3.2. Gambar Detail Pelaksanaan


a. Gambar Detail Pelaksanaan berikut harus diserahkan oleh
Kontraktor kepada Konsultan pengawas untulk disetujui :
- Daftar penulangan yang menunjukkan pembengkokkan,
ukuran kait, lewatan, sambungan dan lainnya yang
memenuhi ACI 315 dan/atau PBI (NI-2,1971).
- Gambar harus menunjukkan spasi tulangan, selimut dan
jarak antara, pasak besi dan penahan
jarak/gelang-gelang.

STR - 30
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

b. Kontraktor diijinkan mengganti ukuran rencana baja tulangan


yang ditunjukkan dalam Gambar Kerja selarna penggantian
tersebut dianalisa dengan teliti dan Kontraktor telah
memeriksa bahwa kekuatan yang dinginkan tetap terpenuhi.
Penggantian harus disetujui Konsultan pengawas sebelum
pelaksanaan pekerjaan.

10.3.3. Pengiriman dan Penyimpanan


Baja tulangan setiap waktu harus dilindungi dari kerusakan dan
harus diternpatkan di atas balok-balok untuk mencegah
menempelnya lumpur atau benda asing lainnya pada baja
tulangan. Tempat penyimpanan harus dinaikkan agar aman dari air
permukaan.

10.4. MATERIAL

10.4.1. Umum
Sernua baja tulangan lunak harus dalarn keadaan baru, tidak
berkarat atau memiliki cacat lainnya serta harus memenuhi
ketentuan dalam Spesifikasi Teknis ini.

10.4.2. Baja Tulangan Polos


Kecuali ditentukan lain, baja tulangan polos dengan diameter <
13mrn harus dari baja mutu BjTP-24 dengan tegangan leleh
minimal 2400kg/cm2 , dan memenuhi ketentuan Sil--
0136-84/SN1.07-2052-1990.
Diameter yang digunakan harus sesuai ketentuan dalam Gambar
Kerja.

10.4.3. Baja Tulangan Berulir


Kecuali ditentukan lain, baja tulangan berulir dengan diameter >
13mm harus dari mutu BjTD-40 dengan tegangan leleh minimal
4000kg/cM2 , dan memenuhi ketentuan SII-0136-
84/SNI.07-2052-1990.
Diameter yang digunakan harus sesuai ketentuan dalam Gambar
Kerja.

10.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

10.5.1. Kait dan Pembengkokkan


Penulangan harus dilengkapi dengan kait/bengkokan minimal
sesuai ketentuan PB1 (NI-2, 1971), atau sesuai petunjuk Konsultan
pengawas dan/atau Gambar Kerja.

STR - 31
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

10.5.2. Pemotongan
Panjang baja tulangan yang melebihi ketentuan Gambar Kerja
(kecuali lewatan) harus dipotong dengan alat pernotong besi atau
alat pemotong yang disetujui Konsultan pengawas.
Pada bagian yang membutuhkan bukaan untuk dudukan mesin,
peralatan dan alat utilitas lainnya, baja tulangan harus dipotong
sesuai dengan besar atau ukuran bukaan.

10.5.3. Penempatan dan Pengencangan


a. Sebelum pemasangan. baja tulangan harus bebas dari debu,
karat, kerak lepas, oli, cat dan bahan asing lainnya.
b. Semua baja tulangan harus terpasang dengan baik, sesuai
dengan mutu, dimensi dan lokasi seperti ditunjukkan dalarn
Gambar Kerja. Penahan jarak dengan bentuk balok persegi
atauz gelang-gelang harus dipasang pada setiap m2 atau
sesuai petunjuk Konsultan pengawas. Batu, bata atau kayu
tidak diijinkan digunakan sebagai penahan jarak atau sisipan.
Sernua penahan jarak atau sisipan harus diikat dengan kawat
no. AWG 16 (ø 1,62mm) atau yang setara. Las titik dapat
dilakukan pada baja lunak pada tempat-tempat yang disetujui
Konsultan pengawas.

10.5.4. Pengecoran Beton


Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai ketentuan
Spesifikasi Teknis.

11. BAJA STRUKTURAL

11.1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan harus meliputi pengangkutan/transportasi, penyediaan


peralatan, pabrikasi, pemeriksaan dan pemasangan baja struktural di
bengkel kerja atau di lapangan, seperti yang ditunjukkan dalam gambar
atau seperti yang ditentukan dalam spesifikasi ini.

11.2. STANDAR/RUJUKAN
11.2.1. Pedoman Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung (SNI.
1729.1989-F).
11.2.2. Standar Industri Indonesia (Sll) dan/atau Standar Nasional
Indonesia (SNI).
11.2.3. Japanese Architectural Standard Spesifikasi for Steel Work
(JASS).
11.2.4. Japanese Industrial Standards (JIS).
11.2.5. American Institute of Steel Construction (AISC)
- AISC M 013-83 Detailing for Steel Construction

STR - 32
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

-AISC M 013-84 Konsultan pengawasing for Steel


Construction
- AISC M 016-89 Manual of Steel Construction ASD
11.2.6. American Welding Society (AWS):
- AWS D1.1-96 Struktural Welding Code Steel
11.2.7. American Society for Testing and Materials (ASTM).
11.2.8. Spesifikasi Teknis:
- Adukan Encer (grout)

11.3. PROSEDUR UMUM

11.3.1. Sertifikat Pabrik dan Informasi Lainnya

a. Sebelum pabrikasi, Sertifikat Pabrik mencakup dimensi,


struktur mikro dan kimia, fisika, charpy V-notch properties, data
perawatan panas matahari (yang diaplikasikan) dan ukuran
semua baja yang akan digunakan, harus diberikan pada
Konsultan pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
b. Sebelum memesan bahan/material, semua daftar pemesanan
harus disediakan oleh kontraktor untuk kemudian diserahkan
pada Konsultan pengawas guna mendapatkan persetujuan.
c. Sebelum memulai pekerjaan bengkel, kontraktor harus
melengkapi Konsultan pengawas dengan informasi sbb:
 Fasilitas-fasilitas pabrikasi.
 Bahan-bahan yang akan digunakan dan produsen serta
pemasok bahan-bahan.
 Sertifikat dan Laporan Pengujian:
- Sertifikat Pabrik.
- Laporan kekuatan tarik dan uji bengkokan untuk bentuk
baja, batangan, dan plat.
 Prosedur dan skedul Gambar Detail Pelaksanaan. Jenis
pengukuran yang akan digunakan.
 Metode dan Prosedur Kontrol Kualitas.
 Prosedur dan skedul produk, seperti pemberian tanda,
pemotongan, pembengkokan, pembuatan teralis dan
perawatan, penanganan gesekan permukaan untuk
sambungan baut, dsb.
 Fasilitas dan prosedur perakitan di bengkel kerja.
 Pengajuan pembuatan detail-detail pengelasan untuk :
- Flux, gas, batang dan kawat pengelasan beserta
rekomendasi penyimpanan dari produsen.
- Pengelasan sementara, sekuens dan prosedur
pengelasan, pemanasan, peralatan dan perlengkapan
las, pengukur tekanan udara.
 Metode pengencangan angkur baut dan penempatan plat
dasar. Prosedur pemasangan dan toleransi penempatan
angkur baut yang diizinkan.
 Pemeriksaan termasuk pemeriksaan gambar ukuran
penuh, pemeriksaan perakitan dan pemeriksaan produk.

STR - 33
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

 Salinan dari formulir pemeriksaan kontraktor harus


diserahkan. Formulir pemeriksaan yang diajukan harus
dikumpulkan.
 Metode Aplikasi Cat.
 Penyimpanan di lapangan.
 Fasilitas pengangkutan dan rute dari bengkel ke
lapangan.
 Kualifikasi tukang ahli las dan tukang ahli lainnya.
d. Selama pelaksanaan pekerjaan, jaga agar catatan-catatan
perakitan dan pemasangan baja struktural berikut ini harus
disiapkan terpisah dari hal-hal sbb: (menunjukkan metode dan
hasil pengujian dan pemeriksaan):
- Uji Bahan.
- Metode Uji Keterampilan tukang las. Uji pekerjaan
pengelasan.
- Pemeriksaan pada produk yang dibuat di bengkel
produksi (las, bentuk, ukuran, tampilan, dsb).
- Pemeriksaan kinerja di lapangan (Pengencangan baut
berkekuatan tinggi, toleransi pemasangan, dsb).
- Toleransi baut angkur.
- Catatan pengujian, pemeriksaan dan koreksi yang
disyaratkan oleh Konsultan pengawas.
- Foto-foto setiap bagian pekerjaan. Berikan laporan
lengkap pada Konsultan pengawas.

11.3.2. Gambar Detail Pelaksanaan

a. Sebelum proses pabrikasi, kontraktor harus memberikan Gambar


detail pelaksanaan ke Konsultan pengawas untuk mendapatkan
persetujuan. Hal-hal di bawah ini harus termasuk dalam Gambar detail
pelaksanaan yang akan diaplikasikan:
 Spesifikasi Bahan.
 Nomor Penanda.
 Daftar bagian-bagian material.
 Detail Pembuatan.
 Detail Pengelasan,
 Syarat Pengecatan,
 Detail dan lokasi bengkel produksi.
b. Persetujuan Gambar detail pelaksanaan oleh Konsultan
pengawas tidak berarti melepaskan kontraktor dari
tanggung jawabnya terhadap kesalahan dan kegagalan.
e.3. Kontraktor tidak boleh melakukan perubahan pada
Gambar detail pelaksanaan yang paling akhir diterima,
tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan pengawas.
c. Perubahan yang berasal dari inisiatif kontraktor
untuk kenyamanannya harus meminta persetujuan
Konsultan pengawas dan dibuat dengan biaya dari
kontraktor.

STR - 34
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

11.3.3. Pemeriksaan dan Pengujian

a. Bahan, sambungan dan hubungan antar pekerjaan pada


umumnya harus menjadi subjek untuk diuji atau diperiksa di
bengkel kerja dan di lapangan.
b. Pemeriksaan dan Pengujian harus dilaksanakan oleh orang
yang berkualitas atau laboratorium pengujian yang disediakan
oleh kontraktor disetujui oleh Konsultan pengawas.
Kontraktor harus melengkapi semua material untuk pengujian
dan segala akses untuk itu, atau menyediakan bahan-bahan
yang dibutuhkan untuk pengujian material.
c. Komposisi kimiawi dan properti mekanis semua material harus
diuji dan diperiksa sebelum memulai kerja di bengkel produksi.
d. Periksa rakitan bengkel dan pengelasan untuk disesuaikan
dengan persyaratan yang ditentukan.
e. Bersihkan, asah dan siapkan semua area yang diperlukan
agar uji ultrasonik dan radiografik.
f. Konsultan pengawas harus memiliki wewenang untuk
melakukan pemeriksaan dan pengujian kapan pun. Konsultan
pengawas harus memiliki hak, pada setiap waktu yang
beralasan, untuk masuk ke pabrik kontraktor untuk tujuan
pengujian dan pemeriksaan kerja. Kontraktor harus
menyediakan semua pekerja dan alat-alat yang dibutuhkan
untuk pengujian dan pemeriksaan di bengkel kerja.
g. Konsultan pengawas memiliki hak untuk setiap saat menolak
material dan/atau pekerjaan yang rusak berdasarkan gambar
perancangan, sebelum penerimaan terakhir. Penerimaan
bahan / material pekerjaan oleh Konsultan pengawas tidak
mencegah adanya penolakan jika ditemukan penyimpangan di
kemudian hari. Kontraktor harus membongkar bahan-bahan
terpasang yang telah ditolak oleh Konsultan pengawas dan
menggantinya tanpa ada biaya tambahan pada pekerja.
h. Semua tukang las harus memiliki izin yang masih berlaku. Jika
disyaratkan oleh Konsultan pengawas, kontraktor harus
mengadakan uji keterampilan tukang las. Pengujian, bila
disyaratkan, harus dilakukan tanpa adanya biaya tambahan
pada pemilik/Owner.

11.3.4. Pita Ukur Baja

Kontraktor harus menyediakan beberapa pita pengukur presisi


yang diperlukan untuk pelaksanaan kerja (minimum 3 pita ukur).
Setiap waktu, suhu lingkungan harus dicatat dan penyesuaian
thermal harus dibuat pada semua pengukuran. Pita ukur yang
digunakan di bengkel kerja baja harus sesuai dengan pita ukur
yang digunakan untuk pendirian pekerjaan baja di lapangan.
Kontraktor harus menyusun pengujian yang diperlukan Konsultan
pengawas untuk menyetujui toleransi antar penggunaan pita ukur

STR - 35
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

tidak pada lokasi, yang terlewatkan. Semua hasil pengukuran


adalah tanggung jawab kontraktor.

11.3.5. Penggunaan dan Penyimpanan

a. Semua bahan harus dikirimkan lengkap dengan sertifikat asli


pencampurannya.
b. Semua bahan baja harus ditangani dengan perawatan yang
benar, sesuai tata cara yang tidak meyebabkan goresan
mendalam, sesuai yang ditentukan oleh Konsultan pengawas.
c. Bahan harus disimpan tidak langsung terhubung dengan tanah
sesuai dengan tata cara dan lokasi, yang akan
meminimalisasikan karat dan proses pengkaratan.

11.4. MATERIAL

11.4.1. Persyaratan Umum

a. Semua material harus sesuai dengan yang ditentukan dalam


spesifikasi ini, kecuali bila ditetapkan lain.
b. Kompisisi kimiawi, properti mekanikal, ukuran dan kualitas
lainnya dari bahan telah ditentukan pada tiap-tiap standarnya.
Kualitas material ini dikonfirmasikan dengan pengujian sebelum
pekerjaan bengkel yang setara dengan sertifikat pembuatannya
oleh produsen.

11.4.2. Baja struktural

a. Semua bahan baja harus baru dan bebas dari segal


penyimpangan yang mempengaruhi kekuatan, daya tahan
atau tampilan dan harus dari kualitas komersial terbaik, serta
sesuai dengan standar relatif
b. Baja struktural harus berupa produk yang distandardisasikan
aeperti daftar berikut ini atau setara yang disetujui oleh
Konsultan pengawas.

Pedoman Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung (SNI.03-


1729-1989).
Persyaratan uji kuat tegang
Tingkatan Baja
Kuat luluh Kuat tarik Perpanjangan
kg/mm2 kg/mm2 Relatif
St 37
24,0 37 -
(Bj37)

 JIS G 3101-87 Rolled steel untuk struktur umum (SS 400) JIS
G 3350-87 Light gauge steels untuk struktur umum (SSC 400)

STR - 36
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

 JIS G 3444-88 Carbon steel tubes for general structure


purposes (STK 400) JIS G 3466-88 Carbon steel square pipes
for general structure purposes (STKR 400)

Persyaratan uji kuat tegang


Perpanjangan
Tingkatan Baja Kuat luluh Kuat tarik
Relatif
Kg /mm2 Kg /mm2
%
SS 400 24 41 - 52 17
SSC 400 24 41 - 55  21
STK 400 24 41 23
STKR 400  25 41  23

 ASTM A36/A36M-94 Spesifikasi for Struktural Steel

Persyaratan uji kuat tegang


Perpanjangan
Jenis Baja Kuat luluh Kuat tarik Relatif
kg/mm2 kg/mm2
%

Plat, Batang 25,31 40,78-56,25


21
dan Bentuk (36 ksi) (58-80 ksi)

c. Bentuk dan Ukuran.

 Bentuk dan ukuran plat baja, plat baja tahan karat


(stainless steel) dan barang-barang lain yang
berhubungan harus sesuai persyaratan standar
sebagai berikut atau setara :
- JIS G 3101-87 SS400 Rolled steel untuk struktur
umum.
- JIS G 4305-91 SUS304 Cold rolled stainless steel
plates, sheets and strips.

 Baja yang akan digunakan tidak boleh memiliki


penyimpangan struktural dan tidak boleh berkarat.
Bentuk dan ukurannya harus relatif sesuai dengan
SIUSNI, JIS, ASTM, atau setara. Toleransi ukuran baja
struktural harus sesuai dengan:

STR - 37
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- SII 0163-79/SNI.07-2054-1990 Baja Siku Sama Kaki


Bertepi Bulat Canal Panas, Mutu dan Cara Uji
- SII 0233-79/SNI.07-0052-1987 Baja Kanal Bertepi
Bulat Canal Panas, Mutu dan Cara Uji.
- SII 0234-79/SNI.07-0329 Baja Bentuk I Bertepi Bulat
Canal Panas, Mutu dan Cara Uji.
- SII 0999-84/SNI.07-0138-1987 Baja Kanal C Ringan.
- SIl.2524-90/SNI.07-3018-1992 Baja Pelat, Strip dan
Lembaran Canal Panas.
- JASS 6-82 Standar Toleransi Baja Struktural.
-
d. Mur-Baut, Sekrup, Cincin Penutup, Baut angkur dan Plat.
 Mur-Baut, Sekrup dan Cincin Penutup biasa harus
sesuai dengan persyaratan berikut ini atau setara :
- SNI.03-1729-1989 (Bj. 37)
- JIS B 1180-85 Hexagon head bolts and hexagon
head screws
- JIS B 1181-93 Hexagon nuts and hexagon thin nuts
- JIS B 0205-82 Metric coarse screw threads
- JIS B 1251-84 Spring lock washers
- JIS B 1256-78 Plain washers
- ASTM A307-89 Specification for Carbon Steel
externally Threaded Standard Fasteners.
Dalam JIS B 1180-85 dan JIS B 1181-93, tingkatan
finishing harus "Medium", tingkatan presisi harus
"3rd class" dan perangkat mekanikal harus "4T".
 Baut angkur harus sesuai dengan persyaratan
berikut ini atau setara :
- SNI.03-1729-1989 (Bj. 37)
- JIS G 3101-87 SS 400
- ASTM A36/A36M-94
Mur,cincin penutup dan penutup sekrup harus
sesuai standar baut biasa yang disebutkan di atas.
 Penyusunan sekrup berkekuatan tinggi harus sesuai
dengan persyaratan standar berikut ini atau setara:
- JIS B 1186-79 Penyusunan sekrup, mur segi
delapan berkekuatan tinggi dan cincin penutup
untuk sambungan geser.

Persyaratan uji kuat tegang


Tingkatan Baja Kuat luluh Kuat tarik Perpanjangan
kg/mm2 kg/mm2 Relatif %
F10T A  90 100-120 14

Jika Kontraktor ingin menggunakan jenis sekrup


berkekuatan tinggi lainnya, ia harus memberikan sertifikat
pengujian mekanikal dan kimiawi pembuatan untuk
mendapatkan persetujuan Konsultan pengawas.

STR - 38
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- ASTM A325M-93 Spesifikasi untuk Sekrup Berkekuatan


Tinggi untuk Sambungan Baja Struktural [Metric].
e. Space frame dan rangka baja pabrikasi.
Untuk space frame kubah utama dan kubah kecil dan
rangka baja untuk kubah menara kecil dan minaret harus
berupa pabrikasi dari produsen pembuatan space frame
dan rangka baja seperti Tridome atau setara.
f. Uji Bahan.
Untuk barang-barang yang distandardisasi, sertifikat yang
membuktikan kesesuaian produk dengan standar yang
disetujui dapat diberikan tanpa diuji lagi. Akan tetapi bila
diperlukan, Konsultan pengawas dapat meminta kontraktor
untuk mengadakan pengujian mekanikal bahan dengan
biaya Kontraktor.

11.4.3. Material Pengelasan

a. Elektroda yang akan digunakan untuk pengelasan harus


berupa produk yang sesuai standar "JIS Z 3211-91 mengenai
lapisan elektroda untuk baja lunak” atau setara. Elektroda-
elektroda yang sesuai harus dipilih sesuai dengan jenis baja
yang akan dilas.
b. 4.3.2. Material pengelasan harus E70xx, yang memiliki
kuat luluh 415MPa dan kuat tarik 500MPa.
c. 4.3.3. Material pengelasan selain yang disebutkan di atas
harus dipilih sesuai dengan metode pengelasan yang akan
dikerjakan.
d. 4.3.4. Ketika logam dasar dari dua tekanan luluh yang
berbeda dilas bersamaan, logam pengisi harus dipilih
berdasarkan logam dasar yang memiliki tekanan luluh tertinggi.

11.4.4. Perlindungan

Persiapan permukaan untuk baja yang akan diberi cat dasar harus
sesuai dengan:
- JIS K 3151-68 Phosphatizing compounds under pengecatan
- JIS K 5633-83 Etching primer
- FS*' TT-C-490 (Rev.C)(Amd.1) Metode pembersihan
permukaan yang mengandung besi dan penanganan awal
untuk lapisan organik.
- FS*' TT-P-645 (Rev.A) Jenis Cat dasar/meni, cat, seng-kromat
dan alkali.

11.4.5. Pengecatan

Material Pengecatan untuk permukaan baja harus memiliki


karakteristik sbb:
- Cat dasar harus jenis Meni Logam Kromat/Seng-Kromat
Cepat Kering.

STR - 39
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Cat finishing harus berupa Enamel Sintetik/Synthetic Super


Gloss.

11.4.6. Adukan Encer (grout)

Adukan Encer (grout) untuk mengisi lubang-lubang angkur,


landasan plat dasar, dan sebagainya yang ditunjukkan dalam
gambar harus terbuat dari bahan semen jenis tidak susut dan tidak
mengandung logam seperti yang ditetapkan dalam Spesifikasi

11.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

11.5.1. Pabrikasi

a. Umum.
 Kontraktor harus memberi catatan satu minggu kepada
Konsultan pengawas, sebelum melaksanakan segmen
pabrikasi apapun, seperti menutup sisi berbagai bagian
struktur.
 Barang-barang baja harus memiliki ukuran, bentuk dan
konstruksi seperti yang telah ditentukan.
 Sebelum pabrikasi, semua pengukuran yang diperlukan harus
dilaksanakan dan diperiksa sesuai dengan persyaratan
prosedur kontrol kualitas dalam AISC.
 Selain yang telah ditentukan, barang-barang harus dipabrikasi
sesuai dengan metode pekerjaan bengkel yang efisien.
 Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap koreksi/
perbaikan dari semua kesaklahan dan ketidaktepatan pada
pekerjaan detail, tata letak dan pabrikasi, dengan biayanya
sendiri.
b. Lokasi Pabrikasi.
Baja Struktural harus dipabrikasi dan dirakit di bengkel atau
pekarangan milik Kontraktor atau di lokasi yang disetujui oleh
Konsultan pengawas.
Tidak diperkenankan melakukan pengelasan dasar di
lapangan.
c. Pengelasan.
Tukang Las.
 Pada prinsipnya, kualifikasi tukang las harus sesuai dengan
“JIS Z 3801-79 Standar Prosedur Kualifikasi untuk Teknik
Pengelasan” berdasarkan jenis pengelasan yang akan
dikerjakan. Tukang las hatrus berpengalaman berkelanjutan
lebih dari satu tahun dalam pengelasan struktural dan akan
menerima persetujuan dari Konsultan pengawas.
 Jika Konsultan pengawas meragukan kualifikasi tukang las,
walaupun persetujuan telah diberikan, sesuai dengan JIS,
AWS atau setara lainnya yang berhubungan, persetujuan
dapat dibatalkan.

STR - 40
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

Persiapan Material.
Persiapan Bagian Tepi .
- Sudut alur harus sesuai dengan desain dan Gambar
Detail Pelaksanaan. Akan tetapi hal tersebut dapat
dimodifiaksi sesuai dengan jenis pengelasan yang akan
dilakukan dengan persetujuan Konsultan pengawas.
- Alur harus dibuat ke bentuk seperti yang ditentukan di
atas dengan alat pemotong gas otomatik atau metode
mekanikal lainnya. Pemotong gas manual dapat
diperkenankan pada situasi yang tidak diragukan,
dengan persetujuan Konsultan pengawas.
Pekerjaan Pengelasan.
 Pengelasan harus dikerjakan dengan kecepatan yang
memadai, arus dab tegangan yang benar sesuai dengan
jenis dan posisi pengelasan.
 Pengelasan di bengkel kerja, bila mungkin, dilakukan dari
bawah ke atas dengan menggunakan ukuran perputaran
yang ditetapkan.
 Elemen-elemen baja harus dipanaskan terlebih dahulu
seperti yang disyaratkan sesuai dengan ketebalan dan jenis
material.
 Pabrikasi balok built-up harus disatukan dengan
pengelasan arkus bila memungkinkan.
 Pengelasan :
- Metode dan sekuens pengelasan harus sudah
direncanakan agar tidak menyebabkan bekas
sambungan atau meninggalkan sisa tekanan apapun.
- Sebelum atau selama pengelasan permanen,
pengelasan sementara harus dibersihkan, bila
pengelasan sementara mengalami kerusakan.
 Kondisi Finishing
- Permukaan pengelasan harus memiliki pola yang
seragam, ukuran dan panjang pengelasan tidak boleh
kurang dari ukuran yang ditunjukkan dalam gambar.
Ukuran pengelasan bisa saja lebih besar dari yang
ditentukan tapi tidak boleh terlalu besar atau menjadi
tidak teratur dalam pola.
- Bagian yang dilas tidak boleh retak, tidak selesai, lumer,
kekurangan penetrasi, berlubang, menggelembung,
dipotong terlalu pendek, bersinggungan atau tertimpa,
atau memiliki kesalahan-kesalahan lainya.

 Pengelasan Sudut (Fillet welding)


- Pada kasus pengelasan kaki sudut yang setara, tidak
boleh terjadi perbedaan antara kedua kaki tersebut.
- Kedalaman tulangan las harus kurang dari 0,1 S + 1 mm
(S: ukuran sudut yang ditentukan).
 Busur :

STR - 41
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

- Perhatian khusus harus diberikan untuk mencegah


kekurangan penetrasi dan slag inclusion pada titik awal
busur. Busur harus dipindahkan ke logam dasar atau
elemen yang akan dilas, baik itu permulaan las maupun
lanjutan rigi las.
- Perhatian khusus harus diberikan agar tidak
menyebabkan retak pada rigi las di akhiran busur. Slag
dan spatters harus dihilangkan dari permukaan las dan
dari permukaan di sekitar pengelasan.
Kondisi Cuaca.
Pengelasan tidak boleh dilakukan saat permukaan pengelasan
basah karena hujan atau karena alasan lain atau saat angin
berhembus kencang. Akan tetapi jika posisi las dan tukang las
cukup terlindungi dan persiapan logam dasar telah dilakukan,
pengelasan dapat dilaksanakan setelah konfirmasi tidak
adanya kelembaban/basah pada permukaan, dan dengan
persetujuan Konsultan pengawas.
Koreksi Material.
Kesalahan pada material harus dikoreksi/ diperbaiki dengan
peralatan mekanis atau dengan pemanasan yang tidak
menyebabkan kerusakan pada material.
Pemeriksaan Pengelasan.
 Pemeriksaan harus dilakukan selama dan setelah
pengelasan di bengkel kerja. Bagian yang rusak harus
dikoreksi kembali guna kepuasan Konsultan pengawas.
Tagihan dihitung sebagai biaya Kontraktor.
 Pemeriksaan minimum untuk pengelasan yang harus
dilakukan oleh Kontraktor dan/atau pembuat harus dengan
uji visual, uji penetrasi cair dan uji radiogafik. Semua las
harus ditampilkan seragam. Tampilan dan kelebihan
potongan harus seminimal mungkin.
 Setelah pengelasan dan setelah pemeriksaan yang
disebutkan di atas, las harus diperiksa oleh Konsultan
pengawas. Akan tetapi aturan di atas dapat dipersingkat
dengan persetujuan Konsultan pengawas, berdasarkan
hasil pemeriksaan di bengkel kerja.
d. Sambungan Baut.
Diameter Lubang.
Semua lubang untuk sambungan yang dibaut harus
berdiameter lebih dari 2mm, menggunakan sekrup, kecuali bila
ditetapkan lain.

Pembuatan Lubang.
Semua lubang harus dibor pada sudut yang benar terhadap
permukaan logam dan tidak boleh diperbesar dengan
pembakaran. Pembesaran lubang dengan perluasan hanya
diperkenankan bila disetujui Konsultan pengawas. Lubang

STR - 42
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

harus dibersihkan tanpa sobekan atau tepi yang kasar.


Pembakaran di bagian luar yang dihasilkan dari kegiatan
pelubangan atau perbesaran lubang harus dihilangkan dengan
alat siku 1,5875 mm.
Semua lubang harus dilubangi dan diperbesar seperti yang
dibutuhkan, sebelum aplikasi lapisan pelindung.

Tulangan Lubang.
Dimana lubang disediakan untuk sambungan perlengkapan,
atau untuk akses kabel - pemipaan, dan mempengaruhi
komponen struktural, maka harus diberi tulangan yang
memadai, sesuai dengan yang didesain oleh Konsultan
pengawas.
e. Pemotongan, Pembagian dan Pengguntingan.
Pemotongan dengan api, pembagian dan pengguntingan harus
dilakukan secara hati-hati, akurat dan teliti dengan alat dengan
petunjuk mekanis. Semua tepi harus bebas dari terak. Semua
tepian siku yang mengalami kerusakan harus dikembalikan ke
toleransi minimumnya.
f. Toleransi Pabrikasi.
Lokasi tiap komponen sangat penting bagi rancangan struktur.
Tiap komponen harus ditempatkan akurat seperti yang
ditunjukkan dalam gambar, dengan toleransi pabrikasi diberikan
dalam AISC.
g. Pemeriksaan Produk.
 Laporan Pemeriksaan produk jadi yang dibuat di bengkel
kerja,harus diberikan pada Konsultan pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
 Setelah laporan pemeriksaan, produk harus diperiksa oleh
Konsultan pengawas. Produk harus diletakkan agar tidak
menghalangi pemeriksaan dan peralatan yang dibutuhkan
untuk pemeriksaan.
 Bagian yang salah harus diperbaiki.
h. Lapisan Pelindung.
Setelah pabrikasi dan pemeriksaan, baja struktural harus diberi
dua lapis cat anti karat. Permukaan yang akan dibenamkan
atau ditanamkan dalam beton tidak boleh dicat dengan lapisan
dasar.
Lapisan cat dasar dan cat finishing harus dari berasal dari
produsen/pabrik pembuat yang sama, seperti yang disebutkan
dalam spesifikasi ini. Persiapan permukaan dan pemberian
lapisan dasar harus sesuai dengan persyaratan sbb:
 Permukaan baja harus dibersihkan secara mekanis dengan
sikat kawat atau amplas sesuai standar pada pasal 2.5
 Semua material, seperti serbuk, kotoran, minyak dan lemak
harus dibersihkan dengan larutan yang sesuai, kemudian
dibersihkan menggunakan pembersih dari pabrik.

STR - 43
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

i. Galvanisasi.
 Sediakan proses galvanisasi setelah pabrikasi seperti yang
ditetapkan atau ditunjukkan, bila cukup praktis.
 Metode galvanisasi harus sesuai dengan JIS H 8641-82 Zinc
Hot Dip Galvanizing, dan berat lapisan seng rata-rata tidak
kurang dari 275gr/m 2 (21 microns). Pengujian metode
galvanisasi harus sesuai JIS H 0401-83 “Methods of Test
for Hot Dip Galvanized Coatings”.
 Gunakan cat pemulih galvanisasi untuk bagian galvanisasi
yang rusak disebabkan oleh penanganan, pengangkutan,
pemotongan, pengelasan atau penyekrupan. Jangan
memanaskan permukaan dimana cat pemulih diaplikasikan.

11.5.2. Pemasangan

a. Prosedur dan Urutan.


 Sebelum membuat jadwal pendirian struktur, Kontraktor
harus memberikan Prosedur dan Urutan Pemasangan
dengan perhitungan pendukung pada Konsultan
pengawas, guna menjelaskan bahwa telah dilakukan teknik
yang memadai untuk memastikan keberhasilan pendirian,
untuk selanjutnya mendapat persetujuan dari Konsultan
pengawas.
 Sebelum memmulai pendirian di lapangan, Kontraktor harus
melengkapi Konsultan pengawas dengan informasi-
informasi sbb:
- Pendirian Struktur atap.
 Pemasangan perlengkapan pendirian dan perancah.
 Detail pondasi crane, pendirian dan pemindahannya.
 Pemasangan dan penyilangan sementara.
 Perlengkapan pendirian yang dibutuhkan.
 Pengangkutan dan Pengiriman (termasuk jadwal).
 Pekarangan tempat penyimpanan sementara dan metode
penanganan.
 Persediaan listrik sementara.
 Urutan, prosedur dan metode pendirian.
 Toleransi pendirian dan metode perawatan.
 Perlengkapan dan prosedur untuk mengencangkan
pemasangan sekrup/baut.
- Pengaturan baut angkur dan plat dasar.
- Pengecatan.
- Pemeriksaan Lapangan.
- Upaya keselamatan yang diajukan.
 Perlengkapan pemasangan dan pendirian harus disediakan
dalam jumlah, kualitas dan kapasitas yang memadai guna
menghasilkan operasi tanpa kegagalan. Jadwal harus
disediakan untuk pengeluaran/pemakaian lengkap proses
pendirian dan pemasangan.

STR - 44
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

a. Pengangkatan.
 Kontraktor harus bertanggung jawab pada ketidaktepatan
struktural pada semua struktur atau bagian struktur yang
diangkat atau dipindahkannya. Kontraktor harus membuat
analisis struktural yang diperlukan untuk memastikan bahwa
pemasangan tersebut akan dibuat tanpa kerusakan pada
struktur.
 Kontraktor harus memberikan metode pengangkatan untuk
pekerjaan pendirian pada Konsultan pengawas untuk
mendapatkan persetujuan. Kontraktor harus menyediakan
semua biaya bahan tambahan dan pabrikasi yang
diperlukan untuk metode pengangkatan alternatif tanpa
biaya tambahan apapun pada Konsultan pengawas.

b. Kondisi Lingkungan.
Jangan mendirikan struktur atap selama kondisi angin bertiup
kencang.

c. Toleransi Pemasangan.
 Kontraktor harus memasang struktur pada tempat pendirian
yang telah dirancang. Kontraktor harus mengenali kondisi
lapangan sebelum memulai prosedur pemasangan dan
harus memberikan laporan pada Konsultan pengawas
tentang segala kondisi yang termasuk lpemasangan
struktur sesuai toleransi AISC.
 Semua struktur harus didirikan sesuai dengan toleransi
dalam spesifikasi AISC, kecuali bila ditetapkan lain. Semua
komponen struktur yang didirikan harus memiliki sistem
penopang sendiri untuk berbagai gaya dari luar yang akan
digunakan selama pelaksanaan pendirian.
 Beberapa ikatan sementara yang ditambahkan pada
struktur untuk sistem penopang sendiri dan perletakannya
yang dirancang untuk menahan semua kondisi
pembebanan, adalah biaya kontraktor, pada setiap bagian
kerja.

d. Pengencangan Baut/ Sekrup.


 Sebelum pendirian, semua pembautan, penyambungan,
penempatan, pengisian, dan fasilitas bahan pasir harus
sudah dikerjakan terlebih dahulu.
 Pengencangan baut harus dilakukan dengan calibrated
torque wrench untuk menentukan tegangan baut yang
diperlukan.
 Lubang sekrup harus diatur penempatannya agar sekrup-
sekrup tersebut dapat diputar pada ulirnya. Kepala
sekrup/mur-baut harus dipasang tanpa menimbulkan
kerusakan pada logam. Sekrup harus memiliki panjang
yang dapat diperbesar, tetapi tidak boleh lebih dari 6,35 mm
di luar mur. Kepala baut dan mur harus dipasang kencang
ke permukaan kerja dengan alat yang sesuai, tidak kurang
dari 381mm. Kepala sekrup tidak boleh dipukul dengan

STR - 45
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

palu ketika mur sedang dikencangkan. Setelah selesai


dikencangkan, mur harus disikat dan dicat.

e. Adukan Encer (grout).


Persyaratan dan aplikasi pemberian Adukan Encer (grout)
harus sesuai dengan yang ditetapkan dalam Spesifikasi

f. Pengecatan di Lapangan.
 Jika hasil pengecatan di bengkel mengalami kerusakan
selama pengangkutan, Konsultan pengawas boleh
memerintahkan pada Kontraktor bahwa baja struktural
harus diberi dua lapis cat anti karat di lapangan. Satu lapis
secepatnya setelah penurunan barang ke lapangan, dan
satu lapis lagi sebelum proses pendirian. Cat yang akan
digunakan harus sama jenisnya dan produsennya, dengan
cat dasar dari bengkel produksi. Pekerjaan pelapisan harus
dilaksanakan dengan persyaratan sbb:
- Cat dasar : 2 (dua) lapis Meni Logam Kromat
Cepat Kering/ Meni seng-kromat , ketebalan @ 50
micron.
- Finish paint: 2 (dua) lapis Enamel
Sintetik/Synthetic Super Gloss, ketebalan@ 40 micron.
 Bagian yang akan dibenamkan dalam beton tidak boleh
dicat. Kerusakan pada permukaan cat pendirian harus
diperbaiki segera setelah proses pendirian di lapangan
selesai, dengan cara pengecatan seperti yang disebutkan di
atas.
 Cat finishing baja struktural harus seperti yang disebutkan
dalam pasal 4.5 spesifikasi ini.

12. BERBAGAI JENIS LOGAM

12.1. LINGKUP KERJA

Pekerjaan dalam spesifikasi ini mencakup semua penyediaan secara


lengkap, tenaga kerja, bahan dan semua bentuk pekerjaan yang
diperlukan untuk pekerjaan pemasangan logam yang berhubungan
dengan pekerjaan sipil dan arsitektural seperti yang ditunjukkan dalam
gambar. Pekerjaan harus termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sbb:
- Baut angkur,
- Pekerjaan mur-baut dan cincin penutup,
- Lembar logam berpori (Perforated logam sheet),
- Pekerjaan kisi dan teralis,
- Tiang tambak/pengikat (Bollard),
- Penggantung atau penyangga rangka langit-langit, lampu penerangan,
ruang saluran/ducting dan pemadam kebakaran,
- Pegangan tangga dan railing,
- Dan lain-lain yang ditunjukkan dalam gambar.

STR - 46
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

12.2. STANDAR/RUJUKAN

12.2.1. American Society for Testing and Materials (ASTM).


12.2.2. American Welding Society (AWS).
12.2.3. American Institute of Steel Construction (AISC).
12.2.4. American National Standard Institute
12.2.5. Standar Industri Indonesia (SII) and/or Standar Nasional Indonesia
(SNI).
12.2.6. Spesifikasi teknis:
- Baja Struktural

12.3. PROSEDUR UMUM

12.3.1 Contoh dan Pengujian Pabrik

Sebelum pabrikasi, contoh-contoh dan sertifikat pencampuran


mencakup dimensi, sifat kimia, fisika, charpy V-notch properties, data
perawatan panas matahari (yang diaplikasikan) dan ukuran semua
baja atau logam yang akan digunakan, harus diberikan pada
Konsultan pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
Semua pengujian harus dilakukan pada contoh produk jadi.

12.3.2. Gambar detail pelaksanaan

Sebelum pabrikasi, gambar detail pelaksanaan dan daftar material


barang-barang pabrikasi yang masuk dalam kategori harus diberikan
pada Konsultan pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Setelah
itu, Kontraktor tidak boleh membuat penyimpangan atau perubahan
pada Gambar detail pelaksanaan yang terakhir diterima, tanpa
persetujuan tertulis dari Konsultan pengawas. Hal-hal di bawah ini
harus termasuk dalam Gambar detail pelaksanaan yang akan
diaplikasikan :
- Spesifikasi Bahan,
- Nomor penanda,
- Daftar bagian-bagian material,
- Dimensi (ukuran dan bentuk tepatnya) dan berat,
- Detail Pembuatan,
- Detail Pengelasan,
- Syarat Pengecatan,
- Detail dan lokasi bengkel kerja,

12.3.3 Pemeriksaan dan Pengujian

a. Bahan, sambungan dan hubungan antar pekerjaan pada


umumnya harus menjadi subjek untuk diuji atau diperiksa di
bengkel kerja dan di lapangan oleh Konsultan pengawas.
Pemeriksaan di bengkel dan di lapangan tidak berarti melepaskan
kontraktor dari tanggungjawabnya menyediakan bahan-bahan baru
dengan kualitas pertama dan hubungan antar pekerjaan.

STR - 47
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

b. Kontraktor harus menanggung dan membayar biaya pengadaan


contoh dan pengujian bahan dan pekerjaan yang disyaratkan,
termasuk segala demo produk yang diminta oleh Konsultan
pengawas.
c. Konsultan pengawas memiliki hak untuk menolak material dan/atau
barang pabrikasi, setiap saat sebelum penerimaan akhir struktur,
bila terjadi hal-hal sbb:
 Penyediaan material tidak sesuai dengan spesifikasi.
 Barang pabrikasi tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi.
 Modifikasi dibuat tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan
pengawas.

12.3.4. Penggunaan dan Penyimpanan Material

a. Material harus disimpan tidak langsung berhubungan dengan


tanah dengan tata cara dan lokasi yang dapat
meminimalisasikan karat.
b. Semua logam harus benar-benar dirawat dengan tata cara
yang tidak menyebabkan goresan atau cacat yang merusak,
seperti yang telah ditentukan oleh Konsultan pengawas.
c. Segala sesuatu yang tidak sempurna harus diperiksa dan
potongan mendalam atau abrasi serius harus diperbaiki dan
dihaluskan kembali. Prosedur perbaikan plat harus diberikan
pada Konsultan pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
Tidak ada pengasahan lain yang diperkenankan pada bahan
dasar untuk menghilangkan permukaan yang tidak sempurna
kecuali guna mempersiapkan permukaan untuk pengelasan.
Pembakaran tidak boleh digunakan untuk meluruskan atau
untuk mengikat material, kecuali dengan persetujuan tertulis
dari Konsultan pengawas.

12.4. MATERIAL

12.4.1. Umum
a. Semua logam harus baru dan bebas dari segala penyimpangan yang
mempengaruhi kekuatan, daya tahan atau tampilan, dan harus dari
kulitas komersial terbaik.
b. Selain yang telah disebutkan, baja untuk bentuk dan plat struktural
melengkung harus sesuai dengan SNI.1729.1989-F atau ASTM A36
seperti yang dinyatakan dalam Spesifikasi. Barang yang akan diganti
harus mendapat persetujuan dari Konsultan pengawas.
12.4.2. Baut Angkur

Baut Angkur harus terbuat dari baja batangan bundar Bj. 40 grade, dalam
diameter dan panjang seperti yang ditunjukkan dalam gambar.

STR - 48
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

12.4.3. Mur-Baut dan Cincin Penutup

a. Mur- baut harus sesuai ASTM A-307, dan harus dilapisi cadmium,
kecuali dimana baut berkekuatan tinggi ditunjukkan atau ditentukan.
Dimensi baut harus sesuai dengan ANSI B-1 8.2.1 -1972 dan dimensi
mur harus sesuai dengan ANSI B-1 8.2.2.-1972.
b. Cincin penutup dan hal lain yang berhubungan dengan kepala mur-
baut berkekuatan tinggi harus sesuai dengan ANSI B 18.22.1-1965.
Semua cincin penutup harus dilapis cadmium.

12.4.4. Kisi dan Teralis Selokan/Drainase

Kisi dan Teralis Selokan/Drainase harus tersusun dari batangan baja


bundar dan/atau plat baja dan profil baja lainnya yang ditentukan, dalam
ukuran seperti yang ditunjukkan gambar.

12.4.5. Pipa Baja

Pipa baja untuk berbagai macam pekerjaan logam harus berupa pipa baja
hitam kelas medium, sesuai dengan standar S11-0161-81
/SNI.07-0039-1987 seperti produk Bumi Karya, Bakrie, PPI atau Radjin.
Panjang dan diameter yang akan digunakan harus ditunjukkan dalam
gambar.

12.4.6. Bahan Stainless Steel

Bahan-bahan baja anti karat/Stainless steel untuk pekerjaan-pekerjaan


seperti yang ditunjukkan dalam gambar harus sesuai dengan AISI 304.
Diameter pipa harus ditetapkan dalam gambar.

12.4.7. Berbagai Jenis Logam

a. Lembar Logam Berpori (Perforated Logam Sheet).


Lembar Logam Berpori harus memiliki ketebalan minimum 2,5mm,
dengan ukuran yang ditunjukkan dalam gambar.
b. Plat Tembaga.
Selain yang telah ditentukan, plat tembaga harus memiliki ketebalan
minimum 3 mm.
c. Plat Baja dilapis Tembaga.
Plat Baja dilapis Tembaga untuk ornamen tepi harus memiliki
ketebalan minimum seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
d. Lembaran seng.
Selain yang telah ditentukan, lembar seng harus memiliki ketebalan
minimum 1mm.

12.4.8. Penggantung dan Penyangga

Penggantung dan/atau Penyangga rangka langit-langit, alat penerangan,


ruang saluran/ducting, pemadam kebakaran dan perlengkapan lainnya,

STR - 49
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

harus terbuat dari profil baja dalam ukuran dan bentuk sesuai yang
ditunjukkan dalam gambar.

12.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

12.5.1. Umum

a. Berbagai jenis barang logam harus diberi ukuran, bentuk dan


dikonstruksi dengan bahan-bahan sesuai yang ditetapkan dalam
gambar. Selain yang telah disebutkan, barang-barang yang dilengkapi
harus berupa produk yang telah disetujui, dipabrikasi sesuai dengan
metode kerja yang efisien. Sebelum pabrikasi, semua pengukuran
yang diperlukan harus dilaksanakan dan dicek, diperiksa berdasarkan
prosedur kontrol kualitas sesuai dengan persyaratan AISC.
b. Desain, peralatan dan sambungan untuk berbagai bagian struktur
yang tidak ditunjukkan dalam gambar harus dilengkapi oleh Kontraktor
dan ditunjukkan dalam Gambar Detail Pelaksanaan.
c. Kontraktor harus bertanggungjawab terhadap semua kesalahan dan
ketidaktepatan pekerjaan detail, tata letak/layout dan pabrikasi dengan
biayanya sendiri.

12.5.2. Hubungan antar Pekerjaan

a. Berbagai jenis barang logam harus diberi ukuran, bentuk dan


dikonstruksi dengan bahan-bahan sesuai yang ditetapkan dalam
gambar. Selain yang telah disebutkan, barang-barang yang disediakan
harus berupa produk yang telah disetujui, dipabrikasi sesuai dengan
metode kerja yang efisien.
b. Pabrikasi berbagai jenis logam harus dilaksanakan sesuai dengan
gambar, gambar detail pelaksanaan yang telah disetujui, spesifikasi ini
dan spesifikasi.
c. Untuk pabrikasi pekerjaan yang akan diperlihatkan/diekspos, gunakan
hanya bahan yang halus dan bebas dari permukaan yang ternoda
termasuk lekukan, lubang, gores, tanda bekas gulungan, merk/cap
nama dagang dan kekasaran. Hilangkan tanda-tanda tersebut dengan
mengasah,atau dengan mengelas dan mengasah, sebelum
pembersihan, perawatan dan aplikasi finishing pemukaan.

12.5.3. Pabrikasi dan Pemasangan

a. Umum.
 Pemasangan berbagai jenis logam dalam jenis, ukuran dan
bentuk yang ditunjukkan dalam gambar dan dalam Spesifikasi ini
harus sesuai dengan Spesifikasi.
 Baut angkur, perakitan baut angkur dan baut pengait harus
dilengkapi dan dipasang sesuai dengan gambar dan seperti yang
ditetapkan oleh Konsultan pengawas. Semua angkur baja yang
dibenamkan dalam beton harus benar-benar dibersihkan dari karat,
serbuk, minyak dan segala sesuatu yang tidak diinginkan, guna
pembentukan ikatan yang baik pada beton.

STR - 50
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

 Sediakan dan posisikan angkur dengan jenis yang ditentukan,


dengan struktur penyangga. Buat dan beri ruang penataan angkur
untuk menyediakan penyangga yang memadai guna mencapai
tujuan pemakaian pekerjaan.
 Sambungan yang diperlihatkan dengan sambungan licin yang
dibenamkan merata, jika memungkinkan harus dibentuk
menggunakan pengikat yang dilapisi. Gunakan jenis pengikat yang
diperlihatkan/diekspos seperti yang telah ditentukan, atau bila tidak
ditentukan, gunakan sekrup dengan kepala terbenam rata.
b. Pegangan tangga (handrail) dan Railing.
 Sesuaikan dan atur railing terlebih dahulu sebelum dipasang,
untuk memastikan bahwa railing benar-benar sesuai pada
sambungan tegak sisi dinding dan penempatan yang tepat sesuai
panjangnya. Tanamkan tiang di tempatnya masing-masing.
Sandarkan tiang dan akhiran railing ke konstruksi bangunan.
 Tiang harus dilas ke dasar stainless steel dengan flens/ flange,
tipe siku atau tipe lantai seperti yang disyaratkan berdasarkan
kondisi ataupun gambar. Kemudian tiang dan alasnya harus
disekrupkan ke perangkat penopang seperti yang ditunjukkan
dalam gambar.
c. Tiang Tambak Pengikat/Bollard.
Tiang Tambak Pengikat/Bollard harus terbuat dari pipa baja diameter
100 mm, kecuali bila ditetapkan lain dalam gambar. Tiang Tambak
Pengikat harus dibenamkan sedalam 500mm dan isi pipa dengan
beton untuk memberikan ketahanan benturan yang diperlukan, dengan
ketinggian 1200 mm dari permukaan lantai, kecuali bila ditetapkan lain
dalam gambar.
Selain yang telah ditentukan, posisi Tiang Tambak Pengikat adalah
pada sisi luar dan/atau sisi dalam tiap pintu masuk kendaraan, dengan
cara tiang tersebut tidak mempengaruhi kegiatan membuka dan
menutup pintu.

d. Penggantung dan Penyangga.


Penggantung dan/atau Penyangga rangka langit-langit, alat
penerangan, ruang saluran/ducting, pemadam kebakaran dan
perlengkapan lainnya, harus terbuat dari profil baja dalam ukuran dan
bentuk sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Penggantung harus
ditopangkan pada struktur bangunan dengan tata cara agar
penggantung dapat disebarkan merata pada area yang ditunjukkan
dalam gambar. Penggantung untuk pemadam kebakaran harus seperti
yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat alat pemadam
kebakaran.

12.5.4. Pelapisan/ Pengecatan Lapisan Pelindung


a. Selain yang telah disebutkan, semua pekerjaan berbagai jenis logam
harus dilapis anti karat dengan pengecatan warna sesuai yang
ditentukan dalam Bagan Warna, yang akan dikeluarkan kemudian.

STR - 51
SPESIFIKASI PEKERJAAN STRUKTUR

b. Cat dan pekerjaan pengecatan harus dilaksanakan sesuai dengan


persyaratan Spesifikasi.

STR - 52